Anda di halaman 1dari 25

PENGARUH ION SENAMA DALAM Ca(OH)2 PADA PRINSIP

HASIL KALI KELARUTAN

Disusun Oleh :

Alya Sholikhatul Choerunnisa

3335170054

Teknik Kimia

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama :

NPM :

Jurusan :

Angkatan :

Dengan ini saya sebagai saksi menyaksikkan bahwa penulis telah

melakukan percobaan Hasil Kali Kelarutan di Laboratorium Kimia Dasar

FT UNTIRTA.

Saksi Penulis

NPM NPM

ii
ABSTRAK

Hasil kali kelarutan atau Ksp merupakan hasil kali

konsentrasi ion-ion yang terlarut dalam larutan tersebut dimana pada suhu

tertentu terjadi kesetimbangan antara konsentrasi ion-ion tersebut dengan

padatannya. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui

prinsip-prinsip hasil kali kelarutan, juga mengetahui kelarutan dan hasil

kali kelarutan Ca(OH)2 serta pengaruh dari efek senamanya.Aplikasi

industri dari percobaan ini adalah pengendapan garam dan penghilang

kesadahan air. Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu titrasi.

Percobaan dilakukan dengan mentitrasi Ca(OH)2 dengan HCl sebanyak

dua kali, juga mentitrasi Ca(OH)2 yang telah di tambahkan CaCl2 dengan

HCl sebanyak dua kali pula. Volume titran yang didapat yaitu 25 ml,

sedangkan kelarutan Ca(OH)2 yang didapat adalah 0,02 mol/L dan KSP

Ca(OH)2 yang didapat adalah 0,00016 mol/L.

Kata Kunci : Ion senama, kelarutan, mol, pengendapan.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................. i

LEMBAR PENGESAHAN ...................................................................... ii

ABSTRAK ............................................................................................... iii

DAFTAR ISI ............................................................................................ iv

DAFTAR TABEL .................................................................................... vi

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ...................................................................................... 1

1.2 Rumusan Masalah ..................................................................................2

1.3 Tujuan Percobaan ...................................................................................2

1.4 Ruang Lingkup .......................................................................................2

1.5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelarutan..................................................................................3

2.2 Hasil Kali Kelarutan .............................................................................. 4

2.3 Ion Senama ............................................................................................ 6

2.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi KSP ............................................... 7

BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir ......................................................................................... 9

iv
3.2 Alat dan Bahan...............................................................................10

3.2.1 Alat ....................................................................................... 10

3.2.2 Bahan................................................................................10

3.3 Prosedur Percobaan..........................................................................11

3.4 Variabel Percobaan.........................................................................11

3.5 Gambar Alat...............................................................................12

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil.......................................................................................13

4.2 Pembahasan.........................................................................................14

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan..........................................................................................19

5. 2 Saran....................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA

Lampiran Perhitungan

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar

Gambar 1 Diagram Alir Percobaan ........................................................... 9

Gambar 2 Bulb ........................................................................................ 12

Gambar 3 Buret ....................................................................................... 12

Gambar 4 Corong .................................................................................... 13

Gambar 5 Erlenmeyer ............................................................................. 13

Gambar 6 Gelas Beker ............................................................................ 14

Gambar 7 Pipet Volume .......................................................................... 14

Gambar 8 Hasil Titrasi Ca(OH)2 dengan HCl......................................... 17

Gambar 9 Hasil Titrasi Ca(OH)2 + CaCl2 dengan HCl ........................... 17

vi
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kelarutan suatu senyawa dalam pelarut didfinisikan

sebagai jumlah terbanyak ( yang dinyatakan dalam gram atau mol )

yang akan larut dalam volume pelarutan tertentu pada suhu tersebut.

Hubungan hasil kali kelarutan mempunyai nilai yang besar sekali

dalam analii kuantitatif, karena dengan banyuannya memungkinkan

bukan saja untuk menerangkan, melainkan juga meramalkan reaksi-

reaksi pengendapan dengan prinsiphasil kali kelarutan dapat digunakan

dalam pengendapan hidroksida,klorida, kelarutan garam yang sedikit

larut dalam asam, pengendapan fraksional dan sebagainya.

Peristiwa pengendapan terjadi bila suatu larutan

terlalu jenuh dengan zat yang bersangkutan sedangkan

larutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi

molar dari larutan jenuhnya. Kelarutan memiliki hubungan

yang penting dengan hasil kali kelarutan.

Aplikasi dalam insustri Hasil Kali Kelarutan ini

berupa pengendapan dalam pembuatan garam, juga

penghilang kesadahan dalam air.Oleh karena itu, diadakan

percobaan ini,karena sangat penting bagi seorang mahasiswa untuk

mengetahui cara penentuan nilai hasil kali kelarutan suatu zat.

1
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu mengetahui

kelarutan dari Kalsium Hidroksida dan faktor-faktor yang

mempengauhi kelarutan dari ion senamanya.

1.3 Tujuan Percobaan

Tujuan dari dilakukannya percobaan ini yaitu agar dapat

memahami prinsip-prinsip hasil kali kelarutan, juga dapat menentukan

kelarutan dan konstanta kelarutan KSP Kalsium Hidroksida serta

mengetahui efek ion senama pada kelarutan Kalsium Hidroksida.

1.4 Ruang Lingkup

Ruang Lingkup dari percobaan ini meliputi prinsip yang

dilakukan dalam percobaan ini yaitu titrasi, juga bahan yang digunakan

yaitu Aquades, Indikator Metil Oranye, Kalsium Hidroksida, Kalsium

Klorida, dan Larutan HCl 0,05 M. Percobaan ini dilakukan di

Laboratorium Kimia Dasar FT. UNTIRTA.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kelarutan

Kelarutan adalah jumlah zat yang dapat larut dalam

sejumlah pelarut sampai membentuk larutan jenuh. Cara menentukan kelarutan

suatu zat adalah dengan mengambil sejumlah tertentu pelarut murni, misalnya 1

liter. Kemudian menimbang zat yang akan dilarutkan misalnya 5 gram. Jumlah zat

yang dilarutkan harus dapat diperkirakan agar dapat membentuk larutan lewat

jenuh yang ditandai dengan masih terdapatnya zat yang tidak dapat larut. Setelah

dicampur, dikocok dan didiamkan sampai terbentuk kesetimbangan zat yang tidak

larut dengan zat yang larut. Kemudian padatan yang tidak larut disaring,

dikeringkan dan ditimbang, misalnya didapat 1,5 gram. Larutan yang telah

disaring itu mengandung (5-1,5) gram : 3,5 gram/liter, dan dapat dinyatakan

dalam mol/liter dengan mencari molnya terlebih dulu. 1

Kelarutan merupakan salah satu sifat fisikokimia senyawa

obat yang penting dalam meramalkan derajat absorpsi obat dalam saluran cerna.

Obat-obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air (porly soluble drugs)

seringkali menunjukkan ketersediaan hayati rendah dan kecepatan disolusi

merupakan tahap penentu (rate limiting step) pada proses absorpsi obat. Istilah

kelarutan untuk mengacu pada konsentrasi sebuah larutan jenuh dari sebuah

larutan (disini kristalin padat) dalam sebuah pelarut pada sebuah temperatur

1
Syukri, 1999.

3
tertentu. Dalam sebuah kesetimbangan larutan jenuh hadir antara benda padat dan

ion-ionnya.2

2.2 Hasil Kali Kelarutan

Hasil Kali Kelarutan atau yang biasa disebut KSP adalah

garam hasil kali dari konsentrasi dari semua ion larutan jenuh pada suhu tertentu,

dan masing-masing ion diberikan pangkat dengan koefisien dalam rumus

tersebut.3

Nilai Ksp berguna untuk menentukan keadaan senyawa ion

dalam larutan, apakah belum jenuh, tepat &jenuh, atau lewat & jenuh, yaitu

dengan membandingkan hasil kali ion dengan hasil kali kelarutan, kriterianya

adalahapabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan dengan koefisiennya masing-

masing kurang dari nilai Ksp maka larutan belum & jenuh dan tidak diendapan.

Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennya masing-masing sama

dengan nilai Ksp maka kelarutannya tepat &enuhnamun tidak terjadi endapan.

Apabila hasil kali ion-ion yang dipangkatkan koefisiennyalebih dari nilai Ksp,

maka larutan disebut lewat &jenuh dan terbentuk endapan.4

Ksp senyawa dapat ditentukan dari perobaan laboratorium

dengan mengukur kelarutan sampai keadaan tepat & jenuh. Dalam keadaan

itu,kemampuan pelarut telah maksimum untuk melarutkan atau mengionkan zat

terlarut. Kelebihan zat terlarut walaupun sedikit akan menjadi endapan.Larutan

2
Zaini, 2011
3
Achmad,2006
4
Syukri, 1999

4
tepat jenuh dapat dibuat memasukkan zat kedalam pelarut sehingga lewat jenuh.

endapan disaring dan ditimbang untuk menghitung massa yang terlarut.5

Larutan jenuh didefinisikan sebagai larutan yang mengandung zat terlarut dalam

jumlah yang diperlukan untuk adanya kesetimbangan antara zat terlarutyang larut

dan yang tak larut. Pembentukan larutan jenuh dapat dipercepat dengan

pengadukan yang kuat dari zat terlarut yang berlebih. Banyaknya zat terlarut yang

melarut dalam pelarut yang banyaknya tertentu, untuk menghasilkan suatu larutan

jenuh disebut kelarutan zat terlarut. Lazimnyakelarutan dinyatakan dalam gram

zat terlarut per 100 m3 100 gram pelarut pada temperatur yang sudah ditentukan.

Suatu larutan tak jenuh kalah pekat (lebih encer) dari pada larutan jenuh. Dan

suatu larutan lewat jenuh lebih pekat dibandingkan dengan larutan jenuh. suatu

larutan lewat jenuh biasanya dibuat dengan membuat larutan jenuh pada

temperatur yang lebih tinggi. saat terlarut haruslah lebih banyak larut dalam dalam

pelarut panas dari pada dalam pelarut dingin. jika tersisa zat terlarut yang belum

larut, sisa itudisingkirkan. Larutan panas itu kemudian didinginkan dengan hati-

hati untuk menghindari pengkristalan. artinya larutan itu tidak boleh digetarkan

atau diguncang, dan debu maupun materi asing dilarang masuk. Jika tidak ada zat

terlarut yang memisahkan diri selama pendinginan, maka larutan yang dingin itu

bersifat lewat jenuh.6

Pada proses penelitian bahan umpan pengendapan dibuat

dengankandungan hafnium serendah mungkin. Larutan umpan pengendapan

5
Syukri, 1999
6
Brady, 1999

5
dapatdiperoleh dari metode re-ekstraksi hasil proses ekstraksi (proses basah)

maupun metode pelarutan hasil proses klorinasi (proses kering). Pengendapan

merupakan proses pengolahan pasir zirko.7

sejauh ini, larutan &enuh yang mengandung ion-ion

berasal dari satusumber padatan murni. namun, bagaimana pengaruhnya pada

kesetimbangan larutan jenuh jika ion-ion dari sumber lain dimasukkan ke dalam

larutan pertama. /enurut prinsip Le Chatelier, sistem pada keadaan setimbang

menanggapi peningkatan salah satu pereaksinya dengan cara

menggeser kesetimbangan ke arah dimana pereaksi tersebut dikonsumsi.8

2.3 Efek Ion Senama

Ion senama adalah ion sejenis dari ion-ion yang sama dalam sistem

kesetimbangan. Menurut azaz kesetimbangan asas Le Chatelier “apabila

konsentrasi salah satu ion diperbesar, maka kesetimbangan bergeser ke arah

lawan, yaitu konsentrasi yang diperbesar menjadi sekecil mungkin.” Keberadaan

ion senama akan mempengaruhi reaksi kesetimbangan.Penambahan ion sejenis

(Ca2+ ) akan menggeser kesetimbangan ke kiri atau bisa juga dikatakan reaksi

kekanan akan sulit terjadi. Pergeseran ke kiri menyebabkan kelarutan Ca(OH)2

berkurang (semakin sukar larut), tetapi tidak mempengaruhi harga tetapan hasil

kali kelarutan, jika suhu tidak berubah. 9

7
Sajima,dkk.2007
8
Pertucci,1897
9
Syukri, 1999

6
2.4 Faktor- faktor yang mempengaruhi KSP

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan

yakni:10

1. Temperatur, kelarutan bertambah dengan naiknya temperatur.

Kadangkalaendapan yang baik terbentuk pada larutan panas, tetapi jangan

dilakukan penyaringan terhadap larutan panas karena pengendapan dipengaruhi

olehfaktor suhu.

2. Sifat pelarut, garam-garam anorganik lebih larut dalam air.

Berkurangnyakelarutan di dalam pelarut organik dapat digunakan sebagai dasar

pemisahandua zat.

3. Efek ion sejenis, kelarutan endapan dalam air berkurang jika larutan

tersebutmengandung satu ion-ion penyusun endapan.

4. Pengaruh aktivasi.

5. Pengaruh pH, kelarutan dari garam asam lemah bergantung pada pH

larutan,misalkan : oksalat, ion H+ bergabung dengan ion C2 O4-2 membentuk

H2C2O4 sehingga menambah kelarutan garamnya. Pemisahan logam

mengalamihidrolisis sehingga menambah kelarutannya.

6. Pengaruh hidrolisis, jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air,

akanmenghasilkan perubahan (H+). Kation dari spesies garam mengalami

hidrolisismenambah kelarutannya.

10
Day dan Underwood,1989

7
7. Efek kompleks, kelarutan garam yang sedikit larut merupakan

fungsikonsentrasi yang menghasilkan kompleks dengan kation garam tersebut.

8
BAB III METODE PERCOBAAN

3.1 Diagram Alir

Berikut ini merupakan diagram alir dari percobaan Hasil

Kali Kelarutan :

25 ml Ca(OH)2 50 ml HCl 0,05 M


Erlenmeyer 250 ml Erlenmeyer 250 ml
Indikator MO

Pentitrasian

Pencatatan volume titrasi

Perhitungan Ksp Ca(OH)2

25 ml Ca(OH)2 + CaCl2 Erlenmeyer 250 ml 50 ml HCl Buret 50 ml


3 tetes indikator MO

Pentitrasian

Pengamatan perubahan warna

Pencatatan volume titran

Pengulangan titrasi

Perhitungan Ca(OH)2 dalam ion senama

Gambar 1 Diagram Alir Percobaan Hasil Kali Kelarutan

9
3.2 Alat dan Bahan

Berikut ini merupakan alat dan bahan yang digunakan

dalam percobaan Hasil Kali Kelarutan :

3.2.1 Alat

Dibawah ini merupakan alat yang digunakan dalam

percobaan Hasil Kali Kelarutan :

a). Bulb 1 buah

b). Buret 50 ml 1 buah

c). Corong 1 buah

d). Erlenmeyer 250 ml 2 buah

e). Gelas Beker 250 ml 1 buah

f). Pipet Volume 25 ml 1 buah

3.2.2 Bahan

Dibawah ini merupakan bahan yang digunakan

dalam percobaan Hasi Kali Kelarutan :

a). Indikator Metil Oranye

b). Kalsium Hidroksida (Ca(OH)2)

c). Kalsium Klorida (CaCl2)

d). Larutan HCl 0,05 M

10
3.3 Prosedur Percobaan

Prosedur dari Percobaan Hasil Kali Kelarutan ini dimulai

dari menyiapkan larutan Kalsium Hidroksida lalu memipetnya

menggunakan pipet volume sebanyak 25 ml, kemudian memasukan

larutan tersebut kedalam 2 erlenmeyer berukuran 250 ml lalu tambahkan

indikator metil oranya sebanyak 3 tetes pada maing-masing erlenmeyer.

Kemudian isi buret berukuran 50 ml dengan HCl 0,05 M. Lalu lakukan

proses titrasi, tak lupa meletakkan selembar kertas putih dibawah

erlenmeyer selama proses titrasi. Proses titrasi dilakukan hingga terjadi

perubahan warna pada larutan, dari warna kuning menjadi merah oranye.

Lalu mencatat volume titran, setelahnya menghitung KSP dari larutan

tersebut. Lakukan proses titrasi sebanyak dua kali.

Untuk mengetahui pengaruh ion senama, langkah pertama

yang perlu dilakukan yaitu menyiapkan larutan Kalsium Hidroksida dan

Kalsium Klorida dihidrat sebanyak 25 ml lalu mentitrasinya dengan HCl,

tak lupa pula menambahkan indikator Metil Oranye, proses titrasi

dilakukan hingga larutan berubah warna seperti percobaan sebelumnya.

Lalu catat volume titran dan menghitung kelarutan Kalsium Hidroksida

dalam ion senama. Lakukan sebanyak dua kali.

3.4 Variabel Percobaan

Terdapat dua variabel dalam percobaan ini, yaitu variabel

bebas dan variabel terikat. Variabel bebas dari percobaan ini yaitu suhu

11
ruangan, sedangkan variabel terikatnya yaitu kelarutan Kalsium

Hidroksida.

3.5 Gambar Alat

Gambar 2 Bulb

Bulb digunakan untukmenyedot larutan. Cara

penggunaanya yaitu menekan ujung atas pipa A, kemudian pasang ujung

pipa ke pipet, lalu tekan S untuk menyedot cairan ke atas. Cairan dapat

dikeluarkan dengan menekan pipa cabang E.

Gambar 3 Buret

Buret digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen cair

dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen

titrasi. Cara penggunaannya yaitu dengan cara memasukkan larutan

12
kedalam buret, lalu buka keran buret perlahan hingga larutan keluar dalam

bentuk tetesan.

Gambar 4 Corong

Corong memiliki kegunaan untuk memudahkan

memasukkan larutan kedalam wadah yang untuk penyaringan. Cara

penggunaannya yaitu mengambil larutan yang akan disaring lalu letakkan

corong pada lubang erlenmeyer kemudian tuangkan larutan ke dalam

erlenmeyer melalui corong.

Gambar 5 Erlenmeyer

Erlenmeyer digunakan dalam proses titrasi untuk

menampung larutan yang akan dititrasi. Cara penggunaannya yaitu dengan

13
meletakkan erlenmeyer tepat dibawah tetesan larutan dari buret kemudian

goyangkan erlenmeyer pada bagian lehernya.

Gambar 6 Gelas beker

Gelas beker digunakan untuk mengukur volume

larutan,wadah untuk menyimpan larutan, dan membuat larutan. Cara

penggunaannya yaitu dengan memasukkan suatu larutan kedalam gelas

beker lalu dibaca volume yang tertera.

Gambar 7 Pipet volume

Pipet volume diguanakan untuk memindahkan larutan dari

suatu wadah yang lain. Cara penggunaanya yaitu memasukkan ujung pipet

ke dalam bulb, lalu lakukan dengan cara kerja bulb.

14
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Dibawah ini merupakan hasil yang di dapatkan dari

percobaan Hasil Kali Kelarutan yang telah dilakukan :

Tabel 1 Hasil percobaan Hasil Kali Kelarutan

No Data Percobaan 1 Percobaan 2

1 Volume larutan jenuh 25 ml 25 ml

Ca(OH)2 (ml)

2 Konsentrasi HCl (Mol/L) 0,05 M 0,05 M

3 Pembacaan buret mula-mula 0 ml 0 ml

(ml)

4 Pembacaan buret akhir (ml) 20 ml 20 ml

5 Volume Hcl ditambahkan 20 ml 20 ml

(ml)

6 Mol HCl yang ditambahkan 0,001 mol 0,001 mol

(mol)

7 Mol OH- dalam larutan jenuh 0,001 mol 0,001 mol

(Mol)

8 [OH-] Kesetimbangan 0,04 mol/L 0,04 mol/L

(Mol/L)

9 [Ca2+] Kesetimbangan 0,0002 mol/L 0,0002 mol/L

15
(Mol/L)

10 Kelarutan molar Ca(OH)2 0,02mol/L 0,02 mol/L

(Mol/L)

11 Kelarutan mol rata-rata 0,02 mol/L 0,02 mol/L

Ca(OH)2 (mol/L)

12 KSP Ca(OH)2 0,00016 mol/L 0,00016 mol/L

13 KSP rata-rata 0,00016 mol/L 0,00016 mol/L

4.2 Pembahasan

Hasil Kali Kelarutan atau KSP merupakan hasil kali

konsentrasi ion-ion yang terlarut dalam larutan tersebut dimana pada suhu

tertentu terjadi kesetimbangan antara konsentrasi ion-ion tersebut dengan

padatannya. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui

prinsip-prinsip hasil kali kelarutan, juga mengetahui kelarutan dan hasil

kali kelarutan Ca(OH)2 serta pengaruh dari efek senamanya. Metode yang

dilakukan pada percobaan ini yaitu titrasi. Terdapat dua percobaan dalam

Percobaan hasil kali kelarutan, dan masing-masing-masing percobaan

dilakukan sebanyak 2 kali.

Pada percobaan yang pertama yaitu pentitrasian Ca(OH)2

dengan larutan HCl, volume yang terbaca pada buret saat percobaan

pertama dan kedua yaitu 25 ml. Sebelum proses titrasi dilakukan larutan

ditambahkan indikator metil oranye yang fungsinya sebagai pengindikasi

16
titik akhir titrasi dengan cara berubah warna saat titik akhir titrasi telah

tercapai. Dalam percobaan ini larutan yang sebelumnya tidak berwarna

berubah menjadi warna merah kekuningan. Terlihat pada gambar 8.

Gambar 8 Hasil titrasi Ca(OH)2 dengan HCl

Fungsi dari melakukan titrasi dengan HCl sendiri adalah

untuk mendapatkan konsentrasi dari Ca(OH)2 , agar dapat dihitung

kelarutannya. Sama seperti percobaan yang pertama, percobaan yang

kedua yaitu mentitrasi larutan Ca(OH)2 yang telah di tambahkan CaCl2

dengan HCl.

ga

Gambar 9 hasil ritrasi Ca(OH)2 + CaCl2 dengan HCl

17
Maksud dari penambahan CaCl2 adalah sebagai ion

senamanya, agar dapat diketahui kelarutan dan KSPnya. Hasil Buret yang

terbaca yaitu 25 ml. Dan setelah dihitung kelarutan percobaan pertama dan

kedua adalah 0,02 M. Hal demikian bertentangan dengan asas Le

Chatelier. Berikut reaksinya:

Ca(OH)2 + 2HCl → CaCl2 + 2H2O

Asas Le Chatelier berkata bahwa penambahan zat sejenis akan

memperkecil kelarutan. Dari reaksi diatas bila larutan Ca(OH)2

ditambahkan CaCl2 maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan yang

menyebabkan kelarutan Ca(OH)2 mengecil atau berkurang.

Seharusnya kelarutan pada percobaan kedua lebih kecil dari yang pertama.

Pada percobaan pertama dan kedua memiliki kelarutan yang sama

sehingga nilai KSPnya pun sama yaitu 0,00016 mil/L. Hal ini mungkin

terjadi karena beberapa faktor seperti pengaruh suhu ruangan, atau

kesalahan penulis sendiri saat melakukan proses titrasi.

18
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari percobaan ini

yaitu :

1. Nilai KSP suatu larutan akan mempengaruhi tingkat kelarutannya saat

dimasuki ke dalam zat pelarutnya.

2. Nilai QSP yang lebih besar dari KSP larutan menunjukkan bahwa

larutan tersebut telah jenuh.

3. Kelarutan Ca(OH)2 yang didapat yaitu 0,02 M.

4. Nilai KSP dari Ca(OH)2 yang didapat yaitu 0,00016 mol/L.

5.2 Saran

Dibawah ini merupakan saran yang dapat diberikan :

1. Lebih teliti mencatat data untuk meminimalisir kesalahan data.

2. Lebih teliti memperhatikan perubahan warna.

19