Anda di halaman 1dari 19

SISTEM GROUNDING

METODE PETERSEN COIL

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Grounding


Semester Ganjil Tahun Akademik 2018/2019

Disusun Oleh :
Muhammad Adam Siswoaji (1641153003)

PROGRAM STUDI SISTEM KELISTRIKAN


JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Sampai kira-kira tahun 1910, system-sistem tenaga listrik tidak diketanahkan. Hal itu dapat
dimengerti karena pada waktu itu system-sistem tenaga listrik masih kecil jadi bila ada gangguan
fasa ke tanah arus gangguan masih kecil, dan biasannya masih kurang dari 5 amper. Pada
umumnya bila arus gangguan itu sebesar 5 amper atau lebih kecil, busur listrik yang timbul pada
kontak-kontak antara kawat yang terganggu dan tanah masih padam sendiri. Tetapi system-
sistem tenaga itu makin lama makin besar baik panjangnya maupun tegangannya.

Oleh karena itu mulai tahun 1910-an pada saat mana system-sistem tenaga relative mulai besar,
system-sistem itu tidak lagi dibiarkan terapung yang dinamakan system delta, tetapi titik netral
system itu diketanahkan melalui tahanan atau reaktansi. Pengetahanan itu umumnya dilakukan
dengan menghubungkan netral transformator daya ke tanah.

Metode-metode pengetanahan netral dari system-sistem tenaga adalah:

a. Pengetanahan melalui tahanan (ressistance grounding)


b. Pengetanahan melalui reactor (reactor grounding)
c. Pengetanahan tanpa impedansi (soild grounding)
d. Pengetanahan efektif (effective grounding)
e. Pengetanahan dengan reactor yang impedansinya dapat berubah-ubah (resonant
grounding) atau pengetanahan dengan kumparan Petersen.

Istilah kumparan Petersen ini berasal dari nama orang yang pertama-tama menciptakan alat itu,
yaitu W. Petersen. Petersen mendapatkan cara ini pada tahun 1916. Di Negara-negara Anglo-
Saxon nama alat itu sering juga disebut “Ground Fault Neutralizer” atau “Arc Suppression Coil”.
Umumnya kita di Indonesia mengenalnya sebagai kumparan Petersen adau “Petersen spoel”.
Perlu dicatat di sini bahwa analisa serta perbaikan kumparan Petersen dibuat oleh JONAS mulai
tahun 1920.

Sekalipun penggunaan kumparan Petersen itu sudah mulai berkurang tetapi system 30 dan 70
KV yang ada di Jawa masih diketanahkan dengan kumparan Petersen. Disamping itu, akhir-akhir
ini semakin banyak generator yang terhubung dengan transformator (unit connected generator)
diketanahkan dengan kumparan Petersen.

2
1.2.Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam pembuatan makalah ini adalah:


1. Bagaimana fungsi kumparan Petersen pada keadaan gangguan?
2. Bagaimana pemadaman busur listrik dalam keadaan gangguan tanah?
3. Bagaimana pengaruh tahanan kontak?
4. Apa keuntungan dan kerugian kumparan Petersen?

1.3.Tujuan dan Manfaat

Adapun Tujuan dan Manfaat yang di dapat setelah membaca makalah ini adalah:
1. Mengetahui fungsi kumparan Petersen pada keadaan gangguan
2. Mengetahui pemadaman busur listrik dalam keadaan gangguan tanah
3. Mengetahui pengaruh tahanan kontak
4. Mengetahui keuntungan dan kerugian kumparan Petersen

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. FUNGSI KUMPARAN PETERSEN PADA KEADAAN GANGGUAN

Bila suatu system yang tidak diketanahkan terganggu oleh hubung singkat kawat tanah,
maka arus gangguan kapasitif itu kembali ke system melalui gangguan itu, Gambar 4.1

Suatu keadaan istimewa ialah bila ada dua macam arus gangguan yang sama besarnya tetapi
berlawanan arahnya terjadi pada gangguan itu, jadi satu sama lain saling menghilangkan. Hal ini
terjadi bila pada arus gangguan yang kapasitif itu ditambahkan arus yang induktif yang tertentu
besarnya.

Inilah prinsip dasar dari hasil pekerjaan pionir Petersen.

Untuk memperoleh arus induktif itu ditambahkan reactor parallel dengan kapasitor pada setiap
fasa ke tanah. Gambar 4.2.

Gambar 4.1. Sistem yang tidak diketanahkan dalam keadaan gangguan kawat tanah

a) Sistem fasa-tiga pada keadaan gangguan


b) Gambar ekivalen pada keadaan gangguan

4
Gambar 4.2. Sistem fasa tiga dengan reactor fasa

Tetapi cara ini bukanlah pemecahan yang ekonomis, karena dalam hal ini dibutuhkan tiga reactor
yang tidak akan jenuh dan induktansinya harus konstan.

Bila reactor itu dihubungkan ke titik netral system, umumnya dipilih netral sekunder
transformator, maka dalam hal ini dibutuhkan hanya satu reactor. Gambar 4.3.

Gambar 4.3. Sistem diketanahkan melalui reactor dalam keadaan gangguan.

(a) Diagram fasa-tiga


(b) Diagram ekivalen

Gambar 4.3. (b) di atas menggambarkan sirkuit ekivalen system itu dalam keadaan gangguan
kawat-tanah. Bila reactor itu mempunyai kesanggupan untuk dapat mengatur impedansinya di

5
samping adanya sadapan, alat itu dinamakan kumparan Petersan. Untuk sementara marilah kita
sebut alat itu reactor saja yang impedansinya dapat diatur.

Sebutlah impedansinya reactor itu Zp, maka arus melalui reactor IL, dimana,
𝐸𝑝ℎ 𝐸𝑝ℎ
𝐼𝐿 = = (𝐿 = 𝑖𝑛𝑑𝑢𝑘𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑟𝑒𝑎𝑘𝑡𝑜𝑟) (4.1)
𝑍𝑝 𝑤𝐿

Dan arus kapasitif,

𝐼𝐹𝐺 = 𝐸𝑝ℎ ∑ 𝑤 𝐶𝑒 (𝐶𝑒 = 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑠𝑖𝑠𝑡𝑒𝑚 𝑘𝑒 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ, 𝑑𝑎𝑛 ∑ 𝐶𝑒 = 𝐶𝑜

= 𝐸𝑝ℎ 𝑤 𝐶𝑜 (4.2)

Bila dipenuhi kondisi.


1
𝑤𝐿 = (4.3)
𝑤 𝐶𝑜

Maka arus yang mengalir dari system melalui kapasitansi pada satu pihak dan melalui reactor
netral pada pihak lain akan saling menetralisir. Jadi dalam hal ini tidak ada arus yang mengalir
melalui titik gangguan kecuali komponen arus rugi-rugi (lihat pasal 3) dan arus-arus harmonis.

Persamaan (4.3) adalah ekspresi matematis dari hokum Petersen, bahwa reactor pengetahanan
harus didimensionir sedemikian rupa sehingga dapat ditala dengan system itu.

2.2. PEMADAMAN BUSUR LISTRIK DALAM KEADAAN GANGGUAN TANAH

Pada saat gangguan dihilangkan, maka pada saat pemutusan arus, busur listrik timbul antara
kontak-kontak, yaitu antara fasa yang terganggu dan tanah, atau antara elektroda-elektroda a dan
b, Gambar 4.5. Bersamaan dengan pemutusan arus itu tegangan kawat akan berusaha kembali ke
tegangan normal melalui waktu transisi. Pada waktu pengembalian tegangan inilah akan kita
lihat kegunaan yang sangat besar dari kumparam Petersen itu.

Sifat sesuatu gangguan menentukan pergeseran titik netral O sampai Eph. Umumnya kumparan
Petersen itu tidak ditala sempurna, jadi selalu ada arus gangguan mengalir (termasuk arus rugi-
rugi).

Arus itu dinamakan arus residu (residual current) dan diberi dengan notasi Ir. Komponen reaktif
dari arus gangguan residu ini,
1
𝐼𝑟.𝑥 = 𝐸𝑝ℎ (𝑤 𝐶𝑜 − 𝑤𝐿
) (4.4)

6
Arus gangguan bila tidak ada kumparan Petersen,
𝐸𝑝ℎ
𝐼𝐹𝐺 = 𝐸𝑝ℎ 𝑤 𝐶𝑜 = (4.5)
𝑍𝐺

Bila ada penyimpangan dari penalaran yang sempurna dinyatakan dengan 𝛿, maka:

𝑤 𝐶𝑜− 1
𝐼𝐹𝐺 − 𝐼𝐿 𝑤𝐿
𝛿= =
𝐼𝐹𝐺 𝑤 𝐶𝑜

1/𝑤𝐿
𝛿 =1−
𝑤 𝐶𝑜

Atau
1
𝛿 =1− (4.6)
𝑤 2 𝐿 𝐶𝑜

Bila Persamaan (4.3) dipenuhi maka 𝛿= O

Sebenarnya, bagaimanapun sempurnanya penalaan selalu ada arus rugi-rugi 𝐼𝑤 .

Dalam gambar 4.5, L dan Co membentuk sirkuit isolasi. Frekuensi sudut (angular frequency) dari
isolasi bebas (free oscillation) adalah:
1
𝑤𝑓 = (4.7)
√𝐿 𝐶𝑜

Bila w = frekuensi daya maka pada penalaan yang sempurna 𝑤𝑓 = 𝑤

Sekarang akan kita lihat bagaimana pemadaman bunga api itu terjadi setelah gangguan
hilang. Untuk ini kita akan meninjau dua macam keadaan, yaitu pada penalaan yang sempurna
dan pada penalaan yang tidak sempurna.

7
2.2.1. Pemadaman Bunga Api pada Penalaan yang Sempurna

Terjadinya busur listrik atau loncatan api sebenarnya disebabkan karena udara terionisasi pada
waktu adanya gangguan, sehingga yang tadinya bersifat sebagai isolator, sekarang bersifat
sebagai konduktor. Setelah gangguan itu hilang pada waktu arus melewati titik nolnya, udara
ingin kembali lagi sebagai isolator. Peristiwa kembalinya udara sebagai isolator lagi disebut
tegangan pulih dielektrik atau “dielectric recovery voltage” (DRV) atau “build-up of dielectric
strength of gap”. Pada saat arus nol tegangan system ingin kembali ke harga normalnya melalui
gejala peralihan mengikuti lengkung tegangan pulih system atau “system recovery voltage”
(SRV).

Penyalaan kembali dari busur listrik dapat terjadi apabila pada timbulnya tegangan pulih system
terjadi pukul ulang (restrike), di mana terjadi perpotongan antara kedua lengkung tersebut yaitu
tegangan pulih dielektrik dan tegangan pulih system dan kejadian ini bias menyebabkan
timbulnya busur tanah, walaupun penyebab dari gangguan itu sendiri sudah hilang. Jadi harus
ingat bahwa pada saat arus sama dengan nol, belum tentu busur listrik itu hilang. Karena itu
diinginkan supaya lengkung tegangan pulih system lebih rendah dari tegangan pulih dielektrik,
atau dengan perkataan lain diinginkan agar kenaikan tegangan system lambat dan kenaikan dari
tegangan pulih dielektrik lebih cepat.

Perlu dicatat bahwa bila tegangan system makin tinggi berarti kemungkinan terionisasinya udara
makin besar, maka bila terjadi gangguan tanah yang menimbulkan busur listrik, arus daya yang
mengalir dalam busur listrik itu besar sehingga menyebabkan naiknya tegangan pulih dielektrik
menjadi lambat. Tetapi pada pemutus daya udara, busur listrik itu cepat hilang karena itu
kenaikan tegangan pulih dielektrik dipercepat.

Begitu juga yang terjadi pada kumparan Petersen, dimana tegangan pulih dielektrik dapat dibuat
cepat sekali dan tegangan pulih system dibuat cukup lambat. Inilah jasa kumparan Petersen yang
terpenting, sebab gangguan tanah dapat diselamatkan tanpa pemutusan saluran yang terganggu.
Kumparan Petersen memperlambat naiknya tegangan pulih system, setelah gangguan itu hilang,
seperti terlihat pada keterangan-keterangan dibawah ini.

Pada penalaan yang sempurna 𝑤𝑓 = 𝑤, jadi bila system dibiarkan bebas akan terus menerus
berosilasi. Tetapi karena adanya rugi-rugi amplitudenya makin lama makin kecil.

Konstanta waktu dari osilasi yang teredam itu ialah


1
𝑇= = 2 𝐿/𝑅𝑠𝑒 (4.8)

Dimana: 𝑅𝑠𝑒 = tahanan ekivalen seri

8
Bila konstanta waktu dihitung dari sirkuit ekivalen parallel maka:
1
𝑇= =2𝑅𝐶 (4.9)

Dimana: R = tahanan ekivalen parallel

Superposisi dari tegangan pulih transien yang berosilasi dan tegangan normal menghasilkan
tegangan yang secara perlahan-lahan kembali dari keadaan gangguan ke keadaan normal. Jadi
seperti terlihat pada Gambar 4.6. arti yang terpenting dari kumparan Petersen ialah perlambatan
dari kembalinya tegangan antara fasa yang terganggu dan tanah. Bila tegangan fasa 𝐸𝑝ℎ sin wt
dan tegangan transien 𝐸𝑝ℎ 𝑒 −∝𝑡 sin 𝑤𝑡 maka tegangan pulih pada fasa yang terganggu ke tanah
menjadi,

𝐸𝑝ℎ (1 − 𝑒 −∝𝑡 ) sin 𝑤𝑡 (4.10)

Gambar 4.6. Pemulihan tegangan pada fasa yang terganggu pada system yang diketanahkan
dengan kumparan Petersen.

9
O : titik netral
A : fasa yang terganggu
B,C : fasa-fasa yang tidak terganggu

Dari gambar 4.7 jelas kelihatan bagaimana tegangan dari fasa yang terganggu itu kembali setelah
gangguan dihilangkan.

Jadi tegangan adanya kumparan Petersen itu diperoleh beberapa keuntungan.

a. Arus gangguan kecil, jadi pada pemutusan arus, busur listrik dapat diabaikan,
b. Tegangan pulih system diperlambat sedemikian rupa sehingga , memberikan waktu yang
cukup kepada pemulihan dielektrik dari jalan busur listrik (arcpath) yang terjadi karena
ionisasi selama gangguan.
c. Pemutusan arus tidak menimbulkan busur listrik
d. Kemungkinan timbulnya busur tanah dihindarkan
Pemadaman sendiri (self-extinguishing) itu bukanlah oleh karena arus kecil, tetapi karena
tegangan antara elektroda a dan b ( gambar 4.4 ) lambat kembalinya. Walaupun arus gangguan
itu besar, misalanya 50 amper pada system yang diketanahkan dengan kumparan Petersen,
adalah jauh lebih baik dari arus 5 amper pada seistem yang tidak diketanahkan. Pada keadaan
yang pertama pemadaman sendiri itu dapat terjadi, sebaliknya pada keadaan terakhir belum tentu
terjadi.

Gambar 4.7. Superposisi dari tegangan mantap dan transien

10
2.2.2. Pemadaman Bunga Api Pada Penalaan Tidak Sempurna

Telah diterangkan dimuka bahwa kumparan Petersen itu pada umumnya tidak ditala sempurna.
Derajat simpangan tala itu diberikan oleh persamaan (4.6), yaitu
1
𝛿 =1− (4.6)
𝑤 2 𝐿 𝐶𝑜

Dan persamaan (4.7)


1
𝑊𝑓 = (4.7)
√𝐿 𝐶𝑜

Bila persamaan (4.7) diisikan dalam persamaan (4.6) maka diperoleh

𝑤 2𝑓
𝛿 =1− (4.11)
𝑤2

Jadi frekuensi dari tegangan transien menjadi :

𝑊𝑓= w√1 − 𝛿 (4.12)

Tegangan pulih system antara fasa yang terganggu dan tanah diberikan oleh persamaan di bawah
ini :

Eph sin wt - Eph 𝑒 −∝𝑡 sin wf t (4.13)

1
Dengan 𝛼=
2𝑅𝐶

Gambar 4.8. Tegangan fasa yang terganggu bila kumparan Petersen ditala tidak sempurna.

11
𝛿 = -25%, dan redaman diabaikan

Bila redaman diabaikan ( diperoleh hasil yang konservatif), persamaan (4.13) menjadi :

Eph ( sin wt – sin wf t ) (4.14)

Atau
𝑤−𝑤𝑓 𝑤+𝑤𝑓
2 Eph sin( 𝑡) . cos ( 𝑡) (4.15)
2 2

Gambar 4.8 menggambarka keadaan yang diberikan oleh persamaan (4.14). dari lgambar 4.8
kelihatan bahwa tegangan pulih dari fasa yang terganggu itu masih tetap diperlambat walaupun
pada keadaan penalaan yang tidak sempurna, dan redaman diabaikan.

Perlu dicatat disini bahwa simpangan yang besar (arus residu makin besar) akan mempercepat
naiknya tegangan pulih system. Begitu juga halnya bila makin besar arus rugi-rugi Iw,, dan bila
simpangan tala terlalu besar, maka tegangan pulih system menjadi terlalu cepat naiknya sehingga
pemadaman sendiri mungkin akan gagal, deionisasi bertambah lambat jadi tegangan pulih
dielektrik juga lambat.

Oleh karena itu beberapa alas an, penalaan yang sempurna itu tidak diinginkan. “never tune to
resonance”. Demikian kata jonas.

Alasan-alasan tersebut disebabkan antara lain oleh :

1. Sukar mengatur sehingga diperoleh penalaan sempurna,


2. Bila da pergeseran netral yang ditimbulkan oleh ketidakseimbangan kapasitif, tegangan
pada kumparan itu pada kerja normal akan sangat besar (mungkin 10 sampai 15 kali
sebesar pergeseran netral) bila ditala sempurna,
3. Dalam keadaan gangguan pergeseran netral akan maksimum bila ditala sempurna.
Kedua alas an terakhir ini akan diterangkan lebih lanjut dalam pasal 7 bab ini. Dari pengalaman-
pengalaman, derajat simpangan tala jangan lebih besar dari harga-harga yang diberikan pada
table 4.3.

12
Tabel 4.3. Simpangan dari penalaan sempurna

Simpangan, 𝛿 Tegangan kerja


(%) (KV)

± 25 25
± 15 69
± 10 115 dan lebih

Bila 𝛿 positif dinamakan konpensasi kurang, dalam hal ini wf < w dan bila 𝛿 negatif dinamakan
konpensasi lebih, dalam hal ini wf > w.

Besar arus residu I, (sebagai pecahan dari arus gangguan kapasitif IFG ) tergantung dari derajat
simpangan 𝛿 , Gambar 4.9.

Dari Gambar 4.5

𝐸𝑝ℎ
Iw = 𝑅

Ir = √ (𝐼𝐹𝐺 − 𝐼𝐿 )2 + 𝐼𝑤 2

Ir,x = IFG – IL

13
𝐼𝑟,𝑥 𝐼𝐹𝐺 − 𝐼𝐿
= =𝛿
𝐼𝐹𝐺 𝐼𝐹𝐺

Jadi,

𝐼𝑟 𝐼𝑤 2
= √𝛿 2 + ( ) (4.16)
𝐼𝐹𝐺 𝐼𝐹𝐺

Dari relasi terakhir ini dapat dilukiskan gambar 4.9.

Kembali persamaan ( 4.10 ) di atas, yaitu untk penalaan sempurna, laju kenaikan tegangan
adalah :

Rumus

𝑑𝐸
= 𝛼 𝐸𝑝ℎ = 𝑒 −𝛼𝑡
𝑑𝑡

Dan pada t = 0

𝑑𝐸 𝐸𝑝ℎ
= 𝛼 𝐸𝑝ℎ = (4.17)
𝑑𝑡 2 𝑅𝐶

Laju kenaikan tegangan inilah sebagian besar yang menentukan apakah akan terjadi pukul ulang
(restrike) atau tidak. Pada umumnya harga 2 RC berkisar antara 0,02 detik untuk tegangan tinggi
sampai 0,1 detik untuk tegangan menengah.

2.3 PENGARUH TAHANAN KONTAK

Pengaruh dari tahanan kontak ini paling terasa pada saluran transmisi yang menggunakan tiang-
tiang kayu.

14
Kita menginginkan supaya sebagian besar tegangan barada pada R. gambar 4.10. untuk
mengindarkan loncatan api samping (side flash over).

Tegangan pada kumparan Petersen adalah :

𝑅
𝐸𝑁 = 𝑅+𝑟 𝐸𝑝ℎ
1
= 𝐸𝑝ℎ (4.18)
1+𝑟/𝑅

Jadi supaya tegangan EN besar , r/R harus diusahakan kecil.

Contoh .

Misalkan suatu system besar 69 KV, dengan tuang kayu, dan diketanahkan dengan kumparan
Petersen.

R = 10 % r = 250 ohm. Panjang seluruhnya 1.030 Kms

Maka,
69 × 1.303
𝐼𝐹𝐺 = = 27,3 Amp
260

𝐼𝑤 = 10 % = 27,3 Amp

Jadi,
69.000
R= = 1459 ohm.
√3 .27,3

Maka,
𝑟 250
= = 0,171
𝑅 1459

1 69
𝐸𝑁 = × = 34,02 KV ( = 85 % )
1+0,171 √3

Dan

69
𝐸𝑟 = - 34,02 = 5,82 KV ( = 15 % )
√3

Bila system tersebut tidak diketanahkan maka diagram ekivalennya diberikan dalam gambar 4.11. ( rugi-
rugi system R kecil terhadap I / wC, karena itu diabaikan).

15
1 69000
Arus kapasitif 𝐼𝐹𝐺 = 273 Amp., jadi = = 146 ohm.
𝑤 𝐶 √3 ×273

Jadi,
69.000 1
𝐼= × = 137,6 𝐴𝑚𝑝.
√3 √2502 + 1462
Maka,
𝐸𝑟 = 250 × 137,6 = 34401 𝑉𝑜𝑙𝑡 = 34,4 𝐾𝑉 (= 86,3%)

Gambar 4.11. Diagram ekivalen tanpa kumparan petersen

2.4. KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN KUMPARAN PETERSEN

Jadi jelas kelihatan sekarang keuntungan-kentungan dari adanya kumparan Petersen.


Untuk menggerakkan alarm dipergunakan tegangan dari kumparan Petersen, EN. besar
tegangan yang dibutuhkan untuk manggerakkan alarm tersebut kira-kira 80% dari Eph. Di atas
telah dihitung bahwa EN = 35% dari Eph, jadi tegangan ini sudah cukup manggerakkan alarm.
Jadi bila r terlalu besar, maka di samping Er yang besar (dan ini tidak baik) juga akan
kemungkinan EN terlalu kecil sehingga tidak dapat menggerakkan alarm.

16
Dari uraian-uraian diatas dpat disimpulkan bahwa keuntungan yang pslin utama dari metode
pengetanahan system dengan kumparan Petersen antara lain :

1. Arus gangguan satu fasa ke tanah dapat dibuat kecil sekali, dengan demikian
gangguan tanah itu menjadi tidak berbahaya lagi terhadap system dan gangguan
dapat hilang sendiri (self-clearing), tanpa operasi pemutus daya.
2. Hilangnya gejala busur tanah yang sangat berbahaya terhadap system (karena
tegangan lebih yang di hasilkannya), sehingga dengan demikian terhindar
kerusakan pada peralatan system, terutama pada titik gangguan.
3. Suplai daya menjadi tak terganggu dan dapat berlangsung terus walaupun gangguan
belum dihilangkan sama sekali ; artinya system dapat beroperasi terus dalam
gannuan tanah.
4. Tegangan lebih transien yang terlampubesar dapat dikurangi dibandingkan pada
system yang tersolir.
5. Efek-efek terhadap gangguan komunikasi dapat di perkecil.
6. Mengurani kejutan pada system yang disebabkan gangguan tanah itu.
Kerugian dan kelemahan-kelemahan dari metode pengetanahan dengan kumparan Petersen
ini antara lain.
1. Kumparan Petersen tidak dapat mengkompensir terhadap ganguan dua fasa ke
tanah.
2. Kumparan Petersen tidak dapat menghilankan gangguan satu fasa yang menetap
(substained grount fault) pada system.
3. Kumparan Petersen tidak dapat mengkompersir rugi-rugi daya dari system (watt-
component) dan harmonisa-harmonisa, sehingga pemakaiannya terbatas pada
system dengan tegangan sanpai 110 KV. Pada sisitem-sistem yang mempunyai
tegangan sangat tinggi rugi-rugi daya (termasuk kerugian korona) besar kecil.
4. Kumparan Petersen tidak dapat mencegah tegangan lebih secara keseluruhan.,
hanya membatasi sampai keadaan tertentu sehingga memerlukan peralatan yang
mampu menaggulangi tegangan lebih tersebut.

17
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Adapun kesimpulan-kesimpulan Pengetanahan dengan kumparan Petersen yaitu:

1) Pengetahanan dengan kumparan petersenan sangat efektif untuk memadamkan


gangguan hubung tanah (ground fault) yang berupa transien maupun gangguan yang
berlangsung terus.
2) Kumparan petersenan mencegah timbulnya arus gangguan yang besar.
3) Kompensasi yang tepat terhadap arus kapasitif pada gangguan satu fasa ketanah
menyebabkan arus gangguan itu kecil sekali, sehingga memungkinkan system itu
dapat bekerja terus dengan satu fasa terhubung ketanah sampai ada saat yang baik
untuk melakukan lokalisasi gangguan. Sementara itu baik disis generator disentral
maupun disisi pihak konsumen tak merasai gangguan tersebut.
4) Pengurangan arus gangguan sampai harga minimumnya yang tidak lagi
membahayakan konduktor maupun isolator-isolator akan mengurangi pemeliharaan
terhadap saluran-saluran transmisi, isolator-isolator, dan sekaligus mengurangi
operasi daripada pemutus daya.
5) Busur tanah dapat dihindarkan.
6) Kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh gangguan tanah diperkecil.
7) Terhadap gangguan satu fasa ketanah yang temporer, kumparan Petersen tidak hanya
menyebabkan arus gangguan itu kecil tetapi juga memperlambat kenaikan tegangan
pulih system dank arena itu busur listrik mudah hilang sendiri, jadi system kembali
normal tanpa bekerjanya pemutus daya.
8) Kumparan Petersen sangat sensitive terhadap ketidakseimbangan da dalam sistemnya.
9) Kumparan Petersen selalu siap setiap saat untuk menetralisir arus gangguan hubung
tanah maupun hubung tanah berurutan.
10) Kumparan Petersen paling baik digunakan pada system radial baik yang melalui
terdiri dari penghantar kawat udara atau campuran hantaran udara dan kabel tanah
dengan tegangan kerja dari 2,4 KV sampai dengan 110 KV.
11) Kumparan Petersen praktis tidak membutuhkan pemeliharaan yang berarti.
12) Karena arus gangguan tanah yang timbul selain kecil juga distribusinya tidak
tergantung kepada letak gangguan, maka arus itu tidak bisa dipakai sebagai dasar
untuk rele ganggua tanah yang selektif harus dengan cara-cara yang istimewa atau
khusus.
13) Mengingat bahwa terhadap gangguan satu fasa ke tanah yang permanen pemutusan
pemutus daya dapat ditangguhkan, maka rela gangguan tanah yang selektif bukan
suatu keharusan.

18
14) Pemasangan “wattmeter type carth leakage relay” dapat menunjukkan dengan tepat
letak gangguan, sehingga dapat diadakan tindakan pengisolasian bagian system yang
mengalami gangguan itu.
15) Mengingat bahwa kumparan Petersen itu hanya berjasa terhadap gangguan suatu fasa
ketanah, maka system haruslah diusahakan sedemikian rupa sehingga gangguan-
gangguan satu fasa ketanah saja. Untuk ini tahanan-tahanan kaki tiang harus
diusahakan serendah mungkin.
16) Karena pada waktu gangguaan satu fasa ketanah menyebabkan tegangan fasa lainya
naik menjadi √3. 𝐸𝑝ℎ atau tegangan jala-jala, maka pengenal tegangan arrestnya
haruslah berdasarkan tegangan jala-jala.
17) System dapat bekerja pada simpangan tala tertentu tanpa mempengaruhi karateristik
proteksinya terhadap system, sehingga pada perluasan system tidak menunjukkan
adanya pembatasan pemakaian kumparan Petersen ini.
18) Untuk membatasi pergeseran netral akibat resonansi maka salah satu atau beberapa
kumparan Petersen dipasang pada sadapan maksimum.

19