Anda di halaman 1dari 3

2.

5 Patofisiologi

Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi uterus dan
peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu terjadi perubahan
biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh, bukan karena seluruh selaput
ketuban rapuh.1

Terdapat keseimbangan antara sintesis dan degradasi ekstraseluler matriks.


Perrubahan struktur, jumlah sel, dankatabolisme kolagen menyebabkan aktivitas kolagen
berubah dan menyebabkan selaput ketuban pecah.1

Faktor resiko untuk terjadinya ketuban pecah dini adalah: berkurangnya asam
askorbik sebagai komponen kolagen; kekurangan tembaga dan asam askorbik yang berakibat
pertumbuhan struktur abnormal karena antara lain merokok.1

Degradasi kolagen dimediasi oleh matriks metaloproteinase (MMP) yang dihambat


oleh inhibitor jarinagan spesifik dan inhibitor protease.1

Mendekati waktu persalinan, keseimbangan antara MMP dan TIMP-1 mengarah pada
degradasi proteolitik dari matriks ekstraselular dan membrane janin. Aktivasi degradasi
proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada penyakit periodontitis di mana terdapat
peningkatan MMP, cenderung terjadi ketuban pecah dini.1

Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada trimester ketiga selaput
ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput ketuban ada hubungannya dengan
pembesaran uterus, kontraksi rahim, dan gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi
perubahan biokimia pada selaput ketuban. Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm
merupakan hal fisilogis.Ketuban pecah dini pada kehamilan premature disebabkan oleh
adanya faktor-faktor eksternal, misalnya infeksi menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini
saat prematur sering terjadi pada polihidramnion, inkompeten serviks, solution plasenta.1

2.8 Komplikasi

Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan.
Dapat terjadi infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia karena
kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden seksio sesarea, atau gagalnya
persalinan normal.1
2.8.1 Infeksi

Resiko infeksi pada ibu dan anak meeningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu
terjadi korioamnionitis. Pada bayi terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi
korioamnionitis sebelum janin terinfeksi. Ketuban pecah dini saat preterm, infeksi lebih
sering terjadi daripada saat aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada ketuban pecah
dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.

2.8.2 Persalinan prematur

Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten
tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah ketuban
pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan terjadi dalam 24 jam. Pada
kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.

2.8.3 Hipoksia dan asfiksia

Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menyebabkan penekanan tali


pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin
dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.

2.8.4 Sindrom deformitas janin

Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin
terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi
pulmonary.

2.10 Prognosis

Menurut Achadiat, C.M (2004) prognosis dari ketuban pecah dini tergantung dari cara
penatalaksanaan, komplikasi yang ditimbulkan oleh ketuban pecah dini dan umur dari
kehamilan ibu. Prognosis yang pertama di tentukan oleh faktor penataklasanaan yang
diberikan kepada ibu dengan ketuban pecah dini. Faktor kedua yang mempengaruhi
prognosis dari ketuban pecah dini adalah tergantung dari komplikasi pada janin maupun
komplikasi pada ibu. Faktor ketiga yang menentukan prognosis adalah umur kehamilan.
Semakin muda umur kehamilan maka prognosis terutama pada janin akan semakin buruk.
Prognosis pada janin yaitu kelahiran prematur. Kelahiran prematur berhubungan denagan
kecacatan dan kematian janin.
Menurut Sujiyatini, et al (2009) hipoplasia paru adalah salah satu komplikasi yang
mencapai angka 100% jika bayi lahirpada usia kehamilan 23 minggu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Prawiroharjo, S. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka


2. Sujiyatini, et al. 2009. Asuhan Patologi Kebidanan. Jakarta: Nuha Medika
3. Achadiat, C.M. 2004. Prosedur Tetap Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC