Anda di halaman 1dari 9

ARSITEKTUR NUSANTARA

“Pengaruh Perkemangan Jaman Terhadap


Arsitektur Nusantara”

Bill J. Maengkom (17021102013)


UNIVERSITAS SAM RATULANGI
JURUSAN ARSITEKTUR
Arsitektur Nusantara
Pertama, Arsitektur Nusantara merupakan sebuah pernyataan yang
mengandung beribu gambaran dan persepsi. Belajar dari pengetahuan yang pernah
dipelajari sejak sekolah dasar Nusantara merupakan sebuah setting tempat yang
luas, terdiri dari beberapa pulau dan berisikan penduduk dengan latar belakang
budaya yang sangat beragam. Di dasari oleh pengetahuan sejarah yang diberikan
sejak mulai dikenalkan dengan setting dimana Nusantara itu berada, adalah
berawal dari kekuasaan masa Majapahit.
Dengan demikian, maka kita akan menjadi paham apabila batasan tentang
tempat menjadi sangat luas. Bicara tentang Nusantara, kita diingatkan oleh sebuah
karya besar Gajah Mada yakni sumpah Palapa yang antara lain berisi tentang ke-
Bineka Tunggal Ika-an yang menunjukkan bahwa tempat yang begitu luas dihuni
oleh berbagai suku bangsa dengan berbagai latar belakang budaya, namum tetap
dalam satu naungan yakni Nusantara. Oleh karena itu pemahaman terhadap
aarsitektur Nusantara harus pula dipahami seperti “Sumpah Palapa” yang tidak
menutup kemungkinan adanya pertalian dari berbagai suku bangsa seperti
misalnya antara Jawa-Madura-Sumba-Timor-Batak dsb. Adalah sebuah pencarian
tentang hakekat berarsitektur dalam bumi Nusanatara ini.
Kedua, Arsitektur Nusantara berkembang dari tradisi berhuni di lingkungan
berpohon-pohon, bukan di lingkungan bergua-gua . dua tipologi tradisi berhuni
prasejarah itu sudah terbukti secara arkeologis. Arsitektur Nusantara yang
pernaungan ialah hasil kristalisasi pengalaman empirik selama ribuan tahun.
Hampir seluruh penelitian mutakhir tentang budaya bermukim di Asia tropis
lembab, menunjukkan bahwa ruang bersama tempat kehidupan sosial penuh
keakraban bagi masyarakat manusia tropis lembab adalah pada jalan lingkungan,
gang, halaman bersama, ruang-bersama desa, sekitar pundèn, ruang antar-émpèran
rumah. Singkatnya: ruang-terbuka-bersama.
Jika ada atap, batang-kayu kolom strukturnya tetap memberi karakter
terbuka dan dapat menjalin pertautan spasio-visual dengan ruang lain. Kolom-
kolom rumah panggung berupa garis, esensinya tak mengkomsumsi ruang; lantai
yang didukung kolom-kolom itu justru memproduksi ruang.
Kini arsitektur bangunan gedung di Indonesia dapat digolongkan menjadi
“AC-tektur” dari golongan berpunya yang dari awal memang sudah menolak
berjendela, tertutup rapat serta menjadi benteng perlindungan dari iklim-mikro
kota yang makin panas-ganas dengan jalan pintas untuk dirinya sendiri. Golongan
kedua adalah “nonAC-tektur” dari golongan tak berpunya lemah-papa dalam
segala pengertian: sumpek, sumuk, dan semrawut. Nusantara sungguh beruntung
(di masa lalu) dianugerahi alam ramah. Ketiga, Pulau-pulau Arsitektur Bahari
Mentawai dan Nias berbeda ciri meski letak geografisnya dekat; Madura dan Jawa
Timur pedalaman pun tak dapat dipersamakan. Keunikan lokalitas tak kenal jarak,
tetapi ditentukan oleh eksklusifitas jejaring peradaban yang di masa lalu, terbatasi
oleh air laut. Satuan hunian ruang budaya di Nusantara terbentuk lewat
eksklusifitas pulau-pulau. Dengan demikian, pada hamparan lautnya nan luas,
kemajuan teknologi. Berkaitan pula dengan pertumbuhkembangan arsitekturnya
masing-masing.
Arsitektur nusantara sudah tentunya berpedoman “Sumpah Palapa” yaitu
Bhineka Tunggal Ika”. Yang mengamanatkan adanya pertalian dari berbagai suku
bangsa (etnik Nusantara) ataupun arsitektur di luar Nusantara (agama, teknologi
modern, orneman dan dekorasi). pertalian dari kedua unsur internal maupun
ektrenal tentunya melalui proses stilisasi. Dimana stilisasi adalah penggunaan
kedua unsur internaleksternal secara bersama-sama. Tanpa menghilangkan salah
satu dari kedua unsur tersebut. Di sinilah, proses tranformasimodifikasi
berlangsung, dengan tujuan menampilkan suatu bentukan yang menampilkan
kesamaan-kebedaan, sehingga menghasilkan suatu bentukan yang baru, namun
masih menampilkan karakter dari kedua unsur tersebut. Di dalam pengkinian
arsitektur Nusantara, berbagai unsur-unsur internal maupun internal tentunya harus
melalui proses penafsiran (interpretasi). Sehingga hasil tafsir dapat ditranformasi
dapat dilakukan dalam membentuk suatu desain arsitektur yang Indonesiawi.
Pengetahuan arsitektur Nusantara mendapatkan posisinya ke dalam tipe teori
arsitektur, meliputi: theory in architecture dari Edward Robbis, teori normatif dari
Jon Lang serta teori preskriptif dari Kate Nesbitt.
Definisi Globalisasi
Globalisai dan Kearifan Lokal Pandangan globalisasi Definisi globalisasi
adalah suatu proses yang menyeluruh atau mendunia dan setiap orang terikat oleh
negara atau batas-batas wilayah, artinya setiap individu dapat terhubung dan saling
bertukar informasi di tempat manapun dan kapan pun melalui media elektronik
maupun cetak. Pengertian globalisasi menurut bahasa, yaitu suatu proses yang
mendunia. Pendapat lain dikatakan bahwa globalisasi adalah proses integrasi
internasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk, pemikiran,
dan aspek-aspek kebudayaan lainnya. Dengan adanya proses yang mendunia ini,
dipastikan akan membawa negara-negara dibelahan wilayah lain menjadi kekuatan
baru, maka perkembangan dan pertukaran budaya akan berpengaruh pada
bentukan-bentukan arsitekturnya. Kalau pengertian global diartikan sebagai
pengertian yang mendunia, maka tentunya ada yang melokal. Seperti yang
dikemukakan oleh Prijotomo (2013) bahwa, “Tuhan tidak menciptakan lagi udara,
Air dan Tanah serta iklim dan gempa sebagai isi bumi”.
Udara, air dan tanah adalah karya cipta Illahi yang tak terbarukan serta iklim
dan gempa adalah karya Illahi yang tak terubahkan, manusia diberi kebebasan
untuk mengolahnya dan menjalankannya. Pernyataan ini menjelaskan bahwa bumi
merupakan sebuah tempat yang harus dijaga dan dirawat sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing, inilah yang di maksud dengan lokal. (Hidayatun,
2014)
Globalisasi dapat memberikan makna dalam bertransformasi menjadi bagian
dari tradisi masyarakat dalam berarsitektur, dan tradisi berarsitektur ini dapat
bertahan maupun menghilang. Adaptasi ataupun adopsi yang datang dari luar serta
disesuaikan dengan kondisi pada saat ini, diharapkan masih bisa memenuhi
kebutuhan kehidupan masyarakat ke masa depan. Terbentuk melalui asimilasi
penyesuaian bahan, teknologi, pelestarian, dan sebagainya. Globalisasi budaya
terjadi karena ada kontak antar budaya bangsa-bangsa di dunia yang
mengakibatkan akulturasi terjadi, dan akhirnya berdampak pada perkembangan
arsitektur. Elemen dari budaya yang pertama kali mengglobal adalah melalui
agama, seperti Kristen, Islam, Hindu, Budha dan lain sebagainya. Mereka
memberikan konstribusi besar bagi perkembangan globalisasi yang terjadi pada
ranah arsitektur sebagai tempat untuk berhuni atau bernaung termasuk
tempattempat peribadatan mereka.
Globalisasi pada masa kolonial di Indonesia Proses globalisasi juga terjadi
pada masa pemerintah kolonial Belanda di Indonesia, yaitu dengan terdapatnya
interaksi antar beberapa kekuatan lokal dan pengaruh global. Pada waktu itu,
Indonesia mengalami pengaruh Barat baik dalam kehidupan maupun tata kota dan
bangunannya. Para arsitek Belanda banyak menerapkan konsep lokal atau
tradisional dalam perencanaan dan perancangan kota, permukiman, dan bangunan-
bangunan gedungnya. Dengan adanya pencampuran budaya, membuat arsitektur
kolonial di Indonesia menjadi fenomena budaya yang unik. Arsitektur kolonial di
berbagai tempat di Indonesia apabila diteliti lebih jauh, mempunyai perbedaan-
perbedaan dan ciri tersendiri antara tempat yang satu dengan yang lain. Gaya
arsitektur kolonial adalah gaya desain yang berkembang di beberapa negara di
Eropa dan Amerika. Dengan ditemukannya benua Amerika sekitar abad 15-16,
menambah motivasi orang-orang Eropa untuk menaklukkan dan menetap pada
“dunia baru”, yaitu daerah yang mereka datangi dan akhirnya dijadikan daerah
jajahan. Motivasi mereka menjelajah samudra bervariasi, dari meningkatkan taraf
hidup sampai membawa misi untuk menyebarkan agama. Selain itu juga tersimpan
sedikit hasrat untuk memperoleh pengalaman dan petualangan baru. Arsitektur
kolonial menyiratkan adanya akulturasi diiringi oleh proses adaptasi antara dua
bangsa berbeda. Proses adaptasi yang dialami oleh dua bangsa terbentuk dengan
apa yang dinamakan arsitektur kolonial.
Hal ini mencakup penyelesaian masalah-masalah yang berhubungan dengan
perbedaan iklim, ketersediaan material, cara membangun, ketersediaan tenaga
kerja, dan seni budaya yang terkait dengan estetika. Ditinjau dari proses akulturasi
yang terjadi, terdapat dua faktor yang mempengaruhi terbentuknya arsitektur
kolonial Belanda, yaitu faktor budaya setempat dan faktor budaya asing Eropa atau
Belanda. Arsitektur kolonial merupakan arsitektur yang memadukan antara budaya
Barat dan Timur. Arsitektur ini hadir melalui karya arsitek Belanda dan
diperuntukkan bagi bangsa Belanda yang tinggal di Indonesia, pada masa sebelum
kemerdekaan. Arsitektur yang hadir pada awal masa setelah kemerdekaan sedikit
banyak dipengaruhi oleh arsitektur kolonial. Di samping itu juga adanya pengaruh
dan keinginan para arsitek untuk berbeda dengan arsitektur kolonial yang sudah
ada. Arsitek Belanda Hendrik Petrus Berlage (1856-1934) menyatakan terdapat
dua kelompok tentang pemakaian seni budaya lokal dalam bangunan. Kelompok
pertama merujuk kepada arus gerakan ekletktisme Eropa abad ke-19 serta
menghendaki seni bangunan Eropa diberlakukan di daerah koloni. Kelompok
kedua mereka lebih mengharapkan adanya kepekaan terhadap seni bangunan lokal
(Nusantara) yang mengarah pada munculnya arsitektur baru, yakni Indo-Eropa
(Antariksa, 2016). Menurut Helen Jessup adanya kedua arus gerakan arsitektur
yang berkembang saat itu, yakni konteks regional dan eklektisme arsitektur Eropa
abad ke-19. Hal ini berkaitan dengan pembaharuan dalam arsitektur nasional dan
internasional, yakni upaya mencari identitas arsitektur kolonial Belanda di tanah
jajahan (Hindia Belanda) yang juga merujuk pada arsitektur tradisional Nusantara.
V.R. van Romondt salah satu pendiri Bandoeng Technische Hoogeschool
(1923) sekarang bernama Institut Teknologi Bandung. Berambisi menciptakan
“Arsitektur Indonesia” baru, yang berakar pada prinsip tradisional dengan sentuhan
modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Dengan kata lain
‘Arsitektur Indonesia’ adalah penerapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan
kesederhanaan dari desain modern. Namun sangat terinspirasi oleh arsitektur lokal.
Globalisasi arsitektur Indonesia Sebenarnya globalisasi di Indonesia atau Nusantara ini sudah
ada sejak ratusan tahun yang lalu. Akulturasi dan sinkretisme dari agama- agama yang mereka bawa
masuk ke wilayah Nusantara ini telah memberikan kontribusi akan perkembangan arsitektur pada waktu
itu. Dalam kehidupan masyarakat etnis di Indonesia telah melahirkan sebuah budaya dengan bentang
yang sangat luas mulai dari Aceh sampai Papua. Dengan pola pikir dan kebiasaan hidup yang sangat khas
berdasar tradisi- budaya-geografisnya. Dalam perjalanan pengaruh luar pun masuk ke dalam tradisi
berarsitektur mereka, tradisi budaya Barat dan lokal bercampur menjadi bagian terbentuknya tradisi
baru dalam arsitektur. Bahwa globalisasi arsitektur sudah ada dan berkembang sejak lama di Nusantara
ini. Arsitektur adalah merupakan ekspresi dari budaya masyarakat di tempat mereka berada. Dalam
perkembangan pasti akan mengalami perubahan baik bentuk, material, teknologi dan lain sebagainya.
Dengan demikian gelobalisasi seharusnya ditanggapi sebagai bagian dari perkembangan dan perubahan
dan terjadi disegala bidang, termasuk bidang arsitektur. Lokalitas arsitektur etnik yang kita punyai
menjadikan dasar untuk kita pelajari apa yang ada dibalik bentukan arsitektur tersebut, sehingga bisa
bertahan sampai saat ini. Sebagai sesuatu yang arif maka apa yang datang dan masuk harus bisa
berjalan berdampingan tidak menolak sama sekali sesuatu yang datang dari arah global manapun.
Berjalan berdampingan membentuk suasana peradaban baru, karena material dan teknologi mengalami
perkembangan, dan material lokal pun lama kelamaan akan habis dan menghilang.

Tugas para arsitek bukan hanya meminjam matrial atau memindah bahkan
mengambil sebuah contoh konstruksi dari sesuatu bangunan yang usianya sudah
berabad-abad yang lalu. Akan tetapi bagaimana kita harus bisa memahami tentang
diri kita dengan waktu dan masa yang sangat berbeda, yang berjalan melalui
perjalanan budaya dari peradaban ke peradaban berikutnya. Perlu pemahaman
bagaimana cara mengkreasikan sebuah karya arsitektur baru yang ingin
memasukkan sebuah tradisi baru yang diambil dari arsitektur etnik yang terdapat di
Nusantara ini. Arsitektur Nusantara memberikan kekayaan arsitektur yang luar
biasa, dengan material-lokalnya serta tradisi sosial-budayanya dapat dijadikan
bagian dari arsitektur kekinian atau kontemporer, yang bisa dan dapat
ditransformasikan dalam langgam arsitektur masa kini. Bukan dengan cara
mengambil apa yang terdapat di masa lalu baik tradisi maupun sejarahnya,
kemudian mencoba untuk dipindahkan dalam ruang dan waktu yang sama sekali
berbeda. Maka tempat dan arsitektur yang dihasilkanya pun tidak akan
memberikan spirit bagi peradaban budaya dalam berarsitektur.
Arsitektur Nusantara sebaiknya juga harus bisa menerima perkembangan
dalam memanfaatkan perkembanagn material dan teknologi agar perjalanan
arsitekturnya bisa berkelanjutan. Kemudian dapat membangun tradisi baru dengan
mengembangkan teknologi yang dapat tepat guna dengan melakukan modifikasi
dan semata bukan pemenuhan kebutuhan saja. Arsitek-arsitek muda Indonesia
telah melakukan pergerakan arsitektur baru, arsitektur yang mencoba melihat
kelokalan/kesetempatan untuk dikembangan dalam kekinian. Terlihat dalam
sentuhan-sentuhan desain mereka mencoba menumbuhkembangkan pendekatan-
pendekatan baik pada bahan, teknologi maupun kosep-konsep untuk bangunan
baru mereka. Perjalanan arsitektur kontemporer di Indonesia dihadapkan pada
permasalahan yang rumit, bagaimana tidak mereka harus melakukan pekerjaan
yang tidak mudah. Dengan karya- karya arsitektur yang kreatif dan kontemporer
tanpa melupakan unsur lokalitasnya, maka mereka akan memberikan hal-hal baru
dalam sejarah perkembangan arsitektur di Indonesia. Mereka juga akan mengikuti
perkembangan dan modernisasi, tetapi tentu saja tidak dengan melupakan inti dari
lokalitas dan identitas budaya yang kita punyai. Terutama tantangan yang harus
dihadapi oleh para arsitek muda ini adalah dengan adanya pemikiran dan isu-isi
baru dalam globalisasi yang datang dari segala penjuru. Tentu saja dengan
tawaran-tawaran yang menawan melalui material dan teknologi baru dalam
perkembangan perdaban berarsitektur.
Para arsitek muda ini harus dapat memberikan semangat baru modernisasi
arsitektur, tanpa melupakan sentuhan-sentuhan lokalitasnya mengikuti perubahan
paradigma dalam berarsitektur di Indonesia. Perhatian terhadap potensi lokal
arsitektur kawasan sebagai “daya tarik serta keunggulan” kota menjadi
penyeimbang sinergi globalisasi lokal (Eade 1977).

Kekuatan dari kearifan lokal tersebut berupa masa lalau atau saat ini maupun
perpaduan dari keduanya yang memiliki signifikan dan keunikan. Kenyataannya
kota- kota dalam masa sekarang cenderung kehilangan kekuatan tradisi
kelokalannya yang semakin larut masuk dalam dinamika global.
Solusi keberlangsungan Arsitektur Nusantara
Arsitektur vernakular adalah arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari
arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik,
serta dibangun oleh tukang berdasarkan pengalaman (trial and error),
menggunakan teknik dan material lokal serta merupakan jawaban atas setting
lingkungan tempat bangunan tersebut berada dan selalu membuka untuk terjadinya
transformasi [1]. Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara merupakan
negara kepulauan terbesar didunia yang terdiri dari berbagai suku, bahasa, agama,
serta berbagai macam budaya dan etnik yang merupakan jati diri dari tiap-tiap
daerah. Selain itu masing-masing daerah di Indonesia juga mempunyai satu atau
beberapa tipe rumah tradisional yang unik yang dibangun berdasarkan tradisi-
tradisi arsitektur vernakular dengan gaya bangunan tertentu yang menunjukkan
keanekaragaman yang sangat menarik. Dan seiring dengan perjalanan waktu,
tradisi dan gaya bangunan yang baru dan berbeda-beda akan muncul, akan tetapi
dalam beberapa hal tradisi arsitektur vernakular masih dapat bertahan. Menurut
Sonny Susanto, salah seorang dosen arsitek pada Fakultas Teknik Universitas
Indonesia mengatakan bahwa arsitektur vernakular merupakan bentuk
perkembangan dari arsitektur tradisional, yang mana arsitektur tradisional masih
sangat lekat dengan tradisi yang masih hidup, tatanan kehidupan masyarakat,
wawasan masyarakat serta tata laku yang berlaku pada kehidupan sehari-hari
masyarakatnya secara umum [2].
Meskipun arsitektur tradisional berkembang, namun tetap mempertahankan
karakter inti yang diturunkan dari generasi ke generasi yang menjadikannya
sebagai karakter kuat akan suatu tempat tertentu dan akan tercermin pada tampilan
arsitektur lingkungan masyarakat tersebut. Dalam perkembangannya, arsitektur
vernakular mengalami banyak tekanan, baik dari dalam maupun dari luar, antara
lain dari masyarakat industri barat yang menebarkan potensi dari teknologi modern
dan bahan bangunan modern. Pada masa sekarang ini dimana modernisasi dan
globalisasi demikian kuat mempengaruhi peri kehidupan dan kebudayaan
setempat, suatu kondisi yang alami apabila suatu kebudayaan pasti akan
mengalami perubahan kebudayaan setempat, namun perubahan yang diinginkan
adalah perubahan yang akan tetap memelihara karakter inti dan akan
menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini, sehingga akan dapat terus
dipertahankan.

Peran dan Fungsi Arsitektur Vernakular

Di dalam konteks arsitektur, peran dan fungsi arsitektur vernakular menjadi


penting bukan hanya di Indonesia saja tetapi juga di Asia, karena Asia terdiri dari
berbagai macam budaya dan adat yang berlainan di berbagai wilayahnnya, dimana
setiap wilayah memiliki ciri arsitektur yang spesifik dan berasal dari tradisi. Antara
tradisi dan arsitektur vernakular sangat erat hubungannya. Tradisi memberikan
suatu jaminan untuk melanjutkan kontinuitas akan tatanan sebuah arsitektur
melalui sistem persepsi ruang, bentuk, dan konstruksi yang dipahami sebagai suatu
warisan yang akan mengalami perubahan secara perlahan melalui suatu kebiasaan.
Misalnya bagaimana adaptasi masyarakat lokal terhadap alam, yang memunculkan
berbagai cara untuk menanggulangi, misalnya iklim dengan cara membuat suatu
tempat bernaung untuk menghadapi iklim dan menyesuaikannya dengan
lingkungan sekitar dan dengan memperhatikan potensi lokal seperti potensi udara,
tanaman, material alam dan sebagainya, maka akan terciptalah suatu bangunan
arsitektur rakyat yang menggunakan teknologi sederhana dan tepat guna.
Kesederhanaan inilah yang merupakan nilai lebih sehingga tercipta bentuk khas
dari arsitektur vernakular dan tradisional serta menunjukkan bagaimana
menggunakan material secara wajar dan tidak berlebihan. Hasil karya ‘rakyat’ ini
merefleksikan akan suatu masyarakat yang akrab dengan alamnya,
kepercayaannya, dan norma-normanya dengan bijaksana.