Anda di halaman 1dari 15

CRITICAL JURNAL

REPORT
MK
TERMODINAMIKA
PRODI S1
PENDIDIKAN FISIKA

JURNAL FISIKA

(HUKUM PERTAMA TERMODINAMIKA, HANDAYANI, DKK. 2018 DAN


SURYANTARI, RISTI. 2013)

NAMA MAHASISWA : RISKI MAULIDAH AFNI


NIM : 4171121029
DOSEN PENGAMPU : Deo Demonta Panggabean, S.Pd, M.Pd
MATA KULIAH : Termodinamika

FISIKA DIK C 2017

PROGRAM STUDI S1 PENDIDIDIKAN FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
30 September 2018
EXCECUTIVE SUMMARY

CRITICAL JOURNAL REPORET ini berjudul Identifikasi Terhadap Hukum Pertama


Termodinamika Terhadap siswa SMA. dengan critical journal ini saya sebagai Reviewer
membandingkan dua jurnal dengan topic yang sama namun terdapat perbedaan yang menonjol
didalamnya.
Mengapa Topik yang dibahas dalam Critical Journal Ini? hal ini dikarenakan terdapat
banyak masalah yag terkait dengan hukum pertama termodinamika. Masih banyak siswa-siswi
SMA yang belum memahami hukum pertama termodinamika. Tidak hanya itu selain siswa SMA
juga, mahasiswa juga banyak yang masih belum paham konsep hukum pertama termodinamika.
Selain itu alasannya dipilih materi ini ialah karena berhubung memiliki topic yang sama dengan
Critical Book Report saya sebelumnya. sehingga topic ini yang akan saya lanjutkan untuk tugas-
tugas berikutnya.
Adapun tujuan saya dalam membuat Critical Jurnal Report ini adalah Membuat suatu
laporan Critical Journal Report yang mampu saya tunjukkan kepada pembaca tentang Jurnal yang
mana yang sebenarnya dapat dijadikan sumber referensi untuk kita baik dalam referensi untuk
melakukan penelitian maupun pedalaman materi.

i
KATA PENGANTAR

Segala puji kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayahnya
sehingga penulisan Critical Jurnal Review yang berjudul : “Hukum Pertama Termodinamika “
yang dibimbing oleh Deo Demonta Panggabean, S.Pd, M.Pd sebagai dosen pengampu mata kuliah
Termodinamika dapat penulis selesaikan.
Dalam proses penyajiannya,makalah ini berusaha penulis susun dengan baik.Sejumlah
sumber digunakan untuk membantu i dalam memahami Hukum Pertama Termodinamika.
Terimakasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam menyukseskan penyusunan makalah
ini. Dan penulis mengharapkan kritik dan saran yang mampu membangun pola pikir yang baik dan
benar.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kelemahan pada makalah ini.
Sehingga penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dan semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, 30 September 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

EXCECUTIVE SUMMARY i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi pentingnya CJR 1
B. Tujuan penulisan CJR 1
C. Manfaat CJR 1
D. Identitas Journal yang direview 2
E. Identitas Journal Pembanding 2

BAB II. RINGKASAN ISI JOURNAL


A. Pendahuluan 3
B. Deskripsi Isi 3

BAB III. PEMBAHASAN/ANALISIS


A. Pembahasan isi Journal 8

B. Kelebihan dan kekurangan isi Artikel dan Journal 9


BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 10

DAFTAR PUSTAKA 11

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Rasionalisasi Pentingnya CJR


Dalam Critical Jurnal Report ini membahas Penelitian Pada siswa tentang materi
pembelajaran Fisika yaitu hukum pertama termodinamika. Hukum pertama termodinamika
adalah pernyataan kekekalan energy. hukum ini menggambarkan hasil banyak eksperimen
yang menghubungkan usaha yang dilakukan pada system, Panas yang ditambahkan atau
dikurangi pada system, dan energy internal system.
Dalam Kehidupan sehari-hari Banyak masalah yang terjadi pada siswa dalam memahami
pelajaran fisika dengan keadaan tersebutlah muncul suatu Critical Jurnal yaitu mengkritik
jurnal yang membahas tentang penelitian Materi Hukum Pertama Termodinamika kepada
beberapa siswa.
Adapun Critical Jurnal Report ini membandingkan dua jurnal dengan materi yang sama
dan dengan pokok pembahasan yang sama yaitu Jurnal Fisika dan dengan Materi yang sama
yaitu Hukum Pertama Termodinamika sehingga dengan adanya perbandingan ini dapat
menambah wawasan bagi pembaca maupun penulis sendiri untuk mendalami permasalahan
dan pengkajiannya terhadap hukum pertama termodinamika.

1.2 Tujuan CJR


1. Penyelesaian Tugas Critical Journal Report pada Mata Kuliah Termodinamika
2. Menambah wawasan Tentang Hukum Pertama Termodinamika
3. Meningkatkan keterampilan dalam penguasaan materi Hukum Pertama Termodinamika
4. Menguatkan diri dalam penguasaan materi Hukum Pertama Termodinamika
1.3 Manfaat CJR
Manfaat CJR ini adalah mengkritisi dua artikel atau jurnal yang berbeda dan memiliki materi
yang sama sehingga dapat dijadikan sebuah laporan yang dapat menjadi sumber pedoman
dalam mempelajari model pembelajaran baik untuk pembaca maupun penulis sendiri.

1
1.4 Identitas Journal Review
1. Judul Jurnal : Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Four-Tier
Diagnostic Test Pada Materi Hukum Termodinamika Di Sma Bondowoso
2. Nama Journal : Jurnal Pembelajaran Fisika
3. Edisi terbit : 2018
4. Pengarang artikel : Nita Dwi Handayani, Sri Astutik, Albertus Djoko Lesmono
5. Penerbit : Program Studi pendidikan Fisika FKIP Universitas Jember
6. Kota terbit : Jawa Timur
7. Nomor ISSN :-
8. Alamat Situs :https:// jurnal.unej.ac.id/index.php/JPF/article/download7927/5583
9. Volume dan Halaman : 7(2): 189-195

1.5 Identitas Journal Pembanding


1. Judul Jurnal : Problem Solving dengan Metode Identifikasi Variabel berdasarkan
Skema: Tinjauan terhadap Formulasi Hukum Pertama Termodinamika
2. Nama Journal : Jurnal Fisika Indonesia
3. Edisi terbit : 2013
4. Pengarang artikel : Risti Suryantari
5. Penerbit : Program Studi Fisika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains,
Universitas Katolik Parahyangan
6. Kota terbit : Bandung
7. Nomor ISSN : 1410-2994
8. Alamat Situs : http://pdm-mipa.ugm.ac.id/ojs/index.php/jfi/article/view/830
9. Volume dan Halaman : 17 (49): 28-31

2
BAB II
RINGKASAN JOURNAL

A. Pendahuluan

Menurut Arends (dalam Astutik, et al., 2015) Pembelajaran sering diartikan sebagai
interaksi tatap muka aktual antara guru dan siswa-siswanya. Pembelajaran dilingkupi oleh
penggunaan pendekatanpendekatan atau instruksional model yang sesuai dengan karakteristik
dan sifat siswa di sebuah kelas dan tipe tujuan yang ingin dicapai oleh guru. Fisika merupakan
mata pelajaran yang memerlukan pemahaman konsep yang menititik beratkan pada proses
terbentuknya pengetahuan melalui penemuan,penyajian data secara matematis dan berdasarkan
aturan tertentu (Rahayu, et al.,2017). Pembelajaran fisika merupakan proses pembelajaran yang
melibatkan siswa dalam mempelajari alam dan gejalagejalanya melalui serangkaian proses
ilmiah yang dibangun atas dasar sikap ilmiah untuk memperoleh dan memproses pengetahuan,
keterampilan dan sikap agar dapat mencapai tujuan belajar tertentu. Pembelajaran fisika
menuntut kemampuan siswa untuk pemahaman konsep dan pemecahan masalah.
Sebagian besar siswa di beberapa sekolah menganggap fisika sebagai mata pelajaran
yang sulit, banyak unsur matematis dan beberapa siswa hanya menghafalkan rumus tanpa
mengetahui makna fisisnya. Beberapa siswa terkadang juga memiliki pemikiran sendiri
mengenai konsep fisika, dimana pemikiran tersebut tidak sesuai dengan konsep para ahli.

B. Deskripsi

Sebagian besar siswa di beberapa sekolah menganggap fisika sebagai mata pelajaran yang
sulit, banyak unsur matematis dan beberapa siswa hanya menghafalkan rumus tanpa
mengetahui makna fisisnya. Beberapa siswa terkadang juga memiliki pemikiran sendiri
mengenai konsep fisika, dimana pemikiran tersebut tidak sesuai dengan konsep para ahli.
Karena sebelum mempelajari konsep fisika di sekolah, dalam kehidupan sehari-hari siswa telah
menjumpai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan konsep fisika. Dari peristiwa-peristiwa
tersebut siswa akan mempunyai teori sendiri yang belum tentu benar. Sehingga sering terjadi
kesalahan dalam memahami suatu konsep atau biasa disebut dengan miskonsepsi. Menurut

3
Suparno (2013) miskonsepsi merupakan suatu konsep yang tidak sesuai dengan konsep yang
diakui oleh para ahli. Terjadinya miskonsepsi pada siswa akan mempengaruhi proses
pembelajaran selanjutnya, karena selama pembelajaran siswa mengembangkan dan memiliki
konsep yang salah. Adanya miskonsepsi ini siswa juga akan kesulitan menerima pengetahuan
yang baru sehingga dapat menghambat proses pembelajaran lebih lanjut.
Penelitian mengenai miskonsepsi telah banyak dilakukan, ada beberapa teknik yang
digunakan dalam mendeteksi miskonsepsi siswa. Salah satunya ialah dengan tes diagnostik,
dimana bentuk dari tes diagnostik ada beberapa macam, salah satunya yaitu Four-Tier
Diagnostic Test. Four tier diagnostic test merupakan pengembangan dari tes diagnostik pilihan
ganda tiga tingkat. Pengembangan tersebut terdapat pada ditambahkannya tingkat keyakinan
siswa dalam memilih jawaban maupun alasan. Keunggulan yang dimiliki Four tier diagnostic
test ini ialah melalui four tier diagnostic test guru dapat: (1) membedakan tingkat keyakinan
jawaban dan tingkat keyakinan alasan yang dipilih siswa sehingga dapat menggali lebih dalam
tentang kekuatan pemahaman konsep siswa, (2) mendiagnosis miskonsepsi yang dialami siswa
lebih dalam, (3) menentukan bagian-bagian materi yang memerlukan penekanan lebih, (4)
merencanakan pembelajaran yang lebih baik untuk mengurangi miskonsepsi siswa (Fariyani,
et al., 2015). Berdasarkan beberapa penjelasan tentang miskonsepsi yang terjadi dalam bidang
fisika, maka peneliti membahas mengenai identifikasi miskonsepsi siswa menggunakan Four-
Tier Diagnostic Test pada pokok bahasan hukum termodinamika di SMA Bondowoso.
Penelitian dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2017/2018 di SMAN 1
Tenggarang, SMAN 3 Bondowoso, dan SMAN 1 Pujer. Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh kelas XI dari ketiga sekolah tersebut. Sampel yang dipilih untuk penelitian adalah
kelas XI MIPA 2 SMAN 1 Tenggarang, XI MIPA 2 SMAN 3 Bondowoso, dan XI MIPA 1
SMAN 1 Pujer. Penentuan populasi dan sampel penelitian dilakukan dengan purposive
sampling area. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui beberapa metode, yaitu
metode dokumentasi, tes, dan wawancara.
Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes diagnostik pilihan ganda empat
tingkat (Four-Tier Diagnostic Test). Tingkat pertama, siswa harus menjawab soal pilihan ganda
yang telah disediakan. Tingkat kedua, siswa harus menyertakan tingkat keyakinan dalam
menjawab soal pilihan ganda tersebut. Tingkat ketiga, siswa harus memilih salah satu pilihan
alasan yang telah disediakan atau menuliskan sendiri alasan yang dimiliki dalam menjawab

4
soal. Tingkat keempat, siswa harus menyertakan tingkat keyakinannya dalam menentukan
alasan tersebut. Tingkat keyakinan yang digunakan memiliki skala1-6, 1 bermakna menebak,
2 bermakna sangat tidak yakin, 3 bermakna tidak yakin, 4 bermakna yakin, 5 bermakna sangat
yakin, 6 bermakna amat sangat yakin. Tingkat keyakinan termasuk tinggi apabila memilih
skala 4,5, atau 6. Sedangkan, tingkat keyakinan termasuk rendah apabila memilih skala 1,2,
atau 3. Teknik analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini, pertama mengelompokkan
terlebih dahulu hasil tes siswa ke dalam beberapa kategori, yaitu Paham Konsep, Tidak Paham
Konsep, dan Miskonsepsi sesuai dengan kriteria
Data yang diperoleh dan dideskripsikan dalam penelitian ini adalah hasil jawaban tes
miskonsepsi siswa dan hasil wawancara. Hasil tersebut selanjutnya dianalisis melalui beberapa
langkah yang telah ditentukan. Data hasil tes diagnostik miskonsepsi dengan menggunakan
soal pilihan ganda empat tingkat (Four-Tier Diagnostic Test) dikelompokkan dan dihitung
jumlah siswa yang termasuk dalam kategori paham konsep, tidak paham konsep, dan
miskonsepsi, sehingga didapatkan hasil sesuai dengan Tabel
Kategori Miskonsepsi Sekolah A
No soal Pemahaman Tidak Paham Miskonsepsi
Konsep Konsep
1 18 5 9
2 12 10 13
3 0 23 12
4 2 24 9
5 2 28 5
6 6 28 5
7 4 15 16
8 1 18 16
9 2 29 4

Kategori Miskonsepsi Sekolah B


No Soal Pemahaman Tidak Paham Miskonsepsi
Konsep Konsep

5
1. 9 14 8

2. 6 11 8

3. 1 19 8

4. 1 19 8

5. 0 19 5

6. 4 23 5

7. 2 22 8

8. 0 20 5

9. 2 19 7

Kategori Miskonsepsi Sekolah C


No Pemahaman Tidak Miskonsepsi
Soal Konsep Paham
Konsep
1. 8 2 10

2. 1 11 8

3. 2 10 8

4. 2 10 8

5. 3 14 3

6. 2 15 3

7. 0 14 6

8. 1 15 4

9. 0 13 7

6
Berdasarkan Gambar 1 dapat diketahui bahwa siswa mengalami miskonsepsi pada semua
soal tes diagnostik miskonsepsi. Pada soal nomor 1 miskonsepsi tertinggi dialami oleh siswa
SMAN C yaitu sebesar 50%, miskonsepsi ini termasuk pada tingkat miskonsepsi sedang. Soal
nomor 2,3, dan 4 miskonsepsi tertinggi dialami oleh siswa SMAN C sebesar 40% dimana termasuk
pada tingkat miskonsepsi sedang. Soal nomor 5 dan 6 miskonsepsi tertinggi dialami oleh siswa
SMAN B yaitu sebesar 17,86%, miskonsepsi ini termasuk pada miskonsepsi tingkat rendah. Soal
nomor 7 dan 8 miskonsepsi tertinggi dialami oleh siswa SMAN A yaitu sebesar 45,71%,
miskonsepsi ini termasuk pada miskonsepsi tingkat sedang. Sedangkan, pada soal nomor 9
miskonsepsi tertinggi dialami oleh siswa SMAN C yaitu sebesar 35%, sehingga termasuk dalam
miskonsepsi tingkat sedang.
Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bahwa rata-rata miskonsepsi yang dialami siswa di
SMA Bondowoso untuk nomor soal 1,2,3,4, dan 8 tergolong dalam miskonsepsi tingkat sedang
karena besar persentase miskonsepsi diatas 31%, untuk nomor soal 5,6,7, dan 9 tergolong dalam
miskonsepsi tingkat rendah karena besar persentase miskonsepsi dibawah 31%.
pada SMAN C ratarata miskonsepsi yang dialami siswa dalam mengerjakan soal tes pada
pokok bahasan Hukum Termodinamika adalah sebesar 31,67% sehingga tergolong dalam
miskonsepsi tingkat sedang. Secara keseluruhan miskonsepsi yang dialami siswa pada pokok
bahasan Hukum Termodinamika di SMA Bondowoso sebesar 28,04% sehingga miskonsepsi ini
tergolong dalam tingkat rendah.
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa secara
keseluruhan miskonsepsi yang dialami siswa pada pokok bahasan Hukum Termodinamika di SMA
Bondowoso sebesar 28,04% sehingga miskonsepsi ini tergolong dalam tingkat rendah.

7
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pembahasan Isi Jurnal

1. Pengertian Fisika Menurut Journal Review, dalam (Rahayu, et al.,2017), Fisika merupakan
mata pelajaran yang memerlukan pemahaman konsep yang menititik beratkan pada proses
terbentuknya pengetahuan melalui penemuan,penyajian data secara matematis dan
berdasarkan aturan tertentu
Sebagian besar siswa di beberapa sekolah menganggap fisika sebagai mata
pelajaran yang sulit, banyak unsur matematis dan beberapa siswa hanya menghafalkan
rumus tanpa mengetahui makna fisisnya. Beberapa siswa terkadang juga memiliki
pemikiran sendiri mengenai konsep fisika, dimana pemikiran tersebut tidak sesuai dengan
konsep para ahli. Karena sebelum mempelajari konsep fisika di sekolah, dalam kehidupan
sehari-hari siswa telah menjumpai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan konsep
fisika. Dari peristiwa-peristiwa tersebut siswa akan mempunyai teori sendiri yang belum
tentu benar. Sehingga sering terjadi kesalahan dalam memahami suatu konsep atau biasa
disebut dengan miskonsepsi.

Sedangkan Dalam Journal Pembanding tidak ada penjelasan teori menurut para
ahli. Hanya saja dalam journal pembanding Langsung membahas Perumusan Persamaan
Hukum Pertama Termodinmika

2. Metode yang digunakan. Dalam Journal Review, Teknik pengumpulan data dalam
penelitian ini melalui beberapa metode, yaitu metode dokumentasi, tes, dan wawancara.
Dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mengumpulkan dokumen-

8
dokumen yang diperlukan dalam penelitian. Tes yang digunakan dalam penelitian ini
adalah tes diagnostik pilihan ganda empat tingkat (Four-Tier Diagnostic Test).
Sedangkan Dalam Journal Pembanding, Dalam penelitian ini akan dibuat skema melalui
tinjaun literatur, kemudian diterapkan dalam persoalan sederhana terkait Hukum Pertama
Termodinamika. Untuk menguji metode ini, sejumlah mahasiswa Program Studi Fisika
Universitas Karolik Parahyangan Bandung diberikan soal dan diminta mengerjakan dengan
menggunakan metode identifikasi variabel berdasarkan skema. Mahasiswa juga diminta
menuliskan pendapat terkait metode ini. Hasil nilai dan pendapat mahaiswa kemudian
dianalisis.

3.2 Kelebihan dan Kekurangan Jurnal


 Jurnal Review
o Dari aspek ruang lingkup isi Jurnal, jurnal terfokus pada miskonsepsi siswa
terhadap hukum pertama termodinamika namun penjelasan tentang Hukum
Pertama Termodinamika tidak dijelaskan. Penelitiannya terhadap siswa dan dalam
menghitung atau dalam memperoleh data tidak mengaitkannya dengan hukum
pertama termodinamika.
o Dari aspek tata bahasa, jurnal tersebut adalah jurnal nasional namun belum
memiliki ISSN. Bahasa yang digunakan Bahasa Indonesia resmi, merupakan kata
baku
 Jurnal Pembanding
o Dari aspek ruang lingkup isi Jurnal, jurnal terfokus pada Problem solving dalam
meninjau Hukum Pertama Termodinamika. dalam peninjauannya terdapat banyak
persamaan rumus tentang hukum pertama termodinamika
o Dari aspek tata bahasa, jurnal tersebut adalah jurnal nasional memiliki ISSN.
Bahasa yang digunakan Bahasa Indonesia resmi, merupakan kata baku

9
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Pembelajaran fisika merupakan proses pembelajaran yang melibatkan siswa dalam
mempelajari alam dan gejalagejalanya melalui serangkaian proses ilmiah yang dibangun
atas dasar sikap ilmiah untuk memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan
sikap agar dapat mencapai tujuan belajar tertentu. Pembelajaran fisika menuntut
kemampuan siswa untuk pemahaman konsep dan pemecahan masalah.
Banyaknya miskonsepsi yang dialami siswa dalam mempelajari fisika disebabkan
karena banyaknya materi yang abstrak sehingga siswa sulit untuk memahami konsep yang
benar.Terutama pada Matei Hukum Pertam Termodinamika.
Hukum pertama termodinamika adalah pernyataan kekekalan energy. hukum ini
menggambarkan hasil banyak eksperimen yang menghubungkan usaha yang dilakukan
pada system, Panas yang ditambahkan atau dikurangi pada system, dan energy internal
system.
Pada penelitian kali ini akan diterapkan metode serupa pada topik termodinamika,
khususnya Hukum Pertama Termodinamika. Termodinamika merupakan salah satu topik
dalam fisika yang secara umum membahas mengenai fenomena termal yang didefinisikan
dalam parameter suhu, kalor dan energi dalam. Hukum Pertama Termodinamika
merupakan suatu persamaan kekekalan energi yang melibatkan variabel kalor, usaha dan
energi dalam. Konsekuensi penting dari hukum ini adalah adanya nilai energi dalam yang
ditentukan oleh keadaan sistem. Dalam berbagai referensi, seringkali diformulasikan
seperti persamaan

10
DAFTAR PUSTAKA

Handayani, dkk.,(2018). Identifikasi Miskonsepsi Siswa Menggunakan Four-Tier Diagnostic


Test Pada Materi Hukum Termodinamika Di Sma Bondowoso. Jurnal Pembelajaran
Fisika. 7(2): 198-195

Suryantari, Risti.,(2013). Problem Solving dengan Metode Identifikasi Variabel berdasarkan


Skema: Tinjauan terhadap Formulasi Hukum Pertama Termodinamika. Jurnal Fisika
Inonesia. 17(49): 28-31

11