Anda di halaman 1dari 3

Anugerah

Oleh : Septi Ismawati

Pagi ini seperti biasa, shubuh terdengar adzan yang menggema yang
membangunkan setiap umat Islam untuk bergegas menjalankan kewajibannya
sebagai hamba Nya. Seperti itu juga denagn Isma, shubuh itu pun ia langsung
bergegas mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh. Tak ada
tanda-tanda yang mengkhawtirkan saat itu. Perut buncitnya pun, yang
sudakmemasuki usia kehamilan 9 bulan tak ada tanda-tanda keluhan yang
berarti sang buah hati yang ada di dalam perutnya pun tenang seakan tau
kalau ibundanya akan mendoakannya. Namun baru rokaat pertama, Isma
kaget saat keluar air dari “Mis V” nya. Cairan yang menurutnya tidakwajar. Ia
pun terus melanjutkan sholatnya sampai rakaat yang ke 2. Dansetelah sholat
selesai, dan saat ia berdiri, cairannya pun keluar semakin banyak, seakan
tidak bisa dibendung. Ia pun panik dan memberitahu suaminya. Suaminya pun
segera menghubungi danmemberi tahu ibunya tentang keadaan Isma. Wah
jangan-jangan ia mau melahirkan, pikirnya.
Saat ibunya melihat, akhirnya suruh segera dibawa ke bidan. Kebetulan rumah
bidannya dekat, hanya selang beberapa rumah saja. Kata ibunya, itu adalah
air ketuban, yang sebagai pertanda kalau air ketubah pecah berarti sudah
tanda-tanda mau melahirkan.
“Bu, bagaimana dengan istri saya?” tanya Hanafi, suaminya.
“Maaf pak, istri bapak ketubannya sudah pecah, namun belum pembukaan,
jadi kami rujuk ke RS saja ya” jelas Bu bidan.
“Baiklah bu, bagaimana baiknya saja” katanya.
Isma pun panik, karena air ketubannya terus keluar tanpa henti. Dan
lebih panik lagi, karena harus dirujuk Ke RS. Ia juga tahun bahwa HPL nya
pun masih belum waktunya. Lebih-lebih suaminya tidakbisa mendampinginya
karena ada tugas kantor yang tidak bisa ditinggal.
Akhirnya, Isma pun diantar oleh ibu mertua, kakak dan kakak iparnya.
Sesampinya di RS Isma pun langsung di tangani oleh perawat.
“Bu, ini belum pembukaan sama sekali” kata perawat.
“Tapi mba, ketuban saya sudah keluar terus dan tidak henti-henti mba,
bagaimanapun mba, saya penginnya melahirkan secara normal mba”.
“Iya bu, nanti lihat bagaimana ya, nunggu di periksa dokter”
Saat itu pun pikiran Isma pun tak karuan. Saat ia harus menghadapi tanpa
didampingi suami, dan saat harus mendengan bahwa ia belum pembukaan
sama sekali. Perawat pun memeriksa lagi :
“Apa ibu udah merasa mulas, bengkek gitu bu?” tanya perawat.
“Belum mba?” Jawabnya “Saya sama sekali tidakmerasa mulas, bimana
mbha, udah pembukaan?”
“Belum bu”. Hatinya punmulai merasa khawatir, dan terus berdoa. Dua jam
sudah ia berbaring di ruang bersalin itu, namun belum ada pembukaan,
padahal air ketuban itu masih terus keluar.
Tak selang berapa lama, suaminya pundatang. Isma pun sangat
gembira karena akhirnya suaminya bisa datang juga. Dan tak lama, dokter pun
datang dan memeriksa Isma.
“Bagaimna Dok, dengan istri saya?” tanya Hanafi.
“Begini Pak, berhubung istri anda ketubannya sudah pecah, dan belum ada
pembukaan sama sekali, padahal kalau dibiarkan lama akan membahayakan
janin yang ada di dalam, oleh karena itu harus cepat-cepat dikeluarkan dengan
jalan operasi Cesar” jelas Dokter.
Isma pun panik mendengar hal itu, dan ia pun langsung bilang pada suaminya
“Yah, bagaimanapun aku pengin melahirkan secara normal, yah... tolong kita
tunggu sebentar lagi mbok nantu pembukaan” pinta Isma
“Bu,... apapun yang penting terbaik untukkalian” jelas suaminya.
“Kita berdoa saja ya” lanjut suaminya.
Isma pun terus berdoa di dalam kepanikannya. Wajar, ia baru pernah
merasakan kehamilan yang pertama, dan baru pernah akan melahirkan.
Bagaimanapun, semua wanita pastinya ingin melahirkan secara normal,
walaupun sakitnya antara hidup dan mati. Tapi itulah, pengorbanan seorang
ibu dan ada kepuasan tersendiri karena telah menjadi wanita yang
sesungguhnya.
Disaat Isma sedang berdoa dan membayangkan segala sesuatunya,
tiba-tiba perawat datang dengan memakai seragam hijau-hijau (yang identik
dengan seragam untuk operasi)
“Bu, kita siap-siap mau operasi ya bu” kata perawat.
“Ha ?? apa mba??” Isma panik.
“Iya bu ... ibu mau operasi cesar” jelas perawat.
“Tolong sebentar mba, saya mau bicara dengan suami saya dulu” pinta imsa.
Perawatnya pun langsung memanggil suaminya. Dan suaminya pun segera
menghampiri Isma.
“Bu, ayah sudah bicara empat mata dengan dokter, dan ayh sudah ambil
keputusan, ayah tidak bisa melihat kamu sperti ini, sementara ayah tidak bisa
mendampingimu”.
“Tapi yah ....” belum selesai Isma menjawab, suaminyapun langsung
memotong pembicaraannya.
“Ayah tidak bisa mendapingimu, karena ayah harus ke kantor lagi, inipun ayah
hanya izin sebentar untuk melihat kondisimu, dan yang ayah kwatirkan kalau
kamu melahirkan secara normal, padahal keondisimu belum fit kaena baru
kambuh asma kemarin” jelasnya. Isma pun hanya terdiam dan meneteskan air
mata. Ia memang baru saja kambuh dari asma yang memang sering ia alami.
Dan memang belum fit keadaannya.
“Pak Hanafi .... silahkan ditandatangani surat ini” pinta perawat. Sementara
Hanafi menandatangani surat-surat untuk persyaratan operasi, Isma pun
ditangani perawt untuk siap-siap menjalani operasi cesar. Sebelum masuk ke
kamar operasi, Hanafi kembali menghampiri istrinya
“Bu.... ibu harus kuat, demi anak kita, maaf ayah tidak bisa mendampingi ibu,
karena harus kembali meeting, doa ayah selalu yang terbaik untukkalian”.
Hanafi pun mengecup kening istrinya sambil meyakinkan kalau semua akan
baik-baik saja.
Perawatpun segera membawa Isma ke kamar operasi. Tak pernah
sedikitpun terbayang di benaknya, bahwa ia akan masuk ke kamar operasi.
semua tim pun sudah bersiap untuk melakukan operasi. Isma pun selalu
berdoa, berdoa dan terus berdoa.
“Kita berdoa ya bu, semoga operasi kita lancar” kata salah satu Dokter yang
sudah siap mengoperasi.
Jarum suntik pun mulai disuntikkan di tulang punggung Isma, tak berapa lama
semua kaki, sampai perut terasa berat dan berat. Yaa, obat biusnya pun
sudah mulai bekerja. Tetapi hanya bius loka saja, jadi Isma masih sadar apa
yang terjadi selama operasi berlangsung.
Sayatan pisaunya pun sudah mulai terasa di perut. Isma pun terus berdoa
tanpa henti, ia selalu memohon semoga operasinya lancar, bayinya pun
selamat. Perut nya pun mulai terasa di oyak-oyak. Dan tak berapa lama
terdengarlah suara tangisat bayi.
“Alahamdulillah .....” batin Isma
“Bu selamat, putri ibu cantik sekali” kata salah satu dokter sambil
memperlihatkan bayinya yang masih belum dibersihkan.
Tak bisa berkata apa-apa. Isma pun hanya bisa meneteskan air mata, air mata
kebahagiaan. Seraya bergumam dalam hatinya
“Terima kasih Ya Allah .... Engkau telah menganugerahkan bayi mungil yang
cantik, yang akan menjadi hadiah terindah untuk keluarga kecilnya”
Ia sangat bahagia telah menjadi wanita yang sesungguhnya.telah melahirkan
seorang anak dari rahimnya sendiri. Telah memberikan suaminya seorang
anak yang mungil dan cantik. Dan telah mendapat gelar sebagai seorang
“IBU”