Anda di halaman 1dari 3

Setelah larutan stok dipersiapkan, selanjutnya dipersiapkan mencit yang akan digunakan untuk

perlakuan. Dalam hal ini, cara memegang mencit harus diperhatikan agar proses pemberian obat dapat
berjalan lancar dan meminimalisir terjadinya kesalahan. Adapun cara memegang mencit yang benar
adalah awalnya ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan, letakkan pada suatu tempat yang
permukaannya tidak licin misalnya kasa, ram kawat,dan untuk praktikum kali ini digunakan ram kawat
sehingga kalau ditarik mencit akan mencengkeram ram kawat tersebut . Lalu telunjuk dan ibu jari tangan
kiri menjepit kulit tengkuk ekornya masih dipegang dengan tangan kanan. Kemudian posisi tubuh mencit
dibalikkan sehingga permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan antara jari manis dan
kelingking tangan kiri.

Setelah mengkondisikan posisi mencit, selanjutnya diberikan obat untuk mengetahui perbandingan
kecepatan absorbsinya berdasarkan waktu onset nya. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut :

WAKTU
CARA WAKTU
NO REPLIKASI PENYUNTIK ONSET
PEMBERIAN BEREFEK
AN

1. Oral B2. 1 (24,2 g) 16.45 17.27 47

B2. 2 (28,8 g) 16.50 17.44 54

B2. 3 (23,5 g) 17.05 17.43 38

2. Subkutan B2. 1 (25,3 g) 17.00 17.09 9

B2. 2 (24,9 g) 17.00 17.44 44

B2. 3 (23,5 g) 16.47 17.19 32

3. Intraperitonial B2. 1 (28,0 g) 17.12 17.25 13

B2. 2 (21,5 g) 16.55 17.16 21

B2. 3 (24,4 g) 16.44 17.25 41

4. Intramuskular B2. 1 (23,7 g) 16.33 16.51 18

B2. 2 (28,1 g) 17.15 17.28 13

B2. 3 (24,4 g) 17.10 17.30 20

Pada praktikum ini pertama dilakukan pemberian obat secara per oral. Pemberian per oral merupakan
rute pemberian jalur eternal melalui gastrointestinal. Pada cara ini dilakukan dengan bantuan jarum
suntik yang ujungnya tumpul. Hal ini dikarenakan untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya
infeksi akibat luka yang disebabkan oleh jarum suntik. Diambil 0,242 ml kemudian dimasukkan pelan-
pelan kedalam mulut mencit melalui langit-langit kearah belakang esophagus. Apabila jarum sudah
masuk melalui esophagus mencit, kemudian jarum didiamkan tanpa ditekan maka akan masuk sendiri
sampai hampir seluruh jarum masuk dalam mulut mencit. Setelah jarum benar-benar masuk esophagus
mencit, kemudian cairan dimasukkan sampai larutan dalam jarum suntik habis. Jangan dipaksakan
masuk, karena akan menyebabkan luka pada mencit dan dapat mempengaruhi hasil percobaan.

Berdasarkan percobaan tersebut, kondisi mencit sebelum diinjeksi sehat dan aktif, setelah diberikan
luminal mencit menjadi lemas dan reflek balik badannya hilang. Hilangnya reflek balik badan tersebut
ditandai dengan hilangnya kemampuan hewan uji untuk membalikkan badan dari keadaan terlentang.
Kemudian dihitung onset obat tersebut.Onset dihitung dari saat pemberian obat hingga timbulnya efek
obat pada percobaan ini diperoleh hasil dari pemberian per oral kelompok 1 adalah 47 menit untuk
kelompok 2 adalah 54 menit dan kelompok 3 mendapatkan hasil 38 menit.Absorbsi obat dengan
pemberian secara peroral pada waktu onset terjadi paling lama, dikarenakan absorbsinya harus
melewati epitel usus halus yang permukaannya luas karena berbentuk vili yang berlipat dan lambung
karena dindingnya tertutup lapisan mukus yang tebal.

Selanjutnya adalah pemberian obat secara subcutan merupakan pemberian obat melalui parenteral
dengan menggunakan jarum atau spuit .Mencit harus dipegang seperti pada pemberian oral. Untuk
mengekang mencit bisa dilakukan dengan ibu jari telunjuk sementara mencit dibiarkan mencengkeram
suatu permukaan yang kasar. Penyuntikan dilakukan dibawah kulit tengkuk mencit, dilakukan secara hati-
hati karena dapat menembus pada daging mencit.

Pemberian subcutan diberikan karena daerah subcutan memiliki suplai darah yang baik dari kapiler-
kapiler dan pembuluh limfa. Setelah injeksikan, diamati reflek balik badan mencit sehingga diperoleh
waktu onset pada kelompok 1 adalah 9 menit, pada kelompok 2 mendapatkan hasil 44 menit dan pada
kelompok 3 mendapatkan hasil 32 menit. Absorbsi obat dengan pemberian secara subcutan lebih cepat
dibandingkan dengan p.o dan i.p namun lebih lama dari i.m, namun pada waktu durasi merupakan yang
paling lama. Hal tersebut dikarenakan pada pemberian subcutan tidak mengalami fase firs pass sehingga
tidak melalui saluran pencernaan dan vena portal, sehingga absorbsinya berlangsung agak lambat dan
konstan sehingga efeknya bertahan lama.

Selanjutnya dilakukan pemberian melalui intramuscular. Pemberian obat dengan intramuscular


merupakan pemberian secara parenteral.Kecilnya massa otot pada mencit memyebabkan volume obat
yang diinjeksikan relatif kecil. Otot paha bagian posterior dan anterior merupakan tempat paling sering
digunakan untuk injeksi. Maka dari itu pemberian melalui intramuscular dilakukan pada gluteus maximus
(otot paha) dari mencit dengan menggunakan spuit . Sebelum menginjeksikan obat, terlebih dahulu
memposisikan mencit dengan posisi terlentang dan kaki agak ditarik keluar agar paha bagian luar
terlihat, lalu bagian paha mencit terlebih dahulu diraba untuk menemukan otot paha mencit. Pemberian
obat melalui i.m ini harus dilakukan oleh dua orang, dimana satu orang bertugas memegang mencit
dengan posisi telentang dan satu orang lagi menginjeksikan pada mencit. Penginjeksian ini dilakukan
dengan hati-hati karena bisa saja spuit menembus tulang paha dan dapat menyebabkan cacat tulang
paha mencit. Injeksi dilakukan dengan sudut kurang lebih 45º dari otot sehingga obat masuk kedalam
serabut otot lurik.

Absorbsi obat melaui i.m memiliki waktu onset paling cepat yaitu pada kelompok 1 mendapatkan hasil
18 menit, kelompok 2 mendapatkan hasil 13 menit dan kelompok 3 20 menit , Hasil yang didapat durasi
nya lebih cepat jika dibanding dengan pemberian obat secara subcutan . Hal tersebut dikarenakan obat
akan langsung terabsorbsi ke sirkulasi sistemik, tidak melewati first pass elimination di hepar dan
hidrolisis oleh enzim dalam pencernaan.

Yang terakhir adalah pemberian obat melalui peritoneal.Pemberian obat ini diberikan dengan cara
pertama diposisikan mencit telentang, kemudian bagian perut yang akan diinjeksikan adalah bagian yang
berada ditengah garis sejajar jika ditarik dari ujung kepala hingga bawah perut mencit. Pada saat
menginjeksikan harus hati-hati karena dapat saja menembus organ usus dan dapat berakibat kebocoran
usus dan kematian,serta jarum harus menembus dinding ditengah cuadran posterior abdomen guna
menghindari bandung kencing dan hepar. Diharapkan pemberian obat melalui i.p ini dapat diabsorbsi
cepat karena pada mesentrium banyak pembuluh darah, sehingga absorbsinya lebih luas.

Secara teoritis, onset intraperitoneal paling pendek dibandingkan dengan cara pemberian lainnya. Hal
tersebut berkebalikan dengan hasil praktikum kami, dikarenakan waktu onset pada i.p adalah lebih lama
dibandingkan i.m namun lebih cepat dibandingkan p.o. dan s. c.

Berdasarkan hasil praktikum, terjadi beberapa kesalahan sehingga hasilnya tidak sesuai dengan teori.
Adapun beberapa kesalahan tersebut adalah :

1. Kesalahan penyuntikan pemberian obat.

2. Kesalahan dalam menghitung waktu onset.

3. Faktor pengganggu lainnya, seperti keadaan mencit, sediaan obat dan faktor lingkungan.