Anda di halaman 1dari 8

1. Kontrak + 3 termin untuk pembayaran retensi berapa lama.

Apakah ada
hubungan pembayaran konsultan pengawas kontraktor perencana.
Uang muka atau DP pada umumnya maksimal 20% dari nilai kontrak atau tergantung dari
kebijakan pemilik proyek. Ada yang hanya memberikan uang muka (DP) 10%, ada juga yang
tidak memberikan uang muka (DP) sama sekali.
Cara pembayaran kontraktor selama pelaksanaan proyek konstruksi tergantung dari
kesepakatan yang tertuang dalam kontrak antara pemilik proyek dengan kontraktor bangunan
(berapa kali pembayaran dilakukan, prosentase progress, dan jumlah yang dapat dibayar
berbeda-beda untuk setiap proyek).
Sebagai contoh misalnya kontraktor suatu proyek konstruksi yang oleh pemilik proyek akan
diberi uang muka (DP) 20%. Pembayaran akan dilakukan secara progress payment
(berdasarkan progress pekerajaan) dengan ketentuan :
Uang Muka (DP) 20%
Termin 1 - Progress Pekerjaan 0-30% dibayar 25% dari nilai kontrak
Termin 2 - Progress Pekerjaan 30%-55% dibayar 25% dari nilai kontrak
Termin 3 - Progress Pekerjaan 55%-80% dibayar 25% dari nilai kontrak
Termin 4 - Progress Pekerjaan 80%-100% dibayar 25% dari nilai kontrak
Retensi setelah masa pemeliharaan 180 hari kalender
Karena ada uang muka 20% dan retensi 5%, maka setiap pembayaran termin harus dikurangi
dengan prosentase uang muka dan retensi secara proporsional sesuai progress pekerjaan
seperti di bawah ini :

Uang Muka = 20% x Nilai Kontrak

Progress Pekerjaan 0-30%


Termin 1 = 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi

Progress Pekerjaan 30%-55%


Termin 2 = 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi

Progress Pekerjaan 55%-80%


Termin 3 = 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi

Progress Pekerjaan 80%-100%


Termin 4 = 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi

Setelah masa pemeliharaan


Retensi = 5% x Nilai Kontrak
Sebagai contoh misalnya suatu proyek konstruksi dengan Nilai kontrak RP. 10.000.000.000,-
(sepuluh milyar rupiah), dengan ketentuan di atas maka pembayaran terminnya adalah seperti
di bawah ini.
Uang Muka = 20% x Rp. 10.000.000.000 = Rp. 2.000.000.000

Progress Pekerjaan 0-30%


Termin 1
= 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi
= 25% x Rp. 10.000.000.000 - 25% x Rp. 2.000.000.000 - 25% x Rp. 500.000.000
= Rp. 1.875.000.000

Progress Pekerjaan 30%-55%


Termin 2
= 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi
= 25% x Rp. 10.000.000.000 - 25% x Rp. 2.000.000.000 - 25% x Rp. 500.000.000
= Rp. 1.875.000.000

Progress Pekerjaan 55%-80%


Termin 3
= 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi
= 25% x Rp. 10.000.000.000 - 25% x Rp. 2.000.000.000 - 25% x Rp. 500.000.000
= Rp. 1.875.000.000

Progress Pekerjaan 80%-100%


Termin 4
= 25% x Nilai Kontrak - 25% x Uang Muka - 25% x Retensi
= 25% x Rp. 10.000.000.000 - 25% x Rp. 2.000.000.000 - 25% x Rp. 500.000.000
= Rp. 1.875.000.000

Setelah masa pemeliharaan 180 hari kalender


Retensi = 5% x Rp. 10.000.000.000 = Rp. 500.000.000
2. Kontraktor utama, subkontraktor asal

Ciri Kontraktor Bangun Rumah Profesional

Kontraktor bangun rumah profesional sebenarnya dapat dideteksi sejak awal. Sebelum Anda
memutuskan, sebaiknya Anda mengetahui beberapa ciri-ciri kontraktor atau pemborong
bangunan yang profesional, yaitu antara lain sebagai berikut:

1. Memiliki kontrak Kerja. Kontraktor bangun rumah profesional atau pemborong


bangunan yang profesional pasti memiliki kontrak kerja yang jelas antara pihak Anda
selaku pemilik rumah dengan pihak kontraktor itu sendiri. Kontrak tersebut harus
jelas menguraikan jenis dan item pekerjaan, proses pelaksanaan pekerjaan renovasi
atau bangun rumah, biaya dan sistem pembayaran, serta menjelaskan pengelolaan
masalah yang mungkin akan timbul. Kontrak juga merupakan suatu pelindung dan
acuan bagi Anda sebagai pemilik rumah maupun kontraktor rumah itu sendiri bila ada
sesuatu yang berjalan tidak semestinya.
2. Penawaran harga yang wajar. Hindari kontraktor bangun rumah yang menawarkan
harga jauh di bawah harga semua kontraktor lainnya. Walaupun kelihatannya murah
dan dianggap memiliki harga terbaik, tapi tidak akan dapat menjamin hasil pekerjaan
yang terbaik. Umumnya kontraktor rumah seperti itu akan menekan biaya dengan
mengorbankan kualitas baik dari segi kualitas material bahan bangunan atau
pengurangan volume, yang justru akhirnya akan menimbulkan beban lebih banyak
lagi kelak bagi Anda sebagai pemilik rumah karena harus membuat ulang atau
memperbaikinya.
3. Persyaratan uang muka (down payment) yang wajar. Umumnya kontraktor
bangun rumah profesional akan mengenakan uang muka sebagai tanda jadi atau biaya
pelaksanaan pekerjaan awal bangun rumah Anda sebesar maksimal 25%. Uang muka
tersebut disesuaikan dengan progres pekerjaan awal yang umumnya hingga selesai
proses pekerjaan pondasi atau mulai pekerjaan dinding dan struktur. Hindari
kontraktor yang menuntut pembayaran uang muka yang besar apalagi yang
mensyaratkan pembayaran penuh.
4. Mudah dihubungi. Kontraktor bangun rumah profesional atau pemborong bangunan
yang profesional pasti memiliki alamat yang jelas, kantor fisik yang nyata, telepon,
dan email. Kontraktor rumah yang profesional pasti akan menanggapi pertanyaan-
pertanyaan Anda secara tepat waktu, santun dan profesional.
5. Memiliki catatan keuangan yang baik. Walaupun ini sebenarnya adalah rahasia
dapur si kontraktor, akan tetapi bila mungkin usahakan mengetahui catatan keuangan
yang dimiliki kontraktor Anda. Sebuah laporan kredit macet pada kontraktor Anda
bisa jadi merupakan petunjuk kemungkinan adanya praktek-praktek bisnis buruk yang
dapat membahayakan proyek bangun rumah Anda.
6. Dapat memberikan referensi pelanggan. Kontraktor bangun rumah profesional
atau pemborong bangunan yang profesional seharusnya memiliki referensi proyek
pembangunan rumah atau renovasi yang pernah maupun sedang dikerjakan.

3. Macam mana menilai sebuah kontraktor


Tugas dan Kewajiban Unsur-unsur Organisasi Kontraktor
1. Kepala Proyek
a. Tugas kepala proyek
1. Mengkoordinir bagian-bagian di bawahnya dan menjamin pelaksanaan pekerjaan
sesuai spesifikasi yang ditentukan oleh pihak pengguna jasa serta mengoreski bila
ada review design,
2. Mengkoordinir pelaksanaan penyelesaian keluhan pelanggan dan bertanggungjawab
terhadap pelaksanaan penyelesaian produk yang tidak sesuai,
3. Mendata perubahan-perubahan pelaksanaan terhadap kontrak,
4. Melakukan tindakan koreksi dan pencegahan yang telah direkomendasi pengendalian
sistem mutu,
5. Menghentikan pelaksanaan pekerjaan yang tidak memenuhi standar mutu yang telah
ditetapkan,
6. Membuat laporan-laporan yang telah ditetapkan perusahaan dan laporan-laporan lain
yang berhubungan dengan bidang tugasnya,
7. Berkoordinasi dengan pihak konsultan supervisi, aparat setempat, utamanya pihak
direksi PU serta menyelesaikan masalah-masalah teknis lapangan dengan pengawas,
8. Membantu bidang administrasi kontrak untuk memeriksa dan menyetujui tagihan
upah mandor, sub kontraktor, dan sewa alat yang berhubungan dengan prestasi fisik
lapangan serta mengajukan request ke direksi proyek sebelum pekerjaan dimulai
termasuk koordinasi dengan konsultan supervisi.

b. Tanggung Jawab
1. Menetapkan sasaran mutu,
2. Memimpin setiap pertemuan,
3. Melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait dilokasi proyek,
4. Memberikan persetujuan atas permintaan kebutuhan proyek ke kantor pusat/ cabang

2. Site Engineer
Tugas dan kewajiban site engineer adalah sebagai berikut:
1. Menjamin bahwa semua isi dari kerangka acuan pekerjaan akan dipenuhi dengan baik
yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan,
2. Membantu pejabat pelaksana teknis kegiatan dalam penyelesaian administrasi
kemajuan proyek. Bantuan ini termasuk mengumpulkan data proyek seperti
kemajauan pekerjaan, kunjungan pekerjaan, kunjungan lapangan, rapat-rapat
koordinasi dilapangan, data pengukuran kuantitas, dan pembayaran kepada
kontraktor. Semuanya dikumpulkan dalam dalam bentuk laporan kemajuan bulanan
dan memberikan saran-saran untuk mempercepat pekerjaan serta memberikan
penyelesaian terhadap kesulitan yang timbul baik secara teknis maupun kontraktual
untuk menghindari keterlambatan pekerjaan,
3. Menjamin semua pelaksanaan detail teknis untuk pekerjaan mayor tidak akan
terlambat selama masa mobilisasi untuk masing-masing paket kontrak dalam
menentukan lokasi, tingkat serta jumlah dari jenis-jenis pekerjaan yang secara khusus
disebutkan dalam dokumen kontrak,
4. Membantu dan memberikan petunjuk kepada tim di lapangan dalam melaksanakan
pekerjaan pengawasan teknis segera setelah kontrak fisik ditandatangani, menyiapkan
rekomendasi secara terinci atas usulan desain, termasuk data pendukung yang
diperlukan, mengendalikan kegiatan-kegiatan kontraktor, termasuk pengendalian
pemenuhan waktu pelaksanaan pekerjaan, serta mencari pemecahan-pemecahan atas
permasalahan yang timbul baik sehubungan dengan teknis maupun permasalahan
kontrak,
5. Mengendalikan semua personil yang terlibat dalam pekerjaan penyelidikan
bahan/material baik di lapangan maupun laboratorium serta menyusun rencana
kerjanya,
6. Mengikuti petunjuk–petunjuk dan persyaratan yang telah ditentukan terutama
sehubungan dengan:
1. Inspeksi secara teratur ke paket-paket pekerjaan untuk
melakukan monitoring kondisi pekerjaan dan melakukan perbaikan-perbaikan
agar pekerjaan dapat direalisasikan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan yang
telah ditentukan,
2. Pemahaman terhadap spesifikasi. Metode pelaksanaan untuk setiap jenis
pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi dilapangan,
3. Metode pengukuran volume pekerjaan yang benar sesuai dengan pasal-pasal
dalam Dokumen Kontrak tentang cara pengukuran dan pembayaran.
4. Melakukan pemantauan dengan ketat atas prestasi kontraktor segera melaporkan
kepada pejabat pelaksana teknis kegiatan apabila kemajuan pekerjaan ternyata
mengalami keterlambatan lebih dari 15% dari rencana, serta membuat saran-
saran penanggulangan dan perbaikan,
5. Melakukan pengecekan secara cermat semua pengukuran pekerjaan dan secara
khusus harus ikut serta dalam proses pengukuran akhir pekerjaan,
6. Menyusun laporan bulanan tentang progress fisik dan keuangan serta
menyerahkan kepada Pejabat pelaksana teknis kegiatan,
7. Menyusun Justifikasi teknis, termasuk gambar dan perhitungan, sehubungan
dengan usulan perubahan kontrak,
8. Mengecek dan menandatangani dokumen pembayaran bulanan (Monthly
Certificate),
9. Mengecek dan menandatangani dokumen-dokumen tentang pengendalian mutu
dan volume pekerjaan,
10. Memeriksa gambar kerja (shop drawing) yang diajukan oleh kontraktor dan
disetujui oleh Direksi Teknik,
11. Memeriksa gambar hasil terlaksana (as built drawing) yang diajukan oleh
kontraktor dan disetujui oleh Direksi Teknik. Gambar tersebut harus dibuat
secara bertahap setiap pekerjaan selesai dikerjakan.
3. Pelaksana
Tugas dan kewajibannya, antara lain:
1. Menyimpan gambar kerja dengan baik, tidak boleh merubah/mencoret tanpa seizin
atasan langsung,
2. Melaksanakan pekerjaan dengan konsisten sesuai dengan rencana mutu proyek
(instruksi kerja), speksifikasi teknis dari pelanggan, dan gambar kerja yang
diterimanya dengan mengarahkan tukang/sub kontraktor dan pekerjanya hingga
didapat pekerjaan yang bermutu, tepat waktu, dan biaya yang seefisien mungkin,
3. Melaksanakan tindakan koreksi dan pencegahan,
4. Membuat dan melaksanakan detail program kerja berdasarkan program
harian/mingguan/bulanan yang adan serta melaporkan prestasi kerja ke kepala
proyek,
5. Membuat opname prestasi pekerjaan bersama-sama kepala proyek dan sub kontraktor
(bila ada) yang bersangkutan untuk keperluan tagihan dan lain-lain,
6. Menyelenggarakan pencatatan-pencatatan atas tindakan yang telah dikerjakan baik
qualitatif maupun quantitatif untuk dapat membuat laporan mingguan mengenai:
1. Pemakaian bahan, mesin-mesin/alat-alat dalam pekerjaan yang sedang
dilaksanakan,
2. Penggunaan persekot karya yang dipercayakan kepadanya,
3. Ihktisar upah dan hari perkerjaan,
4. Kemajuan pekerjaan yang sedang dilaksanakan.
5. Mengumpulkan bukti-bukti penerimaan/pengeluaran tertulis akibat bahan/
material, alat, dan keperluan lainnya kepada kepala proyek sehingga
pertanggungjawaban akan terlihat di dalam cash flow perusahaan.
4. Quality Engineer
Tugas dan kewajibannya adalah sebagai berikut:
1. Membuat rencana berkala pelaksanaan pemeriksaan dan pengetesan sesuai RMP,
2. Melaksanakan pemeriksaan dan/atau pengetesan barang serat memberikan tanda
status pada pekerjaan barang yang telah diperiksa/dites,
3. Melakukan final inspection atau memastikan bahwa seluruh kegiatan pemeriksaan
dan pengetesan telah dilaksanakan semuanya serta melakukan tes terhadap material
yang masuk khususnya yang dominan untuk mutu,
4. Mengontrol barang/alat yang dipasok untuk pelanggan apakah sesuai
persyaratan/perjanjian atau tidak dan menjamin bahwa keluhan pelanggan atau
produk tidak sesuai ditangani (prosedur mutu yang berlaku),
5. Mengkoordinir pelaksanaan lapangan terhadap tindakan koreksi dan pencegahannya,
6. Bertanggung jawab penuh ke kepala proyek dan berkoordinasi ke konsultan supervisi
maupun direksi PU.
5. Quantity Engineer
Tugas dan kewajiban quantity engineer, antara lain:
1. Melakukan opname pekerjaan,
2. Memonitor pelaksanaan pekerjaan di lapangan,
3. Menyampaikan rencana pekerjaan (request) kepada pengguna jasa/pemilik proyek,
4. Membuat laporan kemajuan fisik proyek,
5. Membuat sertifikat bulanan dan data pendukungnya,
6. Membina, mengarahkan, dan mengkoordinasi bawahan,
7. Memastikan diimplementasikannya sistem manajemen mutu di bagian proyek,
8. Memenuhi sasaran mutu yang telah ditetapkan di bagian proyek,
9. Menyimpan arsip.
6. Logistik
Tugas dan tanggung jawabnya:
1. Melakukan pembelian barang langsung/alat, sesuai dengan tingkatan proyek dengan
mengambil pemasok yang sudah termasuk dalam daftar pemasok terseleksi dan atas
persetujuan direktur perusahaan,
2. Menyediakan tempat yang layak dan memelihara dengan baik barang langsung
maupun barang/alat yang dipasok pelanggan termasuk memberi label keterangan
setiap barang,
3. Bertanggung jawab terhadap cara penyimpanan barang dan mencatat keluar
masuknya barang-barang yang tersedia di penyimpanan/gudang,
4. Membuat/menyusun laporan yang telah ditetapkan perusahaan dan laporan lainnya
yang berhubungan dengan bidang tugasnya,
5. Membuat berita acara penerimaan/penolakan bahan/material setelah pengontrolan
kualitas (oleh quality control) dan kuantitas,
6. Selalu berkoordinasi dengan bagian teknik dan pelaksana dalam pengiriman
bahan/material termasuk berkoordinasi ke pihak direksi PU serta mengamankan
aktiva perusahaan berikut bukti-bukti kerjanya.
7. Surveyor
Tugas dan kewajiban surveyor adalah:
1. Melakukan pelaksanaan survei lapangan dan penyelidikan/pengukuran tempat-tempat
lokasi yang akan dikerjakan terutama untuk pekerjaan mayor item,
2. Mencatat dan mengevaluasi hasil pengukuran yang telah dilakukan sehingga dapat
meminimalisir kesalahan dan melakukan tindak koreksi dan pencegahannya,
3. Melaporkan dan bertanggung jawab hasil pekerjaan ke kepala proyek.
8. Operator
Tugas dan kewajiban operator, antara lain:
1. Mengoperasikan mesin/peralatan dengan benar,
2. Menjaga kebersihan, kondisi, dan keamanan mesin/peralatan,
3. Melaporkan ke atasan apabila mesin/peralatan rusak/perlu diperbaiki.
4. Sebutkan contoh jadwal complit dalam bentuk kurva s

Contoh s curve complete