Anda di halaman 1dari 31

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2017 / 2018

MODUL : KOAGULASI-FLOKULASI

PEMBIMBING : DR. Ir. Endang Sri Rahayu, MT

Praktikum : 13 Oktober 2017


Pengumpulan Laporan : 17 Oktober 2017

Oleh :

Kelompok : VII

Sariwulan NIM 151411057

Satria Adhiawardana NIM 151411058

Siti Nazmiati NIM 151411059

SunsunSugianto NIM. 151411060

3B D3 Teknik Kimia

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Air merupakan kebutuhan utama bagi seluruh manusia, yaitu sebagai
sumber nutrisi (minum), mandi, mencuci, dan lainnya. Air juga menjadi utilitas
yang penting dari suatu industri. Fungsi air dalam industri antara lain sebagai air
pendingin (cooling water), air umpan boiler, air proses, air sanitasi, dan lainnya.
Sebelum digunakan, air tersebut harus dihilangkan pengotornya hingga
memenuhi persyaratan agar tidak merusak peralatan. Sama halnya dengan limbah
dari suatu industri, sebelum dikeluarkan ke lingkungan, air limbah harus
memenuhi baku mutu air limbah.

Sebelum dibuang ke lingkungan, perlu penanganan khusus yang


dilakukan agar air limbah memenuhi baku mutu. Terdapat tiga metode untuk
mengolah air limbah tersebut, yaitu secara fisis, kimiawi, dan biologis. Pada
pengolahan secara fisis, cara yang bisa dilakukan adalah filtrasi dan sedimentasi.
Pada pengolahan secara biologis, biasanya dilakukan untuk membunuh
mikroorganisme yang patogen yaitu dengan pemberian bahan desinfektan. Pada
pengolahan secara kimiawi, dilakukan dengan cara menambahkan suatu bahan
kimia yang biasanya disebut dengan koagulan dan flokulan. Saat ini, metode yang
paling banyak digunakan untuk mengolah air, yaitu metode kimiawi dan
pengolahan secara fisis.

Baku mutu air limbah di Indonesia sendiri telah diatur dalam Peraturan
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2014 Tentang
Baku mutu Air Limbah. Salah satu parameter yang diatur yaitu total padatan
tersuspensi (TSS), yang dapat diturunkan nilainya dengan metode pengolahan
koagulasi dan flokulasi. Tujuan koagulasi dan flokulasi itu sendiri yaitu untuk
menurunkan nilai total padatan tersuspensi dan kekeruhan air limbah tersebut
dengan cara mengubah padatan tersuspensi menjadi padatan terendapkan dengan
penambahan bahan kimia (koagulan dan flokulan).

1.2 Tujuan
a. Menentukan dosis yang terbaik untuk koagulan yang digunakan
b. Mengukur nilai kekeruhan tiap waktu pada variasi dosis Koagulan
c. Mengukur ketinggian endapan pada tiap waktu
d. Menghitung laju pengendapan pada proses pengendapan
e. Efisiensi Proses pada setiap variasi dosis Koagulan
BAB II

DASAR TEORI

2.1 Koloid
Sistem koloid merupakan suatu bentuk campuran yang keadaannya
terletak antara larutan dan suspensi (campuran kasar). Analisis sistem koloid
diawali oleh percobaan Thomas Graham. Percobaan mengenai zat yang
mudah berdifusi, dan zat yang sangat lambat atau sama sekali tidak berdifusi. Ia
menemukan waktu difusi relatif untuk berbagai zat. Oleh karena zat yang mudah
berdifusi biasanya berbentuk kristal dalam keadaan padat, Graham
menyebutnya kristaloid. Sedangkan, zat-zat yang sukar berdifusi disebutnya
koloid.
Jadi, koloid adalah campuran heterogen dan merupakan sistem dua
fase. Dua fase ini meliputi zat terlarut sebagai partikel koloid atau yang sering
dikenal dengan fase terdispersi serta zat yang merupakan fase kontinu dimana
partikel koloid terdispersi yang disebut medium pendispersi. Ukuran partikel

koloid berkisar antara 10-7 – 1—5 (1-100 nm). Ukuran inilah yang
membedakan koloid dengan larutan dan suspensi

Gambar 2.1 Larutan, koloid, dan suspensi


(Sumber : Ulfa, Rima. 2012. Perbedaan larutan, koloid dan suspense. Diunduh pada tanggal
18 Oktober 2017 jam 10.25 dari http://riemjustwill.blogspot.co.id/2012/02/perbedaanlarutan-
koloid-dan-suspensi.html.)
2.3 Koagulasi
Sistem dispersi koloid merupakan sistem yang stabil akibat adanya gaya
tolakan antarpartikel yang bermuatan sejenis. Oleh karena itu, prinsip
penetralan muatan partikel koloid dapat digunakan untuk menurunkan
kestabilan koloid dengan cara penggumpalan, dan proses ini dikenal dengan
istilah koagulasi. Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid sehingga
terjadi endapan. Dengan adanya koagulasi, zat terdispersi tidak lagi
membentuk koloid. Koagulasi terjadi kerena pemanasan, penambahan
elektrolit dan pencampuran dua koloid yang berbeda muatan.

Permukaan partikel-partikel tersebut bermuatan listrik negatif. Partikel-


partikel itu menarik ion-ion positif yang terdapat dalam air dan menolak ion-ion
negatif. Ion-ion positif tersebut lalu menyelubungi partikel-partikel koloid dan
membentuk lapisan rapat bermuatan didekat permukaannya. Adanya muatan-
muatan pada permukaan partikel koloid tersebut menyebabkan pembentukan
medan elektrostatik di sekitar partikel itu sehingga menimbulkan gaya tolak-
menolak antar partikel. Ion-ion atau koloid bermuatan positif (kation) yang
ditambahkan untuk meniadakan kestabilan partikel koloid tersebut dapat
dihasilkan dari senyawa organik dan anorganik tertentu yang disebut koagulan.
Zat kimia yang digunakan dalam proses ini meliputi ion-ion logam seperti
alumunium atau besi yang akan terhidrolisa dengan cepat untuk membentuk
presipitat yang tidak larut dan teradsoprsi dengan cepatpada permukaan partikel
koloid yang akan mempercepat laju pembentukan agregat dari partikel koloid
(Montgomery, 1985).

Koagulan dapat berupa garam-garam logam (anorganik) atau polimer


(organik). Polimer adalah senyawa-senyawa organik sintetis yang disusun dari
rantai panjang molekul-molekul yang lebih kecil. Koagulan polimer ada yang
kationik (bermuatan positif), anionik (bermuatan negatif), atau nonionik
(bermuatan netral). Sedangkan koagulan anorganik mencakup bahan-bahan
kimia umum berbasis aluminium atau besi. Ketika ditambahkan ke dalam contoh
air, koagulan anorganik akan mengurangi alkalinitasnya sehingga pH air akan
turun. Koagulan organik pada umumnya tidak mempengaruhi alkalinitas dan pH
air. Koagulan anorganik akan meningkatkan konsentrasi padatan terlarut pada
air yang diolah (Gebbie 2005).
Skema Proses Koagulasi

Double layer
gets
compressed

Bridging terjadi ketika koagulan


membentuk benang atau serat yang
menempel pada beberapa koloid,
menangkap dan mengikat mereka
bersama-sama.

Gambar 2.2 Skema Proses Koagulasi

(Sumber:http://www.substech.com/dokuwiki/doku.php?id=stabilization_of_colloids
2.4 Flokulasi
Flokulasi merupakan proses pembentukan flok, yang pada dasarnya
merupakan pengelompokan/ aglomerasi antara partikel dengan koagulan
(menggunakan proses pengadukan lambat atau slow mixing), Proses pengikatan
partikel koloid oleh flokulan. Pada flokulasi terjadi proses penggabungan
beberapa partikel menjadi flok yang berukuran besar. Partikel yang berukuran
besar akan udah diendapkan.
Agar patikel koloid dapat menggumpal, gaya tolak-menolak elektrostatik
antara partikelnya harus dikurangi dan transportasi partikel harus menghasilkan
kontak diantara partikel yang mengalami destabilisasi. Setelah partikel-partikel
koloid mengalami destabilisasi, adalah penting untuk membawa partikel-partikel
tersebut ke dalam suatu kontak antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat
menggumpal dan membentuk partikel yang lebih besar yang disebut flok. Proses
kontak ini disebut flokulasi.

Gambar 2.3. Proses pengolahan air (koagulasi – flokulasi)

(Sumber : Aryansah. 2010. Instalasi Pengolahan Air Bersih. Diunduh pada tanggal 18
Oktober 2017 Pukul 10.49 dari https://aryansah.wordpress.com/2010/12/03/instalasi-
pengolahan-air-bersih/)
2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Koagulasi-Flokulasi

Berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam pengolahan air limbah


secara kimia khususnya dengan proses koagulasi dan flokulasi diantaranya:
1. Konsentrasi padatan, konsentrasi padatan tersuspensi dan terlarut yang
terkandung dalam air limbah berpengaruh terhadap kebutuhan bahan koagulan
maupun flokulan. Semakin besar konsentrasi padatan tersuspensi dan terlarut
kebutuhan bahan koagulan dan flokulan semakin kecil dan sebaliknya, hal ini
disebabkan pada konsentrasi padatan yang tinggi jarak antar partikel semakin
dekat dan memudahkan proses penggabungan. (Eckenfelder, W, 2000)
2. Derajat keasaman (pH), derajat keasaman (pH) air limbah mempengaruhi
kinerja dari bahan koagulan, hal ini disebabkan setiap jenis koagulan bekerja
efektif pada rentang pH tertentu. Koagulan aluminium sulfat bekerja efektif
pada pH diatas 6, koagulan ferro sulfat pada rentang pH 4-7, koagulan ferri
chlorida pada rentang pH 3-5, sedangkan senyawa polimer tidak dipengaruhi
oleh pH. (Eckenfelder, W, 2000)
3. Konsentrasi koagulan, Konsentrasi koagulan akan mempengaruhi efiisensi
proses pengolahan, semakin besar konsentrasi pada umumnya efisiensi proses
semakin besar dan sebaliknya. Konsentrasi koagulan yang terlalu tinggi dapat
menurunkan derajat keasaman (pH) dan efisiensi menjadi rendah hal ini
disebabkan sebagian besar koagulan jika dimasukkan kedalam air limbah akan
melepaskan sifat asam sehingga pH air limbah menjadi turun. Konsentrasi
koagulan aluminium sulfat yang dianjurkan 75 – 250 mg/l, koagulan ferro
sulfat dianjurkan 70 – 200 mg/l, dan koagulan ferri chlorida 35 – 150
mg/l (Eckenfelder, W, 2000)
4. Kecepatan pengadukan, Kecepatan pengadukan mempengaruhi efisiensi
proses pengolahan, kecepatan putaran pengaduk yang terlalu tinggi dapat
mengakibatkan pecahnya flok yang sudah terbentuk dan akan mempersulit
proses sedimentasi, pada umumnya kecepatan pengadukan berkaitan dengan
waktu pengadukan. Pada proses koagulasi dibutuhkan kecepatan putaran
pengaduk yang tinggi tetapi waktu pengaduk yang relatif cepat (2-15 menit),
sedangkan pada proses flokulasi dibutuhkan kecepatan putaran pengaduk
yang rendah dan waktu pengadukan yang relatif lebih lama (20-40) menit.
(Metcalf & Eddy, 2000).

2.6 Koagulasi Optimum

Penentuan jenis koagulan dan perkiraan kasar dosis yang dibutuhkan


untuk pengendapan padatan air limbah ekstraksi jamu yang efektif dilakukan
dengan melakukan percobaan awal dengan Jar-Test. Hasil percobaan perlu untuk
diinterpretasikan dengan hati-hati dan setelahnya perlu dilakukan optimisasi
kondisi proses pada jenis koagulan yang dipilih sebelum digunakan untuk
modifikasi dan pengontrolan instalasi pengolahan. Hasil percobaan awal
belum dapat digunakan untuk memprediksi biaya operasi tambahan pada
circular clarifier.

Gambar 2.4 Skema alat Jar-Test (Sumber: EPA, 2002)


Alat yang digunakan untuk Jar-Test dapat dilihat pada Gambar 3 Pada
percobaan pendahuluan, pH contoh air tidak dikondisikan agar didapatkan
gambaran hasil yang dapat diperoleh dengan penambahan zat kimia seminimal
mungkin. Pengujian dilakukan dengan dosis koagulan yang divariasikan pada
kondisi pH contoh air limbah apa adanya. Dosis terbaik ditentukan berdasarkan
penyisihan parameter kekeruhan. Contoh kurva koagulan dapat dilihat pada
Gambar 4.
Gambar 2.5 Contoh Kurva Koagulasi
(Sumber : EPA, 2002)
BAB III

METODOLOGI PERCOBAAAN

3.1 Alat dan bahan

3.1.1 Alat yang digunakan

1. Alat Jartest
2. Turbidimeter
3. pH meter
4. Gelas ukur 100 mL
5. Gelas ukur 1000 mL
6. Kerucut Inhoff
7. Pipet ukur 10 ml
8. Bola isap

Gambar 3.1 Alat Jartest

(Referensi: Alat Praktikum di Laboraturium Pengolahan Limbah


Industri Politeknik Negeri Bandung ).
3.1.2 Bahan yang digunakan

1. Air baku dari limbah cucian pakaian


2. Tawas [Al2(SO4)3] 1%
3. Floqulan aquclear

3.2 Prosedur Kerja

Menyiapkan semua peralatan, bahan kimia, dan air baku

Mengaduk air limbah dan mengukur kekeruhannya

Memasukkan 800 ml air limbah kedalam 6 gelas kimia 1000 ml

Menambahkan koagulan dengan variasi konsentrasi berbeda pada


setiap gelas kimia

Melakukan pengadukan pada Jartest dengan kecepatan putar 100


rpm selama 1 menit

Menambahkan 1 ml flokulan aquaclear kedalam masing-masing


gelas kimia

Memperkecil kecepatan putar menjadi 60 rpm selama 10 menit

Menuangkan masing - masing air yang sudah di flokulasi kedalam


kerucut imhoff dan membiarkan flok mengendap selama satu jam

Mengukur kekeruhan masing-masing air yang diendapkan pada


menit ke 0, 15, 30, 45 dan 60

Mengukur tinggi endapan dari masing-masing kerucut


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Pengamatan

Sumber Air Baku : Air Limbah bekas cucian “Cuki Laundry”


pH Awal Air Baku : 6.73
Kekeruhan Awal Air Baku : 30.77 NTU
Jenis Koagulan : Tawas
Dosis Koagulan (ppm) : 300,350,400,450,500 dan 550
Jenis Flokulan : Aquclear
Dosis Flokulan : 1 mL

Tabel 4.1 Variasi Dosis Koagulan

Berat Koagulan Volume air Dosis Koagulan


(mg) baku (L) (ppm)
240 0,8 300
280 0,8 350
320 0,8 400
360 0,8 450
400 0,8 500
440 0,8 550
Table 4.2 Nilai Kekeruhan tiap waktu pada variasi dosis Koagulan

Volume Variasi Kekeruhan (NTU)


Air Koagulan Flokulan t=15 t=30 t=45 t=60
Baku (ppm) (mL) Menit Menit Menit Menit
(L)
0.8 300 1 24.75 23.45 12.56 10.98
0.8 350 1 30.6 29.45 23.33 19.62
0.8 400 1 27.83 22.56 21.26 20.12
0.8 450 1 30.57 29.74 28.64 27.99
0.8 500 1 30.74 29.16 28.65 24.99
0.8 550 1 30.10 29.86 28.34 20.73

Tabel 4.3 Ketinggian Endapan pada tiap waktu

Variasi Flokulan Waktu (menit)


Koagulan (mL) 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
(ppm)
Volume Endapan Tabung Imhoff (mL)
300 1 0 2 15 20 21 21 20 19 19 18 18 18 18

350 1 0 2 8 14 16 17 17 16.5 16 16 16 16 16

400 1 0 5 14 15 16 17 15 15 14 14 13 13 13

450 1 0 1 3 7 9 10 10 10 11 11 11 11 11

500 1 0 0.5 2 6 7 9 9 9.5 11 11 11 10 10

550 1 0 1 4 8 9 11 11 11 11 11 11 10 10
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Nilai Kekeruhan tiap Waktu pada variasi dosis Koagulan

Nilai Kekeruhan tiap waktu pada variasi dosis


Koagulan
70
60
Turbidity (NTU)

50
40
30
20
10
0
15 30 45 60
Waktu (menit)

300 ppm 350 ppm 400 ppm 450 ppm 500 ppm 550 ppm

Gambar 4.1 Kurva nilai kekeruhan tiap waktu terhadap variasi dosis koagulan

4.2.2 Nilai kekeruhan akhir pada setiap variasi dosis koagulan

Nilai Kekeruhan Akhir setiap dosis koagulan


30
Nilai Kekeruhan (NTU)

25
20
15
10
5
0
300 350 400 450 500 550
Dosis Koagulan (ppm)

Nilai Kekeruhan

Grafik 4.2 Nilai Kekeruhan akhir setiap variasi dosis Koagulan


4.2.3 Volume Endapan tiap Waktu pada variasi dosis Koagulan

Grafik Volume Endapan terhadap Waktu


25
Volume Endapan (mL)
20

15

10

0
0 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 55 60
Waktu (menit)

Koagulan 300 ppm Koagulan 350 ppm Koagulan 400


Koagulan 450 Koagulan 500 Koagulan 550

Gambar 4.2 Volume endapan terhadap Waktu

4.2.4 Jumlah volume endapan terakhir pada setiap variasi dosis koagulan pada
proses sedimentasi

Volume Endapan Terakhir


20
Volume Endapan (mL)

15

10

0
300 350 400 450 500 550
Dosis Koagulan (ppm)

Volume Endapan Terakhir

Gambar 4.4 Volume endapan terakhir pada variasi dosis koagulan


4.2.5 Laju Pengendapan Pada Proses Pengendapan

Tabel 4.4 Laju Pengendapan pada proses Pengendapan

Waktu
(menit) Waktu
0 60 Pengendapan Laju Pengendapan
Variasi Koagulan (ppm) (sekon) (mL/s)
Volume
Endapan (mL)
300 0 18 3600 0.005

350 0 16 3600 0.0044

400 0 13 3600 0.0036

450 0 11 3600 0.0030

500 0 10 3600 0.0027

550 0 10 3600 0.0027


4.2.6 Efisiensi Proses pada setiap variasi dosis Koagulan

𝒌𝒆𝒌𝒆𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒘𝒂𝒍−𝒌𝒆𝒌𝒆𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒌𝒉𝒊𝒓


Efisiensi = × 𝟏𝟎𝟎%
𝒌𝒆𝒌𝒆𝒓𝒖𝒉𝒂𝒏 𝒂𝒘𝒂𝒍

Tabel 4.5 Efisiensi proses pada setiap variasi dosis koagulan

Variasi Kekeruhan (NTU)


Koagulan t=0 t=60 Menit Efisiensi (%)
(ppm) Menit
300 30.77 10.98 64.31
350 30.77 19.62 36.23
400 30.77 20.12 34.61
450 30.77 27.99 9.03
500 30.77 24.99 18.78
550 30.77 20.73 32.62
4.3 Pembahasan
4.2.1 Pembahasan Sariwulan (151411057)

Pada Praktikum pengolahan limbah dengan proses koagulasi – flokulasi


ini menggunakan air baku yang berasal dari Air Limbah bekas cucian “Cuki
Laundry”. Air baku tersebut mempunyai kandungan koloid dengan ditandai
nilai kekeruhan awal sebesar 30.77 NTU dan pH 6.73. Proses Koagulasi ini
dibantu dengan pengadukan cepat. Kemudian dilakukan dengan proses
flokulasi dengan penambahan flokulan dengan dibantu pengadukan lambat.

Pada proses koagulasi dilakukan penambahan koagulan tawas, hal ini


menurut Eckenfelder,W untuk penggunaan koagulan tawas (alumunium sulfat)
bekerja secara efektif pada pH diatas 6. Begitu juga menurut Davis dan
Cornwell (1991) dalam Yuliati (2006), ada tiga hal penting yang harus
diperhatikan ketika memilih suatu koagulan, yaitu: kation bervalensi tiga
(trivalen) merupakan kation yang paling efektif untuk menetralkan muatan
listrik koloid, tidak beracun, tidak larut dalam kisaran pH netral.

Koagulasi dilakukan dengan variasi dosis koagulan untuk menentukan


dosis koagulan yang terbaik. Variasi dosis koagulan yang digunakan sebagai
berikut : 300, 350, 400, 450, 500, dan 550 ppm, variasi dosis koagulan tersebut
di masukan kedalam 800 mL air baku. Penambahan koagulan tersebut
mengakibatkan destabilitasi partikel koloid sehingga gaya Van Der Waals antar
partikel semakin intens. Pada proses koagulasi dilakukan dengan kecepatan
pengadukan 100 rpm dalam waktu 1 menit. Pengadukan tersebut bertujuan
untuk mendistribusi koagulan secara merata. Sehingga tumbukan antara
partikel akan terjadi dan terbentuk fine flocs.

Pada proses Flokulasi dilakukan penambahan flokulan aquclear.


Kecepatan pengadukan 60 rpm dalam waktu 14 menit, pengadukan lambat
tersebut bertujuan untuk memberikan kesempatan fine flocs untuk
bertumbukkan sehingga membentuk Flocs yang besar. Flocs yang terbentuk
akan mengendap karena bertambahnya massa. Pengadukan tersebut harus
dijaga untuk menghindari terpecahnya flocs yang terbentuk.

Hasil Koagulasi dan Flokulasi dilanjutkan dengan proses pengendapan


pada tabung kerucut Imhoff selama 60 menit, dengan pengecekan nilai
kekeruhan setiap 15 menit dan mengukur tinggi endapan setiap 5 menit. Hasil
pengamatan berdasarkan Table 4.2 Nilai Kekeruhan tiap waktu pada variasi
dosis Koagulan), Gambar 4.1 (Kurva nilai kekeruhan tiap waktu terhadap
variasi dosis koagulan) serta Grafik 4.2 (Nilai Kekeruhan akhir setiap variasi
dosis Koagulan) menunjukkan nilai kekeruhan akhir pada variasi masing-
masing dosis koagulan sebagai berikut : 10.98, 19.62, 20.12, 27.99, 24.99, dan
20.98 NTU. Nilai kekeruhan yang paling kecil terbentuk dari dosis koagulan
300 ppm yaitu 10.98 NTU. Endapan akhir berdasarkan Tabel 4.3 (Ketinggian
Endapan pada tiap waktu) dan Gambar 4.4 (Volume endapan terakhir pada
variasi dosis koagulan) yang terbentuk pada masing-masing dosis koagulan
sebagai berikut : 18, 16, 13, 11, 10 dan 10 mL. Endapan paling tinggi
ditunjukkan pada dosis 300 ppm sebesar 18 mL. Laju pengendapan yang terjadi
pada Tabel 4.4 (Laju Pengendapan pada proses Sedimentasi) masing-masing
dosis koagulan sebagai berikut : 0.005, 0.0044, 0.0036, 0.0030, 0.0027 dan
0.0027 mL/s. Laju paling tinggi ditunjukkan pada dosis 300 ppm. Efisiensi yang
terbentuk pada Tabel 4.5 (Efisiensi proses pada setiap variasi dosis koagulan)
masing-masing dosis koagulan sebagai berikut : 64.31, 36.23, 34.61, 9.03,
18.78 dan 32.62 %. Efisiensi terbaik terjadi pada dosis 300 ppm. Artinya dosis
terbaik pada percobaan ini ditunjukkan dengan konsentrasi dosis koagulan 300
ppm. Pada dosis koagulan 300 ppm terbentuk endapan paling tinggi yaitu 18
mL pada tabung Imhoff dengan laju pengendapan 0.005 mL/s dan efisiensi
paling baik sebesar 64.31 %.
4.2.2 Pembahasan Satria Adhiawardana (151411058)
Koagulasi dan flokulasi dilakukan untuk mengolah air yang
mengandung koloid. Air baku yang digunakan adalah air limbah hasil cucian
laundry dengan nilai pH awal adalah 6.73 dan kekeruhan awal 30.77 NTU.
Proses koagulasi bertujuan untuk mendestabilisasi partikel koloid dengan
pengadukan cepat 100 rpm dalam waktu 1 menit, kemudian dilanjutkan dengan
proses flokulasi untuk membentuk flocs dengan pengadukan lambat 60 rpm
dalam waktu 14 menit.
Proses koagulasi dilakukan dengan pengadukan cepat, untuk
memperbesar peluang bertumbukya koloid dengan koagulan dan
mendistribusikan koagulan secara merata, koloid yang bermuatan negatif akan
bertubrukan dengan koagulan yang bermuatan positif dan menjadi fine flocs-
fine flocs yang bermuatan netral. Untuk menentukan dosis koagulan yang
terbaik adalah dengan menggunakan metode jartest, dilakukan variasi
konsentrasi koagulan yang ditambahkan pada sampel air baku yaitu, 300 ppm ;
350 ppm ; 400 ppm ; 450 ppm dan 550 ppm dalam masing-masing 800 mL
sampel air baku. Koagulan yang ditambahkan pada air baku adalah tawas, hal
tersebut sesuai dengan literatur, untuk penggunaan koagulan tawas (alumunium
sulfat) bekerja secara efektif pada pH diatas 6 (Eckenfelder, 2006).
Proses flokulasi harus segera dilakukan setelah proses koagulasi selesai,
dengan penambahan flokulan aquclear, flokulasi dilakukan dengan waktu lama
untuk menghihndari terpecahnya flocs yang terbentuk. flocs yang terbentuk
akan mengendap karena bertambahnya massa. Flokulasi dilakukan dengan
pengadukan lambat agar memperbesar kesempatan fine flocs untuk
bertumbukkan sehingga membentuk flocs yang besar.
Air hasil koagulasi dan flokulasi harus segera dilakukan pengendapan
pada tabung Imhoff selama 60 menit untuk menentukan laju pengendapan dan
banyaknya endapan yang terbentuk. Dari data pengamatan yang didapatkan
pada gambar 4.1 ( Kurva nilai kekeruhan tiap waktu terhadap variasi dosis
koagulan) dapat dilihat bahwa dosis koagulan yang terbaik adalah pada
konsentrasi 300 ppm, karena nilai kekeruhan akhir air paling kecil mendekati
nol dengan nilai 10.98 NTU. Berdasarkan data volume endapan akhir yang
terdapat pada tabung Imhoff pada gambar 4.4, dapat diketahui bahwa volume
endapan akhir yang terbentuk paling banyak pada konsentrasi koagulan 300
ppm dengan volume endapan 18 mL.
Berdasarkan laju pengendapan dan effisiensi pada setiap variasi dosis
koagulan pada tabel 4.4 dan tabel 4.5 dapat diketahui dosis koagulan yang
terbaik adalah pada dosis koagulan 300 ppm. Dengan laju pengendapan0.005
mL/s dan effisiensi 64.31 %.
4.2.3 Pembahasan Siti Nazmiati (151411059)

Pada praktikum koagulasi-flokulasi ini sampel yang digunakan yaitu


air limbah laundry. Kekeruhan awal sampel adalah 30.77 NTU, serta pH awal
yaitu 6.73 . Pada proses koagulan, sampel ditambahakan tawas dengan variasi
konsentrasi 300 ppm, 350 ppm, 400 ppm, 450 ppm , 500 ppm dan 550 ppm.

Untuk penentuan dosis terbaik koagulan-flokulan yang digunakan


dapat dilakukan dengan uji jartest yang terdiri dari 6 buah gelas kimia
dilengkapi dengan pengaduk dan pengaturan kecepatan pengaduk serta
dilengkapi 6 buah tabung reaksi dengan posisi sejajar untuk menyamakan
pada saat penambahan koagulan-flokulan pada air dalam setiap gelas kimia
sehingga didapat kurva pada variasi konsentrasi koagulan yang digunakan
terhadap kekeruhan dan volume endapan tiap waktu. Pada saat proses
koagulasi, pengadukan dilakukan secara cepat pada 100 rpm selama 1 menit
untuk mendestabilisasi muatan pada air dan memperbesar peluang kontak
antara koloid dengan koagulan. Dilanjutkan dengan proses flokulasi pada
pengadukan lambat pada 40-60 rpm selama 15 menit agar flok yang terbentuk
lebih besar dan tidak rusak/pecah.
Setelah proses Koagulasi dan Flokulasi dilanjutkan dengan proses
pengendapan pada tabung kerucut Imhoff selama 60 menit. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui volume endapaan serta nilai kekeruhan pada waktu tertentu.
Pengecekan dilakukan setiap 15 menit untuk pengukuran kekeruhan dan
setiap 5 menit untuk pengukuran tinggi endapan. Berdasarkan grafik 4.1,
semakin lama waktu pengendapan maka kekeruhan akan semakin rendah.
Kekeruhan terendah terdapat pada sampel dengan penambahan koagulan 300
ppm. Berdasarkan grafik 4.2, semakin lama waktu pengendapan, maka
semakin tinggi volume endapan. Volume endapan terbesar diperoleh pada
penambahan koagulan 300 ppm yaitu sebesar 18 mL.

Dari tabel 4.5, dapat dilihat bahwa efisiensi kekeruhan terbesar


terdapat pada dosis koagulan 300 ppm yaitu sebesar 64.31 % dengan laju
pengendapan paling cepat 0.005 mL/s . Efisiensi kekeruhan paling besar
menandakan bahwa cuplikan tersebut merupakan cuplikan dengan dosis
paling terbaik. Hal ini ditandai oleh penurunan kekeruhan paling rendah pada
tiap variasi waktu terdapat pada dosis tersebut. Sehingga jika proses koagulasi
pada air baku ini dilakukan dengan konsentrasi koagulan 300 ppm, maka
penurunan kekeruhan air akan lebih efektif dan efisien. Selain itu, pada dosis
terbaik ini menghasilkan volume endapan yang paling banyak, maka dari itu
penurunan kekeruhan pada dosis ini paling besar.
4.2.4 Pembahasan Sunsun Sugianto (151411060)

Pada praktikum ini, dilakukan proses koagulasi yaitu proses destabilisasi koloid
dengan penambahan bahan kimia untuk menetralkan muatan negatif dan flokulasi adalah
proses aglomerasi partikel destabil oleh bahan kimia polimer, menjadi partikel berukuran besar
yang dikenal sebagai flok, yang dapat dipindahkan secara efektif, dengan pengendapan atau
dengan flotasi. Tujuan praktikum ini yaitu mengetahui dosis yang terbaik untuk koagulan yang
digunakan serta mengamati karakteristik proses koagulasi-flokulasi. Pada praktikum ini
dilakukan proses koagulasi-flokulasi menggunakan air baku dari air cucian laundry. Nilai
kekeruhan awal dari air baku adalah 30,77 NTU dan pH 6,73. Berdasarkan literatur yang
digunakan (Cornwell, 1998) pada rentang pH antara 5,0 – 8,0 dapat digunakan koagulan
berupa tawas. Sehingga pada praktikum ini digunakan tawas dengan alasan selain kondisi pH
yang memenuhi yaitu karena ketika tawas terionisasi akan terbentuk Al3+ yang dapat
menarik partikel-partikel koloid bermuatan negatif lebih banyak.
Air baku yang digunakan sebanyak 4,8 liter dengan masing masing bagian (gelas
kimia) 800 ml. Variasi konsentrasi koagulan yang digunakan adalah
(300,350,400,450,500,550)ppm. Proses koagulasi dilakukan dengan menggunakan alat jartest
dengan pengadukan cepat yaitu 100 rpm selama 1 menit. Proses pengadukan secara cepat
dilakukan agar koagulan yang ditambahkan dapat merata dengan semua air baku (homogen)
serta memberikan peluang kepada partikel – partikel kecil untuk dapat membentuk fine flok.
Sedangkan setelah proses koagulasi dilakukan flokulasi dengan pengadukan yang lambat 60
rpm selama 14 menit. Pengadukan pada proses flokulasi dilakukan lambat agar fine flok dapat
membentuk flok –flok yang lebih besar sehingga langsung bergabung dan tidak terpecah
kembali. Flokulan yang digunakan yaitu aquaclear dengan kondisi semua air baku sama yaitu
1 ml ( tidak ada variasi flokulan).

Untuk mengetahui volume endapaan serta nilai kekeruhan pada waktu tertentu maka
dilakukan proses sedimentasi menggunakan kerucut imhoff. Proses dilakukan selama 60 menit
dengan pengukuran nilai kekeruhan pada menit ke-0, menit ke-15, menit ke-30, menit ke-45
dan menit ke-60. Berdasarkan tabel 4.2 nilai kekeruhan menurun dari kondisi awal sebesar
30,77 NTU. Hal ini menunjukan sudah terjadi proses koagulasi-flokulasi tetapi masing masing
kondisi menunjukan nilai kekeruhan yang berbeda karena adanya variasi koagulan.
Berdasarkan tabel 4.2 koagulan dengan konsentrasi 300 ppm memiliki nilai kekeruhan akhir
yang kecil yaitu 10,98 NTU. Volume pengendapan tiap waktu pada tabel 4.3 menunjukan
konsentrasi koagulan 300 ppm memiliki volume yang besar bila dibandingkan dengan variasi
koagulan lainnya yaitu 21 ml dengan laju pengendapan 0.005 ml/s ( berdasarkan tabel 4.2.5).
Namun dari hasil praktikum yang dilakukan volume endapan pada menit ke- 30 mengalami
penurunan volume, dal ini dapat terjadi karena pada endapan yang terbentuk samapai menit
ke-25belum terlalu padat sehingga berada pada posisi yang lebih tinggi, bila dibandingkan
dengan menit ke-30.

Hal yang akan mempengaruhi pengukuran nilai kekeruhan dari setiap air baku yaitu
posisi pipet ukur pada saat pengambilan sampel harus sama dan pada waktu pengambilan yang
hampir sama sampel atau waku pengambilan sampel satu dan lainnya tidak terpaut waktu yang
jauh, karena apabila waktu yang digunakan terpaut terlalu jauh maka akan menghasilkan nilai
kekeruhan yang kurang sesuai karena kondisi pengambilan.

Berdasarkan data yang telah diperoleh konsentrasi koagulan yang terbaik yang
digunakan adalah 300 ppm dengan efisiensi yang dihasilkan berdasarkan tabel 4.2.6 yaitu
64,31 % . nilai efisiensi ini merupakan nilai yang terbesar bila dibandingkan dengan yang
lainnya.
BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil yang didapat, disimpulkan bahwa:
1. Dosis yang terbaik untuk koagulan yang digunakan yaitu 300 ppm
2. Nilai kekeruhan akhir pada variasi dosis Koagulan : 10.98, 19.62, 20.12,
27.99, 24.99, dan 20.73 ppm
3. Ketinggian endapan pada akhir variasi dosis koagulan : 18, 16, 13, 11, 10,
dan 10 mL
4. Laju pengendapan pada proses pengendapan : 0.005, 0.0044, 0.0036,
0.0030, 0.0027 dan 0.0027 mL/s
5. Efisiensi Proses pada setiap variasi dosis Koagulan : 64.31, 36.23, 34.61,
9.03, 18.78, dan 32.62 %
DAFTAR PUSTAKA

Aryansah. 2010. Instalasi Pengolahan Air Bersih. Diunduh pada tanggal 18


Oktober 2017 Pukul 10.49 dari https:// aryansah.wordpress.
com/2010/12/03/instalasi-pengolahan-air-bersih/
Baghvand, Akbar, dkk., 2010, “Optimizing Coagulation Process for Low to
High Turbidity Waters Using Aluminum and Iron Salts”, American
Journal of Environmental Sciences 6 (5) : 442-448, ISSN : 1553-345X.
Brattby, John., 1980, Coagulation and Flocculation with an Emphasis on Water
and Wastewater Treatment, Uplands Press : England.
Eckenfelder W. Wesley, (2000), “Industrial Water Pollution Control” Mc.
Graw Hill
Gebbie, Peter .2005. “A Dummy’s Guide to Coagulants”.68th Annual Water
Industry Engineers and Operators, Conference Schweppes Centre,
Bendigo
Jahagirdar, Shrikant. 2013. “L-17 Coagulation and Flokulation Part-I”.
Environtmental Engineering.
James M Montgomery. 1985. Water Treatment and Principle Design. John
Willey & Sons,Inc. USA
Metcalf & Eddy, (1985), “Wastewater Engineering Treatment Disposal Reuse”,
Tata Mc Graw Hill, New Delhi
Noname.http://www.substech.com/dokuwiki/doku.php?id=stabilization_of_co
lloids
Risdianto, Dian (2007), “Optimisasi Proses Koagulasi Flokulasi untuk
Pengolahan Air Limbah Industri Jamu (Studi Kasus PT. Sido Muncul)”,
Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang.
Ulfa, Rima. 2012. Perbedaan larutan, koloid dan suspense. Diunduh pada
tanggal 18 Oktober 2017 jam 10.25 dari
http://riemjustwill.blogspot.co.id/2012/02/perbedaanlarutan-koloid-
dan-suspensi.html.)
Yumike Mose, 2014 Penerapan Model Pembelajaran Predict-Observe-
Explain (POE) Pada Materi Koloid Untuk Meningkatkan Keterampilan
Berpikir Kritis dan Keterampilan Proses Sains Siswa. Universitas
Pendidikan Indonesia :Bandung
LAMPIRAN

Gambar 1 Sumber Air Baku

Gambar 2 Proses Koagulasi-Flokulasi Gambar 3 Pada Tabung Imhoff


pada Jartest