Anda di halaman 1dari 41

Praktek Profesi Ners

STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang


2018/ 2019
ASUHAN KEPERAWATAN PRE EKLAMSI BERAT PADA NY.Y DI
RUANG HCU KEBIDANAN RSUP DR. M. DJAMIL PADANG

LAPORAN KASUS
KEPERAWATAN DASAR PROFESI (KDP)

OLEH :

TIARA ASPARINA SARI


18123805

PROGRAM PROFESI NERS


STIKes MERCUBAKTIJAYA PADANG
TAHUN 2018

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
DAFTAR ISI

COVER
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar Penyakit
1. Definisi
2. Etiologi
3. Anatomi Fisiologi
4. Patofisiologi
5. Manifestasi Klinis
6. Pemeriksaan Diagnostik
7. Penatalaksanaan
8. Komplikasi
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi Keperawatan
4. Implementasi Keperawatan
5. Evaluasi Keperawatan
BAB III LAPORAN KASUS
1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi Keperawatan
4. Implementasi Keperawatan
5. Evaluasi Keperawatan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria
pada umur kehamilan lebih dari 20 minggu atau segera setelah persalinan dan
gangguan multisistem pada kehamilan yang dikarakteristikkan disfungsi
endotelial, peningkatan tekanan darah karena vasokonstriksi, proteinuria
akibat kegagalan glomerolus, dan udema akibat peningkatan permeabilitas
vaskuler (Fauziyah, 2012).
Pre eklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi
kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri. Pre
eklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat kehamilan,
setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini
dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik
(Ammiruddin dkk, 2007).
Pre eklampsia terjadi karena adanya mekanisme imunolog yang
kompleks, aliran darah ke plasenta berkurang, akibatnya suplai zat makanan
yang dibutuhkan janin berkurang. Penyebabnya karena penyempitan
pembuluh darah yang unik, yang tidak terjadi pada setiap orang selama
kehamilan (Indiarti, 2009 & Cuningham, 2001). Perdarahan, infeksi, dan
eklampsia, merupakan komplikasi yang tidak selalu dapat diramalkan
sebelumnya dan mungkin saja terjadi pada ibu hamil yang telah
diidentifikasikan normal (Senewe & Sulistiawati, 2006).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan salah satu komplikasi
kehamilan yang disebabkan langsung oleh kehamilan itu sendiri.
Preeklampsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria akibat
kehamilan, setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu bila terjadi penyakit
trofoblastik (Ammiruddin dkk, 2007). Preeklampsia terjadi karena adanya
mekanisme imunolog yang kompleks, aliran darah ke plasenta berkurang,
akibatnya suplai zat makanan yang dibutuhkan janin berkurang.
Penyebabnya karena penyempitan pembuluh darah yang unik, yang tidak
terjadi pada setiap orang selama kehamilan (Indiarti, 2009 & Cuningham,
2001). Perdarahan, infeksi, dan eklampsia, merupakan komplikasi yang tidak
selalu dapat diramalkan sebelumnya dan mungkin saja terjadi pada ibu hamil
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
yang telah diidentifikasikan normal (Senewe & Sulistiawati, 2006). Di
seluruh dunia, insiden atau kejadian preeklampsia berkisar antara 2% dan
10% dari kehamilan. Insiden dari preeklampsia awal bervariasi di seluruh
dunia. WHO (World Health Organization) mengestimasi insiden
preeklampsia hingga tujuh kali lebih tinggi di negara-negara berkembang
(2,8% dari kelahiran hidup) dibandingkan dengan negara maju (0,4%)
(Osungbade dan Ige, 2011).
Menurut WHO preeklampsia memengaruhi tujuh sampai sepuluh persen
dari seluruh kehamilan di Amerika Serikat (WHO, 2009). Di Inggris kurang
dari 10 wanita meninggal akibat preeklampsia setiap tahunnya, dan
mempengaruhi maternal yang mengakibatkan kematian, di negara yang
kurang berkembang terdapat 50.000 kematian maternal yang disebabkan oleh
preeklampsia dan eklampsia (Champman, 2006). Pada sisi lain insiden dari
eklampsia pada negara berkembang sekitar 1 kasus per 100 kehamilan
sampai 1 kasus per 1700 kehamilan. Pada negara Afrika seperti Afrika
Selatan, Mesir, Tanzania dam Etiopia bervariasi sekitar 1,8% sampai dengan
7,1%. Di Nigeria prevalensinya sekitar 2% sampai dengan 16,7%
(Osungbade dan Ige, 2011).
Angka Kematian Ibu (AKI) di Sub Sahara Afrika 270/100.000 kelahiran
hidup, Asia Selatan 188/100.000 kelahiran hidup dan di negara-negara
ASEAN seperti Singapura 14/100.000 kelahiran hidup, Malaysia 62/100.000
kelahiran hidup, Thailand 110/100.000 kelahiran hidup, Vietnam
150/100.000 kelahiran hidup, Filipina 230/100.000 kelahiran hidup dan
Myanmar 380/100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia
lebih tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Kematian ibu
akibat komplikasi dari kehamilan dan persalinan tersebut terjadi pada wanita
usia 15-49 tahun diseluruh dunia (Widyawati, 2010). Indonesia merupakan
negara yang mempunyai AKI tertinggi di ASEAN. Pada tahun 2010, AKI
menjadi 228 per-100.000 (Depkes RI, 2010).
Berdasarkan distribusi persentase penyebab kematian ibu melahirkan
sebesar 28% perdarahan, 24% eklampsia, 11% Infeksi, 5% abortus, 5%
persalinan lama, 3% emboli obat, 8% komplikasi masa puerperium, 11 %
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
lain – lain (Widyawati, 2010). Kematian ibu di Indonesia disebabkan oleh
multifaktor, baik faktor secara langsung maupun faktor tidak langsung, 90%
kematian ibu disebabkan oleh faktor langsung yaitu terjadlnya komplikasi
pada saat kehamilan dan segera setelah bersalin dengan rincian 28% akibat
pendarahan, 24% akibat eklampsia dan 11% akibat infeksi. Sedangkan
penyebab tidak langsung antara lain ibu hamil yang kurang asupan energi
atau kekurangan energi protein sebesar 37%, dan adanya kejadian anemia
sebesar 40% (Depkes RI, 2001). Salah satu penyebab kematian terbanyak
adalah preeklampsia dan eklampsia yang bersama infeksi dan pendarahan,
diperkirakan mencakup 75-80 % dari keseluruhan kematian maternal.
Kejadian preeklampsiaeklampsia dikatakan sebagai masalah kesehatan
masyarakat apabila CFR PE-E mencapai 1,4%-1,8% (Ammiruddin dkk,
2007).
Angka kejadian preeklampsia/eklampsia lebih banyak terjadi di negara
berkembang dibanding pada negara maju. Hal ini disebabkan oleh karena di
negara maju perawatan prenatalnya lebih baik. Kejadian preeklampsia
dipengaruhi oleh paritas, ras, faktor genetik dan lingkungan. Kehamilan
dengan preeklampsia lebih umum terjadi pada primigravida, sedangkan pada
multigravida berhubungan dengan penyakit hipertensi kronis, diabetes
melitus dan penyakit ginjal (Baktiyani, 2005). Di negara maju angka
kejadian preeklampsia berkisar 6-7% dan eklampsia 0,1-0,7%, sedangkan
angka kematian ibu yang diakibatkan preeklampsia dan eklampsia di negara
berkembang masih tinggi. Preeklampsia salah satu sindrom yang dijumpai
pada ibu hamil di atas 20 minggu terdiri dari hipertensi dan proteinuria
dengan atau tanpa edema (Amelda, 2009).

B. Tujuan Penulisan
a) Tujuan Umum

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Mahasiswa mengetahui penerapan asuhan keperawatan Pre Eklamsi
Bera (PEB) pada Ny. Y di Ruang HCU Kebidanan RSUP DR. M. Djamil
Padang.

b) Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian pada Ny. Y dengan Pre Eklamsi Berat.

b. Merumuskan dan menegakkan diagnosa keperawatan pada Ny. Y

dengan Pre Eklamsi Berat.

c. Menyusun intervensi keperawatan pada Ny. Y dengan Pre Eklamsi

Berat.

d. Melaksanakan implementasi keperawatan pada Ny. Y dengan Pre

Eklamsi Berat.

e. Melaksanakan evaluasi pada Ny. Y dengan Pre Eklamsi Berat.

BAB II
PEMBAHASAN

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. Defenisi
Pre eklampsia adalah sekumpulan gejala yang timbul pada wanita
hamil, bersalin dan nifas yang terdiri dari hipertensi, edema dan protein uria
tetapi tidak menjukkan tanda-tanda kelainan vaskuler atau hipertensi
sebelumnya, sedangkan gejalanya biasanya muncul setelah kehamilan
berumur 28 minggu atau lebih. (Nanda, 2012).
Pre eklamsia adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan edema
akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah
persalinan (Taufan, 2011).
Pre eklamsi adalah suatu sindroma klinis dalam kehamilan viable (usia
kehamilan > 20 minggu dan / berat janin 500 gram ) yang ditandai dengan
hipertensi, proteinuria dan edema. Gejala ini dapat timbul sebelum kehamilan
20 minggu bila terjadi penyakit trofoblastik (Taufan, 2011).
2. Etiologi
Penyebab preeklamsi sampai sekarang belum di ketahui secara pasti,tapi
pada penderita yang meninggal karena preeklamsia terdapat perubahan yang
khas pada berbagai alat.Tapi kelainan yang menyertai penyakit ini adalah
spasmus arteriole, retensi Na dan air dan coogulasi intravaskulaer.
Walaupun vasospasmus mungkin bukan merupakan sebab primer
penyakit ini, akan tetapi vasospasmus ini yang menimbulkan berbagai gejala
yang menyertai preeklamsi.
Sebab pre eklamasi belum diketahui,
a. Vasospasmus menyebabkan :
a) Hypertensi
b) Pada otak (sakit kepala, kejang)
c) Pada placenta (solution placentae, kematian janin)
d) Pada ginjal (oliguri, insuffisiensi)
e) Pada hati (icterus)
f) Pada retina (amourose)

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
b. Ada beberapa teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab
preeklamsia yaitu :
a) Bertambahnya frekuensi pada primigravida, kehamilan ganda,
hidramnion, dan molahidatidosa
b) Bertambahnya frekuensi seiring makin tuanya kehamilan
c) Dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin
dalam uterus
d) Timbulnya hipertensi, edema, protein uria, kejang dan koma.
c. Factor Perdisposisi Preeklamsi
a) Molahidatidosa
b) Diabetes melitus
c) Kehamilan ganda
d) Hidrocepalus
e) Obesitas
f) Umur yang lebih dari 35 tahun
3. Anatomi Fisiologi
Perubahan Fisiologi Wanita Hamil
Segala perubahan fisik dialami wanita selama hamil berhubungan
dengan beberapa sistem yang disebabkan oleh efek khusus dari hormon.
Perubahan ini terjadi dalam rangka persiapan perkembangan janin,
menyiapkan tubuh ibu untuk bersalin, perkembangan payudara untuk
pembentukan/produksi air susu selama masa nifas. (Salmah dkk, 2006,
hal.47)
a. Uterus
Uterus akan membesar pada bulan-bulan pertama di bawah pengaruh
estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada
dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.Pada bulan-bulan
pertama kehamilan bentuk uterus seperti buah advokat, agak gepeng.Pada
kehamilan 4 bulan uterus berbentuk bulat dan pada akhir kehamilan
kembali seperti semula, lonjong seperti telur. (Wiknjosastro, H, 2006, hal.
89)
Perkiraan umur kehamilan berdasarkan tinggi fundus uteri :
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
a) Pada kehamilan 4 minggu fundus uteri blum teraba
b) Pada kehamilan 8 minggu, uterus membesar seperti telur bebek
fundus uteri berada di belakang simfisis.
c) Pada kehamilan 12 minggu kira-kira sebesar telur angsa, fundus uteri
1-2 jari di atas simfisis pubis.
d) Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-kira pertengahan
simfisis dengan pusat.
e) Kehamilan 20 minggu, fundus uteri 2-3 jari di bawah pusat.
f) Kehamilan 24 minggu, fundus uteri kira-kira setinggi pusat.
g) Kehamilan 28 minggu, fundus uteri 2-3 jari di atas pusat.
h) Kehamilan 32 minggu, fundus uteri pertengahan umbilicus dan
prosessus xypoideus.
i) Kehamilan 36-38 minggu, fundus uteri kira-kira 1 jari di bawah
prosessus xypoideus.
j) Kehamilan 40 minggu, fundus uteri turun kembali kira-kira 3 jari di
bawah prosessus xypoideus. (Wiknjosastro, H, 2006. Hal. 90-91 dan
Mandriwati, G. A. 2008. Hal. 90).
b. Vagina
Vagina dan vulva juga mengalami perubahan akibat hormon estrogen
sehingga tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide).Tanda ini
disebut tanda Chadwick. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
c. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis
sampai terbentuknya plasenta pada kira-kira kehamilan 16 minggu.Namun
akan mengecil setelah plasenta terbentuk, korpus luteum ini mengeluarkan
hormon estrogen dan progesteron. Lambat laun fungsi ini akan diambil
alih oleh plasenta. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal .95)
d. Payudara
Payudara akan mengalami perubahan, yaitu mebesar dan tegang
akibat hormon somatomammotropin, estrogen, dan progesteron, akan
tetapi belum mengeluarkan air susu. Areola mammapun tampak lebih
hitam karena hiperpigmentasi. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 95)
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
e. Sistem Sirkulasi
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya
sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh
darah yang membesar pula.Volume darah ibu dalam kehamilan bertambah
secara fisiologik dengan adanya pencairan darah yang disebut hidremia.
Volume darah akan bertambah kira-kira 25%, dengan puncak kehamilan
32 minggu, diikuti dengancardiac output yang meninggi kira-kira 30%.
(Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 96).
f. Sistem Respirasi
Wanita hamil pada kelanjutan kehamilannya tidak jarang mengeluh
rasa sesak nafas.Hal ini ditemukan pada kehamilan 32 minggu ke atas
karena usus tertekan oleh uterus yang membesar ke arah diafragma
sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal.
96)
g. Traktus Digestivus
Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea)
karena hormon estrogen yang meningkat.Tonus otot traktus digestivus juga
menurun.Pada bulan-bulan pertama kehamilan tidak jarang dijumpai
gejala muntah pada pagi hari yang dikenal sebagai moorning sickness dan
bila terlampau sering dan banyak dikeluarkan disebut hiperemesis
gravidarum. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
h. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan oleh
uterus yang membesar sehingga ibu lebih sering kencing dan ini akan
hilang dengan makin tuanya kehamilan, namun akan timbul lagi pada
akhir kehamilan karena bagian terendah janin mulai turun memasuki Pintu
Atas Panggul. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
i. Kulit
Pada kulit terjadi perubahan deposit pigmen dan hiperpigmentasi
karena pengaruh hormon Melanophore StimulatingHormone (MSH) yang
dikeluarkan oleh lobus anterior hipofisis. Kadang-kadang terdapat deposit
pigmen pada dahi, pipi, dan hidung, dikenal sebagai kloasma gravidarum.
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Namun Pada kulit perut dijumpai perubahan kulit menjadi kebiru-biruan
yang disebut striae livide. (Wiknjosastro, H. 2006. Hal. 97)
j. Metabolisme dalam Kehamilan
Pada wanita hamil Basal Metabolik Rate (BMR) meningkat hingga
15-20 %.Kelenjar gondok juga tampak lebih jelas, hal ini ditemukan pada
kehamilan trimester akhir.Protein yang diperlukan sebanyak 1 gr/kg BB
perhari untuk perkembangan badan, alat kandungan, mammae, dan untuk
janin, serta disimpan pula untuk laktasi nanti.Janin membutuhkan 30-40 gr
kalsium untuk pembentukan tulang terutama pada trimester ketiga.Dengan
demikian makanan ibu hamil harus mengandung kalsium, paling tidak 1,5-
2,5 gr perharinya sehingga dapat diperkirakan 0,2-0,7 gr kalsium yang
tertahan untuk keperluan janin sehingga janin tidak akan mengganggu
kalsium ibu. Wanita hamil juga memerlukan tambahan zat besi sebanyak
800 mg untuk pembentukan haemoglobin dalam darah sebagai persiapan
agar tidak terjadi perdarahan pada waktu persalinan. (Wiknjosastro, H.
2006. Hal. 98)
k. Kenaikan Berat Badan
Peningkatan berat badan ibu selama kehamilan menandakan adaptasi
ibu terhadap pertumbuhan janin. Perkiraan peningkatan berat badan adalah
4 kg dalam kehamilan 20 minggu, dan 8,5 kg dalam 20 minggu kedua (0,4
kg/minggu dalam trimester akhir) jadi totalnya 12,5 kg. (Salmah,
Hajjah.2006. Hal.60-61)
4. Patofisiologi
Berdasarkan perjalanan penyakit teori 2 tahap, preeklampsia dibagi
menjadi 2 tahap penyakit tergantung gejala yang timbul. Tahap pertama
bersifat asimtomatik (tanpa gejala), dengan karakteristik perkembangan
abnormal plasenta pada trimester pertama. Perkembangan abnormal plasenta
terutama proses angiogenesis mengakibatkan insufisiensi plasenta dan
terlepasnya material plasenta memasuki sirkulasi ibu.
Terlepasnya material plasenta memicu gambaran klinis tahap 2, yaitu
tahap simtomatik (timbul gejala). Pada tahap ini berkembang gejala

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
hipertensi, gangguan renal, dan proteinuria, serta potensi terjadinya sindrom
HELLP, eklamsia dan kerusakan end organ lainnya.
Dua fakta klinis tersebut menuntun pada hipotesis kuat bahwa plasenta
memegang peranan penting dalam patogenesis preeklampsia. Terapi paling
efektif dari preeklampsia adalah dengan melahirkan plasenta. Selain itu bila
plasenta berkembang berlebihan (hiperplasentosis), misalnya pada mola
hidatidosa atau gemeli, seringkali berkembang menjadi preeklampsia berat.
Hal tersebut didukung oleh pemeriksaan patologi bahwa pada plasenta
dengan preeklampsia terdapat infark luas, sklerosis yang menyebabkan
penyempitan arteri dan arteriol serta terdapat remodelingyang in adekuat
pada arteri spiralis.
Pada tahap asimtomatik meskipun gejala klinik belum terlihat, tetapi
pemeriksaan tertentu dapat mengidentifikasi perubahan yang terjadi.
Pemeriksaan USG doppler arteri uterina dapat menilai adanya perubahan
pada aliran darah yang disebabkan karena peningkatan resistensi vaskular
sebelum gejala klinis timbul. Selanjutnya peningkatan vasokontriksi ateri
uterina akan menimbulkan hipertensi, proteinuria, dan endoteliosis
glomerular. Gejala-gejala tersebut yang mendukung untuk ditegakkannya
diagnosis preeklampsia, dan merupakan suatu tahap kedua atau preeklampsia
dengan manifestasi gejala klinik. Sehingga adanya ganguan histologi, fungsi,
dan metabolisme plasenta diduga sangat besar peranannya pada patofisologi
preeklampsia (Pribadi et al, 2015).
5. Tanda dan Gejala
Gejala klinis preeklampsia sangat bervariasi dari yang ringan sampai
yang mengancam kematian ibu. Efek yang sama terjadi pula pada janin,
mulai dari yang ringan, PJT dengan komplikasi pascasalin sampai kematian
intrauterin.
a. Gejala
Kebanyakan ibu hamil pada awal preeklampsia tidak menunjukkan
gejala. Sementara preeklampsia fase lanjut sering menimbulkan gejala
yang berhubungan dengan kurangnya perfusi jaringan, misalnya terjadi
sakit ulu hati, mual, muntah, sakit punggung, dll. Gejala hipoksia terjadi
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
sakit kepala, kurangnya kesadaran, penurunan penglihatan, skotomata, dll.
Parestesia, pegal, dapat terjadi bila saraf terganggu karena kompresi.
Terdapat gejala yang sangat serius ditangani terutama bila menyangkut
organ vital seperti jantung, dan perdarahan antepartum karena
preeklampsia akan meningkatkan risiko untuk solutio plasenta.
b. Tanda
Tanda preeklampsia meliputi :
a) Tanda tersering adalah hipertensi.
b) Proteinuria.
c) Perubahan retinal.
d) Hiperrefleksia.
e) Tanda spesifik kelainan organ seperti dekompensasi jantung
menimbulkan edema tungkai yang masif kadang disertai asites dan
hidrotoraks. Pembesaran hepar menyebabkan nyeri tekan, pecahnya
pembuluh darah perifer seperti ptechiae,purpura, dan bila berat
menyebabkan gangguan pembekuan darah sistemik
(sepertidisseminated intracorpuscular/DIC).
6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah
a) Penurunan hemoglobin ( nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin
untuk wanita hamil adalah 12-14 gr% )
b) Hematokrit meningkat ( nilai rujukan 37 – 43 vol% )
c) Trombosit menurun ( nilai rujukan 150 – 450 ribu/mm3)
Urinalisis
a) Ditemukan protein dalam urine.
Pemeriksaan Fungsi hati
a) Bilirubin meningkat ( N= < 1 mg/dl )
b) LDH ( laktat dehidrogenase ) meningkat
c) Aspartat aminomtransferase ( AST ) > 60 ul.

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
d) Serum Glutamat pirufat transaminase ( SGPT ) meningkat ( N= 15-
45 u/ml )
e) Serum glutamat oxaloacetic trasaminase ( SGOT ) meningkat ( N=
<31 u/l )
f) Total protein serum menurun ( N= 6,7-8,7 g/dl )
Tes kimia darah
a) Asam urat meningkat ( N= 2,4-2,7 mg/dl )
b. Radiologi
a) Ultrasonografi
Ditemukan retardasi pertumbuhan janin intra uterus. Pernafasan
intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban
sedikit.
b) Kardiotografi
Diketahui denyut jantung janin bayi lemah
7. Penatalaksanaan Medis
a. Prinsip Penatalaksanaan Pre-Eklampsia
a) Melindungi ibu dari efek peningkatan tekanan darah
b) Mencegah progresifitas penyakit menjadi eklampsia
c) Mengatasi atau menurunkan risiko janin (solusio plasenta,
pertumbuhan janin terhambat, hipoksia sampai kematian janin)
d) Melahirkan janin dengan cara yang paling aman dan cepat sesegera
mungkin setelah matur, atau imatur jika diketahui bahwa risiko janin
atau ibu akan lebih berat jika persalinan ditunda lebih lama.
b. Penatalaksanaan Pre-Eklampsia Ringan
a) Dapat dikatakan tidak mempunyai risiko bagi ibu maupun janin
b) Tidak perlu segera diberikan obat antihipertensi atau obat lainnya,
tidak perlu dirawat kecuali tekanan darah meningkat terus (batas
aman 140-150/90-100 mmhg).
c) Istirahat yang cukup (berbaring / tiduran minimal 4 jam pada siang
hari dan minimal 8 jam pada malam hari)
d) Pemberian luminal 1-2 x 30 mg/hari bila tidak bisa tidur

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
e) Pemberian asam asetilsalisilat (aspirin) 1 x 80 mg/hari.
f) Bila tekanan darah tidak turun, dianjurkan dirawat dan diberi obat
antihipertensi : metildopa 3 x 125 mg/hari (max.1500 mg/hari), atau
nifedipin 3-8 x 5-10 mg/hari, atau nifedipin retard 2-3 x 20 mg/hari,
atau pindolol 1-3 x 5 mg/hari (max.30 mg/hari).
g) Diet rendah garam dan diuretik tidak perlu
h) Jika maturitas janin masih lama, lanjutkan kehamilan, periksa tiap 1
minggu
i) Indikasi rawat : jika ada perburukan, tekanan darah tidak turun
setelah 2 minggu rawat jalan, peningkatan berat badan melebihi 1
kg/minggu 2 kali berturut-turut, atau pasien menunjukkan tanda-
tanda pre-eklampsia berat. Berikan juga obat antihipertensi.
j) Jika dalam perawatan tidak ada perbaikan, tatalaksana sebagai pre-
eklampsia berat. Jika perbaikan, lanjutkan rawat jalan
k) Pengakhiran kehamilan : ditunggu sampai usia 40 minggu, kecuali
ditemukan pertumbuhan janin terhambat, gawat janin, solusio
plasenta, eklampsia, atau indikasi terminasi lainnya. Minimal usia 38
minggu, janin sudah dinyatakan matur.
l) Persalinan pada pre-eklampsia ringan dapat dilakukan spontan, atau
dengan bantuan ekstraksi untuk mempercepat kala ii.

c. Penatalaksanaan Pre-Eklampsia Berat


Dapat ditangani secara aktif atau konservatif. Aktif berarti :
kehamilan diakhiri / diterminasi bersama dengan pengobatan medisinal.
Konservatif berarti : kehamilan dipertahankan bersama dengan pengobatan
medisinal. Prinsip : Tetap pemantauan janin dengan klinis, USG,
kardiotokografi.
a) Penanganan aktif.
Penderita harus segera dirawat, sebaiknya dirawat di ruang
khusus di daerah kamar bersalin.Tidak harus ruangan gelap.Penderita
ditangani aktif bila ada satu atau lebih kriteria ini.
1. Ada tanda-tanda impending eklampsia
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
2. Ada hellp syndrome
3. Ada kegagalan penanganan konservatif
4. Ada tanda-tanda gawat janin atau iugr
5. Usia kehamilan 35 minggu atau lebih
Pengobatan medisinal : diberikan obat anti kejang MgSO4 dalam
infus dextrose 5% sebanyak 500 cc tiap 6 jam. Cara pemberian MgSO4 :
dosis awal 2 gram intravena diberikan dalam 10 menit, dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan sebanyak 2 gram per jam drip infus (80 ml/jam atau
15-20 tetes/menit). Syarat pemberian MgSO4 : – frekuensi napas lebih
dari 16 kali permenit – tidak ada tanda-tanda gawat napas – diuresis lebih
dari 100 ml dalam 4 jam sebelumnya – refleks patella positif. MgSO4
dihentikan bila : – ada tanda-tanda intoksikasi – atau setelah 24 jam pasca
persalinan – atau bila baru 6 jam pasca persalinan sudah terdapat
perbaikan yang nyata. Siapkan antidotum MgSO4 yaitu Ca-glukonas 10%
(1 gram dalam 10 cc NaCl 0.9%, diberikan intravena dalam 3 menit).Obat
anti hipertensi diberikan bila tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg
atau tekanan darah diastolik lebih dari 110 mmHg.Obat yang dipakai
umumnya nifedipin dengan dosis 3-4 kali 10 mg oral. Bila dalam 2 jam
belum turun dapat diberi tambahan 10 mg lagi. Terminasi kehamilan : bila
penderita belum in partu, dilakukan induksi persalinan dengan amniotomi,
oksitosin drip, kateter Folley, atau prostaglandin E2. Sectio cesarea
dilakukan bila syarat induksi tidak terpenuhi atau ada kontraindikasi partus
pervaginam.Pada persalinan pervaginam kala 2, bila perlu dibantu
ekstraksi vakum atau cunam.
b) Penanganan konservatif
Pada kehamilan kurang dari 35 minggu tanpa disertai tanda-
tanda impending eclampsia dengan keadaan janin baik, dilakukan
penanganan konservatif. Medisinal : sama dengan pada penanganan
aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda pre-
eklampsia ringan, selambatnya dalam waktu 24 jam. Bila sesudah 24
jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai
kegagalan pengobatan dan harus segera dilakukan terminasi. jangan
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
lupa : oksigen dengan nasal kanul, 4-6 l / menit, obstetrik :
pemantauan ketat keadaan ibu dan janin. bila ada indikasi, langsung
terminasi.
Menjelaskan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam
pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring di tempat tidur,
namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih
banyak duduk dan berbaring.Diet tinggi protein, dan rendah lemak,
karbohidat, garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan
perlu dianjurkan.
Mengenal secara dini preeklampsia dan segera merawat
penderita tanpa memberikan diuretika dan obat anthipertensi,
memang merupakan kemajuan yang penting dari pemeriksaan
antenatal yang baik. (Wiknjosastro H,2006).
8. Komplikasi
Tergantung pada derajat preeklampsi yang dialami. Namun yang
termasuk komplikasi antara lain:
a. Pada Ibu
a) Eklapmsia
b) Solusio plasenta
c) Pendarahan subkapsula hepar
d) Kelainan pembekuan darah ( DIC )
e) Sindrom HELPP ( hemolisis, elevated, liver,enzymes dan low
platelet count )
f) Ablasio retina
g) Gagal jantung hingga syok dan kematian.
b. Pada Janin
a) Terhambatnya pertumbuhan dalam uterus
b) Prematur
c) Asfiksia neonatorum
d) Kematian dalam uterus
e) Peningkatan angka kematian dan kesakitan perinatal

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Identitas pasien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, status perkawinan,
pendidikan, pekerjaan, suku atau bangsa, alamat, diagnosa medis, nomor
rumah sakit, dan tanggal masuk rumah sakit.
1) Umur
Resiko untuk terkena pre eklamsi berat.

b. Riwayat Kesehatan
a) Keluhan Utama
b) Biasanya gejala yang mungkin timbul pada pasien pre eklamsi berat
adalah.Riwayat Kesehatan Sekarang
Merupakan pengembangan diri dari keluhan utama melalui metode
PQRST, paliatif atau provokatif (P) yaitu fokus utama keluhan
klien, quality atau kualitas (Q) yaitu bagaimana nyeri dirasakan oleh
klien, regional (R) yaitu nyeri menjalar kemana, safety (S) yaitu
posisi yang bagaimana yang dapat mengurangi nyeri atau klien
merasa nyaman dan time (T) yaitu sejak kapan klien merasakan nyeri
tersebut.
* P : Biasanya nyeri bertambah ketika ada penekanan pada abdomen
* Q : Seperti nyeri tusuk
* R : Abdomen bagian bawah
* S : Tergantung dari respon pasien
* T: Biasanya nyeri terasa pada saat bergerak
c) Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya perawat mengkaji adanya penyakithipertensi dan M.
d) Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya orang dengan riwayat keluarga
e) Riwayat kehamilan
Biasanya perawat mengkaji adanya riwayat kehamilan ganda, mola
hidatidosa, hidramnion serta riwayat kehamilan dengan eklamsia
sebelumnya.
f) Riwayat KB
Biasanya perawat menanyakan pada ibu apakah pernah / tidak
megikuti KB jika ibu pernah ikut KB maka yang ditanyakan adalah

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
jenis kontrasepsi, efek samping. Alasan pemberhentian kontrasepsi
(bila tidak memakai lagi) serta lamanya menggunakan kontrasepsi.
Pre Operatif
1) Pengkajian Psikologis pasien meliputi perasaan takut / cemas dan
keadaan emosi pasien
2) Pengkajian Fisik pasien pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah,
nadi, pernafasan dan suhu.
3) Sistem integumen pasien apakah pasien pucat, sianosis dan adakah
penyakit kulit di area badan.
4) Sistem pernafasan pasien apakah pasien bernafas teratur dan batuk
secara tiba-tiba di kamar operasi.
5) Sistem gastrointestinal pasien apakah pasien diare ?
6) Sistem saraf pasien bagaimana kesadaran ?
7) Validasi persiapan fisik pasien. Apakah pasien puasa, perhiasan,
Make up, pakaian pasien / perlengkapan operasi dan validasi apakah
pasien alaergi terhadap obat ?
Post Operatif
1) Tanda vital
Evaluasi tekanan darah, nadi, dan laju pernapasan dilakukan setiap 15-
30 menit sampai pasien stabil kemudian setiap jam setelah itu paling
tidak untuk 4-6 jam. Beberapa perubahan signifikan harus dilaporkan
sesegera mungkin. Pengukuran ini, termasuk temperatur oral, yang
harus direkam 4 kali sehari untuk rangkaian sisa pasca operatif
Anjurkan pernapasan dalam setiap jam pada 12 jam pertama dan setiap
2-3 jam pada 12 jam berikutnya.
2) Perawatan Luka
Fokus penanganan luka adalah mempercepat penyembuhan luka dan
meminimalkan komplikasi dan biaya perawatan. Fokus utama dalam
penanganan luka adalah dengan evakuasi semua hematoma dan
seroma dan mengobati infeksi yang menjadi penyebabnya. Perhatikan
perdarahan yang terlalu banyak (inspeksi lapisan dinding abdomen
atau perineal). Lakukan pemeriksaan hematokrit sehari setelah
pembedahan mayor dan, jika perdarahan berlanjut, diindikasikan untuk
pemeriksaan ulang. Luka abdomen harus diinspeksi setiap hari.
3) Penanganan Nyeri
Pengontrolan nyeri dilakukan dengan menggunakan analgetik secara
intravena atau intratrakea utamanya untuk pembedahan abdomen
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
terbuka. Kombinasi anestesi spinal-epidural dapat memanfaatkan
anestesi spinal.
4) Posisi tempat tidur
Pasien biasanya ditempatkan pada posisi datar untuk 24 jam pertama
setelah operasi setelah itu pasien diminta untuk miring kiri dan miring
kanan agar
5) Penggantian Cairan
Pemberian cairan secara oral atau intravena dibutuhkan. Untuk
penentuan cara pemberian cairan pasien dibutuhkan, selalu ambil
berdasarkan faktor-faktor jumlah seperti kehilangan cairan
intraoperatif dan output urin, waktu pembedahan, penggantian cairan
intraoperatif, dan jumlah cairan yang diterima pada waktu pemulihan.
6) Diet
Tujuan utama pemberian makan setelah operasi adalah untuk
meningkatkan fungsi imun dan mempercepat penyembuhan luka yang
meminimalisir ketidakseimbangan metabolik.
7) Status respirasi pasien
Meliputi : kebersihan jalan nafas, kedalaman pernafasaan, kecepatan
dan sifat pernafasan dan bunyi nafas.
8) Status sirkulatori pasien
Meliputi : nadi, tekanan darah, suhu dan warna kulit.
9) Status neurologis pasien meliputi tingkat kesadaran.
10) Balutan pasien meliputi : balutan luka
11) Kenyamanan pasien Meliputi : terdapat nyeri, mual dan muntah

2. Diagnosa keperawatan
Pre Operasi
1) Nyeri akut b.d. agens cedera biologis
2) Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake makanan tidak
adekuat akibat muntah, dispepsia
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan
4) Ansietas berhubungan dengan intervensi bedah, litotripsi, dan
endoskopik ditandai dengan ketakutan gagal operasi
Post Operasi
1) Gangguan pertukaran gas b.d efek samping dari anaesthesi.
2) Kerusakan integritas kulit b.d luka post operas
3) Nyeri akut b.d proses pembedahan
4) Resiko infeksi berhubungan dengan perawatan pasca operasi tidak
adekuat.

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
3. Intervensi keperawatan
Diagnosa
No NOC NIC
Keperawatan

1. Pre Operatif Kontrol Nyeri Manajemen nyeri


Nyeri akut b.d. agens Indikator : Aktivitas Keperawatan :
cedera biologis :  Menilai factor  Lakukan penilaian
penyebab nyeri secara
 Recognize lamanya komperehensif dari lokasi,
nyeri karakteristik, durasi,
 Penggunaan frekuensi, kualitas,
mengurangi nyeri intensitas dan penyebab
dengan non analgesic  Kaji ketidaknyamanan
 Penggunaan analgesic secara non verbal,
yang tepat terutama untuk pasien
 Gunakan tanda-tanda yang tidak bisa
vital memantau mengkomunikasikannya
perawatan secara efektif
 Laporkan tanda atau  Gunakan komunikasi
gejala nyeri pada tenaga terapeutik agar klien dapat
kesehatan professional menyatakan
 Menilai gejala dari pengalamannya terhadap
nyeri nyeri serta dukungan
 Gunakan catatan dalam merespon nyeri
nyeri  Tentukan dampak nyeri
Nyeri : Efek pengganggu terhadap kehidupan
Indikator : sehari-hari
 Kehilangan kosentrasi  Mendorong pasien
 Kehilangan mood dalam memonitor
 Kesabaran berkurang nyerinya sendiri
 Gangguan tidur
Manajemen Pengobatan
 Kehilangan mobilitas
Aktivitas Keperawatan :
fisik
 Kaji obat-obat yang
 Kehilangan
dibutuhkan dan berikan
kemandirian
sesuai dan / protapnya
 Kurangnya nafsu
 Monitor keefektifan
makan
dalam pemberian obat
 Kesulitan untuk
 Monitor efek buruk
makan
obat
 Kesulitan eliminasi
Tingkat Kenyamanan
Indikator :
 Melaporkan
perkembangan fisik
 Melaporkan

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
perkembangan kepuasan
 Mengekspresikan
kepuasan dengan kontrol
nyeri
Tingkat Nyeri
Indikator :
 Melaporkan nyeri
 Frekuensi nyeri
 Panjangnya episode
nyeri
 Ekspresi nyeri lisan
 Kegelisahan
 Berkeringat
 Hilangnya nafsu
makan
2. Pre Operatif Status nutrisi : energi Monitor Nutrisi
Nutrisi kurang dari Indikator : Aktifitas Keperawatan :
kebutuhan tubuh b.d  Daya tahan  Timbang BB klien pada
intake makanan tidak  Ketahanan jarak yang ditentukan
adekuat akibat  Tangan mengatasi  Pantau gejala
muntah, dispepsia kekuatan kekurangan dan
 Infeksi resistensi penambahan BB
Daya tahan  Kontrol turgor kulit
Indikator : jika diperlukan
 Kinerja rutin yang  Pantau tingkat energy,
biasa rasa tidak nyaman,
 Aktifitas kelelahan dan kelemahan
 Penampilan istirahat  Pantau tukem
 Kosentrasi  Kontrol intake kalori
 Kekuatan otot dan nutrisi
Status gizi : asupan  Beri makanan dan
makaanan dan cairan cairan bernutrisi, jika
Indikator : diperlukan
 Jumlah makanan dan Manajemen Nutrisi
cairan yang dikonsumsi Aktifitas Keperawatan :
tubuh selama waktu 24  Tunjukkan intake
jam kalori yang tepat sesuai
Berat badan : masa tubuh tipe tubuh dan gaya hidup
Indikator :  Memberikan makanan
 Tingkat kesesuain yang sehat dan bersih
berat badan, otot, dan  Memantau kemampuan
lemak dengan tinggi pasien untuk memenuhi
badan, rangka tubuh, kebutuhan nutrisi
jenis kelamin, dan usia Manajemen Cairan
Aktifitas Keperawatan :
 Timbang BB tiap hari
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
 Pertahankan intake
yang akurat
 Monitor status hidrasi
 Monitor status nutrisi
3. Pre Operatif Cemas dapat terkontrol Penurunan kecemasan
Cemas b.d krisis Indikator : Aktifitas Keperawatan :
situasional Operasi  Secara verbal dapat  Bina hubungan saling
mendemonstrasikan percaya dengan klien /
teknik menurunkan keluarga
cemas.  Kaji tingkat kecemasan
 Mencari informasi klien.
yang dapat menurunkan  Tenangkan klien dan
cemas dengarkan keluhan klien
 Menggunakan teknik dengan atensi
relaksasi untuk  Jelaskan semua
menurunkan cemas prosedur tindakan kepada
 Menerima status klien setiap akan
kesehatan. melakukan tindakan
 Dampingi klien dan
ajak berkomunikasi yang
terapeutik
 Berikan kesempatan
pada klien untuk
mengungkapkan
perasaannya.
 Ajarkan teknik
relaksasi
 Bantu klien untuk
mengungkapkan hal-hal
yang membuat cemas.
4 Pre Operatif Mobility level Terapi latihan: ambulasi :
Hambatan mobilitas Selfcare : ADLS Aktifitas Keperawatan :
fisik b.d nyeri, terapi  Kaji kebutuhan akan
pembatasan aktivitas, pelayanan kesehatan dan
penurunan kesadaran kebutuhan akan pelatan.
 Tentukan tingkat
motivasi pasien dalam
melakukan aktivitas
 Ajarkan dan pantau
pasien dalam hal
penggunaan alat bantu
 Ajarkan dan dukung
pasien dalam latihan
ROM aktif dan pasif.
 Kolaborasi dengan ahli
terapi fisik dan okupasi.

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
5. Post Operatif Status Pernapasan: Pengelolaan jalan napas
Gangguan pertukaran ventilasi Aktifitas Keperawatan :
gas b.d efek samping Indikator :  Kaji bunyi paru,
dari anaesthesi.  Dispnea tidak ada frekuensi nafas,
 PaO2, PaCO2, pH kedalaman dan usaha
arteri dan SaO2 dalam nafas.
batas normal  Auskultasi bunyi
 Tidak ada gelisah, napas, tandai area
sianosis, dan keletihan penurunan atau hilangnya
ventilasi dan adanya bunyi
tambahan
 Pantau hasil gas darah
dan kadar elektrolit
 Pantau status mental
 Observasi terhadap
sianosis, terutama
membran mukosa mulut
 Pantau status
pernapasan dan oksigenasi
 Jelaskan penggunaan
alat bantu yang diperlukan
(oksigen,
pengisap,spirometer)
 Ajarkan teknik
bernapas dan relaksasi
 Laporkan perubahan
sehubungan dengan
pengkajian data (misal:
bunyi napas, pola napas,
sputum,efek dari
pengobatan)
 Berikan oksigen atau
sesuai dengan kebutuhan
6. Post Operatif Penyembuhan Luka: Tahap Perawatan luka
Pertama Aktifitas Keperawatan :
Kerusakan integritas
Indikator :  Ganti balutan plester
kulit b.d luka post  Kerusakan kulit tidak dan debris
operasi ada  Catat karakteristik luka
 Eritema kulit tidak bekas operasi
ada  Catat katakteristik dari
 Luka tidak ada pus beberapa
 Suhu tubuh antara  Bersihkan luka bekas
36°C-37°C operasi dengan sabun
antibakteri yang cocok
 Sediakan perawatan
luka bekas operasi sesuai

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
kebutuhan
 Ajarkan pasien dan
anggota keluarga prosedur
perawatan luka
7. Post Operatif Kontrol Resiko Manajemen Nyeri :
Indikator : Aktifitas Keperawatan :
Nyeri akut b.d proses
 Klien melaporkan  Kaji nyeri secara
pembedahan nyeri berkurang dg scala komprehensif ( lokasi,
2-3 karakteristik, durasi,
 Ekspresi wajah frekuensi, kualitas dan
tenang faktor presipitasi ).
 Klien dapat istirahat  Observasi reaksi nyeri
dan tidur dari ketidak nyamanan.
 Gunakan teknik
komunikasi terapeutik
untuk mengetahui
pengalaman nyeri klien
 Kontrol faktor
lingkungan yang
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan.
 Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologis/non
farmakologis).
 Ajarkan teknik non
farmakologis (relaksasi,
distraksi dll) untuk
mengetasi nyeri.
 Kolaborasi pemberian
analgetik untuk
mengurangi nyeri.
 Evaluasi tindakan
pengurang nyeri

4. Implementasi keperawatan

5. Evaluasi keperawatan

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

BAB III
LAPORAN KASUS
1. PENGKAJIAN
a. Identitas Pasien
Nama : Ny. Y
No RM : 01.02.65.04
Umur : 33 tahun
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : IRT
Status Perkawinan : Kawin
Alamat : Solok Selatan
Tanggal Masuk : 5-09.2018 Jam 19.45 WIB
Yang Mengirim : Datang Sendiri
Cara Masuk RS : IGD
Diagnosa Medis : Pre Eklamsi Berat
b. Keluhan Utama
Pasien mengeluh kepala pusing, nyeri pada bagian perut
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
c. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien masuk pada tanggal 5 September 2018 jam 19.45 WIB
lebih tepatnya 1 hari yang lalu rujukan dari IGD dengan keluhan
lemas, nyeri perut sejak 2 hari yang lalu sebelum masuk.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Pasien mengatakan kehamilan sebelumnya juga mengalami pre
eklamsi berat dan pasien tidak memiliki riwayat penyakit jantung,
ginjal maupun diabetes melitus.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
pasien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang
menderita penyakit seperti klien, klien juga menyangkal didalam
keluarganya tidak ada penyakit keturunan seperti diabetes mellitus,
hipertensi maupun ginjal.
d. Pemeriksaan Fisik
1) Kesadaran umum : Composmentis (GCS E4 M6 V5)
2) Tanda-tanda Vital
Tekanan darah : 180/100 mmHg
Nadi : 96 x/menit
Pernafasan : 20 x/menit
Suhu : 36,5oC
3) Pemeriksaan Head To Toe
a) Kepala
Warna rambut hitam, kulit kepala dan rambut bersih, tidak ada
benjolan di kepala.
b) Mata
Konjungtiva sedikit anemis (+), ikterik (-), bentuk pupil isokor,
respon pupil terhadap cahaya kanan/kiri : - / -
c) Hidung
Sekret (-), napas cuping hidung(-)
d) Mulut
Secret (-), gusi dan gigi tidak terdapat perdarahan, mukosa
lembab
e) Telinga

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Bersih, tidak ada penumpukan serumen, simetris kanan/kiri,
sekret (-)
f) Leher
Reflek menelan (+), tidak terdapat benjolan, tidak ada kaku
duduk, tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid
g) Dada

Paru-Paru
Inspeksi : jejas (-), pengembangan dada simetris, tidak
terdapat penggunaan otot-otot bantu pernapasan
Palpasi : nyeri tekan (-), stem fremitus kanan = kiri, tidak
terdapat benjolan.
Perkusi : sonor seluruh lapang paru.
Auskultasi : suara dasar vesikuler.
Jantung
Inspeksi : lctus cordis tidak tampak.
Palpasi : lctus cordis teraba di midclavicula V6.
Perkusi : bunyi pekak pada konfigurasi normal.
Auskultasi : Bj 1 dan Bj 2 normal , terdengar lup dup
h) Abdomen
Inspeksi : perut datar, terdapat luka bekas
Auskultasi : bising usus (-), ± 18 x/menit.
Palpasi : benjolan (-)
Perkusi : bunyi tympani.
i) Ektremitas Atas
Dextra : oedema (-), akral hangat, kapiler refill < 3 detik, tidak
terjadi sianosis.
Sinistra terpasang infus RL 20 tpm, oedema (-), kapiler refill <
3 detik, tidak terjadi sianosis.
j) Ektremitas Bawah
Dextra : oedema (-), akral hangat, refleks babinsky (-), tidak
terjadi sianosis.
Sinistra : akral hangat, oedem (-), tidak terjadi sinosis dan
kapiler refill < 3 detik
k) Genitalia : bersih

e. Pola Persepsi Dan Penanganan Kesehatan


Persepsi terhadap penyakit : Pasien mengatakan sakit ini adalah cobaan
dari Allah selama ini hanya kalau sakit atau melahirkan di puskesmas
saja.

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
f. Pola Nutrisi/Metabolisme
Sebelum sakit : pasien mengatakan biasa makan 3x sehari dengan
menu nasi, lauk, sayur dan kadang buah, makan habis satu porsi tiap
makan, Minum lebih kurang 6-7 gelas/hari
Saat dikaji : pasien mengeluh mual, tidak selera makan, mukosa mulut
kering, turgor kulit elastis

g. Pola Eliminasi
Frekuensi BAB 1 x/hari, adanya konstipasi. Pasien terpasang kateter,
balance cairan lebih kurang 800 cc.

h. Pola Aktivitas /Latihan


Sebelum sakit : pasien mengatakan dapat melakukan aktivitas secara
mandiri seperti bekerja, rekreasi dan personal hygiene
Saat sakit : pasien mengatakan sulit untuk bergerak, merasa pusing,
ADL klien dibantu keluarga dan perawat.

i. Pola Istirahat Tidur


Sebelum sakit : pasien mengatakan biasa tidur 7-8 jam perhari dari
pukul 21.00 sampai 05.00 kadang juga tidur siang selama lebih kurang
1 jam
Saat sakit : pasien mengatakan susah tidur pun tak teratur merasa
nyaman saja pasien bisa beristirahat/tidur

j. Pola Kognitif –Persepsi


Sebelum sakit : pasien mengatakan dalam berkomunikasi sehari-hari
menggunakan bahasa daerah solok selatan kadang menggunakan
bahasa minang, dapat berinteraksi baik dengan orang lain.
Saat dikaji : pasien dapat berkomunikasi dengan baik namun dengan
sedikit lemah dalam berkata kata, baik dengan petugas kesehatan atau
orang lain.
Ketidaknyamanan/Nyeri: Ada
Deskripsi :
P : pasien mengatakan nyeri
Q : pasien mengatakan nyeri seperti tersayat sayat
R : perut bagian bawah
S : skala nyeri 5
T : nyeri saat bergerak, hilang timbul
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Penatalaksanaan nyeri: Manajemen nyeri

k. Pola Peran Hubungan


Pekerjaan : Ibu rumah tangga.

l. Pola Seksualitas/Reproduksi
Tidak ada

m. Pola Persepsi Diri/ Konsep Diri


Status fungsional pasien termasuk katehori V yaitu ketergantungan
total.

n. Pola Koping-Toleransi Stres


o. Pola Keyakinan Nilai
Sebelum sakit : pasien mengatakan rajin beribadah terutama sholat 5
waktu
Saat dikaji : pasien mengatakan hanya bisa berdoa ditempat tidur, tidak
dapat melakukan ibadah sholat 5 waktu seperti biasanya karena sakit dan
keterbatasan gerak.
p. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
a) Pemeriksaan Urin (Tanggal 5/9/2018 Jam 15.00 WIB)
Makroskopis:
Warna : Merah
Kekeruhan : Positif
Mikroskopis:
Lekosit : 10-12/LPB
Eritrosit : 250-300/LPB
Silinder (hialin) : 1-2
Kristal : Negatif
Epitel : Positif
Kimia:
Protein : (++++) positif 4
Glukosa : Negatif
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Bilirubin : Negatif
Urobilinogen : Positif
Kesan: Leukimia, Hematuria, Proteinuria, ditemukan
silinder hialin 1-2/LPK
b) Hematologi
Tanggal 5/9/2018 Jam 15.00 WIB
Hemoglobin : 11,7 g/dl
Leukosit : 21.680/mm3
Trombosit : 348.000/mm3
Hematokrit : 34%
q. Penatalaksanaan
a) IVFD RL + MgSO4 dosis Maintenance
b) Metidopa 3x500mg
c) Inj. Ceftriaxone 1 gr

ANALISA DATA

No DATA MASALAH ETIOLOGI


1 DS : Nyeri Akut Agens cedera
 Klien mengeluh nyeri pada fisik
daerah luka operasi
 P : pasien mengatakan nyeri
 Q : pasien mengatakan nyeri
seperti tersayat sayat
 R : perut bawah sebelah kanan
dan tengah
 S : skala nyeri 6
 T : nyeri saat bergerak, hilang
timbul
DO :
 Klien terlihat takut dan
berhati-hati serta menjaga

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
daerah luka ketika ingin
bergerak dan miring ke kanan
atau ke kiri
 Klien terlihat mengerutkan
muka dan mengeluarkan
ekspresi menahan sakit saat
nyeri timbul
 Klien mengatakan skala nyeri
6
 TD 180/100 mmHg, Nadi
96x/menit. RR 20 x/menit,
suhu 36,5oC
 Terdapat luka jahitan post op
di daerah abdomen
2 DS : Defisit Perawatan Kelemahan Fisik
 Klien memgatakan tidak mau Diri : Mandi
mandi dulu takut karena bekas
luka operasinya masih sakit
dan pasien meminta perawat
untuk menggelap badannya
dengan waslap saja.
DO :
 Keadaan umum lemah
 Kekuatan otot
5 5
5 5
 Kesadaran composmentis
 Rambut dan kepala tampak
kotor dan bau
 ADL terpenuhi dengan
bantuan
3 DS : Hambatan
 Klien mengatakan sulit untuk Mobilitas Fisik

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
bergerak
 Klien mengatakan merasa
pusing setelah melakukan
aktifitas seperti duduk
 Klien mengatakan tidak bisa
melakukan aktivitas sendiri
tanpa dibantu
DO :
 Klien hanya tiduran di bad
pasien
 Kebutuhan ADL dibantu oleh
perawat
 Klien tampak tidak bisa
melakukan aktifitas dengan
mandiri
4 DS: Ansietas Intervensi bedah
 Klien mengatakan takut dan
cemas akan di operasi
DO:
 Klien tampak cemas satu jam
sebelum operasi
 Klien sesekali memanggil
perawat yang berdinas untuk
menanyakan berapa lama lagi
operasinya akan dilakukan
 Akral klien teraba dingin
 Klien tampak berkeringat

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi
1) Ansietas berhubungan dengan intervensi bedah

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
Post Operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik
2) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
3) Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, terapi pembatasan
aktivitas dan penurunan kekuatan

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

3. INTERVENSI KEPERAWATAN

DIAGNOSA
NOC NIC AKTIFITAS KEPERAWATAN
KEPERAWATAN
Nyeri akut Kontrol nyeri: Manajemen Nyeri 1. Manajemen nyeri
Indikator Aktivitas
 Mengurangi nyeri Pemberian analgesic  Lakukan penilaian nyeri secara komprehensif
dengan non analgesic  Kaji ketidaknyamanan secara nonverbal
 Penggunaan analgesik  Tentukan dampak nyeri dalam kehidupan
yang tepat sehari-hari
 Gunakan tanda-tanda  Kontrol faktor lingkunganyang dapat
vital memantau menimbulkan ketidaknyamanan
perawatan  Monitor kepuasaan pasien terhadap
 Laporkan tanda/gejala manajemen nyeri yang diberikan
nyeri pada tenaga 2. Pemberian analgesic
kesehatan profesional Aktivitas
 Nyeri terkontrol  Periksa order atau pesanan untuk obat, dosis,
dan frekuensi yang ditentukan oleh analgesik
 Cek riwayat alergi obat
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

 Tentukan jenis analgesik yang digunakan


 Monitor TTV sebelum dan sesudah
pemberian obat narkotik dengan dosis
pertama atau ada catatan luar biasa
 Cek pemberian analgesik selama 24 jam
untuk mencegah terjadinya puncak nyeri
tanpa rasa sakit.
 Dokumentasi respon klien tentang analgesik,
catat efek yang merugikan pasien.
Defisit perawatan  Intoleransi aktivitas Self care Assistance: Self care Assistance: Barthing/ Hygiene
diri  Self care deficit Barthing/ Hygiene Aktivitas
hygiene  Kaji kebutuhan status nutrisi sesuaikan
 Sensory perception, dengan baseline BB
audiotory disturoed  Pertahankan keseimbangan nutrisi
 Sisir dan cuci rambut pasien setiap 1 minggu
dan sesuai indikasi
 Jaga kebersihan kuku dan dipotong/
dirapikan untuk mencegah injury
 Lakukan hygiene oral tiap 2-4 jam sekali
TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805
Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019

untuk mencegah membran mukosa kering


 Yakinkan eliminasi
 Mulai program bowel untuk mencegah
konstipasi dan kemungkinan impection.
Hambatan mobilitas Mobility level Terapi latihan: ambulasi Terapi latihan: ambulasi : Aktifitas
Keperawatan :
fisik Selfcare: ADLS
 Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan
dan kebutuhan akan pelatan.
 Tentukan tingkat motivasi pasien dalam
melakukan aktivitas
 Ajarkan dan pantau pasien dalam hal
penggunaan alat bantu
 Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan
ROM aktif dan pasif.

Kolaborasi dengan ahli terapi fisik dan okupasi.

4. CATATAN PERKEMBANGAN

TIARA ASPARINA SARI, S.Kep │18123805


Keperawatan Dasar Profesi (KPD)
HARI/TANGGAL NO DX
IMPLEMENTASI EVALUASI (SOAP)
/JAM KEP T
Rabu /5 September 1Praktek1.Profesi
Memonitor
Ners TTV S : pasien mengeluh nyeri pada luka post
2018/02.00 STIKes 2.
MERCUBAKTIJAYA Padang
Memberikan posisi yang nyaman untuk operasi
2018/ 2019 O:
pasien
P = Post SC
3. Mengkaji rasa nyeri pasien Q = tersayat-sayat
R = perut
4. Menganjurkan pasien tarik nafas dalam
S = skala nyeri 5
atau genggam jari jika nyeri T : hilang timbul
 Ekspresi tampak meringis
 IVFD RL + MgSO4 dosis
Maintenance
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan

Rabu /5 September 2 1. Mengkaji kemampuan pasien dalam S : pasien mengatakan lebih nyaman dan
2018/06:30 melakukan perawatan diri. segar
O : Tidak tercium bau, pakaian pasien
2. Mengganti pakaian pasien dengan
telah terganti dan pasien tampak
pakaian yang bersih.
bersemangat
3. Memberikan pujian tentang kebersihan
A : Masalah teratasi sebagian
diri pasien. P : Intervensi dilanjutkan
 Kaji kemampuan pasien dalam
4. Membimbing keluarga pasien untuk
melakukan perawatan diri.
memandikan/menyeka pasien
 Ganti pakaian pasien dengan
pakaian yang bersih.
 Berikan pujian tentang kebersihan
diri pasien.
 Bimbing keluarga pasien untuk
memandikan/menyeka pasien.
Rabu /5 September 3 1.  S:
2018/
Kamis /6 1 1. Memonitor TTV S : pasien mengeluh nyeri pada luka post
September 2. Memberikan posisi yang nyaman untuk operasi
2018/10.00 pasien O:
3. Mengkaji rasa nyeri pasien P : pasien mengatakan nyeri
4. Menganjurkan pasien tarik nafas dalam Q : pasien mengatakan nyeri seperti
atau genggam jari jika nyeri tersayat sayat
R : perut bawah sebelah kanan dan
tengah
S : skala nyeri 4
T : nyeri saat bergerak, hilang timbul
38
 Ekspresi tampak meringis
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Keperawatan Kardiovaskuler, Pusat Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah
Nasional Harapan Kita, 2001 ; 109)

Suriadi, Rita Yuliani, 2001 ; 236, Betz & Sowden, 2002 ; 376)

39
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .................................................................................................. i


Daftar Isi ............................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1


A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Tujuan ........................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 2

A. Pengertian .................................................................................... 2

B. Patofisiologi ................................................................................. 2

C. Etiologi ......................................................................................... 4

D. Gejala ........................................................................................... 5

E. Penatalaksanaan ............................................................................ 6

F. Pemeriksaan Diagnostic ............................................................... 6

G. Pengkajian .................................................................................... 7

H. Diagnosa Keperawatan ................................................................ 7

I. Intervensi ..................................................................................... 8

BAB III PENUTUP ......................................................................................... 11

A. Kesimpulan .................................................................................. 11

B. Saran ............................................................................................ 11

40
Praktek Profesi Ners
STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang
2018/ 2019
DAFTAR PUSTAKA

ii

41