Anda di halaman 1dari 24

SENSASI INDERA

Laporan Praktikum

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan


Yang dibina oleh Dr. Sri Rahayu Lestari , M. Si

Oleh
Kelompok 3
1. Andita Miftakhul Ilmi 170341615003
2. Azizah Nur Rochmah 170341615045
3. Firdha Ilman Nafi’a 170341615048
4. Nira Yulika Rahmaulana 170341615007
5. Nurul Alfi’ah 170341615070
6. Putri Wahyuni A N 170341615018
Pendidikan Biologi/ Offering C 2017

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
JURUSAN BIOLOGI
PRODI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
Oktober 2018
A. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui adanya berbagai macam sensasi indra
umum dan indra khusus.
B. Dasar Teori
Salah satu sifat makhluk hidup adalah iritabilitas, yaitu kemampuannya untuk
merespon stimuli (yang biasanya merupakan suatu perubahan lingkungan). Pada
hewan maupun manusia, respon terhadap stimuli melibatkan tiga proses : 1) menerima
stimulus, 2) menghantarkan implus, dan 3) respon oleh efektor (Soewolo; 1999: 241).
Agar terjadi sensasi diperlukan empat syarat: 1. Harus ada rangsang; 2. Organ
pengindera harus menerima rangsang dan mengubahnya kedalam implus saraf; 3.
Implus harus dihantarkan melalui sistem saraf dari sensori hingga ke otak atau
sumsum tulang belakang; 4. Bagian otak yang menerima harus menerjemahkan implus
menjadi sensasi. Sebuah reseptor sensori (indera)/ neuron mempunyai struktur
sederhana yang berupa badan sel yaitu bagian sel saraf yang membesar dan mengandung
inti, satu atau lebih tonjolan (cabang) yang keluar dari badan sel yang dibedakan
menjadi dendrit (tonjolan yang membawa implus ke badan sel) dan akson (tonjolan yang
membawa implus dari badan sel).

Berdasarkan fungsinya sel saraf yang membawa implus dari reseptor disebut
sel saraf sensori; yang membawa implus ke efektor disebut sel saraf motoric; dan sel saraf
yang menghubungkan sel saraf sensori dan sel saraf motor disebut sel saraf
interneuron.Semua reseptor sensori berisi dendrit dari neuron sensori, menampilkan
derajad eksitabilitas tinggi, dan memiliki stimulus threshold rendah. Sebagian besar
implus sensori dihantarkan menuju area sensori dari korteks serebral, disinilah suatu
stimulus menghasilkan sensasi. Kita melihat, mendengar, mencium bau adalah akibat
korteks serebral yang menerjemahkan implus sensori yang dirangsang. Berdasar
seederhana atau kompleksnya reseptor dan jalur saraf, reseptor sensori
dikelompokkan menjadi: 1. Indera umum yang meliputi reseptor dan jalur saraf
sederhana; sensasi taktil (sentuhan, tekanan, vibrasi), sensasi termoreseptif (panas
dan dingin), sensasi sakit, sensasi proprioseptif (kesadaran atau aktifitas otot, tendon,
sendi keseimbangan); 2. Indera khusus yang meliputi sensasi olfaktori (pembau),
sensasi gustatory (pengecap), sensasi visual (penglihatan), sensasi auditori
(pendengaran), sensasi equilibrium (orientasi tubuh).Suatu refleks adalah setiap respon
yang terjadi secara otomatis tanpa disadari terhadap perubahan lingkungan internal
maupun lingkungan eksternal. Terdapat dua macam refleks: 1. Refleks sederhana
atau refleks dasar yang menyatu tanpa dipelajari, misalnya refleks menutup mata bila ada
benda yang menuju ke mata, 2. Refleks yang dipelajari, atau refleks yang
dikondisikan(conditioned reflex), yang dihasilkan dari belajar. Rangkaian jalur saraf
yang terlibat dalam aktivitas refleks disebut lengkung refleks, yang terdiri atas 5
komponen dasar: 1. Reseptor, 2. Saraf aferen, 3. Pusat saraf (otak atau sumsum tulang
belakang), 4. Saraf aferen, 5. Efektor (Soewolo; 1999: 262).

Sebagian besar refleks merupakan refleks yang rumit, melibatkan beberapa neuron
penghubung antara neuron sensorik dan neuron motoric (refleks polisinap) sebagai
contohnya refleks menarik tangan yang kena benda panas (withdrawal reflex). Hanya
ada satu refleks yang lebih sederhana daripada withdrawal reflex, yaitu refleks
regangan (stretch reflex). Refleks sederhana hanya melibatkan dua neuron, tanpa neuron
penghubung (refleks monosinap), misalnya refleks patella. Karena penundaan atau
penghambatan refleks dapat terjadi pada sinap-sinap, maka makin banyak sinap yang
terlibat pada lengkung refleks makin banyak pula waktu yang diperlukan untuk menghasil
kan suatu refleks. Berdasarkan atas system pengendaliannya, refleks digolongkan atas
refleks somatic (yang dikendalikan oleh system saraf somatic) dan refleks otonom
(yang dikendalikan oleh system saraf otonom). Kedua macam refleks tersebut dapat
berupa refleks kranial atau refleks spinal. Refleks spinal dapat terjadi tanpa melihat otak,
misalnya refleks fleksor. Meskipun demikian otak seringkali memberikan “pertimbangan”
pada aktivitas refleks spinal, sehingga dapat menguatkan atau menghambat refleks
tersebut.

Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi
(ekspresi sensoris) adalah interpretasi otak terhadap impuls yang datang ke otak terhadap
impuls yang datang ke otak dari saraf sensoris. Pada otak terdapat berbagai macam pusat
sensasi yang akan memberitahukan tentang sensasi tertentu kepada kita apabila pusat tadi
menerima impuls dari reseptor. Secara normal setiap reseptor akan dihubungkan oleh
serabut saraf dengan pusatnya. Jadi, yang menentukan macam sensasi itu bukan jenis
stimulus atau darimana impuls berasal, tetapi terletak pada pusat sensasi apa yang
menerima impuls (Soewolo dkk., 2005).

Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada
tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh
berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar
diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diindera
oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diindera
oleh propriseptor (misalnya, organ vestibular). Berdasarkan kekompleksannya reseptor
dan jalur saraf, reseptor sensori dikelompokkan menjadi indera umum dan indera khusus.
Indera umum yang meliputi reseptor dan jalur sederhana; sensasi taktil (sentuhan, tekanan,
vibrasi), sensasi termoreseptif (panas dan dingin), sensasi sakit, sensasi proprioseptif
(kesadaran atau aktifitas otot, tendon, sendi, keseimbangan). Sedangkan indera khusus
yang meliputi sensasi olfaktori (pembau), sensasi gustatory (pengecap), sensasi visual
(penglihatan), sensasi auditori (pendengaran), sensasi equilibriumm (orientasi tubuh)
(Susilowati dkk., 2016).

Adapun syarat-syarat terjadinya sensasi akan dijelaskan sebagai berikut (Arsyianti,


2009):

a. Adanya objek yang diamati atau kekuatan stimulus. Objek menimbulkan stimulus
yang mengenai indera (reseptor) sehingga terjadi sensasi.. Untuk bisa diterima oleh
indera diperlukan kekuatan stimulus yang disebut sebagai ambang mutlak (absolute
threshold).
b. Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik
sebagai penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon.
c. Pengalaman dan lingkungan budaya. Pengalaman dan budaya mempengaruhi kapasitas
alat indera yang mempengaruhi sensasi.

Berikut tahapan-tahapan terjadinya dari proses sensasi (Arsyianti, 2009):


a. Proses fisik : stimulus mengenai alat indera atau reseptor disebut sebagai proses
kealaman.
b. Proses fisiologis : stimulus yang mengenai alat indera diteruskan oleh syaraf sensoris
ke otak.
c. Proses psikologis : proses di otak yang menyebabkan organisme mampu menyadari
apa yang diterima dengan inderanya.
C. Alat dan Bahan
Alat Bahan
1. Ijuk 1. Air
2. Penggaris 2. Es batu
3. Meteran 3. Gula pasir
4. Pensil 4. Larutan gula
5. Kapas 5. Larutan garam dapur
6. Jarum pentul 6. Larutan kina
7. Pinset 7. Wortel
8. Timer 8. Kentang
9. Kertas manila 9. Apel
10. Tabung reaksi 10. Bawang merah

D. Prosedur Kerja
1. Uji pembeda dua titik

Pengamat menyentuhkan dua ujung jarum pentul pada ujung jari subyek
dengan jarak yang terpendek

Subbyek harus menujukkan bila merasakan sentuhan dua ujung jarum


pentul atau hanya satu saja

Catat jarak terpendek kedua ujungj jarum pentul yang dirasakan subyek

Ulangi untuk sisi hidung, punggung lengan dan belakang leher

2. Menentukan resptor sentuh

Buat petak ukuran 2,5 cm pada punggung lengan, kemudian bai menjadi
25 petak kecil
Subyek menutup mata, pengamat menekankan ijuk pada petak-petak sapa
bengkok. (sekali pada setiap petak dan tekanan harus sama)

Subyek memberi tahu apabila mengalai sensasi sentuhan dan Pengamat


mencatat hasil

3. Menentukan reseptor sakit

Buatlah petak 2,5 cm pada lengan bawah yang sebelumnya digunakan


untuk uji sentuhan

Gunakan sejumput kaps yang sudah direndam ar untuk mengompres kulit


lengan selama 5 menit (tabahkan air bila perlu)

Letakkan ujung jarum pada permukaan kulit dan tekan sapai menghasilkan
rasa sakit. Bedakan rasa sakit dan sentuhan

4. Menentukan propioresptor

Tulis huruf “X” pada papan dan biarkan spidol masih pada huruf “X”

Tutup mata, angkat tangan kanan di atas kepala, kemudian buat titik
sedekat mungkin dengan huruf “X”

Ulangi tiga kali, catat hasilnya dengan mengukur jarak titik dengan “X”
untuk setiap kali coba

Subyek menutup mata, kemudian menunjuk jari tengah tangan kiri dengan
jari telunjuk tangan kanan
Dengan menutup mata, subyek merentangkan tangan kanan sejauh
mungkin dibelakang tubuhnya, kemudian membawa jari telunjuk ke ujung
hidung

5. Bintik buta

Buatlah gambar X dan O bercarak 6 cm pada kertas manila

Subyek memegang kertas manila 50 cm didepannya dengan tanda X lurus


pada mata kanan. Subyek harus meihat kedua gambar dengan menutup
mata kiri

Perlahan – lahan subnyek mendekatkan kertas (mata kanan tetap pada X)

Pada jarak tertentu O menghilang dari pandangan subek (bayangan jatuh


pada titik buta)

6. Proyeksi binokular

Buatlah dua lubang dengan jarak sama dengan jarak kedua pupil

Pegang karton 30 cm di depan mata dengan latar belakang cahaya terang

Pandang kedua lubang (mata kiri ke lubang kiri, mata kanan ke lubang
kanan)
Dekatkan karton ke arah mata, pada jarak tertentu sampai nampak satu
lubang

Tutup salah satu mata dan amati apa yang nampak

7. Pentingnya pengelihatan biokular

Subyek menutup salah satu mata sambil memegang pensil

Pengamat memegang tabung reaksi vertikal dengan lubang diatas

Subyek memasukkan pensil ke dalam tabung reaksi (amati hasilnya).


Ulangi selama 10 kali

8. Adaptasi olfaktori

Subyek menutup mata dan satu nostril ditutup dengan kapas

Pengamat memegang sebotol minyak cengkeh di bawah nostril yang


terbuka

Subyek bernapas dengan satu nostril, dan menghembuskan lewat mulut

catat waktu yang diperlukan sampai aroma tercium dari penciuman subyek
9. Reseptor gustastori (penegcap) / mengenali zona pengecap

Pengamat meletakkan butiran gula pasir pada ujung lidah subyek dan
mencatat waktunya

Subyek mengangkat tangan bila telah mengecap rasa gula, pengamat catat
waktu lagi, merekam berapa lama subyek mengecap rasa gula

Ulangi perlakuan diatas menggunakan setetes larutan gula. Rekam berapa


lama subyek untuk mengecap rasa gula

Subyek membersihkan lidahnya, kemudian perlakuan diulang


menggunakan zt lain seperti kina, garam dapur

Setelah subyek membersihkan lagi lidahnya, ulangi dengan menggunakan


nutrisari padaujung dan sisi lidah

10. Pengecap dan pembau

Subyek mengeringkan lidahnya, menutup mata, dan menjepit hidungnya


sehingga kedua nostril tertutup

Pengamat meletakan potongan wortel , bawang merah, kentang, dan apel


satupersatu pada lidah subyek

Subyek diminta mengenali setipa potonga tadi berturut-turut dengan


segera setelah mengunyah (nostril tertutup) dan setelah membuka nostril

Rekam data dalam tabel


11. Ketajaman pendengaran terhadap sumber bunyi

Subyek menutup mata dan satu lubang tellinga dengan kapas

Pengamat mendekatkan sebuah timer pada telinga subyek yang terbuka.


Usahakan agar telinga satu garis lurus

Jauhkan timer dari telinga perlahan-lahan

Letakkan timer 2 meter lebih jauh dari jarak terjauh bunyi masih dapat di
dengar subyek

Dekatkan timer ke telinga subyek perlahan-lahan

ukur jarak terjauh bunyi mulai trdengar subyek. Apakah jarak sama?
Mengapa?

12. Penghantaran suara

Getarkan sebuah garputala dengan pemukul karet

Letakkan tangkai pada kepala atau antara dua gigi atsa dan bawah dan
dengarkan sumber suara

Tutup salah satu telinga, dimana letak sumber suara ? kemudian tutup
kedua telinga , dengarkan letak sumber suara
Letakkan garputala yang bergetar di atas kepala

Bila sudah terdengar suara, pindahkan garputala ke dekat telinga dan catat
hasilnya

13. Keseimbangan

Berdiri tegak, mata terbuka, angkat salah satu kaki

Perhatikan kemampuan untuk bertahan pada posisi ini selama 2 menit

Setelah cukup istirahat,ulangi kegiatan diatas tetapi dengan mata tertutup


dan bandingkan hasilnya

14. Tes romberg


Subyek berdiri tegak dengan kedua kaki merapat, kedua tangan di
samping tubuh selama 5 menit

Pengamat memperhatikan goyangan tubuh subyek

Sekarang subyek menutup kedua mata, mengulangi perlakuan tadi. Catat


hasilnya

15. Kanalis Semisirkularis

Subyek duduk diatas kursi putar, kaki bertumpu di sandaran kaki

Pengamat memutar kursi putar selama beberapa detik


Pengamat menghentikan putaran kursi dengan tiba-tiba dan amati sensasi
yang dialami subyek

Bila subyek masih merasakan kursi berputar, berarti fungsi kanalis


seminirkulari

E. Hasil Pengamatan

F. Analisis
1. Uji pembeda dua titik
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa pada ujung jari jarak
terpendek antar dua titik yaitu 0,9 cm, pada sisi hidung yaitu 2 cm, pada punggung
tangan yaitu 0,7 cm da pada belakang leher yaitu 0,3 cm. Hal tersebut membuktikan
bahwa keempat daerah tersebut peka terhadap sentuhan dan rangsangan. Subyek
merasakan hanya satu titik karena hanya satu yang mengenai reseptor sedangakan
merasakan dua titik karena tepat mengenai dua reseptor

2. Menetukan reseptor sentuh


Untuk menentukan reseptor sentuh, dibuatlah 25 petak pada punggung tangan
dengan ukuran 1mm. pada 25 petak yang sudah dibuat di punggung tangan, subyek
mengalami sentuhan pada semua petak. Hal tersebut membuktikan bahwa pada setiap
petak terdapat reseptor sentuhan yang letakya tersebar

3. Menentukan reseptor sakit


Untuk menentukan reseptor sakit, dibuatlah 25 petak pada punggung tangan
dengan ukuran 1mm. pada 25 petak tersebut subyek merasakan sensasi rasa sakit
pada petak ke 15, 20 dan 25. Selain petak tesebut subyek hanya merasakan sensasi
sentuhan. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada petak ke 15, 20 dan 25 terdapat
reseptor rasa sakit sedangkan selain petak tersebut hanya terdapat reseptor sentuhan.

4. Menentukan propioreseptor
Berdasarakan hasil pengamatan setelah menuliskan huruf “X” di papan tulis
kemudian membuat titik terdekat pada huruf “X“ dengan mata tertutup, jarak terdekat
titik dengan huruf “X” pada ulangan pertama yaitu 5,7 cm, pada ulangan kedua 6,5
cm dan ulangan ketiga yaitu 3 cm. Subyek berhasil tepat mengenai jari tengah tangan
kiri yang ditunjuk oleh jari telunjuk tangan kanan dengan mata tertutup. Subyek juga
berhasil tepat menunjuk hidung dengan jari telunjuk tangan kanan dalam kondisi mata
yang tertutup. Keberhasilan dan ketepatan tersebut dipengaruhi oleh propioreseptor.

5. Bintik buta
Berdasarkan hasil pengamatan dengan membuat gambar X dan O yang
kemudian didekatan dengan mata subyek, pada jarak 0,9cm dari mata gambar O
menghilang dari pandangan obyek. Hal tersebut membuktikan bahwa bayangan jatuh
pada titik buta sehingga gambar O tidak terlihat.

6. Praktikum proyeksi binokular


Pada praktikum proyeksi binokular, subjek melihat dua lubang pada karton
dengan jarak antara lubang dan jarak kedua pupil sama, lalu memegang karton sejauh
30 cm di depan mata dengan latar belakang cahaya terang. Subjek memandang kedua
lubang, lubang kiri dengan mata kiri dan lubang kanan dengan mata kanan. Subjek
mendekatkan karton ke arah secara perlahan hingga pada jarak tertentu nampak satu
lubang. Praktikum ini diulangi dengan perlakuan salah satu mata ditutup. Berdasarkan
percobaan ketika kondisi mata terbuka semua, nampak satu lubang pada jarak 4 cm,
sedangkan pada mata yang tertutup nampak satu lubang pada jarak 6 cm.

7. Praktikum penglihatan binokular


Pada praktikum ini, subjek menutup salah satu mata sambil memegang pensil.
Pengamat memegang tabung reaksi secara vertikal dengan lubang tabung diatas lalu
subjek memasukkan pensil kedalam tabung reaksi, praktikum ini terdapat 10 kali
ulangan. Berdasarkan hasil praktikum, jumlah ulangan pensil yang masuk ke dalam
tabung reaksi sebanyak 5 kali dan jumlah ulangan pensil yang kurang tepat masuk ke
dalam tabung sebanyak 5 kali.

8. Praktikum adaptasi olfaktori


Pada praktikum ini subjek diminta untuk menutup mata dan menutup nostril
dengan satu kapas. Selanjutnya pengamat memegang sebotol minyak cengkeh di
bawah nostril yang terbuka, subjek bernapas dengan satu nostril lalu menghembuskan
napas lewat mulut. Pengamat mencatat waktu yang diperlukan sampai aroma
menghilang dari penciuman subjek. Berdasarkan hasil pengamatan, waktu yang
diperlukan aroma untuk menghilang dari penciuman subjek adalah 3 detik.

9. Praktikum reseptor gustatori


Subjek diminta menjulurkan lidah dan pengamat meletakkan butiran gula di
ujung lidah subjek, sebelum diletakkan di ujung lidah, pengamat sudah siap dengan
stopwatch untuk menghitung waktunya. Apabila subjek merasakan rasa manis, subjek
mengangkat tangan dan pengamat akan mencatat waktunya. Mengulangi perlakuan
dengan menggunakan bahan larutan gula, kina, garam dapur dan nutrisari.
Berdasarkan hasil pengamatan, waktu yang diperlukan ujung lidah untuk merasakan
masing-masing rasa adalah sebagai berikut butiran gula memerlukan waktu sebanyak
19 detik, larutan gula memerlukan waktu sebanyak 5 detik, kina memerlukan waktu
sebanyak 7 detik, garam dapur memerlukan waktu sebanyak 3 detik sedangkan pada
nutrisari di ujung lidah memerlukan waktu sebanyak 3 detik, sisi lidah sebanyak 2
detik.

10. Praktikum pengecap dan pembau


Subjek mengeringkan lidahnya dan menutup mata serta menjepit hidung
hingga kedua nostril tertutup. Pengamat meletakkan wortel, bawang merah, kentang
dan apel secara satu persatu pada lidah subjek. Subjek diminta mengenali setiap
potongan tadi secara berturut-turut dengan segera setelah potongan tadi dikunyah.
Mengulangi perlakuan dengan membuka nostril. Ketika keadaan nostril tertutup,
subjek salah dalam mengidentifikasi wortel tetapi benar dalam mengidentifikasi
bawang merah, kentang dan apel. Ketika keadaan nostril terbuka, subjek benar dalam
mengidentifikasi semua potongan (wortel, bawang merah, kentang, apel).

11. Ketajaman Pendengaran Terhadap Sumber Bunyi

Pada praktikum ketajaman pendengaran pada sumber bunyi ketika diberikan


perlakuan berupa Pengamat mendekatkan sebuah timer pada telinga subyek yang
terbuka. Yang kemudian dijauhkan hingga subyek tidak mendengar bunyi timer
tersebut pada jarak 54 cm. Sedangkan pada perlakuan dengan menambah jarak terjauh
bunyi sebanyak 2 meter yang selanjutnya didekatkkan kepada subyek, subyek
mendengar sumber bunyi pada jarak 65 cm.

12. Penghantaran suara


Pada saat garputala dipukul dengan karet pemukul kemudian didekatkan
dengan subyek di diatas telinga dan dibawah telinga maka yang terdengar pada saat
dibawah telinga. Pada saat salah satu dan kedua telinga ditutupi dengan kapas, suara
dari getaran tidak dapat didengar oleh subyek.

13. Keseimbangan
Pada praktikum keseimbangan ini subyek diberikan dua perlakuan yaitu
berdiri dengan tegak dengan mata terbuka dan angkat diangkat satu. Pada perlakuan
satu ini subyek masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Pada perlakuan yang
kedua yaitu subyek berdiri tegak dengan mata tertutup dan salah satu kaki diangkat,
subyek mulai tidak dapat mejaga keseimbangan tubuhnya hal ini ditandai dengan
terdapat beberapa gerakan

14. Uji Tes Romberg


Pengujian tes romberg dilakukan selama 5 menit dengan memperhatikan
goyangan pada butuh dengan dua perlakuan pada subyek. Pengujian yang pertama
dilakuan dengan berdiri tegak kaki rapat kedua tangan lurus disamping kaki. Hasil
dari pengujian perlakuan ini menunjukan adanya sedikit goyangan pada subyek. Pada
saat mata ditutup subyek memberikan respon goyangan yang lebih banyak dan arah
goyangan tersebut berlawananarah jarum jam.
15. Uji Kanalis Semisirkularis
Pada uji ini subyek diberikan perlakuan berupa duduk di kursi yang diputar
kemudian akan diberhentikan secara tiba-tiba hasil perakuan tersebut menjadi pusing

G. Pembahasan
1. Uji pembeda dua titik
Pada percobaan uji pembeda dua titik dilakukan dengan cara menyentuhkan
dua jarum pentul pada ujung jari dan menghitung jarak terdekat subyek bisa
merasakan sentuhan satu titik atau dua titik. Percobaan tersebut dilakukan pada ujung
jari, sisi hidung, punggung lengan dan belakang leher. Pada empat daerah tersebut
semuanya peka terhadap rangsangan sentuhan. Dari keempat daerah tersebut belakang
leher memiliki kepekaan yang tinggi. Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan
Tortora (1984) yang menyatakan bahwa urutan yang paling sensitif adalah ujung
lidah, ujung jari, sisi hidung, punggung lengan, dan belakang leher.
Tortora (1984) menjelaskan bahwa sensasi sentuhan memiliki reseptor yang
sederhana yang terdiri dari dendrit dari neuron sensoris yang terbungkus kapsul dari
epitalium jaringan konektif dan terbungkus kapsul. Reseptor ini merupakan reseptor
berkapsul badan meissner yang berbentuk oval dibungkus kapsul tipis. Badan
meissner terletak di dalam dermis yang merupaka mekanoreseptor yang merespon
terhadap sentuhan ringan. Oleh karena itu bagian tubuh yang sensitif banyak dijumpa
badan meissner.
Subyek dapat merasakan satu titik dikarenakan stimulus yang diberikan hanya
mengenai satu eseptor sedangakan subyek bisa measakan dua titik karena stimulus
yang diberikan tepat mengenai dua reseptor. Apabila jarak dua titik yang terdeteksi
pendek berarti jarak antar 2 reseptor juga pendek. Hal tersebut membuktikan bahwa
pada tempat tersebut mengandung banyak eseptor sehinggan kepekaan yang dimiliki
juga tinggi.

2. Menentukan reseptor sentuh


Pada percobaan menetukan reseptor sentuh dibuatlah 25 petak pada punggung
tangan dengan ukuran 1mm. pada 25 petak yang sudah dibuat di punggung tangan,
subyek merasakan sentuhan pada semua petak. Hal tersebut membuktikan bahwa
pada semua petak terdapat reseptor sentuhan yang terletak menyebar. Menurut Basuki
(2000) untuk terjadi sensasi harus ada rangsang dan reseptor, implus harus
dihantarkan sepanjang jalur saraf dari sensori ke otak kemudian otak menterjemahkan
implus untuk menjadi sensasi.
Reseptor bertanggung jawab terhadap sensasi sentuhan adalah ujung saraf
telanjang (dendrit dari saraf sensoris) dan ujung saraf berkapsul (ujung saraf yang
dibungkus lebih dari satu lapis sel). Pada ujung asraf berkaspsul terdapat badan
meissner yang terletak dalam dermis yang berfungsi sebagai mekanoreseptor terhadap
sentuhan ringan. Mekanoreseptor yang kedua yaitu cawan merkel yang merupakan sel
kecil berbentuk cawan pada ujung saraf telanjang yang terleta pada lapisan luar kulit
dan menerima stimulus tekanan ringan pada kulit (Soewolo, 1999).

3. Menentukan reseptor sakit


Pada percobaan menetukan reseptor rasa sakit dibuatlah 25 petak pada
punggung tangan dengan ukuran 1mm. pada 25 petak tersebut subyek merasakan
sensasi rasa sakit pada petak ke 15, 20 dan 25. Hal tersebut emmebuktikan bahwa
pada peta ke 15, 20 dan 25 terdapat reseptor rasa sakit. Reseptor sakit bekerja disetiap
jaringan tubuh yang distimulasi oleh beberapa stimulus.
Menurut Tortora (1984) rasa sakit somatik merupakan rasa sakit dengan
daerah stimulus terdapat di kulit yang biasa disebut superfisial somatic pan atau
reseptor terdapat di otot tendon yang disebut deep somatic pain . sedangkan menurut
Soewolo (1999) reseptor sakit merupaka ujung dendrit saraf telanjang yang terdapat
pada kulit dan organ dalam. Ada dua tipe sensasi sakit yatu sensasi sakit somatik
(sakit tubuh) dan sensasi sakit viseral (sakit organ dalam).

4. Menentukan Propioreseptor
Pada perobaan menetukan propioreseptor dilakuan dengan menuliskan huruf
“X” di papan tulis kemudian membuat titik terdekat pada huruf “X“ dengan mata
tertutup, jarak terdekat titik dengan huruf “X” pada ulangan pertama yaitu 5,7 cm,
pada ulangan kedua 6,5 cm dan ulangan ketiga yaitu 3 cm. Subyek berhasil tepat
mengenai jari tengah tangan kiri yang ditunjuk oleh jari telunjuk tangan kanan dengan
mata tertutup. Subyek juga berhasil tepat menunjuk hidung dengan jari telunjuk
tangan kanan dalam kondisi mata yang tertutup. Keberhasilan dan ketepatan tersebut
dipengaruhi oleh propioreseptor.
Dari percobaan diatas dapat diketahui bahwa propioreseptor dapat terjadi
ketika ada kontraksi otot, yaitu saat mata ditutup dan praktikan membuat titik terdekat
dengan huruf X, titik yang dibuat tidak terlalu jauh. Hal tersebut dikarenakan tangan
praktikan sempat dibiarkan beberapa saat pada huruf X. Pada saat mata tertutup dan
ketika tangan kita bergerak menuju huruf X terjadi kontraksi otot, sehingga reseptor
dapat menerima stimulus yang diteruskan ke otak. Pada akhirnya reseptor ini akan
menjga gerak tangan kita, sehingga titik yang dibuat praktikan tidak terlalu jauh
dengan huruf X.
Begitu pula ketika praktikan menutup mata lalu menunjuk jari tengah tangan
kiri menggunakan telunjuk tangan kanan. Pada perlakuan ini praktikan (subjek)
berhasil menyentuh jari tengah tangan kiri. Hal tersebut dikarenakan propioreseptor
dari subjek bekerja dengan baik.Ketika praktikan menutup mata lalu menyentuh ujung
hidung dengan tangan kanan, subjek berhasil menyentuh ujung hidung. Hal tersebut
dikarenakan propioreseptor pada praktikan (subjek) dapat bekerja dengan baik.

5. Bintik buta
Pada percobaan bintik buta dilakukan dengan membuat gambar X dan O yang
kemudian didekatan dengan mata subyek, pada jarak 0,9cm dari mata gambar O
menghilang dari pandangan obyek. Hal tersebut membuktikan bahwa bayangan jatuh
pada titik buta sehingga gambar O tidak terlihat.
Menurut Soewolo (1999) dalam proses melihat sebuah bayangan harus
terbentuk pada retina untuk merangsang retina yang berupa sel batang dan sel kerucut
dan menghasilkan impuls saraf yang harus dihantarkan ke area visual korteks
serebralis. Cahaya tersebut kemudian akan di proyeksikan oleh lensa tepat pada retina
. Sebelum mencapai fotoreseptor cahaya tadi akan melewati lapisan ganglion dan
lapisan bipolar. Selanjutnya akson sel-sel ganglion akan merambat pada permukaan
dalam retina dan berkumpul menjadi satu pada bagian belakang bola mata dan
membentuk saraf pengelihatan. Tempat menyatunya akson-akson sel ganglion pada
permukaan sel retina disebut bintik buta

6. praktikum proyeksi binokular.


Penglihatan binokular merupakan penglihatan yang menggunakan kedua mata
secara serentak dimana kedua bola mata saling bekerja sama untuk memfokuskan
bayangan hingga jatuh tepat pada retina. Berdasarkan percobaan ketika kondisi mata
terbuka semua, nampak satu lubang pada jarak 4 cm, sedangkan pada mata yang
tertutup nampak satu lubang pada jarak 6 cm. Pada praktikum ini hasil yang
kelompok kami peroleh tidak sesuai dengan teori karena ketika salah satu mata
ditutup dan lubang didekatkan malah subjek melihat satu lubang tersebut. Seharusnya
jika sesuai dengan teori, penglihatan binokular merupakan penglihatan yang
menggunakan kedua mata secara serentak, sehingga kedua lubang pada kertas
seharusnya tidak nampak 1 lubang meskipun didekatkan dengan jarak maksimal.

7. Penglihatan Binokular
Pada praktikum ini, subjek menutup salah satu mata sambil memegang pensil.
Pengamat memegang tabung reaksi secara vertikal dengan lubang tabung diatas lalu
subjek memasukkan pensil kedalam tabung reaksi, praktikum ini terdapat 10 kali
ulangan. Berdasarkan hasil praktikum, jumlah ulangan pensil yang masuk ke dalam
tabung reaksi sebanyak 5 kali dan jumlah ulangan pensil yang kurang tepat masuk ke
dalam tabung sebanyak 5 kali. Hal ini sesuai dengan pendapat Basoeki (1999) yang
menyatakan bahwa perlakuan tersebut terjadi karena ketika mata subjek ditutup salah
satu permukaan refraktif mempunyai daya bias yang kurang memadai untuk
membelokkan cahaya yang tingkatannya mencukupi untuk memfokuskan sebagai titik
yang jelas pada retina, sehingga fokus penglihatan subjek menjadi berkurang.
Disinilah pentingnya penglihatan binokular yang bertujuan untuk mempertajam objek
yang dilihat mata serta mendapatkan satu kesatuan dari kedua mata karena mata
normal memiliki permukaan refraktif daya bias yang memadai untuk membelokkan
cahaya yang tingkatannya mencukupi untuk memfokuskannya sebagai titik yang jelas
pada retina.

8. Adaptasi Olfaktori
Pada praktikum ini subjek diminta untuk menutup mata dan menutup nostril
dengan satu kapas. Selanjutnya pengamat memegang sebotol minyak cengkeh di
bawah nostril yang terbuka, subjek bernapas dengan satu nostril lalu menghembuskan
napas lewat mulut. Pengamat mencatat waktu yang diperlukan sampai aroma
menghilang dari penciuman subjek. Berdasarkan hasil pengamatan, waktu yang
diperlukan aroma untuk menghilang dari penciuman subjek adalah 3 detik. Reseptor
pembau terletak pada langit-langit rongga hidung, pada bagian yang disebut epitelium
olfaktori. Epitelium olfaktori terdiri dari sel-sel reseptor dan sel-sel penyokong.
Stimulus reseptor olfaktori berupa gas atau uap suatu zat. Bila suatu zat mengenai
reseptor olfaktori, maka pada reseptor tersebut akan timbul impuls yang diteruskan ke
pusat pembau di otak melalui saraf pembau (Soewolo,1999). Apabila epitelium
olfaktori terhalang oleh suatu zat maka daya untuk mengenali reseptor olfaktori akan
berkurang.

9. Praktikum Reseptor Gustatori


Subjek diminta menjulurkan lidah dan pengamat meletakkan butiran gula di
ujung lidah subjek, sebelum diletakkan di ujung lidah, pengamat sudah siap dengan
stopwatch untuk menghitung waktunya. Apabila subjek merasakan rasa manis, subjek
mengangkat tangan dan pengamat akan mencatat waktunya. Mengulangi perlakuan
dengan menggunakan bahan larutan gula, kina, garam dapur dan nutrisari.
Berdasarkan hasil pengamatan, waktu yang diperlukan ujung lidah untuk merasakan
masing-masing rasa adalah sebagai berikut butiran gula memerlukan waktu sebanyak
19 detik, larutan gula memerlukan waktu sebanyak 5 detik, kina memerlukan waktu
sebanyak 7 detik, garam dapur memerlukan waktu sebanyak 3 detik sedangkan pada
nutrisari di ujung lidah memerlukan waktu sebanyak 3 detik, sisi lidah sebanyak 2
detik.
Lidah pada mamalia terutama pada manusia memiliki kuncup-kuncup
pengecap yang merupakan reseptor untuk rasa. Kuncup pengecap berbentuk seperti
bawang kecil yang terletak pada permukaan epitelium dan pada tonjolan-tonjolan
kecil (papila) pada permukaan atas lidah. Kuncup pengecap menerima rangsangan zat
zat kimia dalam makanan yang kita makan. Zat kimia tersebut mencapai kuncup
pengecap melalui pori pengecap (taste pores). Kuncup pengecap tersusun atas dua
macam sel yaitu sel penyokong dan sel reseptor. Pada ujung sel reseptor yang
menghadap ke lubang pengecap dilengkapi dengan mikrofili yang disebut rambut
pengecap (rambut gustatori). Rambut tersebut berhubungan dengan ujung dendrit
saraf pengecap yang akan meneruskan impuls ke korteks otak. Kuncup-kuncup
pengecap merespon empat rasa dasar yaitu manis, pahit, asam dan asin (Soewolo,
1999). Dengan demikian berbagai bahan pengamatan yang diletakkan di ujung lidah
akan diterima oleh kuncup pengecap dan akan diteruskan impulsnya ke otak oleh sel
mikrofili. Bentuk bahan pengamatan juga berpengaruh pada kecepatan kuncup
pengecap dalam menerima rangsangan kimia, apabila bahan pengamatan berupa
cairan maka kuncup pengecap akan lebih cepat dalam merespon impuls yang ada. Hal
ini dikarenakan molekul-molekul larutan gula berukuran lebih kecil daripada bahan
yang lain.
10. Pengecap dan pembau
Subjek mengeringkan lidahnya dan menutup mata serta menjepit hidung
hingga kedua nostril tertutup. Pengamat meletakkan wortel, bawang merah, kentang
dan apel secara satu persatu pada lidah subjek. Subjek diminta mengenali setiap
potongan tadi secara berturut-turut dengan segera setelah potongan tadi dikunyah.
Mengulangi perlakuan dengan membuka nostril. Ketika keadaan nostril tertutup,
subjek salah dalam mengidentifikasi wortel tetapi benar dalam mengidentifikasi
bawang merah, kentang dan apel. Ketika keadaan nostril terbuka, subjek benar dalam
mengidentifikasi semua potongan (wortel, bawang merah, kentang, apel).
Dalam indra pembau, terdapat sel reseptor dan sel penyokong yang apabila
ada stimulus pada reseptor olfaktori maka reseptor tersebut akan meneruskan impuls
ke pusat pembau yang berada di otak. Pembau dan pengecap saling bekerja sama,
sebab rangsangan bau dari makanan dalam rongga mulut dapat mencapai rongga
hidung dan diterima reseptor olfaktori (Soewolo, 1999). Apabila hidung ditutup
(notril tertutup) maka rasa yang dirasakan oleh kuncup pengecap subjek seakan akan
kehilangan rasa karena hubungan antara rongga hidung dan rongga mulut terganggu.
Hal ini terbukti ketika subjek hidungnya ditutup oleh jari, subjek salah dalam
mengenali wortel.

11. Ketajaman Pendengaran Terhadap Sumber Bunyi


Pada praktikum ketajaman pendengaran pada sumber bunyi ketika diberikan
perlakuan berupa Pengamat mendekatkan sebuah timer pada telinga subyek yang
terbuka. Yang kemudian dijauhkan hingga subyek tidak mendengar bunyi timer
tersebut pada jarak 54 cm. Sedangkan pada perlakuan dengan menambah jarak terjauh
bunyi sebanyak 2 meter yang selanjutnya didekatkkan kepada subyek, subyek
mendengar sumber bunyi pada jarak 65 cm. Hal ini menandakan bahwa ketajaman
pendengar lebih baik ketika sumber bunyi berasal dari jauh dibandingkan dengan
bunyi didekatkan kepada pendengar.
Hal ini bertentangan dengan Menurut Soewolo (2003) bahwa bunyi yang kita
dengar memiliki frekuensi getaran berbeda-beda, mulai dari frekuensi rendah sampai
tinggi. Membran basilaris memiliki lebar dan fleksibilitasyang berbeda-beda pula,
membran basilaris di dekat jendela lonjong sempit dan lebih kaku. Daerah ini
berfungsi menerima dan merespon getaran yang berfrekuensi tinggi. Membran
basilaris di tengah lebih lebar dan fleksibel dan berfungsi menerima serta merespon
getaran yang berfrekuensi sedang. Daerah membran basilaris paling ujung adalah
lebar dan paling fleksibel, daerah ini berfungsi menerima dan merespon getaran dan
suara berfrekuensi rendah. Perlakuan yang di berikan mengakibatkan membran ketiga
membran basilaris bekerja, semakin jauh jarak asal suara dari telinga maka semakin
rendah frekuensinya, sampai pada batas frekuensi tertentu (pada data karena jarak
semakin jauh) membran basilaris tidak dapat bekerja lagi karena batas rendah
frekuensi telah terlewati sehingga kita tidak dapat mendengar suara tersebut.

12. Penghantaran suara


Pada saat garputala dipukul dengan karet pemukul kemudian didekatkan
dengan subyek di diatas telinga dan dibawah telinga maka yang terdengar pada saat
dibawah telinga. Pada saat salah satu dan kedua telinga ditutupi dengan kapas, suara
dari getaran tidak dapat didengar oleh subyek. Penghantaran suara menurut Soewolo
(2003) melalui berbagai proses dalam telinga. Proses tersebut yaitu getaran suara yang
diterima ioleh membran timpani diteruskan oleh kohlea melalui yuleng pendengaran
akan mengetarkan jendela lonjong, dan getaran ini akan menimbulkan cairan
perilimfe di dalam saluran vestibular. Getaran ini akan melewati membran vestibular
dan masuk ke kohlea. Yang selanjutnya melintasi menmbran basilaris ke membran
saluran timpani. Tekanan gelombang ini akan menggetarkan membran basilaris yang
mengakibatkan ujung rambut bersentuhan dengan membran tektorial. Sentuhan ini
merupakan stimulus bagi organ korti yang akan meresponnya dalam bentuk
pembebasan neurotrasmitter ke ujung dendrit saraf. Impuls saraf yang terjadi akan
diteruskan melalui saraf kohlea ke pusat pendengaran.

13. Keseimbangan
Pada praktikum keseimbangan ini subyek diberikan dua perlakuan yaitu
berdiri dengan tegak dengan mata terbuka dan angkat diangkat satu. Pada perlakuan
satu ini subyek masih dapat menjaga keseimbangan tubuhnya. Pada perlakuan yang
kedua yaitu subyek berdiri tegak dengan mata tertutup dan salah satu kaki diangkat,
subyek mulai tidak dapat mejaga keseimbangan tubuhnya hal ini ditandai dengan
terdapat beberapa gerakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Tortora (1984) saat kita
diam alat keseimbangan yang berfungsi adalah alat keseimbangan statis yang berupa
makula akustika yang terletak di dalam sakulus dan utrikulus. Sedangkan Menurut
Soewolo ( 2003) bila seseorang dalam posisi tegak, maka rambut sel reseptor dalam
utrikulus berorientasi vertikal dan rambut sel reseptor dalam sakulus berorientasi
horizontal. Bilasalah satu mata kmita di tutup maka orientasi sel reseptor dalam
utrikulus dan sakulus akan terganggu dan akan berubah arah sehingga mengakibatkan
tidak seimbangnya posisi tubuh.

14. Uji Tes Romberg


Pengujian tes romberg dilakukan selama 5 menit dengan memperhatikan
goyangan pada butuh dengan dua perlakuan pada subyek. Pengujian yang pertama
dilakuan dengan berdiri tegak kaki rapat kedua tangan lurus disamping kaki. Hasil
dari pengujian perlakuan ini menunjukan adanya sedikit goyangan pada subyek. Pada
saat mata ditutup subyek memberikan respon goyangan yang lebih banyak dan arah
goyangan tersebut berlawananarah jarum jam. Hal ini menandakan bahwa
keseimbangan tubuh kan terganggu ketika mata tertutup

15. Uji Kanalis Semisirkularis


Pada uji ini subyek diberikan perlakuan berupa duduk di kursi yang diputar
kemudian akan diberhentikan secara tiba-tiba hasil perakuan tersebut menjadi pusing.
Hal ini menandakan bahwa keseimbangan dari subyek terganggu dengan adanya
pusing sebagai respon dari diputar-putar dan dihentikan secara tiba-tiba.

H. Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa pada indera
ada beberapa sensasi yang umum dan khusus. Untuk sensasi umum dapat dirasakan oleh
beberapa indera karena reseptor yang sama pada indera tersebut . sedangkan untuk sensasi
khusus karena sensasi dapat terjadi pada indera yang diberi stimulus. Hal ini disebabkan
karena hanya pada indera tersebut terdapat reseptor tertentu.
DAFTAR RUJUKAN

Arsyianti, D. 2009. Sensasi Pendengaran. Malang: Universitas Negeri Malang.


Basoeki Soedjono. 1998. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Jakarta : Proyek Pengembangan
Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Dirjen Dikti Depdikbud
Basoeki, S. 2000. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang: Universitas
Negeri Malang
Soewolo, Basoeki, S., dan Yudani, T. 2005. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri
Malang.
Soewolo, dkk, 1999. Fisiologi Manusia. Malang; IMSTEP-JICA. FMIPA-UM
Soewolo. 1999. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Soewolo.2003. Fisiologi Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang
Susilowati, Lestari, S.R., Wulandari, N., dan Gofur, A. Petunjuk Praktikum Fisiologi Hewan
dan Manusia. Malang: Universitas Negeri Malang.
Tortora, Gerard dan Nicholas P.A.1984. Principles of Anatomy and Physiology. New York:
D Van Nostran Company