Anda di halaman 1dari 15

AKUNTANSI KEPERILAKUAN

RINGKASAN MATA KULIAH SAP 6

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAKUMULASIAN DAN


PENGENDALIAN BIAYA

OLEH :

KELOMPOK 8

Ngurah Surya Maotama (1607532129)


I Gusti Ayu Agung Yustika Nanda (1607532136)
Putu Venny Yunita (1607532142)
Anak Agung Mas Prabha Iswara (1607532152)

PROGAM NON REGULER

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA

2018
1. Biaya dengan Fungsi Manajemen
Dalam suatu perusahaan manufaktur, biaya dibagi menjadi dua kategori utama berdasarkan
aktivitas fungsionalnya menjadi biaya manufaktur dan biaya non manufaktur (biaya
beroperasi). Biaya manufaktur merupakan seluruh biaya yang berhubungan dengan aktivitas
pabrikasi perusahaan. Biaya manufaktur dibagi menjadi tiga kategori yaitu bahan baku
langsung adalah semua bahan baku yang menjadi satu bagian integral dari produk jadi, bahan
bahan kecil lainnya disebut bahan baku tidak langsung dan digolongkan sebagai bagian dari
overhead pabrik. Tenaga kerja langsung adalah tenaga kerja yang dilibatkan secara langsung
dalam pembuatan produk, tenaga kerja tidak langsung adalah tenaga kerja yang tidak dilibatkan
secara langsung dalam pembuatan produk dan digolongkan sebagai bagian overhead pabrik.
Biaya overhead pabrik dapat didefinisikan sebagai seluruh biaya manufaktur, kecuali bahan
baku langsung dan tenaga kerja langsung. Terdapat beberapa kategori biaya yang tumpang
tindih dengan kategori ini, antara lain biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung ketika
digabungkan disebut biaya utama (prime cost), biaya tenaga kerja langsung dan overhead
pabrik ketika digabungkan disebut biaya konversi (conversion cost) atau biaya proses.
Biaya kualitas merupakan biaya yang terjadi karena mutu produk yang rendah atau untuk
mencegah agar mutu yang rendah tidak terjadi. Subkategori dari biaya kualitas adalah biaya
pencegahan merupakan biaya yang terjadi untuk mencegah dihasilkannya produk cacat, biaya
yang dikeluarkan untuk pencegahan akan memperkecil biaya yang terjadi untuk penilaian dan
kegagalan. Biaya penilaian merupakan biaya yang dibuat untuk melakukan pemantauan atau
inspeksi. Biaya ini dikeluarkan untuk mendeteksi kegagalan produk. Biaya kegagalan internal
merupakan biaya kegagalan yang terjadi selama proses manufaktur atau proses produksi. Biaya
kegagalan eksternal merupakan biaya kegagalan yang terjadi setelah produk dijual.
Biaya non manufaktur dibagi menjadi biaya penjualan yang merupakan semua biaya yang
dihubungkan dengan aktivitas penjualan dan pengiriman dari produk dan biaya umum dan
administrasi adalah mencakup semua biaya yang terjadi dalam kaitannya dengan pelaksanaan
aktivitas umum dan administrasi.
2. Pentingnya Manajemen Biaya
Anggaran biaya dan analisis biaya adalah salah satu cara mengendalikan dan mengatur biaya
guna memperbaiki laba bersih. Cara lain untuk memperbaiki laba bersih adalah mengurangi
biaya, tanpa memedulikan konsekuensinya. Satu dari cara terbaik untuk mengatur biaya adalah
memahami bahwa terdapat banyak jenis biaya. Jika satu biaya dapat dikenali dari jenis biaya
yang sedang dipertimbangkan, keputusan yang lebih baik dapat dibuat.
3. Sistem Biaya Tradisional versus Biaya Standar
1) Tujuan dan Penggunaan Sistem Akuntansi Biaya
Akuntansi biaya mengidentifikasi, menguantifikasi, mengakumulasikan, dan
melaporkan berbagai elemen biaya yang berkaitan dengan produksi barang atau penyerahan
jasa. Akuntansi biaya memiliki dua tujuan, melalui akumulasi biaya untuk penilaian
persediaan dan penentuan laba, akuntansi biaya melayani kebutuhan pengguna eksternal
seperti pemegang saham, kantor pemeriksaan pajak, dan kreditor. Dengan menyediakan
manajemen dengan informasi biaya yang tepat waktu dan relevan, akuntansi biaya
membantu dalam perencanaan, pengendalian, dan evaluasi aktifitas operasional harian dan
orang yang bertanggung jawab untuk itu. Data biaya juga memainkan peranan dalam
analisis dan penilaian profitabilitas relatif atau tingkat yang diinginkannya suatu alternatif
keputusan.
Pendekatan dan sistem yang digunakan dalam menyediakan informasi biaya sangat
berbeda satu sama lain. Setiap jenis memiliki aspek keperilakuannya sendiri. Bila hal ini
diabaikan, maka respon manusia yang tidak diinginkan dapat timbul, dimana hal tersebut
berkisar dari agak mengganggu sampai benar-benar destruktif.
2) Sistem Biaya Tradisional (Historis)
Istilah tradisional (historis) mengacu pada sistem biaya yang membatasi input pada biaya
historis dan mengusahakan penyerapan penuh atas biaya tetap dan variable oleh unit produk
atau jasa. Sistem biaya tradisional atau historis terutama fokus kepada identifikasi dan
akumulasi biaya per unit produk atau jasa. Sistem tersebut digunakan untuk menghitung
nilai pesediaan dan data biaya harga pokok penjualan atau jasa yang dibrikan untuk
pelaporan keuangan eksternal. Tetapi sistem biaya trsdisional tidaklah sesuai untuk
pengendalian manajemen yang efektif karena akumulasi data biaya historis semata-mata
tanpa perbandingan dengan sasaran biaya yang telah ditentukan sebelumnya tidak sesuai
dengan konsep pengendalian kontemporer.
Salah satu kelemahan uatama dari sistem biaya tradisional ini adalah bahwa persyaratan
akuntansi keuangan menuntut agar biaya per unit produk atau jasa memperhitungkan semua
biaya, baik yang dapat ditelusuri ke suatu produk atau jasa, maupun yang terjadi untuk satu
periode waktu tertentu atau untuk lebih dari satu objek biaya.
Kelemahan utama lainnya yang berkaitan dengan penggunaan sistem biaya tradisional
untuk tujuan pengendaian bahwa satu-satunya dasar untuk pengendalian adalah
perbandingan kinerja saat ini dengan kinerja dari periode sebelumnya. Membandingkan
kinerja saat ini dengan periode sebelumnya dapat cukup menyesatkan karena tidak ada cara
untuk mengetahui apakah biaya dari periode sebelumnya terlalu tinggi, terlalu rendah, atau
hamper tepat. Yang sama membingungkannya adalah varians anggaran yang ditimbulkan
dari membandingkan hasil kinerja actual dengan standar anggaran yang ditetapkan untuk
suatu tingkat aktifitas yang berbeda dengan yang aktualnya dicapai.
4. Sistem Biaya Standar
1) Ruang Lingkup
Mengakui kelemahan dari sistem biaya tradisional, banyak organisasi mengadopsi
“sistem biaya standar”. Sistem biaya standar mencerminkan pencampuran yang potensial
efektif dari akuntansi dengan konsep pengendalian dan teori organisasi modern. Biaya
standar adalah sasaran biaya per unit produk atau jasa yang ditentukan sebelumnya secara
ilmiah, yang dikembangkan melalui studi teknik dan akuntansi.
Aspek pengendalian yang melekat dari perhitungan biaya standar adalah kapabilitasnya
untuk membandingkan, sebagai bagian dari arus data regular, kinerja actual dengan standar
yang ditentukan sebelumnya dan untuk menyoroti varians antara kedua tingkat biaya
tersebut.
2) Kompatibilitas dengan Konsep Teori Organisasi Modern
Dalam mengembangkan kerangka kerja untuk sistem biaya standar yang sesuai dengan
konsep teori organisasi modern, langkah-langkah pengendalian berikut ini, sebagaimana
dijelaskan oleh Edwin Caplain, adalah penting :
(1) Penetapan tujuan organisasi
(2) Penentuan pusat pertanggungjawaban yang sesuai dan penugasan fungsi kepada
masing-masing.
(3) Pengisian staf dari pusat pertanggungjawaban dengan individu-individu yang
memiliki kemampuan, motivasi, dan pengetahuan yang mencukupi untuk
melakukan fungsinya.
(4) Penciptaan jalur komunikasi antara pusat pertanggungjawaban dan unit organisasi
lainnya serta, dimana perlu, lingkkungan eksternal.
(5) Pengembangan prosedur yang memastikan bahwa informasi yang mencukupi,
relevan, dan tepat waktu sepanjang jalur komunikasi.
(6) Desain dan implementasi mekanisme pengendalian yang mengukur dan
mengevaluasi kinerja dalam hal tujuan organisasi dan memberikan umpan balik
mengenai penyesuaian yang diperlukan dalam tujuan dan atau kinerja.
Sistem biaya standar dirancang untuk berfungsi secara simultan sebagai suatu sumber
informasi, jalur komunikasi, dan alat pengendalian serta evaluasi kinerja. Sebagai sumber
informasi untuk pusat pertanggungjawaban, sistem biaya standar menginformasikan kepada
individu yang bertanggung jawab apa yang diharapkan dari mereka dalam hal biaya.
Sebagai jalur komunikasi, sistem biaya standar menyebarkan tingkat biaya yang diharapkan
dan pencapaiannya. Pengendalian atas operasi dari pusat pertanggungjawaban dicapai
melalalui laporan biaya standar periodik yang menyediakan umpan balik mengenai hasil
kinerja masa lalu dan penyimpangan dari standar kepada individu yang tepat.
5. Perhitungan Biaya Langsung atau Variabel
1) Filosofi yang Mendasari
Semua metode akuntansi biaya tradisional, sesuai dengan konsep biaya tersebut,
membebankan unit produk atau jasa dengan biaya penuh. Bahan baku langsung dan tenaga
kerja langsung dibebankan langsung ke unti produk atau jasa, sementara overhead tetap dan
variable pada kebanyakan kasus diserap berdasarkan estimasi tarif yang didasarkan pada
volume yang telah ditentukan sebelumnya.
Perhitungan biaya langsung atau biaya variabel membedakan antara biaya produksi
dengan biaya untuk siap menghasilkan (overhead tetap atau biaya periode). Hanya biaya
yang ditimbulkan oleh produksi atau penyerahan jasa sekarang saja yang diklasifikasikan
sebagai biaya per unit produk atau jasa dan dikapitalisasi sampai barang-barang tersebut
terjual atau jasanya diserahkan.
Pendukung perhitungan biaya langsung mempertimbangkan pembagian overhead
berdasarkan struktur biayanya sebagai kebutuhan dasar untuk pengendalian biaya yang
efektif serta pengambilan keputusan yang berarti. Ketika menentukan margin kontribusi
bulanannya atau selisih antara variabel dengan harga jual, perusahaan manufaktur harus
memperhitungkan overhead manufaktur tetap sebagai salah satu biaya melakukan bisnis
bersama-sama dengan beban administrasi, pergudangan, dan penjualan.
2) Dorongan Keperilakuan
Konsep, prinsip, dan praktik akuntansi mempengaruhi pengukuran kinerja menajerial;
konsekuensinya, keputusan manajemen. Hal ini tidak selalu mengarah pada hasil yang
diharapkan karena banyak ukuran kinerja memiliki bias yang terkandung di dalamnya, yang
memotivasi manajer untuk memilih alternatif tindakan yang tidak sesuai dengan
kepentingan operasi dan/atau keuangan perusahaan.
Hawkins menyatakan bahwa konsep, prinsip dan praktik akuntansi adalah bagus secara
keperilakuan maupun teknis, jika konsep, prinsip, atau praktik tersebut:
(1) Menghambat manajer dari pengambilan berbagai tindakan operasi yang tidak
menguntungkan guna membenarkan adopsi atas suatu alternatif akuntansi.
(2) Menghambat adopsi atas praktik akuntansi oleh perusahaan yang hanya menciptakan
ilusi kinerja.
3) Pengendalian Biaya
Membagi biaya ke dalam komponen variabel dan tetap memberikan dasar yang lebih
baik untuk pengendalian biaya. Hal tersebut memungkinkan penyusunan laporan laba rugi
menggunakan margin kontribusi yang menekankan pada pola perilaku biaya dan
memberikan perincian kepada manajemen mengenai biaya teknik, biaya yang
dikomitmenkan, dan biaya diskresioner.
(1) Biaya teknik: meliputi biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung, dan
biaya overhead variable
(2) Biaya tetap yang dikomitmenkan atau biaya kapasitas: adalah seluruh biaya
organisasi dan pabrik yang terus terjadi dan yang tidak dapat dikurangi tanpa
merugikan kompetensi organisasi untuk memenuhi tujuan jangka panjang.
(3) Biaya diskresioner: biaya yang muncul dari keputusan periodik mengenai jumlah
maksimum yang akan dikeluarkan, biaya yang tidak memiliki hubungan optimum
yang dapat ditunjukkan antara input dan output.
4) Pengambilan Keputusan
Pengetahuan akan biaya diferensial atau biaya variabel serta margin kontirbusi akan
mempengaruhi perilaku manajer dan mengarahkan mereka pada pengambilan keputusan
yang lebih baik. Beberapa situasi pengambulan keputusan yang umum akan dijelaskan
berikut ini.
(1) Keputusan Bauran Produk
Ketika dihadapkan dengan keputusan mengenai bauran produk, manajer penjualan
yang mengetahui margin kontribusi dari produk-produknya akan jauh lebih mampu
untuk memutuskan produk mana yang akan didorong dan mana yang harus dikurangi
atau ditolerir hanya karena penjualannya menguntungkan produk lain.
(2) Penentuan Harga Produk Baru
Produk baru umumnya diterima di pasar stelah diuji coba secara ekstensif oleh
perusahaan yang memiliki reputasi dal;am industry tersebut.
(3) Penetrasi Pasar
Manajer dapat menggunakan biaya variabel sebagai dasar untuk penentuan harga
ketika mereka bermaksud memasuki pasar baru dengan produk yang sudah ada atau
ketika mereka terpaksa menghadapi persaingan yang semakin meningkat selama periode
di mana permintaan menurun.
(4) Penghapusan Produk
Margin kontribusi akan membantu manajemen dalam menentukan apakah akan
menghentikan suatu produk atau hanya berhenti menjualnnya dipasar tertentu.
(5) Pesanan Khusus
Dalam pemesanan khusus terdapat dua jenis situasi pemesanan khusus. Situasi
tersebut dapat melibatkan akomodasi untuk pelanggan istimewa atau persyaratan khusus
untuk ukuran, metode pengiriman, atau pengemasan.
(6) Kampanye Iklan Dan Promosi
Untuk meningkatkan volume penjualan saat ini, perusahaan dapat meluncurkan
kampaye iklan dan promosi khusus. Semakin tinggi margin kontribusi dari produk yang
dipromosikan atau diiklankan, maka semakin besar manfaat bersih potensialnya;
semakin rendah margin kontribusi, maka semakin banyak tambahan unit yang harus
dijual untuk menutupi tambahan biaya.
(7) Keputusan Mengurangi Biaya.
Jika harga jual suatu perusahaan ditetapkan oleh pesaing, maka manjemen akan
mengetahui besarnya biaya variabel yang diperkenankan pada volume operasi saat ini
jika tujuan laba tertentu harus dicapai.
6. Pengendalian Biaya
1) Penetapan Standar
Elemen yang paling berpengaruh dalam menentukan keberhasilan atau kegagalan sistem
biaya adalah standar yang digunakan sebagai kriteria kinerja. Standar yang memiliki fungsi
ganda, yaitu, berfungsi sebagai tujuan untuk memotivasi pengendalian biaya dan sebagai
alat evaluasi kinerja.
Roymond Miles dan Roger Vern mengemukakan empat prasyarat utama bagi sistem
pengendalian yang unggul secara keperilakuan
(1) Standar haruslah ditetapkan dengan cara yang sedemikian rupa sehingga orang
menerimnya sebagai sesuatu realistisdan bukannya arbitrer.
(2) Orang-orang harus merasa bahwa mereka memilih pengaruh dalam menetapkan
tujuan mereka sendiri.
(3) Orang-orang harus yakin bahwa mereka tidak akan dihukum secara tidak adil untuk
variasi normal yang terjadi secara kebetulan dalam kinerja.
(4) Umpan balik atas kinerja haruslah bertujuan untuk koreksi maupun evaluasi.
2) Partisipasi dalam Penetapan Standar
Michael Foran dan Don DeCoster meringkas logika yang mendasari seluruh argumen
yang mendukung partisipasi menjadi “Jika seseorang pekerja berpartisipasi dalam
menetapkan standar kinerjanya sendiri, maka ia akan membuat komitmen yang tegas
terhadap standar tersebut, sehingga akan bekerja keras untuk mencapainya”. Dalam salah
satu studi empiris, mereka menggunakan teori disonansi kognitif untuk mendapatkan lebih
banyak wawasan mengenai penyebab partisipasi lebih efektif dalam penetapan standar
kinerja. Dalam konteks penetapan standar, teori ini mengimplikasikan bahwa jika manjemen
menginginkan komitmen yang pasti terhadap standar, maka individu yang dikendalikan
harus memiliki pilihan ( kemauan). Ketika memilih sekelompok standar kinerja tertentu
mereka mengalami keraguan (disonasi) mengenai kebijaksanaan dari pilihan mereka. Jika
hasilnya baik maka keraguan mereka akan hilang dan komitmen yang meningkat akan
terjadi.
3) Standar yang Ketat vs Standar yang Longgar
Untuk berfungsi sebagai alat motivasi, standar yang digunakan haruslah tidak terlalu
ketat dan tidak terlalu longgar. Standar yang ketat akan lebih sering tidak tercapai daripada
dipenuhi. Standar yang ketat adalah tantangan yang berguna bagi mandor atau manajer yang
akan termotivasi oleh kebutuhan akan prestasi yang luar biasa. Sementara itu, standar yang
longgar tidak memberikan manfaat motivasional apapun karena standar begitu mudah
dicapai. Jadi, mandor dan manajer mengabaikan standar tersebut karena dianggap tidak
berarti. Tingkat keketatan yang diharapkan haruslah dievaluasi dalam setiap situasi
berdasarkan jenis proses produksi, produk atau jasa yang akan diserahkan, dan kepribadian
dari orang-orang yang terlibat di dalamnya.
4) Penyerapan Overhead
Bidang lain yang penuh dengan dorongan difungsional adalah penerapan overhead.
Praktik umum untuk membebankan overhead manufaktur tetap dan variable, ke produk pada
tariff estimasi yang didasarkan pada tinkat kapasitas yang telah ditentukan sebelumnya.
Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan berbeda dari yang telah ditentukan
sebelumnya, maka varians yang dibebankan sebelumnya terlalu tinggi atau terlalu rendah
akan terjadi. Ukuran dari varians ini akan dipengaruhi oleh tingkat kapasitas yang dipilih
sebagai penyebut dari tarif tersebut. Tingkat kapasitas jangka panjang akan menghasilkan
varians yang berbeda dibandingkan dengan tingkat kapasitas jangka pendek
5) Alokasi Biaya Tidak Langsung
Dalam riset yang didukung oleh National Assosiation of Accountants James Fremgen
dan Shu S.Liao menemukan bahwa perusahaan responden membedakan dengan tegas dua
jenis biaya tidak langsung, yaitu:
(1) Biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang dilakukan secara sentral untuk mamfaat
korporat dan pusat pertanggungjawaban.
(2) Biaya administratif korporat adalah biaya yang diperlukan untuk mengoperasikan
kantor korporat.
Bila ditanyakan mengenai tujuan alokasi biaya tidak lansung, respondend survei
menyebutkan pelaporan keuangan eksternal, evaluasi kinerja internal, penentuan harga
bebasis biaya, dan pengambilan keputusan.
6) Analisis Varians
Unsur utama dari pengendalian biaya adalah perbandingan secara periodik antara biaya
aktual dengan sasaran biaya yang sudah ditentukan sebelumnya, baik dalam bentuk
anggaran maupun standar. Perbandingan ini akan menghasilkan sejumlah varians karena
mustahil bahwa biaya aktual yang terjaadi akan setara dengan standar atau anggaran dari
elemen operasional yang akan dikendalikan. Varians tersebut dapat berupa hasil dari
berbagai penyebab, beberapa diantaranya dapat dijelaskan dan dikendalikan
7) Keputusan Investigasi Varian
Varians ini memiliki signifikansi pengendalian hanya jika varians tersebut berasal dari
penyebab yang dapat ditentukan atau, dengan kata lain, tidak bersifat acak dan rentan
terhadap tindakan perbaikan. Namun, kerumitan permasalahan yang sebenarnya terletak
pada fakta bahwa tanpa investigasi, manajemen tidak memiliki dasar untuk menentukan
apakah varians tertentu ditimbulkan dari penyalahgunaan yang dapat diidentifikasi dan
dikendalikan , atau apakah varians tersebut bersifat acak atau tidak dapat dikendalikan.
Bahkan, jika diskrepansi tersebut diinvestigasi, manajemen tidak memiliki jaminan bahwa
hal tersebut akan mengidentifikasikan penyebab dari varians itu dengan kepastian penuh.
8) Aspek Keperilakuan
Komponen khusus dari kebijakan pengendalian yang dapat mempengaruhi respon
manusia adalah faktor-faktor berikut.
(1) Batas Pengendalian
Batasan ini menentukan seberapa mudah atau sulit bagi seseorang yang dikendalikan
untuk berkinerja dalam kisaran yang dapat diterima dan berapa banyak ruang yang
mereka miliki untuk gagal sekali waktu.
(2) Hasil Umpan Balik
Umpan balik yang positif akan memberitahu mereka bahwa mereka ada pada jalur
yang tepat dan akan memotivasi mereka untuk mengulangi usaha yang sama, sedangakan
umpan balik yang negatif tidak akan secara otomatis mendorong mereka untuk
melakukan usaha yang lebih besar, tetapi hal tersebut dapat secara perlahan-lahan akan
menurunkan tingkat aspirasi mereka serta mengikis tingkat usaha dan kinerja mereka.
(3) Keketatan Pemaksaan
Pemaksaan yang ketat atas kebijakan pengendalian akan menimbulkan tekanan
dalam diri individu yang dikendalikan. Sementara tekanan dapat menyegarkan individu-
individu tertentu, tekanan tersebut dapat mengintimidasi yang lain menurunkan kinerja
mereka yang sudah buruk lebih jauh lagi
(4) Struktur Penghargaan
Orang atau kelompok akan memodifikasi perilaku mereka yang tidak diinginkan dan
mengulangi perilaku yang diinginkan ketika mereka memandang bahwa perubahan atau
pengulangan perilaku tersebut disertai dengan penghargaan intrinsik maupun ekstrinsik.
7. Pengambilan Keputusan
1) Keputusan Bauran Produk
Ketika dihadapkan pada keputusan mengenai bauran produk, manajer penjualan yang
mengetahui margin kontribusi dari produk-produknya akan jauh lebih mampu untuk
memutuskan produk yang akan didorong dan produk yang harus dikurangi atau ditolerir
hanya karena penjualannya menguntungkan produk lain. Pada sumber daya terbatas, margin
kontribusi akan memberikan informasi kepada manajemen untuk memilih bauran yang
diharapkan dapat menghasilkan total kontribusi terbesar terhadap laba.
2) Penentuan Harga Produk Baru
Produk baru umumnya diterima di pasar hanya setelah diuji coba secara ekstensif oleh
perusahaan yang memiliki reputasi dalam industri tersebut. Setelah diuji coba secara
mencukupi dan diterima oleh pemakai, produk tersebut akan ditetapkan harganya pada biaya
penuh plus mark-up yang konsisten dengan tujuan laba perusahaan secara keseluruhan.
3) Penetrasi Pasar
Manajer dapat menggunakan biaya variabel sebagai dasar untuk penentuan harga ketika
mereka bermaksud memasuki pasar baru dengan produk yang sudah ada atau ketika mereka
terpaksa menghadapi persaingan yang semakin meningkat selama periode di mana
permintaan menurun.
4) Penghapusan Produk
Margin kontribusi akan membantu manajemen dalam menentukan apakah akan
menghentikan suatu produk atau hanya berhenti menjualnya di pasar tertentu.
5) Pesanan Khusus
Terdapat dua jenis situasi dalam pesanan khusus. Situasi tersebut dapat melibatkan
akomodasi untuk pelanggan istimewa atau persyaratan khusus untuk ukuran, metode
pengiriman, atau pengemasan. Sepanjang pesanan khusus tidak melibatkan perubahan
utama dalam proses produksi dan sepanjang perusahaan memiliki kapasitas yang belum
digunakan, harga penjualan berapa pun di atas biaya variabel akan memperbaiki
profitabilitas secara keseluruhan.
6) Kampanye Iklan dan Promosi
Kampanye iklan dan promosi khusus dapat meningkatkan volume penjualan saat ini. Jika
menggunakan sisten perhitungan biaya tradisional, maka keputusan tersebut kemungkinan
besar hanya akan didasarkan pada perbandingan antara tambahan biaya dalam prospek
peningkatan dalam volume penjualan. Perhitungan biaya langsung (variabel) juga
memberikan informasi tambahan yang relevan kepada manajer dalam melakukan penilaian
atas berbagai alternatif. Semakin tinggi margin kontribusi dari produk (lini produk) yang
dipromosikan atau diiklankan, maka semakin besar manfaat bersih potensialnya; semakin
rendah margin kontribusi, maka semakin banyak tambahan unit yang harus dijual untuk
menutupi tambahan biaya.
7) Keputusan Mengurangi Biaya
Jika harga jual suatu perusahaan ditetapkan oleh pesaung, maka manajemen akan
mengetahui besarnya biaya variabel yang diperkenankan pada volume operasi saat ini jika
tujuan laba tertentu harus dicapai. Sehingga nantinya dapat mendorong manajemen untuk
waspada terhadap biaya serta memperkenalkan alat dan prosedur untuk menghemat biaya.
8. Aspek Keperilakuan dari Langkah Akuntansi Biaya yang Dipilih
1) Penetapan Standar
Standar yang digunakan sebagai kriteria paling berpengaruh dalam menentukan
keberhasilan atau kegagalan sistem biaya. Standar yang memiliki fungsi ganda, berfungsi
sebagai sebagai tujuan untuk memotivasi pengendalian biaya dan sebagai alat evaluasi
kinerja. Standar akan menghasilkan perilaku pekerja yang efisien hanya jika standar tersebut
diterima sebagai tingkat aspirasi oleh individu untuk siapa standar pengendalian dan
evaluasi kinerja didesain.
2) Partisipasi dalam Penetapan Standar
Michael Foran dan Don DeCoster meringkas logika yang mendasari seluruh argumen
dayng mendukung partisipasi menjadi “jika seorang pekerja berpartisipasi dalam
menetapkan standar kinerjanya sendiri, maka ia akan membuat komitemn yang tegas
terhadap standar tersebut sehingga akan bekerja keras untuk mencapainya”.
Dalam studi empiris, mereka menggunakan teori disonansi kognitif untuk mendapatkan
lebih banyak wawasan mengenai penyebab partisipasi lebih efektif dalam penetapan standar
kinerja. Teori disonansi kognitif terpusat pada tiga konsep kunci: kemauan, disonansi, dan
komitmen.
Dalam konteks penetapan standar, teori ini mengimplikasikan bahwa jika manajemen
mengingkinkan komitemn yang pasti terhadap standar, maka individu yang dikendalikan
harus memiliki pilihan (kemauan). Ketika memilik sekelompok standar kinerja tertentu
mereka akan mengalami keraguan (disonansi) mengenai kebijaksanaan dari pilihan mereka,
hal tersebut dapat dikurangi atau dihilangkan ketika mereka menerima umpan balik
mengenai hasil kinerja. Resolusi peningkatan komitmen akan terjadi, bahkan dalam situasi
penetapan tujuan yang non-partisipatif
3) Standar yang Ketat versus Standar yang Longgar
Standar yang ketat akan lebih sering tidak tercapai daripada dipenuhi, serta varians yang
dihasilkan mungkin tidak berhubungan secara adil dengan kinerja yang buruk dan tidak
diidentifikasi sebagai penyebabnya. Standar yang longgar tidak memberikan manfaat
motivasional apa pun karena begitu mudah dicapai, akan terjadi pengabaian pada standar
ini.
Tingkat keketatan yang diharapkan haruslah dievaluasi dalam setiap situasi berdasarkan
jenis proses produksi, produk atau jasa yang akan diserahkan, dan kepribadian dari orang-
orang yang terlibat di dalamnya.
4) Penyerapan Overhead
Ketika dasar yang digunakan untuk penyerapan berbeda dengan yang telah ditentukan
sebelumnya, maka varians yang dibebankan terlalu tinggi atau terlalu rendah bisa terjadi.
Ukuran varians akan dipengaruhi oleh tingkat kapasitas yang dipilih sebagai penyebut
dalam penentuan tarif tersebut.
5) Alokasi Biaya Tidak Langsung
Dalam riset yang didukung oleh National Association of Accountants (NAA), James
Fremgen dan Shu S Liao menemukan bahwa perusahaan responden membedakan dengan
tegas dua jenis biaya tidak langsung. 1) biaya jasa korporat adalah biaya jasa yang dilakukan
secara sentral utnuk manfaat korporat dan berbagai pusat pertanggungjawaban. Biaya ini
termasuk biaya akuntansi, pengolahan data, WATS line, penelitian dan pengembangan,
serta memiliki beberapa hubungan yang dapat diidentifikasi dengan tingkat aktifitas dari
berbagai pusat tanggung jawab. 2) biaya administratif korporat adalah biaya yang diperluka
untuk mengoperasikan kantor korporat. Biaya ini termasuk biaya gaji, hubungan
masyarakat, dan biaya korporat lainnya terjadi untuk menjalankan perusahaan secara
keseluruhan. Tidak ada hubungan yang jelas antara biaya administrasi ini dengan tingkat
operasi dari berbagai pusat biaya dan/laba di seluruh organisasi.
Literatur mengenai alokasi biaya tidak langsung kebanyakan berhubungan dengan aspek
perhitungan alokasi. Literatur tersebut benar-benar menghasilkan sensitivitas keperilakuan
yang merupakan komponen terbesar ketika digunakan dalam evaluasi kinerja dan
pengambilan keputusan. Satu-satunya rekomendasi yang ditawarkan oleh peneliti dan
pendidik adalah perusahaan harus menghindari membebankan biaya pada pusat
pertanggungjawaban biaya di mana pusat pertanggungjawaban tersebut tidak memiliki
pengendalian langsung dan tidak langsung.
6) Analisis Varians
Varians merupakan hasil dari berbagai penyebab, beberapa di antaranya dapat dijelaskan
dan dikendalikan, sementara yang lain tidak dapat dijelaskan maupun dikendalikan.
7) Keputusan Investigasi Varians
Keputusan manajemen semata-mata bergantung pada penilaiannya atas signifikansi
diskrepansi yang diamati. Varians ini memiliki signifikansi pengendalian hanya jika varians
tersebut berasal dari penyebab yang dapat ditentukan, yakni tidak bersifat acak dan rentan
terhadap tindakan perbaikan.
Namun, kerumitan permasalahan yang sebenarnya terletak pada fakta bahwa tanpa
investigasi, manajemen tidak memiliki dasar untuk menentukan apakah varians tertentu
ditimbulkan dari penyalahgunaan yang dapat diidentifikasi dan dikendalikan, atau apakah
varians tersebut bersifat acak atau tidak dapat dikendalikan. Bahkan, jika diskrepansi
tersebut diinvestigasi, manajemen tidak memiliki jaminan bahwa hal tersebut akan
mengidentifikasi penyebab dari variasb itu dengan kepastian penuh karena investigasi
tersebut dapat terbuktu hanya berhasil sebagian atau bahkan gagal sepenuhnya.
8) Aspek Keperilakuan
(1) Batas pengendalian
Batasan ini menentukan mudah atau sulitnya seseorang yang dikendalikan untuk
berkinerja dalam kisaran yang dapat diterima dan banyakan ruang yang mereka miliki
untuk gagal sekali waktu. Tingkat toleransi ini dapat memengaruhi kinerja aktualnya.
(2) Hasil umpan balik
Umpan balik yang positif akan memberi tahu bahwa mereka ada pada jalur yang
tepat dan akan memotivasi untuk mengulangi usaha yang sama. Sedangkan umpan balik
yang negatif tidak akan secara otomatis mendorong mereka melakukan usaha yang lebih
besar, tetapi dapat secara perlahan mnurunkan tingkat aspirasi serta mengikis tingkat
usaha dan kinerja mereka.
(3) Keketatan pemaksaan
Pemaksaaan yang ketat atas kebijakan pengendalian akan menimbulkan tekanan
dalam diri individu yang dikendalikan. Sementara tekanan dapat menyegarkan tiap
individu tertentu, mengintimidasi yang lain dan menurunkan kinerja mereka yang sudah
buruk lebih jauh lagi.

(4) Struktur penghargaan


Orang atau kelompok akan memodifikasi perilaku mereka yang tidak diinginkan dan
mengulangi perilaku yang diinginkan ketika mereka memandang bahwa perubahan atau
pengulangan perilaku tersebut disertai dengan penghargaan intrinsik maupun ekstrinsik.
REFERENSI

Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan Edisi 2. Salemba Empat. Jakarta

Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan. Andi. Yogyakarta

Siegel, Gary, Helena Ramanauskas Marconi. 1989. Behavioral Accounting. South


Western Publishing Co. USA