Anda di halaman 1dari 19

Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting bagi ibu maupun bayinya.

Dalam proses
menyusui, terjadi hubungan yang erat antara ibu dan anak. Seorang ibu, tentu ingin dapat
melaksanakan aktivitas menyusui dengan nyaman dan lancar. Sehingga bayi dapat memperoleh Asi
sebagai makanan pokok bayi sampai bayi berumur 6 bulan.

Air Susu Ibu (ASI) sangatlah penting untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi karena ASI
memiliki banyak kandungan gizi di dalamnya sehingga dapat membuat bayi memperoleh banyak
asupan yang sesuai jika dibandingkan dengan meminum susu formula buatan pabrik-pabrik. Yang
tepat dan benar adalah ibu menyusui bayinya dilakukan sejak pertama kali kelahiran bayi terjadi yaitu
melalui Inisiasi Menyusui Dini (IMD) sampai usia bayi mencapai 2 tahun.

Seringkali muncul kegagalan dalam proses menyusui yang disebabkan karena timbulnya beberapa
masalah, baik masalah pada ibu maupun pada bayi. Pada sebagian ibu yang tidak paham masalah
ini, kegagalan menyusui sering dianggap masalah pada anak saja. Sebenarnya, masalah dari ibu
yang timbul selama menyusui dapat dimulai sejak masa kehamilan, pasca persalinan dini dan lanjut.

Terdapat beberapa permasalahan dalam ibu menyusui yang harus diketahui dan bagaimana
solusinya, agar tidak menjadi penyebab kegagalan dalam menyusui ASI, berikut masalah serta
solusinya pada ibu menyusui adalah :

1. Nipple confusion pada bayi

Masalahnya :

Masalah yang satu ini sering kali kurang diketahui ibu. Nipple confusion atau bingung puting bisa
terjadi pada bayi yang di beri susu dengan menggunakan dot. ketika bayi sudah mengenai dot lalu di
susui juga oleh ibunya maka bayi bisa mengalami kebingungan. Mekanisme menyusu dari botol dan
dari puting ibu jelas berbeda. Sewaktu menyusu pada puting hampir semua bagian mulut bayi ikut
bekerja, otot-otot pipi,gusi,langit-langit dan lidah bekerja sama ketika bayi mengisap puting.
Sedangkan jika menyusu dengan botol, karena dot memiliki lubang maka susu bisa keluar tanpa
banyak usaha. Keadaan yang berbeda ini menyebabkan bayi biasa lebih memilih menyusu dari botol.
Keadaan ini tentunya kurang baik bagi masa menyusui.

Solusinya :

Untuk mengatasi hal-hal yang bisa mencegah terjadinya bingung putting, perlu dilakukan langkah-
langkah: ibu harus mengusahakan agar bayi hanya menyusu pada ibu saja adan sebaiknya jangan
mengenalkan dulu bayi anda dengan dot pada masa-masa awal hidupnya setidaknya sampai bayi
berumur 4 sampai 6 bulan., ibu harus menerapkan cara menyusui yang benar, ibu sebaiknya
menyusui bayi tanpa dijadwal (sesuka bayi), ibu perlu lebih sabar dan lebih telaten ketika menyusui
bayi, sebaiknya ibu melaksanakan perawatan payudara setelah melahirkan secara sistemik dan
teratur

2. Kurang / salah informasi

Masalahnya :

Pemahaman ibu bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih baik dari ASI sehingga cepat
menambah susu formula bila merasa bahwa ASI kurang. Petugas kesehatan pun masih banyak yang
tidak memberikan informasi pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi.

Beberapa contoh kurang / salah informasi adalah, pertama, banyak petugas kesehatan yang tidak
mengetahui bahwa bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer dan sering, sehingga
dikatakan bayi menderita diare dan sering kali petugas kesehatan menyuruh menghentikan
menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat kolostrum memang demikian karena kolostrum
bersifat sebagai laksans.

Kedua, ASI belum keluar pada hari pertama sehingga bayi dianggap perlu diberikan minuman lain,
padahal bayi yang baru lahir cukup bulan dan sehat mempunyai persediaan kalori dan cairan yang
dapat mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa hari. Disamping itu, pemberian
minuman sebelum ASI keluar akan memperlambat pengeluaran ASI oleh bayi menjadi kenyang dan
malas menyusui.

Dan contoh ketiga tentang salah informasi adalah karena payudara berukuran kecil dianggap kurang
menghasilkan ASI padahal ukuran payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau
kurang karena ukuran ditentukan oleh banyaknya lemak pada payudara sedangkan kelenjar
penghasil ASI sama banyaknya walaupun payudara kecil dan produksi ASI dapat tetap mencukupi
apabila manajemen laktasi dilaksanakan dengan baik dan benar.

Solusinya :

Petugas kesehatan harus memberikan informasi yang benar dan tetap kepada ibu disaat
pemeriksaan kehamilan, proses dan pasca persalinan, serta selama ibu menyusui. Informasi yang
perlu diberikan kepada ibu hamil/menyusui antara lain meliputi fisiologi laktasi, keuntungan
pemberian ASI, keuntungan rawat gabung, cara menyusui yang baik dan benar,kerugian pemberian
susu formula dan menunda pemberian makanan lainnya selama 6 bulan (diistilahkan dengan ASI
Eksklusif).

3. Puting susu ibu yang datar atau terbenam

Masalahnya :

Puting susu datar yaitu, apabila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari di belakang puting,
puting yang normal akan menonjol keluar, bila tidak, berarti puting datar. Ketika menyusui puting
menjadi lebih tegang dan menonjol karena otot polos puting berkontraksi. Meskipun demikian, pada
keadaan puting datar akan tetap sulit ditangkap/diisap oleh mulut bayi.

Puting susu terpendam (tertarik ke dalam) yaitu, jika sebagian atau seluruh puting susu tampak
terpendam atau masuk ke dalam areola, atau tertarik ke dalam. Hal ini karena ada sesuatu di
bawahnya yang menarik puting ke dalam, misalnya tumor atau penyempitan saluran susu. Kelainan
puting tersebut seharusnya sudah dapat diketahui sejak hamil atau sebelumnya, sehingga dapat
diperbaiki dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah payudara, kemudian
dilakukan pengurutan menuju ke arah berlawanan. Perlu diketahui, tidak semua kelainan tersebut
dapat dikoreksi dengan cara tersebut. Untuk itu, ibu menyusui dianjurkan untuk mengeluarkan ASI-
nya dengan manual (tangan) atau pompa, kemudian diberikan pada bayi dengan sendok/pipet/gelas.

Solusinya :

Yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah isapan langsung bayi yang kuat. Maka
sebaiknya tidak dilakukan apa-apa, tunggu saja sampai bayi lahir, segera setelah pascalahir lakukan
skin-to-skin kontak dan biarkan bayi mengisap sedini mungkin, biarkan bayi “mencari” putting ibunya
dan kemudian mengisapnya, dan bila perlu coba berbagai posisi untuk mendapat keadaan yang
paling menguntungkan.

Ibu merangsang putingnya biar dapat “keluar” sebelum bayi “mengambil”nya. Apabila puting benar-
benar tidak bisa muncul, dapat “ditarik” dengan pompa putting susu (nipple puller), atau yang paling
sederhana dengan sedotan spuit yang dipakai terbalik. Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan
agar bayi tetap disusui dengan sedikit penekanan pada areola mammae dengan jari sehingga
terbentuk dot ketika memasukkan puting susu ke dalam mulut bayi.

4. Puting susu ibu lecet

Masalahnya :

Pada puting susu ibu lecet, seringkali seorang ibu menghentikan menyusui karena putingnya sakit.
Penyebab dari puting susu ibu lecet diantaranya adalah posisi dan pelekatan yang salah, melepaskan
penghisapan bayi salah, membersihkan putting dengan sabun/alkohol dan bayi dengan tongue tie

Solusinya :
Yang perlu dilakukan adalah cek bagaimana perlekatan ibu-bayi dan apakah terdapat infeksi Candida
(mulut bayi perlu dilihat), kulit merah, berkilat, kadang gatal, terasa sakit yang menetap dan kulit
kering bersisik (flaky).

Pada keadaan puting susu lecet, yang kadang kala retak-retak atau luka, maka dapat dilakukan
dengan cara sebagai berikut :

Ibu terus memberikan ASI nya pada keadaan luka tidak begitu sakit.
Olesi puting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-sekali memberikan obat lain, seperti
krim, salep, dan lain-lain.
Puting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih1x24 jam, dan
biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2×24 jam. Selama puting susu diistirahatkan,
sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan,dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena
nyeri. ASI berikan pada bayi dengan menggunakan sendok.
Cuci payudara sekali saja sehari dengan air mengalir atau air hangat dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan sabun / alkohol karena akan merangsang
iritasi.

5. Payudara bengkak

Masalahnya :

Dibedakan antara payudara penuh karena berisi ASI dengan payudara bengkak. Pada payudara
penuh; rasa berat pada payudara, panas dan keras. Bila diperiksa ASI keluar, dan tidak ada demam.
Pada payudara bengkak; payudara udem, sakit, puting kencang,kulit mengkilat walau tidak merah,
dan bila diperiksa/isap ASI tidak keluar. Badan bisa demam setelah 24 jam. Hal ini terjadi karena
antara lain produksi ASI meningkat, terlambat menyusukan dini, perlekatan kurang baik, mungkin
kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin juga ada pembatasan waktu menyusui.

Solusinya :

Untuk mencegahnya diperlukan menyusui dini, perlekatan yang baik dan menyusui “on demand”/bayi
harus lebih sering disusui. Apabila terlalu tegang, atau bayi tidak dapat menyusui sebaiknya ASI
dikeluarkan dahulu, agar ketegangan menurun.

Dan untuk merangsang Reflex Oxytocin maka dilakukan kompres panas untuk mengurangi rasa
sakit. Ibu harus dalam kondisi rileks, lakukan pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah
payudara). Lakukan pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan ke arah tengah)
serta stimulasi payudara dan puting. Selanjutnya kompres dingin pasca menyusui, untuk mengurangi
bengkak. Pakailah bra yang sesuai dan bila terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik sesuai dengan
anjuran dokter.

6 . Mastitis atau abses payudara

Masalahnya :

Mastitis adalah peradangan pada payudara akibat terjadinya penumpukan ASI di payudara dan
merupakan tahap lanjut dari pembengkakan payudara. Payudara menjadi merah, bengkak
kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada masa padat
(lump), dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah
persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan
kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan
menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/ bra. Pengeluaran ASI yang kurang baik
pada payudara yang besar, terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.

Ada dua jenis Mastitis yaitu, yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective Mastitis dan yang
telah terinfeksi bakteri disebut Infective Mastitis. Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat
mengundang infeksi bakteri.

Solusinya :
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan yaitu kompres hangat/panas dan pemijatan, Rangsang
Oxtocin yang dimulai pada payudara yang tidak sakit, yaitu stimulasi puting, lakukan pijat leher-
punggung, dan lain-lain.

Pemberian antibiotik selama 7-10 hari dari dokter bila dianggap perlu. Bila perlu bisa diberikan
istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri. Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara
yang sakit tidak boleh disusukan karena mungkin memerlukan tindakan bedah.

7. Sindrom ASI kurang

Masalahnya :

Kita sering kali mendengar ada ibu yang tidak menyusui bayinya atau hanya menyusui bayinya
sebentar pada bulan ke satu atau ke dua setelah kelahiran karena alasan ASI yang tidak keluar atau
kurang.

Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang “mungkin saja” ASI benar
kurang antara lain :

bayi tidak puas setiap setelah menyusui, sering kali menyusui, menyusui dengan waktu yang sangat
lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat menyusui. Disangka produksinya berkurang padahal
dikarenakan bayi telah pandai menyusui.
Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusui.
Tinja bayi keras, kering atau berwarna hijau.
Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang), atau ASI tidak “datang”, pasca
lahir.
Walaupun ada tanda-tanda tersebut perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya.

Tanda bahwa ASI benar-benar kurang yang perlu diperhatikan adalah :

1. BB (berat badan) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan.
2. BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali.
3. Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam.
4. Cairan urin pekat, bau dan warna kuning.

Solusinya :

Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada ke 4 kelompok faktor
penyebab yang sering ditemukan, yaitu :

1. Faktor teknik menyusui, keadaan ini yang paling sering dijumpai, antara lain masalah
frekuensi, perlekatan dan penggunaan dot/botol.
2. Faktor psikologis, juga sering terjadi
3. Faktor fisik ibu (jarang), antara lain penggunaan KB kontrasepsi, hamil, merokok, dan
kurang gizi.
4. Faktor kondisi bayi (sangat jarang), seperti penyakit dan abnormalitas.

Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus memberikan isapan
efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana produksi ASI memang tidak memadai maka perlu
upaya yang lebih, misalnya pada relaktasi, maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan
suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada puting
susu ibu untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau formula.

1. Masalah Dalam Pemberian ASI


2. Masalah Menyusui Masa Antenatal
Pada masa antenatal, masalah yang sering timbul adalah: kurang/salah informasi
putting susu terbenam (retracted) atau putting susu datar.
1. Kurang / salah informasi
Banyak ibu yang merasa bahwa susu formula itu sama baiknya atau malah lebih
baik dari ASI sehingga cepat menambah susu formula bila merasa bahwa ASI
kurang. Petugas kesehatanpun masih banyak yang tidak memberikan informasi
pada saat pemeriksaan kehamilan atau saat memulangkan bayi. Sebagai contoh,
banyak ibu/petugas kesehatan yang tidak mengetahui bahwa :

 Bayi pada minggu-minggu pertama defekasinya encer dan sering, sehingga dikatakan
bayi menderita diare dan sering kali petugas kesehatan menyuruh menghentikan
menyusui. Padahal sifat defekasi bayi yang mendapat kolostrum memang demikian
karena kolostrum bersifat sebagai laksans.
 ASI belum keluar pada hari pertama sehingga bayi dianggap perlu diberikan minuman
lain, padahal bayi yang baru lahir cukup bulan dan sehat mempunyai persediaan kalori
dan cairan yang dapat mempertahankannya tanpa minuman selama beberapa hari.
Disamping itu, pemberian minuman sebelum ASI keluar akan memperlambat
pengeluaran ASI oleh bayi menjadi kenyang dan malas menyusu.
 Karena payudara berukuran kecil dianggap kurang menghasilkan ASI padahal ukuran
payudara tidak menentukan apakah produksi ASI cukup atau kurang karena ukuran
ditentukan oleh banyaknya lemak pada payudara sedangkan kelenjar penghasil ASI sama
banyaknya walaupun payudara kecil dan produksi ASI dapat tetap mencukupi apabila
manajemen laktasi dilaksanakan dengan baik dan benar. Informasi yang perlu diberikan
kepada ibu hamil/menyusui antara lain meliputi :
1. Putting susu datar atau terbenam
Putting yang kurang menguntungkan seperti ini sebenarnya tidak selalu menjadi
masalah. Secara umum ibu tetap masih dapat menyusui bayinya dan upaya selama
antenatal umumnya kurang berfaedah, misalnya dengan memanipulasi Hofman,
menarik-narik puting, ataupun penggunaan brest shield.
 Hofman
Cara ini yaitu dengan meregangkan kulit kalang payudara dan jaringan dibawahnya
menggunakan jari telunjuk sehingga putting yang terbenam bisa muncul ke
permukaan.

Cara hofman ini diulangi dengan letak telunjuk dipindah berputar sekeliling putting.

 Menarik-narik putting
 Brest shield
Yang paling efisien untuk memperbaiki keadaan ini adalah isapan langsung bayi
yang kuat. Maka sebaiknya tidak dilakukan apa-apa, tunggu saja sampai bayi lahir,
segera setelah pasca lahir lakukan :

 Skin-to-skin kontak dan biarkan bayi mengisap sedini mungkin


 Biarkan bayi “mencari” putting kemudian mengisapnya, dan bila perlu coba berbagai
posisi untuk mendapat keadaan yang paling menguntungkan. Rangsang putting biar dapat
“keluar” sebelum bayi “mengambil”nya. Apabila putting benar-benar tidak bisa muncul,
dapat “ditarik” dengan pompa putting susu (nipple puller), atau yang paling sederhana
dengan sedotan spuit yang dipakai terbalik.
1. Nippler puller
Alat ini merupakan alat yang digunakan saat dimana putting susu ibu benar-benar
tidak mau muncul sama sekali.
Penggunaan dengan cara menggunakan nippler puller hanya dibolehkan dilakukan
setelah melahirkan. Mengapa hal ini hanya boleh dilakukan setelah melahirkan, hal
tersebut dikarenakan penarikan puting bisa memicu kontraksi dini dan bisa berakibat
pada kelahiran prematur.

Berikut langkah-langkah untu membuat Nipple Puller yaitu :

 Lepaskan bagian penyedot dari tabung suntikan


 Potong bagian ujung depan dengan pisau tajam. Hati-hati pisau bisa mengenai tangan.
 Pasang kembali penyedot dari bagian depan yang telah dipotong.
 Suntikan bisa dilakukan untuk menyedot puting anda yang tenggelam antara 30 detik
sampai dengan 1 menit. Lakukan setiap kali anda mau menyusui bayi.
 Jika tetap mengalami kesulitan, usahakan agar bayi tetap disusui dengan sedikit
penekanan pada areola mammae dengan jari sehingga terbentuk dot ketika memasukkan
putting susu ke dalam mulut bayi.
 Bila terlalu penuh ASI dapat diperas dahulu dan diberikan dengan sendok atau cangkir,
atau teteskan langsung ke mulut bayi. Bila perlu lakukan ini hingga 1-2
2. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Dini
Pada masa ini, kelainan yang sering terjadi antara lain : putting susu datar, atau
terbenam, putting susu lecet, payudara bengkak, saluran susu tersumbat dan
mastitis atau abses.

1. Putting susu nyeri


Umumnya ibu sering merasa nyeri pada waktu awal menyusui. Perasaan sakit ini
akan berkurang setelah ASI keluar. Perasaan sakit ini akan berkurang setelah ASI
keluar. Bila posisi mulut bayi dan putting susu benar perasaan nyeri akan segera
hilang.

Cara menangani :

 Pastikan posisi menyusui sudah benar


 Mulailah menyusui pada putting susu yang tidak sakit guna membantu mengurangi rasa
sakit.
 Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI, oleskan diputing susu dan biarkan puting
susu terbuka untuk beberapa waktu sampai puting susu kering.
1. Putting susu lecet
Putting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi lecet.
Umumnya akan menyusui akan menyakitkan dan kadang-kadang mengeluarkan
darah. Putting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi
dapat pula disebabkan oleh trush (candidates) atau dermatitis.

Pada keadaan ini seringkali seorang ibu menghentikan menyusui karena putingnya
terasa sakit. Hal yang perlu dilakukan adalah :

 Cek bagaimana perlekatan ibu dan bayi


 Apakah terdapat Infeksi Candida (mulut bayi perlu dilihat). Apakah terdapat kulit yang
merah, berkilat, kadang gatal, terasa sakit yang menetap, dan kulit bersisik (flaky).
Pada keadaan putting susu lecet yang kadang kala retak-retak atau luka, maka
dapat ditangani dengan cara sebagai berikut :

 Ibu dapat terus memberikan ASInya pada keadaan luka tidak begitu sakit.
 Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-sekali memberikan obat
lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.
 Putting susu yang sakit dapat diistirahatkan untuk sementara waktu kurang lebih 1×24
jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu sekitar 2×24 jam.
 Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan dengan tangan, dan
tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
 Cuci payudara sekali saja sehari dan tidak dibenarkan untuk menggunakan sabun.
1. Payudara bengkak
Bedakan antara payudara penuh karena berisi ASI dengan payudara bengkak. Pada
payudara penuh rasa berat pada payudara, tersa panas dan keras. Bila diperiksa
ASI keluar dan tidak ada demam. Pada payudara bengkak, payudara udem, terasa
sakit, puting kencang, kulit mengkilat walau tidak merah dan bila diperiksa/isap ASI
tidak keluar. Badan bisa demam setelah 24 jam. Hal ini terjadi karena antara lain
produksi ASI meningkat, terlambat menyusukan dini, perlekatan kurang baik,
mungkin kurang sering ASI dikeluarkan dan mungkin juga ada pembatasan waktu
menyusui. Untuk mencegah terjadinya putting bengkak maka diperlukan :

1. Menyusui dini
2. Perlekatan yang baik
3. Menyusui “on demand”/ Bayi harus lebih sering disusui. Frekuensi menyusui ini
setidaknya adalah 10 kali dalam 24 jam, atau lebih jika memang bayi menginginkannya.
Apabila terlalu tegang atau bayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu
agar ketegangan menurun.
Dan untuk merangsang reflex Oxytocin maka dilakukan :

 Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit


 Ibu harus rileks
 Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara
 Pijat ringat pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan kea rah tengah)
 Stimulasi payudara dan putting. Selanjutnya kompres dingin pasca menyusui, untuk
mengurangi udem. Pakailah BH yang sesuai dan bila terlalu sakit dapat diberikan obat
analgetik.
1. Mastitis atau abses payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak
kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas/suhu tubuh meningkat. Di dalam terasa ada
masa padat (lump), dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada
masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu
yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau
pengisapan yang tak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara
dengan jari atau karena tekanan baju/BH. Pengeluaran ASI yang kurang baik pada
payudara yang besar terutama pada bagian bawah payudara yang menggantung.
Ada dua jenis Mastitis yaitu yang hanya karena milk stasis adalah Non Infective
Mastitis dan yang telah terinfeksi bakteri yaitu iInfective Mastitis.
Lecet pada puting dan trauma pada kulit juga dapat mengundang infeksi bakteri.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan:

 Kompres hangat/panas dan pemijatan


 Rangsang Oxtocin dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu stimulasi putting, pijat
leher-punggung dan lain-lain.
 Pemberian antibiotik Flucloxacilin atau Erythromycin selama 7-10 hari.
 Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.
 Kalau sudah terjadi abses sebaiknya payudara yang sakit tidak boleh disusukan karena
mungkin memerlukan tindakan bedah.
3. Masalah Menyusui Pada Masa Pasca Persalinan Lanjut
Yang termasuk dalam masa pasca persalinan lanjut adalah sindrom ASI kurang dan
ibu bekerja.

1. Sindrom ASI kurang


Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang “mungkin
saja” ASI benar kurang antara lain:

 Bayi tidak puas setiap setelah menyusui, sering kali menyusu, menyusu dengan waktu
yang sangat lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat menyusu. Disangka produksinya
berkurang padahal dikarenakan bayi telah pandai menyusu.
 Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu.
 Tinja bayi keras, kering atau berwarna hijau.
 Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang), atau ASI tidak
“datang”, pasca lahir.
Walaupun ada tanda-tanda tersebut perlu diperiksa apakah tanda-tanda tersebut
dapat dipercaya. Tanda bahwa ASI benar-benar kurang antara lain :

 BB (berat badan) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500 gram per bulan
 BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali.
 Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam; cairan urin pekat, bau dan berwarna
Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada ke 4
kelompok faktor penyebab :

1. Faktor teknik menyusui, keadaan ini yang paling sering dijumpai antara lain masalah
frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol dan lain-lain
2. Faktor psikologis, juga sering terjadi
3. Faktor fisik ibu (jarang), antara lain KB, kontrasepsi, diuretic, hamil, merokok, kurang
gizi dan lain-lain.
4. Sangat jarang adalah factor kondisi bayi, misalnya penyakit, abnormalitas dan lain-lain.
Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus
memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana produksi
ASI memang tidak memadai maka perlu upaya yang lebih, misalnya
pada relaktasi maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan
suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan
pada puting untuk diisap dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI atau formula.
Persiapan Relaktasi :
Bila sudah mantap memutuskan untuk melakukan relaktasi, berikut adalah
persiapan awal yang dapat dilakukan adalah :

 Pastikan cukup makan dan minum. Mulai meningkatkan konsumsi protein dan cairan ke
dalam menu makan sehari-hari untuk membantu mempercepat tubuh dalam memproduksi
ASI.
 Mintalah kepada dokter obat yang dapat membantu tubuh dalam memproduksi ASI, atau
mulai mengkonsumsi jamu ataupun jenis makanan lainnya yang dipercaya dapat
meningkatkan produksi ASI.
 Banyak beristirahat. Mulailah mendelegasikan pekerjaan-pekerjaan rumah yang sekiranya
bisa delegasikan, karena akan menghabiskan hampir seluruh waktu bersama bayi selama
minggu-minggu pertama program relaktasi.
 Kurangi jadwal kegiatan diluar rumah, dalam minggu-minggu pertama masa relaktasi
sedapat mungkin menghabiskan waktu 24 jam dalam sehari bersama bayi.
 Tingkatkan skin to skin contact dengan bayi. Tidurlah bersamanya baik pada malam
maupun siang hari, dekaplah dan gendonglah sesering mungkin. Katakan kepadanya
bahwa aku sangat mencintaimu, dan ingin memberikan yang terbaik untuknya.
 Sebisanya mungkin seluruh pekerjaan yang berkaitan dengan bayi dikerjakan sendiri,
seperti memandikan, menggantikan popok, menidurkan dan mengajaknya bermain.
 Berlatih memposisikan bayi pada payudara. Cobalah dengan berbagai cara untuk
menemukan kembali posisi yang paling nyaman ketika mulai menyusui.
Cara Melakukan Relaktasi :

Relaktasi hanya bisa dilakukan dengan satu cara, yaitu : membiarkan bayi menyusu
sesering mungkin pada payudara. Frekuensi menyusui ini setidaknya adalah 10 kali
dalam 24 jam, atau lebih jika memang bayi menginginkannya.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat tempuh untuk meningkatkan frekuensi


menyusui bayi.

 Cobalah untuk menyusui bayi setiap 2 jam sekali.


 Biarkan bayi menyusu kapan pun, setiap kali ia terlihat berminat.
 Sebaiknya membiarkan bayi mengisap payudara sekitar 30 menit setiap kali ia menyusu,
jika dimungkinkan. Atau secara bertahap dapat ditingkatkan durasi menghisapnya
tersebut, dimulai dari sekurangnya 15 menit pada saat menyusu.
 Usahakan untuk selalu bersama bayi terutama pada malam hari ketika hormon prolaktin
(penghasil ASI) sedang banyak-banyaknya dihasilkan.
 Sebagai langkah awal harus memberikan seporsi penuh susu (formula atau Asper) sesuai
dengan berat badan bayi, atau dalam jumlah yang sama seperti yang dikonsumsi
sebelumnya.
 Segera setelah ASI mulai keluar sedikit, porsi susu (formula atau ASIP) tersebut dapat
dikurangi sebanyak 30-60ml dalam sehari, sampai habis.
 Jika bayi kadang-kadang masih menyusu, pasokan ASI dapat meningkat dalam beberapa
hari. Jika bayi sudah berhenti menyusu, mungkin diperlukan beberapa minggu untuk
menghasilkan kembali pasokan ASI.
 Lama berhenti menyusui dapat dijadikan tolak ukur kasar mengenai jangka waktu
relatasi. Jika baru berhenti menyusui, maka dibutuhkan waktu yang tidak lama untuk
menghasilkan kembali pasokan ASI. Namun, jika telah berhenti menyusui lama, mungkin
akan dibutuhkan waktu yang lama pula untuk menghasilkan ASI kembali.
 Relaktasi lebih mudah jika bayi sangat muda (kurang dari 3 bulan), daripada jika bayi
berumur lebih dari 6 bulan. Namun, relaktasi dimungkinkan pada usia berapa saja.
 Relaktasi lebih mudah jika bayi baru saja berhenti menyusu dibandingkan dengan bayi
yang sudah lebih lama berhenti menyusu. Namun, relaktasi dimungkinkan kapan saja.
 Pastikan bahwa ketika menyusui, posisi badan, posisi badan dan posisi pelekatan bayi
sudah benar, nyaman dan tepat.
 Sebaiknya mengurangi sexara bertahap pemberian makanan (susu formula) lewat botol
yang menggunakan dot bayi. Gantilah dengan metode pemberian melalui cangkir,
sendok, pipet ataupun dengan jari tangan. Sebaiknya tidak memberikan empeng pada
bayi. Gantilah kebiasaan comfort sucking bayi pada empeng dengan comfort sucking
pada payudara.
 Jika bayi menolak mengisap payudara yang ’kosong’, dapat memberikan susu (formula
atau ASIP) pada saat bayi sedang mengisap payudara dengan memeriksa secara teratur
apakah bayi tidak kekurangan nutrisi. Hal itu dilakukan dengan memantau kenaikan berat
badannya, yaitu sekurangnya 500gr dalam sebulan, dan frekuensi harian BAK (5-6 kali).
1. Ibu yang bekerja
Seringkali alasan pekerjaan membuat seseorang ibu berhenti menyusui.
Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang
bekerja :

1. Susuilah bayi sebelum ibu bekerja.


2. ASI dikeluarkan untuk persediaan di rumah sebelum berangkat kerja.
3. Pangosongan payudara di tempat kerja setiap 3-4 jam.
4. ASI dapat disimpan dilemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja
dengan cangkir.
5. Pada saat ibu dirumah, sesering mungkin bayi disusui, dan ganti jadwal menyusuinya
sehingga banyak menyusui di malam hari.
6. Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai
dipraktekkan sejak satu bulan sebelum kembali bekerja.
7. Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama
menyusui b
4. Masalah Menyusui Pada Keadaan Khusus
5. Ibu melahirkan dengan bedah Caesar
Segera rawat gabung jika kondisi ibu dan bayi membaik dan menyusui segera.
Posisi menyusui yang dianjurkan adalah :

1. Ibu dapat dalam posisi miring dengan bahu dan kepala yang ditopang bantal, sementara
bayi disusukan dengan kakinya kearah ibu.
2. Apabila ibu sudah dapat duduk bayi dapat ditidurkan dibantal diatas pangkuan ibu dengan
posisi bayi mengarah kebelakang ibu dibawah lengan ibu.
3. Dengan posisi memegang bola yaitu ibu telentang dan bayi berada diketiak ibu dengan
kaki kearah atas dan tangan ibu memegang kepala bayi.
4. Ibu sakit
Ibu yang menderita Hepatitis dan AIDS, tidak diperkenankan untuk menyusui namun
pada masyarakat yang tidak dapat membeli PASI, ASI tetap dianjurkan.

1. Ibu hamil
Tidak ada bahaya bagi ibu maupun janin namun perlu diperhatikan untuk makan
lebih banyak dan jelaskan perubahan yang dapat terjadi yaitu ASI berkurang dan
bisa terjadi kontraksi uterus.

1. Masalah Pemberian ASI “Masalah Pada Bayi”


2. Bayi sering menangis
Perhatikan sebab bayi menangis, jangan biarkan bayi menangis terlalu lama,
puaskan menyusu. Sebab bayi menangis :

 Bayi merasa tidak aman


 Bayi merasa sakit
 Bayi Basah
 Bayi kurang gizi
Tindakan ibu : ibu tidak perlu cemas karena akan mengganggu proses laktasi,
perbaiki posisi menyusui, periksa pakaian bayi apakah basah, jangan biarkan bayi
menangis terlalu lama.

1. Bayi bingung putting


Nipple Confusion adalah keadaan yang terjadi karena bayi mendapat susu formula
dalam botol berganti-ganti dengan menyusu pada ibu. Terjadi karena mekanisme
menyusu pada puting berbeda dengan botol. Menyusu pada ibu memerlukan kerja
otot-otot pipi, gusi, langit-langit dan lidah. Sebaliknya pada menyusu botol bayi
secara pasif dapat memperoleh susu secara bantuan. Yang menentukan pada
menyusu botol adalah factor dari si pemberi antara lain kemiringan botol atau
tekanan gravitasi susu, besar lubang dan ketebalan karet dot.
Tanda-tanda bayi bingung putting:

1. mengisap puting seperti menghisap dot


2. Menghisap terbutus-putus dan sebentar
3. Bayi menolak menyusu.
Karena itu untuk menghindari bayi bingung putting yang harus dilakukan yaitu
sebagai berikut :

1. Jangan mudah mengganti ASI dengan susu formula tanpa indikasi (medis) yang adekuat.
2. Jika terpaksa harus memberikan susu formula berikan dengan sendok atau
3. Bayi premature
Bayi kecil. Premature atau dengan berat badan lhir rendah (BBLR) mempunyai
masalah menyusui karena reflex menghisapnya masih relative lemah. Oleh
karenanya bayi kecil justru harus lebih cepat dan lebih sering dilatih menyusu.
Berikan sesering mungkin walaupun waktu menyusunya pendek. Untuk merangsang
menghisap sentuhlah langit-langit bayi dengan jari ibu yang bersih. Bila bayi dirawat
di RS, harus sering dijenguk, dilihat, disentuh dengan kasih sayang, dan bila
memungkinkan disusui langsung. Bila belum menyusu, ASI dikeluarkan dengan
tangan, atau pompa, yang kemudian diberikan dengan sendok atau cangkir.

1. Bayi kuning
Kuning dini terjadi pada bayi usia antara 2-10 hari. Bayi kuning lebih sering terjadi
dan lebih berat kasus nya pada bayi-bayi yang tidak mendapat ASI cukup. Warna
kuning disebabkan kadar bilirubin yang tinggi dalam darah (hiperbilirubinemia) yang
dapat terlihat pada kulit dan sclera (putih mata). Pada orang dewasa terlihat kuning
bila kadar bilirubin serum mencapai kira-kira 2 mg/100ml, tetapi pada bayi baru lahir
jarang terjadi sebelum mencapai kadar 5mg/100ml.

Untuk mencegah warna kuning tidak lebih berat bayi jelas membutuhkan lebih
banyak menyusu. Yang harus dilakukan adalah mulai menyusui segera setelah lahir
dan susui bayi sesering mungkin tanpa dibatasi. Menyusui dini sangat penting
karena bayi akan mendapat kolostrum atau jolong (susu awal). Kolostrum bersifat
purgative ringan sehingga membantu bayi untuk mengeluarkan mekonium (feses
bayi pertama yang berwarna kehitaman). Kolostrum berfungsi mencegah dan
menghilangkan bayi kuning.

1. Bayi kembar
Ibu optimis ASI nya cukup dan susui dengan football position. Jika ibu menyusui
secara bersama-sama, bayi haruslah menyusu pada payudara secara bergantian
jangan hanya menetap pada satu payudara saja. Alasannya ialah, kecuali member
variasi kepada bayi (dia juga tidak hanya menatap satu sisi terus, agar tidak juling),
juga kemampuan menyusu masing-masing bayi mungkin berbeda sehingga
memberikan kesempatan pada perangsang putting untuk terjadi seoptimal mungkin.
1. Bayi sakit
Tidak ada alasan untuk menghentikan pemberian ASI. Untuk bayi tertentu seperti
diare, justru membutuhkan lebih banyak ASI untuk rehidrasi. Yakinkan ibu bahwa
alam telah menyiapkan air susu bagi semua makhluk, sesuai dengan kebutuhan.
Oleh karena itu semua ibu sebenarnya sanggup menyusui bayi kembar.

1. Bayi sumbing
Bayi sumbing tidak akan mengalami kesulitan dalam menyusui, cukup dengan
memberikan posisi yang sesuai untuk bayi yang sumbing pallatum molle ( langit-
langit lunak) maupun yang termasuk pallatum durum (langit-langit keras) banyak
manfaat menyusui bagi bayi sumbing diantaranya yaitu melatih kekuatan otot rahang
dan lidah, memperbaiki perkembangan bicara, mengurangi resiko terjadinya otitis
media.

Untuk bayi dengan palatoskisis (celah pada langit-langit) dianjurkan menyusui


dengan posisi duduk, puting dan areola dipegang saat menyusui, ibu jari ibu
digunakan sebagai penyumbat lubang, kalau mengalami labiopalatoskisis, berikan
ASI dengan sendok, pipet attau botol dengan dot yang panjang sehingga ASI dapat
masuk dengan sempurna. Dengan cara ini maka bayi akan belajar menghisap dan
menelan ASI dan menyesuaikan dengan irama pernapasannya.

1. Bayi dengan lidah pendek ( Lingual Frenulum )


Keadaan ini jarang terjadi, dimana bayi mempunyai jaringan ikat penghubung lidah
dan dasar mulut yang tebal dan kaku sehingga membatasi gerak lidah dan bayi tidak
dapat menjulurkan lidah untuk menangkap puting.

Cara menyusui bayi dengan lidah pendek yaitu dengan cara ibu dapat membantu
dengan menahan kedua bibir bayi segera setelah bayi dapat menangkap puting dan
areola dengan benar. Pertahankan kedudukan kedua bibir bayi agar posisi tidak
berubah-ubah.

1. Bayi yang memerlukan perawatan


Bila bayi sakit dan memerlukan perawatan padahal bayi masih menyusu pada ibu,
baiknya bila ada fasilitas ibu ikut dirawat supaya pemberian ASI bisa dilanjutkan.
Seandainya tidak memungkinkan ibu dianjurkan untuk memerah ASI setiap 3 jam
dan disimpan didalam lemari untuk kemudian sehari sekali daiantar kerumah sakit.
Perlu diberikan tanda pada botol waktu ASI tersebut ditampung, sehingga dapat
diberikan sesuai jamnya.

MASALAH YANG SERING DIHADAPI IBU MENYUSUI

Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting bagi ibu maupun bayinya.
Dalam proses menyusui, terjadi hubungan yang erat antara ibu dan anak. Seorang
ibu, tentu ingin dapat melaksanakan aktivitas menyusui dengan nyaman dan lancar.
Namun, terkadang ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan dalam menyusui.

Berikut ini kami paparkan masalah-masalah yang sering dialami oleh seorang ibu,
sehubungan dengan menyusui dan cara mengatasinya.

PAYUDARA BENGKAK
Sekitar hari ketiga atau keempat sesudah ibu melahirkan, payudara sering terasa
lebih penuh, tegang, serta nyeri. Keadaan seperti itu disebut engorgement
(payudara bengkak), yang disebabkan oleh adanya statis di vena dan pembuluh
darah bening. Ini merupakan tanda bahwa ASI mulai banyak disekresi. Jika dalam
keadaan tersebut ibu menghindari menyusui karena alasan nyeri, lalu memberi
prelacteal feeding (makanan tambahan) pada bayi, keadaan tersebut justru
berlanjut. Payudara akan bertambah bengkak atau penuh, karena sekresi ASI terus
berlangsung, sementara bayi tidak disusukan, sehingga tidak terjadi perangsangan
pada puting susu yang mengakibatkan refleks oksitosin tidak terjadi dan ASI tidak
dikeluarkan.

Jika hal ini terus berlangsung, ASI yang disekresi menumpuk pada payudara dan
menyebabkan areola (bagian berwarna hitam yang melingkari puting) lebih
menonjol, puting menjadi lebih datar dan sukar dihisap oleh bayi ketika disusukan.
Bila keadaan sudah sampai seperti ini, kulit pada payudara akan nampak lebih
merah mengkilat, terasa nyeri dan ibu merasa demam seperti influenza.

Untuk mencegah terjadinya payudara bengkak, beberapa cara yang dianjurkan


antara lain sebagai berikut:
• Susukan bayi segera setelah lahir, apabila keadaan memungkinkan.
• Susukan bayi tanpa dijadwal (on demand atau sesuka bayi).
• Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi.
• Lakukan perawatan payudara pasca persalinan secara teratur.
• Keluarkan sedikit ASI sebelum menyusui agar payudara lebih lembek, sehingga
puting lebih mudah ditangkap/diisap oleh bayi.
• Berikan kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit pada payudara.
• Berikan kompres hangat sebelum menyusui untuk memudahkan bayi mengisap
(menangkap) puting susu.
• Lakukan pengurutan (massage) payudara yang dimulai dari puting ke arah
payudara, untuk mengurangi peningkatan peredaran darah dan terjadinya statis di
pembuluh darah dan pembuluh getah bening dalam payudara

KELAINAN PUTING SUSU


Kebanyakan ibu tidak memiliki kelainan anatomis payudara. Meskipun demikian,
kadang-kadang dijumpai juga kelainan anatomis yang menghambat kemudahan
bayi untuk menyusui. Misalnya, puting susu datar atau puting susu terpendam
(tertarik ke dalam). Disamping kelainan anatomis, kadang dijumpai pula kelainan
puting yang disebabkan oleh suatu proses, misalnya tumor.

Puting susu datar yaitu, apabila areola dijepit antara jari telunjuk dan ibu jari di
belakang puting, puting yang normal akan menonjol keluar, bila tidak, berarti puting
datar. Ketika menyusui puting menjadi lebih tegang dan menonjol karena otot polos
puting berkontraksi. Meskipun demikian, pada keadaan puting datar akan tetap sulit
ditangkap/diisap oleh mulut bayi.

Puting susu terpendam (tertarik ke dalam) yaitu, jika sebagian atau seluruh puting
susu tampak terpendam atau masuk ke dalam areola, atau tertarik ke dalam. Hal ini
karena ada sesuatu di bawahnya yang menarik puting ke dalam, misalnya tumor
atau penyempitan saluran susu. Kelainan puting tersebut seharusnya sudah dapat
diketahui sejak hamil atau sebelumnya, sehingga dapat diperbaiki dengan
meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah payudara, kemudian dilakukan
pengurutan menuju ke arah berlawanan. Perlu diketahui, tidak semua kelainan
tersebut dapat dikoreksi dengan cara tersebut. Untuk itu, ibu menyusui dianjurkan
untuk mengeluarkan ASI-nya dengan manual (tangan) atau pompa, kemudian
diberikan pada bayi dengan sendok/pipet/gelas.

PUTING SUSU NYERI DAN PUTING SUSU LECET


Puting susu nyeri pada ibu menyusui, biasanya terjadi karena beberapa sebab
sebagai berikut.
• Posisi bayi saat menyusu yang salah. Yaitu puting susu tidak masuk ke dalam
mulut bayi sampai pada areola, sehingga bayi hanya mengisap pada puting susu
saja. Hisapan atau tekanan terus-menerus hanya pada tempat tertentu akan
menimbulkan rasa nyeri waktu diisap, meskipun kulitnya masih utuh.
• Pemakaian sabun, lotion, cream, alkohol dan lain-lain yang dapat mengiritasi
puting susu.
• Tali lidah (frenulum linguae) bayi pendek, sehingga menyebabkan bayi sulit
mengisap sampai areola dan isapan hanya pada putingnya saja.
• Kurang hati-hati ketika menghentikan menyusu (mengisap).

Puting susu nyeri, biasanya dapat disembuhkan setelah memperhatikan tehnik


menyusui yang benar, khususnya letak puting dalam mulut bayi. Yaitu bibir bayi
menutup areola, sehingga tidak nampak dari luar, puting di atas lidah bayi, areola di
antara gusi atas dan bawah.

Untuk menghindari puting susu nyeri atau lecet, perlu diperhatikan hal-hal sebagai
berikut.

• Tidak membersihkan puting susu dengan sabun, alkohol, lotion, cream, dan obat-
obat yang dapat mengiritasi.
• Sebaiknya selesai menyusukan untuk melepaskan hisapan bayi, tekanlah dagu
bayi atau pijit hidungnya, atau masukkan jari kelingking ibu yang bersih ke mulut
bayi.
• Ibu dianjurkan tetap menyusui bayinya mulai dari puting yang tidak sakit serta
menghindari tekanan lokal pada puting dengan cara merubah-rubah posisi
menyusui. Untuk puting yang sakit dianjurkan mengurangi frekuensi dan lamanya
menyusui.

Apabila dengan tindakan tersebut di atas puting tetap nyeri, sebaiknya dicari sebab-
sebab lain, misalnya moniliasis. Puting susu lecet/luka akan memudahkan terjadinya
infeksi pada payudara (mastitis).

SALURAN SUSU TERSUMBAT


Saluran susu tersumbat (obstructive duct), adalah suatu keadaan terjadinya
sumbatan pada satu atau lebih saluran susu yang disebabkan oleh tekanan jari
waktu menyusui, atau pemakaian BH yang terlalu ketat. Hal ini juga dapat terjadi
karena komplikasi payudara bengkak yang berlanjut, yang mengakibatkan
kumpulan ASI dalam saluran susu tidak segera dikeluarkan sehingga merupakan
sumbatan. Sumbatan ini, pada wanita yang kurus dapat terlihat dengan jelas
sebagai benjolan yang lunak pada perabaannya.
Untuk mengatasi terjadinya saluran susu tersumbat (obstructive duct), ada
beberapa hal yang dianjurkan.

• Sebaiknya ibu melakukan perawatan payudara setelah melahirkan dengan teratur,


agar tidak terjadi stasis dalam payudara yang mengakibatkan terjadinya radang
payudara (mastitis).
• Gunakan BH dengan desain menopang (menyangga), bukan menekan payudara.
• Keluarkan ASI setiap kali selesai menyusui bila payudara masih terasa penuh.

Sumbatan saluran susu ini harus segera diatasi, karena dapat berlanjut menjadi
radang payudara. Untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara, dapat
diberikan kompres hangat dan dingin. Yaitu kompres hangat sebelum menyusui
dengan tujuan mempermudah bayi mengisap puting susu, dan kompres dingin
setelah menyusui untuk mengurangi rasa nyeri dan bengkak pada payudara.

RADANG PAYUDARA
Radang payudara (mastitis) adalah infeksi yang menimbulkan reaksi sistemik
(seperti demam) pada ibu. Hal ini biasanya terjadi pada 1-3 pekan setelah
melahirkan dan sebagai komplikasi saluran susu tersumbat. Keadaan ini, biasanya
diawali dengan puting susu lecet/luka. Gejala-gejala yang bisa diamati pada radang
payudara, antara lain kulit nampak lebih merah, payudara lebih keras serta nyeri,
dan berbenjol-benjol.

Untuk mengatasi hal tersebut, ibu dianjurkan agar tetap menyusui bayinya, supaya
tidak terjadi stasis dalam payudara yang cepat menyebabkan terjadinya abses. Ibu
perlu mendapatkan pengobatan (antibiotika, antipiretik/penurun panas, dan
analgesik/pengurang nyeri), serta banyak minum dan istirahat untuk mengurangi
reaksi sistemik (demam).

Bilamana mungkin, ibu dianjurkan melakukan senam laktasi (senam menyusui).


Yaitu menggerakkan lengan secara berputar, sehingga persendian bahu ikut
bergerak ke arah yang sama. Gerakan demikian ini akan membantu memperlancar
peredaran darah dan limfe di daerah payudara, sehingga statis dapat dihindari. Yang
berarti dapat mengurangi kemungkinan terjadinya abses payudara.

ABSES PAYUDARA
Kelanjutan/komplikasi dari radang payudara akan menjadi abses. Hal ini disebabkan
oleh meluasnya peradangan dalam payudara tersebut, dan menyebabkan ibu
tampak lebih parah sakitnya, payudara lebih merah mengkilap, benjolan tidak
sekeras seperti pada radang payudara (mastitis), tetapi tampak lebih
penuh/bengkak berisi cairan. Bila payudara seperti ini, maka perlu segera
diperiksakan ke dokter ahli supaya mendapat tindakan medis yang cepat dan tepat.
Mungkin perlu dilakukan tindakan insisi untuk drainase, pemberian antibiotik dosis
tinggi dan anlagesik.

Ibu dianjurkan banyak minum dan istirahat. Bayi dihentikan untuk menyusui
sementara waktu pada payudara sakit, dan setelah sembuh dapat disusukan
kembali. Jadi, bayi tetap bisa menyusui pada payudara yang sehat tanpa dijadwal
(sesuka bayi).

AIR SUSU IBU KURANG


Banyak di kalangan para ibu yang mengira, bahwa mereka tidak mempunyai cukup
banyak ASI untuk bayinya, sehingga keinginan untuk menambah susu formula atau
makanan tambahan sangat besar. Dugaan makin kuat apabila bayi sering menangis,
ingin selalu menyusu pada ibunya dan terasa kosong/lembek meskipun produksi ASI
cukup lancar.

Menilai kecukupan ASI, sebenarnya bukan dari hal tersebut, tetapi terutama dari
berat badan bayi. Apabila ibu mempunyai status gizi yang baik, cara menyusui
benar, secara psikologis percaya diri akan kemauan dan kemampuan untuk bisa
menyusui bayinya serta tidak ada kelainan pada payudaranya, maka akan terjadi
kenaikan berat badan pada 4-6 bulan pertama usia bayi. Untuk mengetahui tingkat
kenaikan berat ini, dapat dilihat, misalnya dari KMS (Kartu Menuju Sehat) yang diisi
setiap kali penimbangan di Posyandu. Apabila tidak terjadi kenaikan berat badan
bayi sesuai dengan usianya, biasanya hal ini disebabkan oleh jumlah ASI yang tidak
mencukupi, sehingga diperlukan tambahan sumber gizi yang lain.

BAYI BINGUNG PUTING


Istilah bingung puting dipakai untuk menggambarkan keadaan bayi yang
mengalami nipple confusion, karena diberi susu formula dalam botol bergantian
dengan menyusu pada ibu. Mekanisme menyusu dan minum dari botol sangat
berlainan. Untuk menyusui bayi memerlukan usaha yang “lebih” dari minum susu
dari botol.

Saat menyusu pada ibu, bayi mempergunakan otot-otot pipi, gusi, palatum durum
(langit-langit) dan lidah untuk menarik dan mengurut puting serta areolanya untuk
membentuk suatu “dot”, kemudian ditekan oleh gusi atas dan bawah, sehingga
sinus laktiferus tertekan dan keluarlah ASI. Selanjutnya, dengan gerakan yang
teratur ASI diisap dan ditelan. Tidak demikian ketika bayi mendapat minuman dari
botol, sebab dot mempunyai lubang, sehingga tanpa berusaha keras bayi dapat
menelan susu karena susu dapat terus keluar tanpa diisap.

Oleh sebab itu, kenapa bayi yang terbiasa minum dari botol (dot) akan sulit dan
enggan menyusu dari ibunya. Ibu yang menggunakan botol dan dot, biasanya
beralasan produksi ASI-nya kurang, atau ibu sakit, misalnya payudaranya bengkak,
puting susu nyeri atau lecet dan sebagainya.

Tanda-tanda bayi bingung putting, di antaranya, bayi mengisap puting seperti


mengisap dot, waktu menyusu, bayi mengisapnya terputus-putus atau tersendat-
sendat, atau bayi menolak menyusu ibu.

Untuk mengatasi hal-hal yang bisa mencegah terjadinya bingung putting, perlu
dilakukan langkah-langkah: ibu harus mengusahakan agar bayi hanya menyusu
pada ibu saja, ibu harus menerapkan cara menyusui yang benar, ibu sebaiknya
menyusui bayi tanpa dijadwal (sesuka bayi), ibu perlu lebih sabar dan lebih telaten
ketika menyusui bayi, sebaiknya ibu melaksanakan perawatan payudara setelah
melahirkan secara sistemik dan teratur

BAYI ENGGAN MENYUSU


Bayi enggan menyusu perlu mendapat perhatian secara khusus terutama terhadap
bayi dengan gumoh, diare, mengantuk, kuning, dan kejang-kejang. Bayi dengan
gejala tersebut perlu dibawa ke dokter ahli untuk mendapatkan tindakan medis.

Selain itu, masih ada penyebab lain bayi enggan menyusu antara lain :

• Hidung tertutup lendir atau ingus karena pilek sehingga sulit mengisap/bernafas.
• Bayi dengan sariawan/moniliasis, nyeri untuk mengisap.
• Terlambat dimulainya menyusu waktu di Rumah Sakit karena tidak dirawat
gabung antara ibu dan anak.
• Bayi ditinggal lama karena ibu sakit atau bekerja.
• Bayi juga mendapat susu dari botol selain dari menyusu ibunya.
• Bayi dengan prelacteal feeding atau mendapatkan makanan tambahan terlalu
dini.
• Tehnik menyusui ibu yang salah.
• ASI kurang lancar atau terlalu deras (memancar).
• Bayi dengan frenulum linguae (tali lidah) pendek / short tongue tie.

Penanggulangan Bayi Enggan Menyusu Sebagai Berikut.

• Apabila bayi pilek, ibu diajarkan cara membersihkan lubang hidung.


• Berikan pengobatan bila mulut bayi sakit sariawan/moniliasis.
• Berikan lebih banyak kesempatan kepada ibu untuk merawat bayinya sendiri agar
lebih mengenal sifat/cirinya.
• Ibu perlu tahu tehnik menyusu yang benar.
• Sebaiknya ibu tidak memberi prelacteal feeding (makanan tambahan) yang terlalu
dini pada bayi.
• Apabila ASI keluar terlalu deras/memancar, keluarkan ASI sedikit sebelum
menyusu baru kemudian bayi disusukan dengan posisi agak tegak/berdiri.
• Bila ASI kurang lancar, sebaiknya menyusui lebih lama dan lebih sering (sesuka
bayi) serta pada waktu menyusui posisi kepala bayi lebih didekatkan pada payudara,
tangan ibu menahan kepala bayi agar tetap pada posisinya. Dengan begitu, ASI bisa
keluar lebih sempurna.
• Tindakan operatif pada frenulum linguae yang pendek

BAYI SERING MENANGIS


Menangis merupakan cara bayi berkomunikasi, sehingga bila bayi sering menangis
pasti ada penyebabnya. Kita perlu mencari penyebabnya agar dapat diambil
tindakan tepat. Penyebabnya, bisa karena bayi lapar, takut, kesepian, bosan, popok
basah/kotor, atau karena sakit.

Delapan puluh persen dari penyebab tersebut di atas, dapat ditanggulangi dengan
menyusukan bayi dengan tehnik yang benar. Di samping itu, tentu saja dengan
mengatasi sebab-sebabnya, seperti mengganti popok yang basah, membelai bayi
supaya tenang, dan membawanya ke dokter jika memerlukan penanganan karena
sakitnya.

Dua pekan pertama sesudah melahirkan merupakan hari-hari yang perlu


mendapatkan perhatian, pengawasan serta dukungan dalam hal menyusui. Ini
penting, sebab banyak masalah sehubungan dengan menyusui yang dapat dideteksi
dini, dicegah dan ditanggulangi agar tidak menjadi penyulit atau penyebab
terjadinya kegagalan menyusui. Dengan mengetahui masalah-masalah yang biasa
terjadi saat menyusui, insya Allah para ibu tidak panik lagi dan dapat
menghadapinya dengan baik.
Wallahu a’lam.

(dr. Avie Andriyani, Sumber: Manajemen Laktasi, Depkes).

Read more https://almanhaj.or.id/460-masalah-yang-sering-dihadapi-ibu-


menyusui.html