Anda di halaman 1dari 13

1.

Jenis Kasus
A. Pengertian
Gagal napas adalah ketidakmampuan sistem pernapasan untuk
mempertahankan suatu keadaan pertukaran antara atmosfer dan sel-sel tubuh yang
sesuai dengan kebutuhan tubuh normal. Pada gagal napas, terjadi kegegalan sistem
pulmoner untuk memenuhi kebutuhan eliminasi CO2 dan oksigenasi darah. (Purwato
dkk, 2009). Gagal napas terjadi bila PO2 arterial (PaO2) < 60 mmHg, atau PCO2
arterial (PaCO2) > 45 mmHg , kecuali apabila peningkatan PCO2 disebabkan oleh
kompensasi dari alkalosis metabolik. Secara umum gagal napas dibedakan menjadi
gagal napas tipe hiperkapnia dan gagal napas tipe hipoksemia. Pasien dengan gagal
napas hiperkapnia mempunyai kadar PCO2 arterial (PaCO2) yang abnormal tinggi
(PaCO2 > 45 mmHg). Sedangkan pada gagal napas hipoksemia didapatkan PO2
arterial (PaO2) yang rendah (PaO2 < 60 mmHg) dengan PaCO2 yang normal atau
rendah. (John E. Hall. 2008).

B. Etiologi
1. Depresi Sistem saraf pusat
Takar lajak obat, anastesi, opioid, cedera kepala, stroke, tumor otak,
ensefalitis, meningitis, hipoksia, dan hiperkapnia mempunyai kemampuaan dalam
menekan pusat pernafasan. Pada pasien ini pernafasan, pernafasan menjadi
lambat dan dangkal. Henti nafas dapat terjadi pada kasus-kasus berat.
2. Kelainan neurologis primer
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat
pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke
saraf spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti
gangguan medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular
yang terjadi pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi. Sindrom
Guillanial-Barre, miastenia gravis, kerusakan pada segmen servikal medulla
spinalis, lesi yang akut pada batang otak dalam multiple sklerosis dan
poliomyelitis adalah contoh-contoh penyakit seperti ini.
3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan
ekspansi paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari,
penyakit pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
4. Trauma
Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan
perdarahan dari hidung dan mulut dapat mnegarah pada obstruksi jalan nafas atas
dan depresi pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat
terjadi dan mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat
mengarah pada gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi
yang mendasar.
5. Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau
pnemonia diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi
lambung yang bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan
edema paru adalah beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.

C. Patofisiologi
Gagal nafas dapat disebabkan oleh kelainan intrapulmoner maupun
ekstrapulmoner. Kelainan intrapulmoner meliputi kelainan pada saluran nafas bawah,
sirkulasi pulmoner, jaringan interstitial dan daerah kapiler alveolar. Sedangkan
ekstrapulmoner berupa kelainan pada pusat nafas, neuromuskular, pleura maupun
saluran nafas atas. (John E. Hall. 2008). Pemahaman mengenai patofisiologi gagal
nafas merupakan hal yang sangat penting di dalam hal penatalaksanaannya nanti.
Secara umum terdapat 4 dasar mekanisme gangguan pertukaran gas pada sistem
respirasi, yaitu :

1. Hipoventilasi
2. Right to left shunting of blood
3. Gangguan difusi
4. Ventilation/perfusion mismatch, V/Q mismatch.
Dari keempat mekanisme di atas, kelainan extrapulmoner menyebabkan
hipoventilasi sedangkan kelainan intrapulmoner dapat meliputi seluruh mekanisme
tersebut. (Bagian Ilmu Kesehatan Anak. 2010
D. Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik dari gagal nafas menurut Boedi Swidarmoko,2010:264 yaitu:
1) Gejala umum: Lelah, berkeringat, sulit tidur dan makan, didapatkan juga
gangguan status mental, sakit kepala, kejang.
2) Gejala kardiovaskular: takikardia dan vasodilatasi perifer.
3) Gangguan pernapasan: takipnea, retraksi otot bantu pernapasan, hipoventilasi,
apnea, suara napas tambahan seperti stridor, mengi, ronki basah.
4) Gejala klinis dari gagal napas adalah nonspesifik dan mungkin minimal, walaupun
terjadi hipoksemia, hiperkapnia dan asedemia yang berat. Tanda utama dari gagal
napas adalah penggunaan otot bantu napas takipnea, takikardia, menurunya tidal
volum, pola napas iregular atau terengah – engah (gasping) dan gerakan abdomen
yang paradoksal (terkait dengan flail chest).

E. Pemeriksaan Penunjang
1) Analisa Gas Darah Arteri : Pemeriksaan gas darah arteri penting untuk
menentukan adanya asidosis respiratorik dan alkalosis respiratorik, serta untuk
mengetahui apakah klien mengalami asidosis metabolik, alkalosis metabolik, atau
keduanya pada klien yang sudah lama mengalami gagal napas. Selain itu,
pemeriksaan ini juga sangat penting untuk mengetahui oksigenasi serta evaluasi
kemajuan terapi atau pengobatan yang diberikan terhadap klien.
2) Radiologi : Berdasarkan pada foto thoraks PA/AP dan lateral serta fluoroskopi
akan banyak data yang diperoleh seperti terjadinya hiperinflasi, pneumothoraks,
efusi pleura, hidropneumothoraks, sembab paru, dan tumor paru.
3) Pengukuran Fugnsi Paru : Penggunaan spirometer dapat membuat kita
mengetahui ada tidaknya gangguan obstruksi dan restriksi paru. Nilai normal atau
FEV1 > 83% prediksi. Ada obstruksi bila FEV1 < 70% dan FEV1/FVC lebih
rendah dari nilai normal. Jika FEV1 normal, tetapi FEV1/FVC sama atau lebih
besar dari nilai normal, keadaan ini menunjukkan ada restriksi.
4) Elektrokardiogram (EKG) : Adanya hipertensi pulmonal dapat dilihat pada
EKG yang ditandai dengan perubahan gelombang P meninggi di sadapan II, III
dan aVF, serta jantung yang mengalami hipertrofi ventrikel kanan. Iskemia dan
aritmia jantung sering dijumpai pada gangguan ventilasi dan oksigenasi.
5) Pemeriksaan Sputum : Yang perlu diperhatikan ialah warna, bau, dan
kekentalan. Jika perlu lakukan kultur dan uji kepekaan terhadap kuman penyebab.
Jika dijumpai ada garis-garis darah pada sputum (blood streaked), kemungkinan
disebabkan oleh bronkhitis, bronkhiektasis, pneumonia, TB paru, dan keganasan.
Sputum yang berwarna merah jambu dan berbuih (pink frothy), kemungkinan
disebabkan edema paru. Untuk sputum yang mengandung banyak sekali darah
(grossy bloody), lebih sering merupakan tanda dari TB paru atau adanya
keganasan paru. (Said. 2011)

F. Penatalaksanaan
Prioritas dalam penanganan gagal nafas berbeda-beda tergantung dari
etiologinya, tetapi tujuan primer penanganan adalah sama pada semua pasien, yaitu
menangani sebab gagal nafas dan bersamaan dengan itu memastikan ada ventilasi
yang memadai dan jalan nafas yang bebas.
a. Perbaiki jalan napas (Air Way)
Terutama pada obstruksi jalan napas bagian atas, dengan hipereksistensi
kepala mencegah lidah jatuh ke posterior menutupi jalan napas, apabila masih
belum menolong maka mulut dibuka dan mandibula didorong ke depan (triple
airway maneuver) atau dengan menggunakan manuver head tilt-chin lift),
biasanya berhasil untuk mengatasi obstruksi jalan nafas bagian atas. Sambil
menunggu dan mempersiapkan pengobatan spesifik, maka diidentifikasi apakah
ada obstruksi oleh benda asing, edema laring atau spasme bronkus, dan lain-lain.
Mungkin juga diperlukan alat pembantu seperti pipa orofaring, pipa nasofaring
atau pipa trakea. (Hall, 2008)
b. Terapi oksigen
Pada keadaan O2 turun secara akut, perlu tindakan secepatnya untuk
menaikkan PaO2 sampai normal. Pada terapi oksigen, besarnya oksigen yang
diberikan tergantung dari mekanisme hipoksemia, tipe alat pemberi oksigen
tergantung pada jumlah oksigen yang diperlukan, potensi efek samping oksigen,
dan ventilasi semenit pasien.
Cara pemberian oksigen dibagi menjadi dua yaitu sistem arus rendah dan sistem
arus tinggi.
Alat Kateter Nasal 1-6 L/menit
Oksigen Konsentrasi : 24-44%
Arus Kanula Nasal 1-6 L/menit
Rendah Konsentrasi : 24-44%

Simple Mask 6-8 L/menit


Konsentrasi : 40-60%
Mask + Rebreathing 6-8 L/menit
Konsetrasi : 60-80%
Alat AMBU BAG 10 L/menit
Oksigen Konsentrasi : 100%
Arus Tinggi Bag Mask + Jackson 10 L/menit
Rees Konsentrasi : 100%

Pemberian terapi oksigen harus memenuhi kriteria 4 tepat 1 waspada yaitu tepat
indikasi, tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat waktu pemberian, dan wasapada
terhadap efek samping. (Ulaynah, Ana. 2010)
c. Ventilasi Bantu
Pada keadaan darurat dan tidak ada fasilitas lengkap, bantuan napas dapat
dilakukan mulut ke mulut (mouth to mouth) atau mulut ke hidung (mouth to nose).
Apabila kesadaran pasien masih cukup baik, dapat dilakukan bantuan ventilasi
menggunakan ventilator, seperti ventilator bird, dengan ventilasi IPPB (Intermittent
Positive Pressure Breathing), yaitu pasien bernapas spontan melalui mouth piece atau
sungkup muka yang dihubungkan dengan ventilator. Setiap kali pasien melakukan
inspirasi maka tekanan negative yang ditimbulkan akan menggerakkan ventilator dan
memberikan bantuan napas sebanyak sesuai yang diatur.
d. Ventilasi Kendali
Pasien diintubasi, dipasang pipa trakea dan dihubungkan dengan ventilator. Ventilasi
pasien sepenuhnya dikendalikan oleh ventilator. Biasanya diperlukan obat-obatan
seperti sedative, narkotika, atau pelumpuh otot agar pasien tidak berontak dan
parnapasan pasien dapat mengikuti irama ventilator.
e. Terapi farmakologi
1) Bronkodilator.
Mempengaruhi langsung pada kontraksi otot polos bronkus. Merupakan terapi
utama untuk pnyakit paru obstruktif atau pada penyakit dengan peningkatan
resistensi jalan napas seperti edema paru, ARDS, atau pneumonia.
2) Agonis B adrenergik / simpatomimetik
Memilik efek agonis terhadap reseptor beta drenergik pada otot polos bronkus
sehingga menimbulkan efek bronkodilatasi. golongan ini memiliki efek samping
antara lain tremor, takikardia, palpitasi, aritmia, dan hipokalemia. Lebih efektif
digunakan dalam bentuk inhalasi sehinga dosis yang lebih besar dan efek
kerjanya lebih lama.
3) Antikolinergik
Respon bronkodilator terhadap obat antikolinergik tergantung pada derajat tonus
parasimpatis intrisik. Obat-obatan ini kurang berperan pada asma, dimana
obstruksi jalan nafas berkaitan dengan inflamasi, dibandingkan dengan bronkitis
kronik dimana tonus parasimpatis lebih berperan.
Pada gagal nafas, antikolinergik harus diberikan bersamaan dengan agonis beta
adrenergik. Contoh dari antikolinergik adalah Ipatropium Bromida, tersedia
dalam bentuk MDI (metered dose-inhaler) atau solusio untuk nebulisasi. Efek
samping jarang terjadi seperti takikardia, palpitasi, dan retensi urine.
4) Teofilin
Mekanisme kerja melalui inhibisi kerja fosfodieterase pada AMP siklik,
translokasi kalsium, antagonis adenosin, dan stimulasi reseptor beta-adrenergik,
dan aktifitas anti-inflamasi. Efek samping meliputi takikardia, mual, dan muntah.
Komplikasi terparah antara lain aritmia jantung, hipokalemia, perubahan status
mental, dan kejang.
5) Kortikosteroid
Mekanisme kortikosteroid dalam menurunkan inflamasi jalan napas tidak
diketahui secara pasti, tetapi perubahan pada sifat dan jumlah sel
inflamasi.(Gwinnutt, C. 2011)
f. Pengobatan Spesifik
Pengobatan spesifik ditujukan pada underlying disease, sehingga pengobatan untuk
masing-masing penyakit akan berlainan.
Tindakan terapi untuk memulihkan kondisi pasien gagal napas:
a) Penghisapan paru untuk mengeluarkan sekret agar tidak menghambat saluran
napas.
b) Postural drainage, juga untuk mengeluarkan sekret.
2. Pathway

Trauma Kelainan neurologis Penyakit paru

Gangguan saraf pernafasan & otot pernafasan

Peningkatan permeabilitas membrane alveolar kapiler

Gangguan epithelium alveolar


Gangguan
endhotelium kapiler
Penumpukan cairan alveoli Adanya usaha peningkatan
Cairan masuk ke pernafasan
interstitial
Oedema
pulmo Peningkatan Tampak adanya retraksi
tekanan jalan nafas dada, penggunaan otot
bantu pernafsan dan
Kehilangan fungsi silia adanya pernafasan cuping
Penurunan complain paru
saluran pernafasan hidung POLA
KETIDAKEFEKTIFAN
Cairan surfaktan menurun NAFAS
KETIDAKEFEKTIFAN
Gangguan pengembangan paru
BERSIHAN JALAN NAFAS
(atelectasis)

Kolaps alveoli
GANGGUAN
Ventilasi dan perfusi tidak seimbang PERTUKARAN GAS

Hipoksemia, Hiperkapnea O2 ↓, CO2 ↑ Dyspnea

Tindakan primer
A,B,C,D, E
Sianosis perifer, akral hangat,
kulit pucat
Pemasangan
Ventilasi KETIDAKEFEKTIFAN PERFUSI
mekanik JARINGAN PERIFER

RESIKO INFEKSI RESIKO CEDERA


Symbol :
---> resiko
→ alur proses
□ dx keperawatan
○ terapi
◊ dx medis

Sumber : Smeltzer& Bare (2015), Price & Wilson(2011)


Fokus Assesment
1. Pengkajian Primer
a. Airway
1) Peningkatan sekresi pernapasan
2) Bunyi nafas krekels, ronki dan mengi
b. Breathing
1) Distress pernapasan : pernapasan cuping hidung, takipneu/bradipneu, retraksi.
2) Menggunakan otot aksesori pernapasan
3) Kesulitan bernafas : lapar udara, diaforesis, sianosis
b. Circulation
1) Penurunan curah jantung : gelisah, letargi, takikardia
2) Sakit kepala
3) Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah, kacau mental, mengantuk
4) Papiledema
5) Penurunan haluaran urine
c. Disability
1) Kompos mentis yaitu keadaan pasien sadar penuh, baik terhadap lingkungan
maupun terhadap dirinya sendiri. Gcs : 15-14.
2) Apatis yaitu keadaan pasien dimana tampak acuh tak acuh dan segan terhadap
lingkungannya. Gcs : 13-12.
3) Delirium yaitu keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran disertai kekacauan
motorik serta siklus tidur bangun yang terganggu. Gcs : 11-10.
4) Somnolen yaitu keadaan pasien mengantuk yang dapat pulih jika dirangsang, tapi
jika rangsangan itu berhenti pasien akan tidur kembali. Gcs : 9-7.
5) Sopor (stupor) yaitu keadaan pasien mengantuk yang dalam.Gcs : 6-5.
6) Semi-koma (koma ringan) yaitu keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran
yang tidak memberikan respons rangsang terhadap rangsang verbal, serta tidak
mampu untuk di bangunkan sama sekali, tapi respons terhadap nyeri tidak adekuat
serta reflek (pupil & kornea) masih baik. Gcs : 4.
7) Koma yaitu keadaan pasien mengalami penurunan kesadaran yang sangat dalam,
tidak terdapat respons pada rangsang nyeri serta tidak ada gerakan spontan. Gcs : 3.
d. Exposure
Adanya lesi / tidak, adanya jejas / tidak.
2. Pengkajian Sekunder
a. Kepala
1) Kepala: Mesochepal, tidak ada lesi dan benjolan, rambut tidak mudah rontok
2) Leher: Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak terdapat peningkatan vena
jugularis.
3) Mata: kedua mata simetris, pupil isokor, konjunctiva tidak anemis, sclera tidak
ikterik
4) Hidung: Simetris, tidak ada lendir didalam hidung, tidak ada polip
5) Mulut: Ada tidaknya radang mukosa / stomatitis, Mukosa bibir lembab / tidak,
mulut bersih, ada pembengkakan gusi / tidak
6) Telinga: Simetris, tidak ada serumen, tidak ada benjolan
b. Dada
Jantung
Inspeksi : ictus kordis tidak tampak, amati denyut apek jantung
Palpasi : ictus kordis tampak / tidak, merasakan adanya pulsasi aorta
Perkusi : Suara pekak / tidak
Auskultasi : terdengar bunyi jantung I dan II, ada gallop / tidak

Paru
Inspeksi : bentuk dada simetris / tidak
Palpasi : taktil fremitus teraba/ tidak, nyeri tekan/ tidak, teraba benjolan / tidak
Perkusi : terdengar suara sonor lapang paru / tidak
Auskultasi : suara nafas vesikuler / tidak
c. Abdomen
Inspeksi : kesimetrisan, warna kulit, adanya retraksi / tidak
Auskultasi : terdengar bising usus
Perkusi : adanya suara thmpany / tidak
Palpasi : Adanya massa / tidak, teraba nyeri /tidak
d. Genetalia
Mengetahui adanya lesi, infeksi, kebersihan genetalia
e. Ekstremitas
Teraba akral hangat / tidak, terdapat sianosis / tidak, adanya edema / tidak, CRT
<2detik, kekuatan otot 0-5
Amin, Zulfikli, dan Johanes Purwato (2009)
3. Diagnosa Keperawatan (NANDA 2015)
a. Pola napas tidak efektif b.d ekspansi paru
b. Gangguan kontraktilitas jantung b.d. ketidak seimbangan elektrolit
c. Kelebihan volume cairan b.d. penurunan urin, retensi cairan dan natrium sekunder
terhadap penurunan fungsi ginjal

4. Intervensi Keperawatan (NANDA 2015, NIC-NOC)

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Keperawatan Rasional


. Keperawatan kriteria hasil

1. Pola napas Setelah dilakukan Observasi Rasional


tidak efektif tindakan asuhan
a. Observasi penggunaan otot a. Untuk mengetahui
b.d penurunan keperawatan selama
pernafasan tambahan ekspansi paru
kompain paru 2 x 24 jam pola
b. Untuk meningkatkan
napas kembali Mandiri
kualitas oksigenasi
efektif dengan
a. Atur posisi semifowler c. Untuk mengetahui
kriteria hasil:
b. Monitoring respirasi dan respirasi dan saturasi
1.RR dalam
saturasi oksigen oksigen dalam
rentang normal
c. Atur seting/mode ventilator rentang normal
2.Irama pernapasan
d. Untuk menyesuaikan
teratur Kolaborasi
dengan kebutuhan
3.Oksigen adekuat
a. Kolaborasi pemberian oksigen dalam tubuh
oksigen sesuai kebutuhan pasien
e. Untuk memenuhi
kebutuhan oksigenasi

2. Gangguan Setelah dilakukan a. Auskultasi bunyi jantung, a. Untuk mengetahui


kontraktilit tindakan asuhan evaluasi adanya, dispnea, adanya dispnea,
as jantung keperawatan selama edema perifer/kongesti edema
b.d. ketidak 2 x 24 jam klien vaskuler perifer/kongesti
seimbangan dapat b. Kaji adanya hipertensi, awasi vaskuler
elektrolit mempertahankan TD, perhatikan perubahan b. Untuk mengetahui
curah jantung yang postural saat berbaring, duduk adanya adanya
adekuat dan berdiri hipertensi, awasi TD,
c. Observasi EKG, frekuensi perhatikan perubahan
Kriteria Hasil :
jantung postural saat
 TD dan HR d. Evaluasi nadi perifer, berbaring, duduk dan
dalam batas pengisian kapiler, suhu, sensori berdiri
normal dan mental c. Untuk mengetahui
 Nadi perifer e. Observasi warna kulit, adanya perubahan
kuat dan sama membrane mukosa dan dasar EKG, frekuensi
dengan waktu kuku jantung
pengisian f. Pertahankan tirah baring d. Untuk mengetahui
kapiler Kolaborasi: adanya gangguan
cardiac output
a. Awasi hasil laboratorium :
e. Mengetahui
Elektrolit (Na, K, Ca, Mg),
gangguan perfusi
BUN, creatinin
perifer
b. Berikan oksigen dan obat-
f. Untuk
obatan sesuai indikasi
mempertahankan
c. Siapkan dialysis
posisi kenyamanan
Kelebihan Setelah dilakukan a. Monitor denyut jantung, a. Untuk memonitor
volume cairan tindakan asuhan tekanan darah hemodinamik cairan
b.d. penurunan keperawatan selama b. Catat intake & output cairan, b. Untuk memonitor
urin, retensi 2 x 24 jam pasien termasuk cairan tersembunyi intake dan output
cairan dan menunjukkan seperti aditif antibiotic, ukur c. Untuk memonitor
natrium pengeluaran urin IWL output cairan
sekunder tepat seimbang c. Awasi jumlah urin keluar d. Untuk memonitor
terhadap dengan pemasukan. d. Batasi masukan cairan. output cairan
penurunan Monitor rehidasi cairan dan e. Untuk mengetahui
Kriteria Hasil :
fungsi ginjal berikan minuman bervariasi retensi cairan pada
 Hasil e. Kaji kulit,wajah, area berbagai organ
laboratorium tergantung untuk edema. f. Untuk mengetahui
mendekati f. Auskultasi paru dan bunyi retensi cairan pada
normal jantung paru
 BB stabil g. Kaji tingkat kesadaran : g. Mengetahui adanya
 Tanda vital selidiki perubahan mental, perubahan tingkat
dalam batas adanya gelisah kesadaran
normal Kolaborasi :
 Tidak ada
a. Perbaiki penyebab, misalnya
edema
perbaiki perfusi ginjal, me ↑
COP
b. Awasi Na dan Kreatinin Urine
Na serum, Kalium serumHb/
Ht
c. Rontgen Dada
d. Berikan Obat sesuai indikasi :
Diuretik : Furosemid, Manitol;
Antihipertensi : Klonidin,
Metildopa
e. Masukkan/pertahankan kateter
tak menetap sesuai indikasi
f. Siapkan untuk dialisa sesuai
indikasi
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Zulfikli, dan Johanes Purwato. 2009. Gagal Nafas Akut. Dalam : Aru W. Sudoyo (ed.)
. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing. pp. 219-
226.

Bagian Ilmu Kesehatan Anak. 2010. Gagal Nafas pada Anak. Dalam Pedoman Diagnosis dan
Terapi edisi 3. Bagian Ilmu Kedehatan Anak FK Unpad RSHS.

John E. Hall dan Guyton,A.C. ,. 2007. Ventilasi Paru.. Dalam : Arthur C. Guyton dan John E.
Hall (ed.) Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta : EGC. Pp

Gwinnutt, C. 2011. Catatan Kuliah : Anestesi Klinis Edisi 3. Jakarta : EGC.

Nanda Internasional Nursing Diagnosis,. Definition and Clasification 2015-2017. EGC.


JakartaSwidarmoko, Boedi. 2010. Pulmonologi Intervensi Dan Gawat Darurat
Napas. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Latief, A. Said. 2011. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian Anestesiologi dan Terapi
Intesif, Jakarta: FK UI.

Smeltzer, S. C. dan, & Bare, B. G. (2015). Keperawatan Medikal Bedah 2 (12th ed.). Jakarta:
EGC.

Potter, P.A. & Perry, A. . (2010). Clinical Nursing Skill & Teknic. Singapore: Elsevier.

Ulaynah, Ana. 2010. Terapi Oksigen. Dalam : Aru W. Sudoyo (ed.) . Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi V. Jakarta : Interna Publishing. pp. 161-165