Anda di halaman 1dari 28

HAKEKAT MANAJEMEN SEKOLAH

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Manajemen Sekolah
yang dibimbing oleh Bapak Dr. Muhardjito, M.S dan Ibu Vita Ria Mustikasari,
S.Pd., M.Pd

Oleh:
Kelompok 2
Erizadwi Diwid R. (150351604755)
Herdianna Indawati (150351605508)
Lutviyah Dwi N. (150351605475)
Rizky Faza Ramadhan (150351605551)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PRODI PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
SEPTEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan YME yang telah memberikan
rahmat-Nya hingga tersusunlah makalah yang berjudul Hakekat Manajemen
Sekolah.
Makalah ini berisi tentang hakekat manajemen sekolah yang meliputi
pengertian, unsur-unsur, tujuan, pembagian, komposisi keterampilan, fungsi,
prinsip, dan ruang lingkup manajemen sekolah. Diharapkan mahasiswa memiliki
pengetahuan dan wawasan yang luas tentang manajemen yang ada di sekolah,
sehingga saat sudah terjun ke dunia pendidikan mahasiswa dapat
mengaplikasikannnya dengan baik dan benar untuk kemajuan dunia pendidikan di
Indonesia.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Muhardjito dan Ibu Vita
Ria Mustikasari selaku dosen pengampu mata kuliah Manajemen Sekolah yang
telah membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini, serta berbagai pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, kritik dan saran dari segenap pembaca sangat diharapkan. Demikianlah
semoga makalah ini benar-benar bermanfaat untuk masyarakat pada umumnya
dan khususnya untuk mahasiswa dalam proses perkuliahan manajemen sekolah.

Malang, 12 September 2018

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

COVER ................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... .ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ .iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 1
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 2
BAB II Pembahasan
2.1 Pengertian Manajemen Sekolah .............................................................. 3
2.2 Unsur-unsur Manajemen ......................................................................... 5
2.3 Tujuan Manajemen Sekolah ................................................................... 7
2.4 Fungsi Manajemen Sekolah .................................................................... 9
2.5 Pembagian Manajemen .......................................................................... 13
2.6 Komposisi Keterampilan Manajemen .................................................... 14
2.7 Prinsip-prinsip Manajemen Sekolah ...................................................... 15
2.8 Ruang lingkup Manajemen Sekolah ...................................................... 18
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan ............................................................................................ 23
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 25

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manajemen sekolah pada dasarnya merupakan aplikasi dari ilmu
manajemen dalam kegiatan persekolahan. Manakala dengan kegiatan
persekolahan dikelola secara baik, maka tujuan sekolah yang diharapkan dapat
tercapai secara efektif dan efisien. Dalam mengelola sekolah diperlukan landasan-
landasan yang dapat dijadikan dasar dalam proses pengelolaan sehingga dapat
mencapai tujuan. Setiap manajer sekolah dalam pelaksanaan tugasnya,
aktivitasnya dan kepemimpinannya untuk mencapai tujuan harus melakukan
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengendalian sesuai fungsinya
dengan baik.

Manajemen sekolah merupakan faktor yang terpenting dalam


menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran di sekolah yang keberhasilannya
diukur oleh prestasi tamatan (out put), oleh karena itu dalam menjalankan
kepemimpinan, harus berpikir “sistem” artinya dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah komponen-komponen terkait seperti: guru-guru ,Orang tua
siswa / Masyarakat, Pemerintah, anak didik, dan lain-lain harus berfungsi optimal
yang dipengaruhi oleh kebijakan dan kinerja pimpinan.

Tantangan lembaga pendidikan (sekolah) adalah mengejar ketinggalan


artinya kompetisi dalam meraih prestasi terlebih dalam menghadapi persaingan
global. Tantangan ini akan dapat teratasi bila pengaruh kepemimpinan sekolah
terkonsentrasi pada pencapaian sasaran dimaksud. Dalam makalah ini akan
dibahas tentang hakekat manajemen sekolah, yang meliputi pengertian, unsur-
unsur, tujuan, pembagian, komposisi keterampilan, fungsi, prinsip, dan ruang
lingkup manajemen sekolah.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa yang dimaksud dengan Manajemen Sekolah?
1.2.2 Apa saja unsur-unsur dari Manajemen?

1
1.2.3 Apa tujuan dari Manajemen Sekolah?
1.2.4 Bagaimana fungsi dari Manajemen Sekolah?
1.2.5 Bagaimana pembagian dari Manajemen?
1.2.6 Apa saja komposisi keterampilan dari Manajemen?
1.2.7 Apa saja prinsip-prinsip dari Manajemen Sekolah?
1.2.8 Bagaimana ruang lingkup dari Manajemen Sekolah?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian dari Manajemen Sekolah.
1.3.2 Mengetahui unsur-unsur dari Manajemen.
1.3.3 Mengetahui tujuan dari Manajemen Sekolah.
1.3.4 Mengetahui fungsi dari Manajemen Sekolah.
1.3.5 Mengetahui pembagian dari Manajemen.
1.3.6 Mengetahui komposisi keterampilan dari Manajemen.
1.3.7 Mengetahui prinsip-prinsip dari Manajemen Sekolah.
1.3.8 Mengetahui ruang lingkup dari Manajemen Sekolah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Manajemen Sekolah


2.1.1 Pengertian Manajemen
Manajemen berasal dari bahasa latin dari kata “manus” yang artinya
“tangan” dan “agere” yang berarti “ melakukan”. Kata-kata ini digabung menjadi
“managere” yang bermakna menangani sesuatu, mengatur, membuat sesuatu
menjadi seperti apa yang diinginkan dengan mendayagunakan seluruh sumber
daya yang ada (Asmendri 2012: 1).

Manajemen menurut Terry (1986) adalah kemampuan mengarahkan dan


mencapai hasil yang diinginkan dengan tujuan dari usaha-usaha manusia dan
sumber lainnya. Menurut Harsey dan Blanchard (1988: 4) manajemen adalah
proses bekerja sama antara individu dan kelompok serta sumber daya lainnya
dalam mencapai tujuan organisasi adalah sebagai aktivitas manajerial. Manajemen
dalam artian sempit sebagai penyusunan dan pencatatan data dan informasi secara
sistematis dengan tujuan supaya dapat menyediakan keterangan serta
memudahkan memperolehnya kembali secara keseluruhan dalam hubungan satu
sama lainnya.

Dari pemikiran-pemikiran para ahli tersebut, menurut penulis manajemen


merupakan ilmu dan seni dalam mengatur, mengendalikan, mengkomunikasikan
dan memanfaatkan semua sumber daya yang ada dalam organisasi dengan
memanfaatkan fungsi-fungsi manajemen (Planing, Organizing, Actuating,
Controling) agar organisasi dapat mencapai tujuan secara efektif dan efesien.

2.1.2 Pengertian Sekolah

Sekolah adalah tempat utama dimana individu mengikuti proses pendidikan


formal untuk manambah pengetahuan dan mengasah keterampilan sebagai bekal
kehidupannya di kemudian hari. Lingkungan sekolah adalah tatanan yang dapat
melindungi peserta didik dan staf sekolah dari kecelakaan dan penyakit serta dapat
meningkatkan kegiatan pencegahan dan mengembangkan sikap terhadap faktor

3
resiko yang dapat menyebabkan penyakit. Lingkungan fisik sekolah harus
memenuhi kriteria sebagai berikut (Notoatmodjo, 2012) :

a. Mampu menyediakan kebutuhan dasar dan insan sekolah lain.

b. 2.Mampu melindungi insan sekolah dari ancaman penyakit.

c. 3.Mampu melindungi insan sekolah dari ancaman biologis.

d. 4.Mampu melindungi insan sekolah dari ancaman kimiawi.

Sedangkan lingkungan psikososial harus dapat memberikan:

a. Iklim belajar dan kerja sama yang baik.

b. Rasa keterikatan sesama insan sekolah.

c. Rasa saling menghargai.

d. Perlindungan terhadap kekerasan.

Membentuk dan memelihara lingkungan sekolah yang sehat membutuhkan


upaya dan kerja keras dari setiap unsur di sekolah. Menyediakan suatu lingkungan
yang sehat bagi insan sekolah merupakan suatu persyaratan dalam
mengembangkan pola pertumbuhan mental, fisik, dan sosial.

2.1.3 Pengertian Manajemen Sekolah

Dalam perkembangannya istilah manajemen disamakan secara substansial


dengan istilah administrasi. Perbedaan keduanya terletak pada ruang lingkupnya
saja. Administrasi lebih luas ruang lingkupnya dibanding dengan manajemen.
Keduanya menekankan pada tercapainya efisiensi dan efektivitas kerja untuk
keuntungan yang lebih besar.

Pengertian manajemen sekolah sebenarnya merupakan aplikasi ilmu


manajemen dalam bidang persekolahan. Administrasi sekolah-manajemen
sekolah. Penggunaan istilah administrasi dan manajemen dalam bidang
persekolahan secara substansial sebenarnya tidak jauh berbeda. Keduanya dapat

4
dipandang secara esensial dari tiga sudut pandang yakni sebagai ilmu, sebagai
seni dan sebagai suatu proses kegiatan.
Menurut James Jr., manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan
sumber-sumber manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif. Sedangkan
dalam konteks pendidikan ada juga manajemen pendidikan.
Administrasi maupun manajemen dipandang sebagai suatu proses kegiatan,
di dalamnya terdiri dari kegiatan yang bersifat manajerial dan kegiatan yang
bersifat operatif. Kegiatan manajerial adalah kegiatan yang seyogyanya dilakukan
oleh orang-orang yang memiliki status dan kewenangan sebagai manajer.

2.2 Unsur-unsur Manajemen


Unsur manajemen terdiri dari “7M+1 I” menurut Usman (2009) dan Henry
Fayol 6 M yaitu sebagai berikut.
1. Man (Manusia), berperan sebagai man power dalam organisasi atau
perusahaan, diperlukan untuk memimpin, menggerakkan
karyawan/bawahan, serta memberikan tenaga dan pikiran untuk
kemajuan dan kontinuitas lembaga. Sumbangan tenaga manusia di sini
dapat pula dinamakan sebagai leadership atau kewirausahaan.
2. Material (Barang), material digunakan sebagai proses produksi dalam
suatu perusahaan atau organisasi, dapat terdiri dari bahan baku, bahan
setengah jadi, atau barang jadi.
3. Machine (Mesin), merupakan kebutuhan pokok dalam melancarkan
jalannya suatu organisasi. Mesin berupa peralatan yang digunakan oleh
suatu instansi atau lembaga. Baik itu peralatan yang modren maupun
peratan yang masih bersifat konvensional.
4. Money (Uang), Money/modal dibagi menjadi 2, yaitu modal tetap berupa
tanah, gedung/bangunan, mesin dan modal kerja berupa kas, piutang.
5. Method (Metode), pemilihan dan penggunaan metode yang tepat
digunakan sebagai aturan atau cara-cara tertentu yang bertujuan untuk
menghindari terjadinya inefisiensi dan pemborosan. Dalam lembaga
pendidikan, metode pembelajaran yang dibentuk oleh seorang guru

5
sangat diperlukan dalam menerangkan pelajaran. Karena metode yang
dipakai akan memengaruhi peserta didik dalam memahami pelajaran.
6. Market (Pasar), adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli untuk
mengadakan transaksi, dalam lembaga pendidikan market berupa tempat
terjadinya interaksi antara pendidik dengan peserta didik maupun dengan
stakeholders yang ada dalam lingkup lembaga tersebut.
7. Minute (Waktu), merupakan waktu yang dipergunakan dan dimanfatkan
dalam pencapaian visi dan misi suatu lembaga secara efektif dan efisien.

Dalam teori organisasi klasik yang pertama kali diperkenalkan oleh Fayol
(1949), manajemen membahas hal-hal sebagai berikut:
1. Technical yaitu kegiatan memproduksi dan mengorganisasikannya.
Dalam kaitannya dengan pendidikan, lembaga pendidikan melakukan
kegiatan menghasilkan lulusan lembaga pendidikan yang siap bekerja.
2. Commercial yaitu kegiatan membeli bahan dan menjual produk. Dalam
lembaga pendidikan, kegiatan ini berkaitan dengan penjaringan anak
didik dan mengelolanya dengan pendidikan, sehingga hasilnya akan
bermanfaat untuk anak didik dan masyarakat.
3. Financial yaitu kegiatan pembelanjaan. Lembaga pendidikan
membutuhkan pendanaan untuk mengadakan sarana dan prasarana serta
pelaksanaan pendidikan.
4. Security yaitu kegiatan menjaga keamanan. Kaitannya dengan
pendidikan terletak pada sistem pengamanan lingkungan pendidikan
secara internal dan eksternal, dan sistem pengamanan diri dari pengaruh
lingkungan dan kebudayaan yang merusak moral dan budaya melalui
pendidikan agama dan akhlak.
5. Accountancy yaitu kegiatan akuntansi. Lembaga pendidikan melibatkan
kegiatan perhitungan pemasukan dana dan pengeluaran yang baik,
sistematis, akurat dan efisien. Tidak melakukan kegiatan yang
menghambur-hamburkan uang.
6. Managerial yaitu melaksanakan fungsi-fungsi manajemen. Pendidikan
membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang baik, sebagaimana

6
pengorganisasian dan pengordinasian untuk semua kegiatan
kependidikan.

2.3 Tujuan Manajemen Sekolah


Tujuan dan manfaat manajemen pendidikan menurut Kurniadin dan Machali
(2012: 125) antara lain :
a. Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, menyenangkan (PAIKEM)
b. Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara;
c. Terpenuhinya salah satu dari empat kompetensi tenaga pendidik dan
tenaga kependidikan (tertunjangnya kompetensi profesional sebagai
pendidik dan tenaga kependidikan sebagai manajerial)
d. Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
e. Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas
administrasi pendidikan (tertunjangnya profesi sebagai manajer atau
konsultan manajemen pendidikan)
f. Teratasinya masalah mutu pendidikan.
g. Terciptanya perencanaan pendidikan yang merata, bermutu, relevan dan
akuntabel serta, meningkatnya citra pendidikan yang positif (Asmendri,
2012: 13).
Menurut Fattah (2012: 123) tujuan dan manfat manajemen pendidikan
antara lain sebagai berikut :
(a) Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif,
inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.
(b)Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang
diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

7
(c) Terpenuhinya salah satu dari empat kompetensi tenaga pendidik dan
kependidikan.
(d)Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
(e) Terbekalinya tenaga kependidikan dengan teori tentang proses dan tugas
administrasi pendidikan.
(f) Teratasinya masalah mutu pendidikan.

Tujuan Manajemen Sekolah menurut Sagala (2007) adalah mewujudkan


tata kerja yang lebih baik dalam empat hal.
a. Meningkatnya efesiensi penggunaan sumber daya dan penugasan staff
b. Meningkatnya profesionalisme guru dan tenaga kependidikan di sekolah.
c. Munculnya gagasan-gagasan baru dalam implementasi kurikulum,
penggunaan teknologi pembelajaran, dan pemanfaatan sumber-sumber
belajar.
Tujuan utama penerapan Manajemen Sekolah pada intinya adalah untuk
penyeimbangan struktur kewenangan antara sekolah, pemerintah daerah
pelaksanaan proses dan pusat sehingga manajemen menjadi lebih efisien.
Kewenangan terhadap pembelajaran di serahkan kepada unit yang paling dekat
dengan pelaksanaan proses pembelajaran itu sendiri yaitu sekolah.
Disamping itu untuk memberdayakan sekolah agar sekolah dapat melayani
masyarakat secara maksimal sesuai dengan keinginan masyarakat tersebut. Tujuan
penerapan Manajemen sekolah adalah untuk memandirikan atau memberdayakan
sekolah melalui kewenangan kepada sekolah dan mendorong sekolah untuk
melakukan pengambilan keputusan secara partisipatif.
Lebih rincinya Manajemen sekolah bertujuan untuk:
a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif
sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang
tersedia.
b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, masyarakat, dan
pemerintah tentang mutu sekolahnya.

8
d. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu
pendidikan yang akan dicapai.

2.4 Fungsi Manajemen Sekolah


Menurut Percy E. Burrup fungsi-fungsi manajemen pendidikan di sekolah
adalah:
a. Merencanakan cara dan langkah-langkah mewujudkan tujuan program
sekolah.
b. Mengalokasikan baik sumber daya maupun kegiatan mengajar sehingga
masig-masing tahu tugas dan tanggung jawab.
c. Memotifasi dan menstimulir kegiatan staf pengajar sehingga mereka
dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.
d. Mengkoordinir kegiatan anggota staf pengajar dan setiap satuan tugas di
sekolah sehingga tenaga dapat digunakan seefektif mungkin.
e. Menilai efektifitas program dan pelaksanaan tugas pengajaran dan
tujuan-tujuan sekolah yang ditentukan sudah tercapai apa belum. Dan
menilai pertumbuhan kemampuan mengajar tiap guru.

Fungsi manajemen sekolah dilihat dari bentuk masalahnya terdiri dari


bidang-bidang substansi dan manajemen sekolah. Masalah-masalah yang
merupakan bidang dari manajemen sekolah terdiri dari:
a. Bidang pengajaran atau lebih luas disebut kurikulum.
b. Bidang kesiswaan.
c. Bidang personalia.
d. Bidang keuangan.
e. Bidang sarana.
f. Bidang prasarana.
g. Bidang hubungan sekolah dengan masyarakat (humas)

Fungsi manajemen sekolah dilihat dari akivitas atau kegiatan manajemen,


meliputi:

9
a. Kegiatan manajerial yang dilakukan oleh para pimpinan. Kegiatan
manajerial meliputi:
1. Perencanaan
Perencanaan tidak lain merupakan kegiatan untuk menetapkan tujuan
yang akan dicapai beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Sebagaimana disampaikan oleh Louise E. Boone dan David L. Kurtz
(1984) bahwa: planning may be defined as the proses by which manager
set objective, asses the future, and develop course of action designed to
accomplish these objective. Sedangkan T. Hani Handoko (1995)
mengemukakan bahwa : “ Perencanaan (planning) adalah pemilihan atau
penetapan tujuan organisasi dan penentuan strategi, kebijaksanaan,
proyek, program, prosedur, metode, sistem, anggaran dan standar yang
dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Pembuatan keputusan banyak terlibat
dalam fungsi ini.
Arti penting perencanaan terutama adalah memberikan kejelasan arah
bagi setiap kegiatan, sehingga setiap kegiatan dapat diusahakan dan
dilaksanakan seefisien dan seefektif mungkin. T. Hani Handoko
mengemukakan sembilan manfaat perencanaan bahwa perencanaan:
- Membantu manajemen untuk menyesuaikan diri dengan perubahan-
perubahan lingkungan
- Membantu dalam kristalisasi persesuaian pada masalah-masalah
utama;
- Memungkinkan manajer memahami keseluruhan gambaran;
Membantu penempatan tanggung jawab lebih tepat;
- Memberikan cara pemberian perintah untuk beroperasi;
- Memudahkan dalam melakukan koordinasi di antara berbagai bagian
organisasi
- Membuat tujuan lebih khusus, terperinci dan lebih mudah dipahami;
- Meminimumkan pekerjaan yang tidak pasti; danMenghemat waktu,
usaha dan dana.

10
2. Pengorganisasian
Fungsi manajemen berikutnya adalah pengorganisasian (organizing).
George R. Terry (1986) mengemukakan bahwa : “Pengorganisasian
adalah tindakan mengusahakan hubungan-hubungan kelakuan yang
efektif antara orang-orang, sehingga mereka dapat bekerja sama secara
efisien, dan memperoleh kepuasan pribadi dalam melaksanakan tugas-
tugas tertentu, dalam kondisi lingkungan tertentu guna mencapai tujuan
atau sasaran tertentu”.
Lousie E. Boone dan David L. Kurtz (1984) mengartikan
pengorganisasian : “… as the act of planning and implementing
organization structure. It is the process of arranging people and physical
resources to carry out plans and acommplishment organizational
obtective”.
Dari kedua pendapat di atas, dapat dipahami bahwa pengorganisasian
pada dasarnya merupakan upaya untuk melengkapi rencana-rencana yang
telah dibuat dengan susunan organisasi pelaksananya. Hal yang penting
untuk diperhatikan dalam pengorganisasian adalah bahwa setiap kegiatan
harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya.
3. Pengarahan
adalah suatu tindakan untuk mengusahakan agar semua anggota
kelompok berusaha untuk mencapai sasaran sesuai dengan perencanaan
manajerial dan usaha.
4. Pengkoordinasian
Mengkoordinir kegiatan anggota staf pengajar dan setiap satuan tugas di
sekolah sehingga tenaga dapat digunakan seefektif mungkin.
5. Pengawasan
Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko
(1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat
unsur esensial proses pengawasan, bahwa : “Pengawasan manajemen
adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan
dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan
balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah

11
ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-
penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk
menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan
cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan
perusahaan.”
Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha
untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan
rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai.Apabila
terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana
pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.
6. Penilaian
Menilai efektifitas program dan pelaksanaan tugas pengajaran dan
tujuan-tujuan sekolah yang ditentukan sudah tercapai apa belum. Dan
menilai pertumbuhan kemampuan mengajar tiap guru.
7. Pelaporan
Pelaporan dalah suatu fungsi manajemen berupa penyampaian
perkembangan atau hasil kegiatan atau pemberian keterangan mengenai
segala hal yang bertalian dengan tugas dan fungsi-fungsi kepada
pimpinan yang lebih tinggi, baik secara lisan maupun tertulis.Tentu yang
terbaik adalah tertulis.
8. Penentuan anggaran
Anggaran merupakan suatu rencana kerja yang disusun sistematis dan
dinyatakan dalam unit moneter. Lazimnya penyusunan anggaran
berdasarkan pengalaman masa lalu dan taksir-taksiran pada masa yang
akan datang, maka ini dapat menjadi pedoman kerja bagi setiap bagian
dalam melaksanakan kegiatan. Tujuan yang paling utama dari anggaran
adalah untuk pengawasan luar, yaitu untuk membatasi sumber-sumber
daya keseluruhan yang tersedia untuk suatu instansi dan untukmencegah
pengeluaran-pengeluaran bagi hal-hal atau aktivitas-aktivitas yang tidak
dibenarkan oleh undang-undang.

12
b. Kegiatan yang bersifat operatif, yakni kegiatan yang dilakukan oleh para
pelaksana. Kegiatan ini berkaitan langsung dengan pencapaian tujuan.
Artinya, bagaimanapun baiknya kegiatan manajerial (seperti perencanaan)
tanpa didukung oleh pelaksanaan pekerjaan yang elah direncanakan
tersebut, mustahil tujuan organisasi dapat dicapai dengan baik. Fungsi
operatif ini meliputi pekerjaan-pekerjaan:
· Ketatausahaan
· Perbekalan
· Kepegawaian
· Keuangan dan
· Humas
Pelaksanaan manajemen sekolah yang efektif dan efisien menuntut
dilaksanakan beberapa fungsi manajemen tersebut secara terpadu dan
terintegrasi dalam pengelolaan bidang-bidang manajemen pendidikan.

2.5 Pembagian Manajemen

Gambar 2.5 Pembagian Manajemen


1. Manajemen Puncak (Top Management), disebut juga dengan
Manajemen Institusional/Eksekutif/Key Executive. Terdiri dari dewan
direktur, direktur utama atau chief executive officer (CEO). Tugasnya
mengembangkan rencana-rencana yang luas untuk lembaga dan
mengambil keputusan-keputusan penting
2. Manajemen Menengah (Middle Management), disebut juga dengan
Manajemen Administratif. Terdiri dari pimpinan pabrik atau para
manajer divisi (division managers). Tugasnya Bertanggung jawab

13
untuk mengembangkan rencana-rencana operasional yang lebih luas
dan menerapkan rencana yang dibuat oleh manajer puncak.
3. Manajemen Pelaksana (Operating Management), disebut juga dengan
manajemen penyedia atau supervisory management. Tugasnya
bertanggung jawab untuk melaksanakan rencanarencana yang dibuat
oleh para manajer menengah.

2.6 Komposisi Keterampilan Manajemen

Gambar 2.6 Komposisi Keterampilan Manajemen


1. Keterampilan Teknik (Technical Skills), merupakan kemampuan untuk
menggunakan alat-alat, prosedur, teknik suatu bidang khusus; Ahli
bedah, Teknik, Pemusik, Akuntan.
2. Keterampilan Manusiawi (Human Skills), merupakan kemampuan
untuk bekerja dengan orang lain, memahami orang lain dan mendorong
orang lain baik sebagai perorangan maupun kelompok.
3. Keterampilan Konseptual (Conceptual Skills), merupakan kemampuan
mental untuk mengkoordinasi dan memadukan semua kepentingan dan
kegiatan organisasi yang meliputi :
a) Melihat organisasi secara keseluruhan.
b) Memahami perubahan pada setiap bagian yang dapat
mempengaruhi organisasi.

Dalam manajemen pendidikan terdapat proses yang sinergis (Hikmat, 2009:


23), yaitu sebagai berikut :

14
a. Proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu, baik personal,
spiritual, dan materiil yang berhubungan dengan pencapaian tujuan
pendidikan.
b. Proses keseluruhan pelaksanaan kegiatan bersama dalam bidang
pendidikan, meliputi perencanaan, pengawasan, pembiayaan, dan
pelaporan dengan mengunakan atau memanfaatkan fasilitas yang
tersedia, baik personal, materiil, maupun spiritual untuk mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien.
c. Proses bekerja dengan orangorang, dalam rangka usaha mencapai tujuan
pendidikan yang efektif dan efisien.
d. Proses pelaksanaan kepemimpinan untuk mewujudkan aktifitas kerja
sama yang efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan.
e. Proses pelaksanaan semua kegiatan sekolah dari yang usaha besar seperti
perumusan kurikulum, koordinasi, konsultassi, korespondensi, kontrol
dan sebagainya sampai pada usaha kecil dan sederhana seperti menjaga
sekolah, menyapu halaman dan sebagainya.
f. Proses pembinaan atau supervisi pendidikan.
g. Proses pengawasan seluruh kinerja kependidikan.

2.7 Prinsip Manajemen Sekolah


Douglas (1963: 13-17) merumuskan prinsip-prinsip manajemen pendidikan
sebagai berikut :
1) Memprioritaskan tujuan diatas kepentingan pribadi dan kepentingan
mekanisme kerja.
2) Mengkoordinasikan wewenang dan tanggung jawab.
3) Memberikan tanggung jawab pada personil sekolah hendaknya sesuai
dengan sifatsifat dan kemampuannya.
4) Mengenal secara baik faktor-faktor psikologis manusia.
5) Relativitas nilai-nilai. Prinsip-prinsip tersebut memiliki esensi bahwa
manajemen dalam ilmu dan praktiknya harus memperhatikan tujuan,
orang-orang, tugas-tugas dan nilai-nilai. Tujuan dirumuskan dengan
tepat sesuai dengan arah organisasi, tuntunan zaman, dan nilai-nilai

15
yang berlaku. Tujuan suatu organisasi dapat dijabarkan dalam bentuk
visi, misi, dan sasaransasarannya.
Drucker (1995) melalui MBO (Mangement by Objective) memberikan
gagasan prinsip manajemen berdasarkan sasaran sebagai suatu pendekatan dalam
perencanaan. Penerapan pada manajemen pendidikan adalah bahwa kepala dinas
memimpin tim yang beranggotakan unsur pejabat dan fungsional dinas, dan
stakeholder untuk merumuskan visi, misi, dan objektif dinas pendidikan. Tujuh
langkah MBO antara lain
1. Menentukan hasil akhir apa yang ingin dicapai oleh sekolah.
2. Menganalisis apakah hasil itu berkaitan dengan tujuan sekolah.
3. Berunding menetapkan sasaransasaran yang dibutuhkan.
4. Menetapakan kegiatan apa yang tepat untuk mencapai sasaran.
5. Menyusun tugas-tugas untuk mempermudah mecapai sasarannya.
6. Menentukan batas-batas pekerjaan dan jenis pengarahan yang akan
dipergunakan oleh atasan.
7. Lakukan monitoring dan buat laporan.

Dalam pengelolaan sekolah agar dapat mencapai tujuan sekolah dengan


baik, maka perlu mendasarkan pada prinsip-prinsip manajemen sebagai berikut:
a. Prinsip efisiensi
Efisiensi suatu usaha pada dasarnya merupakan perbandingan antara
hasil yang dicapai (output) dan usaha yang telah dikeluarkan (input).
Efisiensi yang demikian kenyataanya sulit untuk membandingkan nilai
hasil dan usahanya. Namun, dalam dalam pengembangan kurikulum
dan pendidikan pada dasarnya prinsip kurikulum ini perlu diperhatikan
baik dalam segi waktu, tenaga, peralatan, yang tentunya akan
menghasilkan efesiensi dan segi biaya. Berkaitan dengan waktu, perlu
sekali direncanakan kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa
sehingga murid tidak banyak membuang waktu disekolah dengan
mengajar hal-hal yang bisa dikerjakan diluar sekolah dengan mencatat
bahan-bahan yang ada dalam buku mata pelajaran. Sehubungan dengan
efisiensi penggunaan tenaga dan peralatan perlu ditetapkan jumlah

16
minimal murid yang harus dipenuhi oleh suatu sekolah dan cara
menentukan jumlah guru yang dibutuhkan (Soetopo & Soemanto,
1986).
b. Prinsip efektivitas
Efektifitas dalam suatu kegiatan berkenaan dengan sejauh mana yang
direncanakan atau dapat diinginkan dapat terlaksana atau tercapai.
Dalam mengembangkan kurikulum prinsip efektifitas berkaitan
dengan pengendalian mutu keberhasilan proses kurikulum
(pembelajaran) dalam melejitkan dan mengoptimalkan
perkembangan peserta didik. Di dalam bidang pendidikan, efektifitas
ini dapat ditinjau dari dua sisi yaitu efektifitas mengajar guru dan
efektifitas belajar murid. Efektifitas mengajar guru terutama mencakup
sejauh mana jenis-jenis kegiatan belajar mengajar yang direncanakan
dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam rangka mengembangkan
kurikulum, usaha untuk meningkatkan efektifitas mengajar guru perlu
diperhatikan , misalnya melalui penataran. Efektifitas belajar murid
terutama menyangkut sejauh mana tujuan-tujuan pelajaran yang
diinginkan telah dapat dicapai melalui kegiatan belajar mengajar yang
ditempuh. Dalam rangka pengembangan kurikulum, usaha untuk
meningkatkan efektifitas kegiatan belajar murid dilakukan dengan
memilih jenis-jenis metode (cara) dan alat yang dipandang paling
ampuh didalam mencapai tujuan yang diinginkan (Soetopo &
Soemanto, 1986).
c. Prinsip pengelolaan
Prinsip pengelolaan, yakni seorang manajer harus melakukan
pengelolaan sumber-sumber daya yang ada.
d. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan
Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan, yakni seorang manajer harus
mengutamakan tugas-tugas pokoknya. Tugas-tugas yang bersifat
operatif hendaknya dilimpahkan pada orang lain secara proposional
.manakala seorang manajer telah melimpahkan tugas kepada orang
lain, tanggung jawab tetap ada pada pimpinan.

17
e. Prinsip kerjasama
Prinsip kerjasama, yakni seorang manajer hendaknya dapat
membangun kerjasama yang baik secara horizontal
f. Prinsip kepemimpinan yang efektif
Prinsip kepemimpinan yang efekif, yakni bagaimana seorang manajer
dapat memberi pengaruh, ajakan pada orang lain untuk tujuan bersama.

2.8 Ruang Lingkup Manajemen Sekolah


Menurut Fattah (2012: 123) manajemen pendidikan pada dasarnya adalah
alat untuk mencapai tujuan pendidikan melalui pengolahan bidang-bidang
pendidikan. Bidang garapan manajemen pendidikan meliputi semua kegiatan yang
menjadi saran penunjang proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Menurut Baharuddin (2010: 55) ruang lingkup
manajemen pendidikan antara lain sebagai berikut.
2.8.1 Manajemen Kurikulum
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran yang digunakan sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuan
pendidikan secara efektif dan efisien. Manajemen kurikulum merupakan
sistem pengelolaan atau penataan terhadap kurikulum secara kooperatif,
komperhensif, sistemik dan sistematik yang dijadikan acuan oleh lembaga
pendidikan dalam rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum atau
tujuan pendidikan.
Kegiatan manajemen kurikulum yang terpenting adalah :
(a) Kegiatan yang erat kaitannya dengan tugas guru.
(b) Kegiatan yang erat kaitannya dengan proses pembelajaran dan
pengajaran (Asmendri, 2012: 32).

2.8.2 Manajemen Personalia


Manajemen personalia adalah serangkaian proses kerja sama mulai
dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan dalam
bidang personalia dengan mendayagunakan sumber daya yang ada secara

18
efektif dan efisien sehingga semua personil sekolah menyumbang secara
optimal bagi pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
Personalia sekolah meliputi guru, dan pegawai lainnya. Personalia sekolah
dapat dibedakan atas tenaga kependidikan dan non kependidikan
a) Tenaga kependidikan terdiri atas tenaga pendidik, pengelola satuan
pendidikan, penilik, pengawas, peneliti, dan pengembang di bidang
pendidikan pustakawan, laboran, teknisi sumber belajar, dan pengajar.
b) Tenaga pendidik terdiri atas pembimbing, pengajar dan pelatih.
c) Pengelola satuan pendidikan terdiri atas Kepala Sekolah, direktur,
ketua, rektor, dan pemimpin satuan pendidikan luar sekolah.

2.8.3 Manajemen Peserta Didik


Manajemen peserta didik merupakan upaya penataan peserta didik
mulai dari masuk sampai dengan mereka lulus sekolah, dengan cara
memberikan layanan sebaik mungkin pada peserta didik (Baharuddin,
2010: 67). Tujuan manajemen peserta didik adalah mengatur kegiatan-
kegiatan peserta didik agar kegiatan tersebut menunjang proses
pembelajaran sehingga dapat berjalan lancar, tertib dan teratur serta dapat
memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan yang ditetapkan. Fungsi
manajemen peserta didik adalah sebagai wahana bagi peserta didik untuk
mengembangkan diri seoptimal mungkin, baik dari segi individualitas,
sosial, aspirasi, kebutuhan atau potensinya.

2.8.4 Manajemen Sarana dan Prasarana


Manajemen sarana dan prasarana merupakan suatu kegiatan
bagaimana mengatur dan mengelola sarana dan prasarana pendidikan
secara efisien dan efektif dalam rangka pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan. Secara umum, proses kegiatan manajemen sarana dan
prasarana meliputi perencanaan, pengadaan, pengawasan, penyimpanan
inventarisasi, penghapusan dan penataan. Proses ini penting dilakukan
agar pengadaan sarana dan prasarana tepat sasaran dan efektif dalam
penggunaannya.

19
2.8.5 Manajemen Keuangan/Pembiayaan
Manajemen keuangan/pembiayaan adalah serangkaian kegiatan
perencanaan, melaksanakan dan mengavaluasi serta
mempertanggungjawabkan pengelolaan dana secara transparan kepada
masyarakat dan pemerintah (Mulyasa, 2005: 47). Pengelolaan keuangan
yang baik dalam lembaga akan meningkatkan efisiensi penyelenggaraan
pendidikan. Dengan tersedianya biaya, pencapaian tujuan pendidikan yang
lebih produktif, efektif, efisien dan relevan memungkinkan kebutuhan
akan segera terwujud.
Adapun sumber keuangan dan pembiayaan pada suatu
sekolah/madrasah, secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga
bagian yaitu :
a) Pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, yang
bersifat umum atau khusus dan diperuntukkan bagi kepentingan
pendidikan.
b) Orang tua atau peserta didik.
c) Masyarakat baik mengikat maupun tidak.

2.8.6 Manajemen Administrasi


Administarsi secara etimologis berasal dari bahasa latin terdiri dari
kata “ad dan “ministrate. Kata-kata tersebut dalam Bahasa Inggris
memiliki arti yang sama “ad = to”, “administrate = to serve/to conduct”,
yang berarti melayani, membantu atau mengarahkan (Purwanto, 2006: 1).
Administrasi dalam perspektif manajemen dipandang mempunyai
peran penting sebagai “prevoyange” atau kemampuan melihat masa
depan. Hal ini berarti administrasi dinilai mampu melihat keadaan masa
yang akan datang dan mempunyai kesiapan untuk menghadapinya. Wujud
dari hubungan administrasi dengan manajemen pendidikan tampak pada
aktivitas kepala sekolah sebagai pembuat keputusan dan penanggung
jawab penuh atas keputusan/kebijakan yang dibuatnya. Purwanto (2006)
mengklasifikasikan administrasi pendidikan kedalam beberapa bagian
yaitu :

20
a) Administrasi tata laksana sekolah.
b) Administrasi personalia guru dan pegawai sekolah.
c) Administrasi peserta didik
d) Administrasi supervisi pengajaran
e) Administrasi pelaksanaan dan pembinaan kurikulum
f) Administrasi pendirian dan perencanaan infrastruktur sekolah
g) Hubungan sekolah dengan masyarakat.

2.8.7 Manajemen Humas


Humas merupakan fungsi manajemen yang diadakan untuk menilai
dan menyimpulkan sikap-sikap publik, menyesuaikan policy dan prosedur
instansi atau organisasi untuk mendapatkan pengertian dan dukungan
masyarakat (Hassbullah, 2006: 124). Kegiatan kehumasan di sekolah tidak
hanya cukup menginformasikan fakta-fakta tertentu dari sekolah,
melainkan juga harus mengemukakan beberapa hal di antaranya
(Baharuddin, 2010: 90)
a) Melaporkan tentang pikiran-pikiran yang berkembang dalam
masyarakat tentang masalah pendidikan
b) Membantu Kepala Sekolah bagaimana usaha untuk memperoleh
bantuan dan kerja sama.
c) Menyusun rencana bagaimana cara-cara memperoleh bantuan.
d) Membantu pemimpin karena tugastugasnya tidak dapat langsung
memberikan informasi kepada masyarakat atau pihak yang
memerlukannya (Asmendri, 2012: 96).
Untuk melaksanakan tugas-tugas tersebut, Humas yang efisien
harus memerhatikan asas-asas berikut :
a) Obyektif dan resmi, informasi yang dikeluarkan tidak boleh
bertentangan dengan dengan kebijaksanaan yang dijalankan.
Pemberitaan yang disampaikan harus merupaka suara resmi dari
instansi atau lembaga yang bersangkutan.

21
b) Organisasi yang tertib dan disiplin, humas akan berfungsi bilamana
tugas-tugas organisasi berjalan lancar dan efektif serta memiliki
hubungan keluar dan kedalam yang efektif pula.
c) Informasi harus bersifat mendorong timbulnya keinginan untuk ikut
berpartisipasi atau ikut memberikan dukungan secara wajar pada
masyarakat.
d) Kontinuitas, informasi humas harus berusaha agar masyarakat
memperoleh informasi secara kontiniu sesuai dengan kebutuhan.
e) Respon yang timbul dikalangan masyarakat merupakan umpan balik
dari informasi yang disampaikan harus mendapat perhatian
sepenuhnya.

2.8.8 Manajemen Layanan Khusus


Layanan khusus adalah suatu usaha yang tidak secara langsung
berkenaan dengan proses belajar mengajar di kelas, tetapi secara khusus
diberikan oleh pihak sekolah kepada para siswanya agar mereka lebih
optimal dalam melaksanakan proses belajar (Asmendri, 2012: 108).
Jenis layanan khusus di lembaga pendidikan terdiri atas :
a) Perpustakaan sekolah, perpustakaan pada sebuah sekolah dikelola
sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan dengan tujuan utama
membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus dan tujuan
pendiidkan pada umumnya.
b) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), UKS merupakan salah satu wahana
untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat, yang pada gilirannya
menghasilkan derajat kesehatan peserta didik yang optimal.
c) Kafetaria/Warung/Kantin, tujuan pengadaan kantin sekolah adalah
menyediakan tempat belanja makan yang terjamin kebersihannya dan
makan yang bergizi; d) Tempat Ibadah/Masjid.
d) Unit Keamanan Sekolah (Security).

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
- Manajemen sekolah adalah proses pendayagunaan sumber-sumber
manusiawi bagi penyelenggara sekolah secara efektif.
- Unsur-unsur manajemen meliputi :
a. Man (Manusia
b. Material (Barang)
c. Machine (Mesin)
d. Money (Uang)
e. Method (Metode)
f. Market (Pasar)
g. Minute (Waktu)
- Tujuan dari manajemen sekolah adalah :
a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif
sekolah dalam mengelola dan memberdayakan sumber daya yang
tersedia.
b. Meningkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam
menyelenggarakan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama.
c. Meningkatkan tanggung jawab sekolah kepada orangtua, masyarakat, dan
pemerintah tentang mutu sekolahnya.
d. Meningkatkan kompetisi yang sehat antar sekolah tentang mutu
pendidikan yang akan dicapai.
- Fungsi manajemen sekolah dapat dilihat dari bentuk masalahnya terdiri dari
bidang-bidang substansi dan manajemen sekolah, serta dapat dilihat dari
akivitas atau kegiatan manajemen.
- Pembagian manajemen meliputi :
a. Manajemen Puncak (Top Management)
b. Manajemen Menengah (Middle Management)
c. Manajemen Pelaksana (Operating Management)
- Komposisi keterampilan manajemen terdiri dari :

23
a. Keterampilan Teknik (Technical Skills)
b. Keterampilan Manusiawi (Human Skills)
c. Keterampilan Konseptual (Conceptual Skills)
- Prinsip-prinsip dari manajemen sekolah meliputi :
a. Prinsip efisiensi
b. Prinsip efektivitas
c. Prinsip pengelolaan
d. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan
e. Prinsip kerjasama
f. Prinsip kepemimpinan yang efektif
- Ruang lingkup dari manajemen sekolah antara lain sebagai berikut :
a. Manajemen kurikulum
b. Manajemen personalia
c. Manajemen peserta didik
d. Manajemen sarana dan prasarana
e. Manajemen keuangan/pembiayaan
f. Manajemen administrasi
g. Manajemen humas
h. Manajemen layanan khusus

24
DAFTAR PUSTAKA

Asmendri. 2012. Teori Dan Aplikasi Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan


Sekolah/Madrasah. Batusangkar: STAIN Batusangkar Press.
Baharuddin, Moh. Makin. 2010. Manajemen Pendidikan Islam. Malang: UIN
Maliki Press
Douglas, Stephen A. 1963. Political Socialization and Students Activism in
Indonesia. Jakarta: Bina Cipta.
Drucker, Peter F. 1995. The Leader of the Future (Pemimpin Masa Depan).
Jakarta: PT. Elex Media Komputindo
Fattah, Nanang. 2004. Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan Dewan
Sekolah. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Fayol, Henry. 1949. Administration. Industrielle at generale
Hersey, P. & Blanchard, K. H. 1988. Management of Organizational Behavior:
Utilizing Human Resources. (5th Edition). Englewood Cliffs. New Jersey:
Prentice Hall.
Hikmat. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia Bandung.
Kurniadin, Didin. & Machali, Imam. 2012. Manajemen Pendidikan. Yogyakarata:
Ar-Ruz Media.
Mulyasa, E. 2002. Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nawawi, Hadari. 1983. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung.
Purwanto, Djoko. 2006. Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Purwanto, M Ngalim. 1970. Administrasi Pendididikan. Jakarta: Mutiara.
Soetopo, H., & Soemanto, W. 1986. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum.
Jakarta : Bina Aksara
Terry, George R. 1986. Asas-Asas Manajemen. Terjemahan Winardi. Bandung:
Alumni.
Usman, Husaini. 2004. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Negeri
Yogyakarta Press.

25