Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Keganasan pada kulit merupakan masalah yang dewasa ini
cenderung mengalami peningkatan jumlahnya terutama di kawasan
Amerika, Australia dan Inggris (Al-Farozy, 2008). Keganasan pada kulit
dapat berupa tumor pra maligna atau prakanker dan tumor ganas atau
kanker. Prakanker berarti mempunyai kecenderungan berkembang menjadi
kanker (Rata, 1985). Prakanker sering menjadi kanker karena penanganan
yang terlambat. Sebenarnya keganasan pada kulit dapat dideteksi secara
dini melalui pemeriksaan biopsi sehingga diagnosa dapat dengan cepat
ditegakkan. Tetapi kenyataannya masih banyak pasien datang berobat
untuk kanker kulit berada dalam stadium lanjut, disertai kerusakan-
kerusakan setempat yang sulit diobati atau dengan anak sebar (Al-Farozy,
2008).
Berdasarkan beberapa penelitian, orang-orang kulit putih lebih
banyak menderita keganasan pada kulit. Hal tersebut diprediksi sebagai
akibat sering terpajan cahaya matahari, sedangkan kulit mereka lebih tipis
dan memiliki pigmen yang lebih sedikit pula. Di Indonesia penderita
kanker kulit terbilang sangat sedikit dibandingkan Amerika, Australia dan
Inggris. Jenis tumor ganas kulit yang banyak ditemukan diseluruh dunia
ialah karsinoma sel basal (basalioma), karsinoma sel skuamosa, yang
tergolong non melanoma dan melanoma maligna. Karsinoma sel basal
adalah paling umum. Di Amerika, sekitar 800.000 orang mengidap kanker
ini setiap tahun. 75% kanker kulit adalah kanser sel basal. Karsinoma sel
skuamosa terjadi pada 200.000 orang Amerika setiap tahun. Melanoma
adalah yang paling jarang dijumpai tetapi menyebabkan paling banyak
kematian. Menurut WHO, sebanyak 160.000 orang menghidapi melanoma
setiap tahun dan sebanyak 48.000 kematian dilaporkan setiap tahun (Al-
Farozy, 2008).

Integumen | 1
Keganasan kulit dapat tumbuh di atas kulit normal (de novo), akan
tetapi umumnya tumbuh di atas kulit dengan predisposing faktor tertentu.
Secara murni belum dapat dipastikan bahwa hanya faktor luar (seperti
bahan karsinogenik, ultraviolet, trauma, radiasi) sebagai penyebab
keganasan kulit, tetapi juga harus diperhatikan faktor-faktor lain seperti:
ras, genetik, jenis kelamin dan imunologik. Secara statistik dapat
dibuktikan beberapa kelainan kulit tertentu setelah beberapa saat
(umumnya setelah 10-20 tahun sejak tanda-tanda permulaan) dapat
berubah menjadi ganas. Konsep ini merupakan keadaan yang disebut
precanceroces. Dalam kepustakaan dikenal istilah "Carcinoma in situ"
yang berarti kelainan tersebut telah memenuhi syarat sesuai dengan
definisi kanker (secara histologik) (Rata, 1985). Sehingga suatu tumor pra
maligna jika tidak ditangani secara dini dapat berkembang menjadi tumor
maligna.
Untuk mengatasi penyakit yang berhubungan dengan keganasan
pada kulit, perlu dilakukan pemeriksaan secara dini, sehingga tumor dapat
segera ditangani dan tidak berlanjut ke arah yang lebih parah dan perlu
penatalaksanaan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Selain itu
diperlukan penatalaksanaan yang tepat untuk meningkatkan kualitas hidup
klien. Asuhan keperawatan diperlukan untuk menyelesaikan segala
masalah yang dapat timbul akibat keganasan pada kulit dan masalah yang
diperkirakan akan timbul akibat penyakit tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Tumor Kulit ?
2. Apa Saja Etiologi Dari Tumor Kulit?
3. Apa Saja Manifestasi Klinis Dari Tumor Kulit?
4. Apa Saja Pemeriksaan Diagnostik Tumor Kulit?
5. Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Tumor Kulit?

C. Tujuan
1. Untuk Mengetahui Apa Pengertian Tumor Kulit

Integumen | 2
2. Untuk Mengetahui Apa Saja Etiologi Dari Tumor Kulit
3. Untuk Mengetahui Apa Saja Manifestasi Klinis Dari Tumor Kulit
4. Untuk Mengetahui Apa Saja Pemeriksaan Diagnostik Tumor Kulit
5. Untuk Mengetahui Bagaimana Asuhan Keperawatan Pada Tumor
Kulit

Integumen | 3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tumor Kulit


Tumor kulit merupakan salah satu dari beberapa tumor pada
manusia yang dapat diikuti secara dini karena dapat dilihat dan diraba
sejak permulaan. Tumor kulit dibagi menjadi tiga, yaitu tumor jinak,
tumor pre-maligna atau prakanker, dan tumor maligna atau ganas
(Djuanda, 2007).
1) Tumor Pre-maligna
Tumor pre-maligna atau tumor prakanker merupakan suatu
kelainan pada kulit yang mempunyai potensi untuk berkembang lebih
lanjut menjadi suatu keganasan. Pada pemeriksaan tidak tampak tanda-
tanda keganasan, namun apabila diikuti lebih lanjut ternyata dapat
berkembang menjadi kanker kulit (Harahap, 2000).
Ditinjau dari histopatologisnya, terdapat suatu keadaan yang
disebut karsinoma in situ atau karsinoma intraepidermal, yang
merupakansuatu kelainan dimana sel-selnya secara mikroskopis ganas,
tetapi belum mengadakan invasi ke jaringa sekitar, sehingga disebut
karsinoma prainvasif (Harahap, 2000).
Berikut akan dibahas beberapa penyakit yang digolongkan dalam
tumor pre-maligna kulit, seperti : keratosis aktinik, leukoplakia, dan
penyakit Bowen.

Integumen | 4
a. Keratosis Aktinik

Gambar.1Keratosis Aktinik
Definisi
Keratosis aktinik atau keratosis senilis atau keratosis solaris
adalah tumor kulit pre-maligna yang paling sering terjadi.
Merupakan suatu proses keratosis lokal dari keratin yang tertahan
dengan dasar inflamasi akibat paparan sinar matahari (Harahap,
2000). Sebagian keratosis aktinik akan berkembang menjadi
karsinoma sel skuamosa dan cenderung berkembang sangat lambat,
tidak terlalu invasif kecuali jika terletak di bibir (Goldstein, 2001).
Epidemiologi
Sering dijumpai pada individu berkulit terang berusia di
atas 50 tahun, pada pria lebih sering daripada wanita.
Etiologi
Keratosis aktinik disebabkan oleh efek kumulatif sinar
matahari, sinar X, dan radium.
Manifestasi Klinik
Lesi awalnya berupa macula atau plak kecoklatan
berbentuk bulat atau ireguler, dapat soliter atau multipel, berbatas
tegas, telangiektasis dengan permukaan kasar, kering, dan skuama
yang melekat. Ukuran lesi bervariasi, biasanya 3 mm-1 cm, tetapi
dapat juga mencapai diameter 1-2 cm. Lama kelamaan lesi dapat
berkembang menjadi papula keratotik atau verukosa, berwarna

Integumen | 5
kuning sampai coklat atau kehitam-hitaman dengan skuama dan
penimbunan keratin di permukaannya. Kadang lesi berkembang
menjadi kornu kutaneum. Predileksinya terdapat pada wajah, leher,
punggung tangan, dan lengan. Namun dapat pula mengenai tungkai
bawah. Setelah beberapa tahun dapat mengalami perubahan kearah
kegansan dan ditandai adanya proses inflamasi dan indurasi sekitar
lesi.
Penatalaksanaan
Bentuk pengobatan yang dipilih sangat bervariasi,
tergantung ukuran, durasi, lokasi dan aggresivitas lesi.
1. Metode pembedahan
a. Bedah beku dengan memakai nitrogen cair
b. Elektrodesikasi dengan kuretase : dipakai pada lesi dengan
batas tidak jelas
c. Dermabrasi digunakan bila kerusakan kulit luas dan lesi
multiple
d. Cara ini tidak dianjurkan pada lesi di leher, lengan, tangan,
dan dada
e. Eksisi
2. Kemoterapi topikal
a. Krim 5-fluorourasil 1% dan 5%, dipakai 2 kali sehari selama
3-4 mingg, efektif pada keratosis aktinik yang mengenai
daerah yang luas, seperti pada wajah, lengan, dorsum tangan
dan kaki
b. Krim 5-fluorourasil dan tretinoin 0,05% topical
c. Kombinasi tretinoin, 5 fluorourasil dan asam trikloroasetat
d. Asam alfa hidroksi

Integumen | 6
b. Leukoplakia

Gambar.2 Leukoplakia
Definisi
Leukokeratosis pre-maligna atau Smoker’s Patch, Leukoma
adalah suatu kelainan berupa bercak atau plak berwarna putih pada
mukosa mulut yang menetap dan tidak dapat dihilangkan dengan
cara menggosok, serta tidak dapat digolongkan baik secara klinis
atau histopatologis sebagai kesatuan penyakit spesifik lain.
Epidemiologi
Paling sering pada usia 50-70 tahun, pria lebih sedikit sering
daripada wanita.
Etiologi
Faktor presdisposisi antara lain : merokok berlebihan,
gesekan karena gigi palsu tidak pas, gigi yang letaknya tidak baik,
dan pipi yang tergigit.
Manifetasi Klinis
Lesi asimptomatik dengan bercak atau plak berwarna putih
pada mukosa. Ukuran lesi bervariasi, dari yang kecil dengan batas
tegas sampai difus dengan batas tidak tegas. Permukaan lesi mula-
mula halus, lalu dapat menebal dan menjadi keratotik. Dapat terjadi
fisura yang menjadi yang menimbulkan rasa gatal dan panas. Pada
stadium lanjut, dapat terjadi vegetasi atau ulserasi. Hal ini
merupakan tanda perubahan ke arah keganasan. Predileksinya pada
bibir, lidah, gingiva, palatum, dan mukosa bukal. Dapat pula

Integumen | 7
dijumpai pada mukosa genital pria dan wanita, timbul akibat
maserasi kronis, gesekan, atau atrofi senilis. Lokasi lesi
dipengaruhi oleh bentuk iritan. Perokok yang memakai pipa dapat
terkena pada daerah palatum atau lidah, sedangkan perokok sigaret
lebih sering pada bukal (Harahap, 2000).
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan utama adalah menghilangkan faktor
penyebab dari luar. Pada lesi kecil dan tidak infiltrate dapat diatasi
dengan menghilangkan faktor iritan. Sedangkan pada lesi lebih
besar dan lebih tebal harus dilakukan biopsi pada daerah paling
hiperplastik atau atipia. Bila lesi dipastikan jinak, dapat dilakukan
eksisi, elektrodesikasi, atau laser karbon dioksida. Selain itu, dapat
diberikan vitamin A 300.000 IU/hari sampai beberapa bulan
dengan pemantauan fungsi hati, atau diberikan etretinate 0,6-1
mg/kg BB/hari.
c. Penyakit Bowen

Gambar.3 Penyakit Bowen

Definisi
Penyakit Bowen merupakan suatu karsinoma sel skuamosa
intraepidermal. Kelainan ini merupakan karsinoma in situ yang
melibatkan seluruh lapisan epidermis.
Epidemiologi
Penyakit Bowen dapat dijumpai pada pria dan wanita.
Frekuensi pada wanita 20%. Lebih sering pada orang tua dan 60%
berusia antara 30-60 tahun.

Integumen | 8
Etiologi
Arsen dan virus tipe C. Faktor predisposisi antara lain, sinar
matahari, trauma, dan faktor herediter.
Manifestasi Klinis
Lesi berupa plak kemerahan berbentuk bulat atau oval,
dengan ukuran sekitar 2-5 mm sampai 5-10 cm, berbatas tegas,
dengan krusta atau skuama di atasnya. Bila skuama atau krusta
diangkat, tampak permukaan yang granuler tanpa perdarahan. Lesi
umumnya soliter, namun dapat juga multipel, dapat terjadi pada
daerah yang terpapar ataupun tidak terpapar sinar matahari. Lesi
pada mukosa berupa gambaran seperti beludru warna merah.
Predileksinya pada jari, badan, dan tungkai, dapat pula mengenai
daerah anogenital, konjungtiva, dan lempeng kuku. Perubahan
kearah keganasan ditandai dengan infiltrasi noduler dan ulserasi.
Penatalaksanaan
Cara paling efektif mengatasi penyakit Bowen adalah
dengan eksisi. Sedangkan teknik destruktif lokal secara
elektrodesikasi yang diikuti kuretase juga memberikan hasil efektif
namun sering diikuti dengan rekurensi lokal. Selain itu dapat juga
menggunakan bahan topical seperti 5-fluorourasil, namun hasilnya
kurang konsisten.

2) Tumor Maligna
Tumor maligna atau tumor ganas adalah suatu tumor yang
memiliki pola struktur yang tidak teratur dan tidak normal. Tumor
ganas biasanya tumbuh dengan cepat, ekspansif, infiltratif dengan
invasi dan destruksi jaringan di sekitarnya. Metastase yang terjadi
dapat melalui pembuluh darah atau pembuluh limfe (Harahap, 2000).
Jenis tumor ganas kulit yang sering ditemukan adalah karsinoma sel
basal, karsinoma sel skuamosa, dan melanoma maligna (Djuanda,
2007).

Integumen | 9
a. Karsinoma Sel Basal (Basal Cell Carcinoma)

Gambar.4 Karsinoma Sel Basal

Definisi
Karsinoma sel basal atau dikenal dengan nama lain Basal
Epihtellioma, basalioma, ulkus rodens, ulkus Jacob, tumor
Komprecher, Basal Cell Carcinoma (B.C.C) (Djuanda, 2007)
merupakan sutau tumor ganas kulit yang berasal dari pertumbuhan
neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit. Pertumbuhan
tumor ini lambat, dengan beberapa macam pola pertumbuhan,
sehingga memberikan gambaran klinis bervariasi, bersifat invasive,
serta jarang mengadakan metastase (Harahap, 2000).
Epidemiologi
Menurut Harahap (2000) karsinoma sel basal lebih sering
mengenai orang kulit putih dan relatif jarang pada orang berkulit
gelap. Insiden meningkat pada orang yang bekerja di luar rumah.
Frekuensi pada pria lebih banyak daripada wanita, terutama pada
usia lebih dari 40 tahun. KSB juga dapat terjadi pada dewasa muda
dan anak-anak, dimana bisa menyertai sindroma sel basal nevoid,
nervus sebaseus, xeroderma pigmentosum, nervus sel basal linier
unilateral, dan sindroma Bazex, dan kadang-kadang dapat timbul
pada kulit yang sebelumnya tidak menunjukkan kelainan (de
novo).

Integumen | 10
Etiologi
Menurut Djuanda (2007) tumor KSB diduga berasal dari sel
epidermal pluripotensial atau dari epidermis. Faktor
predisposisinya adalah faktor lingkungan dan genetik. Faktor
lingkungan antara lain : radiasi, bahan kimia (misalnya Arsen),
pekerjaan tertentu yang banyak terkena sinar matahari (misalnya
nelayan, petani), adanya trauma (luka bakar), ulkus sikatriks.
Faktor genetik misalnya xeroderma pigmentosum dan albinisme.
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari KSB dibagi menjadi 4 (Djuanda,
2007) :
1. Bentuk nodulus (termasuk ulkus rodens), bentuk ini paling
sering ditemukan. Pada tahap awal sangat sulit ditentukan
karena berwarna seperti kulit normal atau menyerupai kutil.
Gambaran yang khas yaitu : tidak berambut, berwarna coklat
atau hitam, tidak berkilat (keruh). Teraba keras dan berbatas
tegas. Bila diameter lebih dari 0,5 cm bagian tepi berbentuk
popular, anular dan bagian tengah berbentuk cekung yang dapat
berkembang menjadi ulkus dan kadang ditemukan
telangiektasis.
2. Bentuk klasik, bentuk ini jarang ditemukan, permukaannya
licin, menonjol di permukaan kulit berupa nodus atau nodulus,
teraba keras dan mudah digerakkan dari permukaannya,
telangiektasis dapat ditemukan pada tepi tumor.
3. Bentuk superfisial, bentuk ini menyerupai penyakit Bowen,
SLE, psorias, atau dermatomikosis. Ditemukan di badan dan
umumnya multipel. Biasanya terjadi karena Arsen atau sindrom
nevoid basal sel karsinoma. Ukurannya dapat berupa eritema,
skuamasi halus dengan tepi agak keras. Warnanya hitam
berbintik-bintik atau homogen yang kadang menyerupai
melanoma maligna.

Integumen | 11
4. Bentuk morfea, ditemukan tanda berupa kelainan datar,
berbatas tegas, pertumbuhan lambat, warna kekuningan, tepi
keras.
KSB umumnya tumbuh lambat, namun kadang dapat
berkembang cepat. Jaringan yang paling banyak rusak adalah
bagian permukaan. Ulserasi dapat menjalar ke samping maupu
kea rah dasar meliputi otot, tulang dan jaringan lain. Ulserasi
daerah mata dapat merusak bola mata sampai orbita.
Penatalaksanaan
Menurut Harahap (2000) terdapat banyak alternatif untuk
pengobatan KSB, antara lain :
1. Kuretase dan Elektrodesikal
Keuntungan : teknik sederhana, meninggalkan luka yang teratur
Kerugian : tidak efektif untuk tumor primer yang luas atau
residif, tidak didapat konfirmasi batas tepi pembuangan jaringan
adekuat
2. Bedah Eksisi
Keuntungan : penyembuhan cepat dengan luka teratur dan
kering, dari segi kosmetik baik sehingga memungkinkan
pengambilan jaringan tumor secara menyeluruh dan dapat
ditentukan batas eksisi dengan pemeriksaan histopatologis
Kerugian : perlu waktu lama, biaya mahal, perlu pengalaman
luas, pengambilan jaringan normal dapat berlebihan
3. Radioterapi
Keuntungan : bermanfaat pada daerah anatomis yang sulit
diterapi dengan metode pembedahan, bermanfaat bagi penderita
dengan lesi luas yang tidak memungkinkan untuk dilakukan
anestesi umum, pada umumnya KSB sangat radiosensitif
Kerugian : perlu peralatan yang mahal, perlu control berkali-
kali, memberikan efek samping yang signifikan

Integumen | 12
4. Bedah Beku
Keuntungan : teknik cepat; peralatan yang diperlukan
sederhana; tidak mempengaruhi syaraf, pembuluh darah, tulang
rawan, dan sistem saluran air mata; bermanfaat pada daerah
tumor yang sulit diterapkan denga metode pengobatan lain,
seperti kelopak mata; dapat dikombinasikan dengan metode
lain, seperti kuretase; dapat digunakan untuk pengobatan tumor
yang luas bagi penderita rawat jalan
Kerugian : nyeri dan edema; timbul bula dan lesi yang basah;
hipopigmentasi; batas tepi tumor perlu ditentukan terlebih
dahulu; resisten untuk jenis morfea atau jenis adenoid
5. Bedah Mikografik Mohs
Keuntungan : evaluasi histopatologis pada tepi irisan mendekati
100% dibandingkan dengan teknik seksi vertical tradisional;
dengan analisa tepi irisan yang lengkap dapat diketahui dan
ditelusuri semua fokus tumor yang masih tertinggal; reseksi
hanya pada daerah tumor sehingga dapat menghemat jaringan
atau meminimalkan jaringan yang hilang
Kerugian : perlu dokter dan petugas histipatologis yang terlatih;
biaya mahal

b. Karsinoma Sel Skuamosa (Squamous Cell Carcinoma)

Gambar.5 Karsinoma sel skuamosa

Definisi
Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) atau dikenal dengan nama lain
yaitu karsinoma sel prickle, karsinoma epidermoid, pavement
Integumen | 13
epithelioma, karsinoma Bowen, cornified epithelioma (Djuanda,
2007) merupakan tumor keratinosit yang dapat mengenai kulit dan
membran mukosa dengan tingkat keganasan yang bervariasi
(Harahap, 2000).
Dikenal 2 bentuk yaitu bentuk intraepidermal (non-invasif)
(merupakan karsinoma yang tidak lengkap) dan bentuk invasif
(berupa tumor ganas lengkap). Karakteristik keganasan yaitu :
pertumbuhan cepat, invasi ke jaringan setempat, dan kemampuan
mengadakan metastase. Perkembangan sel skuamosa lebih cepat
dan lebih sering mengadakan metastase dibandingkan KSB
(Harahap, 2000).
Epidemiologi
KSS merupakan tumor kulit ganas kedua yang paling sering
dijumpai pada orang kulit putih. Insiden tertinggi pada usia 50-70
tahun. Frekuensi pada pria lebih banyak daripada wanita dengan
perbandingan 2:1 (Harahap, 2000).
Etiologi
Menurut Harahap (2000) penyebab pasti belum diketahui. Faktor
antara lain (Djuanda, 2007) :
1. Sinar matahari, masih merupakan faktor yang paling menonjol
sebagai penyebab KSS
2. Ras/herediter, orang kulit putih lebih sering daripada kulit
berwarna
3. Faktor genetik, paling menonjol pada xeroderma pigmentosum,
ditemukan defek pembentukan DNA karena pengaruh sinar
ultraviolet
4. Arsen inorgenik yang terdapat dalam alam (sumur), maupun
yang dipakai obat. Kegansana umumnya terjadi pada badan
5. Faktor hidrokarbon (tar, minyak mineral, paraffin likuidum)
6. Sikatriks, keloid, ulkus kronik, fistula (osteomielitis)

Integumen | 14
Manifestasi Klinis
Menurut Harahap (2000) gambaran klinis KSS bervariasi, dapat
berupa :
1. Nodul berwarna seperti kulit orang normal, permukaan halus
tanpa krusta atau ulkus dengan tepi kurang jelas
2. Nodul kemerahan dengan permukaan yang papilomatosa atau
verukosa, menyerupai bunga kol
3. Ulkus dengan krusta pada permukaan, tepi meninggi, warna
kuning kemerahan. Dalam perjalanan penyakit, lesi meluas dan
mengadakan metastase ke kelenjar limfe regional atau ke organ
dalam
4. KSS yang timbul pada kulit normal lebih sering mengadakan
invasi cepat dan terjadi metastase dibandingkan lesi yang
timbul dari keratosis aktinik
Penatalaksanaan
Keberhasilan pengobatan KSS tergantung pada penemuan dini,
eliminasi lesi pra maligna, dan proteksi terhadap paparan
karsinogenik lebih lanjut. Pada prinsipnya pengobatan sama dengan
karsinoma sel basal. Namun KSS lebih radioresisten daripada KSB.
Pengangkatan kelenjar limfe regional dilakukan bila sudah terjadi
metastase ke kelenjar limfe regional. Tindakan profilaksis
pengangkatan kelenjar limfe regional tidak dianjurkan jika belum
terjadi metastase ke kelenjar limfe regional.
c. Melanoma Maligna
Definisi
Melanoma maligna adalah tumor ganas kulit yang berasal dari sel
melanosit dengan gambaran berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit
(Putra, 2008).
Epidemiologi
Penyakit ini tersebar di seluruh dunia. Korelasi insiden melanoma
dengan garis lintang, yaitu insiden lebih tinggi pada daerah dekat
dengan ekuator dan lebih rendah secara progresif pada daerah yang

Integumen | 15
lebih dekat kutub. Di Amerika Serikat melanoma maligna
merupakan tumor nomor 6 atau 7 terbanyak. Melanoma maligna
dapat terjadi pada semua usia dan paling banyak pada usis 35-55
tahun, insidensi pada pria sama dengan wanita, namun
morbiditasnya lebih tinggi pada pria (Harahap, 2000).
Klasifikasi
Klasifikasi melanoma maligna menurut Clark dan MIHM
berdasarkan histologik sebagai berikut :
Stadium I : Intraepidermal (melanoma maligna in situ)
Stadium II : Infiltrasi sampai papilla dermis akan tetapi serat-serat
reticulum dermis masih utuh
Stadium III ; infiltrasi sampai jaringan ikat kolagen dermis
Stadium IV : Infiltrasi sampai jaringan ikat kolagen dermis
Stadium V : Infiltrasi sampai ke jaringan lemak subkutan
Etiologi
Menurut Putra (2008), berbagai faktor yang diperkirakan sebagai
faktor penting dalam mekanisme karsinogenesis keganasan adalah
sebagai berikut:
1. Faktor genetik, meningkatkan resiko 200 kali terjangkit pada
keluarga dengan riwayat melanoma maligna
2. Melanocytic nevi, berhubungan dengan kelainan genetik atau
dengan lingkungan tertentu. Jumlah nevi yang ditemukan
berkaitan dengan jumlah paparan sinar matahari pada masa
kanak-kanak dan adanya defek genetik tertentu.
3. Faktor biologik, trauma yang berkepanjangan merupakan resiko
terjadinya keganasan ini, misalnya iritasi akibat ikat pinggang.
Keadaan biologik lain yang mempengaruhi antara lain :
penurunan imunitas (misal pada penderita pengangkatan
ginjal), M Hodgkin, dan perubahan keadaan hormonal
4. Faktor lingkungan, paparan sinar UV merupakan faktor penting
yang dikaitkan dengan peningkatan resiko terjadi melanoma

Integumen | 16
maligna, terutama bila terjadi sun burn berulang pada orang
berpigmen rendah
Manifestasi Klinis
Menurut Clark (1969) dan Mc Govern (1970) terdapat 3 jenis
melanoma maligna dengan 1 jenis tambahan baru (Reed, 1976 dan
Seiji, M.dkk.,1977) berdasarkan gambaran klinik. Keempat jenis
melanoma maligna tersebut adalah :
1. Superficial Spreading Melanoma (SSM), merupakan jenis yang
terbanyak dari melanoma (70%), namun di Indonesia
merupakan jenis tersering kedua. Umumnya timbul dari nervus
atau pada kulit normal, berupa plak archinoformis berukuran
0,5-3 cm dengan tepi meninggi dan ireguler. Pada permukaan
terdapat campuran dari bermacam-macam warna, seperti coklat,
abu-abu, biru, hitam dan sering kemerahan. Meluas secara
radial. Umumnya lesi berukuran 2 cm dalam waktu 1 tahun,
lalu tumbuh secara vertical dan berkembang menjadi nodul biru
kehitaman. Dapat mengalami regresi spontan dengan
meninggalkan bercak hipopigmentasi. Predileksinya pada
wanita dijumpai di tungkai bawah, sedangkan pada pria di
badan dan leher.

Gambar.6 Superficial Spreading Melanoma


2. Nodular Melanoma (NM) merupakan jenis melanoma
terbanyak kedua (15-30%) dan lebih agresif. Di Indonesia
merupakan jenis tersering. Timbul pada kulit normal dan jarang
dari nervus. Berupa nodul berbentuk setengah bola (dome
shaped), atau polipoid dan eksofilik, berwarna coklat

Integumen | 17
kemerahan atau biru sampai kehitaman. Pertumbuhannya
secara vertical (invasif). Dapat mengalami ulserasi, perdarahn,
dan timbul lesi satelit. Metastase limfogen dan hematogen,
dapat timbul sejak awal terutama dijumpai pada pria dengan
predileksi di punggung. Perbandingan prian dan wanita 2 : 1.

Gambar.7 Nodular Melanoma


3. Lentigo Maligna Melanoma (LML), jarang ditemukan (4-10%).
Pertumbuhan vertikal, sangat lambat dengan lokasi terbanyak di
daerah muka yang terpapar sinar matahari. Timbul dari
Hutchinson’s freckle yang terdapat pada muka (pipi, pelipis)
atau pada bagian lain tubuh terutama daerah yang terkena sinar
matahari. Berupa macula coklat sampai kehitaman, berukuran
beberapa sentimeter dengan tepi tidak teratur. Meluas secara
lambat pada bagian tepi lesi (radial). Pada permukaan dapat
dijumpai adanya bercak yang berwarna lebih gelap (hitam) atau
biru kehitaman yang invasif dan agak hiperkeratotik. Terutama
terdapat pada wanita usia lanjut. Perbandingan antara pria dan
wanita 1 : 2-3.

Gambar.8 Lentigo Maligna Melanoma


4. Acral Lentiginous Melanoma (ALM) I Palmar-Plantar-
Subungual Melanoma (PPSM), umumnya timbul pada kulit

Integumen | 18
normal (de novo), berupa nodul dengan warna bervariasi dan
pada permukaannya dapat timbul papula, nodul, dan ulserasi.
Kadang lesi tidak mengandung pigmen (amelanotic melanoma).
Predileksinya pada telapak kaki, tumit, telapak tangan, dasar
kuku, terutama ibu jari kaki dan tangan. Merupakan tipe yang
banyak dijumpai pada orang berkulit hitam dan bangsa lain di
daerah tropis. ALM merupakan jenis yang lebih banyak
ditemukan pada penderita kulit berwarna (35-60%).
Menyerupai gambaran melanoma maligna, SSM, atau
campuran keduanya.

Gambar.9 Acral Lentiginous Melanoma


Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada melanoma maligna
antara lain (Putra, 2008):
1. Eksisi bedah, dilakukan pada melanoma stadium I dan II
2. Elective Lymph Node Dessection (ELND), dilakukan pada
melanoma stadium III, dimana telah terdapat metastase ke
kelenjar limfe. ELND meupakan terapi yang masih
kontroversial. Cara yang lebih dianjurkan adalah dengan
Intraoperative Lymphatic Mapping
3. Interferon a 2b, dapat digunakan sebagai terapi adjuvant pada
melanoma yang berukuran lebih dari 4 mm (stadium V), tetapi
harus dipertimbangkan tingkat toksisitasnya yang masih tinggi.
Tujuan terapi ini diharapkan dapat menghambat metastase yang
lebih jauh

Integumen | 19
4. Kemoterapi, tidak terlalu bermanfaat pada terapi melanoma.
Jenis kemoterapi yang paling efektif adalah dacarbazine (DTIC
: Dimethyl Triazone Imidazole Carboxamide Decarbzine)
5. Kemoterapi Perfusi, bertujuan untuk menciptakan suasana
hipertermis dan oksigenasi pada pembuluh darah sel tumor dan
membatasi distribusi kemoterapi dengan menggunakan
tourniquet. Cara ini diharapkan dapat menggantikan amputasi
sebagai suatu terapi
6. Terapi radiasi, hanya sebagai terapi aimptomatis pada
melanoma dengan metastase ke tulang dan SSP, namun
hasilnya tidak terlalu memuaskan.

Integumen | 20
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Karsinoma sel basal (Basalioma)
Anamnesa:
a) Keluhan berupa lesi pada kulit.
b) Adanya riwayat kontak lama dengan sinar ultraviolet matahari, kontak
dengan agen arsenic.
c) Pemeriksaan fisik:Karsinoma sel basal didapatkan pada lapisan sel basal
dari epidermis atau folikel rambut, mula-mula berbentuk papul (papula)
meninggi, “pearly” atau permukaan mengilat seperti “mutiara”, sering
terdapat telengiectasi disentral yang biasanya mengalami ulseratif.
Kadang berskuama halus dan berkrusta tipis dan tumbuh lambat.
2. Karsinoma sel skuamosa (Skuamosa)
Anamnesa:
a) Pasien mengeluh adanya lesi berupa pembesaran pada kulit.
b) Keluhan pembesaran tersebut biasanya bersifat lambat, tetapi beberapa
lesi membesar dengan cepat.
c) Keluhan lain yang didapatkan pada pasien karsinoma sel skuamosa
dapat berupa adanya perdarahan pada sisi lesi, nyeri local, dan adanya
kelembutan pada sisi lesi terutama dengan tumor yang lebih besar.
d) Keluhan adanya kesemutan atau kelemahan otot dapat mencerminkan
keterlibatan perineural, dan merupakan pengkajian anamnesis riwayat
yang paling penting karena memberikan dampak negative terhadap
prognosis penyakit.
e) Pemeriksaan fisik: Lesinya dapat bersifat primer karena timbul pada
kulit maupun membrane mukosa, atau bisa terjadi sekunder dari suatu
keadaan keratosis aktinika, leukoplakia ( lesi premalignant pada
membrane mukosa ) atau lesi dengan pembentukan ulkus, daerah-
daerah yang terbuka, khususnya eksitremitas atas, muka, bibir bawah,
Integumen | 21
telinga, hidung, dan dahi merupakan lokasi kulit yang sering terkena
kanker ini. Bagian lain yang terserang karsinoma biasanya adalah suatu
kondisi metastatis seperti pada penis.
3. Melanoma Maligna
Pengkajian terhadap pasien melanoma maligna dilakukan
berdasarkan riwayat pasien dan gejalanya. Pasien ditanya khususnya
tentang gejala pruritus, nyeri tekan dan rasa sakit yang bukan merupakan
ciri khas nevus yang benigna.
Kepada pasien juga ditanyakan mengenai perubahan yang
terjadi pada nevus yang sudah ada sebelumnya atau pertumbuhan lesi
baru yang berpigmen. Orang-orang yang beresiko harus diperiksa
dengan cermat.
Kaca pembesar dan pencahayaan yang baik diperlukan dalam
melakukan inspeksi kulit untuk menemukan iregularitas dan perubahan
pada nevus. Tanda-tanda yang menunjukkan perubahan malignan
mencakup berikut ini:
a) Warna yang bervariasi
b) Warna yang dapat menunjukkan keganasan pada lesi yang coklat
atau hitam adalah bayangan warna merah, putih dan biru; warna
biru dianggap lebih mengkhawatirkan.
c) Daerah-daerah dalam lesi yang berpigmen perlu dicurigai.
d) Sebagian melanoma maligna tidak memiliki warna yang bervariasi
tetapi sebaliknya mempunyai warna yang seragam (hitam
kebiruan, kelabu kebiruan, merah kebiruan).
e) Tepi yang ireguler
f) Identasi atau lekukan yang menyudut pada bagian nevus arus
dicatat.
g) Permukaan yang ireguler
h) Tonjolan permukaan yang tidak merata (topografi ireguler) dapat
teraba atau terlihat. Perubahan pada permukaan bisa licin hingga
seperti sisik.
Integumen | 22
i) Sebagian melanoma noduler memiliki permukaan yang licin.
j) Lokasi melanoma yang sering adalah kulit pada bagian punggung,
tungkai (khususnya wanita), antara jari-jari kaki pada kaki, muka
kulit kepala, jari-jari tangan, serta pada bagian dorsal tangan. Pada
orang yang berkulit gelap, melanoma paling sering terdapat
ditempat yang tidak mengandung begitu pigmen. Seperti: telapak
tangan, telapak kaki, daerah sublingual dan membrane mukosa.
k) Diameter nevus harus diukur karena umumnya melanoma
berukuran lebih dari 6 mm lesi satelit (lesi yang terletak di dekat
nevus) harus dicatat.

B. Diagnosa Keperawatan
1) Karsinoma Sel Basal (Basalioma)
a. Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak efek metastasi kanker basal,
sekunder intervensi pasca bedah
b. Kecemasan b.d kondisi penyakit, kerusakan luas pada jaringan kulit
2) Karsinoma Sel Skuamosa (Skuamosa)
a. Nyeri b.d kerusakan jaringan pasca tindakan eksisi bedah bedah
b. Kecemasan b.d prognosis penyakit
c. Pemenuhan informasi b.d intervensi diagnosa, intervensi, kemoterapi,
dan eksisi bedah
3) Melanoma Maligna
a. Nyeri b.d kerusakan tindakan eksisi dan graft kulit
b. Kecemasan dan depresi b.d konsekuensi melanoma yang dapat
membawa kematian atau kecacatan
c. kurang pengetahuan tentang tanda-tanda dini melanoma

d. 3. Intervensi dan Rasionalisasi


e. a. Karsinoma Sel Basal (Basalioma)
Nyeri b.d kerusakan jaringan lunak efek metastasi kanker basal, sekunder intervensi paska bedah

Integumen | 23
Tujuan: nyeri berkurang/hilang atau teratasi
Criteria hasil:
Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi dengan skala nyeri 0-4
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
Pasien tidak gelisah
INTERVENSI RASIONAL
kaji nyeri dengan pendekatan Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh mana renca
PQRST intervensi yang diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari
intervensi menajemen nyeri keperawatan
jelaskan dan bantu pasien
dengan tindakan pereda nyeri Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi
nonfarmakologi dan lainnya telah menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri
noninvasive
Lakukan menajemen nyeri Posisi fiologis akan meningkatkan asupan 02 kejaringan yang
keperawatan: mengalami peradangan subkutan. Pengaturan posisi idealnya adalah
o Atur posisi fisiologi dan pada arah yang berlawanan dengan letak dari selulitis.
imobilisasi ekstrimitas yang Bagian tubuh yang mengalami inflamasi local dilakukan
mengalami selulitis imobilitasiuntuk menurunkan respon peradangan dan meningkatkan
o Istirahatkan pasien kesembuhan.
o Menajemen lingkungan: Istirahat diperlukan selama fase akut. Disini akan meningkatkan
lingkungan tenang dan batasi suplai darah pada jaringan yang mengalami peradangan.
pengunjung Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan
o Ajarkan teknik relaksasi pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2
pernafasan dalam ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
o Ajarkan teknik relaksasi berada diruangan.
pernafasan dalam Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurukan nyeri sekunder
o Ajarkan teknik distraksi pada dari peradangan.
saat nyeri Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus
internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimka

Integumen | 24
ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
Kolaborasi dengan dokter,
Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri kan berkurang
pemberian analgetik
f.
Kecemasan b.d kondisi penyakit, kerusakan luas pada jaringan kulit
Tujuan: kecemasan pasien berkurang
kriteria hasil :
Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab
atau faktor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks
INTERVENSI RASIONAL
Kanji tanda verbal dan nonverbal Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah,
kecemasan, damping pasien dan dan gelisah
lakukan tindakan bila
menunjukan prilaku merusak
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja
sama dan mungkin memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu
mengurangi kecemasan.
Beri lingkungan yang tenang dan
suasana penuh istirat
Bina hubungan saling percaya Mereka harus didorong untuk mengekspresikan perasaan
terhadap seseorang yang mereka percayai. Mendengarkan
keprihatinan mereka dan selalu siap untuk memberikan yang
terampil serta penuh kehangatan yang penting untuk mengurangi
ansietas.
Orientasikan pasien terhadap Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
prosedur rutin dan aktifitas yang
diharapkan.
Beri kesempatan kepada pasien Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang
untuk mengungkapkan tidak diekspresikan.

Integumen | 25
ansietasnya.
Berikan privasi untuk pasien dan Member waktu untuk mengekspresikan perasaan,
orang terdekat menghilangkan cemas dan prilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien melayani
aktifitas dan pengalihan ( misalnya: membaca ) akan
menurunkan perasaan terisolasi.
Pengaturan agar anggota keluarga dan setiap teman dekatnya
untuk lebih banyak mencurahkan waktu bersama pasien dapat
menjadi upaya yang bersifat suportif.
Kolaborasi : Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.
Berikan anti cemas sesuai indikasi
contohnya diazepam.
g.

Integumen | 26
h. b. Karsinoma Sel Skuamosa (Skuamosa)
Nyeri b.d kerusakan jaringan paska tindakan eksisi bedah
Tujuan: dalam waktu 1x24 jam nyeri berkurang/hilang atau teratasi
Criteria hasil:
Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi dengan skala nyeri 0-4
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
Pasien tidak gelisah
INTERVENSI RASIONAL
kaji nyeri dengan pendekatan Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh mana renca
PQRST intervensi yang diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari
intervensi menajemen nyeri keperawatan
jelaskan dan bantu pasien Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi
dengan tindakan pereda nyeri lainnya telah menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri
nonfarmakologi dan
noninvasif
Lakukan menajemen nyeri Posisi fiologis akan meningkatkan asupan 02 kejaringan yang
keperawatan: mengalami peradangan subkutan. Pengaturan posisi idealnya
o Atur posisi fisiologi dan adalah pada arah yang berlawanan dengan letak dari selulitis.
imobilisasi ekstrimitas yang Bagian tubuh yang mengalami inflamasi local dilakukan
mengalami selulitis imobilitasiuntuk menurunkan respon peradangan dan
o Istirahatkan pasien meningkatkan kesembuhan.
o Menajemen lingkungan: Istirahat diperlukan selama fase akut. Disini akan meningkatkan
lingkungan tenang dan batasi suplai darah pada jaringan yang mengalami peradangan.
pengunjung Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan
o Ajarkan teknik relaksasi pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi
pernafasan dalam O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
o Ajarkan teknik relaksasi berada diruangan.
pernafasan dalam Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurukan nyeri
o Ajarkan teknik distraksi pada sekunder dari peradangan.
saat nyeri Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus

Integumen | 27
internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak
dikirimka ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
Kolaborasi dengan dokter,
Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri kan berkurang
pemberian analgetik
i.
Kecemasan b.d prognosis penyakit
Tujuan: kecemasan pasien berkurang
kriteria hasil :
Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau
faktor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks
intervensi rasional
Kanji tanda verbal dan nonverbal Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah, dan
kecemasan, damping pasien dan gelisah
lakukan tindakan bila menunjukan
prilaku merusak
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja
sama dan mungkin memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu
mengurangi kecemasan.
Beri lingkungan yang tenang dan
suasana penuh istirat
Bina hubungan saling percaya Mereka harus didorong untuk mengekspresikan perasaan terhadap
seseorang yang mereka percayai. Mendengarkan keprihatinan
mereka dan selalu siap untuk memberikan yang terampil serta
penuh kehangatan yang penting untuk mengurangi ansietas.
Orientasikan pasien terhadap Orientasi dapat emnurunkan kecemasan.
prosedur rutin dan aktifitas yang
diharapkan.
Beri kesempatan kepada pasien u/ Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak

Integumen | 28
mengungkapkan ansietasnya. diekspresikan.
Berikan privasi untuk pasien dan Member waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan
orang terdekat cemas dan prilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien melayani
aktifitas dan pengalihan ( misalnya: membaca ) akan menurunkan
perasaan terisolasi.
Pengaturan agar anggota keluarga dan setiap teman dekatnya untuk
lebih banyak mencurahkan waktu bersama pasien dapat menjadi
upaya yang bersifat suportif.
Kolaborasi : Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.
Berikan anti cemas sesuai indikasi
contohnya diazepam.
j.
Pemenuhan informasi b.d intervensi diagnosa, intervensi, kemoterapi, dan eksisi bedah
Tujuan : informasi kesehatan terpenuhi
Criteria hasil :
Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan
Pasien termotivasi untuk menjelaskan yang telah diberikan
intervensi rasional
Kaji tingkat pengetahuan pasien Tingkat pengetahuan dipengerahui oleh kondisi sosial pasien.
tentang prosedur diagnostik, Perawat menggunakan pendekatan sesuai dengan kondisi
pembedahan kolostomi sementara, individu pasien dengan mengetahui tingkat pengetahuan
dan rencana perawatan dirumah tersebut perawat dapat lebih terarah dalam memberikan
pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan pasien secara
efesien dan efektif
Cari sumber yang meningkatakan Keluarga terdekat dengan pasien perlu dilibatkan dalam
penerimaan informasi pemenuhan informasi untuk menurunkan resiko
misininterprestasi terhadap informasi yang diberikan .
Jelakan tentang terapi dengan Pasien perlu mengetahui bahwa kemoterapi diberikan sebagai
temoterapi pelengkap terapi bedah dan terapi radiasi.

Integumen | 29
Jelaskan tentang terapi radiasi. Pengetahuan tentang karsinoma skuamosa walaupun tidak
bersifat radiosensitive pada kebanyakan pasien jika
memberikan efek penyusutan tumor akan bertambah
semangat pada pasien untuk terapi .
Jelaskan dan lakukan pemenuhan Pasien dan keluarga harus diberitahu waktu dimulainya
atau persiapan pembedahan, pembedahan. Apabila rumah sakit mempunyai jadwal kamar
meliputi: operasi yang padat, lebih baik pasien dan keluarga
Diskusikan jadwal pembedahan. diberitahukan tentang banyaknya jadwal operasi yang telah
Persiapan administrasi dan ditetapkan sebelum pasien
informet consent Pasien sudah menyelesaikan administrasi dan mengetahui
Lakukan pendidikan kesehatan secara financial biaya pembedahan. Pasien sudah mendapat
pereoperatif penjelasan tentang pembedahan kolektomi atau kolostomi
Programkan intruksi yang oleh timbedah dan menandatangani imfomed consent.
didasarkan pada kebutuhan individu Manfaat dari intruksi preoperative telah dikenal sejak
direncanakan dan diimplementasikan lama. Setiap pasien diajarkan seseorang individu, dengan
pada waktu yang tepat. mempertimbangkan segala keunikan ansietas, kebutuhan, dan
harapan-harapannya .
Jika sesi penyuluhan dilakaukan beberapa haru sebelum
pembedahan, pasien mungkin tidak ingat tentang telah apa
yang dikataka. Jika intruksi diberikan terlalu dekat dengan
waktu pembedahan, pasien mungkin tidak dapat
berkonsentrasi atau belajar karna ansietas atau efek dari
medikasi praanestesi
Beritahu pembedahan: Puasa dilakukan minimal 6-8 jam sebelum pembedahan
Persipan puasa apabila intervensi bedah dilaksanakan dengan menggunakan
Persipan kulit anestesi umum.
Tujuan dari persiapan kulit preoperative adalah untuk
menguragi sumber bakteri tanpa mencederai kulit.
Beritahu pasien dan keluarga kapan Pasien akan mendapat manfaat bila mengetahui kapan
pasien bisa dikunjungi keluarga dan temannya dapat berkunjung setelah

Integumen | 30
pembedahan.
Beri informasi tentang menajemen Menajemen nyeri dapat dilakukan untuk peningkatan control
nyeri keperawatan nyeri pada pasien.
Berikan motivasi dan dukungan Intervensi untuk meningkatkan keinginan pasien dalam
moral melaksanakan pengobatan jangka panjang.
k.
l. c. Melanoma Maligna
Nyeri b.d tindakan dan graft kulit
Tujuan: nyeri berkurang/hilang atau teratasi
Criteria hasil:
Secara subjektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diatasi dengan skala nyeri 0-4
Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
Pasien tidak gelisah
INTERVENSI RASIONAL
kaji nyeri dengan pendekatan Menjadi parameter dasar untuk melihat sejauh mana renca
PQRST intervensi yang diperlukan dan sebagai evaluasi keberhasilan dari
intervensi menajemen nyeri keperawatan
jelaskan dan bantu pasien
dengan tindakan pereda nyeri Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi
nonfarmakologi dan lainnya telah menunjukan keefektifan dalam mengurangi nyeri
noninvasif
Lakukan menajemen nyeri Posisi fiologis akan meningkatkan asupan 02 kejaringan yang
keperawatan: mengalami peradangan subkutan. Pengaturan posisi idealnya adalah
o Atur posisi fisiologi dan pada arah yang berlawanan dengan letak dari selulitis.
imobilisasi ekstrimitas yang Bagian tubuh yang mengalami inflamasi local dilakukan
mengalami selulitis imobilitasiuntuk menurunkan respon peradangan dan meningkatkan
o Istirahatkan pasien kesembuhan.
o Menajemen lingkungan: Istirahat diperlukan selama fase akut. Disini akan meningkatkan
lingkungan tenang dan batasi suplai darah pada jaringan yang mengalami peradangan.
pengunjung Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan

Integumen | 31
o Ajarkan teknik relaksasi pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi O2
pernafasan dalam ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang
o Ajarkan teknik relaksasi berada diruangan.
pernafasan dalam Meningkatkan asupan O2 sehingga akan menurukan nyeri sekunder
o Ajarkan teknik distraksi pada dari peradangan.
saat nyeri Distraksi ( pengalihan perhatian ) dapat menurunkan stimulus
internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan
enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimka
ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri.
Kolaborasi dengan dokter,
Analgetik memblok lintasan nyeri sehingga nyeri kan berkurang
pemberian analgetik
m.
Kecemasan dan depresi b.d melanoma yg dapat membawa kematian dan menimbulkan cacat
kriteria hasil :
Pasien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaannya, dapat mengidentifikasi penyebab atau
faktor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan, wajah rileks
intervensi rasional
Kanji tanda verbal dan nonverbal Reaksi verbal/nonverbal dapat menunjukan rasa agitasi, marah, dan
kecemasan, damping pasien dan gelisah
lakukan tindakan bila
menunjukan prilaku merusak
Hindari konfrontasi Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama
dan mungkin memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu
mengurangi kecemasan.
Beri lingkungan yang tenang dan
suasana penuh istirat
Bina hubungan saling percaya Mereka harus didorong untuk mengekspresikan perasaan terhadap
seseorang yang mereka percayai. Mendengarkan keprihatinan mereka
dan selalu siap untuk memberikan yang terampil serta penuh

Integumen | 32
kehangatan yang penting untuk mengurangi ansietas.
Orientasikan pasien terhadap Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
prosedur rutin dan aktifitas yang
diharapkan.
Beri kesempatan kepada pasien u/ Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak
mengungkapkan ansietasnya. diekspresikan.
Berikan privasi untuk pasien dan Member waktu untuk mengekspresikan perasaan, menghilangkan
orang terdekat cemas dan prilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih pasien melayani
aktifitas dan pengalihan ( misalnya: membaca ) akan menurunkan
perasaan terisolasi.
Pengaturan agar anggota keluarga dan setiap teman dekatnya untuk
lebih banyak mencurahkan waktu bersama pasien dapat menjadi
upaya yang bersifat suportif.
Kolaborasi : Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.
Berikan anti cemas sesuai indikasi
contohnya diazepam
n.
kurang pengetahuan tentang tanda-tanda dini melanoma
Tujuan : terpenuhinya pengrtahuan pasien tentang kondisi penyakit.
Criteria evaluasi :
Mengungkapkan pengertian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan kemungkinan
komplikasi.
Mengenal perubahan gaya hidup/tingkah laku untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Intervensi Rasional
Beri penekanan akan pentingnya Harapan yang terbesar untuk mengendalikan penyakit
pengenalan dini tanda-tanda melanoma. terletak pada pendidikan pasien mengenai pengenalan
tanda-tanda dini melanoma. Pasien yang berisiko harus
diajarakan untuk memeriksa kulit dan mereka sebulan
sekali dengan cara sistematis.

Integumen | 33
Identifikasi sumber-sumber pendukung Keterlibatan keluarga terhadap cara-cara untuk
yang memungkinkan untuk mengidentifikasi melanoma akan meningkatkan risiko
mempertahankan perawatan dirumah metastasis yang lebih berat.
yang dibutuhkan.
ajarkan tentang tanda-tanda bahaya Tanda bahaya melanoma berikut ini: perubahan pada
melanoma. ukuran , warna, bentuk nevus, permukaan nevus atau
kulit disekitar nevus.
o.

BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tumor pre-maligna atau tumor prakanker merupakan suatu kelainan pada
kulit yang mempunyai potensi untuk berkembang lebih lanjut menjadi suatu
keganasan. Tumor pre-maligna yang sering terjadi adalah keratosis aktinik,
leukoplakia, dan penyakit bowen. Prevalensi untuk masing-masing penyakit adalah
keratosis aktinik
Tumor maligna atau tumor ganas adalah suatu tumor yang memiliki pola
struktur yang tidak teratur dan tidak normal. Tumor ganas biasanya tumbuh dengan
cepat, ekspansif, infiltratif dengan invasi dan destruksi jaringan di sekitarnya.
Tumor maligna yang sering terjadi yaitu karsinoma sel basal, karsinoma sel
skuamosa, dan melanoma maligna.

2.2 Saran
Perawat dalam membuat asuhan keperawatan sebaiknya benar-benar
memperhatikan setiap keluhan dari pasien sehingga komplikasi dapat dihindari dan
dapat meningkatkan kualitas hidup klien. Selain itu, perawat juga harus

Integumen | 34
berkolaborasi dengan tim medis lain untuk memberi terapi pada klien serta keluarga
sehingga penatalaksanaan dapat dilakukan secara maksimal, baik secara mandiri
dan berkolaborasi.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Farozy, A.A. 2008. Tumor Ganas Kulit. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta :


Fakultas Kedokteran.

Djuanda, Adhi. 2007. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

Doengoes, M.E.2000.Rencana Asuhan Keperawatan Ed.3.Jakarta : EGC.

Fakhurrurazi, Maman A., Agus N.(2008). Melanoma Maligna Mukosa Mulut. Dentika
Dental Journal, 13(1), 43-48.

Harahap, Marwali. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Jakarta : Hipokrates.

Majalah Trubus No. 503, Edisi Oktober 2011

Partogi, Donna. 2008. Karsinoma Sel Basal. Universitas Sumatera Utara :


Fakultas Kedokteran.

Partogi, Donna. 2008. Karsinoma Sel Basal. Universitas Sumatera Utara :


Fakultas Kedokteran.

Potai, Andy. 2012. Melanoma Maligna. Diakses tanggal 7 Mei 2012, dari
http://www.scribd.com/doc/42167928/2/MELANOMA-MALIGNA
Integumen | 35
Priharto, Aris T. 2000. Beberapa Faktor yang Berpengaruh pada Kekambuhan Penderita
Melanoma Maligna. Universitas Diponegoro : Fakultas Kedokteran.

Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma. 1985. Cermin Dunia Kedokteran.
Jakarta : Pusat Penelitian dan Pengembangan PT. Kalbe Farma.

Putra, Imam B. 2008. Tumor Kulit yang Berasal dari “Melanocytes System”. Universitas
Sumatera Utara : Fakultas Kedokteran.

Yuniardo, Nadia M. 2010. Diakses tanggal 23 Mei 2012, dari,


http://resepmasakanindonesia.info/resep-jahe-bubuk/

Integumen | 36