Anda di halaman 1dari 2

langit satu,menjerit waktu,menjadi aku

pergi aku menuju bulan pertama


cahaya menjerit dan memuntahkan hitam
datang kau menjanjikan senggama
hari dan detik ditarik tarik,menghujam
kepala nasib,lalu segala raib segala gaib
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahilham

kereta datang menggeraram seribu dendam


rejam…rejam…rejam bangsa yang diam
bunga kuncup lagu layu gadis tak merayu
sini,ku dendangkan satu lagu untukmu
untuk seluruh hidupmu
dan kincir gemelincir air mengalir
darah yang anyir angin bersilir waktu bergulir
kamu,tak jua silir:hidupmu sihir
air…air…air… yang melarutkan semua zaman
menautkan kezaliman,putus di pucuk awan
serahkan jantungmu,seperti dulu
waktu menjeratmu,seperti lalu
kau selalu malu mencumbu rindu
yang berbelit,waktu di kandung batu
pecahkan telur itu,tuangkan mimpi
biar sajakpun mengerti,andai kau berpaku diri
sepi tak beranjak pergi,kini tak lagi nanti
dan aku akan berhenti,mencetak cahaya
di lubang-lubang gelap matamu
di lembam malam ludah dendammu
Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Walillahilham

pernahkah lagi cuci badan di subuh hari


letihkan lagi caci zaman di tubuh pagi
nantikan lagi suci bulan di siang ini
darahkan lagi masa depan yang kini mati
cukup nafsu kau eja ilmu
melulu bisu kau jaja jemu
lagi bulan tinggal sedikit ramadhan
ku tegaskan getas selangit jeritan
ini waktu laut darat menyatu
cakrawala jingga menjadi tentu
sebuah bangsa menjadi satu
menjadi aku

Radar Panca Dahana

Besancon, 1998