Anda di halaman 1dari 10

PROPOSAL PERANCANGAN TUGAS AKHIR ARSITEKTUR ANGKATAN XVII

Judul:
MUSEUM PERJUANGAN

A. Latar Belakang
Arti museum adalah sebagai sebuah lembaga yang bersifat tetap,tidak mencari
keuntungan, melayani masyarakat dan perkembangannya, terbuka untuk umum, yang
memperoleh, merawat, menghubungkan dan memamerkan untuk tujuan-tujuan studi,
pendidikan, dan kesenangan, barang pembuktian manusia dan lingkungannya (Direktorat
Museum, 2008:15).
Berikut beberapa museum yang ada di Kota Medan :
1. Museum Negeri, merupakan museum terbesar di Kota Medan yang berbagai
peninggalan Sejarah Budaya, Bangsa, Hasil Seni dari berbagai Suku di Sumatera
Utara.
2. Museum Rahmad Syah, merupakan museum yang menyimpan berbagai macam
jenis hewan dari berbagai negara.
3. Museum Juang 45, merupakan museum yang menyimpan berbagai macam barang
peninggalan sejarah dari pahlawan serta berbagai arsip negara.
4. Museum Perjuangan TNI Kodam, merupakan museum yang menyimpan berbagai
peninggalan arkeologi, senirupa, relief, monumen, dan perlengkapan militer.
Museum yang cukup dikenal dan telah menjadi objek wisata yang terdapat di kota Medan
adalah Museum Perjuangan TNI Kodam Medan, yang terletak di Jl. Zainul Arifin No.8
Medan.
Dalam beberapa waktu dekat ini, jumlah pengunjung museum perjuangan mengalami
kenaikan dan penurunan pengunjung.

1
Tabel 1.1

Melihat keadaan yang ada dapat terlihat adanya ketertarikan terhadap mengunjungi
museum perjuangan, namun mengalami penurunan pada tahun 2013. Seperti yang dikutip
pada artikel Medan Bisnis beberapa waktu lalu membahas mengenai kurangnya perhatian
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) terhadap keberlangsungan Museum
Perjuangan ini. Sehingga, dapat berdampak terhadap penurunan minat pengunjung untuk
mengunjungi museum ini.
Berkurangnya pengetahuan akan sejarah dapat berdampak terhadap berkurangnya
rasa nasionalisme dan menghilangnya kebudayaan Indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika.
Sehingga dengan berkurangnya kebhinnekaan dan rasa nasionalisme di tengah masyarakat,
dapat dengan mudah terprovokasi dengan isu-isu seperti SARA, yang beberapa waktu lalu
terjadi di kota Medan.
Seperti dikutip pada artikel Lintas Atjeh pada Jumat, 29 Juli 2016 yang lalu mengenai
kerusuhan berbau SARA di daerah Tanjung Balai mengenai sejumlah vihara dan klenteng
yang dibakar dan dirusak massa yang mengamuk.

2
Gambar 1.1 Artikel Kerusuhan Bernuansa Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA)
Sumber : http://www.lintasatjeh.com/2016/07/dipicu-isu-sara-delapan-wihara-di-
tanjunbalai-dibakar-massa.html

Juga yang baru-baru ini mengenai dampak demonstrasi yang terjadi akibat isu SARA oleh
Cagub DKI Basuki Tjahaja Purnama. Dikutip dari Tribun Medan pada Jumat 28 Oktober
2016, "Provokasi dengan SARA sesungguhnya merampas rasionalitas yang merdeka dan
independen," kata Ismail dalam suatu diskusi di kawasan Jagakarsa, Jakarta.

Gambar 1.2 Artikel Penggunaan SARA yang Merampas Rasionalitas


Sumber : http://medan.tribunnews.com/2016/10/28/tatkala-isu-sara-merampok-akal-sehat-
pemilih
Melihat dampak yang terjadi akan kurangnya rasa nasionalisme di tengah
masyarakat, maka bangunan Museum Perjuangan diperlukan dengan harapan mampu
menarik perhatian masyarakat untuk mengetahui dan mencaritahu lebih banyak mengenai

3
sejarah dan perjuangan para pahlawan untuk mempersatukan dan mencapai Bhineka
Tunggal Ika di Indonesia.

B. Prioritas Persoalan
 Bagaimana mendesain sebuah Museum Perjuangan yang menarik keinginan
masyarakat untuk berkunjung?
 Bagaimana mendesain Museum Perjuangan yang mencerminkan bagian dari
sejarah?

C. Tujuan Perancangan
Tujuan dari perancangan ini adalah :

 Menghasilkan desain sebuah museum yang menarik perhatian masyarakat untuk


berkunjung.
 Menghasilkan desain yang mencerminkan bagian dari sejarah ke dalam sebuah
Museum.

D. Sasaran Pengguna
Yang menjadi sasaran pengguna dari Museum Perjuangan adalah masyarakat lokal,
turis domestik, turis mancanegara, dan administrasi lainnya.

E. Tinjauan Pustaka dan Studi Banding


E.1. Judul Proyek
Judul : Museum Perjuangan
Status Proyek : Fiktif
Secara Etimologi, museum berasal dari kata Yunani yaitu Mouseion. Mouseion
merupakan sebuah tempat suci untuk pemujaan terhadap Muses, dewa yang berhubungan
dengan kegiatan seni. Museion merupakan sebuah bangunan tempat suci untuk memuja
Sembilan Dewi seni dan ilmu pengetahuan. Salah satu dari Sembilan Dewi tersebut ialah
MOUSE yang lahir dari maha Dewa Zous dengan isterinya Mnemosyne.

4
Dewa dan Dewi tersebut bersemayam dipegunungan Olympus. Museion selain
tempat suci, pada waktu itu juga untuk berkumpul para cendikiawan yang mempelajari
serta menyelidiki berbagai ilmu pengetahuan, juga sebagai tempat pemujaan Dewa Dewi.
Berdasarkan defenisi yang diberikan International Council of Museums adalah
institusi permanen, nirlaba, melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka dengan cara
melakukan usaha pengoleksian, mengkonservasi, meriset, mengkomunikasikan dan
memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan dan
kesenangan. Secara institusi museum adalah lembaga yang bertugas untuk mengumpilkan,
merawat, menyimpan, meneliti, dan mengkomunikasikan koleksinya kepada masyarakat.
Menurut peraturan Pemerintah RI No. 19 Tahun 1995, museum adalah lembaga,
tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan dan pemanfaatan benda-benda bukti material
hasil budaya manusia serta alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan
dan pelestarian kekayaan budaya bangsa.
Tugas museum yakni sebuah lembaga yang memamerkan dan menerbitkan hasil
penelitian dan pengetahuan tentang benda-benda yang penting bagi kebudayaan dan ilmu
pengetahuan.
Ada 9 fungsi museum yaitu :
1. Pusat dokumentasi dan penelitian ilmiah
2. Pusat penyaluran ilmu untuk umum
3. Pusat penikmat karya seni
4. Pusat perkenalan kebudayaan antar daerah dan antar bangsa
5. Objek wisata
6. Media pembinaan pendidikan kesenian dan ilmu pengetahuan
7. Suaka alam dan suaka budaya
8. Cermin sejarah manusia, alam, dan kebudayaan
9. Sarana untuk bertaqwa dan bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa

5
E.2. Studi Banding
Studi banding diambil dari museum Bajra Sandi yang terletak di Bali.

Gambar 3.6: Museum Bajra sandhi Bali


Sumber: http://blog.kura2guide.com/wp-content/uploads/2015/05/bajra-main.jpg

Monumen Bajra Sandhimerupakanmonumen perjuangan rakyat Bali yang terletak di


Renon, Denpasar, Bali. Monumen ini menempati areal yang sangat luas, museum ini
mempunyai beberapa lapangan bola di sekelilingnya. (WWW:Wikipedia.museum
monumen bajra sandhi bali.html)
Museum Perjuangan Rakyat Bali dibangun pada tahun 1980. Museum ini di design
mulai dari ide Dr. Ida Bagus Mantra yang saat itu adalah Gubernur Bali. Ia mencetuskan
ide awal tentang museum dan monumen untuk perjuangan rakyat Bali. Kemudian pada
tahun 1981, mengadakan sayembara desain monumen, yang dimenangkan oleh Ida Bagus
Yadnya, yaitu seorang mahasiswa jurusan arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana.
Lalu pada tahun 1988 dilakukan peletakan batu pertama dan selama kurang lebih 13 tahun
pembangunan monumen selesai. Tahun 2001, membangu bangunan secara fisik monumen
sudah selesai.
Setahun kemudian, melakukan pengisian diorama dan penataan lingku ngan
monumen. Pada bulan September 2002, SK Gubernur Bali menunjuk Kepala UPTD
Monumen untuk pelaksanakan. Dan akhirnya, pada tanggal 1 Agustus 2004, adanya
pelayanan kepada masyarakat dibuka secara umum, setelahnya pada bulan Juni 2003
adanya peresmian Monumen yang dilakukan oleh Presiden RI pada saat pemerintahan Ibu
Megawati Soekarnoputri.

6
Monumen yang terletak di kawasan Lapangan Renon ini sangat menarik perhatian
bagi semua orang karena tempatnya yang terawat dengan baik dan bersih dan lengkap
dengan menara yang menjulang ke angkasa yang mempunyai arsitektur khas Bali yang
indah. Lokasi monumen ini sangat strategis karena terletak di depan Kantor Gubernur
Kepala Daerah Tingkat I Bali yang berada di depan Gedung DPRD Provinsi Bali tepatnya
di Lapangan Renon Nitimandala. Tempat ini merupakan tempat pertempuran Zaman
kemerdekaan antara rakyat Bali melawan pasukan penjajah. Perang ini terkenal dengan
sebutan "Perang Puputan" yang berarti perang habis-habisan. Monumen ini didirikan untuk
memberi penghormatan pada kegiatan para pahlawan serta merupakan lambang
penghormatan atas perjuangan rakyat Bali.

F. Metode Perancangan
Dalam perencanaan dan perancangan Museum Perjuangan dengan pendekatan
Arsitektur Kontekstual, metode perancangan yang digunakan adalah metode problem
solving. Yang merupakan serangkaian tindakan yang harus dikerjakan dari masalah dan
menjadi solusi dan akhirnya menjadi bangunan. Tindakan tersebut merupakan proses
pemecahan masalah atau disebut dengan proses desain.
Dalam metode perancangan, metode problem solving menjadikan suatu rancangan
desain yang sistematik yang berarti menjaga logika dan imajinasi terpisah lebih dalam arti
eksternal daripada internal (Jones, 1996). Adapun tahapan penerapan metode perancangan
dalam proses perancangan Museum Perjuangan sebagai berikut.
a. Analisa
Dalam tahapan analisa ini akan dilakukan pendekatan yang sesuai dengan fungsi
bangunan yang menerapkan arsitektur kontekstual. Mengumpulkan data tentang arsitektur
kontekstual sebagai prioritas utama dalam perancangan Museum Perjuangan. Kebutuhan
desain dikumpulkan hingga mendapat suatu kesimpulan berupa sebuah kumpulan yang
berhubungan logis dengan spesifikasi kinerjanya.
b. Sintesa
Setelah mendapatkan data pada tahap Analisa maka tahapan selanjutnya adalah
menyatukan data, ide, dan gagasan yang sesuai dengan fungsi bangunan komersial dengan

7
menerapkan tema arsitektur kontekstual dalam bentuk suatu konsep maupun gambar
sehingga menghasilkan ide baru dalam perancangan Museum Perjuangan.
c. Evaluasi
Dalam tahapan evaluasi, pengujian alternatif konsep atau desain terhadap spesifikasi
kinerja, terutama yang berhubungan dengan fungsi, estetika, maupun keamanan dalam
suatu rancangan.

G. Proses Perancangan
Adapun proses perancangan yang akan dilakukan yaitu dengan melakukan proses
perancangan lima langkah yang diungkapkan oleh Synder J.C. dalam bukunya yang
berjudul Pengantar Arsitektur.
G1. PERMULAAN
Tahap permulaan meliputi kegiatan pengenalan dan pembatasan masalah yang
akan dipecahkan. Adapun tahapan permulaan yang akan dilakukan dalam proses
perancangan Museum Perjuangan adalah dengan melakukan identifikasi terhadap
kondisi museum maupun keadaan yang ada di Jalan M. Zainal Arifin No. 8, Medan.
G2. PERSIAPAN
Tahap persiapan meliputi kegiatan pengumpulan dan analisis informasi
mengenai masalah yang akan dipecahkan. Adapun tahapan persiapan yang akan
dilakukan dalam proses perancangan Museum Perjuangan adalah melakukan kegiatan
fotografi dan studi literature tentang contoh-contoh Museum Perjuangan.
G3. PENGAJUAN USUL
Tahap pengajuan usul meliputi kegiatan mengajukan gagasan-gagasan dan usul
mengenai bangunan yang akan dirancang. Adapun tahapan pengajuan usul yang akan
dilakukan dalam proses perancangan Museum Perjuangan adalah melakukan kegiatan
pemograman terhadap luas ruang dan bentuk rancangan Museum Perjuangan.
G3. EVALUASI
Tahap evaluasi meliputi kegiatan evaluasi dan feedback terhadap rancangan
usulan yang telah diajukan. Adapun tahapan evaluasi yang akan dilakukan dalam
proses perancangan Museum Perjuangan adalah dengan meninjau kembali luas ruang

8
dan bentuk rancangan Museum Perjuangan terhadap prioritas masalah yang ingin
dipecahkan dan tujuan yang ingin dicapai.
G4. TINDAKAN
Tahap tindakan meliputi kegiatan eksekusi terhadap rancangan yang telah
direncanakan dan dalam bentuk gambar rancangan. Adapun proses tindakan yang akan
dilakukan dalam proses perancangan Museum Perjuangan adalah menghasilkan bentuk
gambar rancangan.
G5. UMPAN BALIK
Tahap umpan balik meliputi kegiatan evaluasi kembali terhadap gambar rancangan
yang telah dihasilkan. Adapun proses umpan balik yang akan dilakukan dalam proses
perancangan Museum Perjuangan adalah dengan meninjau kembali gambar rancangan
terhadap prioritas masalah dan tujuan dari perancangan Museum Perjuangan.

H. Tinjauan Lokasi
Museum Perjuangan TNI Kodam I, Bukit Barisan
Jl. M. Zainal Arifin No. 8, Medan

Museum Militer ini dibuka pada tahun 1971 serta merupakan salah satu tempat yang
menyimpan benda - benda sejarah perjuangan ABRI dan rakyat di Sumatera Utara,
seperti senjata, obat - obatan dan pakaian seragam yang digunakan pada perang
kemerdekaan Indonesia melawan pemberontakan pada tahun 1985.

9
I. Daftar Pustaka
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan
dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum
Synder, James C. 1984. Pengantar Arsitektur. Erlangga. Jakarta
http://www.lintasatjeh.com/2016/07/dipicu-isu-sara-delapan-wihara-di-tanjunbalai-dibakar-
massa.html diakses 11 Desember 2016
http://medan.tribunnews.com/2016/10/28/tatkala-isu-sara-merampok-akal-sehat-pemilih
diakses 11 Desember 2016

10