Anda di halaman 1dari 46

RKS

&
SPESIFIKASI TEKNIS

1 JENIS 1.1. Nama Pekerjaan :


PEKERJAAN Perencanaan Pembangunan Pusat Data Matrilineal,
Tahun Anggaran 2018

Masa Pekerjaan : 120 (Seratus Dua puluh ) Hari


Kalender
1.2. Pekerjaan ini meliputi, mendatangkan dan melengkapi
semua bahan-bahan, menyediakan tenaga kerja, alat-alat
yang dibutuhkan serta membuat segala pekerjaan
1.3. persiapan dan tambahan untuk kesempurnaan
pelaksanaan dan kemudian menyerahkan pekerjaan
dalam keadaan selesai dan sempurna.

Dalam pelaksaan pekerjaan ini harus dilaksanakan


berdasarkan kepada Bestek dan Gambar-gambar detail,
peraturan-peraturan dan syarat-syarat, daftar penjelasan
1.4. (Anwijzing ) serta ketentuan dan keputusan Direksi yang
dibuat secara tertulis.

2 UKURAN – 2.1 Semua ukuran-ukuran harus sesuai dengan yang


UKURAN tercantum pada Gambar Bestek dan Gambar-gambar
FEIL detail serta yang dinyatakan dalam Bestek ini.

2.2 Untuk letak Feil ± 0.00 ditentukan dari muka tanah .


Atau kalau ada perubahanditetapkan oleh Direksi,
Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas ditempat
pekerjaan dan kemudian akan ditetapkan sebagai
permukaan lantai.

2.3 Segala biaya yang dikeluarkan untuk pengukuran (


Uizetten ) menjadi tanggungan Pemborong.
1

3 PEKERJAAN 3.1 Lingkup Pekerjaan


PENDAHULU Meliputi pengerjaan seluruh bangunan, terdiri dari :
AN 1. Pembersihan Lapangan
2. Pemindahan Parkiran (Pembongkaran + Pemasangan
Kembali
3. Pasangan Bowplank

3.2 Persyaratan Bahan


1. Untuk Direksi Keet, Gudang dan Bangsal Kerja
Rangka kayu, dinding papan dan atap seng BJLS
18.
2. Untuk penampungan air disiapkan drum
penampungan, air harus memenuhi kualitas yang
ditentukan dalam PBI 1971.
3. Untuk papan nama proyek digunakan tiang dan
kayu meranti dan tripleks atau plat seng.
4. Bahan bouwplank dipakai kayu meranti 5/7 dan
papan meranti ukuran 2/20.

3.3 Pedoman Pelaksanaan


1. Pembuatan papan nama proyek
Membuat papan namam proyek dari papan dilapis
seng dengan ukuran 200 x 100 cm. Didirikan
tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm.
Diletakkan pada tempat yang mudah dilihat
umum. Papan nama proyek memuat :
- Nama proyek
- Pemilik proyek
- Lokasi proyek
- Jumlah biaya (kontrak)
- Nama Konsultan Perencana
- Nama Konsultan Pengawas
- Nama Pelaksana (Kontraktor)
- Proyek dimulai tanggal, bulan, tahun.
Sebelum pekerjaan dimulai kontraktor harus
melakukan Pembersihan, pengukuran dari existing
yang ada dan membuat patok-patok dan
pemasangan bouplank

2. Pagar Keliling Pengaman Pekerjaan


1. Pagar didirikan pada batas-batas yang
mengelilingi tapak proyek seperti yang
ditentukan dengan tinggi 2 M.
2

2. Pagar proyek terbuat dari seng gelombang


BJLS 30, dipasang pada tiang
3. Rangka pada tiang dan rangka kayu klas II,
dan diperkuat dengan beton setempat.
4. Pada tempat-tempat yang ditentukan dalam
gambar dibuat pintu masuk untuk kendaraan
angkutan dan pintu masuk orang, pintu terbuat
dari rangka kayu dan selanjutnya ditutup
dengan finish cat dengan persetujuan direksi
lapangan.
3. Membuat Gudang, bangsal kerja, dan Direksi Keet
1. Ukuran luas kantor pemborong dan los kerja
serta tempat simpan bahan bakar, disesuai
dengan kebutuhan pemborong dengan tidak
mengabaikan keamanan dan kebersihan dan
bahaya kebakaran, serta memperhatikan tempat
yang tersedia sehingga tidak mengganggu
kelancaran kerja dan arus lalu lintas, harus
disediakan 3 buah penyemprot api
(extinghuizer) 20 kgs/cm2, 1 (satu)
dipemborong, 1 (satu) diletakkan di kantor
direksi lapangan, 1 (satu) diletakkan di
daerah yang strategis di los kerja.
2. Khusus untuk simpan bahan-bahan seperti
pasir, kerikil harus dibuatkan kotak simpan
dipagar dengan dinding papan, sehingga
masing-masing bahan tidak tercampur dengan
bahan lainnya.
3. Pemborong tidak diperkenankan :
1. Menyimpan alat-alat, bahan bangunan
diluar pagar proyek, walaupununtuk
sementara.
2. Menyimpan bahan-bahan yang ditolak
direksi lapangan karena tidakmemenuhi
syarat.

4. Pembongkaran Parkir Existing


Sebelum kontaktor membongkar Parkir lama,
kontraktor harus memperhatikan keselamatan
orang yang berada dilokasi proyek, dan isntalasi
listrik, dan lain-lain harus diputus terlebih
dahulu. Bangunan yang akan dibongkar harus
sesuai dengan gambar kerja.

5. Pengadaan listrik dan air untuk pelaksanaan


pekerjaan
1. Air untuk bekerja harus disediakan
pemborong dengan membuat sumur pompa
ditapak proyek atau air PAM, air harus bersih
3

bebas dari lumpur, minyak dan bahan kimia


lainnya dengan dibuktikan dengan
pemeriksaan laboratorium.
2. Reservoir/bak air untuk kerja berukuran
minimum 4 m3 dan senantiasa terisi penuh.
3. Listrik untuk bekerja harus disediakan
pemborong ,penggunaan diesel untuk
pembangunan sementara atas persetujuan
direksi lapangan.

3.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan

4 PEKERJAAN 4.1 Lingkup Pekerjaan


TANAH DAN Yang termasuk dalam pekerjaan tanah :
GALIAN 1. Penimbunan dengan tanah urug
2. Pematokan
3. Pembersihan
4. Galian tanah termasuk galian saluran
5. Urugan tanah
4.2
Penimbunan dengan tanah urug
a. Sebelum dilakukan penimbunan tanah urug,
harus dilakukan pengukuran untuk ambil 0
lantai dari as jalan.
b. Penimbunan tanah urug harus dipadatkan setiap
ketebalan 20 cm.
c. Tanah yang di timbun harus padat dan datar

4.3 Pematokan
a. Sebelum bagian pekerjaan lainnya dimulai,
Kontraktor melakukan pematokan untuk
menetapkan AS fan Peil rencana serta batas.
b. Dalam pematokan ini, Kontraktor harus
memperhatikan titik-titik referensi/Bench Mark
yang ada.
c. Pematokan dilakukan oleh Kontraktor
kemudian diperiksa kembali bersama oleh
Kontraktor dan Direksi.
d. Patok-patok tersebut dari kayu bulat diameter 8
cm dan panjang 60 cm ditancapkan sedalam 50
cm dan bagian yang muncul diatas permukaan
tanah setinggi 10 cm.
e. Patok dari titik-titik yang akan terganggu oleh
pekerjaan, harus dibuat patok-patok referensi
pada tempat yang aman dan mudah terlihat.
4

f. Patok referensi tersebut ditempel papan yang


berisikan tulisan/penjelasan mengenai posisi
dan peil rencana dari titik yang bersangkutan.
g. Bila Direksi meragukan hasil pekerjaan yang
telah ada, Direksi berhak melakukan
pengukuran pemeriksaan ulang.

4.4 Pembersihan
a. Bagian taman yang terkena terkena bangunan
dibongkar, batang-batang pohon,
akar-akar dan sebagainya harus dibongkar pada
kedalaman sekurang-kurangnya 50 cm di
permukaan tanah asli atau permukaan
akhir/final grade (ditentukan oleh permukaan
yang lebih rendah) dan bersama-sama dengan
seluruh sampah dalam segala bentuknya, harus
dibuang pada tempat yang tidak tampak dari
tempat pekerjaan/akan ditetapkan oleh Direksi.
b. Pohon-pohon yang ditebang, tidak
diperkenankan jatuh pada tanah milik
perorangan tanpa izin khusus dari pemiliknya
dan Kontraktor atas tanggungjawabnya
menyingkirkan pohon-pohon tersebut atau
membiarkan di tempat semula, asal ada
persetujuan tertulis dari pemiliknya.
c. Seluruh kerusakan termasuk pagar, yang terjadi
pada saat pembersihan, harus diperbaiki oleh
Kontraktor atas tanggung jawabnya sendiri.
d. Dalam hal akan dilakukan pembakaran,
Kontraktor harus memberitahukan kepada
pemilik-pemilik tanah yang berbatasan dengan
pekerjaan, paling kurang 48 jam tentang
maksudnya akan melakukan pembakaran.
e. Kontraktor harus selalu bertindak sesuai dengan
peraturan-peraturan pemerintah yang berlaku
mengenai pembakaran di tempat terbuka.
f. Pada pelaksanaan pembersihan, kontraktor
harus berhati-hati untuk tidak mengganggu
setiap patok-patok pengukuran, pipa-pipa atas
tanda-tanda lainnya.
g. Pekerjaan pematikan dianggap selesai apabila
hasilnya sudah diketahui dan disetujui oleh
Direksi.
4.5 Galian
a. Pekerjaan galian dilakukan pada daerah galian
sebagai yang tercantum dalam gambar rencana.
b. Kedalaman penggalian harus sesuai dengan
ketinggian rencana yang tertera pada gambar
rencana.
5

berdiri sampai pekerjaan selesai.


c. Tanah dan batuan hasil galian yang memenuhi
persyaratan material untuk urugan, dipakai
untuk pekerjaan urugan.
d. Tanah hasil galian yang tidak dipakai/terpakai
untuk urugan dibuang ke tempat yang akan
ditetapkan oleh Direksi.

4.6 Urugan
a. Material untuk urugan, harus material yang
sesuai untuk itu dan disetujui Direksi. Galian
tambahan hanya boleh dikerjakan bila tidak ada
material yang cukup baik untuk memenuhi
kebutuhan seluruh pengurugan.
b. Material yang dalam keadaan basah, dimana
kalau dalam keadaan kering dinyatakan dapat
dipakai, harus dikeringkan lebih dahulu
sebelum digunakan untuk timbunan.
c. Bila Direksi menghendaki, Kontraktor harus
menggali tanah tufa atau material tanah yang
kurang baik mutunya sampai kedalaman yang
dianggap cukup oleh Direksi.
d. Pada daerah-daerah basah/ tergenang air/rawa,
Kontraktor harus membuat saluran-saluran
pembuangan sementara atau memompa air
untuk mengeringkan daerah tersebut. Lapisan
lumpur yang ada harus dibuang ke tempat yang
akan ditunjuk oleh Direksi sebelum pengurugan
kembali.
e. Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, pada
daerah yang telah selesai dibabat dan
dibersihkan, Kontraktor harus mengerjakan
pengisian lubang-lubang yang disebabkan
karena pencabutan akar-akar pohon, bekas-
bekas sumur, saluran dan sebagainya dengan
menggunakan material yang baik sesuai dengan
petunjuk Direksi dan harus segera dilakukan
perataan dan pemadatan pada permukaan tanah
tersebut.
f. Penghamparan material urugan dapat dimulai
setelah ada persetujuan Direksi.
g. Pengurugan dilakukan lapis demi lapis dan
setiap lapisan harus dipadatkan sampai
mancapai kepadatan yang disyaratkan. Lapisan
dari material lepas selain dari material batu-
batuan, tebal tiap lapisannya tidak boleh lebih
dari 20 cm, kecuali kalau tersedia alat pemadat
(Compaction Equipment) yang dapat
memadatkan lebih dari 20 cm sampai mencapai
6

kepadatan yang merata untuk seluruh tebalnya.


Setelah kadar air diatur agar dapat dicapai
kepadatan yang maksimum, material lepas
harus segera dipadatkan sehingga mencapai
kepadatan yang disyaratkan.
h. Sebelum dimulai pekerjaan pemadatan yang
sesungguhnya, Kontraktor harus melakukan
percobaan pemadatan atas petunjuk Direksi,
pada jalur dengan panjang dan lebar tertentu,
dengan alat-alat dan material seperti yang sama
yang akan digunakan pada pekerjaan
pemadatan yang sesungguhnya. Tujuan dari
percobaan ini adalah untuk menentukan kadar
air optimum yang akan dipakai dan hubungan
antara jumlah penggilasan dan kepadatan yang
dapat dicapai untuk rencana material urugan
tertentu. Seluruh pembiayaan untuk percobaan
ini ditanggung oleh Kontraktor.
i. Kepadatan yang harus dicapai untuk konstruksi
urugan adalah sebagai berikut :
j. Lapisan tanah lebih dari 30 cm di bawah peil
permukaan sub grade, harus dipadatkan sampai
90% dari kepadatan (kering) maksimum yang
dapat dicapai dengan test (AASHO T.99-70.
Untuk mencapai kepadatan CBR 4% lapisan
berikutnya tidak boleh dihampar sebelum
lapisan yang terdahulu disetujui oleh Direksi.
k. Lapisan dibawah permukaan sub grade kurang
dari 30 cm harus dipadatkan hingga mencapai
100% dari kepadatan (kering) maksimum
menurut AASHO T.99-70 untuk mencapai
kepadatan CBR 4%.
l. Material urugan yang tidak mengandung kadar
air yang cukup untuk dapat mencapai kepadatan
yang dikehendaki, harus ditambah air dengan
alat penyemprot (sprinker) dan
dicampur/diaduk sampai merata (homogen).
Material urugan yang mempunyai kadar air
lebih tinggi dari seharusnya tidak boleh
dipadatkan sebelum cukup di keringkan dan
disetujui oleh Direksi untuk dipakai. Pekerjaan
pemadatan tanah urugan tadi harus dilakukan
pada kadar air optimum sesuai dengan sifat
alat-alat pemadatanyang tersedia. Pada
pelaksanaan, Kontraktor harus mengambil
langkah-langkah yang perlu agar pada
pekerjaan tersebut air hujan dapat mengalir
dengan lancar.
7

m. Apabila Direksi meragukan hasil pemadatan,


maka Kontraktor wajib membuktikan hasil
pemadatan lapis per lapis dengan test langsung
di lapangan dan dilaboratorium atas biaya
Kontraktor.
n. Laboratorium yang dipakai adalah laboratorium
mekanika tanah yang mempunyai izin usaha
dan izin operasi resmi pada bidangnya.
o. Semua hasil pekerjaan akan dicek kembali
terhadap patok-patok referensi.
p. Pekerjaan pengurugan dianggap selesai setelah
mendapat persetujuan dari Direksi.

4.7 Pekerjaan Untuk Pondasi


a. Galian tanah pondasi harus sesuai dengan
gambar pelaksanaan, baik kedalaman, lebar
maupun tingginya.
b. Dalam hal kondisi tanah mengandung lumpur
atau humus yang cukup dalam, maka jenis
tanah tersebut harus dibuang/dibongkar dan
diadakan perbaikan struktur tanah pondasi.
c. Apabila kedalaman galian pondasi sudah
tercapai, kondisi tanah masih diragukan,
Pemborong wajib melaporkan kepada
PENGAWAS/Pemberi Tugas.

5 PEKERJAAN 5.1 Lingkup Pekerjaan


PONDASI Meliputi pengerjaan seluruh bangunan, terdiri dari :
1. Pondasi pasangan batu kali/batu belah
2. pondasi plat setempat beton bertulang.
3. Pondasi Sumuran

5.2 Persyaratan Bahan


1. Untuk pekerjaan batu kali/belah digunakan Batu
kali/belah yang berukuran maksimum 10 cm – 15
cm, berwarna abu-abu hitam dan tidak berpori.
2. Untuk pondasi plat beton bertulang digunakan
bahan yang memenuhi persyaratan yang
diuraikan dalam pasal beton bertulang

5.3 Pedoman Pelaksanaan


Sebelum pondasi dipasang terlebih dahulu diadakan
pengukuran- pengukuran untuk as-as pondasi sesuai
dengan gambar konstruksi. Setiap pentahapan
pekerjaan Pondasi ini kontraktor harus membuat
Shop Drawing dan persetujuan Direksi/Pengawas
Lapangan.
Pemborong wajib melaporkan kepada Direksi bila
ada perbedaan gambar konstruksi dengan gambar
arsitektur atau bila ada hal-hal yang kurang jelas.
8

Dibawah dasar pondasi didasari dengan pasir pasang


setebal ±10 cm dan dipadatkan.
1. Pondasi pasangan batu kali/batu belah
Sebagai lantai kerja untuk pasangan pondasi ini
dipasang aanstampang, terdiri dari batu kali dan
pasir pasang (pasangan batu kosong). Lapisan ini
juga harus dipadatkan, dengan menyiram air
diatasnya, sehingga pasir akan mengisi
rongga-rongga batu kali tersebut. Diatasnya
dipasang Pondasi batu kali/belah dipasang dengan
perekat 1 Pc : 4 Ps. Dibagian samping dirapikan
(diplester) Pondasi batu bata dipasang dengan
perekat 1 Pc : 4 Ps dan pada bagian sisi diplester
kasar/brappen.
2. Pondasi Batu Merah
a. Bata merah yang dipergunakan harus
berkualitas baik, terbuat dari tanah liat,
berukuran sama, pembakarannya matang dan
merata, mempunyai rusuk-rusuk yang tajam
dan siku.
b. Pemasangan ini hanya dilaksanakan untuk :
- Pondasi rabat beton
- Pondasi saluran air
- Bak-bak kontrol
- Perletakan kloset dan bak-bak mandi
- Dan lain-lain yang dinyatakan dan gambar
c. Pondasi batamerah yang terletak pada tanah
urugan, harus didasari lapisan pasir padat
setebal 5 cm, sedang tanah urugan
dibawahnya harus sudah mengalami proses
stabilitasasi.
d. Adukan pasir yang dipakai adalah minimum
dengan komposisi 1 pc : 4 psr, kecuali untuk
pondasi kedap air dengan komposisi
transraam 1 pc : 2 psr.
3. Pondasi Plat Setempat.
Setelah pasir urug diberi lantai kerja dengan
adukan 1 PC : 3 PS : 5 KR dibuat sesuai dengan
gambar detail pondasi Plat Setempat. Kemudian
dilanjut dengan pemasangan pondasi plat
setempat beton bertulang dengan mengunakan
mutu beton K-250 bentuk dan pembesian sesuai
dengan gambar dan petunjuk pengawas.
3. Pondasi Sumran
Setelah Galian, selanjutnya dilakukan penurunan
Cincin sumuran dilanjutkan dengan pengecoran
beton Kedap Air K 225, Pengecoran Cyclopan
dengan campur batu belah, dilanjutkan dengan
beton spiral menggunakan besi Ulir jarak 1,25 cm.
9

Dibawah sloff dipasang Poer beton bertulang


dengan mengunakan mutu beton K-250 bentuk
dan pembesian sesuai dengan gambar dan
petunjuk pengawas.

Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan
10

6 PEKERJAAN 6.1 Struktur Bawah


BETON 1. Lingkup Pekerjaan
BERTULANG Yang termasuk dalam pekerjaan struktur bawah :
- Sloof Beton Bertulang
- Poer Sumuran

2. Syarat-syarat umum
- Mutu beton yang dipakai K-250 dan baja
tulangan yang dipakai BJTD 320 MPa dan
BJTP 240 MPa untuk pekerjaan sloof, seperti
dijelaskan pada pasal mengenai pekerjaan
beton.
- Bekisting harus dipasang dengan kuat dan
tepat pada posisi sesuai dengan gambar
rencana. Dibawah beton sloof harus dibuat
lantai kerja dari beton tumbuk tebal 5 cm.
- Stek-stek kolom, harus distek setepat-tepatnya
sebelum pengecoran beton dilaksanakan.
- Harus diperhatikan selebum memasang
bekisting dan tulangan sloof, pipa-pipa
pembuangan air-kotor dan supply air bersih
yang lewat dibawah sloof harus sudah
terpasang pada posisi yang tepat.

6.2 Pekerjaan Struktur Atas


1. Lingkup pekerjaan
Meliputi pembuatan kerangka bangunan dari beton
bertulang dari dasar lantai sampai dengan atap
termasuk segala bagian strukturnya, yang terdiri
dari Kolom-kolom, balok-balok, pelat-pelat lantai
dengan struktur beton, sirip-sirip beton, dak-dak
beton, tangga beton serta konstruksi beton lainnya
seperti yang tertera dalam gambar.
Termasuk dalam pekerjaan ini pada :
Penyediaan dan pemasangan bahan lapisan kedap
air pada daerah basah, serta penyediaan dan
pemasangan talang-talang air dari pipa PVC
berikut klem-klemnya.

2. Bahan dan syarat pelaksanaannya


- Beton yang dipergunakan untuk seluruh
struktur bangunan ini harus mempunyai mutu
karakteristik minimal K-250 menurut PBI-
1971. Kecuali kolom praktis dan ring balok
praktis menggunakan K.175
- Baja yang dipergunakan untuk seluruh struktur
bangunan ini harus mempunyai mutu baja
minimal BJTP 240 MPa dan BJTD 320 MPa.
- Bahan-bahan lainnya dan syarat-syarat
11

pelaksanaannya sama dengan syarat-syarat


seperti dijelaskan pada Pasal-Pasal RKS ini.

3. Bahan Beton dan Syarat-syarat


pelaksanaannya
A. Bahan-bahan
1. Semen Portland (PC)
1. Persyaratan
- Digunakan Portland Cement Tipe I
menurut NI - 8 tahun 1972 dan
memenuhi S - 400 menurut Standar
Cement Portland yang digariskan oleh
Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun
1972).
- Semen yang telah mengeras sebagian
maupun seluruhnya dalam satu zak
semen, tidak diperkenankan
pemakaiannnya sebagai bahan
campuran.
- Penyimpanan harus sedemikian rupa
sehingga terhindar dari tempat yang
lembab agar semen tidak cepat
mengeras. Tempat penyimpanan
semen harus ditinggikan 30 cm dan
tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap
semen baru yang masuk harus
dipisahkan dari semen yang telah ada
agar pemakaian semen dapat
dilakukan menurut urutan pengiriman.

2. Penyimpanan
Semen harus disimpan dalam gudang
yang kedap air dan berventilasi baik,
diatas lantai 30 cm. Kantong-kantong
berisi semen tidak boleh ditumpuk lebih
dari 10 lapis, atau ditumpuk langsung
diatas lantai. Penyimpanan semen harus
selalu terpisah untuk setiap pengiriman.

3. Pemeriksaan
- Kantraktor harus memberitahukan
kepada Konsultan Pengawas kapan
dan dimana semen itu dihasilkan.
Konsultan Pengawas mengadakan
pemeriksaan di tempat penimbunan
dan mengambil contoh-contoh semen
timbunan tersebut untuk keperluan
pemeriksaan di Laboratorium, jika
kualitasnya diragukan. Semen yang
dinyatakan afkir oleh Konsultan
Pengawas, tidak boleh dipergunakan
dan harus disingkir keluar proyek.
Apabila Kontraktor masih
mempergunakan semen yang diafkir
tersebut untuk pekerjaan beton maka
kepada Kontraktor dapat
diperintahkan untuk membongkar
beton tersebut dan harus
menggantinya dengan semen yang
disetujui atas biaya Kontraktor.
- Untuk mencegah semen dalam zak
disimpan terlalu lama sesudah
penerimaan, kontraktor hendaknya
memakai semen menurut urutan
kronologis yang diterima dalam
gudang penyimpanan.

2. Agregat (Pasir, kerikil atau batu pecah)


- Kerikil yang digunakan harus bersih dan
bermutu baik, serta mempunyai gradasi
dan kekerasan sesuai yang disyaratkan
dalam PBI 1971.
- Untuk Beton mutu fc’= 19.3 Mpa (K-
225), fc’= 21.7 Mpa (K-250) dan fc’=
26.04 Mpa (K-300) mengunakan material
kerikil beton batu pecah (Split)
- Penumpukan material kerikil dengan pasir
harus dipisahkan agar kedua jenis material
tersebut tidak tercampur untuk menjamin
adukan beton dengan komposisi material
yang tepat.
- Untuk bahan agregat (halus dan kasar)
dapat dipakai agregat alami atau buatan
asal memenuhi syarat menurut PBI-1971
- Bila dianggap perlu, dapat dilakukan
pengujian butiran dengan memperhatikan
persyaratan PUBI-1982.
- Agregat halus harus bersih, keras dan
berbutir tajam, bebas dari lumpur,
gumpalan tanah/lumpur, bahan organik
lainnya yang dapat mengurangi atau
merusakkan mutu beton.
- Agregat kasar harus bersih dan bebas dari
bagian-bagian yang halus, mudah pecah,
keropos, tipis atau panjang-panjang, bebas
dari bahan-bahan organik atau dari
substansi yang merusak.
3. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak
mengandung minyak, asam alkali, garam,
bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain
yang dapat merusak beton atau baja tulangan.
Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih
yang dapat diminum.

4. Besi beton.
Besi beton yang digunakan adalah baja lunak
dengan mutu
- U - 32 tegangan Leleh karakteristik
minimum 3200 kg/cm2).
Untuk Besi Diameter diatas 12 mm (Besi
Ulir) (BJTD)
- U - 24 tegangan Leleh karakteristik
minimum 2400 kg/cm2).
Untuk besi Diameter 8 mm s/d Diameter
19 mm (Besi Ulir) (BJTD)

Daya lekat baja tulangan harus dijaga dari


kotoran, lemak, minyak, karat lepas dan bahan
lainnya.
Besi beton harus disimpan dengan tidak
menyentuh tanah dan tidak boleh disimpan
diudara terbuka dalam jangka waktu panjang.
Membengkok dan meluruskan tulangan harus
dilakukan dalam keadaan batang dingin.
Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan
sesuai gambar dan harus diminta persetujuan
Direksi terlebih dahulu.
Jika pemborong tidak berhasil memperoleh
diameter besi sesuai dengan yang ditetapkan
dalam gambar, maka dapat dilakukan
penukaran dengan diameter yang terdekat
dengan catatan :
- Harus ada persetujuan Direksi
- Jumlah besi persatuan panjang atau
jumlah besi ditempat tersebut tidak boleh
kurang dari yang tertera dalam gambar
(dalam hal ini yang dimaksud adalah
jumlah luas). Biaya tambahan yang
diakibatkan oleh penukaran diameter besi
menjadi tanggung jawab pemborong.

5. Bahan campuran tambahan (additive)


1. Pemakaian bahan tambahan kimiawi
(concrete admixture), kecuali yang
disebutkan tegas di dalam RKS dan
gambar harus mendapat izin tertulis dari
Konsultan Pengawas. Untuk itu
kontraktor diharuskan mengajukan
permohonan tertulis dengan menyertakan
analisa kimiawinya dan bukti pemakaian
di Indonesia selama 5 tahun terakhir.
Bahan campuran tambahan beton yang
dipakai harus sesuai dengan iklim tropis
dan memenuhi persyaratan ASTM C-494
jenis B dan D sekaligus sebagai
pengurang air adukan dan penunda
pengerasan awal.
2. Penggunaan additive harus sesuai dengan
petunjuk dari pabrik. Pemakaian additive
ini tidak boleh menyebabkan
dikuranginya volume semen dalam
adukan.
3. Bahan tambahan yang mempercepat
pengerasan awal sama sekali tidak boleh
dipakai, sedangkan untuk beton kedap air
dibawah tanah tidak boleh
mempergunakan waterproofer yang
mengandung garam.

6. Bekisting, Cetakan atau Acuan


1. Bahan bekisting dapat dibuat dari papan
kayu kelas III yang cukup kering dengan
tebal minumum 3 cm atau multiplek tebal
18 mm, diperkuat dengan rangka-rangka
penyangga, penyokong dll, sehingga
mampu mendukung beton sampai selesai
proses ikatan beton. Bekisting harus
mampu pula untuk menahan getaran-
getaran vibrator dan kejutan gaya-gaya
lain tanpa berubah bentuk.
2. Semua ukuran cetakan harus tepat sesuai
dengan gambar dan sama disemua tempat
untuk bentuk dan ukuran yang
dikehendaki sama.
3. Steiger cetakan beton harus dari kayu
dolken diameter 8 cm atau pipa-pipa baja
dan tidak diperkenankan mempergunakan
bamboo

7. Selimut beton
Penepatan besi beton didalam cetakan tidak
boleh menyinggung dinding atau dasar
cetakan, serta harus mempunyai jarak tetap
untuk setiap bagian-bagian konstruksi,
apabila tidak ditentukan didalam gambar
rencana, maka tebal selimut beton untuk satu
sisi pada masing-masing konstruksi adalah
sebagai berikut :
- Kepala tiang (poer)
- Balok sloof 4 cm
- Balok 3 cm
- Kolom 4 cm
- Pelat beton 1,5 cm

8. Mutu beton
Mutu beton yang digunakan untuk pekerjaan
struktur adalah, fc’ = 21,7 Mpa dan untuk
beton praktis dipakai Beton Mutu fc’ = 14,5
Mpa (K-175). Sebelum dilaksanakanya
pekerjaan beton harus ada perhitungan mix
disain untuk komposisi campuran Mutu beton
yang akan dipakai sebagai pedoman untuk
pekerjaan beton tersebut.

9. Dan lai-lain
Pada Bagian beton yang ada pekerjaan
lanjutannya harus dibuatkan stek besi
sepanjang 1m’ atau menurut petunjuk direksi
(pengawas Lapangan)

B. Syarat-syarat Pelaksanaan
1. Shop drawing : Perhitungan Konstruksi
Sebelum melaksanakan pekerjaan beton,
Kontraktor diharuskan :
- Membuat shop drawingsuntuk
mendapatkan persetujuan Konsultan
Pengawas.
- Memeriksa gambar yang dibuat oleh
Konsultan Perencana, jika terdapat
kesalahan yang membahayakan,
kontraktor harus melaporkan kepada
Konsultan Pengawas yang selanjutnya
akan meneruskan kepada Konsultan
Perencana. Sebelumada kepastian
mengenai kebenaran gambar tersebut,
Kontraktor tidak diijinkan melaksanakan
bagian pekerjaan tersebut.
2.
Campuran beton
1. Dibuat dengan perbandingan volume sbb :
Campuran Penggunaan
B 1:1 Untuk semua beton bertulang kedap
1 air spt. plat atap, luifel dan bak-bak
air.
B 1:2:3 Untuk semua beton bertulang spt.
2 Sloof, pondasi, beton per, plat lantai,
kolom balok-balok, dll.
B 1:3:5 Untuk semua beton tak bertulang,
3 rabat, neut, beton angker dan batu
tepi.

2. Beton harus dibentuk dari campuran


semen Portland, pasir beton, kerikil dan
air seperti ditentukan sebelumnya dengan
perbandingan yang serasi dan diolah
sebaik-baiknya sampai pada kekentalan
yang tepat.
3. Penakaran semen dan agregat (halus dan
kasar), harus dengan kotak-kotak takaran
yang sama volumenya. Banyaknya air
untuk campuran beton ditentukan
sedemikian rupa, sehingga mudah
dikerjakan sesuai penggunaanya dan akan
menghasilkan kepadatan beton yang tepat,
kekedapan serta kekuatan yang
dikehendaki.
4. Semua pengadukan jenis beton harus
menggunakan mesin pengaduk (beton
molen) yang berkapasitas tidak kurang
dari 350 liter. Pengaduk harus rata,
sehingga warna dan kekentalannya sama
setiap kali membuat adukan.

3. Penulangan
1. Baja tulangan sebelum dipasang harus
dibersihkan dari kotoran, karat lepas,
serpih-serpih, minyak gemuk atau lapisan
lainnya yang akan merusak atau
mengurangi daya lekat pada beton.
2. Baja tulangan harus dipotong dan
dibentuk dengan teliti sesuai dengan
bentuk dan ukuran yang tertera dalam
gambar. Baja tulangan tidak boleh
diluruskan atau dibengkokkan kembali
dengan cara yang dapat merusak
bahannya.
3. Baja tulangan harus dipasang pada posisi
yang tepat sesuai gambar rencana. Harus
diusahakan, agar posisinya tidak berubah
atau bergeser pada saat beton dipadatkan.
4. Pada umumnya pengujian untuk besi
tulangan dilakukan sesuai PBI-1971 yaitu
mempunyai kekuatan leleh minimum
3600 kg/cm2. Jika besi tulangan tersebut
tidak memenuhi ketentuan yang
disyaratkan, maka kelompok yang tidak
memenuhi syarat tersebut harus
disingkirkan dan tidak boleh digunakan.

4. Pengecoran
1. Sebelum dilakukan pengecoran,
kontraktor harus mempersiapkan dengan
sebaik-baiknya segala sesuatu yang
berhubungan dengan pengecoran antara
lain ; Meneliti kembali tulangan yang
telah dikerjakan dan menyesuaikannya
dengan gambar apabila terdapat
kesalahan. Tulangan yang bengkok,
ikatan-ikatan yang lepas atau berobah
posisinya harus dibetulkan. Meneliti
semua instalasi yang akan tertanam dalam
beton, apakah sudah tertanam dengan
baik. Memberitahukan dahulu kepada
konsultan Pengawas tentang pengecoran
yang akan dilakukan. Jika tidak ada
pemberitahuan tertulis atau persiapan
pengecoran tidak disetujui, maka
kontraktor dapat diperintahkan untuk
menyingkirkan beton yang akan dicorkan
tersebut.
2. Beton harus dicorkan sedekat-dekatnya ke
tujuan. Untuk pengecoran suatu unit atau
bagian pekerjaan harus dilanjutkan tanpa
berhenti, dan tidak boleh terputus tanpa
persetujuan dari Konsultan Pengawas.
3. Pengecoran harus diselesaikan sebelum
adukan mulai mengental yang dalam
keadaan normal biasanya dalam waktu 30
menit. Tidak diijinkan mengecor pada
waktu hujan turun, kecuali jika Kontraktor
mengambil tindakan yang bisa mencegah
kerusakan beton dan telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
4. Adukan beton harus dipadatkan secara
seksama, dengan menggunakan alat
penggetar. Penggetaran harus dimulai
pada saat adukan dituangkan dan
dilanjutkan sampai adukan berikutnya.
5. Untuk melindungi beton yang baru dicor
dari cahaya matahari, hujan atau angin
sampai beton tersebut mengeras dengan
baik dan untuk mencegah pengeringan
yang terlalu cepat, harus dilakukan
perawatan beton sbb :
- Semua cetakan yang sudah diisi
adukan beton, dibasahi sampai cetakan
tersebut dibongkar.
- Membasahi selama 14 hari terus
menerus segera sesudah permukaan
beton cukup keras.

5. Angkutan Beton
1. Cara dan alat-alat yang digunakan untuk
mengangkut beton harus sedemikian rupa
sehingga beton dengan komposisi dan
kekentalan yang diinginkan dapat dibawa
ke tempat pekerjaan, tanpa adanya
kehilangan bahan yang bisa menyebabkan
perobahan nilai slump.
2. Dalam hal ini, beton yang akan dicor
harus diusahakan agar pengangkutan
ketempat pengecoran sependek mungkin,
sehingga pada waktu pengecoran tidak
mengakibatkan pemisahan antara kerikil
dan spesinya.
3. Beton lift digunakan untuk angkutan
vertikal, sedang untuk alat angkut
horizontal bisa menggunakan kereta
dorong. Tidak diizinkan menggunakan
ember-ember secara beranting.

6. Pengujian Beton
1. Semua pengujian beton harus sesuai
dengan PBI – 1971.
Kekuatan tekan dari beton ditetapkan
konsultan Pengawas dengan silinder
berukuran 15 x 30 cm atau kubus
berukuran 15 x 15 cm.
2. Kontraktor harus menyediakan fasilitas
guna keperluan guna pengujian yang
representative, frekwensi pengujian
ditetapkan konsultan Pengawas
berdasarkan tingkat pengecoran dan
struktur.
3. Meskipun hasil pengujian kubus- kubus
beton seperti diuraikan diatas memuaskan,
konsultan Pengawas berhak menolak
konstruksi beton yang cacat seperti
berikut :
- Konstruksi beton yang sangat keropos.
- Bentuk dan posisi beton tidak sesuai
dengan yang tidak ditunjukkan dalam
gambar.
- Konstruksi yang tidak tegak lurus atau
rata, seperti yang direncanakan.
4. Nilai slump dari beton (pengujian kerucut
slump) tidak boleh kurang dari 8 cm dan
tidak melampaui 12 cm.

7. Lobang-Lobang, Klos-klos dan angker


dinding
1. Kontraktor harus menentukan letak
lobang-lobang, klos-klos angker dinding
dan sebagainya yang diperlukan untuk
memasang rangka-rangka pekerjaan kayu
atau pipa-pipa air, listrik dan sebagainya.
2. Pada sambungan dari kolom beton dengan
pasangan dinding harus diberi angker dari
baja lunak diameter 10 mm sepanjang 40
cm dan dibengkokkan ujung yang satu
dimasukkan ke dalam beton sedang
sisanya dimasukkkan ke dalam pasangan
dinding tembok. Angker tersebut dipasang
setiap jarak 75 cm.

8. Pembuatan dan pembongkaran cetakan


1. Cetakan harus dibuat rapi, kuat dan kaku,
sehingga setelah dibongkar menghasilkan
bidang yang rata dan hanya memerlukan
sedikit penghalusan. Celah-celah harus
rapat sehingga air adukan tidak merembes
keluar.
2. Cetakan harus betul-betul aman pada
kedudukannya sehingga dapat dicegah
adanya pengembangan,
lengkungan/lenturan atau lain gerakan
pada waktu beton dituangkan. Penyangga
cetakan harus bertumpu pada dasar yang
keras sehingga tidak ada kemungkinan
penurunan cetakan selama pelaksanaan.
3. Pembongkaran cetakan harus dilakukan
dengan hati-hati dan mengikuti petunjuk
konsultan Pengawas. Beton yang masih
muda tidak diizinkan untuk dibebani.
Segera setelah cetakan dibongkar,
permukaan beton diperiksa. Jika terdapat
kemungkinan yang cacat, harus segera
diperbaiki, diplester dengan campuran
sedemikian rupa hingga sesuai dengan
warna, tekstur dan rupanya dengan
permukaan beton yang berdekatan. Hal ini
perlu diperhatikan, terutama untuk beton
exposed.
4. Umumnya, diperlukan waktu minimum 2
hari sebelum cetakan dibuka untuk
dinding-dinding yang tidak bermuatan dan
cetakan-cetakan disamping lainnnya, 7
hari untuk dinding-dinding pemikul, dan
21 hari untuk balok-balok dan plat atap.
5. Bahan-bahan bekas yang sudah tidak
dipergunakan lagi harus dikumpulkan dan
disingkirkan keluar lapangan agar tidak
mengganggu pelaksanaan pekerjaan
selanjutnya.
6. Seluruh pekerjaan pembuatan dan
pembongkaran bekisting ini harus sesuai
dengan P91 – 1971.

C. Pedoman Pelaksanaan :
1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana
kerja dan syarat-syarat ini, maka sebagai
pedoman tetap dipakai PBI 1971.
2. Pemborong wajib melaporkan secara
tertulis pada Direksi apabila ada
perbedaan yang didapat didalam gambar
konstruksi dan gambar arsitektur.
3. Adukan beton dan Pengangkutan
Pengadukan harus dilakukan dengan
mesin pengaduk (Mixer). Komposisi
campuran dari masing masing material
seperti Semen, Pasir Kerikil dan Air harus
sesuai dengan takaran yang susdah
disetujui pengawas/direksi serta
berdasarkan Job Mix.
Pengangkutan adukan beton dari tempat
pengadukan ketempat pengecoran harus
dilakukan dengan cara yang disetujui oleh
Direksi, yaitu :
- Tidak berakibat pemisahan dan
kehilangan bahan-bahan.
- Tidak terjadi perbedaan waktu
pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah dicor dan yang akan
dicor, dan nilai slump untuk berbagai
pekerjaan beton harus memenuhi tabel
4.4.1 PBI 1971.
4. Pengecoran
Pengecoran beton hanya dapat
dilaksanakan atas persetujuan tertulis
Direksi. Selama pengecoran berlangsung
pekerja dilarang berdiri dan berjalan-jalan
diatas penulangan. Untuk dapat sampai
ketempat-tempat yang sulit dicapai harus
digunakan papan-papan berkaki yang
tidak membebani tulangan. Kaki-kaki
tersebut harus sudah dapat dicabut pada
saat beton dicor.
Apabila pengecoran beton harus
dihentikan, maka tempat penghentiannya
harus disetujui oleh Direksi. Untuk
melanjutkan bagian pekerjaan yang
diputus tersebut, bagian permukaan yang
mengeras harus dibersihkan dan dibuat
kasar kemudian diberi additive yang
memperlambat proses pengerasan.
Kecuali pada pengecoran kolom, adukan
tidak boleh dicurahkan dari ketinggian
yang lebih tinggi dari 1,5 m.

5. Perawatan beton
Beton yang sudah dicor harus dijaga agar
tidak kehilangan kelembaban untuk paling
sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk
keperluan tersebut ditetapkan cara sebagai
berikut:
- Dipergunakan karung-karung yang
senantiasa basah sebagai penutup
beton.
- Hasil pekerjaan beton yang tidak baik
seperti sarang kerikil, permukaan tidak
mengikuti bentuk yang diinginkan,
munculnya pembesian pada
permukaan beton, dan lain-lain yang
tidak memenuhi syarat, harus
dibongkar kembali sebagian atau
seluruhnya menurut perintah Direksi.
Untuk selanjutnya diganti atau
diperbaiki segera atas resiko
pemborong.
15

6. Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai
kemajuan pekerjaan apabila telah selesai
dipasang sesuai dengan Gambar Rencana
dan Spesifikasi ini serta telah disyahkan
oleh Direksi/Pengawas Lapangan

7 PEKERJAAN 7.1 Lingkup Pekerjaan


DINDING 1. Dinding bata
Pemasangan dinding bata merah setebal 1/2 bata
dilakukan untuk seluruh pembatas ruangan yang
tertera dalam gambar dan dijelaskan dalam
gambar detail.

7.2 Persyaratan Bahan


1. B a t a
Bentuk standar batu bata adalah prisma empat
persegi panjang, bersudut siku-siku dan tajam,
permukaannya rata dan tidak menampakkan
adanya retak-retak yang merugikan. Bata
merah dibuat dari tanah liat dengan atau
campuran bahan lainnya, yang dibakar pada
suhu cukup tinggi hingga tidak hancur bila
direndam air
2. P a s i r
Harus terdiri dari butir-butir yang tajam dan
keras, butir-butir harus bersifat kekal, artinya
tidak pecah atau hancur oleh pengaruh cuaca,
seperti terik matahari dan hujan. Kadar lumpur
tidak boleh melebihi 5 % berat
3. Semen dan Air
Untuk persyaratan kedua bahan tersebut,
mengikuti persyaratan yang telah digariskan pada
pasal beton bertulang

7.3 Pedoman Pelaksanaan


1. Pekerjaan dinding mempunyai dua macam
pasangan, yaitu :
- Pasangan kedap air ( 1 PC : 2 PS )
1. Semua pasangan bata dimulai diatas sloof
sampai setinggi 30 cm diatas lantai
2. Pasangan dinding saluran keliling bangunan
3. Pasangan dinding WC setinggi 150 cm diatas
permukaan lantai
4. Pasangan dinding septicktank
- Pasangan adukan 1 PC : 4 PS berada diatas
pasangan kedap air tersebut.
16

2. Persyaratan Adukan
Adukan pasangan harus dibuat secara hati-hati,
diaduk didalam bak kayu yang memenuhi syarat.
Mencampur semen dengan pasir harus dalam
keadaan kering yang kemudian diberi air
sampai didapat campuran yang plastis. Adukan
yang telah mengering akibat tidak habis
digunakan sebelumnya, tidak boleh dicampur lagi
dengan adukan yang baru.

3. Pengukuran (Uit-zet) harus dilakukan oleh


Kontraktor secara teliti dan sesuai gambar,
dengan syarat :
- Semua pasangan dinding harus rata (horizontal),
dan pengukuran harus dilakukan dengan
benang.
- Pengukuran pasangan benang antara satu kali
menaikkan benang tidak boleh melebihi 30 cm,
dari pasangan bata yang telah selesai.

4. Lapisan bata yang satu dengan lapisan bata


diatasnya harus berbeda setengah panjang bata.
Bata setengah tidak dibenarkan digunakan
ditengah pasangan bata, kecuali pasangan pada
sudut.

5. Pengakhiran sambungan pada satu hari kerja


harus dibuat bertangga menurun dan tidak tegak
bergigi untuk menghindari retak dikemudian hari.
Pada tempat-tempat tertentu sesuai gambar diberi
kolom-kolom praktis yang ukurannya disesuaikan
dengan tebal dinding.

6. Lubang untuk alat-alat listrik dan pipa yang


ditanam didalam dinding, harus dibuat pahatan
secukupnya pada pasangan bata (sebelum
diplester).
Pahatan tersebut setelah dipasang pipa/alat,
harus ditutup dengan adukan plesteran yang
dilaksanakan secara sempurna, dikerjakan
bersama-sama dengan plesteran seluruh bidang
tembok.

7.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan
17

8. PEKERJAAN 8.1 Lingkup Pekerjaan


PLESTERAN Pekerjaan plesteran dilakukan pada seluruh pasangan
bata, atau yang tertera dalam gambar bestek

8.2 Persyaratan Bahan


Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan
yang telah digariskan dalam pasal beton bertulang.

8.3 Pedoman Pelaksanaan


1. Sebelum plesteran dilakukan, maka :
- Dinding dibersihkan dari semua kotoran
- Dinding dibasahi dengan air
- Semua siar permukaan dinding batu bata
dikorek sedalam 0.5 cm
- Permukaan beton yang akan diplester dibuat
kasar agar bahan plesteran dapat merekat
dengan baik.
- Dinding Harus dilot.
2. Adukan plesteran pasangan bata kedap air
dipakai campuran 1 PC : 2 PS, sedangkan
plesteran bata lainnya dipergunakan campuran 1
PC : 4 PS
3. Ketebalan plesteran pada semua bidang
permukaan harus sama tebalnya dan tidak
diperbolehkan plesteran yang terlalu tipis dan
terlalu tebal.
Ketebalan yang diperbolehkan berkisar antara
1,00 cm sampai 1,50 cm. Untuk mencapai tebal
plesteran yang rata sebaiknya diadakan
pemeriksaan secara silang dengan menggunakan
mistar kayu panjang yang digerakkan secara
horizontal dan vertikal.
4. Bilamana terdapat bidang plesteran yang
berombak harus diusahakan memperbaikinya
secara keseluruhan. Bidang-bidang yang harus
diperbaiki hendaknya dibongkar secara teratur
(dibuat bongkaran berbentuk segi empat) dan
plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.
5. Semua bidang plesteran harus dipelihara
kelembabannya selama seminggu sejak
permulaan plesteran.
6. Pekerjaan plesteran baru boleh dilaksanaka
setelah pekerjaan penutup atap selesai dipasang

8.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan
18

9. PEKERJAAN 9.1 Lingkup Pekerjaan


KUSEN, 1. Pekerjaan Pasangan Kozen pintu dan jendela
PINTU, Aluminium
JENDELA 2. Pekerjaan Pasangan Daun pintu/jendela dan
ventilasi
3. Pekerjaan Pemasangan Kuzen pintu jendela
Aluminium
4. Pekerjaan Pasangan Daun pintu/jendela dan
ventilasi Aluminium
5. Pekerjaan Partisi toilet dengan Multiplek 18 mm
Finishing HPL

9.2 Persyaratan Bahan


1. Untuk semua kozen pintu dan jendela, daun pintu,
jendela Menggunakan kuzen aluminium silver
dengan ukuran tertera pada gambar kerja.
2. Ukuran Aluminium yang tertera dalam gambar
merupakan ukuran terpasang.
3. J a l u s i P i n t u d a n J e n d e l a t e r b u a t
dari Jalusi Aluminium.
4. Kaca dipakai :
- Kaca Polos T =5 mm
- Kaca Polos T = 8 mm
- Kaca Polos T = 12 mm
Ukuran type dan ketebalan kaca penempatanya
harus sesuai dengan gambar bestek
5. Rangka Kusen Aluminium dipakai Uk. 4” setara
Alexindo

9.3 Pedoman Pelaksanaan


19

3. Pekerjaan Kusen Aluminium.


- Pembuatan Kusen Aluminium harus mengikuti
ketentuan dalam spesifikasi ini atau spesifikasi
lainnya dan menurut petunjuk Konsultan
Pengawas.
- Dinding atau beton yang akan berhubungan
dengan kusen aluminium harus terlebih dahulu
diberi lapisan clear methacylate laquar atau
dempul alastis agar kedap air.
- Profil aluminium yang berdekatan dengan
tembok dan selesai dipasang agar diberi lapisan
pelindung yang disetujui konsultan pengawas
untuk melindungi permukaan aluminium agar
tidak terkena percikan adukan atau benda lain
dan mudah untuk dibersihkan dan tidak akan
merusak bentuk asli permukaan aluminium
tersebut
- Profil aluminium yang digunakan harus dari
profil yang dipilih dan tidak bengkok serta
cacat lain yang merugikan.
- Pekerjaan pemasangan ini harus dilakukan oleh
tukang yang ahli dalam bidangnya dan terlatih
sehingga semua detail dan pertemuan runcing,
halus, rata, bersih dari goresan-goresan, bidang
permukaan rangka tersebut rata, lurus waterpas
dan betul-betul tegak (vertikal)
- Seluruh rangka dapat merekat dengan baik
pada dinding, dengan menggunakan sekrup
dan fisher yang sesuai dan menurut petunjuk
konsultan pengawas.
- Pemasangan jalusi alluminium maupun kaca
harus mengikuti petunjuk Konsultan
20

Pengawas,
- Celah/alur untuk memasang kaca harus diberi
sealant/karet agar kedap air sesudah kaca
dipasang.
9.4 Pengukuran Hasil Kerja
Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan

10. PEKERJAAN 10.1 Lingkup Pekerjaan


RANGKA 1. Pekerjaan Rangka Atap dengan Baja Ringan.
ATAP DAN 2. Pekerjaan Penutup Atap
PENUTUP Kontraktor harus menyediakan material, peralatan
ATAP dan tenaga yang cakap untuk dapat menjamin
kelancaran keamanan dalam pelaksanaan pekerjaan
ini. Alat pengangkat (crane), katrol atau sejenisnya
yang akan digunakan harus disetujui Konsultan
Pengawas
10.2 Bahan yang digunakan
. Persyaratan Umum
 Semua peraturan – peraturan / normalisasi – normalisasi
harus yang berlaku di Indonesia.
 Pekerjaan Kuda Kuda ini terbuat dari baja ringan plat baja
C. 075.075 Setara TASO
 Semua pekerjaan harus dilakukan oleh pekerjan yang
professional dalam pengerjaan kuda-kuda baja ringan
 Semua pekerjaan baut ( bolt ) harus memenuhi syarat
AISC, Spesification for Struktural Joint Bolt.
 Mengeluarkan perhitungan struktur ( engineering Report)
 Perhitungan software sudah memasukan beban gempa.
 Bersertifikat SNI dan sertifikat ISO
 Bergaransi anti karat minimal 25 tahun

Pedoman Pelaksanaan
10.3
1. Sebelum melaksanakan pekerjaan rangka atap
(Fabrikasi), Kontraktor harus membuat shop
drawing terlebih dahulu yang mencakup tentang
21

dimensi batang, ukuran batang, elevasi, detail


dudukkan lengkapdengan anker, detail
sambungan antar komponen lainnya seperti
penutup atap maupun detail dan informasi lainnya
untuk mendapatkan persetujuan dari Konsultan
pengawas.
2. Pemasangan atap langsung pada reng dengan
menggunakan baut/screw
3. Tiap sambungan pemasangan atap diberi tindisan
sesuai dengan spesifikasi pabrik atau petunjuk
pengawas dan direksi, sehingga hasil akhir
pasangan akan rapi dan tidak bocor.
4. Pemasangan harus rapi dan memenuhi
syarat-syarat sehingga tidak mengakibatkan
kebocoran. Apabila terjadi kebocoran setelah
pemasangannya, maka bagian yang bocor tersebut
harus dibongkar dan dipasang baru.

10.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan

11. PEKERJAAN 11.1 Lingkup Pekerjaan


LANTAI Pemasangan lantai dibuat untuk semua bagian lantai
ruangan, dan dinyatakan dalam gambar bestek.
Finishing lantai dipakai Keramik yang ukuran
disesuai kan dengan gambar bestek atau ditentukan
lain oleh direksi/pengawas lapangan.

11.2 Bahan yang digunakan


1. Pasir Urug
2. Coran dasar lantai dengan mutu beton K-175
setebal 7- 8 cm
3. G r a n i t 60 x 60 cm Granito
4. Keramik 30 x 30 cm Platinum untuk WC/ KM
5. Keramik 30 x 60 cm Platinum untuk dinding
WC/KM
6. Untuk penempatan/pemasangan material
tersebut diatas disesuaikan dengan gambar
bestek serta petunjuk direksi dan pengawas
lapangan.
11.3
Pedoman Pelaksanaan
1. Pada lantai baru dihampar Pasir urug setebal
10 cm disiram dengan air dan dipadatkan
pakai stamper pemadat.
2. Pemeriksaan
Sebelum lantai dipasang, Kontraktor harus
22

memeriksa semua pasangan pipa-pipa,


saluran-saluran dan lain sebagainya yang
harus sudah terpasang dengan baik sebelum
pemasangan lantai dimulai.
3. Adukan
- Untuk perataan lantai lantai Dicor dengan
beton mutu K-175 setebal 7 – 8 cm.
- Adukan untuk Granit 1 PC : 3 Ps
- Adukan untuk pemasangan Granit yaitu
semen dicampur air, sehingga didapat
campuran yang plastis.
4. Pemasangan
- Adukan perekat untuk Granit harus
betul-betul padat/penuh agar tidak terdapat
rongga-rongga dibawah keramik/granit
tersebut yang dapat melemahkan
konstruksi. Sambungan antara
keramik/granit dengan keramik lainnya
harus sama lebarnya, lurus dan harus diisi
dengan air semen (tepung AFA) yang
warnanya disesuaikan dengan warna
keramik atau ditentukan kemudian oleh
direksi teknis. Hasil pasangan akhir harus
rata dan waterpass dan tidak bergelombang
- Pekerjaan yang telah selesai tidak boleh
ada retak, noda dan cacat-cacat lainnya.
Apabila terjadi cacat pada lantai, maka
bagian cacat tersebut harus dibongkar
sampai berbetuk bujur sangkar dan
pasangan baru harus rata dengan
sekitarnya.
- Permukaan pasangan keramik harus datar
dan waterpass.

11.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan

12. PEKERJAAN 12.1 Lingkup Pekerjaan


PLAFOND Pekerjaan yang dilaksanakan untuk menutup
plafond pada seluruh ruangan termasuk teras
keliling bangunan serta km/WC. Termasuk dalam
lingkup pekerjaan ini adalah semua pekerjaan
rangka langit-langit.
23

12.2 Persyaratan Bahan


1. Untuk Rangka dan gantungan Plafond di
pakai Besi Hollow 40x40 t.0.35
2. Untuk penutup plafond dipakai :
- Gypsum T. 9 mm Jaya Board
- List Profil Plafond Gypsum dengan
kualitas terbaik

12.3 Pedoman Pelaksanaan


1. Rangka Plafond Besi Rangka plafond induk
mengunakan besi siku dipasang dengan urutan
pertama, yang dipakukan pada dinding dan
dilaskan/di bautkan pada kuda kuda baja.
Untuk rangka pembagi mengunakan besi
Hollow channel. Gantungan Plafon
dilekatkan/dilaskan langsung pada kuda kuda
baja. Jarak gantungan plafond setiap 1 m2
2. Pemasangan rangka ini harus rapi dan
waterpass. Kontraktor bertanggung jawab atas
kerapian pemasangan rangka ini.
3. Penutup Plafond Gypsum dipasang pada
rangka ini, dengan menggunakan screw
gypsum. Hasil akhir harus siku dan waterpas.
4. Pada bagian plafond yang berhubungan
dengan dinding diberi List Profil plafond
gypsum

12.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan

13. PEKERJAAN 13.1 Lingkup pekerjaan


PENGECATA N 1. Meni kayu untuk bidang kozen yang melekat
ketembok dan lain-lain.
2. Meni besi untuk baut-baut dan besi strip.
3. Cat kayu untuk bidang-bidang kayu kozen
yang nampak, daun pintu panel dan ventilasi
kayu, serta list plafond.
4. Cat tembok untuk dinding yang diplester,
bidang-bidang beton dan plafond.
5. Cat Impra Melamin untuk bidang-bidang kayu
kozen yang nampak, daun pintu panel dan
ventilasi kayu, list dan partisi kayu.

13.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan harus berkualitas
baik, seperti :
24

1. Meni kayu dan besi sekualitas Nippon Pain.


2. Plamur
3. Cat Bagian Luar Dinding Bata Menggunakan
Dulux Weatershield
4. Cat tembok sekualitas Catylac
5. Residu kualitas baik tidak luntur.

13.3 Pedoman pelaksanaan


1. Pekerjaan pengecatan dilaksanakan setelah
pemasangan plafond.
2. Pekerjaan meni, residu harus betul-betul rata,
berwarna sama, pengecatan minimal 2 (dua)
kali.
3. Pekerjaan cat kayu harus dilakukan lapis demi
lapis dengan memperhatikan waktu
pengeringan jenis bahan yang digunakan.
4. Pengecatan dinding harus dilakukan menurut
proses sebagai berikut :
- Penggosokan dinding dengan batu
gosok sampai rata dan halus, setelah itu
dilap dengan kain basah hingga bersih.
- Melapis dinding dengan plamur tembok,
dipoles sampai rata. Setelah betul-betul
kering digosok dengan amplas halus dan
dilap dengan kain kering yang bersih.
- Pengecatan dengan cat tembok emulsion
sampai rata, minimal 2 (dua) kali.
- Pekerjaan cat tembok harus
menghasilkan warna merata dan sama.
5. Pengecatan plafond harus dilakukan menurut
proses berikut :
- Membersihkan bidang plafond yang akan
dicat.
- Mengecat plafond 2 (dua) kali, sehingga
menghasilkan bidang pengecatan yang
merata sama dan tidak terdapat
belang-belang atau noda-noda mengelupas.
6. Warna yang digunakan
- Ditentukan oleh pemberi tugas atau
pemilik dari bangunan tersebut

13.4 Pengukuran Hasil Kerja


Pekerjaan ini dapat di nilai sebagai kemajuan
pekerjaan apabila telah selesai dipasang sesuai
dengan Gambar Rencana dan Spesifikasi ini serta
telah disyahkan oleh Direksi/Pengawas Lapangan
14. SPESIFIKASI 14.1 URAIAN PERSYARATAN DAN PERATURAN
TEKNIS UMUM
PEKERJAAN
ELEKTRIKAL Uraian persyaratan ini menjelaskan tentang detail
DAN spesifikasi bahan dan cara pemasangan Instalasi Listrik
PENANGKAL dan penangkal petir, meliputi pekerjaan secara lengkap
PETIR dan sempurna mulai dari penyediaan bahan sampai di
site, upah pemasangan, penyimpanan, transportasi,
pengujian, pemeliharaan dan jaminan.

Dalam melaksanakan instalasi ini, kontraktor harus


mengikuti semua persyaratan yang ada seperti :
- Peraturan Umum Instalasi Listrik 2000
- VDE, ISO, BS, LMK.

Pembuatan panel harus mengikuti dan terikat pada semua


persyaratan yang tercantum dalam :
- Persyaratan umum
- Spesifikasi teknis
- Gambar rencana
- Berita acara anwijing
- Sumber daya listrik bersumber dari Perusahaan Umum
Listrik Negara.

Fasilitas instalasi listrik tersebut digunakan untuk :


- Penerangan dalam
- Penerangan halaman
- Stop kontak biasa & stop kontak UPS, dan Computer
- Penerangan service area
- Air conditioning
- Peralatan lain
Sistem tegangan listrik 380 volt – 3fasa – 50 Hz atau 220
volt, 50 Hz.

Persyaratan kontraktor listrik


- Harus mempunyai SIKA – PLN golongan C yang
masih berlaku.
- Harus dapat disetujui oleh Pemberi Tugas/ Mk
- Semua instalasi penerangan dan stop kontak
menggunakan sistem 3 core.
- Semua panel listrik harus diberi pentanahan dengan
kawat BC/NYA
- Semua pipa dari bahan metal yang terpasang dalam
tanah harus diberi pelindung anti karat.
14.2 LINGKUP PEKERJAAN LISTRIK

Melaksanakan :
- Seluruh instalasi penerangan & stop kontak dalam
Gedung
- Seluruh instalasi penerangan halaman & parkir
- Menyediakan dan memasang semua toevoer listrik.
- Menyediakan dan memasang rack kabel dan hanger
untuk feeder dan instalasi.
- Mengurus permintaan daya listrik dan proses daya
penyambungan listriksehingga dapat digunakan oleh
pemilik bangunan.
- Penangkal petir
- Menyediakan dan memasang lighting control terminal
type Non Konventional lengkap dengan tiang/tower
penegak dan klem-klem.
- Melaksanakan instalasi penghantar dan lighting
control sampai bak control terminal sampai bak
kontrol lengkap dengan alat bantu.
- Melaksanakan pentanahan lengkap bak kontrol
lengkap dengan tutup dan terminal penyambung.
- Melakukan pengetesan dan perizinan dari Dinas
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
- Membuat gambar kerja dan menyerahkan gambar as-
built.
- Melaksanakan pemeliharaan dan memberikan
jaminan.
- Membuat gambar kerja dan menyerahkan gambar
revisi.
- Melakukan pengetesan.
- Menyerahkan hasil pengetesan
- Melaksanakan pemeliharaan jaminan.
- Memasang nama-nama panel dan hubungan circuit
breaker berupa tulisan yang jelas dari bahan yang
tahan lama.

14.3 PERSYARATAN UMUM BAHAN DAN


PERALATAN

1. Syarat- syarat Dasar


- Semua bahan atau peralatan harus baru dalam arti
bukan barang bekas atau hasil perbaikan.
- Material atau peralatan harus mempunyai kapasitas
atau rating yang cukup.
- Harus sesuai dengan spesifikasi/persyaratan.
- Kapasitas yang tercantum dalam gambar atau
spesifikasi adalah minimum.
Kontraktor boleh memilih kapasitas yang lebih besar dari
yang diminta dengan syarat :
- Tidak boleh menyebabkan sistem menjadi lebih
sulit.
- Tidak menyebabkan pertambahan bahan.
- Tidak meminta pertambahan ruang.
- Tidak menyebabkan adanya tambahan biaya.
- Tidak menurunkan mutu.

2. Syarat-syarat Fisik
- Semua bahan atau peralatan dari kualifikasi atau
tipe yang sama, diminta merek atau dibuat oleh
pabrik yang sama.
- Dalam setiap hal, suatu bagian atau suku-suku
cadang dari peralatan yang jumlahnya jelas
ditentukan, maka jumlah tersebut harus tetap
lengkap setiap kali peralatan tersebut diperlukan,
sehingga merupakan unit yang lengkap.
- Apabila suatu bahan atau peralatan disebutkan
pabrik pembuatnya atau mereknya, hal ini
dimaksud untuk mengikat mutu, tipe perencanaan
dan karakteristik

14.4 SPESIFIKASI TEKNIK BAHAN DAN


PERALATAN
- Listrik
- Kabel penerangan dan Power
- Kelas tegangan 1000 Volt dan 600/1000 Volt.
- Inti penghantar tembaga
- Isolasi PVC, sheated dan lain- lain.
- Jumlah inti satu atau banyak
- Jenis kabel : NYA, NYM, NYY, NYFGBY, BC dan
lain-lain sesuai gambar rencana.
- Pipa dan Fitting
- Seluruh pengkabelan untuk penerangan, stop kontak
dan fan dilaksanakan dalam pipa dan fitting-fitting
High Impact Conduit PVC untuk dalam bangunan
kecuali untuk feeder dan NYY tanpa pipa. Untuk di
halaman terpasang dalam trench atau tertanam dalam
tanah.
- Sparing pipa menggunakan pipa galvanis yang
ukurannya disesuaikan dengan material yang akan
dipasang.
- Penyambungan dari jalur instalasi ke armature lampu
menggunakan pipa flexible jenis PVC merek EGA
atau Clipsal.
- Semua teknik pelaksanaan yaitu percabangan,
pembelokan, pengetapan dan sebagainya harus
menggunakan fitting-fitting yang sesuai yaitu socket,
elbow, T-doos, cross-doos, terminal 3 M puntir,
isolasiban, klem besi dan lain-lain.
- Semua pipa yang tidak dalam cor-coran atau tertanam
dalam tanah harus diberi marker dengan warna merah
pada ujung-ujung pipa dan kabel setiap jarak 10 m.
- Cabletray, rak kabel dan hanger
- Semua kumpulan dari jalur instalasi/feeder dilewatkan
dalam cable tray lengkap dengan rak kabel dan hanger
sesuai kebutuhan yang tertera dalam gambar setara
metosu (Lapis Galvanis)
- Alat Bantu Instalasi
- Bak kontrol dan tutupnya dari beton bertulang untuk
pentanahan
- Pasir urug, sirtu dan tanah urug.
- Sakelar dan Stop Kontak
- Sakelar dari produksi ex. ABB, Clipsal, MK, type
standard warna disesuaikan.
- Mekanisme sakelar bentuk persegi dengan rating 13
A- 250 Volt dengan warna yang disetujui oleh MK.
Dalam supply sakelar harus lengkap dengan box
tempat dudukannya dari bahan metal.
- Stop kontak
- Stop kontak biasa dengan rating 10 A – 250 Volt. 2
kutub ditambah 1 untuk pertanahan.
- Stop kontak tenaga dengan rating 15 A – 250 Volt.
- 2 kutub ditambah 1 untuk pertanahan.
- Dalam supply stop kontak harus lengkap dengan box
tempat dudukannya dari bahan metal jenis pasangan
inboow
- Armature lampu
- Bahan kotak lampu dari sheet steel tebal 0.7 mm.
- Cat dasar anti karat, dengan finish cat bakar warna
disesuaikan
- Ballast 20 watt, 40 watt, 220 volt, 50 Hz dengan
losses tidak boleh lebih besar dari 6.5 watt.
- Fitting dan starter holder Philips.
- Capasitor Philips sehingga diperoleh faktor kerja
minimal 0.85.
- Tabung TL 36 watt , TL 18 Watt Philips, diameter 25
mm.
- Terminal grounding pada badan.
- Baut expose dengan kepala khusus.
- Wiring dalam kotak jenis flexible 1 mm2
- Tiap tube dengan trafo (ballast) dan capasitor sendiri-
sendiri.
- -Starter 20 & 40 watt.
- Type dan Jenis Lampu :
- Lampu RM 300 Gloss 2 x 36 watt By Artolite
- Lampu RM 300 Gloss 2 x 18 watt By Artolite
- Lampu Baret 20 Watt/SCB 20 ACR By Artolite
- Lampu Downlight 6” 18 watt /RD 175 E 27 By
Artolite
- Lampu Downlight 5” 13 watt /RD 150 E 27 By
Artolite
- Lampu Sorot Dinding /D Spot CDMR 50 watt By
Artolite
- Lampu Taman GL E 27 DG 12 Frost By Artolite
- Lampu TL Balok 1 x 36 /BL 1 x 36 By Artolite

Panel listrik Terdiri atas :


- Panel Utama PUTR
Berfungsi untuk menerima daya listrik dari
Transformator sisi tegangan rendah.
- Main breaker dan branch breaker menggunakan ACB
dan MCCB sebagai pengaman sesuai gambar rencana.

Umum
- Tegangan kerja: 380 colt – 3 fase – 50 Hz
- Interupting capacity untuk main breaker 45 KA dan
cabang-cabang minimal 25 KA.
- Jenis panel indoor frestanding lengkap dengan pintu.
- Gambar detail harus dibuat oleh kontraktor dan
disetujui oleh pemberi tugas sebelum pembuatan.

Pemutusan Daya
- Rated breaking capacity pada 380 volt – 3 fase tidak
kurang dari 35 KA.
- Breaker jenis ACB (air Circuit Breaker) harus makai
jenis fixed type.

Release harus mengandung :


- Thermal overload release.
- Magnetic short circuit release (mempunyai sistem
range)
- Under voltage & over voltage release khusus untuk
main breaker dari transformer & genset dengan motor
dan mechanism.

Rumah panel dan busbar


- Ukuran rumah panel harus dapat mencakup semua
peralatan dengan penempatan yang cukup setara
elektris dan fisik.
- Pasangan semua komponen harus dapat dicapai dari
bagian depan dengan mudah tanpa pintu terkunci.
- Rumah panel dari besi pelat dengan tebal tidak kurang
dari 2 mm.
- Semua permukaan pelat baja sebelum dicat harus
mendapat pengolahan pembersihan sejenis “
phospstizing tratment” atau setara.
- Bagian dalam dan luar harus mendapat paling sedikit
satu lapis cat penahan karat. Untuk lapisan akhir cat
finish bagian luar dasarnya abu-abu.
- Ruang pencapaian harus cukup untuk memudahkan
kerja.
- Label-label terbuat dari bahan trafolite yang tersusun
berlapis putih hitam putih dan digravir sesuai
kebutuhan dalam bahasa Indonesia.
- Bukaan ventilasi dari bagian sisi panel.
- Semua pengabelan di dalam panel harus rapih terdiri
atas kabel-kabel berwarna, mudah diusut dan mudah
dalam pemeliharaan.
- Busbar dan teknik penyambungan harus menurut
peraturan PUIL dan DIN. Bahan dari tembaga yang
berdaya hantar tinggi, bentuk persegi panjang
dipasang pada pole-pole isolator dengan ketentuan dan
jarak sesuai ketentuan untuk menahan tekanan-tekanan
elektris dan mekanis pada level hubung singkat.
- Busbar dalam panel harus disusun sebaik-baiknya
sampai semua terminal kabel atau bar lainnya tidak
meyebabkan lekukan yang tidak wajar.
- Busbar harus dicat secara standard untuk membedakan
fasa-fasanya.
- Batang penghubung antara busbar dengan breaker
harus mempunyai penampang yang cukup dengan
rating tidak kurang dari 125 % dari rating breaker.
- Pada sambungan-sambungan busbar harus diberi
bahan pelindung (tinned).
- Ujung kabel harus memakai sepatu kabel dari bahan
tembaga.

Instrument dan peralatan penunjuk lainnya:


- Voltmeter AC :
1. Jenis moving iron, range 600 volt, sudut 900,
kelas 2.5 hubungan langsung.
2. Rangkaian memakai fuse
3. Bentuk persegi empat pasangan masuk.

- Selector switch dapat mengukur ;


1. fasa/fasa
2. fasa/netral

- Ammeter AC :
1. Jenis moving iron, range sesuai kebutuhan, 900
hubungan langsung dengan trafo arus kelas 2.5.
2. Bentuk persegi empat, pasangan masuk.
3. Lampu pilot
4. Cos Ø meter
Panel Distribusi
Persyaratan umum :
- Teknis pelayanan panel ini untuk penerangan setiap
lantai.
- Type breaker baik main dan breaker sesuai gambar
rencana terdiri atas MCCB dan MCB.

Persyaratan Pembuatan :
- Badan panel dari sheet steel dengan ketebalan minimal
1.6 mm.
- Persyaratan anti karat dan pengecatan luar 2 kali
seperti panel utama.
- Type panel indoor.
- Jenis panel surface mounted pintu berkunci.
- Panel dengan pintu berkunci bilamana panel terletak di
ruang terbuka.
- Pentanahan harus mempunyai bar bagi fasilitas
pentanahan peralatan.
- Busbar dari bahan tembaga dengan kapasitas tidak
boleh kurang dari kabel feeder yang masuk, boleh
telanjang asal dipasang secara kuat dan aman.
- Breaking capacity sesuai dengan gambar sebagai
berikut :
- Main breaker 15 KA untuk panel penerangan.
- Cabang- cabangnya minimal 5 KA.

14.5 PERSYARATAN PEMASANGAN


Persyaratan Instalasi dan Peralatan
- Kontraktor harus meneliti semua dimensi-dimensi
secepatnya sesudah mendapat Surat Perintah Kerja
(SPK).
- Ajukan usul-usul kepada pemberi tugas, apa yang
perlu dirubah atau diatur kembali agar semua instalasi
dan peralatan dalam sistem dapat ditempatkan dan
bekerja sebaik-baiknya.
- Sebelum melakukan pemasangan bahan dan peralatan
lakukanlah pengukuran, meneliti peil-peil dalam
proyek menurut keadaan sebenarnya.
- Apabila ada perbedaan antara pengukuran di lapangan,
ajukan data-data kepada pemberi tugas.
- Kontraktor harus mebuat gambar kerja yang memuat
gambar denah, potongan dan detail sesuai keadaan
sebenarnya di lapangan, dengan mendapat persetujuan
dari pemberi tugas.
- Kontraktor harus berkonsultasi dengan kontraktor lain,
sehingga pemasangan instalasi dan peralatan dapat
dilakukan tanpa terjadi tabrakan.
- Semua bahan instalasi dan peralatan sebelum dibeli,
dipesan, masuk site atau dipasang harus mendapat
persetujuan dari pemberi tugas.

Pemasangan Instalasi dan Peralatan


- Pada daerah langit-langit tanpa plafond instalasi
terpasang dalam cor pelat beton pelindung pipa
lengkap fitting-fittingnya.
- Pada daerah langit-langit dengan plafond instalasi
terpasang sebagai berikut :
- Untuk 1 dan 2 jalur kabel saja, instalasi diklem kepelat
beton atau diklem ke hanger besi pelat.
- Semua instalasi feeder dalam bangunan tidak
menggunakan pipa pelindung.

Di bawah plafond atau langit-langit instalasi


terpasang sebagai berikut :
- Untuk sakelar dan stop kontak terpasang
recessmounted ke kolom atau tembok. Sakelar
terpasang 150 cm di atas lantai finish dan stop kontak
setinggi 30 cm di atas lantai kecuali peralatan tertentu.
- Dalam shaft riser instalasi feeder terpasang dan diklem
ke rak kabel shaft riser setiap jarak 150 tanpa pipa.
- Di halaman instalasi terpasang sebagai berikut :
- Feeder dan instalasi lampu halaman terpasang minimal
60 cm di bawah permukaan tanah dengan memakai
pelindung pipa galvanis untuk yang melintas jalan.
- Penyambungan dalam doos-doos percabangan
memakai pelindung terminal 3 M puntir kemudian
doos tersebut ditutup.
- Akhir dari instalasi exhaust fan berupa stopkontak 1
fasa atau 3 fasa.
- Semua pipa instalasi di plafond, dilangit-langit dan di
shaft harus diberi marker setiap jarak 10 m dengan
warna sbb :
- Ramset/ Dynabolt atau fischerplug harus terpasang ke
plat beton dengan kokoh.
- Pemasangan angkur harus dikerjakan sebelum
pengecoran dan diikat kebesi beton. Dapat juga
dilakukan sengan tembakan ramset atau fisherplug.
- Rackriser atau rak kabel atau cable tray bersama
penggantung dimurbaut ke angkur.
- Setiap belokan kabel terutama feeder yang besar harus
diperhatikan radiusnya, minimal R = 30 D. dimana D
adalah diameter kabel.
- Tidak diperkenankan melakukan penyadapan atau
penyambungan ditengah jalan kecuali pada tempat
penyambungan.
- Terminasi kabel harus selalu menggunakan sepatu
kabel.

Panel Listrik
- Panel penerangan terpasang wallmounted kedinding
bangunan.
- Panel penerangan terpasang wallmuonted atau surface
mounted kekolom atau dinding.
- Panel penerangan luar jenis outdoor diberi pelindung.
- Gali Urug
- Kontraktor listrik harus menggali dengan kedalaman
dan besar yang sesuai spesifikasi yang diminta.
- Bilamana ada tabrakan dengan pipa, saluran got atau
lainnya harus dibuat gambar detail dan cara
penyelesaian yang baik untuk semua pihak dengan
mendapat persetujuan dari pemberi tugas.
- Kesalahan yang timbul karena kelalaian kontraktor
listrik menjadi tanggungjawabnya.
- Setelah selesai pemasangan kabel, galian harus diurug
kembali dengan sirtu sampai padat.
- Keterlambatan penggalian sehingga merusak hasil
pekerjaaan pihak lain harus diperbaiki kembali oleh
kontraktor listrik dengan beban biaya tanggungan
sendiri.
- Pentanahan
- Semua instalasi, peralatan dan panel-panel listrik harus
diberi pentanahan sebagai berikut :
- Pentanahan sistem
- Yang dimaksud dengan pentanahan sistem adalah
pentanahan kawat netral (MP). Yang harus ditanahkan
adalah titik netral.
- Grounding electroda berupa Ø 3/4”, sehingga
diperoleh tahanan tanah tidak lebih dari 1 ohm.
14.6 PENGUJIAN (TESTING)
Semua pelaksanaan instalasi dan peralatan harus diuji,
sehingga diperoleh yang baik dan bekerja sempurna
sesuai persyaratan PLN, spesifikasi dan pabrik. Bila
diperlukan,bahan-bahan instalasi dan peralatan dapat
diminta oleh direksi untuk diuji ke Laboratorium atas
tanggungan biaya kotraktor.

Tahap-tahap pengujian adalah sebagai berikut :


- Semua pelaksanaan instalasi yang akan tertutup harus
diuji sebelum dan sesudah bagian tersebut tertutup
sehingga diperolah baik menurut PLN, spesifikasi dan
pabrik
- Setiap satu lantai yang selesai dipasang harus
dilakukan pengujian.
- Semua panel listrik sebelum dipasang dan sesudah
dipasang harus diuji tegangan dan tahanan isolasi
dalam kondisi baik.
- Juga harus diuji sistem kerjanya sesuai spesifikasi
yang diisyaratkan.
- Semua armature lampu harus diuji dalam keadaan
menyala sempurna.
- Semua penyambungan harus diperiksa tersambung
dengan mantap dan tidak terjadi kesalahan sambung
atau polaritas.
- Tahanan tanah harus diuji memenuhi persyaratan yang
dospesifikasikan.
- Pengujian harus bersama direksi dan dibuat laporan
tertulis.

14.7 PENYERAHAN, PEMELIHARAAN DAN


JAMINAN

Penyerahan dilakukan dengan berita acara proyek disertai


lampiran-lampiran sebagai berikut :
- Menyerahkan gambar as-built instalasi listrik dan
penangkal petir sebanyak 3 set.
- Penyerahan surat pernyataan jaminan instalasi listrik.
- Menyerahkan brosur, operation dan maintenance
manual dalam Bahasa Indonesia.
- Menyerahkan Surat Jaminan/ Garansi yang ditujukan
kepada pemilik bangunan.
- Menyerahkan hasil pengetesan.
- Setelah penyerahan tahap pertama, kontaktor wajib
melaksanakan msa pemeliharaan secara cuma-cuma
selama jangka waktu sesuai yang ditentukan pada
persyaratan umum, bahwa seluruh instalasi dan
peralatan tetap dalam keadaan baik dan bekerja
sempurna.
- Kerusakan karena kesalahan pemasangan atau
peralatan tetap dalam keadaan baik dan bekerja
sempurna.
- Kerusakan karena kesalahan pemasangan atau
peralatan harus diperbaiki dan bila perlu diganti baru.
- Setelah tahap pertama, kontraktor wajib melakukan
pemeliharaan selama 6 bulan dan masa jaminan
selama 12 bulan atas semua peralatan yang
dipasangnya tetap bekerja sempurna.
- Setelah penyerahan tahap pertama, kontraktor wajib
melatih dan membantu mengoperasikan instalasi yang
terpasang, sehingga operator pemilik bangunan
mengetahui dan lancar dalam tugasnya.
- Lamanya petugas pemborong di proyek 30 hari
kalender selama jam kerja.
17. PEKERJAAN 17.1 PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
PERLENGKA 1. Pemasangan Instalasi listrik harus sesuai dengan
PAN gambar rencana instalasi yang dibuat oleh Instalateur
DALAM yang sesuai menurut kebutuhan yang telah
direncanakan oleh Perencana instalasi tersebut dan
disyahkan oleh PLN.
2. Perlengkapan seperti fitting, stop kontak, kabel
isolator dan sebagainya harus bermutu baik dan telah
disetujui oleh Direksi.
3. Pipa union harus dipasang dalam dinding
tembok/beton dan diatas langit-langit sakelar, stop
kontak, panel Box MCB, harus dipasang pada
dinding tembok/beton.
4. Kabel yang dipergunakan sebagai hantaran untuk
instalasi ke lampu-lampu dan stop kontak dipakai
kabel NYM yang mempunyai penampang 2,5 mm
dengan sistim pemasangan di klemkan pada rangka
loteng.
5. Untuk pemasangan stop kontrak dilengkapi dengan
kabel arde ( kabel 3 x 2,5 mm )
6. Untuk sambungan dipasang Kotak penyambung
(Juntion Box).
7. Banyaknya pemasangan serta jenis Bola lampu yang
dipakai sesuai dengan gambar dan RAB.
8. Pekerjaan ini harus dilaksanakan oleh instalator yang
ahli dan tetap mendapat pengakuan dari PLN serta
disetujui oleh Direksi.
9. Jaringan Instalasi dalam gedung dipersiapkan untuk
tegangan 220 - 240 Volt.
10. Pemasangan Pipa dilakukan sebelum pekerjaan
plesteran dan pengecoran plat lantai serta atap
dilaksanakan.

15 PENUTUP 15.1 Seluruh pekerjaan dipedomani Dokumen (Bestek)

Sebelum dilaksanakan seluruh pekerjaan terlebih dahulu


15.2 dikonsultasikan dengan pengawas Lapangan.

Sebelum pekerjaan ditimbang terimakan, Pemborong


harus membersihkan sisa-sisa bangunan dan kotoran
15.3 lainnya keluar lokasi.

Walaupun dalam Bestek ini tidak lengkap tercantum satu


per satu baik mengenai keur bahan-bahan dan lain-lain
15.4 sebagainya, tetapi tercantum dalam Perpres No. 70 tahun
2012 tetang Penyelenggaraan Jasa Kontruksi, maka
pekerjaan tersebut harus dilaksanakan dan bukan
merupakan pekerjaan tambah kurang

Padang, Juni 2018


Konsultan Perencana
CV. ARTERINDO PRATAMA

Ir. Gunawan
Direktur