Anda di halaman 1dari 1

Menyambangi Pulau Bali sekali-sekali sempatkan diri untuk mendatangi sentra

pembuatan barong yang cukup banyak ditemui di Bali. Salah satunya berlokasi di Desa Batuan,
Sukawati, Gianyar. Sentra ini berusia lebih dari 40 tahun. Banyak peneliti dan turis datang untuk
mengetahui proses pembuatan barong.
Pulau dewata Bali sudah tersohor akan kekayaan budaya yang sarat akan produk
keseniannya. Salah satunya adalah barong yang sangat akrab dengan kehidupan masyarakat
Bali. Barong adalah karakter dalam kepercayaan masyarakat Bali untuk melawan roh-roh jahat
seperti Rangda. Meski bentuknya kerap menyeramkan, namun barong melambangkan
kebaikan.
Nah, di Kabupaten Gianyar, tepatnya di Banjar Puaya, Desa Batuan, Kecamatan Sukawati
menjadi salah satu sentra produksi barong yang banyak digunakan dalam upacara keagamaan
maupun pertunjukan kesenian di Bali. Hanya butuh waktu 10 menit sampai ke desa ini dari
Pasar Seni Sukawati.
Dari sekitar 250 kepala keluarga di desa ini, sebagian besar diantaranya adalah pekerja
seni membuat barong. Sisanya, membuat kostum tari dan membuat lukisan. Ketika KONTAN
mengunjungi sentra ini beberapa waktu lalu, terlihat di kiri dan kanan jalan berbagai bentuk
barong dipajang di etalase yang terdapat di depan rumah.
Wayan Reka, salah satu perajin barong di sentra ini mengatakan, Desa Batuan ini sudah
menjadi pusat pembuatan barong dan kostum tari-tari Bali lebih dari 40 tahun silam. Ia sendiri
sudah membuat barong sejak 1970. "Desa Batuan juga kerap dijadikan tempat bagi para
peneliti dan wisatawan mancanegara yang ingin tahu proses pembuatan barong," kata dia.
Wayan memiliki toko di depan rumahnya. Terlihat sejumlah barong setengah jadi
tergantung di depan rumah. Rambut barong bertebaran siap untuk ditempel. Wayan dibantu
oleh lima orang karyawan untuk memproduksi aneka bentuk barong seperti bentuk singa,
rangda, celunguk, dan juga kostum tari.
Konsumennya tidak saja berasal dari Bali, tapi juga dari Australia, Belanda, dan Jepang.
Untuk membuat satu unit barong setidaknya butuh waktu sekitar enam bulan untuk ukuran
normal hingga sembilan bulan untuk yang berukuran besar.
Satu barong buatan Wayan dibanderol Rp 75 juta-Rp 90 juta. Pesanan satu hingga dua
buah barong biasanya rutin datang sebulan atau dua bulan sekali. Sementara untuk kostum tari
bisa terjual empat hingga lima unit per bulan. Wayan mengaku bisa meraup omzet sekitar Rp
100 juta saban bulan.
Perajin lainnya adalah Ketut Arya Sutana. Dia telah menjadi perajin barong selama 20
tahun. Ketut tidak hanya pandai membuat barong, tapi dia juga bisa membuat topeng, kostum
tari, dan lainnya. Tapi tetap produk utamanya adalah barong.
Bentuk barong yang dia buat berwajah singa, babi, dan ular, dan masih banyak lagi.
Barong buatan Ketut termasuk komplet, sebab umumnya perajin barong di desa ini hanya
membuat barong bentuk muka singa saja. Dalam sebulan, Ketut bisa menghasilkan omzet
sekitar Rp 125 juta.