Anda di halaman 1dari 16

KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS

1. TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, anda diharapkan dapat :
Melakukan analisa sampel (zat warna) secara kromatografi lapis tipis

2. ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN


 ALAT
• Pelat TLC
• Chamber Kromatografi
• Pipa kapiler
• Gelas kimia
• Gelas ukur
• Sinar UV
• Pipet Ukur
• Bola Karet
 BAHAN
• Toluena
• Metanol
• Sikloheksana
• Etanol
• Zat warna tinta Printer

3. DASAR TEORI
Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah salah satu metode
pemisahan komponen menggunakan fasa diam berupa plat dengan lapisan
bahan adsorben inert. KLT merupakan salah satu jenis kromatografi
analitik. KLT sering digunakan untuk identifikasi awal, karena banyak
keuntungan menggunakan KLT, di antaranya adalah sederhana dan murah.
KLT termasuk dalam kategori kromatografi planar, selain kromatografi
kertas.
Kromatografi Lapis Tipis Yaitu kromatografi yang menggunakan
lempeng gelas atau alumunium yang dilapisi dengan lapisan tipis alumina,
silika gel, atau bahan serbuk lainnya. Kromatografi lapis tipis pada
umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada pemisahan dengan
kromatografi. Kromatografi lapis tipis digunakan untuk pemisahan
senyawa secara cepat, dengan menggunakan zat penjerap berupa serbuk
halus yang dipaliskan serta rata pada lempeng kaca. Lempeng yang
dilapis, dapat dianggap sebagai “kolom kromatografi terbuka” dan
pemisahan dapat didasarkan pada penyerapan, pembagian atau
gabungannya, tergantung dari jenis zat penyerap dan cara pembuatan
lapisan zat penyerap dan jenis pelarut. Kromatografi lapis tipis dengan
penyerap penukar ion dapat digunakan untuk pemisahan senyawa polar.
Harga Rf yang diperoleh pada kromatografi lapis tipis tidak tetap, jika
dibandingkan dengan yang diperoleh pada kromatografi kertas. Oleh
karena itu pada lempeng yang sama di samping kromatogram zat yang di
uji perlu dibuat kromatogram zat pembanding kimia, lebih baik dengan
kadar yang berbeda-beda (Dirjen POM, 1979, hal. 782).

Peralatan KLT
Kromatografi lapis tipis menggunakan plat tipis yang dilapisi
dengan adsorben seperti silika gel, aluminium oksida (alumina) maupun
selulosa. Adsorben tersebut berperan sebagai fasa diam.
Fasa gerak yang digunakan dalam KLT sering disebut dengan
eluen. Pemilihan eluen didasarkan pada polaritas senyawa dan biasanya
merupakan campuran beberapa cairan yang berbeda polaritas, sehingga
didapatkan perbandingan tertentu. Eluen KLT dipilih dengan cara trial and
error.Kepolaran eluen sangat berpengaruh terhadap Rf (faktor retensi)
yang diperoleh.

Faktor Retensi
Nilai Rf sangat karakterisitik untuk senyawa tertentu pada eluen
tertentu. Hal tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya
perbedaan senyawa dalam sampel. Senyawa yang mempunyai Rf lebih
besar berarti mempunyai kepolaran yang rendah, begitu juga sebaliknya.
Hal tersebut dikarenakan fasa diam bersifat polar. Senyawa yang lebih
polar akan tertahan kuat pada fasa diam, sehingga menghasilkan nilai Rf
yang rendah.
Rf KLT yang bagus berkisar antara 0,2 – 0,8. Jika Rf terlalu tinggi,
yang harus dilakukan adalah mengurangi kepolaran eluen, dan sebaliknya.
Jarak antara jalannya pelarut bersifat relatif. Oleh karena itu, diperlukan
suatu perhitungan tertentu untuk memastikan spot yang terbentuk memiliki
jarak yang sama walaupun ukuran jarak plat nya berbeda. Nilai
perhitungan tersebut adalah nilai Rf, nilai ini digunakan sebagai nilai
perbandingan relatif antar sampel. Nilai Rf juga menyatakan derajat
retensi suatu komponen dalam fase diam sehingga nilai Rf sering juga
disebut faktor retensi.]Nilai Rf dapat dihitung dengan rumus berikut :

jarak yang ditempuh zat warna


Rf = jarak yang ditempuh pelarut
Semakin besar nilai Rf dari sampel maka semakin besar pula jarak
bergeraknya senyawa tersebut pada plat kromatografi lapis tipis. Saat
membandingkan dua sampel yang berbeda di bawah kondisi kromatografi
yang sama, nilai Rf akan besar bila senyawa tersebut kurang polar dan
berinteraksi dengan adsorbent polar dari plat kromatografi lapis tipis.
Nilai Rf dapat dijadikan bukti dalam mengidentifikasikan senyawa.
Bila identifikasi nilai Rf memiliki nilai yang sama maka senyawa tersebut
dapat dikatakan memiliki karakteristik yang sama atau mirip. Sedangkan,
bila nilai Rfnya berbeda, senyawa tersebut dapat dikatakan merupakan
senyawa yang berbeda.
Kromatografi digunakan untuk memisahkan substansi campuran
menjadi komponen-komponennya. Seluruh bentuk kromatografi berkerja
berdasarkan prinsip ini.Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatanperambatan komponen dalam medium
tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan
antara dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak.Fase diam akan
menahan komponen campuran sedangkan fase gerak akanmelarutkan zat
komponen campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fasediam
akan tertinggal. Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak
akanbergerak lebih cepat. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat
berupa padatan,atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa
cairan atau gas). Fase gerakmengalir melalui fase diam dan membawa
komponen-komponen yang terdapat dalamcampuran. Komponen-
komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda
Proseskromatografi juga digunakan dalam metode pemisahan komponen
gula dari komponennon gula dan abu dalam tetes menjadi fraksi-fraksi
terpisah yang diakibatkanolehperbedaan adsorpsi, difusi dan eksklusi
komponen gula dan non gula tersebut terhadap adsorbent dan eluent yang
digunakan.
Pelaksaanan kromatografi lapis tipis menggunakan sebuah lapis
tipis silika atau aluminayang seragam pada sebuah lempeng gelas atau
logam atau plastik yang keras. Jel silika(atau alumina) merupakan fase
diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipisseringkali juga mengandung
substansi yang mana dapat berpendar flour dalam sinarultra violet.Fase
gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang sesuai. Fase
diamlainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium oksida.
Atom aluminium padapermukaan juga memiliki gugus -OH. Apa yang kita
sebutkan tentang jel silikakemudian digunakan serupa untuk alumina.
Dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang berperan
penting pada proses elusibagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa
diam (adsorbent). Interaksi antaraadsorbent dengan eluent sangat
menentukan terjadinya pemisahan komponen. Olehsebab itu pemisahan
komponen gula dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh lajualir
eluent dan jumlah umpan. Eluent dapat digolongkan menurut ukuran
kekuatanteradsorpsinya
pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam
hal iniyang banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah
lapis tipis silika.Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut.
Suatu pelarut yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut
yang relatif tak polar dari ikatannyadengan alumina (jel silika).

Sampel (Zat Pewarna)


Pewarna adalah bahan tambahan makanan yang dapat memperbaiki
atau memberi warna pada makanan. Zat warna adalah senyawa organik
berwarna yang digunakan untuk memberi warna suatu objek.
Penentuan mutu bahan makanan pada umumnya sangat bergantung
pada beberapa faktor, diantaranya cita rasa, warna, tekstur dan nilai
gizinya. Disamping itu ada faktor lain, misalnya sifat mikrobiologis.
Tetapi sebelum faktor-faktor lain dipertmbangkan, secara visual faktor
warna tampil dahulu dan kadang-kadang sangat menentukan.
Selain sebagai fungsi yang menentukan mutu, warna juga dapat
digunakan sebagai indikator kesegaran atau kematangan, baik tidaknya
pencampuran atau cara pengolahan dapat ditandai adanya warna yang
seragam dan merata.
Penambahan bahan pewarna pada pangan dilakukan untuk
beberapa tujuan antara lain memberi kesan menarik, menyeragamkan
warna makanan, menstabilkan warna, menutupi perubahan warna selama
proses pengolahan, dan mengatasi perubahan warna selama penyimpanan.

Ada 5 sebab yang dapat menyebabkan suatu bahan makanan berwarna,


yaitu :
a. Pigmen yang secara alami terdapat pada tanaman dan hewan,
misalnya klorofil berwarna hijau, karoten berwarna jingga, dan
mioglobin menyebabkan warna merah pada daging.
b. Reaksi karamelisasi yang timbul bila gula dipanaskan membentuk
warna coklat pada kembang gula, karamel atau roti yang dibakar.
c. Warna gelap yang timbul karena adanya reaksi Maillard, yaitu
antara gugus amino protein dan gugus karbonil gula pereduksi.
Misalnya susu bubuk yang disimpan lama akan berwarna gelap.
d. Reaksi antara senyawa organik dengan udara akan menghasilkan
warna hitam atau coklat gelap. Reaksi oksidasi ini dipercepat oleh
adanya logam serta enzim, misalnya warna gelap permukaan apel
atau kentang yang dipotong.
e. Penambahan zat warna, baik zat warna alami ataupun zat warna
sintetik, yang termasuk golongan bahan aditif makanan.

Jenis Zat Pewarna


Aneka jenis pewarna ini ada yang berupa bubuk, pasta atau cairan.
ada dua jenis zat pewarna yaitu certified color dan unceretified color.
Certified color merupakan zat pewarna sintetik yang terdiri dari dye dan
lake, sedangkan uncertified color adalah zat pewarna yang berasal dari
bahan alami.

Identifikasi Jenis Pewarna dengan KLT


Kromatografi secara luas digunakan untuk pemisahan pewarna
makanan sintetik. Kromatografi kertas telah digunakan pada tahun 1950.
Pada tahun 1970an, penggunaan KLT lebih disukai oleh banyak
laboratorium. Teknik ini masih digunakan oleh banyak laboratorium
karena peralatan yang digunakan sederhana. Namun telah dikembangkan
metode baru yang memberikan keuntungan yang lebih besar, seperti
HPLC dan elektroforesis kapiler (Wirasto, 2008).
Prinsip kerjanya memisahkan sampel berdasarkan perbedaan
kepolaran antara sampel dengan pelarut yang digunakan. Teknik ini
biasanya menggunakan fase diam dari bentuk plat silika dan fase geraknya
disesuaikan dengan jenis sampel yang ingin dipisahkan. Larutan atau
campuran larutan yang digunakan dinamakan eluen Semakin dekat
kepolaran antara sampel dengan eluen maka sampel akan semakin terbawa
oleh fase gerak tersebut.
4. PROSEDUR PERCOBAAN
 Menyediakan pelat yang telah selesai dilapisi
 Meneteskan cuplikan dengan menggunakan pipa kapiler pada
permukaan pelat
 Memasukkan pelat ke dalam chamber yang telah diisi
sikloheksan+etanol (I) dan toluene+methanol(II)
 Tetesan yang berada pada pelat tidak boleh terendam pelarut.
 Membiarkan pelarut naik perlahan-lahan sepanjang pelat hingga
hampir dicapai ujung yang lain dari pelat. Tandai batas perjalanan
pelarut
 Membiarkan pelat kering dan bandingkan harga Rr dari noda-noda
yang terbentuk.
5. DATA PENGAMATAN

Pelarut : Metanol 40% + Toluena 60% sebanyak 150 mL

Jarak Jarak
No. Sampel Warna Noda Komponen Pelarut Rf
(cm) (cm)
Pewarna Kuning Muda 2,7 0,5094
1 5,3
Kuning Kuning Tua 3,3 0,6226
Ungu Pias 1,7 0,3207
Pewarna
2 Ungu Pekat 3,5 5,3 0,6604
Hitam
Coklat Kehitaman 3,8 0,7169
Pewarna Biru Muda 2 0,3773
3 5,3
Biru Biru Tua 4,1 0,7736
Pewarna Pink Muda 2,6 0,4905
4 5,3
Pink Pink Tua 3,3 0,6226

Pelarut : Etanol 40% + SikloHeksan 60% sebanyak 250 mL

No. Sampel Warna Noda Jarak Jarak Rf


Komponen Pelarut
(cm) (cm)
1 Pewarna Kuning Muda 0,8 4,0 0,2000
Kuning Kuning Tua 1,3 0,3250
2 Pewarna Ungu Pias 0,7 4,0 0,1750
Hitam Ungu Pekat 1,4 0,3500
Coklat Kehitaman 2,2 0,5500
3 Pewarna Biru Muda 0,49 4,0 0,1225
Biru Biru Tua 2 0,5000
4 Pewarna Pink Muda 1,5 4,0 0,3750
Pink Pink Tua 2,2 0,5500
6. PERHITUNGAN

Perhitungan Rf (Campuran 40% Methanol dan 60% Toluene


Volume 150 ml)

 Sampel Pewarna Kuning


1. Warna Kuning Muda
Dik : Jarak Komponen : 2,7 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2,7𝑐𝑚
Rf = = = 0,5094
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

2. Warna Kuning Muda


Dik : Jarak Komponen : 3,3cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 3,3 𝑐𝑚
Rf = = 5,3 = 0,6226
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Hitam


1. Warna Ungu Pias
Dik : Jarak Komponen : 1,7 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 1,7 𝑐𝑚
Rf = = = 0,4857
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

2. Warna Ungu pekat


Dik : Jarak Komponen : 3,5 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 3,5 𝑐𝑚
Rf = 𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡
= 5,3 𝑐𝑚
= 0,6603
3. Warna Hitam Kecoklatan
Dik : Jarak Komponen : 3,8 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 3,8 𝑐𝑚
Rf = = = 0,7169
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Biru


1. Warna Biru Muda
Dik : Jarak Komponen : 2 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2 𝑐𝑚
Rf = = = 0,3773
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

2. Warna Biru Tua


Dik : Jarak Komponen : 4,1 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 4,1 𝑐𝑚
Rf = = = 0,7735
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Merah


1. Warna Pink Muda
Dik : Jarak Komponen : 2,6 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2,6 𝑐𝑚
Rf = = = 0,4905
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚

2. Warna Pink Tua


Dik : Jarak Komponen : 3,3 cm
Jarak Pelarut : 5,3 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 3,3 𝑐𝑚
Rf = = = 0,6226
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 5,3 𝑐𝑚
Perhitungan Rf (Campuran 40% Etanol dan 60% Sikloheksana
Volume 250 ml)

 Sampel Pewarna Kuning


1. Warna Kuning Muda
Dik : Jarak Komponen : 0,8 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 0,8 𝑐𝑚
Rf = = = 0,2
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

2. Warna Kuning Muda


Dik : Jarak Komponen : 1,3 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 1,3 𝑐𝑚
Rf = = = 0,325
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Hitam


1. Warna Ungu Pias
Dik : Jarak Komponen : 0,7 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 0,7 𝑐𝑚
Rf = = = 0,175
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

2. Warna Ungu pekat


Dik : Jarak Komponen : 1,4 cm
Jarak Pelarut 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 1,4 𝑐𝑚
Rf = = 4,0 = 0,35
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 𝑐𝑚
3. Warna Hitam Kecoklatan
Dik : Jarak Komponen : 2,2 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2,2 𝑐𝑚
Rf = = = 0,55
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Biru


1. Warna Biru Muda
Dik : Jarak Komponen : 0,49 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 0,49 𝑐𝑚
Rf = = = 0,1225
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

2. Warna Biru Tua


Dik : Jarak Komponen : 2 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2 𝑐𝑚
Rf = = = 0,5
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

 Sampel Pewarna Merah


1. Warna Pink Muda
Dik : Jarak Komponen : 1,5 cm
Jarak Pelarut : 4,0cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 1,5 𝑐𝑚
Rf = = = 0,375
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚

2. Warna Pink Tua


Dik : Jarak Komponen : 2,2 cm
Jarak Pelarut : 4,0 cm
Dit : Rf...?
𝑗𝑎𝑟𝑎𝑘 𝐾𝑜𝑚𝑝𝑜𝑛𝑒𝑛 2,2 𝑐𝑚
Rf = = = 0,55
𝐽𝑎𝑟𝑎𝑘 𝑃𝑒𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡 4,0 𝑐𝑚
7. ANALISIS PERCOBAAN
Pada percobaan ini, kami melakukan identifikasi zat pewarna
makanan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT).
Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran berdasarkan perbedaan
distribusi dan komponen diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau
cair) dan fase gerak (cair atau gas). Prinsip kerjanya yaitu memisahkan
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut
yang digunakan. Fase diam yang digunakan pada percobaan ini yaitu
berbentuk plat silika dengan fase gerak berupa larutan kombinasi antara
gabungan komposisi 70% etanol+30% sikloheksan dan 70%
methanol+30% toluene. Campuran larutan ini dinamakan dengan eluen.
Semakin dekat kepolaran dengan sampel dan eluen, maka sampel akan
terbawa oleh fase gerak tersebut.
Sampel yang digunakan dalam pemisahan dengan metode
kromatografi lapis tipis ini adalah zat pewarna yang terdiri dari warna
merah, kuning, hijau serta coklat. Penggunaan warna-warna yang
mencolok ini diperuntukkan agar mempermudah proses identifikasi.
Pertama-tama yang kami lakukan adalah memilih pelarut atau
eluen yang cocok dengan sampel tersebut, sebelumnya kami menggunakan
campuran 70% sikloheksan dan 30% toluene serta 100% sikloheksan
sebagai pelarut. Pada plat TLC ditotoli oleh zat pewarna kemudian
dimasukkan ke dalam chamber dengan jarak 1 cm dari eluen guna melihat
perambatan warna yang terjadi. Hasilnya, dengan campuran tersebut
setelah 20 menit sampel tidak menunjukkan perubahan, karena zat tersebut
tertahan pada plat. Hal ini menunjukkan tidak cocoknya sampel dengan
pelarut yang digunakan.
Kemudian kami mengganti campuran pelarut dengan 70%
etanol+30% sikloheksan (I) dan 70% methanol+30% toluene (II) lalu
diberi perlakuan yang sama dengan sebelumnya. Hasilnya pada masing-
masing plat meninggalkan noda. pada chamber A yang mengandung
pelarut (I) kami amati selama 40 menit. Kenaikan noda atau warna
berlangsung secara bertingkat beriringan dengan naiknya pelarut ke atas
plat. Begitu pula pada chamber B yang mengandung pelarut (II) saat
diamati juga meninggalkan noda naik keatas seperti plat A. Proses elusi
sampel bergerak naik dengan adanya gaya kapiler. Senyawa non polar
kurang melekat pada fase diam sehingga memiliki jalur laju alir yang lebih
besar keatas plat. Hal ini disebabkan karena plat silika/fase diamnya
bersifat polar. Jarak tempuh keatas lempeng plat merupakan cermin
polaritas senyawa (like dissolve like). Komponen yang kurang diserap
oleh absorben akan lebih cepat naik pada plat, sehingga komponen yang
kuat diserap akan lebih lambat naik.
Dari percobaan tersebut hasil plat yang telah menunjukkan
rambatan kemudian dikeluarkan dan dikeringkan guna mempermudah
pengukuran, pengukuran dilakukan dibawah sinar UV hal ini dimaksudkan
agar warna komponen dapat terlihat lebih jelas sehingga tidak terjadi
kekeliruan. Warna tiap komponen penyusun sampel diukur menggunakan
penggaris, jarak ini adalah jarak yang ditempuh sampel kemudian jarak
yang ditempuh eluen juga diukur berdasarkan bercak yang ada pada plat.
Perbandingan nilai atau jarak tempuh sampel dengan eluen inilah yang
disebut nilai Rf.
Nilai Rf menyatakan derajat retensi suatu komponen dalam fase
diam. Hal ini dikarenakan jarak antara jalannya suatu pelarut bersifat
relatif. Oleh karena itu, diperlukan suatu perhitungan tertentu untuk
memastikan spot yang telah terbentuk memiliki jarak yang sama walaupun
ukuran jarak platnya berbeda. Rf merupakan perbandingan dari jarak yang
ditempuh komponen dengan jarak yang ditempuh pelarut. Semakin besar
nilai Rf maka akan semakin besar pula jarak bergeraknya senyawa ataupun
komponen dalam plat kromatografi tersebut. Dari data hasil pengamatan
dan perhitungan diperoleh nilai rf terbesar ada pada sampel berwarna
coklat dan merah dalam pelarut (I) yaitu sebesar 0,7826 dan dapat
diartikan bahwa sampel dengan warna komponennya adalah yang paling
kecil kepolarannya. Sedangkan sampel merah dengan komponen warna
ungu tua dalam pelarut (I) dengan nilai rf terkecil yaitu menunjukkan
bahwa sampel tersebut paling polar karena komponennya tertahan di fase
diam/absorben (silica gel) yang bersifat polar.
Selain analisa diatas, dari percobaan juga dapat diketahui bahwa
jenis pelarut dapat membuat perbedaan komponen warna dari sampel.
Contohnya pada pelarut (I) warna merah hanya terdiri dari warna merah
muda dan tua sedangkan pada pelarut (II) terdapat warna biru didalam
sampel warna merah. Hal ini didasari oleh sifat pelarut masing-masing
yang bertugas sebagai fase gerak dan kemampuannya dalam menguraikan
warna atau zat.
Kelebihan dari metode kromatografi lapis tipis ini adalah lebih
banyak digunakan untuk tujuan analisis, pemisahan komponen dapat
diidentifikasi dengan cara fluoresensi, hanya membutuhkan sedikit pelarut,
proses preparasi sampel mudah serta biayanya yang terjangkau. Namun,
kendala dalam melakukan metode kromatografi lapis tipis adalah
dibutuhkannya sistem trial dan error untuk menentukan jenis eluen yang
cocok, memerlukan waktu yang lama serta membutuhkan aplikasinya
dalam multidisiplin ilmu dan menerapkannya agar mendapatkan bercak
noda yang diharapkan.
8. KESIMPULAN
Dari percobaan yang telah kamilakukan kami dapat menyimpulkan
bahwa :
a. Kromatografi lapis tipis (KLT) adalah suatu teknik kromatografi
yang sederhana yang biasanya digunakan untuk identifikasi
senyawa-senyawa organik. Pemisahan dengan metode
kromatografi lapis tipis dilakukan dengan cara menotolkan sampel
pada lempengan lapis tipis kemudian memasukkannya ke dalam
chamber yang berisi eluen dengan perbandingan pelarut tertentu.
Prinsip dari kromatografi lapis tipis yaitu pemisahan senyawa
berdasarkan kepolaran fase diam dan senyawa yang diuji.
b. Eluen yang cocok dengan sampel yang digunakan adalah etanol,
methanol, sikloheksan, dan toluene.
c. Nilai Rf terkecil menunjukkan senyawa paling polar dan begitu
sebaliknya.
d. Perbedaan warna komponen dalam sampel dapat disebabkan oleh
kepolaran dan jenis eluen .

9. DAFTAR PUSTAKA
David. 2010. Pengantar Kromatografi. Bandung: Institut Teknologi
Bandung Press.
Gandjar I. G., dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Handayani S., S. Sunartodan dan Kristianingrum. 2005.
“Kromatografi Lapis Tipis untuk Penentuan Kadar Hesperidin dalam
Kulit Buah Jeruk”. Jurnal Penelitian Saintek. Vol 10 (1).
Kurniawan Y., dan Santosa. 2004. “Pengaruh JumLah Umpan dan
Laju Alir Eluen Pada Pemisahan Sukrosa dari Tetes Tebu Secara
Kromatografi”. Jurnal Ilmu Dasar. Vol 5 (1).
http://teenagers-moslem.blogspot.com/2011/10/bab-i-
pendahuluan.html diakses tanggal 10 oktober 2018
http://ivahaveiro.blogspot.com/2012/10/analisa-zat-pewarna-pada-
makanan-metode.html diakses tanggal 10 oktober 2018
http://vikrihidayat.blogspot.com/2017/05/laporan-kromatografi-
lapis-tipis.html?m=1 diakses tanggal 10 oktober 2018
10. GAMBAR ALAT

Chambe Kromatografi Zat Pewarna

Gelas Kimia Plat

Pipet Ukur Bola Karet Penghisap


Sinar UV

Anda mungkin juga menyukai