Anda di halaman 1dari 19

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH


YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

KASUS
IDENTITAS
 Identitas Pasien
Nama : An. JTA
Umur : 5 tahun (27 maret 2012)
Jenis kelamin : Perampuan
Agama : Islam
Alamat : Malang jiwa RT 2 Bangun Harjo Sewon Bantul

 Identitas Orang tua


Nama ayah : Wawan
Pekerjaan : Buruh
Nama ibu : Umi Khatimah
Umur : 28 tahun
Pekerjaan : IRT
Pendidikan : SMA
Diagnosa Masuk : Vomitus profuse, febris hari IV ec Bactrial Infection
Masuk : 14-03-2017
Diagnosa Masuk : - Vomitus profuse
-febris Hari IV ec Bactrial Infection

Diagnose pulang : Bacterial Infection


Infeksi Saluran kemih

Preceptor : dr. Nadya Arafuri, Sp.A., M. Sc


Ko-asisten : Gita Suha Yuranda

I. ANAMNESIS  Alloanamnesis dengan Ibu Pasien Di Bangsal Anggrek C6


(15 maret 2017)
A. KELUHAN UTAMA: Demam , muntah-muntah

RM.01.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

B. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Jam 11.00 WIB

Jumat Sabtu minggu senin selasa rabu

HSMRS

Ibu pasien mengatakan demam dimulai sejak sabtu siang jam 11.00 WIB.
pada hari minggu demam (+), pasien mulai Batuk (+) dan Pilek (+),pasien mulai muntah pada
siang hari > 5 x setiap makan dan minum.
pada hari senin Demam (+), Batuk (+), pada malam hari pasien muntah > 7x setiap pasien
batuk dengan volume sedikit, dan muntah setelah makan / minum dengan volume yang banyak.
BAB terakhir berbentuk cair dengan frekuensi yang banyak , pusing (+) . riwayat mimisan, gusi
berdarah di sangkal.

HMRS
Pasien datang ke IGD tanggal 14-03-2017 hari selasa jam 06.40 dengan keadaan di gendong dan
menangis.
S: Demam (+) , Batuk (+), Muntah (+),Mual (+) , sesak nafas (-)
O/ KU : kesadaran CM,
Suhu : 39.3◦c Nadi : 120x/menit Nafas : 36x/menit
Kepala : mata cowong (+), air mata (+) ,
Thorax : simetris, retraksi (-)
p/vesikule (+/+)
j/bising (-)
Abdomen : supel , Nyeri tekan(+) , TE ( turgor elastis) kembali cepat , H/L ttb
Ekstremitas : Akral teraba dingin, Nadi kaki kuat, perfusi < 2 detik.

RM.02.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

RM.03.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

Pemeriksaan Penunjang
Hasil darah rutin :
AL : 27,7 HMT : 41,3 % NS: 84.3
HB : 13,5 LYMFOSIT : 10.0 %

A/ - vomituse perfuse
- Febris Hari IV cc Bactrial Infection

P/ inf. RL 4cc/KgBB

Dumin 125 mg rectal


injeksi ondansetron 1,5 mg
Syr. Paracetamol cth 1
II. Pemeriksaan Klinis (follow up tanggal 15-03-2017)
S/ : Demam (+), mual (+), muntah (-), batuk (+), pilek (-), BAB (+), BAK (+)

O/
 Keadaan Umum : pasien tampak lemas
 Kesadaran : compos mentis,
 Status Gizi : Baik
BB : 13 kg
BB/U : 0 sampai -2 SD
 Tanda-tanda vital
 Suhu : 37.8 0 C, axilla
 Nadi
a. Laju nadi : 122 x/menit
b. Irama : irreguler
c. Kualitas : kuat angkat
d. Ekualitas : sesuai

RM.04.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
 Respirasi
a. Laju pernafasan :24 x/menit
b. Irama : reguler
c. Tipe : normal
 Tekanan darah : tidak diukur

Pemeriksaan Fisik
 Kepala : mesosefal, simetris
a. Rambut : hitam, persebaran merata, tidak mudah dicabut
b. Mata : simetris, mata cowong (-), edema palpebra (-), gerakan bola mata (N),
juling (-), visus (baik), edema palpebra (-), sklera ikterik (-), konjungtiva anemis (-)
c. Hidung : simetris, ingus (-), nafas cuping hidung (-), epistaksis (-)
d. Telinga : simetris, kemerahan (-), keluar cairan (-), pendengaran (dbn), nyeri
tekan (-),
e. Mulut : bibir kering (-), pucat (-), gigi (+), lidah tremor (-), lidah kotor (-),
pembesaran tonsil (-),
f. Leher : pembesaran limfonodi (-),

 Thorax
a. Inspeksi : simetris (-), datar (-)
b. Palpasi : nyeri tekan (-), vokal fremitus (dbn),
c. Perkusi : sonor
d. Auskultasi : paru : vesikuler (+/+), ST (-/-); jantung : S1S2 reguler (+), bising (-)
 Abdomen
a. Inspeksi : datar
b. Auskultasi : BU (+)
c. Perkusi : tympani
d. Palpasi : supel, nyeri tekan (+), H/L tidak teraba besar
 Ekstremitas : Akral hangat (+), nadi kuat (+), perfusi <2 detik
Status neurologi : reflek fisiologis (+/+), reflex patologis (-/-)

RM.05.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

Pemeriksaan urinalisa tanggal 15-03-2017 jam 13.14


Jenis pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Metode pemeriksaan
URINALISA
Warna Kekeruhan Kuning- Kuning-Jernih Urinalysis Strips
Jernih
pH 5.5 5.0-6.5 Urinalysis Strips
BJ 1.025 1.005-1.030 Urinalysis Strips
Keton Positif (+) Negative Urinalysis Strips
Protein Positif (+) Negative Urinalysis Strips
Glukosa Negative Negative Urinalysis Strips
Darah Negative Negative Urinalysis Strips
Nitrit Negative Negative Urinalysis Strips
Urobilin Positif (+) Positif (+) Urinalysis Strips
Bilirubin Negative Negative Urinalysis Strips
URINALISA
(SEDIMEN)
Leukosit Positif(3- Positif (0-2)/LP Manual Mikroskop
5)/LP
Erythrosit Negative Negative (0)/LP Manual Mikroskop
Epithel Positif (0- Positif (0-2)/LP Manual Mikroskop
2)/LP
Slinder Hyalin Positif (+) Negative Manual Mikroskop
Slinder Leokosit Negative Negative Manual Mikroskop
Slinder Granula Negative Negative Manual Mikroskop
Kristal Oxalat Negative Negative Manual Mikroskop
Kristal Urat Negative Negative Manual Mikroskop
Kristal Triple Negative Negative Manual Mikroskop
Phospat
Kristal Amorf Negative Negative Manual Mikroskop
Kristal Cystina Negative Negative Manual Mikroskop
Bakteri Negative Negative Manual Mikroskop
Jamur Negative Negative Manual mikroskopis

Kesan : urinalisis terdapat proteinuria , leukosituria .

A : Bacterial Infection
Infeksi Saluran kemih

RM.06.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

P : Inf.RL 3cc/kg/jam
Inj.ceftriaxon 2x500 mg
Ondancefron ( STOP)
Pamol syr 1 cth (6-8)
Salbutamol 3x1 mg

Follow up pasien Hari Kamis 16-03-2017


S : demam (-), mual (-), muntah (-), batuk (+), pilek (-), BAB (+), BAK (+)
O : KU : compos mentis
T : 36,80 C, axilla N : 140x/menit Rr: 27x/menit
Kepala : CA(-/-), SI (-/-)
Mata cowong (-)
Thorax : simetris (+), retraksi (-)
c/ S1S2 (regular), bising (-)
p/ vesikuler (+/+), Wheezing (-)
Abdomen : datar (+), BU (+), supel (+), NT (-), TE (kembali cepat),
H/L tak teraba besar
Ekstremitas : akral hangat (+), nadi kaki kuat (+), perfusi (<2 detik)

A : Bacterial Infection
ISK
P : Inf.RL 3cc/kg/jam
Inj.ceftriaxon 2x500 mg
Pamol syr 1 cth (6-8)
Salbutamol 3x1 mg

Hari ke 3, cek Darah rutin Evaluasi :


AL : 6 HB : 11,3 NS : 33,3
HMT : 36,6 AT : 289 lymfosit : 59,5

Faktor resiko :
o pasien sering jajan sembarangan
o tidak ada keluarga atau tetangga yang menderita demam < 1 bulan ini
o tidak ada riwayat berpergian jauh
o ibu pasien mengatakan pasien sering menahan BAK

Kesan: Terdapat faktor risiko yang berhubungan dengan penyakit sekarang, yaitu
kemungkinan kebiasaan pasien sering jajan sembarangan dan menahan BAK.

RM.07.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU

Riwayat penyakit sebelumnya : Sesak nafas , serebal palsi


Riwayat alergi : Alergi susu formula sejak usia 1 tahun
Riwayat Rawat Inap : sesak nafas karena alergi pada usia < 2 tahun,
Therapy fisioterapi CP
Kesan: Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berkaitan dengan riwayat penyakit
sekarang.

C. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


- Riwayat hipertensi disangkal
- Riwayat DM disangkal
- Riwayat penyakit alergi/atopik ada yaitu saudara dari ibu
- Riwayat kejang disangkal

Kesan: Tidak terdapat riwayat penyakit dahulu yang berkaitan dengan riwayat penyakit
sekarang

E. Pedigree

30th 38th
33th 28th 22th

5 th

RM.08.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

Keterangan:
Laki-laki: Perempuan: abortus:
Kesan: pasien merupakan anak pertama dari pasangan ayah berumur 30 tahun dan ibu
berusia 28 tahun. Tidak ada riwayat penyakit keluarga yang diturunkan dan berhubungan
dengan penyakit sekarang. Ayah, ibu dan pasien tinggal dalam satu rumah.

D. RIWAYAT PRIBADI
1. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
a. Riwayat kehamilan ibu
Ibu sehat selama hamil : ya
Riwayat ANC : >4 kali di Bidan,
Pemeriksa : Bidan
Obat-obatan yang diminum : disangkal

b. Riwayat Kelahiran
P1A0
Tanggal persalinan : 11 Oktober 2015
Usia kehamilan : aterm
Cara persalinan : lahir spontan dengan pacuan , bayi tunggal
Penolong bidan, di Rumah Bersalin
BBL/PB : - ( ibu lupa)
Keadaan saat lahir : langsung menangis

2. Riwayat Makanan
Usia Makanan Kuantitas
0-6 bulan Asi + Sufor Ad libitum
6-9 bulan Sufor, nasi tim lauk ati 3 x sehari
ayam, sayur woretl dan
buah
9-12 bulan Sufor, nasi tim lauk ati 2-3 kali sehari
ayam, sayur wortel dan
buah
>12 bulan Nasi dengan lauk ikan, 3 kali sehari
telur,ayam dan paling
seringdengan ati ayam
tetapi jarang sayur.

3. Riwayat Perkembangan
RM.09.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
Bisa berjalan pada umur : 3 tahun
Bisa bicara pada umur : 3 tahun 6 bulan
Usia sekarang 5 tahun
BB : 13.5 Kg
TB : tidak di ukur

Perkembangan anak Perilaku anak Keterangan


Motorik kasar berjalan dan mengekspolasi Anak bisa melakukan
rumah dan sekeliling rumah
Motorik halus menyusun 2 atau 3 kotak Anak bisa melakukan
Sosial personal mengucapkan 5-10 kata Anak bisa melakukan tapi
tidak begitu lancar
Bahasa-adaptif memperlihatkan rasa cemburu dan Anak bisa melakukan
bersaing

4. Vaksinasi

Imunisasi Sudah dilakukan pada usia Tempat


HB 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, RSB
BCG 0 bulan, RSB
Polio 0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, posyandu
DPT 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, Posyandu
Campak 9 bulan posyandu

5. Sosial, Ekonomi, Lingkungan


- Anak tinggal bersama ibu dan ayah
- Rumah permanen, lantai semen, dinding dari tembok dan ada yang tidak dicat.
- Ventilasi dan cahaya dalam rumah cukup. Sumber air dari sumur, memasak
menggunakan kompor gas.
- Pekerjaan Ayah sebagai buruh dan Ibu rumah tangga, dengan pendapatan ± 4
juta/bulan
- Ayah punya kebiasaan merokok

RM.010.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

E. ANAMNESIS SISTEM
1. Sistem SSP : Riw. Cerebral palsy
2. Sistem kardiovaskular : tidak ada keluhan
3. Sistem respirasi : tidak ada keluhan
4. Sistem gastrointestinal : terasa nyeri
5. Sistem urogenital : terasa nyeri jika pipis
6. Sistem integumen : tidak ada keluhan
7. Sistem muskuloskeletal : tidak ada keluhan

III. Pemeriksaan Penunjang


a. Pemeriksaan Darah Rutin

Tanggal 14-03-2017

Jenis Hasil Nilai Satuan Metode pemeriksaan


pemeriksaan Rujukan
Hematologi
Leukosit 27,7 4,0-10,6 10^3/uL Automatic Analyzer
Eritrosit 5,27 4,00-5,00 10^3/uL Automatic Analyzer
Hemoglobin 13,5 11,0-16,0 g/dL Automatic Analyzer
Hematokrit 41,3 32,0-44,0 % Automatic Analyzer
MCV 78,4 81-99 Fl Automatic Analyzer
MCH 25,6 27-31 Pg Automatic Analyzer
MCHC 32,7 33-37 g/dL Automatic Analyzer
RDW CV 13,6 11-16 % Automatic Analyzer
Trombosit 349 150-450 10^3/uL Automatic Analyzer
Neutrofil% 84.3 50-70 % Automatic Analyzer
Limfosit% 10.0 20-40 % Automatic Analyzer
Monosit% 4,1 3-12 % Automatic Analyzer
Eosinofil% 1,1 0,5-5,0 % Automatic Analyzer
Basofil% 0,5 0-1 % Automatic Analyzer
Neutrofil# 23,36 2-7 10^3/uL Automatic Analyzer
Limfosit# 2,75 0,8-4 10^3/uL Automatic Analyzer

RM.011.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
Monosit# 1,13 0,12-1,2 10^3/uL Automatic Analyzer
Eosinofil# 0,31 0,002-0,50 10^3/uL Automatic Analyzer
Basofil# 0,16 0-1 10^3/uL Automatic Analyzer

F. DIAGNOSIS KERJA
1.Bacterial Infection
2. Infeksi Saluran Kemih

G. PLANNING
Inf.RL 3cc/kg/jam
Inj.ceftriaxon 2x500 mg
Pamol syr 1 cth (6-8)
Salbutamol 3x1 mg

Planning Edukasi
- Motivasi pemberian makan minum yang cukup
- Cukup istirahat
- PHBS

RM.012.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

Infeksi Saluran Kemih

I. Definisi
1. Infeksi saluran kemih (urinary tract infection=UTI) adalah bertumbuh dan berkembang
biaknya kuman atau mikroba dalam saluran kemih dalam jumlah bermakna.
2. Bakteriuria ialah terdapatnya bakteri dalam urin. Disebut bakteriuria bermakna bila
ditemukannya kuman dalam jumlah bermakna. Pengertian jumlah bermakna tergantung
pada cara pengambilan sampel urin. Bila urin diambil dengan cara mid stream,
kateterisasi urin, dan urine collector, maka disebut bermakan bila ditemukan kuman 105
cfu (colony forming unit) atau lebih dalam setiap mililiter urin segar, sedangkan bila
diambil dengan cara aspirasi supra pubik, disebutkan bermakna jika ditemukan kuman
dalam jumlah berapa pun.
3. Bakteriuria asimtomatik (asymptomatic bacteriuria, covert bacteriuria) adalah
terdapatnya bakteri dalam saluran kemih tanpa menimbulkan manifestasi klinis.
Umumnya diagnosis bakteriuria asimtomatik ditegakkan pada saat melakukan biakan
urin ketika check-up rutin/uji tapis pada anak sehat atau tanpa gejala klinis.
4. ISK simtomatik adalah ISK yang disertai gejala dan tanda klinik. ISK simtomatik dapat
dibagi dalam dua bagian yaitu infeksi yang menyerang parenkim ginjal, disebut
pielonefritis dengan gejala utama demam, dan infeksi yang terbatas pada saluran kemih
bawah (sistitis) dengan gejala utama berupa gangguan miksi seperti disuria, polakisuria,
kencing mengedan (urgency).
5. ISK non spesifik adalah ISK yang gejala klinisnya tidak jelas. Ada sebagian kecil (10-
20%) kasus yang sulit digolongkan ke dalam pielonefritis atau sistitis, baik berdasarkan
gejala klinik maupun pemeriksaan penunjang yang tersedia.

RM.013.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
II. Etiologi

Escherichia coli (E.coli) merupakan kuman penyebab tersering (60-80%) pada ISK serangan
pertama. dimana pada keadaan normal bakteri ini ada di kolon dan masuk ke uretra yang
terbuka, dari kulit sekitar anus dan genital. Penelitian di dalam negeri antara lain di RSCM
Jakarta juga menunjukkan hasil yang sama.Kuman lain penyebab ISK yang sering adalah
Proteus mirabilis, Klebsiella pneumonia, Klebsiella oksitoka,Proteus vulgaris, Pseudomonas
aeroginosa, Enterobakter aerogenes, dan Morganella morganii, Stafilokokus, dan Enterokokus.
Pada ISK kompleks, sering ditemukan kuman yang virulensinya rendah seperti Pseudomonas,
golongan Streptokokus grup B, Stafilokokus aureus atau epidermidis. Haemofilus influenzae
dan parainfluenza dilaporkan sebagai penyebab ISK pada anak. Kuman ini tidak dapat tumbuh
pada media biakan standar sehingga sering tidak diperhitungkan sebagai penyebab ISK. Bila
penyebabnya Proteus, perlu dicurigai kemungkinan batu struvit (magnesiumammonium-fosfat)
karena kuman Proteus menghasilkan enzim urease yang memecah ureum menjadi amonium,
sehingga pH urin meningkat menjadi 8-8,5. Pada urin yang alkalis, beberapa elektrolit seperti
kalsium, magnesium, dan fosfat akan mudah mengendap.
Faktor risiko
Wanita lebih rentan terhadap ISK oleh karena orifisium uretra mereka dekat dengan sumber
bakteri (seperti anus, vagina) dan uretranya lebih pendek, menyebabkan bakteri lebih mudah
masuk ke vesika urinaria. Pada bayi, bakteri dari popoknya dapat masuk ke uretra dan
menyebabkan ISK. E. coli juga dapat masuk ke orifisium uretra jika anak perempuan tidak
cebok dari depan ke belakang setelah buang air besar. Sehingga hal-hal yang menjadi faktor
risiko ISK yaitu:
 Perempuan , laki-laki tidak disunat, refluks vesicouretheral, usia Toilet training, disfungsi
pancaran kemih, obstruktif uropathy.
 Cebok dari belakang ke depan, Bubble bath,Celana ketat , Konstipasi

RM.014.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK

Pada perempuan, ISK biasanya muncul pada usia onset toilet training oleh karena disfungsi
pancaran urin biasanya terjadi pada usia itu. Anak berusaha menahan urinnya agar tetap
kering, padahal vesica urinaria (bladder) mempunyai forcing kontraksi tak terbendung untuk
mengeluarkan urin, sehingga menyebabkan tekanan tinggi, aliran turbulen urin atau
pengosongan bladder inkomplit, yang meningkatkan timbulnya bakteriuria. Konstipasi dapat
mneningkatkan risiko ISK karena menyebabkan disfungsi pancaran. Risiko ISK lebih tinggi
pada anak dengan KEP berat dan diare kronik.
Faktor host lain yang membuat ISK : abnormalitas anatomi seperti adhesi labial, neuropathic
bladder, detrussor-spincter dyssynergia.
III. Pemeriksaan laboratorium
a. Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis meliputi leukosituria, nitrit, leukosit esterase, protein, dan darah.
Leukosituria merupakan petunjuk kemungkinan adanya bakteriuria, tetapi tidak dipakai
sebagai patokan ada tidaknya ISK. Leukosituria biasanya ditemukan pada anak dengan
ISK (80-90%) pada setiap episode ISK simtomatik, tetapi tidak adanya leukosituria tidak
menyingkirkan ISK. Bakteriuria dapat juga terjadi tanpa leukosituria. Leukosituria
dengan biakan urin steril perlu dipertimbangkan pada infeksi oleh kuman Proteus sp.,
Klamidia sp., dan Ureaplasma urealitikum.
Uji nitrit merupakan pemeriksaan tidak langsung terhadap bakteri dalam urin. Dalam
keadaan normal, nitrit tidak terdapat dalam urin, tetapi dapat ditemukan jika nitrat diubah
menjadi nitrit oleh bakteri. Sebagian besar kuman Gram negatif dan beberapa kuman
Gram positif dapat mengubah nitrat menjadi nitrit, sehingga jika uji nitrit positif berarti
terdapat kuman dalam urin.
IV. Pathogenesis

Saluran kemih secara normal adalah steril, kecuali bagian distal uretra. Infeksi dapat
mencapai saluran kemih dengan cara hematogen, limfogen, perkontinuitatum, asending dari
orifisium uretra eksterna dan bertambah banyak/multiplikasi di traktus urinaria masuk ke
dalam kandung kemih, dan akhirnya sampai ke ginjal. Penjalaran secara hemotogen paling
sering terjadi pada neonatus, sedangkan pada anak paling sering terjadi secara asending.

RM.015.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
Sistem gastrointestinal manusia sudah mengandung koloni E.Coli dalam 40 jam setelah lahir,
dimana E.coli adalah kepala dari keluarga besar Enterobacteriaceae, suatu. bakteri enterik,
yang merupakan kuman gram-negatif anaerob fakultatif yang hidup di rongga usus.
Merupakan koloni normal pada saluran cerna, tapi dapat juga menyebabkan penyakit pada
manusia. Kuman enterik ini memfermentasi glukosa dan menghasilkan asam dan gas,
oxidase-negative dan saat bergerak, menghasilkan flagella peritrichous.
Patogenesis E.coli pada ISK

Langkah pertama yang penting dalam patogenesis ISK yang asending tersebut adalah
adanya kolonisasi E coli uropatogenik disekitar periuretra. Dengan adhesin khusus mereka
dapat berkolonisasi di vesika urinaria. Adhesin yang paling berhubungan dengan
uropathogenik E coli adalah P-fimbria (atau pyelorephritisassociate pili (PAP). Yang unik
adalah kemampuan P-fimbriae untuk berikatan khusus dengan antigen kelompok darah
yang mengandung residu D-galactose-Dgalactose. Fimbriae berikatan tidak hanya pada sel
darah merah, tapi juga pada disakarida galaktose spesifik yang ditemukan pada sel uroepitel
permukaan pada hampir 99% populasi.
V. Diagnosis
Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium yang dipastikan dengan biakan urin. ISK serangan pertama umumnya
menunjukkan gejala klinik yang lebih jelas dibandingkan dengan infeksi berikutnya.
Gangguan kemampuan mengontrol kandung kemih, pola berkemih, dan aliran urin dapat
sebagai petunjuk untuk menentukan diagnosis. Demam merupakan gejala dan tanda klinik
yang sering dan kadang-kadang merupakan satu-satunya gejala ISK pada anak.
Pemeriksaan tanda vital termasuk tekanan darah, pengukuran antropometrik, pemeriksaan
massa dalam abdomen, kandung kemih, muara uretra, pemeriksaan neurologik ekstremitas
bawah, tulang belakang untuk melihat ada tidaknya spina bifida, perlu dilakukan pada
pasien ISK. Genitalia eksterna diperiksa untuk melihat kelainan fimosis, hipospadia,
epispadia padalaki-laki atau sinekie vagina pada perempuan.

VI. Manifestasi Klinis

RM.016.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
- Gejala klinik ISK pada anak sangat bervariasi, ditentukan oleh intensitas reaksi peradangan,
letak infeksi (ISK atas dan ISK bawah), dan umur pasien. Sebagian ISK pada anak
merupakan ISK asimtomatik, umumnya ditemukan pada anak umur sekolah, terutama anak
perempuan dan biasanya ditemukan pada uji tapis (screening programs). ISK asimtomatik
umumnya tidak berlanjut menjadi pielonefritis dan prognosis jangka panjang baik.
- Pada masa neonatus, gejala klinik tidak spesifik dapat berupa apati, anoreksia, ikterus atau
kolestatis, muntah, diare, demam, hipotermia, tidak mau minum, oliguria, iritabel, atau
distensi abdomen. Peningkatan suhu tidak begitu tinggi dan sering tidak terdeteksi. Kadang-
kadang gejala klinik hanya berupa apati dan warna kulit keabu-abuan (grayish colour).
- Pada bayi sampai satu tahun, gejala klinik dapat berupa demam, penurunan berat badan,
gagal tumbuh, nafsu makan berkurang, cengeng, kolik, muntah, diare, ikterus, dan distensi
abdomen. Pada palpasi ginjal anak merasa kesakitan. Demam yang tinggi dapat disertai
kejang.
- Pada umur lebih tinggi yaitu sampai 4 tahun, dapat terjadi demam yang tinggi hingga
menyebabkan kejang, muntah dan diare bahkan dapat timbul dehidrasi. Pada anak besar
gejala klinik umum biasanya berkurang dan lebih ringan, mulai tampak gejala klinik lokal
saluran kemih berupa polakisuria, disuria, urgency, frequency, ngompol, sedangkan keluhan
sakit perut, sakit pinggang, atau pireksia lebih jarang ditemukan.
- Pada pielonefritis dapat dijumpai demam tinggi disertai menggigil, gejala saluran cerna
seperti mual, muntah, diare. Tekanan darah pada umumnya masih normal, dapat ditemukan
nyeri pinggang. Gejala neurologis dapat berupa iritabel dan kejang. Nefritis bakterial fokal
akut adalah salah satu bentuk pielonefritis, yang merupakan nefritis bakterial interstitial
yang dulu dikenal
- sebagai nefropenia lobar.
- Pada sistitis, demam jarang melebihi 38◦C, biasanya ditandai dengan nyeri pada perut
bagian bawah, serta gangguan berkemih berupa frequensi, nyeri waktu berkemih, rasa
diskomfort suprapubik, urgensi, kesulitan berkemih, retensio urin, dan enuresis.

VII. Komplikasi

 Batu saluran kemih

RM.017.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
 Hipertensi
 Gangguan fungsi ginjal

VIII. Manajemen Umum

Medikamentosa

NICE merekomendasikan penanganan ISK fase akut, sebagai berikut:


1. Bayi < 3 bulan dengan kemungkinan ISK harus segera dirujuk ke dokter spesialis anak,
pengobatan harus dengan antibiotik parenteral.
2. Bayi ≥ 3 bulan dengan pielonefritis akut/ISK atas:
 Pertimbangkan untuk dirujuk ke spesialis anak .
 Terapi dengan antibiotik oral 7-10 hari, dengan antibiotik yang resistensinya masih
rendah berdasarkan pola resistensi kuman, seperti sefalosporin atau ko-amoksiklav.
 Jika antibiotik per oral tidak dapat digunakan, terapi dengan antibiotic parenteral,
seperti sefotaksim atau seftriakson selama 2-4 hari dilanjutkan dengan antibiotik per
oral hingga total lama pemberian 10 hari.
3. Bayi ≥ 3 bulan dengan sistitis/ ISK bawah:
 Berikan antibiotik oral selama 3 hari berdasarkan pola resistensi kuman setempat. Bila
tidak ada hasil pola resistensi kuman, dapat diberikan trimetroprim, sefalosporin, atau
amoksisilin.
 Bila dalam 24-48 jam belum ada perbaikan klinis harus dinilai kembali, dilakukan
pemeriksaan kultur urin untuk melihat pertumbuhan bakteri dan kepekaan terhadap
obat.

Berbagai antibiotik dapat digunakan untuk pengobatan ISK, baik antibiotic yang diberikan
secara oral maupun parenteral, seperti terlihat pada tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1. Pilihan antimikroba oral pada infeksi saluran kemih

Jenis antibiotik Dosis per hari

RM.018.
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
```` UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2017
PRESENTASI KASUS STASE ANAK
Amoksisilin 20-40 mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis
Sulfonamid
- trimetroprim (TMP) 6-12 mg TMP dan 30-60 mg SMX /kgbb/hari dibagi dalam 2
dosis
–sulfametoksazol (SMX)
- Sulfisoksazol 120-150 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis
Sefalosporin:
- Sefiksim 8 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis
- Sefpodiksim 10 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis
- Sefprozil 30 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis
- Sefaleksin 50-100 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis
- Lorakarbef 15-30 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis

Tabel 2. Pilihan antimikroba parenteral pada infeksi saluran kemih.

Jenis antbiotik Dosis per hari


Seftriakson 75 mg/kgbb/hari
Sefotaksim 150 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam
Seftamidim 150 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam
Sefazolin 50 mg/kgbb/hari dibagi setiap 8 jam
Gentamisin 7,5 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam
Amikasin 15 mg/kgbb/hari dibagi setiap 12 jam
Tobramisin 5 mg/kgbb/hari dibagi setiap 8 jam
Tikarsilin 300 mg/kgbb/hari dibagi setiap 6 jam
Ampisilin 100mg /kgbb/hari dibagi setiap 6 jam

Perawatan penunjang

Selain pemberian antibiotic, pasien ISK perlu mendapat asupan cairan yang cukup, perawatan
hygiene daerah perineum dan periuretra, pencegahan konstipasi.

RM.019.