Anda di halaman 1dari 18

KUNJUNGAN INDUSTRI TEKNIK GEOFISIKA UNJA

PADANG - PALEMBANG

Diajukan sebagai laporan untuk mata kuliah


Tahun ajaran 2018/2019

Oleh:

Fiqri Haikal (F1D316007)

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOFISIKA

JURUSAN TEKNIK KEBUMIAN

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS JAMBI

2018
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala yang
telah memberikan banyak nikmat, taufik dan hidayah. Sehingga saya dapat
menyelesaikan laporan kunjungan ini dengan baik tanpa ada halangan yang berarti.
Laporan kunjungan ini saya buat berdasarkan kuliah lapangan yang dilakukan
pada tanggal 30 oktober sampai 5 september lalu di padang dan pelmbang. Oleh karena
itu saya sampaikan banyak terima kasih kepada segenap pihak yang telah berkontribusi
secara maksimal dalam penyelesaian laporan kunjungan ini.
Diluar itu, penulis sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih
banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini, baik dari segi tata bahasa, susunan
kalimat maupun isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati , saya selaku
penyusun menerima segala kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga laporan ini dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk masyarakat luas.

Jambi, 10 september 2018

Fiqri Haikal
F1d316007

ii
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang .............................................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ......................................................................................................... 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................................ 1
BAB II PROFIL PERUSAHAAN DAN INSTANSI ............................................................... 2
2.1 PVMBG ......................................................................................................................... 2
2.2. BMKG .......................................................................................................................... 3
2.3. PERTAMINA EP ASSET 2 PRABUMULIH .............................................................. 5
BAB III METODOLOGI .......................................................................................................... 9
3.1 Waktu dan Tempat ......................................................................................................... 9
3.2 Survey dan Kunjungan................................................................................................... 9
BAB IV HASIL KUNJUNGAN ............................................................................................. 10
4.1 PVMBG ....................................................................................................................... 10
4.2. BMKG ........................................................................................................................ 11
4.3. PERTAMINA EP ASSET 2 PRABUMULIH ............................................................ 12
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN.................................................................................. 14
5.1. Kesimpulan ................................................................................................................. 14
5.2. Saran ........................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 15

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Seorang geofisikawan selain harus mampu melakukan eksplorasi sumber daya juga
di tuntut untuk dapat berperan dalam upaya mitigasi bencana. Kuliah lapangan dan
kunjungan perusahaan oleh geofisika angktan 2016 lalu dilakukan untuk belajar lebih
banyak mengenai hal tersebut. Tujuan utama dari kunjungan adalah belajar secara
langsung di lapangan dan juga mengetahui dunia kerja profesonal. Terdapat tiga
instansi atau perusahaan dalam kegiatan kunjungan yaitu Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG), dan juga PERTAMINA ep asset 2 prabumulih. Ada banyak pengetahuan
baru yang di dapat dari kunjungan tersebut. Seperti cara mengukur ketinggian asap
letusan gunung api berdasarkan persamaan trigonometri, gempa dan tsunami palu, dan
juga alat akuisi seismic refleksi.

1.2. Rumusan Masalah


1. Bagaimana cara kerja pemantauan gunung api di PVMBG ?
2. Bagaimana tugas dan sistem kerja BMKG ?
3. Bagaimana cara kerja dan desain seismic refleksi, processing data dan
pengolahan minyak mentah di pertamina ep 2 prabumulih ?

1.3 Tujuan
1. Mampu memahami system pemantauan gunung api dan pembacaan
gelombang seismogram
2. Mampu memahami stasiun BMKG beserta tugas dan cara kerja
3. Mendalami pengetahuan mengenai alat seismic refleksi, dan processing data

1
BAB II

PROFIL PERUSAHAAN DAN INSTANSI

2.1 PVMBG
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) adalah salah satu
unit di lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bertugas
melaksanakan perumusan kebijaksanaan, standardisasi, bimbingan teknis dan evaluasi
bidang vulkanologi dan mitigasi bencana alam geologi. Lembaga ini bertujuan
pengelolaan informasi potensi kegunungapian dan pengelolaan mitigasi bencana alam
geologi, sedangkan misi yang diemban adalah meminimalkan korban jiwa manusia dan
kerugian harta benda dari bencana geologi.
Lembaga ini dibentuk setelah meletusnya Gunung Kelud di Jawa Timur tahun
1919. Pada tanggal 16 September 1920 dibentuk Vulkaan Bewakings Dients (Dinas
Penjagaan Gunungapi) di bawah Dients Van Het Mijnwezen. Pada tahun 1922
diresmikan menjadi Volcanologische Onderzoek (VO), yang kemudian pada tahun
1939 dikenal sebagai Volcanological Survey.
Dalam kurun waktu tahun 1920-1941, Volcanologische Onderzoek
membangun sejumlah pos penjagaan gunung api, yaitu Pos Gunung Krakatau di Pulau
Panjang, Pos Gunung Tangkuban Perahu, Pos Gunung Papandayan, Pos Kawah
Kamojang, Pos Gunung Merapi (Babadan, Krinjing, Plawangan, Ngepos), Pos Gunung
Kelud, Pos Gunung Semeru, serta Pos Kawah Ijen. Selama pendudukan Jepang,
kegiatan penjagaan gunungapi ditangani oleh Kazan Chosabu.
Setelah Indonesia merdeka, dibentuk Dinas Gunung Berapi (DGB) di bawah
Jawatan Pertambangan. Tahun 1966 diubah menjadi Urusan Vulkanologi di bawah
Direktorat Geologi. Pada tahun 1976 berubah lagi menjadi Sub Direktorat Vulkanologi
di bawah Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.
Pada tahun 1978 dibentuk Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal
Pertambangan Umum, Departemen Pertambangan dan Energi. Tahun 1992 dibentuk

2
Direktorat Vulkanologi di bawah Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya
Mineral.
Pada tahun 2001, urusan gunungapi, gerakan tanah, gempabumi, tsunami, erosi
dan sedimentasi ditangani oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.
Setelah bergabung dengan Badan Geologi, Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi berubah nama institusinya menjadi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (PVMBG).
Di dunia internasional, PVMBG dikenal dengan sebutan Volcanology Survey
Indonesia (VSI). Saat ini dipimpin oleh M. Hendrasto dan berkantor pusat di Bandung.
Stasiun PVMBG bukit tinggii bertugas untuk mengawasi dan memonitor aktivitas
gunung Merapi.
2.2. BMKG
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Indonesia yang lebih kita kenal
dengan BMKG merupakan lembaga pemerintahan non departemen yang mempunyai
tugas pokok yaitu melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi,
Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan yang berlaku. Tapi sebagian besar penduduk Indonesia mungkin tidak
mengetahui dengan jelas apakah maksud tugas di bidang Meteorologi, Klimatologi,
Kualitas Udara, dan Geofisika tersebut.
Sejarah pengamatan meteorologi dan geofisika di Indonesia dimulai pada tahun
1841 diawali dengan pengamatan yang dilakukan secara perorangan oleh Dr. Onnen,
Kepala Rumah Sakit di Bogor. Tahun demi tahun kegiatannya berkembang sesuai
dengan semakin diperlukannya data hasil pengamatan cuaca dan geofisika.
Pada tahun 1866, kegiatan pengamatan perorangan tersebut oleh Pemerintah Hindia
Belanda diresmikan menjadi instansi pemerintah dengan nama Magnetisch en
Meteorologisch Observatorium atau Observatorium Magnetik dan Meteorologi
dipimpin oleh Dr. Bergsma.
Pada tahun 1879 dibangun jaringan penakar hujan sebanyak 74 stasiun
pengamatan di Jawa. Pada tahun 1902 pengamatan medan magnet bumi dipindahkan
dari Jakarta ke Bogor. Pengamatan gempa bumi dimulai pada tahun 1908 dengan

3
pemasangan komponen horisontal seismograf Wiechert di Jakarta, sedangkan
pemasangan komponen vertikal dilaksanakan pada tahun 1928.
Pada tahun 1912 dilakukan reorganisasi pengamatan meteorologi dengan
menambah jaringan sekunder. Sedangkan jasa meteorologi mulai digunakan untuk
penerangan pada tahun 1930.
Pada masa pendudukan Jepang antara tahun 1942 sampai dengan 1945, nama
instansi meteorologi dan geofisika diganti menjadi Kisho Kauso Kusho. Setelah
proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, instansi tersebut dipecah menjadi
dua: Di Yogyakarta dibentuk Biro Meteorologi yang berada di lingkungan Markas
Tertinggi Tentara Rakyat Indonesia khusus untuk melayani kepentingan Angkatan
Udara. Di Jakarta dibentuk Jawatan Meteorologi dan Geofisika, dibawah Kementerian
Pekerjaan Umum dan Tenaga.
Pada tanggal 21 Juli 1947 Jawatan Meteorologi dan Geofisika diambil alih oleh
Pemerintah Belanda dan namanya diganti menjadi Meteorologisch en Geofisiche
Dienst. Sementara itu, ada juga Jawatan Meteorologi dan Geofisika yang
dipertahankan oleh Pemerintah Republik Indonesia, kedudukan instansi tersebut di Jl.
Gondangdia, Jakarta.
Pada tahun 1949, setelah penyerahan kedaulatan negara Republik Indonesia
dari Belanda, Meteorologisch en Geofisiche Dienst diubah menjadi Jawatan
Meteorologi dan Geofisika dibawah Departemen Perhubungan dan Pekerjaan Umum.
Selanjutnya, pada tahun 1950 Indonesia secara resmi masuk sebagai anggota
Organisasi Meteorologi Dunia (World Meteorological Organization atau WMO) dan
Kepala Jawatan Meteorologi dan Geofisika menjadi Permanent Representative of
Indonesia with WMO.
Pada tahun 1955 Jawatan Meteorologi dan Geofisika diubah namanya menjadi
Lembaga Meteorologi dan Geofisika di bawah Departemen Perhubungan, dan pada
tahun 1960 namanya dikembalikan menjadi Jawatan Meteorologi dan Geofisika di
bawah Departemen Perhubungan Udara.
Pada tahun 1965, namanya diubah menjadi Direktorat Meteorologi dan
Geofisika, kedudukannya tetap di bawah Departemen Perhubungan Udara.Pada tahun

4
1972, Direktorat Meteorologi dan Geofisika diganti namanya menjadi Pusat
Meteorologi dan Geofisika, suatu instansi setingkat eselon II di bawah Departemen
Perhubungan, dan pada tahun 1980 statusnya dinaikkan menjadi suatu instansi
setingkat eselon I dengan nama Badan Meteorologi dan Geofisika, dengan kedudukan
tetap berada di bawah Departemen Perhubungan.Pada tahun 2002, dengan keputusan
Presiden RI Nomor 46 dan 48 tahun 2002, struktur organisasinya diubah menjadi
Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) dengan nama tetap Badan Meteorologi
dan Geofisika.
Terakhir, melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008, Badan
Meteorologi dan Geofisika berganti nama menjadi Badan Meteorologi, Klimatologi,
dan Geofisika (BMKG) dengan status tetap sebagai Lembaga Pemerintah Non
Departemen.Pada tanggal 1 Oktober 2009 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika disahkan oleh Presiden
Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. (unduh Penjelasan UU RI Nomor
31 Tahun 2009)
2.3. PERTAMINA EP ASSET 2 PRABUMULIH
PT Pertamina EP adalah perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di
sektor hulu bidang minyak dan gas bumi, meliputi eksplorasi dan eksploitasi. Di
samping itu, Pertamina EP juga melaksanakan kegiatan usaha penunjang lain yang
secara langsung maupun tidak langsung mendukung bidang kegiatan usaha utama.
Saat ini tingkat produksi Pertamina EP adalah sekitar 100.000 barrel oil per day
(BOPD) untuk minyak dan sekitar 1.016 million standard cubic feet per day
(MMSCFD) untuk gas.
Wilayah Kerja (WK) Pertamina EP seluas 113,613.90 kilometer persegi
merupakan limpahan dari sebagian besar Wilayah Kuasa Pertambangan Migas PT
PERTAMINA (PERSERO). Pola pengelolaan usaha WK seluas itu dilakukan dengan
cara dioperasikan sendiri (own operation) dan kerja sama dalam bentuk kemitraan,
yakni 4 proyek pengembangan migas, 7 area unitisasi dan 39 area kontrak kerjasama
kemitraan terdiri dari 24 kontrak Technical Assistant Contract (TAC), 15 kontrak Kerja

5
Sama Operasi (KSO). Jika dilihat dari rentang geografinya, Pertamina EP beroperasi
hampir di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Di Indonesia sendiri, pemboran sumur minyak pertama dilakukan oleh Belanda
pada tahun 1871 di daerah Cirebon. Namun demikian, sumur produksi pertama adalah
sumur Telaga Said di wilayah Sumatera Utara yang dibor pada tahun 1883 yang disusul
dengan pendirian Royal Dutch Company di Pangkalan Brandan pada 1885. Sejak era
itu, kegiatan ekspolitasi minyak di Indonesia dimulai.
Setelah diproduksikannya sumur Telaga Said, maka kegiatan industri
perminyakan di tanah air terus berkembang. Penemuan demi penemuan terus
bermunculan. Sampai dengan era 1950an, penemuan sumber minyak baru banyak
ditemukan di wilayah Jawa Timur, Sumatera Selatan, Sumatera Tengah, dan
Kalimantan Timur. Pada masa ini Indonesia masih dibawah pendudukan Belanda yang
dilanjutkan dengan pendudukan Jepang.
Ketika pecah Perang Asia Timur Raya produksi minyak mengalami gangguan.
Pada masa pendudukan Jepang usaha yang dilakukan hanyalah merehabilitasi lapangan
dan sumur yang rusak akibat bumi hangus atau pemboman lalu pada masa perang
kemerdekaan produksi minyak terhenti.
Namun ketika perang usai dan bangsa ini mulai menjalankan pemerintahan
yang teratur, seluruh lapangan minyak dan gas bumi yang ditinggalkan oleh Belanda
dan Jepang dikelola oleh negara.
Untuk mengelola aset perminyakan tersebut, pemerintah mendirikan sebuah
perusahaan minyak nasional pada 10 Desember 1957 dengan nama PT Perusahaan
Minyak Nasional, disingkat PERMINA. Perusahaan itu lalu bergabung dengan
PERTAMIN menjadi PERTAMINA pada 1968. Untuk memperkokoh perusahaan
yang masih muda ini, Pemerintah menerbitkan UU No. 8 pada 1971, yang
menempatkan PERTAMINA sebagai perusahaan minyak dan gas bumi milik negara.
Berdasarkan UU ini, semua perusahaan minyak yang hendak menjalankan usaha di
Indonesia wajib bekerja sama dengan PERTAMINA. Karena itu PERTAMINA
memainkan peran ganda yakni sebagai regulator bagi mitra yang menjalin kerja sama
melalui mekanisme Kontrak Kerja Sama (KKS) di wilayah kerja (WK) PERTAMINA.

6
Sementara di sisi lain PERTAMINA juga bertindak sebagai operator karena juga
menggarap sendiri sebagian wilayah kerjanya.
Sejalan dengan dinamika industri migas di dalam negeri, Pemerintah
menerbitkan Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi No. 22 tahun 2001. Sebagai
konsekuensi penerapan UU tersebut, Pertamina beralih bentuk menjadi PT Pertamina
(Persero) dan melepaskan peran gandanya. Peran regulator diserahkan ke lembaga
pemerintah sedangkan Pertamina hanya memegang satu peran sebagai operator murni.
Peran regulator di sektor hulu selanjutnya dijalankan oleh BPMIGAS yang
dibentuk pada tahun 2002. Sedangkan peran regulator di sektor hilir dijalankan oleh
BPH MIGAS yang dibentuk dua tahun setelahnya pada 2004.
Di sektor hulu, Pertamina membentuk sejumlah anak perusahaan sebagai
entitas bisnis yang merupakan kepanjangan tangan dalam pengelolaan kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi minyak, gas, dan panas bumi, pengelolaan transportasi pipa
migas, jasa pemboran, dan pengelolaan portofolio di sektor hulu. Ini merupakan wujud
implementasi amanat UU No.22 tahun 2001 yang mewajibkan PT Pertamina (Persero)
untuk mendirikan anak perusahaan guna mengelola usaha hulunya sebagai konsekuensi
pemisahan usaha hulu dengan hilir.
Atas dasar itulah PT Pertamina EP didirikan pada 13 September 2005. Sejalan
dengan pembentukan PT Pertamina EP maka pada tanggal 17 September 2005, PT
Pertamina (Persero) telah melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama (KKS)
dengan BPMIGAS (sekarang SKKMIGAS) – yang berlaku surut sejak 17 September
2003 – atas seluruh Wilayah Kuasa Pertambangan Migas yang dilimpahkan melalui
perundangan yang berlaku. Sebagian besar wilayah PT Pertamina (Persero) tersebut
dipisahkan menjadi Wilayah Kerja (WK) PT Pertamina EP. Pada saat bersamaan, PT
Pertamina EP juga melaksanakan penandatanganan KKS dengan BPMIGAS (sekarang
SKKMIGAS) yang berlaku sejak 17 September 2005.
Dengan demikian WK PT Pertamina EP adalah WK yang dahulu dikelola oleh
PT Pertamina (Persero) sendiri dan WK yang dikelola PT Pertamina (Persero) melalui
TAC (Technical Assistance Contract) dan JOB EOR (Joint Operating Body Enhanced
Oil Recovery).

7
Dengan tingkat pertumbuhan produksi rata-rata 6-7 persen per tahun, PT
Pertamina EP memiliki modal optimisme kuat untuk tetap menjadi penyumbang laba
terbesar PT Pertamina (Persero). Keyakinan itu juga sekaligus untuk menjawab
tantangan pemeritah dan masyarakat yang menginginkan peningkatan produksi migas
nasional.

8
BAB III

METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Kunjungan industri ini dilakukan pada hari minggu 30 oktober 2018 sampai
hari jumat 5 september 2018 di padang dan Palembang.

3.2 Survey dan Kunjungan


1. Pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVMBG) bukittinggi Sumatra
barat.
− Pemaran materi tentang gunungapi
− Penjelasan instrument seismograf dan komponen lainnya
2. Badan meteorologi, klimatologi, dan geofisika ( BMKG ) padang panjang
− Pemaran materi tentsng gemps bumi
− Penjelasan tentang system perekaman data gempa di stasiun
− Penjelasan tentang alat dan klimatologi
3. Pertamina ep asset 2 prabumulih
− Pemaparan materi tentang petroleum system
− Pemaparan video tentang proses akuisisi seismic refleksi
− Pemaparan materi tentang preprocessing data seismic refleksi
− Penjelasan alat survey seismic refleksi 3D
− Penjelasan tentang system pengolahan minyak mentah

9
BAB IV

HASIL KUNJUNGAN

4.1 PVMBG

Gambar 1 stasiuan PVMBG bukit tinggi

Kunjungan ke stasiun PVMBG dilakukan pada hari selasa tanggal 2 oktober


2018. Agenda pada kunjungan adalah kuliah singkat serta pengenalan ruang
monitoring. Kuliah singkat membahas mengenai gunung api beserta dampak yang di
hasilkannya. Stasiun PVMBG bukit tinggi secara khusus memonitoring aktivitas
gunung api marapi. pada kuliah tersebut di ketahui bahwa definisi gunung api adalah
lubang kepundan atau rekahan dalam kerak bumi tempat keluarnya cairan magma ke
permukaan bumi. Pada kuliah tersebut juga diberitahu sifat dan tipe erupsi gunung api
serta jenis bahayanya. Pada dasarnya hal tersebut bukan lah yang baru dan juga pernah
dipelajari sebelumnya. Namun ada hal baru yang saya rasa cukup menarik tentang
mengukur ketinggian asap erupsi menggunakan persamaan trigonometri. Dan dibantu
dengan alat berupa teodholit untuk mengukur jarak dan sudut.
Berikutnya adalah mahasiswa mengunjungi ruang monitoring. Prinsip kerja
pemantauan gunung api oleh PVMBG adalah dengan menanamkan sensor pada
gunung api. Sensor yang digunakan ini di beri nama tilt yang nantinya di tanam di
gunung api. Prinsip kerja kemungkinan sama dengan alat sensor microtremor. Lalu

10
getaran yang terjadi akan terdeteksi pada alat lalu akan dikirimakan di stasiun dan akan
teratat di seismogram. Tugas PVMBG adalah mengelola informasi potensi
kegunungapian dan mengelola mitigasi bencana alam geologi, sedangkan misi yang
diemban adalah meminimalkan korban jiwa manusia dan kerugian harta benda dari
bencana geologi.
4.2. BMKG

Gambar 2 stasiun geofisika BMKG padang panjang

Kunjungan ke BMKG padang Panjang dilakukan pada hari rabu tanggal 3


oktober 2018. Pada kunjungan ke BMKG ini mahasiswa mendapat materi dari pemateri
bmkg. Pada kuliah singkat tersebut diberikan materi mengenai gempa. Gempa bumi
adalah getaran tanah yang di timbulkan oleh penjalaran gelombang seismic yang
terpancar dari suatu sumber energi elastic yang di lepaskan secara mendadak. Materi
yang di sampaikan juga kebanyakan adalah yang telah di pelajari mengenai basic
tektonika lempeng berupa teori tentang Pangea (daratan ) dan Panthalassa (lautan).
Juga mengenai Indonesia yang rawan akan gempa bumi karena dilalui oleh jalur
pertemuan tiga lempeng tektonik, yaitu : lempeng indo-australia, lempeng Eurasia, dan
lempeng pasifik. Jalur pertemuan tersebut berada di laut sehingga apabila terjadi
gempabumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi tsunami sehingga
Indonesia juga rawan tsunami. Hal menarik dari penyampaian materi di BMKG

11
tersebut adalah membahas tentang gempa dan tsunami palu yang baru - baru ini sedang
hangat – hangatnya dibahas. Gempa yang awalnya bermagnitudo 7,7 lalu setelah
mendapat data baru di revisi menjadi magnitudo 7,4.
Setelah pemberian materi selesai selanjutnya mahasiswa menuju ruang
operasional PGR VI. di ruangan operasional ini mahasiswa diberitahu mengenai
software pembacaan rambatan gelombang yang diggunakan di BMKG. ketika data
gempa tiba di bmkg operator akan mempicking gelombang untuk memisahkan
gelombang dengan noise. Biasanya yang di picking adalah gelombang P, namun untuk
hasil yang lebih baik ada baiknya di picking gelombang S. gelombang dengan
magnitudo lebih dari 5 akan dikirimkan ke pusat untuk di Analisa, sedangkan yang di
bawah 5 akan diolah di stasiun.
Selanjutnya mahasiswa menuju taman alat untuk mengetahui alat yang di
gunakan di BMKG. Saat terjadi gempa bumi, alat yang bernama seismograf akan
merespons dan mengirimkan data melalui satelit komunikasi ke bmkg pusat. Data ini
digunakan untuk mencari pusat, kegiatan, dan kedalaman gempa, juga untuk
menentukan apakah gempa berpotensi tsunami
4.3. PERTAMINA EP ASSET 2 PRABUMULIH

Gambar 3 pertamina ep asset 2 prabumulih


Tujuan terakhir dari rangkaian kunjungan industri ini adalah pertamina ep asset
2 prabumulih. Yaitu pada hari kamis tanggal 4 oktober 2018. Sampai di pertamina ep
asset 2 prabumulih pada pukul 11:30 wib, lalu dilanjutkan dengan makan siang terlebih

12
dahulu, lalu setelah itu dilakukan pemberian materi dari pertamina terdapat dua tim
yang memberikan materi pada kunjungan tersebut, yaitu : tim G and G (Geologi dan
Geofisika) dan juga dari tim seismic.
Tim G and G menjelaskan bagaimana geologi dan geofisika bekerja dalam satu
tim untuk mencari sumber daya. Tugas seorang geologist adalah : mengamati, mencari
dan mencatat semua petunjuk kemungkinan adanya migas di dalam bumi. batuan di
permukaan di amati serta di ambil contohnya untuk di ketahui jenis maupu asal
pembentukan dari urutan lapisan mana di ambil. Kemudian membuat rekonstruksi yang
terjadi jutaan tahun yang lalu. Sedangkan tugas seorang geophysics adalah untuk
mempelajari sifat fisika batuan bawah tanah. Berbagai macam metoda digunakan pada
tahap ini, dan kumpulan data tersebut memperkaya pengetahuan geologist dalam
pencarian migas.
Selanjutnya tim seismic menjelaskan tentang processing data, diamana data
mentah yang di hasilkan akan di olah untuk mendapatkan hasil yang bagus lalu di
interpretasi, pada dasarnya ada tiga tugas utama seorang geophysics yaitu : akuisisi,
processing, dan interpretasi.
Berikutnya adalah menuju ke tempat simulasi seismic refleksi, pada simulasi
tersebut menggunakan vibroseis sebagai sumber, vibroseis dipilih dikarenakan daerah
yang dekat dengan pemukiman. Dan juga di simulasikan rangkaian susunan geophone.
Berikutnya adalah menuju stasiun pengumpul, pada stasiun ini adalah proses
pengumpulan minyak dari proses pengeboran melalui pipa. Minyak dari stasiun ini
kemudian di kirimkan lagi menuju stasiun lainnya untuk diolah lebih lanjut.

13
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Pemantaun gunung api oleh PVMBG memanfaatkan sensor yang di tanam kan
pada gunung api. Lalu data gelombang akan di kirim ke stasiun untuk di
Analisa.
2. Saat terjadi gempa bumi, alat yang bernama seismograf akan merespons dan
mengirimkan data melalui satelit komunikasi ke bmkg pusat. Data ini
digunakan untuk mencari pusat, kegiatan, dan kedalaman gempa, juga untuk
menentukan apakah gempa berpotensi tsunami.
3. Sumber seismic yang digunakan adalah vibroseis dengan susunan geophone
seri 3 dan parallael 4.

5.2. Saran
Saran saya terkait kunjungan ini adalah mengenai manajemen waktu, yang
seharusnya pada kunjungan kemarin mendapatkan edukasi yang maksimal.

14
DAFTAR PUSTAKA

Anonym. 2017. pusat vulkanologi dan bencana geologi. Diambil dari : https://id
.wikipedia.org/wiki/Pusat_Vulkanologi_dan_Mitigasi_Bencana_Geologi. Diakses pada
tanggal 10 oktober 2018.

Anonym. 2016. Badan meteorology klimatologi dan geofisika. Diambil dari: https://id
.wikipedia.org/wiki/Badan_Meteorologi,_Klimatologi,_dan_Geofisika. Diakses pada
tanggal 10 oktober 2018.

Anonym. 2013. Profil PERTAMINA EP. diambil dari : https://pep.pertamina.com/Tentang-


PEP/Sekilas-Perusahaan/Profil-Kami. Diakses pada tanggal 10 oktober 2018

15