Anda di halaman 1dari 14

DASAR ILMIAH AKUPUNKTUR DALAM BIDANG KEDOKTERAN

DR. Koosnadi Saputra, dr., SpR.


Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Akupunktur
Puslitbang Yantekkes Depkes RI – Surabaya

Pendahuluan
Suatu pengertian akupunktur, yaitu pengobatan tusuk jarum dikenal luas di dunia internasional
maupun di Indonesia dalam kurun waktu ratusan sampai ribuan tahun. Kata Akupunktur bukan berasal dari
Cina dan hal ini sebagai suatu terminology internasional Cen Jiu supaya dapat dimengerti bahwa pengobatan
yang mempunyai catatan tertua dari Cina ‘Huang Di Nei Jing’.
Akupunktur pada awalnya dikenal dengan dasar body of knowledge berbeda dengan kedokteran
konvensional dan merupakan simbol-simbol filosofis, dan pada era kedokteran konvensional akupunktur TCM
tetap sulit diterima oleh masyarakat kedokteran.
Karena saat ini dunia kedokteran perlu memperkaya IPTEK dengan fenomena energetik dan yang
ideal untuk didekati adalah model akupunktur ; juga pengembangan dan pendekatan ilmu dasar kedokteran
Biomolekuler dan Biofisika terhadap fenomena energi biologi cukup dapat dipertanggungjawabkan, maka hasil
analisa pendekatan ilmiah akupunktur untuk menjadi IPTEK disebut Akupunktur Medik.
Indonesia sejak tahun 1990 dengan dimulai Laboratorium Penelitian dan Pengembangan Pelayanan
Akupunktur di Surabaya kemudian dorongan Menristek RI, Prof. BJ. Habibie, maka penelitian dan
pengembangan akupunktur menjadi maju dan dapat berjajar dengan negara-negara lain, seperti USA, Eropa,
Australia dan negara Asia lain, seperti Cina, Jepang dan Korea.
Pengembangan akupunktur dalam bidang medik semakin mantab dengan kebutuhan untuk
menunjang pelayanan kesehatan formal (Permenkes 1186/Menkes/Per/XI/1996) dan teknik komplementer
dalam pelbagai profesi kedokteran, seperti analgesia, imunologi, endokrinologi dan onkologi.
Oleh karena itu akupunktur medik cukup ideal dikembangkan dalam pelbagai profesi seperti anestesi,
penyakit dalam, kesehatan anak, penyakit saraf, kesehatan jiwa, obstetri-ginekologi, andrologi, onkologi, dan
juga ilmu kedokteran dasar seperti anatomi – fisiologi – bio kimia – biologi dan farmakologi sebagai kajian
ilmiah energi yang relatif baru.

Akupunktur dalam Klinik


Kebutuhan akupunktur dalam klinik untuk melengkapi dan meningkatkan kwalitas diagnostik maupun
terapi kedokteran, untuk tujuan diatas dibutuhkan kegiatan penelitian ilmiah yang dapat memberi dasar IPTEK
kedokteran energi. Penelitian ilmiah kedokteran pada akupunktur mempunyai posisi yang cukup penting
untuk memenuhi Evidence Based of Medicine, yang terdiri dari :
- Kriteria Diagnosis
- Kriteria inklusi dan eksklusi
- Kriteria evaluasi : efektif, randomisasi, observasi, metode analisa statistika dan reproduksibel
Pada saat ini pengetahuan tradisional akupunktur di negara manapun di dunia masih belum semua dapat
memenuhi persyaratan “Evidence Based” yang dapat dibawa ke dalam kedokteran konvensional, oleh karena
itu akupunktur yang dapat memenuhi evidence based medicine masih terbatas pada analgesia, imunologi dan
endokrinologi dan sudah dapat sebagai terapi komplementer dalam klinik medis.

Definisi
Cara pengobatan dengan menusukkan jarum pada area khusus di permukaan tubuh yang disebut
sebagai titik akupunktur.

Tujuan
Memberikan kondisi homeostasis tubuh supaya kembali pada kondisi sehat.
Teknik Akupunktur

11
Meskipun kata akupunktur berarti tusuk jarum, tetapi karena terbukti bahwa titik-titik akupunktur yang
merupakan reseptor di permukaan tubuh dapat di rangsang dengan bermacam cara, asalkan berupa energi,
maka berkembang juga teknik rangsangan pada titik akupunktur ini.
Cara-cara lain tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a) Elektrik : disebut sebagai Elektro Akupunktur
b) Laser : disebut sebagai Laser Akupunktur
c) Suara : disebut sebagai Sono Akupunktur
d) Injeksi : disebut sebagai Aqua Akupunktur
e) Jarum Suntik : disebut sebagai Dry Needling Akupunktur
f) Tekanan Jari : disebut sebagai Akupresur

Pada saat ini terdapat peningkatan jumlah akupunkturis, baik kelompok Dokter maupun bukan Dokter,
dan teknik akupunktur juga disesuaikan dengan dasar keilmuan, kemampuan dan wewenang profesinya.
Kelompok Dokter karena memenuhi keilmuan dan wewenangnya, maka boleh mempergunakan semua teknik
akupunktur, tetapi akupunkturis bukan dokter sampai saat ini hanya berhak mempergunakan akupunktur
murni dengan jarum akupunktur atau akupresur saja.

Teknik penusukan jarum

Oleh karena itu perlu diketahui bahwa yang membedakan pemanfaatan teknik akupunktur untuk kepentingan
pasien, yaitu dasar profesinya yang tentu sangat bersangkut paut dengan kode etik dan wewenangnya.

Konsep Tradisional Akupunktur


Akupunktur merupakan suatu cara pengobatan yang memanfaatkan rangsangan pada titik akupunktur
untuk mempengaruhi aliran bio energi tubuh berdasar pada filosofi keseimbangan hubungan antara
permukaan tubuh dan organ melalui sistem meridian yang juga spesifik. Dalam satu meridian terdapat
beberapa titik akupunktur yang dimanfaatkan sebagai pintu masuk rangsangan ke dalam meridian (Mann,
1974).
STIMULASI Acp titik akupunktur pada permukaan tubuh

ACP ACP ACP ACP


ORGAN

Hipotesa tradisional akupunktur

III. FAKTA PENELITIAN


1. Penelitian Kedokteran Nuklir
Dengan injeksi bahan radioaktif teknesium perteknetat kemudian dilacak dengan bantuan Kamera
Gamma (Saputra, 1992)

22
Titik Akupunktur Migrasi aktif isotop setelah
2 menit

Tc 99mO4 (dosis dan waktu sama)

Titik Kontrol
Tidak tampak migrasi Isotop

Beda beda migrasi radioaktif teknesium perteknetat pada titik akupunktur


dan bukan titik akupunktur (Saputra, 1990)

Penelitian ini dilakukan pada manusia (volunter), juga pada hewan coba kelinci dan menghasilkan data
bahwa kedalaman titik akupunktur bervariasi pada manusia ataupun hewan dan letaknya pada
permukaan otot (fascia) ataupun daerah subcutan.
Pada titik akupunktur tertentu bila terus diikuti, maka migrasi isotop yang terjadi akan menimbulkan cacah
yang tinggi dari organ spesifik.

2. Penelitian Bio Fisika


Sifat Fisika
Hambatan rendah tegangan tinggi mempunyai profil tegangan berkorelasi dengan faal organ tubuh konduktifitas tinggi
Titik Akupunktur

Titik Kontrol Hambatan tinggi


Tegangan rendah
Konduktifitas rendah

Beda titik akupunktur dan titik kontrol berdasarkan sifat kelistrikan

Dari penelitian ini dihasilkan data yang cukup nyata sifat kelistrikkan titik akupunktur dibandingkan dengan
kontrol. Karena sifat listriknya, titik akupunktur merupakan area yang mampu menimbulkan sifat listrik dan
33
berfungsi sebagai elektrode setara dengan macam sel yang secara faal disebut sebagai electrically active
cells (Lieberstein, 1973) yang dapat menimbulkan aliran elektron pada sel yang mempunyai daya polarisasi
yang setara.

Pengaruh Insulin terhadap perubahan kelistrikan titik akupunktur tikus Westar


A. Grafik normal tegangan listrik pada titik Pi Shu dan
B Ming Men, Gula darah 60 mg/dl
A B. 1 jam setelah pemberian Streptozotosin , gula darah
109 mg/dl tampak grafik mulai kasar
C. dua jam setelah pemberian Streptozotosin, gula darah
241 mg/dl tampak grafik fluktuatif
D. 21 jam setelah pemberian insulin IV, gula darah turun
53 mg/dl dan grafik licin kembali meskipun belum normal
seperti grafik A. (Suhariningsih, Felix, 1995)

D
C

Volunteer normal, BSN = 90 mg %


Penderita Diabetes Mellitus, BSN= 300 mg%

Profil kelistrikan penderita Diabetes Mellitus (Suhariningsih, 1995)

3. Penelitian Morfologi
Titik akupunktur terletak di permukaan tubuh yaitu di bawah kulit dan fascia otot. Secara anatomis

histologis elektron mikroskopis tanpa perlakuan khusus tidak ditemukan beda jaringan lain.. Secara listrik

pada manusia daerah aktif mempunyai area ± 2 mm (Owen, 1986)

Ratio sel in islet of langerhans

44
5. Penelitian Fungsional
a. Penelitian Endokrinologi : - Oestrogen , Testosteron
- Insulin dan Gula Darah

Perubahan kenaikan kadar insulin darah setelah rangsangan titik akupunktur kelinci
no.49 dan 51 dan secara bersama terjadi penurunan gula darah (Adikara, dkk - FKH UNAIR, 1992)

1) Kelinci New Zealand White yang di rangsang pada titik di mana pada pelacakan dengan
kedokteran nuklir terdapat uptake testis dan ovarium pada pinggang dan hasilnya dianalisa dengan uji
T (P < 0,05)
 Jantan : peningkatan kadar terstosteron yang nyata dibanding dengan kontrol
 Betina : peningkatan kadar oestrogen yang nyata dibanding dengan
kontrol sehingga terjadi fase peningkatan reproduksi
2) Kelinci lokal yang di rangsang pada titik akupunktur No. 49 (kaki); 51 (kaki) memberi hasil yang
cukup bermakna (P<0,01) dibanding kelompok kontrol tentang kenaikan hormon insulin (RIA) dan
penurunan kadar gula darah

b. Penelitian Immunologi
Titer anti bodi ayam Strain Hubband terhadap antigen Newcastle Disease dengan analisa statistik uji
F (P < 0,01) menunjukkan peningkatan titer anti bodi HI dibanding dengan kontrol setelah rangsangan laser
pada titik akupunktur di dekat bursa fabrilla.

Akupunktur Pada Bioteknologi Untuk Imunologi


Seperti telah diketahui bahwa perlakuan pada titik Akupunktur menimbulkan fenomena morfo fungsional
yang dapat dipakai untuk pengobatan, dan pada banyak penelitian memberikan banyak bukti empirik
meskipun belum dapat diketahui secara mendasar patogenesa rambatan rangsang menuju organ sasaran.
Titik Akupunktur secara garis besar telah diketahui lokasinya, bahkan sampai dapat digambarkan
topografi titik akupunktur tersebut, tetapi sampai saat ini perlakuan pada titik yang sudah diketahui tersebut
masih terbatas yaitu hanya :
- profil listrik yang dihantarkannya.

55
- visualisasi meridian dengan teknik kedokteran nuklir
- reaksi morfofungsional setelah rangsangan.
Permasalahannya adalah pemanfaatan fenomena dan bukti empirik titik Akupunktur tersebut dalam berbagai
bidang antara lain :
- pelayanan kesehatan
- bidang peternakan
- pengembangan alat bantu diagnosa
Untuk bidang peternakan cukup dapat memanfaatkan pendekatan rekayasa biologi, yaitu dengan model
rangsangan yang dapat meningkatkan efisiensi metabolisme tubuh ternak, meskipun belum dapat diketahui
seluruh patogenesanya.

Salah satu penelitian imunologi adalah :


Peningkatan antibodi ayam strain hubbard terhadap new castle dissease setelah perangsangan Laser pada
titik akupunktur bursa fabrikus (Hardijanto, dkk - FKH UNAIR 1994).

Jenis Perlakuan Titer Antibodi ND


Sebelum Setelah Perlakuan
Perlakuan Minggu I Minggu II Minggu III
Vaksinasi (V) 15 20 25 30
Laserpunktur (L) 10 5 15 45
(V) + (L) 30 20 40 55
Kontrol (K) 5 5 5 5

Dari penelitian ini membuktikan bahwa khasiat vaksinasi dan laser terhadap bursa fabrikus mempunyai reaksi
sistem imun yang setara.

Pemanfaatan Klinis untuk Cancer Cachexia


Pada klinik pengobatan alternatif kanker, Yayasan Kanker Wisnuwardhana selama 1 tahun
(Agustus 1999 - Agustus 2000) pada 60 penderita kanker (55 % stadium lanjut) dengan 5 besar jenis
keganasan.
Payudara ---------------------------------------------------------------16,6 %
Ginekologi---------------------------------------------------------------15 %
Paru----------------------------------------------------------------------- 13,3 %
Liver dan GI-------------------------------------------------------------11,6 %
Thyroid-------------------------------------------------------------------10 %
Lain-lain------------------------------------------------------------------33,5 %
Titik yang dipakai sudah merupakan suatu standar terapi (ST.36, KI.3 dan LI.4) dan ditambah stimulasi elektrik
dengan frekwensi 20 Hz selama 15 menit.

Hasil yang didapat


Simptom Frekwensi terapi Hasil
Mual/Muntah 4x Baik (70 %) Sedang (10%) Jelek (20%)
Berat Badan 8x Naik (40 %) Tetap (25 %) Turun (35 %)

Keterangan :
Hilangnya mual dan muntah disertai perbaikan nafsu makan pada sebagaian besar (70 %) penderita dalam 4
x terapi akupunktur, juga kenaikan berat badan pada 40 % penderita dalam 8 x terapi membuktikan hasil
akupunktur untuk penderita kanker dalam penanggulangan cancer cachexia.
Pemanfaatan Akupunktur Dalam Rekayasa Biologi Bidang Reproduksi
Sudah dikatakan bahwa yang dapat dimanfaatkan pada saat ini adalah “Perlakuan pada titik
akupunktur dan dipantau dengan studi morfofungsional, tanpa harus mengetahui secara detil patogenesa
rambatan rangsangnya atau titik akupunktur hanya dipandang sebagai ekspresi organ pada permukaan tubuh
saja”. Meskipun Akupunktur sudah dipakai dalam pelayanan kesehatan secara informal sudah dalam waktu

66
yang lama, dan baru saja secara resmi diujicobakan dalam pelayanan kesehatan kuratif, tetapi pemanfaatan
yang dirasakan langsung memberi nilai tambah dalam teknologi yaitu pada bidang veteriner. Dalam bidang
veteriner akupunktur belum banyak digunakan secara mendasar, meskipun pada negara-negara yang sudah
intensif memanfaatkan akupunktur dalam pelayanan kesehatan resmi.
Tentunya untuk bidang ini bila kita secara tekun mempelajari dan mengubahnya menjadi inovasi
teknologi dalam bidang veteriner dan negara kita akan menjadi pelopor teknologi baru sebagai model internal
resources bidang biologi dengan tujuan mengurangi penggunaan bahan kimiawi sebagai perangsang
pertumbuhan dan
produksi.
Super ovulasi ayam petelur setelah rangsangan Jumlah anak kambing 4 ekor setelah perlakuan
laser pada titik akupunktur. Tampak 2 buah kuning laserpunktur
dalam 1 telur (Adikara, dkk - FKH UNAIR 1997)

Kerangka Konsep Titik Akupunktur dan Meridian dengan Pendekatan Biomolekuler


Titik akupunktur merupakan kumpulan sel yang berbeda aktifitasnya dibanding dengan sel di luar titik
akupunktur dan secara listrik mempunyai karakteristik “Tegangan tinggi hambatan rendah” (Voll, 1976;
Suhariningsih, 1994) dan migrasi aktif isotop teknetium perteknetat. Jawaban yang mendasar dengan 2
pendekatan, yaitu :
1. Biologi molekuler untuk proses dalam sel morfologi fungsional
2. Biofisika untuk proses aliran energi
Untuk pendekatan Biofisika dalam masalah hiper polarisasi adalah pembentukan elektron dalam sel
setelah rangsangan dan cara mengalirkan rangsangan dari titik akupunktur yang tidak dapat dipisahkan
dengan migrasi aktif teknetium perteknetat dari titik akupunktur. Masalah diatas dapat digambarkan secara
skematis dengan konsep Biologi Molekuler, yaitu :

ORGAN
Meridian
Acupoint

Primary Seizure Spesific Pathway Spesific Effect

Signaling Phase Electron Passage Morphofunctional


Material Passage

Active Cell in Acupoints Intercelular Signaling Concept Stimulation & Supretion Concept
77
Biochemical Messengers
Skemaoncept
Pendekatan Biomolekuler pada konsep tradisional akupunktur
Dasar Ilmiah Akupunktur
The most essential element in understanding the basic mechanism if the needle puncture through the
surface body going to acupuncture points. As shown by this explanation have opened up 4 dimensions of
thought, revealed new aspects of scientific approach of acupuncture by biomolecular, biophysics, to opened
inflammation reaction, intercellular transduction, cutaneo somato visceral reflex and neuro transmission to the
brain.

Gambar 1. Dimensi Akupunktur

Penelitian pada Titik Akupunktur dengan Pendekatan Bio Molekuler


Sudah diketahui bahwa titik akupunktur yang terletak dalam jaringan dibawah kulit dan diduga pada
fascia dari otot dengan penelitian mikro anatomi belum dapat diketahui dengan pasti perbedaan dengan sel
lain. Meskipun sudah dapat divisualisasikan dengan teknik kedokteran nuklir, tetapi saat ini baru dapat terukur
secara fisika dan cukup nyata menggambarkan dinamisasi energi pada titik akupunktur. Penelitian Bio fisika
yang tampaknya cukup baik dan sesuai dengan sifat tidak mutlak dari energi serta sesuai dengan filosofi Yin
Yang adalah profil tegangan listrik titik akupunktur dan dapat diukur dengan peralatan yang sudah
dikembangkan secara komputer.
Sifat listrik titik akupunktur dihubungkan dengan teori Bio Molekuler adalah cukup menarik bila kita
mengartikan bahwa titik akupunktur terdiri dari kumpulan sel selain syaraf, motorneuron, darah yang
mempunyai sifat aktif listrik. Bila kita melihat sel aktif listrik (electrically actives cell), maka kita menelaah apa
yang terjadi pada sel tersebut bila diberi perlakuan rangsangan. Salah satu teori yang paling populer saat ini
yaitu peranan kation pada sel melalui membran dan merubah polarisasi elektron untuk merubah tegangan
antara intra dan ekstra selular. Dan jumlah tegangan dari kumpulan sel aktif listrik tadi dapat ditampakkan
dengan pengukuran salah satu kation yang dikenal dapat merubah tegangan listrik membran sel dan
sekaligus dapat sebagai second messenger adalah ion kalsium. Oleh karena itu penelitian dengan
melakukan blok ion kalsium perlu dilakukan sebagai upaya penelitian ilmu dasar pada akupunktur.
Seperti telah diketahui bahwa titik akupunktur yang terdiri dari kumpulan sel aktif listrik yang relatif
lebih mudah berubah pola listriknya dengan pemberian rangsangan yang relatif minimal, di mana di luar area
titik akupunktur belum merubah profil listrik. Pada dasarnya sel pada titik akupunktur tidak berbeda dengan
sel aktif listrik lainnya, tetapi sampai saat ini sifat spesifiknya baru sampai pada tahap eksperimen.
88
Sifat kelistrikkan pada jaringan hidup mengikuti
hukum listrik sederhana, yaitu hambatan, tegangan,
dan arus. Hambatan adalah sifat massa dari jaringan
dan bersifat relatif stabil, sedangkan tegangan
Tampak profil beda tegangan listik titik LI.4 meningkat
digambarkan sebagai sifat polarisasi jaringan yang setelah rangsangan laser pada titik LI.1, gambaran grafik
dapat diwakili oleh sel-sel dalam jaringan tersebut. sesuai dengan konsep entrophi pada sel hidup
Tegangan listrik mempunyai profil yang dinamis, karena (Hk. Thermodinamika II)
tergantung dari sifat kemudahan mengadakan
polarisasi dari kumpulan sel spesifik aktif listrik tersebut.
Sifat polarisasi dari sel dipengaruhi oleh
pelbagai macam kondisi sekitar sel jaringan tersebut
antara lain cairan ekstra sel, dinding sel dan kondisi
intra selular beserta semua perangkat dan mekanisme
keseimbangan yang ada. Dari semua sistim dalam sel
aktif listrik yang dapat menghasilkan signal dari sel
dengan sistim transduksi yang akan terjadi, dipengaruhi
oleh mekanisme transport ion melalui dinding sel.
Seperti telah diketahui ion-ion yang ada terdiri dari
anion dan kation, dan kation yang mempunyai peranan
penting adalah K+, Na+, Ca+ untuk membuat polarisasi
dari dinding sel.
Menurut Fadzean dan Brown, fenomena elektrofisiologi menurut teori yang terbaru dari fungsi protein
G yang dikombinasi dengan teknik “ patch clamp” dapat menerangkan hambatan listrik pada sel dan timbulnya
beda tegangan intra dan ekstra selular yang menetukan eksitabilitas membran sel. Bila kita lihat postulat dari
“bioenergetics” dimana energi terjadi dari reaksi biokimiawi sel secara inter konversi, maka dengan fenomena
transduksi signal dari titik akupunktur yang sampai saat ini belum ditemukan hubungan degan sistim syaraf,
pembuluh darah maupun getah bening dapat dimungkinkan :
1. Terdapatnya sistim fisiologi energi yang tidak selalu memenuhi teori konvensional anatomi fisiologi
yang sudah diketahui.
2. Sel membran mempunyai peranan yang sangat penting dalam transduksi signal fsiologis ataupun
patologis
3. Transduksi signal dapat terjadi antar sel, yang tidak perlu sama jenisnya, tetapi harus sama daya
polarisasi ionnya
Tentunya transduksi signal yang terjadi menimbulkan maupun membutuhkan energi melalui pelbagai reaksi
intra maupun ekstra selular dan memenuhi hukum thermodinamika pertama, entropy dan equilibrium dan
dalam hal ini sesuai dengan postulat relatifitas Einstein : E = m c 2
E sesuai dengan energi
m sesuai dengan massa juga sesuai dengan organ anatomi tubuh
c 2 sesuai dengan fisiologi

dan sampai saat ini energi dalam dunia kedokteran belum banyak dianalisa secara mendasar atau belum
ditemukan kepastian secara menyeluruh. Dalam perumusan hukum listrik sederhana ; m sesuai dengan
hambatan, c 2 sesuai dengan arus, E sesuai dengan power yang dapat dianalogikan dengan tegangan
Tegangan listrik jaringan ataupun sel inilah yang dapat dikorelasikan dengan fungsi organ dan bila
dihubungkan dengan fenomena transduksi signal dari titik akupuntkur menuju organ dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan diagnosis maupun terapi dalam teknologi kedokteran.

4. Peran Ion Kalsium pada Hantaran Rangsang Titik Akupunktur


Sifat kelistrikan pada jaringan hidup mengikuti hukum listrik sederhana yaitu hambatan,
tegangan dan arus. Hambatan adalah sifat massa jaringan dan bersifat relatif stabil, sedangkan tegangan
digambarkan sebagai sel-sel polarisasi jaringan yang dapat diwakili oleh sel-sel dalam jaringan tersebut.

99
Profil beda tegangan listrik titik akupunktur binatang
coba kelinci setelah diberi antagonis ion kalsium
menunjukkan aktifitas kumpulan sel aktif dalam titik
akupunktur dipengaruhi oleh kadar ion kalsium

Profil beda tegangan listrik titik akupunktur LI.4 Profil beda tegangan listrik titik akupunktur LI.4
setelah pemberian rangsangan gelombang suara setelah pemberian pengaruh panas 450 C
ultra (Saputra, 1998) (Saputra, 1998), terdapat Late effect dari panas
yang menunjukkan adanya peningkatan
metabolisme sel

1010
Teori Biologi Molekuler yang dapat menjelaskan akupunktur sebagai bagian dari Kedokteran Energi

Konsep Sel Dalam Kedokteran Energi

Komunikasi Biologi

Hormones

Metabolisme Immune System

Dalam tubuh manusia sistem komunikasi biologi secara keseluruhan disebut sebagai holistic network
Interaksi semua sistem di atas melalui serabut kolagen jaringan ikat yang disebut sebagai the living matrix .
Dasar struktur dari tubuh untuk membentuk tulang, tendon, ligamen, tulang rawan, dan fascia adalah jaringan
ikat (Rolfing, 1970)

Jaringan Ikat (Connective Tissue)


Jaringan ikat adalah komponen penting tubuh dalam membentuk :
• Struktur tubuh (tensigrity structure)
• Fungsi mekanis
• Konfigurasi dan arsitektur program
Seperti sistem sirkulasi, saraf, muskuloskeletal, gastrointestinal ke bentuk dan diliputi oleh jaringan ikat secara
kontinyu. Dalam gerakan ataupun tekanan memberi rangsangan pada jaringan ikat dan diteruskan ke seluruh
tubuh.

1111
Fungsi tersebut dimungkinkan karena program jaringan ikat mempunyai serabut fibrous kolagen dengan sel
protoplasma berfungsi sebagai kristal Piezoo Electric yaitu setiap perubahan bentuk menimbulkan sinyal listrik
yang diteruskan ke semua struktur jaringan ikat dengan komponen yang menyerupai polymer plastic sebagai
electrically inductive

Setiap sel menggambarkan struktur tubuh seperti ;


• Cytoskeleton : Muskuloskeletal
• Microtubular : Tulang
• Microtrabecular : Tendon
• Microfilaments : Unit Kontraktil (actin-myotin)
Protein penting adalah : Glycophorin
Membuat jaringan intra dan ekstra selular disebut sebagai “ connecting protein” Interferin sebagai struktur
transmembran

Cytoskeleton dan jaringan ikat ekstra selular adalah


struktur yang berkesinambungan dan bersifat energetik.

Glycoprotein transmembran kaya akan asam sialat


sebagai protein ekstra selular dan berfungsi sebagai
reseptor permukaan sel.

Dengan gambaran baru model sel energetik, maka


model sel sebagai kantong sudah tidak adekuat lagi dan hipotesis proses metabolik disesuaikan dengan
arsitektur sel.

Di dalam sel jaringan ikat terdapat bentukan protoplasma yang bersifat sebagai piezo electric dan
berhubungan erat dengan sitoskeleton dan eksoskeleton

Bila terjadi gerakan atau vibrasi otot maka akan terjadi diosilasi elektrik dan mempengaruhi gerakan sodium,
potasium, kalsium dan klorida, memberi fenomena energetic pada sel dan jaringan.

Jaringan dalam model hantaran rangsang terdapat 2 dimensi yaitu :


- Semi konduktor yang mempunyai daya konduktivitas penyaluran rangsang, dimana terdapat
2 faktor yaitu mobilitas dan karier untuk pergerakan elektron.
- Insulator adalah suatu lapisan yang sulit terjadi mobilitas elektron, tentu hal ini memberi
pengertian tentang pola jaringan yang sama tidak semua memberi sifat konduksi dan melalui jaringan
berbeda tetapi sifat konduktivitasnya sama dapat memberi hantaran rangsang yang setara.

1212
Sifat insulator dan konduktor ditentukan oleh Energy Gap
Menurut Oschman (1994), sistem
interkoneksi disebut dengan jaringan
ikat atau “The Living Matriks” dan oleh
Kapthule (1983), seperti akupunktur
yang disebut dengan istilah “the web
that has no weaver”.
Bila energi gap lebar, jaringan ikat
bersifat insulator, bila makin mendekat
lebih bersifat konduktor, hal ini dapat
memberi penjelasan tentang pemberian
energi tertentu dapat merubah jaringan
ikat untuk bersifat insulator atau
konduktor.

Hukum yang Memberi dasar Bio Listrik pada Akupunktur


Hukum Resonansi :
Memperhatikan efek resonansi antara frekwensi spesifik dan reaksi jaringan
2,5 Hz – kontusio, oedeme, insomnia, sinusitis
3,3 Hz – anteroskeleosis
3,9 Hz – neuralgia
X 5,9 Hz – paralisa
spastik
8,2 Hz – paralisa
X
ΘΘ X ΘΘflaccid 9,2 Hz – problem
X
telinga, ginjal lemah
X
9,5 Hz – migrain
9,7 Hz – ischialgia,
rematik
10 Hz – phlebitis
ΘΘ ΘΘ dan varices
Hukum polaritas :
Memperhatikan
• Panas – dingin
• Kuat – lemah
• Luar – dalam
• Yang – Yin
dan polaritas listrik tubuh manusia
Kepala dan medulla spinalis (SSP) bermuatan sedangkan ekstremitas bermuatan Θ

Hukum ekonomi : pemanfaatan energi seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil semaksimal mungkin
Hukum biasologi : pemanfaatan energi yang tidak tepat dapat menimbulkan bias (ekses atau defisien)
Hukum akomodasi : fenomena adaptasi dalam pemberian rangsangan terapi
Hukum Kinesiologi : pemanfaatan gerakan dan aktivitas tubuh untuk tujuan diagnostik maupun terapi
terhadap kelainan meridian.

Titik Akupunktur (Saputra, 1999)


Area kecil di permukaan tubuh yang mempunyai aktivitas kelistrikan lebih tinggi dibandingkan daerah
sekitarnya dan mempunyai sifat :
- Setara Pace Maker jaringan
1313
- Dipengaruhi oleh keberadaan ion kalsium
- Dapat menghasilkan transduksi materi molekul kecil
- Mempunyai fenomena biolistrik bolak-balik

Migrasi sel epidermal


dengan organ spesifik

Koordinasi perbaikan
Migrasi fibroblast

Sekresi neuropeptide
Elektro Mekanikal Model dari Akupunktur

Homeostasis

Sistem Saraf
Perineurium
Interselular
Inflamasi
Stimulasi

Sirkulasi
Kulit

Ringkasan
Telah dibicarakan dasar ilmiah akupunktur dalam bidang kedokteran yang berdasarkan penelitian
ilmiah kedokteran nuklir, biofisika, biomolekuler, morfofungsional, faal endokrin, imunologi, rekayasa biologi
untuk memenuhi Evidence Base of Medicine dan tetap dalam kerangka body of knowledge kedokteran.

Kepustakaan
Lieberstein M. Mathematical physiology. Blood flow and electrically actives cells. Elsevier New York. Richard Bellmann Ed. London
1973
Mann F. The meridians of acupuncture. William Heinemann Med. Books Ltd. London, 1974
Milligan G. Signal transduction. A practical approach. Rickwood D, Hames BP Ed. Oxford University Press, New York. 1994
Owen T. Some anatomical consideration of the “The-Chi” phenomenon in acupuncture. Am J.of Acp 1986 ; 14 (3) 205 - 215
Saputra K. Acupoints scintigraphy. Tracing meridian acupuncture coresponding organ by radionucleide technique. AAR VII, Bali 1992
Saputra K. Penelitian ilmiah akupunktur untuk menunjang IPTEK pelayanan kesehatan (suatu konsep pemikiran). Meridian,
Indonesian Journal of Acupuncture. 1994 : I (2)
Schneidemann I. Medical acupuncture, Acupuncture and the inner healer. Everbest Print Co. Ltd. Hongkong, 1988
Suhariningsih. Profil tegangan listrik titik akupunktur dengan metode invasif dan non invasif. Meridian 1994 : I (3)
Voll R. Topography positions of the measurement point in electro acupuncture. Medizinish literarische verlags Gm.BH. Velzein 1976;
I & II
Yeagle P. The membranes of cells. Harcourt Brace Javanovich Publ. Academic Press Inc. London, 1987

1414