Anda di halaman 1dari 74

1.1.

LATAR BELAKANG

Dalam menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan


Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah
yang harus nyata dan bertanggung jawab baik dalam urusan pemerintahan maupun
dalam pengelolaan pembangunan termasuk didalamnya upaya menggali sumber-
sumber pembiayaan sendiri maka diperlukan langkah yang komprehensif untuk
merestrukturisasi pemerintahan dan pola pembangunan. Maka dari itu diperlukan
pemerintahan daerah yang kreatif dan inovatif untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.

Dalam rangka melaksanakan pembangunan daerah agar dapat mengelola potensi dan
sumber daya daerah, perlu disusun profil daerah yang diharapkan dapat memenuhi
kebutuhan informasi yang terus berkembang dalam rangka pengambilan keputusan
dan pengembangan kebijakan di tingkat daerah maupun pusat, yang kemudian dapat
berimplikasi kepada peningkatan kualitas SDM daerah dan pengembangan
manajemen pengelolaan data dan informasi di daerah dapat terlaksana dengan lebih
baik. Supaya dapat memberikan hasil yang optimal terhadap kemampuan daerah
dalam mengembangkan wilayahnya, diperlukan suatu gambaran yang komprehensif
mengenai wilayahnya sendiri.

Melalui gambaran wilayah yang tersusun dengan baik, pemerintah daerah dapat
menentukan arah perkembangan dan invetarisasi sumber daya yang tersedia pada
wilayahnya. Untuk lebih mempermudah informasi gambaran wilayah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan secara umum sebaiknya dilakukan penyusunan profil tentang
daerah tersebut. Profil Daerah sangat efektif dalam penyampaian informasi daerah

1
secara lebih menarik dan melingkupi seluruh data potensi di daerah. Dengan adanya
kebutuhan penyusunan profil daerah tersebut, Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu
Selatan (Labusel) dalam hal ini Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda)
Kabupaten Labuhanbatu Selatan bermaksud mengadakan kegiatan Penyusunan Buku
Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada tahun anggaran 2016 ini.

1.2. MAKSUD , TUJUAN & SASARAN KEGIATAN

Maksud Kegiatan Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan


(Labusel) adalah memperkenalkan kondisi kabupaten Labuhanbatu Selatan kepada
para investor terkait kondisi dan program – program yang ada di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan.

Tujuan penyusunan Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah untuk


menyajikan informasi mengenai keberadaan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam
rangka meningkatkan pembangunan daerah, serta tersedianya data – data dari
sumber yang dapat dipertanggungjawabkan yang kemudian dipresentasikan dalam
bentuk media informasi yang atraktif, proporsional dan akuntabel. Data – data tersebut
digunakan sebagai dasar penyusunan program pembangunan di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan dan diharapkan dapat mendukung perumusan kebijakan
pembangunan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
 Memberikan gambaran investasi yang ada di Kabupaten Labuhan Batu selatan
 Menselaraskan sesuai dengan visi dan misi pemerintah kabupaten
Labuhanbatu selatan untuk memacu pertumbuhan ekonomi daerah

Sasaran yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah :


o Menciptakan iklim usaha yang kondusif dalam usaha meningkatkan
pertumbuhan ekonomi daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
o Memudahkan para investor yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan
Kabupaten Labuhanbatu Selatan
o Menginventarisasi gambaran sumber daya, potensi strategis dan peluang
pembangunan daerah;
o Menyusun data berdasarkan aspek fisik dan lingkungan, sosial-ekonomi dan
kebudayaan sebagai media informasi dari kegiatan sektoral di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan;

2
1.3. LOKASI KEGIATAN

Lokasi kegiatan Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan ini
dilaksanakan di dalam wilayah administratif Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Untuk
lebih jelasnya Kabupaten Labuhanbatu selatan dapat dilihat pada peta (Gambar 1.1)
dibawah ini.

3
Gambar 1.1. Batas Administrasi Kabupaten Labuhanbatu Selatan

4
1.4. DASAR HUKUM

Landasan hukum Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan ini
adalah sebagai berikut:

 Undang-Undang Darurat Nomor 8 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah


Otonom Kota-Kota Besar Dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara;

 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara

 Undang - Undang No.25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional;

 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

 Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan


Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah;

 Peraturan Pemerintah No. 38 tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

 Peraturan Menteri Dalam Negeri No 9 tahun 1998, Tentang Tata Cara Peran
Serta Masyarakat dalam Proses Perencanaan Tata Ruang di Daerah;

 Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1998 tentang Koordinasi Kegiatan


Instansi Vertikal Daerah;

 Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan


Daerah;

 Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara


Penyusunan, Evaluasi dan Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daera

 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa


Pemerintah

5
 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaam Keuangan Daerah.

 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Parubahan


atas Peraturan Menteru Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah;

 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata Cara
Penyusunan, Evaluasi dan Pengendalian Pelaksanaan Rencana Pembangunan
Daerah;

1.5. LINGKUP KEGIATAN

Lingkup pekerjaan Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan


secara keseluruhan meliputi:

a. Kegiatan koordinasi bersama seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan
beberapa Badan/Kantor di Kabupaten Labuhanbatu Selatan perihal perumusan
kebutuhan data dan pengisian data yang mencakup survey data lapangan,
evaluasi data, Kompilasi data,

b. Analisis data guna menghasilkan profil daerah Kabupaten Labuhanbatu selatan


dalam bentuk visualisasi (video atraktif) yang dapat menjabarkan potensi dan hasil
pembangunan yang telah dilaksanakan

c. Pekerjaan kompilasi data merupakan tahap proses seleksi data dan


pengelompokkan data sesuai dengan kebutuhan.

d. Dari kompilasi ini diharapkan tersusunnya buku profil daerah Kabupaten


Labuhanbatu dengan penyajian secara sistematik dan dilengkapi dengan tabel,
angka‐angka, diagram foto maupun Peta serta dapat menjadi input dalam proses
analisis. Adapun jenis data yang disajikan dalam Buku Profil Daerah Kabupaten
Labuhanbatu selatan ini dapat dikelompokkan menjadi beberapa katagori data,
antara lain:

6
1) Data Umum; meliputi data geografis (luas wilayah, topografi, penggunaan
lahan, iklim). Disamping itu juga data pemerintahan seperti administrasi
pemerintahan, aparatur negara, organisasi daerah serta perijinan.

2) Data Sosial Budaya; meliputi Demografi (kependudukan), Data


Kesehatan (fasilitas kesehatan, kesehataan masyarakat, tenaga
kesehatan dll)

e. Agar dapat menampilkan informasi mengenai potensi Kabupaten Labuhanbatu


Selatan secara keseluruhan, maka aspek yang perlu dimuat dalam profil adalah
meliputi :.

1) Aspek fisik dan lingkungan, antara lain :

2) Geografi, topografi, geologi, hidrologi, klimatologi, bencana alam, dll ;

3) Sumber daya alam (pola ruang) yaitu : kawasan lindung dan budidaya
(pertanian, kehutanan, pertambangan/ sumber daya mineral, industri,
pariwisata, permukiman, konservasi, dll) ;

4) Aspek ekonomi, antara lain:

5) Potensi sumber daya lokasi, sumber daya alam dan sumber daya buatan/
infrastruktur wilayah;

6) Kondisi perekonomian umum (struktur perekonomian/ pelaku ekonomi,


sektor perekonomian, PDRB, investasi, APBD, pendapatan &
pengeluaran daerah/ masyarakat, iklim usaha, lembaga keuangan, dll)

7) Aspek sosial budaya

8) Pemerintahan umum ;

9) Kependudukan ;

10) Pendidikan ;

11) Ketenagakerjaan ;

12) Kesehatan ;

13) Perumahan dan lingkungan ;

7
14) Sosial politik, keamanan, hukum dan social ekonomi ;

15) Kelembagaan masyarakat, adat istiadat, warisan budaya, pranata sosial,


kondisi gender, dll;

16) Sosial budaya lainnya.

1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN

Bab 1 : Pendahuluan

Bab ini menjelaskan latar belakang dari penyusunan laporan ini yang di
dalamnya di jelaskan mengenai latar belakang, maksud dan tujuan, sasaran,
ruang lingkup kajian, dasar hukum dan sistematika pembahasan.

Bab 2 : Gambaran Umum

Bab ini menjelaskan gambaran umum dari penyusunan laporan ini yang
ditinjau dari berbagai aspek yaitu mengenai gambaran geografis Kabupaten
Labuhanbatu selatan, Perkembangan Sektor Pendapatan Asli Daerah (PAD)
di Kabupaten Labuhanbatu selatan,

Bab 3 : Metodologi

Bab ini menjelaskan mengenai metodologi penyusunan laporan yang terdiri


dari pendekatan metodologi, pelaksanaan pekerjaan dan kerangka berpikir.

Bab 4 : Pengumpulan dan Analisa Data

Bab ini menjelaskan mengenai struktur organisasi dari kegiatan penyusunan


buku profil daerah kabupaten labuhanbatu selatan.

8
2.1 GAMBARAN UMUM KEGIATAN

Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan salah satu kabupaten yang baru


terbentuk pada tahun 2008 yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten
Labuhanbatu sesuai dengan Undang-undang RI Nomor 22 Tahun 2008 tentang
Pembentukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan di Provinsi Sumatera Utara. Ibukota
Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah Kota Pinang. Kabupaten Labuhanbatu
Selatan berbatasan langsung dengan Provinsi Riau, sehingga wilayah ini memiliki
potensi ruang karena dilalui oleh Jalur Lintas Timur Sumatera, yaitu jalur mulai dari
Batas Aceh –Tanjung Pura – Binjai – Medan – Lubuk Pakam - Sei Rampah – Tebing
Tinggi – Indrapura – Limapuluh – Sei Bejangkar – Kisaran – Simpang Kawat – Pulau
Rakyat – Aek Kanopan – Rantauparapat – Simpang Kota Pinang – Batas Riau. Untuk
lebih jelasnya mengenai kedudukan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam wilayah
Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Secara geografis Kabupaten Labuhanbatu Selatan terletak diantara koordinat 10 26’


00’’ - 20 12’ 55’’ Lintang Utara dan 990 40’ 00’’ - 1000 26’ 00’’ Bujur Timur. Kabupaten
Labuhanbatu Selatan memiliki luas wilayah sekitar 3.116,00 Km2 (311.600 Ha) yang
terdiri dari 5 Kecamatan dan 54 Desa/Kelurahan. Kecamatan yang memiliki wilayah
paling luas adalah Kecamatan Torgamba yaitu seluas 113.640 Ha atau sekitar 36,47%
dari luas total Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Sedangkan kecamatan yang memiliki
wilayah paling kecil adalah Kecamatan Silangkitang yaitu hanya seluas 30.370 Ha atau
sekitar 9,75% dari luas total Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Secara administratif Kabupaten Labuhanbatu Selatan berbatasan dengan beberapa


daerah, yaitu :

 Sebelah Utara : berbatasan dengan Kabupaten Labuhanbatu;

9
 Sebelah Selatan : berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara;

 Sebelah Barat : berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara;

 Sebelah Timur : berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau;

Untuk lebih jelasnya mengenai batas wilayah administratif Kabupaten Labuhanbatu


Selatan dapat dilihat pada Gambar 2.1 dan Tabel 2.1 berikut :

10
Gambar 2.1 Peta Administratif
Kabupaten Labuhanbatu Selatan

11
Tabel 2.1. Letak Geografis Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Secara topografis Kabupaten Labuhanbatu Selatan berada pada ketinggian 0 s/d 500
M diatas permukaan laut. Pada umumnya Kabupaten Labuhanbatu Selatan berada
pada ketinggian kurang dari 100 M diatas permukaan laut. Ketinggian antara 100 – 500
M diatas permukaan laut hanya terdapat di Kecamatan Sungai Kanan, tepatnya pada
bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara.. Berdasarkan
kemiringan lerengnya, pada umumnya Kabupaten Labuhanbatu Selatan berada pada
kawasan yang realitif datar dengan kemiringan antara 0 – 8% hingga landai dengan
kemiringan 8 – 15%. Wilayah dengan kontur bergelombang hingga curam dengan
kemiringan lereng antara 15 – 25% terdapat di bagian barat Kecamatan Sungai Kanan
yang berbatasan dengan Kabupaten Padang Lawas Utara

Penggunaan lahan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan terdiri atas bermacam-macam


pemanfaatan lahan, terutama untuk lahan perkebunan seluas 268.560 Ha, yang terdiri
dari 178.174 Ha perkebunan Kelapa Sawit dan 90.386 Ha untuk perkebunan Karet.
Penggunaan Lahan yang digunakan untuk Bangunan Perumahan, Perkantoran,
Industri, Pendidikan, Jalan, dan lain-lain adalah seluas 7.133 Ha. Sedangkan untuk

12
penggunaan lahan areal persawahan seluas 1.346 Ha. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada peta guna lahan berikut

13
Gambar 2.2 Peta Guna Lahan Kabupaten Labuhanbatu Selatan

14
2.2 POTENSI SUMBER DAYA ALAM

A. Sektor Pertanian
Produksi tanaman pangan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan secara umum mengala-
mi penurunan pada tahun 2014 untuk produksi padi. Untuk komoditas padi padi sawah
di tahun 2014 juga mengalami penurunan menjadi 3.110 ton sedangkan untuk
komoditas padi lading terjadi penurunan produksi menjadi sebesar 77 ton di tahun
2014. Produksi palawija sebaliknya juga mengalami penurunan. Untuk komoditas
jagung mengalami penurunan sebanyak 393,3 ton menjadi sebesar 1.019 ton di tahun
2014. Komoditas kacang tanah, kacang hijau dan ke- delai juga mengalami penurunan
dengan hasil produksi masing-masing sebesar 59 ton, 29,7 ton dan 16,5 ton.
Sedangkan komoditas pa- lawija yang mengalami peningkatan produksi yaitu
komoditas ubi kayu dan ubi jalar, dengan hasil produksi masing-masing sebesar 3.285
ton dan 872,9 ton di tahun 2014.

Tabel 2.2 Tabel Produksi Tanaman Pangan Kabupaten Labuhanbatu Selatan


tahun 2012 – 2014 (ton)

15
B. Sektor Perkebunan

Proporsi hasil produksi tanaman perkebu- nan Kabupaten Labuhanbatu Selatan


didomi- nasi oleh Kelapa Sawit yaitu sekitar 95,99 pers- en atau sebesar 635.372 ton
pada tahun 2014. Hal ini menjadi wajar karena Kabupaten Labuhanbatu Selatan
merupakan salah satu daerah penghasil sawit di Sumatera Utara. Sementara proporsi
hasil produksi karet Kabupaten Labu- hanbatu Selatan hanya sebesar 3,98 persen
atau sekitar 26.370 ton. Sisanya sebesar 0,03 persen adalah produksi kelapa, kakao
dan pinang atau sebesar 159,41 ton

Gambar 2.3. Produksi Tanaman Perkebunan Menurut Kecamatan dan Jenis Tanaman
di Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2014 (Ton)

C. Peternakan

Sektor peternakan yang menonjol di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah ternak


besar dan ternak unggas. Sampai dengan tahun 2009, produksi daging Sapi yang
terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah sebesar 416.720 Kg, yang
terbesar terdapat di Kecamatan Kampung Rakyat, yaitu sekitar 121.252 Kg. Jumlah
produksi daging Kambing terdapat sebesar 47.234 Kg, yang terbesar terdapat di
Kecamatan Kampung Rakyat, yaitu sekitar 12.019 Kg. Jenis produksi daging ternak
lainnya yang cukup besar adalah daging domba yang terdapat sebesar 14.144 Kg dan
kecamatan yang terbesar adalah Kecamatan Sungai Kanan yaitu 4.354 Kg. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.3 berikut :

16
TABEL 2.3
PRODUKSI DAGING MENURUT JENIS TERNAK
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

Jenis Ternak (Kg)


No Kecamatan
Sapi Kerbau Kambing Domba Babi
1. Sungai Kanan 95.300 637 10.576 4/354 255
2. Torgamba 83.344 1953 7.861 3.295 775
3. Kota Pinang 45.664 - 7.343 988 560
4. Silangkitang 71.180 407 9.435 3.162 457
5. Kampung Rakyat 121.252 1.179- 12.019 2.345 530
Jumlah 416.720 4.176 47.234 14.144 2.577

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015.

Sedangkan untuk peternakan unggas jumlah produksi ayam petelur adalah sebanyak 278.658
ekor. Daerah yang paling banyak memproduksi adalah kecamatan Kota pinang dengan bjumlah
produksi sebanyak 216.264 ekor. Sedangkan untuk produksi ayam pedaging jumlah
produksinya adalah sebesar 121.324 dimana kecamatan yang memproduksi ayam pedaging
adalah kecamatan kampong rakyat dengan jumlah produksi sebesar 98.411 ekor.

Tabel 2.4
Populasi unggas dan Jenis Unggas Menurut kecamatan di kabupaten Labuhanbatu Selatan

17
D. Perikanan

Jenis perikanan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah jenis


perikanan darat yaitu berupa kolam air tawar. Sampai dengan tahun 2014 jumlah
produksi ikan yang diperoleh dari budidaya air tawar tersebut terdapat sebesar 617.33
Ton. Produksi ikan terbesar terdapat di Kecamatan Torgamba yaitu sebesar 113.85
Ton dan yang terkecil terdapat di Kecamatan Silangkitang yaitu hanya 90.65 Ton.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2. 5.

TABEL 2.5
PRODUKSI PERIKANAN MENURUT ASAL TANGKAPAN
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

Produksi Perikanan (Ton)


No Kecamatan Perairan Jumlah
Budidaya Laut
Umum
1. Sungai Kanan 93.81 32 - 125.81
2. Torgamba 199.02 2.20 - 201.22
3. Kota Pinang 120 45.50 - 165.50
4. Silangkitang 90.65 - - 90.65
5. Kampung Rakyat 113.85 50.54 - 164.39
Jumlah 617.33 130.54 - 747.87

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015.

E. Kehutanan

Pada dasarnya program pengembangan sektor kehutanan, terutama ditujukan dalam


upaya pelestarian dan mempertahankan keberadaan hutan negara. Terutama hutan
lindung, hutan marga satwa, hutan suaka alam dan hutan – hutan negara lainnya yang
masih tergolong register. Berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor; 44/Menhut-
II/2005 Tentang Penetapan Kawasan Hutan di Provinsi Sumatera Utara di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan terdapat kawasan hutan seluas 71.863,30 Ha, yang terdiri dari
Hutan Lindung seluas 12.768,80 Ha yang terdapat di Kecamatan Sungai Kanan dan
Hutan Konservasi seluas 1.509,95 Ha yang terdapat di Kecamatan Torgamba.
Sedangkan kawasan hutan dengan fungsi budidaya antara lain terdapat kawasan
Hutan Produksi (HP) seluas 53.667,02 Ha yang pada umumnya terdapat di Kecamatan
Torgamba dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas 3.917,53 Ha yang terdapat di

18
Kecamatan Sungai Kanan. Luas kawasan hutan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
dapat dilihat pada tabel berikut :
TABEL 2.6
LUAS KAWASAN HUTAN MENURUT FUNGSINYA
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

Fungsi Hutan (Ha)

No Kecamatan Hutan Hutan Hutan


Konservasi/ Hutan Produksi Hutan Jumlah
Lindung
Suaka Alam Produksi Terbatas Konversi
1. Sungai Kanan 12.768,80 - 6.519,91 3.917,53 - 23.206,24
2. Torgamba - 1.509,95 46.305,33 - - 47.815,28
3. Kota Pinang - - 17,74 - - 17,74
4. Silangkitang - - 824,04 - - 824,04
5. Kampung Rakyat - - - - - -
Jumlah 12.768,80 1.509,95 53.667,02 3.917,53 - 71.863,30

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015, SK Menhut No.44/Menhut-II/2005

F. Pariwisata

Kegiatan kepariwisataan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan belum begitu


berkembang. Namun berdasarkan potensinya Kabupaten Labuhanbatu Selatan
memiliki potensi pariwisata yang dapat dikembangkan sebagai kawasan pariwisata,
baik wisata alam, budaya, dan wisata olah raga maupun agrowisata. Setidaknya ada
dua tempat kawasan wisata yang sudah berkembang di Kabupaten Labuhanbatu
Selatan, dan salah satu diantaranya telah ditetapkan secara nasional sebagai
Kawasan Taman Wisata, yaitu Taman Wisata Holday Resort. Mengenai potensi
kawasan wisata di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat diuraikan sebagai berikut :

a). Taman Wisata Holiday Resort

Taman Wisata Holiday Resort ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan


Menteri Kehutanan No. 695/Kpts-II/1990 Tanggal 27 Nopember 1990 dengan
luas 4.963,75 Ha yang terdapat di Desa Aek Raso Kecamatan Torgamba.
Berdasarkan PP No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN), Taman Wisata Holiday Resort ditetapkan sebagai
Kawasan Lindung Nasional.

19
Kawasan Taman Wisata Holiday Resort berbentuk segitiga yang dipagari oleh
perkebunan sawit. Namun demikian jenis fauna cukup banyak terdapat pada
kawasan ini, terutama jenis burung seperti Perkutut (Geopelia striata), Murai
Batu (Copsychus delivutia), Jalak (Acridoteres fuscus) dan lain-lain. Jenis
mamalia yang ada antara lain ; Rusa (Cervus timorensis), Babi Hutan (Sus
Vittatus), Kijang (Muntiacus muntjak), Monyet (Macaca fascicularis), Musang
(Viveridae), Gajah (Elephas maximus) dan sebagainya.

Pada Kawasan Taman Wisata Holiday Resort terdapat berbagai peruntukan


diantaranya Lokasi Pusat Latihan Gajah (PLG), lokasi penangkaran satwa,
arboretum dan lokasi wisata. Animo masyarakat terhadap Pusat Latihan Gajah
(PLG) ini sangat besar. Pada hari-hari libur lokasi ini ramai dikunjungi
masyarakat baik untuk sekedar menyaksikan gajah-gajah yang sedang
beratraksi maupun untuk bertamasya.

b). Pemandian Alam Pandayangan Indah

Obyek wisata Pemandian Alam Pandayangan Indah atau Sampuran terletak di


Desa Mandalasena, Kecamatan Kota Pinang. Obyek wisata air terjun ini sudah
dikenal oleh masyarakat di sekitar Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Namun
akibat kekurangan sarana dan prasarana yang memadai obyek wisata ini
belum begitu berkembang.

c). Bumi Perkemahan PT. Asam Jawa

Obyek wisata Bumi Perkemahan PT. Asam Jawa adalah obyek wisata yang
menampilkan wisata Out Bond di areal perkebunan PT. Asam Jawa. Obyek
wisata ini juga sudah mulai berkembang dan sudah banyak dikenal oleh
masyarakat di sekitar Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Melihat letaknya yang
berada pada daerah perkebunan maka pada kawasan ini masih dapat
dikembangkan obyek wisata lainnya seperti agrowisata dan road race.

Selain obyek wisata di atas di Kabupaten Labuhanbatu Selatan sebenarnya masih


banyak potensi wisata yang dapat dikembangkan, antara lain :

 Danau Seberang yang terdapat di Desa Asam Jawa, Kecamatan Torgamba.


Danau Seberang merupakan danau terbesar yang terdapat di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan. Danau ini cukup indah dan udaranya masih segar dan
alami. Mengingat danau ini berada pada jalan lintas sumatera maka selain

20
pengembangan untuk pariwisata danau ini juga berpotensi untuk
pengembangan perhotelan dan penginapan;

 Istana Kota Bahran, merupakan peninggalan sejarah kesultanan di Kabupaten


Labuhanbatu Selatan. Istana ini dapat dijadikan sebagai “Land Mark” dari Kota
Pinang. Selain berpotensi untuk dikembangkan sebagai tempat wisata sejarah
dan budaya dapat juga dikembangkan sebagai kawasan strategis dari sudut
kepentingan sosial budaya. Namun saat ini kondisi dari istana tersebut sudah
banyak yang hancur dan tidak terawat.

Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah
ruah. Sumber daya alam tersebut merupakan sektor yang memberikan kontribusi
terbesar terhadap PDRB Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Terutama sektor pertanian
dan perkebunan. Selain itu di Kabupaten Labuhanbatu Selatan juga memiliki kekayaan
alam yang belum dikelola secara optimal, yaitu : sektor kehutanan, perdagangan dan
jasa/koperasi, sektor industri dan usaha kecil menengah (UKM), sektor pertambangan
dan bahan galian dan sektor pariwisata. Hal ini disebabkan karena Kabupaten
Labuhanbatu Selatan yang masih baru terbentuk, sehingga perlu digali sumber-sumber
kekayaan alam yang ada untuk dimanfaatkan sebagai penggerak pertumbuhan
ekonomi wilayahnya. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten
Labuhanbatu Selatan Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada tahun 2014
sebesar 17.545.445 juta rupiah. Sektor industri pengolahan merupakan kontributor
utama dengan peranan mencapai 40,93 persen.

Selanjutnya diikuti oleh sektor pertanian sebesar 30,59 persen serta sektor
perdagangan besar dan eceran sebesar 12,80 persen. Sementara sektor-sektor
lainnya hanya memberikan total kontribusi sebesar 15,68 persen terhadap
perekonomian di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Untuk melihat produktivitas
ekonomi (dengan mengabaikan inflasi) maka digunakan PDRB Atas Harga Konstan
(ADHK). Berdasarkan harga konstan tahun 2010, PDRB Kabupaten Labuhanbatu
Selatan pada tahun 2014 sebesar 14.548.316,1 juta rupiah. Atas Dasar Harga
Konstan tahun 2010, sektor jasa keuangan dan asuransi penyediaan akomodasi dan
konsumsi sebesar 7,97 persen sektor administrasi pemerintahan sebesar 7,16 persen;
sektor jasa pendidikan sebesar 6,82 persen; sektor jasa kesehatan dan kegiatan

21
sosial sebesar 6,23 persen; sektor konstruksi sebesar 6,21 persen; sektor transportasi
dan pergudangan sebesar 5,89 persen; sektor perdagangan besar dan eceran
sebesar 5,86 persen; serta sektor real estate sebesar 5,79 persen. Secara
keseluruhan, perekonomian di Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada tahun
2014 naik sebesar 5,33 persen bila dibandingkan pada tahun 2013. PDRB Perkapita
Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2014 Atas Dasar Harga Berlaku
sebesar 57.119.470,88 ribu rupiah, meningkat dari 53.136.015,68 ribu rupiah pada
tahun 2013. Sedangkan berdasarkan harga konstan 2010, PDRB perkapita tahun
2014 sebesar 47.362.270,79 ribu rupiah, meningkat dari tahun 2013 yang
sebesar 45.977.153,96 ribu rupiah.

Gambar 2.4. Distribusi Persentase PDRB Menurut Lapangan Usaha


Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2014

22
Tabel 2.7 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku
Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Juta Rupiah)

23
Tabel 2. 8 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan
2010 Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Labuhanbatu Selatan (Juta Rupiah)

24
2.3 KEPENDUDUKAN DAN SUMBER DAYA
MANUSIA
2.4

Aspek kependudukan merupakan salah satu faktor penting yang sangat


mempengaruhi perkembangan suatu wilayah. Perkembangan dan kondisi penduduk
suatu wilayah sangat vital, karena merupakan ‘suatu objek sekaligus subjek
pembangunan secara keseluruhan. Perkembangan dan perubahan yang berkaitan
dengan kependudukan harus teridentifikasi dengan baik, karena berpengaruh dalam
merumuskan kebijaksanaan pembangunan tahap selanjutnya. Pertumbuhan penduduk
adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu
dibandingkan waktu sebelumnya. Indikator tingkat pertumbuhan penduduk sangat
berguna untuk memprediksi jumlah penduduk di suatu wilayah dimasa yang akan
datang. Dengan diketahuinya jumlah penduduk yang akan datang, diketahui pula
kebutuhan dasar penduduk ini, termasuk kebutuhan dalam bidang sosial dan ekonomi.

Kabupaten Labuhanbatu Selatan dengan luas areal wilayah sebesar 3.116 Km2 pada
tahun 2014, penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan berjumlah 307.171 jiwa
dengan kepadatan penduduk sebesar 98 jiwa per Km². Jumlah penduduk terbanyak
terdapat di Kecamatan Torgamba yaitu sebanyak 109.788 jiwa dengan kepadatan
penduduk 96 jiwa per Km², sedangkan penduduk paling sedikit berada di Kecamatan
Silangkitang sebanyak 30.673 jiwa dengan kepadatan penduduk 101 jiwa per Km².
Kecamatan Kotapinang merupakan Kecamatan yang paling padat penduduknya
dengan kepadatan 122 jiwa per Km² dan Kecamatan Kampung Rakyat merupakan
Kecamatan dengan kepadatan penduduk terkecil yaitu sebesar 80 jiwa per Km².

Jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan dengan jenis kelamin perempuan


lebih sedikit dibandingkan penduduk laki-laki. Pada tahun 2014 jumlah penduduk laki-
laki sebesar 156.578 jiwa, sedangkan penduduk perempuan sebanyak 150.593 jiwa
dengan rasio jenis kelamin sebesar 103,97 persen.

25
Gambar 2.5 Gambar Jumlah Penduduk Kabupaten Labuhanbatu selatan
berdasarkan Kecamatan di Kabupaten labuhanbatu Selatan

26
Tabel 2.9. Tabel Luas Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan

Kecamatan Luas Wilayah Jumlah Kepadatan


Penduduk Penduduk
Subdistrict Total Area Number of
Population Population Density
(km2)
(jiwa/person) (per km2)

(1) (2) (3) (4)

1. Sungai Kanan 484.35 50.175 104.71

2. Torgamba 1.136.40 109.788 96.61

3. Kota Pinang 482.40 59.087 122.49

4. Silangkitang 303.70 30.673 101.00

5. Kampung Rakyat 709.15 56.908 80.25

Jumlah/Total 2015 3.116.000 307.171 98.58

Sumber : Kabupaten Labuhanbatu Selatan dalam Angka 2015

Komposisi penduduk Kabupaten Labuhan- batu Selatan masih didominasi oleh


penduduk usia muda. Pertumbuhan penduduk yang cu- kup tinggi mengakibatkan arah
penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan masih dominan di usia muda dan balita.
Namun demikian, besarnya persentase wanita usia subur yang aktif menggunakan KB
yang mencapai 61 persen diharap dapat mengendalikan populasi penduduk
Kabupaten Labuhanbatu Selatan.

Gambar. 2.6. Gambar Piramida Penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan


Tahun 2014

27
Berdasarkan tabel disamping dapat dilihat jumlah penduduk Kabupaten Labuhanbatu
Selatan tahun 2014 adalah sebesar 307.171 jiwa dengan jumlah rumah tangga
sebanyak 70.029 rumah tangga. Jika dibandingkan den- gan tahun 2013 maka telah
terjadi peningkatan jumlah penduduk di tahun 2014 sebanyak 17.516 jiwa. Rasio
ketergantungan penduduk Labuhanbatu Selatan sebesar 61,14 persen yang berarti
setiap 100 orang penduduk usia produktif mempunyai tanggungan sebanyak 61 orang
yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi. Seiring dengan meningkatnya
jumlah pen- duduk maka kepadatan penduduk Kabupaten Labuhanbatu Selatan pun
ikut meningkat men- jadi 99 jiwa/km2 ditahun 2014. Dengan luas wilayah sekitar
3.116 Km² maka tiap Km² Ka- bupaten Labuhanbatu ditempati penduduk sebanyak
99 jiwa.

Secara umum jumlah penduduk laki-laki di Kabupaten Labuhanbatu Selatan masih


lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuan. Hal ini dapat
diketahui dari nilai sex ratio Kabupaten Labuhanbatu Selatan sebesar 104 yang dapat
diartikan bahwa untuk setiap 100 orang penduduk perempuan terdapat 104 orang
penduduk laki-laki

Struktur penduduk menurut mata pencaharian di Kabupaten Labuhanbatu selatan


dikelompokkan menjadi 9 kelompok. Pada tahun 2014, mata pencaharian penduduk di
bidang pertanian, perkebunan dan perikanan merupakan sektor yang dapat menyerap
tenaga kerja paling besar, hal ini tercermin dari jumlah tenaga kerja yang mencapai
84.933 jiwa dengan jumlah tenaga kerja paling banyak didominasi oleh laki – laki
sebanyak 60.631 orang. Sedangkan sektor jasa kemasyarakatan merupakan sektor
yang menempati urutan kedua dalam menyerap tenaga kerja, yaitu sebesar 13.301
jiwa.

28
Tabel 2. 10. Lapangan Pekerjaan Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Labuhanbatu
Selatan Tahun 2014

Angka melek huruf penduduk Kabupat- en Labuhanbatu Selatan terus


meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini berarti sema- kin berkurangnya jumlah
penduduk yang ti- dak dapat baca/tulis atau buta huruf. Namun demikian tercatat
angka melek huruf Kabupaten Labuhanbatu Selatan di tahun 2014 sebesar 99,74
persen, dan masih lebih besar dibandingkan angka melek huruf propinsi Sumatera
Utara yang hanya sebesar 98,69 persen. Penduduk Labuhanbatu Selatan jika dilihat
berdasarkan rata-rata lama sekolahnya mengalami peningkatan yaitu menjadi 8,67
tahun pada tahun 2014. Hal ini sejalan dengan angka partisipasi sekolah Labuhanbatu
Selatan untuk kelompok umur 7 - 12 tahun yang sudah mencapai 100,00 persen dan
untuk kelompok usia 13-15 tahun mengalami peningkatan menjadi 96,28

29
persen. Sedangkan angka partisipasi sekolah untuk kelompok usia 16-18 tahun juga
mening- kat menjadi sebesar 77,80 persen.

Tabel 2.11 . Tabel Indikator Pendidikan kabupaten Labuhanbatu Selatan

Tahun 2012- 2014

Sumber : SUSENAS 2012 - 2014

Jika dilihat dari kuantitasnya ketersediaan guru di Kabupaten Labuhanbatu Selatan


sudah memadai. Hal ini dapat dilihat dari rasio guru terhadap murid. Seorang guru
rata – rata mengajar 5 orang siswa untuk jenjang pendidikan SD. untuk jenjang
pendidikan SMP seorang guru rata-rata mengajar 6 orang siswa. Pada jenjang
pendidikan SMA sederajat yang terdiri dari SMA dan SMK seorang guru rata – rata
mengajar 9 - 11 orang siswa. Indikator lain dalam hal pencapaian dibidang pendidikan
adalah Angka Partisipasi Murni (APM). APM Kabupaten Labuhanbatu Selatan untuk
tingkat SD dan SMP sudah cukup baik dan lebih tinggi dibandingkan dengan APM
Propinsi Sumatera Utara yaitu sebesar 98,81 persen dan APM SMP sebesar 84,57
persen dan APM SMA hanya sebesar 72,39 persen.

30
Tabel 2.12 . Jumlah Murid, Guru dan Sekolah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan
Tahun 2014

Sumber : Dinas Pendidikan Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2015

Mayoritas penduduk di Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada umumnya adalah


merupakan Suku Jawa. Hal tersebut dapat dilihat dari jumlah penduduk yang ada
sebesar 51,19 % diantaranya merupakan Suku Jawa. Sedangkan suku terbesar
kedua adalah suku Batak yang terdapat sekitar 44,77 % dari jumlah penduduk yang
ada. Dan sisanya adalah merupakan suku Minang sebesar 0,51%, suku Melayu 0,38%
dan suku lainnya sebesar 3,02%. Lebih jelasnya dapat di lihat pada Tabel 2.13

TABEL 2.13
PERSENTASE PENDUDUK MENURUT SUKU BANGSA
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2009

Suku Bangsa (Jiwa)


No Kecamatan
Melayu Batak Minang Jawa Aceh Lainnya
1. Sungai Kanan 0,15 78,30 0,27 19,62 0,07 1,59
2. Torgamba 0,70 41,16 0,74 52,84 0,19 4,37
3. Kota Pinang 0,65 55,65 0,59 39,43 0,15 3,53
4. Silangkitang 0,07 18,27 0,27 79,75 0,07 1,57
5. Kampung Rakyat 0,34 30,48 0,68 64,29 0,18 4,03
Jumlah 0,38 44,77 0,51 51,19 0,13 3,02
Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka Tahun 2010

31
Jumlah penduduk di Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada umumnya adalah
beragama Islam. Jumlah penduduk yang beragama Islam terdapat sebesar 91,01%.
Sedangkan Agama terbesar kedua adalah Agama Protestan yang terdapat sekitar
8,01% dari jumlah penduduk yang ada. Dan sisanya adalah merupakan Agama Katolik
sebesar 0,82%, Agama Budha 0,13%, Agama Hindu sebesar 0,02% dan Agama
lainnya sebesar 0,01%. Untuk lebih jelasnya dapat di lihat pada Tabel 2.14.
TABEL 2.14.
PERSENTASE PENDUDUK MENURUT AGAMA YANG DIANUT
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2009

Agama/Kepercayaan (Jiwa)
No Kecamatan
Islam Protestan Katolik Budha Hindu Lainnya
1. Sungai Kanan 97,45 2,24 0,29 0,01 0,01 -
2. Torgamba 75,98 22,18 1,80 0,03 0,01 -
3. Kota Pinang 89,59 8,79 1,00 0,57 0,04 -
4. Silangkitang 99,05 0,42 0,49 0,02 0,02 -
5. Kampung Rakyat 92,96 6,43 0,52 0,04 0,04 0,01
Jumlah 91,01 8,01 0,82 0,13 0,02 0,01
Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka Tahun 2010

2.5 POTENSI SUMBER DAYA ALAM

Potensi sumber daya alam yang dimaksud adalah berupa potensi bahan-bahan
tambang yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan, seperti; Sumber Daya Mineral,
Batubara, Minyak dan Gas Bumi, Panas Bumi dan Air Tanah. Pada prinsipnya belum
ada ditemukan potensi sumber daya alam seperti Batubara, Minyak dan Gas Bumi
serta Panas Bumi di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Namun demikian berdasarkan
data-data sekunder yang diperoleh, ada beberapa bahan-bahan tambang yang
potensial dikembangkan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan antara lain :

A. Pertambangan Batuan

Dari peta Geologi Regional yang tersingkap di Kabupaten Labuhanbatu, potensi


tambang batuan yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah tambang galian
yang bertipe sedimen karena sebaran litologi yang tersingkap di daerah Kabuapeten
Labuhanbatu Selatan adalah batuan sedimen. Tambang batuan yang telah

32
dimanfaatkan oleh warga adalah bahan galian golongan C yaitu berupa pasir batu
(sirtu) yang terletak di sepanjang aliran sungai barumun. Potensi tambang yang lain
adalah Dolomit yang merupakan ubahan dari batu gamping yang terdapat di
Kecamatan Kota Pinang dengan sebaran yang tidak begitu luas.

B. Pertambangan Mineral

Potensi bahan tambang mineral yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan


antara lain adalah (Sumber : RTRW Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010-2030);

 Arsen di Kecamatan Kota Pinang;

 Bauksit di Kecamatan Kota Pinang;

Potensi tambang mineral lainnya adalah terdapat pada formasi Telisa yaitu di
Kecamatan Silangkitang dan Sungai Kanan, untuk formasi Patani tersebar di
kecamatan Silangkitang dan Kotapinang.

C. Air Tanah

Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
permukaan tanah. Air tanah mempunyai peran yang sangat penting bagi kehidupan
dan penghidupan masyarakat, karena fungsinya sebagai salah satu kebutuhan pokok
sehari-hari. Keberadaan air tanah di Kabupaten Labuhanbatu Selatan cukup melimpah
karena dipengaruhi oleh kondisi geologi, topografi dan curah hujan. Air tanah terdapat
di bawah permukaan tanah, letaknya di daratan dengan pelamparan dapat sampai di
bawah dasar laut mengikuti sebaran serta karakteristik lapisan tanah atau batuan pada
cekungan air tanah. Air tanah dapat berada pada lapisan jenuh air (saturated zone),
lapisan tidak jenuh air (unsaturated zone), atau rongga-rongga dan saluran-saluran
dalam wujud sungai bawah tanah di daerah batu gamping. Dalam cekungan, air tanah
dapat mengisi sungai, waduk, atau danau dan sebaliknya air sungai, waduk, atau
danau dapat mengisi akuifer. Oleh karena itu pengelolaan air tanah harus dilakukan
secara terpadu dengan pengelolaan air permukaan.

Cekungan Air Tanah (CAT) adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas
hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan,
pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. Suatu daerah dapat disebut
sebagai cekungan air tanah hanya apabila memenuhi kriteria : mempunyai batas
hidrogeologis yang dikontrol oleh kondisi geologis dan/atau kondisi hidraulik air
tanah; mempunyai daerah imbuhan dan daerah lepasan air tanah dalam satu
system pembentukan air tanah; serta memiliki satu kesatuan sistem akuifer.

33
Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki potensi air tanah dimana, cekungan air
tanahnya merupakan Cekungan Air Tanah (CAT) Lintas Provinsi. Kabupaten
Labuhanbatu Selatan termasuk kedalam Cekungan Air Tanah (CAT) Teluk
Durian/Pekanbaru yang terdapat seluas 21.799 Ha, meliputi Kabupaten
Labuhanbatu, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Kabupaten Padang Lawas,
Kabupaten Padang Lawas Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Provinsi Riau.
Untuk lebih jelasnya mengenai Cekungan Air Tanah (CAT) di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan dapat dilihat pada gambar peta berikut :

34
GAMBAR 2. 7
PETA WILAYAH CEKUNGAN AIR TANAH (CAT) PROVINSI SUMATERA UTARA

35
2.6 POTENSI SARANA DAN PRASARANA

Sebagai kabupaten yang baru terbentuk maka Kabupaten Labuhanbatu Selatan perlu
didukung oleh ketersediaan sarana dan prasarana wilayah yang memadai.
Ketersediaan sarana dan prasarana yang dimaksud terdiri dari sarana pendidikan,
sarana peribadatan dan sarana kesehatan. Ketersediaan sarana yang ada harus
didukung oleh ketersediaan infrastruktur seperti jaringan jalan, air bersih, maupun
sumber daya energi. Untuk lebih jelasnya mengenai ketersediaan sarana dan
prasarana di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat diuraikan sebagai berikut :

A. Sarana Pendidikan

Fasilitas pendidikan di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dibedakan menjadi dua,


yaitu pendidikan umum dan pendidikan agama. Jumlah fasilitas pendidikan umum
yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan sampai dengan tahun 2015 terdapat
sebanyak 249 unit, yang terdiri dari Sekolah Dasar 190 Unit (173 unit SD Negeri dan
13 unit SD Swasta), SLTP 45 Unit (28 unit SLTP Negeri dan 17 unit SLTP Swasta) dan
SMU sebanyak 14 Unit (10 unit SMU negeri dan 4 Unit SMU Swasta). Jumlah fasilitas
pendidikan terbanyak terdapat di Kecamatan Torgamba yaitu 96 Unit dan jumlah
fasilitas pendidikan terkecil terdapat di Kecamatan Silangkitan yaitu 22 Unit. Untuk
lebih jelasnya lihat tabel berikut :
TABEL 2.15
JUMLAH FASILITAS PENDIDIKAN UMUM
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

SD SLTP SMU
No Kecamatan Jumlah
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta

1. Sungai Kanan 37 - 5 1 2 1 46
2. Torgamba 54 12 12 13 3 2 96
3. Kota Pinang 35 1 3 1 2 - 42
4. Silangkitang 16 - 3 1 1 1 22
5. Kampung Rakyat 31 4 5 1 2 - 43
Jumlah 173 17 28 17 10 4 249

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015

36
Sedangkan untuk fasilitas pendidikan Agama terdapat sebanyak 86 Unit yang terdiri
dari 16 unit Madrasah Ibtidaiyah (4 Unit MI Negeri dan 12 Unit MI Swasta), 44 unit
Madrasah Tsanawiyah (2 Unit MTs Negeri dan 42 Unit MTs Swasta) dan sekolah
Madrasah Aliyah sebanyak 26 Unit (1 Unit MA Negeri dan 25 Unit MA Swasta).
Jumlah fasilitas pendidikan agama terbanyak terdapat di Kecamatan Torgamba yaitu
21 Unit dan jumlah fasilitas pendidikan agama terkecil terdapat di Kecamatan
Silangkitan yaitu 14 Unit. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :

TABEL 2.16
JUMLAH FASILITAS PENDIDIKAN AGAMA
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

Ibtidaiyah Tsanawiyah Aliyah


No Kecamatan Jumlah
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta
1. Sungai Kanan - - 1 12 1 6 20
2. Torgamba - 4 - 11 - 6 21
3. Kota Pinang 1 2 - 7 - 5 15
4. Silangkitang 2 3 - 6 - 3 14
5. Kampung Rakyat 1 3 1 6 - 5 16
Jumlah 4 12 2 42 1 25 86

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015

B. Sarana Kesehatan

Jumlah Rumah Sakit Umum yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada tahun
2014 terdapat sebanyak 3 unit.. Jumlah Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas)
terdapat sebanyak 17 Unit, Pos Layanan Terpadu (POSYANDU) di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan sebanyak 456 unit mengalami peningkatan dibandingkan pada
tahun 2013 yang berjumlah 295 unit. Lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 2.17

37
TABEL 2.17
JUMLAH FASILITAS KESEHATAN
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014
Rumah
Rumah Klinik/Balai
Tahun Sakit Puskesmas Posyandu Polindes
Sakit Pengobatan
Bersalin
2010 3 11 298 16 39
2011 3 14 306 16 31
2012 4 17 313 1 31
2013 4 17 295 18 31
2014 4 17 456 9 31
Sumber : Dinas Kesehatan Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2015

C. Sarana Peribadatan

Fasilitas peribadatan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah :


Mesjid, Langgar, Gereja, dan Vihara. Sampai dengan tahun 2014 Jumlah sarana
ibadah bagi umat beragama di Kabupaten Labuhanbatu Selatan cukup memadai.
Jumlah Mesjid ada 391 buah, Musholla 171 buah, Gereja 129 buah, Kuil/ Vihara 3
buah jumlah dan jenis sarana peribadatan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu
Selatan terdapat sebanyak 517 unit yang terdiri dari 323 unit Mesjid, 116 unit Musholla,
77 unit Gereja dan 1 unit Kuil/Vihara. Jumlah fasilitas peribadatan terbanyak terdapat
di Kecamatan Torgamba yaitu 132 unit dan yang terkecil adalah Kecamatan
Silangkitang yaitu 60 unit. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.18

TABEL 2.18
JUMLAH FASILITAS PERIBADATAN
DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN TAHUN 2014

No Kecamatan Mesjid Musholla Gereja Kuil/Vihara Jumlah

1 Sungai Kanan 64 33 2 - 99

2 Torgamba 90 2 40 - 132

3 Kota Pinang 55 40 17 1 113

4 Silangkitang 48 10 2 - 60

5 Kampung Rakyat 66 31 16 - 113

Jumlah 323 116 77 1 517

Sumber : Labuhanbatu Selatan Dalam Angka 2015

38
D. Transportasi

Untuk menunjang kelancaran arus lalu lintas barang dan jasa di Kabupaten
Labuhanbatu Selatan, maka pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan saat ini terus
berusaha untuk meningkatkan pembangunan jaringan jalan yang ada. Hal ini bertujuan
untuk mempermudah aksesibilitas dari dan menuju Kabupaten Labuhanbatu Selatan.
Kabupaten Labuhanbatu Selatan dilalui oleh jalur jalan lintas nasional, yaitu melewati
Kecamatan Kota Pinang dan Torgamba. Selain itu juga dilewati oleh jalan provinsi
yaitu di Kecamatan Sungai Kanan.

Panjang jaringan jalan yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah


sekitar 1.895,10 KM, yang terdiri dari 70 Km merupakan Jalan Nasional, 47 Km Jalam
Provinsi dan sepanjang 1.778,10 Jalan Kabupaten. Jika dilihat dari kondisi jalan yang
ada maka pada umumnya jalan nasional dan jalan provinsi yang ada berada dalam
kondisi yang baik, sedangkan jalan kabupaten pada umumnya rusak parah yang
terdapat sepanjang 1.467,93 Km.

Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi jaringan jalan di Kabupaten Labuhanbatu


Selatan dapat dilihat pada Tabel 2.19 dan Gambar 2.8 dibawah ini.

TABEL 2.19 Panjang Jalan Menurut Pemerintahan yang berwenang di Kabupaten


Labuhanbatu Selatan 2010 – 2014 (KM)

Jenis Jalan 2010 2011 2012 2013 2014

Jalan Negara 60 60 60 60 60
Jalan Provinsi 45 45 45 45 45
Jalan
Kabupaten 531.20 531.20 547.1 550.36 330.36
Jumlah/Total 636.20 636.20 652.10 655.36 655.36
Sumber : Dinas Pekerjaan umum, Pertambangan dan energy
Kabupaten Labuhanbatu Selatan 2015

39
GAMBAR 2.8
JARINGAN JALAN EKSISTING DI KABUPATEN LABUHANBATU SELATA

40
2.7 POTENSI BENCANA ALAM

Secara umum, peristiwa bencana alam terjadi dikarenakan peristiwa alam geologi
seperti gempa bumi, gunung meletus, gerakan tanah/ longsor, gelombang pasang dan
non geologis seperti banjir, kekeringan dan kebakaran hutan maupun puting beliung.
Berdasarkan kondisi geografisnya maka di Kabupaten Labuhanbatu Selatan tidak ada
kawasan yang dapat dikatagorikan sebagai kawasan rawan bencana. Jenis bencana
yang kemungkinan akan timbul antara lain adalah banjir dan tanah longsor/gerakan
tanah. Daerah/kawasan yang diperkirakan memiliki potensi terjadinya bencana alam,
antara lain adalah :

A. Banjir

Peristiwa banjir merupakan bencana alam yang juga sering terjadi di wilayah
Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang beriklim tropis, terutama pada wilayah dengan
kemiringan lereng landai atau dataran. Daerah ini diperkirakan terdapat disekitar DAS
Barumun yang memiliki kemiringan 0 – 8% seperti di Kecamatan Kampung Rakyat.

B. Tanah Longsor/Gerakan Tanah

Gerakan tanah atau tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng
berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak ke
bawah atau keluar lereng. Proses terjadinya tanah longsor dapat diterangkan sebagai
berikut : air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air
tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir,
maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti
lereng dan keluar lereng.

Gerakan tanah yang terdapat di Kabupaten Labuhanbatu Selatan dapat dikatagorikan


sebagai gerakan tanah rendah, karena pada umunya lahan yang ada berupa lahan
dataran yang landai. Sedangkan kawasan yang berpotensi terjadinya gerakan tanah
menengah hanya terdapat di sepanjang DAS Barumun mulai dari arah Selatan menuju
Utara yang meliputi Kecamatan Kampung Rakyat dan Torgamba. Pada Zona ini dapat
terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang
berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami
gangguan (Sumber : Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi,
Kementerian ESDM RI, Status Juli 2010)

41
Gambar 2.9
Peta Kawasan Rawan Bencana DI Kabupaten Labuhanbatu Selatan

42
3.1 VISI DAN MISI PEMBANGUNAN KABUPATEN
LABUHAN BATU SELATAN

Untuk mendukung pengembangan peran dan fungsi Kabupaten Labuhanbatu Selatan


sebagai Kabupaten yang sedang berkembang, serta tanggap dengan dinamika
perkembangan dan permasalahan Kabupaten Labuhanbatu Selatan saat ini, maka Visi
Pembangunan Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang akan dituju, adalah:

“Bersama Membangun Tanah Kelahiran”

Misi Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah :


a. Misi Pertama : Optimalisasi Pengelolaan Sumber Daya Pembangunan
Daerah.
b. Misi Kedua : Pengawasan Proses Pelaksanaan Pembangunan Daerah.
c. Misi Ketiga : Memacu Pertumbuhan Ekonomi Daerah,
d. Misi Keempat : Mendorong pemerataan partisipasi dan Hasil Pembangunan Daerah ,
e. Misi Kelima : Memantapkan Stabilitas Daerah,

Berdasarkan visi dan misi Kabupaten Labuhanbatu Selatan, karakteristik wilayah dan
isu strategis yang diungkapkan serta kondisi yang diinginkan, maka tujuan penataan
ruang di Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah :

“TERWUJUDNYA KABUPATEN LABUHANBATU SELATAN YANG


SEJAHTERA DAN BIJAKSANA BERBASIS AGROPOLITAN
BERKELANJUTAN”

43
3.2 RTRW Kabupaten Labuhanbatu Selatan

A. Tujuan, Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang

Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang


wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Tujuan penataan
ruang wilayah kabupaten memiliki fungsi :

 sebagai dasar untuk menformulasikan kebijakan dan strategi penataan ruang


wilayah kabupaten;

 memberikan arah bagi penyusunan indikasi program utama dalam RTRW


kabupaten; dan;

 sebagai dasar dalam penetapan arahan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah


kabupaten.

Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan :

 visi dan misi pembangunan wilayah kabupaten;

 karakteristik wilayah kabupaten;

 isu strategis; dan

 kondisi objektif yang diinginkan.

Berdasarkan data dan hasil analisa sebagaimana yang diuraikan pada bab terdahulu,
maka untuk merumuskan tujuan penataan ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan hal
penting yang dijadikan masukan utama dan pertimbangan dasar adalah :

 Adanya kesadaran kolektif dan kemauan politik yang kuat untuk membangun
Kabupaten Labuhanbatu Selatan secara santun dan bijaksana dalam berkarya;

 Terbatasnya sarana dan prasarana wilayah, dan penyelenggaraan pemerintahan


yang belum baik sebagai bagian dari baru terbentukknya Kabupaten Labuhanbatu
Selatan;

 Potensi sumber daya alam yang ada pada umunya adalah sektor pertanian dan
perkebunan, yang merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam
perekonomian Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Sektor ikutan dari sektor

44
pertanian dan perkebunan industri pengolahan pertanian dan perkebunan
(agroindustri);

 Tersedianya modal dasar yang sangat potensial untuk dijadikan basis ekonomi
wilayah (masyarakat) yaitu (intensifikasi) lahan pertanian, perkebunan dan
kehutanan yang dapat ditingkatkan produktivitasnya, sumber daya perikanan serta
pengembangan kegiatan industri, jasa dan perdagangan berbasis agropolitan
(agroindustri, agribisnis, agrowisata, agroforestry);

 Pengelolaan sumber daya alam yang ada harus memperhatikan aspek lingkungan
sesuai dengan tujuan penataan ruang nasional yaitu pembangunan yang
berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Sehingga pemanfaatan sumber daya
alam yang ada harus dikelola secara adil dan bijaksana;

 Terdapatnya kawasan hutan yang berfungsi lindung dan kawasan konservasi yang
harus dilindungi sehingga keseimbangan alam (ekosistem) dan kelestarian alam
dapat terjaga dengan baik, sehingga terhindar dari ancaman kemungkinan bahaya
bencana alam dan dapat memberikan rasa yang aman dan nyaman.

Berdasarkan tujuan penataan ruang yang ingin dicapai, maka kebijakan penataan
ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan beserta strategi penataan ruang yang
mendukung kebijakan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Membangun prasarana dan sarana wilayah yang berkualitas, adil dan merata.

Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut :

a) Pembangunan prasarana dan sarana transportasi yang mampu mendorong


pertumbuhan ekonomi kawasan secara signifikan dan berimbang;

b) Pembangunan sistem jaringan prasarana dan fasilitas sosial secara


proporsional dan memadai sesuai kebutuhan masyarakat pada setiap pusat
permukiman.

c) Peningkatan prasarana dan sarana perhubungan dari pusat produksi komoditi


unggulan menuju pusat pemasaran;

d) Penyediaan sarana dan prasarana pendukung produksi untuk menjamin


kestabilan produksi komoditi unggulan;

e) Pembangunan dan pemerataan fasilitas pelayanan sosial ekonomi (kesehatan,


pendidikan, air bersih, pemerintahan dan lain-lain).

45
2. Mengembangkan berbagai bentuk pemanfaatan sumber daya alam yang
berbasis perkebunan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut :

a) Peningkatan produktivitas hasil perkebunan, pertanian, perikanan, perternakan


dan kehutanan melalui intensifikasi lahan;

b) Pemanfaatan lahan non produktif secara lebih bermakna bagi peningkatan


kualitas lingkungan dan peningkatan pendapatan masyarakat;

c) Peningkatan teknologi pertanian, termasuk perkebunan, perikanan, peternakan


dan kehutanan sehingga terjadi peningkatan produksi dengan kualitas yang
lebih baik dan bernilai ekonomi tinggi;

d) Penguatan pemasaran hasil pertanian melalui peningkatan sumber daya


manusia dan kelembagaan serta fasilitasi sertifikasi yang dibutuhkan;

e) Pengembangan industri pengolahan hasil kegiatan agro sesuai komoditas


unggulan kawasan dan kebutuhan pasar (agroindustri dan agribisnis); dan

f) Peningkatan kegiatan pariwisata melalui peningkatan prasarana dan sarana


pendukung, pengelolaan objek wisata yang lebih profesional serta pemasaran
yang lebih agresif dan efektif.

3. Memperkuat dan memulihkan fungsi kawasan lindung yang meliputi kawasan


hutan lindung dan kawasan konservasi;

Kebijakan tersebut diwujudkan melalui strategi sebagai berikut :

a) Penetapan tata batas kawasan lindung dan budidaya untuk memberikan


kepastian rencana pemanfaatan ruang dan investasi;

b) Penyusunan dan pelaksanaan program rehabilitasi lingkungan, terutama


pemulihan fungsi kawasan hutan lindung dan Kawasan Taman Wisata Alam
Holiday Resort yang berbasis masyarakat;

c) Peningkatan pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian kerusakan dan


pencemaran lingkungan;

d) Peningkatan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumber daya


keanekaragaman hayati;

46
e) Pengembangan kegiatan konservasi yang bernilai lingkungan dan sekaligus
juga bernilai sosial-ekonomi, seperti hutan kemasyarakatan, dan hutan
tanaman rakyat

Berdasarkan Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan


Peraturan Menteri PU Nomor : 16/PRT/M/2009 Tentang Pedoman Penyusunan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten, Rencana Struktur Ruang Wilayah
Kabupaten merupakan kerangka tata ruang wilayah kabupaten yang tersusun atas
konstelasi pusat-pusat kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan
oleh sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten terutama jaringan transportasi.
Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan tahun 2030
disusun dengan beberapa pertimbangan antara lain kebijakan nasional, seperti ;
RTRW Nasional, RTRW Provinsi Sumatera Utara serta potensi dan permasalahan
yang ada pada setiap wilayah kecamatan.

Setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan memiliki


potensi sumberdaya alam, sumberdaya binaan dan kegiatan sosial ekonomi yang
beragam. Dalam rangka mengurangi kesenjangan perkembangan tiap kecamatan,
maka diperlukan adanya intervensi yang dapat memberikan fungsi dan peran yang
jelas untuk setiap kecamatan sesuai dengan potensi, hambatan, dan tantangannya
dalam bentuk suatu rencana struktur yang mempunyai hirarki keruangan. Rencana
struktur yang dikembangkan tersebut akan mengoptimalkan masing-masing
kecamatan sehingga tercipta pemenuhan kebutuhan antara kecamatan satu terhadap
kecamatan yang lainnya. Apabila sistem pemenuhan kebutuhan terjadi dalam jangka
panjang berarti sistem perekonomian wilayah dapat berjalan sesuai dengan harapan
dan perkembangan ekonomi dapat terwujud.

Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan dirumuskan


berdasarkan :
1. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan,
kebutuhan pengembangan dan pelayanan wilayah kabupaten dalam rangka
mendukung kegiatan sosial ekonomi;
2. Daya dukung dan daya tampung wilayah kabupaten; dan
3. Ketentuan peraturan perundang-undangan.

47
Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan dirumuskan
dengan kriteria :

a. Mengakomodasi rencana struktur ruang nasional, rencana struktur ruang wilayah


provinsi, dan memperhatikan rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota yang
berbatasan;

b. Jelas, realistis dan dapat diimplementasikan dalam jangka waktu perencanaan di


wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan;

c. Pusat-pusat permukiman yang ditetapkan oleh Kabupaten Labuhanbatu Selatan


yang memenuhi ketentuan sebagai berikut :

 Terdiri atas pusat pelayanan kawasan (PPK), pusat pelayanan lingkungan


(PPL), serta pusat kegiatan lain yang berhirarki lebih tinggi yang berada di
wilayah kabupaten yang kewenangan penentuannya ada pada pemerintah
pusat dan pemerintah provinsi;

 Memuat penetapan pusat pelayanan kawasan (PPK) serta pusat pelayanan


lingkungan (PPL); dan harus berhirarki dan tersebar secara proporsional di
dalam ruang serta saling terkait menjadi satu kesatuan sistem wilayah
kabupaten.

d. Dapat memuat pusat-pusat kegiatan selain sebagaimana dimaksud pada point c


diatas, dengan ketentuan sebagai berikut :

 Pusat kegiatan yang dipromosikan untuk di kemudian hari ditetapkan sebagai


PKL promosi (dengan notasi PKLp);

 Pusat kegiatan yang dapat dipromosikan menjadi PKLp hanya pusat pelayanan
kawasan (PPK); dan pusat kegiatan tersebut harus ditetapkan sebagai
kawasan strategis kabupaten dan mengindikasikan program pembangunannya
di dalam arahan pemanfataan ruangnya, agar pertumbuhannya dapat didorong
untuk memenuhi kriteria PKL.

 Sistem jaringan prasarana kabupaten dibentuk oleh sistem jaringan transportasi


sebagai sistem jaringan prasarana utama dan dilengkapi dengan sistem
jaringan prasarana lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.

Rencana Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan merupakan


kerangka tata ruang wilayah kabupaten yang tersusun atas konstelasi pusat – pusat

48
kegiatan yang berhierarki satu sama lain yang dihubungkan oleh sistem jaringan
prasarana wilayah kabupaten. Sistem jaringan prasarana wilayah kabupaten meliputi
sistem prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, dan sumber daya air yang
mengintegrasikannya dan memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada di
wilayah kabupaten. Rencana struktur ruang wilayah kabupaten berfungsi :

1. Sebagai arahan pembentuk sistem pusat kegiatan wilayah Kabupaten


Labuhanbatu Selatan yang memberikan layanan bagi kawasan perkotaan dan
kawasan perdesaan di sekitarnya yang berada dalam wilayah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan ; dan
2. Sistem perletakan jaringan prasarana wilayah yang yang menunjang
keterkaitannya serta memberikan layanan bagi fungsi kegiatan yang ada dalam
wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, terutama pada pusat-pusat
kegiatan/perkotaan yang ada

Rencana pola ruang wilayah kabupaten merupakan rencana distribusi peruntukan


ruang dalam wilayah kabupaten yang meliputi rencana peruntukan ruang untuk fungsi
lindung dan rencana peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Rencana pola ruang
wilayah kabupaten berfungsi :

1. Sebagai alokasi ruang untuk berbagai kegiatan sosial ekonomi masyarakat dan
kegiatan pelestarian lingkungan dalam wilayah kabupaten;

2. Mengatur keseimbangan dan keserasian peruntukan ruang;

3. Sebagai dasar penyusunan indikasi program utama jangka menengah lima


tahunan untuk dua puluh tahun; dan

4. Sebagai dasar dalam pemberian izin pemanfaatan ruang pada wilayah kabupaten.

Rencana pola ruang wilayah kabupaten dirumuskan berdasarkan :

1. Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah kabupaten;


2. Daya dukung dan daya tampung wilayah kabupaten;
3. Kebutuhan ruang untuk pengembangan kegiatan sosial ekonomi dan lingkungan;
dan
4. Ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.

49
Penetapan kawasan strategis merupakan pengalokasi kawasan-kawasan di dalam
wilayah Kabupaten Labuhanbatu Selatan yang diprioritaskan karena memiliki
keutamaan dampaknya tergadap perkembangan Kabupaten Labuhanbatu Selatan dan
pelestariannya, baik dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi, sosial dan budaya,
dan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup

50
Gambar 3.1. Gambar Struktur Pola Ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan

51
Gambar 3.2 Rencana Tata Ruang Kabupaten Labuhanbatu Selatan

52
Gambar 3.3. Kawasan Strategis Kabupaten Labuhanbatu Selatan

53
Instrumen yang sangat penting dalam menentukan setiap kebijakan yang akan
dilaksanakan adalah data yang lengkap dan akurat, oleh karena itu Pemerintah melalui
Departemen Dalam Negeri sejak tahun 1990 mengadakan pengumpulan data yang
terstruktur secara nasional melalui program komputerisasi data pokok, dengan adanya
berbagai perkembangan maka diadakan perbaikan dengan diubah nama programnya
yang lebih spesifik yakni PDP3D (Pusat Data untuk Perencanaan, Pelaksanaan dan
Pengendalian Pembangunan Daerah) sesuai Inmendagri Nomor 23 Tahun 1990
tentang Penyusunan dan Pemanfaatan Data Pokok Pembangunan untuk
Perencanaan, Pelaksanaan dan Pemantauan Pembangunan di Daerah.

Selanjutnya demi memperoleh data yang lengkap dan akurat maka diadakan
perbaikan substansi materi dan beberapa klasifikasi untuk memudahkan dalam
memanfaatkan data dan informasi, maka diterbitkan lagi Inmendagri Nomor 26 Tahun
1998 tentang Pengembangan Pusat Data Perencanaan dan Pengendalian
Pembangunan Daerah (PDP3D) diupayakan agar pemerintah daerah dapat
memanfaatkan data dan informasi yang ada pada seluruh dinas/instansi maupun
Lembaga Non Pemerintah lainnya guna mencapai keterpaduan dan informasi untuk
perencanaan dan pengendalian pembangunan daerah, karena dalam program PDP3D
tidak hanya mengembangkan infrastruktur dan membangunan basis data saja akan
tetapi adalah bagaimana mereformasi atau mengubah pola pikir semua pihak untuk
menempatkan posisi data sebagai hal yang sangat strategis, penting dan mempunyai
komitmen yang tinggi bagi penguatan kelembagaan dan pengembangan sumberdaya
manusia yang profesional dalam menyediakan data yang informatif.

Sejak tahun 2006 Provinsi Sumatera Utara melaksanakan Program Sistem Informasi
Profil Daerah yang dianggarkan secara regional. Sedangkan untuk tahun ini namanya
menjadi Pengembangan Sistem Informasi Profil Daerah (PSIPD), pelaksanaannya
disesuaikan dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional, setiap pemerintah daerah wajib untuk menyusun Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Daerah (RPJMD) dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah(RKPD) dan pada

54
Pasal 31 bahwa perencanaan pembangunan daerah harus didasarkan pada data dan
informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sedangkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah


pada Pasal 152 ayat 1 menyatakan bahwa perencanaan pembangunan daerah harus
didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan
serta dikelola dalam sistem informasi yang terintegrasi secara nasional.

Data dan informasi tersebut menurut Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004


mencakup :

(a) Penyelenggaraan pemerintahan daerah;

(b) Organisasi dan tata laksana pemerintah daerah;

(c) Kepala Daerah, DPRD, perangkat daerah, dan pegawai daerah;

(d) Keuangan daerah;

(e) Potensi sumber daya daerah;

(f) Produk hukum daerah;

(g) Kependudukan;

(h) informasi dasar kewilayahan; dan

(i) informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintah daerah.

55
3.3 METODOLOGI PEKERJAAN

A. Pengumpulan Data
1. Studi Lapangan dengan cara observasi atau mengadakan pengamatan secara
langsung dalam organisasi pemerintahan daerah dan masyarakat serta
lembaga lainnya yang diperkirakan memiliki data yang akurat, serta wawancara
dengan menggunakan instrumen pengumpulan data berupa pedoman
wawancara atau cklis tanpa struktur tertentu dan berkembang sesuai uraian
pokok permasalahan dalam penelitian;

2. Studi kepustakaan dengan mengumpulkan data dan fakta mengenai teori-teori


analisis, tulisan-tulisan orang lain serta dokumen-dokumen berkaitan langsung
atau tidak langsung dengan masalah yang diteliti untuk
membandingkan/menerimanya kedalam pembahasan masalah. Instrumen
pengumpulan data yang digunakan adalah “Sistem control catatan bacaan”
berupa kartu data kepustakaan atau kartu data bibliografi, serta matriks.

B. Kompilasi Data

Data dan informasi yang diperoleh dikelompokkan mengikuti sistematika yang sesuai
dengan kebutuhan pengelompokkan data di atas, dengan menampilkan informasi
tentang data yang diterima (meta data) berupa sumber data, tahun data dan stasus
data (angka tetap, angka sementara, angka proyeksi dan angka perkiraan)

C. Pendokumentasian Data
Pendokumentasi data berupa penyusunan layout tampilan data dan informasi pada
buku dengan format-format tekstual/narasi, tabulasi, peta, foto dokumentasi dan teknik
presentasi yang menarik.

56
Pokok bahasan buku Prodil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan ini
mengklasifikasikan data menjadi 10 (sepuluh) kelompok data yakni data :
(1) Umum;
(2) Sosial Budaya;
(3) Sumber Daya Alam;
(4) Infrastruktur;
(5) Industri, Perdagangan, Keuangan, Koperasi, Usaha dan Investasi;
(6) Ekonomi dan Keuangan;
(7) Politik, Hukum dan Keamanan;
(8) Perizinan,
(9) Tata Ruang, dan
(10) Kebencanaan.

Pengelompokkan data-data tersebut akan dijelaskan pada bagian berikut ini. Data-data
tersebut akan dikumpulkan dalam bentuk data base dan dilengkapi juga dengan
dokumentasi kondisi yang ada di Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Data-data yang
akan di butuhkan dalam pengerjaan Penyusunan Profil Daerah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan adalah :

I. Data umum yang didalamnya mencakup informasi mengenai:


1. Kondisi Fisik Alam, yang meliputi kondisi; Geografis, Topografi,
Penggunaan lahan.
2. Kondisi Pemerintahan; yang mengurai tentang; Administrasi pemerintahan,
Aparatur negara, dan Organisasi Daerah.

II. Kondisi Sosial Budaya, di dalamnya mencakup tentang informasi mengenai :


1. Kondisi demografi, yang mengurai tentang masalah kependudukan dan
ketenagakerjaan.
2. Kondisi Kesehatan, yang mengurai tentang kondisi ;
a. Jumlah fasilitas kesehatan,
b. Jumlah tenaga kesehatan,
c. Kondisi kesehatan masyarakat.
3. Kondisi Pendidikan, yang mengurai tentang ;
a. Jumlah fasilitas pendidikan (pendidikan umum dan keagamaan).
b. Jumlah Siswa dan Guru (pendidikan umum dan keagamaan).

57
c. Angka partisipasi sekolah dan angka putus sekolah.
4. Kondisi Kesejahteraan sosial, yang mengurai tentang ;
a. Masalah kemiskinan dan tingkat kesejahtaraan masyarakat,
b. Jumlah penyandang masalah sosial,
c. Jumlah sarana rehabilitasi social.
5. Kondisi kehidupan beragama, yang menyajikan informasi tentang jumlah
pemeluk agama, jumlah sarana peribadatan, dan lain-lain.

III. Kondisi Sumberdaya alam, yang di dalamnya mencakup informasi mengenai:


1. Kondisi Pertanian, kehutanan, perikanan dan kelautan, peternakan,
perkebunan.
2. Pertambangan dan energy.

IV. Sektor Infrastruktur, yang di dalamnya mencakup informasi mengenai :


1. Pekerjaan Umum,
2. Kepariwisataan ,
3. Pos dan telekomunikasi,
4. Perhubungan dan transportasi.

V. Sektor Industri, Perdagangan, Koperasi dan Lembaga Keuangan, Serta


Investasi; yang di dalamnya mencakup informasi mengenai :
1. Peridustrian,
2. Sebaran fasilitas perdagangan (pasar).
3. Koperasi dan,
4. Lembaga Keuangan.
5. Potensi dan peluang investasi

VI. Sektor Ekonomi dan Keuangan, didalamnya berisi tentang:


1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Pertumbuhan ekonomi dan
PDRB perkapita.
2. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang mengurai
tentang:
a. Pendapatan Daerah,
b. Pendapatan Asli Daerah,
c. Dana Perimbangan, dan
d. Realisasi Belanja Daerah.
e. Tingkat Inflasi Daerah

58
VII. Sektor Politik, Hukum dan Keamanan, yang didalamnya berisi tentang:
1. Kondisi politik daerah.
2. Hukum.
3. Keamanan dan ketertiban.

VIII. Tata Ruang


1. Penyediaan Informasi Rencana Tata Ruang
2. Kawasan/Zona Lindung dan Ruang Terbuka Hijau Publik

IX. Perizinan dan Prosedur Ketentuannya :

X. Kondisi Kebencanaan, yang didalamnya berisi tentang peristiwa/kejadian


bencana dan potensi bencana, antara lain tentang:
1. Bencana Alam,
2. Penyakit menular dan lain-lain.
3. Kebakaran
4. Pengungsian,

Keempat ruang lingkup pada akhirnya harus dibuat dalam bentuk vasualisasi yang
terdiri atas kurang lebih peta-peta, tabel, foto dokumentasi yang representatif dan
menarik, yang antara lain (jika ada) seperti peta-peta :
1. Peta Administrasi,
2. Peta Curah Hujan,
3. Peta Kemiringan Lahan,
4. Peta Geologi,
5. Peta Hidrologi,
6. Peta Jenis Tanah,
7. Peta Kemampuan Tanah,
8. Peta Penyebaran Pemukiman,
9. Peta Kepadatan Penduduk,
10. Peta Jaringan Jalan,
11. Peta Pendapatan Perkapita,
12. Peta Kesesuaian Lahan,
13. Peta Tata Guna Lahan,
14. Peta Penggunaan Tanah,
15. Peta Potensi Pertambangan,

59
16. Peta Kemiskinan Penduduk dan Kerawanan Pangan,
17. Peta Kerawanan Sosial,
18. Peta Sarana Pendidikan,
19. Peta Sarana Kesehatan,
20. Peta Sarana Keagamaan,
21. Peta Potensi Peternakan,
22. Peta Potensi Perikanan,
23. Peta Kehutanan dan,
24. Peta Pertanian/Perkebunan.
25. Peta Potensi Investasi / Sektor Unggulan

Untuk mempermudah pengerjaan maka data akan dikelompokkan berdasarkan


kebutuhan data dan instansi atau organisasi yang memiliki data tersebut.
Pengelompokkan data yang aksn dibutuhkan untuk pengerjaan Profil Daerah
Kabupaten Labuhanbatu Selatan adalah :

Tabel 3.1
Matriks Kebutuhan Data Sistem Informasi Profil Daerah
NO DATA YANG DIBUTUHKAN SUMBER DATA KETERANGAN
1 Labuhanbatu Selatan dalam angka BPS Data
2  Peta administrasi Foto
 Peta curah hujan
 Peta kemiringan lahan
 Peta geologi
 Peta hidrologi
 Peta jenis tanah
 Peta kemampuan tanah
 Peta penyebaran
pemukiman
 Peta kepadatan penduduk
 Peta jaringan jalan
 Peta pendapatan perkapita
 Peta kesesuaian lahan
 Peta tata guna lahan
 Peta penggunaan tanah
 Peta potensi pertambangan
 Peta kemiskinan penduduk
dan kerawanan pangan
 Peta kerawanan social
 Peta sarana pendidikan
 Peta sarana kesehataan
 Peta sarana keagamaan

60
NO DATA YANG DIBUTUHKAN SUMBER DATA KETERANGAN
 Peta potensi peternakan
 Peta potensi perikanan
 Peta kehutanan
 Peta pertanian dan
perkebunan
 Peta potensi investasi dan
sector unggulan
3 Fisik Data dan foto
 Kondisi geografis
 Topografi
 sejarah
4 Administrasi pemerintahan, Aparatur Data dan foto
Negara dan Organisasi daerah
 Bupati dan wakil bupati
 Daftar SKPD terkait
 Struktur organisasi
 Tupoksi
 Data PNS
5 Demografi Dinas kependudukan Data
 Jumlah penduduk dan ketenaga kerjaan
 Pertumbuhan penduduk
 Ketenaga kerjaan
 Jumlah pengangguran
terbuka
6 Kesehatan Dinas Kesehatan Data
 Jumlah fasilitas kesehatan
 Jumlah tenaga kesehatan
 Kondisi kesehatan
masyarakat
7 Pendidikan Dinas pendidikan Data
 Jumlah fasilitas pendidikan
(umum dan keagamaan)
 Jumlah siswa
 Jumlah guru
 Angka partisispasi sekolah
dan putus sekolah
8 Kondisi kesejahteraan sosial Dinas social Data
 Jumlah sarana rehabilitasi
 Jumlah pemeluk agama
 Jumlah sarana peribadatan
9 SDA Dinas pertanian, Data dan foto
 Pertanian dinas perkebunan
 Kehutanan
 Perikanan
 Kelautan
 Peternakan

61
NO DATA YANG DIBUTUHKAN SUMBER DATA KETERANGAN
 Perkebunan
 Pertambangan
 Energy
10 Infrastruktur Data dan foto
 Jalan
 Komunikasi
 Air
11  Perindustrian Data
 Perdagangan
 Pertumbuhan ekonomi
perkapita
 PAD
 Realisasi belanja daerah
 Tingkat inflasi
12 Tata Ruang Dinas Tata Ruang Data dan foto
 Rencana tata ruang
 Zona RTH
13  Bencana alam
 Penyakit menular
 Kebakaran
 Pengungsian

62
4.1. TAHAPAN PERENCANAAN

Pada bab berikut akan dijelaskan rencana kerja konsultan untuk setiap tahapan
kegiatan yaitu Tahap Inisiasi (persiapan), Tahap Identifikasi dan Analisis, Tahap
Perumusan, dan Tahap Penyempurnaan Hasil. Rencana Kerja untuk setiap tahapan
tersebut secara umum tetap mengikuti kerangka besar kegiatan dan tahapan
kegiatannya seperti yang telah dijelaskan pada kerangka acuan kerja (KAK).

Tahap ini berupa kegiatan awal yang umumnya tidak berkaitan secara langsung
dengan kegiatan rekayasa perangkat lunak yang dikembangkan. Beberapa kegiatan
yang ada pada tahap ini adalah:

1. Diskusi awal (dilakukan dengan Tim Teknis)


2. Pembuatan rencana detail pekerjaan.
3. Kegiatan administrasi pekerjaan:
 Kontrak
 Surat – menyurat
4. Identifikasi kebutuhan data yang disusun berdasarkan pengelompokan data
yang mengacu pada 10 (sepuluh) kelompok data, yaitu :
 Data umum
 Kondisi Sosial Budaya
 Kondisi Sumberdaya alam
 Sektor Infrastruktur
 Sektor Industri, Perdagangan, Koperasi dan Lembaga Keuangan, Serta
Investasi

63
 Sektor Ekonomi dan Keuangan
 Sektor Politik, Hukum dan Keamanan
 Tata Ruang
 Perizinan dan Prosedur Ketentuannya
 Kondisi Kebencanaan
5. Pengumpulan data dan informasi untuk rujukan pembangunan kabupaten, baik
mengenai keterkaitan sistem, maupun kegiatan dan ketentuan kerja di
lingkungan Dinas.

Survei lapangan dilakukan untuk melakukan cross check dan melengkapi data yang
didapat dari survei instansional. Survei ini dilakukan dengan melakukan observasi
(pengamatan) langsung di wilayah studi, melakukan wawancara kepad pihak – pihak
yang terkait. Melakukan pengumpulan data sekunder yang sesuai dengan kebutuhan
data dari Satuan Kerja Perangkat Daerah, Instansi Vertikal termasuk data yang
dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Labuhanbatu Selatan serta
literatur tentang hasil-hasil penelitian selanjutnya dilakukan kompilasi sehingga siap
untuk dianalisis.

Wawancara dilakukan untuk mengetahui permasalahan-permasalahan yang ditemui


dalam pengelolaan daya dukung lingkungan tersebut serta untuk mengetahui program-
program atau kebijakan yang akan diterapkan untuk pengelolaan daya dukung
lingkungan untuk lebih lanjutnya.

A. Pengumpulan Data Primer dan Sekunder

1. Pada tahapan ini dilakukan pengumpulan data sekunder yang dimaksudkan


untuk mengidentifikasi pemanfaatan sumberdaya dan isu – isu pembangunan,
serta pengumpulan bahan peta dasar (data bentang alam) dan peta tematik
sesuai skala peta yang telah ditentukan.

2. Studi Lapangan dengan cara observasi atau mengadakan pengamatan secara


langsung dalam organisasi pemerintahan daerah dan masyarakat serta
lembaga lainnya yang diperkirakan memiliki data yang akurat, serta wawancara
dengan menggunakan instrumen pengumpulan data berupa pedoman
wawancara atau cklis tanpa struktur tertentu dan berkembang sesuai uraian
pokok permasalahan dalam penelitian;

64
3. Studi kepustakaan dengan mengumpulkan data dan fakta mengenai teori-teori
analisis, tulisan-tulisan orang lain serta dokumen-dokumen berkaitan langsung
atau tidak langsung dengan masalah yang diteliti untuk
membandingkan/menerimanya kedalam pembahasan masalah. Instrumen
pengumpulan data yang digunakan adalah “Sistem control catatan bacaan”
berupa kartu data kepustakaan atau kartu data bibliografi, serta matriks.

4. Jenis – jenis data dasar serta kedalaman informasi yang dibutuhkan dalam
Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan meliputi data
Bentang Lahan yaitu:
a. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)
 Skala 1 : 100.000 sampai 1 : 50.000
 Kedalaman informasi : Batas Administrasi sampai kecamatan, gedung
dan bangunan, jaringan jalan dan pemanfaatan lahan existing.
b. Peta Sistem Lahan dan Kesesuaian Lahan (Landsystems and
Landsuitability)
 Skala 1 : 250.000
 Kedalaman Informasi : unit lahan, kelerengan, jenis tanah, kontur
tanah dll.
c. Citra Satelit
Citra akuisisi terbaru dengan skala sesuai dengan resolusi yang dibutuhkan
untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dengan skala peta 1 :
200.000).
d. RTRW Kabupaten Labuhanbatu Selatan
 Skala 1 : 200.000 (sesuai ketentuan)
 Kedalaman informasi : Pola Ruang, Struktur Ruang, Arahan
Pemanfaatan Ruang.

Catatan: untuk beberapa atau salah satu jenis data dasar yang tidak dapat
dipenuhi/ditampilkan dengan alasan yang menguatkan, maka dapat ditiadakan/diganti
dengan jenis data dasar lainnya sesuai dengan kebutuhan penyusunan Profil Daerah
Kabupaten Labuhanbatu Selatan

65
B. Identifikasi Kondis Wilayah
Identifikasi potensi wilayah yang meliputi : identifikasi jenis dan sumberdaya,
identifikasi pemanfaatan sumberdaya kawasan lindung serta identifikasi potensi
pengembangan wilayah yang dilakukan melalui ssurvey lapangan untuk
pengumpulan data yang belum tersedia dalam rangka penyusunan katalog
informasi sumberdaya. Adapun jenis data yang akan dikumpulkan meliputi:
a. Data sekunder yang akan dikumpulkan dalam survey lapangan akan
meliputi kebijakan, kondisi fisik wilayah, kondisi sosial budaya, kondisi
ekonomi, kondisipemanfaatan ruang eksisting, kondisi ekologi serta
rencana/studi terkait lainnya. Pengumpulan data sekunder ini sebagai
lanjutan dari pengumpulan data sekunder pada tahap pembuatan laporan
awal sebelumnya.
b. Data primer yang dilakukan secara sistematis melalui perekaman data
(observasi, pengambilan sampling, penghitungan, dan wawancara).

Melakukan analisis data kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik secara


terbatas, yaitu sebatas untuk mengetahui tingkat kecenderungan (trend) baik yang
meningkat maupun yang menurun dari fakta yang ada.

Analisis kebijakan (analisa kebijakan rencana tata ruang Kabupaten Labuhanbatu


Selatan serta perencanaan yang di buat dengan kebijakan pembangunan daerah);
Analisis kewilayahan (analisa perkembangan kawasan di wilayah perencanaan
berdasarkan potensi fisik wilayah dan kondisi ekonomi, sosial budaya yang ada);
Analisis Sosial Ekonomi (Analisa kondisi sosial ekonomi dan strukturnya di wilayah
perencanaan); Analisis Daya Dukung (Analisa daya dukung fisik lingkungan meliputi :
geografi, geo – morfologi, hidrologi, eko – biologis dan daya dukung sosial, ekonomi,
budaya dan politik). Analisis ini menggunakan metode overlay peta untuk masing –
masing variabel fisik, sosial, ekonomi dan budaya berdasarkan kriteria kegiatan. Dari
hasil analisis ini akan dihasilkan kesesuaian lahan pemanfaatan ruang dalam bentuk
ruang peta kesesuaian pemanfaatan ruang.

66
4.2. JADWAL PELAKSANAAN PEKERJAAN

Untuk dapat menyelesaikan kegiatan Jasa Konsultasi Penyusunan Buku Profil


Daerah ini diharapkan dapat diselesaikan dalam waktu 3 (tiga) bulan sejak
ditandatanganinya Perjanjian Kontrak Kerja dan jangka waktu pelaksanaan selama 90
(sembilan puluh) hari kalender terhitung sejak keluarnya Surat Perintah Mulai Kerja
(SPMK).

Berdasarkan rencana kegiatan yang telah disusun sebelumnya maka rencana jadwal
pelaksanaan dibagi dalam beberapa tahapan yaitu:
1. Tahap Persiapan
2. Tahap Penyusunan Pendahuluan
3. Tahap Laporan Draft Akhir
4. Tahap Laporan Akhir
Untuk lebih jelasnya dapat diihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan

Minggu Ke
No Pekerjaan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Tahapan Persiapan
2 Laporan pendahuluan
3 Laporan draft akhir
4 Laporan akhir
5 Buku Profil Daerah
6 CD laporan

67
4.3. TENAGA AHLI

Untuk mendukung pekerjaan “Penyusunan Profil Daerah” dengan kebutuhan tenaga


ahli yang dipersyaratkan terdiri dari tenaga ahli inti (utama) dan tenaga (ahli)
pendukung. Untuk kebutuhan Team Leader dipersyaratkan berpendidikan Jurusan
Perencanaan Wilayah. Untuk tenaga ahli inti lainnya dengan tingkat pendidikan
minimal S1, sesuai bidangnya dan sesuai kualifikasi keahlian yang diperlukan. Untuk
melaksanakan pekerjaan ini konsultan akan menugaskan tenaga ahli yang memiliki
kompetensi keahlian dan kualifikasi yang tinggi dan telah memiliki pengalaman kerja
yang relevan dengan kebutuhan.

Berdasarkan kebutuhan tenaga ahli yang tertuang di dalam Kerangka Acuan Kerja
(KAK), maka kebutuhan tenaga ahli bagi pelaksanaan pekerjaan “Penyusunan Profil
Daerah” adalah sebagai berikut:

1) Team Leader Ahli Perencanaan Wilayah


Disyaratkan sarjana strata satu (S1) lulusan Universitas/Perguruan Tinggi
Perencanaan Wilayah dan memiliki pengalaman menangani pekerjaan
sejenis/sesuai dengan bidangnya minimal 5 (lima) tahun;.

2) Tenaga Ahli
 Ekonomi Pembangunan.
Disyaratkan sarjana strata 1 (S1) lulusan Universitas/Perguruan Tinggi Bidang
Ekonomi Pembangunan dan memiliki pengalaman menangani pekerjaan
sejenis/sesuai dengan bidangnya minimal 3 (tiga) tahun;

 Ahli Desain Grafis.


Diisyaratkan Sarjana strata 1 (satu) bidang Desain Grafis lulusan
Universitas/Perguruan Tinggi dan berpengalaman minimal 3 (tiga) tahun
dibidangnya.

68
3) Tenaga Teknis

a. Asisten Tenaga Ahli bidang desain 1 orang, disyaratkan Sarjana strata 1


(satu) desain lulusan Universitas/Perguruan Tinggi dan berpengalaman
minimal 1 (satu) tahun dibidangnya;

b. TENAGA PENUNJANG

a. Surveyor atau Tenaga Lapangan : 4 orang

Pendidikan minimal Diploma III (D-III) dengan mempunyai pengalaman


dibidang survey;

b. Operator Komputer : 1 orang

Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat dengan


pengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) dibidangnya.

Tugas dan tangung jawab masing-masing personil untuk Pekerjaan Penyusunan Profil
Daerah adalah sebagai berikut :

1) Team Leader Ahli Perencanaan Wilayah


Ketua Tim (Team Leader) 1 (satu) orang, bertanggung jawab terhadap semua
Koordinasi kegiatan Konsultan Perencana, bertanggung jawab kepada Kuasa
Pengguna Anggaran (KPA) Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah
(Bappeda) Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Ketua Tim adalah seorang
Sarjana Jurusan Perencanaan Wilayah, Lulusan PTN/PTS dalam dan Luar
Negeri, yang berpengalaman dalam penyusunan profil daerah atau fungsi
sejenis minimal selama 5 (lima) tahun.
Tugas dan tanggung jawab team leader:
 Sebagai penanggung jawab pekerjaan secara keseluruhan dan
bertanggung jawab secara langsung kepada Pemberi Tugas.
 Mengatur semua personil yang terlibat dalam pekerjaan pengambilan data
lapangan.
 Menyusun rencana kerja dan pembagian tugas kerja.
 Mengarahkan tenaga ahli dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab
sesuai dengan bidang keahliannya.

69
 Mengkoordinasikan kemajuan pekerjaan kepada Pemberi Tugas.
Bertanggungjawab dalam penyusunan laporan.
 Menganalisis kondisi eksisting, data-data pendukung baik data primer
maupun sekunder terhadap aspek kependudukan, ekonomi, karakteristik
kawasan, dan sebagainya.
 Mengidentifikasi potensi dan permasalahan kawasan.
 Melakukan pekerjaan perencanaan.
 Turut menyusun laporan-laporan dan mampu mempresentasikan hasil
pekerjaan.
2) Tenaga Ahli Ekonomi Pembangunan
Tenaga Ahli Ekonomi 1 (satu) orang, dengan tugas utama adalah pengendalian
kegiatan yang berhubungan dengan aspek kebutuhan invetasi pengembangan
kawasan. Tenaga Ahli Ekonomi adalah seorang Sarjana Jurusan Ekonomi,
Lulusan PTN/PTS dalam dan Luar Negeri, yang berpengalaman dalam bidang
ekonom1 selama 3 (tiga) tahun.

3) Tenaga Ahli Desain Grafis


Tenaga Ahli Informatika 1 (satu) orang, dengan tugas utama adalah
pengendalian kegiatan yang berhubungan dengan aspek design dengan
perangkat komputer. Tenaga Ahli Desain Grafis adalah seorang Sarjana
Jurusan Informatika, Lulusan PTN/PTS dalam dan Luar Negeri, yang
berpengalaman dalam bidang komputer selama 3 (tiga) tahun.

Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Tenga Ahli

Minggu Ke
No Keahlian
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
1 Ahli utama / team leader
2 Ahli Ekonomi Pembangunan
3 Ahli Desain Grafis

70
4.4. ORGANISASI PEKERJAAN

Pemilik kegiatan “Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu Selatan”


merupakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten
Labuhanbatu Selatan, dengan Kepala Bappeda sebagai Pengguna Anggaran tersebut.
Dalam pelaksanaannya kegiatan ini diketuai oleh Kepala Bappeda Kabupaten
Labuhanbatu Selatan sebagai penanggung jawab kegiatan.

Pelaksanaan kegiatan ini utamanya akan menggunakan jasa pihak konsultan terpilih
hasil proses pengadaan barang/jasa untuk menyusun keluaran sebagaimana yang
ditentukan dalam KAK kegiatan ini. Pihak konsultan bertanggung jawab sepenuhnya
kepada Kepala Bappeda selaku pengguna anggaran. Selanjutnya Pihak Konsultan
dalam proses pengerjaan kegiatan ini berkoordinasi kepada tem teknis sesuai dengan
uraian tugasnya masing-masing sebagaimana yang dijabarkan nantinya dalam suatu
Surat Keputusan Kepala Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Selatan mengenai
Pembentukan dan Penetapan Tim Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan

Adapun beberapa Tim Pokja sebagaimana yang dimaksud antara lain: tim teknis, tim
asistensi, tim koordinasi dan tim sekretariat. Masing-masing tim tersebut langsung
bertanggung jawab kepada Kepala Bappeda Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Adapun
struktur organisasi kegiatan dapat dilihat pada Gambar berikut ini:

71
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Kegiatan Penyusunan Buku Profil Daerah

4.5. SISTEM PELAPORAN

Laporan Pelaksanaan Kegiatan Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten


Labuhanbatu Selatan ini dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu:

1. Laporan Pendahuluan
a. Laporan Pendahuluan merupakan laporan pelaksanaan pekerjaan tahap
awal yang akan dikerjakan oleh Pihak Konsultan. Substansi yang disajikan
minimal memuat rencana pelaksana pekerjaan untuk menyelesaikan
pekerjaan yang dilakukan meliputi persiapan waktu, tenaga ahli, rencana
lokasi survey, metodologi yang digunakan, metode analisis yang akan
digunakan dan rencana pelaporan.
b. Pengumpulan data sekunder dan bahan peta dasar (data bentang alam)
serta peta tematik sesuai skala peta yang telah ditentukan.
c. Laporan pendahuluan disusun berdasar pengumpulan data – data
sekunder dan bahan peta dasar tentang sumberdaya dan kondisi eksisting
kawasan.

72
d. Laporan Pendahuluan, dikumpulkan dalam waktu 1 bulan setelah
dikeluarkannya SPMK (Surat Perintah Mulai Kerja).
e. Jumlah laporan Pendahuluan sebanyak 5 (Lima) eksemplar.

2. Draft Laporan Akhir


a. Draft Laporan Akhir merupakan laporan yang telah disosialisasikan yang
berisi hasil survey serta laporan hasil pengumpulan data dan informasi di
lapangan melalui ssurvey lapangan yang dibutuhkan untuk
menginformasikan tematik atau kondisi lapangan yang belum terangkum di
dalam laporan awal.

b. Laporan Draft Akhir


Draft laporan Akhir Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan umumnya memuat hasil kajian awal yang telah
dipresentasikan, memuat survey informasi sumberdaya yang telah disusun
serta isu – isu pokok permasalahan dan hasil survey yang selanjutnya
dilakukan analisis, yaitu:
1. Isu – isu pokok permasalahan wilayah perencanaan (isu – isu pokok
spasial, isu – isu pokok pengembangan kehutanan, isu – isu pokok
pengembangan infrastruktur wilayah, isu – isu pokok pengembangan
hasil produksi dan pemanfaatan hasil hutan, isu-isu pokok kondisi
pemerintahan daerah.
2. Hasil Survey
3. Analisis dan kompilasi data-data sekunder dan primer. Data dan
informasi yang diperoleh dikelompokkan mengikuti sistematika yang
sesuai dengan kebutuhan pengelompokkan data di atas, dengan
menampilkan informasi tentang data yang diterima (meta data) berupa
sumber data, tahun data dan stasus data (angka tetap, angka
sementara, angka proyeksi dan angka perkiraan)

4. Draft laporan akhir dibuat sebanyak 5 eksemplar atau disesuaikan


dengan kebutuhan seminar beserta buku laporan profil daerah yang
siap untuk digunakan.

73
3. Laporan Akhir
Laporan Akhir Penyusunan Buku Profil Daerah Kabupaten Labuhanbatu
Selatan merupakan revisi akhir dari draft laporan akhir yang telah
mendapat masukan dan tambahan serta dikemas dengan baik. Umumnya
memuat hasil kajian terakhir yang telah dipresentasikan serta isu – isu
pokok permasalahan dan hasil analisa yang selanjutnya dilakukan
penyusunan dokumen Profil Daerah, yaitu
1. Muatan laporan akhir disesuaikan dengan output dan tujuan kegiatan
yang selanjutnya disusun menjadi Dokumen Profil Daerah Kabupaten
Labuhanbatu Selatan.
2. Pendokumentasi data berupa penyusunan layout tampilan data dan
informasi pada buku dengan format-format tekstual/narasi, tabulasi,
peta, foto dokumentasi dan teknik presentasi yang menarik.
3. Matriks Keterkaitan antara analisa data yang telah dikompilasi
sebelumnya.
4. Laporan Akhir (yang telah diadakan perbaikan/penyempurnaan dalam
seminar draft akhir) dibuat sebanyak 10 eksemplar dan CD sebanyak
10 (Sepuluh) Keping.

74