Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Keratolisis berlubang adalah infeksi superfisisal kulit yang memberi atau

menyebabkan timbulnya lubang – lubang pada stratum korneum dan biasanya

timbul pada telapak tangan dan telapak kaki. Castelani (1910) menyebut

“keratoma plantar sulkatum”, achton dan McGuere (1930) menyebut “keratolisis

plantar sulkatum”, sedangkan Zaias (1965) memberi nama “pitted keratolisis”.2,3

Bakteri yang menyebabkan timbulnya keratosis berlubang ialah suatu

mikroorganisme gram positif yang berbentuk kokioid dan filamentosis, yang oleh

taphin dikelompokkan dalam Spesies Corynobacterium. Dari 38 sukarelawan,

53% menderita penyakit ini dan ditemukan bahwa tiga hari berturut-turut kaki

berada dalam keadaan basah. Lingkungan yang basah atau penyakit hyperhidrosis

sering mempercepat timbulnya penyakit. Orang yang bekerja di lapanagan leras,

seperti bebatuan sering ditemukan memiliki penyakit ini.2,3

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI

Keratolisis berlubang adalah infeksi superfisisal kulit yang memberi atau

menyebabkan timbulnya lubang – lubang pada stratum korneum dan biasanya

timbul pada telapak tangan dan telapak kaki. Castelani (1910) menyebut

“keratoma plantar sulkatum”, achton dan McGuere (1930) menyebut “keratolisis

plantar sulkatum”, sedangkan Zaias (1965) memberi nama “pitted keratolisis”.2,3


2.2 EPIDEMIOLOGI
Orang – orang dari segala usia, ras dan jenis kelamin dapat terkena penyakit

ini, walaupun laki-laki lebih sering dibandikan wanita, tetapi wanita juga dapat

terkena. Dari 38 sukarelawan, 53% menderita penyakit ini dan ditemukan bahwa

tiga hari berturut-turut kaki berada dalam keadaan basah. Keratolisis berlubang

atau pitted keratolisis terjadi di seluruh dunia, dan sering terjadi pada lingkungan

Tropis dan subtropis dan terutama orang yang tidak memakai alas kaki pada

daerah tropis. Selain itu oenyakit ini juga berhubungan dengan pekerjaan atau

kegiatan olahraga. Orang – orang dari segala usia, ras dan jenis kelamin dapat

terkena penyakit ini, walaupun laki-laki lebih sering dibandikan wanita.

Lingkungan yang basah atau penyakit hyperhidrosis sering mempercepat

timbulnya penyakit. Orang yang bekerja di lapanagan leras, seperti bebatuan

sering ditemukan memiliki penyakit ini. Orang yang sering berkeringat atau kaki

yang lembab cenderung rentan terhadap penyakit ini. Sebuah penelitian dari 142

2
orang tunawisma di Boston, mengungkapkan bahwa 20,4% dari 142 pasien

terkena Pitted keratolysis.4,2


2.3 ETIOLOGI
Penyebab paling umum dari keratolisis adalah suatu mikroorganisme gram

positif, yang berbentuk kokioid dan filamentosis, yang oleh Taphin

dikelompokkan dalam Spesies Corynobacterium. Namun beberapa bakteri lain

juga dapat menyebabkan kondisi ini, terutama Actinomyces keratolytica,

Dermatophylus congolensis, Kytococus sedentarius, dan Streptomyces.1,2


2.4 FAKTOR RESIKO
1. Kelembaban udara merupakan faktor yang memperberat penyakit
2. Kebiasaan tidak memakai alas kaki
3. Pekerjaan ditempat basah atau keras
4. Musim hujan.2
2.5 PATOGENESIS

Micrococcus sedentarius dan Dermatophilus congolensis memiliki morfologi,

fitur bakteriologi yang sama , yangb memungkinkan keduanya untuk

menyebabkan penyakit ini. Tetapi disisi lain, sulit untuk mengidentifikasi

organisme sebagai etiologi sebenarnya. Organisme micrococcus sedentarius

termasuk kedalam genus micrococcaccae yang merupakan bakteri gram positif

kokus aerobic, yang ditemukan di lingkungan dan flora normal pada kulit

manusia. Uji laboratorium yang umum digunakan untuk membedakan antara

microcco dan staphylococci adalah tes fermentasi Hugh yang menunjukkan

adanya pola oksidatif pada micrococci dan pola fermentasi pada jenis

staphylococci.4

2.6 PATOFISIOLOGI
Conglolensi Dermatophilus merupakan bakteri golongan Actinomycetes.

Bakteri ini terdapat pada keratin di lapisan telapak kaki dalam bentuk massa non-

acid-fast, bercabang dan filament yang bersepta. Filament bercabang pada bakteri

3
ini berukuran antara 0,5 sampai 1,5 dengan diameter terbagi secara membujur dan

melintang berbentuk kokus berantai delapan atau berbentuk sel kuboid (spora)

yang bersifat motil. Organisme aerobic dan tumbuh optimal pada 37°C.4

Bakteri-bakterui ini akan berproliferasi dalam kondisi yang memungkinkan

untuk membentuk koloni seperti hyperhidrosis, trauma berulang, maserasi kulit

serta meningkatan pH kulit. Bakteri-bakteri ini akan memproduksi enzim protease

dan keratinase yuang dapat melisiskan stratum korneum sehingga terbentuklah

lubang-lubang kecil.5

2.7 GAMBARAN KLINIS


pada pasien dengan pitted keratolisis atau keratolisis berlubang paling sering di

temukan gejala hyperhidrosis seperti kulit kaki lembab atau basah, berbau tak sedap, dan

kadang-kadang gatal dan nyeri jika berjalan. 1,2


Lapisan epidermis telapak kaki terutama bagian depan dan tumit dapat ditemukan

menebal dan berwarna kekuningan, terdapat pula belahan yang dalam dan hitam . tanda

khas penyakit ini yaitu lubang-lubang kecil atau disebut juga lesi krateriformis dengan

bentuk lesi diskret, erosi dangkal, dan multifocal sedalam 1-7mm pada telapak kaki dan

tidak disertai tanda-tanda radang. Penyakit ini berhubungan dengan musim, timbul pada

musim hujan dan menghilang pda musim kemarau. Kelainan ini sering terdapat pada

tentara yang memakai sepatu bot terus menerus yang lembab. 2,3

4
Gambar. 2.7 keratolisis berlubang
2.8 DIAGNOSIS
Pada anamnesis pasien dengan keratolisis berlubang atau pitted keratolisis yaitu

sering mengeluhkan nyeri, bau, gatal, dan nyeri saat berjalan, hal ini sering dijumopai

pada orang yang sering memakai kaus kaki atau memakai sepatu terus-menerus. Penyakit

ini berhubungan dengan hyperhidrosis. Pasien juga mengeluhkan terdapat lubang-lubang

kecil pada telapak kaki. Biasanya penyakit ini sering terjadi didaerah tropis terutama pada

pasien yang bekerja dengan menggunakan sepatu yang lama. 5


Pada pemeriksaan fisik tanda yang jelas adalah beberapa lesi krateriformis yang

dangkal terletak pada telapak kaki. Bentuk lesi adalah diskret, dangkal dan melingkar

yang tampak menekan keluar, dan membentuk erosi, dengan ukuran 0,5-0,7mm dan

kedalaman 1-2mm. lubang sering tampak tumpang tindih di tempat sama untuk

menfhasilkan lesi yang lebih luas dari pengikisan kulit. Kadang-kadang lesi ini menjadi

warna kekuningan atau coklat disekitar dan didalam lesi kretiformis. Lesi kretiformis

5
dangkal ini sering ditemukan dibawah jari-jari kaki, sela jari-jari kaki dan telaopak kaki,

terutama pada titik-titik tertekan seperti tumit. Biasanya terjadi bilateral. 4,5
Pemeriksaan penunjang untuk keratolisis berlubang ialah pemeriksaan biopsy kulit

tetapi tidak dilakukan secara rutin, namun pewarnaan perak (methamin silver) atau

dengan zat pewarnaan HE dapat membantu menegakkan diagnosis. Gambaran

histopatologi kulit menunjukkan hyperkeratosis, parakeratosis ringan, dan akantosis. Pada

lapisan epidermis bagian atas terdapat hipervaskularisasi dengan sebukan sel-sel radang

limfosit.4

Gambar 2.8. keratolisis berlubang

2.9 DIAGNOSIS BANDING


1. Keratosis berlubang : infeksi superfisial kulit yang memberi/menyebabkan

timbulnya lubang-lubang pada stratum korneum dan biasanya timbul pada

telapak kaki.2
2. Tinea pedis : infeksi jamur superfisial pada pergelangan kaki, telapak kaki

dan sela-sela jari kaki.1,2


3. psoriasis: penyakit kulit residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak

eritema berbatas tegas, ditutupi oleh skuama tebal berwarna putih mengkilat.2
2.10 PENATALAKSANAAN
1. Non farmakologi

6
Memberikan edukasi kepada pasien untuk menghindari memakai

sepatu yang sama lebih dari 2 hari berturut-turut, dan usahakan

sepatu mongering selama 24 jam sebelum dipakai kembali.5


2. Farmakologi
a) antibiotik topical efektif:
eritromisin atau gel 1% larutan kindamisin hidroklorid, krim asam

fusidat dank rim mufirocin.3,4


b) obat topical efektif lainnya:
krim gentamisin sulfat, benzylferoxide 5% gel, krim tetrasiklin,

triamcinolone acetonide 0,1%, iodochlorhydroxyquin krim

hidrokortison, collodion fleksibel, salep asam salisilat 2% buffered

glutaraldehid, larutan formalin 5%.3,4


c) Anti jamur topical dengan gram positif antibakteri berupa krim

clotrimazole 1% dan krim miconazole nitrat 2%.1


d) Eritromisin tablet 250mg 4x1.2
2.11 PROGNOSIS
Keratolisis berlubang atau pitted keratolisis memliki prognosis sangat baik

yang sangat tergantung kepada gaya hidup pasien. Menjaga kelembapan pada kaki

akan memperbaiki gejala klinis. Pengobatan yang efektif membersihkan lesi dan

bau dapat berlangsung selama 3-4 minggu.3

BAB III
KESIMPULAN

Keratolisis berlubang atau pitted keratolisis adalah infeksi bakteri yang

sering pada telapak kaki, ditandai oleh gambaran klinis berupa lesi krateriformis

dengan erosia dangkal,disket dan multifocal. Gejala klinis berupa kaki lembab,

berbau tidak sedap serta nyeri atau gatal jika berjalan.


Penyebab dari penyakit ini ialah suatu mikroorganisme gram positif, yang

berbentuk kokoid dan filamentosis yang dikelompokkan dalam spesies

7
Corynobacterium.
Pengobatan digunakan untuk openderita Keratolisis berlubang adalah

edukasi pada pasien serta penggunaan larutan alumunium klorida 20%,

penggunaan antibiotik topical seperti solusio atau gel eritromisin, larutan

klindamisin hidroklorida 1%, krim asam fusidat ataupun krim mupirosin.

DAFTAR PUSTAKA

1. Berman K. Pitted keratolisis. [cited 2014 Jan 26]. Atlanta;U.S. National

Library of Medicine NIH (National Institutes of Health);2008. Available

from : http://www.nlm.nih.gov
2. Chuang T. Pitted keratolisis. 2013. [cited 2014 Jan 26]. Available from :

http://www.emedicine.medscape.com
3. Daoud M S, Pittelkow M R. Pitted keratolisis, in : Freedberg I.M, Eisen

A.Z, Wolff K, Austen K.F, Goldsmith L.A, Katz S.I, Fitzpatrick T.B, eds.

Dermatology in General Medicine Eighth Edition, Part 1 “A”; Vol. 1. P.

296-312.
4. Cole G W.pitted keratolisis. 2013. [cited 2014 Jan 26]. Available from:

http://www.medicinenet.com
5. Prof. DR.R.S.Siregar, Sp.KK(K). keratolisis berlubang. Saripati Penyakit

Kulit. Eisi 3.

8
9