Anda di halaman 1dari 3

2.2.

Material
Setiap material memiliki kemampuan tertentu dalam menghantarkan
energi baik energi panas maupun energi listrik. Berdasarkan kemampuan
menghantarkan energi tersebut, material dapat dikelompokan menjadi isolator,
semikonduktor, konduktor dan superkonduktor. Superkonduktor adalah bahan
yang dapat mengalirkan arus listrik tanpa adanya hambatan dengan suhu yang
sangat rendah. Sifat yang dapat dihasilkan dari superkonduktor adalah hilangnya
hambatan listrik di bawah suhu yang dikenal sebagai suhu kritis (Evan dkk, 2017).
Material konduktor merupakan suatu penghantar atau benda yang
berbentuk logam ataupun non logam yang dapat mengalirkan energi berupa panas
ataupun listrik dari satu titik ke titik yang lain dengan baik. Penghantar tersebut
dapat berupa kabel (penghantar dengan selubung isolasi) atau kawat (penghantar
tanpa isolasi) ataupun sebagai material dalam suatu alat industri (Nurcipto, 2015).
Material konduktor yang digunakan harus memenuhi persyaratan berikut:
1) Memiliki konduktivitas termal yang cukup tinggi.
2) Memiliki koefisien muai panjang yang kecil.
3) Memiliki modulus elastisitas yang cukup besar.
Jenis material konduktor yang biasa digunakan adalah logam biasa, seperti
tembaga, alumunium dan besi, logam campuran (alloy) yaitu logam dari tembaga
atau alumunium yang dicampur dengan jumlah tertentu dari logam jenis lain
untuk meningkatkan kekuatan mekanisnya, dan logam paduan (composite), yaitu
dua atau lebih jenis logam yang dipadukan atau lebih jenis logam yang dipadukan
dengan proses kompresi, peleburan (melting) ataupun pengelasan (welding).
Klasifikasi material konduktor menurut bahan yang digunakan terbagi
menjadi empat, yaitu bahan kawat logam biasa seperti BCC (bare copper
conductor), dan AAC (all alumunium conductor), bahan kawat logam campuran
(alloy) seperti AAAC (all alumunium alloy conductor), bahan kawat logam
panduan (composite), seperti kawat baja berlapis tembaga (copper clad steel), dan
bahan kawat yang lilitannya terbagi menjadi dua jenis logam atau lebih, seperti
ACSR (alumunium conductor steel reinforced). Material konduktor umumnya
digunakan pada alat industri proses perpindahan panas seperti heat exchanger.
2.6. Penelitian Terkait
Panas merupakan salah satu bentuk energi yang dapat dipindahkan dari
suatu tempat ketempat lain, panas dapat mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu,
perubahan tekanan, reaksi kimia, dan kelistrikan pada suatu zat di dalam proses.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan praktikum ini yaitu
penelitian Suswanto, Mustaqim, dan Agus (2015) yang berjudul Perpindahan
Panas pada Heat Exchanger Double Pipe dengan Sirip Berbentuk Siku Empat,
yang menyatakan bahwa proses terjadinya perpindahan panas dapat dilakukan
secara langsung, yaitu ketika terjadinya pepindahan panas diantara ke dua fluida
tanpa adanya pemisah dan secara tidak langsung, yaitu terjadinya perpindahan
panas diantara fluida panas dan dingin yang dipisahkan oleh pemisah (sekat).
Perpindahan panas secara konduksi merupakan perpindahan panas antara
molekul-molekul yang saling berdekatan antara yang satu dengan yang lainnya,
dan tidak diikut oleh perpindahan molekul-molekul secara fisik. Molekul-molekul
benda yang panas akan bergetar lebih cepat dibandingkan molekul benda dalam
keadaan dingin. Getaran-getaran yang berkecepatan tinggi ini, akan menghasilkan
daya yang lebih besar dan daya tersebut akan melakukan perpindahan kepada
molekul di sekelilingnya, sehingga molekul benda dalam keadaan dingin akan
menghasilkan daya yang lebih besar. Daya tersebut akan menyebabkan panas
sehingga akan terjadi perpindahan panas diantara kedua molekul tersebut.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang berkaitan dengan praktikum ini
yaitu penelitian Ratnawati, dan Amir (2018) yang berjudul Desain Ulang Alat
Penukar Kalor Tipe Shell and Tube dengan Material Tube Carbon Steel dan
Stainless Steel 304, dikatakan bahwa konduktifitas termal material carbon steel
sebesar 54 W/𝑚2 K dan konduktifitas termal stainless steel 304 sebesar 15 W/𝑚2
K (selisih 72.2 %) dihasilkan perpindahan panas yang terjadi dengan material tube
carbon steel sebesar 2001.76 W/𝑚2 K (tube) dan 5707.46 W/𝑚2 K (shell),
sedangkan menggunakan material tube stainless steel 304 perpindahan panas yang
terjadi sebesar 1950.78 W/𝑚2 K (tube) dan 5256.5 W/𝑚2 K (shell), sehingga dapat
disimpulkan bahwa perbedaan konduktivitas termal dapat mempengaruhi hasil
perpindahan panas diantara fluida dingin dan fluida panas dalam suatu proses.
DAFTAR PUSTAKA

Evan, dkk. 2017. Pembuatan dan Karakteristik Bahan Organik Berbasis TTF
dengan Akseptor TCNQ dan RbZn(SCN)4. Jurnal Ilmu dan Inovasi
Fisika. Vol. 1(1): 70.
Nurcipto, D. 2015. Material Teknik. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro.
Suswanto, Mustaqim, dan Agus, W. 2015. Perpindahan Panas pada Heat
Exchanger Double Pipa dengan Sirip Berbentuk Siku Empat. Jurnal
Teknik Industri Universitas Pancasakti. Vol. 1(1): 48.
Ratnawati, dan Amir, S. 2018. Desain Ulang Alat Penukar Kalor Tipe Shell and
Tube dengan Material Tube Carbon Steel dan Stainless Steel 304. Jurnal
Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Metro. Vol. 7(1): 79-80.