Anda di halaman 1dari 2

Pembangunan Infrastruktur, Dilema Bagi Rakyat Miskin

“Pembangunan infrastruktur secara besar-besaran tidak hanya berdampak pada


pertumbuhan, namun juga akan berdmpak pada kemiskinan” Dedy Mulyadi
Pembangunan infrastruktur secara besar-besaran di wilayah Jabodetabek (Jakarta,Bogor,
Depok, Tanggerang, dan Bekasi) tentunya akan berdamapak besar bagi pertumbuhan
ekonomi Indonesia, selain berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi, pembangunan
infrastruktur juga akan berpengaruh terhadap tumbuhnya sektor properti.
Infrastruktur menjadi masalah utama dalam menggejot perekonomian nasional dan tentunya
sektor properti. Infrastruktur yang paling dekat dengan bisnis properti adalah jalan,
pembangunan jalan yang cukup massif terjadi dimana-mana, dan ini berdampak pada
penggusuran tempat tinggal rakyat kecil dan alih fungsi lahan pertanian menjadi jalan tol, dan
akses transportasi masal seperti LRT da MRT.

Hal demikian akan berdampak terhadap berkurangnya lahan pertanian di wilayah


Jabodetabek. Belum lagi masalah penggusuran tempat tinggal, sehingga rakyat menengah
kebawah tidak punya lahan lagi untuk membangun tempat tingal yang baru. Selain
penggusuran akibat pembuatan jalan baru dan pelebaran jalan, banyak tempat tinggal rakyat
digusur dengan alasan normalisasi sungai untuk mencegah banjir. Belum lagi ditambah
penggusuran karena sengketa lahan dengan pengembang tempat belanja dan hiburan. Hal
demikian selalu dialamtakan kepada rakyat kelas menengah kebawah, yang tidak punya lahan
dan tempat tinggal lain, selin tempat yang digusur.

Bagi kelas menengah, mereka akan tersingkir semakin menjauh dari wilaah Jabodetabek dan
pusat-pusat pertumbuhan atau hidup dengan mengontrak di pusat pertumbuhan. Bagi rakyat
miskin, mereka akan memilih mengontrak dikontrakan seadanya dengan kamar yang tidak
layak huni atau berebut ruang dengan developer dan pemerintah dengan menempati lahan
kosong yang bukan miliknya untuk dibangun pemukiman semi permanen, dan tentunya harus
legowo jika nanti terusir dan tergusur lagi. Bagi rakyat miskin, membeli rumah dimanapun
tempatnya adalah hal yang mustahil.

Baca Juga: Download Aplikasi Pendeteksi Gempa BMKG Versi Terbaru

Bagi rakyat miskin, opsi kembali ke desa sangat tidak mungkin karena ketika kembali ke
desa mereka akan semakin miskin dengan kondisi infrastruktur kesehatan dan penunjang
kehidupan lainnya yang sangat tidak memadai. Di desa, pemerintah pun tidak pernah
membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat miskin desa (buruh tani dan petani kecil)
seperti reformasi agraria. Dana desa yang diprogramkan pemerintah pun belum seutuhnya
mampu merubah perekonomian desa. Hal inilah yang menyebabkan urbanisasi warga desa
yang akhirnya membuat pemukiman-pemukiman kumuh di perkotaan.

Kelas menengah dan rakyat miskin akan sangat dirugikan dengan pembangunan infrastrutur
yang dilakuka secara masif. Kelas menengah tersingkir semakin jauh dari pusat pertumbuhan.
Mereka harus menghabiskan hidupnya di jalan dengan kondisi transportasi publik dan lalu
lintas yang sangat tidak manusiawi untuk mencapai tempat kerjanya.
Disisi lain, kelas atas sangat diuntungkan dengan dibangunnya properti dan proyek
infrastruktur negara. Kaum kelas atas yang mayoritasnya adalah pengusaha akan menguasai
ruang-ruang disekitar pembangunan proyek dan memonopoli hunian di cluster-cluster mewah
dan apartemen yang dibangun oleh developer.

Monopoli properti oleh kelas atas akan semakin besar dan keuntungan hasil dari usaha
properti tersebut akan membuat mereka semakin kaya. Banyak dari mereka yang bisa saja
memiliki tanah sangat luas dan menguasai rumah dan unit apartemen lebih dari 5 bahkan
lebih dari 10. Jika keuntungan terus mengalir, mereka pasti akan terus mengakumulasi modal
untuk kembali membeli properti dan memonopoli hunian dan tanah untuk dijadikan investasi
meraih keuntungan semakin besar.

Pemerintah harus berpihak kepada masyarakat menengah kebawah, meskipun pembangunan


infrastrutur sangat diperlukan untuk kemajuan perekonomi negara. Tetapi pemerintah tidak
boleh abay dan harus berlaku adil, mereka yang tergusur harus diakomodir kepentinganya.
Mereka tidak menuntut banyak hal, mereka hanya ingin dapat tempat tinggal permanen dan
pekerjaan.

Meskipun pemerintah daerah sudah memberi alterntif dengan mencanangkan rumah susun,
shelter, dan program rumah DP 0%, tapi itu tidak dapat mengakomodir semuanya.
Pembangunan infrastruktur di Jabodetabek adalah pembangunan Nasional, mereka yang
tergusur akibat proyek nasional harus tetap dapat perhatian pemerintah pusat. Terlepas dari
pro kontra dana pembangunan infrastruktur dari mana, rakyat kecil tidak mau tau, mereka
hanya ingin merasakan keadilan dan kesejahteraan.