Anda di halaman 1dari 4

SURAT KEPUTUSAN DIREKTURRUMAH SAKIT

NOMOR : 36/RS/SK-DIR/IV/2016
KEBIJAKAN TENTANG
PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS MATA REGINA EYE CENTER

Menimbang : a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan Rumah Sakit Khusus
Mata Regina Eye Center Padang, maka diperlukan penyelenggaraan
Kebijakan Persetujuan Tindakan Kedokteran;

b. Bahwa agar pelayanan penyelenggaraan Kebijakan Persetujuan Tindakan


Kedokteran dapat terlaksana dengan baik, perlu adanya kebijakan Kepala
Rumah Sakit Khusus Mata Regina Eye Center Padang, sebagai landasan bagi
penyelenggaraan Kebijakan Persetujuan Tindakan kedokteran;
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan b,
perlu ditetapkan dengan keputusan direktur Rumah Sakit Khusus Mata
Regina Eye Center Padang;

Mengingat : 1. Surat Edaran Direktur Jendral Pelayanan Medik Nomor Y.M 0.2.04.3.5.2504
tanggal 10 Juni 1997 tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter
dan Rumah Sakit;
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 tahun 1999 tentang
Perlindungan Konsumen;
3. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit;
5. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran;
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 12/ 2012 tentang Standar Akreditasi
Rumah Sakit;

7. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/MENKES/SK/XII/ 1999 tentang


Standar Pelayanan Rumah Sakit;
8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1438/MENKES/PER/IX/2010 tentang Standar Pelayanan Kedokteran;
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 290/Menkes/PER/III/2008 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran;

10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269 / MENKES /


PER/III/2008 tentang Rekam Medis;

11. Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan.


MEMUTUSKAN;
Menetapkan

KESATU : SURAT KEPUTUSAN KEPALA RUMAH SAKIT TENTANG KEBIJAKAN


PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN DI RUMAH SAKIT KHUSUS
MATA REGINA EYE CENTER PADANG.
KEDUA : Memberlakukan Kebijakan Persetujuan Tindakan Kedokteran di Rumah Sakit
Khusus Mata Regina Eye Center Padang sebagaimana terlampir dalam keputusan
ini;
KETIGA : Kebijakan Persetujuan Tindakan Kedokteran ini dimaksudkan sebagai acuan
dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan pasien di Rumah Sakit Khusus Mata
Regina Eye Center Padang;
KEEMPAT : Kebijakan Persetujuan Tindakan Kedokteran ini merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari ketentuan Direktur Rumah Sakit;
KELIMA : Hal-hal yang belum diatur atau belum cukup diatur dalam surat keputusan ini
akan diatur kemudian;
KEENAM : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkannya dan apabila di kemudian hari
ternyata terdapat kekeliruan dalam penetapan ini akan diadakan perbaikan
sebagaimana mestinya.

Ditetapkan di : Padang
Pada tanggal : 05 April 2016
Direktur,

dr.Ellya Thaher, SpM.MKM


LAMPIRAN
SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS MATA REGINA
EYE CENTER PADANG
NOMOR : 36/RS/SK-DIR/IV/2016
TENTANG
KEBIJAKAN PERSETUJUAN TINDAKAN KEDOKTERAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT KHUSUS MATA REGINA EYE CENTER
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Rumah Sakit Khusus Mata Regina Eye Center Padang bertanggung jawab untuk
melindungi dan mengedepankan hak pasien dan keluarga sesui UU RI No 44 Tahun
2009.yaitu :
1) Pasien berhak meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain yang
mempunyai Surat Ijin Praktek (SIP) baik di dalam maupun di luar Rumah Sakit.
2) Pasien berhak mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan
tindakan medis, alternatif tindakan, resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi dan prognosis
terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan.
3) Pasien berhak memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh
tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.
2. Rumah Sakit menetapkan bahwa setiap tindakan kedokteran yang yang akan dilakukan oleh
dokter, terhadap pasien harus mendapat persetujuan setelah mendapatkan penjelasan secara
lengkap sekurang-kurangnya mencakup :
1) Diagnosa dan tatacara tindakan medis
2) Tujuan tindakan medis yang dilakukan
3) Alternatif tindakan lain dan resikonya
4) Resiko dan komplikasi yang mungkin terjadi; dan
5) Prognosis terhadap tindakan yang dilakukan
3. Setiap tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang mengandung resiko tinggi harus
diberikan dengan persetujuan tertulis yang ditandatangani oleh yang berhak memberikan
persetujuan ;
4. Pemberian edukasi terhadap pasien yang akan dilakukan tindakan kedokteran atau tindakan
yang beresiko tinggi dilakukan oleh dokter umum, spesialis yang telah mempunya SIP dan
berdasarkan kewenanagan klinis mereka .
5. Penjelasan yang akan disampaikan kepada pasien dan atau keluarga oleh Dokter Penanggung
Jawab Pelayanan (DPJP) dengan cara dan bahasa yang mudah di mengerti yang meliputi :
1) Penjelasan tentang kondisi medis pasien, diagnosis pasti, rencana pelayanan dan
pengobatan dan bagaimana mereka dapat berpartisispasi dalam memberikan keputusan
pelayanan.
2) Penjelasan waktu/ kapan informasi tentang rencana pelayanan dan rencana pengobatan
serta bagaimana proses untuk mendapatkan persetujuan/informed consent
3) Penjelasan tentang siapa yang akan menjelaskan.
6. Jenis tindakan medis yang memerlukan informed consent adalah sebagai berikut :
1) Semua tindakan operasi yang direncanakan dan dilakukan di kamar bedah
2) Pemasangan Implant, dll.
7. Selain tindakan tersebut diatas mulai poin 1 s/d 22, pasien tetap harus diberikan penjelasan
tanpa harus mengisi informed consent yaitu dengan persetujuan lesan (PMK 290/Menkes/
Per/III/2008 pada Bab II Persetujuan Dan Penjelasan Pasal 3 ayat 2)
8. Tanda tangan saksi dari fihak keluarga boleh diisi pada saat sebelum tindakan operasi,
sewaktu operasi atau sesudah tindakan operasi dan diusahakan oleh wali pasien tersebut
9. Dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran ( Pasal 4 ) PERMENKES RI
Nomer 290/Menkes/Per/IV/2008 Tentang persetujuan Tindakan Kedokteran
10. Dalam hal indikasi kemungkinan perluasan tindakan kedokteran, dokter yang akan
melakukan tindakan juga harus memberikan penjelasan (pasal 11 ayat (1), PERMENKES RI
Nomer 290/Menkes/Per/IV/2008 Tentang persetujuan Tindakan Kedokteran
11. Pengecualian untuk pasien tertentu tanpa menggunakan informed consent seperti pasien
emergensi yang membutuhkan tindakan life saving dan pasien tidak sadar tidak didampingi
oleh keluarga Semua persetujuan informed consent pasien dicatat dan dimasukkan dalam RM
pasien.

Ditetapkan di : Padang
Pada tanggal : 05 April 2016
Direktur,

dr.Ellya Thaher, SpM.MKM