Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

MANAJEMEN PENGELOLAAN LEGUMINOSA UNGGUL


DI (BPT-HMT) SERADING, SUMBAWA BESAR

OLEH :
DIRA PARAMITHA
B1D015059

PROGRAM STUDI PETERNAKAN

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM
MATARAM
2017

i
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANG

MANAJEMEN PENGELOLAAN LEGUMINOSA UNGGUL DI (BPT-HMT)


SERADING, SUMBAWA BESAR

OLEH :
DIRA PARAMITHA
B1D 015059

Laporan Praktik Kerja Lapang


Diserahkan untuk Keperluan Penyelesaian Pendidikan
pada Program Studi Peternakan-Fakultas Peternakan-Universitas Mataram
yang telah disetujui pada

MENYETUJUI :
Mataram, Oktober 2018

Program Studi Peternakan Dosen Pembimbing,


Ketua,

Dr.Ir.M. Ashari, M.Si Dr.Ir. Imran., M.Si


NIP. 19611231 198703 1017 NIP. 19620104 198603 1005

ii
KATA PENGANTAR
Segala puji syukkur saya panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas rezeki,
umur panjang, memberikan nikmat iman serta kesehatan sehingga saya dapat
menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Lapang yang berjudul “Manajemen
Pengolahan Leguminosa Unggul di (BPT-HMT) Serading, Sumbawa Besar”
dapat diselesaikan sebagimana mestinya. Sholawat serta salam Nabi Besar
Muhammad SAW sehingga laporan Praktik Kerja Lapang ini disusun verdasarkan
hasil kegiatan yang dimulai pada tanggal 24 Juli 2017 – 31 Agustus 2017 yang
bertempat di Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT)
Serading, Sumbawa Besar.
Dengan rasa hormat saya menyucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Ir. Maskur. M,si Dekan Fakultas Peternakan Universitas
Mataram.
2. Bapak Dr. Ir. Imran. M,si Dosen Pembibing PKL.
3. Bapak Dr. Ir. M. Ashari. M,si Ketua Jurusan Ilmu Peternakan.
4. Bapak Isdarwanto. S,Pt Kepala Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan
Makanan Ternak (BPT-HMT) Serading.
5. Bapak Ir. Suryadi AK, M.Si Kepala Sub Bag TU NPT-HMT Serading.
6. Bapak Herfan. S,Pt Pembimbing Lapangan Hijauan Makanan Ternak.
7. Semua staff di BPT-HMT Serading yang tidak dapat disebutkan namanya
satu persatu yang telah memberikan kesan selama melakukan PKL.
8. Teman-teman seperjuangan anggota PKL yang telah membantu
menguatkam dan memberikan motivasi selama PKL.
Saya menyadari bahwa Laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga
kritik dan saran yang membangun sangat dibutuhkan demi kesempurnaan laporan
serupa dikemudian hari.

Hormat saya

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................ii
KATA PENGANTAR ......................................................................................iii
DAFTAR ISI .....................................................................................................iv
DARFTAR GAMBAR .....................................................................................vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................vii
BAB I. PENDAHULUAN ................................................................................1
1.1 Latar Belakang .............................................................................................1
1.2 Tujuan dan Kegunaan Praktik Kerja Lapang ...............................................2
1.2.1 Tujuan Kegiatan .....................................................................................2
1.2.2 Kegunaan Kegiatan ................................................................................2
1.2.2.1 Bagi Mahasiswa .....................................................................................3
1.2.2.2 Bagi Fakultas ..........................................................................................3
1.2.2.3 Bagi BPT-HMT Serading ......................................................................3
BAB II. KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANG ...................................4
2.1 Gambaran Umum Lokasi Praktik Kerja Lapang ..........................................4
2.2 Profil BPT-HMT Serading ...........................................................................4
A. Fungsi dan Tugas Pokok BPT-HMT Serading .............................................5
B. Visi, Misi dan Motto BPT-HMT Serading ....................................................5
2.3 Macam-macam Kegiatan Yang Dilakukan ..................................................6
2.3.1 Pemilihan lahan .........................................................................................6
2.3.2 Pengolahan Tanah .....................................................................................6
2.3.3 Penanaman Leguminosa ............................................................................7
2.3.4 Pemeliharaan .............................................................................................7
4.1. Penyiangan Tanaman………………………………………………….7
4.2. Pembubunan Tanaman………………………………………………...7
4.3. Pengairan /penyiraman……………………………………………… 8
4.4. Pemupukan……………………………………………………………8
BAB III. HASIL PRAKTIK KERJA LAPANG…………………………….9

iv
3.1. Pemilihan Lahan…………………………………………………………...9
3.2. Pengolahan Lahan…………………………………………………………9
3.3. Penanaman Leguminosa (indigofera)……………………………………..11
3.4. Pemeliharaan……………………………………………………………….12
3.5. Pengukuran Laju Pertumbuhan Legum Pohon (indigofera)……………….13
BAB IV. PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN………………………...15
4.1. Permasalahan Selama PKL…………………………………………………15
4.2. Pemecahan Masalah………………………………………………………..15
4.2.1. Ketersediaan Lahan Penanaman Legum Koleksi Masih Kurang……15
4.2.2. Banyaknya Gulma yang Tumbuh Bersamaan Rumput Unggul……..15
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………….17
5.1. Kesimpulan…………………………………………………………………17
5.2. Saran………………………………………………………………………..17
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................18
LAMPIRAN

v
DAFTAR GAMBAR
Halaman

vi
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1. Hasil Pengamatan Daya Tumbuh Leguminosa ...................................12

vii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Peternakan di Indonesia mengalami beberapa masalah yang
diantaranya yaitu makanan ternak yang belum bisa mencukupi kebutuhan dan
rendahnya kualitas pakan yang ada di Indonesia. Produksi ternak dapat
dinaikkan bila pengolahan ternak dan pakan ternak dilakukan dan disediakan
dengn tepat. Kenaikan produksi ternak ditandai dengan penggunaan makanan
ternak. Konsentrat yang tinggi jumlahnya dan ini hanya mungkin dilaksanakan
apabila imbangan harga makanan dan harga produksi ternak berupa air ternak
berupa air susu atau daging masih memadai. Produksi ternak makin turun
apabila ternak dekat dengan ekuator. Usaha-usaha pertanian sangat
menentukan berhasil tidaknya usaha peternakan, terutama dalam penyediaan
tanaman bahan pangan cukup dan kualitas tinggi yang menunjang produksi
ternak yang tinggi.
Hijauan makanan ternak merupakan makanan pokok bagi hewan
memamah biak diantaranya adalah ternak sapi, kambing, dan kerbau (Pramana
et al., 2010). Hijauan yang hendak ditanam tentu saja menguntungkan sehingga
harus memenuhi produktivitas persatuan luas yang tinggi, nilai palabilitas yang
baik, serta beradaptasi baik dengan lingkungan.Sebagai contoh jenis rumput
potong yang memilki palabilitas yang baik adalah rumput gajah Pennistum
purpureum, Setaria sphacelata, Panicum maximum, rumput gembala misalnya
African Star Grass (Aak, 2003).
Legum merupakan tanaman yang cocok untuk makanan ternak terutama
sebagai makanan penambah konsentrat. Sebagian besar legum ditanam guna
memenuhi gizi dari ternak tersebut. Salah satu legum yang digunakan sebagai
penambah konsentrat adalah kacang kedelai. Kedelai merupakan salah satu
sumber protein nabati dengan kandungan 39%, dan 2% dari seluruh rakyat
Indonesia memperoleh sumber kalori dari kedelai, kedelai telah menjadi bagian
makanan sehari-hari bangsa Indonesia selama lebih dari 200 tahun dan diakui
mempunyai nilai gizi tinggi oleh dunia internasional (Sutarya et al., 1995).

1
Tanaman legum di daerah tropis berdasarkan lingkungannya dibedakan
menjadi beberapa macam. Di lingkungan tropis basah banyak ditumbuhi oleh
legum jenis kalopo, sentrsoma dan dismodium. Di lingkungan tergenang
sementara terdapat rumput spesies Pahaseolus lathyroides. Di lingkungan
tropis kering terdapat rerumputan jenis Stylosantes, Dolichos, Cajanus,
Medicago dan Trifolium yang mempunyai sifat tumbuh annual. Sedangkan di
daerah pegunungan terdapat jenis rumputTrifolium, jenis ini biasanya
memerlukan air yang cukup banyak (Reksohadiprodjo, 1995).
Leguminosa sering digunakan oleh peternak untuk tujuan tertentu,
disamping sebagai sumber zat–zat pakan. Apabila dicampur dengan graminae
akan baik karena merupakan gabungan antara bahan pakan yang kaya akan
zat–zat pakan dan sifat mengisi dari graminae. Legum mengandung serat yang
dibutuhkan ternak dan juga protein dan zat hijau (Parakkasi, 2009).

1.2.Tujuan dan Kegunaan Praktik Kerja Lapangan (PKL)


1.2.1. Tujuan Kegiatan
Adapun tujuan Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui cara manajemen pengelolaan Leguminosa.
2. Untuk mengetahui permasalahan atau kendala yang ada d BPT-HMT
serading terutama dalam pengolahan Leguminosa.

1.2.2. Kegunaan Kegiatan


Adapun kegunaan Praktik Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut:
a. Bagi Mahasiswa
1. Mengetahui dan mampu mengaplikasikan teknik dalam pengolahan
leguminosa pada kehidupan sehari hari.
2. Mendapatkan pengalaman kerja sehingga nantinya siap didunia kerja.

b. Bagi Fakultas
Bagi fakultas praktik kerja lapangan ini berguna sebagai bahan acuan dan
masukan masalah-masalah yang dihadapi peternak rakyat atau perusahaan terkit

2
sehingga kegiatan ini menjadi bahan acuan dalam pengembangan fakultas
kedepannya untuk pengabdian dlam peternakan rakyat atau perusahaan.

c. Bagi BPT-HMT Serading


1. BPT-HMT Serading akan terbantu dengan adanya kegiatan ini.
2. BPT-HMT Serading dapat mengetahui cara dan teknik dalam menerapkan
berbagai pakan yang baik

3
BAB II
KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANG

2.1. Gambaran Umum Lokasi PKL

DENAH LOKASI BPT HMT SERADING

Gambar. 1 Denah BPT-HMT Serading

Balai Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT)


Serading ini terletak dijalur Bypass Sumbawa – Bima ,tepatnya berada di desa
Serading Kecamatan Moyo Hilir Kabupaten Sumbawa Provinsi NTB. Jarak antara
Kota Sumbawa dengan desa Serading sekitar ± 11 km. Balai pembibitan Ternak
dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Serading memiliki lahan dengan luas
42,52 Ha. Iklim dan curah hujan lokasi BPT-HMT termasuk kedalam tipe B
(Smith dan Fesguson) yang berada dalam pengaruh musim hujan.

4
Temperatur rata-rata antara 20-36 oC dan kelembaban antara 76% dengan
curah hujan 1.180 mm per tahun.

2.2. Profil Balai Perbibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Serading
BPT-HMT Serading dibentuk berdasarkan surat keputusan mentan RI
No.313/kpts/org/5/1978 tanggal 25 Mei 1978 sebagai UPT yang bernaung
dibawah Ditjen peternakan.
Dengan bergulirnya otonomi daerah tahun 2001, BPT-HMT Serading
dilimpahkan ke PEMPROV NTB dengan PERDA No. 3 tahun 2002 tanggal 24
Agustus 2002.
Tahun 2008 degan PP No. 41 tahun 2007 ,BPT-HMT Serading ditetapkan
kembali menjadi UPTD Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi NTB
melalui PERGUB No.23 tahun 2008.

A. Fungsi dan Tugas Pokok BPT-HMT Serading


BPT-HMT Serading mempunyai fungsi dn tugas pokok sebagai berikut:
a. Fungsi
1. Sebagai tempat analisis teknis kegiatan pembibitan ternak dan hijauan
makanan ternak.
2. Tempat pengujian, penerapan kegiatan teknilogi pembibitan dan hijauan
makanan ternak.
3. Melaksanakan kebijaksanaan teknis kegiatan pembibitan dan hijauan
makanan ternak.
4. Pengelolaan administrasi keuangan.
b. Tugas pokok
BPT-HMT Serading mempuyai tugas melaksanakan sebagai tugas teknis
pembibitan ternak dan hijauan makanan ternak dinas peternakan dan keswan
provinsi nusa tenggara barat .

B. Visi, Misi dan Motto BPT-HMT Serading


BPT-HMT Serading juga mempunyai visi,misi dan motto yaitu sebagai
berikut:

5
 Visi
Terciptanya BPTHMT Serading yang handal dalam rangka menyediakan
bibit ternak dan benih HMT yang memenuhi standar mutu dalam rangka
mendukung NTB-BSS dan PSDSK

 Misi
1. Melakukan seleksi ternak yang ketat dan berkesinambungan
2. Meningkatkan populasi ternak dan benih HMT yang berkualitas
3. Melaksanakan uji mutu benih HMT
4. Menyediakan sarana dan prasarana pelatihan dalam rangka peningkatan
kualitas SDM bidang peternakan
5. Melaksanakan uji coba teknologi tepat guna
6. Melaksakan bimbingan teknis bidang peternakan

 Motto
SATU ANAK,SATU INDUK,SATU TAHUN

2.3. Macam-Macam Kegiatan yang Dilakukan


1. Pemilihan lahan
Pemilihan lahan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam
menentukan tempat atau lokasi yang yang akan dijadikan sebagai lahan
penanaman hijauan makanan ternak, baik sebagai padang penggembalaan
maupun sebagai produksi potongan yang dapat dibudidayakan. Pemilihan lahan
dilakukan dengan proses wawancara dengan Fasilitator Lapangan.

2. Pengolahan Tanah
Dalam Praktek Kerja Lapang jenis pengolahan yang dilakukan adalah
TOT (Tanpa Olah Tanah). Sistem tanpa olah tanah adalah suatu sistem olah tanah
yang bertujuan untuk menyiapkan lahan untuk menyiapkan lahan agar tanaman
dapat tumbuh berproduksi optimum, dengan tetap memperhatikan konservasi
tanah dan air. Teknologi tanpa olah tanah merupakan rumpun teknologi olah tanah
konservasi (OTK) paling ekstrim. Pengolahan tanah pada sistem TOT hanya

6
membuat lubang tanam menggunakan kayu atau mencangkul hanya untuk lubang
tanam. Ada beberapa unsur hara yang terdapat pada tanah meliputi Kalsium (Ca),
Kalium (K), Nitrogen (N), Pospor (P), Sufur (S), Magnesium (Mg), Besi (Fe),
Tembaga (Cu), Zenk (Zn) dan Mangan (Mn).

3. Penanaman Leguminosa
Penanaman dilakukan dengan menggunakan anakan. Jenis Leguminosa
yang ditanam yaitu Indigofera (Indigofera zollingeriana). Indigofera ini bisa
dibibit secar generatif biji maupun vegetatif cangkok. Apabila indigofera
dimanfaatkannya sebagai pakan ternak, maka yang kita pilih ialah teknik
pembibitan yang kan menghasilkan tanaman berdaun lebat serta berusia panjang.
Maka dari itu, teknik pembibitan yang lebih dipakai ialah secara generatif biji.
Keuntungan yang diperoleh dari teknik generatif biji dibanting vegetatif ialah akar
tanaman yang lebih kuat, ukuran tanaman yang lebih besar dan usia tanaman yang
lebih lama. Penanaman yang dilakukan di BPT-HMT Serading adalah
menggunakan anakan dalam polibek yang langsung dipindahkan pada lubang
yang akan ditanam dengan jarak tanam 5m x 5m. Dengan jarak tanam seperti ini
dapat mempermudah dalam proses pemanenan serta penyiangan pada tanaman
indigofera.

4. Pemeliharaan

1. Penyiangan Tanaman

Umumnya penyiangan tanaman dilakukan dengan menyesuaikan


dengan kondisi gulma di lahan penanaman. Penyiangan bertujuan agar
tanaman-tanaman penganggu yang dapat merusak tanaman inti dapat di
antisipasi perkembangannya.

2. Pembubunan Tanaman

Pembubunan atau pendangiran tanaman adalah menaikkan tanah


untuk menimbun pangkal batang dan area perakaran tanaman supaya
tanaman kokoh dan tidak mudah roboh saat diterpa angin. Pembubunan

7
juga berfungsi untuk menutup pupuk agar tidak hanyut tersiram air hujan
atau menguap terkena sinar matahari.

3. Pengairan/penyiraman

Pengairan atau penyiraman tanaman dilakukan yaitu menggunakan


selang yang disiram langsung ketanaman. Penyiraman pada tanaman
dilakukan 3 kali dalam seminggu. Penyiraman pada tanaman beetujuan
untuk mempercepat pertumbuhan pada tanaman sehingga mampu bertahan
hidup.

4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Pupuk yang
digunakan adalah pupuk urea. Pemupukan bertujuan untuk
mengoptimalkan pertumbuhan dari legum. Pemupukan dilakukan untuk
memberikan zat-zat makanan pada tanaman, dalam mempertahankan
kesuburan tanah, pH tanah dan memperbaiki struktur tanah. Pemupukan
dilakukan dengan cara menabur pupuk disekitar tanaman (jangan sampai
terkena legum), dikarenakan akan membuat tanaman atau legum menjadi
mati.

8
BAB III
HASIL PRAKTIK KERJA LAPANG

3.1. Pemilihan Lahan


Pemilihan lahan merupakan salah satu cara yang digunakan dalam
menentukan tempat atau lokasi yang yang akan dijadikan sebagai lahan
penanaman hijauan makanan ternak, baik sebagai padang penggembalaan
maupun sebagai produksi potongan yang dapat dibudidayakan. Pemilihan
lahan dilakukan dengan proses wawancara dengan Fasilitator Lapangan.
Adapun faktor-faktor yang penting diperhatikan dalam menentukan lokasi
penanaman rumput unggul yaitu sebagai berikut :
1. Kesuburan tanah dan topografi
Tanah dengan kualitas bagus diprioritaskan untuk tanaman pangan
guna dapat mencukupi kebutuhan pokok. Adapun di BPT-HMT Serading
jenis tanah meliputi tanah liat berlempeng dengan warna coklat kekuningan,
berstruktur padat dan bertekstur liat berlempung dengan pH 6,5-7,1.
Topografi tanah di BPT-HMT Serading adalah datar sampai berbukit
dengan ketinggian sekitar 75 M DPL.
2. Sumber Air
Sumber air yang digunakan di sumur Boor yang ditarik dengan
mesin dan dialirkan ke maasing-masing kandang, kemudian dari kandang
terdekat disambung menggunakan selang ataupun menggunakan ember
yang langsung di ambil dari bak penampung pada kandang.
3. Sarana Transportasi
Sarana transportasi dari lokasi penanaman tergolong mudah untuk
pengangkutan hasil panen karena lokasi penanaman berdekatan dengan
jalan yang umum dilalui.
3.2. Pengolahan Lahan
Dalam Praktik Kerja Lapang praktikan menggunakan sistem tanpa
olah tanah.

9
Gambar 2. Membuat Lubang Tanam untuk
Indigofera (Indigofera zollingeriana)

Sistem tanpa olah tanah adalah suatu sistem olah tanah yang bertujuan
untuk menyiapkan lahan untuk menyiapkan lahan agar tanaman dapat tumbuh
berproduksi optimum, dengan tetap memperhatikan konservasi tanah dan air.
Teknologi tanpa olah tanah merupakan rumpun teknologi olah tanah konservasi
(OTK) paling ekstrim. Pengolahan tanah pada sistem TOT hanya membuat lubang
tanam menggunakan kayu atau mencangkul hanya untuk lubang tanam. Ada
beberapa unsur hara yang terdapat pada tanah meliputi Kalsium (Ca), Kalium (K),
Nitrogen (N), Pospor (P), Sufur (S), Magnesium (Mg), Besi (Fe), Tembaga (Cu),
Zenk (Zn) dan Mangan (Mn).
a. Kelebihan dan kekurangan metode TOT
Metode tanpa olah tanah memiliki kelebihan dan kekurang.
Berikut ini kelebihan penerapan metode tanpa olah tanah:
1. Menyingkat waktu karena tidak perlu melakukan pengolahan tanah
terlebih dahulu.
2. Menghemat tenaga kerja.
3. Menghindari kerusakan tanah, karena tanah yang terlalu sering dibalik
dan digemburkan akan mengalami pengerasan dalam jangka panjang.
Selain itu tanah yang dibajak atau digemburkan akan terbuka,
sehingga ada potensi hilangnya mineral tanah.

10
4. Mengurangi erosi lapisan hara tanah bagian atas karena proses
pengolahan.
b. Sementara itu kekurangan metode tanpa olah tanah antara lain:
1. Ada kemungkinan tanah telah ditumbuhi gulma yang bisa
mengganggu pertumbuhan tanaman.
2. Karena tanah tidak dibuka ada kemungkinan sisa-sisa hama yang
masih berkembang biak di atas lahan, dan bisa mengganggu
pertumbuhan tanaman berikutnya.

3.3. Penanaman Leguminosa (indigofera)

Gambar 4. Penanaman Leguminosa indigofera

Penanaman dilakukan dengan menggunakan anakan. Jenis Leguminosa


yang ditanam yaitu Indigofera (Indigofera zollingeriana). Indigofera ini bisa
dibibit secar generatif biji maupun vegetatif cangkok. Apabila indigofera
dimanfaatkannya sebagai pakan ternak, maka yang kita pilih ialah teknik
pembibitan yang kan menghasilkan tanaman berdaun lebat serta berusia panjang.
Maka dari itu, teknik pembibitan yang lebih dipakai ialah secara generatif biji.
Keuntungan yang diperoleh dari teknik generatif biji dibanting vegetatif ialah akar
tanaman yang lebih kuat, ukuran tanaman yang lebih besar dan usia tanaman yang
lebih lama. Penanaman yang dilakukan di BPT-HMT Serading adalah
menggunakan anakan dalam polibek yang langsung dipindahkan pada lubang

11
yang akan ditanam dengan jarak tanam 5m x 5m. Dengan jarak tanam seperti ini
dapat mempermudah dalam proses pemanenan serta penyiangan pada tanaman
indigofera.

3.4. Pemeliharaan

1. Penyiangan Tanaman

Umumnya penyiangan tanaman dilakukan dengan menyesuaikan


dengan kondisi gulma di lahan penanaman. Penyiangan bertujuan agar
tanaman-tanaman penganggu yang dapat merusak tanaman inti dapat di
antisipasi perkembangannya.

2. Pembubunan Tanaman

Pembubunan atau pendangiran tanaman adalah menaikkan tanah


untuk menimbun pangkal batang dan area perakaran tanaman supaya
tanaman kokoh dan tidak mudah roboh saat diterpa angin. Pembubunan
juga berfungsi untuk menutup pupuk agar tidak hanyut tersiram air hujan
atau menguap terkena sinar matahari.

3. Pengairan/penyiraman

Pengairan atau penyiraman tanaman dilakukan yaitu menggunakan


selang yang disiram langsung ketanaman. Penyiraman pada tanaman
dilakukan 3 kali dalam seminggu. Penyiraman pada tanaman beetujuan
untuk mempercepat pertumbuhan pada tanaman sehingga mampu bertahan
hidup.

4. Pemupukan
Pemupukan dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Pupuk yang
digunakan adalah pupuk urea. Pemupukan bertujuan untuk
mengoptimalkan pertumbuhan dari legum. Pemupukan dilakukan untuk
memberikan zat-zat makanan pada tanaman, dalam mempertahankan
kesuburan tanah, pH tanah dan memperbaiki struktur tanah. Pemupukan

12
dilakukan dengan cara menabur pupuk disekitar tanaman (jangan sampai
terkena legum), dikarenakan akan membuat tanaman atau legum menjadi
mati.

3.5. Pengukuran Laju Pertumbuhan Legum Pohon (Indigofera)


Pengukuran laju pertumbuhan tanaman hijauan makanan ternak
merupakan salah satu cara untuk mengukur apakah suatu tanaman tumbuh atau
tidak secara biologis. Hasil pengukuran pertumbuhan ini dapat memberikan suatu
gambaran produksi tanaman yang dikelolah. Pertumbuhan hijauan makanan
ternak yang akan diukur adalah tinggi tanaman (cm). pengukuran dilakukan
dengan cara diukur dari pangkal batang yakni dari permukaan sampai keujung
daun yang paling tinggi. Praktikan mengukur laju pertumbuhan tanaman sekali
seminggu menggunakan alat ukur pada setiap tanaman yang ditanam. Pengukuran
total tingg tanaman dari permukaan tanah sampai ujung bagian atas tanaman
(Ibrahim 2001).
Pengukuran laju pertumbuhan legum pohon (indigofera) disajikan pada
tabel 1.
Tabel 1. Hasil pengukuran pertumbuhan legum pohon (indigofera)
No Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3 Minggu 4
1 26 30 42 54
2 33 35 35 39
3 32 41 52 62
4 20 26 29 32
5 24 29 32 35
6 31 35 38 42
7 21 25 28 34
8 32 40 43 45
9 35 39 46 49
10 30 35 41 47
11 25 29 34 44
12 20 28 33 39
13 28 33 39 46
14 30 38 45 52
15 34 40 44 50
Jumlah 421 503 581 670
Rata-rata 28,1 33,5 38,7 44,7

13
Berdasarkan tabel 1, terlihat bahwa rata-rata tinggi tanaman Indigofera
yang diukur setiap minggu memberikan nilai tinggi tanaman yang terus meningkat
yaitu pada minggu pertama 28,1 cm, minggu ke dua 33,5 cm, minggu ketiga 38,7
cm, dan minggu ke empat 44,7 cm. Selama masa PKL rata-rata pertumbuhan
tanaman Indigofera yang ditanam adalah 16,6 cm. Hasil tersebut tidak sejalan
dengan yang di dapat oleh Juwita (2016) yang menyatakann bahwa rata-rata
tinggi tanaman perminggu yang diukur yaitu 7,7 cm, sedangkan pada PKL didapat
5,4 cm. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya air, tanah dan nutrisi
yang ada, sesuai dengan yang dikemukakan oleh Waris dan Sugen (2008) yang
menyatakan bahwa Fakto faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan dapat dibedakan menjadi faktor internal dan faktor Eksternal.
Faktor internal dalam yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
tanaman berasal dari genetic dan hormonal, sedangkan faktor ekternal yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman berasal faktor
lingkungan yaitu makanan dan nutrisi, suhu, cahaya, air, dan kelembaban dan
tanah. Selain dari pada itu waktu penanaman juga sangat menjadi faktor penting
bagi pertumbuhan dari tanaman. Penanaman indigofera dilakukan pada musim
kemarau sehingga laju pertumbuhan dari Indigofera sangat rendah. Menurut
Hasan (2012), tanaman hijauan pakan tumbuh dan berkembang karena disokong
oleh faktor-faktor tumbuhnya. Faktor-faktor tumbuh hijauan meliputi tanah, iklim.
Air, spesies tanaman dan tata laksana/teknis budidaya. Pada pertumbuhan, setiap
jenis tanaman sangat memerlukan lingkungan tanah dengan reaksi tanah tertentu.
Pada umumnya reaksi tanah yang optimal pada pH 6,5

14
BAB IV
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN

4.1 Permasalahan Selama PKL


Setelah dilakukan kegiatan PKL terdapat beberapa masalah yang
dihadapi mengenai manajemen pengelolaan leguminosa unggul di Balai
Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak (BPT-HMT) Serading yang
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Ketersediaan lahan penanaman leguminosa di koleksi masih kurang
2. Banyaknya gulma yang tumbuh di sekitar tanaman inti

4.2 Pemecahan Masalah


Berdasarkan permasalahan atau kendala-kendala yang diperoleh selama
Praktik Kerja Lapang di BPT-HMT Serading maka pemecahan dari masalah
tersebut adalah sebagai berikut :

1. Ketersediaan Lahan Penanaman Legum Koleksi Masih Kurang


Ketersediaan tempat penanaman akan menyebabkan legume BPT-HMT
Serading akan menurunkan kualitas pertumbuhan dan perkembangannya
karena legume pohon sedikit di lakukan pemindahan ke lahan yang lebih besar.
Dengan demikian untuk mengatasi hal tersebut dapat diselesaikan dengan cara
pegawai sebaiknya memindahkan legume pohon pada waktu yang tepat,
sehingga dapat memperbanyak jenis legume pohon yang ada di BPT-HMT
Serading serta dengan demikian dapat memenuhi ketersediaan pakan ternak
yang umum diberikan di BPT-HMT Serading.

2. Banyaknya Gulma yang Tumbuh Bersamaan Rumput Unggul


Gulma yang tumbuh bersamaan dengan tanaman inti menyebabkan
pertumbuhan dan perkembangan indigofera menjadi terhambat dan produksi
berkurang karena adanya persaingan dalam perebutan unsur hara tanah
sehingga dapat mengakibatkan tanaman inti terganggu. Permasalahan tersebut
dapat diatasi dengan cara sebagai berikut :

15
a. Sebelum penanaman dimulai dilakukan penyemprotan lahan dengan
pestisida gulma untuk menghambat pertumbuhan gulma
b. Awal penanaman legum lahan harus digemburkan dengan baik sehingga
bibit-bibit gulma bisa hilang
c. Penanaman legume harus diberikan jarak sehingga mempermudah dalam
penyianagan setelah rumput tumbuh
d. Pemberantasan hama/gulma jika masih ada yang tumbuh bersamaan dengan
tanaman inti
e. Pemeliharaan dilakukan dengan baik dan teratur

16
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari hasil Praktik Kerja Lapangan
yang telah dilalkukan adalah :
1. Manajemen pengolahan legum meliputi; pemilihan lahan, Pengolahan
lahan, Penanaman, pemeliharaan yang meliputi penyiangan, pembubunan,
penyiraman, pemupukan dan pengukuran laju pertumbuhan.
2. Pengukuran laju pertumbuhan (Indigofera zollingeriana) adalah rata-rata
tinggi tanaman Indigofera yang diukur setiap minggu memberikan nilai
tinggi tanaman yang terus meningkat yaitu pada minggu pertama 28,1 cm,
minggu ke dua 33,5 cm, minggu ketiga 38,7 cm, dan minggu ke empat
44,7 cm.

5.2 Saran
Sebaiknya dibuat suatu tempat atau lahan khusus untuk menanam
leguminosa seperti Indigofera sehingga peternak mudah untuk mencari pakan
ternak mereka berupa legum. Selain itu leguminosa tahan terhadap musim
kemarau, sehingga dapat menjadi pakan alternative saat peternak kekurangan
pakan untuk diberikan pada ternak mereka.

17
DAFTAR PUSTAKA

AAK. 2003. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Yayasan
Kanisius,Yogyakarta

Hasan, S. 2012. Hijauan Pakan Tropik. IPB Prees. Bogor

Juwita, I. 2016. Pengaruh Berbagai Jenis Media Tumbuh Organik Terhadap


Pertumbuhan Bibit Legum Tanaman Nila (Indigofera Sp.)

Pramana, A.A, Fauzi, M.A., Widyani, N. Heriansyah, I. Dan Roshetko, J.M. 2010.
Panduan Lapangan Untuk Pertanian. CIFOR, Bogor

Parrakkasi, Aminudin.2009. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. UI.


Jakarta

Reksohadiprodjo, Soedomo. 1995. Pengantar Ilmu Peternakan Tropik. Gadjah


Mada University. Yogyakarta

Sutarya, R dan Grubben, G. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran


Rendah. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta

Waris dan Sagen. 2008. Ilmu Pengetahuan Alam. Pusat Perbukuan Departemen
Pendidikan Nasional. Jakarta

18
LAMPIRAN

KEGIATAN PRAKTIK KERJA LAPANG

Gambar. Pengolahan tanah Gambar. Penanaman indigofera

Gambar. Pemupukan indigofera Gambar.

Gambar. Lamtoro gung (Leucaena Gambar. Turi (Sesbania grandiflora)


leucocephal ) mulai tumbuh mulai tumbuh

19
Gambar. Tempat penanaman legume Gambar. Pengambilan legume

Gambar. Pengangkutan Hay Gambar. Pengukuran rumput pada


pastura

Gambar. Pengangkutan rumput Gambar. Pemindahan pipa pada


pastura

20
Gambar. Penggemburan Tanah Gambar. Padang penggembalaan

Gambar. Indigofera (Indigofera zoliingeriana) Gambar. Lamtoro mini


(Desmanthus virgathus)

Gambar. Lamtoro gung (Leucaena Gambar. Turi (Sesbania grandiflora)


Leucocephala)

21