Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai
guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian
untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Orang yang pandai
berbicara dalam bidang-bidang tertentu, belum dapat disebut sebagai guru. Untuk
menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru yang
profesional yang harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran
dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan
melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan prajabatan.

Guru bertindak sebagai pengajar sekaligus pendidik. Sebagai seorang pengajar


atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan setiap
upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan khusunya
dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari
upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini menunjukkan betapa
pentingnya peran guru dalam dunia pendidikan. Demikian pun dalam upaya
membelajarkan siswa, guru dituntut memiliki multi peran sehingga mampu
menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif. Agar dapat mengajar efektif,
guru harus meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa (kuantitas) dan
meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya. Hal ini menuntut perubahan-
perubahan dalam pengorganisasian kelas, penggunaan metode mengajar, strategi
belajar mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses
belajar mengajar. Oleh karena itu, dalam era modern sperti sekarang, guru dituntut
harus dapat meningkatkan kompetensinya. Kompetensi guru, selain berdasarkan
pada bakat guru, unsur pengalaman dan pendidikan memegang peranan yang

1
sangat penting. Pendidikan guru, sebagai suatu usaha yang berencana dan
sistematis dalam rangka usaha peningkatan kompetensi dan mutu guru.

Munculnya inovasi-inovasi untuk proses pembelajaran membawa konsekuensi


kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya dalam mengajar.
Hal ini dikarenakan proses belajar mengajar dan hasil belajar siswa sebagian
ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru. Guru yang kompeten akan lebih
mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan akan lebih mampu
mengelola kelasnya sehingga dapat siperoleh hasil belajar siswa yang optimal.
Agar dapat menjadi guru yang profesaional di bidangnya dan mampu mencapai
keberhasilan hasil belajar yang memuaskan diperlukan adanya penguasaan
terhadap keterampilan dasar dalam mengajar. Dan untuk mendukung pencapaian
tersebut (menjadi guru professional), pada pendidikan para calon guru terdapat
mata kuliah microteaching.

Microteaching adalah mata kuliah yang melatih calon guru tentang bagaimana
menjadi pengajar yang baik, mulai dari tahap persiapan sampai pelaksanaan.
Dengan perkuliahan microteaching, kita sebagai calon guru dibekali dengan
beberapa penguasaan keterampilan dasar mengajar, harapannya nanti setelah
terjun mengajar di sekolah kita sebagai calon guru dapat menerapkannya dengan
baik.

Setelah kita di bekali dengan penguasaan keterampilan dasar mengajar, maka


sebagai tempat latihan awal mengajar, di dalam microteaching disediakan kelas
simulasi. Dalam mikroteacing terdapat kelas simulasi atau yang kita kenal dengan
laoratorium microteaching. Di dalam kelas simulasi ini kita sebagai calon guru
dapat berlatih atau mengaplikasikan bagaimana cara mengajar yang baik dengan
menerapkan keterampilan dasar mengajar, antara lain keterampilan bertanya,
memberi penguatan, mengadakan variasi, mengelola kelas, dan lain sebagainya.
Mengajar dapat dikatakan sukses apabila siswa dapat menggunakan apa yang
dipelajarinya dengan bebas serta penuh kepercayaan dalam berbagai situasi dalam
hidupnya. Biasanya hasil belajar merupakan kata-kata yang dihafal segera hilang.

2
Hasil belajar serupa itu tidak meresap dalam pribadi anak, tidak membentuk
perkembangan mental anak. Guru yang memberikan hasil-hasil demikian
dikatakan tidak mengajar dengan sukses. Ada pula hasil-hasil mengajar yang
tahan lama, yakni bila hasil-hasil belajar meresap ke dalam pribadi anak, jika
pelajaran dipahami benar-benar, dan jika apa yang dipelajari itu sungguh-sungguh
mengandung arti bagi hidup anak itu. Hasil-hasil yang demikian dapat disebut
autentik. Agar siswa dapat memiliki hasil belajar yang otentic, maka guru perlu
menguasai ketrampilan dasar dalam mengajar.

Adapun tujuan dari penguasaan keterampilan dasar dalam mengajar adalah agar
kita sebagai seorang guru dapat mengajar dengan sukses. Jadi, agar dapat
mengajar dengan dengan sukses, maka kita perlu menguasai ketrampilan dasar
mengajar. Dan untuk itu, maka kita melakukan simulasi pengajaran yang
kemudian diobservasi oleh delapan observer. Dengan demikian kita akan dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan kita dalam mengajar, sehingga kita dapat
memperbaiki kekurangan kita dalam mengajar dan dapat dijadikan tolak ukur
untuk kita dalam melaksanakan proses pembelajaran yang baik sehingga kita
dapat memperbaiki diri untuk menjadi pengajar yang profesional.

1.2 Tujuan Pengamatan

Adapun tujuan dari observasi keterampilan dasar mengajar adalah sebagai berikut:
1. Sebagai tolak ukur untuk dapat mengajar dengan baik.
2. Sebagai bahan perbaikan dan perbandingan dalam mengajar.
3. Sebagai pedoman mengajar dalam jangka pendek (PPL) dan jangka
panjang (diterapkan setelah benar-benar menjadi guru).

1.3 Alat dan bahan

Alat yang digunakan dalam kegiatan ini adalah lembar observer. Sedangkan bahan
yang digunakan adalah data-data hasil pengamatan dari para observer tentang
praktek microteaching yang telah dilakukan oleh calon guru.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4
BAB III
PEMBAHASAN

Setelah melaksanakan praktik microteaching diperoleh data hasil observasi dari


teman-teman saya sebagai observer sebagai berikut:

KETERAMPILAN BERTANYA DASAR


Nama Calon Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penetuan Orde Reaksi
Kelas : XI
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011

No. Komponen Keterampilan Frekuensi Komentar


1. Pengungkapan pertanyaan Sering Sudah baik
secara jelas dan singkat
2. Pemberian acuan Ada -
3. Pemusatan Ada -
4. Pemindahan gilir Sering Sudah baik
5. Penyebaran: Sering
 Ke seluruh kelas  Sudah baik
 Respons siswa  Respon siswa
sudah baik dan
siswa berperan
aktif
6. Pemberian waktu berpikir Sering Sudah diberikan
waktu untuk siswa
berpikir
7. Pemberian tuntunan: -
 Pengungkapan pertanyaan  Belum
dengan cara lain
 Pengungkapan penjelasan  Sudah
sebelumnya

Pengamat,
Dhita Mita Anggra Ovika
0913023004

5
KETERAMPILAN BERTANYA LANJUT
Nama Calon Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011

No. Komponen Keterampilan Frekuensi Komentar


1. Pengubahan tuntutan tingkat  Materinya lebih
kognitif dalam menjawab dipahami lagi
pertanyaan:  Sudah cukup baik
a. Ingatan  Sudah baik
b. Pemahaman  -
c. Aplikasi  Sering
d. Analisis  Sering
e. Sintesis  -
f. Evaluasi  Sering
2. Urutan pertanyaan Ada Sudah cukup baik
3. Pertanyaan pelacak: Pertanyaan
a. Klarifikasi  Ada pelacaknya sudah
b. Pemberian alasan  Ada cukup baik, namun
(apersepsi) perbanyak
c. Kesepakatan  - intensitasnya.
d. Ketepatan  -
e. Relevansi  Ada
f. Contoh  Ada
g. Jawaban kompleks  Ada
4. Mendorong terjadinya interaksi Ada  cukup bagus
 lebih diperbanyak
lagi pertanyaan
umpannya.

Pengamat,
Ibramsah
0913023086

6
KETERAMPILAN BERTANYA PENGUATAN
Nama Calon Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011

No. Komponen Keterampilan Ya Tidak Komentar


1. Penguatan verbal: -
a. Kata-kata:
 Bagus √
 Benar √
 Tepat √
b. Kalimat:
 Pekerjaanmu baik √ √
sekali
 Saya senang dengan -
pekerjaanmu
 Pekerjaanmu makin √
lama makin baik
2. Penguatan non verbal: Mimik muka sudah
 Mimik / gerak tubuh √ ada, tapi belum ada
 Mendekat √ penekanan
 sentuhan √

Pengamat,
Lailda Gita Kurnia
0913023090

7
KETERAMPILAN MENGADAKAN VARIASI
Nama Calon Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011
No. Komponen Keterampilan Komentar

Variasi dalam gaya mengajar Sudah bagus, tapi perlu


ditingkatkan lagi
1. Suara : Nada suara, volume suara, Nada suara dan volume suara
kecepatan berbicara sudah bagus, namun kecepatan
suara masih terlalu cepat.
2. Mimik dan gerak : tangan dan Mimik dan gerak badan masih
badan, untuk memperjelas pelajaran. kurang digunakan oleh guru.
3. Kesenyapan : memberikan waktu Sudah cukup bagus
senyap/hening dalam pembicaraan
4. Kontak pandang : melayangkan Masih kurang kontak pandang
pandangan/kontak pandang dengan guru dan siswa saat guru
siswanya menjelaskan
5. Perubahan posisi : gerak Sudah cukup bagus, tapi perlu
ditingkatkan lagi.
6. Memusatkan : tekanan pada butir Masih kurang
yang penting
7. Variasi visual: dengan alat pelajaran Sudah cukup bagus
7. Variasi oral: suara/rekaman -
8. Variasi oral: suara/rekaman Perlu ditingkatkan lagi
9. Variasi media AVA (audio-visual Sudah bagus
aids)

Pengamat,
Fransiska Olivia Dewanti
0913023084

8
KETERAMPILAN MENJELASKAN
Nama Calon / Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011

No. Komponen Keterampilan Ya Tidak


1. Kejelasan :
a. Menggunakan kalimat yang berbelit-belit √
b. Menghindari kata yang berlebihan dan yang √
meragukan
2. Penggunaan contoh/ilustrasi :
a. Menggunakan contoh-contoh √
b. Contoh relevan dengan penjelasan √
c. Contoh sesuai dengan kemampuan anak √
3. Pengorganisasian :
a. Pola/struktur sajian √
b. Memberikan ikhtisar butir yang penting √
4. Penekanan pada yang penting :
a. Dengan suara √
b. Dengan cara mengulangi √
c. Dengan gambar, demonstrasi √
d. Dengan mimik, gerakan √
5. Balikan :
Mengajukan pertanyaan √

Pengamat,
Melly Malinda
0913023094

9
KETERAMPILAN MEMBUKA-MENUTUP PELAJARAN
Nama Calon / Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tanggal : Kamis/ 8 Desember 2011
No. Komponen Keterampilan Frekuensi Penggunaan
Membuka Pelajaran
1. Menarik perhatian siswa :
a. Gaya mengajar Sudah bagus
b. Penggunaan alat bantu Sudah dilakukan
c. Pola interaksi Sudah mucul
2. Menimbulkan motivasi :
a. Kehangatan/keantusiasan Sudah muncul
b. Menimbulkan rasa ingin tahu Sudah muncul
c. Mengemukakan ide -
d. Memperhatikan minat siswa Sudah mucul
3. Memberi acuan :
a. Mengemukakan tujuan Sudah dilakukan
b. Langkah-langkah Belum
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan Sering
4. Membuat kaitan :
a. Membandingkan pengertahuan yang Sudah dikaitkan
baru dengan yang lama
b. Menjelaskan konsep sebelum bahan Belum ada
dirinci
Menutup Pelajaran
1. Meninjau kembali : Tidak ada
Merangkum/meringkaskan
2. Mengevaluasi : Tidak ada
Demonstrasi dsb

Pengamat,
Malida Aprilliza
0913023092

10
KETERAMPILAN MEMBIMBING DISKUSI KELOMPOK
Nama Calon / Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tgl : Kamis/ 8 Desember 2011
No. Komponen Keterampilan Komentar
1. Memusatkan perhatian :
a. Merumuskan tujuan  Ada
b. Merumuskan masalah  Belum ada
c. Membuat rangkuman  Belum ada
2. Memperjelas masalah dan
urunan pendapat :
a. Merangkum  Sudah ada
b. Menggali  Ada
c. Menguraikan secara rinci  Belum terlalu terperinci
3. Menganalisis pandangan siswa :
a. Menandai  Ada
persetujuan/ketidaksetujuan
b. Meneliti alasannya  Sudah digunakan
4. Meningkatkan urunan siswa :
a. Menimbulkan pertanyaan  Ada
b. Menggunakan contoh  Ada
c. Menunggu
d. Memberi dukungan  Sering ada/ digunakan
5. Menyebarkan kesempatan
berpartisipasi :
a. Meneliti pandangan  Ada/ baru sedikit digunakan
b. Menghentikan monopoli  Belum ada
6. Menutup diskusi :
a. Merangkum  Belum ada
b. Menilai  Sudah sering ada

Pengamat,
Tazkia Tirta Victorya
0913023068

11
KETERAMPILAN MENGELOLA KELAS KOMPONEN PRAKARSA
GURU
Nama Calon / Guru : Ratu Anggita Oktaviana
Bidang Studi : Kimia
Pokok Bahasan : Penentuan Orde Reaksi
Kelas :X
Hari / Tgl : Kamis/ 8 Desember 2011
Komponen
No. Penggunaan Komentar
Keterampilan
1. Bersikap tanggap :
 Memandang secara √  Sudah ada, tapi pandangan ke
saksama siswa masih kurang
 Gerakan mendekati √  Guru sudah sering mendekati
siswa pada saat siswa
mengerjakan LKS.
 Teguran -  Belum dilakukan.
2. Membagi perhatian :
 Secara visual √  Sudah bagus, sudah menampilkan
gambar dengan powerpoint.
 Secara verbal √  Sudah bagus, namun perlu
ditingkatkan lagi.
 Visual – verbal - -
3. Memusatkan perhatian
kelompok :  Sudah dilakukan.
 Menyiapkan √  Sudah mengarahkan perhatian
 Mengarahkan √ dengan cukup baik.
perhatian.
 Menyusun komentar √  Sudah dilakukan.
4. Menuntut tanggung
jawab siswa:
 Menyuruh siswa lain √  Sudah dilakukan dengan cukup
mengawasi rekannya baik.
 Menyuruh siswa √  Sudah menyuruh siswa ke depan
menunjukkan untuk menuliskannya di papan
pekerjaannya tulis
5. Petunjuk yang jelas :
 Kepada seluruh kelas √ Sudah dilakukan dengan baik.
 Kepada individu

Pengamat,
Ni Ketut Novia Taryani
0913023096

12
BAB III
PEMBAHASAN

Proses belajar mengajar merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan
dengan guru sebagai pemegang peranan utama. Proses belajar mengajar
merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa
atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk
mencapai tujuan tertentu.

Agar proses belajar mengajar dapat efektif, guru harus meningkatkan kesempatan
belajar bagi siswa (kuantitas) dan meningkatkan mutu (kualitas) mengajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas,
penggunaan metode mengajar, strategi belajar mengajar, maupun sikap dan
karakteristik guru dalam mengelola proses belajar mengajar.
Untuk itu dibutuhkan keterampilan-keterampilan mengajar (teaching skills) yang
dapat dilatihkan melalui pembelajaran microteaching yang harus dikuasai terlebih
dahulu oleh calon guru. Melalui pembelajaran microteaching ini, kami sebagai
calon guru dibimbing untuk dapat memahami dan menerapkan keterampilan-
keterampilan dasar mengajar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan lanjut,
memberi penguatan, mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup
pelajaran, membimbing diskusi, mengelola kelas, dan mengajar kelompok kecil
dan perseorangan. Namun dalam hal ini, yang diobservasi hanya 8 keterampilan
dasar, yaitu keterampilan bertanya dasar dan lanjut, memberi penguatan,
mengadakan variasi, menjelaskan, membuka dan menutup pelajaran,
membimbing diskusi, dan keterampilan mengelola kelas

Berikut ini akan diuraikan kegiatan dalam pembelajaran microteaching dengan


pokon bahasan Penentuan Orde Reaksi yang telah saya lakukan dan hasil
observasi dari teman-teman saya sebagai observer :

13
1. Keterampilan Bertanya Dasar
Observasi keterampilan bertanya dasar dilakukan oleh observer Dhita Mita
Anggra Ovika. Menurut Dhita, secara keseluruhan sudah cukup baik dari
pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, pemberian acuan,
pemusatan, pemindahan gilir, penyebaran ke seluruh kelas dan respon dari
siswa, pemberian waktu berpikir, dan pemberian tuntutan. Namun, pada
komponen pemberian tuntutan dengan subkomponen pengungkapan pertanyaan
dengan cara lain belum dilakukan. Seharusnya pada subkompoenen ini, dalam
kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya memberikan pertanyaan dengan
menggunakan metode yang berbeda-beda, agar siswa pun lebih tertarik dengan
pertanyaan yang diberikan oleh guru. Komponen keterampilan inilah yang
harus saya perbaiki lagi.

2. Keterampilan Bertanya Lanjut


Observasi keterampilan bertanya lanjut dilakukan oleh Ibramsah. Menurut
Ibram, secara keseluruhan keterampilan bertanya lanjut yang dilakukan oleh
saya sudah cukup baik dalam pengubahan tuntunan tingkat kognitif dalam
menjawab pertanyaan ada/sering dilakukan mulai dari ingatan, sampai evaluasi.
Namun, pada pemahaman dan sintesis belum dilakukan dan pemahaman
terhadap materi harus ditingkatkan lagi. Pada keterampilan ini, seharusnya
pertanyaan yang dikemukan guru dapat mengandung proses mental yang
berbeda-beda. Oleh karena itu, guru dalam mengajukan pertanyaan hendaknya
berusaha mengubah tuntutan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan dari
tingkat mengikat kembali fakta-fakta ke berbagai tingkat kognitif lainnya yang
lebih tinggi seperti pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
Untuk urutan pertanyaannya sudah baik. Untuk pertanyaan pelacak sudah ada,
seperti pada klarifikasi, pemberian alasan, contoh, dan jawaban kompleks.
Namun, untuk pertanyaan pelacak kesepakatan dan ketepatan belum ada.
Seharusnya, pada point ini guru dapat memintta siswa untuk meninjau kembali
jawaban yang diberikannya bila kurang tepat, dan bila jawaban siswa kurang
tepat/relevan, guru dapat meminta jawaban yang tepat/relavan dari siswa lain.
Kemudian untuk mendorong terjadinya interaksi sudah ada, dan menurut

14
Ibram, pertanyaan umpan lebih diperbanyak lagi. Hal ini penting agar siswa
lebih terlibat secara peribadi dan lebih bertanggung jawab atas kemajuan dan
hasil diskusi. Selain itu guru hendaknya mengurangi atau menghilangkan
peranannya sebagai penanya sentral dengan cara mencegah pertanyaan dijawab
oleh seorang siswa. Jika siswa mengajukan pertanyaan, guru hendaknya tidak
segera menjawab, tetapi terlebih dahulu melontarkannya kembali kepada siswa
lainnya.

3. Keterampilan Memberikan Penguatan


Observasi keterampilan memberikan penguatan dilakukan oleh Lailda Gita
Kurnia. Menurut Lailda, keterampilan penguatan verbal berupa kata-kata yang
terlalu sering muncul adalah “benar” dan “tepat”, untuk kata-kata “bagus”
belum muncul. Sedangkan penguatan verbal berupa kalimat sudah ada, seperti
“Pekerjaanmu baik sekali”. Namun untuk kalimat “saya senang dengan
pekerjaanmu” dan “Pekerjaanmu makin lama makin baik” belum dilakukan.
Penguatan verbal berupa kalimat perlu ditingkatkan lagi. Untuk penguatan non
verbal, sudah cukup baik saya lakukan, yaitu untuk mimik/gerak tubuh dan
gerakan mendekati, namun untuk penguatan berupa sentuhan belum saya
lakukan. Pada keterampilan ini, seharusnya dalam proses belajar mengajar,
guru dapat memberikan penguatan melalui sentuhan, misalnya saat guru
menyatakan persetujuan atau penghargaan terhadap usaha dan penampilan
siswa dengan cara menepuk-nepuk bahu atau pundak siswa, berjabat tangan,
dan lain sebagainya. Dapat pula dilakukan ketika sedang dalam proses diskusi
atau ketika siswa malas dalam belajar. Sehingga siswa terkesan diperhatikan
oleh guru dan diharapkan dapat bersemangat kembali. Dalam hal ini, menurut
Lailda, mimik muka sudah muncul, tapi masih belum ada penekanan. Untuk
keterampilan ini, masih ada beberapa komponen yang harus perbaiki lagi agar
ke depannya lebih baik lagi.

4. Keterampilan Mengadakan Variasi


Observasi keterampilan mengadakan variasi dilakukan oleh Fransiska Olivia
Dewanti. Dalam keterampilan mengadakan variasi ini menurut Siska, untuk

15
variasi gaya mengajar sudah bagus, namun perlu saya tingkatkan lagi. Dari segi
variasi suara, untuk nada dan volume sudah bagus. Hanya saja untuk variasi
suara dalam kecepatan berbicara masih agak terlalu cepat. Seharusnya
kecepatan suara dapat lebih diperlambat lagi, agar siswanya pun dapat mengerti
apa yang disampaikan oleh guru. Untuk variasi mimik dan gerak masih kurang
digunakan oleh saya. Variasi dalam ekspresi wajah guru, gerakan kepala, dan
gerakan badan adalah aspek yang sangat penting dalam berkomunikasi.
Gunanya untuk menarik perhatian dan untuk menyampaikan arti dari pesan
lisan yang dimaksudkan.

Untuk variasi kesenyapan memberi waktu senyap/hening dalam pembicaraan


sudah cukup bagus. Untuk kontak pandang guru sudah muncul ke siswa
maupun ke seluruh siswa, namun masih kurang digunakan. Bila guru sedang
berbicara atau berinteraksi dengan siswa, sebaiknya pandangan menjelajahi
seluruh kelas dan melihat ke mata siswa-siswanya untuk menunjukkan adanya
hubungan yang intim dengan mereka. Kontak pandang dapat digunakan untuk
menyampaikan informasi dan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman
siswa. Untuk perubahan posisi gerak sudah bagus, tapi perlu ditingkatkan lagi.
Pergantian posisi guru di dalam kelas dapat digunakan untuk mempertahankan
perhatian siswa. Terutama bagi calon guru dalam menyajikan pelajaran di
kelas, biasakan bergerak bebas, tidak kikuk atau kaku, dan hindari tingkah laku
negatif.

Untuk penekanan pada butir yang penting masih kurang digunakan. Untuk
variasi visual dengan alat pelajaran sudah bagus. Untuk variasi oral
rekaman/suara, sudah ada tapi perlu ditingkatkan lagi. Untuk variasi media
audio-visual menurut Siska sudah bagus digunakan.

5. Keterampilan Menjelaskan
Observasi keterampilan menjelaskan dilakukan oleh saudari Melly Malinda.
Menurut Melly sudah cukup baik dengan tidak menggunakan kalimat yang
berbelit-belit dan menghindari kata yang berlebihan dan meragukan.

16
Penggunaan contoh yang relevan dengan pelajaran dan kemampuan anak juga
sudah ada. Dalam pengorganisasian, pola/struktur penyajian dan memberikan
ikhtisar pada butir yang penting sudah ada. Dalam penekanan pada yang
penting, melalui suara dan cara mengulangi sudah dilakukan, namun melalui
gambar/demonstrasi dan dengan mimik/gerakan belum dilakukan. Dalam hal
ini, keterampilan ini perlu saya perbaiki lagi. Selain itu pada keterampilan
menjelaskan, guru juga sudah memberikan balikan yaitu dengan mengajukan
pertanyaan “apakah kalian sudah paham?”.

5. Keterampilan Membuka-Menutup Pelajaran


Observasi keterampilan membuka dan menutup dilakukan oleh Malida
Aprilliza. Secara keseluruhan dalam membuka-menutup pelajaran, gaya
mengajar saya sudah cukup baik. Dalam membuka pelajaran, guru menarik
perhatian siswa dengan melakukan apersepsi. Untuk penggunaan alat bantu
sudah ada dilakukan seperti menggunakan LCD dan laptop. Pola interaksi guru
sudah terlihat. Guru sudah berusaha menimbulkan motivasi yaitu dengan
menyapa siswa dengan semangat, menatap siswa secara menyeluruh, guru
memberi pertanyaan untuk memancing rasa ingin tahu siswa. Namun dalam
mengemukakan ide belum dilakukan. Dalam memberi acuan, untuk
mengemukakan tujuan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sudah sering
dilakukan, namun untuk langkah-langkah belum dilakukan. Dalam membuat
kaitan, untuk menjelaskan konsep bahan belum dilakukan secara terperinci.

Dalam menutup pelajaran sudah baik yaitu dengan meminta siswa


menyimpulkan, namun guru tidak meminta siswa merangkum/meringkas dan
juga mengevaluasi, sehingga kemampuan siswa individu dan secara
keseluruhan belum terukur.

7. Keterampilan Membimbing Diskusi Kelompok


Observasi keterampilan membimbing diskusi kelompok dilakukan oleh Tazkia
Tirta Victorya. Secara keseluruhan dalam membimbing diskusi kelompok
sudah baik. Dalam memusatkan perhatian, untuk merumuskan tujuan sudah

17
dilakukan, namun untuk merumuskan masalah dan membuat rangkuman belum
dilakukan. Hal ini disebabkan, mungkin materi ini tidak cocok untuk dibuat
rangkuman. Untuk memperjelas masalah dan urunan pendapat juga sudah
terlihat yaitu guru menggali lagi hasil diskusi siswa, namun dalam hal ini guru
belum menguraikan secara rinci dari hasil jawaban siswa. Selama diskusi
berlangsung sering terjadi penyampaian ide yang kurang jelas hingga sukar
ditangkap oleh kelompok lain, yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman
hingga keadaan dapat menjadi tegang. Dalam hal demikian, menjadi tugas guru
untuk menguraikan kembali urunan tersebut hingga menjadi jelas dan
menguraikan gagasan siswa dengan memberikan informasi tambahan atau
contoh-contoh yang sesuai hingga kelomnpok memperoleh pengertian yang
lebih jelas dan terperinci.

Dalam menganalisis pandangan siswa juga sudah muncul yaitu guru meminta
persetujuan kepada siswa lain atas jawaban siswa. Lalu saat siswa
menyebutkan jawabannya, guru telah menanyakan alasannya. Dalam
meningkatkan urunan siswa juga telah terlihat. Sudah ada waktu berpikir
sebelum siswa diminta menjawab pertanyaan, namun masih terlalu cepat waktu
yang diberikan, sehingga siswa merasa pusing atau malas berpikir. Guru selalu
memberi dukungan atas kegiatan siswa, namun disini guru belum menimbulkan
keinginan siswa untuk bertanya, karena tidak ada siswa yang bertanya. Guru
pun belum menggunakan contoh-contoh yang relevan, Dalam menyebarkan
kesempatan berpartisipasi sudah ada, tapi jarang digunakan dan untuk
menghentikan monopoli tidak dilakukan karena tidak ada siswa yang terkesan
memonopoli dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Sedangkan dalam menutup
diskusi, guru melakukan penilaian terhadap hasil diskusi namun belum
meminta siswa untuk membuat rangkuman, hanya meminta siswa
menyimpulkan hasil diskusi.

8. Keterampilan Mengelola Kelas Komponen Prakarsa Guru


Observasi keterampilan mengelola kelas dilakukan oleh Ni Ketut Novia
Taryani. Dalam mengelola kelas, bersikap tanggap secara seksama dan gerakan

18
mendekati sudah terlihat dengan berpindah dari satu kelompok ke kelompok
lain. Namun, untuk teguran belum dilakukan. Bila ada salah seorang siswa/
kelompok lain membrikan pendapatnya, seharusnya guru meminta siswa untuk
mendengarkannya. Dan bila ada siswa yang ribut atau tidak memperhatikan
temannya, maka guru dapat menegurnya. Membagi perhatian pun secara visual
dan verbal sudah bagus dengan cara menampilkan gambar melalui media
powerpoint, tapi untuk yang verbal harus lebih ditingkatkan lagi. Untuk yang
visula-verbal tidak ada tanggapan dari Novia. Untuk memusatkan perhatian
kelompok dengan menyiapkan, mengarahkan perhatian, dan menyusun
komentar sudah cukup baik. Untuk menuntut tanggung jawab siswa dengan
menyuruh siswa lain mengawasi rekannya sudah dilakukan dengan baik dan
guru menyuruh siswa menunjukkan pekerjaannya ke papan tulis sudah
dilakukan. Dalam memberikan petunjuk ke seluruh kelas dan individu sudah
dilakukan dengan baik.

19
BAB IV
KESIMPULAN

Setelah mendengar dan membaca hasil observasi dari teman-teman sebagai


observer, tentang praktek microteaching yang saya lakukan dalam menyampaikan
pokok bahasan Penentuan Orde Reaksi, kesimpulan yang diperoleh adalah sebagai
berikut:

1. Keterampilan bertanya dasar secara keseluruhan sudah cukup baik dari


pengungkapan pertanyaan secara jelas dan singkat, pemberian acuan,
pemusatan, pemindahan gilir, penyebaran ke seluruh kelas dan respon dari
siswa, pemberian waktu berpikir, dan pemberian tuntutan. Namun, pada
komponen pemberian tuntutan dengan subkomponen pengungkapan
pertanyaan dengan cara lain belum dilakukan dan harus diperbaiki lagi.

2. Keterampilan bertanya lanjut secara keseluruhan sudah cukup baik, mulai dari
pengubahan tuntunan tingkat kognitif dalam menjawab pertanyaan dari ingatan
sampai evaluasi, urutan pertanyaan, dan pertanyaan pelacak sudah ada/sering
dilakukan. Namun, pada pemahaman dan sintesis serta pertanyaan pelacak
kesepakatan dan ketepatan belum dilakukan dan pemahaman terhadap materi
harus ditingkatkan lagi.

3. Keterampilan penguatan dengan menggunakan kata “Benar dan Tepat”,terlalu


sering muncul dan untuk kata-kata “bagus” belum muncul. Sedangkan
penguatan verbal berupa kalimat sudah ada namun perlu ditingkatkan lagi.
Untuk penguatan non verbal, sudah cukup baik, tapi masih belum ada
penekanan.

4. Dalam keterampilan mengadakan variasi, untuk variasi gaya mengajar sudah


bagus, namun perlu ditingkatkan lagi. Ada beberapa komponen yang belum
dilakukan guru seperti volume suara yang terlalu cepat, memusatkan pada butir
yang penting dan mimik/ gerak badan.

20
5. Pada keterampilan menjelaskan, sudah cukup baik dengan tidak menggunakan
kalimat yang berbelit-belit dan menghindari kata yang berlebihan. Namun
melalui gambar/demonstrasi dan dengan mimik/gerakan belum dilakukan
untuk penekanan pada butir penting. Dalam hal ini, keterampilan ini perlu
diperbaiki lagi.

6. Pada keterampilan membuka-menutup pelajaran sudah cukup baik. Dalam


membuka pelajaran, guru sudah cukup baik dalam melakukannya. Namun,
pada point memberi acuan dengan langkah-langkah dan menjelaskan konsep
secara lebih rinci belum dilakukan. Dalam menutup pelajaran sudah baik yaitu
dengan meminta siswa menyimpulkan, namun guru tidak meminta siswa
merangkum/meringkas dan juga mengevaluasi, sehingga kemampuan siswa
individu dan secara keseluruhan belum terukur.

7. Secara keseluruhan dalam membimbing diskusi kelompok sudah baik. Dalam


memusatkan perhatian, untuk merumuskan tujuan sudah dilakukan, namun
untuk merumuskan masalah dan membuat rangkuman belum dilakukan. Untuk
memperjelas masalah dan urunan pendapat juga sudah terlihat, namun dalam
hal ini guru belum menguraikan secara rinci dari hasil jawaban siswa. Dalam
menganalisis pandangan siswa juga sudah muncul. Dalam meningkatkan
urunan siswa juga telah terlihat. Guru belum menggunakan contoh-contoh yang
relevan dan menghentikan monopoli. Sedangkan dalam menutup diskusi, guru
melakukan penilaian terhadap hasil diskusi.

8. Dalam mengelola kelas, bersikap tanggap secara seksama dan gerakan


mendekati sudah terlihat. Namun, untuk teguran belum dilakukan. Membagi
perhatian pun secara visual dan verbal sudah bagus, tapi harus lebih
ditingkatkan lagi. Untuk memusatkan perhatian kelompok dengan menyiapkan,
mengarahkan perhatian, dan menyusun komentar sudah cukup baik. Untuk
menuntut tanggung jawab siswa dengan menyuruh siswa lain mengawasi
rekannya dan meminta siswa menunjukkan pekerjaannya sudah dilakukan
dengan baik.

21
DAFTAR PUSTAKA

Uzer Usman, Moh. 1995. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja


Rosdakarya.

22