Anda di halaman 1dari 32

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dispepsia merupakan kumpulan gejala atau sindrom yang terdiridari nyeri
ulu hati, mual, kembung, muntah, rasa penuh atau cepatkenyang
dansendawa.Keluhan ini sangat bervariasi baik dalam jenisgejala maupun
intensitas gejalatersebut dari waktu ke waktu(Djojoningrat, 2013).
Di Amerika Serikat,5.230 orang dari seluruh penduduknya terkena
sindrom dispepsia (tidak termasuk keluhan refluks) dimana hanya2.615 orang
dari jumlah penderita tersebut pergi ke dokter pelayanan primer. Di Inggris
terdapat 3.146 orang penderita terkena dispepsia dimana hanya 1.573 orang dari
penderita yang berkonsultasi ke dokter pelayanan primer. Dari seluruh penderita
yang datang ke dokter pelayanan primer,hanya1.258 orang di antaranya dirujuk
ke dokter spesialis.Berdasarkan data tersebut bahwa4.968 orang penderita di
Amerika Serikat membiarkannya saja bahkan3.083 orang penderita di Inggris
tidak pergi ke dokter. Pembiaran atau pengabaian pada kejadian sindrom
dispepsia terjadi mungkin saja karena mereka menganggap bahwa hal tersebut
hanyalah hal ringan yang tidak berbahaya(Wong et al, 2006).
Angka kejadian dispepsia diperkirakan antara 2.340 orang di negara barat.
Di Inggris dan Skandinavia dilaporkan angka prevalensinya berkisar 2.235 tetapi
hanya 1.142 yang mencari pertolongan medis. Di negara barat prevalensi yang
dilaporkan 1.093 Sekitar 784 penderita berkunjung ke dokter, umumnya
mempunyai keluhan dispepsia. Di daerah Asia Pasifik, dispepsia juga merupakan
keluhan yang banyak dijumpai prevalensinya sekitar 10-20% (WHO, 2013).
Di daerahAsia Pasifik, dispepsia juga merupakan keluhan yang banyak
dijumpaiprevalensinya sekitar 2.459 (WHO, 2013).Dispepsia berada pada
peringkat ke10 dengan proporsi 598untuk kategori 10 jenis penyakit terbesar
pada pasien rawat jalan diseluruh rumah sakitdi Indonesia pada tahun 2003.
Tahun 2004,dyspepsiamenempati urutan ke15 dari daftar 50 penyakit dengan
pasien rawat inapterbanyak di Indonesia dengan proporsi 576 dan menempati
urutan ke35dari daftar 50 penyebab penyakit yang menyebabkan kematian
denganprevalensi 326 (Depkes RI, 2014).
Dispepsia disebabkan oleh beberapa hal, antara lain menelan
udara,regurgitasi (alir balik) asam dari lambung, iritasi lambung (gastritis),kanker
lambung, peradangan kandung empedu, ketidakmampuanmencerna susu dan
produknya dan kecemasan atau depresi. Apabila dalamwaktu yang lama, pasien

57
mengalami komplikasi yang mungkin muncul,22yaitupendarahan
gastrointestinal, stenosis, pylorus dan perforasi (Corwin,2010).
Menurut WHO suatu keadaan yang sempurna dari fisik, mental, dan
social, tidak hanya bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan saja.Tidak ada
perbedaan jenis kelamin, laki-laki maupun perempuan dapat mengalami gejala
ini.Prevalensi penyakit ini beragam, sebagian besar penelitian Sherwood (2004)
menunjukkan, hampir 2.567 orang dewasa mengalami gejala dispepsia pada
suatu waktu dalam hidupnya. Suatu survey Annisa(2012) menyebutkan, sekitar
2.895 orang yang berobat ke dokter umum disebabkan gangguan saluran cerna
terutama dispepsia. Dan 2.454 orang yang datang ke spesialis disebabkan
gangguan pencernaan lagi-lagi terutama disebabkan oleh dyspepsia (Smeltzer,
2005).
Angka kejadian dispepsia pada beberapa daerah di Indonesia
menunjukkan data yang cukup tinggi.Menurut Maulidiyah (2010) juga, angka
kejadian dispepsia di Medan Sumatera Utara terdapat 3.965 orang.Berdasarkan
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tapanuli Tengah, pada tahun 2014 penyakit
dispepsia terdapat sebanyak 3.612 orang penderita (Survei Data Dinkes Tapanuli
Tengah, 2014).
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk menjadikan kasus
Dispepsia sebagai bahan untuk penyelesaian praktek Keperawatan Medikal
Bedah 1 Prodi D-III Keperawatan pemerintah kabupaten Tapanuli Tengah
dengan judul “ Asuhan keperawatan Pada Ny.S dengan system Pencernaan
Dispepsia Diruang Teratai RSUD Pandan Kabupaten Tapanuli Tengah tahun
2018.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan dispepsia di RSUD Pandan.
1.2.2 Tujuan khusus
Menetapkan dan mengembangkan pola pikir secara ilmiah kedalam proses
asuhan keperawatan serta mendapatkan gambaran dalam melaksanakan asuhan
keperawatan sebagai berikut :
1. Pengkajian data.
2. Diagnosa, masalah dan kebutuhan.
3. Rencana asuhan keperawatan sesuai dengan prioritas masalah.
4. Implementasi asuhan keperawatan sesuai masalah.
5. Mengevaluasi keefektifan asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan.

58
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi ilmu pengetahuan
a) Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan dalam
merawat klien dengan Dispepsia.
b) Menambah keilmuan baru yang dapat dijadikan pedoman untuk ilmu
selanjutnya terutama berkaitan dengan Dispepsia.
1.3.2 Bagi mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan asuhan keperawatan Dispepsia.
b. Menambahketerampilanmahasiswa dalam menerapkan asuhan keperawatan
pada klien dengan Dispepsia.
1.3.3 Bagi institusi pendidikan
a. Sebagai sumber kepustakaan bagi mahasiswa
b. Agar dapat digunakan sebagai wacana dari ilmu keperawatan terutama
pada pasien Dispepsia.

59
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1 Tinjauan Teori Medis


2.1.1 Pengertian
Dispepsia merupakan kumpulan gejala/simtom atau sindrom yang
terdiri dari keluhan nyeri ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa
cepat kenyang, rasa penuh/begah dan rasa panas di dada/epigastrium
(Dharnika, 2010).
2.1.2 Etiologi
a. Intoleransi makanan atau obat
Intoleransi makan merupakan penyebab dari dispepsia. Pada kondisi akut,
dispepsia dapat disebabkan oleh makan berlebihan, makan yang terlalu cepat,
makan makananyang berlemak, makan saat keadaan stres atau minum alkohol atau
kopi terlalu banyak.
b. Selain makan, banyak juga obat-obatan yang menyebabkan dispepsia, seperti
aspirin, NSAID, antiboitic (metronidazol, makrolid), obat diabetes (metformin,
penghambat alfa glokosidase, analog, amylin, antagonis reseptor GLP-1).
c. Dispepsia fungsional
Dispepsia fungsional ini adalah penyebab utama dispepsia kronik. Gejala mungkin
timbul dari interaksi yang kompleks dengan peningkatan sensitivitas visceral
aferen, pengosongan lambung yang terlambat atau sistem akomondasi makanan
yang terganggu atau stres psikososial.
d. Infeksi Helikobacter Pylori
Walaupun infeksi lambung kronis karena H. Pylori adalah penyebab utama dari
penyakit ilkus peptic, infeksi ini bukan penyebab pada dipepsia yang tidak ada
penyakit ulkus pepticnya.

60
Patofisiologi

Faktor Agresif
Makanan/minuman NSAID Dispepsia H. Pilori/bakteri
Yang mengiritasi

Peningkatanproduksi Aspirin Pengosongan Melekat pada epitel lambung


AsamLambung Lambung
Erosi mukosa lambung
Intake takadekuat Antibiotik Perkusi mukosa
Lambung Kerusakan mukosa
AnoreksiaAlkohol terganggung
Dispepsia Aktivitas
MK :Nutrisi kurang dari Mual, muntah terganggu
kebutuhan
pemenuhan ADL
MK :Perubahan keseimbangan cairan
MK : Gangguan pemenuhan ADL

Kurang Pengetahuan Aktivasin orepin eprine Perubahan status


(sarafotonom) Kesehatan Reaksi radang
Mekanisme koping
Kekuatan otot ↓ Kurang bersih lambung luka
Aktivitas terganggu
Rasa tidak nyaman
Stressor MK: Personal hygien Hipotalamus

MK :Cemas MK :gangguan pola tidur


MK :Nyeri

61
2.1.4 Manifestasi Klinik
Klasifikasi klinis praktis, didasarkan atas keluhan atau gejala yang dominan,
membagi dispepsia menjadi 3 tipe :
1. Dispepsia dan keluhan seperti ulkus (ulcus-like dyspepsia), dengan gejala :
Nyeri epigastrium terlokalisasi.
a. Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antasid.
b. Nyeri saat lapar.
c. Nyeri episodik.
2. Dispepsia dengan GFI seperti dismotilitas (dysmotility-like dyspepsia),
dengan gejala :
a. Mudah kenyang
b. Perut cepat terasa penuh saat makan
c. Mual
d. Muntah
e. Ipper abdominal bloating
f. Rasa tak nyaman bertambah saat makan.
3. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe diatas)

2.1.5 PemeriksaanDiagnostik
Berbagai macam penyakit dapat menimbulkan keluhan yang sama,
seperti halnya pada sindrom dispepsia, oleh karena dispepsia hanya
merupakan kumpulan gejala dan penyakit disaluran pencernaan, maka perlu
dipastikan penyakitnya. Untuk memastikan penyakitnya, maka perlu
dilakukan beberapa pemeriksaan, pengamatan jasmani, juga perlu diperiksa :
laboratorium, radiologis, endoskopi, USG, dan lain-lain.
a. Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan lebih banyak ditekankan untuk
menyingkirkan penyebab organik lainnya seperti: pankreatitis kronik, diabets
mellitus, dan lainnya. Pada dispepsia fungsional biasanya hasil laboratorium
dalam batas normal.
b. Radiologis
Pemeriksaan radiologis banyak menunjang dignosis suatu penyakit di saluran
makan. Setidak-tidaknya perlu dilakukan pemeriksaan radiologis terhadap
saluran makan bagian atas, dan sebaiknya menggunakan kontras ganda.
c. Endoskopi (Esofago-Gastro-Duodenoskopi)
Sesuai dengan definisi bahwa pada dispepsia fungsional, gambaran
endoskopinya normal atau sangat tidak spesifik.

62
d. USG (ultrasonografi)
Merupakan diagnostik yang tidak invasif, akhir-akhir ini makin banyak
dimanfaatkan untuk membantu menentukan diagnostik dari suatu penyakit,
apalagi alat ini tidak menimbulkan efek samping, dapat digunakan setiap saat
dan pada kondisi klien yang beratpun dapat dimanfaatkan.
e. Waktu Pengosongan Lambung

2.1.6 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan non farmakologis
a. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
b. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang peda, obat-
obatan yang berlebihan, nikotin rokok, dan stres.
c. Atur pola makan
2. Penatalaksanaan farmakologis yaitu:
Sampai saat ini belum ada regimen pengobatan yang memuaskan terutama
dalam mengantisipasi kekambuhan. Hal ini dapat dimengerti karena proses
patofisiologinya pun masih belum jelas.Obat-obatan yang diberikan meliputi
antacid (menetralkan asam lambung) golongan antikolinergik (menghambat
pengeluaran asam lambung) dan prokinetik (mencegah terjadinya muntah).
2.2 Tinjauan Teori Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
a. Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.
b. Integritas Ego :
Stress, ansietas, cemas
c. Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan.
d. Neurosensori
Kepala Pusing
e. Nyeri / Kenyamanan
Pembesaran abdomen,nyeri (sedang / berat)
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
Menurut Aili (2010 ) bahwa diagnosa keperawatan yang lazim timbul pada
klien dengan dispepsia adalah :
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung d/d
klien meringis kesakitan

63
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan d/d anoreksia
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya
mual, muntah d/d kelemahan
4. Gangguanpersonal hygiene b/d kurang bersih d/d adanya karies
5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya d/d gelisah
6. Gangguan pemenuhan ADL b/d aktivitas terganggu d/d lemas
7. Gangguan pola tidur b/d cemas d/d Klien tampak gelisah

2.2.3 Intervensi Keperawatan


1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosalambung
Tujuan : Klien mengatakan rasa nyeri hilang
Kriteria Hasil : Klien dapat beristirahat/tidur dan ikut serta dalam aktivitas
sesuai kemampuan.
Intervensi :
a. Kaji skala nyeri
b. Kaji tanda-tanda vital
c. Lakukan reposisi sesuai petunjuk, misalnya semi fowler
d. Anjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkankerja
asam lambung
Kolaborasi : Berikan obat sesuai dengan petunjuk

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan.
Tujuan : Menunjukkan peningkatan berat badan mencapai rentang yang
diharapkan individu.
Kriteria Hasil : BB meningkat, Klien makan sedikit tapi sering
Intervensi :
a. Berikan makanan sedikit tapi sering
b. Monitor intake dan output secara periodik.
c. Catat adanya anoreksia, mual dan muntah
Kolaborasi : Pemberian terapi analgesic ceftriaxone

3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya mual,


muntah
Tujuan : kebutuhan cairan dan elektrolit pasien terpenuhi
Kriteria Hasil : TTV stabil, Kadar elektrolit dalam batas normal, Masukan cairan
2000 cc setiap hari
Intervensi :

64
a. Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TTV
b. Berikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi
jantung jika pemasukan cairan melalui oral
c. Kaji nadi perifer, turgor kulit dan membran mukosa.
4. Gangguanpersonal hygiene berhubungan dengan kurang bersih
Tujuan : personal hygiene terpenuhi
Kriteria hasil : Klien merasa nyaman
Intervensi :
a. Bersihkan tubuh pasien
b. Pertahankan kebersihan mulut yang baik sebelum makan dan sesudah makan
c. Beri pujian dan dorongan untuk tindakan positif

5. Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatannya


Tujuan : Mendemonstrasikan koping yang positif dan mengungkapkan
penurunan kecemasan.
Kriteria Hasil : Menunjukkan penurunan kegelisahan, mengungkapkan perasaan
ketenangan dan kepuasan hati, mencari teman dengan orang lain
Intervensi :
a. Kaji tingkat kecemasan
b. Berikan dorongan dan berikan waktu untuk mengungkapkan pikiran dan
dengarkan semua keluhannya.
c. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan
d. Berikan dorongan spiritual

6. Gangguan pemenuhanADL berhubungan dengan aktivitas terganggu


Tujuan : klien mampu beraktifitas dengan baik
Kriteria Hasil :Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas
Intervensi :
a. Kaji respon pasien terhadap aktivitas
b. Dorong untuk melakukan aktivitas
c. Berikan bantuan sesuai kebutuhan

7. Diagnosa Keperawatan VII : Gangguan pola tidur berhubungan dengan cemas


Tujuan : pola tidur klien terpenuhi
Kriteria Hasil :Klien bisa tidur dan menunjukkan penurunan kegelisahan
Intervensi :
a. Anjurkan klien untuk istirahat sebelum makan
b. Kaji tingkat cemas
c. Jelaskan semua prosedur dan pengobatan

65
BAB 3
TINJAUAN KASUS

Data diambil tanggal : 09 Mei 2018 Jam : 10.25 wib


Ruang rawat /kelas : Anggrek Tanggal masuk RS : 05 Mei 2018
No Rekam Medik : 06.71.82 Diagnosa medis : Dispepsia
3.1 BIODATA
3.1.1 Identitas pasien
Nama : Ny.S
Umur : 71 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku : Batak
Agama : Islam
Pendidikan terahir : Sekolah Menengah Pertama
Pekerjaan : Petani
Golongan darah :O
Alamat : Tukka

3.2 KELUHAN UTAMA


Nyeri pada daerah epigastrium/ulu hati disertai mual dan muntah, anorexsia,
sesak, kepala pusing.
3.3 RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
1. Provacative/palliative
a. Penyebabnya : Klien merasa nyeri pada abdomen.
b. Hal yang memperbaiki keadaan : Istirahat, therapy medik, dan obat-obatan
2. Quantitiy/Quality
a. Klien merasakan nyeri pada abdomen dengan skala 4.
b. Bagaimana dilihat : Klien kelihatan lemah, meringis kesakitan
3. Region
a. Dimana lokasinya : Di abdomen
b. Penyebaran : Tidak menyebar
4. Severity (mengganggu aktivitas) : Ya
5. Time (kapan mulai timbul dan bagi mana terjadinya) : Dialami sejak 10 tahun
yang lalu, tetapi akhir-akhir ini tambah parah.

66
3.4 RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU.
1. Penyakit yang pernah dialami
Kurang lebih 10 tahun yang lalu klien sering sakit perut disebelah kanan
awalnya telat makan karna aktivitas yang banyak.
2. Pengobatan/tindakan yang dilakukan
Setiap rasa sakit pada perut sebelah kanan kambuh, klien selalu mengonsumsi
obat ranitidine.
3. Pernah dirawat
Klien pernah dirawat di RSUD Pandan serta dirawat di Praktek dokter yang
berlokasi di Medan
4. Lamanya dirawat : 1 hari
5. Alergi : Tidak ada
6. Imunisasi : Klien tidak mendapat imunisasi penuh/lengkap.

3.5 RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


1. Penyakit yang diderita anggota keluarga : Tidak ada
2. Anggota keluarga yang meninggal : Ada, karena lanjut usia
3. Lingkungan rumah dan komunitas : Klien memiliki hubungan yang baik pada
lingkungan sekitar rumahnya dan memiliki lingkungan yang bersih.
4. Perilaku yang mengurangi kesehatan
Merokok : tidak ada
Minuman keras : tidak ada
5. Genogram

67
Keterangan :

: Pria meninggal

: Wanita meninggal

: Pria

: Wanita

: Klien

------------------- : Tinggal serumah

: Garis Keseluruhan

3.6 RIWAYAT/KEADAAN PSIKOSOSIAL

1. Bahasa yang digunakan bahasa : Indonesia.


2. Persepsi pasien tentang penyakitnya :
Klien mengatakan bahwa penyakit yang dideritanya adalah cobaan dari Tuhan
untuk lebih dekat lagi dengan Tuhan.
3. Konsep diri
a. Gambaran diri (body image)
 Tanggapan tentang tubuhnya : Klien menganggap bagian tubuh lengkap
dan hanya bias mensyukurinya.
 Bagian tubuh yang disukai : Seluruh anggota tubuh pasien disukai, karena
masing-masing organ memiliki fungsi.
 Bagian tubuh yang tidak disukai : Tidak ada
 Persepsi tentang kehilangan bagian tubuh : Tidak ada
b. Identitas (personal identiti)
 Status dalam keluarga :Sebagai ibu dari 8 anak yang masih hidup
 Kepuasan terhadap statusnya : Cukup puas dapat memberikan
kebutuhan jasmani dan rohani bagi anak-anaknya.
 Kepuasan terhadap jenis kelaminya: Klien puas dengan jenis kelamin
sebagai perempuan.
c. Peran
 Tanggapan tentang dirinya : Sebagai ibu dan istri
 Kemampuan melakukan perannya : Semenjak sakit klien
tidak dapat beraktivitas.

68
 Kepuasan melaksanakan perannya : Kurang puas berhubung
karena tidak dapat melakukan perannya.
d. Ideal diri
1. Harapan pasien terhadap
 Tubuhnya : Cepat sembuh dan ingin berkumpul lagi dengan
keluarganya dan anak- anaknya.
 Posisi ( Pekerjaan ) : Petani
 Status ( keluarga ) : Sebagai ibu dari 5 orang anak permpuan dan 3
orang anak laki-laki.
 Tugas / pekerjaan : Memberikan kebutuhan jasmani, rohani,dan
pendidikan
2. Harapan pasien terhadap lingkungan
 Sekolah : semakin rukun dan meningkatkan kedisplinan
 Keluarga : Sabar menghadapi masalah baik yang ringan
maupun yang berat.
 Masyarakat : Semakin rukun dan memiliki rasa empati dan simpati.
 Tempat lingkungan kerja : Tercipta hubungan yang baik antara pasien
dan lingkungan.
3. Harapan pasien terhadap penyakit dan tenaga kesehatan : Pasien berharap
cepat sembuh dan dapat segera kembali dengan keluarga. Dan tenaga
kesehatan juga dapat melakukan tindakan dengan baik terhadap
penyakitnya.
e. Harga diri : Tinggi
4. Sosial
a. Hubungan dengan keluarga : Baik ( harmonis ).
b. Hubungan dengan pasien lain : Baik, pasien dapat berinteraksi
dengan pasien lain.
c. Dukungan keluarga : Keluaga selalu berdoa dalam
penyembuhan klien dan biaya perawatan.
d. Reaksi saat interaksi : Kontak mata
5. Spritual
a. Konsep tentang penguasa kehidupan : klien yakin bahwa segala
sesuatu yang terjadi adalah kehendak TuhanYang Maha Esa.
b. Sumber kekuatan/harapan saat sakit : Doa dan keluarga yang selalu
memberi semangat.
c. Ritual agama yang dilakukan : Beribadah

69
d. Keyakinan terhadap kesembuah penyakit : Klien yakin bahwa dia
sembuh.
e. Persepsi terhadap penyakit : Sebagai cobaan dalam dirinya

3.7 PEMERIKSAAN FISIK.


1. Keadaan umum : Lemas, kesadaran Compos Mentis
2. Tanda-tanda vital :
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 86 x/ Menit. ( lokasi perhitungan : Radialis)
Suhu : 36 °C ( lokasi perhitungan : Aksila)
RR : 23 x/ menit.
TB : 150 cm
BB : 50 Kg
3. Kepala dan leher :
a. Kepala
- Bentuk : Simestris
- Ubun-ubun : Normal
- Kulit kepala : Bersih tidak ada gangguan.
- Nyeri kepala : Tidak ada
b. Rambut
- Pertumbuhan rambut : Rambut tumbuh merata di bagian kepala.
- Bau : Bau keringat.
- Warna : Hitam.
c. Wajah
- Warna kulit : Sawo matang
- Struktur wajah : Oval
d. Mata
- Kelengkapan dan kesimetrisan : Lengkap dan simetris.
- Pupil : Isokor kiri/kanan
- Refleks cahaya : Positif
- Konjungtiva : Merah muda
- Sklera : Putih
- Palpebra : Tidak ada terdapat edema.
- Pergerakan bola mata : Normal
- Strabismus : Tidak ada terdapat strabismus.
- Tekanan bola mata : Pengkajian tekanan bola mata belum di
lakukan.

70
- Ketajaman penglihatan : Klien mampu membaca
e. Hidung
- Tulang hidung dan posisi septumnasi : Simetris dan tidak ada
kelainan atau pun fraktur.
- Mukosa : Ada (+) lembab.
- Sekret : Jernih.
- Pernapasan cuping hidung : Ada, saat sesak.
f. Telinga
- Bentuk telinga : Normal, Simetris kanan dan kiri
- Lubang telinga : Normal, Simetris kanan dan kiri tidak
dijumpai adanya peradangan
- Ketajaman pendengaran : Klien tidak dapat mendengar suara
perawat dengan jelas butuh beberapa kali pengulangan kata atau
kalimat dan klien tidak mendengarkan detik jarum jam pada jarak
30 cm.
- Alat bantu : Tidakmenggunakan alat bantu
g. Mulut dan faring
- Mulut : Kotor
- Mukosa : Lembab
- Bibir : Normal
- Lidah : Kotor
- Gigi : Adanya karies.
- Kebiasaan gosok gigi : Tidak teratur
- Tenggorokan : Klien mengatakan tidak mampu
menelan makanan dengan baik.
h. Leher
- Pembesaran kelenjar thyroid : Tidak di temukan pembesaran
pada leher.
- Pembesaran kelenjar limfe : Tidak ada
- Peningkatan Vena jugularis : Tidak ada peningkatan pada
vena jugularis.
- Denyut nadi karotis : Teraba.
4. Integumen
a. Kebersihan : Kotor, kurang bersih
b. Kehangatan : kulit tetap terjaga kehangatannya.
c. Warna : Warna kulit sawo matang, tidak
dijumpai adanya sianosis, iskemik, dan anemi.

71
d. Turgor : Turgor kulit elastis
e. Kelembaban : Kering
f. Edema : Ada edema
5. Payudara dan ketiak
a. Ukuran dan bentuk payudara : Payudara simetris (kiri dan
kanan)
b. Warna payudara dan areola : Payudara sawo matang dan
areola hitam
c. Kelainan payudara dan putting : Tidak ada kelainan
d. Aksila dan klavikula : Normal, tidak ada fraktur dan
peradangan
6. Toraks/dada

a. Bentuk toraks :Tidak ada kelainan bentuk toraks


b. Pemeriksaan paru
- Pola napas : Irama tidak teratur
- Jenis : Dispnea
- Reaksi otot bantu nafas : tidak ada
- Perkusi toraks : Sonor
- Suara pernapasan : Vesikuler
- Tactil fremitus : Menurun
- Keluhan : sesak
- Alat bantu nafas : Ada, Oksigen 2 liter X/i

c. Pemeriksaan jantung

 Nyeri dada : Tidak ada


 Irama jantung : Teratur
 Palpasi : Kuat
 Bunyi jantung : Lup dup

7. Abdomen

 Bentuk abdomen : Asimetris kiri dan kanan


 Benjolan/massa : Tidak ditemukan
 Spider nevi : Tidak ditemukan

 Peristaltik usus : 16 x/menit


 Nyeri tekan : Ada nyeri tekan di abdomen
 Ascites :Ada

72
 Hepar : Tidak teraba
 Ginjal : Tidak teraba
 Lien : Tidak teraba
 Suara abdomen : Tympani

8. Kelainan daerah sekitarnya

a. Genitalia

 Bentuk alat kelamin : Tidak di kaji.


 Rambut pubis : Tidak di kaji
 Kelainan pada anus : Tidak di kaji
 Perineum : Tidak di kaji

9. Muskululokeletal/ Ekstremitas

a. Kesimetrisan otot : Tidak simetris


b. Kemampuan bergerak sendi dan tungkai : Terbatas
c. Kekuatan otot 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
d. Fraktur : Tidak ada
e. Dislokasi : Tidak ada
f. Edema : Ada, dikaki sebelah kanan
g. Capillary Refill Time : < 3 detik
h. Sianosis : Tidak ada
i. Clubbing Finger : Tidak ada

10. Neurologi
a. Kesadaran : Compos mentis
GCS : 15
E :4 V :5 M :6

b. Maningeal sign

 Kaku duduk : Negatif


 Brudzinski I : Negatif
 Kerning : Negatif

c. Status mental

 Kondisi mental / perasaan: stabil

73
 Orientasi :Pasien dapat mengenal perawat mengenali tempat dan
waktu tidak terjadi disorientasi.
 Proses pikir : Pasien masih mengingat kapan dia masuk Rumah
Sakit.
 Motivasi : Keluarga sebagai motivasi dalam kesembuhan
penyakitnya.
 Persepsi : klien mengatakan penyakit\ yang di alaminya
cepat sembuh.
 Bahasa : Indonesia.
d. Nervus kranialis
1. Nervus olfaktorius (N I) : klien dapat membedakan aroma
bauan alkohol dengan rokok
2. Nervus Optikus (NII) : klien dapat membaca papan nama
perawat dalam jarak krang lebih 30 cm
3. Nervus okulomotoris, trochlearis, dan abdusern (N III,IV,VI)
- Mata : klien mampu membaca buku dalam jarak 30 cm
- Pupil : Reflex cahaya (+)
Gerakan bola mata: klien dapat mengerakan bola matanya
dengan 360 derajat.
4. Nervus trigeminus ( NV): tidak ada masalah
Sensori:
Rasa raba : klien dapat merasakan sentuhan kapas di wajahnya.
Rasa nyeri: klien dapat merasakan tusukan jarum infus
ditangannya
Rasa suhu: klien dapat mengidentifisakan rasa panas atau
dingin.
Rasa sikap: klien dapat menyebutkan arah wajah yang
disentuh.
Rasa getar: klien dapat merasakan gerakan graputala yg di
letakan di wajah.
Reflex cornea : klien menutup mata, akibat sentuhan
kornea dengan gulungan kapas.
5. Nervus fasialis ( N VII ): klien dapat membedakan rasa manis
dan asin, klien dapat mengerutkan dahi, wajah klien tampak
simetris saat klien tersenyum.
6. Nervus auditorius ( N VIII) : Klien dapat menjawab pertanyaan
perawat dengan baik tanpa harus diulang

74
7. Nervus glosovaringeus dan vagus ( N IX dan X) : uvula
bergetar simetris saat klien mengatakan “Ah”
8. Nervus asesoris ( NXI): klien dapat menoleh kekanan dan
kekiri
9. Nervus hipoglosus ( NXII): lidah klien dapat digerakan secara
bebas ke segala arah
e. Fungsi motorik:
 Cara berjalan : lambat karena sesak nafas dan edema disebelah
kaki kanan.
 Rombeng test : tidak ada dikaji
 Tes jari-hidung : klien dapat mencapai
hidung dengan jari tengah
f. Fungsi sensori:
1. Identifikasi sentuh ringan :klien dapat merasakan sentuhan
ringan perawat atau pun keluarga
2. Tes tajam tumpul : klien dapat membedakan tajam dan
tumpulya benda yang di sentuh pada kulit pasien
3. Tes panas – dingin : klien dapat membedakan panas – dingin
sesuatu
4. Tes getar : klien dapat merasakan getaran
5. Streognosis : klien disuruh menutup mata dan
mengidentifikasi benda yang ada di telapak tangan yang
diberikan perawat
6. Ghrapestesia : klin menutup mata dan mengidentifikasi
huruf yang digoreskan di kulit
7. Topognosis test : klien mengidentifikasi bagian tubuh
yang disentuh
g. Reflek : Tidak ada dikaji

3.8 POLA KEBIASAAN SEHARI – HARI


1. Pola tidur
a. Waktu tidur : siang: 2 jam/hari malam : 5 jam/hari
b. Gangguan tidur : ada, jenis : cemas yaitu memikirkan keadaan anak-
anaknya.
c. Kebiasaan tidur : tidak ada
2. Pola eliminasi
a. BAK

75
- Frenkuensi : tidak teratur 7x/hari warna kuning
- Jumlah 1500 cc, bau : amis,
- Alat bantu : tidak ada
- Masalah : tidak ada
- Penggunaan diuretic : tidak
b. BAB
- Pola BAB :tidak teratur 1 x/hari
- Penggunaan laksative : tidak ada
- Karakter feses : warna kuning, bau khas, konsistem lembek
- BAB terakhir : tidak dikaji
- Riwayat perdarahan : tidak ada
- Diare : tidak
3. Pola makan dan minum
a. Gejala ( subjektif )
 Diet ( tipe ) :M II
 Pola diet : 3x/hari
 Kehilangan selera makan: ya, tidak dapat menelan makanan dengan
baik
 Nyeri ulu hati : Ada
 Yang berhubungan dengan : tidak ada selera makan
 Di sembuhkan dengan : tidak mengkonsumsi makanan yang
meningkatkan asam lambung seperti minuman yang bersoda
 Alergi / intoleransi makanan : tidak ada alergi
 Berat badan biasa : 60 kg
b. Tanda ( objektif )
 Berat badan sekarang : 56 kg, tinggi badan :167 cm
 Bentuk tubuh : kurus
c. Waktu pemberian makan : pagi jam 08 00, siang jam 13 00, sore jam
17.00 wib
d. Waktu pemberian cairan : parenteral jam 08 00, jam 16 00, jam 24.00
jam
e. Masalah makan dan minum : Dilarang makan makanan yang asam
Kesulitan mengunyah : ada karena terdapat karies di gigi dan mulut
kurang di bersihkan
 Kesulitan menelan : tidak
 Tidak dapat makan sendiri : Ya
f. Upaya mengatasi masalah : Dibantu oleh keluarga

76
4. Kebersihan diri
 Mandi/membersihkan tubuh : 1 x/hari, dibantu
 Pemeliharaan gigi dan mulut : 2 x/hari, dibantu
 Pemeliharaan kuku : Kurang
5. Pola kegiatan aktivias : Tidak ada aktifitas klien karena dalam keadaan sakit.

3.9 HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG/ DIAGNOSTIK


a. Diagnose medis : Dispepsia
1. Laboratorium
No Tanggal Pemeriksaan Hasil Normal
1 Eritrosit (RBC) 4,9 106 /mm³ 4.00-5.50

2 Leukosit(WBC) 8,3 10³/mm³ 4,0-5,50


3 MCV 90,5 FL 80-95,0
4 06 Mei MCH 30,3 p/g 25,0-34,0
5 2018 McHc 33,5 p/g 32,0-36,0
6 RDW 11,9 % 10,0-16,5
7 MPV 4,5 FL 5,0-10,0
8 SGOT 30 U/L <38
9 SGPT 35 U/L <41

2. ECG
 Tanggal : 14 November 2016
 Jenis : ECG
3. USG
Belum dilakukan/belum dikaji

3.10 PENATALAKSANAAN / TERAPI


No Nama Obat Dosis Fungsi
1 IVFD RL 20 gtt/i Mengganti cairan tubuh yang hilang
2 IVFD NaCl 20 gtt/i Menambah Nutrisi
3 Inj.Cefriaxsone 1 gr/12 jam Antibiotik (membunuh kuman)
4 Neurodex tab 3x500 gr Obat mual muntah
5 Inj. Rantidine 1 amp/12 jam Menetralkan asam lambung

77
3.11 ANALISA DATA
NO MASALAH
DATA ETIOLOGI
KEPERAWATAN
1 DS Dispepsia
a. Klien mengatakan
nyeri pada abdomen Reaksi radang Gangguan rasa
atas (epigastrium) nyaman nyeri
b. Klien mengatakan Lambung luka
nyeri saat abdomen
ditekan Hipotalamus
DO :
a. Klien tampak meringis Nyeri
kesakitan (skala nyeri
4) MK : gangguan rasa
b. Klien tampak lemas nyaman nyeri
c. Terdapat pembesaran
abdomen
2 DS : Aktivitas Terganggu Intoleransi Aktivitas
a. Klien mengatakan
tidak bisa melakukan
aktivitas
DO :
a. Klien tampak lemas
dan tidak bisa
beraktivitas

3.12DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeriepigastrium b/d iritasi pada mukosalambung d/d
klien meringis kesakitan
2. Intoleransi Aktivitas b/d aktivitas terganggu d/d lemas

78
3.13 Intervensi Keperawatan

Nama pasien : Ny.S Ruangan : Anggrek

Umur : 71 tahun Diagnosa Medis : Dispepsia

Diagnosa Proses Keperawatan


No Tujuan
Keperawatan Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa Dengan dilakukan tindakan 1. Kaji skala nyeri 1. Nyeri dapat menimbulkan ketidaknyamanan
nyaman nyeri keperawatan selama 3x24 2. Kaji tanda-tanda vital kepada pasien dyspepsia karena proses pengobatan
epigastrium b/d iritasi jam klien mengatakan rasa 3. Lakukan reposisi sesuai 2. Dapat mengidentifikasikan rasa saki takut dan
pada mukosa lambung nyeri hilang petunjuk, misalnya semi fowler ketidak nyamanan. Diharapkan jalan napas terbuka
d/d klien meringis Kriteria hasil :skala nyeri 3 4. Anjurkan klien untuk menghindari dan sesak (-).
kesakitan makanan yang dapat 3. Pertukaran posisi dapat mengurangi rasa saki tdan
meningkatkan kerja asam meningkatkan sirkulasi
lambung 4. Mencegah terjadinya perih pada ulu
Kolaborasi : Berikan obat sesuai hati/epigastrium
dengan petunjuk Kolaborasi : Analgetik IV akan segera mengurangi
rasa sakit, dan menghilangkan rasa nyeri.

79
2 Intoleransi aktivitas Dengan dilakukan tindakan 1. Kaji respon pasien terhadap 1. Teknik menghemat energy dan juga membantu
b/d aktivitas keperawatan selama 3x24 aktivitas keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
terganggu d/d lemas jam klien mampu 2. Dorong untuk melakukan 2. Kemajuan aktivitas terhadap mencegah
beraktifitas dengan baik aktivitas peningkatan kerja jantung tiba-tiba
KriteriaHasil: Melaporkan 3. Berikan bantuan sesuai 3. Memberikan bantuan agar bisa mendorong
peningkatan dalam toleransi kebutuhan kemandirian dalam melakukn aktivitas
aktivitas

3.13 Implementasi Keperawatan

Nama Mahasiswa : Berto Silalahi Nama Pasien : Ny.S

Ruangan : Anggrek Diagnosa Medis : Dispepsia

Tanggal : Selasa, 08 Mei 2018 (Hari Pertama)

Dx. Keperawatan Pukul Implementasi Evaluasi


Gangguan rasa nyaman 09.30–11.50 1. Mengkaji skala nyeri S : Klien mengatakan nyeri
nyeriepigastrium b/d iritasi WIB Skala nyeri pada pasien 4 epigastrium/uluhati.
pada mukosalambung d/d 2. Mengkajitanda-tanda vital O : Klien tampak meringis
klienn meringis kesakitan Hasil : TD:120/80 Mmhg, HR : 78x/i, RR : 26x/i, Temp : 36,5 C kesakitan

80
3. Melakukan infuse Cairan RL A : Masalah belum teratasi
Hasil : infuse terpasang di tangankiri P : Intervensi dilanjutkan : (1-4)
4. Menganjurkan klien untuk menghindari makanan yang dapat
meningkatkankerja asam lambung misalnya : minuman yang
bersoda seperti sprite dan proman
Kolaborasi :
1. Menginjeksi ceftriaxon dan Ranitidin
Intoleransi aktivitas b/d 10.00 – 11.30 1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas S : Klien mengatakan tidak bias
aktivitas terganggu d/d lemas WIB 2. Mendorong untuk melakukan aktivitas melakukan aktivitas
3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan O : Klien tampak lemas dan tidak
bias beraktivitas
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan (1-3)

81
Nama Mahasiswa : Berto Silalahi Nama Pasien : Ny.S

Ruangan : Anggrek Diagnosa Medis : Dispepsia

Tanggal : Rabu, 09 Mei 2018 (Hari Kedua)

Dx. Keperawatan Pukul Implementasi Evaluasi


Gangguan rasa nyaman 09.30–11.50 1. Mengkaji skala nyeri S : Klien mengatakan nyeri
nyeriepigastrium b/d iritasi WIB Skala nyeri pada pasien 3 epigastrium/uluhati.
pada mukosalambung d/d 2. Mengkajitanda-tanda vital O : Klien tampak meringis
klienn meringis kesakitan Hasil : TD:120/80 Mmhg, HR : 78x/i, RR : 26x/i, Temp : 36,5 C kesakitan
3. Melakukan infuse Cairan RL A : Masalah sebagian teratasi
Hasil : infuse terpasang di tangan kiri P : Intervensi dilanjutkan : (1-4)
Kolaborasi :
Menginjeksi ceftriaxon dan Ranitidin
Intoleransi aktivitas b/d 10.00 – 11.30 1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas S : Klien mengatakan tidak bias
aktivitas terganggu d/d lemas WIB 2. Mendorong untuk melakukan aktivitas melakukan aktivitas
3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan O : Klien tampak lemas dan tidak
bias beraktivitas
A : Masalah sebagaian teratasi
P : Intervensi dilanjutkan (1-3)

82
Nama Mahasiswa : Berto Silalahi Nama Pasien : Ny.S

Ruangan : Anggrek Diagnosa Medis : Dispepsia

Tanggal : Kamis, 10 Mei 2018 (Hari Ketiga)

Dx. Keperawatan Pukul Implementasi Evaluasi


Gangguan rasa nyaman 09.30–11.50 1. Mengkaji skala nyeri S : Klien mengatakan nyeri
nyeriepigastrium b/d iritasi WIB Skala nyeri pada pasien 3 epigastrium/uluhati.
pada mukosalambung d/d 2. Mengkajitanda-tanda vital O : Klien tampak meringis
klienn meringis kesakitan Hasil : TD:120/80 Mmhg, HR : 78x/i, RR : 26x/i, Temp : 36,5 C kesakitan
3. Melakukan infuse Cairan RL A : Masalah sebagian teratasi
Hasil : infuse terpasang di tangan kiri P : Intervensi dilanjutkan : (1-4)
Kolaborasi :
Menginjeksi ceftriaxon dan Ranitidin
Intoleransi aktivitas b/d 10.00 – 11.30 1. Mengkaji respon pasien terhadap aktivitas S : Klien mengatakan tidak bias
aktivitas terganggu d/d lemas WIB 2. Mendorong untuk melakukan aktivitas melakukan aktivitas
3. Memberikan bantuan sesuai kebutuhan O : Klien tampak lemas dan tidak
bias beraktivitas
A : Masalah sebagaian teratasi
P : Intervensi dilanjutkan (1-3)

83
BAB 4
PEMBAHASAN

Setelah penulis selesai melakukan asuhan keperawatan pada Ny.S dengan


“Dispepsia” di ruang Teratai Rumah Sakit Umum Daerah Pandan, penulis akan
membahas kesenjangan yang terdapat pada teoritis dan tindakan kasus.
Pada tahap ini pembahasan dapat meliputi tahap pengkajian keperawatan,
diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan serta
evaluasi keperawatan.

4.1 Pengkajian
Pada tahap pengkajian penulis melakukan anamnese terhadap pasien dan
keluarga yang meliputi riwayat kesehatan klien di masa lalu, di masa sekarang
serta keadaan fisiko sosial pasien. Pada tahap ini penulis juga melakukan
pemeriksaan fisik mulai dari vitalsign, anamnese serta pola kebiasaan sehari-hari
meliputi pola tidur, eliminasi, makan/minum, personal hyegine dan pola kegiatan/
aktivitas. Pada tahap pengkajian ini pula, penulis menyertakan pemeriksaan
penunjang atau diagnostik serta penatalaksanaan dan terapi.
Setelah mendapatkan data-data dari pengkajian diatas, maka penulis
menggolongkan data tersebut kedalam data subjektif dan objektif, selanjutnya
penulis menganalisa data tersebut dan kemudian menegakkan diagnosa
keperawatan pada kasus Ny.S
Dalam hal ini penulis sangat berterima kasih kepada klien dan keluarga yang
banyak membantu dalam proses pengkajian tersebut.
Pada landasan teoritis diperoleh data sebagai berikut:
1. Aktivitas/ istirahat
Klien lemah, tidak mampu beraktivitas atau bekerja
2. Sirkulasi
Klien tidakmengalamihipertensi
3. Integritas ego
Klien tampak stress, ansietas

84
4. Eliminasi
Klien tidak mengalami diare
5. Makanan/ cairan
Klien mengalami kehilangan nafsu makan, sesak serta penurunan berat
badan.
6. Neurosensori
Klien pusing, kelemahan dan kecemasan
7. Penyuluhan dan pembelajaran
Berdasarkan pengkajian tersebut diatas penulis tidakmenemukan adanya
faktor resiko terjadinya Dispepsia

4.2Diagnosa Keperawatan
Dalam tahap ini penulis menemukan perbedaan antara tinjauan teoritis dan
tinjauan kasus, adapun diagnose keperawatan yang muncul pada tinjauan teori
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung d/d klien
meringis kesakitan
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan rasa tidak enak setelah
makan d/d anoreksia
3. Perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan adanya
mual, muntah d/d kelemahan
4. Gangguanpersonal hygiene b/d kurang bersih d/d adanya karies
5. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatannya d/d gelisah
6. Gangguan pemenuhan ADL b/d aktivitas terganggu d/d lemas
7. Gangguan pola tidur b/d cemas d/d Klien tampak gelisah

Sedangkan diagnose yang terdapat pada kasus ditemukan :

1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.


2. Gangguan pemenuhan ADL b/d aktivitas terganggu d/d lemas

85
4.3 Intervensi Keperawatan
Dari 2 masalah keperawatan yang muncul pada kasus, selanjutnya dibuat
rencana keperawatan sebagai tindakan pencegah masalah keperawatan yang
ada, kemudian menentukan tindakan yang tepat.
Rencana telah dilakukan sesuai dengan kondisi klien dan ternyata ada
kesenjangan yang terjadi antara teori dengan kenyataan yang ada.Dimana
semua rencana yang tertera dalam teori hanya sebagian yang tidak dilakukan
pada kasus.

4.4 Implementasi Keperawatan


Pada tahap implementasi ini, semua intervensi keperawatan yang ada pada
kasus dapat di implementasikan dengan baik dan sesuai dengan intervensi
yang ada dan hanya bisa dilakukan tindakan sampai klien merasa tenang
sebelum dipindahkan ke ruangan untuk rawat inap.

4.5 Evaluasi
Hasil evaluasi keperawatan terhadap Ny.S yang dilakukan di Ruang
Teratai dengan semua intervensi yang ada pada kasus dan di implementasikan
dengan baik tetap isemua diagnose masih belum teratasi dikarenakan pasien
dipindahkan keruangan melati pada pukul 12.00 wib.

86
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

5.1.1 Pengkajian
Berdasarkan pengkajian yang dilakukan pada Ny.S di ruang Anggrek RSUD
Pandan pada tanggal 06 Mei 2018, diketahui bahwa klien mengalami
gangguan aktivitas/istirahat dimana klien lemah, sulit istirahat, klien susah
tidur karena pembesaran abdomen, neuro sensorinya terjadi kelemahan otot
dan tidak terdapat factor resiko keluarga terhadap kasus yang sama.

5.1.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnose yang terdapat pada kasus ditemukan :
1. Nyeri epigastrium berhubungan dengan iritasi pada mukosa lambung.
2. Gangguan pemenuhan ADL b/d aktivitas terganggu d/d lemas

5.1.3 Intervensi
Pada diagnosa keperawatan Gangguan rasa nyaman nyeri b/d iritasi pada mukosa
lambung d/d klien meringis kesakitan pada epigastrium. Semua intervensi pada
rencana asuhan keperawatan diatas dapa tdilaksanakan dengan baik. Diagnosa
keperawatan Gangguan pemenuhan ADL b/d aktivitas terganggu d/d lemas.Semua
intervensi pada rencana asuhan keperawatan diatas dapat dilaksanakan dengan
baik.

5.1.4 Implementasi
a. Implementasi dapat dilakukan dengan baik, walaupun tidak semua
rencana keperawatanyang telah dibuat untuk dilaksanakan.
b. Partisipasi keluarga dan klien sanga mendukung dalam melakukan asuhan
keperawatan sekaligus terlaksananya implementasi keperawatan

87
c. Adanya kerjasama yang baik antara perawat ruangan dengan tim
kesehatan lainnya mendukung terlaksananya implementasi keperawatan
dengan baik.
5.1.5 Hasil evaluasi keperawatan terhadap Ny.S yang dilakukan di Ruang Teratai
dengan semua intervensi yang ada pada kasus dan di implementasikan dengan
baik tetap isemua diagnose masih belum teratasi dikarenakan pasien
dipindahkan keruangan melati pada pukul 12.00 wib

5.2 Saran
5.2.1Bagi keluarga
Tetap memberi dukungan/ dorongan dan semangat pada pasien dalam
menghadapi penyakitnya.
5.2.2 Bagi perawat

Diharapkan meningkatkan kemampuan dalam mengimplementasikan


asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis “Dispepsia”.

5.2.3 Bagi institusi pendidikan

Menambah ilmu pengetahuan dan keterampilan khususnya pada


penerapan asuhan keperawatan klien dengan diagnosa medis
“Dispepsia”.

88