Anda di halaman 1dari 6

BAB 1

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam satu kelas terapi terdapat banyak obat yang mempunyai
indikasi/khasiat yang sama dgn berbagai nama dagang maupun nama
generik, yang diproduksi oleh berbagai perusahaan farmasi. Di Indonesia
terdapat sekitar 198 perusahaan farmasi, baik perusahaan domestik maupun
multi nasional yang memproduksi belasan ribu item obat. Obat yg
dihasilkan oleh produsen farmasi Indonesia tersebut kemudian
didistribusikan oleh Pedagang Besar Farmasi (PBF)/distributor kepada
Apotik, Rumah Sakit dan Toko Obat diseluruh Indonesia, sehingga
menjangkau konsumen dalam skala yang sangat luas mencapai ratusan juta
penduduk Indonesia.
Toko Obat atau pedagang eceran obat adalah orang atau badan hukum
yang memiliki ijin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas
terbatas (Daftar W) untuk dijual secara eceran di tempat tertentu
sebagaimana tercantum dalam surat ijin. Sebagai perantara, toko obat dapat
mendistribusikan obat-obat bebas dan obat-obat bebas terbatas dari supplier
kepada konsumen, memiliki beberapa fungsi kegiatan yaitu pembelian,
gudang, pelayanan keuangan dan pembukuan. Agar dapat berjalan dengan
baik, maka seorang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) disamping
menguasai ilmu kefarmasian juga perlu menguasai ilmu lainnya seperti ilmi
pemasaran (marketing) dan ilmu akuntansi (accounting). Toko obat
bukanlah suatu badan usaha yang semata-mata hanya mengejar keuntungan
saja tetapi toko obat mempunyai fungsi sosial yang menyediakan,
menyimpan, dan menyerahkan obat-obatan yang bermutu baik dan terjamin
keabsahannya.
Dalam upaya usaha untuk memajukan kesejahteraan umum yang
berarti mewujudkan suatu tingkat kehidupan secara optimal, yang
memenuhi kebutuhan manusia termasuk kesehatan, maka dibuatlah
pendirian Toko Obat Di Daerah Gorontalo Berizin Jamu Solo terletak di JL
Ahmad Yani Kompleks pertokoan murni yang diharapkan dapat
menyebarkan obat secara merata sehingga dapat memudahkan masyarakat
untuk mendapatkan obat yang bermutu.
Dengan demikian, seorang Tenaga Tekhnis Kefarmasian dalam
menjalankan profesinya di toko obat tidak hanya sebagai penanggung jawab
teknis kefarmasian saja, melainkan juga dapat memberikan keuntungan
kepada pihak-pihak yang memilki kepentingan tanpa harus menghilangkan
fungsi sosialnya di masyarakat
I.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana latar belakang berdirinya Toko Jamu Solo di Gorontalo?
2. Bagaimana cara pendistribusian obat di Toko Jamu Solo Gorontalo?
3. Bagaimana strategi pengembangan toko obat Jamu Solo di Gorontalo?
I.3 Tujuan
1. Mengetahui asal usul berdirinya Toko Jamu Solo di Gorontalo
2. Mengetahui cara pendistribusian obat di Toko Jamu Solo Gorontalo
3. Mengetahui strategi pengembangan toko obat Jamu Solo di Gorontalo
I.4 Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang
manajemen pengelolaan sediaan farmasi dalam pelayanan kesehatan
terutama dalam hal perencanaan dan pengadaan sediaan farmasi.
BAB 2
PEMBAHASAN
Toko Obat Berizin Jamu Solo terletak di JL Ahmad Yani Kompleks
pertokoan murni. Toko obat ini berdiri sejak tahun 1998. Pemilik toko jamu saat
ini merupakan genersi kedua yaitu Ko’ Irfan, sebelumnya toko ini di kelolah oleh
kakaknya dan pada tahun 2000an tanggung jawab tokoh tersebut diserahkan
kepada Ko’ Irfan.
Awal mula berdirinya tokoh ini karena keinginan dari pemilik untuk
mengenalkan obat herbal kepada masyarakat, Agar masyarakat Indonesia
khususnya masyarakat gorontalo dapat melakukan pengobatan dengan obat-
obatan herbal sehingga dapat mengurangi berbagai efek negative yang biasanya
ada pada obat-obatan kimia.
Toko obat jamu solo ini hanya memiliki 1 cabang dan toko ini hanya
khusus menjual obat obat herbal. Toko obat ini tidak bekerja sama dengan PBF
karena mereka bukan merupakan toko obat yang menjual obat kimia melainkan
hanya khusus untuk obat herbal
Toko obat jamu Solo ini memiliki izin langsung dari Dinas Kesehatan
Provinsi Gorontalo.Dan pada saat ini sesuai dengan peraturan pemerintah harus
memiliki asisten apoteker namun menurut Ko’Rivan, asisten apoteker itu
diperlukan jika toko obat menerima resep dari dokter .
Pengadaan barang ditoko obat jamu solo ini langsung di kirim dari Jawa
dan langsung di distribusikan kepada para konsumen sesuai dengan kebutuhan
pasien yang datang secara langsung ke toko ini.
Strategi pengembangan dari toko obat jamu solo ini yaitu dengan
melakukan sosialisai kepada masyarakat, karena khususnya masyarakat gorontalo
sangat sedikit yang minat dengan obat herbal, berbeda dengan masyarakat yang
berada dipulau Jawa yang sudah lama mengenal jamu- jamuan.
Sejak tahun 2016 perkembangan dari toko obat jamu ini sedikit menurun
karena kurangnya dukungan dari pemerintah serta kepercayaan masyarakat saat
ini lebih condong ke farmasi sehingga langsung membeli obat-obatan di apotik.
Di toko obat jamu solo ini yang paling banyak di cari oleh konsumen yaitu
obat- obat untuk penyakit orang tua pada umumnya yakni asam urat, rematik dan
kolestrol.
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Toko Obat atau pedagang eceran obat adalah orang atau badan hukum
yang memiliki ijin untuk menyimpan obat-obat bebas dan obat-obat bebas
terbatas (Daftar W) untuk dijual secara eceran di tempat tertentu
sebagaimana tercantum dalam surat ijin.
Dalam upaya usaha untuk memajukan kesejahteraan umum yang
berarti mewujudkan suatu tingkat kehidupan secara optimal, yang
memenuhi kebutuhan manusia termasuk kesehatan, maka dibuatlah
pendirian Toko Obat Di Daerah Gorontalo Berizin Jamu Solo terletak di JL
Ahmad Yani Kompleks pertokoan murni. Toko Obat Berizin Jamu Solo
terletak di JL Ahmad Yani Kompleks pertokoan murni. Toko obat ini berdiri
sejak tahun 1998. Pemilik toko jamu saat ini merupakan genersi kedua yaitu
Ko’ Irfan.
Pengadaan barang ditoko obat jamu solo ini langsung di kirim dari
Jawa dan langsung di distribusikan kepada para konsumen sesuai dengan
kebutuhan pasien yang datang secara langsung ke toko ini.
Strategi pengembangan dari toko obat jamu solo ini yaitu dengan
melakukan sosialisai kepada masyarakat, karena khususnya masyarakat
gorontalo sangat sedikit yang minat dengan obat herbal, berbeda dengan
masyarakat yang berada dipulau Jawa yang sudah lama mengenal jamu-
jamuan.
3.2 Saran
Dalam membuat toko obat farmasi, kita harus benar-benar
memahami,mengerti, dan melaksanakan perencanaan pembangunan toko
obat dengan segala resiko yang mungkin ada suatu saat nanti selain itu
pengetahuan dan skill apoteker terkait proses perencanaan dan pengadaan
harus terus diperbaharui dan ditingkatkan mengingat pentingnya proses
tersebut dalam menjamin kualitas pelayanan kesehatan.
LAMPIRAN