Anda di halaman 1dari 6

Nama : Achmad Reza Aditya

NIM : 03031381621059
Shift : Kamis (08:00-11:00 WIB)
Kelompok : 1

REVIEW JURNAL ABSORPSI

Absorpsi adalah proses pemisahan bahan dari suatu campuran gas dengan
cara pengikatan bahan pada permukaan absorben cair yang diikuti dengan
pelarutan. Absorben adalah cairan yang dapat melarutkan bahan yang akan
diabsorpsi pada permukaannya,baik secara fisik maupun secara kimia. Sifat
absorben yang baik digunakan seperti absorben harus memiliki daya larut yang
tinggi terhadap komponen yang hendak ditransfer dan sifat lainnya adalah absorben
bersifat non-volatile untuk mengurangi hilangnya absorben bersama gas.

1. Pengaruh Suhu Terhadap Sifat-Sifat Gas-Cairan pada Absorpsi CO2


Menggunakan a-MDEA
Absoprsi merupakan suatu teknik pemisahan gas dengan suatu cairan non
volatile sehingga terjadi proses perpindahan komponen gas dari lapisan film gas
melewati interface gas-cair dan masuk ke dalam lapisan cairan. Mekanisme proses
yang terjadi dapat berupa perpindahan massa saja atau perpindahan panas yang
diikuti dengan reaksi kinia, Metode pemisahan karbondioksida hanya chemical
absorption yang efektif digunakan untuk pabrik kimia. Proses perhitungan pada
absorpsi gas cair yang diikuti dengan reaksi kimia di dasarkan pada kecepatan
perpindahan massa dan panas antara gas dan cairan sepanjang kolom absorpsi.
Neraca massa dan panas diturunkan menggunakan persaman kecepatan
perpindahan melewati interface berdasarkan dua lapisan film (two-film theory)
dengan pendekatan overall rate transfer. Interface gas-cair diasumsikan terjadi
kesetimbangan termodinamika, sedangkan dalam lapisan pada cairan terjadi
kesetimbangan kimia. Keakuratan estimasi besaran perpindahan massa di lapisan
film gas dan cairan merupakan hal yang sangat penting dalam merancang alat
absorpsi di pabrik kimia. Estimasi besaran perpindahan massa membutuhkan sifat
fisis campuran gas dan cairan secara langsung dipengaruhi oleh suhu dan tekanan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh perubahan suhu
terhadap sifat-sifat campuran gas dan cairan sepanjang kolom absoprsi. Perubahan
suhu sepanjang kolom absoprsi di dapat dari hasil perhitungan neraca massa dan
panas komponen gas dan cairan. Meningkatnya suhu gas membuat berat molekul,
difusivitas, dan viskositas campuran gas akan meningkat. Koefisien perpindahan
massa karbondioksida dan fase gas ke interface gas-cair, akan semakin turun
dengan meningkatnya suhu. Kolom absoprsi terjadi kontak antara gas dan cairan
yang melewati packing. Pada kondisi steady-state dapat disusun model matematis
perubahan komponen gas cair sepanjang kolom absorpsi. Aliran bersifat plug flow
sehingga perpindahan massa dan panas ke arah radial dapat diabaikan.
Model equation of state (EOS) digunakan untuk menghitung volume molar
campuran gas, densitas campuran gas, dan tekanan gas. EOS yang populer
digunakan adalah Soave-Redlich-Kwong dan Peng-Robinson dan dalam jurnal ini
digunakan EOS Soave-Redlich-Kwong. Berat molekul campuran gas atau cairan
dihitung dengan persamaan yang menghubungkan fraksi mol dengan berat molekul
individual komponen. Densitas gas diestimasi dari volume spesifik campuran gas
yang dihitung dengan equation of state. Koefisien diifusivitas suatu gas dalam
campuran gas dihitung dengan Blanc Law.Blanc law merupakan penyederhanaan
dari persaman Stefan-maxwell untuk solute dalam campuran gas homogen.
Kesimpulan yang di dapat pada jurnal adalah untuk campuran gas dengan
komposisi tidak berubah, kenaikan suhu akan membuat densitas gas semakin kecil,
namun pada suhu tetap kenaikan jumlah fraksi mol komponen yang memiliki berat
molekul yang besar akan membuat berat molekul campuran gas menjadi lebih besar
dan mengakibatkan densitas gas jugsa semakin besar. Koefisien transfer massa fase
gas semakin kecil dengan meningkatnya suhu. Densitas dan viskositas cairan akan
naik dengan bertambahnya jumlah senyawa organik yang terlalut pada suhu tetap.

2. Pemurnian Produk Biogas dengan Metode Absorpsi Menggunakan


Larutan Ca(OH)2
Krisis energi yang terjadi secara global sekarang disebabkan oleh
ketimbangan antara konsumsi dan sumber energi yang tersedia. Sumber energi fosil
semakin langkah dan membutuhkan energy alternatif yang bisa menggantikannya.
Sumber energi terbarukan merupakan sumber energi ramah lingkungan yang tidak
mencemari lingkungan. Biogas merupakan salah satu energi alternatif yang sedang
dikembangkan, Pembuatan biogas sangat sederhana,biogas berbahan dasar kotoran
sapi dan kemudian gas yang dihasilkan dialirkan menuju kolom vertikal yang berisi
larutan Ca(OH)2. Produk biogas terdiri dari metana (50-70 %), karbondioksida (25-
45 %) dan sejumlah kecil hidrogen, nitrogen, hidrogen sulfida. Kemurnian metana
dari produk biogas penting karena mempengaruhi nilai kalor yang dihasilkan.
Impuritis yang berpengaruh terhadap nilai kalor adalah karbondioksida.
Karbondioksida dalam gas metana sangat tidak diinginkan,hal ini dikarenakan
semakin tinggi kadar karbondioksida dalam metana maka semakin menurunkan
nilai kalor metana yang ditunjukkan dengan warna merah kekuningan pada nyala
api yang dihasilkan. Banyak teknologi yang telah dikembangkan untuk pemurnian
biogas dari karbondioksida. Teknologi ini meliputi absorpsi kimia, absoprsi fisik,
cryogenic, pemurnian dengan menggunakan membran dan fiksasi karbondioksida
dengan metode biologi atau kimia. Penelitian ini dilakukan pemurnian produk
biogas menggunakan metode absorpsi dengan menggunakan larutan Ca(OH)2. Tiga
tahap untuk terbentuknya biogas dari proses fermentasi anaerob yaitu, tahap
hidrolisis, tahap Asidifikasi atau pengasaman, dan tahap pembentukan gas metana.
Kandungan gas karbondioksida dalam biogas cukup besar sekitar 30-45 %
sehingga nilai kalor pembakaran biogas akan berkurang cukup besar. Komposisi
biogas tergantung pada sumber bahan bakunya. Proses pemurnian biogas
menggunakan member sangat baik pada tekanan operasi 5-7 bar. Pemilihan metode
yang cocok untuk pemisahan karbondioksida dari campurannya tergantung pada
beberapa parameter yaitu, konsentrasi karbondioksida di aliran umpan, sifat alami
komponen umpan, temperature dan tekanan. Larutan Ca(OH)2 disebut air kapur dan
merupakan basa dengan kekuatan sedang dibandingkan larutan NaOH. Larutan
tersebut bereaksi hebat dengan berbagai asam. Larutan menjadi keruh bila
dilewatkan karbon dioksida, karena mengendapnya kalsium karbonat.

3. Pengendalian Emisi Gas Buang Boiler Batubara dengan Sistem


Absoprsi
Pencemaran udara yang dihasilkan dari emisi boiler berbahan bakar
batubara memberi konstribusi yang besar bagi pencemaran lingkungan. Kondisinya
berbeda jauh dengan boiler yang menggunakan bahan bakar minyak yang
konsentrasi gas buangnya jauh lebih kecil daripada boiler dengan bahan bakar
batubara. Efisiensi proses penyerapan antara fase cair pada absorben dan fase gas
buang dari boiler adalah faktor yang perlu diperhatikan dalam pengendalian emisi
gas buang boiler batubara sistem absorpsi. Gas buang emisi SO2, NO2, CO, dan CO2
harus diminimasi untuk mengendalikan dampak pencemaran akibat emisi yang
dihasilkan. Pemilihan penyerap gas emisi yang bersifat asam, lebih efisien
menggunakan absorben yang bersifat basa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menganalisis emisi gas buang boiler batubara,dan memberi solusi penanganannya.
Pengamatan penelitian meliputi emisi boiler batubara, pencatatan dan
analisa laboratorium emisi gas buang sebelum dan sesudah absorber, pencatatan
laju alir gas dan penyerapan. Penelitian dimulai dari pengambilan emisi gas buang
boiler yang telah diserap di absorber dengan mengubah laju alir cairan NaOH.
Pengambilan sampel gas sebelum dan sesudah absorber dengan kantong udara (bag
air sampel) pada saat boiler dan absorber sedang beroperasi. Kondisi divariasikan
dengan laju alir larutan NaOH yang berasal dari limbah cair proses pembuatan
tekstil. Menganalisa sampel emisi digunakan gas analyzer. Pengolahan data
dihitung menggunakan program matlab dengan menyusun neraca komponen dan
menghitung Kga (koefisien transfer massa gas-cair) untuk mendapatkan jumlah gas
emisi yang terserap sehingga bisa diketahui gas buat diemisikan absorber.
Gas dihisap dengan pompa vakum di bagian atas absorber melewati packing
lalu keluar dari outlet atas absorber. Reaksi kimia dalam absorber terjadi pada
packing absorber, dimana cairan NaOH yang membasahi packing mengalami
kontak langsung dengan gas yang melewatinya. Cairan NaOH yang telah kontak
dengan gas emisi akan keluar pada bagian bawah absorber. Gas emisi telah
memenuhi baku mutu emisi pada laju alir 2500 L/jam yang disebabkan kelarutan
gas emisi yang bersifat asam akan cepat larut dengan penyerapan bersifat basa.

4. Studi Absorpsi CO2 Menggunakan Kolom Gelembung Berpancaran


Jet (Jet Bubble Column)
Keuntungan kolom gelembung pancaran diantaranya adalah sederhana
dalam perancangan, mudah dalam pengoperasian dan pemeliraannya, volume
reaktor yang dibutuhkan kecil, ukuran diameter gelembung yang terdispersi
kedalam cairan kecil. Pencampuran yang terjadi antar fasa gas-cair diperoleh
sendiri dari gerakan tumbukan cairan yang menumbuk cairan stagnan yang terdapat
di dalam kolom, tumbukan tersebut akan membentuk lubang seperti terompet serta
gas akan terhisap dan akan terperangkap diantara celah lubang. Tumbukan dapat
membentuk pusaran eddy. Perpindahan massa dari fase gas ke fase cair akibat
adanya gradien konsentrasi pada film cairan, dipengaruhi oleh sifat fisis bahan, pola
alir dan resim pola aliran. Nilai konstanta laju reaksi di dalam suatu kolom
gelembung pancaran dapat ditentukan melalui percobaan profil perubahan
konsentrasi larutan NaOH dalam kolom gelembung persatuan waktu.
Absorpsi dapat dilakukan dengan melihat aspek hidrodinamika dengan
parameter gas entrainment dan gas holdup, serta aspek kinetika dengan
memformulasikan berdasarkan persamaan pseudo first order reaction terhadap
absorben NaOH. Hidrodinamika kolom absorpsi diperoleh gambaran bahwa
semakin besar kecepatan pancaran cairan jet dan ukuran diameter nozzle akan
menghasilkan gas entrainment yang di peroleh semakin besar dan cenderung
berkorelasi linear terhadap laju kecepatan pancaran cairan jet, begitu juga untuk gas
hold up yang dihasilkan cenderung berkolerasi linear terhadap kecepatan cairan jet.

5. Analisa Transfer Massa Disertai Reaksi Kimia pada Absorpsi CO2


dengan Larutan Potasium Karbonat dalam Packed Column
Model absorpsi CO2 kedalam larutan K2CO3 di dalam packed column.
Model ini terdiri dari dua bagian yaitu neraca mikroskopik dalam packed column
dan model perpindahan massa antar massa untuk prediksi laju absorpsi. Menaikkan
laju alir absorben dapat menaikkan koefisien perpindahan massa sisi liquid atau
menurunkan tahanan perpindahan massa sisi liquid akibat kenaikan turbulen liquid.
Menaikkan laju alir absorben juga akan menurunkan konsentrasi
karbondioksida dalam badan liquid dan akibatnya akan memperbesar driving force
untuk perpindahan massa. Suhu cairan didalam kolom hampir seragam, hal ini
disebabkan karena efek panas yang diakibatkan oleh panas reaksi dan panas
pelarutan sangat kecil sehingga tidak menyebabkan kenaikan suhu cairan. Kinerja
packed column untuk absorpsi gas CO2 ke dalam larutan K2CO3 dalam packed
column dengan memperhitungkan efek panas. Pengaruh panas tidak terlalu penting,
namun efek panas tetap perlu diperhitungkan untuk pengembangan proses absorpsi
gas CO2 kedalam larutan K2CO3 pada packed column di dalam industri.
DAFTAR PUSTAKA

Achir, Z. Darmadi, dan Adisalamun. 2018. Pengaruh Suhu Terhadap Sifat Sifat
Gas-Cairan pada Absorpsi CO2 Menggunakan a-MDEA. Jurnal Rekayasa
Kimia dan Lingkungan. Vol. 13(1): 24-32.
Altway, A. Kusnaryo, dan Radya, P,W. 2008. Analisa Transfer Massa Disertai
Reaksi Kimia Pada Absorpsi CO2 Dengan Larutan Potasium Karbonat
Dalam Packed Column. Jurnal Teknik Kimia. Vol. 2(2): 119-126.
Djayanti, S. Purwanto, dan Setia, B, S. 2011. Pengendalian Emisi Gas Buang
Boiler Batubara Dengan Sistem Absorpsi. Jurnal Ilmu Lingkungan. Vol.
9(1): 18-25.
Nadliriyah, N. dan Triwikantoro. 2014. Pemurnian Produk Biogas dengan Metode
Absorpsi Menggunakan Larutan Ca(OH)2. Jurnal Sains dan Seni POMITS.
Vol. 3(2): 107-111.
Supramono., Dkk. 2008. Studi Absorpsi CO2 Menggunakan Kolom Gelembung
Berpancaran Jet (Jet Bubble Column). Makara. Vol. 12(1): 31-37.