Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah yang Maha Kuasa karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menulis makalah ini dengan lancar dan sebaik mungkin. Makalah ini
kami tulis sebagai pemenuhan nilai mata kuliah Ilmu Kalam dan Tauhid, yang berjudul “Iman
kepada Hari Akhir dan qada qadar”. Kami menulis makalah ini dengan menggunakan metode
pustaka.

Kami selaku penulis tidak lekang dari kesalahan, baik yang disengaja maupun yang tidak
disengaja. Dalam suatu pembelajaran dibutuhkan sebuah proses untuk mencapai sebuah
kesuksesan dan kebaikan, maka dari pada itu kami selaku penulis masih sangat membutuhkan
proses yang panjang untuk membuat makalah yang baik. Kami harap makalah ini berguna bagi
mahasiswa/siswi yang lain serta warga Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati khususnya
fakultas Sains dan Teknologi.

Terima kasih atas perhatiannya.

Bandung, November 2016


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………

BAB 1. PENDAHULUAN……………………………………………………………

a. Latar belakang…………………………………………………………………

b. Rumusan masalah……………………………………………………………

BAB 2. PEMBAHASAN………………………………………………………………

a. Pengertian iman hari kiamat……………………………………………………………

b. Tanda terjadinya kiamat………………………………………………………………..

c. Fungsi iman kepada hari kiamat……………………………………………………….

d. Pengertian iman kepada qada dan qadar……………………………………………

e. Hubungan antara qada dan qadar…………………………………………………

f. Fungsi iman kepada qada dan qadar……………………………………………………..

g. dalil-dalil iman kepada qada dan qadar……………………………………………….

BAB 3. PENUTUP……………………………………………………………………………..

a. Kesimpulan ……………………………………………………………………

b. Saran …………………………………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….
BAB.1

PENDAHULUAN

A. Latar belakang.

Tujuan pembuatan makalah ini semata-mata hanya untuk memenuhi tugas pada mata
pelajaran “Ilmu Kalam dan Tauhid”serta untuk memperluas pengetahuan kita tentang iman
kepada hari akhir dan qada dan qodar di mana kita dapat memahami apa yang disebut hari akhir
dan qada dan qodar serta fungsinya. dan berusaha mengimani dengan cara melaksanakan ibadah,
seperti shalat lima waktu, puasa ramadhan, shalat sunah dan sebagainya.

Rukun iman yang kelima adalah beriman kepada hari akhir. Iman kepada hari akhir adalah
percaya akan adanya hari akhir. Hari akhir adalah hari berakhirnya kehidupan dunia. Pada saat
itu baik dan buruknya perilaku seseorang akan dicatat bergantung bagaimana kadar keimanan
seseorang dalam hatinya.
Orang yang benar-benar beriman adanya hari kiamat akan senantiasa menjaga agar perilakunya
baik dan berusaha menjauhi hal-hal yang buruk. Begitu juga sebaliknya.

Qada dan qodar merupakan ketentuan atau ketetapan dari Allah SWT sehingga kita tidak dapat
mengubah ketentuan tersebut.

C. Rumusan masalah

1. Jelaskan pengertian iman kepada hari akhir?

2. Apa tanda - tanda terjadinya hari akhir?

3. Sebutkan Fungsi iman kepada hari akhir?

4. Jelaskan pengerian iman kepada qada dan qadar ?

5. Bagaimana hubungan antara qoda dan qadar?

6. Apa Fungsi dan dalil – dalil iman kepada qoda dan qadar ?
BAB 2

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hari Akhir


Hari akhir disebut juga dengan hari kiamat, artinya hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan ini
semua manusia yang telah meninggal dibangkitkan kembali untuk mempertanggung-jawabkan
semua amal perbuatannya selama hidup di dunia. Sedangkan iman kepada hari akhir, ialah
membenarkan dan meyakini akan terjadinya kiamat(kehancuran bumi dan langit), alam kubur,
kebangkitan dari kubur, alam mahsyar (saat dikumpulkannya manusia), hisab ( hitungan amal),
mizan (timbangan amal), surge, neraka, dan yang lainnya.

B. Tanda Terjadinya Kiamat

1. Terbitnya matahari dari arah barat dan terbenam dari arah timur. Hal ini terjadi karena
perubahan besar dalam susunan alam semesta.

2. Keluarnya suatu binatang yang sangat aneh. Binatang ini dapat bercakap-cakap kepada
semua orang dan menunjukkan kepada manusia bahwa kiamat sudah sangat dekat.

3. Datangnya Al-Mahdi. Beliau termasuk keturunan dari Rasulullah SAW. Oleh karena itu,
beliau serupa benar akhlak dan budi pekertinya dengan Rasulullah SAW.

4. Munculnya Dajal. Dajal adalah seorang yang muncul sebagai tanda semakin dekat
datangnya kiamat. Dajal bermata buta sebelah dan mengaku sebagai “Tuhan”.

5. Hilang dan lenyapnya Al-Qur’an dan mushaf, hafalan dalam hati. Bahkan lenyap pulalah
yang ada di dalam hati seseorang.
6. Berkumpulnya manusia, seperti selamatan kelahiran, khitanan, perkawinan, ulang tahun, dll.
Akan tetapi tidak pernah sedikit pun dijalankan perintah-perintah-Nya serta dijauhi larangan-
Nya.

7. Turunnya Nabi Isa as. Beliau akan turun ke bumi ini di tengah-tengah merajalela pengaruh
Dajal.

C. Fungsi Iman kepada Hari Akhir

1. Menambah iman serta ketaqwaan kepada Allah SWT

2. Lebih taat kepada Allah dan Rasulullah SAW dengan menghindarkan diri dari perbuatan
maksiat

3. Senantiasa hidup dengan hati-hati, waspada, dan selalu meminta ampunan kepada Allah
SWT

4. Memberi motivasi untuk beramal dan beribadah karena segala perbuatan baik akan
mendapat balasan di akhirat

5. Selalu menghiasi diri dengan berzikir kepada Allah SWT sehingga jiwa menjadi tenang

D. Pengertian Iman kepada Qada dan Qadar

Menurut bahasa qada memiliki beberapa arti yaitu hukum, ketepatan, perintah, kehendak,
pemberitahuan, dan penciptaan. Sedangkan menurut istilah, qada adalah ketentuan atau
ketepatan Allah SWT dari sejak zaman azali tentang segala sesuatu yang berkenaan dengan
makhluk-Nya sesuai dengan iradah(kehendak-Nya), meliputi baik dan buruk, hidup dan mati, dll.

Qadar menurut bahasa berarti kepastian, peraturan, dan ukuran, sedangkan menurut istilah,
qadar adalah perwujudan ketetapan (qada) terhadap segala sesuatu yang berkenaan dengan
makhluk-Nya yang telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya. Qadar disebut juga
takdir Allah SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup baik yang telah, sedangm maupun
akan terjadi.

Beriman kepada qada dan qadar adalah meyakini dengan sepenuh hati adanya ketentuan Allah
SWT yang berlaku bagi semua makhluk hidup. Semua itu menjadi bukti kebesaran dan
kekuasaan Allah SWT. Jadi, segala sesuatu yang terjadi di alam fana ini telah ditetapkan oleh
Allah SWT.

F. Hubungan Qada dan Qadar

Dalam Al-Quran kata qada berarti hukum atau keputusan (Q.S. An-Nisa : 65), perintah (Q.S. Al-
Isra : 23), kehendak ( Q.S. Ali Imran : 47), dan mewujudkan atau menjadikan (Q.S. Fusillat : 12).
Sedangkan kata qadar berarti kekuasaan atau kemampuan (Q.S. Al-Baqoroh : 236), ketentuan
atau kepastian (Q.s. Al Mursalat : 23), Ukuran (Q.S. Ar Ra’d :17), dengan mengatur serta
menentukan suatu menurut batas-batasnya (Q.S. Fussilat : 10).

Ulama Asy’ariah, yang di pelopori oleh Abu Hasan Al Asy’Ari (wafat di basrah Tahun 330 H),
berpendapat bahwa qada ialah kehendak Allah SWT mengenai segala hal dan keadaan, kebaikan
dan keburukan, yang sesuai dengan apa yang akan di ciptakan dan tidak akan berubah-ubah
sampai terwujudnya kehendak tersebut. Sedangkan qadar adalah perwujudan kehendak Allah
SWT terhadap semua mahkluknya dalam bentu-bentuk dan batasan-batasan tertentu, baik
mengenai zat-zatnya ataupun sipat-sipatnya.

Menurut ulama Asy’ariah ini, jelaslah bahwa hubungan qada dengan qadar merupakan satu
kesatuan, karena qada merupakan kehendak Allah SWT, sedangkan qadar merupakan
perwujudan dari kehendak itu. Qada bersifat Qadim (lebih dulu ada) sedangkan qadar bersipat
hadis (baru).

Selain itu, ada pula ulama yang berpendapat bahwa hubungan antara qada dan qadar merupakan
dwi tunggal, karena dapat di katakan bahwa pengertian qada sama dengan pengertian qadar.

Rasulullah SAW ketika di tanya oleh malaikat Jibril tentang dasar-dasar iman, beliau hanya
menyebutkan (iman kepada qadar”, tanpa menyebutkan iman kepada qada dan qadar. Rasulullah
SAW bersabda :

)‫ااإل يمان أ ن تو من با هلل ومال ئكته وكتبه ورسله واليوم اال خر وتومن با لقد ر خيره وسره (رواه مسلم‬

Artinya : “Iman itu ialah engkau percaya kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para
Rasulnya, hari akhirat, dan engkau percaya kepada qadar yang baiknya ataupun yang
buruk”. (H.R. Muslim).
Iman kepada qada dan qadar dalam ungkapan sehari-hari lebih popular dengan sebutan iman
kepada takdir. Iman kepada takdir berarti percaya bahwa segala apa yang terjadi di alam semesta
ini, seperti adanya siang dan malam, adanya tanah yang subur dan yang tandus, hidup dan mati,
rezeki dan jodoh seseorang merupakan kehendak dan ketentuan Allah SWT.

Hukum beriman kepada takdir adalah fardu’ain. Seseorang yang mengaku islam, tetapi tidak
beriman pada takdir dapat di anggap murtad. Ayat-ayat Al-Quran yang menjelaskan tentang
iman kepada takdir cukup banyak, antara lain :

.‫ إذا قضي أمرا فإ نما يقول له كن فيكون‬...

Artinya : “Apabila Allah hendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata
kepadanya : “jadilah”, lalu jadilah dia”. (Q.S. Ali Imran, 3 : 47)

... ‫ وقدرفيها أقواتها‬...

Artinya : “dan dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni) nya”. (Q.S.
Fussilat, 41 : 10)

.‫ وكان أمر هللا قدرا مقدورا‬...

Artinya : “Dan ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku” (Q.S. Al Ahzab, 33 : 38)

Apakah manusia itu musayyar (di paksakan oleh kekuatan Allah) ataumukhayyar (di beri
kebebasan untuk menentukan pilihannya sendiri)? Tidak benar kalau di iasana manusia itu
mutlak musayyar, tetapi juga keliru jika di katakana manusia itu mutlak mukhayyar.

Hal –hal yang musayyar misalnya, setiap manusia yang hidup di bumi tubuhnya tidak ias
terbebas dari gaya tarik bumi, beberapa organ tubuh manusia seperti paru-paru, jantung, alat
pernapasan, dan peredaran darah bekerja secara otomatis diluar kesadaran atau perasaan, bahkan
ketika manusia tidur sekalipun.

Adapun hal yang mukhayyar mislanya, manusia mempunyai kebebasn untuk memilih dan
berbuat sesuai dengan kodratnya sebagai mahluk. Allah SWT melalui Rasulnya telah
memberikan petunjuk tentang jalan yang lurus, yang harus di tempuh manusia, kalau ia ingin
masuk surga, dan jalan yang sesat yang harus di jauhi manusia jika ia tidak ingin masuk neraka.

Allah SWT berfirman :


‫وهد ينه النجد ين‬

Artinya : “Dan kami telah menunjukan kepada dua jalan (jalan kebajikan dan jalan
kejahatan)”. (Q.S. Al-Balad, 90 : 10)

Bahwa manusia mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan dalam berbuat. Hal itu tersirat
dalam pristiwa berikut yang terjadi pada masa Rasulullah SAW dan Khalifah Umar bin Khatab
r.a.

F. Fungsi Iman Kepada Qada dan Qadar

Allah SWT mewajibkan umat manusia untuk beriman kepada qada dan qadar (takdir), yang tentu
mengandung banyak fungsi (hikmah atau manfaat), yaitu antara lain :

Memperkuat keyakinan bahwa Allah SWT, pencipta alam semesta adalah tuhan Yang
Maha Esa , maha kuasa, maha adil dan maha bijaksana. Keyakinan tersebut dapat mendorong
umat manusia (umat islam) untuk melakukan usaha-usaha yang bijaksana, agar menjadi umat
(bangsa) yang merdeka dan berdaulat. Kemudian kemerdekaan dan kedaulatan yang di
perolehnya itu akan di manfaatkannya secara adil, demi terwujudnya kemakmuran kesejahteraan
bersama di dunia dan di akherat.

Menumbuhkan kesadaran bahwa alam semesta dan segala isinya berjalan sesuai dengan
ketentuan – ketentuan Allah SWT (sunatullah) atau hukum alam. Kesadaran yang demikian
dapat mendorong umat manusia (umat islam) untuk menjadi ilmuan-ilmuan yang canggih di
bidangnya masing-masing, kemudian mengadakan usaha-usaha penelitian terhadap setiap
mahluk Allah seperti manusia, hewan, tumbuhan, air, udara, barang tambang, dan gas.
Sedangkan hasil – hasil penelitiannya di manfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia
kearah yang lebih tinggi. (lihat dan pelajari Q.S. Almujadalah, 58 : 11)

Meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Iman kepada takdir dapat menumbuhkan
kesadaran bahwa segala yang ada dan terjadi di alam semesta ini seperti daratan, lautan, angkasa
raya, tanah yang subur, tanah yang tandus, dan berbagai bencana alam seperti gempa bumi,
gunung meletus, serta banjir semata-mata karena kehendak, kekuasaan dan keadilan Allah SWT.
Selain itu, kemahakuasaan dan keadilan Allah SWT akan di tampakkan kepada umat manusia,
takkala umat manusia sudah meninggal dunia dan hidup di alam kubur dan alam akhirat.
Manusia yang ketika di dunianya bertakwa, tentu akan memperoleh nikmat kubur dan akan di
masukan kesurga, sedangkan manusia yang ketika di dunianya durhaka kepada Allah dan banyak
berbuat dosa, tentu akan memperoleh siksa kubur dan di campakan kedalam neraka jahanam.
(lihat dan pelajari Q.S. Ali Imran, 3 : 131 – 133).

Menumbuhkan sikap prilaku dan terpuji, serta menghilangkan sikap serta prilaku tercela.
Orang yang betul-betul beriman kepada takdir (umat islam yang bertakwa ) tentu akan memiliki
sikap dan prilaku terpuji seperti sabar, tawakal, qanaah, dan optimis dalm hidup. Juga akan
mampu memelihara diri dari sikap dan prilaku tercela, seperti: sombong, iri hati, dengki, buruk
sangka, dan pesimis dalam hidup. Mengapa demikian? Coba kamu renungkan jawabannya! (lihat
dan pelajari Q.S. Al-Hadid, 57 : 21-24)

Mendorong umat manusia (umat islam) untuk berusaha agar kualitas hidupnya meningkat,
sehingga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Umat
manusia (umat islam) jika betul-betul beriman kepada takdir, tentu dalam hidupnya di dunia
yang sebenar ini tidak akan berpangku tangan. Mereka akan berusaha dan bekerja dengan
sungguh-sungguh di bidangnya masing-masing, sesuai dengan kemampuannya yang telah di
usahakan secara maksimal, sehingga menjadi manusia yang paling bermanfaat. Rasulullah SAW
bersabda yang artinya: “sebaik-baiknya manusia ialah yang lebih bermanfaat kepada manusia”.
(H.R. At-Tabrani).

G. Dalil – Dalil Tentang Beriman kepada Qada dan Qadar

a. Q.S Ar-rad ayat 11

b. Q.S Al-A’laa ayat 3


BAB 3

PENUTUP

a. Kesimpulan
Iman adalah keyakinan yang diyakini didalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dilaksanakan
dengan amal perbuatan.
Kalau kita melihat qada’menurut bahasa artinya Ketetapan.Qada’artinya ketatapan Allah swt
kepada setiap mahluk-Nya yang bersifat Azali.Azali Artinya ketetapan itu sudah ada sebelumnya
keberadaan atau kelahiran mahluk.
Sedangkan Qadar artinya menurut bahasa berarti ukuran.Qadar artinya terjadi penciptaan sesuai
dengan ukuran atau timbangan yang telah ditentuan sebelumnya. Qaqda’ Qadar dalam
keseharian sering kita sebut dengan takdir.

b. Saran

Kita seharusnya lebih memahami dan menguasai lagi materi ini agar kita lebih mengetahui lagi
tentang iman kepada hari akhir, dan qada dan qadar .
DAFTAR PUSTAKA

 Subki. A’la. Junaidi dkk. Akidah akhlak, gema Nusa. Klaten utara, 2008
 www.akidah. Wapsport.com