Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan karakter menjadi isu sentral belakangan ini di kalangan

pendidikan. Pendidikan karakter telah menjadi kebijakan pendidikan nasional dan

akan segera diimplementasikan ke dalam kurikulum pendidikan nasional.

“Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah

mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari

SD sampai dengan Perguruan Tinggi. Menurut Mendiknas, Prof. Muhammad Nuh,

pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini. Jika karakter sudah terbentuk

sejak usia dini, maka tidak akan mudah untuk mengubah karakter seseorang. Ia juga

berharap, pendidikan karakter dapat membangun kepribadian bangsa”.

Pendidikan karakter muncul sebagai jawaban atas belum berhasilnya sistem

pendidikan menciptakan lulusan yang memiliki keseimbangan kompetensi antara

kemampuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif) yang

sebenarnya telah menjadi philosophy dalam ranah pendidikan Indonesia. Pendidikan

masih menekankan pada kompetensi kognitif, sedangkan aspek psikomotorik

presentase implementasinya masih relatif kecil, apalagi aspek afektif.

Ekstrakurikuler dapat diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di

luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilaksanakan di dalam dan atau di

1
luar lingkungan sekolah dalam rangka memperluas pengetahuan, meningkatkan

keterampilan, dan menginternalisasi nilai-nilai atau aturan-aturan agama serta norma-

norma sosial baik lokal, nasional, maupun global untuk membentuk insan yang

paripurna. Dengan kata lain, ekstrakurikuler merupakan kegiatan pendidikan di luar

jam pelajaran yang ditujukan untuk membantu perkembangan peserta didik, sesuai

dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara

khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang

berkemampuan dan berkewenangan di sekolah.

Dalam UU No.12 Tahun 2010 Tentang Gerakan Pramuka, disebutkan bahwa

pembangunan kepribadian ditujukan untuk mengembangkan potensi diri serta

memiliki akhlak mulia, pengendalian diri, dan kecakapan hidup bagi setiap warga

negara demi tercapainya kesejahteraan masyarakat; pengembangan potensi diri

sebagai hak asasi manusia harus diwujudkan dalam berbagai upaya penyelenggaraan

pendidikan, antara lain melalui gerakan pramuka; gerakan pramuka selaku

penyelenggara pendidikan kepramukaan mempunyai peran besar dalam pembentukan

kepribadian generasi muda sehingga memiliki pengendalian diri dan kecakapan hidup

untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal,

nasional, dan global.

Dalam Undang-undang tersebut dijelaskan bahwa Pendidikan Kepramukaan

adalah proses pembentukan kepribadian, kecakapan hidup, dan akhlak mulia pramuka

melalui penghayatan dan pengamalan nilai-nilai kepramukaan. Gerakan pramuka

bertujuan untuk membentuk setiap pramuka agar memiliki kepribadian yang beriman,

2
bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi

nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki kecakapan hidup sebagai kader bangsa dalam

menjaga dan membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia, mengamalkan

Pancasila, serta melestarikan lingkungan hidup.

Kegiatan pendidikan kepramukaan dimaksudkan untuk meningkatkan

kemampuan spiritual dan intelektual, keterampilan, dan ketahanan diri yang

dilaksanakan melalui metode belajar interaktif dan progresif. Kegiatan pendidikan

kepramukaan dilaksanakan dengan menggunakan sistem among. Sistem among

merupakan proses pendidikan kepramukaan yang membentuk peserta didik agar

berjiwa merdeka, disiplin, dan mandiri dalam hubungan timbal balik antarmanusia.

Sistem among dilaksanakan dengan menerapkan prinsip kepemimpinan :

a. Di depan menjadi teladan;

b. Di tengah membangun kemauan; dan

c. Di belakang mendorong dan memberikan motivasi kemandirian.

Pendidikan kepramukaan dalam Sistem Pendidikan Nasional termasuk dalam

jalur pendidikan nonformal yang diperkaya dengan pendidikan nilai-nilai gerakan

pramuka dalam pembentukan kepribadian yang berakhlak mulia, berjiwa patriotik,

taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, dan memiliki

kecakapan hidup.

Gerakan Pramuka, merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang

memiliki visi, misi, arah, tujan dan strategi yang jelas. Jenis kegiatan pengembangan

pada setiap satuan sekolah mulai dari pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi jelas

3
tertuang dalam Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan. Gerakan

Pramuka mendidik kaum muda Indonesia dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan

Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya diserasikan dengan keadaan,

kepentingan dan perkembangan bangsa dan masyarakat Indonesia agar menjadi

manusia Indonesia yang lebih baik, dan anggota masyarakat Indonesia yang berguna

bagi pembangunan bangsa dan negara.

Berpijak pada uraian latar belakang di atas, maka perlu kiranya diadakan

suatu tindakan melalui Gerakan Pendidikan Kepanduan Praja Muda Karana. Dalam

hal penyusunan laporan pelatihan pengembangan diri, penulis mengangkat satu topik

sesuai dengan kondisi yang dihadapi saat ini, yaitu : ” Pengembangan Pendidikan

Budaya Dan Karakter Bangsa Melalui Kegiatan Pramuka ”.

B. Tujuan Kepramukaan

Gerakan Pramuka sebagai penyelenggara pendidikan kepanduan Indonesia

yang merupakan bagian pendidikan nasional, bertujuan untuk membina kaum muda

dalam mencapai sepenuhnya potensi-potensi spiritual, sosial, intelektual dan fisiknya,

agara mereka bisa :

 Membentuk, kepribadian dan akhlak mulia kaum muda

 Menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air dan bela negara bagi

kaum muda

 Meningkatkan keterampilan kaum muda sehingga siap menjadi anggota

masyarakat yang bermanfaat, patriot dan pejuang yang tangguh, serta menjadi

calon pemimpin bangsa yang handal pada masa depan.

4
BAB II

JAMBORE MERUPAKAN SARANA KEGIATAN

PEMBINAAN PRAMUKA

A. Waktu Pelaksanaan Dan Penyelenggaran Kegiatan

Waktu Pelaksanaan dan Penyelenggara Kegiatan Pembinaan Gerakan

Pendidikan Kepanduan Praja Muda Karana, Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota

Administrasi Jakarta Timur yaitu, pada Tanggal 29 - 30 April 2006 yang

diselenggarakan oleh Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kota Administrasi Jakarta

Timur, Gugus depan 04-120 SDN Cawang 07 Pagi Kota Administrasi Jakarta Timur.

B. Jenis Kegiatan

 Kegiatan Perkemahan : yaitu kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan secara

rutin di arena perkemahan seperti kegiatan keagamaan, olah raga, upacara dan

apel, anjangsana, kunjungan pameran aneka game, kuis, dan malam api

unggun.

 Kegiatan yang bersifat Scouting Skill, meliputi : Pioneering, Semboyan dan

Isyarat; P3K, Taksir Ukur, Peta dan Kompas.

 Kegiatan Pendidikan dan Seni Budaya, meliputi : Diskusi Pendidikan,

Pelestarian Budaya Bangsa, Pemutaran Film Pendidikan, Pentas Seni Daerah,

Karnaval, Upacara dan Gelar Seni Pembukaan dan Penutupan.

5
C. Tujuan Kegiatan

1. Terbentuknya pribadi yang mandiri dan mampu menciptakan peserta didik

yang berkarakter

2. Dengan kegiatan pendidikan kepramukaan dapat meningkatkan kemampuan

spiritual dan intelektual, keterampilan, dan ketahanan diri yang dilaksanakan

melalui metode belajar interaktif dan progresif.

3. Mempunyai sikap kemandirian, ulet, kejujuran, kedisiplinan, terbentuknya

pribadi yang tangguh, tidak cepat putus asa, berani dan bertanggung jawab

D. Prinsip Dasar Kepramukaan

Prinsip Dasar Kepramukaan adalah :

a. Iman dan Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

b. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya.

c. Peduli terhadap diri pribadi.

d. Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.

Prinsip dasar kepramukaan sebagai norma hidup sebagai anggota Gerakan

Pramuka, ditanamkan dan ditumbuhkembangkan kepada setiap peserta didik melalui

proses penghayatan oleh dan untuk diri pribadi dengan bantuan para Pembina,

sehingga pelaksanaan dan pengalamannya dapat dilakukan dengan inisiatif sendiri,

penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggungjawab serta keterikatan moral,

baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota masyarakat.

6
Pada hakekatnya anggota Gerakan Pramuka wajib menerima Prisip Dasar

Kepramukaan, dalam arti :

 Menaati perintah Tuhan Yang Maha Esa dan menjauhi laranganNya serta

beribadah sesuai tata cara dari agama yang dipeluknya.

 Memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sosial,

memperkokoh persatuan, serta menerima kebinekaan dalam Negara Kesatuan

Republik Indonesia.

 Memerlukan lingkungan hidup yang bersih dan sehat agar dapat menunjang

dan memberikan kenyamanan dan kesejahteraan hidup dan karenanya setiap

anggota Gerakan Pramuka wajib peduli terhadap lingkungan hidup dengan

cara menjaga, memelihara dan menciptakan kondisi yang lebih baik.

 bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan hidup bersama berdasarkan

prinsip peri-kemanusiaan yang adil dan beradab dengan makhluk lain ciptaan

Tuhan, khususnya dengan sesama manusia.

 Memahami prinsip diri pribadi untuk dikembangkan dengan cerdas guna

kepentingan masa depan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

E. Metode Kepramukaan

Adalah suatu cara memberikan pendidikan watak kepada peserta didik

melalui kegiatan kepramukaan. Pendidikan kepramukaan merupakan proses belajar

mandiri yang progresif bagi kaum muda untuk mengembangkan diri pribadi

seutuhnya, meliputi aspek mental, moral, spiritual, emosional, sosial, intelektual dan

7
fisik, baik bagi individu maupun sebagai anggota masyarakat maka dibutuhkan suatu

Metode / ketentuan khusus yang kita sebut Metode Kepramukaan.

Metode Kepramukaan pada hakekatnya tidak dapat dilepaskan dari Prinsip

Dasar Kepramukaan yang keterkaitanya keduanya terletak pada pelaksanaan Kode

Kehormatan Pramuka. PDK (Prinsip Dasar Kepramukaan) dan MK (Metode

Kepramukaan ) harus dilaksanakan secara terpadu, keduanya harus berjalan seimbang

dan saling melengkapi. Setiap unsur pada Metode Kepramukaan merupakan

subsistem tersendiri yang memiliki fungsi pendidikan spesifik, yang secara bersama-

sama dan keseluruhan saling memperkuat dan menunjang tercapainya tujuan

pendidikan kepramukaan.

Metode kepramukaan merupakan salah satu cara belajar interaktif progresif melalui :

 Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka.

 Belajar sambil melakukan.

 Sistem beregu.

 Kegiatan yang menantang dan menarik serta mengandung pendidikan yang

sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani anggota muda.

 Kegiatan di alam terbuka.

 Kemitraan dengan anggota dewasa dalam setiap kegiatan.

 Sistem tanda kecakapan.

 Sistem satuan terpisah untuk putra dan untuk putri.

 Kiasan dasar.

8
BAB III

PEMBENTUKAN KARAKTER MELALUI KEMAMPUAN

BERORGANISASI

A. Pramuka Syarat Dengan Pendidikan Karakter

Sebagai pendidik, keinginan untuk membangun karakter peserta didik dan

keinginan untuk menjadikan peserta didik memiliki pengetahuan dan wawasan

keilmuan yang luas sangat dilematis. Banyaknya jumlah kurikulum yang harus

ditempuh, setiap hari peserta didik menempuh 3-4 mata pelajaran selama 6-7 jam di

kelas. Ketika peserta didik memasuki tingkat akhir, dihadapkan pada persiapan Ujian

Nasional, hampir seluruh energi dihabiskan dalam mempersiapkan ujian nasional dan

tidak ada lagi waktu untuk membentuk dan mengembangkan sikap atau karakter.

Siapapun pendidik dan dalam jenjang pendidikan apapun, tidak ada satupun yang

menginginkan anak-anaknya gagal dalam Ujian Nasional.

Kegiatan ekstrakurikuler menjadi wadah yang tepat dalam pembentukan dan

pengembangan karakter. Meskipun sebenarnya beberapa kurikulum telah

mempersiapkan peserta didik untuk memiliki karakter yang dipersyaratkan dalam

tujuan pendidikan nasional. Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan

serta Pendidikan Seni dan Olahraga merupakan beberapa kurikulum yang

menghendaki peserta didik memiliki kompetensi spiritual, kompetensi personal,

9
kompetensi sosial dan kompetensi emosional secara seimbang. Kompetensi-

kompetensi tersebut merupakan dimensi pembentukan karakter.

Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor 125/U/2002

tentang Kalender Pendidikan dan Jam Belajar Efektif di Sekolah, Bab V pasal 9 ayat

2, dinyatakan bahwa: Pada tengah semester 1 dan 2 sekolah melakukan kegiatan

olahraga dan seni (Porseni), karyawisata, lomba kreativitas atau praktik pembelajaran

yang bertujuan untuk mengembangkan bakat, kepribadian, prestasi dan kreativitas

siswa dalam rangka mengembangkan pendidikan anak seutuhnya.

Pada bagian Lampiran Keputusan Mendiknas Nomor 125/U/2002 tanggal 31

Juli 2002 disebutkan: Liburan sekolah atau madrasah selama bulan Ramadhan diisi

dan dimanfaatkan untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang diarahkan pada

peningkatan akhlak mulia, pemahaman, pendalaman dan amaliah agama termasuk

kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang bermuatan moral.

Dalam Standar Isi Permendiknas nomor 22 tahun 2006 antara lain diatur

mengenai struktur kurikulum, bahwa KTSP terdiri atas beberapa komponen, di

antaranya pengembangan diri. Berdasarkan Panduan Pengembangan KTSP yang

diterbitkan oleh BSNP, antara lain dinyatakan: Pengembangan diri bukan merupakan

mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan

memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan

mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik

sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau

10
dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam

bentuk kegiatan ekstrakurikuler.

B. Pembentukan Karakter Melalui Kemampuan Berorganisasi

Kegiatan kepramukaan dapat berhasil menciptakan peserta didik yang

berkarakter jika pada proses pendidikannya tidak hanya mengembangan teknik

kepramukaan (tekpram) semata, tetapi juga dikembangkan kemampuan, keterampilan

dan sikap berorganisasi. Dalam organisasi akan diterapkan prinsip-prinsip manajemen

atau pengelolaan organisasi seperti perencanaan (planning), pengorganisasian

(organizing), pengarahan/penggerakan (actuacting) dan fungsi pengawasan

(controlling). Di samping itu, organisasi juga merupakan sebuah alat atau media

kontrol sosial bagi sekolah atau pihak lainnya utuk mengamati sekaligus memantau

perkembangan siswa. Pihak sekolah akan dengan mudah memantau perkembangan

siswa melalui organisasi artinya, cukup dengan mengelola organisasi maka sejumlah

siswa yang menjadi anggota dalam organisasi tersebut dapat dikelola.

Kemampuan beroganisasi, kemampuan merencanakan, kemampuan

mengorganisasi, kemampuan mengarahkan atau menggerakan, dan kemampuan

pengawasan dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata selepas siswa meninggalkan

lembaga pendidikan. Di rumah tangga, lingkungan masyarakat dan juga lingkungan

bisnis, prinsip-prinsip manajemen akan dipergunakan.

11
C. Pendidikan Karakter Melalui Perkemahan

Kegiatan perkemahan merupakan salah satu bentuk kegiatan kepramukaan

yang belakangan ini sudah jarang terlihat. Kondisi ini disebabkan ketidakpercayaan

orang tua kepada pengelola satuan gerakan pramuka dan kekhawatiran orang tua

kepada putra-putrinya karena jauh dari mereka.

Terbentuknya pribadi dan karakter mandiri melalui kegiatan perkemahan

merupakan salah satu perwujudan yang dapat dilihat dan diamati oleh siapapun.

Pembentukan jiwa yang tangguh, tidak cepat putus asa, kedisiplinan, dan kematangan

emosional juga menjadi tujuan dan sasaran kegiatan perkemahan. Di dalam

perkemahan, semua kegiatan baik kegiatan pribadi maupun kegiatan kelompok atau

regu harus dikelola dan dilakukan oleh pribadi dan regu masing-masing. Jika dalam

lingkungan keluarga, kegiatan memasak dilakukan oleh Ibu atau pembantu, maka

dalam perkemahan dilakukan oleh regu atau individu yang diberikan tugas. Jika

dalam lingkungan keluarga, perlengkapan mandi, pakaian, dan lainnya disiapkan oleh

orang tua, maka dalam perkemahan, semua keperluan dan perlengkapan tersebut

disiapkan oleh anggota pramuka. Ini merupakan bentuk nyata dari penciptaan

kemandirian.

Jika keseharian, biasanya peserta didik tidak memiliki program atau kegiatan

yang teratur seperti belajar, bermain, nonton tv, dll. Maka dalam kegiatan

perkemahan, panitia perkemahan telah merancang program yang sangat teratur dari

waktu kewaktu dengan kegiatan yang syarat dengan pembentukan pribadi unggul

12
yang harus diikuti dan ditaati setiap anggota pramuka. Ini merupakan bentuk nyata

dari penciptaan kedisiplinan.

Kecerdasan sosial pun terbentuk dalam kegiatan perkemahan. Dalam

Gerakan Pramuka dikenal dengan satuan regu yang terdiri dari sekurang-kurangnya

10 orang Pramuka. Ketika program perkemahan diselenggarakan, kelompok dalam

satu regu akan berinteraksi untuk mengengelola dan mempersiapkan perkemahan.

Sikap saling menghormati antar sesama pramuka, sikap saling menghargai, dan sikap

peduli atau empati akan teruji dalam kelompok ini.

Pemanfaatan waktu menjadi sangat efektif ketika perkemahan dilaksanakan.

Warga perkemahan menjadi pribadi yang sangat disiplin dan taat terhadap tatatertib

yang berlaku. Setiap detik dimanfaatkan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang

bermanfaat, hampir tidak ada waktu luang yang terbuang dengan sia-sia. Tidak hanya

kegiatan kepramukaan yang diatur, kegiatan makan, mandi, istirahat dan kegiatan

ibadahpun diatur. Ibadah bersama seperti shalat berjamaah, dan shalat malam diatur,

dan wajib dilaksanakan oleh setia peserta.

Dalam perkemahan pun, disadari ataupun tidak, baik oleh penyelenggara

perkemahan maupun kelompok atau regu yang mengikuti perkemahan, sebenarnya

telah melaksanaan prinsip-prinsip manajemen. Diawali dari perencanaan (planning)

seperti merancang waktu dan kegiatan, survey awal lokasi perkemahan, menyusun

acara perkemahan, merancang job descriftion dan job spesification, dll. Prinsip

pengorgnisasian (organizing) dapat dilihat dari pengalokasian sumber daya,

pengalokasian sumber keuangan, penentuan struktur tugas, tanggung jawab dan

13
wewenang masing-masing anggota dapat dilihat dalam pengorganisasian

perkemahan. Prinsip penggerakan atau pengarahan (actuacting) dapat dilihat dari

kemapuan pemimpin regu atau panitia perkemahan dalam mengarahkan anggotanya,

dalam menggerakan anggotanya untuk melakukan tugas dan tanggung jawab yang

telah diamanatkan kepadanya yang telah tertuang dalam job descriftion. Prinsip

pengawasan (controlling) dapat dilihat dari kegiatan panitian atau regu dalam

melakukan penilaian terhada kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Dalam

penilaian atau evaluasi kegiatan akan diketahui tingkat keberhasilan dari program

yang telah dilaksanakan dan penentuan strategi selanjutnya.

Jauh sebelum kegiatan perkemahan dilaksanakan, biasanya dibentuk sebuah

kepanitiaan yang anggotanya adalah anggota pramuka itu sendiri. Didalam

kepanitiaan pun prinsip-prinsip manajemen atau pengelolaan kegiatan

diimplementasikan. Semua kegiatan tersebut, merupakan bentuk nyata dalam

pengembangan kepribadian, keterampilan, sikap dan etos kerja yang tinggi.

Sikap kemandirian, ulet, kejujuran, kedisiplinan, terbentuknya pribadi yang

tangguh, tidak cepat putus asa, berani dan bertanggung jawab akan teruji dan

terbentuk dalam kegiatan perkemahan. Bagi orang tua, kegiatan ini seharusnya

didukung dan mendapat dukungan penuh, Kita tidak ingin memiliki anak-anak yang

hanya cerdas secara intelektual, tetapi cerdas juga secara spiritual, emosional dan

sosial. Bangsa ini membutuhkan jiwa-jiwa mandiri, memiliki keyakinan yang tinggi,

tidak cengeng, jujur, disiplin, ulet, tidak cepat putus asa, berani dan bertanggung

jawab serta sikap mental lainnya.

14
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Kepramukaan sebagai gerakan pendidikan pada jalur pendidikan non formal

merupakan bagian tak terpisahkan dari system pendidikan dalam menyiapkan

anak bangsa menjadi kader bangsa yang berkualitas baik moral, mental,

spiritual, intlelektuan, emosional, maupun fisik dan ketrampilan.

2. Melalui kegiatan pendidikan kepramukaan diharapkan dapat meningkatkan

kemampuan spiritual dan intelektual, keterampilan, dan ketahanan diri yang

dilaksanakan melalui metode belajar interaktif dan progresif.

3. Gerakan pramuka sebagai salah satu organisasi yang tetap konsisten dengan

karakter bangsa tentu memiliki pola pembinaan yang terstruktur dan

berimbang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

4. Pembentukan jiwa yang tangguh, tidak cepat putus asa, kedisiplinan, dan

kematangan emosional juga menjadi tujuan dan sasaran dalam kegiatan

gerakan kepramukaan.

15
B. Saran

1. Pembina pramuka sebagai stakeholder pendidikan kepramukaan

hendaknya memahami bahwa praktek penghayatan melalui kegiatan ulang

janji merupakan satu hal yang paling inti dan sakral, karena inilah awal

yang menentukan keberhasilan dalam rangka pembentukan karakter

peserta didiknya.

2. Pembina pramuka diharapkan mampu menggali lebih dalam tentang

metode pendidikan kepramukaan dalam rangka pembentukan karakter

yang sesuai dengan jati diri bangsa, namun ada hal lain yang juga sering

kita lupakan bahwa kepiawaian, kesungguhan dan ketulusan hati seorang

pembina juga memegang peranan penting. Karena ketulusan seorang

pembina dapat menimbulkan aura tersendiri yang juga akan mewarnai

peserta didiknya.

3. Pembina pramuka seharusnya dapat berhasil menciptakan peserta didik

yang berkarakter jika pada proses pendidikannya tidak hanya

mengembangkan teknik kepramukaan (tekpram) semata, tetapi sarankan

juga dapat mengembangkan kemampuan, keterampilan dan sikap

berorganisasi.

16