Anda di halaman 1dari 7

I.

OLIGOHIDRAMNION
A. Definisi
Oligohidramnion adalah suatu keadaan dimana air ketuban kurang dari
normal yaitu kurang dari 500 mL. Marks dan Divon (1992) mendefinisikan
oligohidramnion bila pada pemeriksaan ultrasonografi ditemukan AFI
(Amnion Fluid Index) 5 cm atau kurang.5 Sedangkan menurut Norwitz (2001)
mendefinisikan oligohidramnion bila pada pemeriksaan ultrasonografi
diketahui total volume cairan amnion <300 mL, hilangnya kantong vertikel
tunggal yang berukuran 2 cm, atau AFI <5cm pada kehamilan aterm atau
<5th persentil sesuai usia kehamilan.2
B. Etiologi
Penyebab pasti terjadinya oligohidramnion masih belum diketahui.
Namun, oligohidramnion bisa terjadi karena peningkatan
absorpsi/kehilangan cairan seperti pada ketuban pecah dini dan penurunan
produksi dari cairan amnion seperti pada : kelainan ginjal kongenital, ACE
inhibitor, obstruksi uretra, insufisiensi uteroplasenta, infeksi kongenital,
NSAID. Sejumlah faktor predisposisi telah dikaitkan dengan berkurangnya
cairan amnionik , dan beberapa tercantum dalam Gambar 1.2
Beberapa keadaan yang berhubungan dengan oligohidramnion,
5
antaranya:
a. Pada janin : kelainan kromosom, hambatan
pertumbuhan, kematian, kehamilan postterm
b. Pada placenta : solusio plasenta
c. Pada ibu : hipertensi, preeklamsi, diabetes dalam kehamilan
d. Pengaruh obat : NSAID, ACE inhibitor
Gambar 1. Kondisi Yang Menyebabkan Oligohidramnion
C. Patofisiologi
Pecahnya membran adalah penyebab paling umum dari oligohidramnion.
Namun, karena cairan ketuban terutama adalah urine janin di paruh kedua
kehamilan , tidak adanya produksi urin janin atau penyumbatan pada saluran
kemih janin dapat juga menyebabkan oligohidramnion. Janin yang menelan
cairan amnion , yang terjadi secara fisiologis , juga mengurangi jumlah
cairan.1
Masalah pada klinik ialah pecahnya ketuban berkaitan dengan kekuatan
selaput. Pada perokok dan saat terjadi infeksi terjadi perlemahan pada
ketahanan selaput hingga pecah. Pada kehamilan normal hanya ada sedikit
makrofag. Pada saat kelahiran leukosit akan masuk ke dalam cairan amnion
sebagai reaksi terhadap peradangan. Pada kehamilan normal tidak ada IL-1B,
tetapi pada persalinan preterm IL-1B akan ditemukan. Hal ini berkaitan
dengan terjadinya infeksi.3
Pada insufisiensi plasenta dapat terjadi hipoksia janin. Hipoksia janin yng
berlangsung kronis akan memicu mekanisme redistribusi darah. Salah satu
dampaknya adalah terjadi penurunan aliran darah ke ginjal, produksi urin
berkurang, dan terjadilah oligohidramnion.3
D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala klinis oligohidramnion adalah, pada saat inspeksi uterus
terlihat lebih kecil dan tidak sesuai dengan usia kehamilan yang seharusnya.
Ibu yang sebelumnya pernah hamil dan normal, akan mengeluhkan adanya
penurunan gerakan janin. Saat dilakukan palpasi abdomen, uterus akan teraba
lebih kecil dari ukuran normal dan bagian-bagian janin mudah diraba.
Presentasi bokong dapat terjadi. Pemeriksaan auskultasi normal, denyut
jantung janin sudah terdengar lebih dini dan lebih jelas, ibu merasa nyeri di
perut pada setiap gerakan anak, persalinan lebih lama dari biasanya, sewaktu
his/mules akan terasa sakit sekali, bila ketuban pecah, air ketuban akan sedikit
sekali bahkan tidak ada yang keluar.
E. Penegakan Diagnosis
Wanita hamil yang dicurigai mengalami oligohidramnion, harus dilakukan
pemeriksaan ultrasonografi untuk memperkirakan jumlah cairan amnion, dan
memastikan diagnosis oligohidramnion.5 Oligohidramnion dapat dicurigai
bila terdapat kantong amnion yang kurang dari 2x2 cm, atau indeks cairan
pada 4 kuadran kurang dari 5 cm. setelah 38 minggu volume akan berkurang,
tetapi pada postterm oligohidramnion merupakan penanda serius apalagi bila
bercampur mekonium.3
Amnionic fluid index (AFI) diukur pertama dengan membagi uterus
menjadi empat kuadran dengan menggunakan linea nigra sebagai divisi kanan
dan kiri, umbilikus untuk kuadran atas dan bawah. Diameter maksimum
vertikal kantong amnion di setiap kuadran yang tidak mengandung tali pusat
atau ekstremitas janin diukur dalam sentimeter; jumlah pengukuran ini adalah
AFI. Sebuah AFI normal adalah 5,1-25 cm, dengan oligohidramnion
didefinisikan sebagai kurang dari 5,0 cm dan polihidramnion karena lebih
dari 25 cm (Gambar 2).8
Penilaian jumlah cairan amnion melalui pemeriksaan ultrasonografi dapat
dilakukan dengan cara subjektif ataupun semikuantitatif.3
1. Penilaian Subjektif3
Dalam keadaan normal, janin tampak bergerak bebas dan
dikelilingi oleh cairan amnion. Struktur organ janin, plasenta, dan tali
pusat dapat terlihat jelas. Kantung-kantung amnion terlihat di beberapa
tempat, terutama pada daerah diantara kedua tungkai bawah dan
diantara dinding depan dan belakang uterus. Pada kehamilan trimester
III biasanya terlihat sebagian dari tubuh janin bersentuhan dengan
dinding depan uterus.
Pada keadaan oligohidramnion, cairan amnion disebut berkurang
bila kantung amnion hanya terlihat di daerah tungkai bawah dan
disebut habis bila tidak terlihat lagi kantung amnion. Pada keadaan ini
aktivitas gerakan janin menjadi berkurang. Struktur janin sulit
dipelajari dan ekstremitas tampak berdesakan.
2. Penilaian Semikuantitatif3
Penilaian semikuantitatif dapat dilakukan melalui beberapa cara,
diantaranya: 1) Pengukuran diameter vertikal yang terbesar pada salah
satu kantong amnion. Morbiditas dan mortalitas perinatal akan
meningkat bila diameter vertikal terbesar kantong amnion <2cm pada
oligohidramnion. 2) pengukuran indeks cairan amnion (ICA).
Pengukuran ICA uterus dibagi kedalam 4 kuadran, pada setiap kuadran
uterus dicari kantong amnion terbesar, bebas dari bagian tali pusat dan
ekstremitas janin. Indeks cairan amnion merupakan hasil penjumlahan
dari diameter vertikal terbesar kantong amnion pada setiap kuadran.
Nilai ICA yang normal adalah antara 5-20 cm. Penulis lain
menggunakan batasan 5-18 cm atau 5-25 cm. Disebut oligohidramnion
bila ICA < 5cm.

Gambar 2. Kategori Diagnostik AFI

F. Tatalaksana
Pertimbangkan untuk hospitalisasi pada kasus yang didiagnosa setelah usia
kehamilan 26-33 minggu. Jika fetus tidak memiliki anomali, persalinan
sebaiknya dilakukan.1 Ibu disarankan untuk tirah baring dan hidrasi guna
meningkatkan produksi cairan ketuban dengan meningkatkan ruang
intravaskular ibu . Studi menunjukkan bahwa dengan minum 2 liter air , dapat
meningkatkan AFI sebesar 30 % .1 Jika anomali janin tidak dianggap
mematikan atau penyebab oligohidramnion tidak diketahui, amnioinfusion
profilaktik dengan normal salin, ringer laktat, atau glukosa 5% dapat
dilakukan untuk mencegah deformitas kompresi dan penyakit paru
hipoplastik, dan juga untuk memperpanjang usia kehamilan.5
Amnioinfusion adalah pemberian infuse normal salin 0,9% ke dalam
uterus selama persalinan untuk menghindari kompresi pada tali pusat atau
untuk melarutkan mekonium yang bercampur dengan cairan amnion. Studi
menunjukkan bahwa normal salin tidak akan mempengaruhi keseimbangan
elektrolit fetus. Pada kehamilan preterm direkomendasikan menggunakan
cairan hangat, sedangkan untuk kehamilan aterm dianjurkan cairan pada suhu
ruangan. Aminoinfusion dilakukan dengan menggunakan intrauterine
pressure catheter (IUPC). Prosedur melakukannya yakni (1) menghubungkan
kantong cairan infuse ke IV tubing; (2) Flush tubing, untuk menghindari
masuknya udara ke dalam uterus; (3) Menjelaskan kepada pasien bahwa
prosedur infuse tidak akan menyakitkan. Insersi IUPC mungkin akan tidak
nyaman; (4) Menyiapkan sarung tangan steril, lubrikan, IUPC, dan kabel; (5)
atur IUPC pada tekanan nol atmosfer; (6) Setelah IUPC dimasukkan, nilai
tonus uterus saat pasien istirahat pada sisi kiri, kanan, dan punggung, lalu
rekam.(7) Pasang IV tubing pada AMNIO port di IUPC. (8) Bolus dengan
250-600 ml, 250 ml akan menghasilkan 6cm kantung cairan amnion; (9)
Gunakan infuse pump setelah bolus, maintenance cairan 150-180ml per jam,
yang paling sering digunakan adalah 180 ml per jam. Interpretasinya
dikatakan hasilnya positif jika didapati penurunan keparahan deselerasi,
mekonium berkurang viskositasnya dan warnanya lebih cerah. Sedangkan
dikatakan negatif jika terjadi peningkatan tonus uterus saat istirahat dan tidak
ada peningkatan pada pola DJJ. Kontraindikasi dari amnioinfusion seperti
plasenta previa, korioamnionitis, fetal anomali, malpresentasi janin,
impending delivery, kehamilan multipel, kelainan uterus, serviks yang tidak
berdilatasi, perdarahan pada trimester III yang tidak terdiagnosa. Adapun
komplikasi dari tindakan ini yaitu hidramnion, prolaps tali pusat, tekanan
intra uterus yang tinggi, abruptio plasenta, infeksi uterus, maternal chilling
(karena cairan terlalu dingin), fetal bradikardi (karena cairan terlalu dingin),
fetal takikardi (karena cairan terlalu panas).9
Pada kehamilan post matur, tinjau ulang mengenai hari pertama haid
terakhir. Jika kehamilan memang benar post term, cara persalinan fetus
adalah dengan induksi atau seksio sesarea. Jika mekonium dijumpai selama
persalinan, terapi aminoinfusion untuk mengurangi resiko gawat janin dan
apirasi prenatal.1
Gambar 3. Prosedur Amnioinfusion
G. Komplikasi
Oligohidramnion yang terjadi oleh sebab apapun akan berpengaruh buruk
pada janin. Komplikasi yang sering terjadi adalah hipoplasia paru, deformitas
pada wajah dan otot skeletal, kompresi tali pusat, dan asipirasi mekonium
pada masa intra partum, dan kematian janin.3 Deformitas yang dapat terjadi
pada janin misalnya pada amniotic band syndrome, yaitu terjadinya adhesi
antara amnion dengan fetus yang menyebabkan deformitas yang serius
termasuk amputasi pada ektremitas bawah atau deformitas muskuloskeletal
akibat kompresi pada uterus (seperti clubfoot).2 Resiko infeksi pada fetus
meningkat seiring dengan pecahnya ketuban yang lama.1
H. Prognosis
Secara umum, oligohidramnion yang berkembang di awal kehamilan
jarang terjadi dan seringkali memiliki prognosis yang buruk. Saat didiagnosis
pada pertengahan kehamilan, kelainan ini sering berkaitan dengan agenesis
renal (tidak adanya ginjal). Pada agenesis ginjal, angka mortalitasnya
mencapai 100%.1
Pada renal dysplasia atau obstructive uropathy akan berkaitan erat dengan
hipoplasia pulmoner derajat ringan-sedang (sindrom Potter, yaitu bayi yang
menderita hypoplasia pulmoner) dan gagal ginjal jangka panjang. Dalam
kasus hipoplasia paru , efektivitas pengobatan seperti pemberian surfaktan ,
ventilasi frekuensi tinggi , dan oksida nitrat belum diketahui efektivitasnya .
Prognosis dalam kasus ini berkaitan dengan volume cairan ketuban dan usia
kehamilan saat terjadinya oligohidramnion.1 Jika terdiagnosis sebelum
kehamilan 37 minggu, hal ini kemungkinan berkaitan dengan abnormalitas
janin atau ketuban pecah dini yang menyebabkan cairan amnion gagal
berakumulasi kembali.
Gambar 4. Prognosis Pada Kasus Oligohidramnion
DAFTAR PUSTAKA

1. Charter, Barter. Polyhydramnios and Oligohydramnions. Available at


http://reference.medscape.com/article/975821-overview [Diakses 2
Oktober 2018]
2. Norwitz, ER.Schorge, JO. 2001. Obstetrics and Gynecology at a Glance.
Blackwell science. p 102-103
3. Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina
Pustaka. Hal 155-156,267-269,277
4. Cunningham, et al.2010.Williams Obstetrics 23rd ed. McGraw-Hill. p 59-
61, 490-491, 495-498
5. Chamberlain, G. 1997. Obstetrics by 10 Teachers, 16th ed. Oxford
University press. p 13-14
6. Cunnigham FG. 2005. Williams Obstetrics 22nd ed. McGraw-Hill. p 296-
299
7. Ultrasound Assessment of Amniotic Fluid. Available at
http://www.fetalultrasound.com/online/text/3-063.HTM [Diakses 2
Oktober 2018]
8. John T. Queenan, Catherine Y. Spong, Charles J. Lockwood.
2007.Management of High Risk Pregnancy: An Evidence –Based
Approach. Blackwell Publishing : 319
9. Aminoinfusion nursing guideline. 2011. Available at
http://obgyn.med.umich.edu/sites/obgyn.med.umich.edu/files/internal_reso
urces_clinical/amnioinfusion.pdf [Diakses 2 Oktober 2018]
10. Weismiller, David. 1998. Transcervical amnioinfusion. East Carolina
University School of Medicine Greenville, Am Fam Physician. Feb
1:57(3):504-510.