Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN ATRESIA


ILEUM DI RUANG PERINATOLOGI RSD
dr. SOEBANDI JEMBER

oleh:

Nikmatul Khoiriyah, S.Kep


NIM 122311101075

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
AGUSTUS, 2018
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN ATRESIA ILEUM
Oleh: Nikmatul Khoiriyah, S.Kep NIM 122311101075

A. DEFINISI
Atresia berarti obstruksi kongenital yang disebabkan oklusi total dari lumen
usus dan mencakup 95% dari seluruh kasus obstruksi neonatus yang terjadi.
Dalam dua dekade terakhir, pemahaman yang lebih baik pada faktor-faktor
etiologi, kemajuan di bidang anestesi pediatrik, dan perawatan praoperasi dan
pascaoperasi yang lebih baik menyebabkan peningkatan tingkat survival dari
penderita kelainan ini.1 Atresia ileum bersama atresia jejenum adalah penyebab
utama dari obstruksi intestinal pada neonatus, kedua terbanyak setelah malformasi
anorektal.

B. ETIOLOGI

Penyebab terjadinya atresia ileum pada awalnya diperkirakan berkaitan


dengan tidak sempurnanya proses revakuolisasi pada tahap pembentukan
usus. Terdapat banyak teori mengenai penyebab terjadinya atresia ileum.
Akan tetapi, teori yang banyak digunakan adalah terjadinya kondisi iskemik
sampai dengan nekrosis pada pembuluh darah usus yang berakibat terjadinya
proses reasorbsi dari bagian usus yang mengalami kondisi nekrosis tersebut. 1
Pendapat lain mengatakan bahwa atresia ileum terjadi karena
ketidaksempurnaan pembentukan pembuluh darah mesenterika selama
intrauterin. Ketidaksempurnaan ini dapat diakibatkan karena terjadinya
volvulus, intususepsi, hernia interna, dan konstriksi dari arteri mesenterika
pada gastroschisis dan omphalokel.3 Pada sebuah penelitian dari 250 neonatus
dengan atresia ileum, 110 diantaranya terbukti terdapat gangguan vaskuler
intrauterin pada ususnya, seperti terjadi malrotasi atau volvulus pada 84
kasus, eksompalokel pada 5 kasus, gastroschisis pada 3 kasus, ileus
mekoneum pada 5 kasus, peritonitis mekoneum pada 7 kasus, Hirschsprung
pada 5 kasus, dan hernia internal pada 1 kasus. Kelainan ini biasanya tidak
berkaitan dengan faktor genetik, meskipun pada satu laporan kasus terjadi
pada kembar monozygot dimana pada kedua kembar memiliki atresia
multipel yang sama.3 Pada suatu penelitian dilaporkan terjadinya atresia
ileum karena intususepsi intra uterin.4 Tidak terdapat kaitan antara kejadian
atresia ileum dan usia orang tua saat mengandung atau pun usia ibu saat
melahirkan. Pada sebuah penelitian pada hewan, dimana janin anjing yang
mengalami gangguan suplai pembuluh darah usus akan mengalami berbagai
gangguan obstruksi intralumen usus pada saat lahir, seperti terjadinya stenosis
sampai atresia usus. Kelainan bawaan lain yang terjadi bersama dengan
atresia ileum dilaporkan lebih jarang bila dibandingkan pada atresia jejenum.3

C. KLASIFIKASI

Terdapat 4 tipe dari atresia ileum, yaitu :1,3,4


a. Atresia ileum tipe I
Pada atresia ileum tipe I ditandai dengan terdapatnya membran atau jaringan yang
dibentuk dari lapisan mukosa dan submukosa. Bagian proksimal dari usus
mengalami dilatasi dan bagian distalnya kolaps. Kondisi usus tersambung utuh
tanpa defek dari bagian mesenterium. Panjang usus tidak memendek.

b. Atresia ileum tipe II


Pada atresia ileum tipe II bagian proksimal dari usus berakhir pada bagian yang
buntu, dan berhubungan dengan bagian distalnya dengan jaringan ikat pendek di
atas dari mesenterium yang utuh. Bagian proksimal dari usus akan dilatasi dan
mengalami hipertrofi sepanjang beberapa centimeter dan dapat menjadi sianosis
diakibatkan proses iskemia akibat peningkatan tekanan intraluminal. Panjang usus
total biasanya normal.

c. Atresia ileum tipe III-a


Pada atresia ileum tipe IIIa bagian akhir dari ileum yang mengalami atresia
memiliki gambaran seperti pada tipe II baik pada bagian proksimal dan distalnya,
akan tetapi tidak terdapat jaringan ikat pendek dan terdapat defek dari
mesenterium yang berbentuk huruf V. Bagian yang dilatasi yaitu proksimal sering
kali tidak memiliki peristaltik dan sering terjadi torsi atau distensi dengan
nekrosis dan perforasi sebagai kejadian sekunder. Panjang keseluruhan dari usus
biasanya kurang sedikit dari normal.

d. Atresia Tipe III-b


Tipe ini dinamai Apple-peel, Chrismas tree, atau maypole deformity,
terdiri dari ujung proksimal jejunum atresia dekat dengan Treitz, tidak adanya
arteri mesenterial superior, sebagai asal dari cabang colon media dari mesenterial
posterior, dengan panjang usus yang secara jelas berkurang dan defek mesenterial
yang besar. Ujung distal tersimpan di intra abdomen dengan vascularisasi tunggal
berasal dari ileocolica dan cabang colica kanan. Nama Apple peels berasal dari
tampilan usus yang membentuk spiral di sekitar suplai darah yang menyerupai
kupasan apel (Yamanaka, 2000).3 Lebih jauh terlihat seperti tipe I dan II dengan
jarak proksimal dan distal yang sangat dekat. Vaskularisasi distal biasanya
terganggu, biasanya pada tipe autosom resesif. Bayi dengan tipe ini biasanya
premature (74 %) dan malrotasi (54%) dengan peningkatan morbiditas (63%) dan
mortalitas 54 %. Deformitas hamper sebagai konsekuensi dari oklusi arteri
mesenterial superior dengan infark yang ekstensif pada segmen proksimal dari
midgut dengan dasar trombosis atau emboli atau suatu obstruksi strangulasi dari
midgut volvulus. Kegagalan primer dari perkembangan arteri mesenterial superior
diduga sebagai faktor etiologi, walaupun hal ini tidak serupa,temuan meconium
distal usus menandakan atresia terjadi setelah sekresi bilier terjadi, kurang lebih
pada minggu ke 12 perkembangan janin.

e. Atresia ileum tipe IV


Pada atresia ileum tipe IV terdapat atresia yang multipel, dengan kombinasi dari
tipe I sampai dengan tipe III, memiliki gambaran seperti sosis. Terdapat hubungan
dengan faktor genetik, dan tingkat mortalitas yang lebih tinggi. Multipel atresia
dapat terjadi karena iskemia dan infark yang terjadi pada banyak tempat, proses
inflamasi intrauterin, dan malformasi dari saluran cerna yang terjadi pada tahap
awal proses embriogenesis.

D. PATOFISIOLOGI
Akibat iskemik bukan hanya penyebab dari bentuk abnormal tetapi juga
karena gangguan fungsi dan struktur pada proksima dan distal usus. Ujung buntu
dari proksimal yang dilatasi dan hipertropi dengan villi yang normal tetapi tanpa
aktifitas peristaltik yang efektif. Defisiensi dari enzim dan ATP juga didapat. Pada
tingkat atresia, ganglion system saraf juga atrofi.
obstruksi

Sekresi usus meningkat dan absorbs menurun Tindakan operasi


Ansietas
Akumulasi isi usus
Luka terbuka Risiko
dilatasi usus dan edema dinding usus (terpasang stoma) Infeksi

Udara ditelan menambah Hiperperistaltik dan


dilatasi akumulasi cairan Perubahan pola Terputusnya
Peristaltik balik dan muntah eliminasi kontinuitas
Distensi masif bertambah
jaringan
Nyeri Akut
Tekanan diafragma meningkat
Risiko Aspirasi

Ekspansi paru menurun Risiko


Kerusakan
sesak integritas kulit
Disfungsi Motilitas
Ketidakefektifan Pola napas Gastrointestinal
E. MANIFESTASI KLINIS

Pada bayi dengan atresia, muntah berwarna bilier biasanya muncul


pada hari pertama dan kedua kelahiran, tetapi 20 % kasus dapat terjadi pada
hari ke 2 dan ke 3. Makin tinggi letak obstruksi makin awal munculnya
muntah dan makin kuat. Dehidrasi, demam, ikterik dan pneumoni aspirasi
dapat terjadi pada keterlambatan diagnosis.
Abdomen yang distensi menandakan obstruksi usus halus distal. Enam
puluh hingga 70% bayi gagal mengeluarkan mekonium di hari pertama.
Meskipun mekonium seperti normal biasanya ditemukan plug abu-abu pada
mukos saat melewati rectum. Nyeri, rigid dan edema serta eritem pada
dinding abdomen menjadi tanda iskemi dan peritonitis, juga pada iskemik di
distal usus, perubahan darah muncul melaluli rectum.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan yang digunakan untuk membantu mendiagnosa Atresia Ileum
adalah:
1. USG
Mengetahui lebih awal pada atresia ini menjadi inti dari penanganan.
Penggunaan USG sangat berperan pada pendeteksian atau prenatal
diagnosis, terutama pada trimester tiga. Adanya polyhidramnion mungkin
tidak muncul di awal pada kasus obstruksi yang distal.
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada atresia jejuno ileal dapat dilakukan dengan
atau tanpa kontras. Udara dapat mencapai usus proksimal sekitar 1 jam
dan usus halus distal hingga 3 jam, pada keadaan normal. Hal ini
terlambat pada kaus premature atau gangguan menghisap. Pasen atresia
jejunum memiliki sedikit udara dan carian yang masuk di usus, dengan
dengan tidak ada udara di abdomen. Air/fluid level terjadi bila dilakukan
aspirasi lewat NGT sebelumnya. Atresia ilium distal sulit dikenali dan
dibedakan dengan atresia colon sebab haustral marking belum terbentuk
pada neonatus. Atresia yang terjadi lambat, membuat lumen usus bagian
distal hampir normal. Total colonic aganglionosis sulit dibedakan dengan
adanya atresia. Sepuluh persen bayi dengan atresia ilium mengalami
peritonitis, perforasi biasanya terjadi pada ujung buntu dari bagian
proksimal, tampila radiologist dari meconium pseudocyst dengan air/fluid
level berhubungan dengan perforasi usus yang terlambat intra uterin.
Kalsifikasi mekonium pada multipel atresia memberikan gambaran
‘strings of pearls’, sebagai suatu tanda patognomonis. Gambaran klinis
dan radiologis pada stenosis jejunoileal ditentukan oleh tingkat dan
derajat stenosis dan diagnosis mugkin terlambat hingga tahunan.
Perubahan morfologi pada usus proksimal, tergantung dari tingkat
obstruksi.

G. PENATALAKSANAAN
Dilakukan perawatan sebelum operasi sampai dengan keadaan pasien
optimal. Hal ini disebabkan bahaya timbulnya perforasi. Jenis operasi yang
dilakukan berupa end to end anastomosis.. Jika didapatkan atresia multipel, maka
dibuat reseksi pada area atresia kemudian dibuatan astomosis. Mengingat sering
kali terdapat anomali yang menyertainya, jaringan yang telah direseksi
perludipelajari sel ganglion di dalamnya.
Diagnosis yang terlambat akan berakibat bertambah jeleknya prognosis
dari pasien, terjadi nekrosis sampai perforasi dari sistema usus, abnormalitas
cairan dan elektrolit, serta peningkatan kejadian sepsis. Pemberian elektrolit dan
resusitasi cairan harus segera dilakukan. Pipa nasogastrik atau orogastrik dapat
memperbaiki fungsi diafragma dan mencegah mutah serta terjadinya aspirasi.
Tindakan operatif bergantung dari penemuan patologi. Reseksi dari bagian
proksimal yang dilatasi dan berlanjut anastomose langsung dengan ujung
distalnya sering dilakukan. Akan tetapi apabila tidak dimungkinkan dilakukan
reseksi anastomose akan dilakukan ileostomi. Ileostomi yang dilakukan dapat
berupa Santulli, Mikulicz, dan Bishoop Koop. Pada prosedur Santulli, ileum
proksimal dikeluarkan dan yang distalnya dianastomose ke ileum proksimal di
bagian samping dari ileum proksimal.
Penderita atresia ileum dirawat di ruangan dengan kelembaban yang cukup
dan hangat, untuk mencegah hipotermia, kemudian dilakukan pemeriksaan
penunjang seperti pemeriksaan laboratorium darah. Bila kondisi sudah
memungkinkan untuk dilakukan operasi, operasi segera dilakukan.
Pada perawatan pascaoperasi pada pasien dengan atresia ileum harus
segera diberikan nutrisi parenteral secepat mungkin. Nutrisi parenteral diberikan
segera bila kondisi pascaoperasi telah stabil. Sebagaimana diketahui bahwa
semakin proksimal atresianya, semakin lama juga terjadi disfungsi dari sistem
ususnya. Secara umum pemberian nutrisi secara oral dimulai setelah bayi sadar
penuh, menelan dengan baik, residu gaster kurang dari 5 cc/jam, perabaan soepel
pada abdomen, atau telah flatus dan buang air besar. Nutrisi oral yang cukup
harus diberikan pada bayi pascaoperasi dengan komposisi karbohidrat 62%,
lemak 18%, dan protein 12%.2 Lemak intraluminal merupakan rangsangan
utama terhadap pertumbuhan mukosa usus, sedikitnya 20% total kebutuhan
kalori harian diperlukan sebagai pembentukan trigilserida rantai panjang untuk
mempertahankan struktur dan fungsi dari usus halus. Disfungsi sementara dari
sistema usus halus terutama pada pasien atresia ileum pascaoperasi seringkali
terjadi karena banyak sebab, diantaranya adalah intolerans terhadap laktosa,
malabsorbsi terutama karena pertumbuhan bakteri yang banyak, dan diare. Hal
ini terjadi terutama karena berhubungan dengan short bowel syndrome. Keadaan
ini membutuhkan perubahan bertahap dari pola total parenteral nutrisi ke nutrisi
oral.

H. ASUHAN KEPERAWATAN
 Pengkajian
Informasi identitas/data dasar meliputi, nama, umur, jenis kelamin, agama,
alamat, tanggal pengkajian, pemberi informasi. Antara lain :
1. Anamnesis
Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, tanggal lahir
Identitas orang tua: nama, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku
bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor registrasi, dan diagnosis medis.
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Atresia Ileum misalnya, tidak BAB,
distensi abdomen, kembung, muntah.
a. Keluhan utama Klien
Masalah yang dirasakan klien yang sangat mengganggu pada saat
dilakukan pengkajian, pada klien Atresia Ileum adalah distensi
abdomen.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Yang diperhatikan adanya keluhan mekonium keluar setelah 24 jam
setelah lahir, distensi abdomen dan muntah hijau atau fekal.
c. Riwayat kesehatan masa lalu
1) Riwayat Antenatal Care: pemeriksaan yang dilakukan pada setiap
trimester (apakah rutin dilakukan, dimana, siapa yang memeriksa),
pemeriksaan penunjang (seperti USG), penyulit selama kehamilan
2) Riwayat intranatal:
3) Riwayat Post natal: meconium keluar > 24jam, muntah berwarna
hijau, terlihat distensi abdomen, konstipasi, kemungkinan dapat
terjadi enterokolitis
d. Riwayat Nutrisi
Makan dan minum berkurang, nafsu makan menurun, rewel karena
muntah serta adanya distensi abdomen.
e. Riwayat psikologis
Pada anak yang dirawat di rumah sakit cenderung mengalami stress
karena hospitalisasi
f. Riwayat kesehatan keluarga
Aada anggota keluarga menderita penyakit yang sama
g. Riwayat social
Tidak terganggu
h. Riwayat tumbuh kembang
Proses perkembangan tidak mengalami gangguan
Proses pertumbuhan kemungkinan mengalami keterlambatan akibat
asupan nutrisi yang kurang disebabkan oleh nafsu makan anak menurun
karena merasa mual, muntah dan begah.
i. Riwayat kebiasaan sehari-hari
Kebutuhan istirahat dan aktifitas terganggu, anak menjadi sering rewel
karena keluhan sakit perut

2. Pemeriksaan Fisik
a. Breathing (B1)
Terlihat otot bantu pernapasan, pernapasan cuping hidung, respiration
rate meningkat, terlihat sesak, suara napas vesikuler.
b. Blood (B2)
Nadi dalam batas normal, tidak teraba pembesaran jantung, palpasi
jantun redup, auskultasi S1 S2 tunggal.
Terdapat kemungkinan kenaikan suhu apabila telah terjadi infeksi
c. Brain (B3)
Kesadaran compos mentis, tidak terdapat gangguan pada system syaraf
d. Bladder (B4)
Dalam batas normal

e. Bowel (B5)
Pasien atau keluarga mengeluhkan pasien tidak bisa BAB, terlihat
adanya distensi abdomen, perut kembung, bising usus menurun,
terdapat nyeri tekan, pasien mengalami muntah (frekuensi dan
karakteristik muntah), adanya kram, tenderness.
f. Bone (B6)
Keterlambatan pertumbuhan tulang akibat asupan nutrisi berkurang.

 Diagnosa keperawatan
Pre-Operasi
1. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi
paru.
2. Disfungsi Motilitas Gastrointestinal berhubungan dengan hiperperistaltik
dan akumulasi cairan di usus
3. Risiko aspirasi,faktor pencetus: pristaltik balik
4. Ansietas berhubungan dengan kurang terpapar informasi mengenai
tindakan operasi
Post-Operasi
5. Nyeri akut berhubungan dengan inkontinuitas jaringan
6. Risiko kerusakan integritas kulit sekitar stoma
7. Risiko infeksi
8. Perubahan pola eliminasi alvi berhubungan dengan terpasang stoma.
Intervensi
No Dx Tujuan Intervensi
Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor frekuensi, ritme, kedalamam pernafasan.
pola nafas b.d keperawatan,pola nafas efektif. 2. Catat pergerakan dada, kesimetrisan, penggunaan otot
penurunan ekspansi Kriteria Hasil : tambahan.
paru. 1) Frekuensi pernafasan dalam 3. Monitor pola nafas bradipnea , takipnea, hiperventilasi.
batas normal 4. Palpasi ekspansi paru
2) Irama nafas: vesikuler, tidak 5. Auskultasi suara pernafasan
terdapat suara napas tambahan
3) Ekspansi dada simetris Oxygen therapy
4) Bernafas dengan mudah 1. Atur peralatan oksigenasi
2. Monitor aliran oksigen
3. Pertahankan jalan nafas yang paten
4. Pertahankan posisi pasien
Nyeri akut Level nyeri berkurang dengan kriteria Management nyeri
berhubungan : 1. Kaji nyeri meliputi karakteristik, lokasi, durasi, frekuensi,
dengan agen injuri 1. Anak tidak rewel kualitas, dan faktor presipitasi.
fisik 2. Ekspresi wajah dan sikap tubuh 2. Observasi ketidaknyamanan non verbal
rileks 3. Berikan posisi yang nyaman
3. Tanda vital dalam batas normal 4. Anjurkan orang tua untuk memberikan pelukan agar anak
merasa nyaman dan tenang.
5. Tingkatkan istirahat
Disfungsi motilitas Setelah dilakukan tindakan Manajemen Saluran Cerna (0430)
gastrointestinal keperawatan selama......... x 24 jam 1. Monitor TTV pasien
diharapkan pasien membaik dengan 2. Catat tanggal BAB terakhir
indikator: 3. Monitor BAB termasuk frekuensi, konsistensi, bentuk, volume,
- Toleransi terhadap makanan dan warna dengan cara yang tepat
- Nafsu makan menigkat 4. Monitor bising usus
- Frekuensi BAB 1-2x/hari 5. Monitor adanya distensi abdomen
- Warna feses kuning kecoklatan 6. Batasi masukan oral jika sistem saluran cerna bawah tidak aktif
- Konsistensi feses lunak 7. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi (obat anti perut
- Bising usus + kembung) jika diperlukan
- Warna cairan lambung normal
- Jumlah residu lambung -
- Nyeri perut -
- Distensi perut -
- Perut lunak
Risiko Aspirasi Setelah dilakukan tindakan 1. Periksa residu lambung sebelum pemberian makan dan
keperawatan, bayi Tidak mengalami pemberian obat
aspirasi yang dibuktikan oleh 2. Auskultasi suara paru sebelum dan setelah pemberian
pencegahan aspirasi; status menelan makan
dan status pernapasan: ventilasi tidak
3. Pantau tanda-tanda aspirasi selama proses pemberian
mengalami gangguan.
makan
Pasien akan:
4. Verifikasi penempatan slang enteral sebelum pemberian
 Menunjukan peningkatan
makan dan obat
kemampuan menelan
 Menoleransi asupan ora dan 5. Pantau tingkat kesadaran, reflek batuk, muntah dan
secret tanpa aspirasi kemampuan menelan
 Menoleransi pemberian 6. Posisikan pasien berbaring miring jika tedapat muntah
makan per enteral tanpa aspirasi
 Mempunyai bunyi paru yang
bersih dan jalan napas yang paten
 Mempertahankan kekuatan
dan tonus otot yang adekuat
Perubahan Pola BAB lancar, dengan Bowel management
Eliminasi Alvi Kriteria Hasil : 1. Catat BAB terakhir
 Feses lunak 2. Monitor tanda konstipasi
 Anak tidak kesakitan saat BAB. 3. Anjurkan keluarga untuk mencatat warna, jumlah, frekuensi
 Tindakan operasi colostomi BAB.
4. Berikan supositoria jika perlu.
Bowel irrigation
1. Jelaskan tujuan dari irigasi rektum.
2. Check order terapi.
3. Jelaskan prosedur pada orangtua pasien.
4. Berikan posisi yang sesuai.
5. Cek suhu cairan sesuai suhu tubuh.
6. Berikan jelly sebelum rektal dimasukkan.
7. Monitor efek dari irigasi.
Cemas Cemas keluarga pasien tertangani 1. Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
berhubungan dengan 2. Kaji pemahaman orangtua terhadap kondisi anak, tindakan yang
dengan perubahan Kriteria Hasil: akan dilakukan pada anak.
dalam status - Ibu terlihat lebih tenang 3. Anjurkan orang tua untuk berada dekat dengan anak.
kesehatan anak - Ibu dapat bertoleransi dengan 4. Bantu pasien mengungkapkan ketegangan dan kecemasan.
keadaan anak.
DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily & Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatrik, Alih bahasa
Jan Tambayong. Jakarta: EGC.
Bulechek, et al. 2017. Nursing Interventions Classification (NIC), Edisi Keenam
Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.

Bulechek, et al. 2017. Nursing Outcomes Classification (NOC), Edisi Keenam


Bahasa Indonesia. Oxford: Elsevier.
NANDA. 2017. Diagnosa Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-2017, Edisi
10. Jakarta: EGC.
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.
Wong, Donna L. Dkk. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong. Jakarta :
EGC.