Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Rubella atau Campak Jerman merupakan penyakit anak menular yang


lazim biasanya ditadai dengan gejala utama ruam yang berlangsung 2-3 hari
dan pembesaran limfonodi pascaoksipital, retroaurikuler, dan servikalis

posterior.1 Campak Jerman atau rubela ini biasanya hanya menyerang anak-
anak sampai usia belasan tahun. Tapi, bila penyakit ini menyerang anak
yang lebih tua dan dewasa, terutama wanita dewasa, infeksi kadang kadang
dapat berat, dengan manifestasi keterlibatan sendi dan purpura.

Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan


kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital (Congenital Rubella

Syndrome, CRS).2 Infeksi janin pada usia lebih muda mempunyai risiko
kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari
sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari
jenis kecacatan berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma
congenital, mikrosefali, meningoensefalitis, keterbelakangan mental, patent
ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung, purpura,
hepatosplenomegali, icterus.

Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini


mudah menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang
menderita Campak harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak
disebabkan oleh kuman yang disebut Virus Morbili. Anak yang terserang
campak kelihatan sangat menderita, suhu badan panas, bercak bercak
seluruh tubuh terkadang sampai borok bernanah. Biasanya penyakit ini
timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur

1
hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan
mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan
dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat
menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil
1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia
menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin
melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan
BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1
tahun.

1.2 Tujuan

Penulisan referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan pembaca dan


penulis mengenai Imunisasi Morbili dan Rubella mulai dari definisi sampai ke
penatalaksanaan.

1.3 Manfaat
a. Bagi penulis
Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mempelajari,
mengidentifikasi dan mengembangkan teori yang telah disampaikan mengenai
Imunisasi Morbili dan Rubella.

b. Bagi Institusi Pendidikan


Dapat dijadikan sumber referensi atau bahan perbandingan bagi kegiatan
yang ada kaitannya dengan pelayanan kesehatan khususnya yang berkaitan
dengan Imunisasi Morbili dan Rubella.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Rubella

2.1.1 Definisi

Rubella merupakan suatu penyakit virus yang umum pada anak dan
dewasa muda, yang ditandai oleh suatu masa prodromal yang pendek,
pembesaran kelenjar getah bening servikal, suboksipital dan postaurikular,

disertai erupsi yang berlangsung 2-3 hari.1

2.1.2 Epidemiologi

Penyakit ini terdistribusi secara luas di dunia. Setiap tahun melalui


kegiatan surveilans dilaporkan lebih dari 11.000 kasus suspek campak, dan
hasil konfirmasi laboratorium menunjukkan 12-39% di antaranya adalah
campak pasti (lab confirmed) sedangkan 16-43% adalah rubella pasti. Dari

tahun 2010 sampai 2015, diperkirakan terdapat 30.463 kasus rubella.2 Di


Indonesia, rubella merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang memerlukan upaya pencegahan efektif. Data surveilans selama lima
tahun terakhir selama lima tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubella

terjadi pada kelompok usia < 15 tahun.3 Selain itu, berdasarkan studi
tentang estumasi beban penyakit CRS (Congenital Rubella Syndrome) di
Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan terdapat 2.767 kasus, 82/100.000
terjadi pada usia ibu 15-19 tahun dan menurun menjadi 47/100.000 pada

usia ibu 40-44 tahun.3

3
Berdasarkan data World Health Organization (WHO), pada tahun
2015 di Indonesia terlapor kasus rubella sebanyak 2156 kasus. Jika
dibandingkan dengan kasus terlapor pada tahun 2016, Indonesia memiliki

penurunan jumlah kasus menjadi 1238 kasus.4 Kasus Congenital Rubella


Syndrome (CRS) yang terlapor pada tahun 2015 sebanyak 44 kasus dan

meningkat pada tahun 2016 sebanyak 174 kasus.4

Gambar 1. Estimasi kasus rubella di Indonesia tahun 2010 – 20154

2.1.3 Etiologi

Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili


Togaviridae. Secara fisiko-kimiawi virus ini sama dengan anggota virus

lain dari famili tersebut, tetapi virus rubela secara serologik berbeda.5

Gambar 2. Struktur virus rubella

4
2.1.4 Patogenesis

Penularan terjadi melalui oral droplet, dari nasofaring atau rute


pernafasan. Selanjutnya virus rubella memasuki aliran darah. Selanjutnya
virus rubella memsuaki aliran darah. Namun terrjadinya erupsi di kulit belum
diketahui patogenesisnya. Viremia mencapai puncaknya tepat sebelum
timbul erupsi kulit. Di nasofaring, virus tetap ada sampai 6 hari setelah
timbulnya erupsi dan kadang lebih lama. Selain dari darah dan nassofaring,
virus rubella telah diisolasi dari kelenjar getah bening, urin, cairan
serebrospinal, ASI, cairan sinovial dan paru. Penularan dapat terjadi sejak 7
hari sebelumnya atau hingga 5 hari sesudah timbulnya erupsi. Daya tular
tertinggi terjadi pada akhir masa inkubasi, kemudian menurun dengan cepat,
dan berlangsung hingga menghilangnya erupsi.

Gambar 3. Perjalanan Rubella6

5
2.1.5 Manifestasi Klinis1

Tanda-tanda dan gejala Infeksi rubella dimulai dengan adanya


demam ringan selama 1 atau 2 hari (99 - 100 Derajat Fajrenheit atau 37.2
- 37.8 derajat celcius) dan kelenjar getah bening yang membengkak dan
perih, biasanya di bagian belakang leher atau di belakang telinga. Pada
hari kedua atau ketiga, bintik-bintik (ruam) muncul di wajah dan menjalar
ke arah bawah. Di saat bintik ini menjalar ke bawah, wajah kembali
bersih dari bintik-bintik. Bintik-bintik ini biasanya menjadi tanda
pertama yang dikenali oleh para orang tua. Ruam rubella dapat
terlihat seperti kebanyakan ruam yang diakibatkan oleh virus lain. Terlihat
sebagai titik merah atau merah muda, yang dapat berbaur menyatu
menjadi sehingga terbentuk tambalan berwarna yang merata. Bintik ini
dapat terasa gatal dan terjadi hingga tiga hari. Dengan berlalunya bintik-
bintik ini, kulit yang terkena kadangkala megelupas halus. Gejala lain dari
rubella, yang sering ditemui pada remaja dan orang dewasa, termasuk:
sakit kepala, kurang nafsu makan, conjunctivitis ringan (pembengkakan
pada kelopak mata dan bola mata), hidung yang sesak dan basah, kelenjar
getah bening yang membengkak di bagian lain tubuh, serta adanya rasa
sakit dan bengkak pada persendian (terutama pada wanita muda). Banyak
orang yang terkena rubella tanpa menunjukkan adanya gejala apa-apa.

Berbeda dengan rubela, tidak ada fotofobia. Angka sel darah putih
normal atau sedikit menurun, trombositopeni jarang, dengan atau tanpa
purpura. Terutama pada wanita yang lebih tua dan wanita dewasa,
poliartritis dapat terjadi dengan artralgia, pembengkakan, nyeri dan efusi
tetapi biasanya tanpa sisa apapun. Setiap sendi dapat terlibat, tetapi sendi-
sendi kecil tangan paling sering terkena. Lamanya biasanya beberapa hari;
jarang artritis ini menetap selama berbulan-bulan. Parestesia juga telah
dilaporkan. Pada satu epidemi orkidalgia dilaporkan pada sekitar 8%
orang laki-laki usia perguruan tinggi yang terinfeksi.

6
Masa inkubasi1

Masa inkubasi adalah 14-21 hari. Dalam beberapa laporan lain


waktu inkubasi minimum 12 hari dan maksimum 17 sampai 21 hari.
Tanda yang paling khas adalah adenopati retroaurikuler, servikal
posterior, dan di belakang oksipital. Enantem mungkin muncul tepat
sebelum mulainya ruam kulit. Ruam ini terdiri dari bitnik-bintik merah
tersendiri pada palatum molle yang dapat menyatu menjadi warna
kemerahan jelas pada sekitar 24jam sebelum ruam.

Masa prodromal1

Pada anak biasanya erupsi timbul tanpa keluhan sebelumnya;


jarang disertai gejala dan tanda masa prodromal. Namun pada remaja dan
dewasa muda masa prodromal berlangsung 1-5 hari dan terdiri dari
demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan pada
konjungtiva, rinitis, batuk dan limfadenopati. Gejala ini segera
menghilang pada waktu erupsi timbul. Gejala dan tanda prodromal
biasanya mendahului 1-5 hari erupsi di kulit. Pada beberapa penderita
dewasa gejala dan tanda tersebut dapat menetap lebih lama dan bersifat
lebih berat. Pada 20% penderita selama masa prodromal atau hari pertama
erupsi timbul suatu enantema, tanda Forschheimer, yaitu makula atau
petekiia pada palatum molle. Pembesaran kelenjar limfe bisa timbul 5-7
hari sebelum timbul eksantema, khas mengenai kelenjar suboksipital,
postaurikular dan servikal dan disertai nyeri tekan.

Masa eksantema1

Seperti pada rubela, eksantema mulai retro-aurikular atau pada


muka dan dengan cepat meluas secara kraniokaudal ke bagian lain dari
tubuh. Mula-mula berupa makula yang berbatas tegas dan kadang-kadang
dengan cepat meluas dan menyatu, memberikan bentuk morbiliform.

7
Pada hari kedua eksantem di muka menghilang, diikuti hari ke-3
di tubuh dan hari ke-4 di anggota gerak. Pada 40% kasus infeksi rubela
terjadi tanpa eksantema. Meskipun sangat jarang, dapat terjadi
deskuamasi posteksantematik. Limfadenopati merupakan suatu gejala
klinis yang penting pada rubela. Biasanya pembengkakan kelenjar getah
bening itu berlangsung selama 5-8 hari. Pada penyakit rubela yang tidak
mengalami penyulit sebagian besar penderita sudah dapat bekerja seperti
biasa pada hari ke-3. sebagian kecil penderita masih terganggu dengan
nyeri kepala, sakit mata, rasa gatal selama 7-10 hari.

2.1.6 Diagnosis1

Diagnosis klinis sering kali sukar dibuat untuk seorang penderita oleh
karena tidak ada tanda atau gejala yang patognomik untuk rubela. Seperti
dengan penyakit eksantema lainnya, diagnosis dapat dibuat dengan anamnesis
yang cermat. Rubela merupakan penyakit yang epidemik sehingga bila
diselidiki dengan cermat, dapat ditemukan kasus kontak atau kasus lain di
dalam lingkungan penderita.sifat demam dapat membantu dalam menegakkan
diagnosis, oleh karena demam pada rubela jarang sekali di atas 38,5ºC. Pada
infeksi tipikal, makula merah muda yang menyatu menjadi eritema difus pada
muka dan badan serta artralgia pada tangan penderita dewasa merupakan
petunjuk diagnosis rubela. Perubahan hematologik hanya sedikit membantu
penegakan diagnosis. Peningkatan sel plasma 5-20% merupakan tanda yang
khas. Kadang-kadang terdapat leukopenia pada awal penyakit yang dengan
segera segera diikuti limfositosis relatif. Sering terjadi penurunan ringan jumlah
trombosit.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologik yaitu


adanya peningkatan titer antibodi 4 kali pada hemaglutination inhibition
test (HAIR) atau ditemukannya antibodi Ig M yang spesifik untuk rubela.
Titer antibodi mulai meningkat 24-48 jam setelah permulaan erupsi dan
mencapai puncaknya pada hari ke 6-12. selain pada infeksi primer,
antibodi Ig M spesifik rubela dapat ditemukan pula pada reinfeksi.

8
Dalam hal ini adanya antibodi Ig M spesifik rubela harus di
interpretasi dengan hati- hati. Suatu penelitian telah menunjukkan bahwa
telah tejadi reaktivitas spesifik terhadap rubela dari sera yang dikoleksi,
setelah kena infeksi virus lain.

Membedakan rubella dengan campak, demam scarlet dan penyakit


ruam lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu
dilakukan karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan
makulopapuler juga terjadi pada sekitar 1-5% penderita dengan infeksi
mononucleosis (terutama jika diberikan ampisilin), juga pada infeksi
dengan enterovirus tertentu dan sesudah mendapat obat tertentu. Diagnosa
klinis rubella kadang tidak akurat. Konfirmasi laboratorium hanya bisa
dipercaya untuk infeksi akut. Infeksi rubella dapat dipastikan dengan
adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan konvalesens
dengan tes ELISA, HAI, pasif HA atau tes LA, atau dengan adanya IgM
spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi.

Sera sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun


waktu 7-10 hari) sesudah onset penyakit dan pengambilan berikutnya
setidaknya 7-14 hari (lebih baik 2- 3 minggu) kemudian. Virus bisa
diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu sesudah
timbul ruam. Virus bisa ditemukan dari contoh darah, urin dan tinja.
Namun isolasi virus adalah prosedur panjang yang membutuhkan waktu
sekitar 10-14 hari.

2.1.7 Diagnosa Banding1

Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang menyerupai


rubela adalah :

a.Penyakit virus : campak, roseola infantum, eritema mononukleosis


infeksiosa dan Pityriasis rosea

9
b.Penyakit bakteri : scarlet fever (Skarlatina).

c. Erupsi obat : ampisilin, penisilin, asam salisilat, barbiturat, INH,


fenotiazin dan diuretik tizid.

Bercak erupsi rubela yang berkonfluensi sulit dibedakan dari morbili,


kecuali bila ditemukan bercak koplik yang karakteristik untuk morbili.
Erupsi rubela cepat menghilang sedangkan erupsi morbili menetap lebih
lama. Bila terjadi kemerahan difus dan tampak bercak-bercak berwarna
lebih gelap diatasnya, perlu dibedakan dari scarlet fever. Tidak seperti
scarlet fever, pada rubela daerah perioral terkena.

Erupsi pada infeksi mononukleosis dapat menyerupai rubela derajat


berat, namun penyakit itu dimulai dengan difteroid atau Plaut-Vincent-like
tonsilitis, demam lebih tinggi, pembesaran kelenjar getah bening umum
serta pembesaran hepar dan limpa. Pada sifilis stadium dua ditemukan
juga eksantema yang menyerupai rubela, disertai pembesaran kelenjar
getah bening umum, kadang-kadang perlu pemeriksaan serologik untuk
sifilis. Erupsi obat menyerupai rubela yang dapat disertai pembesaran
kelenjar getah bening disebabkan terutama oleh senyawa hidantoin. Pada
kasus yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan hemogram dan
serologik.

2.1.8 Penatalaksanaan

Tidak ada pengobatan yang spesifik untuk rubella. Gejala biasanya

akan membaik dan hilang tanpa pengobatan dalam waktu 7-10 hari.1,7
Jika tidak terjadi komplikasi bakteri, pengobatan adalah simtomatis.
Adamantanamin hidrokhlorida (amantadin) telah dilaporkan efektif in
vitro dalam menghambat stadium awal infeksi rubella pada sel yang
dibiakkan. Upaya untuk mengobati anak yang sedang menderita rubela
kongenital dengan obat ini tidak berhasil.

10
Karena amantadin tidak dianjurkan pada wanita hamil,
penggunaannya amat terbatas. Interferon dan isoprinosin telah digunakan
dengan hasil yang terbatas.

2.1.9 Pencegahan

Pada orang yang rentan, proteksi pasif dari atau pelemahan


penyakit dapat diberikan secara bervariasi dengan injeksi intramuskuler
globulin imun serum (GIS) yang diberikan dengan dosis besar (0,25-0,50
mL/kg atau 0,12-0,20 mL/lb) dalam 7-8 hari pasca pemajanan. Efektivitas
globulin imun tidak dapat diramalkan. Tampaknya tergantung pada kadar
antibodi produk yang digunakan dan pada faktor yang belum diketahui.
Manfaat GIS telah dipertanyakan karena pada beberapa keadaan ruam
dicegah dan manifestasi klinis tidak ada atau minimal walaupun virus
hidup dapat diperagakan dalam darah. Bentuk pencegahan ini tidak
terindikasi, kecuali pada wanita hamil nonimun.

Program vaksinasi atau imunisasi merupakan salah satu upaya


pencegahan terhadap rubella. Di Amerika Serikat mengharuskan untuk
imunisasi semua laki-laki dan wanita umur 12 dan 15 bulan serta pubertas
dan wanita pasca pubertas tidak hamil. Imunisasi adalah efektif pada
umur 12 bulan tetapi mungkin tertunda sampai 15 bulan dan diberikan
sebagai vaksin campak-parotitis-rubella (measles-mumps-rubella

[MMR]).8

2.2 Campak

2.2.1 Definisi

Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang


disebabkan oleh virus. Campak disebut juga rubeola, morbili, atau
measles.

11
Penyakit ini ditularkan melalui droplet ataupun kontak dengan
penderita. Penyakit ini memiliki masa inkubasi 8-13 hari. Campak
ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan konjungtivitis yang
kemudian diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash). Dampak
penyakit campak di kemudian hari adalah kurang gizi sebagai akibat
diare berulang dan berkepanjangan pasca campak, sindrom radang otak
pada anak diatas 10 tahun, dan tuberkulosis paru menjadi lebih parah
setelah sakit campak berat.

2.2.2 Epidemiologi

Campak merupakan penyakit endemik di banyak negara terutama


di negara berkembang. Angka kesakitan di seluruh dunia mencapai 5-
10 kasus per 10.000 dengan jumlah kematian 1-3 kasus per 1000 orang.
Campak masih ditemukan di negara maju. Sebelum ditemukan vaksin
pada tahun 1963 di Amerika serikat, terdapat lebih dari 1,5 juta kasus
campak setiap tahun. Mulai tahun 1963 kasus campak menurun drastis
dan hanya ditemukan kurang dari 100 kasus pada 1998. 1

2.2.3 Etiologi

Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus


morbili, famili paramyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila
terkena panas, sinar, pH asam, ether, dan trypsin dan hanya bertahan
kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus campak ditularkan lewat
droplet, menempel dan berbiak pada epitel nasofaring. Virus ini
masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga
kemungkinan melalui kelenjar air mata. Dua sampai tiga hari
setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe
regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada
semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah
5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan
merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru.

12
Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar
pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit
menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and
conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala
panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10
sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber
infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan. Virus
dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan
gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan
hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin
gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini
disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler
dan infiltrasi limfosit.

2.2.4 Patofisiologi

Pada stadium prodromal terdapat hiperplasia jaringan limfe. Distribusi


yang luas dari giant cell multinuklear (sel retikuloendotel Warthin-
Finkeldey) akibat fusi-fusi sel dan inklusi intranuklear terlihat dalam
jaringan limfoid di seluruh tubuh (limfoid, tonsil, terutama appendix).
Keadaan tersebut terjadi selama masa inkubasi, biasanya 9-11 hari4.
Sebagai reaksi terhadap virus, terjadi proses peradangan epitel saluran
pernafasan, konjungtiva dan kulit yang mana terbentuk eksudat yang
serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel
polimorfonukleus di sekitar kapiler. Respon imun ini diikuti dengan
manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan
ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil pada
mukosa pipi yang disebut bercak Koplik, merupakan tanda pasti untuk
menegakkan diagnosis1. Ruam pada kulit terjadi sebagai akibat respon
delayed hypersensitivity terhadap antigen virus, sebagai hasil interaksi
sel T imun dan sel yang terinfeksi virus dalam pembuluh darah kecil dan
berlangsung sekitar 1 minggu. Kejadian ini tidak tampak pada kasus
yang mengalami defisit sel T 4. Pada kulit, reaksi terutama terjadi di
sekitar kelenjar sebacea dan folikel-folikel rambut.

13
2.2.5 Pencegahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan melalui tindakan Health


Promotion, baik pada hospes maupun lingkungan dan perlindungan
khusus terhadap penularan.

1. Pencegahan Penularan

 Health Promotion terhadap host.


 Pencegahan virus campak menular melalui percikan air ludah
penderita campak
 Mengisolasi setelah muncul rash pada 4 hari kontak agar
mencegah penularan.

2. Pencegahan Penyakit

Pencegahan penyakit campak dibagi dalam beberapa tahap


sebagai berikut:

a. Bila terjadi kontak dengan penderita campak dibawah 3 hari


Langsung memberikan imunisasi campak dapat memberikan
kekebalan apabila belum timbul gejala penyakit.

b.Bila terjadi kontak dengan penderita campak setelah 3-6 hari


Memberikan imuno globulin 0,25ml/kgBB.Pada individu immuno
compromized yang diberikan adalah imuno globulin 0,5ml/kgBB
dengan dosis maksimal 15 ml atau IGIV 400mg/kgBB.8)

14
2.3 Imunisasi

Vaksin campak yang mengandung virus yang dilemahkan adalah


vaksin pilihan digunakan bagi semua orang yang tidak kebal terhadap
campak, kecuali ada kontraindikasi. Pemberian dosis tunggal vaksin
campak hidup (live attenuated) biasanya dikombinasikan dengan vaksin
hidup lainnya (mumps. rubella), dapat diberikan bersama-sama dengan
vaksin yang diinaktivasi lainnya atau bersama-sama toksoid; dapat
memberikan imunitas aktif pada 94-98% individu-individu yang rentan,
kemungkinan kekebalan yang timbul dapat bertahan seumur hidup.

Vaksin MMR harus diberikan sekalipun ada riwayat infeksi campak,

gondongan atau imunisasi campak.9 Tidak ada efek imunisasi yang terjadi
pada anak yang sebelumnya telah mendapat imunitas terhadap salah satu
atau lebih dari ketiga penyakit ini. Pada populasi dengan insidens yang
tinggi pada infeksi campak dini, imunisasi MMR dapat diberikan pada usia
9 bulan.

Indikasi lain pada pemberian vaksin MMR adalah anak dengan


penyakit kronik seperti kistik fibrosis, kelainan jantung bawaan, kelainan
ginjal bawaan, gagal tumbuh, sindrom Down, anak berusia 1 tahun ke atas
yang berada di lembaga pengasuh anak atau sekolah bermain, anak yang
tinggal di lembaga cacat mental, individu dengan HIV(+) dapat diberikan

vaksin MMR bila tidak ditemukan kontra indikasi lainnya.9 Vaksin MMR
diberikan dalam dosis tunggal 0,5 mL, diberikan secara intramuskular atau
subkutan dalam.

Vaksin MMR dilaporkan dapat terjadi KIPI berupa reaksi sistemik


seperti malaise, demam atau ruam yang sering terjadi 1 minggu setelah
imunisasi dan berlangsung selama 2-3 hari, kejang setelah 6-11 hari
setelah imunisasi, ensefalitis pasca imunisasi, pembengkakan kelenjar
parotis biasanya terjadi pada minggu ketiga.

15
Kontraindikasi pemberian vaksin MMR jika (1). anak dengan penyakit
keganasan yang tidak diobati atau gangguan imunitas, anak yang
mendapat pengobatan dengan imunosupresif, terapi sinar, atau mendapat
steroid dosis tinggi. (2). Anak dengan alergi berat (pembengkakan pada
mulut atau tenggorokan, sulit bernapas, hipotensi dan syok). (3) Anak
dengan demam akut. Vaksin MMR harus ditunda sampai demam sembuh.
(4) Anak yang mendapat vaksin hidup lain (termasuk BCG dan vaksin
hidup lain) dalam waktu 4 minggu. Pada keadaan ini, vaksinasi MMR
ditunda lebih kurang 1 bulan setelah imunisasi yang terakhir. (5) Vaksin
MMR tidak boleh diberikan dalam waktu 3 bulan setelah pemberian
imuniglobulin atau transfusi darah (whole blood). (6) Wanita haml tidak
dianjurkan mendapat imunisasi MMR dan dianjurkan tidak hamil selama
3 bulan setelah mendapat suntikan.

Jika seorang anak > 12 bulan belum mendapat imunisasi,


pemberian human immunoglobulin dapat dilakukan dengan dosis 0,2
mL/kgBB pada anak sehat dan 0,5 mL/kgBB pada individu
imunokompromais (dosis maksimal 15 mL). Pada wanita hamil nonimun

yang terapar dengan campak dapat diberikan NIGH 0,2 mL/kgBB.9

Jadwal Imunisasi campak

Vaksin Campak diberikan pada bayi berusia 9 bulan secara subkutan


maupun intramuskular di otot deltoid lengan atas dan dilanjutkan
pemberian vaksin kembali pada saat anak masuk SD (program BIAS) .3)

selain itu vaksinasi campak juga dapat diberikan pada kesempatan


kedua sesuai dengan crash program campak yaitu pada umur 6-59 bulan
dan SD kelas 1-6. Apabila anak telah mendapat imunisasi MMR pada usia
15-18 bulan dan ulangan imunisasi pada umur 6 tahun maka ulangan
campak pada saat masuk SD tidak diperlukan.2)

16
Gambar . Jadwal Imunisasi Berdasarkan IDAI 2011-2012

17
Cakupan imunisasi campak

Salah satu tujuan imunisasi adalah menurunkan angka kematian dan


kesakitan yang ditimbulkan oleh penyakit. Tujuan tersebut dapat dicapai
dengan pelaksanaan program imunisasi rutin dan kegiatan tambahan imunisasi.
Menurut RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2004-
2009, peningkatan cakupan imunisasi menjadi prioritas utama dalam program
pencegahan dan pengendalian penyakit. Dalam program ini, imunisasi
dimaksudkan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian
akibat suatu penyakit. Indikator yang digunakan dalam RPJMN dalam menilai
keberhasilan program adalah dengan menghitung persentase desa yang
mencapai UCI (Universal Child Immunization).

18
BAB III

KESIMPULAN

Rubella merupakan suatu penyakit virus yang umum pada anak dan dewasa
muda, yang ditandai oleh suatu masa prodromal yang pendek, pembesaran
kelenjar getah bening servikal, suboksipital dan postaurikular, disertai erupsi yang
berlangsung 2-3 hari. Data surveilans selama lima tahun terakhir selama lima
tahun terakhir menunjukkan 70% kasus rubella terjadi pada kelompok usia < 15
tahun. Rubella disebabkan oleh suatu RNA virus, genus Rubivirus, famili
Togaviridae. Tanda-tanda dan gejala Infeksi rubella dimulai dengan adanya
demam ringan selama 1 atau 2 hari, dan kelenjar getah bening yang membengkak
dan perih, biasanya di bagian belakang leher atau di belakang telinga. Pada hari
kedua atau ketiga, bintik-bintik (ruam) muncul di wajah dan menjalar ke arah
bawah. Di saat bintik ini menjalar ke bawah, wajah kembali bersih dari bintik-
bintik. Bintik-bintik ini biasanya menjadi tanda pertama yang dikenali oleh para
orang tua. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan serologik yaitu adanya
peningkatan titer antibodi 4 kali pada hemaglutination inhibition test (HAIR) atau
ditemukannya antibodi Ig M yang spesifik untuk rubela.

Campak adalah suatu penyakit akut yang sangat menular yang disebabkan
oleh virus. Di Indonesia, campak masih menempati urutan ke-5 dari 10 penyakit
utama pada bayi dan anak balita (1-4 tahun). Pencegahan dapat dilakukan dengan
melalui tindakan Health Promotion, baik pada hospes maupun lingkungan dan
perlindungan khusus terhadap penularan.

Vaksin Campak diberikan pada bayi berusia 9 bulan secara subkutan


maupun intramuskular di otot deltoid lengan atas dan dilanjutkan pemberian
vaksin kembali pada saat anak masuk SD (program BIAS). Apabila anak telah
mendapat imunisasi MMR pada usia 15-18 bulan dan ulangan imunisasi pada
umur 6 tahun maka ulangan campak pada saat masuk SD tidak diperlukan.
19
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

1. 2008. Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Jakarta: IDAI

2. Rubella [Internet]. World Health Organization. World Health Organization;


[cited 2017Agst16]. Available from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs367/en/
http://www.searo.who.int/indonesia/topics/immunization/mr_measles_status.pd
f?ua= 1

3. Rubella (crs) reported cases [Internet]. WHO


World Health Organization: Immunization, Vaccines And
Biologicals. Vaccine preventable diseases Vaccines monitoring system 2017
Global Summary Reference Time Series: RUBELLA (CRS). [cited
2017Aug16]. Available from:
http://apps.who.int/immunization_monitoring/globalsummary/timeseries/tsincid
encec rs.html

4. [Internet]. 2017 [cited 24 Agustus 2017]. Available


from:
https://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/rubella.pdf

5. German Measless[Internet]. 2017 [cited 18 Agustus 2017]. Available from:


http://fac.ksu.edu.sa/sites/default/files/rubella_virus.pdf

6. Treatment and prevention of rubella [Internet]. Healthdirect.gov.au. 2017 [cited


24 Agustus 2017]. Available from: https://www.healthdirect.gov.au/treatment-
and- prevention-of-rubella

7. Ranuh, I.G.N. et all. 2005. Pedoman Imunisasi di Indonesia. Jakarta: IDAI

20
21