Anda di halaman 1dari 74

PEDOMAN KOMUNIKASI EFEKTIF

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SUMEDANG


JL. PRABU GEUSAN ULUN NO 41 -JL. PALASARI NO 80
TELP (0261) 201021 FAX 204970

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 0


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan hidayah Nya
penyusunan “Pedoman Komunikasi Efektif” dapat diselesaikan. Pedoman
Komunikasi Efektif ini berisikan informasi mengenai Komunikasi
dilingkungan maupun diluar RSUD Kabupaten Sumedang.
Disadari bahwa Pedoman Komunikasi Efektif belum sempurna,
karena beberapa kendala yang dihadapi, namun kami berharap Pedoman
Komunikasi Efektif ini dapat memberikan informasi yang memadai dan
konstruktif bagi rumah sakit , Kegiatan penyusunan dan implementasi
Pedoman Komunikasi Efektif yang telah dicapai selama ini adalah Berkat
Rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan hasil kerja keras dari semua pihak.
Adanya kerjasama dengan komitmen yang tinggi merupakan pendukung yang
telah berkontribusi dalam perkembangan pelayanan kepada pasien dan
keluarga serta masyarakat di Rumah Sakit Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Sumedang
Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh
jajaran pimpinan dan pokja yang telah bekerja dan menjalankan tugas yang
dibebankan serta kepercayaan dan kerja sama yang telah diberikan oleh
seluruh pihak dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat

Sumedang , Januari 2018

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 1


DAFTAR ISI
Hal
Kata pengantar…………………………………………………………………….. 1
Daftar isi…………………………………………………………………………... 2
BAB I PENDAHULUAN..……………………………………………………. 3
A. Latar belakang…………………………………………………………….. 3
B. Tujuan…………………………………………………………………….. 4
C. Landasan hukum…………………………………………………………. 4
BAB II KONSEP KOMUNIKASI…………………………………………….. 7
A. Proses Komunikasi………………………………………………………... 7
B. Unsur komunikasi…………………………………………………………. 13
C. Syarat komunikasi efektif……………………………………………….. 15
D. Hukum dalam komunikasi efektif………………………………………. 15
E. Sifat komunikasi………………………………………………………….. 17
F. Hambatan dalam berkomunikasi ………….……………………………… 18
G. Dampak salah dalam berkomunikasi: …………………………………… 18
H. Klasifikasi Komunikasi ………………………………………………….. 18
BAB III GAMBARAN KOMUNIKASI DI RSUD SUMEDANG 25
A. Populasi ………………………………………….…………………..… 25
B. Informasi Pelayanan…………………………………………………… 26
C. Informasi Urgen…………………..……………………………..…….. 29
BAB IV LINGKUP PELAKSANAAN KOMUNIKASI 24
A. Komunikasi Dengan Komunitas Masyarakat ………………………… 24
B. Komunikasi dengan pasien dan keluarga…………………………….…… 26
C. Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan di dalam dan luar
RS…………………………………………………………………….…… 28
D. Edukasi pasien dan keluarga……………………………………………… 38
BAB V DOKUMEN TERKAIT …………………………………..………… 43
BAB VI PENUTUP …………………………………………………………… 44

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 2


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Memberikan asuhan pasien merupakan upaya yang kompleks dan sangat


bergantung pada komunikasi dari informasi. Komunikasi tersebut adalah
kepada dan dengan komunitas, pasien dan keluarganya, serta antarstaf klinis,
terutama Profesional Pemberi Asuhan (PPA). Kegagalan dalam berkomunikasi
merupakan salah satu akar masalah yang paling sering menyebabkan insiden
keselamatan pasien. Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan
dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan/komunikator, pesan
ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan/komunikan, dan
tidak ada hambatan untuk hal itu.
Komunikasi efektif sebagai dasar untuk memberikan informasi dan
edukasi kepada pasien dan keluarga agar mereka memahami kondisi
kesehatannya sehingga pasien berpartisipasi lebih baik dalam asuhan yang
diberikan dan mendapat informasi dalam mengambil keputusan tentang
asuhannya serta mendapat informasi lain mengenai rumah sakit.
Edukasi kepada pasien dan keluarga diberikan oleh staf klinis terutama
PPA yang sudah terlatih (dokter, perawat, nutrisionis, apoteker, dll.).
Mengingat banyak profesi yang terlibat dalam edukasi pasien dan keluarganya
maka perlu koordinasi kegiatan dan fokus pada kebutuhan edukasi pasien.
Edukasi yang efektif diawali dengan asesmen kebutuhan edukasi pasien
dan keluarganya. Asesmen ini menentukan bukan hanya kebutuhan akan
pembelajaran, tetapi juga proses edukasi dapat dilaksanakan dengan baik.
Edukasi paling efektif apabila sesuai dengan pilihan pembelajaran yang tepat
dan mempertimbangkan agama, nilai budaya, juga kemampuan membaca serta
bahasa. Edukasi akan berdampak positif bila diberikan selama proses asuhan.
Edukasi termasuk pengetahuan yang diperlukan selama proses
asuhan maupun pengetahuan yang dibutuhkan setelah pasien dipulangkan
(discharged) ke pelayanan kesehatan lain atau ke rumah. Dengan demikian,
edukasi dapat mencakup informasi sumber-sumber di komunitas untuk

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 3


tambahan pelayanan dan tindak lanjut pelayanan apabila diperlukan, serta
bagaimana akses ke pelayanan emergensi bila dibutuhkan. Edukasi yang efektif
dalam suatu rumah sakit hendaknya menggunakan format visual dan elektronik,
serta berbagai edukasi jarak jauh dan teknik lainnya.

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Memberikan pedoman terselenggaranya komunikasi efektif di RSUD
Kabupaten Sumedang

2. Tujuan khusus
a. Terselenggaranya pelaksanaan komunikasi efektif dengan
komunitas masyarakat di RSUD Kabupaten Sumedang
b. Terselenggaranya pelaksanaan komunikasi efektif dengan pasien
dan keluarga di RSUD Kabupaten Sumedang
c. Terselenggaranya pelaksanaan komunikasi efektif antar tenaga
kesehatan pemberi asuhan di dalam dan luar RSUD Kabupaten
Sumedang
d. Sebagai pedoman pelaksanaan Edukasi pasien dan keluarga di
RSUD Kabupaten Sumedang
e. Menyelenggarakan informasi yang diterima pasien dan keluarga
adalah komprehensif, konsisten, dan efektif
f. Meningkatkan mutu dan keselamatan pasien di RSUD Kabupaten
Sumedang

C. Landasan hukum

1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan (Lembaraan Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor
144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063) ;
2. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
(Lembaraan Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 153,
Tambahan Lembaran Negara Repubik Indonesia Nomor 5072); Peraturan
pemerintah nomor 32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan (Lembaraan

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 4


Negara Republik Indonesia Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran
Negara Repubik Indonesia Nomor 3637);
3. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran
(Lembaraan Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116,
Tambahan Lembaran Negara Repubik Indonesia Nomor 4431);
4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2014 Tentang
Keperawatan;
5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,
(Lembaran Negara RI Tahun 2009 Nomor 112, Tambahan Lembaran
Negara RI Nomor 5038);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 96 Tahun 2012 tentang Pelaksanaan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 215,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5357);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara
Nomor 3637);
8. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1438/MENKES/PER/X/2010
tentang Standar Pelayanan Kedokteran (Berita Negara RI Tahun 2010
Nomor 464);
9. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 290/MENKES/PER/III/2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran;
10. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 69 Tahun 2014
Tentang Kewajiban Rumah Sakit Dan Kewajiban Pasien
11. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 11 Tahun 2017 tentang
Keselamatan Pasien (Berita Negara RI Tahun 2017 Nomor 308);
12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/ Menkes/ SK / XII /1999
Tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit;
13. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129/Menkes/Per/II/2008 tentang
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit;
14. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 269/ Menkes /Per /III / 2008
tentang Rekam Medis;
15. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 004/Menkes/SK/II/2012
tentang Petujuk Teknis Promosi Kesehatan Rumah Sakit
16. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1193/MENKES/SK/X/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan
17. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 80 Tahun 2009 tentang
Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten
Sumedang;
18. Peraturan Daerah Kabupaten Sumedang Nomor 11 Tahun 2016 tentang
Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Sumedang

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 5


19. Peraturan Bupati Sumedang Nomor 47 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
Umum Daerah Kabupaten Sumedang sebagai Badan Layanan Umum
Daerah.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 6


BAB II
KONSEP KOMUNIKASI

Semua aktifitas manusia melibatkan komunikasi, namun karena kita senang


menerimanya begitu saja, kita tidak selalu memikirkan bagaimana kita
berkomunikasi dengan yang lain dan apakah efektif atau tidak. Komunikasi yang
baik melibatkan pemahaman bagaimana orang-orang berhubungan dengan yang
lain, mendengarkan apa yang dikatakan dan mengambil pelajaran dari hal tersebut.
Komunikasi adalah tentang pertukaran informasi, berbagi ide dan pengetahuan.
Hal ini berupa proses dua arah dimana inforrnasi, pemikiran, ide, perasaan atau
opini disampaikan/ dibagikan melalui kata-kata, tindakan maupun isyarat untuk
mencapai pemaharnan bersarna. Komunikasi yang baik berarti bahwa para pihak
terlibat secara aktif. Hal ini akan menolong mereka untuk mengalami cara baru
mengerjakan atau memikirkan sesuatu.
Adapun beberapa pengertian lain adalah sebagai berikut :
1. Komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi dari
seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain
tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau
informasi. (Komaruddin, 1994;Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994 ; Koontz &
Weihrich, 1988).
2. Komunikasi Efektif adalah sebuah proses penyampaian pikiran atau informasi
dari seseorang kepada orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain
tersebut mengerti betul apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau
informasi. (Komaruddin, 1994;Schermerhorn, Hunt & Osborn, 1994 ; Koontz &
Weihrich, 1988).
3. Sumber/Pemberi Pesan/Komunikator adalah orang yang menyampaikan isi
pernyataannya kepada penerima pesan/komunikan. Hal-hal yang menjadi
tanggung jawab pengirim pesan adalah mengirim pesan dengan jelas, memilih
media yang sesuai, dan meminta kejelasan apakah pesan tersebut sudah diterima
dengan baik. (konsil kedokteran Indonesia, hal 8).
4. Komunikator yang baik adalah komunikator yang menguasai materi,
pengetahuannya luas dan dalam tentang informasi yang disampaikan, cara

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 7


berbicaranya jelas dan menjadi pendengar yang baik saat dikonfirmasi oleh si
penerima pesan (komunikan).
5. Isi Pesan adalah ide atau informasi yang disampaikan kepada komunikan.
Panjang pendeknya, kelengkapannya perlu disesuaikan dengan tujuan
komunikasi , media penyampaian, penerimanya.
6. Media/Saluran Pesan (Elektronik, Lisan, Tulisan) adalah sarana komunikasi
dari komunikator kepada komunikan. Media berperan sebagai jalan atau saluran
yang dilalui isi pernyataan yang disampaikan pengirim atau umpan balik yang
disampaikan penerima.Pesan dapat berupa berita lisan, tertulis, atau keduanya
sekaligus. Pada kesempatan tertentu, media dapat tidak digunakan oleh pengirim
yaitu saat komunikasi berlangsung atau tatap muka dengan efek yang mungkin
terjadi berupa perubahan sikap (konsil kedokteran Indonesia, hal 8).
7. Penerima Pesan/Komunikan adalah pihak/orang yang menerima pesan.
Penerima pesan berfungsi sebagai penerima berita. Dalam komunikasi, peran
pengirim dan penerima berita bergantian sepanjang pembicaraan. Tanggung
jawab penerima adalah berkonsentrasi untuk menerima pesan dengan baik dan
memberikan umpan balik kepada pengirim. Umpan balik sangat penting
sehingga proses komunikasi berlangsung dua arah (konsil kedokteran Indonesia,
hal 8).
8. Umpan balik adalah respon/tindakan dari komunikan terhadap respon pesan
yang diterimanya.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 8


A. Proses Komunikasi
Komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima dan dimengerti
sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesanlkomunikator, pesan
ditindaklanjuti dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan/kornunikan
dan tidak ada harnbatan untuk hal itu (Hardjana, 2003 ) Garnbar berikut
memberikan ilustrasi proses komunikasi.
Proses komunikasi efektif dengan prinsip, terima, catat, verifikasi dan
klarifikasi.
Untuk mendapatkan komunikasi efektif, dilakukan melalui prinsip sebagai
berikut :
1. Pemberi pesan secara lisan memberikan pesan
2. Penerima pesan menuliskan secara lengkap isi pesan tersebut
3. Isi pesan dibacakan kembali (Read Back) secara lengkap oleh penerima
pesan
4. Pemberi pesan memverifikasi isi pesan kepada pemberi penerima pesan.
5. Penerima pesan mengklarifikasi ulang bila ada perbedaan pesan
dengan hasil verifikasi.

Untuk melakukan komunikasi yang efektif, perlu diperhatikan hal – hal


sebagai berikut :
a. Nada suara 38 %
b. Kata – kata 7%

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 9


c. Bahasa tubuh 55%
Selain hal – hal tersebut, juga diperlukan ketrampilan
berkomunikasi yang meliputi :
1. Teknik bertanya
Dalam proses belajar merupakan interaksi edukatif yang
didalamnya perlu adanya dialog atau komunikasi dimana
diperlukan adanya keterlibatan intelektual penerima / komunikan
yang dikembangkan dengan berbagai pertanyaan.
Tujuan pertanyaan adalah sebagai berikut :
a. Meningkatkan partisipasi penerima / komunikan dalam
proses belajar mengajar.
b. Meningkatkan minat dan rasa ingin tahu penerima /
komunikan terhadap masalah yang ingin dibahas.
c. Meminta penerima/komunikan berfikir dan mengembangkan
pola fikirnya.
d. Membimbing dan menuntun proses berfikir penerima/
komunikan
e. Memusatkan perhatian penerima / komunikan terhadap
konsep yang sedang dibicarakan.
Fungsi pertanyaan sebagai berikut :
1. Memulai pelajaran.
2. Menciptakan kondisi belajar.
3. Memberikan motivasi.
4. Mengarahkan pelajaran.
5. Mendiagnosa.
6. Melihat proses.
7. Mengundang penerima / komunikan untuk bertanya.
8. Mengevaluasi penerima / komunikan.
9. Memulai penerima / komunikan untuk berdiskusi
Terdapat beberapa teknik bertanya sebagai berikut :
1. Pertanyaan umum
Selamat Pagi, ada yang bisa kami bantu?
2. Pertanyaan spesifik

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 10


Apakah Ibu sudah membaca laporan aya? Apakah ada yang
belum jelas dengan email saya?
3. Pertanyaan dengan nilai tambah
Kalau saya beri diskon lebih besar apakah Ibu bisa
memesan lebih banyak?
4. Pertanyaan menuntun
Kapan saya bisa ke tempat Bapak untuk mendiskusikan
hal ini, hari ini atau besok? Pagi jam 8 atau sehabis makan
siang?
2. Teknik menjelaskan
Dalam memberikan penjelasan harus diperhatikan hal – hal
sebagai berikut:
a. Apa yang dibicarakan
1) Berikan penjelasan secara logis dan mudah dimengerti
2) To the point dan tidak berbelit –belit
3) Gunakan bahasa sederhana
b. Bagaimana menjelaskan
1) Tersenyum dan hindari kondisi tampak lelah
2) Bersikap ramah
3) Perhatikan intonisasi bicara
c. Kapan komunikator harus mengerti
1) Lawan bicara tidak mengerti apa yang sedang
disampaikan
2) Lawan bicara menginginkan informasi tambahan

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 11


Dia mengerti
Oh saya
mengerti

DENCODING

ENCODING

Komunikator Pesan Saluran Komunikan

Gangguan

Dalam berkomunikasi ada kalanya terdapat informasi misalnya nama obat, nama
orang, dll. Untuk memverifikasi dan mengklarifikasi, maka komunikan sebaiknya
mengeja huruf demi huruf

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 12


B. Unsur komunikasi
A. Sumber / komunikator
Sumber (yang menyampaikan informasi) adalah orang yang
menyampaikan isi pernyataannya kepada penerima. Hal-hal yang menjadi
tanggung jawab pengirim pesan adalah mengirim pesan dengan jelas,
memilih media yang sesuai, dan meminta kejelasan apakah pesan tersebut
sudah di terima dengan baik. (Konsil kedokteran Indonesia, hal.8)

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 13


Komunikator yang baik adalah komunikator yang menguasai materi,
pengetahuannya luas dan dalam tentang informasi yang yang disampaikan,
cara berbicaranya jelas dan menjadi pendengar yang baik saat
dikonfirmasi oleh si penerima pesan (komunikan)
B. Isi pesan
Panjang pendeknya, kelengkapannya perlu disesuaikan dengan tujuan
komunikasi, media penyampaian, penerimanya.
C. Media / saluran (elektronik, lisan, dan tulisan)
Media berperan sebagai jalan atau saluran yang dilalui isi pernyataan yang
disampaikan pengirim atau umpan balik yang disampaikan penerima.
Berita dapat berupa berita lisan, tertulis, atau keduanya sekaligus. Pada
kesempatan tertentu, media dapat tidak digunakan oleh pengirim yaitu saat
komunikasi berlangsung atau tatap muka dengan efek yang mungkin
terjadi berupa perubahan sikap. (Konsil Kedokteran Indonesia, hal.8).
Media yang dapat digunakan untuk melakukan komunikasi adalah telepon,
brosur, buklet, vcd, dan alat peraga.
D. Penerima / komunikan
Penerima berfungsi sebagai penerima berita. Dalam komunikasi, peran
pengirim dan penerima bergantian sepanjang pembicaraan. Tanggung
jawab penerima adalah berkonsentrasi untuk menerima pesan dengan baik
dan memberikan umpan balik kepada pengirim. Umpan balik sangat
penting sehingga proses komunkasi berlangsung dua arah. (Konsil
Kedokteran Indonesia, hal.8).
E. Umpan balik, adalah respon/tindakan dari komunikan terhadap respon
pesan yang diterimanya.
Pada saat melakukan umpan balik, diperlukan kemampuan dalam hal
sebagai berikut :
a. Cara berbicara (talking), termasuk cara bertanya (kapan
menggunakan pertanyaan tertutup dan kapan memakai pertanyaan
terbuka), menjelaskan, klarifikasi, paraphrase, intonasi.
b. Mendengar (listening), termasuk memotong kalimat.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 14


c. Cara mengamati (observation) agar dapat memahami yang tersirat di
balik yang tersurat (bahasa non verbal di balik ungkapan
kata/kalimatnya, gerak tubuh).
d. Menjaga sikap selama berkomunikasi dengan komunikan (bahasa
tubuh) agar tidak mengganggu komunikasi, misalnya karena
komunikan keliru mengartikan gerak tubuh, raut tubuh, raut muka,
dan sikap komunikator.
C. Syarat komunikasi efektif
Syarat dalam komunikasi efektif adalah :
1. Tepat waktu
2. Akurat
3. Lengkap
4. Jelas
5. Mudah dipahami oleh penerima, sehingga dapat mengurangi
tingkat kesalahan (kesalahpahaman)
D. Hukum dalam komunikasi efektif
Lima Hukum Komunikasi Yang Efektif ( The 5 Inevitable Laws of Effective
Communication ) terangkum dalam satu kata yang mencenninkan
esensi dari komunikasi itu sendiri REACH, yang berarti merengkuh atau
meraih. Karena sesungguhnya komunikasi itu pada dasamya adalah upaya
bagaimana kita meraih perhatian, cinta kasih, minat, kepedulian, simpati,
tanggapan, maupun respon positif dari orang Jain. Hukum komunikasi
efektifyang pertama adalah:
1. Respect
adalah mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap
menghargai setiap individu yang menjadi sasaran pesan yang kita
sampaikan. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap
saling menghargai dan menghonnati, maka kita dapat membangun
kerjasarna yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan
efektifitas kinerja kita baik sebagai individu maupun secara
keseluruhan sebagai sebuah tim.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 15


2. Empathy
adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi
a/au kondisi yang dihadapi o/eh orang lain. Salah satu prasyarat utama
dalam memiliki sifat empati adalah kemampuan kita untuk
mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan
atau dimengerti oleh orang Jain. Rasa empati akan menimbulkan
respek atau penghargaan, dan rasa respek akan membangun
kepercayaan yang merupakan unsure utama dalam membangun
teamwork. Jadi sebelum kita membangun komunikasi atau
mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan mernahami dengan
empati calon penerima pesan kita. Sehingga nantinya pesan kita
akan dapat tersampaikan tanpa ada halangan psikologis atau
penolakan dari penerima.
3. Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengarkan atau dimengerti
dengan baik. Jika empati berarti kita harus mendengar terlebih
dahulu ataupun mampu menerima umpan batik dengan baik, maka
audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh
penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus
disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga
dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hukum ini
mengacu pada kemampuan kita menggunakan berbagai media maupun
perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu
kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.
4. Clarity. Selain bahwa pesan harus dapat dimengerti dengan baik, maka
hukum keempat yang terkait dengan itu adalah kejelasan dari pesan itu
sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai
penafsiran yang berlainan. Karena kesalahan penafsiran atau pesan yang
dapat menimbulkan berbagai penafsiran akan menimbulkan dampak
yang tidak sederhana, Clarity dapat pula berarti keterbukaan dan
transparansi. Dalam berkomunikasi kita perlu mengembangkan sikap
terbuka (tidak ada yang ditutupi atau disembunyikan), sehingga

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 16


dapat menimbulkan rasa percaya (trust) dari penerima pesan atau anggota
tim kita, Karena tanpa keterbukaan akan timbul sikap saling curiga
dan pada gilirannya akan menurunkan semangat dan antusiasme
kelompok atau tim kita.
5. Humble
adalah sikap rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan
hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya
didasari oleh sikap rendah hati yang kita miliki. Sikap rendah hati pernah
yang pada intinya antara lain: sikap yang penuh melayani (dalam bahasa
pemasaran Customer First Attitude), sikap menghargai, mau
mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah
orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut
dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang
lebih besar.
Jika komunikasi yang kita bangun didasarkan pada lima hukum pokok
komunikasi yang efektif ini, maka kita dapat menjadi seorang komunikator
yang handal dan pada gilirannya dapat membangun jaringan hubungan
dengan orang lain yang penuh dengan penghargaan (respect), karena inilah
yang dapat membangun hubungan jangka panjang yang saling
menguntungkan dan saling menguatkan.
E. Sifat komunikasi
Komunikasi itu bisa bersifat informasi (asuhan) dan edukasi (pelayanan
promosi). Komunikasi yang bersifat informasi asuhan didalam rumah sakit
adalah :
1. Jenis pelayanan
2. Jam/waktu pelayanan
3. Pelayanan yang tersedia
4. Cara mendapatkan pelayanan
5. Sumber alternative mengenai asuhan dan pelayanan yang diberikan
ketika kebutuhan asuhan pasien melebihi kamampuan rumah sakit.
Akses informasi dapat diperoleh dengan melalui Customer Service,
Admission, dan Website.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 17


Sedang komunikasi yang bersifat Edukasi (Pelayanan Promosi) adalah :
1) Edukasi tentang obat
2) Edukasi tentang penyakit
3) Edukasi pasien tentang apa yang harus dihindari
4) Edukasi tentang apa yang harus dilakukan pasien untuk
meningkatkan qualitas hidupnya pasca dari rumah sakit.
Akses untuk mendapatkan edukasi ini bisa melalui PKRS ( Penyuluhan
Kesehatan Rumah Sakit ).

F. Hambatan dalam berkomunikasi


Hambatan dapat diartikan sebagai halangan atau rintangan yang dialami
(Badudu-Zain, 1994:489), Dalam konteks komunikasi dikenal pula gangguan
(mekanik maupun semantik), Gangguan ini masih termasuk ke dalam
hambatan komunikasi (Effendy, 1993:45), Efektivitas komunikasi salah
satunya akan sangat tergantung kepada seberapa besar hambatan komunikasi
yang terjadi.
Didalam setiap kegiatan komunikasi, sudah dapat dipastikan akan
menghadapi berbagai hambatan. Hambatan dalam kegiatan komunikasi yang
manapun tentu akan mempengaruhi efektivitas proses komunikasi tersebut.
Karena pada komunikasi massa jenis hambatannya relatif lebih kompleks
sejalan dengan kompleksitas komponen komunikasi massa. Dan perlu
diketahui juga, bahwa komunikan harus bersifat heterogen.
Hambatan dalam kegiatan komunikasi antara lain :
1. Hambatan fisik, komunikasi melintasi ruangan dengan cara berteriak-teriak,
atau komuikasi dengan beda lokasi antara pembicara dengan pendengar.
2. Hambatan persepsi, beda dalam menggunaan istilah kata
3. Hambatan emosi, perasaan tidak senang dalam berkomunikasi
4. Hambatan budaya, budaya dapat emnghambat komuniasi
5. Hambatan bahasa, kata yang dipergunakan dalam komunikasi mengandung
bahasa yang kurang dimengerti oleh pendengar

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 18


JENIS – JENIS HAMBATAN
1. Hambatan Fisik Dalam Proses Komunikasi (Disabilitas)
Merupakan jenis hambatan berupa fisik, misalnya cacat
pendengaran (tuna rungu), tuna netra, tuna wicara. Maka dalam hal ini
baik komunikator maupun komunikan harus saling berkomunikasi secara
maksimal. Bantuan panca indera juga berperan penting dalam
komunikasi ini. Contoh: Apabila terdapat seorang perawat dengan pasien
berusia lanjut. Dalam hal ini maka perawat harus bersikap lembut dan
sopan tapi bukan berarti tidak pada pasien lain. Perawat harus lebih
memaksimalkan volume suaranya apabila ia berbicara pada pasien tuna
rungu. Begitu pula halnya dengan si pasien. Apabila si pasien menderita
tuna wicara maka sebaiknya ia mengoptimalkan panca inderanya (misal:
gerakan tangan, gerakan mulut) agar si komunikan bisa menangkap apa
yang ia ucapkan. Atau pasien tuna wicara bisa membawa rekan untuk
menerjemahkan pada si komunikan apa yang sebetulnya ia ucapkan.
Disabilitas dilihat dari aspek fisiknya dapat dibagi menjadi beberapa
kategori, yaitu :
a. Tuna Netra
Seseorang dikatakan tuna netra apabila mereka kehilangan daya
lihatnya sedemikian rupa sehingga tidak dapat menggunakan fasilitas
pada umumnya. Menurut Kaufman & Hallahan, tuna netra adalah
individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan
kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki
penglihatan.
Tuna netra dibagi menjadi dua, yaitu :
a. Kurang awas (low vision), yaitu seseorang dikatakan kurang
awas bila masih memiliki sisa penglihatan sedemikian rupa
sehingga masih sedikit melihat atau masih bisa membedakan
gelap atau terang.
b. Buta (blind), yaitu seseorang dikatakan buta apabila ia sudah
tidak memiliki sisa penglihatan sehingga tidak dapat
membedakan gelap dan terang.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 19


Ciri-ciri fisik :
• Memiliki daya dengar yang sangat kuat sehingga dengan
cepat pesan-pesan melalui pendengaran dapat dikirim ke otak
• Memiliki daya pengobatan yang sensitif sehingga apa yang
dirasakan dapat dikirim langsung ke otak.
• Kadang-kadang mereka suka mengusap-usap mata dan
berusaha membelalakkannya.
• Kadang-kadang mereka memiliki perilaku yang kurang
nyaman bisa dilihat oleh orang normal pada umumnya atau
dengan sebutan blindism (misalnya : mengkerut-kerutkan
kening, menggeleng-gelengkan kepala secara berulang-ulang
dengan tanpa disadarinya )
b. Tuna Daksa
Seseorang dikatakan mengalami ketunadaksaan apabila terdapat
kelainan anggota tubuh sebagai akibat dari luka, penyakit,
pertumbuhan yang salah bentuk sehingga mengakibatkan turunnya
kemampuan normal untuk melakukan gerakan-gerakan tubuh tertentu
dan untuk mengoptimalkan potensi kemampuannya diperlukan
layanan khusus. Tuna daksa ada dua kategori, yaitu :
a. Tuna daksa orthopedic (orthopedically handicapped), yaitu mereka
yang mengalami kelainan, kecacatan tertentu sehingga
menyebabkan terganggunya fungsi tubuh. Kelainan tersebut dapat
terjadi pada bagian tulang-tulang, otot-otot tubuh maupun pada
daerah persendian, baik yang dibawa sejak lahir maupun yang
diperoleh kemudian. Contoh : anak polio
b. Tuna daksa syaraf (neurologically handicapped), yaitu kelainan
yang terjadi pada anggota tubuh yang disebabkan gangguan pada
syaraf. Salah satu kategori penderita tuna daksa syaraf dapat dilihat
pada anak cerebral palsy

Ciri-ciri fisik :
• Memiliki kecerdasan normal bahkan ada yang sangat cerdas

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 20


• Derpresi , kemarahan dan rasa kecewa yang mendalam disertai
dengan kedengkian dan permusuhan.
• Penyangkalan dan penerimaan atau suatu keadaan emosi
• Meminta dan menolak belas kasihan dari sesama, ini
merupakan fase dimana seseorang akan mencoba
menyesuaikan diri untuk dapat hidup dengan kondisinya yang
sekarang.
Ciri-ciri sosial :
Kelompok ini kurang memiliki akses pergaulan yang luas karena
keterbatasan aktivitas geraknya. Dan kadang-kadang menampakkan
sikap marah-marah (emosi) yang berlebihan tanpa sebab yang jelas.
c. Tuna Rungu
Seseorang dikatakan tuna rungu apabila mereka kehilangan daya
dengarnya.
Tuna rungu dikelompokkan menjadi :
a. Ringan (20-20 dB)
Umunya mereka masih dapat berkomunikasi dengan baik, hanya
kata-kata tertentu saja yang tidak dapat mereka dengar langsung,
sehingga pemahaman mereka menjadi sedikit terhambat.
b. Sedang (40-60 dB)
Mereka mulai mengalami kesulitan untuk dapat memahami
pembicaraan orang lain, suara yang mampu terdengar adalah
suara radio dengan volume maksimal.
c. Berat/parah (di atas 60 dB)
Kelompok ini sudah mulai sulit untuk mengikuti pembicaraan
orang lain, suara yang mampu terdengar adalah suara yang sama
kerasnya dengan jalan pada jam-jam sibuk. Biasanya memerlukan
bantuan alat bantu dengar, mengandalkan pada kemampuan
membaca gerak bibir atau bahasa isyarat untuk berkomunikasi.
Ciri-ciri fisik :
• Berbicara keras dan tidak jelas
• Suka melihat gerak bibir atau gerak tubuh teman bicaranya

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 21


• Telinga mengeluarkan cairan
• Menggunakan alat bantu dengar
• Bibir sumbing
• Suka melakukan gerakan tubuh
• Cenderung pendiam
• Suara sengau
• Cadel
Ciri-ciri mental :
Pada umumnya sering menaruh curiga terhadap orang-orang yang ada
di sekitarnya
d. Tuna Wicara
Seseorang dikatakan tuna wicara apabila mereka mengalami
kesulitan berbicara. Hal ini disebabkan kurang atau tidak berfungsinya
alat-alat bicara seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita
suara. Selain itu, kurang atau tidak berfungsinya organ pendengaran,
keterlambatan perkembangan bahasa, kerusakan pada sistem syaraf
dan struktur otot serta ketidakmampuan dalam kontrol gerak juga
dapat mengakibatkan keterbatasan dalam berbicara. Diantara individu
yang mengalami kesulitan berbicara, ada yang sama sekali tidak dapat
berbicara, dapat mengeluarkan bunyi tetapi tidak mengucapkan kata-
kata dan ada yang dapat berbicara tetapi tidak jelas.
Masalah yang utama pada diri seorang tuna wicara adalah
mengalami kehilangan/terganggunya funsi pendengaran (tuna rungu)
dan atau fungsi bicara (tuna wicara), yang disebabkan oleh bawaan
lahir, kecelakaan maupun penyakit. Umumnya seseorang dengan
gangguan dengar/wicara yang disebabkan oleh faktor bawaan
(keturunan/genetik) akan berdampak pada kemampuan bicara.
Sebaliknya seseorang yang tidak/kurang dapat bicara umumnya masih
dapat menggunakan fungsi pendengarannya walaupun tidak selalu.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 22


2. Hambatan Semantik Dalam Proses Komunikasi
Semantik adalah pengetahuan tentang pengertian atau makna kata
(denotatif). Jadi hambatan semantik adalah hambatan mengenai bahasa,
baik bahasa yang digunakan oleh komunikator, maupun komunikan.
Hambatan semantik dibagi menjadi 3, diantaranya:
1. Salah pengucapan kata atau istilah karena terlalu cepat berbicara.
contoh: partisipasi menjadi partisisapi
2. Adanya perbedaan makna dan pengertian pada kata-kata yang
pengucapannya sama.
Contoh: bujang (Sunda: sudah; Sumatera: anak laki-laki)
3. Adanya pengertian konotatif
Contoh: secara denotative, semua setuju bahwa anjing adalah binatang
berbulu, berkaki empat. Sedangkan secara konotatif, banyak orang
menganggap anjing sebagai binatang piaraan yang setia, bersahabat
dan panjang ingatan.
Jadi apabila ini disampaikan secara denotatif sedangkan komunikan
menangkap secara konotatif maka komunikasi kita gagal.

3. Hambatan Lainnya
Ada delapan hambatan penting untuk komunikasi lintas budaya dalam
pelayanan kesehatan :
a. Kurangnya pengetahuan
Petugas rumah sakit yang tidak belajar tentang perilaku diterima dalam
budaya yang berbeda dapat atribut perilaku pasien (misalnya diam,
penarikan) untuk alasan yang salah atau penyebab mengakibatkan
penilaian yang salah dan intervensi.
b. Ketakutan dan ketidakpercayaan
Rothenburg (1990) telah mengidentifikasi tujuh tahap penyesuaian
bahwa individu melewati selama pertemuan awal mereka dengan orang
dari budaya yang berbeda yang mereka tidak tahu atau mengerti.
Tahap-tahap ini adalah :

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 23


- Ketakutan : setiap orang memandang orang lain sebagai berbeda
dan oleh karena itu berbahaya. Biasanya ketika orang-orang
menjadi lebih baik mengenal satu sama lain, ketakutan secara
bertahap menghilang, hanya untuk digantikan oleh kata disukai.
- Tidak menyukai : orang-orang dari budaya yang berbeda sering
curiga dari masing- masing orang lain akan tindakan dan motif
mereka karena mereka kurang memiliki informasi
- Penerimaan : biasanya jika dua orang dari berbagai budaya yang
berbeda pengalaman cukup baik selama periode waktu
- Respect : jika individu dari beragam budaya berpikiran terbuka,
akan memungkinkan mereka untuk melihat dan mengagumi
kualitas dalam satu sama lain
- Percaya : orang dari beragam budaya telah menghabiskan cukup
waktu bersama yang berkualitas, mereka biasanya mampu saling
percaya
- Menyukai : untuk tahap akhir, individu-individu dari beragam
budaya harus mampu berkonsentrasi pada kualitas manusia yang
mengikat orang bersama-sama, bukan perbedaan yang menarik
orang menjadi terpisah
c. Rasisme
Penghalang transkultural komunikasi antara petugas kesehatan dan
pasien, dan antara petugas kesehatan dan penyedia perawatan
kesehatan lainnya. Tipe-tipenya :
- Rasisme individu : diskriminasi karena karakteristik biologis
- Rasisme budaya : menganggap budaya sendiri lebih superior
Kelembagaan rasisme: Lembaga (universitas, bisnis, rumah sakit,
sekolah keperawatan) memanipulasi atau mentolerir kebijakan yang
tidak adil membatasi peluang ras tertentu, budaya, atau kelompok
d. Bias dan etnosentrisme
Apapun latar belakang budaya mereka memiliki kecenderungan untuk
menjadi bias terhadap nilai-nilai budaya mereka sendiri, dan merasa

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 24


bahwa nilai-nilai mereka benar dan nilai-nilai dari orang lain adalah
salah atau tidak baik.
e. Stereotip perilaku
Sebuah stereotip budaya adalah asumsi beralasan bahwa semua orang
dari kelompok ras dan etnis tertentu yang sama. Sindrom tempat
budaya adalah bentuk stereotip yang masalah untuk banyak petugas
kesehatan (dokter dan perawat). Sindrom tempat budaya berkeyakinan
bahwa “ hanya karena klien terlihat dan berperilaku dengan cara yang
anda lakukan, anda berasumsi bahwa tidak ada perbedaan budaya atau
hambatan potensia untuk perawatan “(Buchwald, 1994)
f. Ritual adalah prosedur dalam mengerjakan tugas.
g. Hambatan bahasa
Bahasa menyediakan alat-alat (kata) yang memungkinkan orang untuk
mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka
- Bahasa asing, merupakan hambatan dalam berkomunikasi yang
banyak terjadi dalam praktik kedokteran. Adanya masalah
hambatan berbahasa asing dapat menjadikan penghalang
terjadinya komunikasi yang efektif antar petugas kesehatan,
antar petugas kesehatan dengan pasien, ataupun pihak-pihak
terkait lainnya.
- Berbeda dialek dan regionalism
- Idiom dan "berbicara jalanan."

Bahasa asing, dialek dan regionalism. Bahkan ketika petugas


kesehatan dan pasien berbicara bahasa yang sama, kesalahpahaman
dapat muncul. Namun ketika pasien datang dari negara atau rumah
tangga dimana bahasa inggris bukan asli bahasa mereka, hambatan
bahasa yang dihasilkan dapat membawa komunikasi berhenti,
menghasilkam frustasi dan konflik.
Untuk berkomunikasi secara efektif dengan pasien yang tidak mahir
dalam bahasa asing, diperlukan adanya seorang penerjemah bahasa
asing. Seorang juru terampil dapat membantu petugas kesehatan,

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 25


pasien dan keluarga pasien dalam mengatasi kecemasan dan frustasi
yang dihasilkan oleh hambatan bahasa
h. Perbedaan dalam persepsi dan harapan
Ketika orang-orang dari budaya yang berbeda mencoba untuk
berkomunikasi, upaya terbaik mereka dapat digagalkan oleh
kesalahpahaman dan konflik bahkan hal serius. Di bidang kesehatan
situasi perawatan, sering terjadi kesalahpahaman ketika petugas
kesehatan dan pasien memiliki persepsi dan harapan yang berbada,
akibatnya terjadi salah penafsiran antara satu sama lain. Harapan
bahwa pasien memiliki perawat dan dokter juga dapat menyebabkan
masalah komunikasi lintas budaya. Sebagai contoh, pasien Jepang pada
umumnya melihat anggota keluarga mereka untuk sebagian besar
perawatan mereka, daripada kepada perawat

G. Dampak salah dalam berkomunikasi:


1. Menimbulkan kejadian tidak diharapkan hal ini disebabkan karena salah
dalam mengambil tindakan.
2. Menimbulkan konflik antara penyampai berita dengan penerima berita. Hal
ini dapat mempengaruhi mutu pelayanan yang dilaksanakan di Rumah Sakit.

H. Klasifikasi Komunikasi
1. Dari segi sifatnya
a. Komunikasi Verbal
Komunikas dapat dilakukan secara langsung atau melalui sarana
komunikasi seperti telepon. Kelebihan dari komunikasi ini terletak
pada keberlangsungannya, yakni dilakukan secara tatap muka
sehingga umpan balik dapat diperoleh secara langsung dalam bentuk
respon dari pihak komunikan.
Komunikasi verbal ini harus memperhatikan arti denotative dan
konotatif, kosa kata, tempo bicara, intonasi, kejelasan dan keringkasan
serta waktu dan kesesuaian. Jenis komunikasi ini sering digunakan
dalam pelayanan di Rumah Sakit dalam hal pertukaran informasi

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 26


secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi
ini biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Kelebihan dari komunikasi
ini adalah memungkinkan setiap individu untuk merespon secara
langsung.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam komunikasi verbal :
1) Memahami arti denotatif dan konotatif
Arti denotatif memberikan pengertian yang sama dengan kata yang
digunakan, sedangkan arti konotatif merupakan pikiran, perasaan
atau ide yang terdapat dalam suatu kata. Misalnya kata “kritis”.
Secara denotatif, kritis berarti cerdas, tetapi perawat menggunakan
kata kritis untuk menjelaskan keadaan yang mendekati
kematian.Ketika berkomunikasi dengan pasien, tenaga medis harus
berhati-hati memilih kata-kata sehingga tidak mudah untuk
disalahartikan terutama saat menjelaskan pasien mengenai
kondisi kesehatannya dan saat terapi.
2) Kosa kata mudah dipahami
Komunikasi tidak akan berhasil jika pengirim pesan tidak mampu
menerjemahkan kata dan ucapan. Kemampuan dalam pengetahuan
kosa kata, khususnya yang berhubungan dengan dunia medis,
berperan penting dalam komunikasi verbal. Banyak istilah teknis
yang digunakan oleh tenaga medis di rumah sakit, misalnya istilah
“auskultasi”, akan lebih mudah dipahami oleh pasien bila
diucapkan dengan menggunakan kosa kata “mendengarkan”.
3) Intonasi
Pembicaraan seseorang dapat diartikan berdasarkan pada intonasi
atau nada. Seseorang yang berbicara dengan nada yang tinggi
menunjukkan bahwa orang tersebut sedang marah. Sebaliknya
seseorang yang berbicara dengan nada riang menunjukkan bahwa
orang tersebut sedang bergembira. Petugas dan tenaga medis
rumah sakit hendaknya menjaga intonasi yang menunjukkan
perhatian dan ketulusan kepada pasien.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 27


b. Komunikasi Verbal
Komunikasi yang menggunakan pesan-pesan untuk melukiskan semua
peristiwa komunikasi di luar kata-kata terucap dan tertulis.
Merupakan proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak
menggunakan kata-kata. Komunikasi ini adalah cara yang paling
meyakinkan untuk menyamoaikan pesan kepada orang lain. Tenaga
medis perlu menyadari pesan verbal dan non verbal yang disampaikan
oleh pasien mulai dan saat pengkajian sampai evaluasi asuhan
keperawatan karena pesan non verbal dapat memperkuat pesan yang
disampaikan secara verbal, misalnya, menggunakan gerak isyarat,
bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, simbol-simbol serta cara
berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi dan
gaya berbicara.
Komunikasi non verbal meliputi beberapa hal sebagai berikut :
Suatu komentar terhadap isi pembicaraan dan sifat hubungan
antara komunikator dan komunikan disebut metakomunikasi misalnya,
tersenyum meskipun hati kecewa atau marah.
Metakomunikasi dapat dilihat dari :
a) Penampilan fisik
Penampilan seseorang merupakan faktor yang menarik
perhatian dalam komunikasi antar pribadi. Penampilan fisik,
cara berpakaian dan cara berhias akan menunjukkan
kepribadian seseorang.Tenaga medis yang memperhatikan
penampilan diri dapat menampilkan citra profesionalisme yang
positif.
b) Nada suara atau intonasi bicara
Intonasi bicara berpengaruh terhadap arti pesan yang
disampaikan oleh seseorang kepada pihak lain. Oleh sebab
itu, pengendalian emosi merupakan faktor yang sangat
penting dalam berkomunikasi.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 28


c) Ekspresi wajah
Kondisi perasaan seseorang dapat diketahui melalui
ekspresi wajar. Sakit, susah, senang, takut, ngeri, jijik dan
sebagainya dapat diketahui dari ekspresi wajah. Ekspresi
wajah sering digunakan sebagai dasar dalam menentukan
pendapat seseorang ketika berkomunikasi tatap muka.
c. Komunikasi Tertulis
Komunikasi yang di lakukan dengan perantaraan tulisan tanpa adanya
pembicaraan secara langsung dengan menggunakan bahasa yang
singkat, jelas, dan dapat dimengerti oleh penerima.
Merupakan komunikasi yang penyampaian pesan secara tertulis baik
manual maupun melalui media seperti email, surat, media cetak.
lainnya.
Prinsip-prinsip komunikasi tertulis, yaitu :
• Lengkap : berisi pesan informasi dan edukasi sesuai kebutuhan
pasien dan masyarakat
• Ringkas : sesuai definisi,prosedur,tujuan komunikasi
• Pertimbangan : sesuai dengan nilai, situasi dan kemampuan
• Konkrit : sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya
• Jelas : dapat dibaca
• Sopan : sesuai etika dan norma
• Benar : jelas siapa yang melakukan komunikasi, nama dan ditanda
tangani dalam form yang telah ditentukan
Dalam Rumah Sakit, komunikasi tertulis dapat berupa catatan
perkembangan pasien, catatan medis, laporan perawat dan catatan
lainnya yang memiliki fungsi sebagai berikut :
• Sebagai tanda bukti tertulis otentik, misalnya persetujuan operasi.

• Alat pengingat / berpikir bilamana diperlukan, misalnya surat yang


telah diarsipkan.
• Dokumentasi historis, misalnya rekam medis pasien.
• Jaminan keamanan, misalnya surat keterangan jalan.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 29


• Pedoman atau dasar bertindak, misalnya surat keputusan, surat
perintah, surat pengangkatan, SPO.
Keuntungan komunikasi tertulis ;
• Adanya dokumen tertulis
• Sebagai bukti penerimaan dan pengiriman/ transfer
• Dapat menyampaikan ide yang rumit
• Memberikan analisa, evaluasi dan ringkasan
• Menyebarkan informasi kepada khalayak ramai
• Dapat menegaskan, menafsirkan dan menjelaskan komunikasi
lisan
• Membentuk dasar kontrak atau perjanjian
• Untuk penelitian dan bukti di pengadilan
d. Komunikasi lisan
Merupakan komunikasi yang disampaikan secara lisan (SBAR)

2. Dari segi arahnya


a. Komunikasi Ke atas
b. Komunikasi Ke bawah
c. Komunikasi Horizontal
d. Komunikasi Satu Arah
e. Komunikasi Dua Arah
3. Menurut Keresmiannya
a. Komunikasi Formal.
Suatu proses komunikasi yang bersifat resmi dan biasanya dilakukan
di dalam lembaga formal melalui garis perintah atau sifatnya
instruktif.
b. Komunikasi Informal.
Komunikasi antara orang yang ada dalam suatu organisasi , akan tetapi
tidak direncanakan atau tidak ditentukan dalam struktur organisasi

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 30


4. Berdasarkan kepada penerima pesan atau komunikan

a. Komunikasi Intrapersonal
Penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri antara individu dengan Tuhannya. Komunikasi
intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu
dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu
menjadi pengirim sekaligus penerima pesan,meberikan umpan balik
bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.
b. Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal berlangsung dengan dua arah, antara
komunikator dan komunikan; antara seorang tenaga medis dengan
teman sejawat atau antara seorang tenaga medis dengan pasien.
c. Komunikasi Kelompok
Salah satu bentuk komunikasi yang terjadi di dalam sebuah kelompok.
Komunikasi tidak hanya terjadi antara seseorang dengan seseorang
yang lainnya, komunikasi juga dilakukan dengan sekelompok orang
yang disebut dengan komunikasi kelompok. Menurut Michael
Burgoon, komunikasi kelompok adalah interaksi secara tatap muka
antara tiga orang atau lebih dengan tujuan yang telah diketahui,
seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, dimana
anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-
anggota yang lain secara tepat, misalnya organisasi profesi, kelompok
remaja dan kelompok-kelompok sejenisnya. Komunikasi dapat dalam
bentuk diskusi, rapat dan sebagainya.
d. Komunikasi Publik/masyarakat
Komunikasi yang dilakukan secara aktif maupun pasif yang dilakukan
di depan umum. Dalam komunikasi publik, pesan yang disampaikan
dapat berupa suatu informasi, ajakan, gagasan. Komunikasi ini
memerlukan ketrampilan komunikasi lisan dan tulisan agar pesan
dapat disampaikan secara efektif dan efisien.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 31


e. Komunikasi Organisasi
Merupakan komunikasi yang dilakukan dalam suatu organisasi atau
antar organisasi baik secara formal maupun informal. Komunikasi
organisasi pada umumnya membahas tentang struktur dan fungsi
organisasi serta hubungan antarmanusia.
f. Komunikasi Massa
Komunikasi ini melibatkan sejumlah besar komunikan heterogen yang
tersebar di suatu wilayah geografis yang luas dan berkepentingan
pada pesan komunikan yang sama.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 32


BAB III
GAMBARAN KOMUNIKASI DI RSUD SUMEDANG

A. POPULASI
Rumah sakit menetapkan populasi yang dilayani berdasar atas demografi
yang diuraikan menurut usia, etnis, agama, tingkat pendidikan, serta bahasa
yang digunakan termasuk hambatan komunikasi. Berdasar atas analisis data
populasi yang dilayani, rumah sakit menetapkan strategi komunikasi dengan
masyarakat menggunakan pedoman komunikasi efektif.
Populasi adalah sekelompok orang di suatu tempat tertentu yang mempunyai
ciri – ciri tertentu. Pasal 1 Undang-undang No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran menjelaskan definisi pasien adalah setiap orang yang melakukan
konsultasi masalah kesehatannya untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang
diperlukan baik secara langsung maupun tidak langsung kepada dokter atau
dokter gigi. Populasi Pasien di RSUD Sumedang menggambarkan bagaimana
pola kunjungan pasien selama kurun waktu tertentu di rumah sakit yang
dikelompokan menurut jenis kelamin, umur, ras/etnis, agama dan bahasa yang
digunakan dll.
Yang dimaksud dengan jenis kelamin adalah keadaan seseorang yang
menunjukan gender wanita atau pria. Umur adalah usia pada saat pasien masuk.
Ras/etnis adalah golongan bangsa yang berdasarkan ciri-ciri fisik atau rumpun.
Agama adalah ajaran atau system yang mengatur tata keimanan ( kepercayaan )
dan kepribadian kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah seperti Islam,
Kristen atau Budha. Bahasa yang digunakan adalah percakapan / kata-kata yang
digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk berinteraksi dan untuk
mengidentifikasikan diri.
1. RSUD Kabupaten Sumedang melakukan identifikasi komunikasi dari
populasi internal dan eksternal yang menjadi pusat perhatian dalam
pemberian informasi melalui analisa data demografi kunjungan kunjungan
Rawat Jalan maupun Rawat Inap atau IGD.
2. Data diproses oleh PJ bank data bagian program RSUD Kabupaten
Sumedang

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 33


3. Pengolahan data dan penentuan sasaran/target harus memberikan
gambaran dalam pemberian informasi yang tepat dan cepat.
4. Proses identifikasi terhadap komunitas dan populasi dilakukan oleh bagian
Humas dan PKRS RSUD Kabupaten Sumedang.
Sebagai gambaran mengenai keadaan umum wilayah Kabupaten Sumedang,
kami uraikan sebagai berikut :

Kabupaten
Indramayu

Kabupaten Kec.
Suriah
Subang
Kec.
Buahdua
Kec.
Kec. Conggeang Kec.
Tanjungmedar Ujungjaya

Kec.
Tanjungkerta Kec.
Kec.
Kec. Tomo
Cimalaka
Kec. Paseh
Tanjungsari
Kec.
Kec.
Kabupaten
Rancakalong Kec.
Sumedang Cisarua Kec. Majalengka
Utara Situraja
Kec.
Sukasari Kec.
Kec. Kec. Kec. Jatigede
Pamulihan Ganeas Cisitu
Kec. Kec.
Sumedang Darmaraja
Kec. Selatan
Jatinangor Kec.
Kec. Jatinunggal
Cimanggung Kec.
Cibugel
Kabupaten Kec.
Wado
Bandung

Kabupaten
Garut

Kabupaten Sumedang terletak antara 6º44’-70º83’ Lintang selatan dan


107º21’-108º21’ Bujur Timur, dengan luas wilayah 152.220 Ha yang terdiri
dari 26 Kecamatan dengan 272 desa dan 7 kelurahan. Kabupaten Sumedang
memiliki batas wilayah administratif sebagai berikut:
Sebelah Utara Kabupaten Indramayu
Sebelah Selatan Kabupaten Garut
Sebelah Barat Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang
Sebelah Timur Kabupaten Majalengka

Populasi pasien rumah sakit umum daerah kabupaten sumedang sebagian


besar adalah penduduk kabupaten sumedang dan dari data yang ada bahwa
pengunjung ada pula yang datang dari luar kabupaten sumedang yaitu Garut,
majalengka, subang dan indramayu.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 34


Data populasi pasien pasien rumah sakit umum daerah kabupaten sumedang menurut asal daerah:

ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Luar sumedang Subang 391 322 334 330 326 249 370 387 345 418 391 358 4.221
Majalengka 251 210 242 197 215 176 236 257 197 262 286 225 2.754
Bandung 74 95 94 112 91 107 132 78 94 135 125 113 1.250
Garut 12 17 30 21 22 15 19 19 18 16 19 12 220
Indramayu 35 10 18 19 19 11 15 22 21 21 12 17 220
Cianjur 13 17 18 17 18 13 12 14 10 16 15 14 177
Tasikmalaya 18 9 8 8 8 17 14 5 5 16 7 14 129
Jakarta Timur 4 2 7 10 15 10 18 7 11 13 12 13 122
Ciamis 15 15 13 10 3 3 9 12 4 7 9 7 107
Bogor 14 12 9 3 8 12 4 14 1 6 6 11 100
Kota Cimahi 5 7 8 5 6 6 8 3 3 10 11 17 89
Tanggerang 10 6 8 8 7 15 9 1 6 5 8 3 86
Cirebon 11 6 8 4 8 10 8 2 5 9 1 4 76
Bandung Barat 2 2 10 9 6 6 4 1 2 3 5 16 66
Kota Depok 3 2 1 3 7 11 3 6 9 7 5 6 63
Karawang 7 4 1 5 1 8 8 3 5 10 3 5 60
Jakarta Barat 6 6 6 3 1 2 8 5 3 6 8 5 59
Kota Bekasi 3 2 3 4 1 10 8 0 7 5 6 10 59
Bekasi 3 3 3 3 2 8 7 3 1 7 4 7 51
Kuningan 5 1 0 5 3 3 4 8 1 6 6 8 50
Kota Sukabumi 6 2 2 7 3 3 3 3 3 5 2 5 44
Purwakarta 3 1 4 2 2 2 2 3 2 2 5 6 34
Jakarta Selatan 3 3 1 4 1 1 9 0 0 2 3 0 27

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 36


ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Lebak 3 2 2 1 2 4 1 1 1 2 0 3 22
Sukabumi 0 2 1 2 5 2 2 0 1 1 3 3 22
Jakarta Utara 2 3 2 2 0 4 2 0 3 0 3 0 21
Brebes 3 2 2 3 1 0 0 0 0 0 2 7 20
Banyuwangi 0 0 0 0 0 0 0 2 4 5 4 4 19
Jakarta Pusat 1 0 2 0 2 1 2 3 5 2 0 1 19
Pandeglang 0 1 1 2 0 0 1 4 2 3 1 2 17
Kota Bogor 1 0 1 0 3 3 2 1 2 1 1 0 15
Banyumas 0 0 0 0 0 2 4 1 1 1 4 0 13
Pangandaran 0 0 1 3 1 1 1 0 1 3 1 1 13
Cilacap 0 1 2 0 0 0 0 2 4 3 0 0 12
Kota Cirebon 1 1 0 3 1 2 1 1 1 0 0 1 12
Bondowoso 0 0 0 0 0 0 1 3 4 3 0 0 11
Bengkulu 1 0 0 0 4 4 0 0 0 0 0 0 9
Pekalongan 0 1 0 0 0 0 0 2 1 2 1 2 9
Tegal 2 1 0 0 1 2 0 1 0 0 0 0 7
Wonosobo 0 0 0 0 0 0 0 3 1 3 0 0 7
Kota Banjar 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 3 0 6
Serang 0 0 0 2 0 0 1 0 0 2 1 0 6
Kota Salatiga 0 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
Grobogan 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 1 3
Jember 0 0 0 2 0 0 0 0 1 0 0 0 3
Kendal 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 3 3
Kota Cilegon 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 3

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 37


ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Kota Semarang 0 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 0 3
Sleman 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 1 3
Badung 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 2
Bangka 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2
Demak 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 2
Depok 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 2
Gunung Kidul 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 2
Kebumen 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 0 2
Klaten 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 2
Kota Malang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 2
Kota Serang 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 2
Krinci 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 2
Lamongan 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 2
Lampung Selatan 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 2
Magelang 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 2
Ogan Komering
0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 2
Ulu
Pemalang 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 2
Semarang 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 2
Sragen 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 2
Sukoharjo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 2
Aceh Tamiang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Aceh Utara 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Batam 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Belitung 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 38


ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Bojonegoro 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1
Buleleng 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Bungo 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Denpasar 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Fakfak 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1
Gresik 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1
Gunungmas 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Halmahera selatan 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Halmahera selatan 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Hulu sungai utara 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Jembrana 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Jepara 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Kaimana 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Karangampel 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Karanganyar 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
Kota Blitar 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
Kota surabaua 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Kulon Progo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Kupang 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1
Lahat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Lampung 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1
Lampung Timur 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Malang 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1
Maluku Tengah 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 39


ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Menado 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Muara jambi 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Muaro Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Ogan komering Ilir 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1
Padang Pariaman 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1
Pamekasan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Papua 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Pekanbaru 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
Purworejo 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1
Tapanuli Utara 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Warofen 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Total 913 772 849 812 798 733 939 891 793 1022 984 914 10.420

Sumedang Selatan 3.364 2.932 3.450 3.032 3.225 2.480 3.197 3.223 2.840 3.327 3.322 2.890 37.282
Sumedang Utara 2.943 2.730 3.001 2.868 3.120 2.266 2.932 2.949 2.738 3.252 3.124 2.816 34.739
Cimalaka 1.467 1.459 1.640 1.394 1.580 1.183 1.513 1.511 1.391 1.609 1.726 1.534 18.007
Tanjungsari 940 848 1.023 887 993 675 912 947 940 1.030 989 866 11.050
Situraja 917 816 954 850 854 684 953 933 824 985 959 855 10.584
Pamulihan 812 714 814 747 790 618 891 901 777 926 848 826 9.664
Tanjung Kerta 782 743 835 737 765 567 843 835 780 799 822 754 9.262
Paseh 834 682 777 700 728 578 790 858 684 834 750 686 8.901
Ganeas 757 670 701 681 780 538 743 721 600 741 723 692 8.347
Rancakalong 645 516 641 579 642 484 631 649 589 654 687 630 7.347
Darmaraja 594 514 619 567 684 453 631 529 530 699 647 588 7.055

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 40


ASAL DAERAH Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Jmlh
Buahdua 522 500 586 532 562 421 565 588 519 581 668 551 6.595
Cisitu 581 524 569 505 512 426 565 577 546 600 576 491 6.472
Conggeang 529 489 580 527 525 436 533 535 498 586 540 532 6.310
Jatinunggal 472 449 506 427 506 319 482 505 430 546 566 481 5.689
Wado 515 479 491 435 474 366 498 474 413 471 422 380 5.418
Cisarua 397 374 425 395 391 320 418 437 396 466 477 450 4.946
Jatinangor 442 425 443 402 450 304 375 397 351 450 372 358 4.769
Cimanggung 316 311 335 342 303 228 359 333 313 354 331 310 3.835
Tanjungmedar 285 292 281 235 304 200 305 302 276 385 411 266 3.542
Sukasari 197 195 222 190 187 163 201 225 194 226 234 207 2.441
Cibugel 140 142 150 164 121 94 192 173 159 196 159 162 1.852
Ujung Jaya 108 124 115 127 117 83 119 131 98 124 123 116 1.385
Tomo 119 93 116 94 113 85 130 104 106 134 115 112 1.321
Surian 91 76 143 96 103 73 88 127 79 153 113 107 1.249
Jatigede 90 83 110 79 109 76 100 93 95 98 91 63 1.087
X. Tanpa Keteranga 0 3 1 1 2 1 4 5 4 3 1 2 27
Total 18.859 17.183 19.528 17.593 18.940 14.121 18.970 19.062 17.170 20.229 19.796 17.725 219176

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 41


Data Populasi Pasien Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang Menurut Jenis Kelamin: Periode Tahun 2017

JENIS KELAMIN Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Total

L 8.158 7.363 8.478 7.602 8.031 6.196 8.249 8.281 7.466 8.852 8.501 7.548 94.725

P 11.612 10.592 11.898 10.802 11.707 8.658 11.660 11.671 10.497 12.397 12.276 11.090 134.860

x.Tanpa Keterangan 2 0 1 1 0 0 0 1 0 2 3 1 11

Total 19.772 17.955 20.377 18.405 19.738 14.854 19.909 19.953 17.963 21.251 20.780 18.639 229.596

Sumber : Bank Data Sub. Bag Program

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 42


Data populasi pasien pasien rumah sakit umum daerah kabupaten sumedang menurut pendidikan: TAHUN 2017

Jns pendidikan Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Total
SD 7.381 6.727 7.337 6.640 7.550 5.491 7.671 7.596 6.841 8.044 7.839 7.095 86.212
SMA 4.850 4.392 5.256 4.674 4.879 3.806 5.008 5.060 4.400 5.190 5.150 4.659 57.324
SMP 3.312 2.893 3.195 2.953 3.057 2.353 3.011 3.076 2.792 3.298 3.229 2.922 36.091
X.TANPA KETERANGAN 1.485 1.408 1.656 1.399 1.472 1.052 1.552 1.559 1.311 1.635 1.612 1.409 17.550
BELUM SEKOLAH 1.298 1.080 1.347 1.438 1.346 1.170 1.330 1.293 1.343 1.505 1.396 1.264 15.810
S1 993 970 1.027 859 916 627 909 885 866 1.063 1.023 844 10.982
DIPLOMA III 198 250 246 191 233 173 214 204 195 274 260 210 2.648
S2 84 90 106 87 79 65 79 71 71 75 99 83 989
DIPLOMA II 65 53 79 68 90 41 60 90 56 76 61 49 788
TIDAK SEKOLAH 33 35 41 33 39 20 30 47 30 26 27 29 390
DIPLOMA I 39 27 40 32 34 11 12 19 20 24 29 27 314
DIPLOMA 13 6 16 5 11 23 16 29 18 19 26 18 200
DIPLOMA IV 9 8 8 10 10 7 9 12 13 15 15 19 135
S3 1 3 1 3 6 8 5 6 4 4 6 8 55
SMK 6 7 13 3 10 4 0 0 0 0 0 0 43
TK 1 1 4 2 2 2 2 3 2 2 5 2 28
STM 1 2 3 3 2 1 1 1 1 0 1 1 17
SMEA 1 3 1 2 0 0 0 0 0 1 2 0 10
MTS 0 0 0 2 2 0 0 0 0 0 0 0 4
MA 0 0 1 0 0 0 0 2 0 0 0 0 3
SPG 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3

Total 19.772 17.955 20.377 18.405 19.738 14.854 19.909 19.953 17.963 21.251 20.780 18.639 229.596

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 43


Data Populasi Pasien Pasien Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang Menurut Agama: Per Agama Periode Tahun 2017

AGAMA Jan Feb Maret April Mei Juni Juli Agus Sept Okt Nop Des Total

Islam 19.667 17.862 20.249 18.309 19.653 14.789 19.796 19.860 17.883 21.124 20.669 18.551 228.412

Tanpa Keterangan 58 54 74 56 53 32 56 45 48 73 63 53 665

Kristen Protestan 26 19 33 22 10 11 25 24 17 30 21 22 260

Kristen Katolik 10 9 16 15 12 13 15 12 10 13 17 7 149

Kristen 5 6 3 3 8 7 8 2 2 3 1 2 50
Budha 4 4 1 0 2 1 6 7 1 3 4 1 34
Hindu 0 0 1 0 0 1 2 3 2 5 4 2 20
Konghucu 2 1 0 0 0 0 1 0 0 0 1 1 6

Total 19.772 17.955 20.377 18.405 19.738 14.854 19.909 19.953 17.963 21.251 20.780 18.639 229.596

Sumber : Bank Data Sub. Bag Program

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 44


Data populasi pasien pasien rumah sakit umum daerah kabupaten sumedang menurut usia:

Gol usia Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Total

1. Balita (0 - 5 tahun) 1.149 962 1.171 1.295 1.253 1.068 1.199 1.178 1.268 1.392 1.279 1.199 14.413

2. Kanak-kanak (6 - 11 tahun) 661 636 631 633 569 400 671 702 607 683 714 623 7.530

3. remaja awal (12 - 16 tahun) 667 580 653 541 519 400 646 680 615 831 796 698 7.626

4. remaja akhir (17 - 25 tahun) 1.790 1.464 1.971 1.653 1.672 1.311 1.717 1.770 1.468 1.766 1.639 1.464 19.685

5. dewasa awal (26 - 35 tahun) 1.808 1.843 1.994 1.731 1.909 1.539 1.944 1.931 1.719 1.974 2.056 1.801 22.249

6. dewasa akhir (36 - 45 tahun) 2.303 2.222 2.362 2.141 2.240 1.660 2.295 2.336 2.020 2.614 2.509 2.271 26.973

7. lansia awal (46 - 55 tahun) 3.688 3.397 3.862 3.511 3.770 2.886 3.763 3.832 3.525 4.163 4.205 3.702 44.304

8. lansia akhir (56 - 65 tahun) 4.071 3.628 4.243 3.773 4.304 3.035 4.116 4.138 3.690 4.299 4.169 3.794 47.260

9. manula (65 tahun ke atas) 3.635 3.223 3.490 3.127 3.502 2.555 3.558 3.386 3.051 3.529 3.413 3.087 39.556

Total 19.772 17.955 20.377 18.405 19.738 14.854 19.909 19.953 17.963 21.251 20.780 18.639 229.596

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 45


Data populasi pasien pasien rumah sakit umum daerah kabupaten sumedang menurut jenis suku:

Jenis Suku Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Total
Sunda 17.595 15.823 17.881 16.309 17.538 13.127 17.583 17.599 15.933 18.830 18.287 16.453 202.958
Jawa 26 26 34 29 28 26 19 19 18 21 21 24 291
Melayu 7 10 9 8 16 11 6 14 7 8 13 9 118
Batak Toba 7 1 3 5 1 4 9 10 13 9 9 4 75
Batak Karo 2 1 2 2 4 1 1 3 0 3 3 1 23
Betawi 2 0 2 4 0 1 0 0 1 0 1 2 13
Rote 1 1 1 2 1 1 1 0 1 1 1 1 12
Minangkabau 0 0 1 2 0 0 1 1 1 2 0 3 11
Cina 1 3 1 0 0 0 0 0 0 2 2 0 9
Melayu-Pontianak 0 0 2 0 3 0 0 1 0 0 0 2 8
Batak Angkola 1 1 0 0 2 0 0 2 0 0 0 1 7
Tanjung Kato 2 2 0 3 0 0 0 0 0 0 0 0 7
Batak Mandailing 2 1 0 0 0 0 2 0 0 1 0 0 6
Batak Simalungun 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 2 5
Bali 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 4
Lampung 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 2 0 4
Madura 1 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 3
Aceh 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 2
Alas 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Arab 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Bangka 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Jambi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Kaili 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 46


Jenis Suku Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agust Sep Okt Nop Des Total
kalimantan 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Malaysia 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Papua 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1
Sungkai 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1
ternate 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Tidung 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
Tionghoa 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1
Toraja 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
x.Tanpa Keterangan 2.123 2.085 2.437 2.039 2.142 1.682 2.287 2.299 1.988 2.371 2.439 2.135 26.027

Total 19.772 17.955 20.377 18.405 19.738 14.854 19.909 19.953 17.963 21.251 20.780 18.639 229.596

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 47


B. INFORMASI PELAYANAN
Informasi adalah suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator kepada
komunikan, yang berupa data, fakta, gagasan, konsep, kebijakan, aturan, standar,
norma, pedoman atau acuan yang diharapkan dapat diketahui, dipahami,
diyakini, dan diimplementasikan oleh komunikan.
Informasi yang diberikan di RSUD Sumedang mencakup:
1. Informasi yang diberikan tentang pelayanan, jam pelayanan, serta akses dan
proses mendapatkan pelayanan
2. Informasi yang diberikan bahwa RSUD Kabupaten Sumedang. memberikan
asuhan dan pelayanan
Pelayanan rawat jalan meliputi :
klinik penyakit dalam, geriatric, jiwa, Gigi dan Mulut, Bedah, Kandungan,
THT, Bedah Saraf, Ortopedi, Kulit dan Kelamin, Mata Obstetri &
Ginekologi, Pediatri, IGD, Poli Anak, Poli Thalasemia, Poli Laktasi, Poli
Tumbuh Kembang, Poli Rehabilitasi Medis / Fisioterapi, Poli Teratai, Poli
Gizi, Poli MCU, Penunjang Medis antara lain CT scan 16 slice, foto
panoramic, USG 3D, Fisio Terapi, Poli EKG, Poli EEG, Radiologi,
Laboratorium.
Hari keterangan
Jum'at
Kamis
Selasa
Senin

Rabu

NO Nama Poli Nama Dokter

1 Orthopedi dr. Magie Kusuma Widjaya, Sp.BO √ √ √


tiap hari, kecuali
hari jum'at tidak ada
dr. Fari Ananda Daud, Sp.THT, dokter spesialis.
2 THT √ √ √ √ jum'at untuk
M.Kes
persiapan pasien
operasi.
Kuli dan
3 dr. I. G. A. G. Lokantara, Sp.KK
Kelamin √ √ √
dr. Any Andjajani S., Sp.M √ √
4 Mata
dr. Ira Verawati, Sp.M √ √ √
dr. Andri M. T. J., Sp.PD √
dr. Fauliza Rakhimah, Sp.PD √ √ √
5 Dalam tiap hari
dr. Ade Erna Yusniar, Sp.PD √ √ √
dr. Susi Marliana Dewi, Sp.PD √ √ √
dr. Pipih Afiyatin, Sp.OG √ √
dr. Effendi, Sp.OG √
6 Kandungan tiap hari
dr. Isfihany Z., Sp.OG, M.Kes √
dr. Dani Setiawan, Sp.OG, M.Kes √

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 48


Hari keterangan

Jum'at
Kamis
Selasa
Senin

Rabu
NO Nama Poli Nama Dokter

dr. Diny Sri Utami, Sp,OG √ √


dr. Edi D, Soekanda, Sp.KJ √ √
7 Jiwa tiap hari
dr. Titi F. Cono, Sp.KJ √ √ √
dr. Asep Nugraha H., Sp.S √ √ √ √
8 Saraf dr. Yordian Yahya, Sp.S √ √ √
dr. Swastika, Sp.S, M.Kes √ √ √
tiap hari,
kecuali hari
9 Gigi dan Mulut
rabu tidak ada
dr. Tis Karasutisna, Sp.BM √ √ √ √ dokter spesialis
dr. Sonny S. Wangsadisastra, Sp.A √ √
dr. Nenden S., Sp.A √ √
10 Anak dr. Evi Susanti, Sp.A √ √ tiap hari
dr. Dwi Oki E., Sp.A √ √
dr. Reinaldi Lenggana., Sp.A √ √ √
dr. Iwan Sumeru, Sp.B.FInaCS. √ √ √
11 Bedah dr. Enceng, Sp.B √ √ tiap hari
dr. Rizki Satria, Sp.B √ √
Rehabilitasi
12 dr. Richi H, Sp.KFR
Medik
hari selasa saja,
untuk pasien
dewasa oleh
dokter umum,
kecuali
13 Teratai
dikonsul. Untuk
pasien anak
diperiksa oleh
dokter spesialis
√ anak.
hari rabu saja,
untuk pasien
dewasa oleh
14 DOT's
dokter umum,
kecuali
√ dikonsul.
15 Geriatri tiap hari
16 Thalasemia tiap hari

Waktu pelayanan : jam 07.00- 15.00


Poliklinik paviliun
Terdiri dari pelayanan :
SENIN
SPESIALIS NAMA DOKTER KETERANGAN
Dalam dr. Ade Erna Y N, Sp.PD 08:00-09:00 Wib
Jantung dr.Astri Astuti,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
Bedah dr. Rizki Satria P. Sp.B 08:00-09:00 Wib
Jiwa dr.Edi Sukanda,Sp.J 09:00- 10:00 Wib
Obgyn dr.Dani Setiawn, Sp.OG, M.Kes Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Anak dr.Sonny S W, Sp.A 12:00 -13:00 Wib

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 49


Syaraf dr. Swastika,Sp.s 12:00 -13:00 Wib
SELASA
SPESIALIS NAMA DOKTER KETERANGAN
Dalam dr.Andri M.T.J,Sp.PD 12:00 -13:00 Wib
Bedah dr. Rizki Satria P. Sp.B 08:00-09:00 Wib
Jantung dr.Hawani Sasmaya P,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
Obgyn dr.Isfihany Z.K, Sp.OG Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Syaraf dr. Swastika,Sp.s 12:00 -13:00 Wib
dr.Asep Nugraha H,Sp.S 12:00 -13:00 Wib
Anak dr.Nenden, Sp.A 12:00 -13:00 Wib
dr.Evi Susanti, Sp.A 12:00 -13:00 Wib
RABU
SPESIALIS NAMA DOKTER KETERANGAN
Dalam dr. Ade Erna Y N, Sp.PD 08:00-09:00 Wib
dr. Fauliza Rakhima, Sp. PD 08:00-09:00 Wib
Jantung dr.Astri Astuti,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
Syaraf dr.H.Yordian Y.,Sp.S 12:00 -13:00 Wib
Bedah dr.Enceng, S.PB Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Obgyn dr.Dani Setiawn, Sp.OG, M.Kes Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Anak dr.Sonny S W, Sp.A 12:00 -13:00 Wib
KAMIS
SPESIALIS NAMA DOKTER KETERANGAN
Dalam dr.Susi Marlina D,Sp.PD 12,00-13,00 Wib
Jantung dr.Astri Astuti,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
dr.Hawani Sasmaya P,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
Anak dr.Evi Susanti, Sp.A 12:00 -13:00 Wib
dr.Nenden, Sp.A 12:00 -13:00 Wib
Bedah dr. Rizki Satria P. Sp.B 08:00-09:00 Wib
Jiwa dr.Edi Sukanda,Sp.J Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
JUMAT
SPESIALIS NAMA DOKTER KETERANGAN
Dalam dr. Fauliza Rakhima, Sp. PD 08:00-09:00 Wib
Jantung dr.Hawani Sasmaya P,Sp.JP 08:00-09:00 Wib
Obgyn dr.Isfihany Z.K, Sp.OG Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Bedah dr.Enceng, S.PB Buat janji terlebih dahulu 1 hari Sebelum
Syaraf dr.Asep Nugraha H,Sp.S 08:00-09:00 Wib

Pelayanan rawat inap meliputi :


kasus penyakit dalam, penyakit bedah umum, Bedah Saraf, bedah ortopedi,
Obstetri & Ginekologi, perinatal dan anak, stroke unit, perawatan intensif
(HCU,ICU,NICU),
Jam pelayanan setiap hari
Pelayanan paviliun meliputi :
Pelayanan Kamar Operasi :
a. Bedah Umum : Hari senin s.d jumat kecuali cyto
b. Bedah Orthopedi/Tulang : Hari senin s.d jumat kecuali cyto
c. Bedah Obgyn/Kandungan : Hari senin s.d jumat kecuali cyto
Pelayanan Istalasi Gawat Darurat
a) Dokter Jaga 24 Jam

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 50


b) Apotek / Farmasi 24 Jam
c) Laboratorium 24 jam
d) Ambulance 24 Jam
e) Rontgen 24 Jam
Pelayanan Kamar Bersalin/Ponek
Siap menolong persalinan pasien melahirkan 24 jam
3. Apabila asuhan pasien didapatkan kasus tidak bisa ditangani di RSUD
Sumedang maka pasien dan keluarga diberikan informasi tentang sumber
alternative ( dirujuk ) ke rumah sakit yang lebih tinggi.
4. adalah informasi yang diberikan tentang kualitas pelayanan yang diberikan
kepada publik dan kepada sumber rujukan.

C. INFORMASI URGEN
Penyelenggaraan kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit sangatlah perlu
mendapat perhatian yang serius. Sebagai konsekuensi dari fungsi rumah sakit
maka potensi munculnya bahaya kesehatan dan keselamatan kerja tidak dapat
dihindari, seperti bahaya pemajanan radiasi, bahan kimia toksik, bahaya
biologis, temperatur ekstrim, bising, debu, termasuk juga bahaya kebakaran.
Rumah Sakit adalah salah satu tempat yang tidak terlepas dari bahaya
diantaranya kebakaran, gempa, ancaman bom selain itu juga kejadian yang tidak
diharapkan seperti pengunjung aatu petugas dalam kondisi gawat. untuk
mengurangi dan mencegah kerugian materil dan korban jiwa maka diperlukan
suatu komunikasi efektif untuk menyampaikan informasi yang akurat dan tepat
waktu di seluruh rumah sakit.
Penyampaian informasi yang akurat dan tepat waktu, khususnya keadaan yang
urgent seperti
1) Code blue adalah kode yang di informasikan bila terjadi kasus kegawat
daruratan pra henti nafas dan pra henti jantung yang terjadi dilingkungan
rumah sakit, baik pasien yang sedang mendapatkan perawatan atau orang
yang berada dilingkungan rumah sakit sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 51


2) Code red kode yang di informasikan bila terjadi kebakaran yang berada
dilingkungan rumah sakit
3) Code black kode yang di informasikan bila terjadi ancaman terhadap
rumah sakit
4) Perintah evakuasi yaitu upaya penyelamatan pada pasien di RSUD
Sumedang dari ancaman bahaya kebakaran, gempa atau lainnya

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 52


BAB IV
LINGKUP PELAKSANAAN KOMUNIKASI

Dalam memenuhi kebutuhan pelayanan di rumah sakit maka rumah sakit


juga harus mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan komunikasi efektif
pada pasien dan keluarga. Komunikasi efektif harus tepat waktu, akurat, lengkap,
jelas, dan dipahami oleh penerima.
Komunikasi efektif di RSUD Sumedang dilakukan oleh :
1. Pemberi pelayanan dengan pasien/ customer (Admisi, Security, Customer
Service & Call Center, clinical care Manager)
2. Profesional Pemberi Asuhan (PPA)
3. Staf baik di dalam unit maupun lintas unit
4. Staf rumah sakit dengan staf instansi lain / rekanan / komunitas
Komunikasi Efektif terjadi apabila pesan yang disampaikan komunikator dapat
diterima dengan baik oleh komunikan sehingga tidak terjadi salah persepsi.
Komunikasi Efektif di RSUD Kabupaten sumedang meliputi :
a. Komunikasi dengan komunitas masyarakat
b. Komunikasi dengan pasien dan keluarga
c. Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan di dalam dan luar RS
d. Edukasi pasien dan keluarga

A. Komunikasi Dengan Komunitas Masyarakat


Langkah awal dalam Komunikasi dengan komunitas masyarakat adalah
mengidentifikasi komunitas dan populasi. Rumah sakit harus mengenali
komunitas dan populasi pasiennya, serta merencanakan komunikasi
berkelanjutan dengan kelompok kunci (keygroup) tersebut. Tujuan komunikasi
efektif dengan masyarakat adalah memfasilitasi akses masyarakat ke pelayanan
di rumah sakit. Dalam memenuhi kebutuhan pelayanan di rumah sakit maka
rumah sakit juga harus mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan
komunikasi efektif pada pasien dan keluarga. Komunikasi efektif harus tepat
waktu, akurat, lengkap, jelas, dan dipahami oleh penerima.

Pedoman Komunikasi Efektif RSUD Kabupaten Sumedang Page 53


Komunikasi dapat dilakukan kepada individu secara langsung atau melalui
media publik dan agen yang ada di komunitas atau pihak ketiga melalui
komunikasi efektif.
Rumah sakit menetapkan populasi yang dilayani berdasar atas
demografi yang diuraikan menurut usia, etnis, agama, tingkat pendidikan,
serta bahasa yang digunakan termasuk hambatan komunikasi.
1 . Data Populasi diambil dari kunjungan pasien ke rumah sakit baik dari
rawat jalan, rawat inap maupun IGD.
2. Pengolahan data dan penentuan sasaran/target harus memberikan
gambaran dalam pemberian informasi yang tepat dan cepat.
3. Proses identifikasi terhadap komunitas dan populasi dilakukan oleh
bagian Humas dan PKRS RSUD Kabupaten Sumedang.
Berdasar atas analisis data populasi yang dilayani, rumah sakit menetapkan
strategi komunikasi dengan masyarakat menggunakan pedoman komunikasi
efektif.
1. Jenis informasi yang dikomunikasikan kepada masyarakat
meliputi informasi tentang pelayanan, jam pelayanan, serta
akses dan proses mendapatkan pelayanan
1) Masyarakat diberi informasi bahwa RSUD Kabupaten
Sumedang. memberikan asuhan dan pelayanan rawat jalan
meliputi klinik penyakit dalam, geriatric, jiwa, Gigi dan Mulut,
Bedah, Kandungan, THT, Bedah Saraf, Ortopedi, Kulit dan
Kelamin, Mata Obstetri & Ginekologi, Pediatri, IGD, Poli Anak,
Poli Thalasemia, Poli Laktasi, Poli Tumbuh Kembang, Poli
Rehabilitasi Medis / Fisioterapi, Poli Teratai, Poli Gizi, Poli
MCU, Penunjang Medis antara lain CT scan 16 slice, foto
panoramic, USG 3D, Fisio Terapi, Poli EKG, Poli EEG,
Radiologi, Laboratorium.
2) Masyarakat diberi informasi bahwa RSUD Kabupaten
Sumedang memberikan asuhan dan pelayanan rawat inap
meliputi kasus penyakit dalam, penyakit bedah umum, Bedah
Saraf, bedah ortopedi, Obstetri & Ginekologi, perinatal dan anak,

Pedoman Komunikasi Efektif Page 54


stroke unit, perawatan intensif (HCU,ICU,NICU), paviliun
tandang
3) Apabila asuhan pasien didapatkan kasus tidak bisa ditangani di
RSUD Sumedang maka pasien dan keluarga diberikan informasi
tentang sumber alternative ( dirujuk ) ke rumah sakit yang lebih
tinggi.
2. informasi tentang kualitas pelayanan yang diberikan kepada publik dan
kepada sumber rujukan.
3. Bentuk dan Strategi komunikasi :
Edukasi Kesehatan Rumah Sakit melalui individu maupun
kelompok di lingkungan RSUD Kabupaten Sumedang
mengenai penyakit (berdasar pada 10 besar penyakit atau
penyakit KLB), pencegahan penyakit dll.
Seminar seminar, talkshow atau mini seminar
Komunikasi dengan masyarakat menggunakan perantara media
:
1. Buku Profile RSUD Kabupaten Sumedang
2. Hotline ke customer service : (0261)201021 ext: 193
3. Humas : 082219158993
4. Sms center : 081394241941
5. Nomor Faximile : (0261)204970
6. Website : www.rsudsumedang.com
7. Email : rsudsumedang@gmail.com
8. Media leaflet, banner, spanduk, poster oleh Unit PKRS dan
Humas
9. Koran, radio,bulletin,running text,speaker central

B. Komunikasi dengan pasien dan keluarga


Pasien dan keluarga membutuhkan informasi lengkap mengenai asuhan dan
pelayanan yang disediakan oleh rumah sakit, serta bagaimana untuk
mengakses pelayanan tersebut. Memberikan informasi ini penting untuk
membangun komunikasi yang terbuka dan terpercaya antara pasien, keluarga,

Pedoman Komunikasi Efektif Page 55


dan rumah sakit. Informasi tersebut membantu mencocokkan harapan pasien
dengan kemampuan rumah sakit. Informasi sumber alternatif asuhan dan
pelayanan diberikan jika rumah sakit tidak dapat menyediakan asuhan serta
pelayanan yang dibutuhkan pasien di luar misi dan kemampuan rumah sakit.
Jenis informasi yang dikomunikasikan kepada Pasien dan keluarga meliputi:
a. Rumah Sakit memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang
asuhan dan pelayanan yang akan diberikan, serta tatacara bagaimana pasien
dan keluarga dapat mengakses pelayanan di rumah sakit.
b. Pasien dan keluarga akan diberi informasi mengenai sumber rujukan atau
alternatif, apabila rumah sakit tidak dapat melakukan atau menyediakan
asuhan dan pelayanan.
c. Komunikasi dan edukasi menggunakan bahasa Indonesia yang baku atau
dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami oleh pasien dan
keluarga. Bahasa daerah, bahasa asing dan bahasa isyarat dimungkinkan
untuk digunakan apabila dipandang efektif dalam berkomunikasi dengan
pasien.
d. Format dokumen untuk kepentingan komunikasi, informasi dan edukasi
kepada pasien menggunakan bahasa Indonesia yang baku.
e. Rumah Sakit memberikan kewenangan kepada keluarga atau wali pasien
untuk menjadi penerjemah, apabila pasien mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi atau menerima informasi.
f. Rumah Sakit memberikan hak kepada pasien dan keluarga untuk
bertanyajawab ataupun berdiskusi setelah mendapatkan informasi.
g. Rumah sakit menyediakan penerjemah sesuai dengan kebutuhan dan bila di
rumah sakit tidak ada petugas penerjemah maka diperlukan kerja sama dengan
pihak terkait
h. Bentuk dan Strategi komunikasi :
1) Edukasi Kesehatan Rumah Sakit melalui individu terintegrasi maupun
kelompok di lingkungan RSUD Kabupaten Sumedang mengenai
penyakit (berdasar pada 10 besar penyakit atau penyakit KLB),
pencegahan penyakit dll.
2) Seminar seminar, talkshow atau mini seminar

Pedoman Komunikasi Efektif Page 56


3) Komunikasi dengan pasien dan keluarga menggunakan perantara media :
a. Buku Profile RSUD Kabupaten Sumedang
b. Hotline ke customer service : (0261)201021 ext: 193
c. Humas : 082219158993
d. Sms center : 081394241941
e. Nomor Faximile : (0261)204970
f. Website : www.rsudsumedang.com
g. Email : rsudsumedang@gmail.com
h. Media leaflet, banner, spanduk, poster oleh Unit PKRS dan Humas
i. Koran, radio,bulletin,running text,speaker central

C. Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan di dalam dan luar RS


Komunikasi antar staf klinis adalah koordinasi dan kolaborasi antara
perawat dan dokter, perawat dengan perawat, perawat dengan bidan, perawat
dengan farmasis, perawat dengan nutrisionis, perawat dengan petugas
laboratorium dan petugas lain atau sebaliknya atau bahkan komunikasi dengan
luar rumah sakit.
Komunikasi antar staff klinis dilakukan pada waktu operan dinas petugas,
operan ketika memindahkan atau merujuk pasien, menyampaikan hasil
pemerikasaan penunjang, menyampaikan kondisi pasien. Komunikasi antar staf
klinis dilakukan agar ada komunikasi dan kolaborasi pada para pelaksanaan
asuhan.
Penerima perintah mencatat perintah/hasil pemeriksaan secara lengkap (
write back) kemudian membacakan kembali ( read back ) kemudian lakukan
konfirmasi ulang ( repeat back).
Komunikasi verbal atau komunikasi tulis yang kurang adekuat merupakan
sumber kesalahan yang serius pada pusat pelayanan kesehatan. Analisis akar
masalah ditemukan sebagai sumber kesalahan yang terjadi secara umum di
sebabkan dari kedua macam komunikasi ini. Terdapat beberapa hambatan dalam
komunikasi antar petugas pemberi pelayanan karena factor hirarki,gender, suku,
perbedaan gaya komunikasi antar disiplin ilmu dan gaya komunikasi individual.

Pedoman Komunikasi Efektif Page 57


Komunikasi antar staf klinis dilakukan agar ada komunikasi dan
kolaborasi pada para pelaksanaan asuhan. Pelaksanaan komunikasi efektif antar
staf klinis dilakukan dengan tehnik SBAR. SBAR merupakan kerangka
komunikasi melalui telepon.sbar digunakan untuk mengkomunikasikan tentang:
a. Serah terima pasien dari dokter jaga ke DPJP
b. Laporan pasien tentang :
1) Perubahan kondisi pasien
2) Melaporkan nilai kritis

SBAR TERSUSUN ATAS :

S = Situation
Mengawali suatu komunikasi di perlukan pengenalan antara penyampai berita
dan penerima berita. Dalam hal ini identitas saudara ( petugas ) dan unit
pelayanan kesehatan diinformasikan. Selain itu juga perlu disampaikan kepada
siapa ( penerima ) informasi yang petugas ajak berkomunikasi
Pengirim berita menginformasikan Identitas pasien : No RM, Nama, Tgl
lahir/umur, ruangan
Selain itu berisi : serah terima, laporan pasien, tanggal, jam, nama petugas,
ruangan, dan keluhan utama.

B = Background
Berilah informasi riwayat medis pasien,atau informasi yang berkaitan dengan
permasalahan yang ditemukan.
Latar belakang pasien (Background) berisi :
Diagnosa, tingkat kesadaran, TTV, Oksigenasi, diet,infuse, alat yang terpasang,
terapi( hanya diisi oleh dokter) , hasil pemeriksaan diagnostic, hasil lab
abnormal.

A = Assessment
Pengkajian kondisi pasien terkini (Assesment)
Dengan cara menuliskan hasil analisa pengkajian

Pedoman Komunikasi Efektif Page 58


Penilaian terhadap masalah yang di temukan terkait dengan apa yang menjadi
masalah pada pasien. Berilah kesan pasien secara klinis serta hal yang terkait
dengan hal tersebut. Jelaskan pula tindakan apa yang sudah di berikan kepada
pasien untuk mengatasi permasalahan tersebut sambil menunggu rekomendasi
yang diterima petugas
R = Recommendation
Jelaskan kepada petugas rekomendasi atau advis yang diberikan untuk mengatasi
permasalahan tersebut. Saran disampaikan dengan jelas, bagaimana cara
melaksanakan saran serta tentukan waktu pelaksanaannya serta tindak lanjutnya.
1) Usulan pemeriksaan atau tindakan atas kondisi pasien saat ini.
2) Tindakan apa yang direkomendasikan untuk memperbaiki masalah
3) Apa yang dibutuhkan untuk memperbaiki kondisi pasien
4) Kapan waktu yang di harapkan tindakan ini terjadi
Kemudian penerima advis menuliskan saran /advis, membacakan kembali advis
yang diberikan , konfirmasi ulang dengan menanyakan “benar”
Bukti pelaksanaan SBAR didokumentasikan di form CPPT (RM 4.3) dan
ditanda tangani oleh petugas yang menyerahkan laporan dan petugas yang
menerima laporan.
Tujuan dan keuntungan menggunakan SBAR ( Byred et al, 2009 ) ,yaitu :
a) Meningkatkan keamanan keselamatan pasien ( patient safety ).
b) Memberikan standar untuk penyebaran atau berbagi informasi.
c) Meningkatkan kekuatan atau penjelasan dari para pemberi pelayanan
kesehatan dalam mengajukan permintaan perubahan perawatan pasien atau
untuk menyelesaikan informasi dalam keadaan kritis dengan benar dan
akurat.
d) Meningkatkan efektivitas kerja tim.
e) Dapat dipergunakan pada daerah spesifik COPD.

1. Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan di dalam RS


Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan di lingkungan RSUD
kabupaten sumedang terdiri dari :
a. Komunikasi secara lisan

Pedoman Komunikasi Efektif Page 59


Terdiri dari :
1) Pre Conference
2) Post conference
3) Ronde keperawatan
4) Operan shift jaga
b. Komunikasi secara tulisan
Terdiri dari :
1) Konsultasi perawat atau bidan kepada dokter spesialis
2) Konsultasi dokter umum kepada dokter spesialis
3) Konsultasi perawat atau bidan kepada dokter umum
4) Komunikasi dalam pengelolaan hasil pemeriksaan penunjang

Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan adalah koordinasi dan


kolaborasi antara perawat dan dokter, perawat dengan perawat, perawat
dengan bidan, perawat dengan farmasis, perawat dengan nutrisionis,
perawat dengan petugas laboratoriun dan petugas lain atau sebaliknya.
Informasi asuhan pasien dan hasil asuhan dikomunikasikan antarstaf klinis
selama bekerja dalam sif atau antarsif.
Komunikasi dan pertukaran informasi di antara dan antar staf klinis selama
bekerja dalam sif atau antar sif penting untuk berjalan mulusnya proses
asuhan. Informasi penting dapat dikomunikasikan dengan cara lisan, tertulis,
atau elektronik.
a. Konsultasi perawat atau bidan kepada dokter spesialis
Perawat atau bidan juga dapat melakukan konsultasi kepada
dokter spesialis, Hal yang harus dilakukan apabila melakukan
konsultasi secara lisan atau telepon memperkenalkan identitas diri
kepada dokter spesialis dan menyampaikan maksud dan tujuan,
menginformasikan keadaan pasien dengan menggunakan S-BAR,
mencatat informasi yang disampaikan dalam bentuk S- BAR di atas
dan memberikan stempel S-BAR di bawahnya.
apabila perawat konsultasi ke dokter umum dan dokter umum ke
spesialis dokter umum mendelegasikan perintah konsultasi kepada

Pedoman Komunikasi Efektif Page 60


perawat maka setelah melakukan TBaK, perawat / bidan memintakan
tanda tangan atau paraf dokter umum. Setelah dokter umum
membubuhkan paraf atau tanda tangan, petugas dapat memintakan
tanda tangan kepada dokter spesialis pada saat dokter spesialis
melakukan visit hari berikutnya.
b. Konsultasi dokter umum kepada dokter spesialis
Hal yang harus dilakukan apabila melakukan konsultasi secara lisan
atau telepon memperkenalkan identitas diri kepada dokter spesialis
dan menyampaikan maksud dan tujuan, menginformasikan keadaan
pasien dengan menggunakan S-BAR, mencatat informasi yang
disampaikan dalam bentuk S- BAR di atas dan memberikan stempel
S-BAR di bawahnya
c. Konsultasi perawat atau bidan kepada dokter umum
Hal yang harus dilakukan oleh perawat apabila melakukan konsultasi
secara lisan atau telepon sama dengan konsultasi dokter umum kepada
dokter spesialis
d. Preconference dan Post conference perawat dan bidan
Konferensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari.
Konferensi dilakukan sebelum atau setelah melakukan operan dinas,
sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas perawatan pelaksanaan.
konference sebaiknya dilakukan di tempat tersendiri sehingga dapat
mengurangi gangguan dari luar. Konferensi terdiri dari pre conference
dan post conference yaitu :
5) Pre Conference
Pre conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana
setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang
dipimpin oleh ketua tim atau penanggung jawab tim. Jika yang dinas
pada tim tersebut hanya satu orang, maka pre conference ditiadakan.
Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian), dan
tambahan rencana dari katim dan PJ tim
Waktu : sebelum operan dinas malam dan dinas pagi

Pedoman Komunikasi Efektif Page 61


Tempat : Meja masing – masing tim
Penanggung jawab : Kepala ruangan dan PP
6) Post conference
Post conference adalah komunikasi katim dan perawat pelaksana
tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada
shift berikut. Isi post conference adalah hasil askep tiap perawatan dan
hal penting untuk operan (tindak lanjut). Post conference dipimpin
oleh katim atau Pj tim (Modul MPKP, 2006)
Waktu :Sebelum operan dinas pagi dan dinas siang.
Tempat : Meja masing – masing tim.
Penanggung jawab : Kepala ruangan dan PP
e. Ronde keperawatan
Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan
klien yang dilaksanakan oleh perawat, disamping pasien dilibatkan
untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi
pada kasus tertentu harus dilakukan oleh perawat primer atau
konselor, kepala ruangan, perawat associate yang perlu juga
melibatkan seluruh anggota tim.
Ronde keperawatan merupakan suatu metode pembelajaran klinik
yang memungkinkan peserta didik mentransfer dan mengaplikasikan
pengetahuan teoritis ke dalam peraktik keperawatan secara langsung.
f. Operan shift jaga
Selain kegiatan komunikasi yang dilakukan diatas, proses
komunikasi antar pemberi layanan yang dilakukan dapat dalam bentuk
rapat pergantian shift. Pergantian shift jaga yang dilakukan oleh setiap
petugas harus dilakukan adanya operan jaga, yaitu menginformasikan
hal terkait keadaan pasien, meliputi :
a. Status kesehatan pasien
b. Ringkasan asuhan yang sudah diberikan kepada pasien
c. Respon pasien terhadap asuhan yang sudah diberikan
b. Perencanaan asuhan keperawatan berikutnya

Pedoman Komunikasi Efektif Page 62


g. Komunikasi dalam pengelolaan hasil pemeriksaan penunjang
Dalam memberikan pelayanan kepada pasien petugas
penunjang medis seperti farmasi, laboratorium, radiologi juga
melakukan komunikasi dengan petugas pelayanan medis baik itu
dokter, perawat, bidan maupun petugas lainnya.
Umumnya hasil pemeriksaan penunjang laboratorium atau
radiologi dalam bentuk laporan tertulis yang kemudian akan ditempel
dalam lembar yang sudah disediakan di rekam medis pasien.Namun
hasil pemeriksaan penunjang yang abnormal harus segera
disampaikan kepada petugas terkait melalui lisan atau telepon, tidak
harus menunggu hasil pemeriksaan tertulisnya jadi terlebih dahulu.
Karena itulah maka petugas penunjang medis juga harus melakukan
komunikasi efektif jika melakukan perintah atau menerima perintah
secara lisan atau melalui telepon untuk menyampaikan hasil
pemeriksaan penunjang kepada disiplin klinis lain di rumah sakit.
Proses pelaporan hasil pemeriksaan/ tes dikembangkan rumah
sakit untuk pengelolaan hasil kritis dari tes diagnostik untuk
menyediakan pedoman bagi para praktisi untuk meminta dan
menerima hasil tes pada keadaan gawat darurat.
RS mempunyai Prosedur yang meliputi :
1. Penetapan tes kritis dan ambang nilai kritis bagi setiap tipe tes,
2. Oleh siapa dan kepada siapa hasil tes kritis harus dilaporkan
3. Menetapkan metode monitoring yang memenuhi ketentuan
Petugas penerima hasil pemeriksaan penunjang secara lisan atau
telepon harus mencatat (T) di lembar catatan perkembangan pasien
dalam rekam medis atau dicatat di kertas atau media lain apabila tidak
memungkinkan untuk mencatatnya dalam rekam medis pasien,
membaca ulang (Ba) , melakukan konfirmasi (K) kepada pemberi
informasi dan membubuhkan stempel nama, paraf atau tanda tangan
pada catatannya. Khusus untuk obat-obatan yang masuk dalam daftar
NORUM/LASA (nama obat rupa mirip), pada saat petugas
membacakan ulang perintah pengobatan, petugas harus mengeja

Pedoman Komunikasi Efektif Page 63


kembali nama obat yang ditulisnya ketika menerima perintah secara
lisan atau telepon.Jika hasil pemeriksaan penunjang sudah jadi, maka
petugas menempel di lembar yang sudah disediakan di rekam medis
pasien.

Selain hal tersebut diatas setiap rumah sakit menentukan informasi yang akan
dikomunikasikan dengan cara dan informasi tersebut sering
dikomunikasikan dari satu staf klinis kepada staf klinis lainnya,
meliputi:
1. status kesehatan pasien antara lain catatan perkembangan pasien
terintegrasi (CPPT);
2. Setiap pasien setelah rawat inap dibuat ringkasan pulang
3. Setiap pasien rawat jalan dengan diagnosis kompleks dibuat profil
ringkas medis rawat jalan
4. Informasi yang dikomunikasikan termasuk ringkasan asuhan dan
pelayanan yang telah diberikan pada proses transfer dan rujukan;
Transfer pasien didalam rumah sakit adalah transfer antara unit / instalasi
yang ada di lingkungan RSUD Kabupaten Sumedang terdiri dari :
a. Transfer pasien dari Instalasi Gawat Darurat/PONEK ke Instalasi
Rawat Inap , ICU /HCU, Kamar Operasi
b. Transfer pasien dari Instalasi Rawat Jalan ke Instalasi Gawat
Darurat, Unit PONEK, Instalasi Rawat Inap , Kamar Operasi
c. Transfer pasien dari Instalasi Rawat Inap ke ICU / HCU, Kamar
Operasi
d. Transfer pasien dari Kamar Operasi ke Instalasi Rawat Inap, ICU /
HCU
e. Transfer pasien dari Instalasi Gawat Darurat, Instalasi Rawat Inap ke
Ruang Radiologi
5. Serah terima pasien (hand over)
Informasi kondisi pasien antarstaf klinis termasuk PPA berdasar atas
proses yang sedang berjalan atau pada saat penting tertentu dalam
proses asuhan ditulis dalam rekam medis

Pedoman Komunikasi Efektif Page 64


Prinsip dalam penerapan Hand over:
a. Perlu adanya kontinuitas pelayanan pasien
b. Ada form SBAR yang digunakan dalam hand over (untuk hand over
secara tidak langsung)
c. Ada waktu yang jelas selama pelaksanaan hand over
d. Setiap PPA memahami peran yang dijalankan selama melaksanakan
hand over
e. Minimal interupsi
f. Seluruh PPA terkait harus hadir selama hand over
g. Ada feedback yang diberikan dari penerima hand over
2. Komunikasi antar tenaga kesehatan pemberi asuhan luar RS
Rumah sakit sudah seharusnya mempertimbangkan bahwa pelayanan di
rumah sakit adalah bagian pelayanan yang terintegrasi oleh para professional
dibidang pelayanan kesehatan dan tingkat pelayanan yang akan membangun
suatu kontinuitas pelayanan.
Komunikasi dengan tenaga klinis di luar rumah sakit biasanya berupa
kegiatan rujuk pasien baik untuk alih rawat maupun untuk pemeriksaan
penunjang diluar, bentuk komunikasi dengan percakapan via telepon.
Komunikasi antar staf klinis luar rumah sakit adalah
1. Skrining pre hospital
adalah suatu cara atau metode yang dilakukan untuk menyelaraskan
kebutuhan pasien dibidang pelayanan kesehatan dengan pelayanan yang
tersedia di rumah sakit. Informasi diperlukan untuk membuat keputusan
yang benar tentang kebutuhan pasien yang mana yang dapat dilayani
rumah sakit, supaya tercipta peningkatan mutu pelayanan yang sesuai
dengan misi dan tujuan rumah sakit.
Maksud dan tujuan dilakukan skrining adalah:
a. Menyelaraskan kebutuhan pasien dibidang pelayanan kesehatan
dengan pelayanan yang dimiliki/ tersedia di rumah sakit.
b. Mengkoordinasikan pelayanan supaya lebih efektif dan efisien.
c. Merencanakan pemulangan dan tindakan selanjutnya sesuai
kebutuhan pasien.

Pedoman Komunikasi Efektif Page 65


d. Menyesuaikan kebutuhan pasien dengan misi dan sumber daya di
rumah sakit.
Pelaksanaan skrining pasien sebelum masuk rumah sakit adalah
komunikasi yanag dilakukan apabila diterima informasi akan ada
rujukan pasien dari luar rumah sakit
Ringkasan transfer Rekam medis sebagai sarana komunikasi
transfer pasien mengandung :
1) Alasan masuk rumah sakit
2) Temuan yang signifikan
3) Diagnose yang telah ditegakkan
4) Tindakan yang telah diberikan
5) Obat-obatan yang telah diberikan
6) Kondisi pasien saat dipindah
2. Transfer Antar Rumah Sakit
Mentransfer pasien antar rumah sakit terutama yang sakit kritis
membutuhkan koordinasi dengan banyak pihak. Hal tersebut
menyangkut kerjasama antar rumah sakit / instalasi / unit pelayanan,
ketersediaan SDM yang berkompeten / terlatih, ketersediaan peralatan
utama sampai pada alat transportasi seperti brankar / kursi roda atau
ambulance ( untuk transfer antar rumah sakit ) yang memadai dan sesuai
standar dan perundang – undangan yang berlaku. Koordinasi ini semua
bertujuan untuk menyediakan proses transfer pasien dengan standar
terbaik seperti yang ditampilkan pada tabel ini.
Transfer pasien antar rumah sakit terdiri dari :
1. Transfer pasien dari RSUD Kab Sumedang ke Rumah Sakit yang
lain atau sebaliknya.
2. Transfer pasien dari RSUD Kab Sumedang ke rumah pasien atau
sebaliknya.
3. Transfer pasien dari kejadian kecelakaan lalu lintas, musibah
masal / bencana dan sebagainya.
Apabila keputusan transfer telah diambil, lakukan komunikasi dengan
instalasi / unit penerima.

Pedoman Komunikasi Efektif Page 66


1. Bila transfer antar rumah sakit maka perlu terlebih dahulu kontak
dengan rumah sakit penerima.
2. Berikan informasi yang sejelas – jelasnya kepada pasien dan
keluarga mengenai alasan dilakukannya transfer.
3. Tidak menganggap remeh resiko yang akan dialami pasien
selama proses transfer berlangsung. Pastikan tim transfer telah
siap dan semua peralatan medis dan obat obatan tersedia lengkap
dan tidak kadaluarsa.
4. Keputusan mentransfer pasien harus didokumentasikan dalam
rekam medis pasien berikut kriteria kondisi umum pasien.

D. Edukasi pasien dan keluarga


Rumah sakit melaksanakan edukasi terhadap pasien dan keluarganya
sehingga mereka mendapat pengetahuan serta keterampilan untuk berpartisipasi
dalam proses dan pengambilan keputusan asuhan pasien. Rumah sakit
mengembangkan/ memasukkan edukasi ke dalam proses asuhan sesuai dengan
misi, jenis pelayanan yang diberikan, dan populasi pasien. Edukasi
direncanakan untuk menjamin bahwa setiap pasien diberikan edukasi sesuai
dengan kebutuhannya.
Agar edukasi pasien dan keluarga berjalan dengan baik maka :
1. Rumah sakit menetapkan pengorganisasian sumber daya edukasi secara
efektif dan efisien. Oleh karena itu, rumah sakit perlu menetapkan
organisasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS), menciptakan
pelayanan edukasi, dan mengatur penugasan seluruh staf yang memberikan
edukasi secara terkoordinasi.
2. Profesional pemberi asuhan (PPA) yang dapat dibantu oleh staf klinis
lainnya yang memberi asuhan memahami kontribusinya masing-masing
dalam pemberian edukasi pasien. Informasi yang diterima pasien dan
keluarga adalah komprehensif, konsisten, dan efektif.
3. Agar profesional pemberi asuhan (PPA) mampu memberikan edukasi
secara efektif dilakukan pelatihan sehingga terampil melaksanakan
komunikasi efektif. Pengetahuan tentang materi yang diberikan dan

Pedoman Komunikasi Efektif Page 67


kemampuan berkomunikasi secara efektif adalah pertimbangan penting
dalam edukasi yang efektif.
4. Agar edukasi pasien dan keluarga dapat efektif maka staf harus melakukan
asesmen kemampuan, kemauan belajar, dan kebutuhan edukasi yang
dicatat di dalam rekam medis.
5. Pengetahuan dan keterampilan yang menjadi kekuatan dan kekurangan
diidentifikasi serta digunakan untuk membuat rencana edukasi. Dengan
demikian, untuk merencanakan edukasi dilakukan asesmen:
a. Assessment dilakukan diawal dan selama proses (evaluasi)
b. Kaji kebutuhan edukasi pasien dan keluarga sesuai yang tertuang dalam
formulir assesmen
c. Perawat melakukan Asesmen kebutuhan edukasi pasien dan keluarga
guna mengumpulkan data dan informasi untuk menilai dan mendapatkan
informasi kebutuhan edukasi dan keluarga ketika pasien diterima di rawat
jalan dan ruang rawat inap antara lain tentang :
1) Keyakinan dan nilai-nilai pasien dan keluarga.
2) Kemampuan membaca.
3) Tingkat pendidikan dan bahasa yang digunakan serta hambatan
bahasa.
4) Hambatan emosional dan motivasi (emosional: depresi, senang dan
marah).
5) Keterbatasan fisik dan kognitif.
6) Kesediaan pasien untuk menerima informasi
d. Assesmen kebutuhan edukasi pasien dan keluarga dilakukan oleh tenaga
keperawatan dan dokter.
e. Catat hasil asesmen dalam lembar rekam medis pasien
f. Tentukan rencana pemberian edukasi pasien dan keluarga.
g. Jika pada tahap asesmen pasien di temukan hambatan fisik (tunarungu,
tuna wicara, buta), maka komunikasi yang efektif adalah memberikan
leaflet kepada pasien dan keluarga (istri, anak, ayah, ibu, atau saudara
sekandung) dan menjelaskannya kepada mereka; dan jika pada tahap
asesmen pasien ditemukan hambatan emosional pasien (pasien marah

Pedoman Komunikasi Efektif Page 68


atau depresi), maka komunikasi yang efektif adalah memberikan materi
edukasi dan menyarankan pasien membaca leaflet pada saat setelah
pasien merasa nyaman.
h. Lakukan assesmen sesuai dengan juknis tentang pengisian assesmen
kebutuhan edukasi
i. Kolaborasikan dengan bagian terkait untuk memberikan edukasi pada
pasien dan keluarga
j. Assesmen Kebutuhan edukasi kepada pasien dan keluarga terkait tentang
tatacara/prosedur diatur dalam SPO Assesmen kebutuhan Edukasi pasien
dan keluarga tersendiri.
Implementasi Pemberian Edukasi Pasien Dan Keluarga.
Edukasi difokuskan pada pengetahuan dan keterampilan spesifik
yang dibutuhkan pasien dalam rangka memberdayakan pasien dalam
proses asuhan dengan memahami diagnosis dan perkembangan kondisi
kesehatannya, ikut terlibat dalam pembuatan keputusan dan berpartisipasi
dalam asuhannya, serta dapat melanjutkan asuhan di rumah.
Edukasi yang diberikan sebagai bagian dari proses memperoleh
informed consent untuk pengobatan (misalnya pembedahan dan anestesi)
didokumentasikan di rekam medis pasien. Sebagai tambahan, bila pasien
atau keluarganya secara langsung berpartisipasi dalam pemberian
pelayanan (contoh: mengganti balutan, menyuapi pasien, memberikan obat,
dan tindakan pengobatan) maka mereka perlu diberi edukasi.
a. Pemberian edukasi kepada pasien dan keluarga harus dengan format dan
bahasa yang mudah dimengerti baik secara verbal maupun materi tertulis
(brosur, leaflet, poster, lembar balik atau media eloktronik)
b. Pemberian informasi dan edukasi verbal harus diperkuat secara
tertulis.(leaflet, poster)
c. Pemberian edukasi dilakukan oleh tenaga kesehatan yang terlibat
langsung dalam asuhan pelayanan pasien.
d. DPJP memberikan edukasi kepada pasien sesuai kebutuhan atau
melakukan edukasi kolaboratif dengan tenaga kesehatan lain sesuai
kebutuhan pasien

Pedoman Komunikasi Efektif Page 69


e. Jika pasien tidak mau diberitahu tentang diagnosis atau berpartisipasi
dalam keputusan tentang pelayanannya mereka diberi kesempatan dan
dapat memilih berpartisipasi melalui keluarganya, teman atau wakil yang
dapat mengambil keputusan
f. Bila dilakukan tindakan medik yang memerlukan persetujuan tindakan
kedokteran (informed consent), pasien dan keluarga belajar tentang risiko
dan komplikasi yang dapat terjadi untuk dapat memberikan persetujuan.
g. Topik informasi dan edukasi disesuaikan dengan kebutuhan pasien dan
keluarga. Topik-topik edukasi yang diberikan kepada pasien dan keluarga
meliputi:
1) mengenai hak dan tanggung jawab mereka untuk berpartisipasi
pada proses asuhan
2) Kondisi pasien, diagnosa, rencana asuhan yang akan diberikan dan
hasil yang diharapkan, termasuk komplikasi/hasil yang tidak
diharapkan/terduga, adanya penundaan pemeriksaan bila ada,
termasuk alasan penundaan pemeriksaan tersebut
3) Penggunaan obat-obatan yang didapat pasien secara efektif dan
aman (bukan hanya obat yang diresepkan untuk dibawa pulang),
4) Potensi efek samping obat;
5) Potensi interaksi obat antarobat konvensional, obat bebas, serta
suplemen atau makanan.
6) Penggunaan peralatan medis secara efektif dan aman;
7) Diet dan nutrisi;
8) Manajemen nyeri;
9) Teknik rehabilitasi;
10) Cara cuci tangan yang benar.
11) DPJP
12) Risiko jatuh
13) Cuci tangan yang benar.
14) Cara membuang sampah
h. Profesional pemberi asuhan (PPA) harus menyediakan waktu yang
adekuat dalam memberikan edukasi.

Pedoman Komunikasi Efektif Page 70


i. Lakukan verifikasi untuk memastikan bahwa pasien dan keluarga
menerima dan memahami edukasi yang diberikan sesuai dengan kondisi
pasien
j. Lakukan re-edukasi bila essensi imformasi atau edukasi yang
disampaikan belum diapahami.
k. Isi serta tandatangani formulir verifikasi pemberian edukasi dan
mintalah tandatangan pasien atau keluarga pasien sebagai bukti bahwa
sudah diberikan edukasi dan informasi yang benar.
l. Dokumentasikan /Catat dalam formulir pemberian edukasi , kemudian
simpan dalam berkas rekam medis pasien .
m. Pemberian edukasi terkait tentang tatacara/prosoder diatur dalam SPO
Pemberian Edukasi tersendiri.
n. Rumah sakit mengidentifikasi sumber-sumber yang ada di komunitas
untuk mendukung promosi kesehatan berkelanjutan dan edukasi untuk
menunjang asuhan pasien yang berkelanjutan
o. Pasien dan keluarga dirujuk agar mendapatkan edukasi dan pelatihan
yang diperlukan untuk menunjang asuhan pasien berkelanjutan, agar
mencapai hasil asuhan yang optimal setelah meninggalkan rumah sakit
p. Edukasi berkelanjutan tersebut diberikan kepada pasien yang rencana
pemulangannya kompleks

YANG PERLU DI PERHATIKAN SELAMA PROSES EDUKASI


ADALAH :
1. Perhatikan kondisi pasien.
2. Perhatikan privasi pasien.
3. Perhatikan metode yg diberikan dipahami atau tidak.
4. Respect
5. Emphaty
6. Audible (dapat dimengerti)
7. Clarity (keterbukaan/transparansi/kejelasan)
8. Humble (rendah hati)

Pedoman Komunikasi Efektif Page 71


BAB V
DOKUMEN TERKAIT

Dokumen yang terkait dengan pelaksanaan komunikasi efektif adalah sebagai berikut
:
1. Form SBAR
2. Form CPPT
3. Form edukasi terintegrasi
4. Form verifikasi
5. Form rujukan
6. Form rujuk balik
7. Form serah terima
8. Form transfer antar ruangan
9. Form jawaban rujukan
10. Form resume medis rawat jalan dan rawat inap
11. Form monitoring selama transfer
12. Form implementasi keperawatan
13. Materi edukasi,leaflet,brosur,jadwal

Pedoman Komunikasi Efektif Page 72


BAB VI

PENUTUP

Buku pedoman komunikasi efektif di Rumah Sakit Umum Daerah


Kabupaten Sumedang disusun untuk menjadi acuan dalam pelaksanaan proses
komunikasi yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang,
sehingga dapat tercipta komunikasi yang efektif dan tepat sesuai kebutuhan pasien di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sumedang.
Buku pedoman komunikasi efektif ini merupakan panduan bagi seluruh
staf rumah sakit, dan bukan buku standar yang bersifat mutlak oleh karena itu
untuk pelaksanaan dilapangan dapat dikembangkan sesuai dengan kondisi dan
kebutuhan masing – masing di rumah sakit.

DITETAPKAN DI : SUMEDANG
PADA TANGGAL : JANUARI 2018

DIREKTUR
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN SUMEDANG

HILMAN TAUFIK. W.S

Pedoman Komunikasi Efektif Page 73


Pedoman Komunikasi Efektif Page 74