Anda di halaman 1dari 46

LOCAL GENIUS CULTUR INDONESIA

Kearifan lokal (local genuine) adalah segala sesuatu yang dimiliki oleh masyarakat
lokal di daerah tertentu yang merupakan ciri keaslian dan kekhasan daerah tersebut
tanpa adanya pengaruh atau unsur campuran dari daerah lainnya. Secara umum
kearifan lokal dibedakan menjadi dua yaitu kerifan lokal yang dapat dilihat dengan
mata (tangible) seperti objek-objek budaya, warisan budaya bersejarah dan kegiatan
keagamaan; dan kearifan lokal yang tidak dapat dilihat oleh mata (intangible) yang
berupa nilai atau makna dari suatu objek atau kegiatan budaya.

Haryati Soebadio mengatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity,
identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu
menyerap dan mengolah kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri
(Ayatrohaedi, 1986:18-19). Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41)
mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai local genius karena telah
teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang.
Ciri-cirinya adalah:
1. mampu bertahan terhadap budaya luar,
2. memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
3. memunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli,
4. memunyai kemampuan mengendalikan,
5. mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

http://naninorhandayani.blogspot.co.id/2011/05/pengertian-kearifan-lokal.html

D. Zaman Heian (794 M – 1185 M)

1) Keadaan Zaman

Untuk membangun kembali pemerintahan Ritsuryō yang kacau, kaisar Kanmu


memindahkan ibukota ke Heian-kyō (sekarang Kyōto) pada tahun 794 M. Pada zaman
ini, tanah pribadi yang bebas pajak (shōen) semakin bertambah. Para petani kecil
melepaskan hak untuk membayar pajak kepada negara dan menyerahkannya kepada
bangsawan terkemuka. Kemudian bangsawan tersebut dianggap majikannya dan
petani tersebut menggarap tanah majikannya. Pajak yang seharusnya diberikan
kepada negara malah masuk ke bangsawan penguasa shōen. Akibatnya penghasilan
negara makin berkurang dan golongan bangsawan semakin makmur.

Keluarga Fujiwara yang memiliki shōen sangat banyak menjadi kaum penguasa
(kizoku) yang paling berkuasa. Kekuasaan Fujiwara pun mulai menjalar ke istana. Hal
itu terjadi setelah Fujiwara Yoshifusa diangkat menjadi Sesshō (penasehat bagi kaisar
yang belum dewasa) bagi kaisar Seiwa pada tahun 858 M. Kemudian Fujiwara
Mototsune menjadi orang pertama yang menjadi Kanpaku (penasehat bagi kaisar yang
telah dewasa). Puncaknya terjadi pada masa Fujiwara Michinaga. Pada masa itu
kebudayaan golongan aristokrasi telah mencapai kemakmurannya dan kekayaan
Fujiwara melebihi kekayaan kaisar.

Saat keluarga Fujiwara hidup mewah di ibukota, kaum militer meluaskan


kekuasaannya di daerah. Kaum militer membentuk kelompok militer dengan kaum
bangsawan yang berkuasa. Dua kekuatan militer yang paling besar adalah keluarga
Minamoto (Genji) dan keluarga Taira (Heishi). Pada pertengahan abad ke-11,
kekuatan Fujiwara yang ditaktor melemah. Tennō Shirakawa yang meskipun telah
turun tahta tapi tetap masih memerintah (Jōko) memegang kekuasaan tunggal
pemerintahan. Setelah itu terjadi pertentangan antara Jōko dengan Tennō. Masing-
masing bersekutu dengan dua kaum militer terkuat yaitu keluarga Taira dan
Minamoto.

Selama tahun 1160 M – 1199 M terjadi peperangan antara keluarga Taira melawan
keluarga Minamoto. Peperangan ini dikenal dengan peperangan Hōgen&Heiji.
Zamannya dinamakan zaman Genpei. Pada saat itu keluarga Taira (sekutu dari pihak
Tennō) yang dipimpin Kiyomori, mengalahkan keluarga Minamoto (sekutu dari pihak
Jōko) yang dipimpin Yoshitomo sehingga menggantikan kekuasaan Fujiwara. Dengan
runtuhnya keluarga Fujiwara, zaman Heian pun berakhir.

2) kebudayaan

Pada zaman Heian, kebudayaannya masih mencontoh Cina, tetapi memasuki akhir
abad ke-9 dinasti Tang mulai goyah. Karena pengaruh Cina makin berkurang, maka
muncullah kebudayaan baru khas Jepang (Kokufū bunka).

Di bidang sastra lahirlah tulisan Hiragana dan Katakana untuk menggantikan


Manyōgana (kanji yang dibaca dalam bunyi bahasa Jepang). Huruf yang lahir pertama
kali adalah Katakana. Katakana diciptakan oleh Kibinomakibi. Pada saat itu Katakana
hanya digunakan oleh laki-laki. Kemudian lahirlah Hiragana yang diciptakan oleh
Kobodaishi. Pada saat itu Hiragana hanya digunakan oleh wanita. Karya-karya sastra
yang berkembang pada zaman ini adalah Waka. Atas perintah kaisar dibuatlah
kumpulan Waka yang disebut Kokinwakashū.

Selain itu berkembang pula Nikki (catatan harian), Zuihitsu (essay), dan Monogatari
(cerita/dongeng). Yang paling terkenal saat itu adalah Genji monogatari karangan
Murasaki Shikibu yang menceritakan kehidupan di kalangan istana. Ada juga
Makuranosōshi karya Seishōnagon. Bahasa pun mengalami perkembangan. Pada
zaman ini dipakai bahasa Jepang klasik (Chūko nihongo) yang merupakan
perkembangan dari bahasa Jepang kuno (Jōdai nihongo).

Dari segi industri, kertas berkembang sangat pesat. Pabrik kertas didirikan dan teknik
membuat kertas semakin berkembang.

3) peninggalan

Ruang Phoenix (Hōdō) yang terdapat di kuil Byōdōin yang didirikan oleh Fujiwara
Yorimichi di Kyōto adalah bangunan yang paling terkenal pada zaman ini. Cara
membangunnya merupakan cara membangun tempat tinggal penguasa pada saat itu
yang disebut Shinden zukuri. Bangunan terkenal lainnya adalah istana Heian. Istana
ini dibangun meniru gaya di Chang’an. Tapi tahun 1227 M istana ini habis terbakar.

http://sejarahsemesta.blogspot.co.id/2012/07/sejarah-jepang.html

100 tahun awal zaman Heian, mulai berkembang pesat kebudayaan nasional yang
bercirikan “local genius” dan dihentikannya pengiriman misi-misi rahib ke China.

https://serendipinityofnightlocked.wordpress.com/2014/09/28/pembentukan-jepang-
zaman-pra-sejarah-zaman-monarkhi-zaman-feudalisme/

1. Garis Besar Kesusastraan Zaman Heian

Latar Belakang Sejarah


Kaisar Kanmu berusaha menciptakan suasana baru bagi penduduk, pada akhir abad VIII ia
memindahkan ibukota Jepang ke Kyoto, di sana ia membuat istana ibukota Heian yang maha
besar dengan meniru ibukota Chang An dari dinasti Tang di Cina. Setelah itu selama kurang
lebih 400 tahun lamanya Kyoto menjadi pusat kegiatan politik dan kebudayaan di Jepang dan
masa itu disebut zaman Heian. Keluarga Fujiwara yang telah mendapat kedudukan tinggi di
pemerintahan sejak Fujiwara Kamatari, setelah pemindahan ibukota pengaruhnya makin
bertambah besar dan luas, sehingga mulai abad IX dan seterusnya kedudukan-kedudukan
penting di pemerintahan hampir seluruhnya dimonopoli oleh keluarganya. Dengan demikian,
terbentuk keadaan politik yang khas, yakni kedaulatan kaisar ditunjang oleh kekuasaan
keluarga Fujiwara dan dalam sejarah politik Jepang keadaan politik yang khas seperti ini
disebut ‘Sekkan Seiji’.

Pada awal zaman Heian, hubungan dengan dinasti Tang masih ada dan pengiriman
mahasiswa utusan ke Tang juga masih dilakukan, tetapi setelah itu, pengiriman utusan ke
Tang dihapus sehingga kebudayaan khas Jepang mulai dapat berkembang. Dengan demikian,
kreasi seni khas Jepang pada bangunan, pakaian, dan sebagainya juga mulai timbul.
Khususnya penciptaan tulisan Kana membawa kemajuan di bidang kesusastraan sehingga
kesusastraan zaman Heian menjadi berkembang dan mencapai puncaknya pada zaman kaisar
Ichijoo. Hal ini dapat kita lihat dengan terciptakanya karya sastra Genji
Monogatari dan Makurano Sooshi.

Pengarang dan Pembaca Kesusastraan

Kebanyakan orang pada waktu itu hanya mengenal dan menikmati kesenian rakyat yang
sederhana dan lagu-lagu rakyat yang menjadi kegemaran umum atau sebangsanya. Orang-
orang yang berkecimpung dalam bidang kesusastraan baik sebagai pengarang maupun
sebagai pembaca hanya terbatas pada orang-orang dalam lingkungan masyarakat bangsawan.
Pengarang puisi adalah anggota keluarga kaisar atau keluarga bangsawan, sedangkan penulis
catatan harian, kisah perjalanan, essei, ceritera dan sebagainya kendatipun bukan orang-orang
anggota keluarga bangsawan, tetapi sebagian besar adalah pengikut-pengikut bangsawan
yang hidupnya dan perlindungannya dijamin oleh bangsawan tersebut. Pembaca kesusastraan
pada zaman itu pun adalah kaum bangsawan dan para selir di istana atau orang-orang yang
mempunyai hubungan erat dengan pihak istana atau bangsawan seperti pesuruh istana,
sarjana, penyanyi, pendeta dan sebagainya sehingga kesusastraan zaman itu disebut pula
sebagai kesusastraan bangsawan.

Latar Belakang Falsafah Pemikiran

Ajaran-ajaran agama Budha mempunyai pengaruh besar sekali pada kesusastraan zaman
Heian. Sekte Joodoo agama Budha yang populer pada waktu itu mengajar orang-orang agar
meninggalkan kehidupan duniawi dan mengejar kehidupan kedua di surga. Untuk mencapai
ini para penganutnya diajar membaca sutera secara sungguh-sungguh. Pemikiran ini telah
merembas masuk secara mendalam ke dalam tubuh kehidupan seni pada waktu itu. Selain itu,
pemikiran tentang adanya hukum karma dan reinkarnasi memberi pengaruh yang aneh
kepada kesusastraan, kepercayaan meramal dengan dasar segala hal-ikhwal di dunia selalu
berada dalam pasangan yang saling bertentangan (positif dan negatif) menyebabkan
berkembangnya tata cara meminta doa dan melahirkan kebiasaan tentang pantangan (tabu)
serta meramal hal-hal yang buruk yang mungkin timbul dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran-pemikiran ini saling mempengaruhi satu sama lainnya dan hal ini juga dirasakan
pada kesusastraan sehingga kesusastraan pada zaman itu menjadi bertambah unik.

Pembagian Zaman dan Jenis Kesusastraan

Kesusastraan zaman Heian dapat dibagi menjadi empat kelompok zaman. Pertamaialah
zaman populernya syair kanbun sebagai akibat dari pengaruh yang diterima dari dinasti
Tang. Kedua ialah zaman kebangkitan kembali pantun Waka. Ketiga ialah zaman populernya
kesusastraan cerita, catatan harian dan essei. Keempat ialah zaman banyak dikarang dan
disusunnya cerita sejarah dan kesusastraan Setsuwa.
https://daftarbuku.blogspot.co.id/2016/04/kesusastraan-zaman-heian.html

Periode akhir sejarah klasik Jepang berlangsung dari 794 hingga 1185 yang disebut zaman
Heian. Puncak kejayaan istana kekaisaran di bidang puisi dan sastra terjadi pada zaman Heian.
Pada awal abad ke-11, Murasaki Shikibu menulis novel Hikayat Genji yang hingga kini
merupakan salah satu dari novel tertua di dunia. Pada zaman Heian selesai disusun naskah
tertua koleksi puisi Jepang, Man'yōshū danKokin Wakashū.

Pada zaman Heian berkembang berbagai macam kebudayaan lokal, misalnya aksara
kana yang asli Jepang. Pengaruh budaya Cina surut setelah sampai di puncak keemasan.
Pengiriman terakhir utusan Jepang ke Dinasti Tang berlangsung pada tahun 838 sejalan
dengan kemunduran Dinasti Tang. Walaupun demikian, Cina dalam terus berlanjut sebagai
negara tujuan ekspedisi dagang dan rombongan peziarah agama Buddha.[15]

Kekuasaan politik istana kekaisaran berada di tangan segelintir keluarga bangsawan yang
disebut kuge, khususnya klan Fujiwara yang berkuasa dengan gelar Sesshō and Kampaku.

Pada akhir zaman Heian bermunculan berbagai klan samurai. Empat klan samurai yang
paling kuat adalah klan Minamoto, klan Taira, klan Fujiwara, dan klan Tachibana. Memasuki
akhir abad ke-12, konflik antarklan berubah menjadi berbagai perang saudara
seperti Pemberontakan Hōgen dan Pemberontakan Heiji. Setelah berakhirnya Perang Genpei,
Jepang berada di bawah pemerintahan militer oleh klan-klan samurai di bawah pimpinan
seorang shogun.

https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Jepang

Zaman Heian (平安時代 Heian jidai?) (794 - sekitar 1185) adalah salah satu zaman dalam

pembagian periode sejarah Jepang yang berlangsung selama 390 tahun, dimulai dari
tahun 794 ketika Kaisar Kanmu memindahkan ibu kota ke Heian-kyō hingga dibentuknya
pemerintah Keshogunan Kamakura sekitar tahun 1185.[1] Periode ini ditandai dengan puncak
kemajuan pengaruh Tiongkok, Taoisme, dan Buddhisme di Jepang. Zaman Heian juga
dianggap sebagai zaman keemasan istana kekaisaran dan seni di istana,
khususnya puisi dan sastra. Meskipun secara formal kekuasaan berada di tangan kaisar,
kekuasaan pemerintahan berada di tangan klan Fujiwara, sebuah klan bangsawan yang
memiliki hubungan perkawinan dengan keluarga kekaisaran. Ibu dari sejumlah besar kaisar
Jepang berasal dari klan Fujiwara.[2] Dalam bahasa Jepang, Heian (平安?) berarti kedamaian

dan ketenangan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Heian

JAMAN HEIAN ( 平安時代 )

Klan Fujiwara

Fujiwara (藤原 ?) adalah nama keluarga di Jepang. Di zaman kuno hingga abad pertengahan,

Fujiwara menunjukkan gelar kebangsawanan. Di zaman Heian, klan Fujiwara merupakan


klan bangsawan, tapi sejak zaman Kamakura menjadi nama keluarga yang digunakan
bersama oleh lima percabangan keluarga Fujiwara: Konoe, Takatsukasa, Kujō, Nijō, dan
Ichijō. Kelima keluarga tersebut tidak menggunakan nama Fujiwara, kecuali untuk penulisan
di dalam dokumen resmi.

ASAL-USUL

Berkat jasanya dalam Reformasi Taika, Nakatomi no Kamatari mendapat nama keluarga
Fujiwara no Ason dari Kaisar Tenchi. Fujiwara no Ason berarti Fujiwara bergelar Ason
(salah satu gelar dalam sistem Yakusa no Kabane). Pada waktu itu, klan Fujiwara merupakan
salah satu dari 4 klan ternama: Minamoto, Taira, Fujiwara, dan Tachibana. Sebutan lain
untuk klan Fujiwara adalah Tōshi, karena aksara kanji untuk “Fuji” juga dibaca sebagai Tō,
sedangkan shi berarti klan.

Nama keluarga Fujiwara diterima Nakatomi no Kamatari sesaat sebelum meninggal. Setelah
Kamatari meninggal, seorang anggota klan Nakatomi yang menjabat Udaijin, Nakatomi no
Kane bersalah memimpin Perang Jinshindan dihukum mati. Keluarga Nakatomi dari garis
keturunan Kamatari sempat terancam binasa walaupun tidak terlibat pemberontakan. Setelah
itu, di masa pemerintahan Kaisar Temmu, keturunan Kamatari menerima nama keluarga
Fujiwara bergelar Ason. Saat itu, putra kedua Kamatari yang bernama Fuhito masih terlalu
muda, dan sementara menunggu Fuhito menjadi dewasa, Nakatomi no Omimaro (sepupu
Kamatari yang menjadi suami dari putri Kamatari) secara resmi memakai nama Fujiwara no
Ason. Setelah dewasa, Fujiwara no Fuhito tumbuh menjadi pemimpin yang cerdas. Selain
putra pewaris Kamatari (Fujiwara no Fuhito), keluarga Nakatomi yang sempat menyandang
nama Fujiwara harus kembali menggunakan nama keluarga Nakatomi. Keputusan ini diambil
untuk mengukuhkan klan Fujiwara sebagai pejabat Daijō-kan dan klan Nakatomi sebagai
pejabat dalam Kementerian Jingi-kan. Putri Fujiwara no Fuhito yang bernama Kōmyōshi
disebut Permaisuri Kōmyōshi setelah menikah dengan Kaisar Shōmu.

EMPAT KELUARGA FUJIWARA

Setelah Fujiwara no Fuhito meninggal, Pangeran Obito yang naik tahta sebagai Kaisar
Shōmu. Di masa pemerintahan Kaisar Shōmu terjadi pertentangan politik antara keempat
putra Fujiwara no Fuhito yang disebut Empat bersaudara Fujiwara dan politikus
bernama Nagaya no Ōkimi. Pada tahun 729, Nagaya no Ōkimi dituduh memberontak dan
bunuh diri. Setelah itu, empat bersaudara Fujiwara membentuk Empat keluarga
Fujiwara yang terdiri dari:

· Keluarga Fujiwara Selatan (Fujiwara Nanke)

 Keluarga Fujiwara Utara (Fujiwara Hokke)

 Keluarga Fujiwara Shiki (Fujiwara Shikike)

 Keluarga Fujiwara Kyō (Fujiwara Kyōke).

Ketika terjadi wabah cacar di tahun 737, keempat Fujiwara bersaudara ikut terjangkit cacar
dan meninggal. Tachibana no Moroe, biksu Genbō, dan Kibi no Makibi menyusun rencana
untuk menjatuhkan klan Fujiwara, namun digagalkan Fujiwara no Nakamaro. Kegagalan
serupa juga dialami Tachibana no Naramaro yang bermaksud merebut kedudukan Fujiwara
no Nakamaro.

Selanjutnya, empat keluarga Fujiwara sempat mengalami jatuh bangun dan hanya keluarga
Fujiwara Utara saja yang terus berjaya sejak pertengahan zaman Heian. Putra Fujiwara no
Fuyutsugu yang bernama Fujiwara no Yoshifusa memiliki hubungan darah dengan Kaisar
Seiwa, dan diangkat sebagai pejabat Sessho. Selanjutnya keluarga Fujiwara secara turun
temurun diangkat menjadi pejabat Sessho dan Kampaku.

Pada tahun 794, Kanmu Tenno ( Kaisar Kanmu ) memindahkan ibukota ke Kyoto untuk
membangun kembali pemerintahan Ritsuyo. Ibukota baru ini diberi nama Heiankyo dengan
harapan agar dunia yang damai dapat berlangsung terus. Masa sejak pemberian nama hingga
400 tahun sesudahnya disebut Heian Jidai ( jaman Heian ). Istana pemerintahan ada di Kyoto
selama kira-kira 1100 tahun, yaitu sejak saat itu sampai berakhirnya Edo Jidai ( jaman Edo ).

Pada jaman Heian ini tanah pribadi ( shoen ) semakin bertambah. Terutama Fujiwara
shi ( keluarga Fujiwara )yang mendapatkan posisi yang menguntungkan berkat pembaharuan
Taika, memiliki tanah pribadi ( shoen ) yang sangat banyak, dan menjadi kaum penguasa
( kizoku ) yang paling berkuasa. Fujiwara shi menikahkan putrinya dengan Tenno ( kaisar ),
menjadikan putra mahkota dari pernikahan tersebut sebagai kaisar, dan menjadikan dirinya
sendiri sebagai Sessho ( patih ) pada saat putra mahkota ( oji ) masih kecil, kemudian
menjalankan pemerintahan sebagai Kanpaku ( mangkubumi ) pada saat sang putra mahkota
telah dewasa, sistem pemerintahan ini disebut Sesho Kanpaku. Fujiwara shi ( keluarga
Fujiwara ) mengalami masa kejayaan apada awal abad-11, pada saat ayah dan anak
( Michinaga dan Yorimichi ) berkuasa. Ruang Phoenix ( Hoodo ) yang terdapat di
kuil Byodin yang didirikan Yorimichi di daerah Uji (Kyoto) adalah bangunan yang paling
terkenal dari jaman Heian, dan cara membangunnya merupakan cara membangun tempat
tinggal kaum penguasa pada saat itu, disebut Shinden Zukuri.

Memasuki jaman Heian, kaum bangsawan menikmati kebudayaan ala Cina (Tofu), tetapi
memasuki akhir abad ke-9, karena dinasti Tang mulai goyah, atas usul dari Sugawara no
Michinaze, pengiriman utusan resmi ke Cina pun dihentikan. Karena pengaruh dari daratan
Cina semakin berkurang, maka munculah kebudayaan baru khas Jepang Kokufubungaku.
Kediaman kaum penguasa adalah bangunan yang disebut Shinden Zukuri, sedangkan
pakaiannya, pada kesempatan resmi, pakaian formal untuk kaum pria terdiri dari baju dan
penutup kepala (ikan, sokutai), dan untuk kaum wanita memakai pakaian yang
disebut Jyunihitoe (kimono berlapis 12 ). Waka menjadi populer, dan atas perintah Tenno
yang disebut Chokusen dibuatlah kumpulan puisi yang disebut Kokinwakashu. Periode Heian
juga dianggap puncak istana kekaisaran Jepang dan terkenal karena seni, khususnya puisi dan

sastra. Dalam bahasa Jepang Heian (平安) berarti “perdamaian, keamanan”.

LATAR BELAKANG

Berbeda dengan bahasa Jepang Kuno yang hanya menggunakan aksara Tionghoa, bahasa
Jepang Klasik mengenal cara penulisan bahasa Jepang dengan aksara hiragana dan katakana.
Perkembangan ini mempermudah penulisan bahasa Jepang, dan akhirnya melahirkan
berbagai literatur klasik, seperti: Putri Kaguya, Hikayat Genji, dan Hikayat Ise.
Huruf Kana

Kira-kira sejak pertengahan abad ke-9, sebagai ganti Manyogana dipakailah Hiragana dan
Katakana. Katakana adalah simbol yang menunjukkan suara yang diambil dari satu bagian
huruf kanji, dan dipakai oleh kaum intelektual dan kaum pendeta. Hiragana, diambil dari
huruf kanji yang wujud hurufnya tidak patah-patah (soshotai), dan dipakai oleh kaum wanita.
Pada saat itu kaum pria masih menggunakan kanbun untuk menulis bunsho (karangan),
dokumen-dokumen resmipunmasih berupa kanbun, tetapi karena kaum wanita sudah
menggunakan Hiragana, maka telah dapat menunjukkan dengan perasaan serta pikiran-
pikiran mereka sendiri secara bebas dalam bahasa Jepang. Kemudian tidak hanya waka,
mereka banyak menulis karya-karya lain seperti nikki (catatan
harian), zuihitsu (essei), monogatai (cerita), dan lain-lain. Diantaranya yang paling terkenal
adalah novel panjang yang berjudul Genji Monogatari karya Murasaki Shikibu dan Makura
no Soshi karya Seishonagon. Ginji Monogatari memfokuskan pada cerita tentang pertemuan
tokohnya yang bernama Hikaru Genji dengan berbagai wanita, dan merupakan novel tentang
kehidupan masyarakat Kizoku (kaum penguasa). Di dalam novel ini tertulis perasaan manusia
secara rinci dan penggambaran alam dengan apa adanya

Bahasa Jepang Klasik (中古日本語 ,Chūko nihongo?, bahasa Jepang pertengahan) adalah

bentuk bahasa Jepang yang dipakai sepanjang zaman Heian (794 and 1185), dan merupakan
perkembangan lebih lanjut dari bahasa Jepang Kuno (Jōdai nihongo).

Agama

Agama pada permulaan jaman Heian, Pendeta Saicho (juga disebut Denkyo Daishi) dan
Kukai (disebut juga Bodaishi) menyeberang ke Cina dan kembali ke Jepang setelah
mempelajari agama Budha. Kemudian mengkritik agama Budha yang sampai saat itu
berkaitan erat dengan pemerintahan. Mereka mendirikan kuil di atas gunung yang letaknya
jauh dan terpisah dari ibukota, dan menciptakan aliran Tendai (oleh Saicho, di gunung Hiei)
dan aliran Shingon (oleh Kukai, di gunung Koya). Budha yang baru ini meluas diantara istana
dan kaum bangsawan.

Pada pertengahan abad ke-10 agama Sho (Shodokyu) meluas di kalangan kaum bangsawan
dan rakyat biasa. Ajaran ini mengajarkan bahwa siapapun yang meminta kepada Budha
Amitaba untuk menyelamatkan jiwanya, dapat pergi ke nirwana setelah ia mati. Kepercayaan
pada Shodokyu banyak diminati oleh orang-orang yang gelisah karena meluasnya pemikiran
tentang akhir jaman pada masa itu.

Mulculnya Keluarga Militer

Pada saat keluarga Fujiwara hidup mewah dan bersenang-senang di ibukota, kaum militer
meluaskan kekuasaannya di daerah. Yang dimaksud kaum militer adalah orang-orang yang
mulai memiliki kekuatan militer untuk melindungi tanah subur yang dimilikinya sendiri di
daerah. Kaum militer membentuk kelompok militer dengan berpusat pada kaum bangsawan
yang berkuasa, diantaranya yang memiliki kekuatan yang besar, contohnya keluarga Genji
(keluarga Minamoto) dan keluarga Heishi (keluarga Taira).

Melewati pertengahan abad ke-11, kekuatan keluarga Fujiwara yang diktator melemah.
Kaisar Shirakawa walaupun telah turun takhta, namun masih tetap memerintah
sebagai Shoko (Kaisar yang memerintah) dan meneruskan pemerintahan dari istana yang
disebut In, sehingga pemerintahannya disebut sebagi pemerintahan Insei. Karena ia
memegang hegemoni politik (kekuasaan tunggal pemerintahan) maka Sessho, Kanpaku dan
Tenno-pun keberadaannya hanya tinggal nama belaka.

Kira-kira pada pertengahan abad ke-12, terjadi pertentangan antara Shoko (Insei)
dan Tenno (Kaisar). Pertentangan itu kemudian merambat menjadi pertentangan di keluarga
besar Fujiwara. Masing-masing pihak-pihak bersekutu dengan kelompok militer terkuat,
yaitu keluarga Genji dan keluarga Heishi yang kemudian berperang di ibukota. Peperanga ini
disebut peperangan Hogen dan Heiji. Mulai saat itulah kelompok militer mulai bergerak
menuju ke pusat.

Taira no Kimoyori memegang hegemoni politik setelah mengalahkan pihak Shoko dan
keluarga Genji dalam peperangan Hogen dan Heiji, dan menggantikan keluarga Fujiwara dan
Shoko. Kiyomori pada tahun 1167 menjadi Dashodaijin (penguasa utama), dan karena itulah
seluruh keluaraga besarnyapun mencapai posisi tinggi di pemerintahan. Kemudian ia
memperbaiki pelabuhan Hyogo ( Kobe ) dan melakukan perdagangan dengan Cina (dinasti
Sung) serta mendapatkan keuntungan yang besar. Selain itu keluarga Heishi menjadikan
banyak tanah sebagai miliknya, hingga begitu besar kekuatan yang dimilikinya sampai-
sampai dikatakan bahwa kalua seseorang tidak termasuk keluarga Heishi, maka ia bukanlah
manusia.
Kaisar Goshirakawa yang merasa tidak puas dengan cara-cara Heishi memanggil keluarga
Genji yang setelah dikalahkandalam perang Hogen dan Heiji (oleh keluarga Heishi)
melarikan diri ke daerah (tahun 1180) dan membuat mereka memulai pertempuran dengan
keluarga Heishi.

Minamoto Yoritomo, Minamoto Yoshitsune (adiknya) beserta Kisoyoshinaka (sepupunya)


dan kawan-kawan menyerang keluarga Heishi dimana-mana diseluruh negeri. Pada tahun
1185 seluruh keluarga besar Heishi dikalahkan olah tentara Yoshitsune di Dan no Ura
(Shimonoseki-Shi, Yamaguchi-Ken) hingga seluruhnya binasa. Pertempuran ini disebut Dan
no Ura no tatakai (pertempuran Dan no Ura).

Istana Heian

Rekonstruksi bangunan Daigokuden Istana Heian di Heian Jingū, Kyoto.

SEJARAH

ISTANA HEIAN ADALAH KOMPLEKS BANGUNAN TERPENTING DAN


PERTAMA DIBANGUN DI IBU KOTA HEIAN-KYŌ. ISTANA HEIAN BELUM
SEPENUHNYA SELESAI KETIKA ISTANA DIPINDAHKAN KE HEIAN-KYŌ
PADA TAHUN 794 BERDASARKAN PERINTAH KAISAR KAMMU.
DAIGOKUDEN SELESAI TAHUN BERIKUTNYA (795), DAN KANTOR
PEMERINTAH YANG MENANGANI PEMBANGUNAN DIBUBARKAN PADA
TAHUN 805.[13]

Walaupun sudah dibangun dengan megah memakai arsitektur Cina, kompleks Chōdō-in dan
Buraku-in secara bertahap tidak lagi dipakai. Penyebab utama adalah ditinggalkannya secara
bertahap proses administrasi dan birokrasi Ritsuryō. Pusat kesibukan kompleks istana pindah
ke Istana Dalam (Dairi) dan Shishinden. Di kemudian hari, Seiryōden bahkan mengambil alih
peran Daigokuden sebagai pusat kesibukan urusan pemerintahan.

Sejalan dengan pindahnya pusat kesibukan di Dairi, bagian luar kompleks istana menjadi
makin tidak aman, terutama pada malam hari. Salah satu alasan penyebab adalah kepercayaan
takhyul yang kuat dalam masyarakat waktu itu. Gedung kosong dijauhi karena takut dengan
arwah dan hantu. Kompleks Buraku-in bahkan dipercaya sebagai berhantu. Selain itu, usaha
pengamanan istana makin berkurang. Pada awal abad ke-11 kemungkinan hanya ada satu
pintu gerbang yang dijaga, yaitu pintu gerbang timur Yōmeimon. Oleh karena itu, kasus
pencurian dan tindak kejahatan dengan kekerasan di dalam istana menjadi masalah pada
paruh pertama abad ke-11.[14]

Kemungkinan kebakaran terus menghantui kompleks istana yang seluruhnya dibangun dari
kayu. Walaupun gedung Daigokuden jarang digunakan, gedung ini dibangun kembali setelah
terbakar pada tahun 876, 1068, dan 1156. Setelah kebakaran besar 1177 yang menghancurkan
sebagian besar kompleks Istana Heian, Daigokuden tidak pernah dibangun kembali. Burakuin
habis terbakar pada tahun 1063 dan tidak pernah dibangun kembali.[10]

Istana Heian atau Daidairi (大内裏 ?) adalah istana kekaisaran di ibu kota Jepang Heian-

kyō (Kyoto) dari 794 hingga 1227. Istana berada di ujung utara kota, dan dibangun meniru
perencanaan kota Chang’an pada zaman Dinasti Tang dan Dinasti Sui. Istana ini berfungsi
sebagai tempat kediaman resmi kaisar dan pusat administrasi Jepang selama zaman
Heian (794-1185).

Istana berada di kawasan tertutup yang dikelilingi tembok. Di dalamnya terdapat beberapa
gedung upacara dan administrasi, termasuk kantor-kantor kementerian. Istana Dalam yang

disebut Dairi (内裏 ?) dikelilingi tembok terpisah, dan merupakan kompleks kediaman Kaisar

Jepang Selain tempat tinggal kaisar, Dairi merupakan tempat kediaman istri-istri kaisar serta
gedung-gedung yang dipakai kaisar dalam melaksanakan tugas resmi dan seremonial.

Tujuan utama dibangunnya istana ini untuk mewujudkan model sentralisasi pemerintahan
yang diadopsi dari Cina pada abad ke-7, dengan Daijō-kanberikut Delapan Kementerian di
bawahnya. Istana dirancang sebagai tempat yang pantas untuk kediaman kaisar, sekaligus
bangunan kantor untuk menjalankan urusan pemerintahan dan acara seremonial lainnya.
Istana Dalam (Dairi) terus digunakan sebagai kediaman kaisar hingga abad ke-12, namun
bangunan-bangunan lain yang dibuat untuk upacara agung sudah tidak dipakai lagi sejak abad
ke-9. Hal ini disebabkan tidak berlakunya lagi beberapa prosedur upacara yang diatur oleh
undang-undang, dan pengalihan beberapa upacara sisanya ke gedung yang lebih kecil
di Dairi.

Sejak pertengahan zaman Heian, istana mengalami beberapa kali kebakarandan musibah lain.
Semasa pembangunan kembali, kaisar dan sejumlah tugas kementerian dipindahkan ke luar
istana. Seringnya terjadi kebakaran dan makin hilangnya kekuasaan politik dari tangan kaisar
menyebabkan Istana Heian tidak lagi dijadikan pusat administrasi pemerintahan. Pada
akhirnya istana terbakar habis pada tahun 1227, dan tidak pernah dibangun kembali. Di atas
tanah bekas istana didirikan berbagai bangunan sehingga hampir tidak ada sisa-sisa bangunan
yang tertinggal. Pengetahuan tentang Istana Heian hanya berdasarkan sumber-sumber
kontemporer, bagan dan lukisan kuno, serta ekskavasi arkeologis yang dilakukan secara
terbatas sejak akhir 1970-an.

LOKASI

Peta skematis kota Heian-kyō yang menunjukkan lokasi istana dan Istana Sementara
Tsuchimikado yang kemudian dibangun menjadi Istana Kekaisaran Kyoto (dalam peta:
persegi panjang abu-abu di timur laut Daidairi).

Istana dibangun meniru model ibu kota Cina (khususnya ibu kota Dinasti Tang di Chang’an)
yang juga ditiru sewaktu membangun dua ibu kota sebelumnya di Heijō-kyō (sekarang
disebut Nara) dan Nagaoka-kyō. Istana berada di ujung utara kota, persis di bagian tengah,
dengan bagian depan istana menghadap ke selatan. Sudut tenggara Istana Heian berada di
tengah-tengah bangunan yang sekarang disebut Istana Nijō. Pintu gerbang utama istana
disebut Suzakumon berada di ujung utara Jalan Raya Suzaku yang membelah kota menjadi
dua bagian, timur dan barat, mulai dari pintu masuk kota yang disebut Rashōmon. Selain
Suzakumon yang merupakan pintu gerbang utama, Istana Heian memiliki 13 pintu gerbang

lain yang berada di ujung ruas-ruas jalan utama (大路 ,ōji?) di sekeliling istana, kecuali 3 ruas

jalan di sudut utara istana yang sekaligus merupakan batas utara kota.

KOMPLEKS ISTANA (DAIDAIRI)

Istana Heian (Daidairi) menempati tanah berbentuk persegi panjang yang dikelilingi tembok.
Panjang tanah dari utara ke selatan sekitar 1,4 km. Batas utara dan selatan berupa jalan raya

yang melintang dari timur ke barat: batas utara adalah Ichijō ōji (一条大路 ?, Jalan Raya

Ichijō) dan batas selatan adalah Nijō ōji (二条大路 ?, Jalan Raya Nijō). Lebar tanah dari barat

ke timur sekitar 1,2 km, antara Nishi Ōmiya ōji (西大宮大路 ?) dan Ōmiya ōji (大宮大路 ?)

yang membujur dari utara ke selatan.[1] Tiga bangunan utama di dalam kompleks Istana
Heian adalah kompleks bangunan resmi Chōdō-in ( 朝 堂 院 ?), kompleks bangunan

resepsi Buraku-in (豊楽院 ?), dan Istana Dalam (内裏 ,Dairi?).

Zaman Heian

Pada zaman Heian, bahan-bahan untuk pembuatan kertas dicatat dalam


buku Engishiki (protokol istana era Engi). Literatur klasik Genji Monogatarimembanggakan
teknik pembuatan kertas di Jepang yang dikatakan sudah menghasilkan kertas berkualitas
lebih baik daripada kertas dari Dinasti Tang.

Pendirian pabrik kertas

Setelah ibu kota pindah ke Heian-kyō (805-809), pusat pembuatan kertas di Provinsi
Yamashiro ditutup, dan digantikan pabrik kertas yang disebut kamiya-in atau kanya-in.
Pabrik kertas masa itu sudah menggunakan teknik lokal pembuatan kertas yang disebut
nagashizuki.

Teknik nagashizuki

Pada teknik nagashizuki, tikar penapis digerakkan dengan gerakan ke atas, ke bawah dan ke
samping agar larutan bubur kayu menempel pada tikar penapis dan larutan bubur kayu yang
berlebih kembali ke dalam air. Lapisan bubur kayu yang menempel di atas tikar penapis
inilah yang kemudian dikeringkan menjadi kertas.

Teknik nagashizuki Jepang berbeda dengan teknik nagashizuki dari Cina dan Korea dalam
cara menggerakkan tikar penapis dan penambahan bahan perekat ke dalam larutan bubur
kayu. Di Cina dan Korea, tikar penapis digerakkan ke depan dan ke belakang sampai
ketebalan kertas yang diinginkan tercapai. Kertas yang lebih tipis dapat dihasilkan tanpa
bahan perekat. Di Jepang, bahan perekat dari getah digunakan untuk mengikat serat agar
lapisan serat menempel pada tikar penapis sewaktu sewaktu tikar digerakkan ke atas, ke
bawah dan ke samping. Penggunaan bahan baku berupa perdu Diplomorpha
sikokiana (ganpi) yang mengandung bahan perekat juga membuat larutan bubur kayu
menjadi lengket.

Kertas karakami produksi Jepang


Pada zaman Heian, pemisah ruangan masih menggunakan kain tenun dari sutra dan kertas
impor dari Cina (karakami). Kertas impor dari Cina memiliki motif yang dibuat dengan cara
mencampur mika pada kertas. Sejalan dengan kemajuan teknik pembuatan kertas,
kertas karakami juga bisa diproduksi di Jepang.

Karakami adalah kertas ganpi atau kertas torinoko yang dilapisi dengan campuran bubuk
kulit kerang dan gelatin. Jenis kertas ini memiliki motif yang terlihat seperti segi enam dan
motif gaya Arab. Motif pada kertas dibuat dengan cetakan blok kayu dan bubuk Mika.
Penggunaan shōji) sebagai pembatas ruangan menjadi populer pada zaman Muromachi. Oleh
karena itu, kertas karakami juga disebut kertas fusuma (kertas pintu dorong).

Kebudayaan kertas zaman Heian

Pada zaman Heian, washi dapat diproduksi dalam jumlah besar berkat pendirian pabrik-
pabrik kertas dan teknik Nagashizuki. Pada masa itu, washi juga diproduksi di 44 provinsi
selain produksi pabrik yang disebut kamiya-in. Istana kaisar mulai menggunakan washi
dalam jumlah banyak dan pemakaian papan kayu bertulis (mokkan) mulai ditinggalkan.

Danshi

Pria bangsawan zaman Heian menulis aksara kanji di atas kertas kokushi, sedangkan wanita
menulis aksara hiragana di atas kertas danshi. Pada zaman Heian, kertas danshi tidak lagi
dibuat dari pohon suku Celastraceae (nishiki) melainkan dari pohon murbei kertas. Penjelasan
mengenai kertas danshi terdapat dalam literatur Genji Monogatari dan Makura no Sōshi.

Hishi (ganpishi)

Kertas diproduksi dengan tiga macam ketebalan (tipis, sedang dan tebal). Menurut literatur
klasik Utsubo Monogatari dan Makura no sōshi, laki-laki pada zaman Heian menyenangi
kertas hishi yang tebal untuk dipakai sebagai kaishi (kertas alas makan kue), sedangkan
wanita lebih menyenangi kertas tipis.

Kaishi

Pada umumnya, bangsawan Jepang menyisipkan kertas kaishi di bawah lengan kimono.
Kaishi adalah kertas berfungsinya sebagai sapu tangan, lap cangkir (sakazuki) sewaktu
minum sake, alas makan kue, atau kertas untuk menulis kalau tiba-tiba perlu menulis waka.
Menurut kebiasaan penggunaan Kaishi pada zaman Heian, laki-laki menggunakan kertas
jenis danshi dan wanita menggunakan kertas jenis hishi.

Akhir zaman Heian

Washi sudah diproduksi besar-besaran tetapi tetap merupakan barang langka. Kertas bahkan
digunakan sebagai barang hadiah. Pada masa ini kertas mulai didaur ulang. Kertas baru hasil
daur ulang yang agak kehitaman disebut sebagai kertas usuguroshi.

Kertas usugiroshi

Pada tahun 880 setelah Fujiwara no Tamiko wafat, surat-surat dari Kaisar
Seiwa dikumpulkan untuk didaur ulang. Kertas hasil daur ulang dipakai untuk
menyalin Lotus Sutra yang dimaksudkan untuk mendoakan arwah kaisar. Pada waktu itu
orang Jepang belum mengenal cara menghilangkan tinta dari kertas daur ulang. Kertas hasil
daur ulang masih berwarna kehitaman.

Penutupan pabrik kertas pemerintah

Setelah para tuan tanah di berbagai daerah di Jepang mulai memproduksi kertas sendiri,
pabrik kertas pemerintah menjadi kekurangan bahan baku. Pabrik kertas pemerintah yang
sebelumnya hanya memproduksi kertas berkualitas tinggi akhirnya hanya bisa memproduksi
kertas daur ulang dari kertas bekas dan sampah kertas. Kertas hasil daur ulang produksi
pabrik pemerintah disebut kertas shukushi, dan akhrinya kertas kehilangan status sebagai
barang mahal. Pabrik-pabrik kertas milik pemerintah akhirnya semua ditutup pada zaman
Istana Utara dan Selatan.

http://konnakotoiina.blogspot.co.id/2010/12/jaman-heian.html

PERIODE HEIAN: 794 - 1185

Periode Heian ini dinamai ibu kota Heian-kyo, Kyoto hari ini, didirikan pada 794 di bawah
kekuasaan Kaisar Kammu. Periode ini dianggap salah satu poin tinggi dalam sejarah Jepang,
mungkin hanya bisa disamai oleh zaman Tokugawa nanti. Ini adalah waktu yang dikenal bagi
perdamaian dan keamanan belum pernah terjadi sebelumnya di Jepang serta munculnya kelas
samurai. Hal ini juga selama periode ini bahwa Emishi, diyakini sebagai keturunan langsung
dari Jomon, ditaklukkan dalam 801 oleh komandan militer Taishogun Seii bawah kekuasaan
Kaisar Kammu.

Puisi dan Sastra


Ada minat yang besar dalam puisi dan sastra selama Heian yang dibuktikan dengan puisi di
atas. Sistem tulisan Jepang mulai memasukkan huruf fonetik sendiri. Hiragana dan katakana
menggantikan penggunaan karakter Cina untuk mewakili beberapa kata yang diucapkan yang
tidak ada kanji, karakter Cina, ada. Perempuan dari keluarga aristokrat mulai menggunakan
sistem tulisan baru, karena mereka tidak terlatih dalam bahasa Cina seperti rekan-rekan pria
mereka. Akibatnya banyak literatur yang ditulis dalam bahasa Cina oleh para penulis laki-laki
dari Heian telah dilupakan, sementara tulisan-tulisan para perempuan seharusnya kurang
berpendidikan, yang hanya bisa menulis di script asli mereka, telah menjadi beberapa karya
sastra paling terkenal di dunia saat ini. Genji Monogatari, atau Kisah Genji atau Tale of Genji,
ditulis oleh Murasaki Shikibu dan mungkin merupakan novel pertama yang pernah
ditulis. Novelis modern telah mengutip Tale of Genji sebagai sumber mereka untuk inspirasi.

Mode dari Aristokrasi Heian


Anggota aristokrasi berperilaku sesuai dengan aturan halus perbaikan estetika. Untuk mencari
bangsawan reputasi yang baik negosiasi aturan-aturan ini adalah tantangan
utama. Kecantikan merupakan rasa yang baik, tetapi apa yang dianggap indah untuk seorang
bangsawan Heian mungkin dianggap jelek oleh anggota dari budaya lain. Gigi putih dianggap
jelek, dan wanita diharapkan untuk menghitamkan gigi mereka dengan pewarna. Ketika
seorang wanita tersenyum, mungkin tampak seperti oval gelap. Kebiasaan menghitamkan
gigi dikenal sebagai o-haguro dan berlangsung hingga akhir abad 19. Perempuan juga dicabut
alis mereka dan dicat mereka tentang 2-3cm di atas lokasi asli mereka. Ini adalah pria
kemungkinan akan melakukan hal yang sama untuk mencapai tampilan yang tinggi alis. Ini
juga menarik bagi seorang wanita untuk memiliki rambut yang sangat panjang, yang
mungkin telah lebih lama dari tubuhnya. Bagi laki-laki sejumlah besar rambut wajah tidak
dapat diterima, tapi kumis tipis dan dan seberkas tipis rambut di dagu yang dianggap
menarik. Aturan lain keindahan Heian diterapkan sama untuk kedua jenis kelamin. Fitur
menarik khas untuk pria dan wanita mata kecil, wajah bulat dan bengkak, angka gemuk, dan
kulit putih. Sebuah angka tipis dan kulit gelap dikaitkan dengan petani dan buruh. Aristokrat
menganggap tubuh telanjang untuk menjadi menjijikkan dan jelek. Orang-orang kaya akan
memakai beberapa lapisan pakaian. Wanita akan memakai sampai enam lapisan jubah dengan
lengan yang panjang yang berbeda dari dan warna warna menciptakan band pada akhir
lengan. Jika salah satu dari warna-warna ini terlalu pucat atau terlalu terang, itu akan menjadi
sumber banyak kritik. Heian bangsawan bisa memiliki reputasi mereka hancur oleh pakaian
yang tidak tepat.

Struktur kekuasaan
Empat kelompok utama memegang kekuasaan selama Heian. Kaisar dan keluarga kerajaan,
aristokrasi atau bangsawan, sekte Budha terorganisir, dan prajurit provinsi. Para aristokrat
yang paling kuat, dibagi menjadi keluarga sering disebut sebagai klan. Jarang bahwa kaisar
mampu memerintah tanpa dukungan dari keluarga aristokrat utama. Ada mobilitas sosial
sedikit atau tidak ada selama Heian dan turun-temurun adalah, utama jika bukan satu-satunya,
faktor dalam menentukan status sosial seseorang. Di antara keluarga-keluarga aristokrat, klan
Fujiwara menikmati prestise tertinggi. Fujiwara menjadi begitu kuat bahwa pada tahun 1000,
kata Fujiwara no Michinaga adalah hukum. Dia meninggalkan sebuah buku harian, yang
merupakan sumber informasi yang banyak tentang pengadilan Heian. Di sebuah pesta untuk
merayakan aksesi putrinya untuk Ratu di 1018, ia menulis puisi di bawah ini.

"Dunia ini, saya pikir,


Memang dunia saya.
Seperti bulan penuh aku bersinar,
Ditemukan oleh awan pun. "

Meskipun periode Heian dikenal untuk waktu yang damai dan keamanan, beberapa sejarawan
berpendapat Heian menyebabkan ekonomi Jepang melemah dan kemiskinan meningkat di
antara populasi umum. Aristokrasi, yang terdiri sekitar satu persen dari populasi, yang
dikenal sebagai Orang Baik, atau Yokibito. Ini kelas yang mulia terbukti tidak kompeten
dalam mengelola urusan administrasi Jepang. Kurangnya ancaman eksternal ke Jepang
adalah kemungkinan faktor dalam yang memungkinkan pemerintah pusat tidak efisien untuk
tetap berkuasa begitu lama.

http://jepangtoday.blogspot.co.id/2011/11/zaman-heian-794-1185.html

ZAMAN HEIHAN 平安時代


Jaman Heian 平安 (794-1192) merupakan salah satu periode yang luar biasa dalam sejarah Jepang.
Kebudayaan Jepang berkembang amat sangat pesat pada Jaman Heian ini; seolah pemekaran budaya
hanya akan terjadi lagi selama masa kejayaan Tokugawa (Jaman Edo). Untuk alasan inilah, Periode
Heian dan Nara (710-794) disebut sebagai “Jepang Klasik”.
Jaman Nara ditandai dengan adanya perebutan tahta dan klan-klan akan mengontrol tahta. Untuk
menghentikan kerusuhan ini, pada tahun 794, ibukota dipindah ke Heian-Kyo (Kota yang damai dan
aman), atau yang sekarang kita kenal sebagai Kyoto. Perebutan kekuasaan pun berhenti, namun tidak
serta-merta berarti bahwa Jepang langsung berada di bawah satu pemerintahan pusat. Yang terjadi
adalah penyatuan beberapa kekuasaan berada di bawah satu keluarga saja, yaitu Fujiwara, yang
mengatur kekuatan mereka secara manipulasi dan beubah-ubah haluan serta penuh pertentangan
selama 3 abad.
Orang-orang Jepang pada masa Heian mengembangkan kebudayaan Cina yang membentuk kebudayaan
kehidupan imperial Jepang sampai berada di titik itu secara independen. Pertama, mereka
mengembangkan sistem penulisan, kerena tulisan Cina telah diadopsi ke dalam banyak bahasa.
Kemudian, mereka mengembangkan kebudayaan dengan nilai dan konsep ke-Jepang-an yang unik
daripada mengambilnya secara mentah-mentah dari kebudayaan Cina, nilai-nilai seperti miyabi
(kesopanan), makoto (kesederhanaan), aware (kesensitifan atau penderitaan). Kebudayaan ini
berkembang meluas sedikit demi sedikit di kalangan perempuan dan menyentuh puncaknya saat
munculnya buku yang menjadi literatur terhebat Jepang, Genji Monogatari (Kisah Genji) yang ditulis
oleh Murasaki Shikibu.
Pemerintah Heian menegaskan menginginkan perbaikan terhadap Jaman Yamato dan Nara. Pemimpin
hirarki teratas jaman ini adalah Tenno. Kaisar memeluk dua agama, yaitu Confusianisme dan Shinto. Ia
memerintah atas dasar mendat dari surga dan atas keturunan yang sah dari Dewa Matahari Shinto,
Amaterasu. Karena itulah, garis pemerintahan dalam sejarah Jepang berlangsung turun-temurun sejak
jaman Yamato.
Pemerintahan hirarki di bawah kekaisaran dibangun seperti pemerintahan Cina. Jepang mengadopsi tata
pemerintahan dewan negara dari dinasti T’ang, yang memegang kekuatan utama di Jepang. Klan yang
terkuat bersaing untuk mendapatkan jabatan sebagai dewan negara, karena dengan kedudukannya
mereka dapat mengontrol kaisar dan keseluruhan pemerintahan. Seperti pemerintahan di dinasti T’ang,
terdapat beberapa menteri (sekitar 6-8 orang). Walaupun begitu, ditemukan pula perbedaan antara
pemerintahan dinasti T’ang Cina dan Heian Jepang. Cina adalah Negara dengan penduduk sekitar 65
juta jiwa, sementara Jepang hanya seperti persekutuan yang longgar yang terdiri dari sekitar 5 juta
orang. Cina hidup dengan cenderung makmur, dan kota T’ang dimiliki dan dikembangkan sebagai kota
dan sebuah kebudayaan industri. Sementara Jepang, masih terbelakang saat ibukota masih berada di
Heian-Kyo. Pertalian antar uji masih renggang dan daerah terpencil masih berada di bawah
pemerintahan otonomi. Hasil pemerintahan istana masih sangat sederhana: kebanyakan istana pada
masa ini melakukan pemerintahannya sendiri-sendiri. Terdapat 6000 orang pegawai pemerintahan
istana; 4000 orang mengatur rumah-tangga kerajaan. Jadi istana utama Heian tidak terlibat secara
langsung dalam keseharian pemerintahan provinsi, yang berjumlah 66.

Di Jaman Nara dan Jaman Heian, pemimpin regional (provinsi) ditempati oleh gubernur yang disetujui
oleh kerajaan. Hal ini merupakan penurunan aristokrasi tradisional; namun bagaimana pun tidak berarti
pemerintah Heian melakukan kontrol terhadap para gubernur yang memerintah wilayahnya dengan
otonomi kuat atau pun lemah.
Jaman Heian, ditandai dengan kestabilan. Terdapat pertikaian kecil atau ketidaksetujuan di kalangan
pemerintahnya sendiri, atau antara pemerintah dan gubernur provinsi. Satu-satunya hal yang akan
menjadi masalah adalah konflik antara uji yang berlomba-lomba untuk mendapatkan territorial lebih
atau mempengaruhi pemerintahan.

Keadaan Jaman
Untuk membangun kembali pemerintahan Ritsuryō yang kacau, kaisar Kanmu memindahkan ibukota ke
Heian-kyō (sekarang Kyōto) pada tahun 794 M. Pada zaman ini, tanah pribadi yang bebas pajak (shōen)
semakin bertambah. Para petani kecil melepaskan hak untuk membayar pajak kepada negara dan
menyerahkannya kepada bangsawan terkemuka. Kemudian bangsawan tersebut dianggap majikannya
dan petani tersebut menggarap tanah majikannya. Pajak yang seharusnya diberikan kepada negara
malah masuk ke bangsawan penguasa shōen. Akibatnya penghasilan negara makin berkurang dan
golongan bangsawan semakin makmur.
Keluarga Fujiwara yang memiliki shōen sangat banyak pun menjadi kaum penguasa (kizoku) yang
paling berkuasa. Kekuasaan Fujiwara pun mulai menjalar ke istana. Hal itu terjadi setelah Fujiwara
Yoshifusa diangkat menjadi Sesshō (penasehat bagi kaisar yang belum dewasa) bagi kaisar Seiwa pada
tahun 858 M. Kemudian Fujiwara Mototsune menjadi orang pertama yang menjadi Kanpaku (penasehat
bagi kaisar yang telah dewasa). Puncaknya terjadi pada masa Fujiwara Michinaga. Pada masa itu
kebudayaan golongan aristokrasi telah mencapai kemakmurannya dan kekayaan Fujiwara melebihi
kekayaan kaisar.
Saat keluarga Fujiwara hidup mewah di ibukota, kaum militer meluaskan kekuasaannya di daerah.
Kaum militer membentuk kelompok militer dengan kaum bangsawan yang berkuasa. Dua kekuatan
militer yang paling besar adalah keluarga Minamoto (Genji) dan keluarga Taira (Heishi). Keluarga
Minamoto memegang kekuasaan di daerah timur, sementara Keluarga Taira memegang kekuasaan di
barat. Pada pertengahan abad ke-11, kekuatan Fujiwara yang ditaktor melemah. Tennō Shirakawa yang
meskipun telah turun tahta tapi tetap masih memerintah (Jōko) memegang kekuasaan tunggal
pemerintahan dan meneruskan pemerintahan dari istana yang disebut In, sehingga pemerintahannya
disebut sebagai pemerintahan Insei. Karena ia memegang hegemoni politik (kekuasaan tunggal
pemerintahan), maka Sessho, Kanpaku dan Tenno-pun keberadaannya hanya tinggal nama belaka.
Setelah itu terjadi pertentangan antara Jōko dengan Tennō. Masing-masing bersekutu dengan dua kaum
militer terkuat yaitu keluarga Taira dan Minamoto yang kemudian berperang di ibukota. Peperangan ini
disebut peperangan Hogen dan Heiji. Mulai saat itulah kelompok militer bergerak menuju ke pusat.

Taira no Kimoyori memegang hegemoni politik setelah mengalahkan pihak Jōko dan keluarga Minamoto
(Genji) dalam peperangan Hogen dan Heiji, dan menggantikan keluarga Fujiwara dan Jōko. Kiyomori
pada tahun 1167 menjadi Dashodaijin (penguasa utama), dan karena itulah seluruh keluarga besarnya
pun mencapai posisi tinggi di pemerintahan. Kemudian ia memperbaiki pelabuhan Hyogo ( Kobe ) dan
melakukan perdagangan dengan Cina (dinasti Sung) serta mendapatkan keuntungan yang besar. Selain
itu keluarga Taira (Heishi) menjadikan banyak tanah sebagai miliknya, hingga begitu besar kekuatan
yang dimilikinya, sampai-sampai Taira no Kiyomori menyatakan, kalau seseorang tidak termasuk
keluarga Taira (Heishi), maka ia bukanlah manusia. (Heishi ni arazumba hito ni arazu ).
Kaisar Go-Shirakawa yang merasa tidak puas dengan cara-cara keluarga Taira (Heishi) memanggil
keluarga Minamoto (Genji) yang setelah dikalahkan dalam perang Hogen dan Heiji melarikan diri ke
daerah (tahun 1180), dan membuat mereka memulai pertempuran kembali dengan keluarga Heishi.
Minamoto Yoritomo, Minamoto Yoshitsune (adik) beserta Kisoyoshinaka (sepupu) dan kawan-kawan
menyerang keluarga Heishi di seluruh negeri. Pada tahun 1185, seluruh keluarga besar Heishi
dikalahkan oleh tentara Yoshitsune di Dan no Ura (Shimonoseki-Shi, Yamaguchi-Ken) hingga seluruhnya
binasa. Pertempuran ini disebut Dan no Ura no tatakai (pertempuran Dan no Ura). Hal ini
mengakibatkan kekuasaan berpindah ke tangan Minamoto. Minamoto no Yoritomo meminta persetujuan
kepada kaisar supaya di angkat menjadi Shogun (jendral) oleh karena itulah maka sistem keshogunan
dikenal di Jepang hingga zaman Edo (1868). Shogun adalah pemegang kekuasaan Pemerintahan dari
kalangan militer. Kehogunan ini diwariskan turun-temurun, tetapi di Jepang sudah sempat 3 keluarga
yang menjadi shogun, yaitu keluarga Minamoto dengan pusat di Kamakura, sehingga zamannya disebut
dengan zaman Kamakura. Kemudian keluarga Taira atau disebut juga Heishi, pusat pemerintahannya
adalah di Muromachi, sehingga zamannya disebut dengan zaman Muromachi (1333-1568). Kemudian
keluarga Tokugawa memusatkan pemerintahannya di Edo atau Tokyo (1603-1867). Selama
pemerintahan dipegang oleh keluarga keshogunan tersebut, bentuk pemerintahannya disebut dengan
sistim feodal (Hokenseido) Oleh karena itu kebudayaan pada masa itu adalah kebudayaan feodal. Inti
dari sistem feodal tersebut adalah pengelolaan tanah oleh petani dimana para tuan tanah menggunakan
tenaga Bushi (Samurai) sebagai alat pemaksa untuk pembayaran pajak tertinggi.

Kebudayaan
Memasuki jaman Heian, kaum bangsawan masih menikmati kebudayaan ala Cina (Tofu), tetapi
memasuki akhir abad ke-9, karena dinasti Tang mulai goyah, atas usul dari Sugawara no Michinaze,
pengiriman utusan resmi ke Cina pun dihentikan. Karena pengaruh dari daratan Cina semakin berkurang,
maka munculah kebudayaan baru khas Jepang (Kokufū bunka).

Sastra
Di bidang sastra lahirlah tulisan Hiragana dan Katakana untuk menggantikan Manyōgana (kanji yang
dibaca dalam bunyi bahasa Jepang). Huruf yang lahir pertama kali adalah Katakana. Katakana
diciptakan oleh Kibinomakibi. Pada saat itu Katakana hanya digunakan oleh laki-laki. Kemudian lahirlah
Hiragana yang diciptakan oleh Kobodaishi. Pada saat itu Hiragana hanya digunakan oleh wanita. Karya-
karya sastra yang berkembang pada zaman ini
adalah Waka. Atas perintah tenno yang disebut Chokusen, dibuatlah kumpulan Waka yang disebut
Kokinwakashū. Selain itu, berkembang pula Nikki (catatan harian), Zuihitsu (essay), dan Monogatari
(cerita/dongeng). Yang paling terkenal saat itu adalah Genji monogatari karangan Murasaki Shikibu
yang menceritakan kehidupan di kalangan istana. Ada juga Makuranosōshi karya Seishōnagon. Terdapat
pula cerita seperti Putri Kaguya dan Hikayat Ise. Juga lagu kebangsaan Jepang, Kimi ga yo pun
diciptakan pada jaman ini. Beberapa nama pembuat puisi terkenal dari jaman ini antara lain: Ariwara no
Narihira, Ono no Komachi, Izumi Shikibu, Murasaki Shikibu, Saigyou, dan Fujiwara no Teika. Puisi
Jepang yang terkenal di jaman ini disebut dengan iroha, yang bersifat anonim. Bahasa pun mengalami
perkembangan. Pada zaman ini dipakai bahasa Jepang klasik (Chūko nihongo 中古日本語) yang
merupakan perkembangan dari bahasa Jepang kuno (Jōdai nihongo 上代日本語).
Dari segi industri, kertas berkembang sangat pesat. Pabrik kertas didirikan dan teknik membuat kertas
semakin berkembang. Pada zaman Heian, bahan-bahan untuk pembuatan kertas dicatat dalam buku
Engishiki (protokol istana era Engi). Bahkan, Literatur klasik Genji Monogatari membanggakan teknik
pembuatan kertas di Jepang yang dikatakan sudah menghasilkan kertas berkualitas lebih baik daripada
kertas dari Dinasti Tang.

Agama
Pendeta Saicho (juga disebut Denkyo Daishi) dan Kukai (disebut juga Bodaishi) menyeberang ke Cina
dan kembali ke Jepang setelah mempelajari agama Budha. Kemudian mengkritik agama Budha yang
sampai saat itu berkaitan erat dengan pemerintahan. Mereka mendirikan kuil di atas gunung yang
letaknya jauh dan terpisah dari ibukota, dan menciptakan aliran Tendai di gunung Hiei dan ada pula
aliran Shingon (oleh Kukai, di gunung Koya). Pembaharuan agama Budha ini pun meluas di antara
istana dan kaum bangsawan.
Pada pertengahan abad ke-10 agama Sho (Shodokyu) meluas di kalangan kaum bangsawan dan rakyat
biasa. Ajaran ini mengajarkan bahwa siapapun yang meminta kepada Budha Amitaba untuk
menyelamatkan jiwanya, dapat pergi ke nirwana setelah ia mati. Kepercayaan pada Shodokyu banyak
diminati oleh orang-orang yang gelisah karena meluasnya pemikiran tentang akhir jaman pada masa itu.
Pakaian
Selama Jaman Heian, kecantikan dianggap secara luas, sebagai sesuatu yang penting dan membuat
seseorang terlihat ‘baik’. Di bidang kosmetik, laki-laki dan perempuan yang bekerja di bidang
pemerintahan, menggunakan bedak, dan menghitamkan gigi mereka (ohaguro). Laki-laki istana
biasanya memelihara kumis dan sedikit jenggot model goatee, sementara mulut perempuan dibuat
terlihat kecil dan berwarna merah, dan alis mereka dicukur dan dilukis ulang dengan posisi yang lebih
tinggi di kening. Perempuan membudayakan rambut yang bercahaya dan berwarna hitam, dan
perempuan kerajaan menggunakan pakaian formal yang disebut Jyunihitoe (kimono berlapis 12).
Kostum dipilih berdasarkan jabatan dan musim. Kimono perempuan menggunakan sistem kombinasi
warna yang melambangkan bunga dan tanaman yang spesifik yang ada di suatu musim atau bulan,
contohnya irome dan kasane no irome. Sementara, pakaian formal untuk kaum pria terdiri dari baju dan
penutup kepala (ikan, sokutai). Pada umumnya, perempuan yang belum menikah mengenakan hakama
warna gelap. Sementara, perempuan yang sudah menikah mengenakan hakama dengan warna-warna
cerah, umumnya merah.

Samurai
Pemerintahan Heian menetapkan sebuah sistem militer yang berdasarkan milisi local yang terdiri dari
penunggang kuda. Tentara-tentara professional ini tersebar di seluruh negeri dan memberikan kesetiaan
mereka pada kaisar. Mereka disebut samurai. Sebuah perubahan penting terjadi di tengah jaman Heian.
Semula, samurai melayani kaisar, mereka berangsur-angsur menjadi prajurit perorangan untuk
aristokrasi lokal. Sejak jaman pertengahan Heian hingga ke depan, selama kira-kira 1000 tahun, militer
Jepang akan terdiri dari tentara profesional yang kebanyakan dari mereka memberikan kesetiaannya
pada aristokrasi lokal dan pimpinan perang. Pada awalnya, samurai bukanlah bangsawan atau tentara
akulturasi dari bushido Jepang atau “jalan kesatria”. Bushido adalah temuan dari jaman Tokugawa
(1601-1868) ketika samurai tidak memiliki pekerjaan akibat Tokugawa memerintah secara damai.
Samurai di awal dan pertengahan Jepang adalah gambaran dari masyarakat kelas bawah. Mereka
sumber penghasilan utama mereka adalah bertani; fungsi utama mereka menjadi samurai hanyalah
untuk membunuh samurai musuh. Pada umumnya mereka buta huruf dan bertahan di bawah tekanan
kaum ningrat.

Kejadian Penting:
• 784: Kaisar Kammu memindahkan ibukota ke Nagaoka-kyō (Kyōto)
• 794: Emperor Kammu memindahkan ibukota ke Heian-kyō (Kyōto)
• 804: Pendeta Budha, Saichō (Dengyo Daishi) mengenalkan sekolah Tendai
• 806: Pendeta Kūkai (Kōbō-Daishi) mengenalkan sekolah Shingon
• 819: Kūkai membangun biara Mount Kōya, di tenggara Perfektur Wakayama
• 990: Sei Shōnagon menulis esai Buku Bantal
• 1000-1008: Murasaki Shikibu menulis novel Genji monogatari
• 1050: Berkembangnya kelas militer (samurai)
• 1053: Kuil Byoudo (dekat Kyōto) diresmikan oleh kaisar Fujiwara Yorimichi
• 1087: Kaisar Shirakawa mengabdi dan menjadi pendeta Budha, serta menjadi kaisar pertama yang
hidup menyendiri (insei)
• 1156: Taira Kiyomori mengalahkan klan Minamoto dan meningkatkan kekuatan mereka, dengan
demikian mengakhiri era "insei"
• 1180 (Juni): Emperor Antoku memindah ibukota ke Fukuhara-kyō (Kobe)
• 1180 (November): Emperor Antoku memindah ibukota ke Heian-kyō (Kyōto)
• 1185: Taira dikalahkan dalam Perang Gempei dan Minamoto Yoritomo dengan bantuan (backing) klan
Hōjō meningkatkan kekuatan, menjadi shogun pertama di Jepang, sementara kaisar (atau "mikado")
hanya tinggal namanya.
• 1191: Rinzai Zen Buddhism dikenalkan di Jepang oleh pendeta Eisai dari Kamakura dan menjadi
terkenal di kalangan samurai, kelas pemimpin di masyarakat Jepang.
http://belajarnihongo.blogspot.co.id/2011/12/zaman-heihan.html

Garis besar kesusastraan zaman Heian


Pada akhir abad VIII kaisar
Kanmu memindahkan ibu kota
Jepang ke Kyoto dan membuat istana
ibukota Heian yang maha besar
dengan meniru ibukota Chan An dari
dinasti Tang di Cina. Ibukota Kyoto
yang selama kurang lebih 400 tahun
menjadi pusat kegiatan politik dan
kebudayaan di Jepang masa itu
dikenal dengan zaman Heian.
Keluarga Fujiwara yang mendapat
kedudukan tinggi di pemerintahan sejak Fujiwara Katamari berpengaruh lebih besar
dan luas lagi setelah pemindahan ibukota ke Kyoto. Bahkan mulai abad IX dan
seterusnya keluarga Fujiwara memonopoli kedudukan di pemerintahan, sehingga
terbentuk keadaan politik yang khas, yaitu kedaulatan kaisar ditunjang oleh
kekuasaan keluarga Fujiwara. Dalam sejarah politik Jepang keadaan politik yang
khas ini disebut dengan “Sekkan Seiji‟.
Pada masa Heian hubungan dengan dinasti Tang Cina masih ada, namun
setelah hubungan dihapus kebudayaan khas Jepang mulai berkembang. Kreasi seni
khas Jepang pada bangunan, pakaian mulai timbul. Kemajuan bidang kesusastraan
berkembang setelah terciptanya tulisan Kana, sehingga pada zaman Heian
kesusastraan berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada zaman kaisar
Ichijoo. Hal ini dapat dilihat dengan terciptanya karya sastra Genji Monogatari dan
makurano Sooshi.

Pengarang dan Pembaca Kesusastraan


Pada zaman Heian,
lingkungan bangsawan sangat
mendominasi kesusastraan Jepang.
Pengarang ataupun penulis Puisi
adalah anggota keluarga kaisar atau
keluarga bangsawan. Penulis catatan
harian, essei, kisah perjalanan,
ceritera biarpun bukan bangsawan
tetapi sebagian besar adalah
pengikut bangsawan yang hidupnya
dijamin. Pembaca kesusastraan pada
zaman Heian adalah kaum
bangsawan dan para selir di istana atau orang-orang yang mempunyai hubungan
erat dengan pihak istana atau bangsawan, sehingga zaman itu dikenal juga dengan
zaman kesusastraan bangsawan.

Latar Belakang Filsafah Pemikiran


Ajaran budha pada kesusastraan zaman Heian sangat berpengaruh besar.
Sekte Joodoo agama Budha yang popular meninggal kehidupan duniawi merabas
masuk ke kesusastraan tersebut sehingga kesusastraan pada zaman itu bertambah
unik.

Pembagian Zaman dan Jenis Kesusastraan

Kesusastraan zaman
Heian dapat dibagi menjadi
empat kelompok zaman.
Pertama zaman populernya syair
kanbun, kedua zaman
kebangkitan kembali pantun
waka, ketiga zaman populernya
kesusastraan cerita, catatan
harian dan essei, dan keempat
zaman banyak dikarang dan
disusunnya cerita sejarah dan
kesusastraan Setsuwa.

2. KANSHIBUN, WAKA, DAN


KAYOO
Kepopuleran Kanshibun
Pada awal zaman Heian, pantun Waka pernah mengalami kemunduran,
sebaliknya “kanbungaku‟ mencapai kepopulerannya. Pengarang
“Kanshibun‟ termuka pada awal zaman Heian antara lain Kuukai (dengan nama lain
Kooboo Daishi) seorang sarjana, penyair dan pemeluk agama yang patuh dikenal
sebagai pelopor kebudayaan Jepang, karya Kuukai antara lain Shooryooshuu dan
Bunkyoo Hifuron yang membicarakan puisi dan prosa bergaya retorik. Kemudian
pengarang lainnya adalah Ono no Takamura dan Sugawara no Michizane.
Sejak pertengahan zaman Heian, kanshibun mengalami kemunduran karena
waka dan sebangsanya kembali populer. Pada akhir zaman Heian, sarjana
Kanshibun yang perlu dicatat namanya adalah Ooe Masafusa. Meskipun pantun
waka mengalami masa suram pada zaman ini namun waka masih ditulis orang yang
bersifat melanjutkan karya Manyooshuu dan Kokinshuu. Bersamaan dengan itu,
kebudayaan zaman Heian juga berkembang meninggalkan pengaruh dari
kebudayaan Tang dan membentuk kebudayaan asli Jepang.

Pengungkapan jiwa orang Jepang melalui waka lebih cocok dari pada melalui
kanshibun dan terciptanya tulisan Hiragana membantu perkembangan waka.
Kepopuleran Utaawase dan Pembentukan Konkinshuu
Perkembangan waka dipengaruhi oleh “Utaawase‟ (perbandingan pantun).
Memasuki zaman Engi (901-923) pantun waka makin populer dan mencapai
puncaknya ketika Kokin Wakashuu (kumpulan waka lama dan baru) terpilih sebagai
karya terbaik berdasarkan titah kaisar. Konkinshu ( Kokin Wakashu) disusun oleh
empat orang penyair terdiri dari 20 jilid dengan jumlah pantun lebih dari 1100 buah.
Kata pengantarnya ditulis dengan tulisan Hiragana oleh kino Tsurayuki yang
mempunyai kedudukan penting dalam sejarah pemakaian kana. Kokinshu adalah
kumpulan pantun waka dari tahun 759 sampai tahun 905.
Ciri-ciri Khas Konkinshuu
Ciri khas Kokinshuu adalah perubahan aturan pemakaian sukukata lima tujuh
yang berlaku pada zaman sebelumnya yang bersifat lamban berat menjadi sukukata
tujuh-lima yang bersifat ringan lancar sehingga terlihat indah dan halus serta elegan
dengan ini terbentuklah gaya baru yang disebut “Kokinshoo‟ (gaya kokinshuu).
3. Monogatari
Monogatari mencakup fiksi (Tsukuri Monogatari), cerita pantun (Uta
Monogatari), Cerita sejarah (Rekishi Monogatari), dan legenda (Setsuwa). Pada
zaman Heian, monogatari dimulai dengan Taketori Monogatari, yaitu fiksi
legendaries (Tsukuri Monogatari) dan Ise Monogatari, yaitu cerita pantun (Uta
Monogatari) yang bersifat realistic yang keduanya saling mempengaruhi dan saling
mengisi.
Taketori Monogatari Tahun penulisan Taketori Monogatari tidak diketahui dengan
pasti, namun dalam buku Genji Monogatari tertulis bahwa Taketori Monogatari
adalah perintis munculnya kesusastraan jenis monogatari. Taketori monogatari
adalah cerita yang menceritakan Kaguya Hime yang diperebutkan oleh 5 orang
putra raja yang mempersuntingnnya. Ise Monogatari , Ise Monogatari adalah Uta
Monogatari yang bersifat realistic. Uta Monogatari adalah cerita yang isinya dibuat
lebih menarik dengan menulis Kotobagaki (keterangan mengenai keadaan dan
situasi ketika sebuah pantun dibuat) dengan panjang lebar. Ise Monogatari adalah
buku pertama yang mempunyai cara pembuatan seperti itu. Ise Monogatari terdiri
dari 125 bab, pada setiap bab dimulai dengan kata pembukaan mukashi otoko
arikeri (dahulu kala ada seorang laki-laki), tetapi semuanya menceritakan hubungan
percintaan yang penuh suka duka antara pria dan wanita. Yamato
Monogatari adalah aliran yang sama dengan Ise monogatari namun menceritakan
tentang orang-orang terkenal. Utsubo Monogatari dan Ochikubo Monogatari adalah
beberapa cerita yang masih ada sampai sekarang. Utsubo Monogatari dapat
dikatakan sebagai lanjutan Taketori Monogatari dengan versi yang berbeda. Dapat
dikatakan bahwa Utsubo Monogatari merupakan karya masa peralihan dari Taketori
Monogatari menuju Genji Monogatari. Ochikubo Monogatari Ochikubo monogatari
adalah suatu cerita yang mengisahkan kehidupan seorang anak tiri yang dianiaya,
tetapi akhirnya anak itu memperoleh kebahagiaan.Jalan ceritanya disusun dengan
cermat, penempatan tokoh-tokohnya diatur dengan baik. Bersifat realistis sampai
akhir cerita. Genji Monogatari Genji monogatari suatu konsepsi yang
menggabungkan sifat romantis, realis, dan dramatic dengan memasukkan banyak
lirik kedalamnya. Genji monogatari terdiri dari 54 bab . Pada bab ke 1 sampai ke 41
berisi tentang kehidupan tokoh utama Hikaru Genji. Bab ke 42 sampai 44 berisi
tentang keadaan Hikaru Genji meninggal dan masa pertumbuhan anaknya Kaoru.
Dan babak terakhir yang disebut Ujijuujoo berisi kehidupan Kaoru yang selalu
berputus asa dalam hidupnya setelah ia dewasa. Pengarang genji monogatari
adalah Murasaki shikibu. Yang setelah suaminya bernama Fujiwara Nobutaka
meninggal ia bekerja di pada isteri Ichijo Tenno. Genji monogatari merupakan suatu
karya sastra yang berhasil menggambarkan bermacam-macam aspek kehidupan
bangsawan istana pada zaman Heian. Diantaranya tentang pergantian Tenno dan
cara-cara peralihan kekuasaan diatur oleh keluarga permaisuri Tenno. Menurut
Motoori Norinaga memberi komentar bahwa genji monogatari adalah suatu karya
sastra yang berhasil dalam penyuguhan mono no aware ( membuat tergugah dan
terharu). Konjaku Monogatari, Konjaku monogatari adalah kumpulan dongeng atau
cerita yang timbul pada akhir zaman Heian. Berisikan 1000 buah cerita yang
sebagian besar merupakan cerita mengenai agama Budha dan kebiasaan
masyarakat. Cerita agama budha pada umumnya menonjolkan keagungan agama
budha, kebajikan-kebajikan kepercayaan, hukum karma dan pemikiran reinkarnasi.
Konjaku monogatari mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kesusastraan
yang timbul pada zaman Kamakura.
4. Catatan harian (nikki)
Banyak sekali nikki baik yang bersifat resmi maupun yang bersifat pribadi yang
ditulis dengan Kanbun (ditulis dengan kanji dan gaya bahasanya memakai gaya
bahasa Cina) , tetapi nikki yang mempunyai nilai sastra ditulis dengan kokobun
(gaya bahasa Jepang dengan tulisan Hiragana) adalah Tosa nikki, Kageruoo nikki.

Tosa Nikki
Tosa Nikki adalah permulaan
dari kesusastraan nikki di Jepang
yang di tulis oleh Ki no Tsurayuki
(紀 貫之, 872 – June 30, 945) adalah
seorang penulis Jepang, penyair
dan punggawayang dalam perjalanan
pulang dari Tosa (salah satu daerah
di Shikoku) ke Kyooto setelah
menyelesaikan tugas kerjanya
sebagai bupati di Tosa. Di dalam
Tosa Nikki, Tsurakuyi ingin
mengungkapkan perasaannya antara
lain kerinduannya kepada putrinya
yang meninggal di Tosa, ketakutan
yang dialaminya ketika diserang
bajak laut, dan kegembiraannya saat
dia telah tiba di Kyooto.
Kageru Nikki
Kageru Nikki adalah bagian klasik sastra Jepang dari periode Heian yang
jatuh di bawah genre Nikki bungaku, atau literatur buku harian. Ditulis
sekitar 974, penulis Kageru Nikki seorang wanita yang hanya dikenal
dengan gelar Bunda Michitsuna. Menggunakan kombinasi puisi dan prosa waka,
ia menyampaikan kehidupan seorang wanita pengadilan selama periode Heian.
Izumi Shikibu Nikki
Izumi Shikibu Nikki adalah suatu
catatan harian yang mengungkapkan
salah satu kehidupan romantis wanita
pada Zaman Heian yang isinya
mengenai hubungan cinta yang
berlangsung selama satu tahun anhtara
putra Reizi Tennoo yang bernama
Atsumichi dengan wanita yang bernama
Izumi Shikibu seorang penyair periode
pertengahan Heian Jepang yang
merupakan anggota dari Tiga puluh
enam Dewa Puisi Abad Pertengahan.
Hubungan cinta ini terjadi setelah
Atsumichi berkunjung ke rumah Izumi
Shikibu dan saling berkirim surat yang
memuat pantun-pantun cinta.
Hubungan cinta ini ditulis melalui mata orang ke tiga, dalam bentuk Nikki.
Murasaki Shikibu Nikki
Murasaki Shikibu Nikki adalah suatu karya yang mengungkapkan kepribadian
pengarangnya yang ditulis dengan jelas dan sederhana.
5. Rekishi Monogatari (Ceritera Sejarah) dan Setsuwa Bungaku (Dongeng)
Pada akhir zaman Heian, masyarakat pada saat itu cenderung untuk
mengenangkan kembali masa-masa yang sudah berlalu. Mereka berusaha untuk
mencari bahan dari kejadian masa lalu untuk menulis karya sastra yang baru yang
sekarang dikenal dengan istilah “Ceritera Sejarah” atau “Dongeng”.
Eiga Monogatari
Eiga Monogatari merupakan karya yang menuturkan keadaan dan peristiwa selama
kira-kira 200 tahun mulai dari zaman Uta Tennoo sampai zaman Horikawa Tennoo
yang berlangsung selama 15 generasi. Buku tersebut setebal 40 bab, dan
menceritakan kehebatan dan kemegahan Midoo Kampaku yang setara dengan
Perdana Menteri, bernama Fujiwara Nichinaga.
Ookagami
Ookagami juga merupakan ceritera sejarah yang menceritakan kemegahan dan
kehebatan Fujiwara Michinaga, tetapi dalam banyak hal dapat dikatakan, lebih baik
dari Eiga Monotagari. Dimana karya ini menceritakan peristiwa sejak Zaman
Montoku Tennoo sampai zaman Goichijoo Tennoo.
Imakagami
Imakagami merupakan karya lanjutan dari Ookagami, yang menceritakan peristiwa
dari zaman Goichijoo Tennoo sampai dengan zaman Takakura Tenno. Cara
penuturannya sama dengan Ookagami, yaitu melalui penuturan tokoh buatan yang
ditampilkan dalam ceritera.
Konjaku Monotagari
Bersamaan dengan adanya usaha untuk mengenang kembali kejadian-kejadian
masa lalu yang timbul pada akhir zaman Heian yang mengakibatan lahirnya ceritera
sejarah, perhatian orang juga mulai ditunjukkan untuk mengumpulkan dongeng,
ceritera rakyat, dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya berhasil diterbitkan sebuah
buku kumpulan dongeng yang berjudul Konjaku Monogatari.
http://zhenzhen91.blogspot.co.id/2012/11/kesusastraan-zaman-heian-di-jepang.html

Jaman Heian adalah suatu periode di mana interaksi dengan China telah berkurang secara
drastis dan budaya serta pakaian tradisional Jepang mulai berkembang menurut caranya
sendiri. Pengaruh budaya yang hanya berupa imitasi murahan dari budaya jaman T’ang China
semakin berkurang dan hanya sebagian kecil yang sudah mengakar dalam kehidupan
masyarakat Jepang yang bertahan, kemudian menjadi fondasi kebudayaan Jepang sampai
masa kini (Tsutomu, 1936). Karenanya, pada jaman Heian terjadi perubahan gaya arsitektur,
standar kecantikan, hingga seni dan bahasa dan terciptalah budaya baru yang mulai memiliki
karakteristiknya sendiri.

Pada jaman Heian, pemilihan jenis dan warna pakaian sangat penting baik bagi kaum laki-
laki dan perempuan. Ini tercermin dalam berbagai literatur jaman Heian, seperti The Diary of
Lady Murasaki (Bowring, 2005), Tale of Genji (Waley, 2010), The Pillow Book (McKinney,
2006), lukisan, rekam jejak kehidupan di jaman Heian dan sumber-sumber lainnya. Sebagai
contoh, dalam diarinya Murasaki Shikibu selalu menggambarkan dengan cermat kombinasi
warna, jenis kain dan pilihan motif pakaian para dayang istana yang bekerja bersamanya,
seperti dalam ritual pemandian putra mahkota permaisuri Shoushi (Bowring, 2005). Contoh
lain terdapat dalam Tale of Genji, dimana Genji menilai putri pangeran Hitachi (Safflower
Princess, Suetsumu-Hana) berdasarkan kombinasi warna pakaian yang ia kenakan dan
menyimpulkan bahwa putri tersebut memiliki selera yang agak ketinggalan jaman, namun
berasal dari status sosial yang tinggi. Suetsumu-Hana adalah putri bungsu dari seorang
pangeran, namun orangtuanya sudah meninggal dan tidak ada sanak keluarganya yang
mampu mendukungnya secara finansial, sehingga kehidupannya cukup melarat (Waley,
2010). Contoh ketiga diambil dari salah satu cerita pendek yang dimuat di The Tale of
Riverside Middle Counsellor yang berjudul The Shell-Matching Game (Hirano, 1963). Pada
cerita ini seorang laki-laki aristokrat mengungkapkan ketidaksukaannya pada salah satu tokoh
yang mengenakan pakaian dengan kombinasi warna yang tidak sesuai dengan musimnya.
Dari sini, dapat disimpulkan bahwa seni berpakaian pada masa itu sangat penting untuk
menunjukkan selera, sensibilitas seni dan status sosial pemakainya.

Pada awalnya, perbedaan status sosial seseorang berdasarkan pakaiannya dimulai oleh para
pendeta kuil (Nagasaki, 1992). Walaupun pakaian seorang pendeta harus dibuat dari kain
perca/sisa, status mereka dapat dibedakan dari jenis kain yang digunakan untuk membuat

kesa 袈裟 yang mereka kenakan. Larangan pengikut Buddha untuk membunuh makhluk

hidup membuat seorang pendeta tidak boleh mengenakan kain sutra (Hearn, 1976), namun
pada masa itu kepala pendeta dan para petinggi kuil umumnya mengenakan kesa yang diolah
dari sisa-sisa kain sutra, sementara pendeta biasa mengenakan kesa dari kain katun biasa.
Tradisi ini kemudian menyebar ke kalangan awam seiring dengan meningkatnya pengaruh
ajaran Buddha di Jepang serta pengaruh golongan aristokrat, yang membedakan diri mereka
dari rakyat biasa dengan mengenakan pakaian yang berbeda (Nagasaki, 1992).

Namun setelah beberapa waktu, golongan aristokrat di kalangan atas menciptakan aturan-
aturan tertentu mengenai mode pakaian yang dapat dikenakan kaum aristokrat berdasarkan
peringkatnya. Selain karena perbedaan peringkat membuat sebagian kaum aristokrat merasa
lebih superior dibandingkan golongan lainnya dengan peringkat yang lebih rendah, warna
atau kain atau motif yang dilarang umumnya sulit dikerjakan atau memiliki makna tertentu.
Contoh aturan ini adalah penggunaan warna kurenai (merah manyala) dan koki-
murasaki (ungu tua) yang hanya boleh dikenakan oleh permaisuri kerajaan, putri dan cucu
dari kaisar yang sedang bertahta serta beberapa perempuan dayang permaisuri/kaisar dari
golongan atas (jorou) yang terdiri atas satu orang Mistress of Wardrobe (Mikushige-dono),
dua orang kepala pelayan/handmaid (Naishi no Kami), asisten-asisten pelayan dari peringkat
kedua atau ketiga dan beberapa putri atau cucu para Menteri (McCullough&McCullough,
1980). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perbedaan mode pakaian yang dikenakan
golongan aristokrat dan golongan bawah tidak lagi murni dikarenakan kesenjangan kelas,
namun lebih dikarenakan obsesi sebagian golongan aristokrat untuk tampak lebih menarik
(Chen, 2013). Golongan aristokrat di jaman Heian yang sangat mementingkan keindahan/
kecantikan memodifikasi pakaian mereka agar dapat mengikuti standar keindahan pada masa
itu. Sebagai akibatnya, golongan aristokrat di jaman Heian sangat mengikuti perkembangan
mode di sekitarnya, dan mode pakaian mereka pun menjadi lebih melankolis seiring dengan
peningkatan gejolak politik disekitar mereka (Chen, 2013). Karenanya, jaman Heian dapat
diidentikkan dengan obsesi kaum aristokrat pada cara berpakaian dan kerumitan budayanya
(Cavanaugh, 1996).

Sementara itu apabila ditinjau dari sisi gender, dapat dilihat bahwa konsep keeleganan di

istana atau miyabi 雅 jauh lebih penting bagi perempuan dibandingkan kaum laki-laki.

Karena status seorang perempuan aristokrat sangat dipengaruhi oleh kecantikan dan
kemampuan mereka dalam seni dan literatur, perempuan di masa itu sangat terobsesi pada
kecantikan fisik, keindahan pakaian hingga kombinasi warna pakaian yang mereka kenakan
(Travia, 2013). Pada jaman Heian terdapat standar kecantikan yang umumnya diikuti oleh
golongan perempuan aristokrat, seperti memutihkan wajah dengan bedak yang dibuat dari

tepung beras (oshiroi 白 粉 ), menghitamkan gigi (ohaguro お 歯 黒 ), mencukur alis serta

melukisnya kembali di dahi bagian atas (hikimayu 引き眉) dengan campuran bubuk besi,

cuka dan bubuk teh atau gallnut. Standar kecantikan ini umumnya mulai diterapkan ketika

seorang perempuan aristokrat telah melalui upacara kedewasaannya (mogi 裳 着 ) yang

ditandai dengan pengikatan mo oleh sanak keluarganya yang memiliki kedudukan terpandang
di istana (mogi no koshiyui). Pada upacara ini perempuan tersebut juga menjalani ritual
pencukuran alis, penghitaman gigi, memutihkan wajah serta mengikat sebagian rambut yang

sebelumnya dipotong sedada menjadi buntalan kecil diatas kepala (kami age 髪上げ) dengan

hiasan rambut seperti lempeng mahkota (hitai 額), tusuk konde (kan’zashi 簪) dan sisir

(kushi 櫛 ) (Choi, 2006). Perempuan yang tidak mengikuti standar kecantikan ini akan

dianggap aneh dan tidak terdidik, seperti yang dialami oleh tokoh utama salah satu cerita di
kumpulan cerita pendek The Tale of Riverside Middle Counsellor yang berjudul The Young
Lady Who Loved Insects (Hirano, 1963). Cerita pendek ini menceritakan seorang gadis yang
menjadi buah bibir dan celaan kaum aristokrat disekitarnya karena menolak menghitamkan
gigi, mencukur alis, serta mengikuti standar kecantikan lainnya pada masa itu.

Golongan kelas bawah yang mencoba merias diri mereka agar menyerupai kaum aristokrat
juga dicela oleh anggota kaum tersebut, seperti yang dikemukakan Sei Shonagon dalam
kumpulan celotehan dan diarinya, The Pillow Book (McKinney, 2006). Pada salah satu
bagian diarinya, Sei Shonagon menyuarakan ketidaksukaannya saat melihat seorang

perempuan kelas bawah yang mengenakan hakama berwarna merah manyala (kurenai 紅).
Umumnya, perempuan kelas bawah dimasa itu mengenakan kosode 小袖 (kimono berlengan

pendek) dan shibira (sejenis celemek pendek) sederhana dari katun/kain tebal yang cocok
dikenakan saat bekerja dan tahan lama, sementara hakama dikenakan oleh perempuan

aristokrat bersama kosode, beberapa lapis kimono (hitoe 褝, itsutsuginu, uwagi 上着), serta

jaket bergaya China (karaginu 唐衣) dan semacam rok-celemek (mo 裳) yang diikatkan di

belakang pada pinggang untuk acara resmi. Shioda Ryouhei mencatat bahwa pada masa itu
terdapat mode dimana kaum kelas bawah meniru selera dan budaya aristokrat tanpa
mempelajari detail budayanya, sehingga apabila hipotesis ini benar ketidaksukaan Sei
kemungkinan besar dikarenakan situasi penggunaannya yang tidak pantas (Angles, 2001). Sei
juga mengungkapkan ketidaksetujuannya pada kaum perempuan kelas bawah yang
memanjangkan rambutnya, karena pada masa itu rambut panjang diasosiasikan dengan
golongan aristokrat dan menurut Sei, perempuan kelas bawah sebaiknya berambut pendek
agar tidak mengganggu kerja mereka (McKinney, 2006).

Pilihan pakaian yang dikenakan juga menjadi aspek penting yang sangat diperhatikan oleh
kaum perempuan aristokrat di jaman Heian. Karena perempuan diharuskan untuk
menyembunyikan wajahnya dari laki-laki selain anggota keluarganya, pakaian dan kombinasi
warnanya menjadi salah satu dari sedikit fitur yang nampak untuk mengukur sensibilitas seni
dan selera perempuan tersebut, sehingga pakaian seorang perempuan aristokrat selalu dipilih
dengan cermat. Paduan warna pakaian kaum aristokrat disesuaikan dengan musim, peringkat
serta selera pemakainya, sehingga laki-laki aristokrat dapat menilai lawan jenisnya hanya dari
lengan pakaian yang dikenakan selain dari gaya tulisannya, walaupun belum pernah melihat

wajahnya sama sekali. Paduan warna ini dikenal dengan sebutan kasane no irome 襲 .

Dari tinjauan diatas, dapat disimpulkan bahwa mode pakaian sangat penting bagi golongan
kelas atas di jaman Heian. Selain itu, kaum aristokrat terutama perempuan sangat terobsesi

dengan mode pakaian dan konsep keindahan (miyabi 雅 ), karena perempuan harus selalu

tampil menarik untuk dapat bersaing di lingkungan aristokrat. Dengan demikian dapat ditarik
kesimpulan bahwa mode pakaian di jaman Heian cukup rumit karena menunjukkan selera,
sensibilitas seni serta status sosial pemakainya.

http://argikartika.blog.ugm.ac.id/2015/04/17/sejarah-berpakaian-di-jaman-heian-gambaran-
singkat/
1.1 Latar Belakang

Zaman Heian atau Heiankyou (794-1192) merupakan zaman terakhir dari zaman Kuno dan
juga zaman berakhirnya kaum bangsawan berkuasa. Dengan munculnya kaum samurai
(tentara) pada akhir zaman Heian, lambat laun kekuasaan dan kekuatan kaum samurai
semakin kuat sehingga mereka bisa mengambil alih kekuasaan dari kaum bangsawan
(Amril,2011).

Pada akhir abad VII Kaisar Kanmu (kaisar Jepang ke-50) memindahkan ibukota Jepang,
dari Nara ke Kyoto, akibat Fujiwara Tanetsugu yang menjadi penanggung jawab
pembangunan Nagaoka-kyō tewas dibunuh. Ada penjelasan yang mengatakan ibu kota harus
dipindahkan ke Kyoto untuk mengatasi pengaruh agamaBuddha di Nara yang kekuatannya

terpusat di sejumlah kuil-kuil yang disebutNanto-jiin ( 南 都 寺 院 ). Penjelasan lain

mengatakan ibu kota perlu dipindahkan dari ibu kota kekaisaran milik garis keturunan Kaisar
Temmu ke ibu kota baru untuk kaisar dari garis keturunan Kaisar Tenji.

Amril (2011) menambahkan bahwa ibukota yang baru ini dinamaiHeiankyou, pindahnya
ibukota dari Nara ke Kyoto, dunia khususnya Jepang diharapkan selalu damai dan tenang
(Heian = tenang,damai; Kyou = ibukota), karena selama zaman Nara keadaan Jepang selalu
dalam keadaan kacau, dan sering terjadi pertikaian dimana-mana.

Pada saat itu, Kaisar Kanmu mendirikan istana di ujung utara kota dan dibangun meniru
perencanaan kota Chang'an pada zaman Dinasti Tang dan Dinasti Sui.

Istana Heian atau Daidairi ( 大 内 裏 ) sebagai tempat kediaman resmi kaisar dan pusat

administrasi Jepang merupakan istana kekaisaran di ibu kota Jepang Heian-kyou (Kyoto)
dari 794 hingga 1227 (Beasley:2003).

Pada zaman Nara, kepemilikan shoen semakin meningkat terutama keluargaFujiwara yang
telah berjsaa pada peristiwa Reformasi Taka. Keluarga Fujiwaraadalah pemilik shoen paling
banyak sehingga menjadi keluarga yang berkuasa. Dengan kekuasaannya, Fujiwara berhasil
meggantikan kedudukan kasisar dan mengendalikan pemerintahan. Sejak itulah pemerintahan
dipegang oleh kaum bangsawan dan disebut dengan Kizoku Seifu (Pemerintahan Bangsawan).
Permulaan abad ke-11 merupakan masa yang paling makmur bagi keluarga bangsawan,
terutama pada masa Michinaga Yorimichi, karena keluarga Fujiwara berhasil menduduki
posisi yang paling tinggi dalam pemerintahan sehingga dia mendapat upah yang paling
banyak (Kodansha,1983).

Pada zaman Heian berlaku sistem perwalian atau Sekkan Seiji, yang mana untuk menjaga
posisi keluarga Fujiwara sebagai pengendali pemerintahan, keluarga Fujiwara melakukan
sistem perkawinan politik, yaitu mengawinkan anak perempuannya dengan kaisar sehingga
cucunya kelak akan menjadi kaisar. Sambil menunggu cucunya menjadi besar (dewasa), saat
itu pemerintahan dipegang oleh kakeknya sebagai walinya, dan setelah dewasa cucu itu
menjadi kaisar (“Sekkan Seiji”).

Selain itu, zaman Heian merupakan zaman keemasan bagi perkembangan kesenian di Jepang,
karena pada zaman ini lahir karya seni dan karya sastra yang masih terkenal hingga
sekarang.

BAB II

KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN

2.1 Lahirnya Tulisan Kana dan Kebudayaan Nasional

Menurut Amril (2011) sebelum Kana, ada penulisan dokumen dan karya sastra ditulis
dengan Manyougana. Namun sekitar pertengahan abad 9 mulai
digunaka Hiragana dan Katakana sebagai pengganti Manyougana. Hiragana merupakan
tulisan yang halus pada umumnya digunakan oleh kaum perempuan sehingga disebut Onnade.
Sementara itu, Katakana merupakan tulisan dengan mengambil bunyi dan salah satu bagian
dari Kanji, pada umumnya digunakan oleh para sarjana dan pendeta, sehingga disebut
dengan Otokode. Walaupun Kana sudah mulai digunakan Kanji masih tetap digunakan
terutama ketika menulis surat-surat atau dokumen resmi.

Pada akhir abad ke-9 pengiriman Kentoushi ( pengiriman duta ke Cina pada Dinasti Tang)
dihentikannya pengiriman duta ke Cina, pengaruh Cina terhadap kebudayaan Jepang semakin
berkurang. Hal ini berakibat pada berkembangnya “Kebudayaan Nasional (Kokufu Bunka),
yaitu kebudayaan asli yang mempunyai ciri khas “lokal genius”. Sehingga kesenian-kesenian
dan kebudayaan khas Jepang mengalami perkembangan.

2.2 Perkembangan Agama Budha

Sejak masuknya ajaran Budha ke Jepang, perkembangan agama Budha sangat cepat.
Meskipun Kaisar Kanmu, yang memerintahkan ibukota pindah ke Kyoto, menolak campur
tangan pendeta dalam urusan politik, Kaisar Kanmu tetap memelihara ajaran Budha. Pada
masa itu, kira-kira awal zaman Heian, ada dua orang pendeta Budha yang baru kembali
dariChina, yaitu Saicho dan Kukai. Mereka menyebarkan ajaran Budha baru. Kedua pendeta
tersebut tidak setuju kalau pendeta ikut campur dalam urusan politik, oleh karena itu mereka
mendirikan kuil di puncak gunung, jauh dari istana, berbeda dengan pendeta sebelumnya.
PendetaSaicho mendirikan kuilnya di gunung Hiei dan mengembangkan
aliran Tendai(Tendai shu), sedangkan pendeta Kukai mendirikan kuilnya di puncak
gunung Koyadan mengembangkan aliran Shingon (Shingon shu). Kedua sekte ajaran Budha
yang baru ini meluas di kalangan istana dan bangsawan (Amril.2011).

Sedangkan pada tahun 985, menurut Beasley (2003) pendeta Tendai Genshin menulis sebuah
buku berisi argumen mendukung ini dalam ungkapan-ungkapan yang keras. Buku itu diawali
dengan lukisan yang terus terang tentang neraka Budha, tempat orang-orang yang gagal
menjalankan kewajiaban dilontarkan, ini dibandingkannya dengan Tanah Murni sorga Barat,
semua orang dapat masuk ke tempat itu bila dengan tulus mengumandangkan nama Amida.
Buku itu sangat populer, dikarenakan isinya yang penuh dengan cerita-cerita mengerikan.
Namun berbeda dengan pendahulu-pendahulunya, Genshin tidak menggunakan
popularitasnya untuk mendirikan sekte baru. Ide-idenya tersebar luas dalam sekteTendai dan
sekte Shingon. Ide-idenya juga memberi sumbangan pada gerakan serupa yang terpusat
pada Jizou (Ksitigarbha), seorang bodisatwa yang memiliki kekuatan yang lebih ampuh untuk
menyelamatkan manusia dari neraka daripada membawanya ke surga.

Oleh karena itu, dampak dari masuk ajaran Budha di zaman Heian yaitu membawa angin
segar dan kekhasan tersendiri pada kesusastraan dan seni Jepang dalam paruh kedua periode
Heian, ketika kesusastraan dan seni lebih memperhatikan manusia dan hal-hal di dunia,
sehingga ruang lingkupnya lebih Jepang.

2.3 Kesusastraan Jepang Zaman Heian


Kesusastraan merupakan sebuah bentuk ekspresi atau pernyataan kebudayaan dalam suatu
masyarakat. Sebagai ekspresi kebudayaan, kesusastraan mencerminkan sistem sosial, ide dan
nilai yang ada dalam suatu masyarakat. Kesusastraan yang hadir dalam suatu masyarakat
memiliki nilai keterkaitan dengan kebudayaan masyarakat tersebut. Antara masyarakat,
kebudayaan dan sastra merupakan suatu jalinan yang kuat, yang satu dengan yang lainnya
saling memberi pengaruh, saling membutuhkan, dan saling menentukan dalam pertumbuhan
dan perkembangannya (Semi,1984).

Kesusastraan Jepang merupakan kesusastraan yang perkembangannya telah melewati


berbagai zaman dan diklasifikasikan menjadi beberapa periodisasi. Dalam perkembangannya,
terdapat ciri khas yang membedakan kesusastraan Jepang suatu zaman dengan kesusastraan
Jepang pada zaman lain. Ciri khas itu bisa dilihat dari bentuk ataupun tema karya sastra yang
menggambarkan keadaan sosial budaya masyarakatnya. Contohnya, Kesusastraan Jepang
zaman Heian bisa dikatakan merupakan kesusastraan kaum bangsawan. Pada zaman Heian,
pengarang dan pembaca kesusastraan kebanyakan adalah kaum bangsawan dan penghuni
istana, para selir, orang-orang yang dekat dengan pihak istana/bangsawan (pesuruh istana,
sarjana, penyanyi, pendeta)

Oleh karena itu, kesusastraan Jepang zaman tersebut banyak yang menceritakan tentang
kehidupan bangsawan atau kehidupan di istana (Asoo,1983). Dimana masyarakat umum
hanya dapat menikmati kesenian rakyat .

Kesusastraan zaman Heian dapat dibagi menjadi empat kelompok zaman.

1) Zaman populernya syair Kanbun.

2) Zaman kebangkitan kembali pantun Waka.

3) Zaman populernya kesusastraan cerita, catatan harian dan essei.

4) Zaman banyak dikarang dan disusunnya cerita sejarah dan


kesusastraan Setsuwa (dongeng).

2.2.1 Bentuk dan Jenis kesusastraan Jepang zaman Heian

Adapun bentuk-bentuk kesusastraan pada zaman Heian sebagai berikut.


Prosa Pantun/Puisi Nyanyian

• Monogatari • Kanshibun • Kayoo

• Nikki • Waka

• Essei

• Setsuwa

Tabel 1.1 Bentuk-bentuk kesusastraan Jepang

Selain itu, adapun jenis-jenis kesusastraan Jepang pada zaman Heian sebagai berikut.

Jenis Kesusastraan Judul Karya

Kokinshuu

Gosenshuu

Pantun Jepang /Waka Shuuishuu

Senzaishuu

Sankushuu

Saibara
Kayoo
Ryoojin Hissho

Taketori Monogatari

Ise Monogatari

Utsubo Monogatari
Cerita/Monogatari
Yamato Monogatari

Eiga Monogatari

Ookagami
Imakagami

Ochikubo Monogatari

Genji Monogatari

Konjaku Monogatari

Sagaromo Monogatari

Tsutsumi Chuunagon Monogatari

Tokaba Monogatari

Hamamatsu Chuunagon Monogatari

Tossa Nikki

Catatan Harian/Nikki Kageroo Nikki

Murasaki Shikibu Nikki

Izumi Shikibu Nikki

Essai/ Zuihitsu Makura no Sooshi

Tabel 1.2 Jenis-jenis kesusastraan Jepang

2.2.2 Waka, Kayoo, Nikki, Zuihitsu

Pada awal zaman Heian, pantun Waka pernah mengalami kemunduran,


sebakiknya Kanbungaku mencapai kepopulerannya. PengarangKanshibun terkemuka pada
awal zaman Heian antara lain Kuukai (dengan nama lain Kooboo Daishii) seorang sarjana,
penyair dan pemeluk agama yang taat dikenal sebagai pelopor kebudayaan Jepang,
karya Kuukai antara lainShooryooshuu dan Bunkyoo Hifuron yang membicarakan puisi dan
prosa bergaya retorik, kemudian pengarang lainnya adalah Ono no Takamura danSugawara
no Michizane dengan karya berjudul Kankebunsoo dan Kankekoosoo.
Sejak pertengahan zaman Heian, Kanshibun mengalami kemunduran karena Waka dan
sejenisnya kembali populer. Pada akhir zaman Heian, sarjana Kanshibun yang perlu dicatat
namanya adalah Ooe Masafusa. Meskipun pantun Waka mengalami masa suram pada zaman
ini namun Wakamasih ditulis orang yang ebrsifat melajutkan
karya Manyooshuu danKokinshuu. Bersamaan dengan itu, kebudayaan zaman Heian juga
berkembang meninggalkan pengaruh dari kebudayaan Dinasti Tang dan membentuk
kebudayaan asli Jepang,

Pengungkapan jiwa orang Jepang melalui Waka lebih cocok daripada melalui Kanshibun dan
terciptanya tulisan Hiragana membantu perkembangan Waka .
perkembangan Waka dipengaruhi oleh Utawase(pertandingan pantun).

Waka adalah salah satu bentuk puisi Jepang yang sudah ada sejak zaman Asuka dan Zaman
Nara (akhir abad ke-6 hingga abad ke-8), yang mana penyairnya
disebut Kajin. Istilah Waka (arti harfiah: puisi Jepang) dipakai untuk membedakannya dengan
puisi Cina. Waka juga disebut YamatoUta atau cukup sebagai Uta. Waka terdiri
dari Chouka, Tanka, Sedouka,Katauta dan Bussokusekika. Dalam pengertian sempit, waka
sering hanya berarti Tanka yang secara keseluruhan terdiri dari 31 suku kata (aksara), oleh
karena itu Waka juga disebut Misohitomoji (arti: 31 aksara).Contoh jenisWaka Tanka, bentuk
puisi dengan pola Mora 5-7-5-7-7

ひともなき(5)

おなしきいれは(7)

くさまくら(5)

たびにまむりて(7)

くろしかりけい(7)

Oleh : Ootomono Tabito

Artinya : Rumah kosong yang tidak ada orang (istri) di dalamnya menderita melebihi
penderitaan yang berat.
Memasuki zaman Engi (901-923) pantun Waka makin populer dan mencapai puncaknya
ketika Kokin Wakashuu (kumpulan Waka lama dan baru) terpilih sebagai karya terbaik
berdasarkan titah kaisar. Kokinshuu (Kokin Wakashuu) disusun oleh empat orang penyair

terdiri dari 20 jilid dengan jumlah pantun lebih dari 100 buah. Kokinshuu (古今集) adalah

pantun Wakadari tahun 759 ( 古 ) sampai tahun 905( 今 ). Kata pengantar ditulis dengan

tulisan Hiragana oleh Ki no Tsurayuki yang mempunyai kedudukan penting dalam sejarah
pemakaian Kana. Seorang bangsawan yang memangku jabatan gubernur Tosa, sebuah
provinsi di Shikoku, antara tahun 931 dan tahun 934. Ciri khas Kokinshuu adalah perubahan
aturan pemakaian suku kata 5.7 yang berlaku pada zaman sebelumnya yang bersifat lamban
berat menjadi suku kata 7.5 yang bersifat ringan lancar sehingga terlihat indah dan halus serta
elegan, dengan ini terbentuklah gaya baru yang disebut Kokinshoo (gayaKokinshuu) serta
memakai Engo (kata yang berfungsi menghubungkan) danKakekotoba (1 kata punya 2
arti) à tidak blak-blakan seperti Manyoshuu, yaitu memakai dugaan dan pertanyaan sehingga
lebih rumit.

Pembagian jaman Kokinshuu sebagai berikut:

¡ Nama penyair tdk diketahui

÷ Peralihan dari Manyoshuu ke Kokinshuu

¡ Jaman 6 penyair (Rokkasen)

÷ Ariwara no Narihara, Soojoo Henjoo, Ono no Komachi, Ootomo no Kuronushi, Funya


no Yasuhide, Kisen Hooshi

¡ Jaman 4 penyair

÷ Ki no Tsurayuki, Ooshikouchi no Mitsune, Tomonori, Tadamine

Sedangkan Gosenshuu adalah kumpulan Waka pilihan sesudahKokinshuu pada masa Kaisar
Shirakawa berupa pantun yang bersahut-sahutan atau Zootooka yang memiliki sifat gembira
dan bebas serta permainan kata yang bebas menceritakan tentang kehidupan sehari-hari

secara konkrit. Shuuishuu ( 拾 遺 集 )adalah kritik dan teori membuat Waka,

tiruan Kokinshuuyang tidak memiliki keistimewaan, disusun atas perintah Kaisar Ichijoo .
Penyunting Shuuishuu adalah seorang ahli mengkritik karya secara teoritis, tidak pandai
dalam membuat pantun), Fujiwara Kintoo dan penyair terkenalnya adalah Sone no
Yoshitada dan Izumi Shikibu. Goshuuishuumerupakan observasi terhadap alam dan
pembaharuan Waka yang memiliki ciri observasi alam secara objektif, disusun oleh Fujiwara
Michitoshi atas perintah kaisar Shirakawa, penulis terkenalnya
adalah Toshiyori, Sunzei,Mototoshi, Kaisar Sutoku Senzaishuu adalah pantun baru Waka dan
lanjutan dari Goshuuishuu yang memiliki gaya abstrak penghayatan pembaca atau sering
disebut Yugentai, disusun oleh Fujiwara Shinzei atas perintah mantan Kaisar Shirakawa.
Semua ini yang mendukung Waka berkembang dengan baik.

ゆうさればのべの

あきかぜみにしみて

うずらなくなり

ふかくさのさと

(Sunzei)

Artinya :

Bila senja datang, angin

sejuk musim gugur

berhembus menyentuh

tubuh, bersiul burung

Uzura membisikkan

kesunyian, itulah dusun

Fukakusa

Selanjutnya Kayoo adalah nyanyian yang mengiringi ritual atau upacara tradisional Jepang.
Materi Kayoo berupa binatang, tumbuhan, alam, hasil laut, usaha manusia serta
menggunakan Kasane Kotoba (pengulangan kata), Tsuika (Penggambaran
kontras), Zensoho (Penggambaran puncak suatu keadaan). Selain itu, terdapat juga
pengulangan kata yang sama bunyi (Doon), pengulangan kata-kata yang sama (Doogo),
kalimat yang sama (Doku). Beberapa contoh Kayoo yang ada pada zaman Heian
yaitu Saibara danRyoojin Hissho. Saibara adalah nyanyian dan tarian di istana Jepang yang
berasal dari Cina merupakan Kayoo hiburan sedangkan Ryoojin Hisshomerupakan lagu
rakyat.

Monogatari (物語) mencakup fiksi (Tsukuri Monogatari), cerita pantun (Uta Monogatari),

cerita sejarah (Rekishi Monogatari ) dan legenda (Setsuwa). Pada zaman


Heian, Monogatari dimulai dengan Taketori Monogatari yaitu fiksi legendaris, Ise
Monogatari yaitu cerita pantun yang bersifat realistik yang keduanya saling mempengaruhi
dan saling mengisi. Yang termasuk Tsukuri Monogatari yaitu Taketori
Monogatari dan Utsubo Monogatari.

1) Taketori Monogatari (竹取物語)

Tahun penulisan Monogatari tidak diketahui dengan pasti, namun dalam buku Genji
Monogatari tertulis bahwa Taketori Monogatari adalah perintis munculnya kesusastraan
jenisMonogatari . Taketori Monogatari adalah cerita yang menceritakan seorang anak
perempuan (Kaguya Hime ) yang sangat kecil ditemukan seorang pemotong bambu di sela-
sela rumpun bambu; ia dengan cepat tumbuh menjadi seorang putri yang cantik jelita. Banyak
laki-laki mencoba menarik hatinya; semuanya harus diuji, semuanya gagal; pada akhirnya ia
diambil kembali oleh sukunya, manusia Bulan, yang memenjarakannya di sela-sela rumpun
bambu itu untuk menghukumnya (Beasley,2003).

2) Utsubo Monogatari (うつほ物語)

Utsubo Monogatari dapat dikatakan sebagai lanjutan Taketori Monogatari dengan versi yang
berbeda, yang menceritakan tentang percintaan Atemiya yg diperebutkan oleh beberapa putra
raja. Mirip dengan cerita Kaguya Hime, tapi di akhir cerita menggambarkan kehidupan
bangsawan secara lebih rinci. Dapat dikatakan bahwa Utsubo Monogatari merupakan karya
masa peralihan dari Taketori Monogatari menuju Genji Monogatari.

Selanjutnya, Uta Monogatari adalah cerita yang isinya dibuat lebih menarik dengan
menulis Kotobagaki ( keterengan mengenai keadaan dan situasi ketika sebuah pantun
dibuat).Yang termasuk dalam Uta Monogatari adalah Ise Monogatari dan Yamamoto
Monogatari.

1) Ise Monogatari ( 伊勢物語)

Uta Monogatari yang bersifat realistik. Ise Monogatari adalah buku pertama yang
mempunyai cara pembuatan seperti itu. Ise Monogatari terdiri dari 125 bab. Pada setiap bab
dimulai dengan kata pembukaan mukashi otoko arikeri ( dahulu kala ada seorang laki-laki),
tetapi semuanya menceritakan hubungan percintaan yang penuh suka duka antara pria dan
wanita (“Ise Monogatari”).

2) Yamato Monogatari ( 大和物語)

Aliran yang sama dengan Ise Monogatari namun menceritakan tentang orang-orang terkenal
serta memiliki elemen cerita yang sama dengan cerita pendek dan dongeng rakyat yang
muncul setelahnya.

Kemudian, Rekishi Monogatari ( 歴 史 物 語 ) adalah kisah-kisah sejarah yang termasuk

kategori sastra Jepang. Meskipun bergaya serta bersifat legendaris dan fiksi, pembaca
Jepang sebelum abad kesembilan belas bisa menerimanya dan mau membaca Rekishi
Monogatari. Yang termasuk dalamRekishi Monogatari adalah Eiga
Monogatari, Ookagami dan Imakagami.

1) Eiga Monogatari (栄花物語)

Kisah sejarah dari satu sisi bersifat tradisional, karena merupakan kronik terpusat pada
lingkungan istana terutama kehidupan politiknya. Dalam Eiga Monogatari , kisah-kisah
pendek dijalin dengan kerangka kronologis yang mengisahkan sejarah keluarga Fujiwara dan
keluarga raja, bersama dengan lukisan-lukisan tentang upacra-upacara istana. Lebih
konkritnya,Eiga Monogatari menceritakan tentang kehebatan Midoo Kampaku(Fujiwara
Michinagai) Kisah ini memberi warna dan sentuhan manusiawi dibandingkan dengan kisah-
kisah sejarah resmi. Eiga Monogatari terdiri dari 40 bab dengan
hurug Hiragana(Beasley,2003).

2) Ookagami (大鏡)
Ookagami menceritakan tentang kehebatan yang Fujiwara Michinaga dan Ookagami lebih
baik dari Eiga Monogatari serta menjabarkan peristiwa pada masa pemerintahan Montoku
Tennosampai Goichijoo Tenno. Penutur cerita oleh Ooyake no Yotsugi.

3) Imakagami (今鏡)

Imakagami merupakan lanjutan dari Ookagami yang menjabarkan peristiwa dari


masa Goichijoo Tennno sampaiTakakura Tenno diselingi pantun dan cerita tentang
bangsawan yang penuh romantisme.

4) Ochikubo Monogatari (落窪物語)

Ochikubo Monogatari adalah suatu cerita yang mengisahkan kehidupan seorang anak tiri
yang dianiaya, tetapi akhirnya anak itu memperoleh kebahagiaan. Jalan ceritanya disusun
dengan cermat, penempatan tokoh-tokohnya diatur dengan baiik serta bersifat realistis sampai
akhir cerita.

5) Genji Monogatari (源氏物語)

Genji Monogatari merupakan suatu konsepsi yang menggabungkan sifat romantis, realistis,
dan dramatik dengan memasukkan banyak lirik ke dalamnya. Genji Monogatariterdiri dari 54
bab. Pada bab ke-1 sampai ke-41 berisi tentang kehidupan tokoh utama Hikaru Genji. Bab
ke-42 sampai ke-44 berisi tentang keadaan Hikaru Genji meninggal dan masa pertumbuhan
anaknya Kaoru. Dan babab terakhir yang disebutUjijuujoo berisi kehidupan Kaoru yang
selalu berputus asa dalam hidupnya setelah ia dewasa. Pengarang Genji
Monogatari adalah Murashaki Shikibu, seorang putri istana yang catatan hariannya
diterbitkan juga. Genji Monogatariditulis pada awal abad ke-11.

Setsuwa adalah dongeng yang banyak mengandung ajaran agama Budha dan kebiasaan

masyarakat. Salah satu Setsuwa yang terkenal yaituKonjaku Monogatari ( 今 昔 物

語). Konjaku Monogatari adalah kumpulan dongeng atau cerita yang muncul pada akhir

zaman Heian. Berisikan 1000 buah cerita yang sebagian besar merupakan cerita mengenai
agama Budha dan kebiasaan masyarakat. Cerita agama Budha, kebajikan-kebajikan
kepercayaan, hukum karma dan pemikiran reinkarnasi. Konjaku Monogatarimempunyai
pengaruh besar sekali terhadap kesusastraan yang muncul pada zaman Kamakura.

Judul karya Monogatari lainnya antara lain Sagoromo Monogatari,Hamamatsu Chuunagon


Monogatari, Tokaba Monogatari dan Tsutsumi Chuunagon Monogatari.

Jenis kesusastraan yang selanjutnya akan dibahas yaitu Nikki. Nikkiadalah catatan harian yang
bersifat resmi dan pribadi yang ditulis denganKanbun (ditulis dengan huruf Kanji dan gaya
bahasanya memakai gaya bahasa Cina), tetapi ada juga Nikki yang memiliki nilai sastra
ditulis denganKokubun (gaya bahasa Jepang dengan tulisan Hiragana). Adapun judul
karyaNikki sebagai berikut.

1) Tosa Nikki(土佐日記)

Tosa Nikki adalah catatan harian yang menceritakan tentang perjalanan ditulis oleh Ki no
Tsurayuki pada abad ke-10.

Gambar 2.8 Tosa Nikki

2) Kageroo Nikki(蜻蛉日記)

Kageroo Nikki adalah catatan harian yang menceritakantentang otobiografi


penulisnya yaitu Michitsuna (istri Fujiwara Kaneie).

3) Murasaki Shikibu Nikki (紫式部日記)

Murasaki Shikibu Nikki adalah catatan harian yang menceritakan tentang


kehidupan Murasaki Shikibu.

4) Izumi Shikibu Nikki

Izumi Shikibu Nikki adalah catatan harian tentang kehidupan romantis wanita zaman Heian
yang berbeda status social danditulis dengan sudut pandang orang ketiga.

Dan yang terakhir, akan membahas tentang Zuihitsu (随筆) adalah genre sastra Jepang yang

terdiri dari esai dan ide-ide yang biasanya bereaksi terhadap lingkungan penulis. Salah
satu Zuihitsu terkenal di zaman Heian adalah Makura no Sooshi karya Seishoonagon yang
terdiri dari 300 bab.Bagian-bagiannya antara lain : Monozukushi ; bagian dengan kata-kata
dan kalimat pendek, Itsuwa (anekdote) ; bagian dengan kalimat panjang, Shisen
Byoosha (lukisan alam) ; bagian yang menggambarkan alam.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesusastraan Jepang merupakan kesusastraan yang perkembangannya telah melewati


berbagai zaman dan diklasifikasikan menjadi beberapa periodisasi. Ciri khas itu bisa dilihat
dari bentuk ataupun tema karya sastra yang menggambarkan keadaan sosial budaya
masyarakatnya, contohnya, kesusastraan Jepang zaman Heian bisa dikatakan merupakan
kesusastraan kaum bangsawan. Pada zaman Heian, pengarang dan pembaca kesusastraan
kebanyakan adalah kaum bangsawan dan penghuni istana, para selir, orang-orang yang dekat
dengan pihak istana/bangsawan (pesuruh istana, sarjana, penyanyi, pendeta). Oleh karena itu,
kesusastraan Jepang zaman tersebut banyak yang menceritakan tentang kehidupan
bangsawan atau kehidupan di istana dimana masyarakat umum hanya dapat menikmati
kesenian rakyat.
http://zeeyaahfaisal.blogspot.co.id/2014/12/kesusastraan-zaman-heian.html