Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latarbelakang Masalah
Islam mulai menurun di penghujung abad XVII Masehi. Titik awal penurunan itu dimulai
dari kekalahan-kekalahan yang diderita oleh angkatan perang Turki dalam pertempuran-
pertempuran dengan kekuatan-kekuatan bangsa Eropa. Mesir sebagai salah satu daerah
kekuasaan Turki tidak terlepas dari gangguan bangsa Eropa. Tahun 1798 M, Mesir yang
merupakan pusat kebudayaan Islam terbesar saat itu jatuh ketangan Perancis.[1]
Salah satu faktor penyebab kekalahan dan kemunduran Islam pada masa itu, dikarenakan
terlenanya umat Islam akan kejayaan Islam pada masa lalu dan banyaknya umat Islam yang
disibukkan dengan masalah-masalah agama tanpa ingin mempelajari dan ingin membahas lebih
dalam masalah pendidikan. Inilah yang menyebabkan tertutupnya pintu Ijtihad, dikarenakan
umat Islam banyak yang bersifat taqlik dan banyaknya perselisihan antar mazhab. Tidak hanya
itu, banyak para pemimpin yang tidak memperhatikan kesejahteraan rakyatnya karena para
pemimpin banyak yang menyalahgunakan kekuasaannya untuk kesenangan pribadinya.
Dari berbagai masalah-masalah yang terjadi, pemuka Islam mulai memikirkan cara untuk
mengatasi hal tersebut. Dengan cara menimbulkan ide-ide yang dapat membawa pembaharuan
dikalangan umat Islam. Salah satu pemuka Islam yang resah terhadap kemunduran Islam pada
masa itu adalah Rasyid Ridha. Rasyid Ridha ingin mengadakan pembaharuan disegala bidang.
Rasyid Ridha melihat umat Islam banyak mengikuti peradaban Barat dan banyak meninggalkan
nilai-nilai keIslaman serta banyak umat Islam yang terpecah belah oleh perebutan kekuasaan.

B. Fokus Kajian
Berdasarkan latarbelakang masalah yang telah penulis paparkan, maka yang menjadi
fokus kajian dalam makalah ini adalah:
1. Apa ide pemikiran dan pembaharuan Rasyid Ridha dalam aspek pendidikan, agama, hukum dan
politik?
2. Apa kontribusi yang diberikan oleh Rasyid Ridha bagi umat Islam?
BAB II
PROFIL

A. Riwayat Hidup Rasyid Ridha


Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun
1282-1354 H/1865-1935 M. Dia adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn
Muhammad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Keluarganya dari keturunan yang terhormat berhijrah dari
Baghdad dan menetap di Qalmun. Kelahirannya tepat pada 27 Jumad al-Tsanil tahun 1282 H/ 18 Oktober
tahun 1865 M.[2]
B. Pendidikan dan Karya Tulis Rasyid Ridha
Pendidikannya diawali dengan membaca al-Qur’an, menulis dan berhitung di
kampungnya, Qalamun, Suriah. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Muhammad Rasyid Ridha
lebih senang menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain. Sejak
kecil ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu
pengetahuan.[3] Setelah lancar membaca dan menulis, Muhammad Rasyid Ridha masuk ke
Madrasah ar-Rasyidiyah, yaitu sekolah milik pemerintah di kota Tripoli. Di sekolah itu ia belajar
ilmu bumi, ilmu berhitung, ilmu bahasa, seperti nahu dan saraf (ilmu tata bahasa Arab), dan
ilmu-ilmu agama, seperti akidah dan ibadah. Hanya setahun ia belajar di sini, karena ternyata
sekolah itu khusus diperuntukkan bagi mereka yang ingin menjadi pegawai pemerintah,
sedangkan ia tidak berminat mengabdi untuk pemerintah.
Ketika berumur 18 tahun, ia kembali melanjutkan studinya dan sekolah yang dipilihnya
adalah Madrasah al-Wataniyyah al-Islamiyyah[4] yang didirikan Syekh Husain al-Jisr.
Dibandingkan dengan Madrasah ar-Rasyidiyah, madrasah ini jauh lebih maju, baik dalam sistem
pengajaran maupun materi yang diajarkan. Di sini ia belajar mantik, matematika, dan filsafat, di
samping juga ilmu-ilmu agama. Gurunya, Syekh Husain al-Jisr, dikenal sebagai seorang yang
banyak berjasa dalam menumbuhkan semangat ilmiah dan ide pembaharuan dalam diri Rasyid
Ridha kelak. Di antara pikiran-pikiran gurunya yang sangat mempengaruhi ide pembaharuan
Rasyid Ridha adalah bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk mencapai
kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan menggunakan
metode Eropa. Syekh Husain al-Jisr berpendapat demikian karena sekolah-sekolah yang
didirikan bangsa Eropa dan Amerika di Suriah saat itu banyak diminati anak-anak pribumi.
Keadaan ini justru mengkhawatirkan al-Jisr karena di sekolah-sekolah itu tidak disajikan materi
pelajaran agama.[5]
Pada usia dua puluh delapan tahun, tepatnya tahun 1310 H/ 1892, terjadi revolusi besar
dalam pemikirannya yang mengubah secara drastis pemahamannya terhadap Islam. Ini bermula
ketika Rasyid Ridha menemukan beberapa edisi koranal-‘Urwatul Wutsq, yang concern dalam
upaya mengobarkan spirit modernisasi pemikiran serta revivalisasi peradaban umat Islam yang
tengah tiarap. Koran yang merupakan corong pemikiran Jamaluddin al-Afghani (1254 H/ 1839—
1314 H/1897) dan Muhammad Abduh (1266 H/ 1848-1323 H/1905) ini ditemukan secara tidak
sengaja oleh Rasyid Ridha di sela-sela koleksi buku ayahnya.
Tulisan-tulisan kedua tokoh ini membuatnya tersadar bahwa Islam tidak hanya agama
rohani yang berkutat pada dimensi batin manusia, namun merupakan agama yang
menyeimbangkan antara aspek duniawi dan ukhrawi, rasional dan sangat concernpada
pengembangan peradaban umatnya. Islam juga merupakan agama yang diturunkan untuk
membawa kesejahteraan dalam kehidupan duniawi manusia serta mempersiapkannya menjadi
khalifah Allah swt. yang bertanggung jawab mewujudkan kemakmuran, keadilan, dan
kesejahteraan bagi seluruh umat manusia.[6]
Rida merupakan penulis yang prolifik, yang telah menghasilkan karya-karya besar dalam

pemikiran tafsir, hadith, politik, dakwah, kalam, perbandingan agama, fiqh dan fatwa. Antara

tulisannya termasuklahTarikh Al-Ustadh Al-Imam Al-Syaikh Muhammad ‘Abduh (Biografi Imam

Muhammad Abduh), Nida’ li Jins al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu

Muhammadi (Wahyu Nabi Muhammad), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tashri‘ Al-‘Am (Kemudahan Islam

dan Prinsip-prinsip Umum dalam Syari’at), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-‘Uzma (Khalifah dan Imam-

Imam yang Besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid(Dialog Antara Kaum Pembaharu dan

Konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad),

dan Haquq Al-Mar’ah As-Salihah (Hak-hak Wanita Muslim).[7]

Adapun kontribusi monumental Rasyid Ridha berikutnya adalah tafsir al-Manar. Tafsir

dengan nama asli Tafsir al-Qur’an al-Hakim ini merupakan karya magnum opusSang Mujaddid yang

merefleksikan pandangan-pandangan progresifnya dalam memahami Kitabullah yang tentunya

menjadi sandaran utama menuju revivalisasi umat. Ide-ide modernisasi dan reformasi serta

karakteristik dan model kebangkitan umat yang ingin diwujudkan Sang Tokoh akan dapat diamati

dengan jelas di sela-sela interaksinya dengan ayat-ayat Kitab Suci ini.

Tafsir yang terdiri dari beberapa jilid tebal ini memang tidak lengkap tiga puluh juz. Ia baru

sempat diselesaikan Rasyid Ridha sampai kira-kira sepertiga bagian dari juz ketiga belas, tepatnya

pada ayat 101 surah Yusuf, karena ajal telah terlebih dulu menjemputnya. Penafsiran surat ini
selanjutnya dituntaskan oleh Syeikh Bahjat al-Baithar dan kemudian diterbitkan dengan tetap

memakai nama Rasyid Ridha.[8]

Al-Manar, adalah majalah bulanan yang membahaskan idealisme pembaharuan dan tajdid di

Kaherah. Ia mengungkapkan tradisi pemikiran yang segar yang diasaskan daripada ide-ide

pembaharuan yang dipelopori oleh Jamal al-din al-Afghani dan Muhammad Abduh dalam al-‘Urwa

al-Wuthqa. Fokusnya adalah usaha pembaharuan dan dakwah.

Sementara akhbar lain membicarakan kebobrokan dan kegawatan di dunia Islam, Al-

Manar mencadangkan penyelesaiannya yang umum, dan memberikan formula yang mendetil.

Pengaruh al-Manar yang signifikan ini diungkapkan oleh Shaykh Husayn al-Jisr ketika mengulas

tentang keluaran pertama al-Manar dan ketahanan gerakan islah yang dibawa oleh Ridha: “Al-

Manar telah muncul, menyerlah dengan cahaya yang luar biasa dan menyenangkan, hanyasanya

cahaya ini telah dipantul oleh sinar yang kuat yang hampir mencederakan pandangan.”

Al-Manar menggerakkan perbincangan tentang dakwah, idealisme dan islah, menerangkan

dasar-dasar Pan-Islamisme, meneroka persoalan-persoalan yang berkait dengan ajaran aqidah dan

hukum, membincangkan faham modernisme, sekularisme, nasionalisme dan mempelopori dialog

dan pertukaran ide antara budaya, dan meneropong pemikiran baru berkait dengan falsafah agama

dan budaya dan menangani isu-isu sosial dan peradaban.

Al-Manar pertama kali diterbitkan pada 21 Shawal 1315 H (17 Mac 1898) sebagai jurnal

mingguan yang memuatkan lapan halaman, menyiarkan telegram-telegram mingguan dan berita-

berita mutakhir, di samping artikel-artikel utama yang ditulis oleh ketua editor iaitu Ridha sendiri.

Bermula pada tahun kedua, ia dikeluarkan setiap bulan, dan tersebar dengan meluas ke seluruh

jajahan Islam dalam wilayah Turki, India, Mesir, Syria, Maghribi dan turut diseludup ke arkipelago

Melayu dan Tanah Jawa. Pada tahun kedua belas keluarannya (1909), salinan-salinan yang berbaki

daripada keluaran pertama telah dijual empat kali ganda daripada harganya yang asal.

Dalam mukaddimah ringkasnya memperkenalkan al-Manar, Ridha menulis: “Demikian ini

adalah suara yang menyeru dengan lidah Arab yang jelas, dan seruan kepada kebenaran yang

sampai ke telinga mereka yang bercakap dengan huruf dad [masyarakat Arab] dan ke telinga
seluruh penduduk Timur, memanggil dari tempat yang dekat [Mesir] dari mana kedua-dua bangsa di

Timur dan Barat dapat mendengar, dan ia menyebar luas supaya dengan itu penduduk Turki dan

Parsi juga dapat menerimanya. Ia menyeru: “Wahai, bangsa timur yang sedang lena dibuai mimpi

yang enak, bangun, bangun! Tidurmu telah melampaui batas rehat.”

Menurut C.C. Berg dalam kajiannya tentang sejarah Indonesia, gerakan pencerahan yang

dicetuskan oleh al-Manar telah melahirkan kelompok pembaharu yang mempelopori perjuangan

kaum muda di Indonesia: “Al-Manar tidak memberikan pencerahan kepada masyarakat Mesir

sahaja. Ia mencerah pemikiran masyarakat Arab di dalam dan di luar; umat Islam dari rantau

arkipelago Melayu yang menuntut di Universiti al-Azhar atau di Mekah, dan bekas pelajar dari

Indonesia yang masih memelihara keakraban hubungannya dengan dunia Islam setelah pulang ke

sempadan negaranya di Dar al-Islam…dan kesemua orang-orang ini kini melihat Islam dalam

rangka cahaya yang baru…kalangan yang telah menyelami dan mempertahan cahaya al-Manar di

Mesir, menjadi kelompok “Manar” kecil untuk lingkungannya, setelah pulang ke Indonesia.”

Menerusi Majallah al-Manar, Ridha mengusung pemikiran Imam Muhammad Abduh dengan

menyediakan ruangan khas, bermula daripada tahun ketiga keluarannya, untuk menerbitkan siri-

siri Komentar al-Qur’an oleh Abduh yang disampaikannya di Jami‘ al-Azhar, Kaherah. Ruangan

khas ini turut memuatkan fatwa-fatwa Abduh, atau keputusannya tentang persoalan menyangkut

hukum atau agama yang dikemukakan oleh pembaca; selain seksyen yang memuatkan

perkembangan dan ide-ide baru di dunia Islam, serta ulasan-ulasan buku dan publikasi yang lain.

Ayat-ayat yang dikupas oleh Imam Muhammad Abduh merangkumi surah-surah pendek

yang meliputi tafsir surat al-‘Asr, tafsir Juz ‘Amma, tafsirsurah al-Fatihah, tafsir ayat 78-79 dari surah

al-Nisa’, tafsir ayat 52-55 dari surah al-Hajj, dan tafsir ayat 37 dari surah al-Ahzab yang

kemudiannya digazetkan dalam Tafsir al-Manar.

Manhaj yang digariskan oleh Imam Muhammad Abduh dalam tafsirannya adalah

berteraskan metode al-adabi al-ijtima‘i (sosial dan budaya) yang menekankan hubungan ayat

dengan kondisi sosial dan upaya meraih hidayahnya dan kritikan yang keras terhadap budaya taqlid

yang membengkak dalam masyarakat. Tekanan yang penting diberikan terhadap


tradisi aqliah dan ijtihad, seperti dinyatakan dalam huraiannya terhadap ayat 38-42 daripada

surah ‘Abasa: “Muka (orang-orang yang beriman) pada hari itu berseri-seri, tertawa, lagi bersuka ria,

dan muka (orang-orang yang ingkar) pada hari itu penuh debu, diliputi oleh kesuraman dan

kegelapan. Mereka itulah orang yang kafir, yang derhaka.”

Imam Muhammad Abduh mengulas: “Sesiapa yang ketika hidup di dunia berusaha mencari

kebenaran dengan akal fikiran yang dianugerahkan kepadanya tanpa terikat dengan titik bengek

adat, kebiasaan atau pandangan sesiapa kecuali Rasulullah, serta tidak angkuh dalam menerima

kebenaran apabila dihadapkan padanya, akan bergembira di akhirat kelak, kerana hasil usaha

mereka dapat dilihat di hadapan mata.”

“Manakala sesiapa yang ketika hidup di dunia tidak menghargai aqalnya, reda dengan

kejahilan, enggan terima kebenaran, sekalipun telah terbukti jelas kerana taksub dengan pendapat

pimpinannya, malah sedaya upaya mempertahankannya dengan takwil dan penaka helah yang

batil, kelak di akhirat akan mendapati segala amalan yang disangka akan menguntungkan

sebenarnya menjadi punca kecelakaan dan sengsara, lalu wajah menjadi hitam dan gelap kerana

kecewa dan dukacita yang amat.”

Perjuangan Shaykh Muhammad Rashid Ridha untuk memimpin perubahan telah

memperlihatkan kesan yang dramatik di negara-negara umat Islam. Peranan jurnal al-Manar dalam

mengangkat martabat dan harakah perjuangan cukup dirasai di seluruh rantau Islam, khasnya di

Nusantara.

Kemantapan fikiran dan idealisme yang dicetuskan oleh Ridha telah berhasil memperkasa

umat dan melahirkan golongan pembaharu yang meneruskan perjuangannya membanteras taqlid,

membebaskan fikiran daripada kepercayaan jelek, tahyul dan khurafat, dan memperbaharui tekad

ke arah memantapkan solidaritas dan merapatkan perselisihan mazhab. Peranan kita di bumi kita

adalah untuk melanjutkan perjuangan dan meneruskan iltizam Ridha untuk mengembangkan

pengaruh Madrasah Imam Muhammad Abduh dan menyalakan obor perjuangannya ke seluruh

dunia.[9]

C. Metode yang digunakan Rasyid Ridha


Ketika majalah al-Urwah al-Wutsqa sudah mencapai cetakan yang kedelapan belas
melalui prakarsa Rasyid Ridha. Ia mendapatkan misi yang membuat ia harus berhijrah dari
negerinya (Tarablus) ke Mesir untuk menerbitkan majalah al-Manar. Ia menjadi juru bicara
dalam aliran pemikiran yang diusungnya. Al-Manar dijadikan sarana dalam menyampaikan
metode-metode pembaharuan ke seluruh penjuru negara Muslim. Rasyid Ridha berkeinginan
untuk menjadikan al-Manar sebagai “kawat listrik” yang menyengat dan menggugah umat
Islam, sebagaimana yang ia lakukan dengan penerbitan majalah al-Urwah al-Wutsqa.

Dalam pertemuannya dengan Muhammad Abduh (6 Sya’ban tahun 1315 H/


31Desember tahun 1897 M. Ia telah mempelajari proyek penerbitan majalah al-Manaryang
membahas pada masalah penyakit masyarakat dan kelemahannya beserta penanggulangannya
melalui pendidikan. Ia membeberkan aliran pemikiran yang benar untuk melawan kejahilan, dan
pemikiran yang merusak seperti pemaksaan kehendak dan khurafat.
Dalam menentukan metode majalah, Muhammad Abduh meminta pada Rasyid Ridha
untuk:
1. Tidak mengikuti partai-partai politik
2. Tidak mementingkan dalam membela diri dari kritikan
3. Tidak melayani orang yang sombong
Setelah dirampungkan seluruh metode yang akan dijalankannya[10], maka terbitlah al-
Manar pada tanggal 22 Syawal tahun 1315 H/ 17 Maret tahun 1898 M dalam bentuk koran
mingguan. Setahun setelah wafatnya Jamaluddin al-Afghani. Kemudian al-Manar berubah
bentuk menjadi majalah bulanan di tahun kedua untuk menyampaikan misi al-Urwah al-
Wutsqa yang diprakarsai oleh al-Afghani. Yang menjadi pimpinan redaksinya waktu itu ialah
Muhammad Abduh. Inilah al-Manar[11]yang kemudian terbit lagi dengan pemikiran-pemikiran
Muhammad Abduh. Ketika itu, pemegang tampuk kepimpinan redaksinya adalah Rasyid Ridha.
Keistimewaan yang paling mencolok dari tafsir al-Manar dibandingkan dengan yang
lainnya terletak pada terobosan baru dalam hal metodologi yang ditempuhnya. Metode yang
dapat dikatakan belum ditempuh para mufassir sebelumnya ini merupakan pengembangan dari
yang ditempuh Muhammad Abduh sebelumnya. Secara umum, metode dimaksud dapat
disimpulkan sebagai berikut:
1. Tidak terikat dengan pendapat-pendapat yang dikemukakan para mufasir atau ulama
sebelumnya.
2. Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami dalam menyingkap makna-makna al-
Qur’an, namun dengan tetap memelihara keindahan struktur kalimat (uslub) dan diiringi upaya
penyingkapan ketelitian redaksi yang dipergunakannya.
3. Menjadikan al-Qur’an sebagai hakim (penentu) atau dasar (ashl) dalam melahirkan berbagai
ketentuan dalam bidang akidah dan fiqih, dan bukan sebaliknya.
4. Menghindari perincian (paparan mendetail) terhadap hal-hal yang sudah dianngap memasuki
wilayah mubhamat (masalah-masalah yang tidak di uraikan secara rinci di dalam al-Qur’an
maupun sunnah Nabi Muhammad saw. Menurutnya, tidak dijelaskannya hal-hal tersebut secara
detil oleh al-Qur’an dan as-Sunnah menunjukkan bahwa perincian dimaksud tidak penting dan
bahkan bisa jadi hanya akan merintangi target utama yang ingin dicapai, yaitu pemberian
petunjuk.
5. Menghindari penggunaan riwayat-riwayat israiliyat dalam penafsiran, terutama yang berkenaan
dengan kisah-kisah para nabi dan umat-umat terdahulu.
6. Banyak menjelaskan ketentuan-ketentuan Allah swt, (sunnatullah) yang telah digariskan bagi
manusia, khususnya dalam aspek sosial, dan alam semesta serta seruan yang bertujuan
menyadarkan serta mengarahkan kehidupan kaum muslimin kembali kepada tuntunan Allah swt,
yang semestinya. Penulis tafsir ini juga memaparkan berbagai undang-undang kehidupan sosial
dan faktor-faktor kemajuan maupun kemunduran yang berlaku secara umum terhadap seluruh
umat dan bangsa.
7. Membantah berbagai keragu-raguan yang ditiupkan para musuh Islam atau serangan-serangan
yang mereka lontarkan terhadap ajaran-ajaran yang dibawa al-Qur’an dan as-Sunnah.[12]

BAB III
PEMBAHASAN

A. Ide-ide Pemikiran Rasyid Ridha


Pada tahun 1898 Rasyid Ridha hijrah ke Kairo dengan maksud berguru dan bergabung
dengan Muhammad Abduh. Langkah pertama yang dilakukan Rasyid di Mesir adalah mendesak
Abduh untuk menerbitkan sebuah majalah sebagai corong mereka. Menurut Rasyid, hal ini
penting karena cara yang tepat untuk menyembuhkan penyakit umat ialah pendidikan serta
menyiarkan ide-ide yang pantas untuk menentang kebodohan dan pikiran-pikiran yang
mengendap dalam diri umat seperti fatalistik dan khurafat. Abduh menyetujui saran muridnya
itu, kemudian terbitlah sebuah majalah yang diberi nama al-Manar. Nama yang diusulkan
Rasyid dan disetujui Abduh. Dalam terbitan perdananya dijelaskan bahwa tujuan al-Manar sama
dengan al-‘Urwah al-Wusqa, yakni sebagai media pembaharuan dalam bidang agama, sosial,
ekonomi, menghilangkan faham-faham yang menyimpang dari agama Islam, peningkatan mutu
pendidikan, dan membela umat Islam dari kebuasan politik Barat.[13]
1. Ide pembaharuan bidang pendidikan
Erat kaitannya dengan konsep “jihad” yang dikemukakannya, Rasyid menganjurkan umat
Islam memiliki satu kekuatan untuk menghadapi beratnya tantangan dunia modern. Kekuatan itu
hanya dapat dimiliki jika umat Islam bersedia menerima peradaban Barat. Jalan untuk
memperoleh peradaban Barat itu ialah berusaha memperoleh ilmu pengetahuan dan teknologi
Barat itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berlawanan dengan Islam,[14] bahkan
umat Islam wajib mempelajari dan menerima ilmu pengetahuan dan teknologi itu bila mereka
ingin maju.[15]
Dalam berbagai tulisannya, Rasyid mendorong umat Islam untuk menggunakan
kekayaannya dalam pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Menurut Rasyid, membangun
lembaga pendidikan lebih baik dari membangun masjid. Baginya masjid tidaklah besar nilainya
apabila orang-orang yang shalat di dalamnya hanyalah orang-orang bodoh. Dengan membangun
lembaga pendidikan, kebodohan dapat dihapuskan dan dengan demikian pekerjaan duniawi dan
ukhrawi akan menjadi baik. Satu-satunya jalan menuju kemakmuran adalah perluasan
pendidikan secara umum.
Di bidang pendidikan ia mendirikan sekolah sebagai misi Islam dengan nama
Madrasah al-dakwah Wa al-Irsyad di Kairo pada tahun 1912 M. Para alumni madrasah ini
disebarkan keberbagai dunia Islam. Muhammad Rasyid Ridha sebagai penggerak pembaharuan
Islam yang masih condong pada ajaran-ajaran Ibnu Taimiyah. Ia sebagai penyokong aliran
Wahabi, karena dalam ajaran aliran tersebut dikemukakan pengakuan bermazhab salaf yang
bertujuan mengembalikan ajaran Islam kepada al-Qur’an dan al-Hadis.[16]
2. Ide pembaharuan bidang agama
Ada beberapa faktor yang menyebabkan umat Islam lemah dan jauh ketinggalan oleh
orang Barat, di antaranya Islam telah kemasukan ajaran-ajaran yang nampaknya Islam, tetapi
sebenarnya bukan. Hal itu menyebabkan umat Islam melaksanakan ajaran yang tidak sesuai lagi
dengan ajaran Islam sebenarnya.
Menurut Rasyid Ridha, umat Islam dapat mengejar ketinggalannya dari bangsa Eropa,
jika mereka kembali kepada ajaran Islam sebenarnya sebagaimana telah diajarkan Nabi
Muhammad saw dan dipraktekkan oleh sahabat.[17] Dengan demikian, Rasyid menganjurkan
untuk menggali kembali teks al-Qur’an.
Ijtihad adalah modal awal demi keberlangsungan syariat Islam yang memenuhi seluruh
kebutuhan pembaruan “karena syariat Islam adalah syariat penutup dari Tuhan, dan hikmah dari
semua itu adalah bahwasanya Allah swt, telah menyempurnakan agama ini dan menjadikannya
agama yang universal antara ruh dan jasad, dan memberikan kesempatan seluas-luasnya pada
umatnya untuk berijtihad yang benar dan dalam mengambil istinbat. Kedua sisi ini sangat sesuai
dengan kemaslahatan manusia di setiap tempat dan waktu.[18]
3. Ide pembaharuan Bidang Politik dan Hukum
Walaupun Rasyid Ridha mengakui kemajuan peradaban Barat, tetapi dia tidak setuju
dengan ide kebangsaan yang dibawa bangsa Barat. Menurut Rasyid, umat Islam tidak perlu
meniru ide kebangsaan Barat, karena dalam Islam rasa kebangsaan itu dibangun atas dasar
keagamaan.[19] Sejalan dengan konsepnya ini, Rasyid merindukan pulihnya kesatuan dan
persatuan umat.[20] Ia mengajak umat Islam untuk bersatu kembali di bawah satu sistem hukum
dan moral.[21] Untuk melaksanakan hukum harus ada kekuasaan dalam bentuk negara. Negara
yang dianjurkan Rasyid Ridha ialah negara dalam bentuk kekhalifahan. Kepala negara dibantu
oleh ulama-ulama pembantu. Khalifah hendaklah seorang mujtahid, karena ia mempunyai
kekuatan legislatif. Di bawah kekhalifahan seperti inilah kesatuan dan kemajuan umat dapat
tercapai.[22]
Konsep kekhalifahan yang diajukan Rasyid sebagai yang termuat dalam buku al-
Khalifah, kelihatannya semata-mata hasil renungan dan pandangannya terhadap sejarah
perjalanan khalifah al-Rasyidin. Dia hanya melihat pada fungsi negara dengan
mengenyampingkan persepsi negara ditinjau dari sudut pertumbuhan penduduk. Dengan kata
lain, Rasyid kurang menghayati dinamika sejarah pemerintahan Islam pada zaman klasik dan
pertengahan. Secara administrasi, sistem kekhalifahan itu memancing instabilitas dan perebutan
kekuasaan karena secara langsung menutup kreativitas dan aspirasi rakyat. Tampaknya sistem
kekhalifahan sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman.
Pendedahan awalnya terhadap gerakan politik dan islah tercetus setelah terbaca jurnal al-

‘Urwa al-Wuthqa yang diterbitkan pada tahun 1884 (yang dikeluarkan secara berkala selama 8

bulan) di Paris, oleh Jamal al-Din al-Afghani yang mengungkapkan ide-ide pembaharuan dan

mengapungkan faham anti kolonialisme, pemberdayaan reformasi dan pemacuan ijtihad.

Ridha menjelaskan tentang idealisme pemikiran yang dizahirkan dalam al-‘Urwa al-

Wuthqa dengan katanya: “Aku menemui salinan al-‘Urwa al-Wuthqa daripada kertas-kertas dalam

simpanan ayah. Setelah aku membaca artikel-artikelnya yang menyeru kepada gagasan Pan-

Islamisme, meraih semula kegemilangan, kekuatan dan keunggulan Islam, penemuan semula

ketinggian dan kedudukan yang pernah dimilikinya, dan pembebasan umatnya daripada dominasi

luar, aku sangat teruja sehingga seperti memasuki fasa baru dalam hidupku. Dan aku sangat tertarik

dengan metodologi yang diketengahkan dalam artikel-artikel ini dalam melakar dan membuktikan

hujahnya dalam perbahasan dengan bersandarkan ayat-ayat al-Qur’an, dan tentang tafsirnya yang

tiada seorang mufassir telah menulis sepertinya.”

Ridha turut menghuraikan kekuatan al-‘Urwa al-Wuthqa sebagai hasil pemikiran yang

penting yang menggariskan manhaj perjuangan yang berkesan dalam menangani kepincangan

budaya dan politik dan mengangkat harakat pemikiran dan menggarap permasalahan umat yang

mendasar: “antara poin yang terpenting yang menzahirkan keunggulan al-‘Urwa al-Wuthqa dan

kekuatannya yang tersendiri adalah: (1) (penekanannya terhadap) ketentuan Allah terhadap

makhlukNya dan sistem aturan dalam masyarakat manusia, dan sebab kebangkitan dan kejatuhan

sesuatu bangsa sepertimana juga kekuatan dan kelemahan mereka; (2) penjelasan bahawa Islam

adalah agama yang mempunyai kedaulatan dan kuasa, yang merangkul kebahagiaan di dunia dan

di akhirat, dan menegaskan bahawa ia adalah agama yang menggabungkan nilai spirituil dan sosial,

sivil dan militer, dan bahawa kekuatan militernya adalah untuk melindungi keadilan undang-undang,

petunjuk dan wibawa umat, dan bukan untuk mengerahkan kepercayaan dengan paksa; dan (3)

bagi umat Islam tidak ada faham kebangsaan dan nasionalisme kecuali terhadap agama mereka,
oleh itu mereka semuanya bersaudara di mana perbezaan ras dan darah keturunan tidak harus

memisahkan kesatuan mereka, tidak juga perbezaan bahasa dan kerajaan mereka.”

Semangat yang dipugar daripada pembacaan al-‘Urwa al-Wuthqa ini terus menggilap

karakter dan mengukuhkan daya perjuangan Ridha, yang mengilhamkannya untuk berhijrah ke

Mesir dan bergabung dengan al-Afghani dan Abduh bagi melanjutkan perjuangan Pan-Islamisme:

“Setelah beliau [al-Afghani] meninggal, harapanku semakin tinggi untuk menemu wakilnya Shaykh

Muhammad Abduh untuk meraih ilmu dan pandangannya tentang reformasi Islam. Aku menunggu

sehingga terbukanya peluang pada bulan Rajab tahun 1315 (1897) dan itu adalah sebaik saja aku

menamatkan pengajian di Tripoli, memperoleh status ‘alim, dan tauliah untuk mengajar secara

bebas, daripada mentor-ku, Shaikh Husayn al-Jisr. Kemudian itu aku lansung berhijrah ke Mesir dan

melancarkan al-Manar untuk menyeru kepada pembaharuan.”[23]

B. Pengaruh Rasyid Ridha


Ide pembaharuan Rasyid Ridha mendapat perhatian dan mempengaruhi dunia Islam.
Setelah pembukaan Dar al-Da’wah wa al-Irsyad di Kairo, Rasyid mendapat undangan dari
kalangan tokoh Islam India untuk membuka lembaga pendidikan semacam itu di India. Hal ini
membuktikan bahwa idenya mendapat perhatian dan mempengaruhi umat Islam India. Ide-
idenya yang terkandung dalam majalah al-Manarkuat sekali mempengaruhi umat Islam
Indonesia.[24] Idenya yang sangat terasa di Indonesia adalah pemberantasan bid’ah dan khurafat,
serta perumusan kembali keyakinan dan pengamalan Islam disesuaikan dengan pemikiran dan
peradaban modern.

C. Wafatnya Rasyid Ridha


Setelah mendarmabaktikan hidupnya selama puluhan tahun demi tercerahkannya kaum
muslimin, Rasyid Ridha[25] akhirnya wafat pada tahun 1354 H/ 1935, secara mendadak dan
dengan penyebab yang misterius di dalam mobil yang membawanya pulang dari Suez ke
Kairo.[26] Ia dimakamkan di ibukota Mesir ini bersebelahan dengan makam gurunya,
Muhammad Abduh.[27]
BAB IV
PENALARAN

A. ANALISIS DAN KRITISI PEMIKIRAN RASYID RIDHA.


Ada beberapa hal yang perlu dicermati dan ditelaah secara kritis dari pemikiran dan
pembaharuan Rasyid Ridha, antara lain:
Dalam dunia pendidikan, Rasyid Ridha berpendapat, untuk mencapai kemajuan dan
menghadapi beratnya tantangan dunia modern maka umat Islam harus memadukan pendidikan
agama dan pendidikan umum dengan menggunakan metode Eropa serta membangun lembaga
pendidikan.
Penulis sependapat dengan ide Rasyid Ridha yang menganjurkan umat Islam, harus
memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan menggunakan metode Eropa,
dikarenakan pada masa itu umat Islam lebih cenderung membahas masalah-masalah agama dan
melupakan pendidikan umum. Itulah yang menyebabkan umat Islam mundur, karena pendidikan
agama pada masa itu banyak masyarakat yang bersifat taqlik tanpa mau mengkaji lebih dalam
tentang hal tersebut. Umat Islam tidak mau membuka cakrawala berfikir, mereka hanya sibuk
memikirkan masalah Ibadah dan akhirat saja.
Oleh sebab itu, diperlukan adanya lembaga pendidikan yang mengarahkan umat Islam
untuk berfikir kritis dan mau mempelajari ilmu umum, berupa sains dan teknologi serta ilmu-
ilmu lainnya. Rasyid Ridha memang mengajak umat Islam untuk menggunakan metode Barat
tetapi dia juga memperingatkan umat Islam untuk tidak mengikuti peradaban Barat beserta
ajakan untuk mempelajari ilmu-ilmu Barat. Dikarenakan peradaban Barat dan ilmu-ilmu Barat
tidak mencerminkan adanya nilai-nilai keIslaman.
Dibidang agama, menurut Rasyid, umat Islam akan maju apabila meninggalkan segala
khurafat dan bid’ah yang selama ini membelenggunya serta membrantas taqlid, membebaskan
fikiran daripada kepercayaan jelek, tahyul dan memperbaharui tekad ke arah memantapkan
solidaritas dan merapatkan perselisihan mazhab serta kembali kepada ajaran Islam sebenarnya
dengan menggali kembali teks al-Qur’an dan Hadis.
Penulis sependapat, dengan ide Rasyid Ridha yang menganjurkan umat Islam harus
menggali kembali teks al-Qur’an dan Hadis. Agar menjadikan umat Islam mampu berfikir kritis
dan tidak bersifat taqlik dan mampu untuk menghasilkan para pemikir serta ulama yang berilmu
dan mempunyai wawasan yang luas. Sehingga perselisihan mazhab dapat dihilangkan. Dan
mampu menyebarluaskan metode-metode yang baru dalam penafsiran al-Qur’an,
menyebarluaskan fatwa-fatwa kontemporer dan menetapkan al-Qur’an antara fiqih kontemporer
dan fiqih ahkam. Serta mampu memberikan penerangan kepada umat tentang perbedaan antara
agama dan tradisi.
Dibidang politik, Negara yang dianjurkan Rasyid Ridha ialah negara dalam bentuk
kekhalifahan. Kepala negara dibantu oleh ulama-ulama pembantu. Khalifah hendaklah seorang
mujtahid, karena ia mempunyai kekuatan legislatif. Di bawah kekhalifahan seperti inilah
kesatuan dan kemajuan umat dapat tercapai.
Penulis kurang sependapat dengan ide Rasyid Ridha, yang menganjurkan negara dalam
bentuk kekhalifahan. Karena administrasi, sistem kekhalifahan itu memancing instabilitas dan
perebutan kekuasaan, karena secara langsung menutup kreativitas dan aspirasi rakyat.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan, bahwa ide pemikiran dan pembaharuan Rasyid Ridha sangat
dibutuhkan. Karena mempunyai kontribusi yang sanggat tinggi untuk kemajuan umat Islam.
Diantaranya:
Dibidang pendidikan Rasyid Ridha sangat menginginkan adanya perpaduan antara
pendidikan Agama dengan pendidikan Umum, untuk membentuk generasi yang tidak hanya
mempunyai ilmu dan wawasan yang luas tetapi juga mempunyai akhlak dan pribadi yang
mencerminkan seorang pemimpin yang bersih. Dan memusatkan perhatian pada reformasi
intelektual Islam, pembaharuan ilmu syari’at dan bahasa Arab serta membangkitkan lembaga-
lembaga yang membentuk pemikiran umat Islam.
Dibidang agama, Rasyid Ridha menginginkan umat Islam menggali kembali teks al-Qur’an
dan Hadis. Dengan cara:
1. Mempertahankan syari’at Islam beserta ilmu-ilmunya.
2. Menyebarluaskan fatwa-fatwa kontemporer dan menetapkan al-Qur’an antara fiqih kontemporer
dan fiqih ahkam.
3. Memberikan penerangan kepada umat tentang perbedaan antara agama dan tradisi yang ada di
masyarakat.
Dibidang politik, Rasyid Ridha memberikan pemahaman tentang persatuan umat. Serta
memandang politik dengan pandangan universalitas Islam.
B. Rekomendasi.
Ide pemikiran dan pembaharuan Rasyid Ridha dalam dunia pendidikan sangat berkontribusi.
Karena pendidikan tidak bisa dipisahkan dari agama. Jadi sewajarnyalah kita dalam dunia
pendidikan tidak hanya menggali ilmu saja akan tetapi juga mempunyai nilai-nilai keIslaman didalam
mempelajari ilmu tersebut.
Dibidang agama, dengan terbukanya cakrawala berfikir diharapkan generasi Islam mampu
menghasilkan metode-metode yang baru dalam penafsiran al-Qur’an dan mampu memberi
penerangan kepada masyarakat tentang perbedaan agama dengan tradisi sehingga masyarakat
tidak taklik dan masyarakat mampu membersihkan aqidahnya dari perbuatan syirik, syubhat, bid’ah
dan khurafat.
Dibidang politik, hendaknya umat Islam yang ada didunia harus bersatu untuk menegakkan
negara berdasarkan syari’at Islam tanpa memandang perbedaan suku bangsa dan ras. Dan
hendaklah yang menjadi pemimpin adalah orang yang memiliki ilmu dan wawasan yang luas serta
memiliki pribadi yang mulia.

[1] Lihat, Kurnial Ilahi, “Perkembangan Modern dalam Islam”, (Riau: Lembaga Penelitian dan
Perkembangan Fakultas Usuluddin UIN SUSKA dan Yayasan Pusaka Riau, 2002), h. 55.
[2] Lihat, Imarah Muhammad,“Mencari Format Peradaban Islam”, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 2005). h. 1. Sayid Muhammad Rasyid Ridha lahir pada tahun 1865 M. Di al-Qalamun suatu desa di
Libanon yang letaknya tidak jauh dari kota Tripoli (Syria). Ia berasal dari keturunan al-Husein, cucu Nabi
Muhammad SAW, oleh karena itu ia memakai gelar “Sayid” di depan namanya. Ayahnya seorang ulama dan
penganut Tariqad Syazilliah, karena itu Rasyid Ridha pada waktu kecilnya selalu mengenakan jubah dan
sorban, tekun dalam pengajian dan wirid sebagai mana kebiasaan pengikut Tariqad Syazilliah. Lihat,Yusran
Asmuni, “Pengantar Studi Pemikiran dan Gerakan Pembaharuan dalam dunia Islam”, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada, 1995), h. 82.
[3] Lihat, Sirojuddin Ar, “Ensiklopedi Islam”, (Jakarta: PT. Ihctiar Baru Van Hoeve, 2001), h. 161.
[4] Pendidikan dasarnya diperoleh pada Madrasah al-Wathaniyyah al-Islamiyyah di Tripoli-Syam dan
selanjutnya pindah ke Beirut hingga meraih gelar al-‘Alimiyyah. Kecenderungan awalnya kepada ilmu hadits/
riwayat beralih ketika ia membaca kitab Ihy, ‘Ulumiddin karangan Imam al-Ghazali. Sejak itu, ia mulai
tenggelam dalam dunia tasawuf dan hidup zuhud serta menjadi pengikut Tarekat Naqsyabandiyah. Lihat,
Mohammad, Herry, “Tokoh-tokoh Islam yang Berpengaruh Abad 20”, (Jakarta: Gema Insani, Press, 2006), h.
312-313.
[5] Lihat, Sirojuddin Ar, Op. Cit, h. 162.
[6] Lihat, Mohammad, Herry, Op. Cit, h. 313.
[7]http://www. Docstoc.com/docs/18674151/Pembaharuan Islam menurut Sayyid Muhammad Rasyid
Ridha
[8] Lihat, Mohammad, Herry, h. 317.
[9]http://www. Docstoc.com/docs/18674151/Pembaharuan Islam menurut SayyidMuhammad Rasyid
Ridha
[10] Rasyid Ridha pun menyetujui perjanjian yang mulia tersebut dan menyatakan kesiapannya untuk
membantu dengan segenap usahanya. Ia berjanji pada gurunya dengan berkata, “Aku akan berjanji untuk menjadi
layaknya seorang murid kepada gurunya. Akan tetapi, aku tetap menjaga sesuatu yang berbeda dari kalian, yaitu aku
akan bertanya tentang rahasia sesuatu yang tidak aku mengerti, dan aku tidak menerima sesuatu yang tidak aku
pahami serta aku tidak pula mengerjakan sesuatu kecuali aku yakini manfaatnya.” Kemudian sang guru berkata
“Dan itu adalah sesuatu yang sepantasnya kamu lakukan!” Lihat, Imarah Muhammad, “Mencari Format Peradaban
Islam”, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 7.
[11] Penerbitan al-Manar sebagai pusat pemikiran yang berjuang dalam hal-hal sebagai berikut:
 Membawa misi pembaharuan agama ke seluruh kawasan umat Islam.
 Menyarankan untuk memilih Islam yang moderat untuk membangkitkan Islam dan ketimuran sebagai jalan
untuk menolak kejumudan yang mengikat orang-orang salaf dan mengikuti pola kemajuan peradaban Barat.
 Mengembalikan pendapat-pendapat yang ada di al-Urwah al-Wutsqa, dan pendapat-pendapat Muhammad
Abduh yang telah disebarluaskan melalui al-Waqa’i al-Mashriyah.
 Membersihkan akidah dari syirik, syubhat, bid’ah dan khurafat.
 Menyebarluaskan metode-metode yang baru dalam penafsiran al-Qur’an.
 Mempertahankan syariat Islam beserta ilmu-ilmunya dan bahasa Arab beserta cabang-cabangnya.
 Menyebarluaskan fatwa-fatwa kontemporer, dan menetapkan al-Qur’an antara fiqih kontemporer dan
fiqih ahkam.
 Memberikan penerangan kepada umat tentang perbedaan antara agama tuhan dan tradisi yang ada di
masyarakat.
 Memberikan pemahaman tentang persatuan umat, serta globalisasi Islam yang merupakan ciri khas dari
masyarakat Timur dengan perbedaan suku bangsa dan ras.
 Pengukuhan tentang pembentukan negara Islam yang global pada suatu masa yaitu Daulah Utsmaniyah
dengan seruan untuk memperbaiki seluruh kebobrokannya.
 Peringatan untuk tidak mengikuti peradaban Barat beserta ajakan untuk mempelajari ilmu-ilmu Barat, dan
keahlian mereka dalam kemajuan.
 Seruan untuk memperbaiki ekonomi masyarakat Muslim dari monopoli Barat sehingga menciptakan ekonomi
yang bebas sebagai penopang kemerdekaan peradaban dan politik.
 Memerangi kristenisasi dan menolak pelakunya serta ajakan-ajakan mereka di seluruh wilayah umat Islam dan
mempersenjatai umat Islam dalam memerangi tipu daya tersebut.
 Ajakan untuk mendirikan universitas-universitas serta organisasi (kemasyarakatan, keilmuan, dan sosial)
untuk menjadikan kerja keras umat dalam pembaharuan yang lebih mapan dan konsekuen.
 Pemapanan metode bertahap dalam pembaharuan, karena pembentukan manusia adalah pembentukan nilai-
nilai Islam, guna menjaring para pemikir serta ulama yang bersih. Selain itu, untuk memasukkan modernisasi
dalam Islam diperlukan tahapan-tahapan.
 Demokrasi politik khususnya masalah hukum dan negara kepada rakyat, memusatkan perhatian pada
reformasi intelektual Islam, pembaruan ilmu syariat dan bahasa Arab. Membangkitkan lembaga-lembaga yang
membentuk pemikiran umat, serta memandang politik dengan pandangan universalitas Islam. Lihat, Ibid, h. 8-
10.