Anda di halaman 1dari 33

« Akuntansi Akrual Instrumen Keuangan (Financial Instrument)

Membaca Utang dengan Lebih Bijak »

Kajian Jurnal Akuntansi Pemerintah Berbasis Akrual

Posted by I Wayan Agus Eka on June 18, 2009

Pemberlakuan akuntansi berbasis akrual di satu sisi akan


menghasilkan laporan operasional dan neraca yang disajikan
dalam bentuk akrual namun perlu diingat bahwa harus dihasilkan
juga LRA yang dasar pencatatannya menggunakan basis kas
karena penyusunan anggaran masih menggunakan basis kas.
Dampak dari hal ini adalah perlunya dibuatkan jurnal yang mampu
menampung semua jenis kemungkinan tersebut sehingga semua
jenis laporan tersebut dapat dihasilkan. LRA dan laporan
perubahan SAL merupakan jenis laporan yang dihasilkan dengan
menggunakan pendekatan kas sedangkan LO, Neraca dan Laporan
Perubahan Ekuitas merupakan jenis laporan yang dihasilkan dari
pendekatan akrual.

Akun-akun yang digunakan di jurnal nantinya harus mampu untuk


menunjukkan arah laporan yang akan dihasilkan mengingat terminologi
yang digunakan ada ada sedikit kemiripan namun secara substansi
memiliki arti yang berbeda. Untuk kesepakatan dalam paper ini maka
sesuai dengan draft PSAP akrual yang dikeluarkan KSAP maka untuk

1. Akun pendapatan akan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu


pendapatan-LRA yang berbasis kas yang nantinya akan masuk
sebagai komponen LRA dan pendapatan-LO yang berbasis akrual
yang nantinya akan masuk ke laporan operasional.
2. Untuk akun belanja akan digunakan sebagai dasar dalam
penyusunan LRA yang berbasis kas sementara untuk laporan
operasional akan digunakan terminologi beban.
3. Sisa penggunaan anggaran di LRA nantinya akan dinamakan sisa
anggaran lebih (SAL) sementara laporan operasional akan
menghasilkan surplus/defisit-LO.

Jurnal Korolari

Jurnal korolari muncul karena di satu sisi pengakuan akun-akun LRA


menggunakan basis kas sementara akun neraca menggunakan basis
akrual. Undang-undang mengharuskan supaya semua penerimaan dan
pengeluaran kas harus melalui LRA dan dicatat sebagai realisasi
pendapatan dan belanja. Sebagai contoh ketika pemerintah menerima
pembayaran pajak maka akan dicatat (pada SAKUN)

KUN xxx

Pendapatan pajak xxx

Jurnal di atas sudah barang tentu hanya akan mempengaruhi LRA (pada
akun pendapatan) dan kas pada neraca. Namun masalah akan muncul
ketika pemerintah melakukan realisasi belanja modal dimana di satu sisi
pemerintah harus melakukan penjurnalan akun LRA namun di sisi lain
pemerintah harus mengakui penambahan aset di neraca sebagai
konsekuensi penggunaan basis akrual di neraca. Masalah ini diatasi
dengan menggunakan jurnal yang disebut dengan jurnal korolari. Dengan
menggunakan jurnal korolari disamping melakukan penjurnalan realisasi
belanja modal, di sisi lain dapat dibuat neraca yang berbasis akrual.
Jurnal korolari dalam kasus ini dilakukan dengan melakukan pendebetan
aset dan pengkreditan akun ekuitas dana.

Pertanyaan yang sekarang timbul apakah jurnal korolari masih diperlukan


ketika basis akrual diterapkan dalam akuntansi pemerintah?

Selama ini jurnal korolari digunakan sebagai jembatan yang


menghubungkan antara basis kas yang digunakan dalam akuntansi LRA
dengan basis akrual yang digunakan di neraca. Namun dengan
penggunaan basis akrual untuk menghasilkan laporan operasional maka
secara akuntansi perkiraan riil di neraca sudah terhubung dengan
perkiraan nominal di laporan operasional. Dalam hal ini laporan
operasional dapat diibaratkan sebagai laporan laba rugi di akuntansi
konvensional yang terhubung dengan neraca dimana surplus/defisit-LO
pada laporan operasional (laba/rugi pada akuntansi konvensional)
nantinya akan terhubung dengan neraca melalui laporan perubahan
ekuitas.

Kondisi bahwa basis akrual mampu menghubungkan transaksi yang


melibatkan akun riil dan nominal membawa konsekuensi jurnal korolari
tidak diperlukan lagi dalam akuntansi pemerintah karena setiap transaksi
yang melibatkan akun neraca akan dapat terakomodasi dalam basis
akrual ini. Dengan mengambil contoh pembelian aset di atas maka secara
akrual akan langsung diakui pada debit akun aset dan di kredit pada kas
sehingga perkiraan aset akan langsung muncul di neraca.
Jurnal akrual yang disebutkan pada paragraf sebelumnya hanya bisa
menghasilkan LO, Neraca, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas,
sementara PSAP juga mensyaratkan untuk menghasilkan LRA dan
Laporan Perubahan SAL. Permasalahan menjadi kompleks ketika basis
akuntansi yang digunakan untuk menghasilkan kedua kelompok laporan
ini berbeda, LO, Neraca, LAK dan Laporan Perubahan Ekuitas
menggunakan basis akrual sementara sisanya menggunakan basis kas.
Sehingga menurut penulis, jurnal yang nantinya akan digunakan harus
mampu untuk menghasilkan kedua laporan yang basisnya berbeda ini.

Secara ringkas dapat dikatakan bahwa diperlukan modifikasi jurnal yang


selama ini kita kenal di basis cash toward accrual ketika kita ingin
menggunakan basis akrual tetapi tetap dapat menghasilkan LRA yang
berbasis kas, dan jurnal korolari yang ada di basis cash toward accrual
dihapuskan karena sudah terakomodasi dalam jurnal akrual.

Akuntansi pemerintahan di Indonesia dilakukan pada beberapa tingkatan.


Pada level Kementrian/Lembaga (K/L) akuntansi pemerintah dilakukan
terutama bertujuan untuk menghasilkan LRA, Neraca dan LO ketika basis
akrual digunakan, sementara pada level BUN tujuan utamanya adalah
untuk menghasilkan LAK. Sesuai dengan draft akrual PSAP maka LAK
hanya dihasilkan oleh entitas yang menyelenggarakan fungsi
perbendaharaan (dalam hal ini BUN di Dit Pb) sehingga tidak akan
ditemui akun Kas Umum Negara (KUN) di level K/L, akun KUN hanya
ditemui pada akuntansi di level BUN.

1. Jurnal Akuntansi Anggaran

Menurut penulis ada perbedaan penjurnalan khususnya pada tingkat K/L


ketika DIPA disahkan sementara jurnal pada tingkat BUN ketika APBN
disahkan tetap sama ketika menggunakan basis cash toward accrual.

Ketika UU APBN disahkan

Ketika APBN disahkan maka BUN akan melakukan penjurnalan (K/L


belum melakukan penjurnalan) sbb:

BUN

Estimasi Pendapatan-LRA xxx


Surplus/Defisit xxx

Surplus/Defisit xxx

Apropriasi Belanja xxx

Estimasi penerimaan Pembiayaan xxx

Pembiayaan Netto xxx

Pembiayaan Neto xxx

Apropriasi Pengeluaran Pembiayaan xxx

Ketika DIPA disahkan

Ketika basis akrual disahkan maka akan timbul utang atau piutang
kepada KUN di K/L.

Utang ini berarti bahwa K/L memiliki kewajiban untuk menyetorkan


pendapatan yang diterimanya ke kas negara sehingga sebagai contra
accountnya (sesuai dengan persamaan dasar akuntansi) maka akun
ekuitas harus didebit (bandingkan dengan basis sebelumnya yang
mendebit estimasi pendapatan yang dialokasikan). Pendebitan ekuitas ini
mencerminkan adanya adanya kemungkinan penurunan ekuitas di masa
datang karena adanya pelunasan utang dalam bentuk penerimaan
pendapatan.

Piutang dalam hal ini berarti bahwa K/L memiliki hak untuk mendapatkan
sejumlah uang dari KUN berkaitan dengan anggaran (DIPA) yang sudah
disetujui. Analogi dengan penjelasan utang pada paragraf sebelumnya
maka akun kotra dari piutang ini juga merupakan ekuitas yang
mencerminkan adanya penambahan ekuitas entitas karena menerima kas
dari KUN yang digunakan untuk belanja.

K/L

Ekuitas Dana-Pendapatan-LRA xxx

Utang kepada KUN xxx

(mencatat estimasi pendapatan yang dialokasikan)


Piutang dari KUN xxx
Ekuitas Dana-Belanja xxx

(mencatat allotment belanja)


Ekuitas Dana-Penerimaan Pembiayaan xxx

Utang kepada KUN xxx

(mencatat estimasi penerimaan pembiayaan yang dialokasikan)


Piutang dari KUN xxx

Ekuitas Dana-Pengeluaran Pembiayaan xxx

(mencatat allotment pengeluaran pembiayaan)


2. Jurnal Akuntansi Pendapatan-LO dan Pendapatan-LRA

Sesuai dengan draft akrual maka pendapatan-LO diakui ketika


pendapatan diperoleh atau pendapatan direalisasi. Jadi pada definisi ini
terdapat komponen pendapatan-LO yang diakui terlebih dahulu sebelum
adanya penerimaan kas (sehingga piutang pendapatan harus diakui)
namun ada juga pendapatan-LO yang baru diakui ketika penerimaan kas.

Ketika pendapatan-LO diakui pada skenario pertama dimana pengakuan


terjadi sebelum kas diterima maka K/L akan melakukan penjurnalan
sebagai berikut:

Piutang Pendapatan…… xxx

Pendapatan…..-LO xxx

Jurnal diatas dirinci menurut jenis pendapatannya. Jurnal di atas


fungsinya akan menghasilkan LO dan neraca secara akrual.

1. Pendapatan yang disetor ke BUN

Ketika terjadi transfer ke BUN maka akan terjadi 2 kejadian akuntansi


sekaligus dimana piutang yang sudah tercatat sebelumnya harus
dihapuskan dan harus ada pengakuan realisasi anggaran pendaptan-LRA.
Sehingga pada K/L akan dilakukan pencatatan sebagai berikut:

Utang Kepada KUN xxx

Piutang Pendapatan….. xxx


Jurnal diatas adalah untuk menghapus piutang pendapatan karena kas
sudah diterima di BUN, namun bukan akun KUN yang akan muncul di sisi
debit karena sesuai dengan penjelasan sebelumnya, bahwa akun KUN
hanya akan muncul pada entitas yang menyelenggarakan fungsi
perbendaharaan yang dalam hal ini adalah BUN. Sebagai alternatif
pengganti KUN maka akun Utang Kepada KUN akan berkurang karena
adanya pengurangan kewajiban entitas atas realisasi pendapatan yang
menjadi tanggung jawabnya.

Jurnal diatas juga mampu untuk menghasilkan LRA dengan melihat


pendebitan dari akun Utang Kepada KUN. LRA dapat dilihat ketika K/L
melakukan penjurnalan atas transaksi yang mendebit akun Utang Kepada
KUN dalam hal terjadi realisasi pendapatan dan sebaliknya ketika terjadi
pengkreditan akun Piutang Dari KUN dalam hal terjadi realisasi belanja.
Untuk lebih memudahkan penyusunan LRA maka sebaiknya dibuatkan
buku besar pembantu untuk akun Utang Kepada KUN dan Piutang dari
KUN untuk masing-masing item dalam LRA. Apabila LRA sudah berhasil
disusun maka akan lebih mudah juga menentukan SAL sehingga Laporan
Perubahan SAL juga dapat disusun untuk masing-masing K/L meskipun
peraturan perundang-undangan mengharuskan SAL untuk ditransfer ke
BUN.

Selain di K/L pengaruh transaksi pelunasan piutang/penerimaan kas ini


juga mengharuskan BUN untuk melakukan pencatatan dalam rangka
menghasilkan LAK sebagai berikut:

KUN xxx

Pendapatan-LRA xxx

Perlu diperhatikan bahwa akun yang digunakan di BUN adalah


Pendapatan-LRA, hal ini untuk membedakan dengan akun pada basis
akrual yang nantinya akan muncul di LO (Pendapatan-LO) karena hal ini
sesuai dengan tugas BUN yang nantinya akan menghasilkan Laporan Arus
Kas sebagai entitas yang melaksanakan fungsi perbendaharaan.

Sehingga secara keseluruhan jurnal-jurnal yang dibuat ketika terjadi


pengakuan dan penerimaan pendapatan adalah sbb:

K/L
Piutang Pendapatan…… xxx
Pendapatan…..-LO xxx

Utang Kepada KUN xxx

Piutang Pendapatan….. xxx

BUN
KUN xxx

Pendapatan-LRA xxx

Pendapatan melalui Bendahara Penerimaan

Ketika pendapatan diakui maka K/L akan menjurnal

Piutang Pendapatan…… xxx

Pendapatan…..-LO xxx

Ketika kas diterima melalaui bendahara penerimaan maka perlakuannya


adalah serupa dengan basis cash toward accrual dimana tidak ada jurnal
hanya membuat catatan besarnya penerimaan. Ketika kas tersebut sudah
disetor ke BUN maka K/L akan menjurnal

Utang Kepada KUN xxx

Piutang Pendapatan….. xxx

Sementara pada BUN, ketika kas baru diterima oleh bendahara


penerimaan BUN belum melakukan penjurnalan namun ketika BUN sudah
menerima transfer kas maka BUN akan menjurnal sbb:

KUN xxx

Pendapatan-LRA xxx

Apabila terdapat sisa dana di bendahara penerimaan, maka pada saat


penyusunan laporan keuangan akan dibuatkan jurnal penyesuaian untuk
mencatat sisa dana tersebut sebagai utang penyetoran kepada BUN yang
menunjukkan adanya kewajiban bendahara pengeluaran pada tanggal
pelaporan (neraca) untuk menyetorkan dana yang tersisa ke KUN.
Jurnalnya sbb (di K/L):

Kas di Bendahara Penerimaan xxx


Utang Penyetoran Pendapatan-LRA xxx

Akun Utang Penyetoran Pendapatan-LRA merupakan akun riil yang akan


muncul di bagian kewajiban di neraca.

1. Pendapatan atas penjualan aset

Ketika K/L melakukan penjualan aset kepada pihak ketiga maka secara
akrual K/L akan mengakui piutang dan keuntungan/kerugian ketika aset
tersebut telah berpindah tangan ke pihak ketiga. Jurnalnya (jika untung)
sbb:

Jika untung

Piutang…. xxx

Akumulasi Penyusutan-Aset…. xxx

Aset tetap…. xxx

Surplus Penjualan Aset Nonlancar xxx

Jika rugi

Piutang…. xxx

Defisit Penjualan Aset Nonlancar xxx

Akumulasi Penyusutan-Aset…. xxx

Aset tetap…. xxx

Ketika pihak ketiga tersebut telah melakukan pembayaran ke KUN maka


K/L akan mencatat sbb:

Utang Kepada KUN xxx

Piutang… xxx

Pada saat yang sama dengan penerimaan di KUN maka BUN akan
mencatat sbb:

KUN xxx

Pendapatan-LRA PNBP Lainnya xxx


1. Pengembalian pendapatan

Mengingat bahwa terdapat 2 jenis pendapatan yaitu pendapatan-LRA


dengan pendapatan-LO maka terjadi sedikit kompleksitas dalam
menentukan apakah pengembalian terjadi pada periode yang sama
dengan pengakuan pendapatan-LRA dan pendapatan-LO. Menurut hemat
penulis, dengan mempertimbangkan cost benefit dan materialitas, maka
untuk pengembalian pendapatan ini sebaiknya diakui (dan dijurnal)
dengan berdasarkan pada basis kas sehingga pengembalian baru akan
dicatat ketika sudah dikeluarkan dari KUN.

Untuk pengembalian yang bersifat recurring baik yang diterima pada


periode yang sama atau berbeda dan pengembalian yang bersifat non-
recurring yang diterima pada periode yang sama maka K/L akan
mencatat sbb:

Pendapatan-LO xxx

Utang kepada KUN xxx

Sementara di BUN pada saat yang sama akan mencatat:

Pendapatan-LRA xxx

KUN xxx

Untuk pengembalian yang bersifat non-recurring yang diterima pada


periode yang berbeda maka pencatatan hanya dilakukan di BUN dengan
jurnal sbb:

SiLPA xxx

KUN xxx

3. Akuntansi Belanja dan Beban

1. Pengakuan Beban dan Belanja Langsung

Sesuai dengan draft akrual maka beban diakui ketika timbulnya


kewajiban, terjadinya konsumsi aset, atau terjadinya penurunan manfaat
ekonomis atau potensi jasa. Ketika peristiwa tersebut terjadi maka beban
harus diakui dan dicatat dengan jurnal sebagai berikut (di K/L):
Beban…..(dirinci menurut klasifikasi xxx
ekonomi)
Utang beban……(dirinci) xxx

Ketika terhadap beban tersebut dilakukan pelunasan maka secara


akuntansi ada 2 jenis transaksi yang terjadi yaitu transaksi pelunasan
utang yang sebelumnya sudah tercatat pada saat pengakuan beban dan
transaksi realisasi belanja untuk menghasilkan LRA namun sesuai dengan
penjelasan pada subbab akuntansi pendapatan maka LRA dapat dibuat
dengan melihat pengkreditan piutang dari KUN sehingga cukup dibuatkan
satu jurnal sbb (di K/L):

Utang beban xxx

Piutang dari KUN xxx

Pada saat yang bersamaan dengan pelunasan utang beban maka BUN
akan melakukan penjurnalan sbb:

Belanja xxx

KUN xxx

Apabila atas pembayaran dari KUN tersebut dipotong oleh pemerintah


untuk ke pihak lain (misalnya dipotong untuk ke Askes dll), maka
penjurnalannya serupa dengan jurnal pada basis cash toward accrual
sebagai berikut

KUN xxx

Penerimaan PFK xxx

(Saat pemotongan oleh pemerintah)


Pengeluaran PFK xxx

KUN xxx

(Saat penyetoran kepada pihak ketiga)

1. Pencatatan Belanja Modal

Ketika terjadi belanja modal maka secara akrual harus dicatat aset yang
mengalami penambahan, jurnal korolari dalam hal ini tidak diperlukan lagi.
Sehingga jurnal-jurnal yang dicatat ketika terjadi belanja modal adalah
sbb (di K/L):

Aset…(sesuai nama asetnya) xxx

Piutang dari KUN xxx

(untuk mencatat penambahan aset secara akrual)


Sementara itu di BUN akan dicatat:

Belanja Modal xxx

KUN xxx

1. Pembayaran melalui Dana Kas Kecil

Ketika uang persediaan (UP) diberikan dari KUN kepada Bendahara


Pengeluaran maka pada prinsipnya belum dilakukan pengakuan terhadap
belanja dan beban. Untuk belanja baru akan diakui ketika dana tersebut
dipertanggungjawabkan yang ditandai dengan terbitnya SP2D GU,
sedangkan untuk beban pada prinsipnya langsung akan diakui ketika
timbulnya kewajiban untuk melakukan pembayaran, namun untuk
penyederhanaan maka beban dalam ilustrasi jurnal berikut akan diakui
bersamaan dengan pengakuan belanja dengan pertimbangan bahwa
jumlah uang yang terlibat dalam transaksi ini tidak materiil.

Ketika uang persediaan diterima oleh bendahara penerimaan maka K/L


akan melakukan pencatatan sbb:

Kas di Bendahara Pengeluaran xxx

Uang Muka dari KUN xxx

Sementara di BUN akan mencatat:

Pengeluaran transito xxx

KUN xxx

Ketika bendahara pengeluaran melakukan pertanggungjawaban maka


jurnal di K/L adalah

Beban…. xxx
Piutang dari KUN xxx

Sementara jurnal di BUN adalah sbb:

Belanja…. xxx

KUN xxx

Namun apabila entitas menganggap bahwa pengakuan beban harus


segera setelah terjadinya kewajiban dan keluarnya kas dari bendahara
pengeluaran maka jurnal yang dibuat adalah sbb

Beban…. xxx

Piutang dari KUN xxx

(untuk mencatat pengakuan beban)


Uang Muka dari KUN xxx

Kas di Bendahara Pengeluaran xxx

(untuk mencatat pengurangan kas di bend pengeluaran untuk belanja)


Konsekuensinya ketika pertanggungjawaban maka K/L tidak melakukan
pengakuan beban lagi tapi langsung menambah saldo kas di bendahara
pengeluaran dengan jurnal sbb:

Kas di Bendahara Pengeluaran xxx

Uang Muka dari KUN xxx

1. Penerimaan kembali belanja dan beban

Dengan menggunakan analogi pada pengembalian pendapatan maka


menurut hemat penulis, dengan mempertimbangkan cost benefit dan
materialitas, maka untuk pengembalian belanja ini sebaiknya diakui (dan
dijurnal) dengan berdasarkan pada basis kas sehingga pengembalian baru
akan dicatat ketika sudah diterima di KUN hal ini selaras dengan
redaksional yang digunakan pada draft akrual PSAP yang menggunakan
terminologi “diterima” yang berarti bahwa dasar yang dipakai adalah
diterima dalam bentuk kas.

Jurnal apabila pengembalian pada periode yang sama adalah (di K/L):
Piutang dari KUN xxx

Beban…. xxx

Sementara jurnal di BUN adalah:

KUN xxx

Belanja…. xxx

Jurnal apabila pengembalian pada periode yang berbeda adalah (di K/L):

Utang Kepada KUN xxx

Pendapatan lain-lain-LO xxx

Sementara jurnal di BUN

KUN xxx

Pendapatan-LRA xxx

4. Akuntansi Penerimaan Pembiayaan

Secara akrual utang diakui ketika kemungkinan besar akan terjadi arus
keluar sumber daya di masa datang sebagai akibat adanya transaksi di
masa lalu. Untuk konteks pemerintah, ketika perjanjian pinjaman
ditandatangani maka seketika itu pula harus ada pengakuan utang di K/L
dengan jurnal sbb:

Piutang penerimaan utang LN xxx

Utang LN xxx

Akun “Piutang penerimaan utang LN” merupakan akun aset/piutang yang


mencerminkan bahwa ketika perjanjian pinjaman ditandatangani,
pemerintah disamping mengakui adanya kewajiban juga harus mengakui
adanya hak untuk menerima utang tersebut dalam bentuk kas.

Ketika utang tersebut terealisasi maka K/L akan melakukan pencatatan


sbb:

Utang Kepada KUN xxx


Piutang penerimaan utang LN xxx

Sementara di BUN akan dilakukan jurnal sbb:

KUN xxx

Penerimaan Pinjaman xxx

5. Akuntansi Pengeluaran Pembiayaan

Sesuai dengan draft akrual PSAP nomor 6 maka pengakuan investasi


sebagai salah satu contoh dari pengeluaran pembiayaan diakui ketika
adanya transaksi pertukaran atau pembelian yang dalam hal ini ditandai
dengan keluarnya kas dari KUN. Sehingga ketika pemerintah melakukan
pengeluaran pembiayaan (dalam hal ini pembelian investasi) maka di K/L
akan dicatat sbb:

Investasi jangka panjang pemerintah xxx

Piutang dari KUN xxx

Sementara di BUN akan dicatat:

Pengeluaran Penyertaan Modal-LRA xxx

KUN xxx

6. Akuntansi untuk Hibah

Akuntansi untuk hibah mempunyai karakteristik tersendiri dalam


akuntansi pemerintah apalagi jika menggunakan basis akrual. Ketika
pemerintah menerima hibah (contohnya dalam bentuk aset tetap) maka
K/L akan melakukan penjurnalan sbb:

Aset Tetap……….. xxx

Pendapatan Hibah-LO xxx

Dalam hal ini muncul masalah baru karena transaksi untuk hibah harus
tercatat dalam laporan realisasi anggaran sebagai bagian dari
pendapatan-LRA dan sekaligus sebagai belanja modal sementara di sisi
lain jurnal di atas hanya akan menghasilkan neraca dan LO. Untuk
mengatasi masalah ini maka akun utang kepada KUN harus didebit
bersamaan dengan pengkreditan akun piutang dari KUN sbb:
Utang kepada KUN xxx

Piutang dari KUN xxx

Pada saat yang bersamaan dengan pencatatan jurnal tadi maka di BUN
akan mencatat jurnal sbb:

Belanja Modal….. xxx

Pendapatan Hibah-LRA xxx

7. Jurnal Penutup

Untuk melakukan penutupan terhadap akun-akun nominal maka


dibuatkan jurnal berikut (asumsi pendapatan-LO lebih besar daripada
beban):

Pendapatan-LO xxx

Ekuitas Dana xxx

Beban xxx

Sementara itu apabila realisasi penerimaan pendapatan lebih kecil


daripada yang dianggarkan maka jurnal penutup untuk akun utang
kepada KUN sbb (berlaku sebaliknya jika terjadi kondisi sebaliknya):

Utang kepada KUN xxx

Ekuitas Dana-Pendapatan LRA xxx

Apabila realisasi belanja lebih kecil daripada yang dianggarkan maka


jurnal penutupnya adalah sbb (berlaku sebaliknya jika terjadi kondisi
sebaliknya):

Ekuitas Dana-Belanja xxx

Piutang dari KUN xxx

8. Akuntansi Persediaan

Ketika pemerintah melakukan pembelian persediaan maka pencatatannya


adalah sbb (di K/L)
Persediaan xxx

Piutang dari KUN xxx

Sementara di BUN akan dicatat:

Belanja xxx

KUN xxx

Sesuai dengan draft akrual PSAP nomor 5 maka metode yang digunakan
untuk mengakui beban persediaan adalah metode periodik dimana setiap
akhir tahun akan dihitung berapa persediaan yang tersisa, sehingga
jurnal untuk akhir tahun (di K/L):

Beban Persediaan xxx

Persediaan xxx

Jumlah yang dijurnal pada jurnal di atas adalah sebesar jumlah


persediaan yang digunakan selama satu periode tersebut sehingga di
neraca nantinya akan muncul persediaan yang masih tersisa.

9. Akuntansi Investasi

Untuk lebih memahami akuntansi untuk investasi maka akan dijelaskan


dalam bentuk ilustrasi kasus. Pada tanggal 1 Januari 2009 pemerintah
membeli 5% saham PT X senilai 50 jt. Pada tanggal 1 November 2009 PT
X mengumumkan laba sebesar 30 jt dan deviden tunai total sebesar 20 jt
dan dibayarkan pada 1 februari 2010 maka jurnal akrualnya (di K/L)
adalah sebagai berikut

1 Jan 09
Penyertaan Modal Pemerintah 50 jt

Piutang dari KUN 50 jt

(mencatat pembelian investasi)


1 Nov 09
Piutang Deviden 1 jt

Pendapatan bagian pemerintah atas laba 1 jt

(Mencatat pendapatan deviden yang diumumkan namun untuk pengumuman laba tida
terpengaruh)
1 Feb 2010
Utang kepada KUN 1 jt

Piutang Deviden 1 jt

(mencatat penerimaan deviden tunai 5% x 20 jt)


Namun apabila kepemilikan pada soal di atas bukan 5% melainkan 25%
maka ada sedikit perbedaan jurnal terutama untuk jurnal tanggal 1 Nov
09 dan 1 Feb 2010 (jurnal untuk 1 Jan 09 tetap sama)

1 Nov 09
Penyertaan Modal Pemerintah 7,5 jt

Pendapatan bagian pemerintah atas laba 7,5 jt

(mencatat bagian atas laba PT X sebesar 25% x 30 jt berdasarkan metode ekuitas)


Piutang Deviden 1 jt

Penyertaan Modal Pemerintah 1 jt

(Mencatat pendapatan deviden yang diumumkan yang mengurangi investasi)


1 Feb 2010
Utang kepada KUN 1 jt

Piutang Deviden 1 jt

(mencatat penerimaan deviden tunai 5% x 20 jt)


Untuk kasus apabila terjadi pelepasan investasi yang harga jualnya
berbeda dengan nilai tercatatnya (carrying value) maka harus diakui
keuntungan/kerugian yang timbul melalui perkiraan Surplus Penjualan
Aset Nonlancar atau Defisit Penjualan Aset Nonlancar. Jurnalnya kira-kira
akan berbentuk sbb:

Utang kepada KUN xxx

Defisit Penjualan Aset Nonlancar (jika rugi) xxx

Surplus Penjualan Aset Nonlancar (jika untung) xxx

Investasi…(sesuai jenisnya) xxx

10. Akuntansi Aset Tetap

Jurnal untuk perolehan aset tetap telah dijelaskan pada bagian


sebelumnya mengenai akuntansi beban/belanja pada bagian pencatatan
belanja modal. Salah satu hal penting yang membedakan basis kas
dengan akrual adalah pengakuan beban penyusutan. Jurnal untuk
pengakuan beban penyusutan pada basis akrual adalah sbb:

Beban Penyusutan xxx

Akumulasi Penyusutan-…… xxx

Dalam hal terjadi penilaian kembali aset tetap maka sesuai dengan draft
akrual PSAP nomor 7, selisih antara nilai revaluasi dengan nilai tercatat
aset tetap dibukukan dalam akun ekuitas dana sehingga jurnalnya adalah
sebagai berikut (jika nilai revaluasi lebih besar dari nilai tercatat, jika
tidak maka jurnal ini dibalik) :

Aset Tetap……….. xxx

Ekuitas Dana xxx

Apabila suatu aset tetap dihentikan dari penggunaan aktif pemerintah dan
tidak memenuhi definisi aset tetap maka harus dipindahkan ke pos aset
lainnya sesuai dengan nilai tercatatnya dengan jurnal sebagai berikut:

Aset Lainnya xxx

Aset Tetap….. xxx

Jika aset tetap telah dilepaskan atau secara permanen dihentikan


penggunaannya dan tidak ada menfaat ekonomi maka aset tetap tersebut
harus dihapuskan dan ada pengakuan kerugian di LO dengan jurnal sbb:

Defisit dari Kegiatan Operasional Lainnya xxx

Aset Tetap….. xxx

1. Akuntansi Kewajiban

Untuk memudahkan maka digunakan ilustrasi soal sebagai berikut:

Pemerintah menerbitkan obligasi ritel sebanyak 1 jt lembar dengan harga


Rp 1 jt/lembar. Pada tanggal 2 Januari 2006 hasil penjualan bersih
obligasi ini adalah sebesar Rp 1,1 T dan jatuh tempo pada 2 Januari 2011,
metode amortisasinya garis lurus dan bunga dibayarkan setiap 1 Juli dan
1 Januari dengan tingkat bunga per tahun 10%. Jurnalnya adalah sebagai
berikut (di K/L)
2 Jan 2006
Hutang kepada KUN 1,1 T

Obligasi 1T

Premium Obligasi 0,1 T

1 Juli 2006
Beban Bunga 50 M

Piutang Kepada KUN 50 M

31 Desember 2006
Beban Bunga 50 M

Hutang Bunga 50 M

31 Desember 2006
Premium Obligasi 20 M

Beban Bunga 20 M

(untuk mencatat amortisasi premium sebesar 0,1 T/5tahun


Dengan jurnal di atas maka nilai buku obligasi per 1 Januari 2007 adalah
sebesar 1,08T. Apabila pada tanggal 1 Januari 2007 obligasi itu ditebus
dengan harga 1,1T maka akan diakui kerugian dan jurnalnya adalah sbb
(di K/L):

1 Januari 2007
Obligasi 1T

Premium Obligasi 0,8 T

Defisit Penyelesaian Kewajiban Jangka 0,2 T


Panjang
Piutang dari KUN 1,1 T
10
k.
0.0.0.0.0-RK-PPKD 4.200.000 01.1.1.03.01-
Kas di Bendahara Pengeluaran 0 4.200.000493.500.000 493.500.000Tabel : 8
Jurnal Unit Akuntansi Pelaksanaan AnggaranDalam ilustrasi di atas, pencatatan
atas penerimaan uang oleh Bendahara Penerimaanmenggunakan pendekatan
pendapatan yaitu yang dikredit akun “Pendapatan”.Jika menggunakanpendekatan
Pendapatan dan pada akhir tahun terdapat kas di Bendahara Penerimaan
yangbelum disetor, maka dilakukan penyesuaian dengan mendebit akun
Pendapatan dan mengkreditakun Pendapatan yang ditangguhkan.Terdapat
pendekatan lainyaitu transaksi penerimaan pendapatan oleh
bendaharapengeluaran dicatat dengan mendebit akun Kas di Bendahara
Penerimaan dan mengkredit akunPendapatan yang ditangguhkan. Jika digunakan
pendekatan ini, maka setiap terjadi penyetoranuang dari Bendahara Penerimaan
ke KasDaerah perlu dua jurnal yaitu jurnal pertama mendebitakun RK-PPKD dan
mengkredit akun Kas di Bendahara Penerimaan. Jurnal kedua adalah
mendebitakun Pendapatan yang ditangguhkan dan mengkredit akun
Pendapatan.Selanjutnya jurnal tersebut di atas diposting ke akun buku besar
yang sesuai dan daribuku besar tersebut akan disusun neraca saldo sebagaimana
terlihat pada Tabel 8 berikut ini.PEMERINTAH DAERAH XYZSKPD XNERACA
SALDOPER 31 DESEMBER 2012Nomor dan nama akun Debit Kredit1.1.1.03.01-
Kas di Bendahara Pengeluaran 0 01.1.1.02.01-
Kas di Bendahara Penerimaan 0 00.0.0.0.0-RK-PPKD 0 129.300.0004.1.2.01.01-
Pendapatan Retribusi Pelayanan Kesehatan 0 200.000.0005.1.1.01.01-
Belanja Gaji 20.500.000 05.2.2.01.01-Belanja Barang dan jasa-
ATK 20.800.000 05.2.2.02.04-Belanja Barang dan Jasa-
Obat obatan 13.000.000 05.2.3.03.10-Belanja Modal Ambulance 275.000.000 0-
329.300.000 329.300.000Tabel 9 : Neraca Saldo Unit Akuntansi Pelaksanaan
AnggaranBerdasarkan neraca saldo di atas disusun Laporan Realisasi Anggaran
yang tampakberikut ini:PEMERINTAH DAERAH XYZDINAS
KESEHATANLAPORAN REALISASI ANGGARANUNTUK TAHUN YANG
BERAKHIR 31 DESEMBER 2012(DALAM
RUPIAH)Keterangan Anggaran Realisasi SelisihPendapatan Retribusi Kesehatan
190.000.000
200.000.000 10,000,000Belanja :Belanja Gaji 21.000.000 20.500.000 -500,000

11Belanja Barang dan jasa-ATK 21.500.000 20.800.000 -


700,000Belanja Barang dan Jasa-Obat obatan 14.000.000 13.000.000 -
1000,000Belanja Modal Ambulance 280.000.000 275.000.000 -
5,000,000Jumlah Belanja 336.500.000 329.300.000 -
7,200,000Surplus (defisit) (146.500.000) (129.300.000) 17.200.000Tabel 10 :
Laporan Realisasi AnggaranUntuk menyusun Laporan Realisasi Anggaran, kolom
realisasi diisi dari neraca saldo diatas. Sementara itu, data anggaran dapat
diperoleh dari DPA setelah perubahan. Data anggaranini sebenarnya dapat juga
dijurnal atau menurut SE.900/743/BAKD tahun 2007, tentang ModulAkuntansi
Pemerintah Daerah, data anggaran dapat ditulis di
header
dari masing-masing akunpendapatan dan belanja.Saldo akun pendapatan, belanja
tidak akan menjadi saldo awal tahun berikutnya,sehingga menurut penulis akun-
akun tersebut pada akhir tahun harus ditutup yaitu denganmendebit akun
Pendapatan dan mengkredit akun berbagai belanja. Sementara itu selisihnya
akandimasukkan di sisi debit atau kredit akun RK-PPKD.Jurnal penutup yang
dibuat pada akhir Tahun 2012 oleh unit akuntansi pelaksanaananggaran adalah
sebagai berikut :Akun Debit KreditRK-PPKD
129.300.000Pendapatan Retribusi Kesehatan 200.000.000Belanja Gaji 20.500.0
00Belanja Barang dan jasa-ATK 20.800.000Belanja Barang dan Jasa-
Obat obatan 13.000.000Belanja Modal Ambulance 275.000.000Jumlah 329.300.
000 329.300.000Tabel 11 : Jurnal Penutup Unit Akuntansi Pelaksanaan
AnggaranJika jurnal penutup ini diposting ke buku besar, maka semua akun
pendapatan, belanjaakan bersaldo nol, sehingga akun-akun tersebut sudah siap
untuk menampung transaksipelaksanaan anggaran tahun berikutnya. Namun Akun
RK-PPKD belum tentu bersaldo nolmanakala ada saldo Uang Persediaan pada akhir
tahun belum dipertanggungjawabkansebagaimana mestinya.
e. Rekonsiliasi antara Unit Akuntansi Financial dengan Unit Akuntansi
Pelaksanaan Anggaran
Untuk menghasilkan informasi yang handal dapat dilakukan rekonsiliasi antara
akun RK-PPKD yang ada di Unit Akuntansi Financial derngan akun RK-PPKD yang
ada di Unit AkuntansiPelaksanaan Anggaran. Pada tulisan ini tidak
mengilustrasikan rekonsiliasi tersebut.
3. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dilihat dari aspek teknis
akuntansi,penerapan akuntansi pemerintahan berbasis akrual di tingkat SKPD
dapat dilakukan dengansederhana dengan membentuk dua unit akuntansi yaitu
Unit Akuntansi Financial dan UnitAkuntansi Pelaksanaan Anggaran. Penggunaan
akun RK–PPKD yang sudah digunakan selama inioleh pemerintah daerah dapat
digunakan dalam menyusun rancangan sistem akuntansi berbasisakrual.Akun
Pendapatan dan belanja ditutup saldonya keakun RK-
PPKD, sehingga akunPendapatan dan Belanja akan bersaldo nol, sementara itu
akun RK-PPKD belum tentu bersaldo
12nol. Jika masih ada uang persediaan yang belum dipertanggungjawabkan
sebagaimana mestinya,akun RK-PPKD masih ada saldo kredit.
DAFTAR PUSTAKA
Pemerintah Republik Indonesia,
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang KeuanganNegara
.Pemerintah Republik Indonesia,
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang PerbendaharaanNegara
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi
Pemerintahan
Pemerintah Republik Indonesia,
Peratuan Pemerintah 58 Tahun 2005 tentang PengelolaanKeuangan Daerah
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentangPedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentangPerubahan atas
Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13 tahun 2006 tentang
PedomanPengelolaan Keuangan Daerah
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 55 Tahun 2008 tentangTatacara
Penatausahaan dan Penyusunan Laporan Pertanggungjawaban Bendaharaserta
Penyampaiannya
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahun 2011 tentangPerubahan Kedua
atas Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13 tahun 2006 tentangPedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah
Pemerintah Republik Indonesia,
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.05/2011 tentangPedoman Umum
Sistem Akuntansi Pemerintahan
Kementerian Dalam Negeri,
Surat Edaran Nomor 900/316/BAKD Tahun 2007 tentang PedomanSistem dan
Prosedur Penatausahaan dan Akuntansi, Pelaporan dan
PertanggunjawabanKeuangan Daerah
Kementerian Dalam Negeri,
SE.900/743/BAKD Tahun 2007 tentang Modul Akuntansi PemerintahDaerah
Perlukah SPM-UP/GU/TU/LS? Konsep dan
Aplikasi Manajemen Kas Daerah
Pembaca mungkin bertanya-tanya, makhluk apa gerangan SPM-UP/SPM-GU/SPM-TU/SPM-
LS itu? Substansi SPM adalah permintaan uang kepada institusi pengelola keuangan daerah. Biar
gampang, kita ibaratkan dinas-dinas adalah anak dan pengelola uang adalah wali anak (bukan orang
tua – memangnya duit siapa?).

SPM-UP (SPM Uang Persediaan) digunakan kalau si anak minta uang untuk jaga-jaga.
Besarannya ditetapkan oleh wali anak. Karena kebutuhan anak berbeda-beda, maka uang untuk
jaga-jagapun berbeda-beda. Dalam akuntansi, UP dikenal dengan kas kecil(petty cash).

SPM-GU (SPM Ganti Uang Persediaan) digunakan kalau si anak sudah menggunakan uang.
Form ini merupakan aplikasi pembentukan kas kecil dengan sistem dana tetap (imprest fund
method). Secara periodik (harian/mingguan/bulanan), wali anak akan mengisi kembali sejumlah
uang yang digunakan agar posisinya kembali seperti semula.

SPM-TU (SPM Tambahan Uang Persediaan) digunakan kalau uang jaga-jaga si anak tidak
mencukupi. Form ini merupakan aplikasi pembentukan kas kecil dengan sistem dana
berfluktuasi (fluctuating fund method).

SPM-LS (SPM Langsung) digunakan untuk meminta uang guna pembayaran kepada pihak
ketiga. Cek untuk SPM-LS diterbitkan atas nama penyedia barang/jasa (sejenis dengan cek atas
nama). Selanjutnya, penyedia barang/jasa mencairkan uang di bank.

Penerapan semua form tersebut menciptakan situasi yang sebenarnya sederhana menjadi
rumit. Bagaimana mungkin diterapkan 2 sistem (imprest fund method dan fluctuating fund method)
untuk sebuah pekerjaan (penanganan kas kecil)?. Sebuah kerumitan yang akan dirasakan – baik oleh
anak maupun wali anak.

Anak harus mikir – sekedar meminta uang harus pakai form yang benar. Ekstrimnya,
kesalahan penggunaan form dapat berakibat tidak diterbitkannya cek – yang berarti barang/jasa
yang digunakan si anak (baca pemerintah) tidak terbayar. Dari sudut pandang wali anak,
operasionalisasinya membutuhkan ceck list per jenis permintaan. Ini berarti bahwa penerapan
konsep UYHD (terserah penggunaan si anak, yang penting sesuai kesepakatan awal – APBD)
terdistorsi konsep UUDP (tidak boleh aneh-aneh menyikapi perkembangan – akuntabel sekalipun).

~!@#$%^&*()_+

Dimisalkan UP dinas sebesar Rp 10 juta. Di awal perioda dinas akan mengajukan SPM-UP
sebesar Rp 10 juta. Selanjutnya uang tersebut digunakan sebesar 3 juta (berarti saldo kas
dinas masih Rp 7 juta). Sementara itu, pembayaran yang harus dilakukan selanjutnya adalah
sebesar Rp 19 juta dengan rincian Rp 9 juta atas nama bendahara dinas dan Rp 10 juta atas
nama penyedia barang/jasa.
Situasi tersebut memaksa dinas untuk berpikir tentang berbagai kemungkinan yang harus
dilakukan:

Alternatif 1 Alternatif 2

SPM-GU: Rp 3 juta; SPM-GU: Rp 3 juta;

SPM-TU: Rp 9 juta; SPM-TU: Rp 4 juta;

SPM-LS Rp 10 juta. SPM-LS Rp 5 juta.

Catatan: Catatan:

– UP tetap Rp 10 juta – Pihak ketiga dibayar tunai Rp 5 juta dan cek atas
nama Rp 5 juta.

– Bentuk pembayaran (tunai/cek) diabaikan,


substansinya adalah penyedia jasa harus dibayar.

– Pengajuan SPM-GU Rp 10 juta sesaat setelah


pembayaran agar supaya UP tetap Rp 10 juta.

Kerumitan yang sama juga akan dirasakan oleh pengelola


keuangan daerah. Ia harus menggunakan berbagai form
guna melakukan pengawasan kredit anggaran masing-
masing pos di setiap dinas. Ini dilakukan dengan melakukan
cek silang masing-masing form ke dokumen APBD atau DPA.
Sementara itu, perbendaharaan diberi deadline 2 hari dalam
penerbitan cek (namanya SP2D).

~!@#$%^&*()_+
Terdapat kerugian bagi kedua belah pihak: dari segi efektivitas dan
efisiensi. Pertama, pengelola keuangan daerah perlu menganalisis perputaran uang di setiap dinas
untuk menentukan besaran UP. Sebuah langkah yang kontra produktif karena penetapan UP
mendorong terjadinya penumpukan kas di dinas. Belum lagi banyaknya form membutuhkan belanja
penunjang berupa alat tulis kantor (di kedua pihak).

Kerumitan tersebut dapat disederhanakan dengan melihat hubungan kepentingan antara


dinas (sebagai pihak yang membutuhkan uang) dengan pengelola keuangan daerah (sebagai pihak
yang memberikan uang). Konteks hubungan sederhana ini akan mengeliminasi pemikiran dinas
mengenai form manakah yang akan digunakan. Jadi, dinas hanya perlu menggunakan 1 form: SPM.
Setelah menerima form SPM, pengelola keuangan daerah cukup berpikir apakah permintaan
tersebut akan dipenuhi atau tidak? Jika dipenuhi, berapa besar dana yang akan diberikan? apakah
seluruhnya atau sebagian? Implisit, ini merupakan penerapan UYHD: melihat kebutuhan dinas dan
mempertimbangkan posisi kas daerah. Sedapat mungkin, posisi kas dinas Rp 0,- atau mendekati Rp
0,-. Dengan demikian, UP tidak lagi diperlukan (baca dipaksakan) ada di dinas. Bukankah pandangan
ini dapat mengoptimalkan fungsi utama perbendaharaan (sebagai BUD) dalam manajemen kas
daerah?

Pada kondisi ekstrim, SPM dan SP2D cukup dibuat sekali dalam setahun (cukup minta sekali
setahun dan diberi untuk kebutuhan setahun) – yang berarti merelakan peluang perbendaharaan
memanfaatkan iddle cash. Atau lebih ekstrim lagi: setelah APBD ditetapkan langsung diterbitkan
SP2D, tanpa pengajuan SPM oleh dinas – bukankah APBD memiliki fungsi otorisasi? Ini dimungkinkan
jika pendapatan mencukupi kebutuhan seluruh dinas untuk 1 (satu) perioda.
Sistim Pengeluaran Kas
Sistem akuntansi pengeluaran kas merupakan sistem yang digunakan untuk mencatat seluruh
transaksi pengeluaran kas. Penatausahaan pengeluaran kas merupakan serangkaian proses kegiatan
menerima, menyimpan, menyetor, membayar, menyerahkan, dan mempertanggungjawabkan
pengeluaran uang yang berada dalam pengelolaan SKPKD (Satuan Kerja Pengelolaan Keuangan
Daerah) dan/atau SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah).

Sistem dan Prosedur Akuntansi Pengeluaran kas terdiri atas 4 sub sistem yaitu:

1. Sub Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas Pembebanan Uang Persediaan (UP)


2. Sub Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas Pembebanan Ganti Uang Persediaan (GU).
3. Sub Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas Pembebanan Tambahan Uang Persediaan
(TU).
4. Sub Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas Pembebanan Langsung (LS).

Prosedur Sub Sistem Akuntansi Pengeluaran Kas, terdiri atas:

1. Penerbitan Surat Penyediaan Dana (SPD)


2. Pengajuan Surat Permintaan Pembayaran (SPP)
3. Penerbitan Surat Permintaan Membayar (SPM)
4. Penerbitan Surat Perintah Pencairan Dana(SP2D)
5. Penerbitan Surat Pertanggungjawaban (SPJ)
6. Penerbitan Nota Permintaan Dana (NPD)

apa itu SPD?


SPD adalah Surat Penyediaan Dana, yang dibuat oleh BUD (Bendahara Umum Daerah) dalam rangka
manajemen kas daerah. SPD digunakan untuk menyediakan dana bagi tiap-tiap SKPD dalam waktu
tertentu. Informasi dalam SPD menunjukkan secara jelas alokasi tiap kegiatan.

SPD yang diterbitkan terdiri atas 3 lembar, terdiri atas:

 Lembar 1 diterima oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu-SKPD;


 Lembar 2 diterima oleh Bendahara Pengeluaran-SKPD;
 Lembar 3 sebagai arsip PPKD selaku BUD

Pihak Terkait

Kuasa BUD
Dalam kegiatan ini, kuasa BUD mempunyai tugas:

1. Menganalisa DPA-SKPD yang ada di database


2. Menganalisa anggaran kas pemerintah khususnya data per SKPD
3. Menyiapkan draft SPD
4. Mendistribusikan SPD kepada para pengguna anggaran

PPKD

Dalam kegiatan ini, PPKD mempunyai tugas:

1. Meneliti draft SPD yang diajukan kuasa BUD


2. Melakukan otorisasi SPD

apa itu SPP?


Berdasarkan SPD atau dokumen lain atau yang dipersamakan dengan SPD, bendahara pengeluaran
mengajukan SPP (Surat Perintah Pembayaran) kepada pengguna anggaran/kuasa pengguna anggaran
melalui Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD).

SPP memiliki 4 jenis yang terdiri dari:

SPP Uang Persediaan (SPP-UP)


Dipergunakan untuk mengisi uang persediaan (UP) tiap-tiap SKPD. Pengajuan SPP-UP hanya
dilakukan sekali dalam setahun, selanjutnya untuk mengisi saldo uang persediaan akan
menggunakan SPP-GU.

SPP Ganti Uang (SPP-GU)


Dipergunakan untuk mengganti UP yang sudah terpakai. Diajukan ketika UP habis.

SPP Tambahan Uang (SPP-TU)


Dipergunakan hanya untuk memintakan tambahan uang, apabila terjadi pengeluaran yang
sedemikian rupa sehingga saldo UP tidak akan cukup untuk membiayainya. Jumlah dana yang
dimintakan dalam SPP-TU ini harus dipertanggungjawabkan tersendiri dan bila tidak habis, harus
disetorkan kembali.

Pengajuan SPP UP, GU, dan TU dilampiri dengan daftar rincian rencana penggunaan dana sampai
dengan jenis belanja.
SPP Langsung (SPP-LS)
Dipergunakan untuk pembayaran langsung kepada pihak ketiga dengan jumlah yang telah
ditetapkan. SPP-LS dikelompokkan menjadi:

1. SPP-LS Gaji dan Tunjangan


2. SPP-LS Barang dan Jasa
3. SPP-LS Belanja Bunga, Hibah, Bantuan dan Tak Terduga, serta pengeluaran
pembiayaan

Mekanisme atas pengeluaran-pengeluaran belanja bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja
bagi hasil, bantuan keuangan, dan pengeluaran pembiayaan dapat dilakukan oleh bendahara
pengeluaran SKPKD dengan menerbitkan SPP-LS yang diajukan kepada PPKD melalui PPK-SKPKD.

SPP UP,TU dan LS yang diajukan dibuat rangkap 3:

 Lembar 1 dan 2 untuk Bendahara Pengeluaran yang akan diteruskan ke PPK-SKPD dan PPKD,
setelah ditandatangani oleh Bendahara Pengeluaran.
 Lembar 3 diarsip oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu

Sedangkan SPP-GU yang diajukan dibuat rangkap 2 yang dua-duanya diserahkan ke Bendahara
Pengeluaran.

Pihak Terkait

Bendahara Pengeluaran

Dalam kegiatan ini, Bendahara Pengeluaran mempunyai tugas:

1. Mempersiapkan dokumen SPP beserta lampiran-lampirannya


2. Mengajukan SPP kepada PPK-SKPD

PPK-SKPD (Pejabat Pengelola Keuangan-SKPD)

Dalam kegiatan ini, PPK-SKPD mempunyai tugas:

 Menguji kelengkapan dan kebenaran SPP yang diajukan Bendahara Pengeluaran.


PPTK (Pejabat Pengelola Teknik Kegiatan)

Dalam kegiatan ini, PPTK mempunyai tugas:

 Mempersiapkan dokumen-dokumen yang diperluka dalam pengajuan SPP-LS

apa itu SPM?


Proses penerbitan SPM atau Surat Perintah Membayar adalah tahapan penting dalam penatausahaan
pengeluaran yang merupakan tahap lanjutan dari proses pengajuan SPP. Sebagai tahap lanjutan,
SPM juga dibedakan menjadi 4 (empat) sesuai dengan jenis SPPnya, yaitu SPM-UP, SPM-GU, SPM-TU,
dan SPM-LS.

SPM dapat diterbitkan jika:

1. Pengeluaran yang diminta tidak melebihi pagu anggaran yang tersedia


2. Didukung dengan kelengkapan dokumen sesuai dengan peraturan perundang-
undangan Waktu pelaksanaan penerbitan SPM: Diterbitkan paling lambat 2 (dua) hari sejak
SPP diterima, dan Apabila ditolak, dikembalikan paling lambat 1 (satu) hari sejak diterima
SPP

SPM yang diajukan dibuat rangkap 3, antara lain:

 Lembar 1 dan 2 untuk Kepala SKPD/Pengguna Anggaran yang diteruskan ke PPKD dan PPK
SKPD ,setelah ditandatangani oleh Kepala SKPD/Pengguna Anggaran.
 Lembar 3 diarsip oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu.

Pihak Terkait

PPK-SKPD

Dalam kegiatan ini, PPK-SKPD memiliki tugas sebagai berikut:

 Menguji SPP beserta kelengkapannya


 Membuat rancangan SPM atas SPP yang telah diuji kelengkapan dan kebenarannya dan
mengajukannya ke Pengguna Anggaran
 Menerbitkan Surat Penolakan SPM bila SPP yang diajukan oleh Bendahara SKPD tidak
lengkap
 Membuat Register SPM

Pengguna Anggaran

Dalam kegiatan ini, Pengguna Anggaran memiliki tugas sebagai berikut:

 Mengotorisasi dan menerbitkan SPM


 Mengotorisasi Surat Penolakan SPM yang diterbitkan PP-SKPD bila SPP yang diajukan
bendahara SKPD tidak lengkap

Apa itu SP2D?


SP2D atau Surat Perintah Pencairan Dana adalah surat yang dipergunakan untuk mencairkan dana
lewat bank yang ditunjuk setelah SPM diterima oleh BUD.

SP2D adalah spesifik, artinya satu SP2D hanya dibuat untuk satu SPM saja. Waktu pelaksanaan
penerbitan SP2D:

1. Diterbitkan paling lambat 2 hari sejak SPM diterima.


2. Apabila ditolak, dikembalikan paling lambat 1 hari sejak diterima SPM.

Penerbitan SP2D terdiri atas 5 lembar yang terdiri atas:

 Lembar 1 dikirim ke bank.


 Lembar 2 diarsip oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu.
 Lembar 3 diarsip oleh fungsi akuntansi SKPKD
 Lembar 4 diarsip oleh fungsi akuntansi PPKSKPD.
 Lembar 5 diarsip oleh PPKD

Pihak Terkait

Kuasa BUD

Dalam kegiatan ini, Kuasa BUD memiliki tugas sebagai berikut:

1. Melakukan pengujian atas kebenaran dan kelengkapan SPM.


2. Mencetak SP2D.
3. Mengirimkan SP2D kepada bank.
4. Membuat dokumen : Register SP2D, Register surat penolakan penerbitan SP2D, dan
Buku kas penerimaan dan pengeluaran.

Pengguna Anggaran

Dalam kegiatan ini, Pengguna Anggaran memiliki tugas:

 Menandatangani SPM.

Bendahara Pengeluaran SKPKD

Dalam kegiatan ini, Bendahara Pengeluaran SKPKD memiliki tugas Mencatat SP2D pada dokumen
penatausahaan yang terdiri atas:

1. BKU Pengeluaran
2. Buku Pembantu Simpanan Bank
3. Buku Pembantu Pajak
4. Buku Pembantu Panjar
5. Buku Rekapitulasi Pengeluaran Perincian Objek

apa itu SPJ (surat Pertanggungjawaban Pengeluaran)?


Bendahara pengeluaran secara administratif wajib mempertanggungjawabkan penggunaan uang
persediaan/ganti uang persediaan/tambah uang persediaan (UP/GU/TU) kepada kepala SKPD
melalui PPK-SKPD paling lambat 10 bulan berikutnya.

Dokumen yang digunakan oleh PPK-SKPD dalam menatausahakan pertanggungjawaban pengeluaran


mencakup:

1. Register penerimaan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ);


2. Register pengesahan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ);
3. Surat penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ);
4. Register penolakan laporan pertanggungjawaban pengeluaran (SPJ);
5. Register penutupan kas.

Bendahara Pengeluaran Pembantu membuat Laporan Pertanggungjawaban (SPJ) UP, TU, dan LS
rangkap 3:
 Lembar 3 diarsip oleh Bendahara Pengeluaran Pembantu;
 Lembar 1 dan 2 bersama SPP GU lembar 1 dan 2 dikirim ke Bendahara Pengeluaran-SKPD.

Sedangkan pada mekanisme GU, SPJ dibuat rangkap 2 yang keduaya diserahkan ke bendahara
pengeluaran.

Pihak terkait

Bendahara Pengeluaran

Dalam kegiatan ini, Bendahara Pengeluaran memiliki tugas:

1. Menguji kebenaran dan kelengkapan dokumen pertanggungjawaban.


2. Melakukan pencatatan bukti-bukti pembelanjaan dana dari UP/GU/TU dan LS pada
dokumen Buku Pengeluaran, Buku Pembantu Simpanan/Bank, Buku Pembantu Pajak, Buku
Pembantu Panjar, dan Buku Pembantu Pengeluaran per Objek.
3. Melakukan rekapitulasi pengeluaran dan mencatatnya dalam SPJ yang akan
diserahkan ke Pengguna Anggaran (melalui PPK-SKPD) untuk disahkan.

PPK-SKPD

Dalam kegiatan ini, PPK-SKPD memiliki tugas:

 Meneliti kelengkapan dokumen pertanggungjawaban dan keabsahan bukti-bukti pengeluaran


yang dilampirkan;
 Menguji kebenaran perhitungan atas pengeluaran per rincian obyek yang tercantum dalam
ringkasan per rincian obyek;
 Menghitung pengenaan PPN/PPh atas beban pengeluaran per rincian obyek; dan
 Menguji kebenaran sesuai dengan SPM dan SP2D yang diterbitkan periode berikutnya.
 Meregister SPJ pengeluaran yang disampaikan oleh Bendahara Pengeluaran dalam buku
register penerimaan SPJ pengeluaran, meregister SPJ pengeluaran yang telah disahkan oleh
Pengguna Anggaran ke dalam buku register pengesahan SPJ pengeluaran, dan meregister SPJ
pengeluaran yang telah ditolak oleh Pengguna Anggaran ke dalam buku register penolakan SPJ
pengeluaran.

Pengguna Anggaran

Dalam kegiatan ini, Pengguna Anggaran memiliki tugas:

 Menyetujui atau menolak SPJ pengeluaran yang diajukan oleh Bendahara Pengeluaran.
Apa itu Nota Permintaan Dana (NPD)?
Nota Permintaan Dana (NPD) adalah nota yang digunakan untuk mencairkan dana melalui bendahara
pengeluaran atau bendahara pengeluaran pembantu.

Pada mekanisme ini tidak terdapat surat pertanggungjawaban (SPJ), tetapi hanya menunjukkan
nota atau kwitansi sebagai bukti pertanggungjawaban. Pihak yang terkait dalam Prosedur
Penerbitan Nota Permintaan Dana adalah Bendahara Pengeluaran Pembantu.

Dokumen yang digunakan adalah Nota Permintaan Dana (NPD).

Catatan yang digunakan dalam Prosedur

Penerbitan Nota Permintaan Dana adalah:

1. Buku Kas Umum Pengeluaran


2. Buku Pembantu Pengeluaran Per Rincian Objek
3. Buku Pembantu Kas Tunai
4. Buku Pembantu Simpanan/Bank
5. Buku Pembantu Panjar
6. Buku Pembantu Pajak