Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan : Restrain atau fiksasi fisik dan peran serta keluarga dan
...penatalaksanaannya

Sasaran : Pasien dan keluarga

Tempat : Ruang 26 Psikiatri RSJD Sambang Lihum

Hari/Tanggal : Senin, 13 Agustus 2018

Jam/waktu : Pukul 10.00 WITA

Alokasi Waktu : 45 Menit

Moderator : Syahida Amilia

Pemateri : 1. Eva Fraspilla

2. Agieta Sundari

3. Nesta Kalalana

4. Sally pobas

5. Ferry Ronaldo

Fasilitator : 1. Muhammad Roni

2. M.Isra Mulyadi

3. Ina Pemberiani
A. Latar Belakang
Restraint (dalam psikiatrik) secara umum mengacu pada suatu bentuk
tindakan menggunakan tali untuk mengekang atau membatasi gerakan
ekstermitas individu yang berperilaku diluar kendali yang bertujuan untuk
memberikan keamanan fisik dan psikologis individu. Restraint (fisik)
merupakan alternative terakhir intervensi jika dengan intervensi
verbal,chemical restraint mengalami kegagalan. Seklusi merupakan bagian
dari restraint fisik yaitu dengan menempatkan klien disebuah ruangan
tersendiri untuk membatasi ruang gerak dengan tujuan meningkatkan
keamanan dan kenyamanan klien.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint diperlukan atau tidak.
Restraint seringkali dapat dihindari dengan persiapan pasien yang
adekuat,pengawasan orang tua atau staf terhadap pasien, dan proteksi adekuat
terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat perlu mempertimbangkan
pasien,status mental,ancaman potensial ada diri sendiri atau orang lain dan
keamanannya.
Perilaku kekerasan dianggap sebagai suatu akibat yang ekstrim dari
rasa marah atau ketakutan yang mal adaptif (panik). Perilaku agresif dan
perilaku kekerasan itu sendiri sering dipandang sebagai suatu dimana agresif
verbal disuatu sisi dan perilaku kekerasan sangat diperlukan dan dapat
dilakukan dengan berbagai cara,salah satunya dengan isolasi dan atau restraint
(menurut kebijakan institusi).
Restrain adalah aplikasi langsung kekuatan fisik pada individu,tanpa
ijin individu tersebut,untuk membatsi kebebasan geraknya. Kekuatan fisik ini
dapat menggunakan tenaga manusia,alat mekanis atau kombinasi keduanya.
Pengekangan fisik termasuk penggunaan pengekangan mekanik,seperti
manset,untuk pergelangan tangan dan pergelangan kaki,serta sprey
pengekangan.
Restrain dengan tenaga manusia terjadi ketika anggota staf secara fisik
mengendalikan klien dan memindahkannya ke ruangan. Restrein mekanis
adalah peralatan,biasanya restrein pada pergelangan tangan kaki yang
diikatkan ketempat tidur untuk mengurangi agresi fisik klien,seperti
memukul,menendang,menjambak rambut (Videbeck, 2008),indikasi
pengekangan meliputi perilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain
perilaku agitasi yang tidak dapat dikendalikan dengan pengobatan,ancamana
terhadap intergritas fisik yang berhubungan dengan penolakan pasien untuk
istirahat,makan,dan minum,permintaan pasien untuk mengendalikan perilaku
eksternal,pastikan bahwa tindakan ini telah dikaji dan berindikasi teraupetik
(Videbeck, 2008).
Proses penyembuhan pasien tidak terlepas dari peran keluarga.
Keluarga merupakan bagian yang peling penting dalam proses pengobatan
pasien jiwa (Lauriello, 2005 dikutip oleh Purwanto, 2010). Ketika penderita
gangguan jiwa melakukan rawat jalan atau inap dirumah sakit jiwa,keluarga
harus tetap memberikan perhatian dan dukungan sesuai petunjuk tim medis
rumah sakit. Dukungan keluarga sangat diperlakukan oleh penderita gangguan
jiwa dalam memotivasi mereka selama perawatan dan pengobatan.

B. Tujuan Intruksional Umum


Setelah mendapatakan kejelasan mengenai strain dan fiksasi fisik dan
peran serta keluarga dan penatalaksaan selama 45 menit, pasien dan keluarga
ruang 26 psikiatri mengerti dan memahami tentang materi yang di sampaikan.

C. Tujuan Intruksional Khusus


Setelah mendapatkan penjelasan mengenai strain dan fiksasi fisik dan
peran serta keluarga dan penatalaksanaan diharapkan pasien dan keluarga
mampu :
a. Menjelaskan tentang pengertian strain atau fiksasi fisik
b. Menjelaskan tentang indikasi penggunaan strain
c. Menjelaskan tentang kontraindikasi penggunaan strain
d. Menjelaskan tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan
strain.
e. Menjelaskan tentang jenis-jenis strain
f. Menjelaskan tentang resiko pengunaan strain
g. Menjelaskan tentang peran serta keluarga
h. Menjelaskan tentang pelaksaan strain

D. Sub Pokok Bahasan


Konsep strain dan fiksasi fisik dan peran serta keluarga dan penatalaksaan.

E. Media
Leaflet,power point,LCD

F. Metode
Ceramah dan tanya jawab.

G. Kegiatan Penyuluhan

No Tahap kegiatan penyuluhan respon pasien dan keluarga Waktu


1 Pembukaan 1. Salam Pembuka Menjawab 5 Menit
2. Perkenalan salam
3. Menyampaikan
maksud dan Memperhatikan
tujuan Memperhatikan
4. Kontrak waktu
Memperhatikan
2 Penyajian Materi 1. Membagikan soal Menyimak dan 30 Menit
Pre-Test mengerjakan
2. Menjelaskan soal
materi yang akan mendengarkan
diberikan : dan
a. Menjelaskan memperhatikan
tentang
pengertian
strain atau
fiksasi fisik
b. Menjelaskan
tentang
indikasi
penggunaan
strain
c. Menjelaskan
tentang
kontraindikasi
penggunaan
strain
d. Menjelaskan
tentang hal-
hal yang perlu
diperhatikan
dalam
penggunaan
strain
e. Menjelaskan
tentang jenis-
jenis strain
f. Menjelaskan
tentang resiko
penggunaan
strain
g. Menjelaskan
tentang peran
serta keluarga
h. Menjelaskan
tentang
pelaksaan
strain
3. Membuka sesi
tanya jawab
3 Penutup 1. Evaluasi dengan Menjawab 10 Menit
meberikan soal pertanyaan
post-test
2. Memberikan Menerima
Leaflet
3. Menyampaikan Memperhatikan
materi
4. Salam penutup Menjawab
salam
H. Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Materi dan media yang akan dibawakan pada saat penyuluhan telah
dikonsultasikan terlebih dahulu oleh pembimbing klinik dan telah
mendapat persetujuan.
b. Media yang diberikan untuk penyuluhan sudah tersedia sebelum hari
H
c. Penyuluh telah membuat janji dan menginformasikan waktu
pelaksanaan penyuluhan kepada setiap pihak yang terlibat.
d. Pasien dan keluarga pasien yang dirawat inap diruang 24 psikiatri
RSJD Sambang Lihum
2. Evaluasi
a. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
b. Tidak ada peserta yang meningalkan tempat penyuluhan sebelum
penyuluhan berakhir
c. Sasaran aktif bertanya dan menjawab selama penyuluhan berlangsung.
d. Sasaran dapat tenang dan berkonsentrasi terhadap materi yang
dipaparkan.
3. Evaluasi Hasil
a. Pengetahuan sasaran tentang pokok bahsan meningkat dibuktikan
dengan kemampuan sasaran dalam menjawab pertanyaan sebesar 70%.
b. Tingkat partisipsi dan keaktifan sasaran dalam kegiatan tinggi
mencapai 70%

I. Materi
1. Definisi Restrain Atau Fiksasi Fisik
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau
manual untuk membatasi mobilitas fisik klien. Alat tersebut meliputi
penggunaan manset untuk pergelangan tangan atau kaki dan kain
pengikat. Restrain harud dilakukan pada kondisi khusus,hal ini merupakan
intervensi yang terakhir jika diperlukan klien sudah tidak dapat diatasi
atau dikontrol dengan strategi perilaku maupun modifikasi lingkungan
(Yosep, 2009), restrain (fisik) merupakan alternative terakhir intervensi
jika dengan intervensi verbal,chemical restraint mengalami kegagalan.
Seklusi merupakan bagian dari restraint fisik yaitu dengan menggunakan
klien disebuah ruangan tersendiri untuk membatasi ruang gerak dengan
tujuan meningkatkan keamanan dan kenyamanan klien.
Perawat perlu mengkaji apakah restraint diperlukan atau tidak.
Restrein seringkali dpat dihindari dengan persiapan pasien yang
adekuat,pengawasan orang tua atau staf terhadap pasien dan proteksi
adekuat terhadap sisi yang rentan seperti alat infus. Perawat perlu
mempertimbangkan perkembangan pasien,status mental,ancaman
potensial pada diri sendiri atau orang lain dan keamanannya.

2. Indikasi Penggunaan Restrain


Penggunaan teknik pengendalian fisik (restrain) dapat diterpakan
dalam keadaan: pasien yang membutuhkan diagnosa atau perawatan dan
tidak bisa menjadi kooperatif karena suatu keterbatasan misalnya: pasien
dibawah umur,pasien agresif atau aktif dan pasein yang memiliki retardasi
mental. Ketika keamanan pasien atau orang lain yang terlibat dalam
perawatan dapat terancam tanpa pengendalian fisik (restraint). Sebagai
bagian dari suatu perawatan ketika pasien dalam pengaruh obat sedasi.

3. Kontraindikasi Penggunaan Restrain


Penggunaan fisik pengendalian fisik (restraint) tidak boleh diterapkan
dalam keadaan yaitu : tidak bisa mendapatkan ijin tertulis dari orang tua
pasien untuk melaksanakan prosedur kegiatan. Pasien-pasien
kooperatif,pasien memiliki komplikasi kondisi fisik atau mental.
Penggunaan teknik pengendalian fisik (retraint) pada pasien dalam
penatalaksanaannya harus memenuhi syarat-syarat yaitu sebagai berikut :
penjelasan kepada pasien,pasien mengapa pengendalian fisik (restraint)
dibutuhkan dalam perawatan,dengan harapan memberikan kesempatan
kepada pasien untuk memahami bahwa perawatan yang akan diberikan
sesuai prosedur dan aman bagi pasien maupun keluarga yang
bersangkutan. Memiliki izin verbal maupun izin tertulis dari psikiater
yang menjelaskan jenis teknik pengendalian fisik yang boleh digunakan
kepada pasien-pasien dan pentingnya teknik pengendalian fisik yang dapat
digunakan terhadap pasien berdasarkan indikasi-indikasi yang muncul.
Adanya dokumen yang menjelaskan kepada orang tua pasien-pasien
maupun pihak keluarga pasien yang bersangkutan mengapa pengendalian
fisik (restraint) dibutuhkan dalam perawatan. Adanya penilian berdasarkan
pedoman rumah sakit dari pasien yang pernah menjalankan pengendalian
fisik (restraint) untuk memastikan bahwa pengendalian fisik tersebut telah
diaplikasikan secara benar,serta memastikan integritas kulit dan status
neurovaskuler pasien tetap dalam keadaan baik.
Perlu digunakan teknik pengendalian fisik (restraint) adalah karena
tenaga kesehatan harus mengutamakan kebutuhan kesehatan pasien,teknik
pengendalian tersebut dapat dilaksanakan dengan cara menjaga keamanan
pasien ataupun keluarga yang bersangkutan,mengontrol tingkat agitas dan
agresi pasien,mengontrol perilaku pasien,serta menyediakan dukungan
fisik bagi pasien.

4. Hal-Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Penggunaan Restraint


Pada kondisi gawat darurat,restrain/seklusi dapay dilakukan tanpa
order dokter. Sesegara mungkin (< 1 jam) setelah melakukan restrain
perawat melaporkan pada dokter untuk mendapatkan legalitas tindakan
baik secara verbal maupun tertulis. Intervensi restrain dibatasi waktu yaitu
: 4 jam untuk klien berusia > 18 tahun,2 jam untuk usia 9-17 tahun,dan 1
jam untuk umur < 9 tahun. Evaluasi dilakukan 4 jam untuk klien > 18
tahun, 2 jam untuk pasien dan usia 9-17 tahun. Waktu minimal reevaluasi
oleh dokter adalah 8 jam untuk usia > 18 tahun dan 4 jam untuk usia < 17
tahun. Selama restrain klien diobservasi tiap 10-15 menit,dengan fokus
observasi : tanda-tanda cedera yang berhubungan dengan restrain nutrisi
dan hidrasi sirkulasi dan rentang gerak ekstermitas tanda penting
kebersihan dan eliminasi status fisik dan psikologis kesiapan klien untuk
dibebaskan dari restrain.
Alat restrain bukan tanpa resiko dan harus diperiksa dan
didokumentasikan setiap 1-2 jam untuk memastikan bahwa alat tersebut
mencapai tujuan pemasangannya,bahwa alat tersebut dipasang dengan
benar dan bahwa alat tersebut tidak merusak sirkulasi atau integritas kulit.
Selekman dan Snyder (1997) merekomendasikan intervensi
keperawatan yang tepat untuk pasien direstrain adalah :
a. Lepaskan dan pasang kembali restrain secara periodic
b. Lakukan tindakan untuk memberi rasa nyaman
c. Gunakan pelukan terapeutik bukan restrain mekanik
d. Lakukan latihan rentan gerak jika diperlukan.
e. Tawarkan makanan,minuman dan bantuan untuk eliminasi
f. Diskusikan kriteria pelepasan restrain
g. Berikan analgesik dan sedatif jika diinstrusikan atau diminta
h. Hindari kemarahan psikologik kepada pasien lain
i. Berikan distraksi (membaca buku) dan sentuhan pertahankan harga
diri pasien
j. Lakukan pengkajian keperawatan yang kontinu dokumentasikan
penggunaan strain

5. Jenis-Jenis Strain
Pengendalian fisik (physical restraint) dengan menggunakan alat
pengendalian fisik dengan menggunakan alat merupakan bentuk
pengendalian dengan menggunkan bantuan alat bantu untuk menahan
gerakan tubuh dan kepala pasien maupun menahan gerakan rahang dan
mulut pasien.
Alat bantu untuk menahan gerakan tubuh dan kepala pasien yakni :
a. Sheet ties
Penggunaan selimut untuk membungkus tubuh pasien supaya
tidak bergerak dengan cara melingkarkan selimut keseluruh tubuh
pasien dan menahan selimutnya dengan perekat atau mengikatnya
dengan tali.
b. Restrain jaket
Restraint jaket digunakan pada pasien dengan tali diikat
dibelakang tempat tidur sehingga pasien tidak dapat membukanya.
Pita panjang diikatkan ke bagian bawah tempat tidur,menjaga pasien
tetap didalam tempat tidur. Restrain jaket berguna sebagai alat
mempertahankan pasien pada posisi horizontal yang diingankan.
c. Papoose board
Papoose board merupakan alat yang biasa digunakan untuk
menahan gerak pasien saat melakukan perawatan gigi. Cara
penggunaannya adalah pasien ditidurkan dalam posisi terlantang diatas
papan datar dan bagian atas tubuh,tengah tubuh dan kaki pasien diikat
dengan menggunakan tali kain yang besar. Pengendalian dengan
menggunakan papoose board dapat diaplikasikan dengan cepat untuk
mencegah pasien berontak dan menolah perawatan. Tujuan utama dari
penggunaan alat ini adalah untuk menjaga supaya pasien-pasien tidak
terluka saat mendapatkan perawatan.
d. Restraint mumi dan bedong
Selimut dan kain dibentangkan diatas tempat tidur dengan salah
satu ujungnya dilipat ke tengah. Pasien diletakkan diatas selimut
tersebut dengan bahu berada dilipatan dan kaki kearah sudut yang
berlawanan. Lengan kanan pasien lurus kebawah rapat dengan dengan
tubuh,sisi kanan selimut ditarik ketengah melintas bahu kanan pasien
dan dada diselipkan dibawah sisi tubuh bagian kiri. Lengan kiri pasien
diletakkan lurus rapat dengan tubuh pasien,dan sisi kiri selimut
dikencangkan melintang bahu dan dada dikunci dibawah tubuh pasien
bagian kanan. Sudut bagian bawah dilipat dan ditarik kearah tubuh dan
diselipkan atau dikencangkan dengan dikunci dibawah tubuh pasien
bagian kanan. Sudut bagian bawah dilipat dan ditaik kearah tubuh dan
diselipkan atau dikencangkan dengan pinpengaman.
e. Restraint lengan dan kaki
Restraint pada lengan dan kaki kadang-kadang digunakan
untuk mengimbolisasi satu atau ekstermitas guna pengobatan atau
prosedur,atau untuk memfasilitas penyembuhan. Beberapa alat
restraint yang ada dipasaran atau yang tersedia,termasuk restrain
pergelangan tangan atau kaki sekali pakai,atau dapat dibuat dari pita
kasa,kain muslin,atau tali stockkinette tipis. Jika restrain jenis ini
digunakan,ukurannya harus sesuai dengan tubuh pasien. Harus dilapisi
bantalan untuk mencegah tekanan yang tidak semestinya,konstruksi
atau cidera jaringan. Pengamatan ekstermitas harus serinng dilakukan
untuk memeriksa adanya tanda-tanda iritasi dan atau gangguan
sirkulasi. Ujung restrain tidak boleh diikat kepenghalang tempat tidur.
Karena jika penghalang tersebut diturunkan akan menganggu
ekstermitas yang serig disertai sentakan tiba-tiba yag dapat menciderai
pasien.
f. Pengendalian fisik (physical restraint) tanpa bantuan alat
Pengendalian fisik tanpa alat bantuan alat merupakan bentuk
pengendalian fisik tanpa menggunakan bantuan alat,pengendalian
bentuk ini merupakan bentuk pengendalian yang menggunakan bantan
perawat maupun bantuan orang tua atau pihak keluarga pasien,
pengendalian fisik dengan bantuan tenaga kesehatan pengendalian
fisik dengan menggunakan bantuan tenaga kesehatan merupakan
bentuk pengendalian fisik dimana diperlukan tenaga kesehatan,
misalnya perawat untuk menahan gerakan pasien dengan dengan
memegang kepala,lengan ataupun kaki pasien.
Pengendalian fisik dengan bantuan orang tua pasien pengendalian
fisik dengan bantuan orang tua sebenarnya sama dengan pengendalian
fisik dengan bantuan tim medis (tenaga kesehatan). Hanya saja peran
perawat digantikan oleh orang tua pasien. Cara pengendalian dengan
menggunakan bantuan tim medis,sebab pasien lebih merasa aman
apabila dekat dengan orang tuanya.

6. Resiko Penggunaan Restraint Pada Pasien


Terdapat beberapa laporan ilmiah mengenai kematian passien-pasien
yang disebabkan oleh penggunaan teknik pengendalian fisik (restraint).
Hubungan kematian pasien dengan gangguan psikologis yang disebakan
penggunaan restraint adalah dimana ketika pengendalian fisik (restrain)
dilakukan,pasien –pasien mengalami reaksi psikologis yang tidak
normal,yaitu seperti meningkatnya suhu tubuh,cardiac arrhytmia yang
kemudia dapat menyebabkan timbulnya positional asphyxia,excited
delirium,acute pulmonary,edema,atau pneumonitis yang dapat
menyebabkan kematian pada pasien. Pengekangan atau pengikat fisik
(restrain) pada klien gangguan jiwa dilakukan disaat berbahaya baik pada
diri sendiri atau orang lain atau strategi yang lainnya sudha tidak dapat
dijalankan secara efektif.
Adapaun langkah-langkah pelaksanaan pengekangan fisik (restrain)
pada klien gangguan jiwa, adalah sebagai berikut :
a. Beri suasana yang menghargai dengan supervisi yang adekuat,karena
harga diri pasien berkuarang karena pengekangan.
b. Siapkan jumlah staf yang cukup dengan alat pengekangan yang aman
dan nyaman
c. Tunjuk satu orang perawat sebagai ketua tim.
d. Jelaskan tujuan,prosedur dan lamanya pada klien dan staf agar
dimengerti dan bukan hukuman.
e. Jelaskan perilaku yang mengindiksikan pengelepasan pada klien dan
staf
f. Jangan mengikat pada pinggir tempat tidur,ikat dengan posisi
anatomis,ikatan tidak terjangkau oleh pasien
g. Lakukan supervisi dengan tindakan terapeutik dan pemberian rasa
nyaman
h. Perawatan pada daerah pengikatan (pantau kondisi kulit :
warna,temperatur,sensasi : lakukan latihan gerakan pada tungkai yang
diikat secara bergantian setiap 2 jam; lakukan perubahan posisi tidur
dan periksa tanda-tanda vital setiap 2 jam)
i. Bantu pemenuhan kebutuhan nutrisi,eliminasi,hidrasi dan kebersihan
diri.
j. Libatkan dan latih klien untuk mengontrol perilaku sebelum ikatan
dibuka secara bertahap.
k. Kurangi pengekangan secara bertahap,misalnya setelah ikatan ibuka
satu persatu secara bertahap,kemudia dianjurkan dengan pembatasan
gerak kemudian kembali kelingkungan semula.
l. Dokumentasikan seluruh tindakan beserta respon klien.

7. Peran Serta Keluarga


Keluarga klien perlu diberi penjelasan tentang fiksasi fisik atau
restrain,restrain diberikan jika fiksasi chemis atau pengobatan tidak
membantu. Pasien yang membutuhkan diagnosa atau perawatan dan tidak
bisa menjadi kooperaatif karena suatu keterbatsan misalnya : pada pasien
dibawah umur,pasien agresif atau aktif dan pasien yang memiliki redartasi
mental. Ketika keamanan pasien atau oarang lain yang terlibat dalam
perawatan dapat terancam tanpa pengendalian fisik (restrain). Sebagai
bagian dari suatu perawatan ketika pasien dala pengaruh obat sedasi.
Restrain merupakan salah satu tindakan untuk mengendalikan
pasien,dimana hal terebut membutuhkan keluarga pasien untuk membantu
dalam penyembuhan pasien dimana keluarga adalah sistem dimana pasien
berasal. Pengaruh sikap keluarga akan sangat menentukan kesehatan jiwa
klien. klien mungkin sudah mampu mengatasi masalahnya tetapi jika tidak
didukung secara kuat klien bisa mengalami kegagalan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh keluarga dalam merawat
pasien antara lain :
a. Memberikan kegiatan/kesibukan dengan membuatkan jadwal sehari-
hari
b. Selalu menemani dan tidak membiarkan penderita sendiri dalam
melakukan semua kegiatan,misalnya: makan bersama,bekerja
bersama,berpergian dan lain-lain.
c. Meminta keluarga atau teman untuk menyapa klien,jika klien mulai
menyendiri atau berbicara sendiri
d. Mengajak ikut aktif dan berperan serta dalam kegiatan
masyarakat,misalnya : pengajian,kerja bakti dan lain-lain.
e. Berikan pujian umpan balik atau dukungan untuk keterampilan sosial
yang dapat dilakukan pasien.
f. Mengontrol kepatuhan minum obat secara benar sesuai dengan resep
dokter.
g. Jika klien malas minum obat,anjurkan untuk minum obat secara halus
dan empati.
h. Hindari tindakan paksa yang menimbulkan trauma bagi pasien
i. Mengenal tanda-tanda yang muncul sebagai gejala kekambuhan
j. Segera kontrol kedokter/RS jika muncul perubahan perilaku yang
menyimpang atau obat habis.
8. Prosedur Penatalaksanaan Restrain
1. Beri suasana yang menghargai dengan supervisi yang
adekuat,karena harga diri klien berkurang karena pengekangan
2. Siapkan jumlah staf yang cukup (sekitar 4 sampai 5 orang) dengan
alat pengekangan yang aman dan nyaman
3. Tunjuk satu orang perawat sebagai ketua tim
4. Jelaskan tujuan prosedur dan lamanya pada klien dan kelurga agar
dimengerti dan bukan hukuman
5. Jelaskan perilaku yang mengindikasi pengelepasan pada pasien
dan staf
6. Jangan mengikat pada pinggir tempat tidur,ikat pada posisi
anatomis ikatan tidak terjangkau oleh pasien
7. Bantu memenuhi kebutuhan nutrisi,eliminasi,hidrasi dan
kebersihan diri
8. Dokumentasi seluruh tindakan beserta respon klien.
DAFTAR PUSTAKA

Guze, Barry, 1997, Buku Saku Psikiatri. Jakarta : EGC.


Hidayat, A. A., 2002, Riset Keperawatan dan Tehnik Penulisan
Ilmiah, Jakarta : Penerbit Salemba Medika.
Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J., 1997, Sinopsis Psikiatri : Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid Pertama. Edisi Ketujuh. Jakarta :
Binarupa Aksara.
Keliat, B. A., 2014, kerja sama dengan Kelompok Keilmuan
Keperawatan Jiwa FIK-UI, Forum Komunikasi Keperawatan Jiwa
Jakarta, Direktorat KesWaMas Depkes RI, dan WHO, 2005, Modul BC-
CMHN.
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN

TOPIK PENYULUHAN
RESTRAINT ATAU FIKSASI, PERAN KELUARGA DAN
PENATALAKSANAANYA

1. Fase Orientasi
Salam Terapeutik :
- Assalamu’alaikum, Selamat Pagi bapak/ibu. Bagaimana
kabarnya hari
ni? (Menanyakan kabar satu per satu peserta)
- Sebelumnya perkenalkan kami dari mahasiswa Suaka
Insan, nama
saya dan disini saya syahida amilia sebagai moderator, dan
teman saya
Ferry ronaldo sebagai pemateri, dan teman saya yang satu
lagi yaitu mbak
Ina pemberiani sebagai fasilitator.
- Bapak/ibu sebelum melakukan kegiatan pagi hari ini,
marilah kita
berdo’a menurut agama dan kepercayaan kita masing-
masing, berdo’a
dipersilahkan
evaluasi/validasi :
- Sebelumnya apakah ada yang sudah tahu tujuan kita
berkumpul disini
untuk apa?
Kontrak :
- Hari ini kita akan melakukan kegiatan penyuluhan, tentang
restraint
atau fiksasi dan peran keluarga dan penatalaksanaannya
- Kegiatan ini nanti dilaksanakan sekitar 30 menit,
di tempat ini,
bagaimana apakah bapak/ibu bersedia?
2. Fase Kerja
Langkah-langkah kegiatan :
- Bapak/ibu sebelum materinya diberikan saya dan teman
saya akan
memberikan soal tentang penyuluhan hari ini dan
dikerjakan ya?
- Baiklah langsung saja kita mulai penyuluhan hari ini, untuk
pemateri
Dipersilakan.
(Pemateri menyampaikan materi)
3. Fase Terminasi
Evaluasi :
Subjektif :
- Bagaimana perasaanya setelah ikut kegiatan penyuluhan
hari ini?
Objektif :
- Tadi kan kita sudah membahas tentang restrain atau
fiksasi dan eran keluarga dan peran keluarga dan
penatalaksanaanya, sekarang saya tanyakan lagi
ya apa yang dimaksud dengan restraint atau fiksasi ?
- Selanjutnya,apa saja sih jenis- jenis fiksasi ?
- Apa-apa saja yang harus diperhatikan ketika pasien
difiksasi?
- Bagaimana Peran keluarga pada pasien yang terpasang
restrain?
Rencana tindak lanjut
Kami mengharapkan apa yang telah kita pelajari siang
ini dapat
dimengerti, mengerti tentang restrain dan fiksasi fisik dan juga
peran
keluarga dalam merawat pasien. Kami harap, para
keluarga terus
memotivasi keluarganya untuk sembuh dan menjadi sistem
pendukung
yang baik di rumah nanti.
Kontrak yang akan datang :
- Baiklah cukup sekian penyuluhan kami hari ini.
- Dua sampai tiga hari lagi akan diadakan kegiatan seperti
ini lagi,
dengan topik yang berbeda. Kami harap bapak/ibu
dapat
mengikutinya. Untuk waktu dan tempatnya
menyusul, bagaimana
apakah semuanya bersedia?
Terimakasih sudah bersedia mengikuti kegiatan ini,
semoga
bermanfaat.
- Wassalamu’alaikum, selamat pagi.
- Silahkan kembali keruangannya masing-masing.