Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam
pembangunan nasional untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
Pembangunan kesehatan juga merupakan salah satu upaya utama untuk meningkatkan
kualitas sumber daya manusia yang pada gilirannya mendukung percepatan pencapaaian
sasaran pembangunan nasional. Kebijakan pembangunan kesehatan yang dilakukan oleh
pemerintah mengacu pada komitmen Indonesia akan delapan tujuan umum Millenium
Development Goals (MDGs), EMAS, Desa Siaga, Poskesdes
Dalam rangka mencapai sasaran seperti disebut di atas, arah kebijakan pemerintah di
prioritaskan pada :
1. Meningkatkan jumlah, jaringan, dan kualitas pusat kesehatan masyaraka
2. Meningkatkan kuantitas dan kualitas tenaga kesehatan
3. Mengembangkan sistem jaminan kesehatan, terutama bagi masyarakat miskin
4. Meningkatkan sosialisasi kesehatan lingkungan dan pola hidup sehat
5. Meningkatkan pendidikan kesehatan kepada masyarakat sejak usia dini
6. Meningkatkan pemerataan dan kualitas fasilitas kesehatan dasar

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja mutu pelayanan kebidanan ?
1. Apa saja kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pelayanan kebidanan ?
2. Apa yang di maksud dengan Desa Siaga ?
3. Apa saja upaya kesehatan itu?

1.3 Tujuan
2. Untuk bahan ajaran dalam mata kuliah Mutu Pelayanan Kebidanan.
3. Agar pembaca dapat mengetahui kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pelayanan
kebidanan.
4. Agar pembaca dapat mengetahui apa yang dimaksut dengan Desa Siaga.
5. Untuk mengetahui tentang upaya kesehatan

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian bidan di Indonesia


Menurut Ikatan Bidan Indonesia, bidan adalah seorang perempuan yang lulus
daripendidikan Bidan yang diakui pemerintah dan organisasi profesi di
wilayah Negara Republik Indonesia serta memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk
diregister, sertifikasi dan secara sah mendapat lisensi untuk menjalankan
praktik kebidanan. Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-awab dan
akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan, asuhan dan
nasehat selama masa hamil, masa persalinan dan masa nifas, memimpin persalinan atas
tanggung jawab sendiri dan memberikan asuhan kepada bayi baru lahir, dan bayi. Asuhan ini
mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasipada ibu
dan anak, dan akses bantuan medisatau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan
tindakan kegawatdaruratan.
Pemerintah telah bijaksana dalam mengambil keputusan untuk para bidan agar para
bidan mampu memenuhi standart kompetensi yang ada dan menjadi bidan professional dan
memiliki rasa tanggung jawab yang besar, serta memiliki etika dan etiket yang baik.
Kebijakan kebijakan tersebut juga menjadi pandangan atau tolak ukur untuk para bidan
melakukan praktik atau tugasnya di masyarakat.

2.2 Kode Etik Bidan


A. Definisi kode etik bidan
Merupakan ciri profesi yang bersumber dari nilai -nilai internal dan eksternal
suatu disiplin ilmu & merupakan komprehensif suatu profesi yang memberikan
tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.

B. Isi kode etik bidan


a) Kewajiaban bidan terhadap klien dan masyarakat :
1. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan
mengamalkan sumpah jabatannyab dalam melaksanakan tugas
pengabdiannya.

2
2. Setiap bidan dalam menjalankan tugas profesinya menjunjung tinggi
harkat dan martabat kemanusiaan yang utuh dan memelihara citra
bidan.
3. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada
peran, tugas dan tanggung jawab sesuai denan kebutuhan lklien,
keluarga, dan masyarakat.
4. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan
klien, menghormati hak klien dan nilai- nilai yang di anut oleh klien.
5. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan
kepentingan klien, keluarga dan masyarakat dengan identitas yang
sama sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuanyang
dimilikinya .
6. Setiap budan senantiasa menciptakan siasana yang serasi dalam
hubungan pelaksanaan tugasnya dengan mendorong partisipasi
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatannya secara normal.

b) Kewajiban bidan terhadap tugasnya


1. Setiap bidan senantiasa memberikan pelayanan paripurna kepada klien,
keluarga dan masyarakat dengan kemampuan profesi yang dimilikinya
berdasarkan kebutuhan klien, keluarga, dan masyarakat.
2. Setiap bidan berkewajiban memberikan pertolongan sesuai dengan
kewenangan dalam mengambil keputusan termasuk mengadakan
konsultasi dan/ atau rujukan.
3. Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang di dapat dan
/ atau dipercayakan kepadanya, kecuali bila di minta oleh pengadilan
atau diperluakan sehubungan dengan kepentingan klien.

c) Kewajiban bidan terhadap sejawat dan profesi lainnya


1. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk
menciptakan suasana kerja yang serasi.
2. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati
baik terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

3
d) Kewajiban bidan terhadap profesinya
1. Setiap bidan wajib menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra
profesi dengan menampilkan kepribadian yang bermartabat dan
membrikan pelayan yang bermutu kepada masyarakat.
2. Setiap bidan wajib senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan
kemampuan profesinya sesuai dengan IPTEK.
3. Setiap bidn senantiasa serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan
sejenisnya yang dapat meningkatkan mutu dan citra profesinya.

e) Kewajiban bidan terhadap diri sendiri


1. Setiap bidan wajib memelihara kesehatannya agar daoat melaksanakan
tugas profesinya dengan baik.
2. Setiap bidan wajib mebingkatkan pengetahuan dan ketrampilan sesuai
dengan perkembangan IPTEK.
3. Setiap bidan wajib memelihara kepribadian dan penampilan diri.

f) Kewajiaban bidan terhadap nusa, bangsa dan tanah air


1. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan
ketentuan- ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan khususnya
dalam Yankes Reproduksi, KB, dan kesehatan Keluarga.
2. Setiap bidan melalui profesinya beroartisipasi dan menyumbangkan
pemikiran kepada pemerintah untuk meningkatkan mutu dan
jangkauan Yankesterutama pelaksanaan KIA/KB dan kesehatan
keluarga.

2.3 Kewenangan Bidan


Bidan dalam melaksanakan peran, fungsi dan tugasnya didasarkan pada kemampuan
dan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tersebut diatur melalui Peraturan Menteri
Kesehatan (Permenkes). Permenkes yang menyangkut wewenang bidan selalu mengalami
perubahan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat dan kebijakan
pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Permenkes tersebut
dimulai dari :
1. Permenkes No. 5380/IX/1963, wewenang bidan terbatas pada pertolongan
persalinan normal secara mandiri, didampingi tugas lain.

4
2. Permenkes No. 363/IX/1980, yang kemudian diubah menjadi Permenkes 623/1989
wewenang bidan dibagi menjadi dua yaitu wewenang umum dan khusus ditetapkan
bila bidan meklaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasan dokter.
Pelaksanaan dari Permenkes ini, bidan dalam melaksanakan praktek perorangan di
bawah pengawasan dokter.
3. Permenkes No. 572/VI/1996, wewenang ini mengatur tentang registrasi dan
praktek bidan. Bidan dalam melaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang
mandiri. Kewenangan tersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan
tindakan. Dalam wewenang tersebut mencakup :
a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak.
b. Pelayanan Keluarga Berencana
c. Pelayanan Kesehatan Masyarakat.
4. Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktek bidan
revisi dari Permenkes No. 572/VI/1996. Dalam melaksanakan tugasnya, bidan
melakukan kolaborasi, konsultasi dan merujuk sesuai dengan kondisi pasien,
kewenangan dan kemampuannya.

Dalam keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang
ditujukan untuk penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan
dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan, pendidikan,
pengalaman serta berdasarkan standar profesi.
Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002 tidaklah
mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan ini mengandung
tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan mandiri.

2.4 Pelayanan Desa Siaga


a. Pengertian desa siaga
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan cumber daya
dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan,
bencana, dan kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri. Desa yang dimaksud di sini
adalah kelurahan atau istilah lain bagi kesatuan masyarakat hukum yang memiliki
batas-batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
yang diakui dan dihormati dalam Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

5
b. Arti dari Siaga
Si (siap), yaitu pendataan dan mengamati seluruh ibu hamil, siap
mendampingi ibu, siap menjadi donor darah, siap memberi bantuan kendaraan untuk
rujukan, siap membantu pendanaan, dan bidan wilayah kelurahan selalu siap memberi
pelayanan
A (antar), yaitu warga desa, bidan wilayah, dan komponen lainnya dengan
cepat dan sigap mendampingi dan mengatur ibu yang akan melahirkan jika
memerlukan tindakan gawat-darurat.
Ga (jaga), yaitu menjaga ibu pada saat dan setelah ibu melahirkan serta
menjaga kesehatan bayi yang baru dilahirkan.

c. Tujuan umum desa siaga


Tujuan umum desa siaga adalah terwujudnya masyarakat desa yang sehat,
peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.

d. Tujuan khusus desa siaga


 Peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya
kesehatan.
 Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat desa terhadap risiko
dan bahaya yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan (bencana, wabah,
kegawatdaruratan dan sebagainya).
 Peningkatan kesehatan lingkungan di desa. Meningkatnya kemampuan dan
kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan.

e. Ciri-ciri desa siaga


 Memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar.
 Memiliki sistem gawat-darurat berbasis masyarakat.
 Memiliki sistem pembiayaan kesehatan secara mandiri.
 Masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat.
 Sasaran pembangunan desa siaga

6
f. Sasaran pembangunan desasia adalah mempermudah strategi intervensi, sasaran ini
dibedakan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
 Semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu • melaksanakan
hidup sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah
desanya.
 Pihak-pihak yang mempunyai pengaruh terhadap perubahan perilaku individu
dan keluarga atau dapat menciptakan iklim yang kondusif bagi perubahan
perilaku tersebut, seperti tokoh masyarakat termasuk tokoh agama, tokoh
perempuan dan pemuda, kader, serta petugas kesehatan.
 Pihak-pihak yang diharapkan memberi dukungan kebijakan, peraturan
perundang-undangan, dana, tenaga, sarana, dan lain-lain, seperti kepala desa,
camat, pejabat terkait, LSM, swasta, donatur, dan pemilik kepentingan lainnya.

2.5 Keputusan dan Peraturan Perundang-undangan Kebidanan di Indonesia


a. Permenkes No. 5380/IX/1963
Wewenang bidan terbatas pada pertolongan persalinan normal secara mandiri,
didampingi tugas lain.
b. Permenkes No. 363/IX/1980
Yang kemudian diubah menjadi Permenkes623/1989.Wewenang bidan dibagi
menjadi dua yaitu wewenang umum dan khususditetapkan bila bidan
melaksanakan tindakan khusus di bawah pengawasandokter. Pelaksanaan dari
Permenkes ini, bidan dalam melaksanakan praktekperorangan di bawah
pengawasan dokter.
c. Permenkes No. 572/VI/1996
Wewenang ini mengatur tentang registrasi dan praktek bidan. Bidan
dalammelaksanakan prakteknya diberi kewenangan yang mandiri.
Kewenangantersebut disertai dengan kemampuan dalam melaksanakan tindakan.
Dalamwewenang tersebut mencakup:
a. Pelayanan kebidanan yang meliputi pelayanan ibu dan anak.
b. Pelayanan Keluarga Berencana
c. Pelayanan Kesehatan Masyarakat

7
d. Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002
Tentang Registrasi dan PraktekBidan. Merupakan revisi dari Permenkes No.
572/VI/1996. Dengan adanya Kepmenkes 900, Permenkes 572 dinyatakan sudah
tidak berlaku. Terdiri atas 11 Bab 47 Pasal, yaitu:
1. Bab I Ketentuan Umum (pasal 1)
2. Bab II Pelaporan dan Registrasi (pasal 2-7)
3. Bab III Masa Bakti (pasal 8)
4. Bab IV Perizinan (pasal 9-13)
5. Bab V Praktik Bidan (pasal 14-26)
6. Bab VI Pencatatan dan Pelaporan (pasal 27)
7. Bab VII Pejabat yang Berwenang Mengeluarkan dan Mencabut IzinPraktik
(pasal 28-30)
8. Bab VIII Pembinaan dan Pengawasan (pasal 31-41)
9. Bab IX Sanksi (pasal 42-44)
10. Bab X Ketentuan Peralihan (pasal 45)
11. Bab XI Ketentuan Penutup (pasal 46-47)
Dalam melaksanakan tugasnya, bidan melakukan kolaborasi, konsultasi dan
merujuk sesuai dengan kondisi pasien, kewenangan dan kemampuannya. Dalam
keadaan darurat bidan juga diberi wewenang pelayanan kebidanan yang ditujukan
untuk penyelamatan jiwa. Dalam aturan tersebut juga ditegaskan bahwa bidan
dalam menjalankan praktek harus sesuai dengan kewenangan, kemampuan,
pendidikan, pengalaman serta berdasarkan standar profesi.
Pencapaian kemampuan bidan sesuai dengan Kepmenkes No. 900/2002
tidaklah mudah, karena kewenangan yang diberikan oleh Departemen Kesehatan
ini mengandung tuntutan akan kemampuan bidan sebagai tenaga profesional dan
mandiri. Selain mampu memberikan pertolongan kebidanan normal, bidan dituntut
untuk kompeten dalam memberikan pertolongan kebidanan dengan penyulit.
Pertolongan kebidanan dengan penyulit yang dimaksud di sini adalah pertolongan
awal dan pertolongan menyeluruh ketika tidak ada tenaga kesehatan lain yang lebih
berwenang atau kompeten.

8
e. Kepmenkes No. 369/ Menkes/ SK/III/2007
Tentang Standar Profesi Bidan terdiri atas:
a. Pendahuluan, berisi tentang:
o Latar belakang
o Tujuan
o Pengertian (definisi Bidan, pengertian Bidan, Kebidanan/Midwifery,
Pelayanan Kebidanan (Midwifery Service), PraktikKebidanan,
Manajemen Kebidanan, Asuhan Kebidanan.Paradigma Bidan
(perempuan, lingkungan, perilaku, pelayanan kebidanan, keturunan).
o Falsafah Kebidanan
o Ruang Lingkup Pelayanan Kebidanan
o Kualifikasi Pendidikan

b. Standar Kompetensi Bidan


1) Kompetensi
a) Kompetensi ke 1, pengetahuan dan Keterampilan Dasar
b) Kompetensi ke-2 Pra Konsepsi, KB dan Ginekologi
c) Kompetensi ke-4, Asuhan selama Persalinan dan Kelahiran
d) Kompetensi ke-5 Asuhan pada Ibu Nifas dan Menyusui
e) Kompetensi ke-6, Asuhan pada Bayi Baru Lahir
f) Kompetensi ke-7, Asuhan pada Bayi dan Balita
g) Kompetensi ke-8, Kebidanan Komunitas
h) Kompetensi ke-9, Asuhan pada Ibu/ Wanita dengan
GangguanRepoduksi
2) Standar Pendidikan Bidan
Terdiri atas 9 pernyataan standar, yaitu tentang Lambaga
Pendidikan, Falsafah, Organisasi, Sumber Daya Pendidikan, Pola
Pendidikan,Kurikulum, Tujuan Pendidikan, Evaluasi Pendidikan dan
LulusanPendidikan Bidan.
a). Standar Pendidikan Berkelanjutan Bidan
Pendidikan berkelanjutan Bidan memiliki 7 standar,
yaitu tentangOrganisasi, Falsafah, Sumber Daya Manusia,
Program Pendidikan danPelatihahan, Fasilitas, Dokumen

9
Penyelenggaraan PendidikanBerkelanjutan dan Pengendalian
Mutu.
b). Standar Pelayanan Kebidanan
Terdiri dari 7 standar, yaitu Falsafah dan Tujuan,
Administrasi dan Pengelolaan, Staf dan Pimpinan, Fasilitas dan
Peralatan, Kebijakandan Prosedur, Pengembangan Staf dan
Program Pendidikan, StandarAsuhan, Evaluasi dan
Pengendalian Mutu.
c). Standar Praktik Kebidanan
Dalam melakasanakan Praktik Kebidanan, standar
pelayanan yangdiberikan mencakup Metode Asuhan,
Pengkajian, DiagnosaKebidanan, Rencana Asuhan, Tindakan,
Partisipasi Klien,Pengawasan, Evaluasi dan Dokumentasi.
d) Kode Etik Bidan
Terdiri atas Deskripsi Kode Etik Bidan di Indonesia dan
Kode Etik Bidan Indonesia (kewajiban bidan terhadap klien
dan masyarakat, kewajiban bidan terhadap tugasnya, kewajiban
bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lain, kewajiban
bidan terhadap profesi, kewajiban bidan terhadap diri sendiri,
kewajiban bidan terhadap pemerintah, nusa, bangsadan tanah
air)

f. Permenkes No. HK 02.02/Menkes/149/2010


Tentang Izin danPenyelenggaraan Praktik Bidan. Merupakan revisi
dari Kepmenkes 900. Terdiri dari VII Bab, 24 Pasal, yaitu:
Bab I Ketentuan Umum (pasal 1)
Bab II Perizinan (pasal 2-7)
Bab III Penyelenggaraan Praktik (pasal 8-19)
2.6 Upaya kesehatan
Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan
kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
a. Ruang lingkup promosi kesehatan berdasarkan aspek pelayanan kesehatan ,secara
garis besar terdapat jenis pelayanan kesehatan yaitu:

10
1. Upaya pencegahan (usaha preventif)
Upaya preventif adalah sebuah usaha yang dilakukan individu dalam mencegah
terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Prevensi secara etimologi berasal dari
bahasa latin, pravenire yang artinya datang sebelum atau antisipasi atau mencegah
untuk tidak terjadi sesuatu. Dalam pengertian yang sangat luas, prevensi diartikan
sebagai upaya secara sengaja dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan,
kerusakan, atau kerugian bagi seseorang atau masyarakat
Upaya preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya penyakit dan gangguan
kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
Upaya-upaya yang dilakukan, yaitu :
a) Pemeriksaan kesehatan secara berkala (balita, bumil, remaja, usila,dll) melalui
posyandu, puskesmas, maupun kunjungan rumah
b) Pemberian Vitamin A, Yodium melalui posyandu, puskesmas, maupun dirumah
c) Pemeriksaan dan pemeliharaan kehamilan, nifas dan menyusui
d) Deteksi dini kasus dan factor resiko (maternal, balita, penyakit).
e) Imunisasi terhadap bayi dan anak balita serta ibu hamil
2. Upaya pengobatan (usaha kuratif)
Upaya kuratif bertujuan untuk merawat dan mengobati anggota keluarga, kelompok
yang menderita penyakit atau masalah kesehatan.
Upaya-upaya yang dilakukan, yaitu :
a) Dukungan penyembuhan, perawatan, contohnya : dukungan psikis penderita TB
b) Perawatan orang sakit sebagai tindak lanjut perawatan dari puskesmas dan rumah
sakit
c) Perawatan ibu hamil dengan kondisi patologis dirumah, ibu bersalin dan nifas
d) Perawatan payudara
e) Perawatan tali pusat bayi baru lahir
f) Pemberian obat : Fe, Vitamin A, oralit.
3. Upaya rehabilitasi
Merupakan upaya pemulihan kesehatan bagi penderita-penderita yang dirawat
dirumah, maupun terhadap kelompok-kelompok tertentu yang menderita penyakit
yang sama.
Usaha yang dilakukan, yaitu:
a) Latihan fisik bagi yang mengalami gangguan fisik seperti, patah tulang, kelainan
bawaan
b) Latihan fisik tertentu bagi penderita penyakit tertentu misalnya, TBC (latihan
nafas dan batuk), Stroke (fisioterapi).
Dari ketiga jenis usaha ini, usaha pencegahan penyakit mendapat tempat yang
utama, karena dengan usaha pencegahan akan diperoleh hasil yang lebih baik,
serta memerlukan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan usaha pengobatan
maupun rehabilitasi.

11
b. Tingkat-tingkat upaya pencegahan
Leavell dan Clark dalam bukunya “ Preventive Medicine for the Doctor in his
Community” , membagi usaha pencegahan penyakit dalam 5 tingkatan yang dapat
dilakukan pada masa sebelum sakit dan pada masa sakit.

Upaya-upaya pencegahan itu adalah :

a) Masa sebelum sakit


1. Mempertinggi Nilai Kesehatan (Health Promotion)
Promotif adalah usaha mempromosikan kesehatan kepada masyarakat.
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu,keluarga,
kelompok dan masyarakat. Setiap individu berhak untuk menentukan nasib
sendiri, mendapat informasi yang cukup dan untuk berperan di segala aspek
pemeliharaan kesehatannya.

Usaha ini merupakan pelayanan terhadap pemeliharaan kesehatan pada


umumnya. Beberapa usaha diantaranya :

1) Penyediaan makanan sehat cukup kualitas maupun kuantitasnya


2) Perbaikan hygiene dan sanitasi lingkungan, seperti : penyediaan air
rumah tangga yang baik, perbaikan cara pembuangan sampah, kotoran
dan air limbah dan sebagainya.
3) Pendidikan kesehatan kepada masyarakat sesuai kebutuhannya.
4) Usaha kesehatan jiwa agar tercapai perkembangan kepribadian yang
baik.
2. Memberikan Perlindungan Khusus Terhadap Suatu Penyakit (Specific
Protection)
Usaha ini merupakan tindakan pencegahan terhadap penyakit-penyakit
tertentu yang gangguan kesehatan individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat. Beberapa usaha diantaranya adalah :
1) Memberikan imunisasi pada golongan yang rentan untuk mencegah
terhadap penyakit-penyakit tertentu. Contohnya : imunisasi hepatitis
diberikan kepada mahasiswi kebidanan yang akan praktek di rumah
sakit.
2) Isolasi terhadap penderita penyakit menular. Contohnya : isolasi
terhadap pasien penyakit flu burung.
3) Perlindungan terhadap kemungkinan kecelakaan di tempat-tempat
umum dan di tempat kerja. Contohnya : di tempat umum, misalnya
adanya rambu-rambu zebra cross agar pejalan kaki yang akan
menyebrang tidak tertabrak oleh kendaraan yang sedang melintas.
Sedangkan di tempat kerja : para pekerja yang memakai alat
perlindungan diri.
4) Peningkatan keterampilan remaja untuk mencegah ajakan
menggunakan narkotik. Contohnya : kursus-kursus peningkatan
keterampilan, seperti kursus menjahit, kursus otomotif.

12
5) Penanggulangan stress. Contohnya : membiasakan pola hidup yang
sehat , dan seringnya melakukan relaksasi.

13
BAB III
PENUTUP
3.2 Kesimpulan
Bidan adalah seorang perempuan yang lulus dari pendidikan Bidan yang diakui
pemerintah dan organisasi profesi di wilayahNegara Republik Indonesia serta memiliki
kompetensi dan kualifikasi untuk diregister, sertifikasi dan secara sah mendapat lisensi untuk
menjalankan praktik kebidanan.
Kode etik bidan merupakan ciri profesi yang bersumber dari nilai -nilai internal dan
eksternal suatu disiplin ilmu & merupakan komprehensif suatu profesi yang memberikan
tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.
Desa siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan cumber daya dan
kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan
kegawatdaruratan kesehatan secara mandiri.
Keputusan dan Peraturan Perundang-undangan Kebidanan di Indonesia, yaitu:
1. Permenkes No. 5380/IX/1963
2. Permenkes No. 363/IX/1980
3. Permenkes No. 572/VI/1996
4. Kepmenkes No. 900/Menkes/SK/VII/2002
5. Kepmenkes No. 369/ Menkes/ SK/III/2007
6. Permenkes No. HK 02.02/Menkes/149/2010

3.2 Saran
Keputusan dan kebijakan yang diberikan pemerintah untuk pelayanan kebidanan
semoga dapat menjadi pedoman dan patokan dalam pelayanan yang diberikan.

14
DAFTAR PUSTAKA

http://firaarh.blogspot.com/2014/02/kebijakan-pelayanan-dalam-kebidanan.html

Arwani. 2002. Mutu pelayanan kebidanan. EGC. Jakarta

Nurmawati, 2010. Mutu Pelayanan Kebidanan. Jakarta, Trans Info Media

Prawirohardjo Sarwono.2010.Pelayan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Jakarta: PT.Bina Pustaka

Syafrudin,dkk.2010.Manajemen mutu pelayanan kesehatan untuk bidan.Jakarta:Trans Info Media

Satrianegara, M. Fais. 2009. Buku Ajar Organisasi Dan Manajemen Pelayanan Kesehatan Serta
Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.

Setiawan.2010.sekumpulan Naskah Etika Kebidanan dan Hukum Kesehatan.Jakarta:CV.Trans Info


Medika

W.,Nurul Eko.2010.Etika Profesi dan Hukum Kebidanan.Yogyakarta:Pustaka Rihama

Wulandari Dian.2009. Komunikasi , manajement mutu pelayanan kebidanan. Jogjakarta: NUHA MEDIKA
Press

Zulvadi, Dudi.2010.Etika & Manajemen Kebidanan.Yogyakarta:Cahaya Ilmu

15