Anda di halaman 1dari 6

Nama : Rizki Gumelar

NIM : 03031381621104
Shift : Rabu (13.40 – 16.40 WIB)
Kelompok : 2

U – TUBE HEAT EXCHANGER

U-tube heat exchanger adalah salah satu tipe dari heat exchanger shell and
tube. Seperti namanya, tube dari u-tube heat exchanger dibengkokkan dalam bentuk
huruf U. Hanya ada satu tubesheet dalam heat exhanger tipe ini. Satu tubesheet ini
dapat menurunkan harga jika dilihat dari sisi ekonomisnya, namun walaupun hanya
memiliki satu tubesheet, tube yang dibengkokkan dalam bentuk huruf U membuat
ukuran diameter dari shell nya lebih besar dan membuat cost dalam perancangannya
lebih besar jika dibandingkan dengan tipe fixed-tubesheet heat exhanger.
Keunggulan dari tipe u-tube heat exchanger ini adalah karena pada salah satu
ujungnya, tumpukan tube dapat berekspansi atau mengkerut sebagai respon jika terjadi
perubahan kondisi operasi dalam tekanannya. Bagian luar dari tube dapat dibersihkan
dan tumpukan tube dapat dilepas agar mudah dalam proses pembersihannya.
Kekurangan dari u-tube heat exchanger ini adalah konstruksi rangkaian dari bagian
dalam tube tidak dapat dibersihkan dengan efektif karena bengkokan dari tube
membutuhkan alat yang fleksibel untuk pembersihan. Pemakaian dari u-tube heat
exchanger ini sebisa mungkin tidak untuk fluida kotor yang memasuki tube nya.

Gambar 1. U-Tube Heat Exhanger


(Sumber : Kuppan, 2000)

Aplikasi dari u-tube heat exchanger sebagai pendingin air panas domestik,
cairan dan gas dan pendingin dari minyak, lalu sebagai kondensor dari steam
generator, air umpan boiler dalam suatu power plant, lalu dapat juga dipakai dalam
kolam renang sebagai pemanas. Digunakan juga pendinginan glikol lalu sebagai
penukar panas dalam industri kimia dan pemurnian minyak dan digunakan juga dalam
sirkulasi air boiler sebagai pemanasan awal sebelum masuk ke boiler.
Unit penukar kalor adalah suatu alat untuk memindahkan panas dari suatu
fluida ke fluida yang lain. Sebagian besar dari industri-industri yang berkaitan dengan
pemprosesan selalu menggunakan alat ini, sehingga alat penukar kalor ini mempunyai
peran yang penting dalam suatu proses produksi atau operasi. Salah satu tipe dari alat
penukar kalor yang banyak dipakai adalah Shell and Tube Heat Exchanger. Alat ini
terdiri dari sebuah shell silindris di bagian luar dan sejumlah tube (tube bundle) di
bagian dalam, dimana temperatur fluida di dalam tube bundle berbeda dengan di luar
tube (di dalam shell) sehingga terjadi perpindahan panas antara aliran fluida didalam
tube dan di luar tube. Adapun daerah yang berhubungan dengan bagian dalam tube
disebut dengan tube side dan yang di luar dari tube disebut shell side.
Pemilihan yang tepat dari suatu alat penukar panas akan menghemat biaya
operasional harian dan juga biaya perawatan. Bila alat penukar kalor dalam keadaan
baru, maka permukaan yang berbahan logam dari pipa-pipa pemanas masih dalam
keadaan bersih setelah alat beroperasi beberapa lama maka terbentuklah lapisan
kotoran atau kerak pada permukaan pipa tersebut. Tebal tipisnya lapisan kotoran
tergantung dari fluidanya. Adanya lapisan tersebut akan mengurangi koefisien
perpindahan panasnya. Harga koefisien perpindahan panas untuk suatu alat penukar
kalor selalu mengalami perubahan selama pemakaian. Batas terakhir alat dapat
berfungsi sesuai dengan perencanaan adalah saat harga koefisien perpindahan panas
mencapai harga minimum. Alat penukar panas atau heat exchanger adalah alat yang
digunakan untuk memindahkan panas dari sistem ke sistem lain tanpa perpindahan
massa dan bisa berfungsi sebagai pemanas maupun sebagai pendingin.
Medium pemanas yang biasa dipakai adalah air yang dipanaskan sebagai fluida
panas dan air biasa sebagai air pendingin (cooling water). Penukar panas dirancang
sebisa mungkin agar perpindahan panas antar fluida dapat berlangsung secara efisien
dan juga optimum. Pertukaran panas terjadi karena adanya kontak, baik antara fluida
yang terdapat dinding yang memisahkannya maupun keduanya bercampur langsung
(direct contact). Penukar panas luas dipakai dalam industri seperti kilang minyak,
pabrik kimia maupun petrokimia, industri gas alam, refrigerasi, pembangkit listrik.
Salah satu contoh sederhana dari alat penukar panas adalah radiator mobil di
mana cairan pendingin memindahkan panas mesin ke udara sekitar. Alat penukar kalor
sangat dibutuhkan pada proses produksi dalam suatu industri, maka untuk mengetahui
unjuk kerja dari alat penukar kalor perlu diadakan analisis. Dengan analisis tepat yang
dilakukan, dapat diketahui bahwa alat tersebut mampu menghasilkan kalor dengan
standar kerja sesuai kebutuhan yang diinginkan. Penukar panas dapat diklasifikasikan
menurut pengaturan arus mereka. Dalam aliran secara bertahap penukar panas, dua
cairan masuk ke penukar pada keluaran yang sama, dan perjalanan secara paralel satu
sama lain ke sisi lain. Dalam counter-flow penukar panas cairan masuk ke penukar dari
ujung yang berlawanan arah. Desain saat ini, counter flow merupakan yang paling
efisien, karena dapat mentransfer panas yang paling baik. Dalam suatu heat exchanger
lintas-aliran, cairan perjalanan sekitar tegak lurus satu sama lain melalui exchanger.
Untuk efisiensi, penukar panas yang dirancang untuk memaksimalkan luas
permukaan dinding antara kedua cairan, dan meminimalkan resistensi terhadap aliran
fluida melalui suatu heat exchanger. Kinerja penukar juga dapat dipengaruhi oleh
penambahan sirip atau corrugations dalam satu atau dua arah, yang meningkatkan luas
permukaan dan dapat menyalurkan aliran fluida atau menyebabkan turbulensi.
Dikarenakan banyaknya jenis dari alat penukar kalor, maka dalam pembahasan
akan dibatasi pada alat penukar kalor jenis heat exchanger yang banyak dijumpai dalam
industri perminyakan. Heat exchanger ini juga banyak terdapat jenis - jenisnya. Perlu
diketahui bahwa untuk alat-alat ini terdapat suatu terminologi yang telah distandarkan
untuk menamai alat dan bagian-bagian alat tersebut yang dikeluarkan oleh asosiasi
pembuat heat exchanger yang lebih dikenal dengan tubular exchanger manufactures
association (TEMA). Standarisasi tersebut bertujuan untuk melindungi dan menjamin
para pemakai dari bahaya kerusakan atau kegagalan alat, karena alat ini beroperasi
pada suatu kondisi temperatur dan tekanan yang cukup tinggi sehingga perlu adanya
badan standarisasi yang bisa menjamin kualitas dari heat exhanger ini.
Didalam standar mekanik tubular exchanger manufactures association
(TEMA), terdapat dua macam kelas dari heat Exchanger, yaitu kelas R, yaitu untuk
suatu peraalatan yang bekerja dengan kondisi berat, misalnya untuk industri minyak
dan kimia berat dan kelas C, yaitu yang dibuat untuk general purpose, dengan
didasarkan pada segi ekonomis dan ukuran kecil, digunakan untuk proses-proses
umum industri. Jenis-jenis Heat Exchanger yang terdapat pada industri sangat
bervariasi dan dapat dibedakan menjadi shell and tube dan double pipe heat exchanger.
Jenis shell and tube merupakan jenis yang paling banyak digunakan dalam
industri perminyakan. Alat ini terdiri dari sebuah shell (tabung atau slinder besar) yang
didalamnya terdapat suatu bundle (berkas) pipa dengan diameter yang relatif kecil.
Satu jenis dari fluida mengalir didalam pipa-pipa sedangkan fluida lainnya mengalir
dibagian luar pipa tetapi masih didalam shell . Alat penukar panas cangkang dan buluh
terdiri atas suatu bundle pipa yang dihubungkan secara parallel dan ditempatkan dalam
sebuah pipa mantel (cangkang ). Fluida yang satu mengalir di dalam bundle pipa,
sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan,
atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang menempel
pada mantel. Untuk meningkatkan efisiensi pertukaran panas, biasanya pada alat
penukar panas cangkang dan buluh dipasang baffle (Paduana, 2015).
Tujuannya adalah untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu
tinggal ( residence time ), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop
operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang dipertukarkan
panasnya harus diatur. Ada beberapa fitur desain termal yang akan diperhitungkan saat
merancang tabung di shell dan penukar panas tabung. Ini termasuk diameter pipa yang
menggunakan tabung kecil berdiameter membuat penukar panas baik ekonomis dan
kompak. Namun, lebih mungkin untuk heat exchanger untuk mengacau-balaukan lebih
cepat dan ukuran kecil membuat mekanik membersihkan fouling yang sulit. Untuk
menang atas masalah fouling dan pembersihan, diameter tabung yang lebih besar dapat
digunakan. Jadi untuk menentukan diameter tabung, ruang yang tersedia, biaya dan
sifat fouling dari cairan harus dipertimbangkan kembali (Gholap, 2016).
Aspek yang lain ialah ketebalan tabung: Ketebalan dinding tabung biasanya
ditentukan untuk memastikan ada ruang yang cukup untuk korosi , getaran aliran-
diinduksi memiliki ketahanan , aksial kekuatan, kemampuan untuk dengan mudah stok
suku cadang biaya Kadang-kadang ketebalan dinding ditentukan oleh perbedaan
tekanan maksimum di dinding. Aspek berikutnya yaitu panjang tabung .Penukar panas
biasanya lebih murah ketika mereka memiliki diameter shell yang lebih kecil dan
panjang tabung panjang. Dengan demikian, biasanya ada tujuan untuk membuat
penukar panas selama mungkin. Namun, ada banyak keterbatasan untuk ini, termasuk
ruang yang tersedia di situs mana akan digunakan dan kebutuhan untuk memastikan
bahwa ada tabung tersedia dalam panjang yang merupakan dua kali panjang yang
dibutuhkan sehingga tabung dapat ditarik dan diganti (Maheswari, 2016).
Shell and tube penukar panas terdiri dari serangkaian tabung. Satu set dari
tabung berisi cairan yang harus baik dipanaskan atau didinginkan. Cairan kedua
berjalan lebih dari tabung yang sedang dipanaskan atau didinginkan sehingga dapat
menyediakan panas atau menyerap panas yang dibutuhkan. Satu set tabung disebut
berkas tabung dan dapat terdiri dari beberapa jenis tabung yaitu polos, bersirip
longitudinal dan lain-lain. Shell dan penukar panas tabung biasanya digunakan untuk
aplikasi tekanan tinggi (dengan tekanan lebih besar dari 30 bar) dan suhu lebih besar
dari 260 ° C. Ini karena shell dan penukar panas tabung yang kuat karena bentuknya.
Faktor yang mempengaruhi efektivitas alat penukar panas (heat exchanger)
terutama heat exchanger tipe shell & tube yaitu penggunaan baffle dapat meningkatkan
efektifitas dari alat penukar panas, hal ini sejalan dengan peningkatan koefisien
perpindahan panas, pengaruh tebal isolasi pada bagian luar shell, efektifitas meningkat
hingga suatu harga maksimum dan kemudian berkurang. Dengan menggunakan alat
penukar panas tabung konsentris, efektifitas berkurang, jika kecepatan udara masuk
dingin meningkat dan efektifitas meningkat, maka laju alir massa udara meningkat.
Menentukan jarak antar baffle minimum adalah 0,2 dari diameter shell sedangkan jarak
maksimum ialah 1x diameter dalam shell. Jarak baffle yang panjang akan membuat
aliran membujur dan kurang menyimpang dari aliran melintang.
DAFTAR PUSTAKA

Gholap, S, Pande, S, dan Panchagade, D. 2016. Finite Element Analysis of Stacked U-


Tube Heat Exchanger. Inter national Journal of Engineering Trends and
Technology (IJETT). Vol. 39(3): 160-167.
Kuppan, T. 2000. Heat Exchanger Design Handbook. New York: Maercel Deker Inc.
Maheswari, D dan Trivedi, K . 2016. Experimental Investigation of U-tube Heat
Exchanger Using Plain Tube and Corrugated Tube. International Research
Journal of Engineering and Technology (IRJET). Vol. 3(5): 1931-1936.
Paduana, B. 2015. Makalah Heat Exchanger. (Online). https://www.academia.edu/
8315459/tugas_perpindahan_panas_makalah_heat_exchanger_alat_penukar_p
anas. (Diakses pada tanggal 7 oktober 2018)