Anda di halaman 1dari 116

PENUNTUN PRAKTIKUM

OPERASI TEKNIK KIMIA 1

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA


TAHUN AJARAN 2018/2019

TIM PENYUSUN
Dr. Abdul Kahar, S.T., M.Si
Ari Susandy Sanjaya, S.T., M.T.
Novy Pralisa, S.T., M.Eng.
Mardiah, S.T., M.T.
Rif’an Fathoni, S.T., M.T.
Helda Niawanti, S.T., M.T.

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA

2018
PENUNTUN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1
TAHUN AJARAN 2018/2019

TIM PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1

Dosen Pengampu :

Helda Niawanti, S.T., M.T.


NIP. 19910817 201803 2 001

Kepala Laboratorium Rekayasa Kimia :

Novy Pralisa, S.T., M.Eng.


NIP. 19811102 200912 2 001

Pembimbing Praktikum :

1. Dr. Abdul Kahar, S.T., M.Si 1.


NIP. 19690615 200112 1 001 2.
2. Ari Susandy Sanjaya, S.T., M.T. : 1.
NIP. 19780319 201012 1 001 2.
3. Novy Pralisa, S.T., M.Eng. : 1.
NIP. 19811102 200912 2 001 2.
4. Mardiah, S.T., M.T. : 1.
NIP. 19840511 201504 2 001 2. -
5. Rif’an Fathoni, S.T., M.T. : 1.
NIP. - 2. -
6. Helda Niawanti, S.T., M.T. 1.
NIP. 19910817 201803 2 001 2. -

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | ii
PENUNTUN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1
TAHUN AJARAN 2018/2019

Asisten Praktikum :

1. : Mixing
NIM.
2. : Aliran Fluida
NIM.
3. : Dinamika Proses
NIM.
4. : Filtrasi
NIM.
5. : Sedimentasi
NIM.
6. : Leaching
NIM.

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | iii
PENUNTUN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1
TAHUN AJARAN 2018/2019

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
rahmat-Nya sehingga penyusunan Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 1 Tahun Ajaran
2018/2019 dapat terselesaikan.

Penuntun praktikum ini disusun untuk mempermudah kegiatan praktikum Operasi Teknik
Kimia 2 yang dilaksanakan oleh mahasiswa program studi teknik kimia tahun ajaran
2018/2019. Penuntun ini terdiri dari 6 judul praktikum yang masing-masing diawali dengan
pemaparan tujuan percobaan secara umum serta teori yang mendasari percobaan. Selanjutnya
terdapat metodologi percobaan yang terdiri dari pemaparan bahan dan alat yang digunakan
maupun prosedur kerja yang telah dijabarkan sejelas mungkin. Data pengamatan yang
diperoleh selama melaksanakan praktikum dapat diisikan pada laporan sementara untuk
kemudian digunakan sebagai data yang valid dalam melakukan perhitungan.

Penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut aktif membantu
penyusunan Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 1 ini. Penyusun menyadari bahwa
dalam buku ini masih jauh dari sempurna. Dengan kerendahan dan ketulusan hati, penyusun
akan terbuka untuk menerima kritik yang membangun demi kesempurnaan penuntun ini.

Semoga Penuntun Praktikum Operasi Teknik Kimia 1 dapat bermanfaat bagi kita semua.

Samarinda, 2018

Tim Praktikum
Operasi Teknik Kimia 1

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | iii
PENUNTUN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1
TAHUN AJARAN 2018/2019

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i


TIM PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA 1 ............................................. ii
KATA PENGANTAR .............................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................................. iv

PERCOBAAN 1 MIXING ........................................................................................ 1


PERCOBAAN 2 ALIRAN FLUIDA ....................................................................... 20
PERCOBAAN 3 DINAMIKA PROSES ................................................................. 40
PERCOBAAN 4 FILTRASI .................................................................................... 61
PERCOBAAN 5 SEDIMENTASI ........................................................................... 82
PERCOBAAN 6 LEACHING .................................................................................. 95

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | iv
PERCOBAAN 1
MIXING

Tujuan Praktikum

1. Memahami pengertian dasar pengadukan.


2. Mengetahui hubungan antar variabel proses dan mengekspresikannya dalam bentuk
grafik.
3. Menentukan tenaga (power) pengadukan.

Diskripsi

Praktikum mixing mengajarkan tentang pengamatan, pengambilan keputusan dan analisis data
pada fenomena-fenomena yang biasa terjadi pada proses pengadukan campuran serta
mengekspresikannya dalam bentuk grafik.

Landasan Teori

Pengadukan adalah operasi yang menciptakan terjadinya gerakan dari bahan yang diaduk
seperti molekul-molekul, zat-zat yang bergerak atau komponennya menyebar (terdispersi).
Tujuan dari operasi pengadukan terutama adalah terjadinya pencampuran (mixing).
Pencampuran merupakan suatu operasi yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi
ketidaksamaan komposisi, suhu atau sifat lain yang terdapat dalam suatu bahan. Selain itu
pencampuran juga digunakan untuk berbagai ragam operasi, dimana derajat homogenitas
bahan yang bercampur itu sangat berbeda-beda. Pencampuran dapat terjadi karena adanya
gerakan dari bahan tersebut. Agar bahan tersebut dapat bergerak diperlukan suatu pengadukan
dimana pengadukan tersebut akan memberikan suatu gerakan tertentu pada suatu bahan di
dalam bejana. Pemilihan pengaduk sangat ditentukan oleh jenis pencampuran yang diinginkan
serta keadaan bahan yang akan dicampur.

Prinsip pengadukan ialah mencampur dua cairan yang saling melarut, melarutkan padatan
dalam cairan, mendispersikan gas dalam cairan dalam bentuk gelembung dan untuk
1
mempercepat perpindahan panas antara fluida dengan koil pemanas dan jaket pada dinding
bejana.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pencampuran, yaitu:


a. Aliran, aliran yang turbulen dan laju alir bahan yang tinggi biasanya menguntungkan
proses pencampuran. Sebaliknya, aliran yang laminar dapat menggagalkan pencampuran.
b. Ukuran partikel/luas permukaan, semakin luas permukaan kontak bahan-bahan yang
harus dicampur yang berarti semakin kecil partikel dan semakin mudah gerakannya di
dalam campuran, maka proses pencampuran semakin baik.
c. Kelarutan, semakin besar kelarutan bahan-bahan yang akan dicampur satu terhadap
lainnya, semakin baik pencampurannya.

Ada beberapa jenis bentuk pengaduk, yaitu:


a. Propeller
Kelompok ini biasa digunakan untuk kecepatan pengadukan tinggi dengan arah aliran
aksial. Pengaduk ini dapat digunakan untuk cairan yang memiliki viskositas rendah dan
tidak bergantung pada ukuran serta bentuk tangki. Kapasitas sirkulasi yang dihasilkan
besar dan sensitif terhadap beban head. Dalam perancangan propeller, luas sudah biasa
dinyatakan dalam perbandingan luas area yang terbentuk dengan luas daerah disk.
Pengaduk propeller terutama menimbulkan aliran arah aksial, arus aliran meninggalkan
pengaduk secara kontinyu melewati fluida ke satu arah tertentu sampai dibelokkan oleh
dinding atau dasar tangki.

b. Turbine
Istilah turbine ini diberikan bagi berbagai macam jenis pengaduk tanpa memandang
rancangan, arah discharge ataupun karakteristik aliran. Turbine merupakan pengaduk
dengan sudut tegak datar dan bersudut konstan. Pengaduk jenis ini digunakan pada
viskositas fluida rendah seperti halnya pengaduk jenis propeller. Pengaduk turbin
menimbulkan aliran arah radial dan tengensial. Disekitar turbin terjadi daerah turbulensi
yang kuat, arus dan geseran yang kuat antar fluida. Salah satu jenis pengaduk turbine
adalah pitched blade. Pengaduk jenis ini memiliki sudut sudut konstan. Aliran terjadi
pada arah aksial, meski demikian terdapat pola aliran pada arah radial. Aliran ini akan
mendominasi jika sudut berada dekat dengan dasar tangki.

2
c. Paddle
Pengaduk jenis ini sering memegang peranan penting pada proses pencampuran dalam
industri. Bentuk pengaduk ini memiliki minimum 2 sudut, horizontal atau vertikal,
dengan nilai D/T yang tinggi. Paddle digunakan pada aliran fluida laminar, transisi atau
turbulen tanpa baffle. Pengaduk paddle menimbulkan aliran arah radial dan tangensial
dan hampir tanpa gerak vertical sama sekali. Arus yang bergerak kearah horizontal
setelah mencapai dinding akan dibelokkan keatas atau kebawah. Bila digunakan pada
kecepatan tinggi akan terjadi pusaran saja tanpa terjadi agitasi.

Gambar 2. Bentuk-bentuk Pengaduk : (a) Pengaduk Paddle, (b) Pengaduk Propeller, (c)
Pengaduk Turbine

Gambar 3. Tipe-tipe Pengaduk Jenis Turbin : (a) Flate Blade, (b) Curved Blade, (c)
Pitched Blade

Sekat (baffle) adalah lembaran vertikal datar yang ditempelkan pada dinding tangki. Tujuan
utama menggunkan sekat dalam tangki adalah memecah terjadinya pusaran saat terjadinya
pengadukan dan pencampuran. Oleh karena itu, posisi sumbu pengaduk pada tangki bersekat
berada di tengah. Namun, pada umumnya pemakaian sekat akan menambah beban
pengadukan yang berakibat pada bertambahnya kebutuhan daya pengadukan. Sekat pada
tangki juga membentuk distribusi konsentrasi yang lebih baik di dalam tangki, karena pola

3
aliran yang terjadi terpecah menjadi 4 bagian. Penggunaan ukuran sekat yang lebih besar
mampu menghasilkan pencampuran yang lebih baik.

Gambar 4. Pengaruh Pemasangan Baffle Terhadap Pola Aliran

Pada saat menggunakan empat sekat vertikal seperti pada gambar 2.3 biasanya dapat
menghasilkan pola putaran yang sama dalam tangki. Lebar sekat yang digunakan sebaiknya
berukuran 1/12 diameter tangki.

Bilangan Reynoldss adalah suatu rasio antara gaya inersia terhadap gaya viskositas yang
mengkuantifikasikan antara hubungan kedua gaya tersebut dengan suatu kondisi aliran
tertentu. Bilangan ini digunakan untuk mengidentikasikan jenis aliran yang berbeda, misalnya
pada jenis aliran laminar dan turbulen. Bilangan Reynolds merupakan salah satu bilangan tak
berdimensi yang paling penting dalam mekanika fluida dan digunakan, seperti halnya dengan
bilangan tak berdimensi lain. Untuk memberikan kriteria untuk menentukan dynamic
similitude. Jika dua pola aliran yang mirip secara geometris, mungkin pada fluida yang
berbeda dan laju alir yang berbeda pula, memiliki nilai bilangan tak berdimensi yang relevan,
keduanya disebut memiliki kemiripan dinamis. Sistem pengadukan yang terjadi bisa diketahui
bilangan Reynolds-nya dengan menggunakan persamaan:

Dimana :
Re : Bilangan Reynolds
ρ : Densitas Fluida
µ : Viskositas Fluida

4
Secara umum jenis-jenis aliran dapat dibagi menjadi 3 yaitu :
1. Aliran Laminar
Laminar adalah aliran fluida yang ditunjukkan dengan gerak partikel-partikel fluidanya
sejajar dan garis-garis arusnya halus. Dalam aliran laminar, partikel-partikel fluida
seolah-olah bergerak sepanjang lintasan-lintasan yang halus dan lancar, dengan satu
lapisan meluncur secara mulus pada lapisan yang bersebelahan. Sifat kekentalan zat cair
berperan penting dalam pembentukan aliran laminar. Aliran laminar bersifat steady
maksudnya alirannya tetap. “Tetap” menunjukkan bahwa di seluruh aliran air, debit
alirannya tetap atau kecepatan aliran tidak berubah menurut waktu. Aliran laminar
mengikuti hukum Newton tentang viskositas yang menghubungkan tegangan geser
dengan laju perubahan bentuk sudut. Tetapi pada viskositas yang rendah dan kecepatan
yang tinggi aliran laminar tidak stabil dan berubah menjadi aliran turbulen. Bisa diambil
kesimpulan mengenai ciri- ciri aliran laminar yaitu fluida bergerak mengikuti garis lurus,
kecepatan fluidanya rendah, viskositasnya tinggi dan lintasan gerak fluida teratur antara
satu dengan yang lain. Dalam pipa, aliran laminar biasanya terjadi pada nilai bilangan
Reynoldss Re < 2100.

2. Aliran Turbulen
Aliran turbulen yaitu pergerakan dari partikel-partikel fluida yang tidak bisa menentu
dikarenakan mengalami campuran serta putaran partikel antar lapisan, dan dapat
mengakibatkan saling tukar momentum dari satu bagian fluida dan kebagian fluida
lainnya dan dalam skala yang begitu besar. Dalam keadaan yang alirannya turbulen
maka turbulensi yang akan terjadi membangkitkan tegangan geser merata diseluruh aliran
fluida sehingga akan menghasilkan kerugian-kerugian aliran. Aliran turbulenakan terjadi
jika nilai bilangan Reynolds Re > 4000.

3. Aliran Transisi
Aliran transisi merupakan aliran peralihan dari aliran laminar ke aliran turbulen.Apabila
Reynoldss number didapatkan hasil aliran transisi terjadi pada 2100 < Re < 4000.

5
Alat dan Bahan

Alat :

1. Rangkaian alat tangki berpengaduk


2. Beaker glass 100 mL
3. Beaker glass 250 mL
4. Picnometer 25 mL
5. Penggaris
6. Bulb
7. Viscometer
8. Stopwatch
9. Neraca analitik
10. Batang pengaduk
11. Kunci batang pengaduk
12. Propeller
13. Baffle
14. Timbangan

Bahan :

1. Aquades
2. Teh Celup

6
Rangkaian Alat

1 Keterangan :
2 1. Motor pengaduk
2. Speed controller
3. Tangki
3 4. Baffle
5. Pengaduk

Gambar 5. Rangkaian Alat Mixing

Prosedur Percobaan

1. Pengukuran Alat
a. Disiapkan rangkaian alat tangki berpengaduk
b. Diukur diameter tangki pengadukan (Dt), diameter pengaduk (Da), tinggi permukaan
larutan (H), jarak pengaduk dari dasar tangki (Zi) dan lebar baffle
c. Dicatat hasil pengukuran.

2. Penentuan Waktu Pengadukan Sempurna


a. Diisi tangki berpengaduk dengan air hingga tanda batas yang telah ditentukan
b. Dimasukkan bubuk teh ke dalam tangki yang berisi air
c. Dinyalakan motor pengaduk yang telah terpasang dengan tangki berpengaduk yang berisi
air dengan kecepatan 300 rpm
d. Dihitung waktu yang diperlukan hingga air berubah warna menjadi kecoklatan dengan
menggunakan stopwatch
e. Dihitung densitas dan viskositas larutan sebelum dan sesudah pengadukan

7
f. Diulangi percobaan yang sama dengan variabel kecepatan putar pengaduk yang berbeda
sebesar 350 dan 400 rpm
g. Diulangi percobaan dengan tangki berbaffle

3. Penentuan Power Consumption


a. Diisi tangki berpengaduk dengan air hingga tanda batas yang telah ditentukan
b. Dimasukkan bubuk teh ke dalam tangki yang berisi air
c. Dinyalakan motor pengaduk yang telah terpasang dengan tangki berpengaduk yang berisi
air dengan kecepatan 300 rpm
d. Dilakukan pengadukan selama 1 menit
e. Diamati ada atau tidaknya vortex yang terbentuk pada saat pengadukan
f. Diulangi percobaan yang sama dengan variabel kecepatan putar pengaduk yang berbeda
sebesar 350 dan 400 rpm
g. Diulangi percobaan dengan tangki berbaffle

Analisa Perhitungan

1. Menghitung volume piknometer dan viskositas akuades


a) Massa piknometer = gram
b) Massa piknometer + akuades = gram
c) Massa akuades = gram
akuades pada suhu oC, diperoleh dari data Tabel 2.30 Perry, 1997, “Process and Unit
Operations”, diperoleh ρ = g/cm3
Volume piknometer = volume aquadest

Dari data Tabel 2.305 Perry diperoleh nilai


o
Μakuades(pada C) = g/cm.s

2. Menghitung densitas (ρ) larutan NaCl


Tabel 4. Hasil Perhitungan Densitas NaCl untuk Tangki Berbaffle pada
Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna

8
Berat larutan NaCl Vpiknometer ρNaCl
n (rps) 3
(gram) (cm ) (g/cm3)

a. Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = g/cm3

b. Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = g/cm3

c. Pada tangki berbaffle untuk penentuan power consumption


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = g/cm3

Tabel 7. Hasil Perhitungan Densitas NaCl untuk Tangki tanpa Baffle pada Penentuan
Power Consumption
Berat larutan NaCl Vpiknometer ρNaCl
n (rps)
(gram) (cm3) (g/cm3)

a. Pada tangki tanpa baffle untuk penentuan power consumption


9
Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = g/cm3

b. Pada tangki tanpa baffle untuk penentuan power consumption


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = g/cm3

c. Pada tangki tanpa baffle untuk penentuan power consumption


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Berat larutan NaCl = gram
ρNaCl = 1,011 g/cm3

3. Menghitung viskositas (μ) larutan NaCl


Tabel 8. Hasil Perhitungan Viskositas NaCl untuk Tangki Berbaffle pada
Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna
N ρNaCl ρaq t NaCl t aq μaq μNaCl
(rps) (g/cm3) (g/cm3) (s) (s) (g/cm.s) (g/cm.s)

a) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
ρNaCl = g/cm3
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

 lart Nacl  t lart Nacl


μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

10
b) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna
Kecepatan putar impeller rpm = rps
ρNaCl = g/cm3
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

 lart Nacl  t lart Nacl


μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

c) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
3
ρNaCl = g/cm
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

 lart Nacl  t lart Nacl


μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

Tabel 9. Hasil Perhitungan Viskositas NaCl untuk Tangki tanpa Baffle pada
Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna
N ρNaCl ρaq t NaCl t aq μaq μNaCl
(rps) (g/cm3) (g/cm3) (s) (s) (g/cm.s) (g/cm.s)

d) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
ρNaCl = g/cm3
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

11
 lart Nacl  t lart Nacl
μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

e) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
ρNaCl = g/cm3
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

 lart Nacl  t lart Nacl


μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

a) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
ρNaCl = g/cm3
ρaq = g/cm3
t NaCl = s

 lart Nacl  t lart Nacl


μNaCl =  air
 air  t air
= g/cm.s

4. Menghitung Bilangan Reynold (NRe) larutan NaCl


Tabel 12. Hasil Perhitungan Bilangan Reynold NaCl untuk Tangki Berbaffle
pada Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna
n Da ρNaCl μNaCl
NRe
(rps) (cm) (g/cm3) (g/cm.s)

a) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
12
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe =
 NaC l
=
b) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna
Kecepatan putar impeller rpm = rps
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe =
 NaC l
=
c) Pada tangki berbaffle untuk waktu pengadukan sempurna
Kecepatan putar impeller rpm = rps
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe =
 NaC l
=

Tabel 12. Hasil Perhitungan Bilangan Reynold NaCl untuk Tangki Berbaffle pada
Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna
n Da ρNaCl μNaCl
NRe
(rps) (cm) (g/cm3) (g/cm.s)

d) Pada tangki tanpa baffle untuk waktu pengadukan sempurna


Kecepatan putar impeller rpm = rps
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
13
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe =
 NaC l
=
Analog dengan perhitungan di atas maka didapat :
Tabel 13. Hasil Perhitungan Bilangan Reynold NaCl untuk Tangki tanpa Baffle pada
Pengamatan Waktu Pengadukan Sempurna
n Da ρNaCl μNaCl
NRe
(rps) (cm) (g/cm3) (g/cm.s)

e) Pada tangki berbaffle untuk penentuan power consumption


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe = =
 NaC l
Analog dengan perhitungan di atas maka didapat :
Tabel 14. Hasil Perhitungan Bilangan Reynold NaCl untuk Tangki Berbaffle pada
Penentuan Power Consumption
Da ρNaCl μNaCl
n (rps) NRe
(cm) (g/cm3) (g/cm.s)

f) Pada tangki tanpa baffle untuk penentuan power consumption


Kecepatan putar impeller = rpm = rps
Da = cm

14
ρNaCl = g/cm3
μNaCl = g/cm.s
n  Da2   NaCl
NRe =
 NaC l
=
Analog dengan perhitungan di atas maka didapat :
Tabel 15. Hasil Perhitungan Bilangan Reynold NaCl untuk Tangki tanpa Baffle pada
Penentuan Power Consumption
Da ρNaCl μNaCl
n (rps) NRe
(cm) (g/cm3) (g/cm.s)

5. Menghitung daya pengadukan


a) Tangki berbaffle
Kecepatan impeller rpm = rps
Nre =
P0 = (dari fig. 477 Brown, 1950)
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
gc = 1 (untuk system SI atau cgs)
P0  n 3  D 5a  ρ NaCl
P = = W
gc

D  Z t   Dt  Z t 
Pr = P   t     
 Da  D a  desired  Da  D a  graph

Dt = cm
Zt = cm
Da = cm
 Dt 
  = (Brown, hal 507)
 Da  graph

 Zt 
  = (Brown, hal 507)
 Da  graph
15
Pr = W

Analog dengan perhitungan di atas maka didapat :


Tabel 16. Hasil Perhitungan Daya Pengadukan untuk Tangki Berbaffle
n Da NaCl P Pr
P0 NRe
(rps) (cm) (g/cm3) (W) (W)

b) Tangki tanpa baffle


Kecepatan impeller rpm = rps
Nre =
P0 = (dari fig. 477 Brown, 1950)
Da = cm
ρNaCl = g/cm3
gc = 1 (untuk system SI atau cgs)
P0  n 3  D 5a  ρ NaCl
P = = W
gc

D  Z t   Dt  Z t 
Pr = P   t     
 Da  D a  desired  Da  D a  graph

Dt = cm
Zt = cm
Da = cm
 Dt 
  = (Brown, hal 507)
 Da  graph

 Zt 
  = (Brown, hal 507)
 Da  graph
Pr = W
Analog dengan perhitungan di atas maka didapat :

16
Tabel 17. Hasil Perhitungan Daya Pengadukan untuk Tangki tanpa Baffle
n Da NaCl P Pr
P0 NRe
(rps) (cm) (g/cm3) (W) (W)

Tabel18. Hubungan antara tT dengan NRepada Tangki Berbaffle


Waktu pengadukan
NRe
sempurna (tT), sekon

Gambar 1. Grafik Hubungan antara Waktu Pengadukan Sempurna (tT) dengan


Bilangan Reynold (NRe) pada Tangki Berbaffle

Tabel 19. Hubungan antara tT dengan NRepada Tangki tanpa Baffle


Waktu pengadukan
NRe
sempurna (tT), sekon

17
Gambar 2. Grafik Hubungan antara Waktu Pengadukan Sempurna (tT) dengan
Bilangan Reynold (NRe) pada Tangki tanpa Baffle

Tabel 20. Hubungan antara Pr dengan NRepada Tangki Berbaffle

NRe Pr ( W )

Gambar 3. Grafik Hubungan antara Daya Pengadukan (Pr) dengan Bilangan


Reynold (NRe) pada Tangki Berbaffle

18
Tabel 21. Hubungan antara Pr dengan NRepada Tangki tanpa Baffle
NRe Pr ( W )

Gambar 4. Grafik Hubungan antara Daya Pengadukan (Pr) dengan Bilangan


Reynold (NRe) pada Tangki tanpa Baffle

19
PERCOBAAN 3
DINAMIKA PROSES

Tujuan Praktikum

1. Mengetahui dinamika (perilaku) proses tidak tunak (unsteady state) melalui sistem fisik
sederhana.
2. Mengetahui keadaan tunak dan tidak tunak untuk sistem-sistem fisik sederhana.
3. Mengetahui model matematika untuk sistem-sistem fisik sederhana yang berada dalam
keadaan tidak tunak.
4. Menentukan parameter-parameter model matematika di atas dari rangkaian data
percobaan, seperti tanggapan sistem terhadap gangguan fungsi tangga.

Diskripsi

Praktikum dinamika proses mengajarkan tentang pengamatan, pengambilan keputusan dan


analisis data pada fenomena-fenomena yang biasa terjadi pada proses pengosongan tangki
dengan mengalirkan fluida melalui pipa.

Landasan Teori

Dalam bidang Teknik Kimia sangat dibutuhkan suatu kemampuan untuk mengkuantifikasikan
dari kelakuan suatu elemen proses atau proses itu sendiri. Kemampuan tersebut dikenal
dengan pemodelan. Untuk melakukan pemodelan digunakan prinsip reaksi kimia, proses
fisika, dan matematika untuk memperoleh suatu persamaan. Dengan mempergunakan
persamaan tersebut dapat diperkirakan suatu kejadian pada suatu hasil (produk) dengan
mengubah suhu, tekanan, ukuran alat dan sebagainya.

Tahap awal dari pembuatan model suatu proses adalah dengan melakukan analisa dari proses
tersebut. Tujuan analisa adalah mendapatkan gambaran dari kejadian secara fisik,
memprediksi kelakuan proses, membandingkan dengan kelakuan sebenarnya mengevaluasi

40
terhadap keterbatasan dari model yang telah dibentuk, dan kemudian dapat diteruskan dengan
perancangan alat atau unit proses yang diperlukan.

Dasar teori ini akan ditinjau contoh pemodelan suatu proses sederhana seperti terlihat pada
gambar yaitu suatu tangki dengan luas penampang tetap (A), diisi dengan air pada ketinggian
awal (h0). Kemudian tangki tersebut dikosongkan dengan cara mengalirkan air melalui lubang
kecil (orifice) dibagian dasar tangki dengan luas penampang orifice (Ao).

ρ = densitas air
h0

Dimana :
q : Laju alir volume cairan dari tangki (ft3/detik, liter/detik, m3/detik)
A : Luas penampang tangki (m2, ft2)
A0 : Luas penampang lubang kecil atau orifice (m2, cm2, ft2)
h0 : Ketinggian cairan pada t = 0 (cm, m, ft)
h : Ketinggian cairan dalam tangki terhadap perubahan waktu (ft, m, cm)
ρ : Densitas cairan (lb/ft3, kg/liter)
t : Waktu (detik)

“Massa cairan yang keluar tangki sama dengan perubahan massa di dalam tangki”. Massa
cairan adalah ρ . A . h jadi perubahan massa tersebut adalah d . [ρ . A . h]/dt.

Perubahan massa dalam tangki = - (laju air massa keluar tangki)

Tanda negatif menyatakan bahwa aliran menghasilkan pengurangan massa dalam tangki,
dimana ρ dan A adalah tetap (konstanta).

41
Dinamika proses adalah variasi unjuk kerja suatu proses dinamik dari waktu ke waktu sebagai
respon terhadap gangguan-gangguan dan perubahan-perubahan terhadap proses tersebut.
Dinamika proses menunjukkan adanya kondisi tidak unak dalam setiap proses/ sistem teknik
kimia setelah diberi gangguan untuk mencapai keadaan tunak baru. Ketidaktunakan ini
diakibatkan adanya gangguan pada sistem yang telah tunak. Pada praktikum ini, dinamika
proses diamati pada percobaan profil ketinggian air dalam tangki terhadap waktu serta
perubahan temperatur terhadap waktu pada sebuah termometer.

Dalam dinamika proses ada dua keadaan yang ditinjau dari dinamika proses yang terjadi,
yaitu:
a. Keadaan tunak (steady state)
Kondisi sewaktu sifat-sifat suatu sistem tidak berubah dengan berjalannya waktu
(konstan). Pada beberapa sistem, keadaan tunak baru akan dicapai beberapa waktu
setelah sistem dimulai, kondisi awal ini sering disebut keadaan trannen.
b. Keadaan tidak tunak (unsteady state)
Untuk mempermudah penyelesaian bentuk kompeks dari non linier diubah menjadi
bentuk linier diseputar kondisi tunak.

Kedinamisan tangki air diuji coba dengan pengosongan tangki dan pemberian gangguan pada
tangki berisi air yang tenang dengan ketinggian tunak. Luas penampang tangki dikalibrasi
dengan mengalurkan grafik volume terhadap penurunan ketinggian air dalam tangki (h).
Volume tangki dihitung dengan persamaan:

.
.h

.
dimana adalah luas penampan tangki. Dengan demikian A adalah gradien dari grafik V-

h. Jika diketahui luas penampang, maka laju alir volumetrik dari valve yang digunakan
(dengan bukaan tertentu) dapat diketahui.

Pada percobaan ini digunakan 3 valve. Dua valve untuk mengalirkan air dari reserviar, dan
satu valve lain sebagai saluran keluaran tangki. Masing-masing valve mempunyai
karakteristik dan laju alir berbeda-beda. Pengukuran laju alir volumetrik dilakukan dengan

42
mengukur volume keluaran tiap selang waktu tertentu. Debit air biasa dihitung dengan
mencari gradien grafik. Volume terhadap waktu. Persamaan yang digunakan adalah:

Debit air pada masing-masing valve bergantung pada variasi bukaan valve. Makin besar
bukaan valve, makin besar pula debit airnya. Perhitungan debit air ini dilakukan untuk
memperkirakan bukaan valve yang sesuai dengan yang dibutuhkan saat percobaan simulasi
gangguan.

Proses pengosongan tangki dimaksudkan untuk menentukan parameter laju volumeterik


keluaran (k dan n). Laju volumetrik keluaran tangki merupakan fungsi dari ketinggian air
dalam tangki.

Dasar percobaan ini adalah persamaan Bernoulli:

. g.h . g.h

Mulut tangki dan saluran keluaran terbuka pada tekanan atmosfer sehingga, persamaan
tersebut menjadi:

.[ ] g . [h h ]

Selanjutnya digunkan asumsi v12 dapat diabaikan terhadap v22 karena dianggap luas
penampang tangki jauh lebih besar daripada saluran keluaran sehingga,

.[ ] g . [h h ]

43
Persamaan tersebut disederhanakan:

√ . g . [h h ]

√ .g. h

v2 adalah laju linear, sedangkan debit adalah A . v2 = A . √ . g . h , dari persamaan ini


diketahui bahwa debit adalah fungsi h,

Q = k . hn

pada kondisi ideal n = 0,5.

Pada proses pengosongan tangki ini, neraca massa dalam tangki adalah:

akumulasi air = massa air masuk – massa air keluar

Pada proses pengosongan tangki massa air masuk = 0, sehingga:

akumulasi air = - massa air keluar

d
dt out

dh
A. k . hn
dt

dh k n
.h
dt A

Dari persamaan tersebut disimpulkan bahwa laju perubahan ketinggian air dalam tangki
bergantung pada ketinggian tangki setiap saat. Konstanta k dan n merupakan parameter yang
menunjukkan keidelan tangki.

44
Data yang diperoleh adalah h dan t. Nilai k dan n bisa dicari dengan linearisasi persamaan
neraca massa:

dt k
ln n . ln h ln ( )
dt A

dimana ( ) adalah gradien garis.

Cara lain yang lebih akurat adalah dengan metoda numerik dengan menggunakan bantuan
program komputer. Simulasi gangguan pada tangki dilakukan dengan mengguangg sistem
tangki yang sudah tunak. Gangguan diberikan dengan menambahkan air masuk masuk secara
tiba-tiba atau mengurangi jumlah air yang sudah tunak degan memperbesar bukaan valve
keluaran.

Jika dilakukan gangguan penambahan air ke dalam tangki, neraca massa tangki
akan menjadi:

akumulasi air = massa air masuk – massa air keluar

dh
A ( ) out
dt

Dengan adanya tambahan air, maka debit keluaran akan berubah dan akhirnya mencapai
keadaan tunak yang kedua. Selama simulasi dicatat perubahan ketinggian terhadap waktu.
Umumnya keadaan tunak sulit dicapai, dibutuhkan waktu yang lebih lama dan tangki dengan
luas permukaan relatif besar untuk mencapai kondisi tunak yang sempurna. Waktu untuk
mencapai kondisi tunak dipengaruhi besar kecilnya debit pada tiap-tiap valve, yang
mempengaruhi parameter k dan n.

Kesalahan seringkali terjadi karena ketidaktepatan penentuan waktu saat terjadinya kondisi
tunak. Jika simulasi sudah berlangsung lama, perubahan ketinggian air pada setiap variasi
bukaan akan sangat lambat, walaupun mempunyai kecenderungan untuk berubah pada jangka
waktu yang lama.

45
Alat yang Digunakan

1. Rangkaian alat dinamika proses


2. Gelas ukur 1000 mL
3. Stopwatch

Bahan yang Digunakan

1. Air

Rangkaian Alat

Rangkaian Alat Dinamika Proses


Keterangan:
1. Pompa
2. Valve

46
Prosedur Pelaksanaan

Penentuan Luas Penampang Tangki


a. Diisi air sebanyak 1000 mL dengan menggunakan gelas ukur pada tangki 1 yang mula-
mula telah diisi air setinggi 1 cm
b. Dicatat tinggi air pada tangki setiap penambahan volume tangki 1000 mL
c. Diulangi percobaan diatas sebanyak 10 kali
d. Dibuat kurva antar volume air terhadap ketinggian air didalam tangki dari data yang
diperoleh
e. Diulangi langkah a sampai e untuk tangki 2

Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki


a. Diisi air ke dalam tangki 1 sampai ketinggian 30 cm (pada saat t = 0).
b. Dicatat tinggi air pada tangki pada t = 0
c. Dibuka valve keluaran tangki dengan bukaan 2 dan 2 ½ putaran
d. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk setiap penurunan isi tangki setiap 2 cm hingga
tangki kosong
e. Digunakan prosedur a sampai c untuk tangki nomor 2

Penentuan Nilai k dan n pada Tangki


a. Diisi air ke dalam tangki 1 dengan ketinggian 30 cm (pada saat t = 0)
b. Dicatat tinggi air pada tangki pada t = 0
c. Dibuka valve keluaran tangki dengan bukaan 2 dan 2 ¾ putaran
d. Dicatat waktu yang dibutuhkan untuk setiap penurunan isi tangki setiap 2 cm, hingga
tangki kosong.
e. Digunakan prosedur a sampai d untuk tangki nomor 2

Simulasi Gangguan pada Tangki


a. Diisi air ke dalam tangki 1 sampai mencapai ketinggian 30 cm
b. Ditentukan bukaan valve input sebesar ¾ putaran dan valve output sebesar 1 putaran
c. Dicatat tinggi air pada tangki pada t = 0
d. Dibuka valve input dan keluaran tangki dengan bukaan yang telah ditentukan
e. Dicatat ketinggian air didalam tangki setiap 10 detik
47
f. Dilakukan percobaan ini hingga mencapai keadaan tunak
g. Setelah tunak diberi gangguan pada tangki selama 2 menit dengan bukaan valve input
sebesar 1 putaran, kemudian tutup bukaan valve gangguan tersebut
h. Dicatat ketinggian air dalam tangki setiap 10 detik
i. Dilakukan percobaan ini hingga mencapai keadaan tunak

Pembahasan

1. Grafik dan Perhitungan Penentuan Luas Penampang pada Tangki 1 dan Tangki 2

Penentuan luas penampang tangki 1 dan tangki 2 menggunakan data yang terdapat pada Tabel
4.1 beriku ini :

Tabel 4.1 Data Penentuan Luas Penampang Tangki 1 dan Tangki


No. Volume (mL) Tangki 1 h (cm) Tangki 2 h (cm)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Berdasarkan tabel 4.1 dan tabel 4.2, untuk menempattkan luas penampang tangki maka dibuat
kurva dengan sumbu x = h (cm) dan sumbu y = V (mL) seperti pada Gambar 4.1 dan Gambar
4.2 dan menghasilkan persamaan dengan menggunakan regresi linier y = ax + b .
Sehingga a = hasil luas penampangnya.

48
Tangki 1

y = ax - b
R² = ...
Volume (mL)

Tinggi (cm)

Gambar 4.1 Kurva Penentuan Luas Penampang pada Tangki 1

Tangki 2

y = ax - b
R² = ...
Volume (mL)

Tinggi (cm)

Gambar 4.2 Kurva Penentuan Luas Penampang pada Tangki 2

Berdasarkan Gambar 4.1 dan Gambar 4.2 dapat disimpulkan bahwa luas penampang tangki 1
adalah 498,45 cm2 dan luas penampang tangki 2 adalah 493,85 cm2.

49
2. Grafik dan Perhitungan Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 1

Laju alir keluaran tangki dapat ditentukan dengan menghitung volume tiap tangki dengan
mencari terlebih dahulu nilai r (jari-jari) tangki berdasarkan luas permukaan tangki dengan
rumus:

2
A= . . , maka D = √ ,r=

Untuk tangki 1,
D =
r =
Untuk tangki 2,
D =
r =

Dari masing-masing nilai r tangki yang didapat, kemudian dihitung masing-masing volume
berdasarkan ketinggian air pada tangki dengan rumus:

V= . r2 . h

Pada percobaan yang dilakukan untuk menentukan laju alir keluaran tangki 1 diperlukan
variasi bukaan valve yaitu 2 dan 2,5 putaran dan waktu penurunan ketinggian tangki dicatat
setiap 1 cm. Setelah didapat data ketinggian dan waktu masing-masing tangki, kemudian
dihitung nilai volume berdasarkan ketinggian air. Hasil perhitungan volume masing-masing
tangki dapat dilihat pada Tabel 4.2.

50
Berdasarkan Tabel 4.2 maka kurva penentuan laju alir keluaran tangki 1 dapat dilihat pada
Gambar 4.3 dibawah ini.

Laju Alir Tangki1


Volume (mL)

2 PUTARAN
2.5 PUTARAN
y = ax+ b Linear (2 PUTARAN)
R² = ....
Linear (2.5 PUTARAN)
y = ax + b
R² = ...
Waktu (s)

Gambar 4.3 Kurva Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 1

Berdasarkan Gambar 4.3 dapat disimpulkan bahwa laju alir keluaran tangki 1 pada bukaan
valve 2 putaran adalah 244,61 m ⁄s dan pada bukaan valve 2,5 putaran adalah 176,51 m ⁄s.

Tabel 4.2 Data Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 1


Tangki 1
No Bukaan valve: 2 Putaran Bukaan valve: 2,5 Putaran
h (cm) t (s) V (mL) h (cm) t (s) V (mL)
1 30 0 14953,50 30 0 14953,50
2 29 4,88 14455,05 29 1,86 14455,05
3 28 5,73 13956,60 28 4,68 13956,60
4 27 7,09 13458,15 27 6,20 13458,15
5 26 9,01 12959,70 26 7,40 12959,70
6 25 11,51 12461,25 25 9,93 12461,25
7 24 13,30 11962,80 24 11,18 11962,80
8 23 14,71 11464,35 23 13,20 11464,35
9 22 23,08 10965,90 22 14,66 10965,90
dst 21 25,33 10467,45 21 16,25 10467,45
51
3. Grafik dan Perhitungan Penentuan Nilai k dan n pada Tangki 1

Harga k dan n didapatkan dari hasil linierisasi persamaan:


dh k
= . hn
dt A
dh k
ln = n . ln h - ln
dt A

Nilai dh⁄dt dapat dicari dari regresi non linier grafik h terhadap t dengan memasukkan nilai t
sebagai variabel bebas. Hasil integrasi persamaan tersebut adalah garis lurus dengan intersep
– ln (k⁄A) dengan gradien n. Untuk mendapatkan data-data yang dibutuhkan dalam
perhitungan ini maka dilakukan simulasi pengosongan tangki.

Berdasarkan Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 maka kurva t terhadap h untuk menentukan nilai dh⁄dt
dapat dilihat pada Gambar 4.4 dan Gambar 4.5 dibawah ini.
ln(-A.dh/dt)

y = ax + b
R² = ...

ln h

Gambar 4.4 Kurva Penentuan Nilai k dan n pada Tangki 1 dengan Bukaan 2 Putaran

52
ln(-A.dh/dt)

y = ax + b
R² = .....

ln h

Gambar 4.5 Kurva Penentuan Nilai k dan n pada Tangki 1 dengan Bukaan 2,75 Putaran

Berdasarkan Gambar 4.4 maka dapat diketahui nilai dh⁄dt. Sedangkan berdasarkan Gambar

4.5 maka dapat diketahui nilai dh⁄dt. Setelah nilai dh⁄dt didapatkan maka dapat dihitung nilai

A . - dh⁄dt , ln (- A . dh⁄dt ) dan ln h. Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.3
dan Tabel 4.4 dibawah ini.

Tabel 4.3 Data Perhitungan Penentuan Nilai k dan n pada Tangki 1


Bukaan valve: 2 Putaran
No
h (cm) t (s) ⁄ A .- ⁄ ln (-A. ⁄ ) ln h

1 30 0 -0,522 259,99 5,56 3,40


2 28 4,15 -0,510 254,20 5,54 3,33
3 26 8,49 -0,498 248,14 5,51 3,26
4 24 12,13 -0,488 243,06 5,49 3,18
5 22 16,59 -0,475 236,84 5,47 3,09
6 20 20,53 -0,464 231,34 5,44 3,00
7 18 24,76 -0,452 225,43 5,42 2,89
8 16 29,30 -0,440 219,10 5,39 2,77
9 14 34,03 -0,426 212,50 5,36 2,64
10 12 38,55 -0,414 206,19 5,33 2,48
dst 10 43,55 -0,400 199,21 5,29 2,30

53
Tabel 4.4 Data Perhitungan Nilai k dan n pada Tangki 1 (lanjutan)
Bukaan valve: 2,75 Putaran
No
h (cm) t (s) ⁄ A .- ⁄ ln (-A. ⁄ ) ln h

1 30 0 -0,58 285,94 5,66 3,40


2 28 3,53 -0,57 279,31 5,63 3,33
3 26 7,47 -0,55 271,92 5,61 3,26
4 24 10,47 -0,54 266,29 5,58 3,18
5 22 14,60 -0,52 258,54 5,56 3,09
6 20 18,50 -0,51 251,22 5,53 3,00
7 18 22,36 -0,49 243,98 5,50 2,89
8 16 26,66 -0,48 235,91 5,46 2,77
9 14 30,45 -0,46 228,80 5,43 2,64
10 12 35,36 -0,44 219,58 5,39 2,48
Dst 10 40,07 -0,43 210,74 5,35 2,30

Dari Tabel 4.3 dan Tabel 4.4 maka dapat dilihat kurva linierisasi untuk simulasi pengosongan
tangki 1 pada bukaan 2 dan 2,75 putaran seperti Gambar 4.6 dan Gambar 4.7 dibawah ini.

Gambar 4.6 Kurva Linierisasi Pengosongan Tangki 1 pada Bukaan 2 Putaran

54
Gambar 4.7 Kurva Linierisasi Pengosongan Tangki 1 pada Bukaan 2,75 Putaran

Dari Gambar 4.6 maka diperoleh persamaan,


dh
ln (- A . )
dt

Dari Gambar 4.7 maka diperoleh persamaan,


dh
ln (- A . )
dt
jika dianalogikan dengan persamaan hasil penurunan neraca massa
dh
ln (- A . ) = n . ln h – ln k
dt

Maka diperoleh nilai k dan n pada bukaan 2 putaran,


k =
n =

Maka diperoleh nilai k dan n pada bukaan 2,75 putaran,


k =
n =

55
4. Grafik dan Perhitungan Simulasi Gangguan pada Tangki 1

Pada tangki yang telah tunak, langsung diberikan gangguan secara mendadak dengan
menambah bukaa valve input sebanyak 1 putaran. Karena gangguan tersebut maka sistem
didalam tangki menjadi tidak stabil dan profil ketinggian berubah.

Tabel 4.5 Data Simulasi Gangguan Pada Tangki


Pada Keadaan Tunak Diberi Gangguan
No.
h (cm) t (s) h (cm) t (s)
1.
2.
3.
4.
5.
Dst

Berdasarkan data pada Tabel 4.5 dapat dibuat grafik perbedaan profil ketinggian tangki
sebelum diberi gangguan dan setelah diberi gangguan seperti pada Gambar 4.8 dan Gambar
4.9 dibawah ini.

Keadaan Tunak

y = ax + b
Tinggi (cm)

R² = ...

Waktu (s)

Gambar 4.8 Kurva Simulasi Tangki 1 pada Keadaan Tunak

56
Diberi Gangguan

y = ax + b
Tinggi (cm)
R² = ...

Waktu (s)

Gambar 4.9 Kurva Simulasi Tangki 1 pada Saat Diberi Gangguan

57
LAMPIRAN
LAPORAN SEMENTARA

Hari/ Tanggal :
Kelompok :
Anggota :

Penentuan Luas Penampang Tangki 1 dan Tangki


Tabel 1 Data Penentuan Luas Penampang Tangki 1 dan Tangki
No. Volume (mL) Tangki 1 h (cm) Tangki 2 h (cm)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 1 dan Tangki 2


Tabel 2 Data Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 1
Tangki 1
No Bukaan valve: 2 Putaran Bukaan valve: 2,5 Putaran
h (cm) t (s) V (mL) h (cm) t (s) V (mL)
1 30 0 14953,50 30 0 14953,50
2 29 4,88 14455,05 29 1,86 14455,05
3 28 5,73 13956,60 28 4,68 13956,60
4 27 7,09 13458,15 27 6,20 13458,15
5 26 9,01 12959,70 26 7,40 12959,70
6 25 11,51 12461,25 25 9,93 12461,25

58
7 24 13,30 11962,80 24 11,18 11962,80
8 23 14,71 11464,35 23 13,20 11464,35
9 22 23,08 10965,90 22 14,66 10965,90
10 21 25,33 10467,45 21 16,25 10467,45
Dst 20 29,78 9969,00 20 18,56 9969,00

Tabel 3 Data Penentuan Laju Alir Keluaran Tangki 2


Tangki 2
No Bukaan valve: 2 Putaran Bukaan valve: 2,5 Putaran
h (cm) t (s) V (mL) h (cm) t (s) V (mL)
1 30 0 14953,50 30 0 14953,50
2 29 4,88 14455,05 29 1,86 14455,05
3 28 5,73 13956,60 28 4,68 13956,60
4 27 7,09 13458,15 27 6,20 13458,15
5 26 9,01 12959,70 26 7,40 12959,70
6 25 11,51 12461,25 25 9,93 12461,25
7 24 13,30 11962,80 24 11,18 11962,80
8 23 14,71 11464,35 23 13,20 11464,35
9 22 23,08 10965,90 22 14,66 10965,90
10 21 25,33 10467,45 21 16,25 10467,45
dst 20 29,78 9969,00 20 18,56 9969,00

Penentuan Harga k dan n Tangki 1 dan Tangki 2


Tabel 4 Data Penentuan Harga k dan n Tangki 1 dan Tangki 2
Tangki 1 Tangki 2
No Bukaan valve: 2 Putaran Bukaan valve: 2,75 Putaran
h (cm) t (s) h (cm) t (s)
1 30 0 30 0
2 29 4,88 29 1,86
3 28 5,73 28 4,68

59
4 27 7,09 27 6,20
5 26 9,01 26 7,40
6 25 11,51 25 9,93
7 24 13,30 24 11,18
8 23 14,71 23 13,20
9 22 23,08 22 14,66
10 21 25,33 21 16,25
dst 20 29,78 20 18,56

Simulasi Gangguan Pada Tangki


Tabel 5 Data Simulasi Gangguan Pada Tangki
Pada Keadaan Tunak Diberi Gangguan
No.
h (cm) t (s) h (cm) t (s)
1.
2.
3.
4.
5.
Dst

60
PERCOBAAN 5
SEDIMENTASI

Tujuan Praktikum

1. Memahami proses sedimentasi.


2. Membuat kurva hubungan antara kecepatan pengendapan dengan konsentrasi padatan
pada operasi sedimentasi

Diskripsi

Praktikum sedimentasi mengajarkan tentang pengamatan, pengambilan keputusan dan analisis


data pada fenomena-fenomena yang biasa terjadi pada proses pengendapan berdasarkan
pengaruh konsentrasi padatan terhadap kecepatan pengendapan.

Landasan Teori

Sedimentasi adalah suatu proses yang bertujuan untuk memisahkan/mengendapkan zat-zat


padat atau tersuspensi non koloid dalam air. Pengendapan material yang dibawa oleh angin,
air, atau gletser. Semua hasil erosi akan diendapkan disuatu tempat, baik di sungai, lembah,
lereng pegunungan ataupun dasar laut yang dangkal. Kadang kala hasil sedimentasi kembali
mengalami erosi (Dunbar, 1957).

Prinsip percobaan sedimentasi pemisahan secara mekanik menjadi dua bagian, yaitu slurry
(endapan) dan supernatant (beningan). Memanfaatkan gaya grafitasi dengan mendiamkan
suspense hingga terbentuk endapan yang terpisah dari beningan (Foust, 1980).

Kecepatan sedimentasi didefinisikan sebagai laju pengurangan atau penurunan ketinggian


daerah batas antara slurry (endapan) dan supernatant (beningan) pada suhu seragam untuk
mencegah pergeseran fluida karena Konveksi. Pada keadaan awal, konsentrasi slurry seragam
di seluruh bagian tabung. Kecepatan sedimentasi konstan, terlihat pada grafik hubungan
antara ZL dan tL membentuk garis lurus untuk periode awal (dZ/dt=V=konstan ). Periode ini
82
disebut free settling, dimana padatan bergerak turun hanya karena gaya gravitasi. Kecepatan
yang konstan ini disebabkan oleh konsentrasi di lapisan batas yang relatif masih kecil,
sehingga pengaruh gaya tarik-menarik antar partikel, gaya gesek dan gaya tumbukan antar
partikel dapat diabaikan. Partikel yang berukuran besar akan turun lebih cepat, menyebabkan
tekanan ke atas oleh cairan bertambah, sehingga mengurangi kecepatan turunnya padatan
yang lebih besar. Hal ini membuat kecepatan penurunan semua partikel (baik yang kecil
maupun yang besar) relatif sama atau konstan (McCabe, 1993).

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengendapan


a. Temperatur
Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu, jadi dengan meningkatnya suhu
maka pembentukkan endapan akan berkurang disebabkan banyak endapan yang berada
pada larutannya.
b. Sifat Alami Pelarut
Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut organik seperti
alkohol atau asam asetat. Perbedaan kelarutan suatu zat dalam pelarut organik dapat
dipergunakan untuk memisahkan campuran antara dua zat. Setiap pelarut memiliki
kapasitas yang bebeda dalam melarutkan suatu zat,begitu juga dengan zat yang berbeda
memiliki kelarutan yang berbeda pada pelarut tertentu.
c. Pengaruh Ion Sejenis
Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang mengandung ion
sejenis dibandingkan dalam air saja.
d. Pengaruh pH
Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah dipengaruhi oleh
pH, hal ini disebabkan karena penggabungan proton dengan anion endapannya.
e. Pengaruh Hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan perubahan
konsentrasi H+ dimana hal ini akan menyebabkan kation garam tersebut mengalami
hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan garam tersebut.
f. Pengaruh Ion Kompleks
Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan adanya
pembentukan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut.

83
Proses sedimentasi dapat dilakukan dengan tiga macam cara, yaitu :
1. Cara Batch
Cara ini cocok dilakukan untuk skala laboratorium, karena sedimentasi batch paling
mudah dilakukan, pengamatan penurunan ketinggian mudah. Mekanisme sedimentasi
batch pada suatu silinder / tabung bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1 . Mekanisme Sedimentasi Batch


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan

Gambar di atas menunjukkan slurry awal yang memiliki konsentrasi seragam dengan
partikel padatan yang seragam di dalam tabung (zona B). Partikel mulai mengendap
dan diasumsikan mencapai kecepatan maksimum dengan cepat. Zona D yang
terbentuk terdiri dari partikel lebih berat sehingga lebih cepat mengendap. Pada zona
transisi, fluida mengalir ke atas karena tekanan dari zona D. Zona C adalah daerah
dengan distribusi ukuran yang berbeda-beda dan konsentrasi tidak seragam. Zona B
adalah daerah konsentrasi seragam, dengan komsentrasi dan distribusi sama dengan
keadaan awal. Di atas zona B, adalah zona A yang merupakan cairan bening.

Selama sedimentasi berlangsung, tinggi masing-masing zona berubah (gambar 2. b, c,


d). Zona A dan D bertambah, sedang zona B berkurang. Akhirnya zona B, C dan
transisi hilang, semua padatan berada di zona D. Saat ini disebut critical settling point,
yaitu saat terbentuknya batas tunggal antara cairan bening dan endapan (Foust, 1980)

84
2. Cara Semi-Batch
Pada sedimentasi semi-batch , hanya ada cairan keluar saja, atau cairan masuk saja.
Jadi, kemungkinan yang ada bisa berupa slurry yang masuk atau beningan yang
keluar. Mekanisme sedimentasi semi-batch bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 2. Mekanisme Sedimentasi Semi-Batch


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan

85
3. Cara Kontinyu
Pada cara ini, ada cairan slurry yang masuk dan beningan yang dikeluarkan secara
kontinyu. Saat steady state, ketinggian tiap zona akan konstan. Mekanisme
sedimentasi kontinyu bisa dilihat pada gambar berikut :

Gambar 3. Mekanisme Sedimentasi Kontinyu


Keterangan :
A = cairan bening
B = zona konsentrasi seragam
C = zona ukuran butir tidak seragam
D = zona partikel padat terendapkan

Selama proses ini berlangsung, terdapat tiga gaya yang berpengaruh :


a. Gaya Gravitasi
Gaya ini bisa dilihat pada saat terjadi endapan atau mulai turunya pertikel padatan
menuju kedasar tabung untuk membentuk endapan. Hal ini terjadi karena massa jenis
partikel padatan lebih besar dari massa jenis fluida.
Fg = m . g
b. Gaya Apung
Gaya apung terjadi jika massa jenis partikel lebih kecil dari massa jenis fluida. Sehingga
partikel padatan berada pada permukaan cairan,
Fa = Mf . g
86
c. Gaya Dorong
Gaya dorong terjadi pada saat larutan dipompakan ke dalam tabung. Larutan ini akan
terdorong pada ketinggian tertentu. Gaya dorong dapat juga kita lihat pada saat mulai
turunya partikel padatan karena adanya gaya Gravitsi, maka fluida akan memberikan
gaya yang besarnya sama dengan berat padatan itu sendiri. Gaya inilah yang disebut
gaya dorong dan juga gaya yang memiliki arah yang berlawanan dengan gaya gravitasi
F=K= =

Aplikasi sedimentasi banyak digunakan, antara lain :


1. Pada unit pemisahan , misalnya untuk mengambil senyawa magnesium dari air laut.
2. Untuk memisahkan bahan buangan dari bahan yang akan diolah, misalnya pada pabrik
gula.
3. Pengolahan air sungan menjadi boiler feed water.
4. Proses pemisahan padatan berdasarkan ukurannya dalam clarifier dengan prinsip
perbedaan terminal velocity.

Percobaan sedimentasi dapat dilakukan di laboratorium, seperti skema berikut:

Gambar 4. Skema Percobaan Sedimentasi

Kecepatan sedimentasi adalah kecepatan turunnya bidang batas A-B. Pada periode awal,
kecepatan sedimentasi mempunyai nilai maksimum dan kecepatan ini disebut sebagai free
settling velocity. Semakin pekat atau konsentrasi padatan semakin besar maka kecepatan
sedimentasi semakin lambat, karena ada saling pengaruh antar partikel, dan kecepatan ini
disebut hindered settling velocity.

87
Kalau ditinjau suatu titik dengan konsentrasi tetap = C, maka posisi titik itu makin lama
makin tinggi. Hal ini menunjukkan seolah-olah tinggi padatan naik dengan kecepatan VL.
Skema peristiwa ini dapat dilihat pada gambar 2.

Dimana :
V : Kecepatan partikel relatif terhadap tabung pada konsentrasi C
VL : Kecepatan naiknya padatan dalam zone
V + VL : Kecepatan pengendapan relatif terhadap tebal zone

Neraca massa padatan pada zone dengan konsentrasi C sampai dengan C + ΔC, A = Luas
penampang tabung
Input = Output
( + + ̅̅̅̅) C ( + ̅̅̅̅) (C + C)
( + ̅̅̅̅) C + C ( + ̅̅̅̅) C + ( + ̅̅̅̅) C
C ( + ̅̅̅̅) C

Untuk Δ → 0 dan ΔC → 0 maka,


d
̅̅̅̅ C
dC

Oleh karena V = f (C) dan V adalah kecepatan pengendapan untuk konsentrasi slurry sebesar
C, maka nilai:
C = tetap
dV = tetap
dC
= tetap

Hubungan V = f ( C ) ditentukan berdasarkan data sedimentasi batch berupa tinggi bidang


batas jernih ( Z ) dan waktu sedimentasi (t).

88
Ditinjau pada kecepatan sedimentasi = VL, maka konsentrasi slurry pada kecepatan itu adalah
CL. Nilai VL merupakan slope kurva Z versus t pada posisi Z – ZL dan waktu t – tL. Secara
grafis ditunjukkan sebagai berikut:

Z0
Axis Title

Zi

ZL

t
tL
Axis Title
Gambar 10. Penentuan Kecepatan Sedimentasi Secara Grafis

i
( )
t

Nilai CL dievaluasi dengan cara meninjau suatu zone dengan konsentrasi CL. bergerak ke atas
dengan kecepatan ̅̅̅ . Mula-mula zone itu berada di dasar tabung, maka:
̅̅̅̅
t

Pada saat awal t = 0, semua partikel berada di atas zone dengan konsentrasi CL. Tetapi pada
saat t = tL, semua partikel berada di bawah zone itu.
( + ̅̅̅̅) C t 0 C0
Dimana :
Z0 : Tinggi slurry mula-mula
C0 : Konsentrasi slurry mula-mula

0C0
C
( + ̅̅̅̅) t

89
Substitusi persamaan (3) dan (4) ke persamaan (6) sehingga diperolah persamaan (7)
0 C0
C
i

Dimana :
Z0 : Tinggi slurry mula-mula
C0 : Konsentrasi slurry mula-mula
Zi : Tinggi slurry saat t

Alat yang Digunakan

1. Gelas ukur 500 mL


2. Beaker glass 500 mL
3. Batang pengaduk
4. Neraca analitik
5. Penggaris
6. Sendok
7. Stopwatch
8. Timbangan

Bahan yang Digunakan


1. CaCO3
2. Aquadest

Prosedur Pelaksanaan

a. Disiapkan gelas ukur 500 mL


b. Ditimbang CaCO3 sebanyak 20 gram menggunakan neraca analitik
c. Dimasukkan CaCO3 kedalam gelas ukur
d. Dimasukkan aquadest ke dalam gelas ukur hingga 500 mL
e. Diaduk campuran hingga homogen
f. Diamati dan dicatat penurunan tinggi sedimentasi setiap 30 detik menggunakan
stopwatch
g. Diulangi langkah a-f dengan menggunakan variabel berat CaCO3 sebanyak 30 gram dan
40 gram
90
Analisa Perhitungan

1. Percobaan I
Berat CaCO3 : gram
Volume slurry : mL
a. Menghitung konsentrasi mula-mula (Co)
berat CaCO 3
Co 
berat molekul x volume slurry

= .... gram
gram
.... x .... L
mol
mol
= ....
L
b. Menghitung kecepatan sedimentasi (VL)
Untuk Zi = cm
ZL = cm
tL = detik

VL = Zi  ZL
tL
( - ) cm
=
... s
 0,0341

= ... cm
s
c. Menghitung konsentrasi slurry pada kecepatan VL (CL)

CL = Zo x Co
Zi
mol
... cm x ...
= L
.... cm

= ... mol
L

Untuk data yang lain analog dengan perhitungan tersebut, sehingga diperoleh hasil
perhitungan sebagai berikut :

Tabel . 2 Harga VL dan CL untuk CaCO3 gram


91
tL ZL Zi VL CL
( detik ) ( cm ) ( cm ) ( cm/detik ) ( gram/ml )

2. Percobaan II
Berat CaCO3 : gram
Volume slurry : mL
a. Menghitung konsentrasi mula-mula (Co)
berat CaCO 3
Co 
berat molekul x volume slurry

= ... gram
gram
... x ... L
mol

= ... mol
L
b. Menghitung kecepatan sedimentasi (VL)
Untuk Zi = cm
ZL = cm
tL = detik

VL = Zi  ZL
tL
( - ) cm
=
s
 0,0341

cm
=
s
c. Menghitung konsentrasi slurry pada kecepatan VL (CL)

CL = Zo x Co
Zi
mol
... cm x ....
= L
...... cm

92
= …… mol
L
Untuk data yang lain analog dengan perhitungan tersebut, sehingga diperoleh hasil
perhitungan sebagai berikut :
Tabel .3 Harga VL dan CL untuk CaCO3 gram

tL ZL Zi VL CL
( detik ) ( cm ) ( cm ) ( cm/detik ) ( gram/ml )

3. Percobaan III
Berat CaCO3 : gram
Volume slurry : mL
a. Menghitung konsentrasi mula-mula (Co)
berat CaCO 3
Co 
berat molekul x volume slurry

= .... gram
gram
...... x .... L
mol

= … mol
L
b. Menghitung kecepatan sedimentasi (VL)
Untuk Zi = cm
ZL = cm
tL = detik

VL = Zi  ZL
tL
( - ) cm
=
s
 0,0341

cm
=
s

93
c. Menghitung konsentrasi slurry pada kecepatan VL (CL)

CL = Zo x Co
Zi
mol
..... cm x .......
= L
..... cm
mol
=
L
Untuk data yang lain analog dengan perhitungan tersebut, sehingga diperoleh hasil
perhitungan sebagai berikut :
Tabel .4 Harga VL dan CL untuk CaCO3 gram
tL ZL Zi VL CL
( detik ) ( cm ) ( cm ) ( cm/detik ) ( gr/ml )

94
PERCOBAAN 4
FILTRASI

1.1 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikan melakukan percobaan filtrasi adalah sebagai berikut:
a. Praktikan mengetahui karakteristik filtrasi (penyaringan), khususnya hubungan waktu
dengan perolehan filtrat.

b. Praktikan memahami tahanan/hambatan yang terdapat pada medium filter maupun cake
pada operasi penyaringan.

1.2 Sasaran
Berkaitan dengan tujuan praktikum, praktikan diharapkan dapat:
a. Menentukan persamaan penyaringan pada tekanan tetap.
b. Menghitung tahanan medium penyaring dan tahanan spesifik padatan saring.
c. Menentukan pengaruh tekanan terhadap tahanan spesifik padatan dan kekeringan
padatan.

Diskripsi
Praktikum filtrasi mengajarkan tentang pengamatan, pengambilan keputusan dan analisis data
pada fenomena-fenomena yang biasa terjadi pada proses penyaringan menggunakan peralatan
filtrasi berjenis filter press.

Proses Filtrasi merupakan proses pemisahan padatan dari campuran fasa cair dengan driving
force berupa perbedaan tekanan. Perbedaan tekanan tersebut menyebabkan fasa cair melewati
medium filter sedangkan padatan akan tertinggal pada medium filter. Filtrasi banyak
digunakan dalam proses-proses industri seperti industri makanan-minuman yang
menggunakan filtrasi untuk memisahkan produk makanan dan minuman yang diinginkan,
maupun pada industri lainnya sebagai proses pengolahan air bersih atau limbah.

Proses filtrasi akan menghasilkan “cake” padatan yang terbentuk pada media filter seiring
dengan bertambahnya waktu. Cake pada media tersebut akan terus terakumulasi dan
memberikan hambatan/tahanan lain pada proses filtrasi yang perlu diperhitungkan selain
hambatan dari media. Untuk itu, sekarang ini telah banyak modifikasi pada teknologi filtrasi

61
yang diterapkan di industri kimia untuk memperbaiki sifat dan karakteristik fisika dan
kimiawi cake yang terakumulasi, salah satunya adalah dengan menggunakan filter aid.

Metode filtrasi konvensional mudah untuk dipelajari dalam melihat resistansi spesifik
medium maupun resistansi cake yang terakumulasi. Praktikum ini akan dilakukan
menggunakan salah satu metode filtrasi konfensional yaitu metode plate and frame filter
press. Filter terdiri atas plate and frame yang tersusun secara selang-seling, dimana frame
dipisahkan dari plate dengan menggunakan filter cloth (media penyaring). Penempatan plate
and frame harus tepat dan rapat untuk mencegah kebocoran dalam proses filtrasi. Oleh karena
itu, plate and frame yang digunakan dipress menggunakan putaran hidrolik manual untuk
memastikan kerapatan. Slurry padatan yang ingin dipisahkan didorong menggunakan udara
tekan memasuki lubang pada frame-frame yang kemudian tersaring pada media filter pada
jalan keluarnya. Slurry yang tertinggal dalam ruang penyaringan antara media filter pada
frame akan menjadi cake sedangkan fasa cair yang telah bersih akan keluar melewati media
filter.

Landasan Teori
Untuk memisahkan partikel padat dari suatu larutan suspensi atau slurry dapat dilakukan
dengan cara filtrasi, diantaranya dengan menggunakan filter press. Filter press terdiri dari
seperangkap pinggan atau lempeng (plate) yang dirancang untuk memberikan sederetan ruang
tempat zat padat dapat ditahan. Lempeng (plate) itu ditutup dengan medium penyaring (filter)
atau kanvas. Slurry umpan masuk ke dalam masing-masing komponen itu dengan tekanan,
cairannya lewat melalui kanvas dan keluar melalui pipa pengeluaran dan meninggalkan zat
padat basah di dalam ruang itu. Pinggan yang digunakan berbentuk plate dan frame (pinggan
dan bingkai).

Filtrasi adalah suatu proses pemisahan zat padat dalam suatu fluida (cairan) menggunakan
suatu medium berpori atau bahan berpori lain untuk memisahkan sebanyak mungkin zat padat
halus yang tersuspensi maupun koloid dalam fluida tersebut. Hal yang paling utama dalam
filtrasi adalah mengalirkan fluida melalui media berpori. Filtrasi dapat terjadi karena adanya
gaya dorong, misalnya gravitasi, tekanan dan gaya sentrifugal. Pada beberapa proses media
filter membantu balok berpori (cake) untuk menahan partikel-partikel padatan di dalam
suspensi sehingga terbentuk lapisan berturut turut pada balok sebagai filtrat yang melewati
balok dan media tersebut.
62
Dalam beberapa penyaringan, padatan-saring yang terbentuk merupakan medium penyaring
yang baik. Untuk memaksa cairan melewati medium pada tahap filtrasi diperlukan gaya
pendorong dalam bentuk gaya berat (gravity filtration), vakum (vacuum filtration), tekanan
(pressure filtration), gaya sentrifugal (centrifugal filtration). Pemilihan filter ditentukan oleh,
sifat campuran, tingkat produksi besar atau kecil, kondisi proses, hasil yang diinginkan,
bahan konstruksi yang diperlukan.

Menurut prinsip pengalirannya filtrasi dapat dikelompokkan menjadi:


1. Gravity Filtration : Filtrasi yang cairannya dapat mengalir karena gaya gravitasi.
2. Pressure Filtration : Filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan.
3. Vacum Filtration : Filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan prinsip hampa
udara (penghisapan).

Filter Gravitasi (Gravity Filter) merupakan tipe yang paling tua dan sederhana. Filter ini
tersusun atas tangki-tangki yang bagian bawahnya berlubang-lubang dan diisi dengan pasir-
pasir berpori dimana fluida mengalir secara laminer. Filter ini digunakan untuk proses fluida
dengan kuantitas yang besar dan mengandung sedikit padatan. Contohnya pada pemurnian air.

Prinsip kerja metode filter gravity atau filtrasi yang dipengaruhi oleh gaya gravitasi antara
lain:
1. Tangki biasanya terbuat dari kayu, bata atau logam tetapi untuk pengolahan air biasa
digunakan beton.
2. Saluran dibagian bawah yang berlubang mengarah pada filtrat, saluran itu dilengkapi
dengan pintu atau keran agar memungkinkan backwashing dari dasar pasir untuk
menghilangkan padatan-padatan yang terakumulasi.
3. Bagian bawah yang berlubang tertutup oleh batuan atau kerikil setinggi 1 kaki atau
lebih untuk menahan pasir. Pasir yang biasa digunakan dalam pengolahan air sebagai
media filter adalah pasir-pasir kuarsa dalam bentuk yang seragam. Kokas yang
dihancurkan biasanya digunakan untuk menyaring asam sulfur. Batu kapur biasanya
digunakan untuk membersihkan cairan organik baik dalam filtrasi maupun adsorbsi.
4. Hal yang harus diperhatikan dalam filter gravitasi, bongkahan-bongkahan kasar (batu
atau kerikil) diletakkan bagian atas balok berpori (cake) untuk menahan materi-materi
kecil yang ada di atasnya (pasir dan lain-lain).

63
5. Materi yang berbeda ukurannya harus diletakkan dengan membentuk lapisan-lapisan
sehingga dapat bercampur dan ukuran untuk setiap materi harusnya sama untuk
menyediakan pori-pori dan kemampuan yang maksimal.

Pressure Filtration adalah suatu metode filtrasi yang dilakukan dengan menggunakan tekanan
sebagai pengaruh utama dalam penyaringannya, contohnya adalah pada tipe plate and frame
filter. Alat ini akan bekerja berdasarkan driving force, yaitu perbedaan tekanan. Alat ini
dilengkapi dengan kain penyaring yang disebut filter cloth, yang terletak pada tiap sisi
platenya. Plate and frame filter digunakan untuk memisahkan padatan cairan dengan media
berpori yang meneruskan cairannya dan menahan padatannya. Larutan yang lolos dari filtrasi
disebut pula dengan filtrat, sedangkan padatan yang tertahan pada pelat disebut juga dengan
cake.

Vacum filtration merupakan teknik pemisahan zat padat dari pelarut atau suatu campuran.
Umpan dilewatkan melalui suatu filter dalam corong buchner. Udara dipompa keluar,
sehingga umpan tertekan ke bawah, zat padat tertinggal di corong buchner sedangkan, pelarut
terdorong ke penampung.

Selain itu adapun bagian-bagian dari alat filtrasi tersebut terdiri dari:
1. Press.filter
Press filter terdiri atas elemen-elemen filter (hingga mencapai 100 buah) yang berdiri
tegak atau terletak mendatar, disusun secara berdampingan atau satu di atas yang lain.
Elemen-elemen ini terbuat dari pelat-pelat beralur yang dilapisi kain filter dan
disusun pada balok-balok luncur sehingga dapat digeser-geser. Dengan suatu sumbu
giling atau perlengkapan hidraulik, pelat-pelat itu dipres menjadi satu diantara bagian
alat yang diam (bagian kepala) dan bagian yang bergerak. Saluran masuk dan saluran
keluar terdapat dibagian kepala (untuk sistem tertutup) atau saluran keluarnya di
samping pelat-pelat (untuk sistem terbuka).
2. Filter.putar
Filter putar terdiri atas sebuah tromol ayak yang berputar lambat dan terbagi dalam
sel-sel. Kain filter direntangkan pada permukaan tromol dan bagian bawah tromol
tercelup di dalam bak berisi suspensi yang harus dipisahkan. Putaran dikontrol oleh
bagian pengendali yang tidak bergerak di pusat. Dalam satu kali putaran, pada setiap
sel berlangsung berturut-turut:

64
a. penghisapan suspensi dan pembentukan kue filter
b. pencucian kue filter
c. penghilangan kelembaban dari kue filter
d. pelepasan dan penyapuan bersih kue filter
e. pembilasan kue filter
3. Sentrifugasi.filtrasi
Alat-alat sentrifugasi filtrasi yang paling sederhana dan bekerja secara tidak kontinu,
terdiri atas sebuah keranjang ayak yang berputar cepat di dalam sebuah rumah.
Keranjang tersebut dapat terpasang vertikal (alat sentrifugasi ayun) atau horizontal
(alat sentrifugasi kupas) dan sisi dalamnya dilapis dengan media filter. Keranjang
dapat digerakkan dengan listrik atau secara hidraulik, secara langsung atau melalui
sebuah kopling penggerak awal.

Kriteria Pemilihan alat pada metode pemisahan filtrasi dapat di pengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain:
1. Jenis campuran, campuran gas-padat memerlukan ruang filtrasi dan luas permukaan
filter yang lebih besar daripada campuran cair-padat. Hal ini disebabkan volume gas
lebih besar dari pada cairan. Disamping itu pada campuran gas-padat hanya mungkin
digunakan beda tekanan yang kecil.
2. Jumlah bahan yang lolos dan tertahan, semakin besar jumlah campuran yang harus
difiltrasi, semakin besar daya filtrasi yang diperlukan dan dengan demikian juga
semakin besar luas permukaan total filter. Ukuran pemanfaatan yang optimal dapat
berupa luas permukaan filter yang sebesar mungkin dengan ruang filter yang sekecil
mungkin.
3. Tekanan filtrasi (beda tekanan), tekanan filtrasi mempengaruhi jenis konstruksi dan
ukuran alat filtrasi.
4. Jenis operasi, konstruksi alat pada dasarnya berbeda untuk operasi yang kontinue atau
yang tidak kontinue.
5. Pencucian, bila kue filter harus dicuci , diperlukan tambahan perlengkapan untuk
mencuci. Tergantung pada jenis cairan pencuci yang digunakan, yaitu apakah
mengandung air, mudah terbakar atau beracun, maka alat filtrasi harus dikonstruksi
dengan cara yang berbeda-beda (misalnya terbuka, tertutup, dengan perangkat
penghisap, dengan ruang-ruang terpisah).

65
6. Sifat bahan yang di filtrasi, baik konstruksi maupun bahan yang dipakai untuk
membuat alat filtrasi tergantung pada bahan yang difiltrasi, apakah bersifat asam, basa,
netral, mengandung air, mudah terbakar, tahan api, peka terhadap oksidasi, steril, panas
atau dingin. Konstruksi dapat terbuka, tertutup atau dalam lingkungan gas inert.
7. Sifat filtrasi, apakah kue filter yang terbentuk dapat ditekan atau tidak dapat ditekan,
tergantung pada ukuran dan bentuk partikel bahan padat. Sifat kue filter itu selanjutnya
mempengaruhi luas permukaan filter, tebal kue, beda tekanan, dan juga ukuran pori dari
media filter.

Pada proses filtrasi tentunya terdapat hal-hal yang dapat mempengaruhi efisiensi dan
keberhasilan proses itu sendiri, faktor-faktor tersebut diantaranya adalah:
1. Debit filtrasi (dimana debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya
filter secara efisien).
2. Konsentrasi (konsentrasi sangat memepengaruhi efisiensi dari filtrasi. Konsentrasi air
yang sangat tinggi akan menyebabkan tersumbatnya lubang pori dari media ata akan
jadi clogging).
3. Temperatur (adanya perubahan suhu dari air yang akan di filtrasi, akan menyebabkan
massa jenis , viskositas akan mengalami perubahan. Selain itu juga akan
memepengaruhi daya tarik menarik dianatara partikel halus, sehingga terjadi perbedaan
dalam ukuran besar partikel yang akan disaring.
4. Kedalaman media, ukuran dan material (pemilihan media dan ukuran merupakan
keputusan penting dalam perencanaan bangunan filter. Tebal tipisnya media akan
menentukan lamanya pengaliran dan daya saring. Media yang terlalu tebal biasanya
mempunyai daya saring yang sangat tinggi,tetapi membutuhkan waktu pengaliran yang
lama).
5. Tinggi muka air di atas media dan kehilangan tekanan (keadaan tinggi muka air di atas
media berpengaruh terhadap besarnya debit atau laju filtrasi dalam media. Tersedianya
muka air yang cukup tinggi di atas media akan meningkatkan daya tekan air untuk
masuk ke dalam pori. Dengan muka pori yang tinggi akan meningkatkan laju filtrasi).

66
Gambar 1. Skema Alat (Sumber: www.medicinescomplete.com)

Pinggan disusun silih berganti, diletakan secara vertikal pada rak logam dan kain dipasang
menutupi setiap bingkai dan dirapatkan dengan bantuan skrup atau ram hidrolik. Slurry
mengalir melalui saluran yang terpasang memanjang pada salah satu sudut rakitan. Dari
bidang ini, melalui saluran tambahan mengalir ke dalam masing-masing bingkai. Di sini zat
padat itu dapat melalui alur pada muka pinggan, sampai keluar dari filter press. Emulsi
(slurry) umpan dipompakan dari tangki pada tekanan 3 – 10 atm. Filtrasi dioperasikan hingga
tidak ada lagi zat cair yang keluar dan tekanan filtrasi akan naik dengan tajam. Hal ini dapat
terjadi bila bingkai sudah penuh dengan zat padat, sehingga emulsi tidak dapat lewat lagi.
Proses selanjutnya adalah pencucian, dengan cara mengalirkan cairan pencuci untuk
membersihkan.

Laju alir filtrat dapat ditentukan menurut persamaan dasar :


d
........................................................................(1.1)
dt r

Dimana :
A : Luas penampang zat padat yang tertahan (cake)
Δ : Beda tekanan sepanjang cake
L : Tebal cake
: Viskositas fluida
r : Tahanan jenis fluida
67
Selama proses, tebal cake akan bertambah dan laju alir filtrat akan menurun, atau dapat juga
dikatakan pertambahan volume cake sebanding dengan pertambahan volume filtrat.
atau ..................................................................(1.2)
Dimana :
K : Konstanta pembanding
V : Volume filtrat

Sehingga,

..................................................................................................(1.3)

Substitusi harga L pada persamaan (1) maka didapat


d
dt r
........................................................................................(1.4)

Pada t = 0, maka V = 0, sehingga integral persamaan (4) adalah


t
∫ d ∫ dt....................................................................(1.5)
r

t
.......................................................................................(1.6)
r

Persamaan di atas mengasumsikan bahwa resistensi terhadap aliran hanya disebabkan oleh
lapisan homogen dari cake. Dari praktek resistensi terhadap aliran dapat disebabkan oleh
lapisan homogen cake itu sendiri dan kain/kertas saringnya sehingga didapat persamaan :
d
.....................................................................(1.7)
dt r ( )

Substitusi dengan cara di atas


d
....................................................................................(1.8)
dt r ( )

t
∫ ( ) d ∫ dt...........................................................(1.9)
r

t
...............................................................................(1.10)
r
t r r
............................................................................(1.11)

68
t r r
Plot terhadap V, didapat slope atau gradien , dan intersep . Nilai r didapat

dari gradien/slope dan nilai ’ didapat dari intersepnya.

t/V
Axis Title

Slope
Intercept

Axis Title V

Gambar 2. Hubungan V vs t/v

Alat yang Digunakan


1. Rangkaian alat filter press
2. Filter cloth
3. Neraca analitik
4. Timbangan
5. Ayakan
6. Viscometer
7. Bulb
8. Picnometer 25 mL
9. Oven
10. Penggaris
11. Beaker glass 1000 mL
12. Gelas ukur 50 mL
13. Selang
14. Ember
15. Corong
16. Kompresor

69
17. Stopwatch
18. Kunci pas

Bahan yang Digunakan


1. CaCO3
2. Air

Rangkaian Alat

Gambar 3. Rangkaian Alat Filtrasi


Keterangan:
A. Motor pengaduk
B. Tangki berpengaduk
C. Kran udara tekan
D. Manometer
E. Kran recycle
F. Kran drainase
G. Kran feed
H. Saluran keluar filtrat
I. Plate dan frame

70
Berikut ini alur percobaan yang akan dilakukan

Gambar 4. Diagram Alir Percobaan

Prosedur Pelaksanaan
a. Disiapkan rangkaian alat filtrasi
b. Ditimbang piknometer kosong dan piknometer yang berisi aquadest
c. Diukur viskositas aquadest dengan menggunakan viskometer
d. Ditimbang filter cloth dengan neraca analitik
e. Ditimbang padatan CaCO3 sebanyak 300 gram
f. Dimasukkan air sebanyak 10 liter kedalam tangki berpengaduk
g. Dimasukkan padatan CaCO3 sebanyak 300 gram yang telah ditimbang
h. Ditutup rapat tangki berpengaduk hingga tidak ada celah untuk udara keluar
i. Dinyalakan motor pengaduk sampai padatan CaCO3 dan air tercampur rata selama 2 – 3
menit
j. Dinyalakan kompresor untuk menambah tekanan di dalam tangki berpengaduk sebesar 2
bar
k. Dimatikan motor pengaduk dan kompresor
l. Dibuka kran agar fluida yang ada dalam tangki berpengaduk mengalir ke arah plate dan
frame dengan menjaga tekanan tetap konstan sebesar 0,6 bar
m. Ditampung filtrat dan dihitung debit filtrat setiap 1 liter (dalam satuan per detik) hingga
air di dalam tangki berpengaduk habis
71
n. Dikosongkan tekanan di dalam tangki berpengaduk
o. Diukur densitas dan viskositas dari filtrat yang tertampung
p. Dibuka plate dan frame lalu diambil filter cloth yang berisi cake
q. Diratakan cake dan dihitung ketebalannya
r. Dibungkus cake dengan menggunakan filter cloth
s. Dikeringkan cake beserta filter cloth di dalam oven pada suhu 100 oC selama 12 jam
t. Ditimbang cake beserta filter cloth yang telah kering
u. Diulangi langkah d – t dengan tekanan konstan yang berbeda yaitu 0,8 bar dan 1,0 bar

DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C.J., (1993), Transport Process and Unit Operations, 2nd Edition, Boston: Allyn
and Bacon Inc.
Larian, M.G., 1958, Fundamentals of Chemical Engineering Operations: Prentice Hall, Inc.
Mc Cabe, W.L., (1993), Unit Operation of Chemical Engineering, 5th Edition, Singapore:
Mc-Graw Hill Book Co.

72
LAMPIRAN A
TABEL DATA MENTAH

Pada lampiran ini ditunjukkan contoh tabel data praktikum yang dapat diisi beberapa variasi
yang mungkin dilakukan, namun variasi ini bersifat tidak tetap bergantung pada penugasan
dari dosen yang terkait.
Tabel 1. Variasi Percobaan
Run 1 Run 2 Run 3 Run 4 Run ..
Jenis media penyaring Jeans Jeans Jeans Jeans
% padatan (W/W) 3 3 5 5
Putaran motor (RPM) 300 300 500 500
 P (psig) 3 3 5 5
Jumlah Plate & Frame 3 3 5 5
Luas Frame (m2)
Massa cawan kosong (g)
Massa cawan + cake basah (g)
Massa cawan + cake kering (g)

Tabel 2. Data Pengamatan


Run 1 Run 2 Run 3 Run 4 Run …
t (s) V t (s) V t (s) V t (s) V t (s) V
(mL) (mL) (mL) (mL) (mL)

73
LAMPIRAN B
PROSEDUR PERHITUNGAN

Semua Perhitungan yang dilakukan ditampilkan dibagian ini


Menghitung ρ (densitas) filtrat
Dari tabel Geankoplis A.2-3 (density of liquid water)
ρ air pada ……oC ………gr/cm3
massa aquadest = (Massa pikno + aquadest) – (massa pikno kosong)
( … –…… ) gr …… gr
massa filtrat = (Massa pikno + filtrat – (massa pikno kosong)
= (……–…… ) gr ……gr
volume pikno = volume aquadest
maquadest
= =
 aquadest
= ……… cm3
m filtrat
ρ filtrat = =
v piknometer
= ……… gr/cm3

Menghitung (viskositas) filtrat


Dari tabel Geankoplis A.2-4 Viscosity of Liquid Water
aquadest pada …… oC …… c ……… kg/m s
Waktu turun aquadest pada viskometer …… s
Waktu turun filtrat pada viskometer ……… s
 filtrat  t filtrat   aquadest
filtrat =
 aquadest  t aquadest
……………… kg/m s

3. Menghitung data percobaan


a. Data Percobaan I
Tabel.3 Data perhitungan filtrasi percobaan I

Volume filtrat (m3) Waktu t/V


No. X.Y X2
(X) (s) (Y)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
74
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Persamaan regresi data percobaan I


t Cs Rm
 
V 2 A (P) A(P)
2

t
misal  Kp.V  B
V
dengan
n( xy )  xy
Kp 
nx 2  (x) 2
= ……………
y  Kpx
B
n
= ………………
t
Persamaan regresi menjadi : ……………… ……………
V
Dengan :
Р ……… a
L = ……… cm ……… m
D ……… cm ……… m
A ¼ π D2 ……… m2
V ……… m3
µ ……… kg/m s
W ……… gr ……… kg

a) Menghitung harga Cs
W ………. kg
Cs  =  ………. kg/m3
V ……….m 3

b) Menghitung harga α
Cs
Dari gradien grafik Kp 
2 A 2 (P)
Kp  2 A 2 (P)

Cs

75
α ……… m/kg

3) Menghitung Rm
Rm
Dari intercept grafik =B
A( P )
B  A(P)
Rm =

Rm ……… m-1

Data Percobaan II
Tabel.3 Data perhitungan filtrasi percobaan II
Volume filtrat (m3) Waktu t/V
No. X.Y X2
(X) (s) (Y)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Persamaan regresi data percobaan II


t Cs Rm
 
V 2 A (P) A(P)
2

t
misal  Kp.V  B
V
dengan
n( xy )  xy
Kp 
nx 2  (x) 2
………

76
y  Kpx
B
n
………

t
Persamaan regresi menjadi : ……… ………
V
Dengan :
Р ……… Pa
L = ……… cm ……… m
D ……… cm ……… m
A ¼ π D2 ……… m2
V ……… m3
µ ……… kg/m s
W ……… gr ……… kg

1. Menghitung harga Cs
W .............kg
Cs   ............. kg/m
3
= 3
V .............m

2. Menghitung harga α
Cs
Dari gradien grafik Kp 
2 A 2 (P)
Kp  2 A 2 (P)

Cs

α ............. m/kg

3. Menghitung Rm
Rm
Dari intercept grafik =B
A( P )
B  A(P)
Rm =

Rm = ............. m-1
Data Percobaan III
Tabel.4 Data perhitungan filtrasi percobaan III
Volume filtrat (m3) Waktu t/V
No. X.Y X2
(X) (s) (Y)
1
2
3
4
5
6
7

77
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18

Persamaan regresi data percobaan III


t Cs Rm
 
V 2 A (P) A(P)
2

t
misal  Kp.V  B
V
dengan
n( xy )  xy
Kp 
nx 2  (x) 2
= .............
y  Kpx
B = .............
n
t
Persamaan regresi menjadi : = ............. V + .............
V
Dengan :
Р ……… a
L = ……… cm ……… m
D ……… cm ……… m
A ¼ π D2 ……… m2
V ……… m3
µ ……… kg/m s
W ……… gr ……… kg

1. Menghitung harga Cs
W .............. kg
Cs  = 3
 ………. kg/m3
V .............m
2. Menghitung harga α
Cs
Dari gradien grafik Kp 
2 A 2 (P)
Kp  2 A 2 (P)
 = ............. m/kg
Cs

78
3. Menghitung Rm
Rm
Dari intercept grafik =B
A( P )
B  A(P)
Rm =

Rm = ............. m-1

P Α

Grafik Hubungan antara α dengan Tekanan (-P)

P Rm

79
GRafik Hubungan antara Rm dengan Tekanan (-P)

Grafik Hubungan antara t/V dengan Volume Filtrasi

80
LAMPIRAN C
DATA SPESIFIKASI DAN LITERATUR

Tabel 3. Densitas dan Viskositas Air pada Berbagai Temperatur


Temperatur (oC) Densitas (kg/m3) Viskositas (kg/m.s)
23 997.62 0.000933
24 997.38 0.000911
25 997.13 0.000891
26 996.86 0.000871
27 996.59 0.000852
28 996.31 0.000833

81
PERCOBAAN 6
EKTRAKSI PADAT-CAIR (LEACHING)

Tujuan Praktikum
1. Mengetahui fraksi NaOH dalam ekstrak dan air secara matematis.
2. Mengetahui fraksi CaCO3 dalam rafinat secara matematis.
3. Menghitung jumlah tahap yang terbentuk agar terjadi titik kesetimbangan
(konstan).

Deskripsi
Melalui praktikum ini maka praktikan dapat mengetahui cara pemisahan
menggunakan metode leaching (ektraksi padat-cair), khususnya pada operasi
campuran Na2CO3 dan CaO yang menghasilkan komponen ekstrak yang
mengandung CaCO3 yang merupakan inert. Selain itu praktikan juga dapat
menganalisa kandungan yang terdapat dalam campuran pada hasil pemisahannya
dan dapat menentukan jumlah tahap yang terbentuk hingga terjadi kesetimbangan.

Landasan Teori
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair
dengan bantuan pelarut. Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan
mengekstraksi zat aktif dari simplisis hewani menggunakan pelarut yang sesuai,
kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang
tersisa diperlakukan seemikian rupa hingga memenuhi standar baku yang
ditetapkan. Hal-hal yang sangat mempengaruhi lama waktu proses ekstraksi
antara lain:
1. Kapasitas produksi mesin
2. Jenis bahan baku
3. Kandungan zat aktif bahan
4. Pelarut yang dipakai sesuai dengan kandungan zat aktif
(Firmansyah, 2010).

95
Ekstraksi padat-cair (leaching) adalah suatu proses pemisahan zat padat
yang solute dari suatu campurannya dengan padatan lain yang tidak larut (inert)
dengan menggunakan pelarut (solvent). Hingga kini teori tentang leaching masih
kurang, misalnya mengenai laju operasi yang belum banyak diketahui, sehingga
untuk merancang peralatannya sering hanya didasarkan pada hasil percobaan. Jadi
dilakukan percobaan ini untuk mengetahui cara penyelenggaraan leaching
(penyeduhan) dan menunjukkan pengaruh beberapa variabel operasi terhadap
kerja sistem operasi.

Menurut Coulson (1955), ada empat faktor penting yang secara dominan
mempengaruhi laju ekstraksi yaitu :
1. Ukuran Partikel
Semakin kecil ukuran solute, akan semakin mudah mengekstraksinya selain
itu hendaknya ukuran butiran partikel tidak memiliki range yang jauh satu
sama lain, sehingga setiap partikel akan menghabiskan waktu ekstraksi yang
sama.
2. Pelarut (Solvent)
Pelarut harus mempunyai selektifitas tinggi, artinya kelarutan zat yang ingin
dipisahkan dalam pelarut harus besar, sedangkan kelarutan dari padatan
pengotor kecil atau diabaikan. Dan viskositas pelarut sebaiknya cukup rendah
sehingga dapat bersirkulasi dengan mudah.
3. Temperatur
Dalam banyak kasus, kelarutan material yang diekstraksi akan meningkat
dengan naiknya temperatur, sehingga laju ekstraksi semakin besar. Koefisien
difusi diharapkan meningkat dengan naiknya temperatur untuk memberikan
laju ekstraksi yang lebih tinggi.
4. Agitasi fluida
Agitasi fluida (solvent) akan memperbesar transfer material dari permukaan
padatan ke larutan. Selain itu agitasi dapat mencegah terjadinya sedimentasi

96
Leaching ialah suatu perlakuan istimewa dalam satu atau lebih komponen
padatan yang terdapat dalam larutan. Dalam unit operasi, leaching merupakan
salah satu cara tertua dalm industri kimia, yang pemberian namanya tergantung
dari cara yang digunakan. Industri metalurgi ialah pengguna terbesar operasi
leaching ini. Dalam penggunaan campuran mineral dalam jumlah besar dan tak
terhingga, leaching dipakai sebagai pemisah. Contoh, tembaga yang terkandung
dalam biji besi dileaching dengan asam sulfat atau amoniak, dan emas dipisahkan
dengan larutan sodium sianida. Leaching memainkan peranan penting dalam
proses metalurgi aluminium, cobalt, mangan, nikel dan timah.

Operasi leaching melibatkan proses batch dan semi batch, sama baiknya
jika menggunakan operasi steady state. Dalam tiap operasinya, terdapat peralatan
yang berbeda-beda. Operasi unsteady state dimana padatan dan cairan berkontak
dalam sebuah bejana dimana padatan tersebut mengapung di atas cairan (metode
semi batch) partikel biasanya tercampur dengan menggunakan metode perkolasi,
dimana padatan tersebar merata dan dapat terdispersi sempurna dalam cairan
tersebut dengan bantuan pengaduk.

Menurut Treybal (1981), ada beberapa jenis metode operasi leaching,


yaitu:
1. Operasi dengan sistem bertahap tunggal
Dalam metode ini, pengontakan antara padatan dan pelarut dilakukan sekaligus
dan kemudian disusul dengan pemisahan larutan dari padatan sisa. Cara ini
jarang ditemui dalam operasi industri, karena perolehan solute yang rendah.
2. Operasi sistem bertahap banyak aliran silang (cross current)
Operasi ini dimulai dengan pencampuran umpan padatan dan pelarut dalam
tahap pertama. Kemudian aliran bawah dari tahap ini di kontakkan dengan
pelarut baru pada tahap berikutnya. Perhitungan untuk penambahan stages
merupakan pengulangan dari prosedur untuk single stage, dengan leached
solids dari stage sebelumnya menjadi umpan padat untuk berikutnya.

97
3. Operasi kontinu dengan sistem bertahap banyak dengan aliran berlawanan
(countercurrent)
Dalam sistem ini aliran bawah dan atas mengalir secara berlawanan. Operasi
ini dimulai pada tahap pertama dengan mengontakkan larutan pekat, yang
merupakan aliran atas tahap kedua, dan padatan baru, operasi berakhir pada
tahap ke-n (tahap terakhir), dimana terjadi pencampuran antara pelarut baru
dan padatan yang berasal dari tahap ke-n (n-1). Sistem ini memungkinkan
didapatkannya perolehan solute yang tinggi, sehingga banyak digunakan di
dalam industri.

Menurut Geankoplis (1993), mekanisme ekstraksi padat-cair terbagi


menjadi:
1. Single Stage Leaching

V1, X1 V2, X2
slurry

L0, N0, Y0, B L, N, Y1, B

Gambar 6.1 Aliran Proses untuk Single-Stage Leaching


Persamaan neraca massanya hampir sama dengan ekstraksi cair-cair, yaitu:
L0  V2  L1  V1  M ........ (6.1)

L0 Y0 V2 X 2  L1 YA1 V X A1  M X AM ........ (6.2)

B  N0 L0  0  N1 L1  0  N M M ........ (6.3)

98
2. Countercurrent Multi Stage Leaching

exit overflow leaching solvent


Vn+1
V V V V V VN+1

X XN+1

Yo, N0, L0, XN, NN, LN,


B0 L1 L2 Ln-1 LN LN+1 B
feed solid underflow streams
leached solids

Gambar 6.2 Aliran Proses Countercurrent Multi Stage Leaching


Neraca massa keseluruhan dan neraca massa komponen solute A mulai
dibentuk pada n stage pertama:
Vn+1 + L0 = V1 +Ln ........ (6.4)
Vn+1 Xn+1 + L0 Y0 = V1 X1 +Ln Yn ........ (6.5)
1 V X  L0 X 0
Xn+1 = Yn  1 1 ........ (6.6)
1 (V1  L0 ) / LN Ln  V1  L0

Alat dan Deskripsi Alat


- Beaker Glass 500 mL - Erlenmeyer 100 mL
- Buret 50 mL - Pipet mohr 5 mL
- Pengaduk - Neraca analitik
- Statif dan Klem - Gelas arloji
- Piknometer 25 mL - Cawan
- Gelas ukur 10, 100 dan 250 mL - Botol semprot
- Pipet tetes - Stopwatch
- Pipet volume 10 mL - Labu ukur 250 mL
- Bulb - Oven
- Buchner Funnel - Pompa Vakum
- Magnetic Stirrer - Hot Plate

99
Gambar 6.3 Mekanisme Percobaan Ekstraksi Padat-Cair (Leaching)

Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah :
- Natrium Karbonat (Na2CO3)
- Kalsium Oksida (CaO)
- Asam klorida (HCl) 0,5 N
- Indikator Phenolphthelein (C20H14O4)
- Akuades

Prosedur Kerja
A. Membuat larutan HCl 0,5 N sebanyak 500 mL.
a. Memasukkan sedikit akudes ke dalam labu ukur 500 mL.
b. Mengambil larutan HCl pekat (37%) sebanyak 20,7245 mL, memasukkannya
ke dalam labu ukur 500 mL.
c. Menambahkan akuades sampai tanda batas.
d. Mengocok larutan sampai homogen.

100
B. Proses Ekstraksi
a. Menimbang gelas piala, cawan porselin, dan piknometer dalam keadaan
kosong.
b. Menimbang Na2CO3 sebanyak 13 gram, memasukkan ke dalam gelas piala.
c. Menimbang CaO sebanyak 6,8656 gram, mencampurnya dengan Na2CO3 dan
menambahkan akuades sebanyak 2,2068 mL ke dalam gelas piala yang sama.
d. Menambahkan pelarut (air) sebanyak 300 mL.
e. Mengaduk larutan tersebut selama 10 menit.
f. Mendiamkan selama 7 menit.
g. Memisahkan ekstrak dan rafinatnya.

C. Proses Analisa
1) Ekstrak
a. Mengukur volume ekstrak dan mengambilnya sebanyak 25 mL dan
memasukkannya ke dalam piknometer.
b. Menimbang piknometer + ekstrak.
c. Menghitung densitas ekstrak.
d. Mengambil 10 mL ekstrak kemudian memasukkannya ke dalam erlenmeyer.
e. Menambahkan 1 tetes indikator PP.
f. Menitrasi dengan HCl 0,5 N sampai terjadi perubahan warna dari merah
muda menjadi bening dan mencatat volume titrannya.

2) Rafinat
a. Menimbang berat rafinat dalam gelas piala.
b. Mengambil sedikit rafinat dan memasukkannya ke dalam cawan porselin
kemudian menimbang kembali.
c. Mengeringkan ke dalam oven pada suhu 100o C selama 10 menit.
d. Mendinginkan rafinat di dalam desikator kemudian menimbang rafinat
tersebut.
e. Pada stage berikutnya, percobaan dilakukan sesuai mekanisme pada gambar
6.3

101
Analisa Perhitungan
1. Perhitungan Jumlah Umpan (Feed Fresh)
Diketahui : m Na2CO3 = gram
BM Na2CO3 = g/mol
BM CaO = g/mol
BM H2O = g/mol
ρ H2O = g/mL
Ditanya : Massa CaO dan volume H2O yang digunakan?
Jawab :
Reaksi : Na2CO3 + CaO + H2O 2NaOH + CaCO3
m Na2CO3 g
mol Na2CO3 =   ........... mol
BM Na2CO3 g / mol
1
mol CaO = x ............ mol  ......................... mol
1
massa CaO = mol CaO x BM CaO
=……mol x……g/mol
= ……g
1
mol H2O = x ............mol  ......................mol
1

massa H2O = mol H2O x BM H2O


=……mol x……g/mol
= ……g
massa H 2O g
Volume H2O=   ................mL
 H 2O g / mL

2. Perhitungan Volume HCl


Diketahui : HCl 37%
N2 = ……N
V2 =……mL
ρHCl =……g/mL

102
BM HCl =……g/mol
Ditanya : Volume HCl yang digunakan (V1)?
Jawab :
 HCl x % HCl x 1000 mL ........ g / mL x ....... x ..........mL
N1 =   ...........mol
BM HCl ........ g / mol
N1 .V1  N 2 .V2
N 2 .V2
V1 
N1
......mol . ..........mL
V1 
........... mol
V1  ..................mL
3. Analisa Ekstrak dan Rafinat pada Setiap Stage
Stage 1: F
(Na2CO3+CaO+H2O)

P1(H2O) 1 E1 (ekstrak)

A. Analisa Ekstrak R1 (Rafinat)

Diketahui : V2 = mL
N1 = N
V1 = mL
VP = mL
ρ H2O = g/mL
Vekstrak = mL
Berat = g
ρ ekstrak = g/mL
R1 = g
Rbasah = g
Rkering = g
F (H2O) = g

103
 Perhitungan Konsentrasi NaOH
V1 x N1 .........mL x .........N
Konsentrasi NaOH (N2) =   ........... N
V2 .........mL

 Berat Ekstrak (E1) = Vekstrak x ρekstrak


= mL x g/mL
= g
P1 (H2O) = VP x ρ H2O
= mL x g/mL
= g
R1
R1(H2O) = x Berat H 2 O dalam Rafinat
Rbasah
........g
= x ...........g
.............g
= g

 Neraca Massa
P1 (H2O) + F (H2O) = E1(H2O) + R1(H2O)
E1(H2O) = P1 (H2O) - R1(H2O)
= g+ g– g
= g

 Berat NaOH dalam Ekstrak


E1(NaOH) = E1 - E1(H2O)
= g– g
= g
 Fraksi Berat NaOH dalam Ekstrak
E1 ( NaOH ) ............g
X1 (NaOH) =  
E1 ..........g

104
B. Analisa dalam Rafinat
 Berat CaCO3 dalam Rafinat
R1(CaCO3) = R1 - R1(H2O)
= g– g
= g
 Fraksi Berat CaCO3 dalam Rafinat
R1(CaCO3 ) ........ g
X2 (CaCO3) =  
R1 .........g

Stage 2:
R1

P2(H2O) 2 E2

R2
A. Analisa Ekstrak
Diketahui : VP = mL
ρ H2O = g/mL
Vekstrak = mL
R2 = g
Rbasah = g
Rkering = g
Berat (H2O) = g

P2 (H2O) = VP x ρ H2O
= mL x g/mL
= g

105
R2
R2(H2O) = x Berat H 2 O dalam Rafinat
Rbasah
........g
= x ..........g
........ g
= g

 Neraca Massa
P2 (H2O) + R1 (H2O) = E2(H2O) + R2(H2O)
E2(H2O) = P2 (H2O) + R1 (H2O) – R2(H2O)
= g+ g– g
= g
B. Analisa Rafinat
 Berat CaCO3 dalam Rafinat
R2(CaCO3) = R2 – R2(H2O)
= g– g
= g
C. Analisa Fraksi Berat
 Fraksi Berat CaCO3 dalam Rafinat
R2 (CaCO3 ) g
X2 (CaCO3) =   .............
R2 ..........g

Stage 3:
F

E2 3 E3

R3
A. Analisa Ekstrak
Diketahui : V2 = mL
N1 = N
V1 = mL
E2 (H2O) = mL

106
ρ H2O = g/mL
Vekstrak = mL
ρ ekstrak = g/mL
R3 = g
Rbasah = g
Rkering = g
Berat (H2O) = g
F (H2O) = g

 Perhitungan Konsentrasi NaOH


V1 x N1 .........mL x .......N
Konsentrasi NaOH (N2) =   ........ N
V2 ........mL
 Berat Ekstrak (E3) = Vekstrak x ρekstrak
= mL x g/mL
= g
R3
R3(H2O) = x Berat H 2 O dalam Rafinat
Rbasah
.....g
= x ......g
.....g
= g
 Neraca Massa
E2 (H2O) + F (H2O) = E3(H2O) + R3(H2O)
E3(H2O) = E2 (H2O) + F (H2O) – R3(H2O)
= g+ g– g
= g
 Berat NaOH dalam Ekstrak
E3(NaOH) = E3 - E3(H2O)
= g– g
= g

107
B. Analisa Rafinat
 Berat CaCO3 dalam Rafinat
R3(CaCO3) = R3 – R3(H2O)
= g– g
= g
C. Analisa Fraksi Berat
 Fraksi Berat NaOH dalam Ekstrak
E3 ( NaOH ) ..........g
X3 (NaOH) =   .................
E3 ..........g
 Fraksi Berat CaCO3 dalam Rafinat
R3 (CaCO3 ) .........g
X3 (CaCO3) =  
R3 ..........g

Stage 4:
R2 (H2O)

P4 4 E4

R4
A. Analisa Ekstrak
Diketahui : VP = mL
ρ H2O = g/mL
R4 = g
Rbasah = g
Rkering = g
Berat (H2O) = g
P4 (H2O) = VP x ρ H2O
= mL x g/mL
= g

108
R4
R4(H2O) = x Berat H 2 O dalam Rafinat
Rbasah
.......g
= x ........ g
........ g
= g
 Neraca Massa
P4 (H2O) + R2 (H2O) = E4(H2O) + R4(H2O)
E4(H2O) = P4 (H2O) + R2 (H2O) – R4(H2O)
= g+ g– g
= g
B. Analisa Rafinat
 Berat CaCO3 dalam Rafinat
R4(CaCO3) = R4 – R4(H2O)
= g– g
= g
C. Analisa Fraksi Berat
 Fraksi Berat CaCO3 dalam Rafinat
R4 (CaCO3 ) ........g
X4 (CaCO3) =  
R4 ....... g

Stage 5:
R3

E4 5 E5

R5
A. Analisa Ekstrak
Diketahui : E4(H2O) = g
R3(H2O) = g
R5 = g
Rbasah = g

109
Rkering = g
Berat (H2O) = g

R5
R5(H2O) = x Berat H 2 O dalam Rafinat
Rbasah
..........g
= x ......... g
..........g
= ........... g
 Neraca Massa
E5 (H2O) + R5 (H2O) = R3(H2O) + E4(H2O)
E5(H2O) = R3(H2O) + E4(H2O) – R5(H2O)
= g+ g– g
= g
B. Analisa Rafinat
 Berat CaCO3 dalam Rafinat
R5(CaCO3) = R5 – R5(H2O)
= g– g
= g
C. Analisa Fraksi Berat
 Fraksi Berat CaCO3 dalam Rafinat
R5 (CaCO3 ) ..........g
X5 (CaCO3) =   ....................
R5 ...........g

110
DAFTAR PUSTAKA

Coulson. 1955. Chenical Engineering Particle Technology and Separation


Processes volume 2 p-503. Butterworth-Heinemann. New York.
Firmansyah, Bayu. 2010. Prinsip Ekstraksi/(Maceration).
Geankoplis, Christie J. 1993. Transport Process and Unit Operation 3th Edition
p-730;732;733. Prentice-Hall,Inc. New Jersey.
Treyball, Robert E. 1981. Mass Transfer Operation 3rd Edition p-748; 749.
Mc.Graw-Hill Book. New York.

111
PERCOBAAN 2
ALIRAN FLUIDA

A. TUJUAN PRAKTIKUM

1. Mengetahui pengaruh debit terhadap panjang ekivalen berbagai kran, siku dan fitting.
2. Mengetahui pengaruh bilangan Reynold terhadap koefisien Orifice dan venturimeter.

B. LANDASAN TEORI

Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk secara permanen, perilaku zat
cair yang mengalir sangat bergantung pada kenyataan apakah fluida itu berada dibawah
pengaruh bidang batas padat atau tidak. Aliran dalam pipa telah banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari maupun dalam proses-proses industri (Mc Cabe, 1993).

Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk (distorsi) secara
permanen. Sifat fisis fluida dinyatakan berdasarkan tekanan, suhu, densitas dan kekentalan.
Pada temperatur dan tekanan tertentu, setiap fluida mempunyai densitas tertentu. Jika densitas
hanya sedikit terpengaruh oleh perubahan dengan suhu dan tekanan yang relatif besar, maka
fluida tersebut bersifat incompressible. Tetapi jika densitasnya peka terhadap perubahan
variabel suhu dan tekanan, fluida tersebut digolongkan compressible. Zat cair biasanya
dianggap zat yang incompressible, sedangkan gas umumnya dikenal sebagai gas yang
compressible.Pemahaman tentang fluida sangat penting untuk dapat menyelesaikan
permasalahan pergerakan fluida melalui pipa, pompa dan peralatan proses atau alat ukur laju
alir pada fluida. Dalam hal ini, fluida dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu:
a. Fluida tak mampu mampat (incompressible), yaitu densitas fluida hanyak sedikit
terpengaruh oleh perubahan yang besar terhadap tekanan dan suhu. Contoh: air.
b. Fluida mampu mampat (compressible), yaitu fluida yang apabila diberi gaya dan
tekanan, maka volume dan suhunya akan mengalami perubahan. Contoh: gas.

Jenis aliran yang terjadi disaluran dalam menjadi masalah utama dinamika fluida. Ketika
cairan berrgerak melalui saluran tertutup di sebuah penampang, alirannya dapat diamati.
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 20
Kedua jenis aliran dapat dilihat dalam aliran terbuka mengalir atau sungai. Ketika kecepatan
aliran lambat, pada aliran lambat, pola aliran halus. Namun sebaliknya, ketika kecepatan
aliran cukup tinggi, sebuah derai stabil dapat diamati, dimana pusaran kecil terlihat, bergerak
kesegala arah (Geankoplis, 2003).

Jenis aliran pertama, bergerak pada kecepatan rendah, dimana lapisan cairan tampaknya
meluncur dengan sau sama lain tanpa pusaran atau pusaran yangterlihat, memiliki densitas
rendah dan kekentalan tinggi serta memiliki bilangan Reynold <2100, disebut aliran laminar.
Jenis keddua, pada kecepatan lebih tinggi, dimana pusaran terlihat memberikan cairan yang
bersifat fluktuatif, memiliki densitas tinggi dan kekentalan yang rendah serta mempunyai
bilangan Reynold >4000, disebut aliran turbulen (Geankoplis, 2003).

a. Aliran laminar (NRe< 2100)


Aliran laminar mempunya ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terjadi pada kecepatan rendah
2. Fluida cenderung mengalir tanpa adanya pencampuran lateral
3. Berlapis-lapis seperti kartu
4. Tidak ada arus tegak lurus arah aliran
5. Tidak ada pusaran (arus eddy)
b. Aliran turbulen (NRe> 4000)
Aliran tubulen mempunya ciri-ciri sebagai berikut:
1. Terbentuk arus eddy
2. Terjadi lateral mixing
3. Secara keseluruhan arah aliran tetap sama
4. Distribusi kecepatan lebih uniform atau seragam

Keberadaan aliran laminar dan turbulen paling mudah divisualisasikan dengan percobaan dari
Reynold. Eksperimen ditunjukkan pada gambar 2.1. air dialirkan mengalir di steady
statemelalui pipa transparan dengan laju alir dikendalikan oleh katup diujung pipa. Pada
tingkat lebih rendah (gambar 1a) pola dye adalah reguler dan membentuk satu baris atau
streaming berupa benang. Pada jenis aliran yang dikenal dengan aliran turbulen, kecepatan
meningkat dan terjadi polaseperti pusaran-pusaran banyak (gambar 1b) (Geankoplis, 2003).

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 21
Antara 4000 dan 2000, angka diantara itu merupakan aliran transisi dimana jenis aliran itu
mugkin laminar dan mugkin turbulen, bergantung pada kondisi lubang masuk tabung dan
jaraknya dari lubang itu (Mc Cabe, 1993).

Didalam arus fluida tak mampu mampat yang dibawa pengaruh bidang batas padat, terdapat
empat macam efek yang sangat penting :
1. Gabungan antara medan gradien kecepatan dengan medan tegangan geser.
2. Terbentuknya keturbulenan
3. Terbentuknya dan berkembangnya lapisan atas.
4. Pemisahan lapisan batas kontaj dengan batas padat.
(Mc Cabe, 1993)

Aliran incompressible (aliran tak mampu mampat) merupakan aliran yang mempunyai
densitas yang konstan atau mendekati konstan. Fluida mengalir secara normal seperti pada
aliran incompressible, seperti gas dapat mengalami aliran yang incompressible terkecualipada
konteks hydraulic transients. Dan aliran compressible (aliran mampu mampat) aliran yang
perubahan tekanan densitasnya tidak berarti. Contoh allran tak mampu mampat adalah air,
minyak, dan emulsi. Sedangkan aliran mampu mampat contohnya yaitu udara dan gas (Perry,
1984).

Flowmeter adalah alat untuk mengukur jumlah atau laju aliran dari suatu fluida yang mengalir
dalam pipa atau sambungan terbuka (Geankopils, 2003).

Banyak tipe dari flowmeter, diantaranya :


1. Turbin dan dayung-roda Meter (Turbne-and paddle-wheel meters).
Roda turbin ditempatkan didalam pipa, dan kecepatan putar tergantung pada laju aliran
cairan. Gas perumahan dan industri dan air meter sering dari jenis roda putar.
2. Gas Termal Aliran Massa (Thermal-gas mass flow meters).
Gas yang mengalir dalam sebuah tabung dibagi menjadi rasio konstan karena aliran
laminar menjadi aliran utama dan sebuah aliran tabung sensor.

3. Flowmeter Magnetik (Magnetic flow meters).

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 22
Medan magnet yang dihasilkan diseluruh cairan konduktif mengalir dalam pipa. Dengan
menggunakan hukum induktansi elektromagnetik, hukum Faraday, tegangan induksi
berbanding lurus dengan kecepatan aliran.
(Geankoplis, 2003).

Prinsip Bernoulli yang menyatakan bahwa jumlah energi pada suatu titik didalam suatu aliran
tertutup sama besarnya dengan jumlah energi dititik lain pada jalur aliran yang sama. Prinsip
inidiambil dari nama ilmuan Belanda / Swiss yang bernama Daniel Bernoulli.
..................................................................................... (2.1)

Persamaan diatas berlaku untuk aliran tak termampatkan dengan asumsi aliran bersifat tunak
(steady state), tidak terdapat gesekan.

................................ ………………………...………………(2.2)

Persamaan berlaku untuk aliran termampatkan (Steeler, 1985).

Sedangkan pada aliran fluida yang terjadi dalam pipa digunakan persamaan yaitu sebagai
berikut.
2 2
Px – Py = [(zx – zy) . g + - - ∑ Fx-y].......................................................................(2.3)
2 2
Persamaan Fanning menyatakan bahwa fluida yang mengalir melalui pipa atau saluran, maka
sebagian tenaganya akan hilang oleh karena adanya gesekan antara fluida dengan dinding
pipa. Bentuk persamaan Fanning yang terjadi dalam pipa adalah
2
FF = 4 . f . . .............................................................................................................(2.4)
2

Asa Bernoulli menyatakan bahwa pada pipa mendatar, tekanan fluida paling besar adalah
pada bagian kelajuan alirnya paling kecil, sebaliknya, tekanan paling kecil adalah pada bagian
yang kelajuan alirnya paling besar (Steeter, 1985).

Aplikasi asas Bernoulli dalam keseharian adalah sebagai berikut :


1. Dua perahu bermotor berbenturan
2. Aliran air yang keluar dari keran
3. Lintasan melengkung baseball yang sedang berputar
4. Pancaran air pada selang yang ujungnya dipersempit
(Steeter, 1985).
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 23
Bentuk persamaan bernoulli :

....................................................................................(2.5)

(Steeter, 1985).

Manometer adalah alat yang dignakan secara luas pada audit negeri untuk mengukur
perbedaan tekanan didua titik berbeda atau berlawanan. Jenis manometer tertua adalah
manometer kolom cairan. Versi manometer bentuk pipa U yang di isi cairan setengahnya
(biasanya berisi air mengalir atau raksa) dimana pengukuran dilakukan pada satu sisi pipa,
sementara tekanan diterapkan pada tabung lainnya. Perbedaan ketinggia cairan
memperlihatkan tekanan yang diterapkan (Munson, 2004).
Ada beberapa macam manometer, sebagai berikut :
1. Manometer zat cair
Merupakan pipa kaca berbentuk U yang berisi raksa. Manometer ini dibedakan menjadi
dua, yaitu manometer raksa ujung terbuka yang digunakan untuk mengukur tekanan
udara diruang tertutup yang tekanannya rendah. Yang kedua yaitu manometer raksa
tertutup yang terbuat dari tabung kaca berbentuk U yang salah datu ujungnya tertutup
sehingga bagian bawah ujung yang tertutup ini berbentuk ruang hampa. Dengan
menghubungkan ujung yang lain pada ruang yang berisi gas, maka tekanan gas, maka
tekanan gas dalam ruang itu dapat diketahui.
2. Manometer logam
Manometer yang digunakan untuk mengukur tekanan gas yang sangat tinggi. Biasanya
yang besarnya sekitar 1 atm seperti mengukur gas dalam tangki uap. Gas dalam tabung
gas, dan dalam ban digunakan manometer logam atau manometer aneroid.
3. Manometer Mc Lead
Merupakan manometer untuk mengukur tekanan udara yang lebih kecl dari 1mmHg.
Selisih tinggi raksa di pipa S dengan pipa E adalah cmHg
(Munson, 2004).

1. Major Losses
Major Losses merupakan head loss yang terjadi di seluruh sistem perpipaan yang terdiri dari
efek viscous head loss di sepanjang perpipaan yang biasanya dilambangkan dengan HL major.
Dalam perhitungannya, major losses memiliki formula f (friksi) yang berbeda untuk jenis
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 24
alirannya yaitu aliran turbulen dan aliran laminar. Friksi (f) pada aliran turbulen didapatkan
dengan cara menarik garis grafik bilangan reynold (Re) dan є/D (relative roughness) dimana є
merupakan equilvalent roughness yaitu nilai kekasaran permukaan yang dimiliki oleh setiap jenis pipa
dan D merupakan diameter dalam pipa (Munson, 2004).

f = o (Re, )

Sedangkan formula friksi pada aliran jenis laminar merupakan formula independen dari
bilangan equivalent roughness (є), dimana:

f=

Setelah didapatkan nilai friksi dari jaringan perpipaan tersebut, maka major head loss dapat
dihitung dengan persamaan :

HL major = f

2. Minor Losses
Minor Losses merupakan head loss yang terjadi pada setiap komponen atau aksesoris
perpipaan meliputi valve, elbow, tee dan lain-lain yang biasanya dilambangkan dengan HL
minor.

Head loss yang terjadi pada aliran yang melewati valve secara umum ialah minor loss.
Dimana tujuan dari valve tersebut adalah mengatur flowrate. Hal ini dapat dicapai dengan
mengubah geometri dari sistem sebagai contoh opening dan closing suatu valve mengubah
pola aliran yang melewati valve yang mana akan menghasilkan losses pada aliran valve.
Tidaklah sulit untuk mengetahui analisa teoritis untuk memprediksi detail aliran untuk
memperoleh data head loss untuk komponen-komponen ini. Oleh karena itu, informasi
tentang head loss untuk setiap komponen biasanya sudah teredia dalam bentuk tak berdimensi
yang didapatkan dari hasil data eksperimen. Metode yang paling umum yang digunakan untuk
mencari losses atau pressure drop ialah loss coefficient (KL) (Munson, 2004).
Dimana,

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 25
KL = =

Maka didapatkan persamaan untuk mencari HL minor ialah,

HL minor = KL ( )

Nilai KL merupakan nilai tak berdimensi yang merupakan data dari masing - masing jenis
aksesori perpipaan seperti valve, elbow maupun tee.

Setelah mendapatkan nilai major head loss dan minor head loss, maka total HL dapat dihitung
dengan menjumlahkan kedua nilai tersebut (Munson, 2004).

HL = HL major + HL minor

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 26
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 27
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 28
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 29
C. BAHAN
Air

D. ALAT DAN SKEMA RANGKAIAN ALAT

1. Rangkaian alat aliran fluida


2. Tangki penampung aliran
3. Sketmatch
4. Stopwatch
5. Picnometer 25 mL

Rangkaian Alat

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 30
Gambar 4. Rangkaian Alat Aliran Fluida
Keterangan:
1. Tangki penampung 6. Valve
2. Pompa 7. Fitting
3. Pipa 1 8. Elbow
4. Pipa 2 9. Manometer
5. Tee

E. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Menghitung Densitas
a. Ditimbang piknometer kosong menggunakan neraca analitik
b. Ditimbang piknometer berisi air dengan menggunakan neraca analitik

2. Mengukur Tinggi Manometer


a. Dinyalakan pompa
b. Ditentukan kondisi yang diinginkan
c. Dibuka gate valve dengan sudut putas kran 90o
d. Dihitung waktu pada flowmeter hingga mencapai 0,001 m3 dengan menggunakan
stopwatch
e. Dicatat angka pada manometer dan waktu pada stopwatch untuk aliran pada titik 1, 2,
3 dan 4
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 31
f. Diulangi langkah d sampai e sebanyak 3 kali
g. Dibuka gate valve dengan sudut putar yang kedua yaitu 135o
h. Diulangi langkah d sampai f

3. Menentukan Kecepatan Aliran pada Flowmeter


a. Dinyalakan pompa
b. Diputar gate valve dengan sudut putar kran 90o
c. Diperhatikan flowmeter dan dinyalakan stopwatch
d. Dicatat waktu ketika jarum pada flowmeter berputar satu putaran
e. Dilakukan langkah yang sama dengan sudut putar kran 135o

F. HASIL PENGAMATAN
Suhu akuades : Berat air keran :
Berat picnometer : Diameter luar pipa kran :
Berat picno + akuades : Diameter luar pipa orifice :
Berat akuades : Diameter luar pipa venture :
Berat picno + air kran:

Tabel 1. Data Percobaan


No. Jumlah Sudut Beda tinggi Hg dalam kaki Angka Waktu
Putaran putar manometer (Δh) flowmeter
kran Kran elbow venturi orifice awal akhir

G. TUGAS PERHITUNGAN

a) Membuat grafik Pressure Drop pada bukaan 90°


b) Membuat grafik Pressure Drop pada bukaan 135°
c) Membuat grafik teoritis Pressure Drop pada bukaan 90°
d) Membuat grafik teoritis Pressure Drop pada bukaan 135°
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 32
1. Perhitungan Viskositas ( )

Dengan suhu 28 maka didapatkan viskositas sebesar ....0-3 ⁄m. (Geankoplis, Tabel A.2-4

hal. 960).

2. Perhitungan Densitas ()

m
 =

3. Perhitungan Diameter Dalam Pipa


Diameter Pipa Dalam pada Pipa 1 Diameter Pipa Dalam pada Pipa 2

D1 = Diameter luar – 2.(Tebal pipa) D2 = Diameter luar – 2.(Tebal pipa)

4. Perhitungan Luas Penampang


Luas Penampang Pipa 1 Luas Penampang Pipa 2

2 2
A1 = .π. A2 = .π. 2

5. Perhitungan Debit
Debit pada Aliran Bukaan Sudut 90 Debit pada Aliran Bukaan Sudut 135

o me o me
Q1 = Q2 =
a t rata-rata a t rata-rata

6. Perhitungan Kecepatan Aliran dengan Sudut Putar 90


Kecepatan Aliran pada Pipa 1
V1 =

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 33
Kecepatan Aliran pada Pipa 2
V2 =
2

7. Pressure Drop pada Bukaan Pipa dengan Sudut Putar 90


Pressure Drop pada Bukaan 90 dari Titik 1 ke Titik 2

P1-2 = P1 – P2

Pressure Drop pada Bukaan 90 dari Titik 1 ke Titik 3

P1-3 = P1 – P3

Pressure Drop pada Bukaan 90 dari Titik 1 ke Titik 4

P1-4 = P1 – P4

8. Perhitungan Pressure Drop Secara Teoritis


Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 2

. . -
NRe = . m
=
2 m

Dari Gambar 2.10-3 pada Geankoplis hal. 94 didapatkan F =


2 ∑F1-2 =
.
FF =4.F.
. 2

Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 3

Tee
2 Valve
2
hf = Kf .
2 2
2
hf = Kf .
2
Fitting
2 Elbow
2
hf = Kf .
2
LABORATORIUM REKAYASA KIMIA
FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 34
2 2
2 ( - 2)
hf = Kf . hekspansi =
2 2.

∑F1-3 = ∑F1-2 + hf tee+ hf fitting + hf valve + hf elbow + hekspansi

Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 4

. 2 . 2 -
NRe = . m
=
m

Dari Gambar 2.10-3 pada Geankoplis hal. 94 didapatkan F =


2 ∑F1-4 = ∑F1-3 + FF
. 2
FF =4.F.
2 . 2

9. Persamaan Bernoulli
Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 2

2 2
P1 – P2 = [( – 2 ). 2
- F -2 ] . 
2. 2.

Dimana, z1 = z2 =0
V1 = V2 =0
P1 – P2 = ∑F1-2 . 

Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 3

2 2
P1 – P3 = [( – 2 ). 2
- F - ].
2. 2.

Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 4

2 2
P1 – P4 = [( – 2 ). 2
- F - ].
2. 2.

10. Perhitungan Kecepatan Aliran dengan Sudut Putar 135

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 35
Kecepatan Aliran pada Pipa 1 Kecepatan Aliran pada Pipa 2

2 2
V1 = V2 =
2

11. Pressure Drop pada Bukaan Pipa dengan Sudut Putar 135
Pressure Drop pada Bukaan 135 dari Titik 1 ke Titik 2

P1-2 = P1 – P2

Pressure Drop pada Bukaan 135 dari Titik 1 ke Titik 3

P1-3 = P1 – P3

Pressure Drop pada Bukaan 135 dari Titik 1 ke Titik 4


P1-4 = P1 – P4
12. Perhitungan Pressure Drop Secara Teoritis
Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 2

. . =
NRe =

Dari Gambar 2.10-3 pada Geankoplis hal. 94 didapatkan F =


2 ∑F1-2 =
.
FF =4.F.
. 2

Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 3

Tee Valve
2 2
2 2
hf = Kf . hf = Kf .
2 2

Elbow
Fitting 2
2
hf = Kf .
2 2
2
hf = Kf .
2

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 36
2
( - 2)
hekspansi =
2.

∑F1-3 = ∑F1-2 + hf tee+ hf fitting + hf valve + hf elbow + hekspansi

Pressure Drop dari Titik 1 ke Titik 4

=
. 2 . 2
NRe = = 1,5 . 10-3

Dari Gambar 2.10-3 pada Geankoplis hal. 94 didapatkan F =

2 ∑F1-4 = ∑F1-3 + FF
. 2
FF =4.F.
2 . 2

13. Persamaan Bernoulli


Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 2

2 2
P1 – P2 = [( – 2 ). 2
- F -2 ] . 
2. 2.

Dimana, z1 = z2 =0
V1 = V2 =0

P1 – P2 = ∑F1-2 . 

Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 3

2 2
P1 – P3 = [( – 2 ). 2
- F - ].
2. 2.

Persamaan Bernoulli Titik 1 ke Titik 4

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 37
2 2
P1 – P4 = [( – 2 ). 2.
2
- 2.
F-].

DAFTAR PUSTAKA
Geankoplis, C.J. 2003. ''Transport Process and Separation Process Principles 4th Edition''.
Prentice Hall. New Jersey.
McCabe . Smith J.C. and Harriot P. 99 “Unit Operation of Chemica En ineerin ”
McGraw Hill Book, Co., United States of America.
Munson, Bruce. 2004. ''Mekanika Fluida Edisi Keempat Jilid 1''. Penerbit: Erlangga
Perry, R.H., and Green, D.W., 1984, “Perr ’ Chemica En ineer Hand Boo “ th. ed. Mc.
Graw Hill Co., International Student edition, Kogakusha, Tokyo.
Streeter . . & E. Benjamin ie. 9 . “F id Mechanic th Edition” McGraw Hi :
New York.

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 38
LAMPIRAN : Laporan Sementara
LAPORAN SEMENTARA
ALIRAN FLUIDA

Hari/Tanggal :
Kelompok :
Anggota :

Suhu akuades :
Berat picnometer :
Berat picno + akuades :
Berat akuades :
Berat picno + air kran :
Berat air keran :
Diameter luar pipa kran :
Diameter luar pipa orifice :
Diameter luar pipa venture :

Tabel 1. Data Percobaan


No. Jumlah Sudut Beda tinggi Hg dalam kaki Angka Waktu
Putaran putar manometer (Δh) flowmeter
kran Kran elbow venturi orifice awal akhir

Asisten Praktikan

(..................................) (..................................)

LABORATORIUM REKAYASA KIMIA


FAKULTAS TEKNIK, UNIVERSITAS MULAWARMAN | 39