Anda di halaman 1dari 15

NAMA : LUSITA SIWI KARYATI

NIM : J1B115031

ENERGI DAN LISTRIK PERTANIAN

1. Jenis-jenis energy primer terutama energy terbarukan

Energy merupakan kebutuhan dasar manusia yang terus meningkat.


Energy bersal dari bahasa Yunani yaitu energia yang berarti kemampuan untuk
melakukan usaha. Energy merupakan besaran yang kekal yang artinya energy
tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi energy dapat diubah dari satu
bentuk ke bentuk yang lain. Jika suatu obyek mampu melakukan suatu
gerakan maka obyek tersebut dikatakan mempunyai energy.

Sumber daya energy adalah sumber daya alam yang dapat diolah oleh
manusia dan dapat digunakan untuk pemunuhan kebutuhan energy.

Berdasarkan asalnya, sumber daya energy diklasifikasikan menjadi:

a. Sumber daya energy fosil

Minyak bumi, gas bumi, dan batu bara disebut sebagai sumber
energy fosil karena berasal dari jasad-jasad organic (makhluk hidup)
yang mengalami proses sedimentasi selama puluhan tahun bahkan
jutaan tahun.

b. Sumber daya energy non-fosil


Adalah sumber energy yang pembentukannya bukan berasal dari
jasad organic. Yang termasuk dalam sumber daya energy non-fosil
yaitu sinar matahari, angin, air, dan panas bumi.

Berdasarkan sifat alaminya, sumber energy dapat diklasifikasikan menjadi:

a. Sumber energy primer

Sumber energy primer adalah sumber energy yang terdapat


langsung dialam dan dapat dijumpai pada kehidupan sehari hari.
Seperti air, nuklir, sinar matahari, minyak bumi, batu bara, angin dan
kayu.

b. Sumber energy sekunder


Sumber energi sekunder adalah energi yang dihasilkan dari energi
primer seperti gas dan listrik. Pada dasarnya energi sekunder berasal
dari olahan energi primer.
Minyak bumi, gas bumi, batu bara, tenaga air dan lain sebagainya disebut
sebagai energi primer jika masih dalam wujud aslinya. Hasil olahan minyak
bumi seperti bahan bakar minyak disebut sebagai energi sekunder

Energi memiliki peranan penting dan tidak dapat lepas dari kehidupan
manusia. Sumber energi dapat dikategorikan berdasarkan ketersediaanya yaitu
eneergi terbarukan dan energi tak terbarukan.

Energi terbarukan adalah sumber energi yang dapat langsung


dimanfaatkan dengan bebas. Sumber energi ini dapat dengan cepat diisi
kembali oleh alam. Ketersediaan energi terbarukan ini tidak terbatas dan bisa
dimanfaatkan terus-menerus. Energi terbarukan menghasilkan sedikit atau
bahkan tidak menghasilkan pencemaran atau gas rumah kaca. Berikut
berbagai contoh energi-energi terbarukan:

1) Energi Matahari

Energi matahari merupakan sumber energi paling penting dalam


kehidupan manusia. Energi matahari diperoleh dari cahaya panas yang
merupakan komponen dari panas matahari. Sumber energi matahari
banyak digunakan untuk berbagai aktivitas manusia, seperti
fotosintesis buatan, listrik tenaga surya atau energi ini juga bisa diubah
menjadi lisrik dan lain sebagainya.

Sumber: Energi dan Perubahannya, 2009

Gambar 1. Sel Surya Matahari

Secara global, matahari menyediakan 10.000 kali energi bumi yang


dapat di memanfaatkan siapa pun dengan gratis dan merupakan salah
satu sumber energi alternatif yang potensial untuk dikelola dan
dikembangkan terutama bagi Negara-negara tropis seperti Indonesia.

2) Energi Angin

Perbedaan temperatur di dua tempat yang berbeda menghasilkan


tekanan udara yang berbeda, sehingga menghasilkan angin. Energi
angin merupakan energi yang dihasilkan oleh udara yang berhembus
dipermukaan bumi. Angin adalah salah satu sumber energi yang tak
terbatas dan tak pernah habis. Energi angin dapat diubah menjadi
energi mekanik untuk menghasilkan usaha. Karena angin tidak
menimbulkan polusi, maka banyak Negara-negara memanfaatkan
angin dalam teknologi kincir angin. Angin akan mendorong turbin dari
kincir angin yang bisa menghasilkan sumber tenaga listrik tambahan.

Sumber: Energi dan Perubahannya, 2009

Gambar 2. Turbin Angin

3) Panas Bumi (Geothermal)

Energi panas bumi adalah energi panas yang berasal dari dalam
kerak bumi. Energi panas bumi ini dihasilkan didalam inti bumi yang
diperoleh akibat peristiwa peluruhan partikel-pertikel radioaktif
didalam batuan dan pelepasan kalor secara terus menerus didalam
bumi.

Inti bumi terbentuk dari magma yang mengalir menembus berbagai


lapisan batuan di bawah tanah. Saat mencapai reservoir air bawah
tanah, terbentuklah air panas bertekanan tinggi yang keluar ke
permukaan bumi malalui celah atau retakan di kulit bumi, maka timbul
sumber air panas yang biasa disebut uap panas.

Sumber: Energi dan Perubahannya, 2009

Gambar 3. Uap Panas


4) Biomassa

Biomassa merupakan energi terbarukan yang berasal dari


organisme yang masih hidup atau yang sudah mati. Biomassa
merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui karena tumbuhan
dapat kita tanam setiap saat. Sumber utama dari energi biomassa yaitu
limbah, alkohol dan kayu. Kayu merupakan kebutuhan yang sangat
banyak digunakan, seperti pada rumah tangga.

Biasanya biomassa dibakar untuk melepas energi kimia yang


tersimpan didalamnya. Membakar biomassa bukan cara satu-satunya
untuk menghasilkan energi, biomassa dapat juga dikonversi ke bentuk
energi lain diantaranya gas metana atau etanol dan biosolar. Di
Indonesia juga sudah terdapat pembangkit listrik biomassa seperti
PLTBM Pulubala di Gorontalo yang memanfaatkan tongkol jagung.

Sumber: Energi dan Perubahannya, 2009

Gambar 4. Jenis-jenis Biomassa

Biomassa menjadi sumber energi terbarukan jika laju pengambilan


tidak melebihi laju produksinya, karena pda dasarnya biomassa
merupakan bahan yang diproduksi oleh alam dalam waktu relatif
singkat melalui berbagai proses biologis.

5) Energi Air

Air adalah sumber daya yang dapat diperbaharui karena terus diisi
oleh siklus global dan curah hujan. Panas matahari menyebabkan air
didanau dan lautan menguap dan membentuk awan, kemudian air jatuh
kembali ke bumi sebagai hujan atau salju. Energi air juga energi
alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil.
Energi air digunakan karena memiliki massa dan mampu mengalir. Air
memiliki massa jenis 800 kali dibandingkan udara, bahkan gerakan air
yang lambat mampu diubah ke dalam bentuk energi lain. Air yang
mengalir dapat digunakan untuk memutar turbin yang mendorong
proses mekanis untuk memutar generator. Di Indonesia sudah terdapat
puluhan PLTA untuk menghemat sumber daya tak terbarukan. Berikut
adalah beberapa contoh pemanfaatan energi air:

 Bendungan pembangkit listrik. Yang terbesar terdapat di China


yaitu Three Gorges Dam.

 Mikrohidro yang dibangun untuk membangkitkan listrik hingga


skala 100 kilowatt. Umumnya dipakai didaerah terpencil yang
memiliki sumber daya air yang besar.

6) Energi Pasang Surut atau Energi Samudera

Lautan menyediakan beberapa bentuk energi terbarukan, dan


masing-masing didorong oleh kekuatan yang berbeda. Energi dari
gelombang laut dan pasang surut dapat dimanfaatkan untuk
menghasilkan listrik, dan energi termal laut dari panas yang tersimpan
dalam air laut dapat juga diubah menjadi listrik. Saat ini energi laut
memerlukan teknologi yang mahal dibandingkan dengan sumber
energi terbarukan lainnya, tetapi laut tetap penting sebagai sumber
energi potensial untuk masa depan.

7) Energi Biofuel

Biofuel merupakan bahan bakar hayati yang dihasilkan dari bahan-


bahan organik. Sumber dari energi terbarukan ini adalah tanaman yang
memiliki kandungan gula tinggi seperti tanaman tebu serta tanaman
yang memiliki kandungan minyak nabati yang tinggi seperti tanaman
kelapa sawit.

8) Hydrogen

Hydrogen memiliki potensi yang luar biasa sebagai sumber bahan


bakar dan energi, tetapi teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan
potensi hydrogen masih dalam tahap awal. Hydrogen adalah elemen
umum yang terdapat dibumi. Hydrogen di alam selalu ditemukan
dalam kombinasi dengan unsur lainnya. Setelah dipisahkan dari unsur
lain, hydrogen dapat digunakan untuk menggerakkan kendaraan,
menggantikan gas alam untuk pemanasan dan memasak serta untuk
menghasilkan listrik.
2. Peranan energi terbarukan terkait dengan isu lingkungan

Tujuan dari pengembangan energi terbarukan adalah untuk mencapai


target bauran energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dan 31% pada
tahun 2050. Energi alternatif atau terbarukan adalah solusi untuk
meningkatkan peran energi terbarukan dalam rangka menjamin keamanan
pasokan energi untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang semakin
meningkat secara berkelanjutan, baik untuk kegunaan dibidang pembangkit
energi listrik muapun dibidang transportasi.

Energi terbarukan merupakan energi yang berasal dari proses alam yang
berkelanjutan, seperti energi yang berasal tenaga angin, tenaga matahari,
tenaga air, biomasa dan panas bumi. Energi terbarukan mulai menarik
perhatian masyarakat dan pemangku kebijakan sebagai sumber energi
alternatif setelah peristiwa krisis minyak dunia pada tahun 1973. Penggunaan
energi dengan sumber terbarukan kemudian berkembang pesat pada saat
United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)
dibentuk oleh PBB sebagai gerakan untuk mengurangi gas rumah kaca.
Lembaga ini terus konsisten menyuarakan pengalihan menuju energi yang
ramah lingkungan melalui Millenium Development Goals (MDGs) dan
Sustainable Development Goals (SDGs) yang dikeluarkan oleh PBB.

3. Situasi ke-energi-an di dunia dan di Indonesia

 Situasi ke-energi-an di Indonesia

Konsumsi energi final (termasuk biomassa) pada tahun 2000


meningkat dari 764 juta SBM (Setara Barel Minyak) menjadi 1.079 SBM
pada tahun 2012 atau meningkat rata-rata 2,91% setiap tahunnya. Pada
tahun 2012 pangsa terbesar penggunaan energi adalah sektor industri
(34,8%) diikuti oleh sektor rumah tangga (30,7%), transportasi (28,8%),
komersial (3,3%), dan lainnya (2,4%). Selama kurun waktu 2000-2012,
sector transportasi mengalami pertumbuhan terbesar yang mencapai 6,92%
per tahun, diikuti sektor komersial (4,58%), dan sektor industri (2,51%).
Sedangkan untuk pertumbuhan di sektor rumah tangga hanya sebesar
0,92%, dan sektor lainnya mengalami penurunan sebesar 0,94%.
Tingginya laju pertumbuhan konsumsi energi final di sektor transportasi
disebabkan pesatnya pertumbuhan kendaraan bermotor dari kurun waktu
2000-2012 yang mencapai sekitar 14,3% per tahun. Sektor rumah tangga
mempunyai pertumbuhan konsumsi energi yang rendah karena terjadi
perubahan penggunaan peralatan dan teknologi yang lebih efisien serta
beralihnya penggunaan kayu bakar digantikan penggunaan energi
komersial seperti LPG dan listrik.

Menurut Kepala BPPT Dr Marzan A Iskandar menilai kondisi ke-


energi-an indonesia saat ini sedang memprihatinkan. Pasca 2030 Indonesia
diperkirakan sudah menjadi Negara pengimpor energi karena produksi
energi di Indonesia yang sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan
konsumsi dalam negeri. Batubara akan menjadi sumber energi utama bagi
Indonesia dengan tingkat produksi batubara mencapai sedikitnya 517 juta
ton per tahun. Cadangan batubara Indonesia hanya akan mencukupi hingga
20 tahun kemudian (terhitung dari tahun 2030 sampai tahun 2050).
Minyak bumi pasca 2030 akan mengalami deficit mencapai 650 juta SBM
(Setara Barel Minyak) yang hanya ditutupi oleh impor, sedangkan untuk
LPG, Indonesia juga diprediksi akan mengimpor hingga 70% dari
kebutuhannya yang mencapai 10 juta ton.

Pada tahun 2030 nantinya Indonesia menghasilkan listrik hingga


mencapai 687 Twh atau tumbuh 7,3 persen dari produksi 2009 yang
mencapai 157 Twh dimana batubara akan menjadi bahan baku utama yang
dominan sebagai pembangkit listrik dengan pangsa 45%.

Kondisi ke-energi-an Indonesia saat ini masih memiliki banyak


persoalan. Besarnya ketergantungan energi Indonesia terhadap energi fosil
dan rendahnya pemanfaatan energi terbarukan bila dibandingkan dengan
potensi yang dimiliki masih menjadi tantangan tersendiri di sector energi.
Keterbatasan infrastruktur energi juga membatasi akses masyarakat
terhadap energi dan penggunaan energi yang masih belum efisien. Industry
pulp and paper merupakan salah satu industry yang menggunakan energi
dalam jumlah yang besar untuk produksi pulp sebesar 450.000 ton per
tahun dan konsumsi energi sebesar 365.000 TOE per tahun (PT.
Tanjungenim Lestari Pulp and Paper, 2015).

Harus disadari bahwa saat ini Indonesia telah mengimpor minyak


mentah maupun BBM untuk memenuhi kebutuhan konsumsi energi dalam
negari. Hingga saat ini sumber energi minyak bumi masih menjadi sumber
utama dalam penggunaannya terutama dalam bidang kelistrikan, industry,
dan transportasi. Secara umum dalam pemakaian energi di Indonesia
masih mengandalkan dan bergantung pada sumber daya energi minyak
bumi. Energi listrik sebagai energi sekunder sangat populer digunakan
diseluruh sector kegiatan. P.T. Perusahaan Listrik Negara (Persero) sebagai
badan usaha milik negara, menyelenggarakan tugas negara melakukan
penyediaan dan pelayanan tenaga listrik, dalam membangkitkan tenaga
listrik masih banyak menggunakan sumber daya energi minyak bumi.
 situasi ke-energi-an di dunia

Sejak ditemukan sumber cadangan minyak sekitar tahun 1980-an dan


dieksploitasi secara besar-besaran, produksi minyak dunia dari tahun ke
tahun semakin menurun. Pada situasi seperti ini kedepannya akan
menyebabkan semakin mahal dan peningkatan harga minyak dunia terus
meningkat.

Pertumbuhan industrialisasi di China khusunya di bidang otomotif


dengan jumlah penduduk terbanyak didunia ikut serta mendorong dan
memberi beban dan dampak tersendiri akan kebutuhan energi minyak
dunia semakin meningkat. Selain itu, pertumbuhan ekonomi di India juga
menyebabkan meningkatnya permintaan energi minyak dunia.

Gambar 5. Kebutuhan Energi Dunia

Tingkat produksi minyak dunia banyak didominasi Negara-negara


Timur Tengah. Kemudian diikuti oleh kelompok Negara dari Region
Eropa-Eurasia (Eurasia termasuk Negara-negara pecahan Uni Soviet),
Amerika Utara dan Afrika. Penggunaan sumber energi dari bahan bakar
fosil seperti minyak bumi yang diambil tanpa henti menyebabkan
jumlahnya menipis dan terbatas. Jumlah produksi yang semakin menipis
menyebabkan harganya menjadi mahal dan tidak ekonomis lagi. Dampak
terhadap masalah lingkungan, yaitu terutama terkait dengan masalah
perubahan iklim dan efek gas rumah kaca yang ditimbulkan akibat
penggunaan energi fosil.

Negara-negara di dunia cenderung mulai mengalihkan dan mengurangi


penggunaan energi dari bahan bakar fosil dan mulai memanfaatkan sumber
energi terbarukan sebagai sumber energi pengganti yang ramah
lingkungan. Berdasarkan data dari Badan Energi Dunia (Internasional
Energi Agency-IEA), bahwa permintaan kebutuhan energi dunia
menunjukkan angka peningkatan yang sangat tajam. Hingga tahun 2030
permintaan energi dunia meningkat sebesar 45% atau mengalami
peningkatan dengan rata-rata sebesar 1,6% setiap tahun.

Pemakaian batubara diperkirakan mengalami peningkatan 3 kali lipat


hingga tahun 2030. Sebesar 97% pemakaianbatubara adalah non OECD
(Organisation for Econimic Co-Operation and Development) dengan
Negara China mengkonsumsi dua per tiga terbesar di dunia.

Inti permasalahan energi di dunia adalah ketidakseimbangan


permintaan dan penawaran serta akses terhadap sumber daya energi.
Berbagai fakor yang menciptakan ketidakseimbangan tersebut antara lain
yaitu pesatnya laju pertumbuhan penduduk dan masifnya industrialisasi
dunia. Hal ini meningkatkan konsumsi energi dunia secara drastis dan
mengakibatkan habisnya cadangan energi khususnya energi fosil.

4. Potensi dan peranan energi terbarukan

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat akan mendorong penggunaan


energi secara nasional. Namun ketersediaan sumber daya energi fosil semakin
berkurang, oleh karena itu sangat dibutuhkan dorongan terhadap peranan
energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan energi yang semakin meningkat.
Energi Baru dan Terbarukan (EBT) merupakan energi alternatif yang patut
dipertimbangkan mengingat sumber daya EBT selalu tersedia dan
menggunakan teknologi yang terus berkembang.

Pada tahun 2010 penggunaan energi primer masih didominasi oleh


pemanfaatan BBM sebesar 37,6% terhadap total energi primer, kemudian
diikuti oleh pemakainan biomassa, gas bumi, batubara, tenaga air, dan panas
bumi. Peranan Energi baru dan Terbarukan (EBT) (tenaga air dan panas bumi)
masih sangat sedikit yaitu sekitar 4%. Pemanfaatan bahan bakar untuk
pembangkit listrik didominasi oleh penggunaan batubara sebesar 23,96% juta
ton atau sebesar 96,32 juta SBM.

Penggunaan minyak diesel juga masih banyak digunakan terutama untuk


daerah-daerah terpencil yang infrastrukturnya masih terbatas dimana selama
kurun waktu 10 tahun pemakaiannya meningkat dengan laju pertumbuhan
8,2% setiap tahun. Penggunaan gas masih sedikit jika dibandingkan dengan
batubara dan BBM, hal ini disebabkan penggunaan gas lebih dilokasikan
untuk komoditi ekspor yang sudah terikat oleh kontrak.
Tabel 1. Potensi sumber daya energi fosil dan EBT (Energi Baru dan
Terbarukan)

Produksi Per Rasio Cadangan


No. Energi Fosil Cadangan
Tahun Per Produksi

1. Minyak 4 milyar barel 374 juta barel 11 tahun

2. Gas 104,71 TSCF 3212 BSCF 32 tahun

3. Batubara 21 milyar ton 329 juta ton 85 tahun

4. CBM 453 TSCF - -

5. Shale gas 574 TSCF - -

Sumber Daya Kapasitas Rasio (KT/SD)


No. Non Energi Fosil
(SD) Terpasang (KT) (%)

1. Hidro 75.670 MW 6.654,29 MW 8.8

2. Panas bumi 29.038 MW 126 MW 4.2

3. Mini-mikro hidro 769,68 MW 228,98 MW 29.75

4. Biomassa 49.810 MW 1.618,40 MW 3.25

5. Energi surya 4,80 kWh/m2/hari 22,45 MW -

6. Energi angin 3 – 6 m/detik 1,87 MW -

7. Uranium 3.000 MW*) 30 MW**) 1

Sumber: Ditjen EBTKE

Keterangan:

*) hanya di Kalan – Kalimantan Barat

**) non energi, hanya untuk penelitian (riset)

Peranan pasokan batubara secara bertahap akan meningkat unutuk


memenuhi kebutuhan pembangkit listrik dan sektor industry serta akan
menjadi sumber energi utama di kemudian hari kerena didukung oleh sumber
daya yang cukup. Rendahnya pemanfaatan EBT (Energi Baru dan Terbarukan)
karena EBT bersifat site specific, jauh dari pusat beban, adanya dualism
kepentingan, memerlukan investasi yang besar, terletak pada hutan konservasi
dan lainnya. Padahal, optimalisasi pemanfaatan EBT selain berdampak pada
penurunan laju pertumbuhan emisi global dan local (pro-eviironment), juga
berdampak positif terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi (pro-growth),
penyerapan tenaga kerja (pro-job), dan peningkatan pendapatan masyarakat
dengan orientasi pengentasan kemiskinan (pro-poor).

5. Energi di sektor pertanian dari wilayah pedesaan/perkotaan

 Energi di sektor pertanian di pedesaan

Indonesia memiliki 74.000 desa yang tersebar dari Sabang sampai


Merauke. Setiap desa memiliki potensi yang berbeda-beda. Sumber energi
terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk diubah menjadi energi-energi
lain sangat melimpah di banyak daerah di Indonesia terutama daerah-
daerah terpencil yang berada jauh dari perkotaan atau berada di
pegunungan. Salah satu potensi energi alternatif adalah limbah pertanian
yang dihasilkan dari aktivitas produksi pertanian yang jumlahnya sangat
besar. Limbah pertanian sangat mudah didapatkan hampir disetiap desa
yang memiliki pertanian. Dengan demikian, maka sangat mudah dijadikan
energi terbarukan. Selain dapat menjadi energi alternatif, pemanfaatan
limbah pertanian juga dapat menjaga lingkungan desa terutama terkait
pengelolaan sampah.

Sebagai contoh yaitu Desa Parakanmuncang Kecamatan Nanggung


Kabupaten Bogor. Sebagian besar penggunaan lahan di desa ini ialah lahan
pertanian dan ada beberapa wilayah yang belum memiliki aliran listrik.
Pengembangan Konsep Desa Mandiri Energi di Desa Parakanmuncang
melalui biogass yang kemudian menjadi energi listrik. Biogass adalah
salah satu energi terbarukan yang dapat dibuat dari limbah pertanian. Desa
Parakanmuncang memiliki lahan pertanian yang luas dan tentunya
memiliki limbah pertanian yang sangat banyak. Berdasarkan observasi
lapangan yang telah dilakukan, ada beberapa rukun tangga (RT) di Desa
Parakanmuncang belum teraliri listrik. Hal ini dikarenakan kurangnya
biaya untuk pemasangan listrik. Dengan demikian, akan sangat berguna
apabila limbah pertanian yang selama ini dibakar langsung tanpa ada
manfaatnya dikelola dan diolah menjadi energi listrik untuk mengaliri
listrik masyarakat yang belum memiliki aliran listrik. Sehingga limbah
pertanian di Desa Parakanmuncang akan berguna. Selain dapat
mengurangi kerusakan lingkungan akibat limbah pertanian, juga dapat
membantu dan mensejahterakan masyarakat Desa Parakanmuncang yang
belum teraliri listrik.

 Energi di sektor pertanian di perkotaan


Pertambahan penduduk dan perubahan pola konsumsi masyarakat
menimbulkan bertambahnya volume, jenis, dan karakteristik sampah yang
beragam yakni sampah organic (sisa sayur-sayuran) dan sampah an-
organik.

Sampah kota yang terus bertambah setiap hari menjadi masalah di


beberapa daerah termasuk Kabupaten Gresik. Pemanfaatan sampah
menjadi bahan energi alternatif ini mendukungupaya industry sebagai
green company serta konservasi sumberdaya dan sebagai upaya
penyelamatan lingkungan akibat sampah kota. Pembuatan RDF (Refused
Derived Fuel) dilakukan sebagai pengelolaan sampah kota di TPA Ngipik,
Kabupaten Gresik. RDF merupakan sumber bahan bakar alternatif karena
memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 3.500 – 5000
kcal/kg. hasil yang berupa RDF tersebut digunakan sebagai bahan bakar
alternatif cement kiln (Soetjipto, 2013).

Pemanfaatan sampah menjadi RDF sebagai bahan bakar alternatif


pengganti batubara telah dilakukan di beberapa Negara lain seperti
Denmark, Finlandia, Swedia, Belanda, dan Jerman. Di beberapa Negara
tersebut sampah juga dimanfaatkan menjadi pembangkit listrik
(Gendebien et al, 2013 dalam jurnal Caysa Ardi Bimantara, 2012).

6. Potensi sektor pertanian sebagai sumber energi alternatif primer

Perkembangan kebutuhan energi primer dunia di tengah semakin


terbatasnya energi fosil menyebabkan perhatian terhadap energi terbarukan
semakin meningkat, terutama terhadap sumber energi terbarukan dari sektor
pertanian. Hampir seluruh komoditas budidaya dapat menghasilkan biomassa
yang dapat diubah menjadi energi terbarukan.

Menurut Dewan Energi Dunia, selain dari biomassa pemanfaatan sumber


daya energi primer semakin menurun. Peningkatan sumber energi primer
biomassa mulai terlihat sebelum tahun 2000-an, sementara batubara sudah
menurun sebelum tahun 1950-an. Kelestarian lingkungan hidup dengan segala
permasalahannya semakin menyadarkan perlunya sumber-sumber energi
alternatif yang terbarukan dengan dampak lingkungan yang sedikit.

Bioenergy memang bukanlah alternatif terbaik bagi semua Negara, baik


karena keterbatasan lahan maupun kompetisi penggunaannya untuk keperluan
lain. Namun hal-hal seperti ini tampaknya tidak terlalu berpengaruh bagi
Negara-negara seperti Indonsia, Brazil dan Nigeria, yang memiliki banyak
alternatif dalam menghasilkan biomassa untuk bioenergy (Silveria, 2005). Jika
disinggung masalah energi terbarukan, maka sumber energi alternatif selain
angin dan surya tentu juga akan mengarah kepada sumber alternatif lainnya
yaitu komoditas pertanian. Komoditas pertanian yang cukup banyak
dibudidayakan masyarakat Indonesia dan berpotensi untuk sumber bahan
bakar nabati cukup banyak, seperti kelapa sawit, kelapa, jarak pagar, tebu,
sagu dan ubi kayu (Prastowo, 2006: Prastowo dan Sardiono, 2007).

Lahan untuk kelapa sawit potensinya cukup tinggi. Luas area kelapa sawit
diperkirakan seluas 5,5 juta ha, CPO yang dihasilkan sebanyak 15,4 juta ton
(Ditjenbun, 2006). Kebijakan pengembangan kelapa sawit untk bioenergy
adalah pengembangan kebun khusus (dedicated area) antara lain dengan
memanfaatkan izin usaha perkebunan (UIP) yang telah dikeluarkan tapi belum
dimanfaatkan.

Jarak pagar menjadi pilihan berikutnya karena terbatasnya kegunaan


tanaman jarak pagar selain untuk bahan bakar nabati. Di Negara-negara lain
tanaman jarak pagar ini tidak beracun sedangan di Indonesia tanaman ini
beracun untuk manusia. Tanaman ini juga mudah ditanam di banyak lokasi di
Indonesia.

Masyarakat sering menyebut kelapa sebagai pohon kehidupan. Hamper


semua bagian tanaman ini dapat dimanfaatkan bagi manusia. Bagian tanaman
kelapa atau hasilnya yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif
adalah daging buah untuk minyak dan bahan bakar nabati, tempurung dan
serabut serta pelepahnya dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar padat. Hasil
lainnya yaitu nira yang dijadikan bahan pembuatan etanol. Walaupun kadar
energinya berbeda, tetapi bagian tanaman tersebut berpotensi sebagai sumber
energi alternatif. Minyak kelapa dapat dijadikan cocodiesel sebagai bahan
campuran maupun pengganti solar.

Sumber minyak nabati potensial lainnya yaitu sagu. Setiap batang pohon
sagu di Papua dapat menghasilkan tepung sekitar 200 kg dan bioethanol
sekitar 30 liter. Harga etanol yang cukup menarik diharapkan dapat
mendorong pemanfaatan sagu sebagai sumber energi alternatif.

Tanaman perkebunan lainnya sebagai sumber bioethanol potensial adalah


tebu. Kendala dari pengembangan bioethanol asal tebu diantaranya area yang
terbatas dan belum adanya tata ruang khusus untuk pengembangan produksi
etanol. Saat ini telah tersedia sejumlah varietas tebu unggul untuk lahan sawah
maupun tegalan, termasuk varietas genjah (PSCO 90-2411) yang berpotensi
untuk bioetanol.

Biomassa mampu menyediakan 11% energi primer dunia (Dobermann,


2007). Potensi bioenergy global dari sektor pertanian diperkirakan sebesar 2 –
22 EJ (Exajoule) dan produksi energi kotor minyak kelapa sawit di Indonesia
bisa mencapai 168 GJ (Gegajoule) per hektar. Untuk kelapa, hasil bioenergy
kotor diperkirakan sekitar 3168,1 MJ (Megajoule) per pohon (Soerawidjaja,
2006). Untuk karet dengan penambahan area pertanaman sekitar 0,7% per
tahun selama 6 tahun terakhir dengan dasar perhitungan yang sama maka
bioenergy yang bisa di hasilkan dari residu kayunya adalah sekitar 114,8 juta
GJ, belum termasuk pemanfaatan biji karetnya yang minyaknya secara
kualitatif dapat menghasilkan biodiesel (Harsono, 2006). Potensi bioenergy
dari ubi kayu dan jagung masing-masing sekitar 6600 Kwatt-jam atau sekitar
24 GJ per ha dan sekitar 29,2 GJ per ha (Indonesia), 41 GJ per ha (China) dan
79 GJ per ha (USA) (Dobermann, 2007).

Potensi ternak ruminansia besar (sapid an kerbau) pada tahun 2004 adalah
13.680.000 ekor dengan menghasilkan kotoran segar setara 164.160.000 ton
setiap harinya (Syamsudin dan ISkandar, 2005). Factor koreksi diperlukan
karena tidak seluruh kotoran ternak besar dapat dikonversi ke biogas.
Berdasarkan data kapasitas terpasang dan potensinya, pemanfaatan biogas di
Indonesia hanya sekitar 1% (Widodo et al, 2006).

Tabel 2. Bioenergy yang tersedia dari sektor pertanian, 2007*

Harga Pokok (Juta Residu Biomassa


No. Komoditas Utama
GJ) **** (Juta GJ)

1. Kelapa Sawit 170 69,7

2. Kelapa 130** -

3. Karet - 144,8

4. Padi - 158,6

5. Tebu 2,66 78***

6. Sagu 58** -

7. Ternak Besar 0,33 -

Jumlah 360,99 441,1

Keterangan:
* Tidak termasuk kayu sektor kehutanan asal CPO 2,9 juta ton, kelapa
25% produksi, tetes 40% produksi sagu 30% produksi, kotoran ternak 1%
total.

** Termasuk kayu, tempurung, sabut dan residu lainnya.

*** Abdullah, 2001.

**** Berdasarkan pertumbuhan produksi 6 tahun terakhir dan ddengan


dasar perhitungan Abdullah (2001).

Daftar Pustaka

Kholiq, Imam. 2015. Pemanfaatan Energi Alternatif Sebagai Energi Terbarukan


untuk mendukung substitusi BBM. Jurnal IPTEK, 19 (2) : 75 – 91.
http://ejurnal.itats.ac.id/index.php/iptek/article/download/12/12. (Diakses 24
Agustus 2017, 08:06 WIB)

Prastowo, Bambang. 2007. Potensi Sektor Pertanian Sebagai Penghasil dan


Pengguna Energi Terbarukan. Prespektif, 6 (2) : 84 – 92.
http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/index.php/psp/article/viewFile/2862/2
489. (Diakses 24 Agustus 2017, 08:28 WIB)