Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN IDENTIFIKASI ZAT WARNA RHODAMIN B PADA LIPSTIK

‘JUST MISS’ DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

DISUSUN OLEH

MIFTHA RASMANIAH PUTRI

XII AK B / R2

160101050

SMK NEGERI 1 BONTANG

2018-2019
LEMBAR PENGESAHAN

Telah disahkan atau disetujui laporan praktikum “Identifikasi Zat Warna


Rhodamin B Dalam Sampel Lipstik ‘Just Miss’ Metode Kromatografi Lapis
Tipis” ini sebagai bukti bahwa telah dilakukan praktikum.

PRAKTIKAN : Miftha Rasmaniah Putri

KELAS : XII Kimia Analisis B

TEMPAT PRAKTIKUM : Lab. Instrumen SMKN 1 Bontang

Disetujui di

Bontang, Oktober 2018

Praktikan : Pembimbing :

Miftha Rasmanih Putri Wahyu Juli Hastuti, M.Pd

NIS : 160101050 NIP : 19760710200152005


I. Judul : Identifikasi zat warna Rhodamin B pada lipstick ‘ Just Miss’
secara Kromatografi Lapis Tipis ( KLT )

II. Tujuan :

1. Agar siswa dapat melakukan analisis rodhamin b pada lipstick


dengan metode KLT
2. Agar siswa dapat menentukan nilai Rf

III. Prinsip
Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini
biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase
geraknya disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan.
Larutan atau campuran larutan yang digunakan
dinamakan eluen Semakin dekat kepolaran antara sampel dengan eluen
maka sampel akan semakin terbawa oleh fase gerak tersebut.

IV. Dasar Teori

Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir


dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias
wajah, tetapi tidak boleh menyebabkan iritasi pada bibir (Departemen Kesehatan
RI, 1998). Warna lipstik dapat menambah daya tarik, mengubah rupa dan
menutupi kekurangan apabila digunakan secara tepat. Salah satu zat utama dalam
formulasi lipstik adalah zat warna (Atmadja dan Syarif, 1997).

Tujuan penambahan zat warna pada lipstik adalah memberikan warna yang cerah,
dan segar pada bibir (Departemen Kesehatan RI, 1998). Pewarna berdasarkan
sumbernya ada 2 yaitu pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami
diperoleh dari akar, daun, bunga, dan buah (Mamoto dan Fatimawali,
2013).Sedangkan pewarna sintetis berasal dari reaksi antara dua atau lebih
senyawa kimia. Zat warna sintetis yang diperbolehkan untuk lipstik misalnya
merah DC, dan merah hijau no.17, kedua zat tersebut mempunyai beberapa
kelebihan yaitu stabil dalam jangkawaktu lama serta memberikan hasil yang
seragam, namun adabeberapa zat warna sintetis yang dilarang penggunaannya
untuk makanan dankosmetik yang salah satunya adalah Rhodamin B (Departemen
Kesehatan RI, 1998).

Rhodamin B yaitu zat pewarna berupa serbuk kristal berwarna hijau atau ungu
kemerahan, tidak berbau, serta mudah larut dalam larutan warna merah terang
berfluoresan digunakan sebagai bahan pewarna tekstil, cat, kertas atau pakaian
(Khan, Sarmadan Ali, 2011). Rhodamin B dapat mengiritasi saluran pernapasan
dan juga bersifat karsinogenik atau memacu pertumbuhan sel kanker jika
digunakan terus menerus (Alhamedi, Assraf & Rauf, 2009).

Sifat karsinogenik tersebut disebabkan oleh unsur N+ (nitronium) dan Cl- (klorin)
yang terkandung pada Rhodamin B yang bersifat sangat reaktif dan berbahaya.
Penumpukan Rhodamin B dalam hati akan menyebabkan gangguan fungsi hati
berupa kanker hatidan tumor hati. (Chen, Zhiyong, Yanlai et al, 2012).

Untuk menganalisis kualitatif keberadaan Rhodamin B dalam lipstick dapat


digunakan metode kromatografi lapis tipis. Kromatografi merupakan salah satu
teknik analisis yang terpenting untuk pemisahan campuran senyawa-senyawa
kimia. Pada dasarnya teknik kromatografi terdiri dua fase yaitu fase diam (berupa
cairan atau padat) dan fase gerak (berupa cairan dan gas). Pemisahan komponen
campuran dapat terjadi karena adanya perbedaan kecepatan migrasi. Sedangkan
perbedaan kecepatan migrasi ini timbul karena adanya perbedaan perbandingan
distribusi dari kompenan campuran antara dua fase tersebut (Khopkar, S. M,
1990).

Pada Kromatografi lapis tipis fase bergerak berupa cairan dan fase diamnya
adalah lapis tipis pada permukaan lempeng rata. Kelebihan penggunaan
kromatografi lapis tipis adalah dapat dihasilkan pemisahan yang lebih sempurna,
kepekaan yang lebih tinggi dan dapat dilaksanakan dengan lebih cepat Data yang
diperoleh dari KLT adalah nilai Rf yang berguna untuk identifikasi senyawa. Nilai
Rf untuk senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa
standar. Nilai Rf dapat didefinisikan sebagai jarak yang ditempuh oleh senyawa
dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asal. Oleh
karena itu bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1,0

V. Alat dan Bahan

a. Alat

a) Beaker glass 200 mL


b) Corong kaca
c) Spatula
d) Batang pengaduk
e) Pipet volume 10 ml
f) Pipet tetes
g) Waterbath
h) Kertas saring
i) Bulb

b. Bahan

a) Sampel
b) HCl 4 M
c) Methanol
d) Na2SO4
e) N-Propanol:Amonia/ 90:10
f) Wantex

VI. Prosedur Kerja

A. Baku Standar Rhodamin B

1. Ditimbang sebanyak 5 mg standar pewarna textile(Rhodamin B)

2. Ditambahkan sebanyak 10 ml metanol.

3. Dilarutkan hingga larut sempurna.

B. Preparasi Contoh uji.

1. Ditimbang sebanyak 500 mg

2. Ditambahkan 4 tetes HCl 4 M

3. Ditambahkan 15 ml Metanol

4. Aduk hingga larut.

5. Pekatkan dengan melalui penangasan.

6. Hasil pemekatan ditambahkan lagi 10 ml metanol.

7. Sampel uji disaring dengan kertas saring yang telah ditambahkan Na2SO4.

8. Filtrat diambil sebagai contoh uji.


C. Uji Kromatografi Lapis Tipis.

1. Plat KLT digaris 1 cm dari dasar.

2. Contoh uji ditotolkan pada plat KLT.

3. Sampel hasil penotolan di elusi dengan eluen(N-Propanol:Amonia/ 90:10).

4. Hentikan elusi jika eluen telah mencapai batas plat KLT.

5. Ukur rambatan eluen dan contoh uji.

VII. Data Pengamatan

FOTO KETERANGAN
Menimbang sampel 500 mg

Menambahkan 4 tetes HCl 4M

Menambahkan 15 mL Metahol

Dipekatkan dengan waterbath


Persiapan untuk penotolan

Penotolan

Persiapan eluen

Menunggu hasil

HASIL
VIII. Perhitungan

𝐽𝐴𝑅𝐴𝐾 𝑌𝐴𝑁𝐺 𝑆𝐸𝑁𝑌𝐴𝑊𝐴


𝑅𝐹 = 𝐽𝐴𝑅𝐴𝐾 𝐸𝐿𝑈𝐸𝑁

8
𝑅𝐹 = = 0,8 ( SAMPEL )
10

2,3
𝑅𝐹 = = 0,23 ( MERAH BATA )
10

2,8
𝑅𝐹 = = 0,28 ( MERAH LOMBOK )
10

3,6
𝑅𝐹 = = 0,36 ( MERAH JAMBU )
10

7,8
𝑅𝐹 = = 0,78 ( SPIKE )
10

IX. Pembahasan

Analisis kualitatif ini berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan


rhodamin b dalam sampel lipstick, yaitu menggunakan Kromatografi Lapis Tipis
yang merupakan salah satu teknik pemisahan senyawa dengan prinsip adsorpsi
dan koefisien partisi. KLT dilakukan karena pengujian menggunakan metode ini
mudah dilakukan dan murah. Prinsip kromatografi lapis tipis yaitu perbedaan
kepolaran ‘like dissolve like’ dimana pelarut yang bersifat polar akan berikatan
dengan senyawa yang bersifat polar juga dan sebaliknya. Semakin dekat
kepolaran antara senyawa dengan eluent maka senyawa akan semakin terbawa
oleh fase gerak tersebut.
Tahap pertama yang dilakukan adalah preparasi larutan sampel. Preparasi
sampel dilakukan untuk memperoleh larutan sampel sehingga bisa dianalisis
karena dalam KLT, sampel yang diuji harus berbentuk larutan. Sampel lipstik
ditimbang sebanyak 500 mg secara seksama dan diletakkan di cawan penguap
supaya preparasi mudah dilakuakan. Setelah itu sampel tersebut ditambahkan HCl
4 M. Larutan HCl 4 M ini digunakan untuk mendestruksi senyawa-senyawa yang
ada di dalam sampel lipstik dan menstabilkan rhodamine agar tidak berubah dari
bentuk terionisasi menjadi bentuk netral. Selanjutnya, ditambahkan 5 ml
methanol. Fungsi methanol ini yaitu sebagai pelarut karena rhodamin b bersifat
sangat mudah larut dalam alkohol.
Setelah ditambahkan pelarut, sampel dipindahkan ke beaker glass kecil
dan ditutup dengan kaca arloji yang berfungsi untuk meminimalisir penguapan
karena methanol bersifat mudah menguap, terlebih lagi jika dipanaskan. Beaker
glass tersebut kemudian dipanaskan di atas penangas air. Tujuannya yaitu untuk
mempercepat proses pelarutan lipstick yang berwujud padat hingga diperoleh
larutan berwarna merah. Setelah diperoleh larutan berwarna merah, maka larutan
kemudian difiltrasi dengan cara disaring dengan menggunakan kertas saring dan
bantuan corong penyaring. Namun sebelumnya, larutan sampel ditambahkan
dengan Natrium sulfat anhidrat. Fungsinya yaitu untuk menyerap air. Penyaringan
ini dilakukan untuk memisahkan senyawa Rhodamin b yang akan dianalisis dari
senyawa-senyawa pengotor yang dapat mengganggu absorbansi, misalnya basis
lipstik. Filtrat yang diperolah ditampung dalam beaker glass bersih. Filtrat hasil
penyaringan berupa larutan bening berwarna merah yang diduga berasal dari
pewarna merah Rhodamin b. Setelah dibuat larutan sampel, maka dibuat larutan
rhodamin-B BPFI dengan pelarut yang sama yaitu methanol. Larutan baku ini
digunakan sebagai pembanding nilai Rf dalam KLT.
Selanjutnya dilakukan penyiapan fasa diam dan fasa gerak dari sistem
kromatografi lais tipis ini Penggunaan eluent ini disesuaikan dengan sifar
polar Rhodamin b karena memiliki gugus karboksil dengan pasangan elektron
bebas dan gugus amina pada struktur molekulnya. Gugus karboksil dan amina ini
akan membentuk ikatan hidrogen intermolekular dengan pelarut polar sehingga
mudah larut dalam pelarut polar seperti alkohol Oleh karena itu,
digunakan campuran eluen polar agar dapat mengeluasi Rhodamin b dengan baik.
Eluen yang digunakan ialah N-Propanol:Amonia/ 90:10. Selanjutnya tunggu
hingga eluen sampai tanda batas. Lalu dihitung nilai Rfnya, dalam praktik ini
didapatkan nilai Rf pada sampel = 0,8 , Rf pada baku standar warna merah bata =
0,23, Rf pada baku merah Lombok = 0,28, Rf pasa baku merah jambu = 0,36, dan
Rf pada spike= 0,78.

X. Kesimpulan

Berdasarkan praktik yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa lipstick 'Just
Miss' TIDAK MENGANDUNG rhodamin B.