Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

ACTIVITY BASED COASTING SYSTEM


Tugas Mata Kuliah AkuntansI Manajemen

Disusun Oleh :
Luh Utami
Endang Sri Midiawati

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS MATARAM
PROGRAM PASCASARJANA
TAHUN AKADEMIK 2016/2017

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah
melimpahkan nikmat, rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis diberikan
kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “ Activity
Based Coasting System”
Makalah ini disusun guna memenuhi kelengkapan tugas mata kuliah
Akuntansi Manajemen. Makalah ini kami susun dengan maksimal dan mendapatkan
bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof. Dr. H. Akram,SE, Msi., CMA selaku Dosen Mata Kuliah Pengantar
Akuntansi, dan
2. Teman-teman Kelas Reguler Magister Akuntansi Akuntansi angkatan 2016
Kami berharap dengan disusunnya makalah ini diharapkan dapat
memberikan informasi dan ilmu pengetahuan kepada pembaca dan berbagai pihak
yang membutuhkan. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran, kritik ataupun
masukan yang membangun demi kesempurnaan pembuatan makalah ini untuk
masa yang akan datang dan lebih bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Mataram , 24 September 2016


Penulis

Kelompok II

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................................i
DAFTAR ISI.................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan Makalah......................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 KONSEP ACTIVITY BASED COASTING

2.1.2 pengertian Activity Based Costing (ABC)...........................................................3


2.1.2 Komponen yang membentuk Activity Based Costing (ABC)..........................7

2.1.3. Tahap- Tahap Penerapan sistem Activity Based Costing (ABC).......................8

2.1.4. Perbedaan sistem biaya tradisional dengan sistem

Activity Based Costing (ABC).........................................................................12

2.2. KELEBIHAN, KELEMAHAN DAN MANFAAT IMPLEMENTASI ACTIVITY


BASED COASTING (ABC) SYSTEM

2.2.1 Kelebihan dan keunggulan sistem Activity Based Costing (ABC)....................15

2.2.2. Kelemahan sistem Activity Based Costing (ABC)............................................17

2.2.3 Manfaat sistem Activity Based Coasting ( ABC ).............................................18

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan............................................................................................................20
B.Saran......................................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................21

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam menghadapi perdagangan bebas dan era persaingan yang ketat,


perusahaan harus memiliki daya saing yang tinggi. Perusahaan yang tidak memiliki
daya saing yang tinggi akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan usanya.
Daya saing yang harus dimiliki oleh perusahaan adalah yang berkaitan dengan
Quality ( kualitas), Cost ( harga), Delivery ( pengiriman) dan Service ( pelayanan).
Perusahaan harus mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang baik, harga
yang rendah, pengiriman yang cepat dan service purna jual yang baik dan
memuaskan.

Untuk dapat mencapai produk yang baik dan sesuai dengan kebutuhan
pelanggan perusahaan harus mampu hanya menghasilkan produk yang sesuai
dengan keinginan pelanggan.Untuk menwujudkan perlu satu filosopi menghilangkan
pemborosan. Selain itu, usaha untuk menghasilkan produk yang bermutu hanya
dapat dicapai bila proses bermutu dapat dicapai. Perbaikan- perbaikan yang dapat
dilakukan penghematan diberbagai bidang hanya dapat dilakukan dalam suatu
proses yang berlangsung terus menerus dan berkesinambungan.

Metode ABC (Activity Based Costing ) merupakan alternatif lain terhadap


metode pembiayaan tradisional atas biaya overhead. Dengan metode pembebanan
biaya yang selama ini dilakukan pada akuntansi biaya tradisional menimbulkan
adanya distorsi biaya yaitu kondisi ketidaksesuaian informasi biaya overhead
dengan keadaan yang sebenarnya. Ini terlihat dalam penggunaan unit related dan
products sustaining related, seperti setup dan inspeksi. Penyebab distorsi lainnya
adalah, adanya perbedaan rasio konsumsi atau jasa yang diberikan oleh
departemen jasa untuk setiap macam produk yang dihasilkan. Akibatnya akan timbul
produk-produk yang pengalokasian biaya overheadnya undercosted atau overcosted
Distorsi semacam ini dapat dihilangkan,dengan mendesain ulang sistem biaya

1
menggunakan pemicu biaya aktual untuk masing – masing aktivitas, sehingga dapat
menentukan biaya dengan tepat ke produk.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana konsep Activity Based Costing?

2. Apa manfaat dan kekurangan dari Activity Based Costing ?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep Activity Based Costing
2. Untuk mengetahui manfaat, kelebihan dan kekurangan dari Activity Based
Costing

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 ACTIVITY BASED COASTING (ABC)

2.1.1 Pengertian Activity Based Costing (ABC)


Pengertian ABC Sistem yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and
Mowen (1999: 321) sebagai berikut :
“Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas
kemudian ke produk.”
Activity Based Costing merupakan metode membebankan biaya aktivitas-
aktivitas berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya, membebankan biaya pada
objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian
aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terkait dengan
proses dan objek biaya.

Beberapa ahli manajemen biaya memberikan defenisi mengenai sistem


biaya Activity-Based Costing sebagai berikut :

1. Wayne J. Morse, James R. Davis dan A. L. Hartgraves

Dalam bukunya Management Accounting (1991) memberikan defenisi


mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai sistem pengalokasian dan
pengalokasian kembali biaya ke objek biaya dengan dasar aktivitas yang
menyebabkan biaya. Sistem ABC ini didasarkan pada pemikiran bahwa
aktivitas penyebab biaya dan biaya aktivitas harus dialokasikan ke objek biaya
dengan dasar aktivitas biaya tersebut dikonsumsikan. Sistem ABC ini
menelusuri biaya ke produk sebagai dasar aktivitas yang digunakan untuk
menghasilkan produk tersebut.

2. Ray H. Garrison

Dalam bukunya Managerial Accounting (1991) memberikan definisi


mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu metode kalkulasi biaya
yang menciptakan suatu kelompok biaya untuk setiap kejadian atau transaksi

3
(aktivitas) dalam suatu organisasi yang berlaku sebagai pemacu biaya.
Biaya overhead kemudian dialokasikan ke produk dan jasa dengan dasar
jumlah dari kejadian atau transaksi produk atau jasa yang dihasilkan tersebut.

3. Douglas T. Hicks

Dalam bukunya Activity-Based Costing for Small and Mid-sized Busines An


Implementation Guide (1992) memberikan defenisi mengenai Activity-Based
Costing (ABC), sebagai merupakan sebagai suatu konsep akuntansi biaya
yang berdasarkan atas pemikiran bahwa produk mengkonsumsi aktivitas dan
aktivitas yang menimbulkan biaya. Dalam sistem biaya ABC ini dirancang
sedemikian rupa sehingga setiap biaya yang tidak dapat dialokasikan secara
langsung kepada produk, dibebankan kepada produk berdasarkan aktivitas
dan biaya dari setiap aktivitas kemudian dibebankan kepada produk
berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas tersebut.

4. L. Gayle Rayburn

Dalam bukunya Cost Accounting-Using Cost Management Approach (1993)


memberikan definisi mengenaiActivity-Based Costing (ABC), sebagai suatu
sistem yang mengakui bahwa pelaksanaan aktivitas menimbulkan konsumsi
sumber daya yang dicatat sebagai biaya, atau dengan kata lain bahwa ABC
tersebut adalah merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang berbasis pada
transaksi. Sistem biaya ABC itu sendiri adalah mengalokasikan biaya ke
transaksi dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan
kemudian mengalokasikan biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai
dengan pemakaian aktivitas setiap produk.

5. Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton

Dalam bukunya Introduction to Management Accounting (1996) memberikan


defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang
merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang memfokuskan pada aktivitas
sebagai objek biaya yang fundamental istem ABC ini menggunakan biaya dari
aktivitas tersebut sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya keobjek biaya
yang lain seperti produk, jasa, atau pelanggan.

4
Konsep tentang ABC System berubah sesuai dengan perkembangan
implementasi ABC System itu sendiri. Pada awal perkembangannya,
ABC System dipakai sebagai alat untuk memperbaiki akurasi perhitungan biaya
produk, namun perkembangannya terkini, ABC System telah berkembang
sedemikian rupa sehingga menjadi ”cara baru dalam menjalankan bisnis”. Tabel 1.
menggambarkan mitos dan realitas tentang ABC System dalam perkembangannya.

MITOS REALITAS

1 ABC Systemmerupakan sistem 1 ABC System merupakan sistem


pencatatan, penggolongan, analisis biaya berbasis aktivitas
peringkasan, penyajian, dan untuk memenuhi kebutuhan
pengintepretasian informasi personel dalam pengambilan
biaya. keputusan, baik yang bersifat
strategik dan maupun operasional

2 ABC Systemmerupakan sistem 2 ABC Systemmerupakan sistem


akuntansi dengan perusahaan informasi biaya yang dapat
manufaktur sebagai modelnya diterapkan dalam semua jenis
organisasi-perusahaan manufaktur,
jasa, dan dagang, serta organisasi
sektor publik dan organisasi nirlaba.

3 ABC Systemberfokus ke biaya 3 ABC System mencakup seluruh


produksi biaya. Dalam perusahaan
manufaktur,
ABC System mencakup biaya
desain dan pengembangan, biaya
produksi, biaya dukungan intern,
biaya pemasaran, biaya distribusi,
biaya layanan purna jual.

4 ABC Systemberfokus ke 4 ABC System berfokus ke long-term


perhitungan biaya produk strategic cost reduction
dan cost control

5 ABC Systemdapat 5 ABC System hanya akan optimum

5
diselenggarakan secara hasilnya jika diselesaikan dengan
manual teknologi infornasi.

6 ABC Systemmerupakan 6 ABC System mengubah cara


tanggung jawab fungsi menjalankan bisnis, oleh karena itu
akuntansi ABC System menjadi tanggung
jawab semua personel,
terutamaoperating personel

Menurut Munawir (2002:354-355) Activity Based Costing ( ABC) system


adalah sistem informasi biaya yang mempunyai atau dilandasi empat karakteristik
sebagai berikut:

a) Costumer-Value, dalam arti bahwa sisten ABC difokuskan untuk menyediakan


value yang terbaik bagi pelanggan melalui proses bisnis berbasis pada aktivitas
biaya.
b) Continous improvement, sebagai sitem informasi biaya yang dapat memotivasi
personal dalam melakukan pengembangan secara berkelanjutan terhadap
proses yang digunakan oleh perusahaan dalam menghasilkan value bagi
pelanggan.
c) Cross- Functional, sebagai suatu sistem yang difokuskan untuk mendorong
adanya kketerpaduan fungsi-fungsi yanga da dalam memenuhi kebutuhan
pelanggan
d) Employee empowerment, adalah sistem informasi biaya yang dapat
memberdayakan karywan untuk melakukan keputusan atas p[ekerjaan yang
menjadi tanggung jawabnya.

Activity Based Costing (ABC) merupakan salah satu metode kontemporer


yang diperlukan manajemen modern untuk meningkatkan kualitas dan output,
menghilangkan waktu aktivitas yang tidak menambah nilai, mengefisienkan biaya
dan meningkatkan kontrol . Dalam ABC, harus dilakukan penelitian aktivitas apa saja
yang dilakukan untuk memproduksi produk. Ketelitian penemuan aktivitas akan
menyebabkan ketelitian perhitungan harga pokok produk. Dasar pemikiran
pendekatan penentuan biaya ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan
dilakukan oleh aktivitas dan aktivitas yang dibutuhkan tersebut menggunakan

6
sumber daya yang menyebabkan timbulnya biaya. Sumber daya dibebankan ke
aktivitas, kemudian aktivitas dibebankan ke objek biaya berdasarkan
penggunaannya. Jika dikaitkan dengan penentuan harga pokok per unit, maka
dengan metode ABC akan dihasilkan perhitungan yang lebih akurat, karena metode
ini dapat mengidentifikasi secara teliti aktivitas- aktivitas yang dilakukan oleh
manusia, mesin dan peralatan dalam menghasilkan produk barang atau jasa.

2.1.2. Komponen yang membentuk Activity Based Costing (ABC)

Menurut Bastian Bustami & Nurlaela 2009:25-26 Komponen utama yang


membentuk Activity Based costing (ABC ) ada lima komponen utama yang perlu
diperhatikan yaitu :

1. Sumber daya ( Resources ), adalah segala unit ekonomi yang digunakan


perusahaan untuk mengadakan aktivitas, seperti bahan baku, tenaga kerja,
perlengkapan yang digunakan dan faktor produksi lainnya.
2. Pemicu konsumsi sumber daya ( Resources Driver), dasar yang digunakan
untuk melacak sumber daya yang digunakan dalam setiap aktivitas. Atau
ukuran kuantitas dari sumber daya yang dikonsumsi oleh suatu aktivitas ,
contoh luas ruangan yang disewa untuk setiap aktivitas, jumlah orang yang
terlibat untuk setiap aktivitas, jumlah jam kerja yang dihabiskan untuk setiap
aktivitas.
3. Aktivitas ( Activity ), suatu unit dasar pekerjaan yang dilakukan oleh
perusahaan dengan tujuan membantu perencanaan, pengendalian dan
pengambilan keputusan bagi manajemen. Jumlah biaya aktivitas ditentukan
dengan melacak sumber daya yang dipakai oleh aktivitas dengan pemicu
konsumsi sumber daya. Aktivitas sangat dibutuhkan untuk membebankan
biaya ke obyek biaya, dikenal dengan aktivitas biaya yang dihubungkan
dengan faktor pemicu biaya ( cost driver).
4. Pemicu Aktivitas ( Activity driver ), suatu ukuran frekwensi dan intensitas dari
permintaan akan suatu aktivitas oleh suatu produk atau jasa layanan. Pemicu
aktivitas ini sama seperti pemicu sumber daya guna melacak biaya aktivitas
ke objek biaya, yang dipakai untuk membebankan biaya ke produk atau jasa
layanan.

7
5. Objek Biaya ( Cost Objects), adalah tempat biaya dimana biaya atau aktivitas
diakumulasikan atau diukur, objek ini biasanya digunakan untuk menelusuri
biaya dan menentukan seberapa obyektif biaya tersebut dapat digunakan.
Obyek biaya dapat berupa pelanggan, produk, jasa layanan, kontrak, proyek,
atau unit kerja lain yang memerlukan pengukuran biaya tersendiri.

2.1.3. Tahap- Tahap Penerapan sistem Activity Based Costing (ABC)

Tahap-tahap dalam Penerapan Sistem ABC menurut Hansen Mowen (2000 :


123-126) tahap perancangan ABC dibagi dalam tiga tahap yaitu :

1. Tahap I

Mengidentifikasikan Biaya Sumber Daya dan Aktivitas

Tahap utama dan pertama dalam menerapkan Activity Based Costing (ABC)
adalah mengidentifikasikan aktivitas yang menjadi dasar dalam sistem
tersebut.Tahapan ini mungkin agak sulit dilakukan, karena memakan waktu dan
membutuhkan pertimbangan yang sukup rumit. Prosedur umum yang dilakukan
pada tahap ini, dengan melakukan wawancara terhadap semua orang yang terlibat
atau setingkat supervisi atau semua manajer yang menimbulkan overhead dan
meminta mereka untuk menggambarkan aktivitas utama yang mereka lakukan,
biasanya akan diperoleh catatan aktivitas yang cukup beragam dan rumit.

Analisis aktivitas meliputi pengumpulan data dari dokumen dan catatan yang
ada, dan penelitian/survei dengan menggunakan daftar pertanyaan, observasi, dan
wawancara secara terus-menerus terhadap orang-orang kunci. Anggota tim proyek
ABC biasanya menanyakan hal-hal ini kepada karyawan atau manajer kunci :

a. Apa pekerjaan/aktivitas yang Anda lakukan?

b. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut?

c. Apa sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas tersebut?

d. Nilai apa yang dimiliki oleh aktivitas tersebut bagi perusahaa

8
Di dalam sistem absorbsi biaya yang tradisional, biaya yang belum terpakai
atau idle, kapasitas dibebani utnuk produk. Jika tingkat aktivitas budget menurun,
maka tingkat overhead dan biaya produk per unit akan meningkat karena
meningkatnya kapasitas yang menganggur merata ke semua basis yang lebih kecil.
Sebaliknya, di dalam sistem ABC, produk hanya dibebani biaya-biaya sebesar
kapasitas yang digunakan, dan bukan dibebankan kepada kapasitas yang tidak
digunakan.

Sistem pembebanan biaya secara tradisional mengandalkan basis alokasi yang


dikendalikan oleh volume produksi. Sebaliknya, sistem ABC mendefinisikan kedalam
5(lima) aktivitas yang sebagian besar tidak berkaitan dengan volume unit yang
dihasilkan. Kelima aktivitas tersebut adalah :

Lima tingkatan aktivitas dalam Activity Based Coasting (ABC) antara lain :

1. Aktivitas tingkat unit

Dilakukan oleh setiap unit produksi. Biaya aktivitas unit bersifat proporsional
dengan jumlah unit yang diproduksi, contoh: Contoh aktivitas berlevel unit
(berdasarkan volume atau unit) adalah pemakaian bahan, pemakaian jam kerja
langsung, memasukkan komponen, inspeksi setiap unit, dan aktivitas
menjalankan mesin,biaya pekerja untuk operator peralatan produksi, ini menjadi
aktivitas tingkat unit, karena pekerja tersebut cenderung dikonsumsi secara
proporsional dengan jumlah unit produksi.

2. Aktivitas tingkat Batch

Dilakukan setiap batch yang diproses, tanpa memperhatikan jumlah unit yang
terdapat dalam batch tersebut, contoh: membuat pesana pelanggan, penataan
peralatan, pengaturan pengiriman pesanan pelanggan, setup, mesin, pembelian,
penjadwalan produksi, inspeksi untuk setiap batch dan penanganan bahan. Ini
merupakan aktivitas tingkat batch. Biaya tingkat batch lebih tergantung pada
jumlah batch yang dihasilkan, bukan pada jumlah unit yang diproduksi, jumlah
unit yang dijual atau ukuran lainnya.

9
3. Aktivitas tingkat produk

Aktivitas ini berkaitan dengan produk yang spesifik dan umumnya dikerjakan
tanpa memperhatikan berapapun unit yang diproduksi atau berapapun batch
yang dihasilkan atau dijual, contoh: biaya peracangan produk, biaya untu
mengiklankan produk, merancang produk, administrasi suku cadang, penerbitan
formulir pesanan untuk mengubah teknik rekayasa dan ekspedisi, biaya gaji staf
dan manajer produksi.

4. Aktivitas tingkat pelanggan


Aktivitas ini berkaitan dengan pelanggan yang spesifik meliputu aktivitas
menelepon pelanggan dalam rangka penjualan, pengiriman katalog, dukungan
teknis purna jual yang untuk semua produk.
5. Aktivitas pemeliharaan organisasi
Aktivitas ini dilakukan tanpa memperhatikan produk apa yang diproduksi, berapa
unit yang dibuat, berapa batch yang dihasilkan dan pelanggan mana yang
dilayani, contoh: Aktivitas kebersihan kantor, pengadaan jaringan komputer,
pengaturan pinjaman dan penyusunan laporan keuangan untuk internal maupun
eksternal
Penggabungan aktivitas dalam Activity Based Coasting ( ABC), setiap
aktivitas harus dikelompokkan dalam tingkatan yang sesuai, dengan
memperhatikan aktivitas-aktivitas yang mempunyai korelasi yang tinggi dalam satu
tingkat, contoh: jumlah pesana pelanggan yang diterima akan memiliki korelasi
yang tinggi dengan jumlah pengiriman berdasarkan pesanan pelanggan, sehingga
kedua aktivitas tingkat batch ini dapat digabung, tanpa mengurangi keakuratannya.
Gabungan dari biaya overhead yang berhubungan dengan aktivitas yang sama
dikenal dengan cost pool, yang akan digunakan untuk menghitung tarif
pembebanan kesetiap aktivitas.

2. Tahap II

Menelusuri biaya overhead secara langsung ke aktivitas dan objek biaya

Tahap kedua dalam menerapkan Activity Based Costing (ABC) adalah sejauh
mungkin menelusuri biaya overhead secara langsung ke objek biaya, yang

10
menyebabkan timbulnya biaya, kemudian menentukan pemicu biayanya, seperti
produk, pesanan pelanggan, dan pelanggan

3. Tahap III

Membebankan biaya ke biaya pool aktivitas

Pada umumnya biaya overhead diklasfikasikan dalam sistem akuntansi perusahaan


berdasarkan departemen atau divisi, dimana biaya tersebut terjadi. Tetapi pada
beberapa kasus ada beberapa atau semua biaya bisa ditelusuri langsung ke pool
biaya aktivitas, seperti pemrosesan pesanan, dimana semua departemen pembelian
dapat ditelusuri ke aktivitas ini. Dalam Activity Based Costing (ABC) sangat umum
ovehead terkait dengan beberapa aktivitas. Untuk kondisi seperti tersebut, biaya
departemen dapat dibagi menjadi beberapa kelompok/pool aktivitas., dengan
menggunakan proses alokasi tahap pertama, yaitu membebankan biaya overheadke
pool biaya aktivitas.

4. Tahap IV

Menghitung tarif aktivitas

Aktivitas yang digunakan untuk pembebanan biaya overhead ke produk


dihitung dengan menentukan total aktivitas sesungguhnya yang diperlukan untuk
memproduksi bauran produk dan untuk melayani pelanggan yang saat ini. Kemudian
menentukan tarif aktivitas dengan membagi totat biaya pool aktivitasmasing –
masing aktivitas dengan total pemicu aktivitas

Tarif Pembebanan/pool rate = Total Biaya Pool Aktivitas

Total pemicu aktivitas

11
5. Tahap V
Membebankan biaya ke objek biaya dengan menggunakan tarif aktivitas dan
ukuran aktivitas.
Langkah berikut dalam penerapan Activity Based coasting (ABC) yaitu tarif
aktivitas diginakan untuk membebankan biaya ke produk atau pelanggan,
dengan cara mengalikan tarif pool aktivitas dengan ukuran aktivitas yang
dikonsumsi masing- masing produk atau jasa layanan.

Pembebanan = Pool rate X Jumlah aktivitas yang dikonsumsi

6. Tahap VI
Menyiapkan laporan untuk manajemen
Tahap ini adalah tahap pelaporan yang disusun, Dengan menggabungkan
bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead yang keproduk
atau jasa layanan berdasarkan aktivitas. Kemudian menghitung marjin produk
atau jasa, melalui laporan hasil penjualan dikurangi dengan biaya biaya yang
dibutuhkan manajemen sebagai dasar pengambilan keputusan.

2.1.4. Perbedaan sistem biaya tradisional dengan sistem Activity Based


Costing (ABC)

Beberapa perbandingan antara sistem biaya tradisional dan sistem biaya Activity-
Based Costing (ABC) yang dikemukakan oleh Amin Widjaya dalam bukunya
“Activity-Based Costing untuk manufakturing dan pemasaran”, adalah sebagai
berikut:

1. Sistem biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost


driver) untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari setiap
produk. Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan
biaya overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang
non representatif.

12
2. Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem
biaya tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti
laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan
profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.

3. Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem
biaya ABC memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini
mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu
pandangan fungsional silang mengenai organisasi.

4. Sistem biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis
varian dari pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan
pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat
menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya
aktual apabila kebutuhan muncul.

5. Pada sistem biaya tradisional penentuan tarif suatu produk berdasar aktivitas
level unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sedangkan
pada ABC System pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas berlevel
unit maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat karena ditelusuri
ke masing-masing produk.

Sistem biaya tradisional mengutamakan satu atau dua pemacu biaya yang berbasis
unit sebagai pembeban biaya sehingga menciptakan biaya produk yang terdistorsi.
Distorsi yang terjadi berupa subsidi silang (cross subsidy) antar produk, satu produk
mengalami kelebihan biaya (overcosting) dan produk lainnya mengalami kekurangan
biaya (undercosting). Tingkat distorsi yang terjadi tergantung pada proporsi
biaya overhead terhadap biaya produksi total. Semakin besar proporsinya, semakin
besar distorsi yang terjadi demikian juga sebaliknya. Hal inilah yang melandasi
dikembangkannya sistem biaya Activity-Based Costing.

Perkembangan aktivitas berdasarkan pembiayaan (ABC system) pada awalnya


didasari oleh adanya perbaikan kecermatan dalam perhitungan biaya produk dalam
perusahaa manufaktur yang pada umumnya menghasilkan banyak produk.
Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan pada umumnya adalah bagaimana

13
menghasilkan banyak jenis produk dengan membebankan biaya overhead pabrik ke
produk-produk tersebut. Dalam aplikasi akuntansi biaya tradisional, konsep volume-
related drivers digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik ke pabrik,
sehingga beban biaya produk yang dihasilkan dari cara pembebanan ini menjadi
tidak akurat. Pada sistem ABC menawarkan dasar pembebanan yang lebih
bervariasi, seperti batch-related drivers, product sustaining drivers dan facility
sustaining drivers untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada berbagai jenis
produk yan dihasilkan oleh perusahaan . Dengan berbagai drivers yang sesuai
dengan jenis produk yang dihasilkan maka akuntansi biaya dapat menghasilkan
informasi beban biaya produk yang akurat, sehingga hal ini akan memudahkan pihak
manajemen dalam proses pengambilan keputusan tentang harga jual dan dalam
melakukan analisis profitabilitas setiap jenis produk.

Pada perkembangan selanjutnya, ABC system tidak lagi terbatas pemanfaatannya


hanya untuk menghasilkan informasi beban biaya produk yang akurat. ABC sistem
pada saat ini merupakan konsep yang didefinisikan secara luas sebagai sistem
informasi untuk memotivasi individu dalam melakukan improvement terhadap proses
yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk/jasa bagi customer.
ABC sistem dimanfaatkan untuk mengatasi kelemahan akuntansi baiaya tradisional
yang didesain khusus untuk perusahaan manufaktur. Semua jenis perusahaan
(manufaktur, jasa, dagang) dan organisasi (sektor publik dan nirlaba) sekarang
dapat memanfaatkan ABC system sebagai sistem akuntansi biaya, baik untuk tujuan
pengurangan biaya (cost reduction) maupun untuk perhitungan secara akurat beban
biaya fitur produk/jasa. Jika pada tahap awal perkembanannya,ABC system hanya
difokuskan pada biaya overhead pabrik, sedangkan pada tahap perkembangan
selanjutnya, ABC system diterapkan ke semua biaya, mulai dari biaya desain, biaya
produksi, biaya penjualan, biaya pasca jual, sampai biaya administrasi dan umum.
ABC sistem menggunakan aktivitas sebagai titik pusat (focal point) untuk
mempertanggungjawabkan biaya. Oleh karena aktivitas tidak hanya dijumpai di
perusahaan manufaktur, dan tidak terbatas di tahap produksi, maka ABC
system dapat dimanfaatkan di berbagai jenis organisasi dan mencakup biaya di luar
produksi.

Activity-Based Costing (ABC) telah dikembangkan pada organisasi sebagai suatu


solusi untuk masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh

14
sistem biaya tradisional. Sistem ABC merupakan suatu sistem yang baru sehingga
konsepnya masih dan terus berkembang, sehingga ada berbagai definisi yang
menjelaskan tentang sistem biaya ABC itu sendiri.

Meskipun secara teoritis dapat diketahui bahwa ABC System memberikan banyak
manfaat bagi perusahaan, namun tidak semua perusahaan dapat menerapkan
sistem ini. Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi oleh perusahan yang akan
menerapkan ABC System, yaitu :

1. Biaya-biaya berdasar non-unit harus merupakan persentase signifikan dari


biaya overhead. Jika biaya-biaya ini jumlahnya kecil, maka sama sekali tidak
ada masalah dalam pengalokasiannya pada tiap produk.

2. Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas-


aktivitas berdasar unit dan aktivitas-aktivitas berdasar non-unit harus berbeda.
Jika berbagai produk menggunakan semua aktivitas overheaddengan rasio
kira-kira sama, maka tidak ada masalah jika cost driver berdasar unit
digunakan untuk mengalokasikan semua biaya overhead pada setiap produk.
Jika berbagai produk rasio konsumsinya sama, maka sistem konvensional
atau ABC System membebankan overhead pabrik dalam jumlah yang sama.
Jadi perusahaan yang produknya homogen (diversifikasi produknya rendah)
dapat menggunakan sistem konvensional tanpa ada masalah.

2.2 KELEBIHAN, KELEMAHAN DAN MANFAAT IMPLEMENTASI ACTIVITY


BASED COASTING (ABC) SYSTEM

2.2.1 Kelebihan dan keunggulan sistem Activity Based Costing (ABC)

Sistem ABC telah luas diterapkan karena beberapa kelebihan, yaitu ;

1. Memudahkan manajemen untuk mendapatkan informasi product cost-


assignment secara akurat.

2. Membantu manajemen untuk menelusuri dan mengidentifikasi cost-driver ke


dalam Pool Activity.

3. Mempermudah aktivitas perencanaan dan pengendalian overhead cost


dengan adanya “Pooling-Cost Activity”.

4. ABC memberikan peluang untuk melakukan desain “cost-reduction activity”


terhadap produk yang akan diproduksi.

15
5. Meningkatkan kemampuan manajemen dalam menyusun cashflow
perusahaan dengan memisahkan biaya ke dalam Cost Pooling Activity.

Activity Based Costing System timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen
akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam
berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk. Kebutuhan akan informasi biaya yang
akurat tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Persaingan global (Global Competition) yang dihadapi perusahaan manufaktur


memaksa manajemen untuk mencari berbagai alternatif pembuatan produk
yang cost effective.

2. Penggunaan teknologi maju dalam pembuatan produk menyebabkan proporsi


biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi dominan.

3. Untuk dapat memenangkan persaingan dalam kompetisi global, perusahaan


manufaktur harus menerapkanmarket–driven strategy.

4. Market–driven strategy menuntut manajemen untuk inovatif.

5. Pemanfaatan teknologi komputer dalam pengolahan data akuntansi


memungkinkan dilakukannya pengolahan berbagai informasi biaya yang
sangat bermanfaat dengan cukup akurat.

Beberapa keunggulan dari sistem biaya Activity Based Costing (ABC) dalam
penentuan biaya produksi adalah sebagai berikut :

a. Biaya produk yang lebih realistis, khususnya pada industri manufaktur


teknologi tinggi dimana biaya overhead adalah merupakan proporsi yang
signifikan dari total biaya.

b. Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Dalam pabrik yang


modem, terdapat sejumlah aktivitas non lantai pabrik yang berkembang.
Analisis sistem biaya ABC itu sendiri memberi perhatian pada semua aktivitas
sehingga biaya aktivitas yang non lantai pabrik dapat ditelusuri.

c. Sistem biaya ABC mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan biaya


(activities cause cost) bukanlah produk, dan produklah yang mengkonsumsi
aktivitas.

d. Sistem biaya ABC memfokuskan perhatian pada sifat riil dari perilaku biaya
dan membantu dalam mengurangi biaya dan mengidentifikasi aktivitas yang
tidak menambah nilai terhadap produk.

e. Sistem biaya ABC mengakui kompleksitas dari diversitas produksi yang


modem dengan menggunakan banyak pemacu biaya (multiple cost drivers),

16
banyak dari pemacu biaya tersebut adalah berbasis transaksi (transaction-
based) dari pada berbasis volume produk.

f. Sistem biaya ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan dari
biaya produk variabel jangka panjang (long run variabel product cost) yang
relevan terhadap pengambilan keputusan yang strategik.

g. Sistem biaya ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses,


pelanggan, area tanggungjawab manajerial, dan juga biaya produk.

Suatu temuan yang konsisten dari buku akuntansi biaya tradisional adalah
ketidaktepatan dalam menggunakan informasi biaya untuk menjalankan suatu pabrik
manufakturing. Hal ini berbeda dengan sistem biaya ABC yang memberikan
informasi biaya yang lebih akurat. Sistem biaya ABC menelusuri biaya produksi tidak
langsung ke unit, batch, lintasan produk, dan seluruh fasilitas berdasarkan aktivitas
tiap level. Metode penentuan biaya ini menghasilkan biaya akhir produk yang lebih
akurat dan lebih realistis.

2.2.2. Kelemahan sistem ABC

Disamping terdapat kelebihan ABC juga memiliki beberapa kelemahan yang pada
umumnya cenderung dihadapi manajemen, yaitu :

1) Penerapan Activity Based Coasting cenderung lebih mahal.


Dibandingkan dengan sistem biaya tradisional, yang hanya membebankan biaya
cukup satu pemicu biaya, seperti jam kerja langsung. Dalam Activity Based
Coasting membutuhkan berbagai ukuran aktivitas yang harus dikumpulkan,
diperiksa dan dimasukkan dalam sistem, mungkin kurang sebanding tingkat
keakuratatan yang didapat dengan biaya tinggi yang dikeluarkan.
2) Suiitnya merubah pola kebiasaan manajer
Merubah pola kebiasaan manajer membutuhkan waktu penyesuaian, karena
para manajer sudah terbiasa menggunakan sistem biaya tradisional dalam
operasinya dan juga digunakan sebagai evaluasi kinerja, maka dengan
perubahan pola inikadangkala mendapat perlawanan dari para karyawan. Kalau
hal itu terjadi maka penerapan Activity Based Coasting akan mengalami
kegagalan.

17
3) Mudahnya data Activity Based Coasting disalah artikan dan digunakan secara
hati- hati, ketika penga,mbilan keputusan. Biaya yang akan dibebankan ke
produk, pelanggan dan obyek lainnya hanya dilakukan bilamana secara
potensial relevan. Sebelum mengambil keputusan yang signifikan dengan
menggunakan Activity Based Coasting, para pengambil keputusan harus dapat
mengidentifikasikan biaya mana yang betul betul relevan dengan keputusan saat
itu.
4) Bentuk laporan kurang sesuai.
Umumnya laporan yang disusun dengan menggunakan Activity Based Coasting
tidak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Konsekuensi
perusahaan yang menerapkan Activity Based Coasting, harus menyusun
laporan biaya yang berlainan satu untuk internal dan satu lagi untuk pelaporan
external, hal itu membutuhkan waktu biaya tambahan.

2.2.3 Manfaat sistem Activity Based Coasting ( ABC )

Para manajemen puncak akan setuju untuk menerapkan suatu sistem yang
baru dilingkungan organisasi mereka, jika mereka percaya bahwa mereka
akan memperoleh manfaat lebih, jika dibandingkan dengan sitem yang lama.
Manfaat yang diperoleh dalam penerapan Activity Based Coasting ( ABC ),
antara lain:
1) Memberi kemudahan dalam pengambilan keputusan
Activity Based Coasting (ABC) menyediakan informasi biaya yang
berhubungan dengan berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk atauu
jasa layanan, bagi manajemen akan memperoleh kemudahan dalam
mendapat informasi yang relevan dalam pengambilan keputusanyang
akan diambil dalam aktivitas perusahaan secara menyeluruh. Contoh:
Jika manajemen mempertimbangkan untuk melakukan perbaikan fasilitas
produk atau jasa layanan, Activity Based Coasting (ABC) akan cepat
menyediakan informasi biaya yang berhubungandengan aktivitas batch,
sehingga memungkinkan manajemen mempertimbangkan akibat atau
dampak keputusan yang diambil terhadap konsumsi sumber daya yang
ada dalam perusahaan.
2) Memperbaiki kualitas pengambilan keputusan

18
Para manajemen puncak yang telah menerapkan Activity Based
Coasting ( ABC), percaya bahwa semakin akurat perhitungan biaya atau
layanan yang digunakan Activity Based Coasting ( ABC ), akan
mengurangi kemungkinan kesalahan dalam pengambilan keputusan.
3) Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan secara terus- menerus.
Banyak perusahaan berusaha untuk mengurangi biaya, guna
menawarkan produk atau jasa yang beranekaragam yang diinginkan oleh
pelanggan. Tetapi untuk menghasilkan produk atau jasa layanan yang
beraneka akan meningkatkan biaya. Dengan menggunakan Activity
Based Coasting (ABC), biaya yang dikeluarkan akan terlihat dengan jelas
pada setiap aktivitas, dimana biaya yang tidak mempunyai nilai tambah
bagi pelanggan akan dieliminasi lebih cepat.

19
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Activity based costing merupakan pendekatan yang dilakukan untuk penentuan


harga pokok produk yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok produk
secara cermat dengan mengukur secara cermat konsumsi sumber daya dalam
setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk. Pada sistem ini biaya-
biaya yang timbul dicatat, dikumpulkan, dan dikendalikan berdasar atas elemen-
elemennya ke dalam pusat-pusat pertanggungjawaban. Dengan cara semacam ini
maka biaya-biaya produksi juga ditentukan menurut banyaknya sumber daya yang
diserap oleh masing-masing pusat biaya.

ABC system adalah system analisis biaya, system informasi biaya untuk segala
macam organisasi, system mencakup seluruh biaya, system berfokus ke
pengurangan biaya, dan system menyediakan informasi bagi seluruh personil
organisasi.

20
DAFTAR PUSTAKA

Bustami Bastian & Nurlela. 2009. Akuntansi Biaya Melalui Pendekatan Manajerial,
Jakarta: Mitra Wacana Media

Eti Rochaety dan Ratih Tresnati. 2005 Kamus Istilah Ekonomi, Jakarta: PT Bumi
Aksara.

Hansen & Mowen. 2006. Management Accounting, Jakarta: Salemba Empat, Buku
Satu

Krisna Warindrani Armila, 2006. Akuntansi Manajemen, Yogyakarta: Graha Ilmu


Edisi Pertama

Kusnadi dkk. 2001. Akuntansi Manajemen (Komprehensif, Tradisional dan


Kontemporer),Malang: Universitas Brawijaya

Mulyadi,2001.Akuntansi Manajemen, Edisi Ketiga, Jakarta : Salemba Empat

Munawir, 2002. Akuntansi Keuangan dan Manajemen, BP FE Yogyakarta, Edisi


Pertama

http://d-ekatnadi.blogspot.com/2010/11/makalah-paper-activity-based-costing.html

21